LAPORAN PRAKTIKUM VIII
MENGGUNAKAN TIMER/COUNTER
DALAM MIKROKONTROLER ATMEGA8535
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Mikroprosesor
yang dibimbing oleh Yogi Dwi Mahandi, S.Pd., M.T.
Oleh :
Nama : Fahmi Heru Prayitno
NIM : 180534632004
Prodi : S1 Pendidikan Teknik Elektro
Offering : B 2018
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO
NOVEMBER 2019
JOBSHEET VIII
MENGGUNAKAN TIMER/COUNTER
DALAM MIKROKONTROLER ATMEGA8535
TUJUAN
Mahasiswa mampu menggunakan fitur timer/counter mikrokontroler.
Mahasiswa mampu menggunakan mikrokontroler untuk membuat timer.
Mahasiswa mampu menggunakan mikrokontroler untuk menghitung banyaknya
pulsa yang masuk.
TIMER/COUNTER
Timer/counter dalam ATmega8535 ada 3 yaitu:
Timer/counter 0
Timer/counter 1
Timer/counter 2
Interrupt timer berasal dari dua sumber yaitu:
Overflow interrupt, dimana interrupt terjadi jika TCNTn mencapai 255 untuk
timer 8 bit dan 65535 untuk timer 16 bit.
Compare match interrupt, dimana interrupt terjadi jika nilai OCR sama dengan
TCNTn.
Secara umum fitur Timer/Counter mikrokontroler ATmega8535 dapat
digunakan untuk berbagai macam fungsi, yaitu:
Timer/delay time
Pada dasarnya ketika Timer/Counter difungsikan sebagai Timer, sistem hanya
menghitung pulsa clock. Frekuensi pulsa clock yang dihitung tersebut bisa s ama dengan
frekuensi kristal yang digunakan atau dapat diperlambat menggunakan prescaler
dengan faktor 8, 64, 256, atau 1024. Contohnya jika sebuah sistem mikrokontroler
menggunakan kristal dengan frekuensi 4 MHz dan timer yang digunakan adalah timer 8
bit, maka maksimum waktu timer yang bisa dihasilkan adalah:
1
𝑡𝑀𝐴𝑋 = 𝑓 𝑥 (𝐹𝐹ℎ + 1)
𝑐𝑙𝑘
1
𝑡𝑀𝐴𝑋 = 4000000 𝑥 (255 + 1)
𝑡𝑀𝐴𝑋 = 0,000064 𝑠
Untuk menghasilkan timer yang lebih lama dapat digunakan prescaler, misalnya 1024, maka
maksimum waktu timer yang bisa dihasilkan adalah:
1
𝑡𝑀𝐴𝑋 = 𝑓 𝑥 (𝐹𝐹ℎ + 1) 𝑥 𝑁
𝑐𝑙𝑘
1
𝑡𝑀𝐴𝑋 = 𝑥 (255 + 1) 𝑥 1024
4000000
𝑡𝑀𝐴𝑋 = 0,065536 𝑠
Untuk menghitung nilai TCNT supaya menghasilkan waktu timer tertentu dipergunakan
rumus berikut:
𝑥𝑓 )
𝑇𝐶𝑁𝑇 = (1 + 𝐹𝐹ℎ) – (𝑇𝑡𝑖𝑚𝑒𝑟 𝑐𝑙𝑘
𝑁
Dimana:
TCNT = nilai Timer (Heksadesimal)
fCLK = Frekuensi clock kristal yang
digunakan (Hz) Ttimer = Waktu timer yang
diinginkan (detik)
N = prescaler (1,8,64,256,1024)
1+FFh = nilai maksimum timer adalah FFh dan overflow saat FFh ke 00h
Counter
Secara prinsip, memfungsikan Timer/Counter sebagai Counter sama dengan
fungsi sebagai Timer akan tetapi sumber clock bukan berasal dari frekuensi kristal,
tetapi input dari kaki Tn. Dengan memanfaatkan counter naik, maka bisa diberikan
nilai TCNT yang sesuai dengan rumus berikut:
TCNT = (1+FFH) – jumlah counter
Sehingga jika diinginkan membuat counter 5, maka nilai TCNT adalah FBH.
