Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

HIPERPIREKSIA

1.1 Laporan pendahuluan


1.1.1Defenisi kasus
Demam adalah reaksi alami tubuh yang berusaha untuk
melawan virus atau infeksi. Demam tidak dianggap sebagai
sebuah penyakit tetapi biasanya merupakan gejala dari sebuah
gangguan kesehatan atau infeksi. Bagian dari otak yang disebut
hipotalamus berfungsi untuk mengontrol suhu tubuh kita. Saat
tubuh menghadapi penyakit atau virus tertentu, maka
hipotalamus akan meningkatkan suhu tubuh untuk
meningkatkan kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam
memerangi infeksi.
Istilah ini digunakan untuk kondisi suhu tubuh > 41,5°C.
Kondisi ini membutuhkan terapi anti piretik agresif karena
berisiko untuk menimbulkan kerusakan organ permanen
(irreversibel)
Hiperpireksia adalah keadaan suhu tubuh diatas 41°C.
Hiperpireksia sangat berbahaya pada tubuh karena dapat
menyebabkan berbagai perubahan metabolisme, fisiologi dan
akhirnya kerusakan susunan saraf pusat. Pada awalnya anak
tampak menjadi gelisah disertai nyeri kepala, pusing, kejang
serta akhirnya tidak sadar. Keadaan koma terjadi bila suhu
>43°C dan kematian terjadi dalam beberapa jam bila suhu 43°C
sampai 45°C.

1.1.2Patofisiologi
Manusia adalah makhluk yang homeoternal, artinya makhluk
yang dapat mempertahankan suhu tubuhnya walaupun suhu
disekitarnya berubah, yang dimaksud dengan suhu tubuh ialah
suhu bagian suhu bagian dalam tubuh seperti viscera, hati, otak.
suhu tubuh diatur oleh hipotalamus karena berhubungan dengan
thalamus akan menerima seluruh impuls eferen. Saraf eferen
hipotalamus terdiri atas saraf somatik dan saraf otonom. Karena
itu hipotalamus dapat mengatur kegiatan otot, kelenjar keringat,
peredaran darah dan ventilasi paru. Keterangan tentang suhu
bagian dalam tubuh di terima oleh reseptor di hipotalamus dari
suhu darah yang memasuki otak. Keterangan dari suhu bagian
luar tubuh diterima oleh reseptor panas dikulit diteruskan melalui
sistem eferen ke hipotalamus. Keadaan suhu tubuh ini diolah
oleh thermostat hipotalamus yang akan mengatur set point
hipotalamus untuk membentuk panas atau untuk mengeluarkan
panas.
Hipotalamus anterior merupakan pusat pengatur suhu yang
bekerja bila terdapat kenaikan suhu tubuh. Hipotalamus anterior
akan mengeluarkan impuls eferen sehingga akan terjadi
vasodilatasi dikulit dan keringat akan dikeluarkan, selanjutnya
panas lebih banyak dapat dikeluarkan dari tubuh. Hipotalamus
posterior merupakan pusat pengatur suhu tubuh yang bekerja
pada keadaan dimana terdapat penurunan suhu tubuh.
Hipotalamus posterior akan mengeluarkan impuls eferen
sehingga pembentukan panas ditingkatkan dengan
meningkatnya metabolisme dan aktifitas otot rangka dengan
menggigil, serta pengeluaran panas akan dikurangi dengan cara
vasokontriksi di kulit dan pengeluaran keringat.

