Vektor Konstan dan Aljabar Vektor
Vektor Konstan dan Aljabar Vektor
VEKTOR KONSTAN
1. Pengertian Tentang Vektor Dan Notasi Vektor
Beberapa besaran (quantities) dalam fisika mempunyai besar (magnitude)
dan arah (direction), sebagai contoh misalnya lintasan dan kecepatan sebuah
obyek yang bergerak, gaya yang bekerja pada suatu benda, medan listrik maupun
medan magnet suatu titik dan lain sebagainya. Besaran yang mempunyai besar
dan arah disebut dengan vektor (vector). Sementara besaran yang hanya
mempunyai besar (magnitude) saja seperti massa, waktu maupun temperatur
disebut dengan skalar (scalar). Notasi vektor dan teknik-teknik dengan
menggunakan analisis vektor sangat berguna untuk menjelaskan hukum-hukum
fisika dan aplikasinya baik dalam bidang (dimensi dua = R2) maupun ruang
(dimensi tiga = R3).Dalam penyajiannya sebuah vektor biasa digambarkan
sebagai segmen atau ruas garis yang berarah sebagai berikut :
B v= ⃗
AB
v A = titik pangkal (initial point)
B = titik ujung (terminal point)
A
2. Aljabar Vektor
Vektor nol (null vector) :
Ditulis 0 adalah vektor yang panjangnya nol sehingga arahnya tak tentu
(karena ujung dan pangkalnya berimpit)
Kesamaan 2 vektor
2
Dua vektor dikatakan sama jika mempunyai panjang dan arah yang sama.
Kesejajaran 2 vektor
Dua vektor dikatakan sejajar atau paralel jika garis-garisnya sejajar, arahnya
bisa sama atau berlawanan. Vektor-vektor yang segaris merupakan vektor-
vektor yang paralel.
Penjumlahan vector
Penjumlahan vektor bisa dilakukan dengan mengikuti aturan jajaran genjang
atau aturan segi banyak (poligon)
Misalnya:
B
A
A A+ B=C
C
Atau
B
A C
B
Jumlah dari vektor-vektor yang merupakan sisi-sisi dari sebuah segi banyak
tertutup selalu nol jika arah sisi-sisi tersebut berurutan.
Penggandaan vektor dengan scalar
Jika m = besaran scalar dan A = vektor yang panjangnya | A|
maka :
m A = vektor yang panjangnya m kali panjangnya A dan arahnya
sama dengan vektor A jika m positif, atau berlawanan dengan arah
vector A jika m negative
Pengurangan vector
Pengurangan vektor dilakukan dengan menambahkan lawan dari vektor yang
mengurangi
Hukum-hukum yang berlaku dalam Aljabar Vektor
Jika A ,B ,C adalah vektor dan m, n adalah skalar maka
a. A+ B=C (komutatif terhadap penjumlahan)
b. A+ ( B+C )=( A+ B ) +C (asosiatif terhadap penjumlahan)
c. Terdapat vector 0 sehingga A+0=0+ A= A (ada elemen netral)
d. Terdapat vector − A sehingga A+ (− A )=0 (ada elemen invers)
3
e. ( mn ) A=n ( m A ) (asosiatif terhadap perkalian)
f. m ( A +B )=m A +m B (distributif terhadap perkalian)
g. ( m+n ) A=m A+n A (distributif terhadap perkalian)
h. 1 ∙ A=A (ada invers dalam perkalian)
j
0 i
Sehingga r =r x i+ r y j=x i+ y j
r x i=x i ; r y j= y j disebut vector-vektor komponen
r x =x i komponen vektor r pada sumbu x (proyeksi r ke sumbu x)
r y = y j komponen vektor r pada sumbu y (proyeksi r ke sumbu y)
Vektor r =xi+ yj disebut vektor posisi titik P, karena komponen
komponennya merupakan koordinat yang menunjukkan posisi titik P.
