0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
316 tayangan32 halaman

Vektor Konstan dan Aljabar Vektor

Dokumen tersebut membahas tentang vektor konstan, meliputi pengertian vektor dan notasi vektor, jenis-jenis vektor, aljabar vektor seperti penjumlahan, pengurangan, dan perkalian vektor dengan skalar, vektor posisi dalam bidang dan ruang, serta perkalian antara vektor seperti perkalian titik.

Diunggah oleh

rean fatah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
316 tayangan32 halaman

Vektor Konstan dan Aljabar Vektor

Dokumen tersebut membahas tentang vektor konstan, meliputi pengertian vektor dan notasi vektor, jenis-jenis vektor, aljabar vektor seperti penjumlahan, pengurangan, dan perkalian vektor dengan skalar, vektor posisi dalam bidang dan ruang, serta perkalian antara vektor seperti perkalian titik.

Diunggah oleh

rean fatah
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

VEKTOR KONSTAN
1. Pengertian Tentang Vektor Dan Notasi Vektor
Beberapa besaran (quantities) dalam fisika mempunyai besar (magnitude)
dan arah (direction), sebagai contoh misalnya lintasan dan kecepatan sebuah
obyek yang bergerak, gaya yang bekerja pada suatu benda, medan listrik maupun
medan magnet suatu titik dan lain sebagainya. Besaran yang mempunyai besar
dan arah disebut dengan vektor (vector). Sementara besaran yang hanya
mempunyai besar (magnitude) saja seperti massa, waktu maupun temperatur
disebut dengan skalar (scalar). Notasi vektor dan teknik-teknik dengan
menggunakan analisis vektor sangat berguna untuk menjelaskan hukum-hukum
fisika dan aplikasinya baik dalam bidang (dimensi dua = R2) maupun ruang
(dimensi tiga = R3).Dalam penyajiannya sebuah vektor biasa digambarkan
sebagai segmen atau ruas garis yang berarah sebagai berikut :
B v= ⃗
AB
v A = titik pangkal (initial point)
B = titik ujung (terminal point)
A

Panjang vector v=|v|=|⃗


AB| menyatakan besarnya vektor atau panjangnya
vektor v dan tanda panah dalam AB menyatakan arah vektor.
Ada 3 jenis vektor :
a. Vektor Bebas (free vector) : vektor yang boleh digeser sejajar dirinya
dengan panjang dan arah tetap.
b. Vektor meluncur (sliding vector) : vektor yang boleh digeser sepanjang
garis kerjanya, misalnya gaya yang bekerja sepanjang garis lurus.
c. Vektor terikat (binding vector) : vektor yang terikat pada sistem koordinat
yang menunjukkan posisi tertentu.

2. Aljabar Vektor
 Vektor nol (null vector) :
Ditulis 0 adalah vektor yang panjangnya nol sehingga arahnya tak tentu
(karena ujung dan pangkalnya berimpit)

 Kesamaan 2 vektor
2
Dua vektor dikatakan sama jika mempunyai panjang dan arah yang sama.
 Kesejajaran 2 vektor
Dua vektor dikatakan sejajar atau paralel jika garis-garisnya sejajar, arahnya
bisa sama atau berlawanan. Vektor-vektor yang segaris merupakan vektor-
vektor yang paralel.
 Penjumlahan vector
Penjumlahan vektor bisa dilakukan dengan mengikuti aturan jajaran genjang
atau aturan segi banyak (poligon)
Misalnya:
B
A
A A+ B=C
C
Atau

B
A C

B
Jumlah dari vektor-vektor yang merupakan sisi-sisi dari sebuah segi banyak
tertutup selalu nol jika arah sisi-sisi tersebut berurutan.
 Penggandaan vektor dengan scalar
Jika m = besaran scalar dan A = vektor yang panjangnya | A|
maka :
m A = vektor yang panjangnya m kali panjangnya A dan arahnya
sama dengan vektor A jika m positif, atau berlawanan dengan arah
vector A jika m negative
 Pengurangan vector
Pengurangan vektor dilakukan dengan menambahkan lawan dari vektor yang
mengurangi
 Hukum-hukum yang berlaku dalam Aljabar Vektor
Jika A ,B ,C adalah vektor dan m, n adalah skalar maka
a. A+ B=C (komutatif terhadap penjumlahan)
b. A+ ( B+C )=( A+ B ) +C (asosiatif terhadap penjumlahan)
c. Terdapat vector 0 sehingga A+0=0+ A= A (ada elemen netral)
d. Terdapat vector − A sehingga A+ (− A )=0 (ada elemen invers)

3
e. ( mn ) A=n ( m A ) (asosiatif terhadap perkalian)
f. m ( A +B )=m A +m B (distributif terhadap perkalian)
g. ( m+n ) A=m A+n A (distributif terhadap perkalian)
h. 1 ∙ A=A (ada invers dalam perkalian)

3. Vektor Posisi Dalam Bidang Dan Ruang


a. Vektor Posisi dalam R2
Jika i dan j adalah vektor-vektor basis di R2 yaitu vektor satuan yang masing-
masing sejajar dan searah dengan sumbu X dan sumbu Y dan berpangkal di
titik 0 dalam R2. Maka sembarang vektor r dari titik 0 ke titik P(x,y) dalam
bidang XOY selalu bisa dinyatakan sebagai kombinasi linier dari vektor basis
i dan j .

j
0 i

Sehingga r =r x i+ r y j=x i+ y j
r x i=x i ; r y j= y j disebut vector-vektor komponen
r x =x i komponen vektor r pada sumbu x (proyeksi r ke sumbu x)
r y = y j komponen vektor r pada sumbu y (proyeksi r ke sumbu y)
Vektor r =xi+ yj disebut vektor posisi titik P, karena komponen
komponennya merupakan koordinat yang menunjukkan posisi titik P.
Panjang dari r =|r|=√ x 2 + y 2

b. Vektor posisi dalam R3


z

4
k
y
j
i

P( x , y , z)

r =xi+ yj+ zk merupakan vektor posisi dari titik P(x,y,z)


x = proyeksi OP ke sumbu X
y = proyeksi OP ke sumbu Y
z = proyeksi OP ke sumbu Z
Panjang dari r= |r| = √ x 2+ y 2 + z 2
Secara umum untuk sembarang vektor A = Ax i + Ay j + Az k dalam R3 ,
berlaku :
panjang A=| A|=√ A x 2 + A y 2 + A z2
A
vector satuan a=
√ A x + A y 2+ A z 2
2

