Anda di halaman 1dari 14

Nama : Amin Indra Wahyuni Hari, Tanggal :Rabu,13November 2019

NIM : 11180950000058 Dosen Pengampu : Arina Findo Sari, M.Si.


Kelas/kelompok : 3B2-2 : Remila Selvani, M.Si.
Asisten Lab : Reza Amalia Putri
: Trisan Andrean Putra
: Vira Maulidina

PRAKTIKUM 7
AKTIVITAS BIOKIMIA MIKROORGANISME

I. TUJUAN
Mengetahui aktivitas pada mikroorganisme sehingga dapat diketahui sifat-
sifat yang khas dari mikroorganisme.
II. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Hasil Pengamatan Uji Biokimia

No Uji Mikroorganisme
Hasil Gambar
. Biokimia yang diuji
1. B. cereus (+) Terdapat daerah
bening

(Sumber: Dok. Kel. 1B1,


2019)
E. coli (-) Tidak terdapat
daerah bening

Hidrolisi
s Pati (Sumber: Dok. Kel. 1B2,
2019)

S. aureus +
(Terdapat zona bening)

(Sumber:Dok.KelasA1,20
19)

S. typhii -
Tidak terdapat zona

1
bening (kontaminasi)

(Sumber:Dok.KelasA2,20
19)

B. cereus (-) Bakteri tidak tumbuh


dan tidak terdapat
daerah bening

(Sumber: Dok. Kel. 1B1,


2019)
E. coli (-) Tidak terdapat
daerah bening

(Sumber: Dok. Kel. 1B2,


2019)
Hidrolisi
s Protein
S. aureus -
Tidak terdapat
zonabening
(Sumber:Dok.KelasA1,20
19)

S. typhii -
Tidak terdapa t zona
bening

(Sumber:Dok.KelasA2,20
19)
2. Fermenta B. cereus Laktosa : tidak
si terbentuk gas
Karbohid Sukrosa : terbentuk gas
rat Glukosa : asam dan gas
(glukosa,
laktosa,
sukrosa) (Sumber: Dok. Kel. 2B2,
2019)
E. coli Laktosa : asam dan gas
Glukosa : asam dan gas
Sukrosa : tidak
terbentuk gas
(Sumber: Dok. Kel. 2B1,
2019)
Glukosa : +
S. aureus Laktosa : +
Sukrosa : +

2
(Terdapat oksigen pada (Sumber : Dok.KelasA1,
tabung durham) 2019)
S. typhii Glukosa : +
Laktosa : -
Sukrosa : -
(Terdapat oksigen
dalam tabung durham)
( Sumber : Dok. KelasA2,
2019)
3. Methyl B. cereus (+) Terjadi perubahan
Red warna media menjadi
kuning kemerahan

(Sumber: Dok. Pribadi,


2019)
E. coli Tidak dilakukan pengujian
S. aureus -
Media berubah
menjadiwarna orange

(Sumber : Dok.KelasA1,
2019)
+
S. typhii Media berubah menjadi
warna merah

(Sumber:
Dok.KelasA2,2019)
4. Voges- B. cereus (-) Warna media tidak
Proskaue berubah menjadi merah
r (VP)

(Sumber: Dok. Kel. 4B1,


2019)
E. coli (-) Warna media tidak
berubah menjadi merah

(Sumber: Dok. Kel. 4B2,


2019)
S. aureus (-)
Terjadiperubahanwarna
darikuningjernih
menjadi sedikitkeruh.
(Sumber:
Dok.KelasA1,2019)

3
S. typhii (+)

Terjadiperubahanwarna
darikuningmenjadijingg
akeruh. (Sumber: Dok. KelasA2,
2019)
5. Produksi B. cereus (-) Tidak ada warna
H2S hitam di sepanjang
tusukan, tidak terbentuk
H2S

(Sumber: Dok. Kel. 1B1,


2019)
E. coli (-) Tidak ada warna
hitam di sepanjang
tusukan, tidak terbentuk
H2S

(Sumber: Dok. Kel. 1B2,


2019)
S. aureus (-)
Tidak terdapat zona
hitam pada sepanjang
tusukan

(Sumber:Dok.KelasA1,20
19)
S. typhii (-)
Terdapat zona hitam
pada sepanjang tusukan

(Sumber:Dok.KelasA2,20
19)