Panjang dari r =|r|=√ x 2 + y 2
4
k
y
j
i
P( x , y , z)
Dengan :
o Ax, Ay; Az disebut bilangan arah vektor A
o Sudut-sudut α ; β ; γ yang dibentuk vektor A terhadap sumbu x, y, z
positif disebut arah vektor A
o Cosinus sudut-sudut tersebut disebut cosinus arah. dengan:
Ax Ax
cos α=¿ = ¿
√A x
2
+ A + Azy
2 2 | A|
Ay Ay
cos β=¿ = ¿
√A x
2
+ A + Azy
2 2 | A| cos 2 α +cos 2 β +cos2 γ
5
Az Az
cos γ =¿ = ¿
2 2
√ Ax + A y + Az 2 |A|
A ∙ B=| A||B|cos θ , 0 ≤ θ≤ π
………………….. (1)
A∙B
cos θ=
|A||B|
A∙B
θ=arc cos
| A||B|
Secara analitik :
Misalkan A=A 1 i+ A2 j dan B=B1 i+ B2 j adalah dua vector pada bidang
dengan system koordinat x dan y, maka A ∙ B didefinisikan:
A ∙ B=A 1 B1 + A2 B 2
………………………… (2)
Sedangkan vector pada bidang dengan system koordinat x, y, dan z dimana
A=A 1 i+ A2 j+ A3 k dan B=B1 i+ B2 j+ B3 k , maka A ∙ Bdidefinisikan :
A ∙ B=A 1 B1 + A2 B 2+ A 3 B3
…………………… (3)
k ∙ k =|k||k|cos 0o =1
k
i
Dari hasil perkalian titik dari vector satuan-vektor satuan pada bidang
dengan menggunakan definisi di atas dapat disimpulakan dalam bentuk
tabel di bawah ini:
Tabel 1. Hasil perkalian titik dari vektor-vektor satuan.
. i j k
i 1 0 0
j 0 1 0
k 0 0 1
Bukti:
1) A ∙ A=( A 1 i + A 2 j+ A 3 k ) ∙ ( A 1 i+ A2 j+ A3 k )
Berdasarkan definisi (2), diperoleh
A ∙ A= A12 + A22
2 2 2
¿ ( √ A1 + A2 )
7
2
A ∙ A=| A|
2) A ∙ B=( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) ∙ ( B1 i+ B2 j+B 3 k )
Berdasarkan definisi (2), diperoleh
A ∙ B=A 1 B1 + A2 B 2+ A 3 B3
karena A1 , A 2 , A3 , B 1 , B2 , B3 adalah bilangan real, maka
A1 B 1=B 1 A1 , A 2 B2= A 2 B2 , A 3 B3=B3 A 3
Sehingga
A ∙ B=B 1 A1 + B2 A 2+ B3 A 3
3) A ∙ ( B+C )
¿ ( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) ∙ [ ( B1 i+ B2 j+ B3 k ) + ( C 1 i+C 2 j+C 3 k ) ]
¿ ( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) ∙ [ ( B1 +C 1 ) i+ ( B2 +C 2) j+ ( B3 +C 3 ) k ]
Contoh soal:
Jika A = i + 2j dan B = 2i – 3j, tentukan
a) A ∙ B
b) Sudut yang dibentuk oleh A dan B
Penyelesaian :
a) A ∙ B=( i+2 j ) ∙ ( 2i – 3 j )= (1 )( 2 ) + ( 2 ) (−3 )=2−6=−4
b) Untuk mencari sudut yang dibentuk oleh A dan B, maka gunakan
rumus
8
A∙B
cos θ=
|A||B|
−4
¿
√1 +2 √22 + (−3 )2
2 2
−4
¿
√5 √ 13
−4
¿
√65
¿−0,4961
A∙B
θ=arc cos
| A||B|
¿ arc cos (−0,4961 )
¿ 119,74
A × B=|A||B|sin θu ,0 ≤ θ ≤ π
…………….…………(4)
Untuk mencari sudut yang dibentuk oleh vector A dan B dengan cara:
A × B=|A||B|sin θu
A×B
A × B=|A||B|sin θ
| A × B|
A×B
| A × B|=| A||B|sin θ
A×B
| A × B|=| A||B|sin θ
| A × B|
sin θ=
| A||B|
| A × B|
θ=arc sin
| A||B|
| A × B|
sin
9 θ= | A||B|
Secara analitik