Dengan :
o Ax, Ay; Az disebut bilangan arah vektor A
o Sudut-sudut α ; β ; γ yang dibentuk vektor A terhadap sumbu x, y, z
positif disebut arah vektor A
o Cosinus sudut-sudut tersebut disebut cosinus arah. dengan:

Ax Ax
cos α=¿ = ¿
√A x
2
+ A + Azy
2 2 | A|
Ay Ay
cos β=¿ = ¿
√A x
2
+ A + Azy
2 2 | A| cos 2 α +cos 2 β +cos2 γ

5
Az Az
cos γ =¿ = ¿
2 2
√ Ax + A y + Az 2 |A|

4. Perkalian Antara Vektor


a. Perkalian titik (Cross Product)
Perkalian titik dari dua buah vector A dan B dinyatakan oleh A ∙ B
(dibaca A dot B). untuk lebih jelasnya, berikut didefinisikan perkalian titik
pada bidang :
secara geometri:
A ∙ B didefinisikan sebagai perkalian antara bersarnya vector-vektor A dan B
dan cosinus sudut θ antara keduanya.

A ∙ B=| A||B|cos θ , 0 ≤ θ≤ π
………………….. (1)
A∙B
cos θ=
|A||B|
A∙B
θ=arc cos
| A||B|

Secara analitik :
Misalkan A=A 1 i+ A2 j dan B=B1 i+ B2 j adalah dua vector pada bidang
dengan system koordinat x dan y, maka A ∙ B didefinisikan:

A ∙ B=A 1 B1 + A2 B 2
………………………… (2)
Sedangkan vector pada bidang dengan system koordinat x, y, dan z dimana
A=A 1 i+ A2 j+ A3 k dan B=B1 i+ B2 j+ B3 k , maka A ∙ Bdidefinisikan :

A ∙ B=A 1 B1 + A2 B 2+ A 3 B3
…………………… (3)

 Perkalian vector-vektor satuan


Dengan menggunakan definisi (1), didapatkan:
i∙ i=|i||i|cos 0o =1
j ∙ j=| j|| j|cos 0o=1 z

k ∙ k =|k||k|cos 0o =1

k
i

i∙ j=|i|| j|cos 90 o=0


i∙ k =|i||k|cos 90o=0
j ∙ i=| j||i|cos 90 o=0
j ∙ k=| j||k| cos 90o =0
k ∙ i=|k||i|cos 90o=0
k ∙ j=|k|| j| cos 90o =0

Dari hasil perkalian titik dari vector satuan-vektor satuan pada bidang
dengan menggunakan definisi di atas dapat disimpulakan dalam bentuk
tabel di bawah ini:
Tabel 1. Hasil perkalian titik dari vektor-vektor satuan.
. i j k
i 1 0 0
j 0 1 0
k 0 0 1

 Sifat-sifat perkalian vektor


Berikut adalah sifat-sifat perkalian titik vektor:
1) A ∙ A=| A|2
2) A ∙ B=B ∙ A ( Hukum komutatif )
3) A ∙ ( B+C )= A ∙ B+ A ∙ C ( Hukum distributif )
4) m ( A ∙ B )=( m A ) ∙ B= A ∙ ( mB )=( A ∙ B ) m
5) 0 ∙ A=0
6) Jika A ∙ B=0 , dimana A dan B adalah vector-vektor tak nol, maka A
B
7) | A ∙ B|≤| A||B| ( Ketaksamaan Schwarz )

Bukti:
1) A ∙ A=( A 1 i + A 2 j+ A 3 k ) ∙ ( A 1 i+ A2 j+ A3 k )
Berdasarkan definisi (2), diperoleh
A ∙ A= A12 + A22
2 2 2
¿ ( √ A1 + A2 )

7
2
A ∙ A=| A|

2) A ∙ B=( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) ∙ ( B1 i+ B2 j+B 3 k )
Berdasarkan definisi (2), diperoleh
A ∙ B=A 1 B1 + A2 B 2+ A 3 B3
karena A1 , A 2 , A3 , B 1 , B2 , B3 adalah bilangan real, maka
A1 B 1=B 1 A1 , A 2 B2= A 2 B2 , A 3 B3=B3 A 3
Sehingga
A ∙ B=B 1 A1 + B2 A 2+ B3 A 3

3) A ∙ ( B+C )
¿ ( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) ∙ [ ( B1 i+ B2 j+ B3 k ) + ( C 1 i+C 2 j+C 3 k ) ]

¿ ( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) ∙ [ ( B1 +C 1 ) i+ ( B2 +C 2) j+ ( B3 +C 3 ) k ]

Berdasarkan definisi (2), diperoleh


A ∙ ( B+C )= A 1 ( B1 +C1 ) + A 2 ( B2 +C2 )+ A3 ( B3 +C3 )
¿ A 1 B 1 + A 1 C 1 + A 2 B 2 + A 2 C 2+ A 3 B 3 + A 3 C 3
¿ A 1 B 1 + A 2 B 2+ A 3 B 3 + A 1 C 1 + A 2 C 2+ A 3 C 3
¿ ( A 1 B 1+ A 2 B 2 + A 3 B 3 ) + ( A 1 C 1 + A 2 C 2 + A 3 C 3 )
Berdasarkan definisi (2), maka
A ∙ ( B+C )= A ∙ B+ A ∙ C

Contoh soal:
Jika A = i + 2j dan B = 2i – 3j, tentukan
a) A ∙ B
b) Sudut yang dibentuk oleh A dan B

Penyelesaian :
a) A ∙ B=( i+2 j ) ∙ ( 2i – 3 j )= (1 )( 2 ) + ( 2 ) (−3 )=2−6=−4
b) Untuk mencari sudut yang dibentuk oleh A dan B, maka gunakan
rumus

8
A∙B
cos θ=
|A||B|
−4
¿
√1 +2 √22 + (−3 )2
2 2

−4
¿
√5 √ 13
−4
¿
√65
¿−0,4961
A∙B
θ=arc cos
| A||B|
¿ arc cos (−0,4961 )
¿ 119,74

b. Perkalian silang (Cross Product)


Perkalian silang dua vektor A dan B dituliskan dengan A × B (dibaca A
cross B). Berikut ini didefinisikan perkalian silang.
Secara geometri
Perkalian silang dari dua vector A dan B adalah sebuah vector C= A × B, yang
besarnya adalah hasil kali antara besarnya A dan B dan sinus sudut θ antara
keduanya.

