Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

FISIOLOGI KEHAMILAN, PERSALINAN,


NIFAS & BBL

Disusun Oleh :
Nurmaini Simangunsong

PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN


INSTITUT KESEHATAN SUMATERA UTARA
2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir merupakan suatu


keadaan yang fisiologis namun dalam prosesnya terdapat kemungkinan suatu
keadaan yang dapat mengancam jiwa ibu dan bayi bahkan dapat menyebabkan
kematian. Setiap kehamilan dapat menimbulkan risiko kematian ibu,
Pemantauan dan perawatan kesehatan yang memadai selama kehamilan sampai
masa nifas sangat penting untuk kelangsungan hidup ibu dan bayinya. Dalam
upaya mempercepat penurunan kematian ibu, Kementerian Kesehatan
menekankan pada ketersediaan pelayanan kesehatan ibu di masyarakat
(Riskesdas. 2013: 169-170). OIeh karena itu, kehamilan, persalinan, nifas dan
bayi baru lahir diperlukan asuhan yang berkesinambungan dan berkualitas oleh
petugas kesehatan, serta melakukan pemeriksaan kehamilan secara teratur pada
masa kehamilan. Melakukan kunjungan antenatal minimal 4 kali yaitu 1 kali
pada trimester 1, 1 kali pada trimester 2 dan 2 kali pada trimester 3, pertolongan
persalinan di pelayanan kesehatan, melakukan kunjungan neonatal, ibu nifas dan
memakai KB sesuai pilihan. Setiap menit diseluruh dunia, 380 wanita
mengalami kehamilan, 190 wanita menghadapi kehamilan tidak diinginkan, 110
wanita mengalami komplikasi terkait kehamilan, 40 wanita mengalami aborsi
yang tidak aman dan 1 wanita meninggal.
BAB II
PEMBAHASAN KASUS

A. Adaptasi Anatomi dan Fisiologi Pada Masa Nifas

1. Adaptasi Fisiologis

Pada masa nifas, akan terjadi proses perubahan pada tubuh ibu dari kondisi hamil
kembali ke kondisi sebelum hamil, yang terjadi secara bertahap.1Perubahan ini juga
terjadi untuk dapat mendukung perubahan lain yang terjadi dalam tubuh ibu karena
kehamilan, salah satunya adalah proses laktasi, agar bayinya dapat ternutrisi dengan
nutrisi yang paling tepat yaitu ASI.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi proses ini, misalnya tingkat energi, tingkat
kenyamanan, kesehatan bayi baru lahir, tenaga kesehatan dan asuhan yang diberikan,
maupun suami dan keluarga disekitar ibu nifas.2Adapun perubahan anatomi dan
fisiologi yang terjadi pada masa nifas antara lain perubahan yang terjadi pada organ
reproduksi, system pencernaan, system perkemihan, system musculoskeletal, system
endokrin dan lain sebagainya yang akan dijelaskan berikut ini.
Perubahan Pada Sistem Reproduksi
Perubahan yang terjadi pada organ reproduksi yaitu pada vagina, serviks uteri, dan
endometrium.3-6

 Perubahan pada Vagina dan Perineum

Kondisi vagina setelah persalinan akan tetap terbuka lebar, ada kecenderungan
vagina mengalami bengkak dan memar serta nampak ada celah antara introitus vagina.
Tonus otot vagina akan kembali pada keadaan semula dengan tidak ada pembengkakan
dan celah vagina tidak lebar pada minggu 1-2 hari pertama postpartum. Pada minggu
ketiga posrpartum rugae vagina mulai pulih menyebabkan ukuran vagina menjadi lebih
kecil. Dinding vagina menjadi lebih lunak serta lebih besar dari biasanya sehingga ruang
vagina akan sedikit lebih besar dari keadaan sebelum melahirkan.7Vagina yang bengkak
atau memar dapat juga diakibatkan oleh trauma karena proses keluarnya kepala bayi
atau trauma persalinan lainnya jika menggunakan instrument seperti vakum atau
forceps.
Perineum pada saat proses persalinan ditekan oleh kepala janin, sehingga perineum
menjadi kendur dan teregang. Tonus otot perineum akan pulih pada hari kelima
postpartum mesipun masih kendur dibandingkan keadaan sebelum hamil.
Meskipun perineum tetap intack/utuh tidak terjadi robekan saat melahirkan bayi, ibu
tetap merasa memar pada perineum dan vagina pada beberapa hari pertama persalinan.
Ibu mungkin merasa malu untuk membuka perineumnya untuk diperiksa oleh bidan,
kecuali jika ada indikasi klinis. Bidan harus memberikan asuhan dengan
memperhatikan teknik asepsis dan antisepsis, dan lakukan investigasi jika terdapat nyeri
perineum yang dialami. Perineum yang mengalami robekan atau di lakukan episiotomy
dan dijahit perlu di periksa keadaannya minimal satu minggu setelah persalinan.

 Perubahan pada Serviks Uteri

Perubahan yang terjadi pada serviks uteri setelah persalinan adalah menjadi sangat
lunak, kendur dan terbuka seperti corong. Korpus uteri berkontraksi, sedangkan serviks
uteri tidak berkontraksi sehingga seolah-olah terbentuk seperti cincin pada perbatasan
antara korpus uteri dan serviks uteri.
Tepi luar serviks yang berhubungan dengan ostium uteri ekstermun (OUE) biasanya
mengalami laserasi pada bagian lateral. Ostium serviks berkontraksi perlahan, dan
beberapa hari setelah persalinan ostium uteri hanya dapat dilalui oleh 2 jari. Pada akhir
minggu pertama, ostium uteri telah menyempit, serviks menebal dan kanalis servikalis
kembali terbentuk. Meskipun proses involusi uterus telah selesai, OUE tidak dapat
kembali pada bentuknya semula saat nullipara. Ostium ini akan melebar, dan depresi
bilateral pada lokasi laserasi menetap sebagai perubahan yang permanen dan menjadi
ciri khas servis pada wanita yang pernah melahirkan/para.

