Anda di halaman 1dari 16

Bidan Yang Mendapat Sanksi Pdf Free Download

Bidan Yang Mendapat Sanksi Pdf Word Free Ebooks Download

Download Bidan Yang Mendapat Sanksi For Free Download Your Favorite Bidan Yang
Mendapat Sanksi At Pdfdatabasecom from pdfdatabase.com

Sanksi Bidan Yang Melanggar Pdf Word Free Ebooks Download

Yang Melanggar For Free Download Your Favorite Sanksi Bidan Yang Bidan Yang
Mendapat Sanksi Sanksi Hukum

PendidikanTinggiyangLanggarAturanAkanDiberiSanksipdf from pdfdatabase.com

KASUS KESEHATAN AKIBAT KRISIS KOMUNIKASI

17.47 Diposkan oleh Bidan Fe


by: bidan foka

Beberapa bulan terakhir ini, berbagai media kerap memberitakan tentang kasus mal
praktek yang terjadi di rumah sakit, beberapa kasus karena kelalaian tenaga kesehatan
dan tidak sedikit kasus tersebut mencuat karena krisis dan kurangnya komunikasi.
Berikut adalah tinjauan dari kasus-kasus yang terkait dengan kurangnya komunikasi.

a. Kasus I
Kasus Prita Mulyasari, seorang ibu rumah tangga beranak dua, yang menghadapi masalah
karena tuduhan pencemaran nama baik atas Rumah Sakit Omni International, menarik
untuk dicermati dari segi hubungan masyarakat antara institusi/lembaga/perusahaan dan
masyarakat umum/pelanggan. Prita saat ini masih menjadi tahanan kota, menunggu hasil
keputusan pengadilan atas tuntutan rumah sakit Omni International terhadap surat
elektronik/e-mail Prita yang ia kirim ke beberapa temannya yang kemudian menyebar ke
beberapa milis. Surat itu tak lain adalah bentuk keluhan Prita atas kualitas pelayanan
rumah sakit Omni yang buruk. Tuntutan pencemaran nama baik muncul ketika institusi
sering kali merasa dirugikan reputasinya.

Kasus Prita dapat dikategorikan sebagai krisis komunikasi dan reputasi. Dari segi
hubungan masyarakat/public relations, langkah-langkah yang diambil oleh rumah sakit
Omni International adalah kesalahan fatal. Langkah-langkah hukum yang diambil,
keterlibatan polisi dan kejaksaan, justru akan membunuh bisnis rumah sakit Omni
daripada memperbaiki dan melindungi reputasi serta bisnis rumah sakit ini. Jika memang
ada proses komunikasi yang berjalan baik di rumah sakit itu, kasus semacam Prita ini
justru bisa menjadikan poin penting untuk membangun ikon kebesaran rumah sakit
tersebut. Biayanya tentu jauh lebih murah daripada beriklan.
Sejak awal harusnya ada pola yang memungkinkan pimpinan rumah sakit melihat bahwa
Prita bisa menjadi sumber kebaikan dari rumah sakit tersebut.

Tetapi ini memang tidak mudah karena diperlukan kecerdasan Public Relation, sebuah
kecerdasan yang dihasilkan dari pikiran-pikiran menyamping yang berpikir menyamping
dan out of the box sehingga memungkinkan mengubah ancaman jadi peluang dan
memecahkan masalah yang paling pelik pun. Ujungnya tentu saja melindungi citra
perusahaan dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Bahkan sebelum memutuskan
untuk mengambil jalan hukum, harusnya rumah sakit melakukan mapping intelligent
tentang siapa Prita dan paham impact yang akan ditimbulkannya jika mengambil langkah
hukum. Bila fungsi publik relation berjalan, yang akan terjadi selanjutnya adalah
melakukan lokalisasi persoalan agar tidak sampai membuat citra atau nama baik
perusahaan terancam. Karena itu, perlu melakukan langkah-langkah teknis, misalnya
mulai dari content analysis, mapping opinion sampai way out yang harus dijalankan.

Dibutuhkan latihan untuk mengenali ancaman krisis komunikasi. Dalam aplikasinya,


seorang yang mengendalikan fungsi komunikasi seharusnya adalah orang-orang yang
sangat paham dengan media, punya keahlian komunikasi, paham tentang psikologi, dan
awas terhadap perubahan mendadak di lingkungannya. Konsultan komunikasi sama
pentingnya dengan konsultan hukum, tetapi belum banyak yang menyadari itu.
b. Kasus II
Beberapa waktu lalu saya melihat pelayanan kesehatan yang buruk di sebuah rumah
sakit. Saat itu anak saya dirawat karena menderita tifus Di ruang yang sama, dirawat pula
seorang anak dengan kasus demam berdarah. Kondisi anak itu parah. Napasnya terputus-
putus dan bibirnya membiru, walau selang oksigen terpasang di hidungnya. Tentu saja
keluarganya sangat panik. Sayangnya, tak satu pun petugas datang untuk memeriksa.
Saya lalu mencoba mencari perawat di ruang suster. Saya melihat seorang perawat
sedang berbicara di telepon. Ketika saya menyampaikan kondisi anak itu, dengan
gampangnya ia mengatakan bahwa pasien tersebut bukan tanggung jawabnya. Setiap
perawat menurutnya, sudah punya tanggungjawab masing-masing. Saat itu perawat yang
mengurus pasien kritis ini sedang keluar ruangan. Dengan kesal saya kembali ke ruang
perawatan. Ternyata anak itu sudah meninggal tanpa pertolongan petugas. Dokter pun
baru datang 30 menit setelah pasien menghembuskan napas terakhir. Ia hanya
menyatakan bahwa anak itu memang sudah meninggal. Saya yang merasa sebagai bagian
dari keluarga itu (karena sama-sama satu ruangan), sangat menyesalkan kejadian itu.
Apakah rumah sakit tersebut bisa dituntut? Apakah kematian karena petugas rumah sakit
menelantarkan pasien harus didiamkan saja?".

