Anda di halaman 1dari 23

ANALISA MASALAH

1. Identifikasi Masalah

Masalah
No Upaya Target Pencapaian Kesenjangan
Upaya Kesehatan Masyarakat Essensial
1 Promosi Kesehatan
a. Persentasi pendu- 52 % 8575 (27 %)
duk yang memiliki (jumlah
jaminan kesehatan kepemilikan
jkn/jumlah
jiwa* 100)
b. Persentase desa sia- 5% 0% Sudah terbentuknya
ga purnama ma- Desa Siaga, namun
ndiri. tidak rutin pembinaan
c. Jumlah kebijakan 3 1 2 Telah terdapat
publik berwawasan kebijakan publik yang
kesehatan. dikeluarkan untuk
bidang kesehatan,
hanya tentang kader
d. Persentase desa 20% 4 2 Desa yang
yang menggunakan dana
memanfaatkan desa untuk kesehatan
dana desa untuk sebanyak 4 desa yaitu
kesehatan minimal Desa Cisait, Desa
10%. Kramatjati, Desa
Dukuh, dan Desa
Sukajadi
e. Jumlah Dunia 8 1 2 Telah terdapat dunia
Usaha yang usaha yang
Memanfaatkan memanfaatkan CSR
CSR-nya untuk nya untuk program
program kesehatan. kesehatan, namun
(Desa Silebu dan belum untuk semua
Desa Sukajadi) desa. CSR yang
memfasilitasi yaitu
dari PT. Indah Kiat
f. Jumlah Ormas yg 6 1 Telah terdapat ormas
memanfaatkan yang memanfaatkan
sumberdayanya sumberdayanya untuk
untuk mendukung mendukung
kesehatan. kesehatan (PKK).
g. Jumlah tema pesan 10 16 Penyuluhan dalam
dalam komunikasi gedung dan luar
informasi & gedung telah
edukasi (KIE) dilaksanakan namun
kepada masyarakat. tidak semua
menggunakan alat
KIE
h. Persentase 100% 50 % 50 % Puskesmas
puskesmas yang mempromosikan
mempromosikan kesehatan hanya
kesehatan 50%, karena belum
(advokasi, bina ada dukungan lintas
suasana, gerakan sektor berupa
pemberdayaan). kebijakan lintas
sektor untuk
mendukung
kesehatan, MoU atau
dokumen kerjasama
dalam bidang
kesehatan.
i. Persentase 75% 75% Pada Tingkat
posyandu purnama Posyandu, terdapat 27
mandiri. posyandu, yang sudah
menjadi Posyandu
Mandiri sebanyak 2
Posyandu pada Desa
Cisait, dan 25
Posyandu merupakan
Posyandu Purnama.
j. Persentase PHBS 80% 54% 26 % Pembinaan PHBS
tatanan rumah rumah tangga, 54%
tangga. belum tercapai.

2. Penetapan Prioritas Masalah

Dari masalah-masalah yang ditemukan tersebut terlebih dahulu akan ditentukan prioritas
masalahnya mengingat terbatasnya sumber daya langkah awal yang diambil adalah dengan
menentukan prioritas SPM. Untuk memprioritaskan SPM tersebut di gunakan metode USG
(Urgency, Seriuosness, Growth).
Definisi USG adalah suatu metode USG yang merupakan cara dalam menetapkan urutan
prioritas, dengan memperhatikan urgensinya, keseriusannya, dan adanya kemungkinan
berkembangnya masalah. keseriusan, dan perkembangan isu dengan menentukan skala nilai
1 – 5 atau 1 – 10. Isu yang memiliki total skor tertinggi merupakan isu prioritas. Untuk lebih
jelasnya, dapat diuraikan sebagai berikut:
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2016 tentang
Pedoman Manajemen Puskesmas (Buka Halaman 30)
Definisi USG :
A. Urgent adalah tingkat kegawatan masalah, artinya apabila masalah tidak segera
ditanggulangi akan semakin gawat dengan bobot skor :
1. 5 = sangat gawat
2. 4 = gawat
3. 3 = cukup gawat
4. 2 = kurang gawat
5. 1 = tidak gawat
B. Seriousness adalah tingkat keseriusan sebuah masalah, apabila masalah tidak
diselesaikan akan berakibat serius pada masalah lain dengan bobot skor :
1. 5 = sangat serius
2. 4 = serius
3. 3 = cukup serius
4. 2 = kurang serius
5. 1 = tidak serius
C. Growth adalah besar atau luasnya masalah berdasarkan pertumbuhan atau
perkembangan, artinya apabila masalah tersebut bila tidak segera ditangani
pertumbuhannya akan berjalan terus. Dengan bobot skor :
1. 5 = sangat serius
2. 4 = serius
3. 3 = cukup serius
4. 2 = kurang serius
5. 1 = tidak serius
5 Berikut adalah matriks penentuan prioritas masalah yang akan diselesaikan