 Perubahan pada Uterus

Perubahan fisiologi pada uterus yaitu terjadi proses involusio uteri yaitu kembalinya
uterus pada keadaan sebelum hamil baik ukuran, tonus dan posisinya.1Proses involusio
juga dijelaskan sebagai proses pengecilan ukuran uterus untuk kembali ke rongga
pelvis, sebagai tahapan berikutnya dari proses recovery pada masa nifas. Namun
demikian ukuran tersebut tidak akan pernah kembali seperti keadaan nullipara. Hal ini
disebabkan karena proses pagositosis biasanya tidak sempurna, sehingga masih
tertinggal sedikit jaringan elastis. Akibatnya ketika seorang perempuan pernah hamil,
uterusnya tidak akan kembali menjadi uterus pada keadaan nullipara.
Pada jam-jam pertama pasca persalinan, uterus kadang-kadang bergeser ke atas atau ke
kanan karena kandung kemih. Kandung kemih harus dikosongkan sebelum mengkaji
tinggi fundus uteri (TFU) sebagai indikator penilaian involusi uteri, agar dapat
memperoleh hasil pemeriksaan yang akurat.
Uterus akan mengecil menjadi separuh dalam satu minggu, dan kembali ke ukuran
normal pada minggu kedelapan postpartum dengan berat sekitar 30 gram. Jika segera
setelah persalinan TFU akan ditemukan berada setinggi umbilicus ibu, maka hal ini
perlu dikaji labih jauh, karena merupakan tanda dari atonia uteri disertai perdarahan
atau retensi bekual darah dan darah, serta distensi kandung kemih, tidak bisa berkemih.
Ukuran uterus dapat dievaluasi melalui pengukuran TFU yang dapat dilihat pada table
dan gambar berikut ini.

Sementara itu, tinggi fundus uteri dilaporkan menurun kira-kira 1 cm per hari, yang
dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Gambar 1. Proses Involusio Uteri Pasca Persalinan.


Proses involusi terjadi karena:

 Iskemia: terjadi kontraksi dan retraksi otot uterus, yang membatasi aliran darah ke
uterus
 Phagositosis: proses penghancuran serat dan elastisitas jaringan
 Autolisis: digestasi jaringan otot oleh ensim proteolitik
 Semua buangan proses masuk ke peredaran darah dan dieliminasi melalui ginjal
 Lapisan desidua uterus dikeluarkan melalui darah vagina (Lochia) dan endometrium
yang baru dibentuk selama 10 hari setelah persalinan dan selesai pada minggu ke 6
postpartum

Involusi uterus lebih lambat terjadi pada persalinan dengan tindakan seksio sesarea,
demikian juga akan terlambat pada kondisi retensio plasenta atau gumpalan darah (stoll
cell) yang tertinggal biasanya berhubungan dengan infeksi, sereta keadaan lain
misalnya adanya mioma uteri.
Lokia adalah cairan uterus yang berasal dari pelepasan desidua uterus. Lokia berisi
serum dan darah serta lanugo, verniks kaseosa juga berbagai debris dari hasil produksi
konsepsi. Secara Mikroskopik lokia terdiri dari eritrosit, serpihan desidua, sel-sel epitel
dan bakteri. Mikroorganime ditemukan pada lokia yang menumpuk di vagina dan pada
sebagian besar kasus juga ditemukan bahkan jika keluaran /dischargediambil pada pada
rongga uterus. Jumlah total pengeluaran seluruh periode lokia rata-rata 240-270ml.
Lokia bagi menjadi 4 klasifikasi karena terus terjadi perubahan hingga minggu ke 4-8
pasca persalinan yaitu:

 Lokia Rubra (merah): hari pertama sampai hari ketiga /keempat mengandung cukup
banyak darah.
 Lokia Sanguinalenta (merah kecoklatan): hari 4-7 postpartum, berwarna merah
kecoklatan dan berlendir.
 Lokia Serosa (pink): hari 8-14, mengandung serum, lekosit dan robekan/laserasi
plasenta.
 Lokia Alba (putih): hari 14 – minggu ke 6/8 postpartum, berwarna putih karena
banyak mengandung sel darah putih dan berkurangnya kandungan cairan.

Sumber lain mengatakan bahwa terdapat bermacam-macam variasi dari jumlah, warna
dan durasi pengeluaran lokia.1Oleh karena itu, teori tersebut diatas belum tentu dialami
oleh semua ibu nifas secara tepat.

Perubahan pada Endometrium


Pada hari kedua – ketiga pasca persalinan, lapisan desidua berdiferensiasi
menjadi dua lapisan. Stratum superfisial menjadi nekrotik bersama lokia, sedangkan
stratum basal yang bersebelahan dengan myometrium tetap utuh dan yang menjadi
sumber pembentukan endometrium baru. Endometrium terbentuk dari proliferasi sisa-
sisa kelenjar endometrium dan stroma jaringan ikat antar kelenjar tersebut.
Proses pembentukan kembali endometrium berlangsung secara cepat selama masa
nifas, kecuali pada tempat insersi plasenta. Dalam satu minggu atau lebih permukaan
bebas menjadi tertutup kembali oleh epitel endometrium dan pulih kembali dalam
waktu 3 minggu.

