Anda di halaman 1dari 22

EVALUASI PUSKESMAS SANTUN LANSIA

DI PUSKESMAS JETIS

Oleh:
dr.Pratignyawati
NIP:19570901 198903 2002

SEBAGAI BAHAN PERSYARATAN AKREDITASI


DALAM KARYA TULIS BERUPA TINJAUAN
ILMIAH YANG TIDAK DIPUBLIKASIKAN
PENGESAHAN

PUSKESMAS JETIS SANTUN LANSIA , HARAPAN


DAN KENYATAAN

DISUSUN OLEH :

dr. Pratignyawati

NIP: 19570901 198903 2002

Disahkan pada:

……………….

Kepala Dinas Kesehatan Kepala Puskesmas Jetis

dr.Fita Yulia Kisworini, MKes dr.Ira Rachmasari

NIP: 19600112 198901 2001 NIP: 19700702 20012


2004
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmatNya
sehingga saya dapat menyusun makalah Puskesmas Jetis Santun Lansia, Harapan dan Kenyataan.
Makalah ini saya susun untuk memberikan gambaran tentang pelayanan terhadap Lansia di
Puskesmas Jetis dan di wilayah kerja Puskesmas dalam mewujudkan Puskesmas Jetis Santun
Lansia sebagaimana yang diharapkan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan para
Lansia sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Disamping itu harapan saya dapat memenuhi
dan melengkapi kebutuhan Lansia dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu,
terjangkau dan merata.

Makalah ini saya buat sebagai persyaratan akreditasi selaku dokter fungsional yang
mendapatkan tugas integrasi dari Kepala Puskesmas selaku koordinator wilayah.

Saya menyadari penyusunan makalah ini tentu masih jauh dari sempurna baik dari segi
materi maupun sistematika penulisannya, oleh karena itu saran dan bimbingan sangat saya
harapkan.

Selanjutnya atas tersusunnya makalah ini, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada
semua pihak atas kerja samanya yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Demikian makalah ini saya buat, semoga bermanfaat bagi kita semua.

Yogyakarta, November 2014

Dr. Pratignyawati
NIP: 19570901 198903 2002
BAB I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pembangunan Nasional bertujuan mewujudkan masyarakat adil dan makmur telah


menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang makin membaik. Demikian juga keberhasilan
pembangunan di bidang kesehatan , sehingga Umur Harapan Hidup( UHH) meningkat sehingga
dan terjadi peningkatan jumlah usia lanjut (4).

Di Indonesia jumlah penduduk berusia lanjut dari tahun ketahun meningkat.


Berdasarkan sensus penduduk tahun 2010 jumlah lanjut usia di Indonesia ada 7,6 % dari
populasi pendududk dan ini akan meningkat menjadi 13,6 % dari populasi penduduk pada
tahun 2030. Hal ini berdampak penting bagi system pelayanan kesehatan karena lanjut usia
mengalami beban penyakit tidak menular (PTM) yang membutuhkan perawatan yang mahal
(3).

Masalah kesehatan pada lanjut usia sangatlah komplek dan penyakit pada lanjut usia bersifat
degeneratif, kronis, multifaktorial yang penyembuhan dan perawatannya membutuhkan
....... ? spesialistik perlu waktu lama dan perlu biaya mahal.(3,4).

Dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan pada usia lanjut, Pemerintah


mencanangkan Puskesmas Santun Lansia, Yaitu Puskesmas melaksanakan sebuah standar
pelayanan untuk puskesmas. Puskesmas melakukan pelayanan kepada pra lansia dan lanjut usia
meliputi pelayanan aspek promotif, preventif, disamping aspek kuratif dan rehabilitatif yang
lebih menekankan unsur proaktif, kemudahan proses pelayanan, santun, sesuai standar
pelayanan dan kerja sama dengan unsur lintas sektoral .

Usia Harapan Hidup( UHH ) di Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2010 sesuai hasil
Index Pembangunan Manusia (IPM) adalah yang tertinggi di Indonesia dibandingkan Usia
Harapan Hidup tingkat Nasional, sehingga dalam melaksanakan Puskesmas Santun Lansia harus
ada suatu standar yang harus dipatuhi yaitu Standar Pelayanan Publik (SPP) yang memuat
beberapa hal yaitu: apa saja pelayanan yang diberikan kepada usia lanjut, siapa saja yang bisa
mendapatkan pelayanan tersebut dan apa persyaratan dan bagaimana bentuk layanan yang
nantinya diberikan kepada usia lanjut (7).

Berdasarkan Riskesdas Tahun 2007 dan 2013 penyakit Degeneratif / Penyakit Tidak
Menular di Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk yang tinggi dibandingkan provinsi lain di
Indonesia, hal ini menjadikan keprihatinan bagi Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Demikian juga di kota Yogyakarta populasi lanjut usia (diatas 60 tahun ) sudah mencapai +
9,2% dari jumlah penduduk yang ada. Hal ini tentu saja akan menimbulkan berbagai masalah
kesehatan yang ada di kota Yogyakarta. Dari pengamatan, kunjungan pasien lansia di Puskesmas
Jetis dari tahun ke tahun mengalami peningkatan bukan saja dari dalam wilayah tetapi juga dari
luar wilayah kecamatan Jetis bahkan dari luar wilayah kabupaten / kota. (???)