Kejadian yang menimpa pasien diatas sangat memprihatinkan terkait buruknya pelayanan
kesehatan yang diterima pasien tersebut. Apalagi keluarganya telah menaruh kepercayaan
kepada petugas kesehatan untuk mendapatkan pelayanan yang diharapkan. Tetapi,
perbuatan paramedis tersebut malah cenderung tidak memenuhi harapan. Sarana
kesehatan, seperti rumah sakit yang memberikan pelayanan rawat jalan atau rawat inap,
memiliki standar pelayanan tertentu. Standar itu menjadi acuan bagi para personel rumah
sakit, baik medis (dokter) atau paramedis (perawat, petugas laboratorium, apotek dll),
yang berkontribusi satu sama lain. Penetapan standar tersebut diharapkan dapat
memberikan pelayanan kesehatan yang memadai dan bermutu. Dengan begitu derajat
kesehatan yang diharapkan bisa tercapai.
Pelayanan kesehatan diberikan melalui bentuk pengobatan dan perawatan. Petugas
kesehatan, medis dan nonmedis, bertanggungjawab untuk memberi pelayanan yang
optimal. Salah satu bentuk tanggungjawab petugas kesehatan yaitu tidak menelantarkan
pasien. Penelantaran dapat berakibat buruk terhadap keselamatan dan kesehatan pasien.
Terlebih lagi bila hal tersebut terjadi pada pasien yang perlu pemantauan dan perawatan
intensif.

Pasien adalah konsumen yang berhak untuk memperoleh keselamatan dan keamanan
pelayanan kesehatan. Adalah hak pasien untuk menuntut petugas kesehatan agar memberi
pelayanan yang profesional dan bertanggung jawab.

Kasus diatas juga memperlihatkan kurangnya komunikasi dan kerja sama yang
profesional antara perawat dan dokter. Serta tidak adanya komunikasi yang baik antara
paramedis/perawat dan pasiennya. Tidak seharusnya perawat memberikan informasi yang
membingungkan dan menelantarkan pasien dalam kondisi yang kurang baik, meskipun
pada saat tersebut, bukanlah tanggung jawabnya. Krisis komunikasi banyak terjadi pada
saat ini, sehingga tidak sedikit kasus mal praktek terjadi akibat kurangnya komunikasi.
Paramedis mempunyai andil yang sangat strategis dalam berhubungan dengan pasien,
sehingga komunikasi yang baik merupakan kewajiban bagi setiap tenaga kesehatan,
khususnya paramedis. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Perlindungan Konsumen,
masyarakat khususnya pasien sebagai konsumen kesehatan, memiliki perlindungan diri
dari kemungkinan upaya kesehatan yang tidak bertanggungjawab.Konsumen
kesehatan/pasien berhak atas keselamatan, keamanan, den kenyamanan terhadap
pelayanan jasa kesehatan yang diterima. Dengan hak tersebut, konsumen akan terlindungi
dari praktik profesi yang mengancam keselamatan atau kesehatan. Hak pasien yang lain
adalah mendapatkan ganti rugi apabila pelayanan yang diterima tidak sebagaimana
mestinya. Masyarakat sebagai konsumen dapat menyampaikan keluhannya kepada pihak
RS sebagai upaya perbaikan interen RS dalam pelayanannya atau kepada lembaga yang
memberi perhatian kepada konsumen kesehatan.

Etika Profesi dalam Kesehatan Reproduksi


Posted on Juli 12, 2008 by kuliahbidan

Sanksi Pelanggaran Etik dan Etikolegal Profesi Kedokteran :


Etik Kedokteran dan Hukum Kesehatan dalam Obstetri Ginekologi
Prof.dr. M. Jusuf Hanafiah
Gurubesar Obstetri Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan

Abortus / Terminasi Kehamilan atas Indikasi Non-Medik


Prof.dr. Ratna Suprapti Samil
Gurubesar Obstetri Ginekologi
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

Ethical Guidelines Regarding Induced Abortion


for Non-Medical Reasons
FIGO Committee Report for the Ethical Aspects of Human Reproduction and Women’s Health
Cairo, 1998

Pertama: Sanksi Pelanggaran Etik dan Etikolegal Profesi Kedokteran :


Etik Kedokteran dan Hukum Kesehatan dalam Obstetri Ginekologi

Pendahuluan

Dalam Lafal Sumpah Dokter Indonesia (LSDI) dan Kode Etik Kedokteran Indonesia
(KODEKI) telah tercantum secara garis besar perilaku dan tindakan-tindakan yang layak
atau tidak layak dilakukan seorang dokter dalam menjalankan profesinya. Namun ada
saja dokter yang tega melakukan pelanggaran etik bahkan pelanggaran etik sekaligus
hukum (etikolegal), terlebih dalam lingkungan masyarakat yang sedang mengalami
krisis akhir-akhir ini. Kenyataan menunjukkan pula bahwa sanksi yang diberikan oleh
atasan atau oleh organisasi profesi kedokteran selama ini terhadap pelanggaran etik itu
tidak tegas dan konsisten. Hal ini disebabkan antara lain belum dimanfaatkannya
organisasi profesi kedokteran oleh masyarakat untuk menyampaikan keluhan-keluhannya
dan tidak jelasnya batas-batas antara yang layak dan tidak layak dilakukan seorang dokter
terhadap pasien, teman sejawat dan masyarakat umumnya. Inilah bedanya etik dengan
hukum. Hukum lebih tegas dan lebih objektif menunjukkan hal-hal yang merupakan
pelanggaran hukum, sehingga jika terjadi pelanggaran dapat diproses sesuai dengan
hukum yang berlaku.
Dalam makalah ini dibahas tentang perbedaan etik dengan hukum, contoh-contoh
pelanggaran etik murni dan pelanggaran etikolegal, termasuk contoh-contoh dalam
bidang Obstetri Ginekologi, prosedur penanganan dan sanksi-sanksi yang dapat diberikan
terhadap pelaku pelanggaran etik dan etikolegal profesi kedokteran.