Perubahan sistem pencernaan


Setelah mengalami proses persalinan, ibu akan mengalami rasa lapar dan haus
akibat banyak tenaga yang terkuras dan juga stress yang tinggi karena melahirkan
bayinya.5Tetapi tidak jarang juga ditemui ibu yang tidak memiliki nafsu makan karena
kelelahan melahirkan bayinya. Jika ditemukan keadaan seperti itu, perlu menjadi
perhatian bidan agar dapat memotivasi ibu untuk makan dan minum pada beberapa jam
pertama postpartum, juga kajian lebih lanjut terhadap keadaan psikologis ibu.
Jika keadaan ini menjadi persisten selama beberapa jam setelah persalinan, waspada
terhadap masalah perdarahan, dan komplikasi lain termasuk gangguan psikologi pada
masa nifas. Demikian juga beberapa keyakinan maupun adat istiadat atau budaya
setempat yang masih diyakini oleh ibu untuk dijalani termasuk kebiasaan makan dan
minum setelah melahirkan bayinya.
Proses menyusui, serta pengaruh progesterone yang mengalami penurunan pada masa
nifas juga dapat menyebabkan ibu konstipasi. Keinginan ini akan tertunda hingga 2-3
hari postpartum. Tonus otot polos secara bertahap meningkat pada seluruh tubuh, dan
gejala heartburn / panas di perut / mulas yang dialami wanita bisa hilang. Sembelit dapat
tetap menjadi masalah umum pada ibu nifas selama periode postnatal.
Kondisi perineum yang mengalami jahitan juga kadang menyebabkan ibu takut untuk
BAB. Oleh karena itu bidan perlu memberikan edukasi agar keadaan ini tidak
menyebabkan gangguan BAB pada ibu nifas dengan banyak minum air dan diet tinggi
serat serta informasi bahwa jahitan episiotomy tidak akan terlepas jika ibu BAB.

Perubahan sistem perkemihan


Perubahan pada system perkemihan termasuk terjadinya diuresis setelah
persalinan terjadi pada hari 2-3 postpartum, tetapi seharusnya tidak terjadi dysuria. Hal
ini dapat disebabkan karena terjadinya penurunan volume darah yang tiba-tiba selama
periode posrpoartum. Diuresis juga dapat tejadi karena estrogen yang meingkat pada
masa kehamilan yang menyebabkan sifat retensi pada masa postpartum kemudian
keluar kembali bersama urine.1, 12Dilatasi pada saluran perkemihan terjadi karena
peningkatan volume vascular menghilang, dan organ ginjal secara bertahap kembali ke
keadaan pregravida.
Segera setelah persalinan kandung kemih akan mengalami overdistensi pengosongan
yang tidak sempurna dan residu urine yang berlebihan akibat adanya pembengkakan
kongesti dan hipotonik pada kandung kemih. Efek ini akan hilang pada 24 jam pertama
postpartum.5Jika Keadaan ini masih menetap maka dapat dicurigai adanya gangguan
saluran kemih.
Bladder dan uretra dapat terjadi kerusakan selama proses persalinan, yang
menyebabkan kurangnya sensasi untuk mengeluarkan urine pada dua hari pertama. Hal
ini dapat menyebabkan retensi urin karena overflow, dan dapat meningkatkan nyeri
perut bagian bawah dan ketidaknyamanan, infeksi saluran kemih dan sub involusi
uterus, yang menjadi kasus primer dan sekunder dari perdarahan postpartum.

Perubahan sistem muskuloskeletal/ diastasis recti abdominis


Sistem muskuloskelatal kembali secara bertahap pada keadaan sebelum hamil
dalam periode waktu selama 3 bulan setelah persalinan. Kembalinya tonus otot dasar
panggung dan abdomen pulih secara bersamaan. Pemulihan ini dapat dipercepat dengan
latihan atau senam nifas. Otot rectus abdominismungkin tetap terpisah (>2,5 cm) di
garis tengah/umbilikus, kondisi yang dikenal sebagai Diastasis Recti Abdominis (DRA),
sebagai akibat linea alba dan peregangan mekanis pada dinding abdomen yang
berlebihan, juga karena pengaruh hormone ibu.13
Gambar 2. Diaktasis Rekti Abdominal14
Kondisi ini paling mungkin terjadi pada ibu dengan grandemultipara atau pada
ibu dengan kehamilan ganda atau polihidramnion, bayi makrosomia, kelemahan
abdomen dan postur yang salah. Peregangan yang berlebihan dan berlangsung lama ini
menyebabkan serat-serat elastis kulit yang putus sehingga pada masa nifas dinding
abdomen cenderung lunak dan kendur. Senam nifas dapat membantu memulihkan
ligament, dasar panggung, otot-otot dinding perut dan jaringan penunjang lainnya.
Mahalaksimi et al (2016) melaporkan bahwa latihan yang diberikan untuk mengoreksi
diaktasis rekti pada penelitian yang dilakukan di India terbukti secara signifikan
bermanfaat mengurangi diaktasis rekti, demikian juga nyeri pinggang atau low back
pain.13Low back painjuga merupakan masalah postnatal umum pada ibu nifas.
Selain senam nifas atau berbagai latihan dan tindakan fisioterapi yang diberikan untuk
mengoreksi DRA. Michalsa et al (2018) menginformaskan Teknik seperti a cruch
exercise pada posis supine, tranversus abdominis training dan Nobel
techniquedilaporkan dapat memperbaiki kondisi DRA.14Sesuai dengan budaya di
Indonesia, ibu dapat dianjurkan menggunakan stagen, namun demikian exercise lebih
signifikan pengaruhnya terhadap pemulihan DRA.
Dampak dari diaktasis rekti ini dapat menyebabkan hernia epigastric dan
umbilikalis.14Oleh karena itu pemeriksaan terhadap rektus abdominal perlu dilakukan
pada ibu nifas, sehingga dapat diberikan penanganan secara cepat dan tepat.

