Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Politeknik Negeri Ujung Pandang adalah salah satu jalur
pendidikan profesionalisme. Untuk meningkatkan kemampuan
profesionalisme, baik itu dari segi skill maupun akademis mahasiswa
Politeknik Negeri Ujung Pandang.
Listrik merupakan bentuk energi yang paling efektif bagi manusia
modern. Oleh karena itu, penggunaan energi listrik secara efisien akan
selalu memberikan manfaat yang sangat tinggi. Teknologi misalnya
menawarkan penyelesaian untuk berbagai macam masalah yang
dihadapi manusia, yang sangat ditunjang oleh energi listrik.
Pemanfaatan energi listrik juga bervariasi, seperti untuk industri,
hiburan, rumah tangga, dan lain-lain.
Dengan banyaknya kegiatan praktek, akan menunjang mahasiswa
untuk mengetahui, mengerti dan mampu melaksanakan pekerjaan
dilapangan dengan baik dan benar. Terutama pada jurusan teknik
elektro dan khususnya pada program studi teknik listrik, dimana
mahasiswa diharapkan mampu menyelesaikan Perancangan Proyek
Distribusi dan Gardu Distribusi yang diberikan dengan baik dan benar,
dapat menambah keterampilan dan keahlian mahasiswa.
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi merupakan
suatu mata kuliah yang wajib dilakukan oleh setiap mahasiswa Jurusan
Teknik Elektro Program Studi Teknik Listrik Politeknik Negeri Ujung
Pandang sebagai salah satu persyaratan kelulusan pada semester V
(lima).
Mahasiswa dihadapkan pada pekerjaan yang hampir sama di
industri dengan menerapkan materi yang didapatkan dalam perkuliahan
yang artinya terjadi proses timbal balik antara teori dengan praktek.
Mahasisiwa diharapkan dapat bekerja dengan terampil, disiplin, kreatif
dan tekun dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 1


1.2 Tujuan Pratikum
Setelah melakukan praktek bengkel, diharapkan setiap mahasiswa
mampu:

1. Merencanakan dan menggambar Jaringan Tegangan Menengah dan


Jaringan Tegangan Rendah,
2. Menjelaskan deskripsi kerja dari Jaringan Tegangan Menengah dan
Jaringan Tegangan Rendah.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 2


BAB II

TEORI DASAR
2.1 Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Gambar 2.1 Simbol K3

Keselamatan kerja listrik adalah keselamatan kerja yang bertalian


dengan alat, bahan, proses, tempat (lingkungan) dan cara-cara
melakukan pekerjaan. Tujuan dari keselamatan kerja listrik adalah untuk
melindungi tenaga kerja atau orang dalam melaksanakan tugas-tugas
atau adanya tegangan listrik disekitarnya, baik dalam bentuk instalasi
maupun jaringan. Pada dasarnya keselamatan kerja listrik adalah tugas
dan kewajiban dari, oleh dan untuk setiap orang yang menyediakan,
melayani dan menggunakan daya listrik.Undang undang no. 1 tahun
1970 adalah undang undang keselamatan kerja, yang di dalamnya telah
diatur pasal-pasal tentang keselamatan kerja untuk pekerja-pekerja
listrik. Latar belakang keselamatan kerja listrik tidak lepas dari tingkat
kehidupan masyarakat baik pendidikan, sosial ekonominya dan
kebiasaan akan merupakan faktor-faktor yang banyak kaitannya
dengan keselamatan kerja. Kecepatan perkembangan perlistrikan
dengan luasnya jangkauan dan besarnya daya pembangkit melampaui
kesiapan masyarakat yang masih terbatas pengetahuannya tentang
seluk beluk perlistrikan. Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL)
merupakan rambu-rambu utama dalam menanggulangi bahaya listrik
yang diakibatkan oleh pelayanan, penyediaan dan penggunaan daya
listrik.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 3


2.2 Gardu Distribusi
Pengertian umum Gardu Distribusi tenaga listrik yang paling dikenal
adalah suatu bangunan gardu listrik berisi atau terdiri dari instalasi
Perlengkapan Hubung Bagi Tegangan Menengah (PHB-TM),
Transformator Distribusi (TD) dan Perlengkapan Hubung Bagi Tegangan
Rendah (PHB-TR) untuk memasok kebutuhan tenaga listrik bagi para
pelanggan baik dengan Tegangan Menengah (TM 20 kV) maupun
Tegangan Rendah (TR 220/380V). Konstruksi Gardu distribusi dirancang
berdasarkan optimalisasi biaya terhadap maksud dan tujuan
penggunaannya yang kadang kala harus disesuaikan dengan peraturan
Pemda setempat.
Secara garis besar gardu distribusi dibedakan atas :
a. Jenis pemasangannya :
a). Gardu pasangan luar : Gardu Portal, Gardu Cantol),
b). Gardu pasangan dalam : Gardu Beton, Gardu Kios).
b. Jenis Konstruksinya :
a). Gardu Beton (bangunan sipil : batu, beton),
b). Gardu Tiang : Gardu Portal dan Gardu Cantol,
c). Gardu Kios.
c. Jenis Penggunaannya :
a). Gardu Pelanggan Umum,
b). Gardu Pelanggan Khusus.
Khusus pengertian Gardu Hubung adalah gardu yang ditujukan untuk
memudahkan manuver pembebanan dari satu penyulang ke penyulang
lain yang dapat dilengkapi/tidak dilengkapi RTU (Remote Terminal Unit).
Untuk fasilitas ini lazimnya dilengkapi fasilitas DC Supply dari Trafo
Distribusi pemakaian sendiri atau Trafo distribusi untuk umum yang
diletakkan dalam satu kesatuan.