6. Produksi B. cereus (+) Timbul warna


Indol merah tua di atas
permukaan media

(Sumber: Dok. Kel. 2B2,


2019)

4
E. coli (+) Timbul warna
merah tua di atas
permukaan media

(Sumber: Dok. Kel. 2B1,


2019)

S. aureus (-)
Tidakterbentukcincinm
erah

( Sumber : Dok. KelasA1,


2019 )
S. typhii (-)
Tidak membentuk
cincin merah

( Sumber : Dok.KelasA2,
2019 )
7. Sitrat B. cereus Tidak dilakukan pengujian
E. coli (-) Tidak terjadi
perubahan warna pada
media
(Sumber: Dok. Pribadi,
2019)
S. aureus (-)
Media
tetapberwarnahijau

(Sumber :Dok. KelasA1,


2019)
(+)
S. typhii Media
berubahmenjadiwarnabi
ru ( Sumber : Dok.KelasA2,
2019)
8. Oksidasi B. cereus Tabung dengan paraffin
dan oil tidak terjadi
Fermenta perubahan warna.
si (OF) Tabung tanpa paraffin
(Sumber: Dok. Kel. 4B1,
oil terjadi perubahan
2019)
warna media dari hijau
menjadi biru

5
E. coli Tabung dengan paraffin
oil terjadi sedikit
perubahan warna media
dari hijau tua menjadi
hijau muda. (Sumber: Dok. Kel. 4B2,
Tabung tanpa paraffin 2019)
oil terjadi perubahan
warna media dari hijau
menjadi biru.
S. typhii (+)
(Non Parafin) Terjadi perubahan
warna dari hijau tua
menjadi biru tua

(Sumber: Dok. Pribadi


Kelas C, 2019)
S. typhii (-)
(Parafin) Tidakterjadiperubahan
warnatetapberwarnahija
utua
(Sumber: Dok.
PribadiKelas C, 2019
9. Katalase B. cereus (+) Terbentuk
gelembung O2

(Sumber: Dok. Kel 3B1,


2019)
E. coli (+) Terbentuk
gelembung O2

(Sumber: Dok. Kel 3B1,


2019)
S. aureus (+)
Terbentuk Gelembung
lebih sedikit

(Sumber : Dok. KelasA1,


2019)
S. typhii (+)
Terbentuk Gelembung
lebih banyak

(Sumber : Dok. KelasA2,


2019)

6
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Bakteri memiliki berbagai aktivitas biokimia dengan menggunakan nutrisi
yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Transformasi biokimia dapat
timbul didalam dan diluar dari bakteri yang diatur oleh enzim. Setiap bakteri
memiliki kemampuan dalam menggunakan enzim yang dimilikinya untuk
degradasi karbohidrat, lemak, protein, dan asam amino, metabolisme ini
biasanya menghasilkan produk yang dapat digunakan untuk identifikasi dan
karakterisasi bakteri. Pada prinsipnya pengamatan aktivitas biokimia atau
metabolisme mikroorganisme yang diketahui dari kemampuan
mikroorganisme untuk menggunakan dan menguraikan molekul yang
kompleks dan molekul-molekul sederhana. Selain itu, metabolisme seringkali
menghasilkan hasil sampingan yang dapat digunakan untuk identifikasi
(Noverita,2009).
Uji pertama yang dilakukan adalah uji hidrolisis pati. Pada uji hidrolisis
pati, Bacillus cereus dan Escherichia coli menghasilkan uji nilai positif
karena ada zona bening. Pada uji hidrolisis pati, hasil positif ditandai dengan
terbentuknya zona bening berwarna kuning disekitar daerah pertumbuhan
bakteri atau mikroorganisme dan tidak terjadi perubahan warna medium
setelah penambahan larutan lugol. Hal ini menunjukkan amilum/pati telah
terhidrolisis menjadi sakarida yang lebih sederhana(Buchanan,2003).
Pada uji hidrolisis pati digunakan media Starch Agar (SA). Media Starch
Agar digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme amilolitik dan terdiri
dari pati 1%. Pati merupakan polisakarida yang muncul sebagai polimer
bercabang dari glukosa gula sederhana. Beberapa bakteri mampu
menggunakan pati sebagai sumber karbohidrat, namun untuk melakukan ini
bakteri tersebut harus terlebih dahulu menghidrolisis atau memecah pati
sehingga dapat masuk ke dalam sel (Cowan, 2004).
Kemudian dilakukan uji hidrolisis protein yang dilakukan oleh bakteri
proteolitik. Bakteri proteolitik adalah bakteri yang mampu memproduksi
enzim protease ekstraseluler, yaitu enzim pemecah protein yang diproduksi di
dalam sel kemudian dilepaskan keluar dari sel (Abraham et al., 1993). Pada
umumnya bakteri proteolitik adalah bakteri dari genus Bacillus,