Dengan dilaksanakannya program pelayanan kesehatan lanjut usia diharapkan


kunjungan pasien lanjut usia menurun yang menandakan keberhasilan di upaya promotif dan
preventif serta penurunan pada upaya kuratif.
RUMUSAN MASALAH

Umur Harapan Hidup (UHH) yang meningkat mengakibatkan jumlah lanjut usia meningkat pula
dan akan menyebabkan permasalahan bagi usia lanjut yaitu : meningkatnya penyakit
degenerative yang menyebabkan penurunan produktifitas. Kenyataan yang ada Jumlah
kunjungan pasien lanjut usia di Puskesmas Jetis meningkat dari tahun ketahun. Dengan
mengetahui hal tersebut perlu merumuskan suatu masalah apakah pelayanan kesehatan
lanjut usia di Puskesmas Jetis sudah sesuai standar?

TUJUAN

Tujuan Umum :

Mengetahui apakah Puskesmas Jetis sudah melaksanakan Puskesmas Santun Lansia sesuai
dengan standar.

Tujuan Khusus :

Menyiapkan? Sumber Daya Manusia untuk melaksanakan Puskesmas Santun Lansia.

( mengetahui kesiapan SDM?)

Menyiapkan sarana prasana untuk melaksanakan Puskesmas Santun Lansia

(mengetahui kesiapan Sarpras?)

Melaksanakan Puskesmas Santun Lansia sesuai standar.

(mengetahui apakah pelaksanaan Puskesmas santun lansia sesuai standard)

Meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas sektoral

(mengetahui apakah ada peningkatan koord lintas program dan lintas sektor)
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Penuaan adalah proses seumur hidup yang tidak bisa dihindari. Perubahan dalam fisik,
mental dan status sosial ini bersifat progresif, yang dimulai segera setelah pembuahan dan
berakhir dengan kematian. Jadi proses penuaan dimulai bahkan sebelum individu dilahirkan
yaitu sejak dari kandungan. Perawatan dan gizi ibu serta bayi yang dikandungnya, akan
menentukan kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Perilaku dan paparan risiko kesehatan seperti
merokok, konsumsi alkohol, pola makan yang buruk, gaya hidup yang tidak sehat atau paparan
zat beracun ditempat kerja selama kehidupan dewasa seseorang juga mempengaruhi hasil
kesehatan pada usia tua. Kapasitas fungsional individu terus berkembang sepanjang masa bayi,
kanak-kanak dan remaja serta mencapai puncaknya pada awal dewasa, diikuti dengan masa
stabil dan akhirnya menurun setelahnya yaitu pada masa lanjut usia(7).

Pembinaan usia lanjut di Indonesia ada beberapa bentuk yaitu pembinaan secara individu
maupun kelompok , yang mana bentuk pembinaan itu antara lain dalam bentuk :

penyuluhan, pencegahan penyakit, deteksi dini pada usia lanjut, pengobatan dasar, rujukan dan
pembinaan pada kelompok lanjut usia serta menyediakan minimal loket , ruang tunggu dan ruang
khusus pemeriksaan yang dikhususkan untuk usia lanjut.

Sasaran pembinaan kelompok usia lanjut adalah (5, 9):

1.Kelompok Prasenil ( 45-59 tahun )

2. Kelompok Usia Lanjut risiko tinggi ( > 70 tahun )

3. Kelompok Usia Lanjut kebanyakan ( 60 -70 tahun )

Dalam rangka mendukung terlaksananya pembinaan kelompok lanjut usila yang ada di
masyarakat maka pemerintah mencanangkan Puskesmas Santun Lansia yang dilaksanakan di
seluruh Indonesia dengan target nantinya semua Puskesmas yang ada di Indonesia melaksanakan
Puskesmas Santun Lansia.

Puskesmas Santun Lansia adalah Puskesmas yang melakukan pelayanan kepada pra
lansia dan lanjut usia meliputi pelayanan aspek promotif, preventif, disamping aspek kuratif dan
rehabilitatif yang lebih menekankan unsur proaktif, kemudahan proses pelayanan, santun,
sesuai standar pelayanan dan kerja sama dengan unsur lintas sektoral .
Dengan demikian program lansia tidak terbatas pada pelayanan kesehatan di klinik saja,
tetapi juga pelayanan kesehatan di luar gedung dan pemberdayaan masyarakat. Bentuk
kesantunan pada lansia misalnya :

1. Melayani lansia dengan senyum, ramah, sabar dan menghargai sebagai orang tua.

2. Pelayanan rawat jalan bagi lansia gratis . Di Yogyakarta sudah ada peraturan Walikota bahwa
pelayanan kesehatan bagi lansia dan tindakan dikenakan retribusi 50% tanpa memandang asal
domisili atau KTP pasien.

3. Proaktif dan responsif terhadap permasalahan kesehatan lansia.

4.Kemudahan akses pelayanan bagi lansia baik prosedur layanan maupun fasilitasnya.

Puskesmas Santun Lansia dilaksanakan di dalam dan di luar gedung.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pembinaan lanjut usia adalah melaksanakan kegiatan
pembinaan kesehatan lanjut usia dilakukan melalui upaya promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitatif.

1. Upaya Promotif:
Adalah upaya untuk menggairahkan semangat hidup dan meningkatkan derajat kesehatan
lanjut usia agar tetap berguna, baik bagi dirinya, keluarga, maupun masyarakat.
Upaya ini berupa: penyuluhan/ pelatihan bagi kader kesehatan lanjut usia /kader
kesehatan Pos Yandu tentang masalah gizi dan diet, perawatan dasar kesehatan,
mengenal perawatan kasus darurat, mengenal kasus gangguan jiwa, Olah Raga, serta
bimbingan rohani.
2. Upaya Preventif:
Adalah upaya pencegahan terjadinya penyakit penyakit yang disebabkan oleh proses
penuaan dan komplikasinya.
Kegiatannya: -pemeriksaan kesehatan berkala yang dituangkan dalam KMS lansia
-penjaringan penyakit pada lansia
-pemantauan kesehatan oleh diri sendiri
-Olah Raga teretur, kelompok senam ( DM atau Jantung sehat )
-mengelola diet
-spiritual
-hobby produktif
-sosialisasi
3. Upaya Kuratif :

Adalah upaya pengobatan bagi lansia oleh petugas atau kader Pos Yandu .

