Anda di halaman 1dari 16

STRATEGI ADVOKASI UNTUK PENANGANAN STUNTING DI

KABUPATEN ACEH TENGAH

A. Latar Belakang

Stunting adalah masalah gizi kronis pada balita yang ditandai dengan tinggi badan yang
lebih pendek dibandingkan dengan anak seusianya. Anak yang menderita stunting akan lebih
rentan terhadap penyakit dan ketika dewasa berisiko untuk mengidap penyakit degeneratif.
Dampak stunting tidak hanya pada segi kesehatan tetapi juga mempengaruhi tingkat
kecerdasan anak. Anak merupakan aset bangsa di masa depan. Bisa dibayangkan, bagaimana
kondisi sumber daya manusia Indonesia di masa yang akan datang jika saat ini banyak anak
Indonesia yang menderita stunting. Dapat dipastikan bangsa ini tidak akan mampu bersaing
dengan bangsa lain dalam menghadapi tantangan global. Untuk mencegah hal tersebut,
pemerintah mencanangkan program intervensi pencegahan stunting terintegrasi yang
melibatkan lintas kementerian dan lembaga. Pada tahun 2018, ditetapkan 100 kabupaten di
34 provinsi sebagai lokasi prioritas penurunan stunting. Jumlah ini akan bertambah sebanyak
60 kabupaten pada tahun berikutnya. Dengan adanya kerjasama lintas sektor ini diharapkan
dapat menekan angka stunting di Indonesia sehingga dapat tercapai target Sustainable
Development Goals (SDGs) pada tahun 2025 yaitu penurunan angka stunting hingga 40%.
Untuk mewujudkan hal tersebut, pemerintah menetapkan stunting sebagai salah satu
program prioritas. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 39 Tahun 2016 tentang
Pedoman Penyelenggaraan Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga, upaya
yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi stunting di antaranya sebagai berikut:
1. Ibu Hamil dan Bersalin
a. Intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan;
b.Mengupayakan jaminan mutu ante natal care (ANC) terpadu;
c. Meningkatkan persalinan di fasilitas kesehatan;
d.Menyelenggarakan program pemberian makanan tinggi kalori, protein, dan mikronutrien
(TKPM);
e.Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular);
f. Pemberantasan kecacingan;
g.Meningkatkan transformasi Kartu Menuju Sehat (KMS) ke dalam Buku KIA;
h. Menyelenggarakan konseling Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI eksklusif; dan
i. Penyuluhan dan pelayanan KB.

2. Balita
a. Pemantauan pertumbuhan balita;
b.Menyelenggarakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita;
c. Menyelenggarakan stimulasi dini perkembangan anak; dan
d.Memberikan pelayanan kesehatan yang optimal.

3. Anak Usia Sekolah


a. Melakukan revitalisasi Usaha Kesehatan Sekolah (UKS);
b.Menguatkan kelembagaan Tim Pembina UKS;
c. Menyelenggarakan Program Gizi Anak Sekolah (PROGAS); dan
d.Memberlakukan sekolah sebagai kawasan bebas rokok dan narkoba.

4. Remaja
a. Meningkatkan penyuluhan untuk perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), pola gizi
seimbang, tidak merokok, dan mengonsumsi narkoba; dan
b.Pendidikan kesehatan reproduksi.

5. Dewasa Muda
a. Penyuluhan dan pelayanan keluarga berencana (KB);
b.Deteksi dini penyakit (menular dan tidak menular); dan
c. Meningkatkan penyuluhan untuk PHBS, pola gizi seimbang, tidak merokok/mengonsumsi
narkoba.

1. Situasi Global

Kejadian balita pendek atau biasa disebut dengan stunting merupakan salah satu masalah
gizi yang dialami oleh balita di dunia saat ini. Pada tahun 2017 22,2% atau sekitar 150,8 juta
balita di dunia mengalami stunting. Namun angka ini sudah mengalami penurunan jika
dibandingkan dengan angka stunting pada tahun 2000 yaitu 32,6%. Pada tahun 2017, lebih
dari setengah balita stunting di dunia berasal dari Asia (55%) sedangkan lebih dari
sepertiganya (39%) tinggal di Afrika. Dari 83,6 juta balita stunting di Asia, proporsi
terbanyak berasal dari Asia Selatan (58,7%) dan proporsi paling sedikit di Asia Tengah
(0,9%).