7
Pseudomonas, Proteus, Steptobacillus, Staphylococcus (Schlegel,1994). Pada
praktikum ini tidak diperoleh hasil bakteri dengan zona bening sehingga
dapat diketahui bahwa bakteri yang digunakan tidak bersifat proteolitik.
Seharusnya Staphylococcus aureus dan Bacillus cereus dapat menghidrolisis
media SMA karena kedua bakteri ini adalah bakteri proteolitik (A.H.
Akmal,1996).
Untuk menguji suatu biakan bakteri menghasilkan enzim protease
ekstraseluler, maka bakteri tersebut harus ditumbuhkan pada medium padat
yang mengandung kasein yaitu Skim Milk Agar (Fardiaz, 1993). Kasein
adalah salah satu jenis protein. Hidrolisis kasein digunakan untuk
memperlihatkan aktivitas hidrolitik protease yang memutuskan ikatan peptida
CO-NH. Hidrolisis protein ditunjukkan dengan adanya zona bening di
sekeliling pertumbuhan bakteri (Susanti, 2003). Pengujian secara kualitatif
bakteri penghasil enzim protease ekstraseluler dilakukan dengan cara
mengamati zona bening yang berada disekitar koloni bakteri, kemudian
membagi diameter zona bening dengan diameter koloni bakteri. Hasil bagi
diameter tersebut dinyatakan sebagai aktifitas protease secara relatif (Sastono,
2008). Besar-kecil diameter zona menunjukkan konsentrasi dan aktivitas
enzim yang dihasilkan. Bakteri penghasil enzim protease ekstraseluler disebut
juga sebagai bakteri proteolitik (Palmer, 1995).
Uji kedua yang dilakukan adalah uji fermentasi karbohidrat. Kemampuan
memfermentasikan berbagai karbohidrat dan produk fermentasi yang
dihasilkan merupakan ciri yang sangat berguna dalam identifikasi
mikroorganisme. Hasil akhir dari fermentasi karbohidrat ini ditentukan oleh
sifat mikroba, media biakan yang digunakan, serta faktor lingkungan antara
lain pH dan suhu. Fermentasi merupakan proses oksidasi biologi dalam
keadaan anaerob dimana yang bertindak sebagai substrat adalah karbohidrat.
Dalam percobaan ini digunakan tiga media cair dengan bakteri
Staphylococcus aureus (Pratiwi, 2008).
Uji fermentasi karbohidrat ini menghasilkan perubahan warna medium
menjadi kuning dan pembentukan gas yang terlihat dari adanya gas dalam
tabung durham. Jenis karbohidrat yang digunakan pada praktikum ini adalah