Kegiatannya : -pelayanan kesehatan di kelompok

-pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan ( Puskesmas)

-perawatan dietetik

-perawatan kesehatan jiwa, gigi dan mulut, mata

-Rujukan ke RS, dokter spesialis

4. Upaya Rehabilitatif :

Adalah upaya untuk mempertahankan fungsi organ seoptimal mungkin.

Kegiatannya :- rehabilitatif mental, vokasional ( ketrampilan ), kegiatan fisik.

Kegiatan ini dilakukan oleh petugas kesehatan

Puskesmas Santun Lansia Dalam Gedung:

-Memberikan kemudahan akses dan biaya:

o Pendaftaran yang disendirikan


o Poli klinik khusus lanjut usia

-Pelayanan yang dilakukan adalah:

 pemeriksaan fisik,
 pemeriksaan laboratorium,
 penyuluhan/konseling/ pembinaan individual
 pengobatan

Puskesmas Santun Lansia Diluar Gedung:

-Pembinaan pada kelompok-kelompok lanjut usia, sasaran pembinaan ini ada 3 kelompok yaitu
kelompok prasenil ( 45-59 tahun ), kelompok lansia risiko tinggi ( > 70 tahun ) dan kelompok
lansia kebanyakan yaitu : 60-70 tahun.

-Perawatan Kesehatan Masyarakat

-Pelayanan kesehatan di panti sosial/ panti wredha

Pemeriksaan di kelompok Usia Lanjut:


-Pemeriksaan aktifitas sehari-hari

-Pemeriksaan status mental

-Pemeriksaan status gizi

-Pemeriksaan Tekanan darah

-Pemeriksaan denyut nadi

-Pemeriksaan Hb, Gula Darah, Protein

-Rujukan

-Penyuluhan kesehatan

-Kunjungan kader kesehatan ke rumah usia lanjut yang tidak datang

Kegiatan Tambahan:

-Pemberian Makanan Tambahan

-Olah Raga yang teratur/ senam lansia/ gelar senam lansia

-Kerohanian

-Rekreasi

-Forum Diskusi

-Penyaluran dan pengembangan hobi

Salah satu jasa layanan yang bisa diberikan untuk Puskesmas Santun Lansia adalah
Pelayanan “One stop service” yaitu pelayanan kepada lansia mulai dari pendaftaran sampai
dengan mendapat obat dilaksanakan satu paket dalam satu ruang. Dengan begitu lansia tidak
perlu berpindah tempat dan antre lagi untuk pelayanan lainnya dalam Puskesmas ( Pendaftaran,
Pemeriksaan klinis, Pemeriksaan Laboratorium bila perlu, Konseling dan Pemberian obat ).

Bila tidak ada ruang khusus maka lansia dilayani di poli umum tetapi pelayanan
didahulukan. Di Puskesmas Jetis ruang lansia sudah di sendirikan baik penomeran di pendaftaran
sampai dengan pemeriksaan dan konseling. Tetapi karena keterbatasan lahan, Sumber Daya
Manusia dan sarana prasarana lain maka belum bisa melaksanakan “ One stop service”

Batas-batas Usia Lanjut (4, 5, 7):

Sebenarnya tidak ada batas yang tegas pada usia berapa penampilan seseorang mulai menurun.
Pada setiap orang, fungsi fisiologis alat tubuhnya sangat berbeda, baik dalam hal pencapaian
puncak maupun menurunnya. Beberapa pendapat mengenai batasan usia adalah sebagai berikut:
1.Batas Usia Lanjut menurut WHO:

Usia Lanjut meliputi :

-Usia pertengahan (Midle Age) yaitu kelompok usia 45 sampai dengan 59 tahun

-Usia lanjut (Elderly) yaitu antara 60 sampai dengan 74 tahun

-Lanjut usia tua (Old) yaitu kelompok usia 75 sampai dengan 90 tahun

-Usia sangat tua (Very old) > 90 tahun


2.Undang-undang No 4 tahun 1998.

Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas.

3.Menurut Yos Mardani, Dra (Psikolog UI).

Lanjut usia adalah kelanjutan dari usia kedewasaan

1.Fase Liventus adalah kelompok usia 25-45 tahun

2.Fase Vertilitas adalah kelompok usia 40-45 tahun

3.Fase Prasenium adalah kelompok usia 55-65 tahun

4.Fase Senium adalah kelompok umur >65 tahun

Perubahan-perubahan yang terjadi pada proses penuaan (8) :

1. Perubahan pada Sistem Integumentum:


-Produksi sel-sel baru di kulit menurun
-Sirkulasi menurun
-Rambut mulai rontok, rambut kehilangan zat warna menjadi putih/ beruban
-Kulit kehilangan elastisitas dan kering
-Timbul bintik-bintik warna coklat/kuning gelap
-Timbul kerutan dan garis-garis pada kulit
-Kuku menjadi tipis dan mudah patah
-Sensitifitas terhadap suhu meningkat
-Jaringan lemak pada kulit menebal

2. System Sirkulasi, karena kebutuhan oksigen dan gizi pada lansia akan mengakibatkan :

-Pusing/ dizzines

-Weakness

-Numbness in hand and feet ( rasa kesemutan pada tangan dan kaki ),

- Takhikardia

-Tekanan darah tinggi

3. Perubahan pada Saluran Pernafasan :

-Terjadi perubahan pada sistem pernafasan


-Tulang iga jadi melengkung
-Alveoli lebih tebal, kurang elastis dimana terjadi penurunan yang menyebabkan
terjadinya emphysema
-Bronkhus kehilangan elastisitas
-Terjadi perubahan pada Laryngx sehingga suara jadi lemah
4. Perubahan-perubahan pada Sistem Syaraf :