Beda etik dengan hukum


Etika kedokteran merupakan seperangkat perilaku anggota profesi kedokteran dalam hubungannya
dengan klien / pasien, teman sejawat dan masyarakat umumnya serta merupakan bagian dari keseluruhan
proses pengambilan keputusan dan tindakan medik ditinjau dari segi norma-norma / nilai-nilai moral.
Hukum merupakan peraturan perundang-undangan baik pidana, perdata maupun administrasi. Hukum
kesehatan merupakan peraturan perundang-undangan yang berhubungan langsung dengan pemeliharaan
kesehatan, jadi menyangkut penyelenggara pelayanan kesehatan dan penerima pelayanan kesehatan.
Perbedaan etik dengan hukum adalah :
1. Etik berlaku untuk lingkungan profesi. Hukum berlaku untuk umum.
2. Etik disusun berdasarkan kesepakatan anggota profesi. Hukum dibuat oleh suatu kekuasaan atau adat.
3. Etik tidak seluruhnya tertulis. Hukum tercantum secara terinci dalam kitab undang-undang / lembaran
negara.
4. Sanksi terhadap pelanggaran etik umumnya berupa tuntunan. Sanksi terhadap pelanggaran hukum
berupa tuntutan.
5. Pelanggaran etik diselesaikan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) yang dibentuk oleh
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan kalau perlu diteruskan kepada Panitia Pertimbangan dan Pembinaan
Etika Kedokteran (P3EK), yang dibentuk oleh Departemen Kesehatan (DepKes). Pelanggaran hukum
diselesaikan melalui pengadilan.
6. Penyelesaian pelanggaran etik tidak selalu disertai bukti fisik. Penyelesaian pelanggaran hukum
memerlukan bukti fisik.

Pelanggaran etik murni


Pelanggaran terhadap butir-butir LSDI dan/atau KODEKI ada yang merupakan
pelanggaran etik murni, dan ada pula yang merupakan pelanggaran etikolegal.
Pelanggaran etik tidak selalu merupakan pelanggaran hukum, dan sebaliknya,
pelanggaran hukum tidak selalu berarti pelanggaran etik.
Yang termasuk pelanggaran etik murni antara lain :
1. Menarik imbalan jasa yang tidak wajar dari klien / pasien atau menarik imbalan jasa
dari sejawat dokter dan dokter gigi beserta keluarga kandungnya.
2. Mengambil alih pasien tanpa persetujuan sejawatnya.
3. Memuji diri sendiri di depan pasien, keluarga atau masyarakat.
4. Pelayanan kedokteran yang diskriminatif.
5. Kolusi dengan perusahaan farmasi atau apotik.
6. Tidak pernah mengikuti pendidikan kedokteran berkesinambungan.
7. Dokter mengabaikan kesehatannya sendiri.
Perilaku dokter tersebut di atas tidak dapat dituntut secara hukum tetapi perlu mendapat
nasihat / teguran dari organisasi profesi atau atasannya.

Contoh-contoh kasus etikolegal


Pelanggaran di mana tidak hanya bertentangan dengan butir-butir LSDI dan/atau
KODEKI, tetapi juga berhadapan dengan undang-undang hukum pidana atau perdata
(KUHP/KUHAP). Misalnya :
1. Pelayanan kedokteran di bawah standar (malpraktek)
2. Menerbitkan surat keterangan palsu.
3. Membocorkan rahasia pekerjaan / jabatan dokter.
4. Pelecehan seksual.
(dan sebagainya)

Etik kedokteran dan hukum kesehatan dalam obstetri ginekologi


Masalah-masalah yang berhubungan dengan reproduksi manusia merupakan masalah yang sangat khusus
dan paling rumit ditinjau dari segi etik, agama, hukum dan sosial, terlebih dengan begitu pesatnya
perkembangan dalam bidang obstetri ginekologi dalam tiga dekade terakhir ini.
Masalah-masalah kontrasepsi, aborsi, teknologi reproduksi buatan, operasi plastik selaput dara dan
sebagainya, memerlukan perhatian penuh pihak profesi kedokteran, hukum, agama dan masyarakat luas.

1. Pelayanan kontrasepsi
Sejak program Keluarga Berencana (KB) menjadi program nasional pada tahun 1970,
berbagai cara kontrasepsi telah ditawarkan dalam pelayanan KB di Indonesia, mulai dari
cara tradisional, barier, hormonal (pil, suntikan, susuk KB), IUD/AKDR, dan kontrasepsi
mantap (Kontap). Seorang dokter harus memberikan konseling kepada pasangan suami
istri (pasutri) atau calon akseptor, dengan penjelasan lebih dahulu tentang indikasi kontra,
efektifitas dan efek samping atau keamanan setiap jenis kontrasepsi, dan akhirnya pasutri
lah yang menentukan pilihannya.
Dari cara-cara kontrasepsi tersebut di atas, maka cara AKDR dan kontap menjadi bahan
diskusi yang hangat, terutama karena menyangkut aspek agama dan hukum. Mekanisme
kerja AKDR adalah sebagai kontrasepsi dan juga kontranidasi, sehingga menimbulkan
dilema bagi seorang dokter. Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan
kewajibannya melindungi hidup insani (KODEKI, pasal 10), bahkan menghormati setiap
hidup insani mulai dari saat pembuahan (LSDI, butir 9). Jadi pemasangan AKDR dapat
dianggap mengupayakan pemusnahan telur yang telah dibuahi. Karena LSDI telah
dikukuhkan dengan PP no.26 tahun 1960, maka seorang dokter yang melanggar sumpah
tersebut berarti telah melanggar peraturan pemerintah, sehingga dapat diancam hukuman
sesuai peraturan yang berlaku. Namun, KB merupakan program nasional, sehingga sanksi
terhadap pelanggaran tersebut agaknya tidak diberlakukan.
Cara kontap baik pada pria maupun pada wanita telah banyak dilakukan di Indonesia,
baik atas indikasi medik maupun indikasi sosial-ekonomi dengan tujuan kontrasepsi yang
permanen. Peraturan perundang-undangan tentang kontap belum ada di Indonesia.
Pendapat tokoh-tokoh agama beraneka ragam dan kenyataannya lebih banyak yang
menentang cara kontrasepsi itu karena mengurangi harkat dan kodrat seseorang. Dari segi
etik kedokteran, cara kontap dapat dibenarkan sesuai dengan KODEKI butir 10, yaitu
dengan tujuan melindungi hidup insani dan mengutamakan kesehatan penderita. Namun
tidaklah etis menawarkan kontap pada saat ibu sedang mengalami persalinan patologik.
Dari segi hukum, kontap dapat dianggap melanggar KUHP pasal 534 yang melarang
usaha pencegahan kehamilan dan melanggar pula pasal 351 karena tindakan tersebut
merupakan mutilasi alat tubuh. Juga dapat dituduh melakukan penganiayaan, sehingga
dapat dikenakan hukuman atau dituntut ganti rugi. Namun, dengan terbitnya UU RI no.10
tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera,
penyelenggaraan Keluarga Berencana dapat dibenarkan dengan memperhatikan butir-
butir berikut :
Pasal 17
(1) Pengaturan kelahiran diselenggarakan dengan tata cara yang berdaya guna dan
berhasil guna serta dapat diterima oleh pasangan suami istri sesuai dengan pilihannya.
(2) Penyelenggaraan pengaturan kelahiran dilakukan dengan cara yang dapat
dipertanggungjawabkan dari segi kesehatan, etik dan agama yang dianut penduduk yang
bersangkutan.
Penjelasan
(1) Pelaksanaan pengaturan kelahiran harus selalu memperhatikan harkat dan martabat
manusia serta mengindahkan nilai-nilai agama dan sosial budaya yang berlaku di dalam
masyarakat.
(2) Untuk menghindarkan hal yang berakibat negatif, setiap alat, obat dan cara yang
dipakai sebagai pengatur kehamilan harus aman dari segi medik dan dibenarkan oleh
agama, moral dan etika.
Pasal 18
Setiap pasangan suami istri dapat menentukan pilihannya dalam merencanakan dan
mengatur jumlah anak, dan jarak antara kelahiran anak yang berlandaskan pada
kesadaran dan tanggung jawab terhadap generasi sekarang maupun generasi mendatang.
Pasal 19
Suami dan istri mempunyai hak dan kewajiban yang sama serta kedudukan yang
sederajat dalam menentukan cara pengaturan kelahiran.
Penjelasan
Suami dan isteri harus sepakat mengenai pengaturan kehamilan dan cara yang akan
dipakai agar tujuannya tercapai dengan baik. Keputusan atau tindakan sepihak dapat
menimbulkan kegagalan atau masalah di kemudian hari. Kewajiban yang sama antara
keduanya berarti juga, bahwa apabila isteri tidak dapat memakai alat, obat dan cara
pengaturan kelahiran, misalnya karena alasan kesehatan, maka suami mempergunakan
alat, obat dan cara yang diperuntukkan bagi laki-laki.