2. Situasi Nasional

Kejadian balita stunting (pendek) merupakan masalah gizi utama yang dihadapi Indonesia.
Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) selama tiga tahun terakhir, pendek
memiliki prevalensi tertinggi dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti gizi kurang,
kurus, dan gemuk. Prevalensi balita pendek mengalami peningkatan dari tahun 2016 yaitu
27,5% menjadi 29,6% pada tahun 2017. Prevalensi balita pendek di Indonesia cenderung
statis. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 menunjukkan prevalensi balita
pendek di Indonesia sebesar 36,8%. Pada tahun 2010, terjadi sedikit penurunan menjadi
35,6%. Namun prevalensi balita pendek kembali meningkat pada tahun 2013 yaitu menjadi
37,2%. Prevalensi balita pendek selanjutnya akan diperoleh dari hasil Riskesdas tahun 2018
yang juga menjadi ukuran keberhasilan program yang sudah diupayakan oleh pemerintah.
Survei PSG diselenggarakan sebagai monitoring dan evaluasi kegiatan dan capaian program.
Berdasarkan hasil PSG tahun 2015, prevalensi balita pendek di Indonesia adalah 29%.
Angka ini mengalami penurunan pada tahun 2016 menjadi 27,5%. Namun prevalensi balita
pendek kembali meningkat menjadi 29,6% pada tahun 2017.
3. Situasi di Aceh Tengah

Ketua tim penggerak PKK Kabupaten Aceh Tengah Puan Ratna menyatakan pihaknya siap
menggandeng semua pihak di daerah tersebut untuk menurunkan anga stunting atau kondisi
gagl pertumbuhan tubuh dan otak pada anak akibat kekurangan gizi. “Angka Stunting
Kabupaten Aceh Tengah masih tergolong tinggi dengan kiasaran 38% pada tahun 2018 atau
lebih tinggi dari nasional”, kata Puan Ratna dalam siaran Pers diterima di Banda Aceh,
Senin. Ia menjelaskan Kabupaten Aceh Tengah menjadi satu dari 100 kabupaten dan kota di
Indonesia yang sudah membuat komitmen untuk menurunkan angka stunting.
“PKK juga punya kewajiban untuk berpartisipasi menurunkan angka Stunting di
Kabupaten Aceh Tengah, terutama dalam meningkatkan pemahaman kaum perempuan
terhadap pentingnya menerapkan pola hidup sehat dan sadar gizi”, katanya. Menurut dia,
PKK punya kader hingga ke kampung-kampung yang dapat memberi informasi kepada
masyarakat tentang budaya hidup sehat dan menjaga usia kehamilan serta 1000 har pertama
pasca kelahiran degan gizi bayi yang cukup.

- Merencanakan strategi advokasi dan menetapkan sasaran advokasi


1. Analisis lanskap mengenai proses pembuatan kebijakan dan pengambilan keputusan:
Teliti tindakan kebijakan terkait yang perlu diambil di tiap tingkat pemerintahan, juga
pengambil keputusan kunci untuk tiap tindakan kebijakan.
What has been done in Indonesia: Nutrition landscape analysis, nutrition sector review.
■ Yang telah dilakukan di Indonesia: analisis lanskap gizi, tinjauan sektor gizi.
■ Rekomendasi: tinjauan hukum (termasuk prosedur di bidang legislatif), memperluas telaah
kebijakan untuk mencakup bidang-bidang gizi yang peka.
2. Pemetaan pemangku kepentingan: Dengan analisis lanskap kebijakan dan pengambilan
keputusan sebagai dasar, susun peta pemangku kepentingan untuk tiap sasaran kebijakan
yang ditetapkan (pemangku kepentingan yang relevan dapat berubah tergantung pada
prioritas advokasi). .
■ Rekomendasi: Susun atau perbaharui peta pemangku kepentingan terkait dengan isu yang
dibahas, termasuk untuk tingkat sub-nasional. Ini dapat dilaksanakan melalui pertemuan
konsultatif.
3. Penilaian tentang pemuka pendapat dan pengambil keputusan:
Ini berupa penilaian cepat untuk mengumpulkan wawasan dari para pengambil keputusan
melalui wawancara. Tujuannya adalah untuk lebih memahami pengetahuan dan pandangan
mereka mengenai kekurangan gizi dan stunting; motivasi mereka dalam memprioritaskan
stunting; hambatan dalam meningkatkan keinginan politik dan masyarakat untuk memerangi
kurang gizi dan stunting; serta pandangan dan momentum terkait dengan tindakan kebijakan
tertentu.
B. Strategi Mengatasi Stunting