 Komponen Utama
a. Transformator Distribusi Fasa 3
Untuk transformator fase tiga , merujuk pada SPLN, ada tiga tipe
vektor grup yang digunakan oleh PLN, yaitu Yzn5, Dyn5 dan Ynyn0.
Titik netral langsung dihubungkan dengan tanah. Untuk konstruksi,
peralatan transformator distribusi sepenuhnya harus merujuk pada
SPLN D3.002-1: 2007. Transformator gardu pasangan luar
dilengkapi bushing Tegangan Menengah isolator keramik.
Ditunjukkan pada gambar 2.2 berikjut ini. Sedangkan Transformator
gardu pasangan dalam dilengkapi bushing Tegangan Menengah
isolator keramik atau menggunakan isolator plug-in premoulded.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 4


Gambar 2.2 Transformator 3 Fasa

b. Transformators Completely Self Protected


Transformators Completely Self Protected adalah transformator
distribusi yang sudah dilengkapi dengan Pengaman Lebur (fuse)
pada sisi primer dan LBS (Load Break Switch) pada sisi sekunder.
Spesifikasi teknis transformator ini merujuk pada SPLN No 95: 1994
dan SPLN D3.002-1: 2007. Ditunjukkan pada gambar 2.3 di bawah
ini.

Gambar 2.3 Transformator CSP

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 5


c. PHB sisi Tegangan Menengah (PHB-TM)
Berikut ini adalah Komponen Utama PHB-TM yang sudah
terpasang/terangkai secara lengkap yang lazim disebut dengan
Kubikel-TM, yaitu :
 Pemisah – Disconnecting Switch
Berfungsi sebagai pemisah atau penghubung instalasi listrik
20 kV. Pemisah hanya dapat dioperasikan dalam keadaan tidak
berbeban. Seperti pada gambar 2.4 di bawah ini.

Gambar 2.4 Disconnecting Switch

 Pemutus beban – Load Break Switch


Berfungsi sebagai pemutus atau penghubung instalasi listrik
20 kV. Pemutus beban dapat dioperasikan dalam keadaan
berbeban dan terpasang pada kabel masuk atau keluar gardu
distribusi. Kubikel LBS dilengkapi dengan sakelar pembumian
yang bekerja secara interlock dengan LBS. Untuk pengoperasian
jarak jauh (remote control), Remote Terminal Unit harus
dilengkapi catu daya penggerak. Seperti pada gambar 2.5 di
bawah ini.

Gambar 2.5 Load Break Switch

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 6


 Pemutus Tenaga - Circuit Breaker
Berfungsi sebagai pemutus dan penghubung arus listrik
dengan cepat dalam keadaan normal maupun gangguan hubung
singkat. Peralatan Pemutus Tenaga ini sudah dilengkapi degan
rele proteksi arus lebih (Over Current Relay) dan dapat
difungsikan sebagai alat pembatas beban. Komponen utama
PHB-TM tersebut diatas sudah terakit dalam kompartemen
kompak (lengkap), yang sering disebut Kubikel Pembatas Beban
Pelanggan. Seperti gambar 2.6 di bawah ini.

Gambar 2.6 Pemutus Tenaga

 LBS - Transformer Protection


Transformator distribusi dengan daya ≤ 630 kVA pada sisi
primer dilindungi pembatas arus dengan pengaman lebur jenis
(High Rupturing Capacity).Peralatan kubikel proteksi
transformator, dilengkapi dengan LBS yang dipasang sebelum
pengaman lebur. Untuk gardu kompak, komponen proteksi dan
LBS dapat saja sudah terangkai sebagai satu kesatuan, dan
disebut Ring Main Unit . Ditunjukkan pada gambar 2.7 berikut ini.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 7


Gambar 2.7 LBS – TP (Transformer Protection)

d. PHB sisi Tegangan Rendah

PHB-TR adalah suatu kombinasi dari satu atau lebih


Perlengkapan Hubung Bagi Tegangan Rendah dengan peralatan
kontrol, peralatan ukur, pengaman dan kendali yang saling
berhubungan. Keseluruhannya dirakit lengkap dengan sistem
pengawatan dan mekanis pada bagian-bagian penyangganya.Secara
umum PHB TR sesuai SPLN 118-3-1–1996,untuk pasangan dalam
adalah jenis terbuka. Rak TR pasangan dalam untuk gardu distribusi
beton. PHB jenis terbuka adalah suatu rakitan PHB yang terdiri dari
susunan penyangga peralatan proteksi dan peralatan Hubung Bagi
dengan seluruh bagian-bagian yang bertegangan, terpasang tanpa
isolasi. Jumlah jurusan per transformator atau gardu distribusi
sebanyak-banyaknya 8 jurusan, disesuaikan dengan besar daya
transformator dan Kemampuan Hantar Arus Penghantar JTR yang
digunakan. Pada PHB-TR harus dicantumkan diagram satu garis, arus
pengenal gawai proteksi dan kendali serta nama jurusan JTR. Sebagai
peralatan sakelar utama saluran masuk PHB-TR, dipasangkan
Pemutus Beban atau No Fused Breaker. Pengaman arus lebih (Over
Current) jurusan disisi Tegangan Rendah pada PHB-TR dibedakan atas
:

 No Fused Breaker
No Fused Breaker adalah breaker/pemutus dengan sensor arus,
apabila ada arus yang melewati peralatan tersebut melebihi
kapasitas breaker, maka sistem magnetik dan bimetalic pada
peralatan tersebut akan bekerja dan memerintahkan breaker
melepas beban. Ditunjukkan pada gambar 2.8 di bawah ini.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 8


Gambar 2.8 No Fused Breaker

 Pengaman Lebur (Sekering)


Pengaman lebur adalah suatu alat pemutus yang dengan
meleburnya bagian dari komponennya yang telah dirancang dan
disesuaikan ukurannya untuk membuka rangkaian dimana sekering
tersebut dipasang dan memutuskan arus bila arus tersebut melebihi
suatu nilai tertentu dalam jangka waktu yang cukup (SPLN
64:1985:1).
Fungsi pengaman lebur dalam suatu rangkaian listrik adalah
untuk setiap saat menjaga atau mengamankan rangkaian berikut
peralatan atau perlengkapan yang tersambung dari kerusakan,
dalam batas nilai pengenalnya (SPLN 64:1985:24). Seperti pada
gambar 2.9 di bawah ini.