-Aliran darah ke otak mengalami penurunan dan kehilangan sel-sel otak berlangsung
secara progresif, hal ini akan menyebabkan gangguan berpikir; gangguan reaksi;
gangguan interpretasi dan gangguan daya ingat

-Dalam hal sensasi rasa, membau, penglihatan dan pendengaran mengalami penurunan

-Syaraf jadi kurang sensitif

5. Perubahan dalam Saluran Pencernaan :

-Penurunan jumlah Enzym

-Reaksi otot menjadi lemah dan peristaltik menurun

-Gigi pada tanggal /copot

-Penurunan fungsi lever

-Keluhan gangguan menelan

-Lambat dalam mencerna makanan

-Penurunan dalam sensasi rasa

6. Perubahan pada Saluran Kencing/ Vesica Urinaria :

-Ginjal mengalami penurunan dalam ukuran dan menjadi kurang efisien

-Kandung kencing kurang efisien, tidak bisa mengosongkan kandung kencing, tidak bisa
menahan kencing

7. Perubahan pada Sistem Endokrin:

-Beberapa hormon mengalami kenaikan dan beberapa hormon mengalami penurunan

-Penurunan Sistem Immunitas

-BMR menurun

-Toleransi terhadap glukose menurun

8. Perubahan pada Sistem Reproduksi :

-Kebutuhan sexual pada lansia disesuaikan dengan kondisi fisik dan psychologi lansia

9. Perubahan Psychososial:

-Beberapa individu bisa melewati dengan adanya perubahan Psychososial dan beberapa
yang lain mengalami frustasi dan gangguan mental
SARANA PRASARANA UNTUK PUSKESMAS SANTUN LANSIA

Kelengkapan sarana prasarana untuk Puskesmas Santun Lansia merupakan hal yang sangat
penting dalam keberhasilan pelaksanaan kegiatan .

Sedangkan Indikator keberhasilan pelaksanaan puskesmas santun lansia apabila :

1.Pelayanan Medis:

Skrining lanjut usia : 30%

Skrining di panti wredha : 100%

Puskesmas melaksanakan konseling : 30%

2.Non Medis:

Puskesmas membina kelompok usia lanjut : 70%

Desa/kelurahan mempunyai kelompok usia lanjut : 50%

Kelompok usia lanjut mempunyai kelompok /melaksanakan senam lansia : 50%

Program usulan : pemeriksaan /deteksi dini Dementia dan Depresi

Sarana prasana yang seharusnya ada di puskesmas santun lansia (2, 7):

1. Sumber Daya Manusia ( dokter, perawat ) yang sudah mendapatkan pelatihan tentang
puskesmas santun lansia
2. Ruang pemeriksaan/poli khusus lansia yang tersendiri
3. Ruang tunggu yang disendirikan
4. Ruangan pemeriksaan lansia terdapat lansia kit, kursi roda, tri pod,tempat tidur yang ada
sandarannya dan dapat dinaik turunkan
5. Disediakan jamban/WC duduk khusus lansia, sehingga lansia tidak perlu jongkok dan
dengan dinding ada pegangannya serta pintu membuka keluar serta cukup untuk
masuknya kursi roda bagi lansi yang memakai kursi roda
6. Peralatan poliklinik set, pengukur tinggi badan, diagnostik set mata, THT, serta mebeler
meja dan kursi
7. Alur khusus pelayanan lansia
BAB III

PUSKESMAS JETIS SANTUN LANSIA

Dalam mengatasi permasalahan pada lanjut usia , berbagai kegiatan telah disusun yang
mendukung peningkatan kualitas hidup para lanjut usia dengan menggunakan paradigma sehat
yaitu lebih mengutamakan promotif, preventif tanpa mengabaikan kuratif dan rehabilitatif.

Upaya yang dilakukan antara lain meningkatkan cakupan , keterjangkauan dan mutu pelayanan
kesehatan bagi usia lanjut yang ada di wilayah kerja puskesmas Jetis. Terbentuknya kelompok-
kelompok lansia di masing-masing RW menunjukkan adanya kebutuhan masyarakat khususnya
para lanjut usia terhadap pelayanan kesehatan yang tejangkau, berkelanjutan dan bermutu.
Jumlah kelompok Pos Yandu lansia yang ada di wilayah kerja puskesmas Jetis ada 37 kelompok
yang terdiri dari 11 kelompok di Kelurahan Bumijo, 13 kelompok ada di kelurahan
Cokrodiningratan dan 13 kelompok di kelurahan Gowongan.

Pelaksanaan kegiatan Kelompok Lansia di wilayah kerja puskesmas Jetis masih beragam dan
bervariasi sesuai kebutuhan dan kelompok masing-masing. Berbagai permasalahan yang ada di
kelompok lansia saat ini antara lain terbatasnya sarana kelompok, kurangnya pengetahuan dan
ketrampilan kader dalam pelaksanaan kegiatan kesehatan, kurangnya koordinasi dalam
pembinaan kelompok lansia dan belum adanya kesamaan dalam pencatatan dan pelaporan
kegiatan kesehatan kelompok serta masalah pendanaan dalam kelangsungan kegiatan kelompok
dan regenerasi kader yang sulit dilaksanakan.

Dalam kenyataannya, kegiatan kelompok lansia di wilayah puskesmas Jetis sudah ada koordinasi
/dukungan dari lintas program maupun lintas sektor yang terkait dalam peningkatan kualitas dan
kesejahteraan lanjut usia walaupun belum secara maksimal.