No Masalah U S G Total
1 Masih banyak masyarakat yang belum 3 5 4 12
masuk peserta JKN.
2 Belum terbentuknya Desa Siaga. 5 5 5 15
3 Belum terdapat kebijakan publik yang 5 5 5 15
dikeluarkan untuk bidang kesehatan.
4 Belum ada dana desa yang dikeluarkan 3 4 4 11
untuk bidang kesehatan.
5 Belum terdapat dunia usaha yang 3 3 3 9
memanfaatkan CSR nya untuk program
kesehatan.
6 Belum terdapat ormas yang 3 3 3 9
memanfaatkan sumberdayanya untuk
mendukung kesehatan.
7 Jumlah tema pesan KIE ke masyarakat 5 5 5 15
masih rendah
8 Puskesmas mempromosikan kesehatan 5 5 5 15
hanya 50%, karena belum ada dukungan
lintas sektor berupa kebijakan lintas
sektor untuk mendukung kesehatan, MoU
atau dokumen kerjasama dalam bidang
kesehatan.
9 Persentase posyandu purnama mandiri. 5 4 3 12
10 PHBS rumah tangga, 54% belum tercapai 3 5 4 12

3. Akar penyebab masalah

A. FISHBONE DIAGRAM
Dr. Kaoru Ishikawa seorang ilmuwan Jepang, merupakan tokoh kualitas yang
telah memperkenalkan user friendly control, Fishbone cause and effect diagram,
emphasised the ‘internal customer’ kepada dunia. Ishikawa juga yang pertama
memperkenalkan 7 (seven) quality tools: control chart, run chart, histogram, scatter
diagram, pareto chart, and flowchart yang sering juga disebut dengan “7 alat
pengendali mutu/kualitas” (quality control seven tools).
Diagram Fishbone dari Ishikawa menjadi satu tool yang sangat populer dan
dipakai di seluruh penjuru dunia dalam mengidentifikasi faktor penyebab
problem/masalah. Alasannya sederhana. Fishbone diagram tergolong praktis, dan
memandu setiap tim untuk terus berpikir menemukan penyebab utama suatu
permasalahan. Diagram “tulang ikan” ini dikenal dengan cause and effect diagram.
Kenapa Diagram Ishikawa juga disebut dengan “tulang ikan”?…..ya memang kalau
diperhatikan rangka analisis diagram Fishbone bentuknya ada kemiripan dengan ikan,
dimana ada bagian kepala (sebagai effect) dan bagian tubuh ikan berupa rangka serta
duri-durinya digambarkan sebagai penyebab (cause) suatu permasalahan yang timbul.