Mode CTC
Dengan mode ini, maka mikrokontroler bisa membangkitkan sinyal dengan
frekuensi tertentu sesuai dengan rumus berikut:
𝑓𝑐𝑙𝑘𝐼/𝑂
𝑓𝑂 =
𝐶𝑛
2. 𝑁. (1 + 𝑂𝐶𝑅𝑛)
Jika diinginkan untuk membangkitkan sinyal dengan frekuensi 1 kHz, maka dengan
frekuensi clock 4 MHz, dan N=16, maka diperoleh nilai OCR sebagai berikut:
𝑓𝑐𝑙𝑘𝐼/𝑂
𝑓𝑂 =
𝐶𝑛 2. 𝑁. (1 + 𝑂𝐶𝑅𝑛)
𝑓𝑐𝑙𝑘𝐼/𝑂
1 + 𝑂𝐶𝑅𝑛 =
2. 𝑁. 𝑓𝑂𝐶𝑛
𝑓𝑐𝑙𝑘𝐼/𝑂
𝑂𝐶𝑅𝑛 = −1
2. 𝑁. 𝑓𝑂𝐶𝑛
4000000
𝑂𝐶𝑅𝑛 = −1
2.16.1000
𝑂𝐶𝑅𝑛 = 124
Mode PWM
Dengan mode ini, maka mikrokontroler bisa membangkitkan sinyal dengan
frekuensi tertentu dan duty cycle tertentu sesuai dengan rumus sebagai berikut.
Untuk Fast PWM:
𝑓𝑐𝑙𝑘𝐼/𝑂
𝑓𝑂𝐶𝑛𝑃𝑊 =
𝑀
𝑁. 256
Untuk Phase Correct PWM:
=
𝑓𝑂𝐶𝑛𝑃𝑊 𝑓𝑐𝑙𝑘𝐼
𝑀 /𝑂
2 𝑁.
. 256
Dimana nilai OCR yang berkisar dari 0 sampai 255 akan mempengaruhi duty cycle sinyal
yang
dibangkitkan.
ALAT DAN BAHAN YANG DIGUNAKAN
1 set PC/Laptop yang sudah berisi program Code Vision dan Khazama
1 buah multimeter dengan fasilitas frequency counter
1 buah ISP Downloader AVR
1 buah sistem minimum AVR
1 buah I/O
1 buah kabel printer USB
2 buah kabel pita hitam
PROSEDUR
TIMER
1. Rangkailah peralatan yang diperlukan seperti gambar dibawah. Hubungkan
soket jumper PORTC pada minimum system dengan soket jumper pada OUTPUT
Trainer I/O.
Kabel Kabel hitam
Kabel USB
downloader Minimum
ISP Downloader I/O
system AVR
2. Buka program Code Vision AVR
3. Buatlah project baru. Pada saat mengeset chip dan clock, set juga bagian PORTC
untuk LED serta Timer seperti gambar dibawah. Kemudian simpanlah file
tersebut.
Nilai Clock Value adalah Nilai Clock Frequency Chip (Fclock) dibagi dengan
prescaller dimana prescaller tersebuat bernilai 1, 8, 64, 256, atau 1024
Contoh jika nilai Fclock = 4 Mhz maka jika kita ingin menggunakan prescaller
1024 setting Clock Value nya adalah 4Mhz/1024=3,906 Khz
4. Perhatikan blok program berikut.
5. Tuliskan script berikut dalam interrupt:
6. Compile dan Build program jika ada yang error perbaiki program. Masukkan file
hex menggunakan Khanzama AVR Programer. Klik auto program.
7. Perhatikan dan catat nyala LED.
8. Ubah nilai TCCR0 menjadi 0x04 dan 0x03.
9. Perhatikan perbedaan nyala LED dengan nilai TCCR yang berbeda-beda.
10. Ulangi langkah 3-9 untuk Timer2 dengan TCNT=0x80;
11. Buat Project baru untuk Timer1 dengan TCNT = 0xd5d0
12. Perhatikan blok berikut
13. Tuliskan script berikut dalam blok interrupt
14. Compile dan Build program jika ada yang error perbaiki program. Masukkan file
hex menggunakan Khanzama AVR Programer. Klik auto program.