Berbagai kegiatan dan program pembinaan telah dilaksanakan di kelompok- kelompok lansia
baik tingkat kelurahan maupun tingkat kecamatan.

Tabel : 1 DATA USIA LANJUT DI KECAMATAN JETIS

NO KELURAHAN PRE LANSIA LANSIA ELDERLY/ JUMLAH


45-59 >60 RENTA
>70
Laki- peremp Laki- peremp Laki- perempu Laki perempuan
laki uan laki uan laki an -laki
1 BUMIJO 989 1092 286 309 159 268 733 897
2 GOWONGAN 844 922 260 314 158 306 625 888
3 COKRO 917 1010 270 323 182 268 735 904
TOTAL 2750 3024 816 946 499 842 2093 2689
Sumber : data kecamatan
Dari pengamatan kami, kunjungan pasien lansia di Puskesmas Jetis dari tahun ke tahun
mengalami peningkatan bukan saja dari dalam wilayah tetapi juga dari luar wilayah kecamatan
Jetis bahkan dari luar wilayah kabupaten / kota.

Beberapa hal yang mungkin mendorong peningkatan kunjungan pasien lansia di Puskesmas Jetis
adalah letak Puskesmas yang strategis, ruang pemeriksaan khusus lansia yang disendirikan,
Sumber Daya Manusia dari Puskesmas Jetis yang peduli terhadap pasien lansia, adanya Perwal
no 25 tahun 2012 yang memberikan keringanan biaya pengobatan 50% bagi lansia tanpa
memandang asal tempat tinggal/ KTP pasien, Puskesmas buka hari Minggu dan Puskesmas buka
sore dan juga Puskesmas Jetis berusaha untuk memenuhi standar pelaksanaan Puskesmas Santun
Lansia walaupun belum bisa keseluruhan sarana prasarana terpenuhi.

Data kunjungan pasien di Puskesmas Jetis dari tahun 2012 sampai dengan tahun 2014 bulan
April.

Tabel : 2 DATA KUNJUNGAN LANSIA DI PUSKESMAS JETIS TAHUN 2012, 2013 &
2014

C BULAN TAHUN 2012 TAHUN 2013 TAHUN 2014


KUNJUNGAN KUNJUNGAN KUNJUNGAN
PASIEN PASIEN PASIEN
BARU LAMA JML Baru Lama JML Baru Lama JML
1 JANUARI 14 377 391 32 1039 1071 681 682 1363
2 FEBRUARI 9 223 232 33 908 941 655 653 1308
3 MARET 31 835 866 28 1046 1074 732 732 1464
4 APRIL 31 842 873 43 991 1034 808 807 1615
5 MEI 23 831 854 36 977 1013
6 JUNI 24 826 850 29 934 963
7 JULI 36 889 925 30 1023 1053
8 AGUSTUS 24 776 802 38 902 940
9 SEPTEMBER 27 899 926 28 905 933
10 OKTOBER 36 902 938 35 927 962
11 NOVEMBER 40 931 971 15 892 907
12 DESEMBER 44 639 683 28 870 898
TOTAL 339 8972 9311 375 11414 11789 2876 2874 5750
Sumber Simpus Puskesmas Jetis : 2012, 2013, 2014 sampai bulan April.

Sebagaimana diketahui bahwa dengan meningkatnya umur harapan hidup ( UHH ), berarti
semakin meningkat pula jumlah lanjut usia yang ada yang berarti pula banyak masalah yang
dihadapi oleh para lanjut usia yaitu banyaknya penyakit degeneratif yang menyertai para lanjut
usia. Dari kunjungan pasien yang ada di Puskesmas terlihat bahwa penyakit-penyakit degeneratif
mulai terlihat peningkatannya. Hal itu bisa terlihat dari 10 besar penyakit dari kunjungan pasien
lanjut usia yang ada di Puskesmas Jetis.

Berikut data 10 besar penyakit dari kunjungan lanjut usia di Puskesmas Jetis.
Tabel : 3. DATA 10 BESAR PENYAKIT KUNJUNGAN PASIEN LANSIA PUSKESMAS
JETIS TAHUN 2012

NO KODE PENYAKIT NAMA PENYAKIT JUMLAH


1 I 10 HIPERTENSI 3807
2 E 11 DIABETES MELLITUS 1508
3 M79.1 MYALGIA 1268
4 J 06.9 INFEKSI SALURAN NAFAS 813
ATAS
5 E 78 GANGGUAN METABOLISME 718
CHOLESTEROL

6 E 79 GANGGUAN METABOLISME 392


ASAM URAT
7 I 50 GAGAL JANTUNG/ 359
DEKOMPENSASI CORDIS
8 R 05 BATUK 229
9 R 51 KELELAHAN/ FATIGUE 210
10 K 29 GASTRITIS 203

Sumber : Data Simpus Puskesmas Jetis 2012

Tabel : 4. DATA 10 BESAR PENYAKIT KUNJUNGAN PASIEN LANSIA PUSKESMAS


JETIS TAHUN 2013

NO KODE PENYAKIT NAMA PENYAKIT JUMLAH


1 I 10 HIPERTENSI 5105
2 E 11 DIABETES MELLITUS 2148
3 M79.1 MYALGIA 1318
4 J 06.9 INFEKSI SALURAN NAFAS ATAS 962
5 J 45 ASMA 797
6 E 78 GANGGUAN METABOLISME 601
LIPOPROTEIN DAN LIPID
7 M13 ARTHRITIS TIDAK SPESIFIK 587
8 K 30 DYSPEPSIA 389
9 R 51 KELELAHAN/ FATIGUE 303
10 J 42 BROKHITIS KRONIS YG TIDAK 282
DAPAT DISPESIFIKASI
Sumber : Data Simpus Puskesmas Jetis 2013