Dari gambar di atas terlihat bahwa faktor penyebab problem antara lain
(kemungkinan) terdiri dari : material/bahan baku, mesin, manusia dan metode/cara.
Semua yang berhubungan dengan material, mesin, manusia, dan metode yang “saat
ini” dituliskan dan dianalisa faktor mana yang terindikasi “menyimpang” dan
berpotensi terjadi problem. Ingat,..ketika sudah ditemukan satu atau beberapa
“penyebab” jangan puas sampai di situ, karena ada kemungkinan masih ada akar
penyebab di dalamnya yang “tersembunyi”. Bahasa gaulnya, jangan hanya melihat
yang gampang dan nampak di luar.
Ishikawa mengajarkan kita untuk melihat “ke dalam” dengan bertanya
“mengapa?……mengapa?…dan mengapa?”. Hanya dengan bertanya “mengapa”
beberapa kali kita mampu menemukan akar permasalahan yang sesungguhnya.
Penyebab sesungguhnya, bukan gejala.
Dengan menerapkan diagram Fishbone ini dapat menolong kita untuk dapat
menemukan akar “penyebab” terjadinya masalah khususnya di industri manufaktur
dimana prosesnya terkenal dengan banyaknya ragam variabel yang berpotensi
menyebabkan munculnya permasalahan. Apabila “masalah” dan “penyebab” sudah
diketahui secara pasti, maka tindakan dan langkah perbaikan akan lebih mudah
dilakukan. Dengan diagram ini, semuanya menjadi lebih jelas dan memungkinkan kita
untuk dapat melihat semua kemungkinan “penyebab” dan mencari “akar”
permasalahan sebenarnya
B. Bagaimana Menggunakan Diagram Fishbone?
Ya….inilah bagian yang paling penting. Ishikawa san telah menciptakan ide
cemerlang yang dapat membantu dan memampukan setiap orang atau
organisasi/perusahaan menyelesaikan masalah dengan tuntas sampai ke akarnya.
Kumpulkanlah beberapa orang yang mempunyai pengalaman dan keahlian memadai
menyangkut problem yang terjadi. Semua anggota tim memberikan pandangan dan
pendapat dalam mengidentifikasi semua pertimbangan mengapa masalah tersebut
terjadi. Kebersamaan sangat diperlukan di sini, juga kebebasan memberikan pendapat
dan pandangan setiap individu.

C. Penggunaan
1. Melakukan identifikasi penyebab masalah;
2. Mengkatagorikan berbagai sebab potensial suatu masalah dengan cara yang sistematik;
3. Mencari akar penyebab masalah;
4. Menjelaskan hubungan sebab akibat suatu masalah.
D. Pedoman Pelaksanaan
1. Identifikasi semua penyebab yang relevan berdasarkan fakta dan data;
2. Karakteristik yang diamati benar-benar nyata berdasarkan fakta, dapat diukur atau
diupayakan dapat diukur;
3. Dalam diagram tulang ikan, faktor-faktor yang terkendali sedapat mungkin seimbang
peranan atau bobotnya;
4. Faktor penyebab yang ditemukan adalah yang mungkin dapatdiperbaiki, bukan yang tidak
mungkin diperbaiki ataudiselesaikan;
5. Dalam menyelesaikan fakta dimulai pada tulang yang kecil,selanjutnya akan memperbaiki
faktor tulang besar yang akanmenyelesaikan masalah;
6. Perlu dicatat masukan yang diperoleh selama pertemuan dalam pembuatan diagram tulang
ikan.
E. Fishbone Diagram sering juga disebut sebagai diagram Sebab Akibat.
Dimana dalam menerapkan diagram ini mengandung langkah-langkah sebagai berikut:
 Menyiapkan sesi sebab-akibat
 Mengidentifikasi akibat
 Mengidentifikasi berbagai kategori.
 Menemukan sebab-sebab potensial dengan cara sumbang saran.
 Mengkaji kembali setiap kategori sebab utama
 Mencapai kesepakatan atas sebab-sebab yang paling mungkin
F. Kelebihan diagram tulang ikan
 Lebih terstruktur;
 Mengkatagorikan berbagai sebab potensial dari suatu masalah dengan cara
yang sistematik;
 Mengajarkan pada tim dan individu mengenai proses serta prosedur yang
berlaku atau yang baru.

G. Kekurangan diagram tulang ikan


 tulang ikan belum menggambarkan sebab yang sebenarnya (paling mungkin)
harus didukung data.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2016 tentang


Pedoman Manajemen Puskesmas (Buka Halaman 31)
6 Akar Penyebab Masalah

MANUSIA METODE

Tenaga kesehatan Belum terbentuknya


kurang 10 indikator FKMD
mengetahui teknik Pengetahuan tentang pembentukan Desa
pembentukan pentingnya Desa Siaga masih banyak
Desa Siaga Siaga rendah belum terpenuhi Telah terdapat
peraturan desa
Kurangnya tentang kesehatan,
sosialisasi Desa hanya tentang kader
Pelaksana promkes tidak
sesuai kompetensinya Siaga dari nakes
Telah
Terbentuknya
Desa Siaga,
namun tidak rutin
pembinaan
Belum terdapat
ambulance desa yang
Pihak Desa yang
merupakan syarat desa
belum mengeluarkan Masyarakat masih
siaga
dana desa untuk mengesampingkan
kesehatan pemderdayaan
masyarakat dalam bidang
kesehatan
Belum dilakukannya
advokasi untuk dana
desa
SARANA DANA LINGKUNGAN
MANUSIA METODE
Tidak pernah
Desa belum
berdiskusi tentang
mengetahui masalah
masalah kesehatan
kesehatan apa untuk
di desa
dibuat kebijakan