15. Perhatikan dan catat nyala LED.
16. Ubah nilai TCCR1B sehingga menjadi 0x04, 0x03, 0x02, 0x01.
17. Perhatikan perbedaan nyala LED dengan nilai TCCR yang berbeda-beda.
18. Buatlah program menggunakan Timer 16 bit (Timer1) dengan nilai
TCCR1B=0x05, Ubah nilai TCNT sehingga menghasilkan timer 1 detik.
COUNTER
1. Rangkailah peralatan yang diperlukan seperti dalam gambar dibawah.
Hubungkan soket jumper PORTC pada minimum system dengan soket jumper
pada OUTPUT LED. Hubungkan kaki IS1 ke PORTB.0 (T0).
Kabel Kabel hitam
Kabel USB
downloader Minimum
ISP Downloader I/O
system AVR
2. Buka program Code Vision AVR
3. Buatlah project baru. Pada saat mengeset chip dan clock, set juga bagian PORTC
untuk LED serta Timer seperti gambar dibawah. Kemudian simpanlah file
tersebut.
4. Perhatikan blok program berikut.
5. Tuliskan script berikut dalam interrupt:
6. Compile dan Build program jika ada yang error perbaiki program. Masukkan file
hex menggunakan Khanzama AVR Programer. Klik auto program.
7. Tekan push button IS1 Perhatikan dan catat nyala LED.
8. Lakukan hal serupa dengan Timer dengan mengganti nilai TCNT0 menjadi 0xFC
dan 0xF0 (lihat tabel counter pada data hasil percobaan).
CTC
1. Rangkailah peralatan yang diperlukan seperti dalam Gambar 1.2. Hubungkan
PORTB pada minimum system dengan kabel data pada OUTPUT TRAINER.
Kabel Kabel hitam
Kabel USB downloader Minimum I/O
ISP Downloader
system AVR
2. Buka program Code Vision AVR
3. Buatlah project baru. Pada saat mengeset chip dan clock, set juga bagian PORTB
untuk LED serta Timer. Kemudian simpanlah file tersebut.
4. Klik Yes jika muncul dialog diatas
5. Perhatikan blok program berikut.
6. Compile dan Build program jika ada yang error perbaiki program. Masukkan file
hex menggunakan Khanzama AVR Programer. Klik auto program.
7. Lihat nyala LED di PORTB.3.
8. Ukur frekuensi pada PORTB.3 dengan frequency counter di AVOmeter
9. Ubah Nilai OCR0 menjadi 0x3E dan 0x1E (lihat tabel CTC pada data hasil percobaan)
10. Lihat nyala LED di PORTB.3.
11. Ukur frekuensi pada PORTB.3 dengan frequency counter di AVOmeter
12. Amati Nyala LED
13. Buatlah program yang dapat membangkitkan sinyal dengan frekuensi 1 Hz.
PULSE WIDTH MODULATION (PWM)
1. Rangkailah peralatan yang diperlukan seperti dalam Gambar 1.2. Hubungkan
PORTB pada minimum system dengan kabel data pada OUTPUT TRAINER.
Kabel Kabel hitam
Kabel USB
downloader Minimum
ISP Downloader I/O
system AVR
2. Buka program Code Vision AVR
3. Buatlah project baru. Pada saat mengeset chip dan clock, set juga bagian
PORTB untuk LED serta Timer. Kemudian simpanlah file tersebut.
4. Klik Yes jika muncul dialog diatas
5. Perhatikan blok program berikut.
6. Compile dan Build program jika ada yang error perbaiki program. Masukkan file
hex menggunakan Khanzama AVR Programer. Klik auto program.
7. Lihat nyala LED di PORTB.3.
8. Ukur frekuensi pada PORTB.3
9. Ubah Nilai OCR0 menjadi 0x00 dan 0xFF (lihat tabel PWM pada data hasil
percobaan)
10. Amati Nyala LED
11. Ulang langkah 3-9 dengan mode Fast PWM.
12. Buatlah program yang dapat mengubah nilai Duty Cycle sesuai dengan input
Potensiometer !
