Anda di halaman 1dari 11

Awalil Rizky

Jakarta, 9 Desember 2019


1. Orang miskin mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari, namun tidak cukup
jelas dalam indikator makro, hasil kajian, dan konsep kebijakan
2. Konsep ketimpangan kurang jelas, tapi dirasakan langsung kelompok bawah
3. Tujuan kemerdekaan adalah “Memajukan kesejahteraan umum” bukan sekadar
mengurangi kemiskinan dan memperbaiki ketimpangan
4. Program penangulangan kemiskinan berhasil mengurangi kemiskinan, namun
hanya mampu memperlambat laju pemiskinan akibat dinamika ekonomi
5. Akar masalah lebih pada faktor eksternal si miskin (seperti dinamika ekonomi),
Faktor internal miskin hanya memperparah atau menyulitkan penanganan
6. Kebijakan fiskal tidak mencukupi, melainkan perbaikan sistem ekonomi
7. Pemerintah (negara) saja tidak akan mampu mensejahterakan seluruh rakyat,
butuh pelibatan aktif seluruh komponen bangsa
Jumlah penduduk miskin menurun, tidak secepat tingkat kemiskinan; Jumlah pada Maret
2019 masih 25,14 juta orang. Perlu 10 tahun untuk kembali kepada jumlah sebelum KRISIS,
34,1 juta orang (1996). Tingkat kemiskinan 1996 (17,47%) dan Maret 2019 (9,41%)

Sumber data: BPS


Jumlah dan tingkat kemiskinan menurun di perdesaan dan di perkotaan; Di perkotaan,
penurunan jumlah lebih lambat; jumlah penduduk miskin di perkotaan masih lebih besar
dibanding tahun 1996. Ada tambahan faktor urbanisasi dan perubahan status desa-kota
Kondisi umum Kemiskinan belum membaik signifikan, meski tidak memburuk
Kondisi Ketimpangan Ekonomi belum membaik, cenderung sedikit memburuk

Rata-rata: US$10.545
Tingkat Kesejahteraan tampak membaik, namun belum menggembirakan
Kondisi gizi pada Balita yang tidak menggembirakan, mengindikasikan persoalan lebih luas
Dana yang besar tak menjamin hasil
▪ Pertumbuhan ekonomi dianggap berpengaruh positif terhadap pengurangan
kemiskinan, baik jumlah maupun tingkatnya.
▪ Pengalaman krisis 1997/1998, pertumbuhan ekonomi yang kontraksi dalam,
kemiskinan meningkat drastis.
▪ Tahun 2009 pertumbuhan ekonomi turun dari 6,01% menjadi 4,62%, jumlah
penduduk miskin justru turun signifikan. Sebabnya karena anggaran kemiskinan
dan bantuan sosial yang meningkat tajam
▪ Pada tahun 2020, banyak pihak memprakirakan Indonesia akan resesi, dan
berpotensi menjadi resesi jika tidak diantisipasi dan dimitigasi
▪ APBN 2020 tidak disusun dalam kerangka pikir mitigasi resesi
▪ Pemerintah era Jokowi II masih mengambil kebijakan ekonomi as usual
▪ Kondisi kemiskinan dan ketimpangan ekonomi terancam memburuk
▪ Pemerintah lebih meningkatkan kewaspadaan atas ancaman resesi,
yang dapat meningkat menjadi krisis.
▪ Perubahan APBN 2020 diajukan lebih cepat dalam kerangka mitigasi
risiko resesi, terutama soal perlindungan sosial
▪ Program penanggulangan kemiskinan Pemrintah lebih diperkuat,
dan dilaksanakan secara lebih baik.
▪ Otoritas ekonomi lainnya (BI, OJK, dan DPR) harus terlibat secara
lebih langsung, serta menjadikan soalan kemiskinan sebagai bahan
pertimbangan dalam menentukan kebijakan.
▪ Keterlibatan dan partisipasi lebih aktif dari masyarakat luas terhadap
soalan kemiskinan dan ketimpangan.