0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
996 tayangan16 halaman

Diskusi Topik Blok 6.C Minggu 1: Asuhan Kebidanan Bakterial Vaginosis

Bacterial vaginosis (BV) adalah kondisi ketidaknormalan flora vagina yang ditandai dengan dominasi bakteri anaerob seperti Gardnerella vaginalis yang menggantikan Lactobacillus, menyebabkan peningkatan pH vagina. Gejalanya berupa keputihan berbau tidak sedap. Diagnosanya didasarkan pada pemeriksaan cairan vagina dan pH. Faktor risikonya antara lain teknik cebok dan douching yang salah serta penggunaan antibiotik."

Diunggah oleh

Dara Tri prawangsa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
996 tayangan16 halaman

Diskusi Topik Blok 6.C Minggu 1: Asuhan Kebidanan Bakterial Vaginosis

Bacterial vaginosis (BV) adalah kondisi ketidaknormalan flora vagina yang ditandai dengan dominasi bakteri anaerob seperti Gardnerella vaginalis yang menggantikan Lactobacillus, menyebabkan peningkatan pH vagina. Gejalanya berupa keputihan berbau tidak sedap. Diagnosanya didasarkan pada pemeriksaan cairan vagina dan pH. Faktor risikonya antara lain teknik cebok dan douching yang salah serta penggunaan antibiotik."

Diunggah oleh

Dara Tri prawangsa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

DISKUSI TOPIK

BLOK 6.C

MINGGU 1 : ASUHAN KEBIDANAN BAKTERIAL VAGINOSIS

Dosen : Yulizawati, SST., M.Keb

Kelompok : 2
Anggota : Nadia Shabira Amima (1710332009)
Nurul Aminah (1710331008)
Reflina Susanti (1710333017)
Shasi Genia Sanjaya (1710333010)
Dara Tri Prawangsa (1710333004)
Irma Safitri (1710331012)
Raisa Fajriati (1710333011)
Radilla Syafitri (1710332007)
Malika Qohhareli S (1710333008)

PRODI S1 KEBIDANAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS

2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kesehatan reproduksi adalah kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang utuh  dan

bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang  berhubungan

dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsinya serta proses- prosesnya. Oleh karena itu,

kesehatan reproduksi berarti orang dapat mempunyai  kehidupan seks yang memuaskan dan

aman, dan bahwa mereka memiliki kemapuan untuk bereproduksi dan kebebasan untuk

menentukan apakah mereka ingin melakukannya, bilamana dan seberapa seringkah.

Termasuk terakhir ini adalah hak pria dan wanita untuk memperoleh informasi dan

mempunyai akses terhadap cara-cara keluarga berencana yang aman, efektif dan terjangkau,

pengaturan fertilitas yang tidak melawan hukum, hak memperoleh pelayanan pemeliharaan

kesehatan kesehatan yang memungkinkan para wanita dengan selamat menjalani kehamilan

dan melahirkan anak, dan memberikan kesempatan untuk memiliki bayi yang sehat.

Sejalan dengan itu pemeliharaan kesehatan reproduksi merupakan suatu  kumpulan

metode, teknik dan pelayanan yang mendukung kesehatan dan  kesejahteraan reproduksi

melalui pencegahan dan penyelesaian masalah kesehatan reproduksi. Ini juga mencakup

kesehatan seksual, yang bertujuan meningkatkan status kehidupan dan hubungan-hubungan

perorangan, dan bukan semata-mata konseling dan perawatan yang bertalian dengan

reproduksi dan penyakit yang ditularkan melalaui hubungan seks.

Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) semakin disadari telah menjadi masalah kesehatan

dunia yang berdampak kepada laki-laki dan perempuan. Dampaknya mulai dari kemandulan,

kehamilan ektopik (di luar kandungan), nyeri kronis pada panggul, keguguran, meningkatkan

risiko tertular HIV, hingga kematian.

Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) berkait erat dengan Penyakit menular seksual

(PMS). Penularan Infeksi Saluran Reproduksi ini tidak hanya melalui hubungan seksual saja,

tetapi bisa disebabkan berlebihnya pertumbuhan organisme aman, kelahiran enggak

kontrasepsi (IUD) yang tidak steril.