8
glukosa, laktosa, dan sukrosa. Hasil pengamatan yang telah dilakukan
menunjukkan apabila bakteri memfermentasikan karbohidrat maka akan
tampak perubahan warna pada media dari berwarna merah mejadi warna
kuning. Pada Bacillus cereus terbetuk asam dan gas pada media glukosa.
Pada Escherichia coli terbentuk asam dan gas pada media laktosa dan
glukosa. Pada staphilococcus aureus terbentuk asam dan gas pada ketiga
media dan pada Salmonella thypii terbentuk asam dan gas pada media
glukosa. (Adams, 2012).
Pengujian selanjutnya dilakukan dengan media Methyl Red. Uji MR
(Metyl Red), yaitu pH indikator akan mendeteksi adanya konsentrasi produk
akhir asam dalam jumlah tinggi. Selama periode inkubasi beberapa bakteri
akan berubah menjadi produk akhir non asam seperti 2, 3-butanediol dan
asetil-metilkarbinol yang secara enzimatik (Cappucino, 2014). Diperoleh
hasil positif pada bakteri Bacillus cereus dan Salmonella thypii karena media
keduanya berubah warna menjadi merah. Penambahan indikator metil red
pada akhir pengamatan dapat menunjukkan perubahan pH menjadi asam.
Metil red akan menjadi merah pada suasana asam (Mary, 2009).
Pengujian selanjutnya dilakukan dengan media Voges-Proskauer (VP).
Voges-Proskauer dicirikan oleh kemampuan beberapa organisme untuk
memprodukasi produk akhir netral atau non asam. Uji Voges-Proskueur
digunakan untuk mengidentifikasi mikroorganisme yang melakukan
fermentasi dengan hasil akhir 2,3 butanadiol. Bila bakteri memfermentasikan
karbohidrat menjadi 2,3 butanadiol sebagai produk utama, akan terjadi
penumpukan bahan tersebut dalam media pertumbuhan. Pada uji VP ini
dilakukan penambahan 40% KOH dan 5% larutan alfa naftol pada saat
pengamatan. Hal ini dapat menentukan adanya asetoin (asetil metil karbinol),
suatu senyawa pemula dalam sintesis 2,3 butanadiol. Dengan adanya
penambahan KOH 40 %, keberadaan setoin ditunjukkan dengan perubahan
warna medium menjadi merah, dan perubahan ini makin jelas dengan
penambahan alfa naftol beberapa tetes. Bacillus cereus dan Salmonella thypii
menunjukkan adanya perubahan warna menjadi merah sehingga keduanya
bersifat positif terhadap uji Voges-Proskauer (VP) (Maisyah, 2006).

9
Pengujian selanjutnya dilakukan untuk menguji apakah bakteri uji dapat
memproduksi H2S atau tidak. Percobaan H2S yang menghasilkan adanya area
hitam disepanjang tusukan. Area hitam pada sekitar tusukan merupakan hasil
dari hidrolisis bakteri terhadap zat yang terkandung didalam medium, yaitu
logam sulfit. Pada percobaan ini, sebagai petunjuk adanya aktivitas motilitas
inidapat diamati daerah bekas tusukan dari medium yang telahdiinokulasikan
oleh biakan dan diinkubasikan. Medium ini ditambahkansenyawa anorganik
yang mengandung sulfur, yaitu natrium tiosulfat. Natrium tiosulfat ini akan
bereaksi dengan ion hidrogen dari air, dan dengan adanya enzim tiosulfat
reduktase, maka akan dihasilkan ion sulfitdan gas H2S. Gas ini akan bereaksi
dengan feri ammonium sulfat yang ditambahkan (sebagai indikator untuk
H2S) ke dalam media sehingga terbentuk FeS yang berwarna hitam.
Pembentukan FeS inilah yang diamati sebagai penunjuk adanya aktivitas
motil dari bakteri uji pada tabung yang berisi medium motility setelah
diinkubasikan. Berikut ini adalah mekanisme reaksi yang terjadi pada uji
motilitas :

Hasil praktikum menunjukkan tidak adanya area hitam disepanjang tusukan


jarum ose. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri uji tidak memproduksi H2S
(Mary, 2009).
Pengujian selanjutnya dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri yang
memproduksi indol. Uji produksi indol mikroorganisme menjadikan asam
amino sebagai indikator sumber protein. Komponen sel dan sebagai sumber
energi. Asam amino ini dimodifikasikan menjadi berbagai macam bahan
untuk metabolisme dimana modifikasi asam amino dapat digunakan untuk
pengidentifikasian untuk suatu jenis bakteri.
Asam amino triptofan merupakan komponen asam amino yang lazim
terdapat pada protein, sehingga asam amino ini dengan mudah
dapat digunakan oleh mikroorganisme. Asam amino triptofan apabila