Perubahan sistem endokrin


Perubahan sistem endokrin yang terjadi pada masa nifas adalah perubahan kadar
hormon dalam tubuh. Adapaun kadar hormon yang mengalami perubahan pada ibu
nifas adalah hormone estrogen dan progesterone, hormone oksitosin dan prolactin.
Hormon estrogen dan progesterone menurun secara drastis, sehingga terjadi
peningkatan kadar hormone prolactin dan oksitosin.8
Hormon oksitosin berperan dalam proses involusi uteri dan juga memancarkan
ASI, sedangkan hormone prolactin berfungsi untuk memproduksi ASI.9 Keadaan ini
membuat proses laktasi dapat berjalan dengan baik. Jadi semua ibu nifas seharusnya
dapat menjalani proses laktasi dengan baik dan sanggup memberikan ASI eksklusif
pada bayinya.
Hormone lain yang mengalami perubahan adalah hormone plasenta. Hormone
plasenta menurun segera setelah plasenta lahir. Human Chorionic Gonadotropin (HCG)
menurun dengan cepat dan menetap sampai 10% pada 3 jam pertama hingga hari ke
tujuh postpartum.

Perubahan tanda-tanda vital


Terjadi perubahan tanda-tanda vital ibu nifas yakni:1, 3, 16

 Suhu: normal range 36-37°C, dapat juga meningkat hingga 37,5°C karena kelelahan
dan pengeluaran cairan yang cukup banyak. Peningkatan suhu tubuh hingga 38°C
harus merupakan tanda adanya komplikasi pada masa nifas seperti infeksi/sepsis
puerperalis.
 Nadi: normal 65-80 dpm, peningkatan nadi menandakan adanya infeksi
 Pernapasan: Normal 12-16 kali/menit. Jika suhu tubuh dan nadi meningkat, maka
akan meningkat pula frekuensi pernapasan ibu. Jika respirasi meningkat hingga
30kali/menit merupakan tanda-tanda shock.
 Tekanan darah: sudah harus kembali normal dalam 24 jam pertama postpartum
(<140/90 mmHg). Jika terus meningkat, merupakan tanda adanya preeklampsia.
Monitor tekanan darah secara teratur perlu dilakukan jika tekanan darah masih terus
tinggi.

Perubahan sistem kardiovaskuler


Terjadi kehilangan darah sebanyak 200-500ml selama proses persalinan normal,
sedangkan pada persalinan seksio sesarea bisa mencapai 700-1000 cc, dan histerektomi
1000-1500 cc (a/i atonia uteri) .2, 5Kehilangan darah ini menyebabkan perubahan pada
kerja jantung.5Peningkatan kerja jantung hingga 80% juga disebabkan oleh
autotransfusi dari uteroplacenter. Resistensi pembuluh darah perifer meningkat karena
hilangnya proses uteroplacenter dan kembali normal setelah 3 minggu.16
Pada 2-4 jam pertama hingga beberapa hari postpartum, akan terjadi diuresis
secara cepat karena pengaruh rendahnya estrogen (estrogen bersifat resistensi cairan)
yang menyebabkan volume plasma mengalami penurunan. Keadaan ini akan kembali
normal pada minggu kedua postpartum.1, 5
Ibu nifas dapat juga mengalami udem pada kaki dan pergelangan kaki/ankle,
meskipun tidak mengalami udem pada masa hamil. Pembengkakan ini harus terjadi
secara bilateral dan tidak menimbulkan rasa nyeri. Jika pembengkakan terjadi hanya
pada salah satu kaki disertai nyeri, dapat dicurigai adanya thrombosis. Ibu nifas harus
menghindari berdiri terlalu lama atau menggantungkan kaki pada posisi duduk yang
lama saat menyusui untuk menghindari udem pada kaki.
Ibu nifas juga tidak jarang ditemukan berkeringat dingin, yang merupakan
mekanisme tubuh untuk mereduksi banyaknya cairan yang bertahan selama kehamilan
selain diuresis. Pengeluaran cairan yang berlebihan dari tubuh dan sisa-sisa produk
melalui kulit menimbulkan banyak keringat. Keadaan ini disebut diaphoresisyang
dialami pada masa early postpartum pada malam hari, yang bukan merupakan masalah
pada masa nifas.2
Ibu bersalin juga sering ditemukan menggigil setelah melahirkan, hal ini dapat
disebabkan karena respon persarafan atau perubahan vasomotor. Jika tidak diikuti
dengan demam, menggigil, maka hal tersebut bukan masalah klinis, namun perlu
diupayakan kenyamanan ibu.2Kondisi ketidaknyamanan ini dapat diatasi dengan cara
menyelimuti ibu dan memberikan teh manis hangat. Jika keadaan tersebut terus
berlanjut, dapat dicurigai adanya infeksi puerperalis.
Perubahan sistem hemotologi
Terjadinya hemodilusi pada masa hamil, peningkatan volume cairan pada saat
persalinan mempengaruhi kadar hemoglobin (Hb), hematocrit (HT), dan kadar erisrosit
pada awal postpartum. Penurunan volume darah dan peningkatan sel darah pada masa
hamil berhubungan dengan peningkatan Hb dan HT pada hari ketiga – tujuh
postpartum. Pada minggu keempat – lima postpartum akan kembali normal. Lekosit
meningkat hingga 15.000 selama beberapa hari postpartum (25.000-30.000) tanpa
menjadi abnormal meski persalinan lama. Namun demikian perlu diobservai dan dilihat
juga tanda dan gejala lainnya yang mengarah ke infensi karena infeksi mudah terjadia
pada masa nifas.