Misalkan A=A 1 i+ A2 j+ A3 k dan B=B1 i+ B2 j+ B3 k , maka perkalian silang
dari dua vector A dan B didefinisikan dengan
i j k
|
A × B= A 1 A2
B1 B 2
A3
B3 | … (5)
¿ ( A2 B 3− A3 B 2 ) i−( A 1 B3− A 3 B1 ) j+ ( A1 B 2− A2 B 1) k
10
Sifat-sifat perkalian silang vector
Berikut sifat-sifat perkalian silang:
1) A × B=−B × A (tidak berlaku hukum komutatif )
2) A × ( B+C )= A × B+ A ×C ( Hukum distributif )
3) m ( A × B )=( m A ) × B= A × ( m B )=( A × B ) m, m skalar
4) A × A=0
5) Jika A × B=0 , dan A dan B adalah bukan vektor-vektor nol, maka A
B
6) Hasil dari | A × B|sama dengan luas jajaran genjang dengan sisi
A dan ⃗
⃗ B
Bukti :
Pertama, kita misalkan A=A 1 i+ A2 j+ A3 k , B=B1 i + B2 j+B 3 k , dan
C=C 1 i+C2 j+C 3 k . Maka:
1) A × ( B+C )
¿ ( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) × [ ( B1 i+ B2 j+ B3 k ) + ( C 1 i+C2 j+C 3 k ) ]
¿ ( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) × [ ( B1 +C 1) i+ ( B2+ C2 ) j+ ( B3 +C 3 ) k ]
i j k i j k
|
¿ A1
B1 ||
A 2 A3 + A 1 A2 A 3
B2 B 3 C 1 C 2 C3 |
A × ( B+C )= A × B+ A ×C
4) A × A=( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) × ( A1 i+ A 2 j+ A 3 k )\
Berdasarkan definisi perkalian silan (5), maka:
11
i j k
A × A= A1
A1 | A2
A2
A3
A3 |
¿ ( A2 A 3− A 3 A2 ) i−( A 1 A3 −A 3 A 1 )+ ( A 1 A 2− A2 A 1 )
A × A=0
Contoh soal:
Jika 2 i−2 j +k dan 3 i+ j +2 k . Tentukan:
a) A × B
b) Sudut yang dibentuk oleh A dan B.
Penyelesaian :
i j k
a) A × B= 2 −2 1
3 1 2 | |
¿ ( (−2 ) ( 2 )−( 1 ) ( 1 ) ) i−( ( 2 )( 2 )− (1 )( 3 ) ) j+ ( ( 2 ) ( 2 ) — (−2) ( 3 ) )
¿ (−4−1 ) i−( 4−3 ) j+ ( 2+6 ) k
¿−5 i− j+8 k
b) Untuk mencari sudut yang dibentuk, dicari menggunakan rumus :
A ×B
θ=arc sin
| A||B|
2 2 2
¿ arc sin
√(−5 ) +(−1 ) +8
2 2 2 2 2 2
√2 +(−2 ) +1 √3 +1 +2
¿ arc sin √ 90
3 √ 14
¿ 57,69o
Jadi sudut antara A dan B adalah 57,69o
12
sebuah paralelepipidum dengan A, B, dan C sebagai rusuk-rusuknya
atau negative dari volume tersebut. Positif atau negative dari volume
tersebut sesuai dengan apakah A, B, dan C membentuk system tangan
atau tidak.
Jika A=A 1 i+ A2 j+ A3 k , B=B1 i+ B2 j+ B3 k , dan C=C 1 i+C2 j+C 3 k ,
maka
A1 A2 A3
|
A ∙ ( B ×C )= B1 B2 B3
C1 C 2 C3 |
3) A × ( B ×C ) ≠( A × B)×C (tidak berlaku hokum asosiatif)
4) A × ( B ×C )=( A ∙C ) B−( A ∙ B ) C
( A × B ) ×C=( A ∙C ) B−( B ∙ C ) A
Hasil kali A ∙ ( B ×C ) sering disebut hasil kali tripel scalar dan dapat
dinyatakan dengan A ∙ B ×C atau [ ABC ] .
Hasil kali A × ( B ×C ) disebut hasil kali tripel vector.
Contoh soal :
Jika A=3i− j+k , B=2 i+ j+4 k , danC=3 i−2 j−k .
Tentukan A ∙ ( B ×C )!