Tenaga kesehatan Belum terbentuknya


belum melakukan FKMD
advokasi

Telah terdapat
kebijakan publik
yang dikeluarkan
untuk bidang
Perangkat desa kesehatan, hanya
beranggapan peraturan
tentang Kader
desa tentang kesehatan
belum penting

Belum pernah sosialisasi


tentang kebijakan
kesehatan

LINGKUNGAN
MANUSIA METODE

Kurangnya tenaga
Media KIE kurang
kesehatan
inovatif
Kurangnya
koordinasi dengan Pelaksana promkes
pelaksana program tidak sesuai Kurangnya kompetensi
lain kompetensinya ( S1 pelaksana promkes untuk
Kesmas/ kesling)
membuat media KIE

Jumlah tema
pesan KIE ke
masyarakat
masih rendah

Alat untuk
melaksanakan KIE
terbatas Jarak pelaksanaan
KIE antar desa jauh

SARANA
MANUSIA METODE

Kurangnya tenaga Pelaksana promkes


kesehatan tidak mengetahui
tata cara advokasi
dan bina suasana
Pelaksana promkes
Kurangnya tidak sesuai
kerjasama dengan kompetensinya Pelaksana promkes
lintas sektor tidak sesuai
kompetensinya
Puskesmas
mempromosikan
kesehatan hanya
50%

Sulit meminta dana


desa untuk kegiatan
Jarak pelaksanaan pemberdayaan
promosi kesehatan masyarakat bidang Kepedulian masyarakat tentang
antar desa jauh kesehatan pemberdayaan masyarakat
kurang

Kurangnya
advokasi ke desa
SARANA DANA LINGKUNGAN
MANUSIA METODE

Belum pernah
Pengetahuan tentang melakukan penyuluhan
pentingnya JKN
rendah
Tidak membayar Belum pernah bekerja
premi sehingga JKN Persepsi bahwa JKN sama dengan BPJS
tidak aktif semua gratis dari untuk memberikan
pemerintah penyuluhan
Rendahnya
kepemilikan
JKN.

Jarak antara BPJS Tidak ada dana


dan puskesmas yang untuk penyuluhan
jauh JKN
Kepedulian
masyarakat tentang
kepemilikan JKN
masih rendah

SARANA DANA
LINGKUNGAN
MANUSIA METODE

Belum optimalnya Kurangnya


Kurangnya tenaga peran petugas pada pengetahuan
kesehatan di kegiatan PHBS pelaksana program Kurangnya
puskesmas tentang PHBS penyuluhan tentang
PHBS
Kurangnya Kompetensi
pengetahuan pelaksana promkes Belum aktifnya
masyarakat tentang tidak sesuai FKMD
PHBS
PHBS rumah
tangga rendah.

Belum ada
dukungan lintas
Akses rumah sektor tentang PHBS
tangga yang jauh
Kepedulian
Belum ada kader masyarakat tentang
PHBS PHBS masih kurang

SARANA LINGKUNGAN
MANUSIA METODE
Pengetahuan pentingnya
dana desa untuk
kesehatan masih rendah
Advokasi dengan
kecamatan dan desa
Kurangnya yang kurang
sosialisasi dana desa

Belum ada dana


desa yang
dikeluarkan untuk
bidang kesehatan.
Kegiatan pemberdayaan
masyarakat kesehatan
tidak dianggarkan dalam
perencanaan desa Belumada dukungan
dana desa dari
kecamatan dan desa
Analisis masalah
kesehatan yang Belum aktifnya
kurang dalam FKMD di desa
musrenbang

DANA LINGKUNGAN
MANUSIA METODE

Pengetahuan industri
untuk bekerjasama
Kurang melakukan
dalam CSR masih
rendah advokasi

Belum terdapat dunia


usaha yang
memanfaatkan CSR
nya untuk program
kesehatan.