Dari tabel data 10 besar penyakit kunjungan pasien yang berkunjung di Puskesmas Jetis terlihat
bahwa penyakit-penyakit degeneratif mendominasi dibandingkan penyakit akut yang lain. Hal
ini tentu saja akan menambah atau memotivasi petugas dalam meningkatkan pelayanan terhadap
lanjut usia yang ada di wilayah kerja Puskesmas terutama dalam hal pembinaan promotif dan
preventifnya sehingga kualitas hidup dan derajat kesehatan dan kesejahteraan para lanjut usia
meningkat serta tidak menutup kemungkinan untuk meningkatkan mutu pelayanan atau kuratif di
Puskesmas.
DATA STRATIFIKASI LANJUT USIA DI PUSKESMAS JETIS :

Jumlah penduduk Jetis : 27.740

Jumlah Pra lansia ( 49-59 tahun ) : 1679

Jumlah Lansia > 60 tahun : 3571 :

Jumlah Kelompok Lansia : 37 kelompok

Jumlah Paguyuban Lansia : 3 ( 3 Kelurahan )

Jumlah seksi-seksi : rata-rata 4- 5 seksi masing –masing kelompok

Jumlah kader yang ada : 426

Jumlah kader aktif : 222

Frekuensi pertemuan / tahun : 12 kali

Rata-rata jumlah kader dalam tiap pertemuan: 9 orang ( 120 : 13 kelompok )

DATA POS YANDU LANSIA DAN JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN DI PUSKESMAS JETIS

NO POS YANDU HARI/ JAM


TANGGAL
1 Bumijo RW 01 ( Sopo Tresno ) Minggu ke 4 16.00
2 Bumijo RW 02 ( Lestari ) Hari Minggu ke 2 16.00
3 Bumijo RW 03 ( Nusa Baki ) Tanggal 10 16.00
4 Bumijo RW 04 ( Wreda Tama ) Tanggal 21 16.00
5 Bumijo RW 05 (Wredo Tama ) Tanggal 9 16.00
6 Bumijo RW 06 (Wreda Utama ) Tanggal 10 16.00
7 Bumijo RW 07 (Wreda Kusuma ) Tanggal 17 16.00
8 Bumijo RW 08 ( Tegar ) Tanggal 12 16.00
9 Bumijo RW 09 ( Ngudi Utomo ) Tanggal 18 16.00
10 Bumijo RW 010 (Bakti Wreda ) Hari Kamis ke 3 16.00
11 Bumijo RW 011 ( Kartini ) Tanggal 18 16.00
12 Bumijo RW 012 ( Bekti Asih ) Tanggal 22 16.00
13 Bumijo RW 013 ( Rukun Wreda ) Tanggal 15 16.00
14 Cokrodiningratan RW 01 (Wulan Eka Jaya ) Tanggal 15 16.00
15 Cokrodiningratan RW 02 ( Bugar ) Tanggal 7 16.00
16 Cokrodiningratan RW 03 ( Cepoko Mulyo ) Hari Minggu ke 3 16.00
17 Cokrodiningratan RW 04 ( Sekti 0 Tanggal 16 16.00
18 Cokrodiningratan RW 05 ( Lantisara ) Tanggal 28 16.00
19 Cokrodiningratan RW 06 ( Harum Melati ) Tanggal 25 16.00
20 Cokrodiningratan RW 07 ( Bias Jingga ) Tanggal 8 16.00
21 Cokrodiningratan RW 08 ( Kunir Putih ) Tanggal 14 16.00
22 Cokrodiningratan RW 09 ( Ceria ) Tanggal 18 16.00
23 Cokrodiningratan RW 010 ( Puspo Tulodo ) Hari Minggu ke 3 15.00
24 Cokrodiningratan RW 011(Sayekti ) Tanggal 16 16.00
25 Gowongan RW 01 ( Mitayani ) Hari Rabu ke 2 16.00
26 Gowongan RW 02 ( Manggul Roso ) Hari Rabu ke 4 16.00
27 Gowongan RW 03 ( Ngudi Saras) Hari Minggu ke 3 06.00
28 Gowongan RW 04 ( Kusuma Werda ) Hari Minggu ke 2 10.00
29 Gowongan RW 05 ( Wijaya Kusuma ) Tanggal 20 16.00
30 Gowongan RW 06 ( Darma Werda) Tanggal 12 16.00
31 Gowongan RW 07 ( Tugu Ganesa) Hari Minggu ke 3 16.00
32 Gowongan RW 08 ( Wrehatnara) Hari Sabtu ke 1 07.00
33 Gowongan RW 09 ( Melati ) Hari Minggu ke 4 07.00
34 Gowongan RW 010 ( Manunggal ) Hari Minggu ke 3 16.00
35 Gowongan RW 011 ( Sayekti ) Tanggal 13 16.00
36 Gowongan RW 012 ( Winasis ) Hari Minggu ke 2 07.00
37 Gowongan RW 013 ( Anggrek ) Hari Minggu ke 1 07.00

PROGRAM PUSKESMAS USIA LANJUT DI PUSKESMAS JETIS:

Puskesmas Santun Lansia di Puskesmas Jetis dilaksanakan dengan melaksanakan beberapa


kegiatan, yaitu :

Sosialisasi /Pembinaan kesehatan lansia

Deteksi Dini Lansia.

Penyuluhan Kesehatan .

Pembinaan Pos Yandu Usia Lanjut yang dilaksanakan oleh Tim Yandu Lansia yang
terdiri dari dokter,bidan, perawat, administrasi, surveilance

Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut yang dilakukan di Puskesmas, di pos yandu


(dilaksanakan secara mandiri oleh beberapa kelompok Pos Yandu Lansia) yang
pembinaannya oleh Puskesmas.