Penyelesaian :
3 −1 1
( )
|
A ∙ B ×C = 2 1 4
3 −2 −1 |
¿ 3 (−1× 8 )−2−12+(−4−3)
¿ 21+14−7
¿ 28
B. KALKULUS VEKTOR
1. Fungsi Vektor
Jika sembarang nilai skalar t dikaitkan dengan suatu vector A , maka A bisa
dinyatakan sebagai fungsi vektor dari t atau A(t), yaitu suatu vektor yang komponen-
komponennya merupakan fungsi dari nilai skalar t.
Dalam R2, fungsi vector A(t) biasa ditulis dengan,
13
A ( t )= A1 ( t ) i+ A 2 ( t ) j
A ( t )= A1 ( t ) i+ A 2 ( t ) j+ A 3 ( t ) k
Konsep fungsi ini bisa diperluas, jika sembarang titik (x,y,z) did R 3
dikaitkan dengan suatu vector A, maka A bisa dinyatakan ddalam bentuk funsi
vector sebagaia berikut:
A ( x , y , z ) =A 1 ( x , y , z ) i+ A2 ( x , y , z ) j+ A3 ( x , y , z ) k
dA d A 1 d A2 d A3
= i+ j+ k
dt dt dt dt
14
d dB dA
2) ( A . B )= A . + .B
dt dt dt
d dB dA
3) ( A × B )=¿ A × + ×B
dt dt dt
d dA dϕ
4) ( ϕA ) =ϕ + A
dt dt dt
d dC dB dA
5) ( A . B ×C )=¿ A . B × +A. × C+ . B ×C
dt dt dt dt
d dC dB dA
6)
dt
( A × B × C ) =¿ A × B×
dt
+A×(dt
×C +
dt )
× ( B× C ) ( )
Bukti :
Untuk membuktikan sifat-sifat dari turunan biasa, kita dapat
menggunakan definisi turunan biasa dari fungsi vector (1).
1)
d
( A +B )= lim
[ A ( t+ ∆ t ) + B ( t+ ∆ t ) ]− [ A ( t ) + B ( t ) ]
dt ∆ t →0 ∆t
lim A ( t+ ∆ t ) −A (t) lim B ( t+ ∆ t )−B(t)
∆t→ 0 ∆ t →0
¿ +
∆t ∆t
d dA dB
( A +B )= +
dt dt dt
lim [ A ( t +∆ t ) ∙ B ( t +∆ t ) ]−[ A ( t )+ B ( t ) ]
2) d ( A . B )= ∆ t →0
dt ∆t
lim A ( t+ ∆ t ) ∙ B ( t+ ∆ t ) −A ( t+ ∆ t ) ∙ B ( t )+ A ( t +∆ t ) ∙ B ( t )− A ( t ) ∙ B ( t )
∆t→ 0
¿
∆t
lim A ( t+ ∆ t ) ∙ [ B ( t+ ∆ t ) −B ( t ) ] lim [ A ( t+ ∆ t )−A ( t ) ] ∙ B ( t )
∆t→ 0 ∆t→0
¿ +
∆t ∆t
lim B ( t +∆ t )−B ( t ) lim A ( t +∆ t )− A ( t )
∆t→ 0 ∆ t →0
¿ lim A ( t+ ∆ t ) ∙ + ∙ lim B ( t )
∆ t →0 ∆t ∆t ∆t→ 0
Terbukti bahwa:
d dB dA
( A . B )= A . + .B
dt dt dt
lim ϕ ( t+ ∆ t ) A ( t+ ∆ t ) −ϕ ( t ) A ( t )
4) d ( ϕA ) = ∆ t →0
dt ∆t
15
lim ϕ ( t+ ∆ t ) A ( t+ ∆ t )−ϕ ( t+ ∆ t ) ∙ A (t ) +ϕ ( t +∆ t ) A ( t )−ϕ ( t ) A ( t )
∆t→ 0
¿
∆t
lim ϕ ( t+ ∆ t ) [ A ( t+ ∆ t ) −A ( t ) ] + [ ϕ ( t +∆ t )−ϕ ( t ) ] A ( t )
∆t→ 0
¿
∆t
lim A ( t+ ∆ t ) −A ( t ) lim ϕ ( t+ ∆ t )−ϕ ( t )
∆t→0 ∆ t →0
¿ lim ϕ ( t +∆ t ) ∙ + ∙ A (t )
∆ t →0 ∆t ∆t
Terbukti bahwa :
d dA dϕ
( ϕA ) =ϕ + A
dt dt dt
Contoh soal :
Jika A=( t 2+2 t ) i+2 t j+t 3 k dan B=2 t i+ sint 2 j+4 t k .Tentukan
d
( A ∙ B ) dit=0
dt
Penyelesaian:
A ∙ B=A 1 B1 + A2 B 2+ A 3 B3
¿ ( t 2+ 2t ) 2t +2 t sin t 2 + 4 t 4