A × B=|A||B|sin θu ,0 ≤ θ ≤ π
…………….…………(4)

Untuk mencari sudut yang dibentuk oleh vector A dan B dengan cara:
A × B=|A||B|sin θu
A×B
A × B=|A||B|sin θ
| A × B|
A×B
| A × B|=| A||B|sin θ
A×B
| A × B|=| A||B|sin θ
| A × B|
sin θ=
| A||B|
| A × B|
θ=arc sin
| A||B|

| A × B|
sin
9 θ= | A||B|
Secara analitik
Misalkan A=A 1 i+ A2 j+ A3 k dan B=B1 i+ B2 j+ B3 k , maka perkalian silang
dari dua vector A dan B didefinisikan dengan

i j k

|
A × B= A 1 A2
B1 B 2
A3
B3 | … (5)

¿ ( A2 B 3− A3 B 2 ) i−( A 1 B3− A 3 B1 ) j+ ( A1 B 2− A2 B 1) k

 Perkalian vektor-vektor satuan


Dengan menggunakan definisi (4), diperoleh:
z
i× i=|i||i| sin 0o u=0
j × j=| j|| j|sin 0o u=0
k × k=|k||k| sin0 o u=0
i× j=|i|| j|sin 90o u=1.1 .1 . k=k
k
o
i× k =|i||k|sin 90 u=1.1.1 . (− j )=− j
j y
j ×i=| j||i|sin 90o u=1.1 .1 . (−k )=−k
i
o
j × k=| j||k|sin 90 u=1.1.1 . i=i
k ×i=|k||i|sin 90o u=1.1.1 . j= j
k × j=|k|| j|sin 90 o u=1.1.1 . (−i )=−i

Hasil perkalian dari vector-vektor satuan pada bidang dengan


menggunakan definisi dapat disimpulkan dalam bentuk tabel dibawah ini.

Tabel 2. Hasil perkalian titik dari vektor-vektor satuan.


. I j k
i 0 k -j
j -j 0 i
k J -1 0

10
 Sifat-sifat perkalian silang vector
Berikut sifat-sifat perkalian silang:
1) A × B=−B × A (tidak berlaku hukum komutatif )
2) A × ( B+C )= A × B+ A ×C ( Hukum distributif )
3) m ( A × B )=( m A ) × B= A × ( m B )=( A × B ) m, m skalar
4) A × A=0
5) Jika A × B=0 , dan A dan B adalah bukan vektor-vektor nol, maka A
B
6) Hasil dari | A × B|sama dengan luas jajaran genjang dengan sisi
A dan ⃗
⃗ B
Bukti :
Pertama, kita misalkan A=A 1 i+ A2 j+ A3 k , B=B1 i + B2 j+B 3 k , dan
C=C 1 i+C2 j+C 3 k . Maka:
1) A × ( B+C )
¿ ( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) × [ ( B1 i+ B2 j+ B3 k ) + ( C 1 i+C2 j+C 3 k ) ]

¿ ( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) × [ ( B1 +C 1) i+ ( B2+ C2 ) j+ ( B3 +C 3 ) k ]

Dengan menggunakan definisi (5), diperoleh


i j k
A × ( B+C )= A1
| A2 A3
B1 +C1 B 2+C 2 B3 +C3 |
¿ [ A2 ( B3 +C3 ) −A 3 ( B 2+C 2 ) ] i−[ A1 ( B3+ C3 ) −A 3 ( B 1+C 1 ) ] j+ [ A1 ( B2+ C2 ) −A 2 ( B1 +C 1 ) ] k

¿ ( A2 B 3+ A 2 C 3− A3 B2− A3 C2 ) i−( A 1 B3 + A 1 C 3− A 3 B1− A3 C 1) j+ ( A 1 B2 + A1 C2− A 2 B1

¿ [ ( A 2 B3− A3 B2 ) + ( A2 C3 −A 3 C 2 ) ] i−[ ( A2 C3 −A 3 C2 ) + ( A 1 C 3− A3 C1 ) ] j+ [ ( A 1 B2− A 2 B1 )

¿ [ ( A 2 B3− A3 B2 ) i−( A 2 C 3− A 3 C 2 ) j+ ( A 1 B2 −A 2 B1 ) k ] + [ ( A 2 C 3− A 3 C 2 ) i−( A 1 C 3− A3 C

i j k i j k

|
¿ A1
B1 ||
A 2 A3 + A 1 A2 A 3
B2 B 3 C 1 C 2 C3 |
A × ( B+C )= A × B+ A ×C

4) A × A=( A1 i+ A 2 j+ A 3 k ) × ( A1 i+ A 2 j+ A 3 k )\
Berdasarkan definisi perkalian silan (5), maka:

11
i j k
A × A= A1
A1 | A2
A2
A3
A3 |
¿ ( A2 A 3− A 3 A2 ) i−( A 1 A3 −A 3 A 1 )+ ( A 1 A 2− A2 A 1 )
A × A=0

Contoh soal:
Jika 2 i−2 j +k dan 3 i+ j +2 k . Tentukan:
a) A × B
b) Sudut yang dibentuk oleh A dan B.
Penyelesaian :
i j k
a) A × B= 2 −2 1
3 1 2 | |
¿ ( (−2 ) ( 2 )−( 1 ) ( 1 ) ) i−( ( 2 )( 2 )− (1 )( 3 ) ) j+ ( ( 2 ) ( 2 ) — (−2) ( 3 ) )
¿ (−4−1 ) i−( 4−3 ) j+ ( 2+6 ) k
¿−5 i− j+8 k
b) Untuk mencari sudut yang dibentuk, dicari menggunakan rumus :
A ×B
θ=arc sin
| A||B|
2 2 2
¿ arc sin
√(−5 ) +(−1 ) +8
2 2 2 2 2 2
√2 +(−2 ) +1 √3 +1 +2
¿ arc sin √ 90
3 √ 14
¿ 57,69o
Jadi sudut antara A dan B adalah 57,69o

c. Perkalian rangkap tiga


Perkalian titik dan perkalian silang padaa tiga buah vector dapat menghasilkan
hasil kali yang mempunyai arti dalam bentuk-bentuk berikut, yaitu
( A ∙ B ) C , A ( B × C ) , dan A × ( B × C ) .
 Sifat-sifat perkalian rangkap tiga pada vektor.
1) ( A ∙ B ) C ≠ A ( B ∙C)
2) Hasil dari A ∙ ( B ×C )=B ∙ ( C × A )=C ∙ ( A × B ) merupakan volume

12
sebuah paralelepipidum dengan A, B, dan C sebagai rusuk-rusuknya
atau negative dari volume tersebut. Positif atau negative dari volume
tersebut sesuai dengan apakah A, B, dan C membentuk system tangan
atau tidak.
Jika A=A 1 i+ A2 j+ A3 k , B=B1 i+ B2 j+ B3 k , dan C=C 1 i+C2 j+C 3 k ,
maka
A1 A2 A3

|
A ∙ ( B ×C )= B1 B2 B3
C1 C 2 C3 |
3) A × ( B ×C ) ≠( A × B)×C (tidak berlaku hokum asosiatif)
4) A × ( B ×C )=( A ∙C ) B−( A ∙ B ) C
( A × B ) ×C=( A ∙C ) B−( B ∙ C ) A
Hasil kali A ∙ ( B ×C ) sering disebut hasil kali tripel scalar dan dapat
dinyatakan dengan A ∙ B ×C atau [ ABC ] .
Hasil kali A × ( B ×C ) disebut hasil kali tripel vector.