B. Rumusan Masalah
1. Apakah Pengertian Vaginosis bakterial ?
2. Bagaimanakah manifestasi klinis Vaginosis bakterial?
3. Apa saja factor risiko Vaginosis bakterial?
4. Apa saja etiologi Vaginosis bakterial?
5. Bagaimana patofisiologi Vaginosis bakterial?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Pengertian Vaginosis bakterial
2. Untuk mengetahui manifestasi klinis Vaginosis bakterial
3. Untuk mengetahui factor risiko Vaginosis bakterial
4. Untuk mengetahui etiologi Vaginosis bakterial
5. Untuk mengetahui patofisiologi Vaginosis bakterial
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Bacterial Vaginosis (BV)

2.1.1 Definisi Bacterial Vaginosis (BV)

Bacterial vaginosis (BV) merupakan penyebab keputihan yang sering terjadi


pada wanita usia subur (WUS) yang ditandai dengan peningkatan pH (asam basa
keseimbangan) vagina dan pergeseran keseimbangan flora normal vagina dimana
dominasi Lactobacillus digantikan oleh bakteri anaerob dan Gardnerella vaginalis
(Bhalla, et al. 2007).
Bacterial vaginosis (BV) ditandai dengan adanya perubahan karakteristik dari
lendir vagina diantaranya keputihan yang tipis dan berbau namun wanita yang
mengidap Bacterial vaginosis (BV) kadang–kadang tidak menunjukkan gejala.
(Koumans et al, 2007).
2.1.2 Etiologi Bacterial vaginosis (BV)
Menurut Muvunyi dan Hernandez (2009), bakteri penyebab terjadinya
Bacterial vaginosis (BV) antara lain; Gardnella vaginalis, Ureaplasma
urealythicum, Mycoplasma hominis, Mobilunces spp, Prevotella bivia,
Peptostreptoccocus, Ureaplasma urealyticum. Bakteri tersebut akan senang tumbuh
apabila keadaan vulva mempunyai kelembaban yang tinggi yang bersifat menekan
pertumbuhan Lactobacillus yang berperan untuk keseimbangan flora normal
vagina.
Banyak faktor yang dapat menyebabkan terganggunya keseimbangan normal flora
vagina diantaranya adalah:

1) Teknik cebok yang salah yaitu cebok dari arah belakang ke depan. ;

2) Kurang menjaga kebersihan vagina pada saat menstruasi ;

3) Penggunaan serta frekwensi ganti celana dalam sehari. ;

4) Kebersihan vulva setelah melakukan hubungan sexual;

5) Penggunaan deodoran yang dapat merusak kelembaban vagina;

6) Penggunaan larutan kimia pembersih vagina yang terlalu sering untuk cebok
(Bahram, et al.2009).

9
10

2.1.3 Manifestasi Klinis Bacterial vaginosis (BV)


Bakterial Vaginosis (BV) adalah suatu kondisi abnormal perubahan
ekologi vagina yang ditandai dengan pergeseran keseimbangan flora vagina
dimana dominasi Lactobacillus digantikan oleh bakteri-bakteri anaerob,
diantaranya Gardnerella vaginalis, Mobiluncus, Prevotella, Bacteroides, dan
Mycoplasma sp. ( Morris et al ,2001:197). Infeksi bakteri ini disebabkan oleh
ketidak seimbangan bakteri dalam vagina perempuan, yang mengarah ke faktor
mengacaukan keseimbangan pH (asam- basa keseimbangan) di dalam vagina
(Donders, 2010).
Bacterial vaginosis (BV) terkadang tidak bergejala namun apabila terdapat
gejala biasanya ditandai dengan keputihan yang mengeluarkan bau tidak sedap,
rasa terbakar pada vulva, dan terasa gatal pada vagina ( Koumans, et al. 2007).
Jumlah cairan keputihan yang dikeluarkan pada Bacterial vaginosis (BV) dapat
normal atau berlebihan sehingga keputihan yang terjadi pada seorang wanita harus
diperiksa lebih lanjut. Cairan vagina pada Bacterial vaginosis (BV) biasanya encer
berbau amis serta berwarna keabu-abuan dan umumnya keluar pasca senggama.
Bacterial vaginosis (BV) juga ditandai dengan peningkatan PH (asam basa
keseimbangan) yang lebih dari 4,5 yang dapat menyebabkan penurunan jumlah
Lactobacillus (Bhalla, et al. 2007).
2.1.4 Diagnosa Bacterial vaginosis (BV)