Tidak terdapat
industri besar di Kurang dukungan
wilayah kerja lintas sektor
puskesmas

SARANA LINGKUNGAN
MANUSIA METODE

advokasi dan bina


suasana masih
kurang
Kurangnya
kerjasama dengan
lintas sektor (3,3,3)
Persentase
posyandu
purnama
mandiri
Sulit meminta dana
desa untuk
Jarak posyandu pelaksanaan kegiatan Kepedulian masyarakat tentang
yang masih posyandu pemberdayaan masyarakat
cukup jauh kurang

SARANA DANA LINGKUNGAN


MANUSIA METODE

Pengetahuan ormas Kurangnya


tentang kesehatan sosialisasi kesehatan
masih rendah kepada ormas

Telah terdapat ormas


yang memanfaatkan
sumberdayanya untuk
mendukung kesehatan,
hanya PKK saja

Belum ada data Kuragnya dukungan


ormas di Puskesmas lintas sektor

SARANA LINGKUNGAN
Alternatif Pemecahan Pemecahan Masalah
No Prioritas Masalah Penyebab Masalah Keterangan
Masalah Terpilih

1 Belum terbentuknya a. Tenaga kesehatan kurang 1. Sosialisasi tentang Membentuk dan melakukan
Desa Siaga. mengetahui teknik pembentukan Desa Siaga. pembinaan Forum Kesehatan
Desa Siaga. 2. Membentuk dan Masyarakat Desa (FKMD).
b. Pelaksana promkes tidak sesuai melakukan pembinaan
kompetensinya. Forum Kesehatan
c. Pengetahuan tentang pentingnya Masyarakat Desa
Desa Siaga rendah. (FKMD).
d. Kurangnya sosialisasi Desa 3. Advokasi peraturan
Siaga dari nakes. desa.
e. 10 indikator pembentukan Desa 4. Advokasi mengenai
Siaga masih banyak belum ambulance desa.
terpenuhi. 5. Advokasi dana desa.
f. Belum terbentuknya FKMD.
g. Belum terdapat peraturan desa
tentang kesehatan.
h. Pihak Desa yang belum
mengeluarkan dana desa untuk
kesehatan.
i. Belum dilakukannya advokasi
untuk dana desa.
j. Masyarakat masih
mengesampingkan
pemderdayaan masyarakat
dalam bidang kesehatan.
k. Belum terdapat ambulance desa
yang merupakan syarat desa
siaga.
2 Belum terdapat a. Desa belum mengetahui 1. Melaksanakan Survei Melaksanakan SMD dan
kebijakan publik yang masalah kesehatan apa untuk Mawas Diri dan MMD.
dikeluarkan untuk dibuat kebijakan. Musyawarah
bidang kesehatan. b. Tenaga kesehatan belum Masyarakat Desa untuk
melakukan advokasi. mengetahui masalah
c. Tidak pernah berdiskusi tentang kesehatan di masing –
masalah kesehatan di desa. masing desa.
d. Belum terbentuknya FKMD. 2. Membentuk dan
e. Perangkat desa beranggapan melakukan pembinaan
peraturan desa tentang Forum Kesehatan
kesehatan belum penting. Masyarakat Desa
f. Belum pernah sosialisasi (FKMD).
tentang kebijakan kesehatan. 3. Sosialisasi tentang
kebijakan kesehatan
3 Jumlah tema pesan KIE a. Kurangnya koordinasi dengan 1. Melakukan penyuluhan Penyuluhan individu,
ke masyarakat masih pelaksana program lain. individu, kelompok dan kelompok dan massa.
rendah. b. Kurangnya tenaga kesehatan. massa.
c. Pelaksana promkes tidak sesuai 2. Koordinasi dengan
kompetensinya. pelaksana program lain
d. Alat untuk melaksanakan KIE untuk melaksanakan
terbatas. KIE.
e. Jarak pelaksanaan KIE antar
desa jauh.
f. Media KIE kurang inovatif.
g. Kurangnya kompetensi
pelaksana promkes untuk
membuat media KIE.
4 Puskesmas a. Kurangnya tenaga kesehatan. 1. Melakukan advokasi Melakukan bina suasana atau
mempromosikan b. Pelaksana promkes tidak sesuai mengenai kesehatan. kerjasama untuk MoU dengan