Contoh soal :
Jika A=3i− j+k , B=2 i+ j+4 k , danC=3 i−2 j−k .
Tentukan A ∙ ( B ×C )!
Penyelesaian :
3 −1 1
( )
|
A ∙ B ×C = 2 1 4
3 −2 −1 |
¿ 3 (−1× 8 )−2−12+(−4−3)
¿ 21+14−7
¿ 28

B. KALKULUS VEKTOR
1. Fungsi Vektor
Jika sembarang nilai skalar t dikaitkan dengan suatu vector A , maka A bisa
dinyatakan sebagai fungsi vektor dari t atau A(t), yaitu suatu vektor yang komponen-
komponennya merupakan fungsi dari nilai skalar t.
Dalam R2, fungsi vector A(t) biasa ditulis dengan,

13
A ( t )= A1 ( t ) i+ A 2 ( t ) j

Dalam R3, fungsi vector A(t) ditulis dengan,

A ( t )= A1 ( t ) i+ A 2 ( t ) j+ A 3 ( t ) k

Konsep fungsi ini bisa diperluas, jika sembarang titik (x,y,z) did R 3
dikaitkan dengan suatu vector A, maka A bisa dinyatakan ddalam bentuk funsi
vector sebagaia berikut:

A ( x , y , z ) =A 1 ( x , y , z ) i+ A2 ( x , y , z ) j+ A3 ( x , y , z ) k

2. Turunan (Differensial) Vektor


2.1. Turunan Biasa
Definisi turunan vektor
A(t) adalah sebuah fungsi vektor yang bergantung pada sebuah variabel t,
didefinisikan turunan dari A(t) sebagai berikut:

dA A ( t +∆ t )− A(t) ……………… (1)


= lim
dt ∆ t → 0 ∆t

Jika limitnya ada.


Jika fungsi vector A ( t )= A1 ( t ) i+ A 2 ( t ) j+ A 3 ( t ) k dengan fungsi skalar-fungsi
skalar A1 ( t ) , A 2 (t ) dan A 3 (t ) dapat diferensialkan terhadap variabel t, maka
A(t) mempunyai turunan variabel terhadap t yang dirumuskan sebagai
berikut :

dA d A 1 d A2 d A3
= i+ j+ k
dt dt dt dt

 Sifat-sifat turunan biasa fungsi vektor


Jika A, B, dan C adalah fungsi-fungsi vector dari sebuah skalar
yang differensiabel dan ϕ sebuah fungsi skalar dari t yang differensiabel,
maka:
d dA dB
1) ( A +B )= +
dt dt dt

14
d dB dA
2) ( A . B )= A . + .B
dt dt dt
d dB dA
3) ( A × B )=¿ A × + ×B
dt dt dt
d dA dϕ
4) ( ϕA ) =ϕ + A
dt dt dt
d dC dB dA
5) ( A . B ×C )=¿ A . B × +A. × C+ . B ×C
dt dt dt dt
d dC dB dA
6)
dt
( A × B × C ) =¿ A × B×
dt
+A×(dt
×C +
dt )
× ( B× C ) ( )
Bukti :
Untuk membuktikan sifat-sifat dari turunan biasa, kita dapat
menggunakan definisi turunan biasa dari fungsi vector (1).

1)
d
( A +B )= lim
[ A ( t+ ∆ t ) + B ( t+ ∆ t ) ]− [ A ( t ) + B ( t ) ]
dt ∆ t →0 ∆t
lim A ( t+ ∆ t ) −A (t) lim B ( t+ ∆ t )−B(t)
∆t→ 0 ∆ t →0
¿ +
∆t ∆t
d dA dB
( A +B )= +
dt dt dt

lim [ A ( t +∆ t ) ∙ B ( t +∆ t ) ]−[ A ( t )+ B ( t ) ]
2) d ( A . B )= ∆ t →0
dt ∆t
lim A ( t+ ∆ t ) ∙ B ( t+ ∆ t ) −A ( t+ ∆ t ) ∙ B ( t )+ A ( t +∆ t ) ∙ B ( t )− A ( t ) ∙ B ( t )
∆t→ 0
¿
∆t
lim A ( t+ ∆ t ) ∙ [ B ( t+ ∆ t ) −B ( t ) ] lim [ A ( t+ ∆ t )−A ( t ) ] ∙ B ( t )
∆t→ 0 ∆t→0
¿ +
∆t ∆t
lim B ( t +∆ t )−B ( t ) lim A ( t +∆ t )− A ( t )
∆t→ 0 ∆ t →0
¿ lim A ( t+ ∆ t ) ∙ + ∙ lim B ( t )
∆ t →0 ∆t ∆t ∆t→ 0

Terbukti bahwa:
d dB dA
( A . B )= A . + .B
dt dt dt

lim ϕ ( t+ ∆ t ) A ( t+ ∆ t ) −ϕ ( t ) A ( t )
4) d ( ϕA ) = ∆ t →0
dt ∆t

15
lim ϕ ( t+ ∆ t ) A ( t+ ∆ t )−ϕ ( t+ ∆ t ) ∙ A (t ) +ϕ ( t +∆ t ) A ( t )−ϕ ( t ) A ( t )
∆t→ 0
¿
∆t
lim ϕ ( t+ ∆ t ) [ A ( t+ ∆ t ) −A ( t ) ] + [ ϕ ( t +∆ t )−ϕ ( t ) ] A ( t )
∆t→ 0
¿
∆t
lim A ( t+ ∆ t ) −A ( t ) lim ϕ ( t+ ∆ t )−ϕ ( t )
∆t→0 ∆ t →0
¿ lim ϕ ( t +∆ t ) ∙ + ∙ A (t )
∆ t →0 ∆t ∆t
Terbukti bahwa :
d dA dϕ
( ϕA ) =ϕ + A
dt dt dt
Contoh soal :
Jika A=( t 2+2 t ) i+2 t j+t 3 k dan B=2 t i+ sint 2 j+4 t k .Tentukan

d
( A ∙ B ) dit=0
dt
Penyelesaian:
A ∙ B=A 1 B1 + A2 B 2+ A 3 B3

¿ ( t 2+ 2t ) 2t +2 t sin t 2 + 4 t 4
¿ 2 t 3 + 4 t 2 +2 t+ 2t sint 2 +4 t 4
d d
( A ∙ B )= [ 2 t 3 + 4 t 2 +2 t+ 2t sint 2 +4 t 4 ]
dt dt
¿ 6 t 2+ 8t +2+ 4 t cos t 2 +2sin t 2 +16 t 3
pada saat t = 0, maka
d
( A ∙ B )=0
dt