Strategi ke depan terkait dengan pola asuh, maka direkomendasikan beberapa hal antara
lain:
1. Melakukan monitoring pasca pelatihan konselor menyusui utamanya di tingkat
kecamatan dan desa;
2. Melakukan sanksi terhadap pelanggar PP tentang ASI;
3. Melakukan konseling menyusui kepada pada ibu hamil yang datang ke ante natal
care/ANC (4 minggu pertama kehamilan) untuk persiapan menyusui;
4. Meningkatkan kampanye dan komunikasi tentang menyusui;
5. Melakukan konseling dan pelatihan untuk cara penyediaan dan pemberian MP-ASI
sesuai standar (MAD).
Ketahanan pangan (food security) tingkat rumah tangga adalah aspek penting dalam
pencegahan stanting. Isu ketahanan pangan termasuk ketersediaan pangan sampai level
rumah tangga, kualitas makanan yang dikonsumsi (intake), serta stabilitas dari ketersediaan
pangan itu sendiri yang terkait dengan akses penduduk untuk membeli. Masalah ketahanan
pangan tingkat rumah tangga masih tetap menjadi masalah global, dan juga di Indonesia,
dan ini sangat terkait dengan kejadian kurang gizi, dengan indikator prevalensi kurus pada
semua kelompok umur. Dalam jangka panjang masalah ini akan menjadi penyebab
meningkatnya prevalensi stunting, ada proses gagal tumbuh yang kejadiannya diawali pada
kehamilan, sebagai dampak kurangnya asupan gizi sebelum dan selama kehamilan.
Amanat ketahanan pangan di Indonesia adalah dari UU Nomor 18 Tahun 2012 tentang
Pangan, dan juga UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Pada Undang-undang
Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, disebutkan antara lain:
1. Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban meningkatkan pemenuhan kuantitas dan
kualitas konsumsi pangan masyarakat melalui:
a) penetapan target pencapaian angka konsumsi pangan per kapita pertahun sesuai dengan
angka kecukupan gizi;
b) penyediaan pangan yang beragam, bergizi seimbang, aman, dan tidak bertentangan
dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat; dan
c). pengembangan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam pola konsumsi pangan
yang beragam, bergizi seimbang, bermutu, dan aman;
2. Pemerintah dan pemerintah daerah berkewajiban mewujudkan penganekaragaman
konsumsi pangan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat dan mendukung hidup sehat,
aktif, dan produktif;
3. Penganekaragaman konsumsi pangan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran
masyarakat dan membudayakan pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi seimbang,
dan aman serta sesuai dengan potensi dan kearifan lokal;
4. Penganekaragaman konsumsi pangan dilakukan dengan:
a) mempromosikan penganekaragaman konsumsi pangan;
b) meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat untuk mengonsumsi aneka ragam
pangan dengan prinsip gizi seimbang;
c) meningkatkan keterampilan dalam pengembangan olahan pangan lokal; dan
d) mengembangkan dan mendiseminasikan teknologi tepat guna untuk pengolahan pangan
lokal;
5. Pemerintah menetapkan kebijakan di bidang gizi untuk perbaikan status gizi masyarakat.
Kebijakan pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui:
a) penetapan persyaratan perbaikan atau pengayaan gizi pangan tertentu yang diedarkan
apabila terjadi kekurangan atau penurunan status gizi masyarakat;
b) penetapan persyaratan khusus mengenai komposisi pangan untuk meningkatkan
kandungan gizi pangan olahan tertentu yang diperdagangkan;
c) pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, dan kelompok rawan
gizi lainnya; dan
d) peningkatan konsumsi pangan hasil produk ternak, ikan, sayuran, buah-buahan, dan
umbi-umbian lokal;
6. Pemerintah dan pemerintah daerah menyusun Rencana Aksi Pangan dan Gizi setiap 5
(lima) tahun.
Pada Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan terkait dengan ketahanan
pangan tingkat keluarga, tertulis sebagai berikut:
1. Upaya Perbaikan Gizi Masyarakat ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perseorangan
dan masyarakat, melalui antara lain
a) perbaikan pola konsumsi makanan, dan
b) peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi;
2. Pemerintah bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga miskin dan
dalam keadaan darurat;
3. Pemerintah juga bertanggung jawab terhadap pendidikan dan informasi yang benar
tentang gizi kepada masyarakat. (Bab VIII, Pasal 142; ayat 3 UU 36/2009).
Dari amanat tersebut masih banyak yang belum terpenuhi, jika memperhatikan fakta yang
ada seperti yang sudah diuraikan sebelumnya, seperti terkait masih banyaknya antara lain
ibu hamil yang asupannya defisit dari sisi energi dan protein. Beberapa program yang
terekam dari lapangan dan sudah dilaksanakan antara lain:
1) Beras Miskin (Raskin)/Beras Sejahtera (Rastra) (Bulog);
2) Bantuan Pangan Non Tunai (Kementerian Sosial);
3) Program Keluarga Harapan/PKH (Kementerian Sosial);
4) Pemberian Makanan Tambahan/PMT ibu hamil (Kementerian Kesehatan);
5) Bantuan pangan asal sumber lain (Pemda, LSM, dan lain-lain).