¿ 2 t 3 + 4 t 2 +2 t+ 2t sint 2 +4 t 4
d d
( A ∙ B )= [ 2 t 3 + 4 t 2 +2 t+ 2t sint 2 +4 t 4 ]
dt dt
¿ 6 t 2+ 8t +2+ 4 t cos t 2 +2sin t 2 +16 t 3
pada saat t = 0, maka
d
( A ∙ B )=0
dt
∂ A ∂ A1 ∂ A2 ∂ A3
= i+ j+ k
∂x ∂x ∂x ∂x
∂ A ∂ A1 ∂ A2 ∂ A3
= i+ j+ k
∂y ∂y ∂y ∂y
∂ A ∂ A1 ∂ A2 ∂ A3
= i+ j+
∂x ∂z ∂z ∂z
17
Aturan rantai
Misalkan F = F(x,y,z) adalah fungsi vector yang dapat
dideefrensialkan terhadap variabel x, y, dan z, dimanaa x = x(s, t, u),
y=9(s, t, u) dan z=z(s, t, u) adalah fungsi-fungsi skalar yang dapat
dideferensialkan terhadap variabel s, t dan u, maka bentuk fungsi tersusun
F dapat ditulis dengan
F=f ¿
Turunan parsial F terhadap variabel s, t, dan u dapatdiberikan sebagai
berikut:
∂F ∂F ∂ x ∂F ∂ y ∂ F ∂ z
= + +
∂s ∂ x ∂s ∂ y ∂s ∂ z ∂s
∂F ∂F ∂ x ∂F ∂ y ∂ F ∂ z
= + +
∂ t ∂ x ∂t ∂ y ∂ t ∂ z ∂t
∂F ∂F ∂ x ∂F ∂ y ∂ F ∂z
= + +
∂u ∂ x ∂ u ∂ y ∂ u ∂ z ∂ u
Contoh soal :
Jika F=xy z2 i+ yz 2 j +2 x y 2 k ,tentukanlah
∂F
a.
∂x
∂F
b.
∂y
∂F
c.
∂z
Penyelesaian :
∂F ∂
a. = ( xy z 2 i+ yz 2 j+2 x y 2 k )
∂ x ∂x
¿ yz 2 i+2 y 2 k
∂F ∂
b. = ( xy z 2 i+ yz2 j+2 x y 2 k )
∂y ∂ y
¿ x z 2 i+ z 2 j+4 xy k
∂F ∂
c. = ( xy z 2 i+ yz 2 j +2 x y 2 k )
∂z ∂z
18
¿ 2 xyz i+2 yz j
3. INTEGRAL VEKTOR
Konsep integral tentu dan tak tentu untuk fungsi vektor dirancang dengan
memanfaatkan sebanyak mungkin informasi dari integral tentu dan tak tentu dari
fungsi real. Sebelum konsep penting ini dibahas, kita ingat kembali bahwa integral
tentu untuk fungsi real diperkenalkan sebagai limit jumlah Riemann. Sedangkan
integral tak tentunya diperkenalkan sebagai kebalikan dari diferensial.
pada selang tertutup [ a , b ] dan ∆=( a=t 0 <t 1 <t 2 <…<t i−1< t i <…< t n =b ) suatu
| |
∀ ε >0 ∃ δ >0 ∋‖∆‖<δ → ∑ f ( c 1 ) ∆ t 1 −I < ε untuk setiap partisi ∆ dengan ‖∆‖< δ
i=1
n
lim ¿¿
Riemann pada definisi di atas seringkali ditulis ‖∆‖→ 0∑ f ( c 1 ) ∆ t 1 ada.
i=1
b n
lim ¿
I =∫ f ( t ) dt=‖∆‖ →0∑ f ( c 1 ) ∆ t 1 ¿bila limit ini ada.
a i=1
Integral tak tentu dari fungsi real didefinisikan sebagai invers dari
diferensial atau anti diferensial yang merupakan suatu bentuk yang paling umum
dari anti turunan. Kita mengatakan bahwa ∫ f ( t ) dt =g ( t )+C pada suatu selang D
jika g ' ( t )=f ( t ) ∀ t ∈ D. Fungsi g merupakan suatu anti turunan dari fungsi f pada
selang D, sedangkan bentuk yang paling umum dari anti turunan ini, yaitu
y=g ( t ) +C, C konstanta sebarang dinamakan anti diferensial dari fungsi f pada
selang D.