2. Abortus Provokatus
Masalah aborsi telah dibahas di berbagai pertemuan ilmiah dalam lebih dari 3 dekade
terakhir ini, baik di tingkat nasional maupun regional, namun hingga waktu ini
Rancangan Pengaturan Pengguguran berdasarkan Pertimbangan Kesehatan belum
terwujud. Secara umum hal ini telah dicantumkan dalam undang-undang kesehatan,
namun penjabarannya belum selesai juga. Kehampaan hukum itu menyangkut pula
tindakan abortus provokatus pada kasus-kasus kehamilan karena perkosaan, kehamilan
pada usia remaja putri (usia kurang dari 16 tahun, yang belum mempunyai hak untuk
menikah), kehamilan pada wanita dengan gangguan jiwa, kegagalan kontrasepsi dan
wanita dengan grande multipara.
Seorang dokter harus senantiasa mengingat akan kewajibannya melindungi hidup insani
(KODEKI pasal 10). Undang-undang no.23 tahun 1992 tentang kesehatan menyatakan
bahwa dalam keadaan darurat, sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau
janinnya, dapat dilakukan tindakan medik tertentu dan ini dilakukan oleh tenaga
kesehatan yang mempunyai keahlian, dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan
atau suami atau keluarganya dan dilakukan pada sarana kesehatan tertentu.
Dalam KUHP secara rinci terdapat pasal-pasal yang mengancam pelaku abortus ilegal
sebagai berkut :
a. Wanita yang sengaja menggugurkan kandungan atau menyuruh orang lain
melakukannya (KUHP pasal 346, hukuman maksimum 4 tahun).
b. Seseorang yang menggugurkan kandungan wanita tanpa seijinnya (KUHP pasal 347,
hukuman maksimum 12 tahun dan bila wanita itu meninggal, hukuman maksimum 15
tahun).
c. Seorang yang menggugurkan kandungan wanita dengan seijin wanita tersebut (KUHP
pasal 348, hukuman maksimum 5 tahun 6 bulan dan bila wanita itu meninggal, hukuman
maksimum 7 tahun).
d. Dokter, Bidan atau Juru Obat yang melakukan kejahatan di atas (KUHP pasal 349,
hukuman ditambah sepertiganya dan pencabutan hak pekerjaannya).
Dalam pasal 80 UU Kesehatan tercantum, bahwa “Barang siapa dengan sengaja
melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak dalam keadaan darurat
sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu dan atau janin yang dikandungnya, dipidana
dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak
Rp.500.000.000,- (limaratus juta rupiah)”.

3. Teknologi Reproduksi Buatan


Pada tahun 1978, Steptoe & Edwards melahirkan bayi tabung pertama Louise Brown di
Inggris, hasil Fertilisasi In Vitro (FIV) dan Pemindahan Embrio (PE). Ini merupakan
terobosan yang telah mengubah dunia kedokteran terutama di bidang reproduksi manusia.
Di Indonesia, bayi tabung pertama lahir 10 tahun kemudian (1988) hasil upaya Tim
Melati RSAB Harapan Kita Jakarta. FIV dan PE merupakan upaya terakhir untuk
menolong pasutri memperoleh keturunannya, karena upaya ini memerlukan biaya yang
besar, keberhasilan “take home baby” yang rendah dan menyebabkan distres pada pasutri
yang bersangkutan. Selain cara FIV dan PE telah dikembangkan pula teknologi
reproduksi buatan lainnya seperti Tandur Alih Gamet atau Embrio Intra Tuba dan
Suntikan Sperma Intra Sitoplasmik.
Dari segi hukum, di Indonesia telah terdapat peraturan perundang-undangan tentang
kehamilan di luar cara alami itu, yaitu bahwa cara tersebut hanya dapat dilakukan pada
pasangan suami istri yang sah, dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai
keahlian dan kewenangan untuk itu, dan pada sarana kesehatan yang memenuhi syarat
(UU Kesehatan, pasal 16). Dengan demikian, masalah donasi oosit, sperma dan embrio,
masalah ibu pengganti adalah bertentangan dengan hukum yang berlaku dan juga etik
kedokteran.
Dalam pasal 82 ayat (2) UU Kesehatan tersebut dinyatakan bahwa “Barang siapa
melakukan upaya kehamilan di luar cara alami yang tidak sesuai dengan ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling
lama 5 (lima) tahun dan atau pidana denda paling banyak Rp.100.000.000,- (seratus juta
rupiah)”.