Gambar 2.9 NH FUSE

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 9


e. Transformator Tegangan - Potential Transformator
Fungsinya adalah mentransformasikan besaran Tegangan
Tinggi ke besaran Tegangan Rendah guna pengukuran atau
proteksi dan sebagai isolasi antara sisi tegangan yang diukur atau
diproteksikan dengan alat ukurnya / proteksinya. Faktor yang harus
diperhatikan dalam pemilihan transformator tegangan.
Burden, yaitu beban sekunder dari transformator tegangan ,
dalam hal ini sangat terkait dengan kelas ketelitian PT-nya. Untuk
instalasi pasangan dalam; lazimnya transformator tegangan sudah
terpasang pada kubikel pengukuran. Ditunjukkan pada gambar 2.10
berikut ini.

Gambar 2.10 Transformator Tegangan

f. Transformator Arus - Current Transformator


Transformator arus (Current Transformer) adalah salah satu
peralatan di Gardu Distribusi, fungsinya untuk mengkonversi
besaran arus besar ke arus kecil guna pengukuran sesuai batasan
alat ukur, juga sebagai proteksi serta isolasi sirkit sekunder dari sisi
primernya.
Faktor yang harus diperhatikan pada instalasi transformator arus
adalah Beban (Burden) Pengenal dan Kelas ketelilitian Current
Transformator. Disarankan menggunakan jenis Current
Transformator yang mempunyai tingkat ketelitian yang sama untuk
beban 20% - 120% arus nominal. Nilai burden, kelas ketelitian untuk
proteksi dan pengukuran harus merujuk pada ketentuan/persyaratan
yang berlaku. Konstruksi transformator arus dapat terdiri lebih dari 1
kumparan primer (double primer).

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 10


Untuk konstruksinya sama halnya dengan transformator
tegangan, transformator arus pasangan luar memiliki konstruksi
lebih besar/kokoh dibandingkan konstruksi pasangan dalam yang
umumnya built in (atau akan dipasangkan) dalam kubikel
pengukuran. Seperti pada gambar 2.11 berikut ini.

Gambar 2.11 Transformator Arus

g. Fused Cut Out


Pengaman lebur untuk gardu distribusi pasangan luar dipasang
pada Fused Cut Out dalam bentuk Fuse Link. Terdapat 3 jenis
karakteristik Fuse Link, tipe-K (cepat), tipe–T (lambat) dan tipe–H
yang tahan terhadap arus surja. Data aplikasi pengaman lebur dan
kapasitas transformatornya dapat dilihat pada tabel. Apabila tidak
terdapat petunjuk yang lengkap, nilai arus pengenal pengaman lebur
sisi primer tidak melebihi 2,5 kali arus nominal primer tranformator.
Jika sadapan Lighning Arrester (LA) sesudah Fused Cut Out,
dipilih Fuse Link tipe–H. jika sebelum Fused Cut Out dipilih Fuse
Link tipe–K. Sesuai Publikasi IEC 282-2 (1970)/NEMA) di sisi primer
berupa pelebur jenis pembatas arus. Arus pengenal pelebur jenis
letupan (expulsion) tipe-H (tahan surja kilat) tipe-T (lambat) dan tipe-
K (cepat) menurut publikasi IEC No. 282-2 (1974) – NEMA untuk
pengaman berbagai daya pengenal transformator, dengan atau
tanpa koordinasi dengan pengamanan sisi sekunder. Ditunjukkan
pada gambar 2.12 di bawah ini.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 11


Gambar 2.12 Fused Cut Out

h. Lightning Arester
Untuk melindungi Transformator distribusi, khususnya pada
pasangan luar dari tegangan lebih akibat surja petir. Dengan
pertimbangan masalah gangguan pada SUTM, Pemasangan
Arester dapat saja dipasang sebelum atau sesudah FCO Untuk
tingkat IKL diatas 110, sebaiknya tipe 15 KA. Sedang untuk
perlindungan Transformator yang dipasang pada tengah-tengah
jaringan memakai LA 5 KA, dan di ujung jaringan dipasang LA – 10
KA. Ditunjukkan pada gambar 2.13 di bawah ini.

Gambar 2.13 Lightening Arrester

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 12


2.3 Deskripsi Umum JTR dan JTM
Sambungan Tenaga Listrik adalah penghantar di bawah ataupun di atas
tanah termasuk peralatannya sebagai bagian instalasi milik PLN yang
menghubungkan jaringan tenaga listrik milik PLN dengan instalasi listrik
pelanggan untuk menyalurkan tenaga listrik. Dapat juga dikatakan sebagai
sambungan pelanggan yang merupakan titik akhir dari pelayanan listrik kepada
pelanggan, dengan ti ngkat mutu pelayanan yang dapat di lihat dari mutu
tegangan dan ti ngkat kehandalan dari sisi pelayanan tersebut (sesuai SPLN
No. 1:1995). Berdasarkan jenis tegangannya pada sistem distribusi terbagi
atas :
1) Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Rendah
Jaringan Distribusi Tegangan Rendah adalah bagian hilir dari suatu
sistem tenaga listrik. Melalui jaringan distribusi ini disalurkan tenaga listrik
kepada para pemanfaat pelanggan listrik. Mengingat ruang lingkup
konstruksi jaring distribusi ini langsung berhubungan dan berada pada
lingkungan daerah berpenghuni, maka selain harus memenuhi
persyaratan kualitas teknis pelayanan juga harus memenuhi persyaratan
aman terhadap pengguna dan akrab terhadap lingkungan. Konfigurasi
Saluran Udara Tegangan Rendah pada umumnya berbentuk radial.
 Pelanggan tegangan rendah Fasa 1 dan dilayani dengan tegangan
220 V.
 Pelanggan tegangan rendah Fasa 3 dan dilayani dengan tegangan
220/380 V.
2) Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Menengah
Sambungan tenaga listrik tegangan menengah dilayani dengan
tegangan 20 kV dan dengan pengukuran pada sisi 20 kV.
 Konfigurasi Sambungan Tenaga Listrik.
Konfigurasi sambungan tenaga listrik terdiri dari :
1) Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Rendah
Sambungan tenaga listrik tegangan rendah fasa 1 atau fasa 3
disesuaikan
dengan ketentuan besarnya daya tersambung.
2) Sambungan Tenaga Listrik Tegangan Menengah
• Konstruksi Terbuka : menggunakan peralatan pengukuran konstruksi
terbuka (outdoor).
• Konstruksi Tertutup : menggunakan peralatan pengukuran konstruksi
tertutup (indoor).