2.2. Turunan parsial


Turunan parsial untuk fungsi vektor dua variabel atau lebih, prinsipnya
sama dengan definisi turunan fungsi vektor satu variabel, dimana semua variabel
dianggap konstan, kecuali satu, yaitu variabel terhadap apa fungsi vektor itu
diturunkan.
Misalkan A adalah sebuah fungsi vektor yang tergantung kepada variabel
scalar x, y, dan z, maka kita tuliskan A = A(x, y, z) . Ketiga turunan parsialnya
didefinisikan sebagai berikut:
∂A A ( x + ∆ x , y , z )− A ( x , y , z )
= lim
∂ x ∆t→ 0 ∆x
∂A A ( x , y +∆ y , z ) −A ( x , y , z )
= lim
∂ y ∆ t → 0 16 ∆y
∂A A ( x , y , z +∆ z )− A ( x , y , z )
= lim
∂ z ∆t→ 0 ∆z
Adalah masing-masing turunan parsial A terhadap x, y, dan z jika limitnya ada.

Jika fungsi vector A(x , y , z )=A 1 ( x , y , z ) i+ A 2 ( x , y , z ) j+ A 3 ( x , y , z ) k

dengan fungsi skalar-fungsi skalar A1 ( x , y , z ) , A 2 ( x , y , z ) ,dan A3 ( x , y , z ) dan


mempunyai turunan parsial terhadap variabel x, y, dan z maka A(x , y , z ) juga
mempunyai turunan variabel terhadap x, y, dan z yang dirumuskan sebagai
berikut:

∂ A ∂ A1 ∂ A2 ∂ A3
= i+ j+ k
∂x ∂x ∂x ∂x

∂ A ∂ A1 ∂ A2 ∂ A3
= i+ j+ k
∂y ∂y ∂y ∂y

∂ A ∂ A1 ∂ A2 ∂ A3
= i+ j+
∂x ∂z ∂z ∂z

 Sifat-sifat turunan parsial:


Misalkan A dan B adalah fungsi vector-vektor dalam dan ϕ adalah
fungsi skalar x, y, dan z dan dapat dideferensialkan terhadap ketigs
variabel tersebut, maka berlaku
d dA dB
1) ( A + B )= +
dx dx dx
d dB dA
2) ( A . B )= A . + .B
dx dx dx
d dB dA
3) ( A × B )=¿ A × + ×B
dx dt dt
d dA dϕ
4) ( ϕA )=ϕ + A
dx dx dx
∂2 ( ∂ ∂ ( d dB dA
5)
∂ y∂ x
A . B )=
∂y ∂x {
A . B)
dy
A. } {
+
dx dx
.B }
+∂ A ∂B ∂ A ∂2 B
¿ F. . + . f √ ∂+
∂ y ∂x ∂ x ∂ y ∂x

17
 Aturan rantai
Misalkan F = F(x,y,z) adalah fungsi vector yang dapat
dideefrensialkan terhadap variabel x, y, dan z, dimanaa x = x(s, t, u),
y=9(s, t, u) dan z=z(s, t, u) adalah fungsi-fungsi skalar yang dapat
dideferensialkan terhadap variabel s, t dan u, maka bentuk fungsi tersusun
F dapat ditulis dengan

F=f ¿
Turunan parsial F terhadap variabel s, t, dan u dapatdiberikan sebagai
berikut:
∂F ∂F ∂ x ∂F ∂ y ∂ F ∂ z
= + +
∂s ∂ x ∂s ∂ y ∂s ∂ z ∂s

∂F ∂F ∂ x ∂F ∂ y ∂ F ∂ z
= + +
∂ t ∂ x ∂t ∂ y ∂ t ∂ z ∂t

∂F ∂F ∂ x ∂F ∂ y ∂ F ∂z
= + +
∂u ∂ x ∂ u ∂ y ∂ u ∂ z ∂ u

Contoh soal :
Jika F=xy z2 i+ yz 2 j +2 x y 2 k ,tentukanlah
∂F
a.
∂x
∂F
b.
∂y
∂F
c.
∂z
Penyelesaian :
∂F ∂
a. = ( xy z 2 i+ yz 2 j+2 x y 2 k )
∂ x ∂x
¿ yz 2 i+2 y 2 k
∂F ∂
b. = ( xy z 2 i+ yz2 j+2 x y 2 k )
∂y ∂ y
¿ x z 2 i+ z 2 j+4 xy k
∂F ∂
c. = ( xy z 2 i+ yz 2 j +2 x y 2 k )
∂z ∂z

18
¿ 2 xyz i+2 yz j

3. INTEGRAL VEKTOR
Konsep integral tentu dan tak tentu untuk fungsi vektor dirancang dengan
memanfaatkan sebanyak mungkin informasi dari integral tentu dan tak tentu dari
fungsi real. Sebelum konsep penting ini dibahas, kita ingat kembali bahwa integral
tentu untuk fungsi real diperkenalkan sebagai limit jumlah Riemann. Sedangkan
integral tak tentunya diperkenalkan sebagai kebalikan dari diferensial.