4. Bedah Plastik Selaput Dara


Wanita yang meminta dilakukan bedah plastik selaput dara umumnya berdasarkan
berbagai motif. Ada yang ingin memberi kesan kepada suaminya bahwa dirinya masih
perawan, sehingga bertujuan menyelamatkan hidup bersama suaminya, padahal pasien
pernah melakukan hubungan seksual di luar nikah dengan pria lain. Di Indonesia,
masalah keperawanan di malam pertama pengantin baru dianggap penting, walaupun hal
ini sebenarnya tidak adil dalam kedudukan wanita dan pria. Ada pula wanita yang minta
bedah plastik selaput dara dengan tujuan komersialisasi keperawanan, dengan
mengharapkan imbalan yang besar. Dalam hal ini hati nurani dokterlah yang menentukan
sikapnya dalam menghadapi godaan dari pasien bersangkutan. Jika robeknya selaput dara
disebabkan trauma atau akibat tindakan dilatasi dan kuretase yang dilakukan karena
indikasi medik (misalnya pada kasus-kasus perdarahan uterus disfungsional yang
menyebabkan anemia berat dan tidak tanggap terhadap terapi medikamentosa), maka
dalam hal ini bedah plastik selaput dara masih dapat dibenarkan.

Prosedur penanganan pelanggaran etik kedokteran


Pada tahun 1985 Rapat Kerja antara P3EK, MKEK dan MKEKG telah menghasilkan pedoman kerja yang
menyangkut para dokter antara lain sebagai berikut :
1. Pada prinsipnya semua masalah yang menyangkut pelanggaran etik diteruskan lebih dahulu kepada
MKEK.
2. Masalah etik murni diselesaikan oleh MKEK.
3. Masalah yang tidak murni serta masalah yang tidak dapat diselesaikan oleh MKEK dirujuk ke P3EK
propinsi.
4. Dalam sidang MKEK dan P3EK untuk pengambilan keputusan, Badan Pembela Anggota IDI dapat
mengikuti persidangan jika dikehendaki oleh yang bersangkutan (tanpa hak untuk mengambil keputusan).
5. Masalah yang menyangkit profesi dokter atau dokter gigi akan ditangani bersama oleh MKEK dan
MKEKG terlebih dahulu sebelum diteruskan ke P3EK apabila diperlukan.
6. Untuk kepentingan pencatatan, tiap kasus pelanggaran etik kedokteran serta penyelesaiannya oleh
MKEK dilaporkan ke P3EK Propinsi.
7. Kasus-kasus pelanggaran etikolegal, yang tidak dapat diselesaikan oleh P3EK Propinsi, diteruskan ke
P3EK Pusat.
8. Kasus-kasus yang sudah jelas melanggar peraturan perundang-undangan dapat dilaporkan langsung
kepada pihak yang berwenang.

Pedoman penilaian kasus-kasus pelanggaran etik kedokteran


Etik lebih mengandalkan itikad baik dan keadaan moral para pelakunya dan untuk mengukur hal ini
tidaklah mudah. Karena itu timbul kesulitan dalam menilai pelanggaran etik, selama pelanggaran itu tidak
merupakan kasus-kasus pelanggaran hukum. Dalam menilai kasus-kasus pelanggaran etik kedokteran,
MKEK berpedoman pada :
1. Pancasila
2. Prinsip-prinsip dasar moral umumnya
3. Ciri dan hakekat pekerjaan profesi
4. Tradisi luhur kedokteran
5. LSDI
6. KODEKI
7. Hukum kesehatan terkait
8. Hak dan kewajiban dokter
9. Hak dan kewajiban penderita
10. Pendapat rata-rata masyarakat kedokteran
11. Pendapat pakar-pakar dan praktisi kedokteran senior.
Selanjutnya, MKEK menggunakan pula beberapa pertimbangan berikut, yaitu :
1. Tujuan spesifik yang ingin dicapai
2. Manfaat bagi kesembuhan penderita
3. Manfaat bagi kesejahteraan umum
4. Penerimaan penderita terhadap tindakan itu
5. Preseden tentang tindakan semacam itu
6. Standar pelayanan medik yang berlaku
Jika semua pertimbangan menunjukkan bahwa telah terjadi pelanggaran etik, pelanggaran dikategorikan
dalam kelas ringan, sedang atau berat, yang berpedoman pada :
1. Akibat terhadap kesehatan penderita
2. Akibat bagi masyarakat umum
3. Akibat bagi kehormatan profesi
4. Peranan penderita yang mungkin ikut mendorong terjadinya pelanggaran
5. Alasan-alasan lain yang diajukan tersangka

Bentuk-bentuk sanksi
Dalam pasal 6 PP no.30 tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Sipil terdapat uraian tentang
tingkat dan jenis hukuman, sebagai berikut :
1. Tingkat hukuman disiplin terdiri dari :
a. Hukuman disiplin ringan
b. Hukuman disiplin sedang, dan
c. Hukuman disiplin berat
2. Jenis hukuman disiplin ringan terdiri dari :
a. Teguran lisan
b. Teguran tulisan, dan
c. Pernyataan tidak puas secara tertulis
3. Jenis hukuman disiplin sedang terdiri dari :
a. Penundaan kenaikan gaji berkala untuk paling lama satu tahun
b. Penurunan gaji sebesar satu kali kenaikan gaji berkala untuk paling lama satu tahun, dan
c. Penundaan kenaikan pangkat untuk paling lama satu tahun
4. Jenis hukuman disiplin berat terdiri dari :
a. Penurunan pangkat pada pangkat yang setingkat lebih rendah untuk paling lama satu tahun
b. Pembebasan dari jabatan
c. Pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri sebagai Pegawai Negeri Sipil, dan
d. Pemberhentian tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil
Pada kasus-kasus pelanggaran etikolegal, di samping pemberian hukuman sesuai peraturan tersebut di atas,
maka selanjutnya diproses ke pengadilan.