C. Kelompok sasaran
1. KELOMPOK PRIORITAS (Sasaran Primer)
Kelompok yang tergabung dan yang akan dilakukan intervensi KPP yaitu:
• Ibu hamil
• Ibu menyusui
• Anak usia 0-23 bulan, Anak usia 24-59 bulan
• Tenaga kesehatan: bidan, sanitarian, tenaga gizi, dokter, perawat
• Kader
2. KELOMPOK PENTING (Sasaran Sekunder)
Kelompok yang berpotensi mempengaruhi terjadinya perubahan perilaku dan
diintervensi umumnya melalui upaya mobilisasi sosial:
• Wanita usia subur, Remaja
• Lingkungan pengasuh anak terdekat (kakek, nenek, ayah, dan lainnya)
• Pemuka masyarakat
• Pemuka agama
• Jejaring sosial (PKK, group pengajian, dll)
3. KELOMPOK PENDUKUNG (Sasaran Tersier)
Pihak yang terlibat sebagai lingkungan pendukung untuk upaya percepatan pencegahan
stunting, diintervensi melalui advokasi dan informasi publik, terdiri dari:
• Pengambil kebijakan/keputusan: nasional, provinsi, kabupaten, kota dan desa
• Organisasi Perangkat Daerah
• Swasta: dokter, bidan, dokter anak, dokter kandungan
• Dunia usaha
• Donor dan perwakilan media
• Media massa

D. Struktur dan Dimensi Pesan Kunci

FASE 1 FASE 2 FASE 3

Dimensi Pengenalan konsep Pengenalan cara yang bisa Menumbuhkan pemberdayaan


Pesan stunting yang paling ditempuh oleh masyarakat serta memperkuat kontrol
tepat dan mudah untuk mencegah dan merujuk sosial yang lebih baik di antara
dipahami oleh kasus stunting anggota masyarakat, bagi
masyarakat pencegahan stunting

Perubahan Target kelompok sasaran Target kelompok sasaran Target kelompok sasaran
Perilaku memahami definsi memahami langkah-langkah memiliki kemampuan untuk
yang stunting, mengenali ciri yang dapat diambil untuk menjelaskan halhal seputar isu
Diharapkan umum dan faktor mencegah dan menangani stunting, mengembangkan
risikonya, memiliki anak stunting, serta solidaritas sosial yang lebih
keingintahuan yang lebih mengimplementasikan kuat antar individu, merasa
besar untuk memeriksa langkahlangkah tersebut prihatin dan ingin melakukan
kondisi anak dan dalam gaya hidup sehat perubahan bilamana terdapat
mencari informasi lebih sehari-hari kasus stunting di
banyak terkait stunting lingkungannya
KELOMPOK SASARAN TERSIER Pembuat Kebijakan Tingkat Daerah (Provinsi,
Kabupaten, Kota)

PESAN KUNCI UTAMA: Stunting adalah permasalahan prioritas di daerah yang bisa dituntaskan
melalui komitmen pemimpin daerah dan kerja sama antar Organisasi Perangkat Daerah

PESAN KUNCI 1 PESAN KUNCI 2 PESAN KUNCI 3


Prevalensi stunting di daerah ?? tidak Saat ini, Indonesia telah Para pembuat kebijakan dan
dapat dianggap remeh, perlu ada memiliki Saat ini, daerah pemimpin daerah perlu
perhatian serius dari para pembuat ?? telah memiliki sejumlah memastikan implementasi
kebijakan setempat. instrumen kebijakan dan kebijakan yang telah ada,
telah menjalankan segera menindaklanjuti
sejumlah upaya Percepatan penguatan berbagai program
Pencegahan Stunting. dan terus menyesuaikan
kebijakannya seiring
perkembangan situasi sosial,
agar dapat mencapai tujuan
pengurangan angka stunting.
POIN-POIN PENDUKUNG 1 POIN-POIN POIN-POIN PENDUKUNG 3
Disesuaikan dengan situasi stunting PENDUKUNG 2 • Jadikan pencegahan stunting
dan identifikasi penyebab Disesuaikan dengan sebagai prioritas pembangunan
permasalahan stunting di wilayah kebijakan dan program kesehatan daerah dengan
masing-masing. yang dimiliki masing- sumberdaya dana dan manusia
masing daerah terkait yang memadai
upaya pencegahan stunting • Tingkatkan pemahaman dan
yang efektif dan efisien. kemampuan tenaga pelayanan
publik terkait penyuluhan,
tindak pencegahan serta
penanganan stunting.
• Rancang dan terapkan
program komunikasi perubahan
perilaku pencegahan stunting
dengan mengintegrasikan
komunikasi antar pribadi,
komunikasi kelompok dan
komunikasi massa, melalui
pemanfaatan berbagai alat atau
media komunikasi.
• Gunakan pendekatan
komunikasi dan program
intervensi inovatif yang khas
dan relevan dengan
memperhatikan demografi
sosial, segmen ekonomi, adat
dan budaya masyarakat
setempat
• Dorong terwujudnya
konvergensi program lintas
sektor untuk menanggulangi
stunting secara bersama-sama.
• Pastikan ketersediaan Standar
Pelayanan Minimal layanan
publik sebagai bagian dari
komitmen pemerintah.