Untuk membahas konsep integral tentu, misalkan fungsi x=f (t ) terdefinisi

pada selang tertutup [ a , b ] dan ∆=( a=t 0 <t 1 <t 2 <…<t i−1< t i <…< t n =b ) suatu

partisi untuk [ a , b ] dengan panjang ‖∆‖=1≤maks t −t i−1) . Misalkan pula


i ≤n( i

c i ∈ [ t i−1 , t i ] , i=1,2 ,… , n dan I suatu bilangan real. Fungsi f dikatakan


terintegralkan Riemann pada [a,b] jika

| |
∀ ε >0 ∃ δ >0 ∋‖∆‖<δ → ∑ f ( c 1 ) ∆ t 1 −I < ε untuk setiap partisi ∆ dengan ‖∆‖< δ
i=1

dan untuk sebarang pemilihan c i ∈ [ t i−1 , t i ] , i=1,2 ,… , n . Syarat keterintegralan

n
lim ¿¿
Riemann pada definisi di atas seringkali ditulis ‖∆‖→ 0∑ f ( c 1 ) ∆ t 1 ada.
i=1

Selanjutnya, integral tentu dari fungsi f pada [ a , b ] (dikenal juga sebagai


integral Riemann dari fungsi f pada [ a , b ]) ditulis dengan lambang :

b n
lim ¿
I =∫ f ( t ) dt=‖∆‖ →0∑ f ( c 1 ) ∆ t 1 ¿bila limit ini ada.
a i=1

Integral tak tentu dari fungsi real didefinisikan sebagai invers dari
diferensial atau anti diferensial yang merupakan suatu bentuk yang paling umum

dari anti turunan. Kita mengatakan bahwa ∫ f ( t ) dt =g ( t )+C pada suatu selang D
jika g ' ( t )=f ( t ) ∀ t ∈ D. Fungsi g merupakan suatu anti turunan dari fungsi f pada
selang D, sedangkan bentuk yang paling umum dari anti turunan ini, yaitu
y=g ( t ) +C, C konstanta sebarang dinamakan anti diferensial dari fungsi f pada
selang D.

19
Konsep integral tentu dan tak tentu dari fungsi vektor dirancang dengan
cara serupa dengan integral tentu dan tak tentu dari fungsi real, demikian juga
berbagai sifat dan rumusnya.

3.1. Integral Fungsi Vektor


Konstruksi integral tentu untuk fungsi vektor diberikan dalam definisi berikut.

Definisi 1.

Misalkan fungsi vektor X =F ( t )=f 1 ( t ) e1 +…+ f n ( t ) e n terdefinisi pada selang


tertutup [ a , b ] dan ∆ suatu partisi untuk selang [ a , b ] dengan panjang partisi

‖∆‖=1≤maks t −t i−1) . Misalkan pula c i ∈ [ t i−1 , t i ] , i=1,2 ,… , n dan I suatu vektor


i ≤n( i

n
di Rn. ∀ ε >0 ∃ δ >0 ∋‖∆‖<δ → ‖ ‖
∑ F ( c 1 ) ∆ t1 −I
i=1
<ε untuk setiap partisi ∆

dengan ‖∆‖< δ dan untuk sebarang pemilihan c i ∈ [ t i−1 , t i ] , i=1,2 ,… , n .

Syarat keterintegralan Riemann pada definisi di atas seringkali ditulis

n
lim ¿¿
‖∆‖→ 0 ∑ F ( c 1 ) ∆ t 1 ada. Selanjutnya integral dari fungsi vektor F pada [ a , b ]
i=1

atau integtal Riemann dari fungsi vektor F pada [ a , b ] ditulis dengan lambang

b n
lim ¿
I =∫ F ( t ) dt=‖ ∆‖→ 0∑ F ( c1 ) ∆t 1 ¿ bila limit ini ada.
a i=1

Seperti pada konsep limit fungsi vektor yang dapat dituliskan sebagai
limit dari komponen vektornya yang berbentuk fungsi real, kita juga
mempunyai hasil yang serupa untuk integral fungsi vektor. Dalam hal ini
fungsi vektor F terintegralkan pada [ a , b ] jika dan hanya jika setiap
komponennya terintegralkan pada selang itu. Hasil ini kita nyatakan dalam

rumus berikut.∫ F ( t ) dt
a

Teorema 2.

20
Misalkan fungsi vektor X =F ( t )=f 1 ( t ) e1 +…+ f n ( t ) e n terdefinisi pada selang
tertutup [ a , b ]. Maka fungsi F terintegralkan pada [ a , b ] ↔ fungsi f 1
terintegralkan pada [ a , b ], i=1 , … , n. Integral tentu dari fungsi F dalam bentuk
komponennya adalah

b b b

a
(
∫ F ( t ) dt= ∫ f 1 ( t ) dt
a
) e 1+ …+¿
(∫
a
f n 1 alambentuk komponennya adala h kut . terintegralkan pada selang itu. hasil tuk integral fungsi ve

Sekarang kita akan berkenalan dengan konsep integral tak tentu dari
fungsi vektor. Anti turunan dari fungsi vektor F pada selang terbuka I
didefinisikan sebagai fungsi vektor G yang memenuhi G ' ( t ) =F ( t ) ∀ t ∈ I .

Seperti halnya dengan fungsi real, kita mempunyai bentuk yang paling
umum dari anti turunan ini yaitu X =G (t ) +C, C vektor konstan di Rn. Bentuk
ini dinamakan anti diferensial dari fungsi F pada selang I. Integral tak tentu
dari fungsi vektor F pada selang terbuka I didefinisikan sebagai anti

diferensial dari fungsi F pada I dan ditulis dengan lambang ∫. Dengan

demikian lambang ∫ F ( t ) dt=G ( t ) +C berarti bahwa G ' ( t ) =F ( t ) pada selang


I =D F ∩ D C. Seperti pada integral tentu, integral tak tentu dapat dinyatakan
pa;am bentuk komponen fungsi vektornya yang merupakan fungsi real.

3.2. Rumus-rumus Integral Fungsi Vektor


Berdasarkan kenyataan bahwa integral fungsi vektor dapat ditulis
sebagai integral dari komponennya yang berbentuk integral dari fungsi real,
kita mempunyai berbagai sifat penting dari integral fungsi vektor. Hasilnya
kita nyatakan dalam rumus berikut.
Teorema 3.
1. Jika fungsi vektor F kontinu pada [ a , b ], maka fungsi vektor F
terintegralkan pada [ a , b ].
2. Jika fungsi vektor F danG terintegralkan pada [ a , b ], p dan q konstanta
real, maka fungsi vektor p F+q G juga terintegralkan pada [ a , b ] dan

b b b

∫ ( p F ( t ) +q G ( t ) ) dt = p ∫ F ( t ) dt+q ∫ G ( t ) dt
a a a

Bukti :