Diagnosis dibuat atas dasar ditemukannya Clue Cell, pH vagina diatas


4,5, tes aminpositif, dan adanya Gardnerella Vaginalis sebagai flora utama
menggantikan lactobacillus (Mansjoer, 2001). Diagnosa klinik dari Bacterial
Vaginosis (BV) didasarkan pada gejala yang ditemukan yaitu cairan vagina tipis
berwarna putih keruh dengan bau amis saat dilakukan test amin, perdarahan
abnormal dari uterus dan vagina terutama terjadi saat melakukan hubungan
sexual, PH vagina lebih dari 4.7, ditemukan clue sel pada pemeriksaan
mikroskopik menggunakan saline preparation (Lindau, et al.2009). Selain hal
tersebut, penentuan diagnosa Bacterial vaginosis (BV) juga didasarkan pada
anamnessa kepada penderita tentang kondisi keputihan, frekwensi, warna, bau,
personal hygien terutama vulva hygiene, dll ( Bhalla, et al. 2007).
2.1.5 Patogenesis Bacterial Vaginosis (BV)

Bacterial vaginosis (BV) disebabkan oleh faktor-faktor yang mengubah


lingkungan asam normal di vagina menjadi keadaan basa yang mendorong
pertumbuhan berlebihan bakteri-bakteri penghasil basa. Ketika konsentrasi
Lactobacilli yang merupakan flora normal vagina jumlahnya menurun, bakteri ini
jumlahnya dapat meningkat berlebihan sehingga menjadi spesies dominan di
lingkungan vagina yang dapat bersifat patogenik(Ilse Truter dan Michael Graz,
2013). Faktor-faktor yang dapat mengubah pH (asam basa keseimbangan) melalui
efek alkalinisasi antara lain adalah mucus serviks, semen, darah haid, mencuci
vagina (douching), pemakaian antibiotik, dan perubahan hormon saat hamil dan
menopause. Faktor-faktor ini memungkinkan terjadinya peningkatan pertumbuhan
Gardnerella vaginalis, Mucoplasma hominis, dan bakteri anaerob. faktor risiko lain
yang telah dikaitkan dengan Bacterial Vaginosis (BV) termasuk memiliki beberapa
pasangan seks, pasangan seks pria baru, seks dengan sesama jenis, hubungan
seksual pertama pada usia dini , sering douching vagina, Penggunaan benda asing
vagina atau sabun wangi, merokok dan kurangnya vagina lactobacilli (Cherpes,
etal. 2008).
Mencuci vagina (douching) sering dikaitkan dengan keluhan disuria,
keputihan, dan gatal pada vagina. Pada wanita yang beberapa kali melakukan
douching, dilaporkan terjadi perubahan pH (asam basa keseimbangan) vagina
dan berkurangnya konsentrasi mikroflora normal sehingga memungkinkan
terjadinya pertumbuhan bakteri pathogen yang oportunistik (Vandepitte, et
al.2011).
Flora vagina wanita tanpa Bacterial Vaginosis (BV) biasanya terdiri dari kuman
gram-batang positif, dengan dominasi oleh Lactobacillus crispalus, Lactobacillus jensenii
dan Lactobacillus iners ( Johnson dalam Truter dan Graz 2013). Menurut Sobel ( 2000,
dalam Hodiwala dan Koli, 2015 ) Pada Bacterial vaginosis (BV) dapat terjadi simbiosis
antara Gardnerella vaginalis sebagai pembentuk asam amino dan kuman anaerob beserta
bakteri fakultatif dalam vagina yang mengubah asam amino menjadi amin sehingga
menaikkan pH sekret vagina sampai suasana yang sesuai bagi pertumbuhan Gardnerella
vaginalis. Beberapa amin diketahui menyebabkan iritasi kulit dan menambah pelepasan
sel epitel dan menyebabkan cairan yang keluar dari vagina berbau tidak sedap, bakteri
anaerob yang menyertai Bacterial vaginosis (BV) diantaranya Bacteroides bivins,
Bacteroides Capilosus dan Bacteroides disiens yang dapat diisolasikan dari infeksi
genitalia. Gardenella vaginalis melekat pada sel-sel epitel vagina in vitro, kemudian
menambahkan deskuamasi sel epitel vagina sehingga terjadi perlekatan duh tubuh
pada dinding vagina. Organisme ini tidak invasif dan respon inflamasi lokal yang
terbatas dapat dibuktikan dengan sedikitnya jumlah leukosit dalam sekret vagina
dan dengan pemeriksaan histopatologis. Timbulnya Bakterial Vaginosis (BV) ada
hubungannya dengan aktivitas seksual atau pernah menderita infeksi Trichomonas.
(Vandepitte, etal.2011).