Kesimpulan
1. Profesi kedokteran adalah profesi kemanusiaan, oleh karena itu etika kedokteran harus memegang
peranan sentral bagi para dokter dalam menjalankan tugas-tugas pengabdiannya untuk kepentingan
masyarakat.
2. Bidang Obstetri Ginekologi merupakan bidang yang demikian terbuka untuk kemungkinan
penyimpangan terhadap nilai-nilai dan norma-norma, sehingga rawan untuk timbulnya pelanggaran etik
kedokteran bahkan pelanggaran hukum. Karena itu diperlukan pedoman etik dan peraturan perundang-
undangan terkait yang menuntun para dokter / SpOG untuk berjalan di jalur yang benar.
3. Sanksi terhadap pelanggaran etik kedokteran hendaknya diberikan secara tegas dan konsisten sesuai
dengan berat ringannya pelanggaran, bersifat mendidik dan mencegah terulangnya pelanggaran yang sama
pada masa depan baik oleh yang bersangkutan maupun oleh para sejawatnya.
4. IDI bersama-sama organisasi profesi dokter spesialis dan organisasi kedokteran seminat lainnya,
hendaknya dapat meningkatkan komunikasi, informasi dan edukasi secara berkesinambungan, sehinggat
setiap anggotanya dan masyarakat umumnya dapat memahami, menghayati dan mengamalkan etika
kedokteran.

Kedua: Abortus / Terminasi Kehamilan atas Indikasi Non-Medik


Pendahuluan

Pada kesempatan ini yang akan kita bicarakan adalah masalah terminasi kehamilan
(induced abortion), dan bukan gangguan-gangguan dalam kehamilan yang
mengakibatkan terminasi kehamilan (miscarriage). Terdapat dua pandangan dunia dan
dua sistem pandang nilai terhadap abortus.
Dalam masalah ini terdapat 2 (dua) hal yang harus kita bahas. Pertama, kita ingin
mengetahui dasar sistim etika, dari mana masyarakat mengambil kesimpulan tentang apa
yang benar, dan apa yang salah. Kedua, kita ingin menerangkan dari mana dasar-dasar
sistem etika tersebut.
Terdapat cara yang beraneka ragam dalam memandang dunia di mana kita sekarang
hidup, yang akan mebawa kita ke pandangan-pandangan yang sangat bertentangan
mengenai abortus.
Abortus, sesungguhnya merupakan suatu contoh yang sangat baik untuk menjawab
pertanyaan mengenai pandangan terhadap etika. Abortus adalah suatu masalah,
terhadap apa terdapat tanggapan yang kuat, dan terdapat tanggapan yang bertentangan
yang amat kuat pula, sehingga menimbulkan tanggapan yang bermacam-macam.
Pada mulanya di Amerika Serikat, seperti halnya telah dianjurkan di indonesia, tiap-tiap
rumah sakit atau lembaga kesehatan agar mempunyai sebuah panitia, yang dimintai
persetujuannya untuk melakukan tindakan terminasi kehamilan atas indikasi yang telah
ditetapkan oleh panitia tersebut. Indikasi yang umum adalah : untuk menyelamatkan
hidup wanita hamil atau mempertahankan kehidupan wanita hamil, tetapi kemudian
keadaan si janin juga dapat merupakan indikasi untuk terminasi, yang dapat mengakhiri
atau membahayakan kehidupannya.

Perubahan-perubahan dalam pandangan tentang terminasi kehamilan


Seorang dokter spesialis obstetri ginekologi (SpOG) selalu menganggap dirinya pertama-tama sebagai
seorang dokter. Peran dokter didasarkan suatu pendidikan, latar belakang, dan pengalaman untuk
mempertahankan kehidupan dan kesehatan pasiennya yang hamil serta janinnya. Akibatnya, timbul suatu
konflik dalam pendidikan, pengalaman dan latar belakang. Hal ini karena terjadinya perubahan-perubahan
sosial dalam masyarakat, maka terjadi pula perubahan interpretasi dalam pendidikan, praktek, dan hukum.
Karena perkembangan ilmu pengetahuan kedokteran yang semakin maju dengan pesat, maka terutama
dalam subspesialisasi feto-maternal, para SpOG di satu pihak dapat mencegah terjadinya defek-defek berat
pada fetus, tetapi juga menyetujui terminasi kehamilan.
Ilmu pengetahuan selalu membawa perubahan dan perubahan ini memiliki dinamika, sehingga terdapatlah
suatu perubahan universal dalam praktek kedokteran. Perubahan-perubahan ini mula-mula ditentang
dengan sangat secara hukum dan moral.
Ketika population explosion merupakan kenyataan bagi seluruh dunia, praktek kedokteran dan tindakan
bedah diselenggarakan untuk membatasi kependudukan. Keluarga Berencana (KB, pendidikan keluarga
dalam sikap-sikap yang etis (ethical family counselling), pendidikan seks dan penyediaan alat-alat
kontrasepsi, sterilisasi dan abortus sekarang dibicarakan secara terbuka oleh pihak kedokteran secara jujur
dan benar kepada para individu atau kelompok-kelompok dalam masyarakat.

Sejarah terminasi kehamilan dalam ilmu falsafah


Pada dasarnya wanita telah melakukan terminasi kehamilannya sejak permulaan sejarah tercatat. Dalam
sejarah Yunani dan Romawi, terminasi kehamilan diselenggarakan untuk mengontrol populasi. Dewa-dewa
tidak melarangnya dan tidak terdapat hukum negara yang berhubungan dengan hal itu.
Ahli-ahli falsafah Yunani bahkan menganjurkan terminasi, atau tidak melarangnya. Tetapi Phytagoras tidak
menyetujui terminasi kehamilan ini, karena ia berpendapat bahwa pada saat fertilisasi, telah masuk suatu
Roh. Hipocrates adalah salah seorang pengikutnya, sehingga dalam Sumpah Hipocrates terdapat sanksi
terhadap perbuatan abortus / terminasi kehamilan. Hal tersebut tidak dilaksanakan dan ajaran Hipocrates
diabaikan, dokter-dokter Yunani dan Romawi tetap melaksanakan terminasi kehamilan atas perminataan
para wanita.
Menurut Fletcher dalam pandangannya mengenai kepribadian (personhood), terminasi kehamilan secara
moral diperbolehkan.
Konsep mengenai telah memiliki kepribadian atau roh (soul) merupakan pusat dari moralitas, dalam hal
diperbolehkan melaksanakn terminasi kehamilan, karena konsep mengenai waktu si embrio atau si janin
dimasuki Roh atau memiliki kepribadian merupakan hal yang pokok.
Di dalam ajaran Islam terdapat pula macam-macam aliran, tetapi dengan indikasi medis, baik yang berasal
dari ibu maupun yang berasal dari janin, terutama sebagai hasil dari kemajuan subspesialisasi fetomaternal
berupa imunologi, amniocentesis, USG dan lain-lain, maka indikasi adalah jelas dan terminasi dapat
dilaksanakan.
Abdul Fadi M.Ebrahim (CapeTown, 1999), dari Universitas Natal, Durban, Afrika Selatan, tentang begitu
banyaknya STD, berpendapat : para bayi adalah merupakan korban yang paling menyedihkan sebagai
akibat revolusi seksual di Afrika Selatan, terutama karena dewasa ini terdapat + 25 macam STD, dengan
angka HIV/AIDS yang sangat tinggi.