B. Perubahan Sistem Reproduksi Dan Sistem Lainnya

Pada ibu nifas (puerineum) adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan
untuk pulihnya kembali alat kandungan lamaya 6 minggu. Terjadi banyak perubahan
fisiologis ibu dimulai saat hamil dan memasuki masa nifas. Perubahan alat-alat genital
baik interna maupun eksterna kembali seperti
semula seperti sebelum hamil disebut involusi.
Bidan dapat membantu ibu untuk mengatasi dan memahami perubahan-
perubahan seperti:
1. Perubahan vulva, vagina dan perineum.
2. Perubahan pada serviks
3. Involusi uteri
4. Involusi tempat plasenta
5. Perubahan endometrium
6. Ligamen
7. Payudara
8. Lokia
a. Perubahan Pada Vulva, Vagina dan Perineum
Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta
peregangan, setelah beberapa hari persalinan kedua organ ini kembali dalam keadaan
kendor. Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan
kecil dan dalam prosespembentukan berubah menjadi karankulae mitiformis yang khas
bagi wanita multipara. Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan keadaan
saat sebelum persalinan pertama.
Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum
mengalami robekan. Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan
episiotomi dengan indikasi tertentu. Meskipun demikian, latihan otot perineum dapat
mengembalikan tonus tersebut dan dapat mengencangkan vagina hingga tingkat
tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada akhir puerperium dengan latihan harian.

b. Perubahan pada Serviks


Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor, terkulai dan
berbentuk seperti corong. Hal ini disebabkan korpus uteri berkontraksi,
sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga perbatasan
antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin. Warna serviks merah kehitam-
hitaman karena penuh pembuluh darah. Segera setelah bayi dilahirkan, tangan
pemeriksa masih dapat dimasukan 2–3 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja yang
dapat masuk.
Oleh karena hiperpalpasi dan retraksi serviks, robekan serviks dapat
sembuh. Namundemikian, selesai involusi, ostium eksternum tidak sama waktu
sebelum hamil. Pada umumnya ostium eksternum lebih besar, tetap ada retak-retak dan
robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya.

c. Uterus
Segera setelah lahirnya plasenta, pada uterus yang berkontraksi posisi fundus
uteri berada kurang lebih pertengahan antara umbilikus dan simfisis, atau sedikit lebih
tinggi. Dua hari kemudian, kurang lebih sama dan kemudian mengerut, sehingga dalam
dua minggu telah turun masuk kedalam rongga pelvis dan tidak dapat diraba lagi dari
luar. Involusi uterus melibatkan pengreorganisasian dan pengguguran desidua serta
penglupasan situs plasenta, sebagaimana di perlihatkan dalam pengurangan dalam
ukuran dan berat serta warna dan banyaknya lokia. Banyaknya lokia dan kecepatan
involusi tidak akan terpengaruh oleh pemberian sejumlah preparat metergin dan lainya
dalam proses persalinan. Involusi tersebut dapat dipercepat proses bila ibu menyusui
bayinya.
Desidua tertinggal di dalam uterus. Uterus pemisahan dan pengeluaran plasenta
dan membran terdiri atas lapisan zona spongiosa, basalis desidua dan desidua parietalis.
Desidua yang tertinggal ini akan berubah menjadi dua lapis sebagai akibat invasi
leukosit. Suatu lapisan yang lambat laun akan manual neorco, suatu lapisan superfisial
yang akan dibuang sebagai bagian dari lokia yang akan di keluarkan melalui lapisan
dalam yang sehat dan fungsional yang berada di sebelah miometrium. Lapisan yang
terakhir ini terdiri atas sisa-sisa kelenjar endometrium basilar di dalam lapisan zona
basalis. Pembentukan kembali sepenuhnya endometrium pada situs plasenta skan
memakan waktu kira-kira 6 minggu.
Penyebarluasan epitelium akan memanjang ke dalam, dari sisi situs menuju
lapisan uterus di sekelilingnya, kemudian ke bawah situs plasenta, selanjutnya menuju
sisa kelenjar endometriummasilar di dalam desidua basalis. Penumbuhan endometrium
ini pada hakikatnya akan merusak pembuluh darah trombosa pada situs tersebut yang
menyebabkannya mengendap dan di buang bersama dangan caira lokianya.
Dalam keadaan normal, uterus mencapai ukuran besar pada masa sebelum hamil
sampai dengan kurang dari 4 minggu, berat uterus setelah kelahiran kurang lebih 1 kg
sebagai akibat involusi. Satu minggu setelah melahiran beratnya menjadi kurang lebih
500 gram, pada akhir minggu kedua setelah persalinan menjadi kurang lebih 300 gram,
setelah itu menjadi 100 gram atau kurang. Otot-otot uterus segera berkontraksi setelah
postpartum. Pembuluh-pembuluh darah yang berada di antara anyaman otot uterus akan
terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta di lahirkan. Setiap
kali bila di timbulkan, fundus uteri berada di atas umbilikus, maka hal-hal yang perlu
di pertimbangkan adalah pengisian uterus oleh darah atau pembekuan darah saat awal
jam postpartum atau pergeseran letak uterus karena kandung kemih yang penuh setiap
saat setelah kelahiran.
Pengurangan dalam ukuran uterus tidak akan mengurangi jumlah otot sel.
Sebaliknya, masing-masing sel akan berkurang ukurannya secara drastis saat sel-sel
tersebut membebaskan dirinya dari bahan-bahan seluler yang berlebihan. Bagaimana
proses ini dapat terjadi belum di ketahui sampai sekarang.
Pembuluh darah uterus yang besar pada saat kehamilan sudah tidak di perlukan
lagi. Hal ini karena uterus yang tidak pada keadaan hamil tidak mempunyai permukaan
yang luas dan besar yang memerlukan banyak pasokan darah. Pembuluh darah ini akan
menua kemudian akan menjadi lenyap dengan penyerapan kembali endapan-endapan
hialin. Mereka dianggap telah di gantikan dangan pembuluh-pembuluh darah baru yang
lebih kecil.