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 13


2.3.1 Komponen Konstruksi Sambungan Tenaga Listrik Tegangan
Rendah
Konstruksi sambungan dengan konstruksi saluran udara mempunyai
sejumlah komponen pokok (utama) yang harus di pergunakan.
1. Tiang
Untuk konstruksi jaringan SUTR yang berdiri sendiri dipakai tiang
beton atau tiang besi dengan panjang 9 meter. Tiang beton yang dipakai
dari berbagai jenis yang memiliki kekuatan beban kerja (working load)
200daN, 350daN dan 500daN (dengan angka faktor keamanan tiang =
2 ) Pada titik yang memerlukan pembumian dipakai tiang beton yang
dilengkapi dengan terminal pembumian.Pada dasarnya pemilihan
kemampuan mekanis tiang SUTR berlandaskan kepada empat hal,
yaitu :
1) Posisi fungsi tiang (tiang awal, tiang tengah, tiang sudut)
2) Ukuran penghantar
3) Jarak andongan (Sag)
4) Tiupan angin
Tiang Besi dipergunakan untuk konstruksi pada lingkungan
dimana Tiang Beton tidak mungkin dipasang. Penggunaan tiang beton
H-type tidak direkomendasikan karena tingkat kesulitan
pemasangannya, dan lain-lain pertimbangan.
2. Penghantar
Jenis penghantar yang dipergunakan adalah kabel pilin udara
(NFA2Y) alumunium twisted cable dengan inti alumunium sebagai inti
penghantar Fasa dan almelec / alumunium alloy sebagai netral.
Penghantar Netral (N) dengan ukuran 3x35+N, 3x50+N, 3x70+N
berfungsi sebagai pemikul beban mekanis kabel atau messenger. Untuk
kepentingan jaminan pelaksanaan handling transportasi, panjang
penghantar tiap haspel kurang lebih 1000 m.
3. Pole Bracket
Terdapat dua jenis komponen pole bracket :
1) Tension bracket, dipergunakan pada tiang ujung dan tiang sudut,
Breaking capacity 1000 daN terbuat dari Alumunium Alloy
2) Suspension bracket dipergunakan pada tiang sudut dengan
sudutlintasan sampai dengan 300. Breaking capacity 700 daN terbuat
dari alumunium Alloy.Ikatan pole bracket pada tiang memakai
stainless teel strip atau baut galvanized M30 pada posisi tidak
melebihi 15 cm dari ujung tiang.
4. Fixing Collar (sengkang, klem beugel)
Komponen sengkang (fixing collar) atau beugel berbentuk bulat
di pasang pada tiang atas, tiang atap, dan penguat pipa pada dinding
bangunan. Sebagai pemegang kait service wedge clamp.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 14


5. Stainless Steel Strip
Pita baja anti karat untuk berbagai macam penggunaan sebagai
sabuk pengikat material pada tiang.
6. Link
Link dari besi galvanis Ф 6 mm berbentuk bujur sangkar atau
persegi panjang untuk berbagai penggunaan. Link di gunakan sebagai
penguat ikatan stainless steel strip pada ti ang untuk ikatan kabel atau
pipa. Terdapat dua jenis link ukuran 2,5x2,5 cm dan 2,5x5 cm.
7. Plastic Strap/ Plastic Tie
Pengikat kabel atau lainnya sesuai penggunaan.
8. Service Wedge Clamp (klem jepit)
Ikatan penghantar pada tiang di gunakan material service wedge
clamp, demikian pula pada bangunan. Ukuran Service wedge clamp
dapat di pakai sampai dengan panjang 25 mm. Untuk penampang
ukuran lebih besar atau daya yang lebih besar dapat di gunakan strain
clamp kabel berpilin (twisted cable). Klem jepit sambungan pelayanan
diperlukan dua buah seti ap sambungan.
9. Strain Clamp / Jangkar Tarik
Klem tarik untuk sambungan pelayanan yang memakai kabel
jenis pilin (twisted cable) dengan ukuran 35 mm2 atau lebih.
10. Pipa Galvanis
Pipa yang di pasang di samping tiang berfungsi sebagai
pelindung kabel.
11. Strain Hook / Klem tarik
Strain hook atau jangkar tarik di gunakan sebagai tempat kaitan
service wedge clamp atau pemegang kabel sambungan pelayanan ke
rumah dan di tempatkan pada bangunan atau atap. Terdapat beberapa
jenis strain hook.
12. Penutup Tiang Atap (Protecti ve Cup)
Penutup tiang atau invoering untuk menutup bagian atas pipa
tiang agar tidak masuk air. Terdapat dua jenis model penutup tiang,
yaitu model T dan model C.
13. Tule
Penutup ujung pipa galvanis agar kabel sambungan pelayanan
tidak terluka.
14. Pipa PVC Ф 0,5 inci
Pelindung kabel pada dinding bangunan agar tidak tersentuh
tangan.
15. Plastic Conduit (Pipa PVC atau Plastic Conduit)
Digunakan sebagai pelindung kabel ke arah APP atau pelindung
kabel pada titik belok, dengan ukuran 3/4 inci, 11/2 inci, dan 2 inci.
16. Stopping Buckle
Pengikat atau pengunci stainless steel strip.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 15


17. Papan APP- OK
Tempat dudukan APP, terbuat dari plat dengan tebal 2 mm.
Terdapat 2 (ti ga ) jenis papan OK:
a. Papan OK ti pe 1 : Untuk meter kWh Fasa 1
Pada instalasi kotak APP terpadu tempat dudukan APP
sudah menjadi satu kesatuan dengan APP.
b. Papan OK ti pe 2 dan 3 : Untuk meter kWh Fasa 3.
18. Panel Hubung Bagi
Tempat dudukan peralatan ukur dan peralatan proteksi. Panel
Perlengkapan Hubung Bagi (PHB) harus memenuhi persyaratan :
1) Kemampuan hantar arus
2) Kemampuan hubung singkat
3) Kemampuan kondisi klimatik (Tingkat IP)
4) Kemampuan mekanis
Perlengkapan Hubung Bagi dan Kendali ( PHB ) dipergunakan
dari jenis :
1) Pasangan Luar, dengan kualifikasi IP.45 (Outdoor free Standing)
2) Pasangan Dalam, dengan kualifikasi IP.44 (Indoor wall mounting )