1.1.3Pemeriksaan penunjang
Sebelum meningkatnya ke pemeriksaan-pemeriksaan yang
mutakhir, yang siap tersedia untuk digunakan seperti
ultrasonografi, endoskopi, atau scanning, masih dapat diperiksa
beberapa uji coba darah, pembiakan kuman dari cairan
tubuh/lesi permukaan atau sinar tembus rutin.
Dalam tahap berikutnya dapat dipikirkan untuk membuat
diagnosis dengan lebih pasti melalui biopsy pada tempat tempat
yang dicurigai. Juga dapat dilakukan pemeriksaan seperti
pemeriksaan angiografi, aortografi atau limfangiografi.[ CITATION
Nur152 \l 2057 ]

1.1.4Penalaksanaan medis terbaru


Pada dasarnya menurunkan demam dapat dilakukan secara
fisik, obat obatan maupun kombinasi keduanya.
1.1.4.1 Secara fisik
a. Seseorang yang demam ditempatkan dalam ruangan bersuhu
normal
b. Pakaian diusahakan tidak tebal
c. Memberikan minum yang banyak karena kebutuhan
meningkat
d. Memberikan kompres[ CITATION Nur152 \l 2057 ]

1.1.4.2 Obat-obatan
Pemberian obat antipiretik merupakan pilihan pertama
dalam menurunkan demam. Obat-obat anti inflamasi, analgetik
dan antipiretik terdiri dari golongan yang bermacam macam
dan sering berbeda dalam susunan kimianya tetapi mempunyai
kesamaan dalam efek pengobatannya. Tujuannya menurunkan
set point hipotalamus melalui pencegahan pembentukan
prostaglandin dengan jalan menghambat enzim cycloxigenase.
Asetaminofen merupakan derivate para-aminofenol yang
bekerja menekan kerja pembentukan prostaglandin yang
disintesis dalam susunan saraf pusat. Turunan asam propionat
seperti ibuprofen juga bekerja menekan pembentukan
prostaglandin. Obat ini bersifat antipiretik, analgetik dan anti
inflamasi. Metamizole (antalgin) bekerja menekan
pembentukan prostaglandin. Mempunyai efek antipiretik,
analgetik dan antiinflamasi.[ CITATION Nur152 \l 2057 ].

1.2 Pengkajian
1. Data umum pasien
Meliputi nama pasien, umur, jenis kelamin, agama, suku,
pendidikan, pekerjaan, status pernikahan, alamat, no medical
record, diagnose medis, tanggal pengkajian dan tanggal masuk
RS.
2. Data informan atau keluarga
Meliputi nama, umur, jenis kelamin dan hubungan dengan
pasien
3. Riwayat kesehatan
Meliputi keluhan utama, riwayat keluhan utama, riwayat
penyakit atau gejala yang dialami, riwayat kesehatan
sekarang, riwayat alergi, riwayat medikasi, kesadaran.
4. Kebutuhan dasar
Meliputi nutrisi, cairan, eliminasi, oksigenasi, istirahat dan
tidur, personal hygien dan aktivitas latihan.
5. Pengkajian resiko jatuh
6. Pemeriksaan diagnostik
7. Genogram

1.3 Diagnosa keperawatan


1.3.1 Hipertermia berhubungan dengan penyakit atau trauma
1.3.2 Gangguan pola tidur
1.3.3 Nyeri akut.

1.4 Intervensi keperawatan

N Diagnosa Rencana tindakan keperawatan


Tujuan dan Intervensi
o keperawatan
kriteria hasil
1. Hipertermia Outcome untuk 1. Identifikasi
berhubungan mengukur penyebab
dengan proses penyelesaian dari hipertermia
penyakit. diagnosis : 2. Monitor tanda-
Batasan termoregulasi tanda vital
karakteristik : 1. Merasa 3. Monitor keluaran
 Kenaikan merinding saat urine
suhu tubuh dingin di 4. memberikan
 Kulit pertahankan kompres air
kemerahan pada 3 dingin
 Pertambahan ditingkatkan ke 5. Monitor
RR 5 penurunan