kesehatan hanya 50% kompetensinya. 2. Melakukan bina lintas sektor.
c. Pelaksana promkes tidak suasana atau kerjasama
mengetahui tata cara advokasi untuk MoU dengan
dan bina suasana. lintas sektor.
d. Pelaksana promkes tidak sesuai 3. Melaksanakan SMD
kompetensinya. dan MMD.
e. Jarak pelaksanaan promosi
kesehatan antar desa jauh.
f. Sulit meminta dana desa untuk
kegiatan pemberdayaan
masyarakat bidang kesehatan.
g. Kurangnya advokasi ke desa.
h. Kepedulian masyarakat tentang
pemberdayaan masyarakat
kurang.
i. Kurangnya kerjasama dengan
lintas sektor.
5 Masih banyak a. Tidak membayar premi Melakukan kerjasama Melakukan kerjasama dengan
masyarakat yang belum sehingga JKN tidak aktif. dengan BPJS untuk BPJS untuk melakukan
masuk peserta JKN. b. Pengetahuan tentang pentingnya melakukan penyuluhan. penyuluhan.
JKN rendah.
c. Persepsi bahwa JKN semua
gratis dari pemerintah.
d. Belum pernah melakukan
penyuluhan.
e. Belum pernah bekerja sama
dengan BPJS untuk memberikan
penyuluhan.
f. Jarak antara BPJS dan
puskesmas yang jauh.
g. Tidak ada dana untuk
penyuluhan JKN.
h. Kepedulian masyarakat tentang
kepemilikan JKN masih rendah.
6 Pembinaan PHBS a. Kurangnya tenaga kesehatan di 1. Membentuk kader Refreshing kader PHBS.
rumah tangga rendah. puskesmas. PHBS.
b. Kurangnya pengetahuan 2. Melakukan penyuluhan
masyarakat tentang PHBS. PHBS.
c. Belum optimalnya peran 3. Mengaktifkan FKMD.
petugas pada kegiatan PHBS. 4. Refreshing kader
d. Kurangnya pengetahuan PHBS.
pelaksana program tentang
PHBS.
e. Kompetensi pelaksana promkes
tidak sesuai.
f. Kurangnya penyuluhan tentang
PHBS.
g. Akses rumah tangga yang jauh.
h. Belum ada kader PHBS.
i. Belum ada dukungan lintas
sektor tentang PHBS.
j. Kepedulian masyarakat tentang
PHBS masih kurang.
k. Belum aktifnya FKMD.
7 Belum ada dana desa a. Pengetahuan pentingnya dana 1. Mengaktifikan FKMD. Advokasi.
yang dikeluarkan untuk desa untuk kesehatan masih 2. Advokasi.
bidang kesehatan. rendah. 3. Mengikuti kegiatan
b. Kurangnya sosialisasi dana Musrenbang tingkat
desa. desa dan kecamatan.
c. Advokasi dengan kecamatan
dan desa yang kurang.
d. Kegiatan pemberdayaan
masyarakat kesehatan tidak
dianggarkan dalam perencanaan
desa.
e. Analisis masalah kesehatan
yang kurang dalam musrenbang.
f. Belum aktifnya FKMD di desa.
g. Belumada dukungan dana desa
dari kecamatan dan desa.
8 Belum terdapat dunia a. Pengetahuan industri untuk Advokasi dengan industri Advokasi dengan industri
usaha yang bekerjasama dalam CSR masih agar bekerjasama dalam agar bekerjasama dalam hal
memanfaatkan CSR nya rendah. hal CSR. CSR.
untuk program b. Tidak terdapat industri besar di
kesehatan. wilayah kerja.
c. Kurang dukungan lintas sektor.
d. Kurang melakukan advokasi.
9 Belum terdapat ormas a. Pengetahuan ormas tentang 1. Sosialisasi program Sosialisasi program kesehatan
yang memanfaatkan kesehatan masih rendah kesehatan
sumberdayanya untuk b. Belum ada data ormas di 2. Advokasi.
mendukung kesehatan. Puskesmas
c. Kurangnya sosialisasi kesehatan
kepada ormas
d. Kuragnya dukungan lintas
sektor
7 Cara Pemecahan Masalah

Anda mungkin juga menyukai