KELOMPOK SASARAN TERSIER Pembuat Kebijakan Tingkat Desa/Kelurahan

PESAN KUNCI UTAMA: Stunting adalah permasalahan mendesak yang terjadi di tengah
masyarakat dan dapat dicegah melalui komitmen pemimpin desa dan kerja sama antar warga
masyarakat

PESAN KUNCI 1 PESAN KUNCI 2 PESAN KUNCI 3


Prevalensi stunting di desa/kelurahan Saat ini, desa/kelurahan ?? Para pemimpin desa perlu
?? tidak dapat dianggap remeh, perlu telah memiliki sejumlah memastikan implementasi
ada perhatian serius dari para instrumen kebijakan dan kebijakan yang telah ada,
pembuat kebijakan setempat. telah menjalankan segera menindaklanjuti
sejumlah upaya Percepatan penguatan berbagai program
Pencegahan Stunting. dan terus menyesuaikannya
seiring perkembangan situasi
sosial, agar dapat mencapai
tujuan pengurangan angka
stunting.
POIN-POIN PENDUKUNG 1 POIN-POIN POIN-POIN PENDUKUNG 3
Disesuaikan dengan situasi stunting PENDUKUNG 2 • Jadikan pencegahan stunting
dan identifikasi penyebab Disesuaikan dengan sebagai prioritas pembangunan
permasalahan stunting di desa kebijakan dan program desa dengan sumberdaya dana
masing-masing. yang dimiliki masing- dan manusia yang memadai.
masing desa terkait upaya • Tingkatkan pemahaman dan
pencegahan stunting yang kemampuan tenaga pelayanan
efektif dan efisien. publik terkait penyuluhan,
tindak pencegahan serta
penanganan stunting.
• Terapkan program
komunikasi perubahan perilaku
masyarakat utamanya dengan
pendekatan antar pribadi dan
komunikasi kelompok.
• Gunakan pendekatan
komunikasi dan program
intervensi inovatif yang khas
dan relevan dengan
memperhatikan demografi
sosial, segmen ekonomi, adat
dan budaya masyarakat
setempat.
KELOMPOK SASARAN PRIMER Tenaga Kesehatan (Bidan, Sanitarian, Tenaga Gizi,
Dokter, Perawat) dan Kader

PESAN KUNCI UTAMA: Stunting adalah permasalahan kesehatan yang dapat dicegah dengan
intervensi gizi spesifik dan sensitif oleh penyedia layanan kesehatan yang terampil.

PESAN KUNCI 1 PESAN KUNCI 2 PESAN KUNCI 3


Prevalensi stunting di Indonesia Stunting dapat dicegah dan Buktikan komitmen penyedia
tidak dapat dianggap remeh dan manfaat yang dirasakan layanan dan tenaga kesehatan
perlu menjadi prioritas dan bersifat jangka panjang. untuk menunjukkan upaya
mendapat perhatian dari para terbaik dalam mencapai target
penyedia layanan dan tenaga nasional penurunan prevalensi
kesehatan. stunting, melalui komunikasi
perubahan perilaku pencegahan
stunting.

POIN-POIN PENDUKUNG 1 POIN-POIN POIN-POIN PENDUKUNG 3


• Stunting masih merupakan PENDUKUNG 2 • Tingkatkan kualitas layanan –
masalah kesehatan masyarakat • Pencegahan stunting terutama konseling antar pribadi
Indonesia yang umum ditemui. merupakan investasi melalui kunjungan rumah, di
• Stunting tidak hanya terjadi terhadap SDM secara posyandu, dan di institusi
masyarakat miskin tetapi juga terjadi jangka panjang. layanan kesehatan.
pada 29% kelompok terkaya, di desa • Penurunan angka • Sampaikan edukasi pada
maupun di kota. stunting pada tahun 2024 warga tentang pentingnya: o
• Stunting dapat dicegah utamanya merupakan target Gizi seimbang bagi remaja
melalui upaya komunikasi kesehatan nasional sesuai putri, WUS dan kelompok
perubahan perilaku dengan RPJMN 2019-2024. dengan anggota keluarga yang
pendekatan antar pribadi pada • Mencegah stunting berada pada periode 1.000 hari
kelompok sasaran. berarti memperbaiki pertama kehidupan anak o
kualitas generasi bangsa, Rutinitas melakukan stimulasi,
terutama dalam deteksi, dan intervensi dini
menyiapkan Generasi periode tumbuh kembang di
Emas 2045. Puskesmas, Posyandu dan
• Pencegahan stunting PAUD. o Mencuci tangan
memerlukan kerja sama dengan sabun di 5 waktu
lintas sektor. penting utama
• Stop BAB sembarangan,
gunakan air bersih dan jamban
sehat.
• Cuci tangan pakai sabun
dengan air mengalir, dan
praktikkan di 5 waktu penting
KELOMPOK SASARAN TERSIER Kelompok Masyarakat Madani (Tokoh Masyarakat,
Tokoh Agama, Akademisi, Pemuka Adat, Pemimpin Informal, Pemimpin Opini)

PESAN KUNCI UTAMA: Stunting saat ini menjadi salah satu prioritas kesehatan nasional.
Mendesak untuk melakukan penguatan kesadaran publik untuk membantu mencegah stunting
melalui optimalisasi tumbuh kembang pada 1.000 hari pertama kehidupan anak.