 Kulit terasa 2. Berkeringat saat tingkat kesadaran

hangat panas 6. tingkatkan intake

 Takikardi dipertahankan cairan dan nutrisi


pada 3 7. berikan analgetik
ditingkatkan ke untuk penurunan
5 demam.
3. Melaporkan
kenyamanan
suhu di
pertahankan
pada 3
ditingkatkan ke
5
2. Gangguan pola tidur Outcome untuk 1. Identifikasi
Batasan mengukur pola aktivitas
karakteristik : penyelesaian dari dan tidur
 Mengeluh sulit diagnosis : Tidur 2. identifikasi
tidur 1. Jam tidur faktor
 Mengeluh dipertahankan pengganggu
sering terjaga pada 3 di tidur
 Mengeluh tingkatkan ke 5 3. modifikasi
tidak puas 2. kualitas tidur di lingkungan
tidur pertahankan 4. fasilitasi
 Mengeluh pada 3 menghilangka
isturahat tidak ditingkatkan ke n stress
cukup 5 sebelum tidur
3. perasaan segar 5. tetapkan
setelah tidur di jadwal tidur
pertahankan rutin
pada 3 6. lakukan
ditingkatkan ke prosedur untuk
5 meningkatkan
kenyamanan
7. jelaskan
pentingnya
tidur cukup
8. anjurkan
menepati
kebiasaan
waktu tidur
9. ajarkan faktor
yang
berkontribusi
terhadap
gangguan pola
tidur.
3. Nyeri akut Outcome untuk 1. Lakukan pengkajian
Batas karakteristik: mengukur nyeri komprehensif
 Mengeluh penyelesaian dari yang meliputi lokasi,
nyeri pada diagnosis nyeri: karakteristik, onset
bagaian tubuh 1. Skala target outcome atau durasi, frekuensi,
 Nyeri datang mengenali kapan kualitas, intensitas

tiba-tiba nyeri terjadi atau beratnya nyeri

 Nyeri tidak dipertahankan pada dan faktor pencetus.

tertahankan 3 (Kadang-kadang 2. Pastikan pemberian


menunjukkan) di analgestik dan atau
tingkatkan ke 1 strategi non
(Tidak perna farmakologi sebelum
menunjukkan) dilakukan prosedur
2. Menggunakan yang menyebabkan
tindakaan nyeri.
pengurangan nyeri 3. Gunakan tindakan
tanpa analgesik mengontrol nyeri
dipertahankan pada sebelum nyeri
3 (Kadang-kadang bertambah berat.
menunjukkan) di
tingkatkan ke 1
(Tidak perna
menjukkan).
1.5 Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah pengelolaan dan pewujudan dari rencana keperawatan yang
telah disusun pada tahap perencanaan [ CITATION Set12 \l 1033 ].

1.6 Evaluasi
Evaluasi adalah tahap akhir dari proses keperawatan yang merupakan perbandingan
yang sistematis dan terencana antara hasil akhir yang teramati dan tujuan atau
criteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan [ CITATION Set12 \l 1033 ].

1.7 discharge planning


a. anjurkan keluarga mengenal tanda-tanda kekambuan dan laporkan ke dokter
atau perawat
b. instruksikan untuk memberikan pengobatan sesuai dengan dosis dan waktu
c. anjurkan bagaimana mengukur suhu tubuh dan intervensi
d. anjurkan jika mengalami panas bisa melanjutkan intervensi mengompres air
dingin
e. instruksikan untuk konrtol ulang
f. jelaskan factor penyebab demam dan menghindari factor pencetus.
DAFTAR PUSTAKA

moorhead, S., Johnson, M., Maas, M. L., & Swanson, E. (2013). Nursing
Outcome Classification. United kingdom: Elsevier global right.

Nurarif, A. h., & Kusuma, H. (2015). Aplikasi asuhan keperawatan


berdasarkan diagnosa medis & Nanda NIC NOC. Jogjakarta:
Mediaaction.

PPNI, T. P. (2017). Standar diagnosis Keperawatan indonesia. Jakarta


selatan: PPNI.

PPNI, T. p. (2018). Standar intervensi keperawatan indonesia edisi 1.


Jakarta selatan: Dewan pengurus pusat persatuan perawat
nasional indonesia.