Konklusi
Pengontrolan reproduksi, sebenarnya harus diselenggarakan sebelum terjadinya pembuahan. Menurut
pandangan Islam, untuk mencegah kelahiran seorang anak yang cacat, sebaiknya digunakan cara-cara
kontrasepsi daripada memilih terminasi kehamilan.
Dalam suatu debat mengenai terminasi kehamilan ada sebuah kata yang dianggap sangat penting.
Kehidupan (life), kehidupan potensial (potential life) dan hidup (alive). Ada yang berpendapat bahwa
embrio atau janin adalah hidup (alive) atau memiliki kehidupan manusia yang hidup. Dalam hal ini apakah
janin memiliki kehidupan sebagai manusia (life) atau memiliki kehidupan yang potensial sebagai manusia
(potential life).
Yang juga membingungkan adalah kata janin dan embrio. Secara emosional janin akan lebih berarti jika
dibandingkan dengan embrio.

Alasan-alasan untuk permintaan terminasi kehamilan


Keadaan ketakutan dan panik yang sering dialami dalam suatu kehamilan, adalah :
1. Kehamilan akibat perkosaan
2. Janin yang telah terbukti memiliki defek yang berat
3. Ibu yang dalam riwayatnya selalu menyiksa anak-anaknya
4. Tiap kehamilan yang menyebabkan emotional distress pada wanita, atau akan mengakibatkan
ketidakmampuan atau akan mempersulit kehidupan anak yang akan dilahirkan
Semua ini mengakibatkan usaha dilakukannya terminasi kehamilan.
Hal tersebut mengakibatkan suatu konsep : abortion on demand. Keadaan ini digunakan oleh mereka yang
pro-abortus (pro-choice), karena melihatnya sebagai suatu justifikasi (pembenaran) untuk mendahului hak
dan kebutuhan wanita hamil di atas hak dan kebutuhan si janin. Bagi mereka yang anti-abortus (pro-life),
mereka juga menggunakan keadaan tersebut sebagai alasan moral yang menyatakan bahwa kehidupan si
janin lebih penting daripada wanita yang mengandungnya.

Status dari janin (fetus)


Yang menjadi pokok persoalan dalam masalah terminasi kehamilan berupa : mana yang lebih penting, hak
si janin atau hak si wanita hamil. Untuk menjawab masalah ini, kita harus memandang status si janin,
apakah ia harus dianggap sebagai kepribadian (a person) atau sebagai manusia (a human person).
Suatu hal yang perlu diketengahkan adalah : apakah si janin telah memiliki roh / jiwa (soul), ya atau tidak.
Tentang hal ini, ada beberapa ajaran dalam agama. Agama Katolik berpendapat, ya, janin sudah memiliki
jiwa sejak saat fertilisasi. Ada yang berpendapat, antara lain beberapa ajaran Islam, bahwa baru pada saat
kelahiran, seorang neonatus mempunyai jiwa.
Pada waktu dilahirkan, janin telah menjadi seorang manusia, yang telah berhak akan kewajiban moral
terhadapnya. Sehingga terdapat perbedaan yang besar antara terminasi kehamilan dan infanticide.
Terjelmanya seorang manusia memiliki dua sifat :
1. Seorang manusia mempunyai kesadaran akan dirinya, yang sebenarnya baru timbul kemudian.
2. Seorang neonatus akan memasuki suatu lingkungan sosial, antara lain dalam keluarganya.
Sebagai kesimpulan : kelompok konservatif percaya bahwa si janin memiliki status moral yang penuh,
seperti seseorang yang telah lahir. Kelompok liberal beranggapan bahwa janin tidak memiliki status moral.

Alasan-alasan mengapa seorang wanita


memilih terminasi kehamilan (induced abortion)
Di Amerika Serikat, seorang wanita memilih terminasi kehamilan, karena ia tidak ingin melanjutkan
kehamilannya, dengan alasan bahwa memilikii anak dalam kehidupannya dapat mengakibatkan masalah-
masalah yang kompleks, sehingga kualitas hidupnya terancam.
Alasan-alasannya, biasanya pertimbangan pragmatis, sedangkan pembenaran (justifikasinya)
mengikutsertakan etika, moral dan juga sering sekali rasional.
Dengan bermacam-macam alasan seorang wanita memilih terminasi kehamilan :
1. Ia mungkin seorang yang menjadi hamil di luar pernikahan
2. Pernikahannya tidak kokoh seperti yang ia harapkan sebelumnya
3. Ia telah cukup anak, dan tidak mungkin dapat membesarkan seorang anak lagi
4. Janinnya ternyata telah terpapar (exposed) pada suatu substansi teratogenik.
5. Ayah anak yang dikandungnya bukan suaminya
6. Ayah anak yang dikandungnya bukan pria / suami yang diidamkan untuk perkawinannya
7. Kehamilannya adalah akibat perkosaan
8. Wanita yang hamil menderita penyakit yang berat
9. Ia memiliki alasan eugenik, ingin mencegah lahirnya bayi dengan cacat bawaan
Indikasi-indikasi tersebut di atas dapat dibagi menjadi 4 (empat) bagian :
1. Alasan kesehatan
2. Alasan mental
3. Alasan cacat bawaan si janin
4. Alasan seksual

Terminasi kehamilan dipandang dari segi hukum


Amerika Serikat dan banyak negara maju, berkesimpulan bahwa seorang warga negara berhak akan
privacy, termasuk hak wanita untuk mengontrol tubuhnya. Negara sekarang tidak lagi berintervensi atau
mencegah seorang wanita memperoleh pelaksanaan terminasi kehamilan terutama sebelum kehamilan
berusia 22 minggu (WHO).
Debat mengenai abortus (terminasi kehamilan) berkisar pada seksualitas, karena di dalam masyarakat
masih banyak warga yang berpandangan sangat puritan terhadap seks.
Menurut Williams Obstetrics, 18th ed., 1989, dokter / SpOG yang berlatar belakang ilmu kedokteran, ilmu
filsafat dan teologi, tidak dapat sampai pada konsensus kapan kehidupan itu dimulai. Pada hal tersebut,
terutama dengan kemampuan ilmu yang sedang berkembang pesat, belum dapat diperoleh jawaban.