1. Involusi Uterus
Involusi atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali
ke kondisi sebelum hamil dengan berat sekitar 60 gram. Proses ini dimulai segera
setelah plasenta lahir akibat kontraksi otot-otot polos uterus (Ambarwati, 2010).
Proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
a. Iskemia Miometrium: Hal ini disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus
menerus dari uterus setelah pengeluaran plasenta sehingga membuat uterus menjadi
relatif anemi dan menyebabkan serat otot atrofi.
b. Atrofijaringan : Atrofi jaringan terjadi sebagai reaksi penghentian hormon esterogen
saat pelepasan plasenta.
c. Autolysis : Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot
uterus. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur
hingga panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum
hamil yang terjadi selama kehamilan. Hal ini disebabkan karena penurunan hormon
estrogen dan progesteron.
d. Efek Oksitosin : Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterus
sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai
darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi
plasenta serta mengurangi perdarahan. Ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil
seperti sebelum hamil.

Ukuran uterus pada masa nifas akan mengecil seperti sebelum hamil. Perubahan-
perubahannormal pada uterus selama postpartum adalah sebagai berikut:
Involusi Uteri Tinggi Fundus Berat Uterus Diameter Uterus
Uteri
Plasenta lahir Setinggi pusat 1000 gram 12,5 cm

7 hari (minggu Pertengahan 500 gram 7,5 cm


1) pusat
dan simpisis
14 hari Tidak teraba 350 gram 5 cm
(minggu 2)
6 minggu Normal 60 gram 2,5 cm

2. Lochea
Akibat involusi uteri, lapisan luar desidua yang mengelilingi situs plasenta akan
menjadi nekrotik. Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan.
Percampuran antara darah dan desidua inilah yang dinamakan lokia. Lokia adalah
ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang
membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada
vagina normal.
Lokia mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak terlalu menyengat dan
volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Lokia mengalami perubahan karena
proses involusi. Pengeluaran lokia dapat dibagi menjadi lokia rubra, sanguilenta, serosa
dan alba.
Perbedaan masing-masing lokia dapat dilihat sebagai berikut:
Lokia Waktu Warna Ciri-ciri
Rubra 1-3 Merah Terdiri dari sel desidua, verniks
hari kehitaman caseosa, rambut lanugo, sisa
mekoneum dan sisa darah
Sanguilenta 3-7 Putih Sisa darah bercampur lendir
hari bercampur
merah
Serosa 7-14 Kekuningan/ Lebih sedikit darah dan lebih
hari kecoklatan banyak serum, juga terdiri
dari leukosit dan robekan
laserasi plasenta
Alba >14 Putih Mengandung leukosit,
hari selaput lendir serviks dan serabut
jaringan yang mati.

3. Involusi Tempat Plasenta


Uterus pada bekas implantasi plasenta merupakan luka yang kasar dan menonjol
ke dalam kavum uteri. Segera setelah plasenta lahir, dengan cepat luka mengecil, pada
akhir minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan
luka bekas plasenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung
banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus. Luka
bekas plasenta tidak meninggalkan parut. Hal ini disebabkan karena
diikutipertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka.
Regenerasiendometrium terjadi di tempat implantasi plasenta selama sekitar 6
minggu. Pertumbuhankelenjar endometrium ini berlangsung di dalam decidua
basalis. Pertumbuhan kelenjar ini mengikis pembuluh darah yang membeku pada
tempat implantasi plasenta hingga terkelupas dan tak dipakai lagi pada
pembuangan lokia.

a. Perubahan pada Endometrium


Perubahan pada endometrium adalah timbulnya thrombosis, degenerasi dan
nekrosis di tempat implantasi plasenta. Pada hari pertama tebal endometrium 2,5 mm,
mempunyai permukaan yang kasar akibat pelepasan desidua dan selaput janin. Setelah
3 hari mulai rata, sehingga tidak ada pembentukan jaringan parut pada bekas implantasi
plasenta.

b. Perubahan pada Ligamen


Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang selama
kehamilan dan partus, setelah jalan lahir, berangsur-angsur ciut kembali seperti
sediakala. Tidak jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan
uterus jatuh ke belakang. Tidak jarang pula wanita mengeluh “kandungannya turun”
setelah melahirkan karena ligamenta, fasia, jaringan alat penunjang genetalia menjadi
menjadi agak kendor. Untuk memulihkan kembali jaringan-jaringan penunjang alat
genitalia tersebut, juga otot-otot dinding perut dan dasar panggul dianjurkan untuk
melakukan latihan-latihan tertentu.Pada 2 hari post partum sudah dapat diberikan
fisioterapi. Keuntungan lain ialah dicegahnya pula stasis darah yang dapat
mengakibatkan trombosis masa nifas.