Rujukan Kasus

Koordinasi dengan lintas sektor ( kelurahan, kecamatan) untuk melaksanakan senam


lansia baik tingkat kelurahan maupun tingkat kecamatan, serta menyelenggarakan gelar
senam lansia dan gebyar lansia tingkat kecamatan.

Penyediaan fasilitas/sarana prasarana kenyamanan pelayanan usia lanjut  lansia kit,


kamar periksa tersendiri, kursi roda, tripoid, dll

KEBIJAKAN PELAYANAN PADA USIA LANJUT:

Pemberian potongan tarif pelayanan 50% bagi lansia tanpa melihat domisili/KTP ( Sesuai Perwal
no 25 tahun 2012 )

Pendaftaran dengan pemberian penomeran tersendiri

Tempat pelayanan /Ruang Pemeriksaan dipisahkan dengan pasien umum

Ruang tunggu pasien lansia yang dekat dengan tempat pelayanan kesehatan.

ANALISA PELAYANAN LANSIA DI PUSKESMAS JETIS

Puskesmas Jetis dalam menjalankan Puskesmas Santun Lansia memang belum sempurna
sesuai dengan standar yang telah ditentukan. Dalam hal pelayanan kesehatan lansia sudah
diupayakan sedemikian rupa supaya dapat mematuhi standar yang ada serta di sesuaikan dengan
kondisi Puskesmas baik sarana prasarana serta Sumber Daya Manusia yang ada.

Pelayanan kesehatan Lanjut Usia berupa pemeriksaan kesehatan lansia hanya


dilaksanakan di dalam gedung sedangkan beberapa kelompok lansia mengadakan pemeriksaan
kesehatan secara mandiri dengan melibatkan dokter dan paramedis yang ada di wilayah yang
memang konsern dengan kesehatan lansia yang ada di wilayah. Pemeriksaan kesehatan lansia
tidak dilaksanakan lagi di Pos Yandu Lansia seperti dahulu. Hal-hal yang mendorong untuk tidak
diadakannya pemeriksaan kesehatan di luar gedung adalah :

Pertama Puskesmas Jetis telah melaksanakan manajemen ISO 9001:2008 dimana segala sesuatu
harus terdokumentasi dengan sebaik-baiknya sehingga untuk pelayanan di luar gedung akan
sangat sulit membuat rekam medis dari pasien lansia untuk penomerannya juga akan terjadi
duplikasi dari nomor rekam medis disamping secara teknis Simpus( Sistem Informasi
Manajemen Puskesmas) Puskesmas tidak mungkin dibawa keluar gedung,

Kedua dalam rangka pendekatan pelayanan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan, Puskesmas
Jetis buka hari Minggu dan buka sore sampai malam sehingga dapat membantu masyarakat yang
membutuhkan pelayanan kesehatan diluar jam kerja yang biasanya,

Ketiga adanya peraturan dari pemerintah yang mengharuskan bahwa pemberian obat harus oleh
Apoteker (PP No 83 tahun 2010 ) sehingga tidak dimungkinkan lagi membawa obat ke Pos
Yandu.

Pembinaan lansia dari Puskesmas Jetis di luar gedung berupa kegiatan promotif,
preventif, dan rehabilitatif. Sedangkan kuratif dilaksanakan di dalam gedung Puskesmas.
Sedangkan dalam hal skrining lansia di kelompok Pos Yandu Lansia sebagian besar belum
dilaksanakan ( kurang dari 30 % )

Pembinaan kesehatan Olah Raga pada lansia juga dilaksanakan tetapi belum secara periodik
dilakukan ditingkat paguyuban/ kelurahan walaupun sudah semua kelurahan mempunyai
kelompok senam lansia, bahkan beberapa kelompok lansia tingkat RW sudah mempunyai
kelompok senam.

Beberapa kelurahan sudah mempunyai kelompok peduli Diabetes Mellitus serta kelompok
senam Diabetes Mellitus dengan intruktur dari kader Pos Yandu yang sudah dilatih. Kelompok-
kelompok Pos Yandu yang sudah mempunyai kelompok senam adalah:

Kelurahan Bumijo : 9 kelompok, Kelurahan Gowongan : 6 kelompok, Kelurahan


Cokrodiningratan : 13 kelompok.

Dukungan lintas sektor terhadap kegiatan yandu lansia juga diberikan oleh Kecamatan
Jetis yang setiap tahun selalu memasukkan kegiatan lansia dalam dukungan dana operasional
Kecamatan sepert i: pertemuan forum lansia kecamatan Jetis, gelar senam lansia dan jalan sehat/
Olah Raga untuk lansia. Dukungan lintas sektor tersebut merupakan bentuk kepedulian dari
semua elemen masyarakat yang ada di wilayah disamping juga mempunyai kerja sama dengan
swasta/wira usaha yang ada di wilayah Kecamatan Jetis. Sebagai contoh kepedulian lintas sektor
dan pihak swasta yang ada di wilayah kerja Puskesmas Jetis adalah dalam penyelenggaraan gelar
senam lansia tingkat kecamatan semua ikut berperan, Kecamatan dan Puskesmas sebagai panitia
penyelenggara, pihak swasta sebagai donatur penyelenggaraan ( termasuk menyediakan
doorprize sebagai penambah semangat ) dan kelompok lansia masing-masing kelurahan sebagai
peserta senam dan penyedia instruktur senam.