10
dihidrolisis oleh enzim triptofanase akan menghasilkan indol dan asam
pemuat. Untuk uji ini, digunakan medium cair yang kaya akan triptofan
dalam bentuk tripton 1% sebagai sumber karbon. Indol yang terbentuk akan
berwarna merah dengan penambahan reagen Kovach atau Erlich yang
mengandung p-dimetilbenzaldehid. Dikatakan positif apabila senyawa ini
menghasilkan senyawa para amino benzaldehid yang tidak larut dalam air dan
membentuk warna merah pada permukaan medium. Diperoleh hasil positif
pada bakteri Bacillus cereus dan Escherichia coli. Kedua bakteri ini
menggunakan asam amino triptofan untuk metabolismenya sehingga
dilakukan penguraian (Mary, 2009).
Pengujian selanjutnya dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri yang
memproduksi sitrat dalam metabolismenya. Uji sitrat merupakan salah satu
pengujian dari kelompok tes IMViC. Pengujian ini digunakan untuk melihat
kemampuan mikroorganisme menggunakan sitrat sebagai satu-satunya
sumber karbon dan energi. Untuk uji ini digunakan medium sitrat koser
(SCA) yang merupakanmedium sintetik dengan Na sitrat sebagai satu-satunya
sumber karbon,NH4+ sebagai sumber N dan indikator BTB (Brom Timol
Blue) yangmerupakan indikator pH. Bila mikroba mampu menggunakan
sitrat, maka asam akan dihilangkan dari medium biakan, sehingga
menyebabkan peningkatan pH dan mengubah warna medium dari hijau
menjadi biru. Pada praktikum ini diperoleh hasil positif pada bakteri
Salmonella thypii karena bakteri ini dapat menggunakan sitrat sebagai sumber
energi dalam metabolismenya (Ratna, 2012).
Pengujian selanjutnya adalah uji oksidasi dan fermentasi (OF). Fermentasi
dan oksidasi adalah dua proses penting dalam metabolisme mikroorganisme.
Dimana tujuan akhirnya adalah akumulasi energi, baik untuk aktivitas
mikroorganisme maupun untuk proses-proses biologis lain. Oksidasi
umumnya dilakukan pada respirasi aerobic menghasilkan CO2 dan H2O,
sedangkan fermentasi menghasilkan etanol dan gas. Adapun uji ini dilakukan
untuk mengetahui kemampuan mikroorganisme untuk menggunakan
karbohidrat dengan cara fermentasi atau oksidasi. Medium OF adalah
indikator agar semisolid yang mengandung karbohidrat dengan konsentrasi
tinggi dan sedikit pepton. Medium OF mengandung indikator bromtimol biru,
yang akan berubah menjadi kuning apabila suasananya asam. Ketika kondisi
basa, warnanya menjadi biru gelap karena penggunaan pepton yang bukan

11
karbohidrat . Bakteri Bacillus cereus, Escherichia coli dan salmonella thypii
menunjukkan hasil positif dengan adanya perubahan warna media menjadi
biru. Berdasarkan hasily yang diperoleh diketahui bahwa parafin menghambat
proses oksidasi karena parafin menghambat terjadinya proses oksidasi
(Yulvizar, 2013).
Pengujian selanjutnya adalah uji enzim katalase. Uji Katalase dilakukan
dengan meneteskan hidrogen peroksida (H O ) 3% pada gelas obyek yang
bersih. Biakan dioleskan pada gelas obyek yang sudah ditetesi hidrogen
peroksida dengan usa. Suspensi dicampur secara perlahan menggunakan usa,
hasil yang positif ditandai oleh terbentuknya gelembung-gelembung udara
(Hadioetomo, 1990). Fungsi uji katalase pada bakteri berbentuk kokus adalah
untuk membedakan antara staphylococcus dan streptococcus, dimana
kelompok staphylococcus bersifat katalase positif. Katalase merupakan enzim
yang mengkatalisa penguraian hidrogen peroksida menjadi H O dan O .
Hidrogen peroksida bersifat toksik terhadap sel karena bahan ini
menginaktifkan enzim dalam sel. Hidrogen peroksida terbentuk sewaktu
metabolisme aerob, sehingga mikroorganisme yang tumbuh dalam
lingkungan aerob pasti menguraikan bahan tersebut (Lay, 1994). Ssemua
galur staphylococcus adalah katalase positif (Freney et al., 1999). Keempat
sampel bakteri diantaranya : Bacillus cereus, Escherichia coli, Stapillococcus
aureus dan Salmonella thypii. sampel bakteri Staphylococcus aureus bersifat
non-motil, nonspora, anaerob fakultatif, katalase positif dan oksidase negatif
(Amalia, 2013)

IV. KESIMPULAN
Bakteri memiliki berbagai aktivitas biokimia dengan menggunakan nutrisi
yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Nutrisi yang diperoleh bakteri
kemudian akan dikonversi menjadi energi untuk proses metabolisme yang
menghasilkan produk samping yang dapat digunakan sebagai indikator
identifikasi. Transformasi biokimia dapat timbul didalam dan diluar dari
bakteri yang diatur oleh enzim. Setiap bakteri memiliki kemampuan dalam

12
menggunakan enzim yang dimilikinya untuk degradasi karbohidrat, lemak,
protein, dan asam amino.