PESAN KUNCI 1 PESAN KUNCI 2 PESAN KUNCI 3


Stunting umum ditemui di tengah Stunting menimbulkan Perlu peningkatan kesadaran
masyarakat Indonesia dan dapat dampak jangka panjang masyarakat untuk mengubah
dicegah, namun pengetahuan dan mengancam kualitas perilaku, melalui komunikasi
masyarakat tentang stunting masih generasi bangsa. interpersonal yang muatannya
relatif rendah. menyasar berbagai aspek yang
saling terkait.
POIN-POIN PENDUKUNG 1 POIN-POIN POIN-POIN PENDUKUNG 3
• Disesuaikan dengan situasi stunting PENDUKUNG 2 • Gunakan pendekatan
Bayi lahir dengan berat badan • Penderita stunting komunikasi dan program
kurang dari 2.500 gram dan panjang beresiko memiliki intervensi inovatif yang khas
badan kurang dari 48 cm beresiko keterampilan kognitif dan relevan dengan
menderita stunting. rendah, rendah memperhatikan demografi
• Anak yang menderita stunting tidak prestasi/pencapaian sosial, segmen ekonomi, adat
akan pernah mencapai tinggi badan pendidikan, rendah dan budaya masyarakat
dan perkembangan otak yang produktivitas dan setempat.
optimal, untuk menikmati potensi kreativitas di masa depan, • Mengedukasi warga dalam
kognitifnya secara maksimal. serta berpotensi merencanakan pernikahan dan
• Orang dengan tinggi badan kurang mengancam kesejahteraan kehamilan dengan bijaksana
dari 145 cm berisiko mengalami mereka; terhambat
kekurangan berat badan dan kemungkinannya meraih • Meningkatkan pengetahuan
berpotensi menderita stunting. pendapatan besar dan warga akan asupan gizi
berpotensi besar menjadi seimbang, perilaku hidup bersih
miskin. dan sehat, serta bahaya
• Stunting menimbulkan merokok.
dampak antar-generasi, • Gaya hidup sehat salah satu
orang tua yang stunting dan utamanya memastikan
besar kemungkinan akan pemanfaatan air dan sanitasi
melahirkan anak yang bersih dalam kegiatan sehari-
stunting pula sehingga hari. • Mendorong warga untuk
kualitas keluarga memeriksakan kehamilan
terancam, terus menjadi secara rutin dan melahirkan di
lingkaran masalah yang tak fasilitas kesehatan terdekat.
terputuskan. • Menggugah warga untuk
• Stunting bukan saja mengunjungi
mengancam potensi posyandu/fasilitas kesehatan
individu namun seluruh untuk memantau tumbuh
generasi bangsa, saat kembang anak dan menerima
Indonesia menjelang
manfaat bonus demografi layanan kesehatan dasar, serta
di tahun 2045 mendatang. stimulasi dini.
• Mendorong keterlibatan
suami atau ayah dalam kegiatan
mengasuh anak, termasuk
dukungan pemberian ASI
secara eksklusif optimal dan
dukungan moral serta
pemenuhan kebutuhan ibu-
anak, demi pembentukan status
gizi ideal sang anak.

KELOMPOK SASARAN SEKUNDER Wanita usia subur, Remaja , Lingkungan pengasuh


anak.terdekat (kakek, nenek, ayah, dan lainnya), Pemuka masyarakat, Pemuka agama,
Jejaring sosial (PKK, group pengajian, dll).

PESAN KUNCI UTAMA Mencegah stunting itu penting, dimulai dari remaja dan calon ibu,
dengan dukungan suami dan keluarga.