Didalam pelaksanaan gelar senam lansia yang diadakan di Kecamatan Jetis selalu
dihadiri pejabat tingkat kota dan kecamatan ( bapak Wakil Walikota, Camat, Lurah, Danramil,
Ka Polsek ) juga dilaksanakan pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan laboratorium seperti gula
darah bagi peserta secara gratis dengan pendanaan dari donatur tingkat Kecamatan. Sebagai
contoh kegiatan gelar senam lansia bulan Mei 2014 dilakukan pemeriksaan laboratorium gula
darah bagi peserta senam. Hasil dari pemeriksaan kesehatan pada waktu gelar senam lansia, dari
126 lansia yang dilakukan pemeriksaan kesehatan ada 20 lansia yang tekanan darahnya tinggi, 14
lansia yang kadar gula darahnya tinggi dan 5 lansia yang mempunyai kadar gula darah tinggi dan
tekanan darah tinggi.

Kegiatan PosYandu lansia yang diadakan di kelompok Pos Yandu lansia berupa ukur
tensi, timbang badan, pemberian makanan tambahan (PMT) dimana dananya dari swadaya
masing-masing RT serta sisa dana Bansos. Laporan kegiatan Pos Yandu lansia di wilayah
kecamatan Jetis belum semua kelompok aktif melaporkan ke Puskesmas sehingga laporan ke
Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta juga belum bisa maksimal seperti yang diharapkan. Hal ini
juga menjadi bahan pembinaan dari Puskesmas ke kelompok Pos Yandu disamping pembinaan
kegiatan juga pembinaan administrasi yang masih sangat perlu ditingkatkan karena beberapa
kelompok melaksanakan kegiatan penimbangan, ukur tensi dan pemberian makanan tambahan
bahkan ada yang mengadakan pemeriksaan kesehatan oleh dokter yang ada diwilayah tetapi
tidak terdokumentasi dan tidak dilaporkan. Dengan melihat dan memantau kegiatan di kelompok
Pos Yandu lansia akan diketahui kelompok mana yang belum menjalankan kegiatan dengan baik
dan kelompok Pos Yandu mana yang sudah berjalan dengan baik. Belum semua kelompok pos
yandu lansia dikunjungi oleh petugas walaupun sudah tersusun tim-tim Yandu Lansia karena
keterbatasan waktu dan banyaknya kegiatan Puskesmas.

Pembinaan administrasi juga dilakukan dengan mengadakan lomba administrasi antar


kelompok Pos Yandu lansia di tingkat kelurahan dengan kegiatan yang dilaksanakan yaitu di
kelurahan Cokrodiningratan, dengan hasil juara I kelompok Pos Yandu Ngudi Waras ( RW 11),
juara II kelompok Pos Yandu Kunir Putih ( RW 08 ), juara III kelompok Pos Yandu Puspo
Tulodo ( RW 10 ). Walaupun demikian belum semua dikunjungi oleh petugas puskesmas

Demikian pembinaan kegiatan pos yandu lansia yang ada di wilayah kerja Puskesmas
Jetis yang dapat dilaporkan. Tentu saja masih banyak hal-hal yang harus dibenahi dan
ditingkatkan dalam rangka pencapaian Puskesmas Jetis Santun Lansia sesuai standar dan harapan
dari pengelola, masyarakat dan Dinas Kesehatan.

Tentu saja sarana dan prasarana perlu pembenahan dan peningkatan terutama pelatihan SDM
(Sumber Daya Manusia ), alat-alat kesehatan dan kelengkapan administrasi di poli lansia serta
sarana prasarana non medis lainnya seperti pendaftaran dan ruang tunggu bagi lansia yang
tersendiri dan representatif, pelayanan bagi lansia yang difabel serta kamar mandi yang
memenuhi syarat untuk lansia. Tentu saja semuanya itu tergantung juga pada tersedianya lahan
dan dana serta komitment dari pimpinan.

KESIMPULAN DAN SARAN


KESIMPULAN:

1. Puskesmas Santun Lansia berdampak positip bagi kesehatan lanjut usia


2. Puskesmas Santun Lansia perlu ditingkatkan untuk menurunkan Penyakit Tidak
Menular (PTM)
3. Kepatuhan petugas( SDM) terhadap jadwal pos yandu
4. Kualitas layanan perlu ditingkatkan
5. Peraturan dan perundang-undangan perlu ada untuk melihat kepatuhan Puskesmas
terhadap standar.

SARAN :

1. Sarana Prasarana yang dibutuhkan perlu dilengkapi


2. Pelatihan tenaga kesehatan untuk meningkatkan mutu pelayanan
3. Koordinasi lintas sektor perlu ditingkatkan
4. Penggalangan dana demi kesinambungan program diwilayah

Daftar Pustaka
1.Puskesmas Santun Lansia , Leni Widi Astuti, Oktober 2013.

2.Program Pengembangan Puskesmas, 2012.

3.Keperawatan Gerontik, 2010.

4.Kesehatan Usia Lanjut dengan Pendekatan Asuhan Keperawatan, Salemba Medika, S,Tamher-
Noor Kasiani, 2009.

5. Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 1992. Pedoman Kesehatan Usia Lanjut, Jakarta:
Ditjen Binkesmas

6.Birchfield, P.C. 1996. Elders’ Health dalam Stanhope, M: Community Health Nursing.
St.Louise, Missouri: Mosby.

7.Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya, Penerbit Salemba Medika: R.Siti Maryam, Mia
Fatma Ekasari, Rosidawati, Ahmad Jubaedi, Irwan Batubara, 2008.

8.Anatomy and Phyisiology, November 2010, Eight Edition: Frederic H. Martini, Ph.D, Judi L.
Nath, Ph.D

9.Departemen Kesehatan RI, 2001.Pedoman Pembinaan Kesehatan Usia Lanjut bagi Petugas
Kesehatan, Jakarta: Direktorat Bina Kesehatan Keluarga.