Spesifikasi teknis PHB sistem Fasa 3 adalah sebagai berikut :


1) Ketebalan plat sekurang-kurangnya 3 mm.
2) Kemampuan Hantar Arus (KHA) rel pembagi sekurang-kurangnya
125% dari KHA kabel masuk.
3) Arus pengenal gawai kendali sisi masuk sekurang-kurangnya 115%
dari KHA kabel.
4) Short time withstand current 25 kA selama 0,5 detik (RMS).
5) Tingkat keamanan terhadap klimatik sekurang-kurangnya IP 45 atau
untuk pasangan luar – outdoor free standing.
6) Pengaman sirkit keluar memakai pengaman lebur jenis HRC tipe
NH/NT.
7) Jumlah sirkit keluar sebanyak-banyaknya 6 buah.
8) Jenis rel tembaga.
9) Pintu dilengkapi dengan kaca atau bahan tembus pandang.
10) Lampu indikator merah kuning biru pada sisi sirkit masuk.
11) Panel PHB dihubung tanah / dibumikan.
12) Seluruh fisik metal konstruksi di galvanis.

Untuk pemakaian PHB dibagi atas dua jenis:


1) PHB Utama dengan kabel sirkit masuk ukuran Cu 95 mm2 dan Cu 70
mm2.
2) PHB Cabang dengan kabel sirkit masuk ukuran Cu 50 mm2 dan Cu
25 mm2.Tidak diizinkan menyambung langsung sambungan
pelayanan dengan beban kurang dari 25 Ampere ke PHB Utama.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 16


19. Plastic / Glass Cover Transparent
Digunakan sebagai penutup meter kWh dan kVARh dengan
ukuran yang sesuai.
20. Pemutus Beban Mini (Mini Circuit Breaker)
Gawai pembatas arus beban pelanggan.
21. Joint Sleeve Bimetal
Joint sleeve bimetal digunakan sebelum terminasi kabel
sambungan pelayanan pada terminal meter kWh, mengingat inti kabel
terbuat dari alumunium dan terminal kWh terbuat dari tembaga.
22. Heatshrink dan Coldshrink Sleeve
Sarana penutup atau sebagai pembungkus joint sleeve bimetal
dalam proses penyambungan.
23. Sadapan dan Terminasi (Connector Tap)
Sadapan SLP pada saluran udara memakai hydraulic press tap
connector (tipe H atau tipe O press connector) atau handpress
connector untuk berbagai macam ukuran penampang jenis piercing.
Jenisnya dapat berupa dari logam Al atau Cu, penggunaan di sesuaikan
dengan jenis logam penghantar saluran udaranya. Terminal pada PHB
memakai terminal lug (sepatu kabel atau kabel skun) jenis Al Cu atau
bimetal.
24. Material Penunjang
Sejumlah material penunjang yang di pergunakan adalah cable
clamp, cable lug, boch,paku beton,dll.
25. Meter Energi
Meter kWh atau energi meter terdiri atas 2 jenis:
a. Meter energi Fasa 1
b. Meter energi Fasa 3
Baik untuk energi meter akti f dan reakti f (kVARH)
26. Trafo Arus dan Trafo Tegangan
Trafo arus di gunakan untuk pelanggan listrik dengan daya lebih
besar dari 43 kVA,pengukuran menggunakan trafo arus (pengukuran ti
dak langsung).Trafo arus yang dipergunakan sebesar-besarnya kelas
0,5 dengan Burden ti dak lebihdari 30 VA untuk trafo arus tegangan
rendah. Untuk tegangan menengah menggunakan trafo arus kelas 0,2
dengan Burden 30 VA.Trafo tegangan di pergunakan untuk mengukur
tegangan atau sebagai sumber tegangan alat-alat pembatas dan
pengukur pada sistem tegangan menengah dengan kelas 0,2 dan
burden 30 VA burden 30 VA.
27. Penghantar Pembumian dan Bimetal Joint
Untuk tiang yang tidak dilengkapai fasilitas pembumian.
Penghantar yang diperlukan adalah Kawat Tembaga (BC). Sambungan
penghantar BC dengan penghantar netral jaringan tidak boleh
langsung, tetapi harus menggunakan bimetal joint. Sambungan ke

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 17


penghantar netral yang memakai kabel alumunium, sambungan ke
penghantar pembumian menggunakan Bimetal Joint Al-Cu.
2.3.2 Komponen Konstruksi Sambungan Tenaga Listrik Tegangan
Menengah
1. Tiang
Tiang yang digunakan adalah :
a. Tiang Beton
Untuk kekuatan sama, pilihan tiang jenis ini dianjurkan digunakan
di seluruh PLN karena lebih murah dibandingkan dengan jenis
konstruksi tiang lainnya termasuk terhadap kemungkinan
penggunaan konstruksi rangkaian besi profil.
b. Tiang Kayu
SPLN 115 : 1995 berisikan tentang Tiang Kayu untuk jaringan
distribusi, kekuatan, ketinggian dan pengawetan kayu sehingga
pada beberapa wilayah pengusahaan PT PLN Persero bila suplai
kayu memungkinkan, dapat digunakan sebagai tiang penopang
penghantar penghantar SUTM.
c. Tiang Besi
Adalah jenis tiang terbuat dari pipa besi yang disambungkan
hingga diperoleh kekuatan beban tertentu sesuai kebutuhan.
Walaupun lebih mahal, pilihan tiang besi untuk area/wilayah tertentu
masih diijinkan karena bobotnya lebih ringan dibandingkan dengan
tiang beton. Pilihan utama juga dimungkinkan bilamana total biaya
material dan transportasi lebih murah dibandingkan dengan tiang
beton akibat diwilayah tersebut belum ada pabrik tiang beton.
2. Penghantar
Penghantar yang digunakan adalah :
a. Penghantar Telanjang ( Bare Conductor)
Konduktor dengan bahan utama tembaga (Cu) atau alluminium (Al)
yang di pilin bulat padat , sesuai SPLN 42 -10 : 1986 dan SPLN 74 :
1987. Pilihan konduktor penghantar telanjang yang memenuhi pada
dekade ini adalah AAC atau AAAC. Sebagai akibat tingginya harga
tembaga dunia, saat ini belum memungkinkan penggunaan
penghantar berbahan tembaga sebagai pilihan yang baik.
b. Penghantar Berisolasi Setengah AAAC-S (half insulated single core)
Konduktor dengan bahan utama aluminium ini diisolasi dengan
material XLPE (croslink polyetilene langsung), dengan batas
tegangan 6 kV dan harus memenuhi SPLN No 43-5-6 tahun 1995.
c. Penghantar Berisolasi Penuh (Three single core)
XLPE dan berselubung PVC berpenggantung penghantar baja
dengan tegangan Pengenal 12/20 (24) kV Penghantar jenis ini
khusus digunakan untuk SKUTM dan berisolasi penuh.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 18