19
Konsep integral tentu dan tak tentu dari fungsi vektor dirancang dengan
cara serupa dengan integral tentu dan tak tentu dari fungsi real, demikian juga
berbagai sifat dan rumusnya.
Definisi 1.
n
di Rn. ∀ ε >0 ∃ δ >0 ∋‖∆‖<δ → ‖ ‖
∑ F ( c 1 ) ∆ t1 −I
i=1
<ε untuk setiap partisi ∆
n
lim ¿¿
‖∆‖→ 0 ∑ F ( c 1 ) ∆ t 1 ada. Selanjutnya integral dari fungsi vektor F pada [ a , b ]
i=1
atau integtal Riemann dari fungsi vektor F pada [ a , b ] ditulis dengan lambang
b n
lim ¿
I =∫ F ( t ) dt=‖ ∆‖→ 0∑ F ( c1 ) ∆t 1 ¿ bila limit ini ada.
a i=1
Seperti pada konsep limit fungsi vektor yang dapat dituliskan sebagai
limit dari komponen vektornya yang berbentuk fungsi real, kita juga
mempunyai hasil yang serupa untuk integral fungsi vektor. Dalam hal ini
fungsi vektor F terintegralkan pada [ a , b ] jika dan hanya jika setiap
komponennya terintegralkan pada selang itu. Hasil ini kita nyatakan dalam
rumus berikut.∫ F ( t ) dt
a
Teorema 2.
20
Misalkan fungsi vektor X =F ( t )=f 1 ( t ) e1 +…+ f n ( t ) e n terdefinisi pada selang
tertutup [ a , b ]. Maka fungsi F terintegralkan pada [ a , b ] ↔ fungsi f 1
terintegralkan pada [ a , b ], i=1 , … , n. Integral tentu dari fungsi F dalam bentuk
komponennya adalah
b b b
a
(
∫ F ( t ) dt= ∫ f 1 ( t ) dt
a
) e 1+ …+¿
(∫
a
f n 1 alambentuk komponennya adala h kut . terintegralkan pada selang itu. hasil tuk integral fungsi ve
Sekarang kita akan berkenalan dengan konsep integral tak tentu dari
fungsi vektor. Anti turunan dari fungsi vektor F pada selang terbuka I
didefinisikan sebagai fungsi vektor G yang memenuhi G ' ( t ) =F ( t ) ∀ t ∈ I .