PESAN KUNCI 1 Stunting umum PESAN KUNCI 2 PESAN KUNCI 3


ditemui di tengah lingkungan kita, Stunting dapat dicegah. Ambil tindakan lebih lanjut.
kenali gejala dan pahami faktor Anda sangat dianjurkan Pastikan Anda mempraktikkan
resiko stunting dengan baik. untuk mencegahnya sejak gaya hidup sehat dan perkuat
dini melalui upaya solidaritas sosial agar penurunan
mandiri, agar pertumbuhan stunting menjadi tanggungjawab
fisik dan kognitif calon bersama.
Anak di masa depan tidak
terhambat.
POIN-POIN PENDUKUNG 1 PON-POIN POIN-POIN PENDUKUNG 3
• Remaja yang menikah dan hamil < PENDUKUNG 2 • Manfaatkan usia muda untuk
20 tahun. • Rencanakan kehamilan kegiatan yang produktif dengan
• Remaja/WUS yang anemia dan dengan bijaksana. gaya hidup sehat.
kurang gizi berisiko melahirkan anak • Pastikan seluruh keluarga • Tidak melakukan pergaulan
stunting. untuk mengasup gizi bebas.
• Waspadai remaja dan WUS yang seimbang dan minum • Memeriksakan kesehatan ke
tidak berperilaku hidup bersih dan Tablet Tambah Darah tempat pelayanan kesehatan
sehat. secara rutin (1 tablet setiap secara berkala.
• Awas diare berulang pada anak minggu). • Suami dan/atau calon ayah
balita (berikan oralit dan zinc selama • Cek kadar Hemoglobin serta anggota keluarga lainnya,
10 hari). (HB) secara rutin. dihimbau untuk sejak dini
• Lakukan aktivitas fisik terlibat dalam pemeliharaan
minimal 30 menit setiap kesehatan keluarga, memenuhi
hari. kebutuhan, dan memberi
• Istirahat yang cukup. dukungan moral kepada calon
• Tidak merokok dan tidak ibu, demi pembentukan status
minum alkohol. gizi ideal calon anak.
• Gunakan air bersih dan
jamban sehat.
• Cuci tangan pakai sabun
dengan air mengalir, dan
praktikkan di 5 waktu
penting

KELOMPOK SASARAN TERSIER Pembuat Kebijakan Tingkat Kementerian/Lembaga


(Pemerintah Pusat)

PESAN KUNCI UTAMA: Stunting adalah masalah nasional yang bisa dituntaskan melalui
komitmen para pemimpin dan kolaborasi lintas kementerian/lembaga

PESAN KUNCI 1 PESAN KUNCI 2 PESAN KUNCI 3


Prevalensi stunting di Indonesia Saat ini, Indonesia telah Para pembuat kebijakan dan
stagnan sejak 2007- 2013 dan memiliki sejumlah pemimpin lintas sektor perlu
termasuk yang tertinggi di Asia instrumen kebijakan dan memastikan implementasi
Tenggara. Perlu ada perhatian serius telah menjalankan kebijakan yang telah ada,
dari para pembuat kebijakan. sejumlah upaya Percepatan menyesuaikannya seiring
Pencegahan Stunting. perkembangan situasi sosial,
berkoordinasi erat dengan
pemerintah daerah agar dapat
mencapai tujuan pengurangan
angka stunting.
POIN-POIN PENDUKUNG 1 POIN-POIN POIN-POIN PENDUKUNG 3
• Anak yang menderita stunting tidak PENDUKUNG 2 • Jadikan Strategi Nasional
akan pernah mencapai tinggi badan • Peraturan Presiden No. Percepatan Pencegahan Stunting
dan perkembangan otak yang 42/2013. sebagai acuan kerja utama yang
optimal, untuk menikmati potensi • RPJMN 2014-2019 dan dapat disesuaikan dengan sektor
kognitifnya secara maksimal. 2019-2024. kerja masing-masing dan
• Penderita stunting beresiko • Strategi Nasional perkembangan situasi sesuai
memiliki keterampilan kognitif Percepatan Pencegahan konteks yang ada.
rendah, rendah prestasi/pencapaian Stunting 2018-2021. • Tetapkan pencegahan stunting
pendidikan, rendah produktivitas dan sebagai salah satu prioritas
kreativitas di masa depan, serta pembangunan kesehatan
berpotensi mengancam nasional dengan sumberdaya
kesejahteraan mereka; terhambat dana dan manusia yang
kemungkinannya meraih pendapatan memadai.
besar dan berpotensi besar menjadi • Tingkatkan koordinasi dan
miskin. kerjasama dengan pemerintah
daerah dalam memastikan
• Stunting menimbulkan dampak implementasi kebijakan/regulasi
antar-generasi, orang tua yang yang diadaptasi dari Stratnas
stunting besar kemungkinan akan berjalan dengan baik.
melahirkan anak yang stunting pula • Bersikap terbuka dan fleksibel
sehingga kualitas keluarga terancam, dalam mengakomodir aspirasi
terus menjadi lingkaran masalah daerah termasuk penyesuaian
yang tak terputuskan. yang mungkin perlu dilakukan.
• Stunting bukan saja mengancam • Dorong terwujudnya
potensi individu namun seluruh konvergensi program lintas
generasi bangsa, saat Indonesia sektor untuk menanggulangi
menjelang manfaat bonus demografi stunting secara bersama-sama.
Generasi Emas 2045. • Pastikan kegiatan monitoring
dan evaluasi yang melekat untuk
memastikan pencapaian tujuan.