3. Isolator
Pada jaringan JTM, Isolator pengaman penghantar bertegangan
dengan tiang penopang/travers dibedakan untuk jenis konstruksinya
adalah Isolator Tumpu dan Isolator Tarik
4. Konektor
Konektor adalah peralatan yang dipergunakan untuk menyambung
kawat penghantar. Jenis konektor yang digunakan ada beberapa
macam yaitu :
a. Joint Sleeve Connector (Sambungan Lurus)
b. Paralel Groove Connector (Sambungan Percabangan)
c. Live Line Connector (Sambungan Sementara yang bisa dibuka
pasang) Joint sleeve adalah jenis konektor yang digunakan untuk
sambungan penghantar pada posisi lurus. Tap connector adalah
jenis konektor yang digunakan untuk sambungan penghantar
pada titik pencabangan. Live Line connector adalah jenis
konektor yang digunakan untuk pekerjaan dalam keadaan
bertegangan (PDKB).
5. Peralatan Hubung
Pada percabangan atau pengalokasian seksi pada jaringan JTM
untuk maksud kemudahan operasional harus dipasang Pemutus Beban
(Load Break Switch ), selain LBS dapat juga dipasangkan Fused Cut-
Out.

2.4 Daftar Komponen

Tabel 2.1 Daftar Komponen


No Nama Peralatan Spesifikasi Jumlah Unit

a b C d e

Konstruksi Tiang Penyanggah JTR

(Tiang Nomor 2,3,6,9,11, dan 12)

1 Tiang Beton Semen Cor 6 Buah

2 Pole Bracket Alluminium Alloy 6 Buah

3 Stainlees Strip Stainless Steel 12 Meter

4 Stopping Buckle Stainless Steel 12 Buah

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 19


a b C d e

5 Suspension Clamp Alluminium Alloy 6 Buah

6 Chain Link Galvanised 6 Buah


Steel/Alluminium
Alloy

7 Plastic Strap Plastic 18 Buah

Konstruksi Tiang Sudut JTR

(Tiang Nomor 15)

8 Tiang Beton Semen Cor 1 Buah

9 Pole Bracket Alluminium Alloy 1 Buah

10 Stainlees Strip Stainless Steel 2 Meter

11 Stopping Buckle Stainless Steel 2 Buah

12 Remove Ring Galvanised 2 Buah


Steel/Alluminium
Alloy

13 Strain Clamp Alluminium Alloy 2 Buah

14 Plastic Strap Plastic 3 Buah

Konstruksi Tiang Sudut Percabangan JTR

(Tiang Nomor 4)

15 Tiang Beton Semen Cor 1 Buah

Pole Bracket Alluminium Alloy 2 Buah

16 Stainlees Strip Stainless Steel 4 Meter

17 Stopping Buckle Stainless Steel 4 Buah

18 Plastic Strap Plastic 4 Buah

19 Strain Clamp Alluminium Alloy 3 Buah

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 20


a b C d e

20 Remove Ring Galvanised 2 Buah


Steel/Alluminium
Alloy

Konstruksi Tiang Akhir JTR

(Tiang Nomor 7,10,13, dan 14)

21 Tiang Beton Semen Cor 4 Buah

22 Pole Bracket Alluminium Alloy 4 Buah

23 Stainlees Strip Stainless Steel 8 Meter

24 Stopping Buckle Stainless Steel 8 Buah

25 Remove Ring Galvanised 4 Buah


Steel/Alluminium
Alloy

26 Strain Clamp Alluminium Alloy 4 Buah

27 Plastic Strap Plastic 8 Buah

Konstruksi Tiang Percabangan JTR

(Tiang Nomor 5 dan 8)

28 Tiang Beton Semen Cor 2 Buah

29 Pole Bracket Alluminium Alloy 4 Buah

30 Stainlees Strip Stainless Steel 8 Meter

31 Stopping Buckle Stainless Steel 8 Buah

32 Suspension Clamp Alluminium Alloy 2 Buah

33 Strain Clamp Alluminium Alloy 2 Buah

34 Plastic Strap Plastic 6 Buah

35 Chain Link Galvanised Steel 4 Buah

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 21


a b C d e

KONSTRUKSI GARDU DISTRIBUSI 20 kV


(Tiang Nomor 1 )

36 Tiang Beton Semen Cor 2 Buah

37 Isolator Tarik 20 kV Keramik 3 Set

38 Line Post Insulator 20 Keramik 3 Buah


kV

39 Travers Aspan TM 3 Besi 2 Buah


Pole UNP

40 Lightning Arrester Porselin 3 Set


(LA)

41 Fused Cut Out (FCO Porselin 3 Set


atau CO)