Kesimpulan
Di negara-negara dengan rasio abortus / terminasi kehamilan yang tinggi, jumlah terminasi secara drastis
menurun, karena tersedianya bermacam-macam cara kontrasepsi.
Ternyata legalitas abortus / terminasi kehamilan dan akses terhadap pelayanannya tidak mengakibatkan
terjadinya peningkatan hal ini untuk kontrol fertilitas.
Kekerapan terminasi kehamilan di dunia + 180 juta kasus per tahun. Tingginya jumlah ini biasanya akibat
kehamilan yang tidak diinginkan (unwanted pregnancies) tidak hanya di negara maju, tetapi juga di negara
berkembang, meskipun penggunaan cara-cara KB sudah sangat maju.
Ternyata di negara-negara di mana hukum membatasi tindakan terminasi, tindakan abortus / terminasi
kehamilan di negara tersebut masih kira-kira 30 dalam 1000 kehamilan per tahun.
Antara negara-negara Islam, Tunisia yang paling maju, yang melegalisasi terminasi kehamilan dalam
trimester pertama, sedangkan di negara-negara Amerika Latin terdapat kecenderungan memperoleh
keluarga kecil (small family), sedangkan ternyata kegiatan seksual sebelum nikah, terutama di kalangan
remaja, terus meningkat, sehingga keputusan sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa baru-baru ini yang
menerima usulan tentang hak fertilitas wanita dan kebutuhan pendidikan seks, merupakan kemajuan dalam
hal terjadinya terminasi kehamilan / abortion for non-medical reasons dapat dibenarkan.

Ketiga: Ethical Guidelines Regarding Induced Abortion


for Non-Medical Reasons

1. Induced abortion may be defined as the termination of pregnancy using drugs or surgical intervention
after implantation, and before the conceptus have become independently viable (WHO definition of a
birth : 22 weeks menstrual age or more).

2. Abortion is very widely considered to be ethically justified when undertaken for medical reasons to
protect the life and health of the mother in cases of molar or ectopic pregnancies and malignant disease.
Most people would also consider it to be justified in cases of incest or rape, or when the conceptus is
severely malformed, or when the mother’s life is threatened by other serious disease.

3. The use of abortion for other social reasons remains very controversial because of the ethical dillemas it
present to both women and the medical team. Women frequently agonize over their difficult choice,
making what they regard in the circumstances to be the least worse decision. Health care providers wrestle
with the moral values of preserving life, of providing care to women and of avoiding unsafe abortions.

4. In those countries where it has been measured, it has been found that half of all pregnancies are
unintended, and that half of these pregnancies end in termination. These are matters of grave concern, in
particular to the medical profession.

5. Abortions for non-medical reasons when properly performed, particularly during the first trimester when
the vast majority take place, are in fact safer than term deliveries.

6. However, the World Health Organization has estimated that nearly half the 50 million induced abortions
performed around the world each year are unsafe because they are undertaken by unskilled persons and/or
in an unsuitable environment.

7. The mortality following unsafe abortion is estimated to be very many times greater than when the
procedure is performed in a medical environment. At least 75,000 women die unnecessarily each year after
unsafe abortion and very many more suffer life-long ill-health and disability, including sterility.

8. Unsafe abortion has been widely practiced since time immemorial. Today it occurs mainly in countries
with restrictive legislation with respect to the terminatio9n of pregnancy for non-medical reasons.
Countries with poorly developed health services and where women are denied the right to control their
fertility also have higher rates of unsafe abortion.

9. When countries have introduced legislation to permit abortion for non-medical reasons, the overall
mortality and morbidity from the procedure has fallen dramatically, without any significant increase in
terminations.

10. In the past most pregnancy terminations were undertaken surgically, however recent pharmaceutical
developments have made it possible to bring about safe medical abortion in early pregnancy.
11. In addition, the reproductive process can be interrupted before pregnancy begins by classical
contraceptive methods or by the more recently popularized emergency contraception. The latter is not an
abortificant because it has its effect prior to the earliaest time of implantation. Nevertheless these
procedures may not be acceptable to some people who hold particular religious views.

Recommendations
1. Goverments and other concerned organizations should make every effort possible to improve women’s
rights, status, and health, and should try to prevent unintended pregnancies by education (including on
sexual matters), by counselling, by making available reliable information and services on family planning,
and by developing more effective contraceptive methods. Abortion should NEVER be promoted as a
method of family planning.

2. Women have the right to make a choice on whether or not to reproduce and should therefore have access
to legal, safe, effective, acceptable and affordable methods of contraception.

3. Providing the process of properly informed consent has been carried out, a woman’s right to autonomy,
combined with the need to prevent unsave abortion, justifies the provision of safe abortion.

4. Most people, including physicians, prefer to avoid termination of pregnancy and it is with regret that
they may judge it to be the best course, given a woman’s circumstances. Some doctors feel that abortion is
not permissible whatever the circumstances. Respect for their autonomy means that no doctor (or other
members of the medical team) should be expected to advise or perform an abortion against his or her
personal conviction. Their careers should never be prejudiced as a result. Such a doctor, however, has an
obligation to refer the woman to a colleague who is not in principle opposed to terminations.

5. Neither society, nor members of the health care team responsible for counselling women, have the right
to impose their religious or cultural convictions regarding abortion on those whose attitudes, are different.
Counselling should include objective information.

6. Very careful counselling is required for minors. When competent to give informed consent, their wishes
should be respected. When they are not considered competent, the advice of the parents or guardians and
when appropriate the courts, should be considered before determining management.

7. The termination of pregnancy for non-medical reasons is best provided by the health care service on a
non-profit making basis. Post-abortion counselling on fertility control should always be provided.

8. In summary, the Committee recommended that, after appropriate counselling, a woman has the right to
have access to medical or surgical induced abortion, and that the healthcare service had an obligation to
provide such services as safely as possible.