Potensiometer 0 V (minimum) Duty
Cycle 0% Potensiomter 5V (Maksimum)
Duty Cycle 100%
DATA HASIL
PERCOBAAN
TIMER
No TIMER TCCRx TCNTx Kondisi Led Delay
Tidak
1 Timer0 0x05 0x50
terdeteksi
Nyala berkedip dengan cepat
2 Timer0 0x04 0x50 0
Nyala terus
3 Timer0 0x03 0x50 0
Nyala terus
4 Timer2 0x05 0x80 0
Nyala terus
5 Timer1 0x05 0xD5D0 2 detik
Nyala berkedip lambat
Tidak
6 Timer1 0x04 0xD5D0
terdeteksi
Nyala berkedip dengan waktu
berkedip lebih cepat dari pada 0x05
Tidak
7 Timer1 0x03 0xD5D0
terdeteksi
Nyala berkedip dengan waktu
berkedip lebih cepat dari pada 0x04
Tidak
8 Timer1 0x02 0xD5D0
terdeteksi
Nyala berkedip cepat
9 Timer1 0x01 0xD5D0 0 detik
Nyala terus
00000000
10 Timer1 1s
11111111
Counter
Jumlah Penekanan Jumlah Penekanan
No TIMER TCCRx TCNTx Tombol IS1 Hingga Tombol IS1 Hingga
LED Menyala LED Mati
1 Timer0 0x06 0xFB 5 7
2 Timer0 0x06 0xFC 6 6
3 Timer0 0x06 0xF0 7 9
CTC
Nilai Nyala LED
N Frekuensi
OCR0/OCR1A/OCR1B/OCR2
0x7C
64 250 Hz
0x3E
64 496 Hz
0x1E
64 1 kHz
0x7A11 64 1 Hz
PWM
Fast PWM
Nilai Nyala Tegangan
Frekuensi
OCR0 LED LED
0x00
3,4 V 50 HZ
Berkedip cepat
0x50
2,4 V 50 HZ
Berkedip lambat
0xFF
19,3 mV 50 HZ
Nyala terus
Phase Correct PWM
Nilai Nyala Tegangan
Frekuensi
OCR0 LED LED
0x00
-10.6 mV 0
0x50
300 mV 50Hz
0xFF
-10.5 V 50Hz
ANALISIS
DATA TIMER
1. Analisis data hasil pada tabel Timer dengan menggunakan rumus :
Hitung Nilai Ttimer :
TIMER TCCRx TCNTx Fclock (Hz) Prescaler 8 / 16 bit T (s) Keterangan
Timer0 0x05 0x50 4.000.000 1.024 255 0,45 s Delay tidak terlihat
Timer0 0x04 0x50 4.000.000 1.024 255 0,45 s Delay tidak terlihat
Timer0 0x03 0x50 4.000.000 1.024 255 0,45 s Delay tidak terlihat
Timer2 0x05 0x80 4.000.000 1.024 255 0,037 s Delay tidak terlihat
Timer1 0x05 0xD5D0 4.000.000 1.024 255 2,76 s Delay terlihat
Timer1 0x04 0xD5D0 4.000.000 1.024 255 2,76 s Delay terlihat
Timer1 0x03 0xD5D0 4.000.000 1.024 255 2,76 s Delay terlihat
Timer1 0x0 2 0xD5D0 4.000.000 1.024 255 2,76 s Delay terlihat
Timer1 0x01 0xD5D0 4.000.000 1.024 255 2,76 s Delay terlihat
Dari data hasil percobaan pada table di atas maka semakin kecil nilai TCCRxnya
dengan nilai TCNTx yang sama maka semakin kecil nilai delay dan bahkan hingga delay
bernilai 0. Hal ini terjadi pada timer0 dan timer1. Dari hasil penghitungan nilai TCCRx tidak
mempengaruhi hasil T.
2. Bagaimana anda mendapatkan timer dengan Ttimer 1 detik dengan
menggunakan Timer1?