21
Pilih partisi Pn yang membagi [ a , b ] menjadi n subselang yang sama
panjang. Jelas

b
n
∫ ( pF (t )+qG(t )) dt ¿ lim ∑ [ pF ( s i ) +qG ( si ) ] ∙ ∆i t
a n→ i=1

n n
¿ lim ∑ p ∙ F ( si ) ∙ ∆i t+ lim ∑ q ∙ G ( s i ) ∙ ∆ i t
n→ i=1 n→ i=1

n n
¿ lim p ∑ F ( s i ) ∙ ∆ i t +lim q ∑ G ( s i) ∙ ∆i t
n→ i=1 n→ i=1

n n
¿ p ∙ lim ∑ F ( si ) ∙ ∆i t+ q ∙ lim ∑ G ( s i ) ∙ ∆ i t
n→ i=1 n→ i=1

b b b

∫ ( pF (t )+qG(t )) dt= p ∫ F (t ) dt+ q ∫ G(t )


Jadi a a a

3. Jika fungsi vektor F terintegralkan pada [ a , b ] dan c ∈ [ a , b ], maka

b c b

∫ F ( t ) dt =∫ F ( t ) dt +∫ F ( t ) dt
a a c

Bukti:
Kasus a< c< b:
Bangun partisi Pn sehingga c suatu ujung sub selangTulis m: banyak sub
selang pada [a,c]

P: banyak sub selang pada [c,b]

Jelas

b n

∫ F ( t ) dt=lim
n→∞
∑ f ( si ) . ∆ it
a i=1

m p
¿ lim ∑ f ( si ) . ∆ i t+ lim ∑ f ( si ) . ∆ i x
n → ∞ i=1 p →∞ i =m +1

22
Tulis U k =s m+ kdan ∆ k z=∆m +k t

Jadi:

b m c b

∫ f ( t ) dt= lim ∑ f ( ti ) . ∆i t+ lim f ( Uk ) ∆ k z=∫ f ( t ) dt+∫ f ( t ) dt


m → ∞ i=1 p→∞
a a c

4. Teorema dasar kalkulus pertama


Misalkan fungsi vektor F kontinu pada [ a , b ]. Jika x ∈ [ a , b ] dan fungsi

x
vektor G didefinisikan oleh G ( x ) =∫ F ( x ) dt, a ≤ x ≤ b maka fungsi vektor
a

G terdiferensialkan pada [ a , b ] dengan G ' ( x )=F ( x ) ∀ x ∈ [ a , b ]

Bukti Teorema Dasar Kalkulus 1


Dipunyai teorema dasar Kalkulus Satu
x
Jika g kontinu pada [a,b], maka ∫ g ( t ) dt , x ϵ [ a , b ]
a

Mempunyai turunan pada selang [a,b] dengan


G ' ( x )=g ( x ) ∀ x ∈ [ a , b ]
Bukti :
Ambil sembarang x ∈[a , b] dan h>0 sehingga x=h<b.
G ( x +h )−G(x)
G ' ( x )=lim
h →0 h

x +h x
¿ lim
1
h→0 h [∫ a
g ( t ) dt −∫ g ( t ) dt
a
]
x +h a
¿ lim
1
h→0 h [∫ a
g ( t ) dt +∫ g ( t ) dt
x
]
x+h
1
¿ lim ∫ g ( t ) dt
h→0 h x

23
1
¿ lim . g ( c ) . h untuk suatu c dengan x ≤ c ≤ x +h
h→0 h

¿ lim g (c)
h→0

¿ lim g ( x +θ h ) , 0 ≤θ ≤ 1
h→0

¿ g lim ( x +θ h )
( h→0 )
¿ g ( x) .

5. Teorema dasar kalkulus kedua


Jika fungsi vektor G kontinu pada [ a , b ] dan terdapat fungsi vektos F yang
memenuhi F ' ( t) =G ( t ) ∀ t ∈ [ a , b ] , maka
b b

∫ G ( t ) dt =∫ F ' (t ) dt =F ( b )−F ( a )
a a

Bukti Teorema dasar kalkulus kedua

Bangun partisi Pn untuk [ a , b ].

Jelas F’(t) kontinu pada [ t i−1 , t i ] .

Pilih si=¿¿ [ t i−1, t i ]

b n
'
Jelas ∫ F (t)dt =lim ∑ F ' ( s i ) ∙ ∆i t
a n → i=1

n
¿ lim ∑ F ' ( s i ) ∙ ∆ i t
n→ i=1

n
¿ lim ∑ F ( t i) −F ( t i−1 )
n→ i=1

¿ lim ¿
n→

¿ lim [ F ( t n )−F ( t 0 ) ]
n→

24
¿ lim [ F ( b )−F ( a ) ]
n→

¿ F ( b )−F( a).

b b

Jadi ∫ G ( t )=¿∫ F ' ( t ) dt=F ( b )−F (a) ¿


a a

6. Jika fungsi vektor F di Rn terintegralkan pada [ a , b ] dan C suatu vektor di


Rn , maka perkalian scalar C . F juga terintegralkan pada [ a , b ] dan

b b

memenuhi C ∫ F ( t ) dt =∫ C . F ( t ) dt
a a

Bukti :
Misalkan F ( t )=f 1 ( t ) e1 +…+ f n (t )e n dan C=c 1 e1 +…+ c n e n maka

b
C ∙∫ F ( t ) dt
a

b b

¿ ( c 1 e1 +…+ c n e n ) ∙
(( ) (∫
∫ f 1 ( t ) dt e 1+ …+
a a
))
f n ( t ) dt e n

b b
¿ c 1∫ f 1 (t ) dt+ …+¿ c n∫ f n ( t ) dt ¿
a a

b
¿ ∫ ( c 1 f 1 ( t ) +…+ c n f n ( t ) ) dt
a

b
¿ ∫ C . F ( t ) dt
a

Terbukti.

7. Jika fungsi vektor F dan fungsi real ‖F‖ terintegralkan pada [ a , b ], maka

b b

‖ ‖
∫ F ( t ) dt ≤ ∫‖F ( t )‖dt
a a

25
Bukti :
b

Misalkan C=∫ F ( t ) dt . Jika C=0 maka rumus 6 berlaku trivial. Jika C ≠ 0


a

maka dengan menggunakan sifat perkalian skalar dua vektor, rumus 6 dan
ketaksamaan Cauchy-Schwarz diperoleh
2
‖C‖ =C ∙C
b
¿ C ∙∫ F ( t ) dt
a

b b b
¿ ∫ C . F ( t ) dt ≤∫‖C . F ( t )‖ dt ≤∫‖C‖‖ F ( t )‖ dt
a a a

b
¿‖C‖∫‖F (t)‖ dt
a

Selanjutnya dari C ≠ 0 diperoleh ‖C‖>0; ini mengakibatkan

b b

‖ a

‖C‖= ∫ F ( t ) dt ≤ ∫‖F (t)‖dt
a
 Terbukti.