V. DAFTAR PUSTAKA
Abraham, A. G., G. L. De Antoni, dan M. C. Anon. 1993. Proteolitic Activity of
Lactobacillus bulgaricus Grown in Milk. J. Dairy Science. 76. 1498–1505.
Adams MR, Moss MO. 2008.Food Microbiology 3rd Edition.Cambridge : RSC
Pub.
A. H. Akmal, dan Romita, A. 1996. Isolasi Mikroba Tanah Penghasil Antibiotika
dan Sampel Tanah pada Lokasi Penumpukan Sampah. Cermin Dunia
Kedokteran, No. 108,199645.
Amalia Krishna Dewi. 2013. Isolasi, Identifikasi dan Uji Sensitivitas
Staphylococcus aureus terhadap Amoxicillin dari Sampel Susu Kambing
Peranakan Ettawa (PE) Penderita Mastitis Di Wilayah Girimulyo,
Kulonprogo, Yogyakarta. UGM. SAIN VETERINER. ISSN : 0126 – 0421.
31 (2)
Buchanan,RE. & Gibbons,NE. 2003 . Bergey’s Manual of Determinative
Bacteriology. The William & Wilkins Company Baltimore.USA.
Cappucino, J. G., & Sherman, N., 2014, Manual Laboratorium Mikrobiologi,
Edisi 8, Jakarta, EGC.
Cowan,ST. 2004. Manual for the Identification of Medical Fungi. London:
Cambridge University Press.
Fardiaz, S. 1993. Analisis Mikrobiologi Pangan Edisi Pertama. Cetakan Pertama.
Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Freney, J., Kioos, W.E., Hajek., and Webster, J.A. (1999) Recommended minimal
standard for description of new Staphylococcal species. Int. J. Syst. Bacterio.
49: 489-502.
Hadioetomo, R.S.1990. Mikrobiologi dasar dalam praktek teknik dan prosedur
dasar laboratorium. Penerbit PT Gramedia, Jakarta. Hal 103-104
Lay, B. W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. PT Raja Grafindo
Persada.Jakarta.
Maisyah. 2009. Aktivitas Biokimia Mikroba. Jakarta : Erlangga.
Mary, Lee. 2009. Basic Skills in Interpreting Laboratory Data. USA: ASHP.
Ratna, Siri. 2012. Mikrobiologi Dasar dalam Praktek: Teknik dan Prosedur dasar
Laboratorium. Jakarta: PT Gramedia.
Noverita, R. Widowati, Yulneriwarni dan Darnely. 2009. Penuntun Praktikum
Mikrobiologi. Fakultas Biologi Universitas Nasional. Jakarta.
Palmer, T., 1995. Understanding Enzymes 4thedition. Prentice Hall, London.
Pratiwi, S. T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: PT. Gelora Askara Pratama.

13
Sastono,U., Sutardi., Verdial,O.F.2008. Opimasi Pemecahan Emulsi Kanil
Dengan Cara Pendinginan Dan Pengadukan Pada Virgin Coconut Oil
(VCO): (Abstrak) Prosiding Seminar . Institut Pertanian Bogor .
Schlegel Hans G,. 1994. Mikrobiologi Umum. Penterjemah Tedjo Baskoro. Edisi
keenam. Gajah Mada University Press. Yogyakarta
Susanti EVH. 2003. Isolasi dan Karakterisasi Protease dari Bacillus subtilis
1012M15. Jurnal Biodiversitas 4(1), 12-17.
Yulvizar, Cut. 2013. Isolasi dan Identifikasi Bakteri Probiotik pada Rastrelliger
sp. Biospesies. Vol 6 (2) : 1-7.

VI. LAMPIRAN
1. Sebutkan salah satu kegunaan mengathui aktivitas biokimia !
Jawab : mengidentifikasi dan mengklasifikasikan mikroorganisme atau
bakteri.
2. Apakah makromolekul yang membantu melaksanakan hidrolisis ?
Enzim, yang berperan sebagai katalisator yakni makromolekul yang
mempercepat reaksi namun tidak ikut bereaksi.

14