c. Perubahan pada payudara


Payudara menjadi besar ukurannya bisa mencapai 800 gr, keras dan menghitam
di sekitar puting susu, ini menandakan dimulainya proses menyusui. Segera menyusui
bayi sesaat setelah lahir (walaupun ASI belum keluar) dapat mencegah perdarahan dan
merangsang produksi ASI. Pada hari ke 2 hingga ke 3 akan diproduksi kolostrum atau
susu jolong yaitu ASI berwarna kuning keruh yang kaya akan anti body, dan protein,
sebagian ibu membuangnya karena dianggap kotor, sebaliknya justru ASI ini sangat
bagus untuk bayi.
Pada semua wanita yang telah melahirkan proses laktasi terjadi secara alami.
Proses menyusui mempunyai dua mekanise fisiologis yaitu :
1. Produksi susu
2. Sekresi susu atau let down

Selama Sembilan bulan kehamilan, jaringan payudara tumbuh dan menyiapkan


fungsinya untuk menyediakan makanan bagi bayi baru lahir. Setelah melahirkan, ketika
hormone yang dihasilkan plasenta tidak ada lagi untuk menghambatnya kelenjar
pituitary akan mengeluarkan prolaktin (hormone laktogenik). Sampai hari ketiga setelah
melahirkan, efek prolaktin pada payudara mulai bias dirasakan. Pembuluh darah
payudara menjadi bengkak terisi darah, sehingga timbul rasa hangat, bengkak dan rasa
sakit. Sel-sel acini yang menghasilkan ASI juga mulai berfungsi. Ketika bayi
menghisap putting, reflek saraf merangsang lobus posterior pituitary untuk
menyekresikan hormone oksitosin. Oksitosin merangsang reflek let down sehingga
menyebabkan ejeksi ASI melalui sinus aktiferus payudara ke duktus yang terdapat pada
putting.

C. Anatomi Payudara

Payudara (mammae, susu) adalah kelenjar yang terletak di bawah kulit, di atas
otot dada. Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu
untuk nutrisi bayi. Manusia mempunyai sepasang kelenjar payudara, yang beratnya
kurang lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram.
Pada payudara terdapat tiga bagian utama, yaitu :
1. Korpus (badan), yaitu bagian yang membesar.
2. Areola, yaitu bagian yang kehitaman di tengah.
3. Papilla atau puting, yaitu bagian yang menonjol di puncak payudara.
Gambar 1. Anatomi payudara
Korpus
Alveolus, yaitu unit terkecil yang memproduksi susu. Bagian dari alveolus adalah sel
Aciner, jaringan lemak, sel plasma, sel otot polos dan pembuluh darah.
Lobulus, yaitu kumpulan dari alveolus.
Lobus, yaitu beberapa lobulus yang berkumpul menjadi 15-20 lobus pada tiap
payudara.
ASI dsalurkan dari alveolus ke dalam saluran kecil (duktulus), kemudian beberapa
duktulus bergabung membentuk saluran yang lebih besar (duktus laktiferus).
Areola
Sinus laktiferus, yaitu saluran di bawah areola yang besar melebar, akhirnya memusat
ke dalam puting dan bermuara ke luar. Di dalam dinding alveolus maupun saluran-
saluran terdapat otot polos yang bila berkontraksi dapat memompa ASI keluar.
Papilla
Bentuk puting ada empat, yaitu bentuk yang normal, pendek/ datar, panjang dan
terbenam (inverted).

Gambar 2. Bentuk puting susu normal

Gambar 3. Bentuk puting susu pendek

Gambar 4. Bentuk puting susu panjang

Gambar 5. Bentuk puting susu terbenam/ terbalik

Kata Kunci
anatomi payudara, anatomi dan fisiologi payudara, anatomi fisiologi payudara,
gambar anatomi payudara, struktur payudara, anatomi, bagian
payudara, fisiologi payudara, bagian bagian payudara, bagian-bagian
payudara, anatomi payudara wanita, anatomi fisiologi, anatomi mammae, bentuk
puting payudara, Anfis Payudara, anatomi mamae, duktus laktiferus, anatomi payudara
dan fungsinya, anatomi payudarah, payudara adalah, kelenjar mammae, bentuk puting
susu, struktur payudara dan fisiologi laktasi, fisiologi, fungsi mammae.

D. Fisiologi Laktasi

Laktasi atau menyusui mempunyai dua pengertian, yaitu produksi


ASI (prolaktin) dan pengeluaran ASI (oksitosin).

Produksi ASI (Prolaktin)


Pembentukan payudara dimulai sejak embrio berusia 18-19 minggu, dan
berakhir ketika mulai menstruasi. Hormon yang berperan adalah hormon esterogen dan
progesteron yang membantu maturasi alveoli. Sedangkan hormon prolaktin berfungsi
untuk produksi ASI.

Selama kehamilan hormon prolaktin dari plasenta meningkat tetapi ASI belum
keluar karena pengaruh hormon estrogen yang masih tinggi. Kadar estrogen dan
progesteron akan menurun pada saat hari kedua atau ketiga pasca persalinan, sehingga
terjadi sekresi ASI. Pada proses laktasi terdapat dua reflek yang berperan, yaitu
refleks prolaktin dan refleks aliran yang timbul akibat perangsangan puting susu
dikarenakan isapan bayi.