3.3. Integral Garis


Integral garis merupakan bentuk generalisasi dari integral tentu dengan

selang [ a , b ]. Bentuk paling sederhana dari integral garis adalah ∫ f ( x ) dx


a

dimana daerah pengintegralannya berupa garis lurus pada interval [ a , b ]. Jika


daerah pengintegralan ini kita ubah dengan mengganti himpunan [ a , b ] dengan

kurva C pada bidang xy, integral yang dihasilkan adalah ∫ f ( x , y ) ds yang kita
C

sebut integral garis/integral kurva.


Andaikan C merupakan suatu kurva mulus yang dipartisis menjadi n
busur-busur pendek s1 , s 2 , … , s n. Misalkan titik Pk berada pada busur sk
sedangkan ∆ s k adalah panjang busur sk . Selanjutnya dibentuk Jumlah
Riemann sebagai berikut

∑ f ( Pk ) ∆ sk
k =1

26
Sehingga dalam kasus ∆ → 0, ∆=maks { ∆ s k }

∫ f ds=lim ∑ f ( P k ) ∆ s k
∆ → 0 k=1
C

Disebut integral garis.

Kita dapat menyatakan integral garis tersebut dengan parameter t


2

dengan menggunakan ds= [ x ' ( t ) ] + [ y ' ( t ) ] dt

Sehingga

b
2
∫ f ( x , y ) ds=∫ f ( x ) f ( y )
C a
√ [ x ' ( t ) ] + [ y ' ( t ) ] dt
Untuk ruang berdimensi tiga

b
2
∫ f ( x , y , z ) ds=∫ f ( x ) f ( y ) f ( z ) √ [ x ' ( t ) ] + [ y ' ( t ) ]+ [ z ' ( t ) ] dt .
C a

27
Contoh soal:

1. Tentukanlah ∫ ( e−5 t i+t 2 et +1 j ) dt.


1
1 t t2
2. Hitunglah ∫
0
( i+ j+
1+ t 2 1+t 2 1+t 2
k dt .)
π
4
3. Hitunglah ∫ ( sin t i+sin 2 t sect j−cos 8 t k ) dt .
0

2
4. Hitunglah ∫ x y ds dengan C ditentukan oleh persamaan x=cos t dan ¿ sin t ,
C

π
0≤t ≤ .
2
Penyelesaian:

1. Komponen i
−1
∫ e−5 t dt= 5 ∫
e−5 t d (−5 t )

1
¿− e−5 t +C 1 .
5

Komponen j
3
1 3

∫ t 2 et +1 dt= 3 ∫ e t +1 d ( t3 +1 )
3

et +1
¿ + C2 .
3
Jadi,
3
t +1
) j dt = −1 e−5t +C1 i+ e +C 2 j .
) ( )
3

∫(e −5 t 2 t +1
i+t e ( 5 3

2. Strategi:
Misal:
t=tan y √ 1+t2
t
dt=sec 2 y dy
1+t 2=1+tan 2 y y

1
¿ sec 2 y

28
29
Komponen i

1 1
1 sec 2 y dy
dt
∫ 1+t 2 ∫ sec2 y
=
0 0

1
¿ ∫ y dy
0

1
¿ [ y ]0

¿ 1.

Komponen j

1 1
t tan y . sec 2 y dy
∫ 1+t 2 =∫ sec2 y
0 0

1
¿ ∫ tan y dy
0

1
sin y
¿∫ dy
0 cos y

1
d ( cos y )
¿−∫
0 cos y

1
¿−[ ln ( cos y ) ] 0

¿−ln ( cos 1 ).

Komponen k

1 1
t2 tan 2 y . sec 2 y dy
∫ 1+t 2 ∫
=
sec 2 y
0 0

1
¿ ∫ tan 2 y dy
0

1
¿ ∫ ( sec 2 y−1 ) dy
0

30
1 1
2
¿ ∫ sec y dy−∫ dy
0 0

1 1
¿ [ tan y ] 0−[ y ] 0

¿ tan ( 1 )−1.

Jadi

1
1 t t2

0
( i+ j+
1+ t 2 1+t 2 1+t 2 )
k dt=i−ln ( cos 1 ) j+ ( tan ( 1 ) −1 ) k .

Cara lain

1
2
Komponen x = x(t) = 1+t

1 1

∫ x (t ) dt = ∫ 1+t1 2 dt = [ π
tan−1 1 − tan−1 0 = −0=
4
π
4 ]
0 0

t
Komponen y = y(t) = 1+t 2

1 1 1 1
t 1 d ( 1+t 2 ) 1 1

0
y ( t ) dt = ∫ 1+t 2
0
dt = ∫
2 0 1+t 2
= ln|1+t 2| = ln 2
2 0 2
[ ]
t2
2
Komponen z = z(t) = 1+t

1 1 2 1 1 1
(1+t 2 )−1 2
∫ z ( t ) dt = ∫ 2 dt = ∫ 2 dt = ∫ 1+t 2 dt−∫ dt 2
t
0 0 1+t 0 1+t 0 1+t 0 1+t
1
−1 1 1 −1 1 π
¿ ∫ dt−[ tan t ]0 = t ]0 − tan (t )]0 = 1−
0
4

Jadi,

1
1 t t2 π 1 π

0
[ 1 +t 2
i +
1+t 2
j +
1+t 2 4 2 ]
k dt = i + ln 2 j + 1− k
4 ( ) ( )

31
π
4
3. ∫ ( sin t i+sin 2 t . sec t j−cos 8 t k ) dt
0

Komponen i
π
4 π
4
∫ sin t dt=−[ cos t ] 0
0

¿− ( √22 −1)
2−√ 2
¿ .
2
Komponen k
π
4 π
−1
−∫ cos 8 t k dt= [ sin 8t ] 04 =0.
0 8
Komponen j
π π
4 4

∫ sin 2 t . sec t dt=∫ 2. sincost . tcos t dt


0 0

π
4

¿ ∫ 2 sin t dt
0

π
¿−[ 2cos t ] 04
¿−( √ 2−2 )
¿ 2− √2.
Jadi
π
4

∫ ( sin t i+sin 2 t sect j−cos 8 t k ) dt=


0
( 2−2√ 2 )i+(2− √2) k .
dx dy
4. Dari persamaan kurva diperoleh =−sin t dan =cos t , maka
dt dt
π
2

∫ x 2 y ds=∫ ( cos t )2 ( sin t ) √ ( sint )2 + ( cos t )2 dt


C 0

32
π
2

¿−∫ cos2 t sin t dt


0

1
¿− .
3

33

Anda mungkin juga menyukai