42 Trafo Distribusi Campuran 1 Unit

43 Konstruksi Dudukan Besi 1 Set


Transformator

44 Pipa pelindung Galvanis 30 Meter


mekanis PVC

45 Travers Dudukan Besi 1 Set


Arrester dan FCO

46 Double Beugel Besi Streep 6 Set


Khusus

47 Konstruksi Dudukan Besi 1 Set


Lemari Bagi TR

48 PHB TR Besi 1 Set

49 Pembumian Elektroda Batang 1 buah

50 Pembumian LA Elektroda Batang 1 Buah

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 22


a b C d e

51 Strain Clamp Alluminium Alloy 1 Buah

52 Kabel JTR - 600 Meter

53 Kabel Sr - 1050 Meter

54 Tap Konektor - 230 Buah

55 Clamp Sr - 230 Buah

56 Kawat BC Tembaga 30 Meter

57 Tiang Beton JTM 13 Meter 2 Buah

58 Tiang Beton Jtr 9 Meter 15 Buah

59 Tiang Besi Lampu 6 Meter 5 Buah


Jalan

60 Besi Lampu Jalan 2 Meter 16 Buah

61 Lampu Jalan - 26 Buah

62 Kawat AAAC 150 - - Meter


mm2

63 Mur baut M16 x 200 - 47 Pasang


mm

64 Mur baut M16 x 250 - 47 Pasang


mm

65 Mur baut M12 x 45 - 47 Pasang


mm

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 23


BAB III
GAMBAR dan ANALISIS

3.1 Daftar Gambar


1. Denah Perumahan
2. Jaringan Distribusi
3. Konstruksi Gardu Distribusi 20 Kv (Tiang Nomor 1)
4. Konstruksi Tiang Penyanggah JTR (Tiang Nomor 2,3,6,9,11 dan 12)
5. Konstruksi Tiang Sudut JTR (Tiang Nomor 15)
6. Konstruksi Tiang Sudut JTR (Tiang Nomor 4)
7. Konstruksi Tiang Akhir JTR (Tiang Nomor 7,10,13, dan 14)
8. Konstruksi Tiang Percabangan JTR (Tiang Nomor 5 dan 8)
9. Konstruksi Panel Distribusi
10. Tiang Lampu Jalan

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 24


Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 25
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 26
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 27
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 28
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 29
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 30
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 31
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 32
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 33
Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 34
3.2 Analisis

1. Jumlah Daya
1) Pengelompokan Rumah Pada Tiap Fasa :
 Kelompok Fasa R
a. Rumah tinggal type 7 x 16 berjumlah 9 buah.
b. Rumah tinggal type 8 x 16 berjumah 14 buah.
c. Masjid.

 Kelompok Fasa S
a. Rumah tinggal type 7 x 16 berjumlah 29 buah.
b. Rumah tinggal type 8 x 16 berjumlah 3 buah.
c. Lampu jalan.

 Kelompok Fasa T
a. Rumah tinggal type 7 x 16 berjumlah 41 buah.
b. Rumah tinggal type 8 x 16 berjumlah 4 buah.

2) Perhitungan Daya Pada Tiap Fasa


 Kelompok Fasa R
a. Rumah tinggal type 7 x 16 berjumlah 9 buah.
9 x 1.300 VA = 11.700 VA
b. Rumah tinggal type 8 x 16 berjumlah 14 buah.
14 x 2.200 VA = 30.800 VA
c. Masjid
1 x 3.500 VA = 3.500 VA +

Jumlah Daya Fasa R = 46.000 VA

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 35


 Kelompok Fasa S
a. Rumah tinggal type 7 x 16 berjumlah 29 buah.
29 x 1.300 VA = 37.700 VA
b. Rumah tinggal type 8 x 16 berjumlah 3 buah.
3 x 2.200 VA = 6.600 VA
c. Lampu jalan 60 watt berjumlah 25 buah.
25 x 60 watt = 1500 watt
= 1500 watt = 1.875 VA +
0,8

Jumlah Daya Fasa S = 46.175 VA

 Kelompok Fasa T
a. Rumah tinggal type 7 x 16 berjumlah 41 buah.
41 x 1.300 VA = 53.300 VA
b. Rumah tinggal type 8 x 16 berjumlah 4 buah.
4 x 2.200 VA = 8.800 VA +

Jumlah Daya Fasa T = 62.100 VA

3) Total Daya
1. Kelompok fasa R = 46.000 VA
2. Kelompok fasa S = 46.175 VA
3. Kelompok fasa T = 62.100 VA +
198.575 VA

TOTAL DAYA terpakai adalah 198.575 VA

Total daya terpasang (Trafo) adalah 200.000 VA, maka cadangan atau spare
yang dibutuhkan adalah

200.000 VA – 198.575 VA x 100 % = 1.425 VA x 100 %


200.000 VA 200.000 VA

= 0,71 %

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 36


2. Gambar Denah Perumahan (Gambar 01) dan Jaringan Distribusi
Denah merupakan sebuah peta berukuran kecil yang
menunjukkan dan menggambarkan detail lokasi dari suatu bangunan.
Denah Perumahan yang telah digambar berisi ukuran rumah, masjid,
dan Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi. Data
Perumahan yaitu ;
1) Jumlah rumah tipe 7 x 16 meter = 79 rumah dan jumlah rumah tipe
8 x 16 meter = 21 rumah, jadi total rumah 100 unit,
2) Masjid 1 unit dengan ukuran 24 x 32 meter,
3) Ukuran lebar jalan 6 meter,
4) Tranformator 1 Unit,
5) Jumlah Tiang Beton 15 buah,
6) Jumlah Tiang Besi 6 buah,
7) Panjang Penghantar secara keseluruhan pada JTR adalah 600
meter.