Seperti halnya dengan fungsi real, kita mempunyai bentuk yang paling
umum dari anti turunan ini yaitu X =G (t ) +C, C vektor konstan di Rn. Bentuk
ini dinamakan anti diferensial dari fungsi F pada selang I. Integral tak tentu
dari fungsi vektor F pada selang terbuka I didefinisikan sebagai anti
b b b
∫ ( p F ( t ) +q G ( t ) ) dt = p ∫ F ( t ) dt+q ∫ G ( t ) dt
a a a
Bukti :
21
Pilih partisi Pn yang membagi [ a , b ] menjadi n subselang yang sama
panjang. Jelas
b
n
∫ ( pF (t )+qG(t )) dt ¿ lim ∑ [ pF ( s i ) +qG ( si ) ] ∙ ∆i t
a n→ i=1
n n
¿ lim ∑ p ∙ F ( si ) ∙ ∆i t+ lim ∑ q ∙ G ( s i ) ∙ ∆ i t
n→ i=1 n→ i=1
n n
¿ lim p ∑ F ( s i ) ∙ ∆ i t +lim q ∑ G ( s i) ∙ ∆i t
n→ i=1 n→ i=1
n n
¿ p ∙ lim ∑ F ( si ) ∙ ∆i t+ q ∙ lim ∑ G ( s i ) ∙ ∆ i t
n→ i=1 n→ i=1
b b b
b c b
∫ F ( t ) dt =∫ F ( t ) dt +∫ F ( t ) dt
a a c
Bukti:
Kasus a< c< b:
Bangun partisi Pn sehingga c suatu ujung sub selangTulis m: banyak sub
selang pada [a,c]
Jelas
b n
∫ F ( t ) dt=lim
n→∞
∑ f ( si ) . ∆ it
a i=1
m p
¿ lim ∑ f ( si ) . ∆ i t+ lim ∑ f ( si ) . ∆ i x
n → ∞ i=1 p →∞ i =m +1
22
Tulis U k =s m+ kdan ∆ k z=∆m +k t
Jadi:
b m c b
x
vektor G didefinisikan oleh G ( x ) =∫ F ( x ) dt, a ≤ x ≤ b maka fungsi vektor
a
x +h x
¿ lim
1
h→0 h [∫ a
g ( t ) dt −∫ g ( t ) dt
a
]
x +h a
¿ lim
1
h→0 h [∫ a
g ( t ) dt +∫ g ( t ) dt
x
]
x+h
1
¿ lim ∫ g ( t ) dt
h→0 h x
23
1
¿ lim . g ( c ) . h untuk suatu c dengan x ≤ c ≤ x +h
h→0 h
¿ lim g (c)
h→0
¿ lim g ( x +θ h ) , 0 ≤θ ≤ 1
h→0
¿ g lim ( x +θ h )
( h→0 )
¿ g ( x) .
∫ G ( t ) dt =∫ F ' (t ) dt =F ( b )−F ( a )
a a
b n
'
Jelas ∫ F (t)dt =lim ∑ F ' ( s i ) ∙ ∆i t
a n → i=1
n
¿ lim ∑ F ' ( s i ) ∙ ∆ i t
n→ i=1
n
¿ lim ∑ F ( t i) −F ( t i−1 )
n→ i=1
¿ lim ¿
n→
¿ lim [ F ( t n )−F ( t 0 ) ]
n→
24
¿ lim [ F ( b )−F ( a ) ]
n→
¿ F ( b )−F( a).
b b
b b
memenuhi C ∫ F ( t ) dt =∫ C . F ( t ) dt
a a
Bukti :
Misalkan F ( t )=f 1 ( t ) e1 +…+ f n (t )e n dan C=c 1 e1 +…+ c n e n maka
b
C ∙∫ F ( t ) dt
a
b b
¿ ( c 1 e1 +…+ c n e n ) ∙
(( ) (∫
∫ f 1 ( t ) dt e 1+ …+
a a
))
f n ( t ) dt e n
b b
¿ c 1∫ f 1 (t ) dt+ …+¿ c n∫ f n ( t ) dt ¿
a a
b
¿ ∫ ( c 1 f 1 ( t ) +…+ c n f n ( t ) ) dt
a
b
¿ ∫ C . F ( t ) dt
a
Terbukti.
7. Jika fungsi vektor F dan fungsi real ‖F‖ terintegralkan pada [ a , b ], maka
b b
‖ ‖
∫ F ( t ) dt ≤ ∫‖F ( t )‖dt
a a
25
Bukti :
b
maka dengan menggunakan sifat perkalian skalar dua vektor, rumus 6 dan
ketaksamaan Cauchy-Schwarz diperoleh
2
‖C‖ =C ∙C
b
¿ C ∙∫ F ( t ) dt
a
b b b
¿ ∫ C . F ( t ) dt ≤∫‖C . F ( t )‖ dt ≤∫‖C‖‖ F ( t )‖ dt
a a a
b
¿‖C‖∫‖F (t)‖ dt
a
b b
‖ a
‖
‖C‖= ∫ F ( t ) dt ≤ ∫‖F (t)‖dt
a
Terbukti.
kurva C pada bidang xy, integral yang dihasilkan adalah ∫ f ( x , y ) ds yang kita
C
∑ f ( Pk ) ∆ sk
k =1
26
Sehingga dalam kasus ∆ → 0, ∆=maks { ∆ s k }
∫ f ds=lim ∑ f ( P k ) ∆ s k
∆ → 0 k=1
C
Sehingga
b
2
∫ f ( x , y ) ds=∫ f ( x ) f ( y )
C a
√ [ x ' ( t ) ] + [ y ' ( t ) ] dt
Untuk ruang berdimensi tiga
b
2
∫ f ( x , y , z ) ds=∫ f ( x ) f ( y ) f ( z ) √ [ x ' ( t ) ] + [ y ' ( t ) ]+ [ z ' ( t ) ] dt .