Dengan memberi nilai TCNTx nya sebesar 61629,75 atau dapat dibulatkan menjadi
61630 yang jika di konversikan ke dalam bentuk hexanya adalah F0BE, maka nilai Ttimernya
menjadi 1s. Pemberiaan nilai ini didasarkan dari rumus :
Di bulatkan menjadi : 61630
Di ubah ke bilangan hexa : F0BE
Dari penghitungan tersebut kemudi dapat ditentukan register-register dalam
programnya yang menjadikan outputan Ttimer 1 detik :
TCCRIA=0X00;
TCCRIA=0X05;
TCNT1H=0Xf0;
TCNT1L=0XBE;
OCR1A=0X00;
OCR1B=0X00;
ICR1H=0X00;
ICRIL=0X00;
TIMSK=0X04;
TIFR=0X00;
COUNTER
1. Analisis data hasil pada tabel counter
Jumlah Penekanan Jumlah Penekanan
No TIMER TCCRx TCNTx Tombol IS1 Hingga Tombol IS1 Hingga
LED Menyala LED Mati
1 Timer0 0x06 0xFB 5 7
2 Timer0 0x06 0xFC 6 6
3 Timer0 0x06 0xF0 7 9
Untuk menentukan nilai dari counter yaitu kita harus mengganti nilai dari
TCNT0.perhitunganya yaitu nilai maksimal dari counter yaitu FF,sehingga misalkan
kita menginginkan nilai dari counter kita 6 yaitu dengan mengurangi nilai dari
maksimal dengan nilai counter yang kita inginkan FF-6=FB jadi nilai yang harus
kita masukan pada TCNT0 adalah FB
CTC
1. Hitung nilai frekuensi
Nilai Nyala LED
N Frekuensi
OCR0/OCR1A/OCR1B/OCR2
0x7C
64 250 Hz
0x3E
64 496 Hz
0x1E
64 1 kHz
0x7A11 64 1 Hz
Dengan perhitungan sebagai berikut :
a.
b.
c.
Pada data hasil perhitungan dan percobaan didapatkan hasil yang sama. Dimana
dari kesamaan hasil tersebut dapat dianalisa bahwa semakin kecil nilai OCRnya maka
semakin besar nilai frekuensinya.
2. Bagaimana cara anda membangkitkan sinyal dengan frekuensi 1 detik
menggunakan Timer/Counter mode CTC?
Dengan menggunakan rumus :
Kita dapat menentukan nilai frekuensi sebesar 1 detik dengan menentukan nilai
OCRn-nya :
Di konversi ke hexa = 7A11
PWM
1. Hitung nilai frekuensi dan duty cycle
Fast PWM
Nilai Nyala Tegangan
Frekuensi
OCR0 LED LED
0x00
3,4 V 50 HZ
Berkedip cepat
0x50
2,4 V 50 HZ
Berkedip lambat
0xFF
19,3 mV 50 HZ
Nyala terus
Phase Correct PWM
Nilai Nyala Tegangan
Frekuensi
OCR0 LED LED
0x00
-10.6 mV 0
0x50
300 mV 50Hz
0xFF
-10.5 V 50Hz
Dari table di atas di dapatkan perhitungan sebagai berikut :
a. Fast PWM.
b. Phase Correct PWM.
Pada hasil penghitungan dengan hasil percobaan nilai frekuensinya tidak sesuai hal ini
dapat disebabkan karena kesalahan dari praktikan yang kurang teliti dan kurang memahami
cara praktik materi PWM.Dan dari data hasil perhitungan duty circle dapat dianalisa bahwa
semakin besar nilai OCR maka semakin besar pula nilai duty circlenya.
2. Jelaskan perbedaan mode Fast PWM dengan Phase Correct PWM
Perbedaan utama antara mode Fast PWM dan Phase Correct PWM selain dari
frekuensi kerja adalah ketelitian dalam menghasilkan sinyal PWM.. pada phase correct
menggunakan dual slope yang artinya jumlah bit counter yang berperan seakan akan menjadi
16bit.. Hal ini menyebabkan waktu Ton terhadap suatu sinyal menjadi lebih teliti 2x lipat..
Dalam mengontrol Sudut Putaran Motor ,terutama pada motor DC Servo, maka fitur ini
sangat diperlukan mengingat Motor DC Servo mengandalkan ketelitian PWM dalam
mengontrol sudut putaran motor.
Salah satu mode operasi dalam T/C AVR adalah mode CTC, dimana mode tersebut
memiliki 3 jenis bentukan sinyal output yang dapat dipilih yaitu Toggle, Clear, dan Set. Pada
penggunaannya toggle berfungsi mengubah keadaan logika pada PIN OCn setiap kali
Compare Match Terjadi.. hal ini membuat CTC dapat menghasilkan sebuah sinyal pulsa yang
konstan sesuai dengan waktu comparematch terjadi. sedangkan untuk Clear dan Set berfungsi
untuk mengubah keadaan pin OCn menjadi SET atau CLEAR ketika CompareMatch Terjadi..