3. Konstruksi Gardu Distribusi


Gardu Distribusi merupakan tempat membagikan tenaga listrik
pada beban JTM 20 kV ke JTR 380/220 v. Gambar Konstruksi Gardu
Distribusi berisi bahan dan ukuran yang digunakan pada Gardu Induk,
bahan yang digunakan ,yaitu ;
1) Tiang beton dengan panjang tiang 13 meter (daN 350) berfungsi
sebagai dudukan semua bahan gardu distribusi,
2) Line post insulator jumlahnya 6 buah dan isolator tarik jumlahnya 3
set berfungsi sebagai pemisah antara penghantar listrik dengan
tiang beton,
3) Travers aspan TM 3 pole UNP jumlahnya 2 buah berfungsi sebagai
dudukan isolator,
4) Lightning arrester jumlahnya 3 set berfungsi sebagai pengaman
hantaran sambarang petir,
5) Fused cut out jumlahnya 3 set berfungsi sebagai pengaman
jaringan distribusi jika ada arus beban lebih,
6) Trafo Distribusi satu unit berfungsi sebagai penurun tegangan yang
dari 20 kV menjadi 380/220 V,
7) Pipa pelindung mekanis berfungsi sebagai pelindung kabel dari
keluaran trafo menuju PHB distribusi,
8) Pembumian 2 buah berfungsi sebagai pengaman kelistrikan dari
arus beban lebih.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 37


9) PHB distribusi satu set adalah tempat hubung bagi JTR.
10) Kabel JTR atau kabel pilin berfungsi sebagai penghantar tenaga
listrik, adapun ketentuannya , yaitu ;
a. Ukuran penghantar 3 x 50 + N mm2,
b. Kekuatan penarikan penghantar (daN) adalah sag (cm) 80 =
270
c. jarak antara gawang maksimum 45 meter dan minimum 6 meter
dari atas permukaan jalan,
d. Tegangan 380/220 V.

4. Konstruksi Tiang Penyanggah JTR (Gambar 04)


Konstruksi Tiang Penyanggah terletak di tengah – tengah
perancangan tiang yang berfungsi sebagai penyanggah jaringan JTR,
adapun bahan yang digunakan, yaitu;
1) Tiang beton dengan panjang tiang 9 meter (daN 350) berfungsi
sebagai dudukan semua bahan gardu distribusi
2) Pole Bracket 1 buah berfungsi sebagai dudukan suspension
clamp,
3) Stainless strip 2 meter berfungsi sebagai pengikat komponen pada
tiang,
4) Stopping buckle 2 buah berfungsi sebagai pengikat Stainless strip,
5) Chain link 1 buah berfungsi sebagai pengikat suspension clamp,
6) suspension clamp 1 buah berfungsi sebagai dudukan kabel JTR,
7) Plastic strap 3 buah berfungsi sebagai pengikat kabel JTR.

5. Konstruksi Tiang Sudut JTR (Gambar 05) dan tiang sudut percabangan
JTR (Gambar 6)
Konstruksi Tiang Sudut terletak di pembelokan tiang, adapun bahan
yang digunakan, yaitu ;
1) Pole Bracket berfungsi sebagai dudukan suspension clamp,
2) Stainless strip berfungsi sebagai pengikat komponen pada tiang,
3) Stopping buckle berfungsi sebagai pengikat Stainless strip,
4) Strain clamp berfungsi sebagai penarik kabel JTR,
5) Plastic strap berfungsi sebagai pengikat kabel JTR.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 38


6. Konstruksi Tiang Akhir JTR (Gambar 07)
Konstruksi Tiang Akhir terletak di ujung atau di akhir perancangan
tiang, adapun bahan yang digunakan, yaitu ;
1) Pole Bracket berfungsi sebagai dudukan suspension clamp,
2) Stainless strip berfungsi sebagai pengikat komponen pada tiang,
3) Stopping buckle berfungsi sebagai pengikat Stainless strip,
4) Strain clamp berfungsi sebagai penarik kabel JTR,
5) Plastic strap berfungsi sebagai pengikat kabel JTR.

7. Konstruksi Tiang Percabangan JTR (Gambar 08)


Konstruksi Tiang Percabangan terletak di tengah dan bercabangan
dalam perencangan, adapun bahan yang digunakan, yaitu ;
1) Pole Bracket 1 buah berfungsi sebagai dudukan suspension clamp,
2) Stainless strip 2 meter berfungsi sebagai pengikat komponen pada
tiang,
3) Stopping buckle 2 buah berfungsi sebagai pengikat Stainless strip,
4) Strain clamp 1 buah berfungsi sebagai penarik kabel JTR,
5) Plastic strap 3 buah berfungsi sebagai pengikat kabel JTR,
6) Chain link 1 buah berfungsi sebagai pengikat suspension clamp,
7) Suspension Clamp 1 buah berfungsi sebagai dudukan kabel JTR.

8. Konstruksi Panel Distribusi (Gambar 09)


Konstruksi panel distribusi adalah suatu kombinasi dari satu atau
lebih Perlengkapan Hubung Bagi Tegangan Rendah dengan peralatan
kontrol, peralatan ukur, pengaman dan kendali yang saling
berhubungan. Keseluruhannya dirakit lengkap dengan sistem
pengawatan dan mekanis pada bagian-bagian penyangganya.
Komponen yang berada didalam panel distribusi,yaitu ; No fused
breaker, sekering, potential transformator, Moulded case circuit
breaker, miniature circuit breaker, pilot lamp, push button,
amperemeter, current transformator, volt meter, dan busbar.

9. Tiang Lampu Jalan (Gambar 10)


Tiang lampu jalan berukuran 6 meter dan ada juga menempel di tiang
beton JTR yang berfungsi sebagai penerangan jalan di waktu gelap
atau malam.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 39


BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Setelah melakukan pengukuran tahanan isolasi pada transformator dapat
diambil kesimpulan sebagai berikut :

 Penulis dapat merancanakan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi,


 Penulis dapat mengetahui prinsip kerja dan fungsi masing-masing
komponen yang digunakan
 Penulis dapat mengerti penggunaan dan pengoperasian komponen
atau peralatan listrik yang digunakan
 Penulis telah mampu merancang dan membuat gambar proyek
distribusi dari JTM ke JTR,
 Penulis telah mampu menjelaskan deskripsi kerja dari Proyek Distribusi
dan Gardu Distribusi .

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 40


DAFTAR PUSTAKA

PT PLN (Persero). 2010. Buku 2 Standar Konstruksi Jaringan Tegangan


Rendah Tenaga Listrik. Jakarta.

PT PLN (Persero). 2010. Buku 3 Standar Konstruksi Gardu Distribusi Dan


Gardu Hubung Tenaga Listrik. Jakarta.

PT PLN (Persero). 2010. Buku 4 Standar Konstruksi Jaringan Tegangan


Rendah Tenaga Listrik. Jakarta.

Perancangan Proyek Distribusi dan Gardu Distribusi 41