C a
27
Contoh soal:
π
0≤t ≤ .
2
Penyelesaian:
1. Komponen i
−1
∫ e−5 t dt= 5 ∫
e−5 t d (−5 t )
1
¿− e−5 t +C 1 .
5
Komponen j
3
1 3
∫ t 2 et +1 dt= 3 ∫ e t +1 d ( t3 +1 )
3
et +1
¿ + C2 .
3
Jadi,
3
t +1
) j dt = −1 e−5t +C1 i+ e +C 2 j .
) ( )
3
∫(e −5 t 2 t +1
i+t e ( 5 3
2. Strategi:
Misal:
t=tan y √ 1+t2
t
dt=sec 2 y dy
1+t 2=1+tan 2 y y
1
¿ sec 2 y
28
29
Komponen i
1 1
1 sec 2 y dy
dt
∫ 1+t 2 ∫ sec2 y
=
0 0
1
¿ ∫ y dy
0
1
¿ [ y ]0
¿ 1.
Komponen j
1 1
t tan y . sec 2 y dy
∫ 1+t 2 =∫ sec2 y
0 0
1
¿ ∫ tan y dy
0
1
sin y
¿∫ dy
0 cos y
1
d ( cos y )
¿−∫
0 cos y
1
¿−[ ln ( cos y ) ] 0
¿−ln ( cos 1 ).
Komponen k
1 1
t2 tan 2 y . sec 2 y dy
∫ 1+t 2 ∫
=
sec 2 y
0 0
1
¿ ∫ tan 2 y dy
0
1
¿ ∫ ( sec 2 y−1 ) dy
0
30
1 1
2
¿ ∫ sec y dy−∫ dy
0 0
1 1
¿ [ tan y ] 0−[ y ] 0
¿ tan ( 1 )−1.
Jadi
1
1 t t2
∫
0
( i+ j+
1+ t 2 1+t 2 1+t 2 )
k dt=i−ln ( cos 1 ) j+ ( tan ( 1 ) −1 ) k .
Cara lain
1
2
Komponen x = x(t) = 1+t
1 1
∫ x (t ) dt = ∫ 1+t1 2 dt = [ π
tan−1 1 − tan−1 0 = −0=
4
π
4 ]
0 0
t
Komponen y = y(t) = 1+t 2
1 1 1 1
t 1 d ( 1+t 2 ) 1 1
∫
0
y ( t ) dt = ∫ 1+t 2
0
dt = ∫
2 0 1+t 2
= ln|1+t 2| = ln 2
2 0 2
[ ]
t2
2
Komponen z = z(t) = 1+t
1 1 2 1 1 1
(1+t 2 )−1 2
∫ z ( t ) dt = ∫ 2 dt = ∫ 2 dt = ∫ 1+t 2 dt−∫ dt 2
t
0 0 1+t 0 1+t 0 1+t 0 1+t
1
−1 1 1 −1 1 π
¿ ∫ dt−[ tan t ]0 = t ]0 − tan (t )]0 = 1−
0
4
Jadi,
1
1 t t2 π 1 π
∫
0
[ 1 +t 2
i +
1+t 2
j +
1+t 2 4 2 ]
k dt = i + ln 2 j + 1− k
4 ( ) ( )
31
π
4
3. ∫ ( sin t i+sin 2 t . sec t j−cos 8 t k ) dt
0
Komponen i
π
4 π
4
∫ sin t dt=−[ cos t ] 0
0
¿− ( √22 −1)
2−√ 2
¿ .
2
Komponen k
π
4 π
−1
−∫ cos 8 t k dt= [ sin 8t ] 04 =0.
0 8
Komponen j
π π
4 4
π
4
¿ ∫ 2 sin t dt
0
π
¿−[ 2cos t ] 04
¿−( √ 2−2 )
¿ 2− √2.
Jadi
π
4
32
π
2
1
¿− .
3
33