Perbedaan penggunaanya terlihat jelas pada saat menggunakan fungsi CTC untuk
menghasilkan sinyal dan pada saat menggunakan CTC untuk melakukan counter dimana
ketika counter telah comparematch maka pin OCn akan ditandai dengan Set atau Clear
tergangtung penggunaannya.. satu hal yang perlu di perhatikan adalah pin OCn tidak akan
berubah keadaan jika tidak dirubah secara manual atau di setting terlebih dahulu.
3. Mengapa nyala led pada mode Fast PWM berkedip lebih cepat daripada mode
Phase Correct PWM?
Hal ini terjadi karena pada fast PWM memiliki nilai frekuensi yang lebih besar dari
phase corect PWM,sehingga jumlah golombangnya lebih banyak dan mengakibatkan jarak
tiap Ton lebih dekat dan led semakin cepat menyala.
4. Source Code Program langkah no 11.
#include <mega8535.h>
// Declare your global variables here
void main(void)
{
// Declare your local variables here
// Input/Output Ports initialization
// Port A initialization
// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In
Func1=In Func0=In
// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T
State1=T State0=T PORTA=0x00;
DDRA=0x00;
// Port B initialization
// Func7=Out Func6=Out Func5=Out Func4=Out Func3=Out Func2=Out
Func1=Out Func0=Out
// State7=0 State6=0 State5=0 State4=0 State3=0 State2=0
State1=0 State0=0 PORTB=0x00;
DDRB=0xFF;
// Port C initialization
// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In
Func1=In Func0=In
// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T
State1=T State0=T PORTC=0x00;
DDRC=0x00;
// Port D initialization
// Func7=In Func6=In Func5=In Func4=In Func3=In Func2=In
Func1=In Func0=In
// State7=T State6=T State5=T State4=T State3=T State2=T
State1=T State0=T PORTD=0x00;
DDRD=0x00;
// Timer/Counter 0 initialization
// Clock source: System Clock
// Clock value: 3,906 kHz
// Mode: Fast PWM top=0xFF
// OC0 output: Non-Inverted PWM TCCR0=0x6D;
TCNT0=0x00; OCR0=0xFF;
// Timer/Counter 1 initialization
// Clock source: System Clock
// Clock value: Timer1 Stopped
// Mode: Normal top=0xFFFF
// OC1A output: Discon.
// OC1B output: Discon.
// Noise Canceler: Off
// Input Capture on Falling Edge
// Timer1 Overflow Interrupt: Off
// Input Capture Interrupt: Off
// Compare A Match Interrupt: Off
// Compare B Match Interrupt: Off TCCR1A=0x00;
TCCR1B=0x00; TCNT1H=0x00; TCNT1L=0x00; ICR1H=0x00;
ICR1L=0x00; OCR1AH=0x00; OCR1AL=0x00; OCR1BH=0x00; OCR1BL=0x00;
// Timer/Counter 2 initialization
// Clock source: System Clock
// Clock value: Timer2 Stopped
// Mode: Normal top=0xFF
// OC2 output: Disconnected ASSR=0x00; TCCR2=0x00; TCNT2=0x00;
OCR2=0x00;
// External Interrupt(s) initialization
// INT0: Off
// INT1: Off
// INT2: Off MCUCR=0x00; MCUCSR=0x00;
// Timer(s)/Counter(s) Interrupt(s) initialization TIMSK=0x00;
// USART initialization
// USART disabled UCSRB=0x00;
// Analog Comparator initialization
// Analog Comparator: Off
// Analog Comparator Input Capture by Timer/Counter 1: Off
ACSR=0x80;
SFIOR=0x00;
// ADC initialization
// ADC disabled ADCSRA=0x00;
// SPI initialization
// SPI disabled SPCR=0x00;
// TWI initialization
// TWI disabled TWCR=0x00;
while (1)
{
// Place your code here
}
}
Kesimpulan
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan ,dapat disimpulkan bahwa:
1. Pada dasarnya timer hanya menghitung pulsa clock,frekuensi pulsa clock yang
dihitung bisa sama dengan frekuensi kristal yang digunakan atau bisa diperlambat
menggunakan prescale.