Refleks Prolaktin
Akhir kehamilan hormon prolaktin memegang peranan untuk
membuat kolostrum, tetapi jumlah kolostrum terbatas dikarenakan
aktivitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang masih tinggi.
Pasca persalinan, yaitu saat lepasnya plasenta dan berkurangnya fungsi korpus luteum
maka estrogen dan progesteron juga berkurang. Hisapan bayi akan merangsang puting
susu dan kalang payudara, karena ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai
reseptor mekanik.

Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medulla spinalis hipotalamus


dan akan menekan pengeluaran faktor penghambat sekresi prolaktin dan sebaliknya
merangsang pengeluaran faktor pemacu sekresi prolaktin.

Faktor pemacu sekresi prolaktin akan merangsang hipofise anterior sehingga


keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat
air susu. Kadar prolaktin pada ibu menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah
melahirkan sampai penyapihan anak dan pada saat tersebut tidak akan ada
peningkatan prolaktin walau ada isapan bayi, namun pengeluaran air susu tetap
berlangsung.
Pada ibu nifas yang tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pada
minggu ke 2 – 3. Sedangkan pada ibu menyusui prolaktin akan meningkat dalam
keadaan seperti: stress atau pengaruh psikis, anastesi, operasi dan rangsangan puting
susu

Refleks Aliran (Let Down Reflek)


Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh hipofise anterior, rangsangan
yang berasal dari isapan bayi dilanjutkan ke hipofise posterior (neurohipofise) yang
kemudian dikeluarkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini
menuju uterus sehingga menimbulkan kontraksi. Kontraksi dari sel akan memeras air
susu yang telah terbuat, keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktus dan selanjutnya
mengalir melalui duktus lactiferus masuk ke mulut bayi.

Faktor-faktor yang meningkatkan let down adalah: melihat bayi, mendengarkan suara
bayi, mencium bayi, memikirkan untuk menyusui bayi.

Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah stress, seperti: keadaan
bingung/ pikiran kacau, takut dan cemas.

Refleks yang penting dalam mekanisme hisapan bayi:

1. Refleks menangkap (rooting refleks)


2. Refleks menghisap
3. Refleks menelan
Refleks Menangkap (Rooting Refleks)
Timbul saat bayi baru lahir tersentuh pipinya, dan bayi akan menoleh ke arah sentuhan.
Bibir bayi dirangsang dengan papilla mamae, maka bayi akan membuka mulut dan
berusaha menangkap puting susu.

Refleks Menghisap (Sucking Refleks)


Refleks ini timbul apabila langit-langit mulut bayi tersentuh oleh puting. Agar
puting mencapai palatum, maka sebagian besar areola masuk ke dalam mulut bayi.
Dengan demikian sinus laktiferus yang berada di bawah areola, tertekan antara gusi,
lidah dan palatum sehingga ASI keluar.

Refleks Menelan (Swallowing Refleks)


Refleks ini timbul apabila mulut bayi terisi oleh ASI, maka ia akan menelannya.

Pengeluaran ASI (Oksitosin)


Apabila bayi disusui, maka gerakan menghisap yang berirama akan
menghasilkan rangsangan saraf yang terdapat pada glandula pituitaria posterior,
sehingga keluar hormon oksitosin. Hal ini menyebabkan sel-sel miopitel di sekitar
alveoli akan berkontraksi dan mendorong ASI masuk dalam pembuluh ampula.
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Kehamilan, persalinan dan nifas adalah proses fisiologis. Dalam proses ini, banyak
ibu mengalami masalah kesehatan yang dapat meningkatkan angka kematian ibu dan
bayi. Menurut hasil SDKI tahun 2012 mencatat kenaikan AKI dari 228 (SDKI 2007)
menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan AKB mengalami
penurunan dari 34 (SDKI 2007) menjadi 32 per 1.000 kelahiran hidup. Penulisan
Laporan Tugas Akhir ini dalam bentuk studi kasus dengan menggunakan pendekatan
manajemen kebidanan 7 langkah Varney dan catatan perkembangan dalam bentuk
SOAP. Hasil studi kasus diperoleh diagnosa G2P1A0 usia kehamilan 36+1 minggu
kehamilan fisiologis, persalinan fisiologis diikuti dengan nifas fisiologis dan bayi baru
lahir fisiologis. Kesenjangan dapat ditemukan pada kehamilan yaitu Ny. K mengalami
keluhan gatal di kulit, tidak diberikan imunisasi TT5, tidak dilakukan pemeriksaan Hb.
Pada persalinan didapat kesenjangan yaitu, penggunaan APD yang tidak lengkap, tidak
menggunakan anestesi lidokain pada penjahitan perineum. Pada masa nifas tidak
ditemukan kesenjangan. Pada bayi baru lahir terdapat kesenjangan yaitu panjang badan
bayi kurang dari normal. Kesimpulan dari hasil studi kasus ini yaitu pada penerapan
asuhan kebidanan terdapat kesenjangan antara teori dan praktek asuhan yang ada di
lahan.

3.2. Saran
Pada saat pembuatan makalah Penulis menyadari bahwa banyak sekali kesalahan
dan jauh dari kesempurnaan. dengan sebuah pedoman yang bisa
dipertanggungjawabkan dari banyaknya sumber Penulis akan memperbaiki makalah
tersebut . Oleh sebab itu penulis harapkan kritik serta sarannya mengenai pembahasan
makalah dalam kesimpulan di atas.