E. Pembagian Peran dan Tanggung Jawab

PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA

• Menciptakan lingkungan kebijakan daerah yang mendukung kebijakan intervensi gizi yang
konvergen, dengan menyesuaikan kebijakan daerah dengan kebijakan pusat dan kondisi
daerah.
• Memastikan dipenuhinya sumber daya untuk intervensi gizi yang konvergen melalui proses
perencanaan dan penganggaran, meliputi kapasitas SDM, anggaran, dukungan logistik, dan
kemitraan.
• Melakukan pembinaan dan pendampingan pelaksanaan intervensi gizi prioritas yang
konvergen (terpadu) di tingkat kecamatan dan desa.

PUSKESMAS
• Melakukan pendataan masalah gizi masyarakat di tingkat keluarga
• Menganalisis, merumuskan intervensi terhadap permasalahan kesehatan tersebut dengan
intervensi gizi spesifik dan sensitif
• Melaksanakan penyuluhan kesehatan melalui kunjungan rumah
• Memutakhirkan dan mengelola sumber data.

POSYANDU
• Melakukan pemantauan dan pengukuran status gizi
• Memberikan penyuluhan
• Mobilisasi kader untuk mendukung komunikasi interpersonal kepada kelompok target •
Melakukan kunjungan rumah.
LINTAS SEKTOR
Kementerian dan lembaga yang dapat ikut berperan dalam mendorong dan
mengimplementasikan strategi ini diantaranya :
• Kementerian Desa
• Daerah Tertinggal dan Transmigrasi
• Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
• Kementerian Dalam Negeri
• Kementerian Sosial
• Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak
• Dan lain-lain.

Pemantauan dan Evaluasi Di tahap awal pelaksanaan intervensi BCC di 100 kabupaten/kota,
kegiatan sebaiknya ditujukan untuk memperoleh bukti sebagai dasar penyusunan kebijakan
tentang model perbaikan gizi yang dapat diterapkan secara efektif di seluruh wilayah
Indonesia. Ini memastikan bahwa bukti yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara proaktif
saat replikasi dan perluasan program ke seluruh Indonesia.
- Memastikan bahwa kerangka pemantauan dan evaluasi (monev) menjadi salah satu
komponen utama dari strategi di masa mendatang Untuk memantau, menyesuaikan dan
mengukur keberhasilan intervensi perlu diterapkan gabungan antara studi evaluasi dan
pemantauan rutin. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan dalam
penerapan kerangka monev:
1. Pemantauan
a. Rancang dan terapkan kerangka pemantauan dengan menggunakan berbagai sumber data,
termasuk, bilamana tersedia, data pemantauan rutin, untuk identifikasi kekuatan, kelemahan,
kesenjangan, isu dan masalah yang dihadapi selama implementasi.
b. Hasil pemantauan (misalnya memantau perubahan dalam praktik atau pengetahuan) dapat
dilaksanakan melalui:
* Survei sentinel di daerah sasaran untuk melihat penerimaan dan kemampuan masyarakat
mengingat (recall) pesan-pesan kunci yang disampaikan melalui kampanye media dan
konseling antar pribadi, serta melihat tren praktik yang ada (misalnya peningkatan jumlah
ibu menyusui)
*Analisis data survei nasional (misalnya Riskesdas, SDKI) yang lebih bersifat setempat
untuk kabupaten/kota prioritas.
*Laporan kinerja media massa, pemantauan kegiatan, studi penetrasi, scan media dan studi
saturasi dapat dilakukan oleh perusahaan manajemen kinerja media seperti Nielsen tapi
analisis seringkali membutuhkan dana dari pihak eksternal.
2. Evaluasi
a. Untuk melengkapi pemantauan rutin dapat dilakukan evaluasi di tahap awal (baseline),
tengah waktu (mid-term) dan tahap akhir (endline) untuk melihat seberapa jauh tujuan
kegiatan tercapai, apa pengaruh dan dampak akhir dari upaya advokasi atau komunikasi
tersebut.
b. Pendekatan yang memungkinkan:
*Survei berulang untuk melihat praktik, perilaku dan perubahan dalam faktor-faktor
penentu.
*Studi khusus untuk melihat hubungan antara paparan kepada intervensi (contoh spot media
massa, konseling antar pribadi) dan praktik MIYCN.
c. Evaluasi dampak yang rinci dan teliti dapat memakan biaya yang sangat besar dan
memerlukan kapasitas teknis yang tinggi. Oleh karena itu, walaupun ideal, opsi ini hanya
dapat dipertimbangkan bilamana sumber daya untuk itu tersedia.