2.1.6 Komplikasi Bacterial Vaginosis (BV)


Banyak komplikasi yang ditimbulkan oleh Bacterial Vaginosis (BV), Bacterial
Vaginosis (BV) diantaranya adalah peningkatan resiko terhadap infeksi saluran
genitalia termasuk infeksi yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis,
Neisseria gonorrhoeae, HSV-1 and -2 dan peningkatan terhadap resiko penularan
human immunodeficiency virus (HIV) dan kelahiran premature (Geva et al., 2006).
Menurut Rungpao (2008), komplikasi yang dapat timbul pada Bakterial
Vaginosis (BV) antara lain menyebabkan infeksi dan ruptur membran amnion pada
kehamilan, kelahiran prematur, endometritis, komplikasi setelah melahirkan,
Nongonococcal pelvic inflamantory desease, kemandulan, dan dapat meningkatkan resiko
penularan human immunodeficiency virus (HIV)/ Acquired Immune Deficiency Syndrome
(AIDS) .Alsworth dan Peiperth (2009) menyatakan Bacterial Vaginosis (BV) dapat
meningkatkan resiko terjadinya Sexual Transmited Desease (STD), human
immunodeficiency virus (HIV), dan penyakit kelamin yang lain.
Adanya penyakit menular seksual bisa meningkatkan resiko Bakterial Vaginosis
(BV). Pemakaian douching vagina yang merupakan produk untuk menjaga higiene wanita
(vaginal spray atau vaginal wipes dan buble baths bisa menyebabkan terjadinya Bakterial
Vaginosis (BV). Hubungan seksual tanpa menggunakan kondom dapat juga
menyebabkan Bakterial Vaginosis (BV). (Soepraptie & Lumintang, 2008).
2.1.7 Pencegahan Bacterial Vaginosis (BV)

Menurut Bahram, et al. (2009) ada tiga kriteria dalam pencegahan terjadinya
Bakterial Vaginosis (BV) yaitu:
1. Menjaga kebersihan saat menstruasi seperti selalu menggunaan pembalut yang bersih,
selalu menganti pembalut setelah buang air kecil dan tidak melakukan hubungan
seksual selama menstruasi.

2. Menjaga kebersihan vagina dengan tindakan selalu menggunakan celana dalam yang
tidak ketat dan kering, selalu menggunakan teknik cebok dari depan ke belakang,
mengeringkan vagina setelah cebok, selalu menggunakan peralatan mandi (sabun dan
handuk) pribadi, selalu membersihkan kloset sebelum digunakan, selalu
mengeringkan peralatan mandi (handuk) dibawah terik matahari secara langsung.
3. Menjaga kebersihan pada saat melakukan hubungan sexual dengan cara
membersihkan alat genitalia sebelum dan sesudah melakukan hubungan suami istri,
dan melakukan hubungan sexual dengan frekwensi kurang dari tujuh kali dalam
seminggu.
2.1.8 Diagnosis
Diagnosis VB ditegakkan berdasarkan gejala klinis dan didukung oleh
pemeriksaan laboratorium.1,5,15,16
1. Kriteria Amsel
Amsel dan kawan –kawan menganjurkan dasar diagnosis VB berdasarkan
adanya paling tidak tiga tanda – tanda berikut : sekret vagina berwarna putih yang
homogen, pH cairan vagina > 4,5. adanya fishy odor dari cairan vagina yang
ditetesi KOH 10% ( whiff test ), serta pada pemeriksaan mikroskop ditemukan Clue
cells

a. Sekret vagina

Sekret vagina pada VB berwarna putih , melekat pada dinding vagina, jumlahnya
meningkat sedikit sampai sedang dibandingkan wanita normal. 11,12,19
b. pH cairan vagina
pH normal vagina berkisar antara 3,8- 4,1, sedangkan pH pada pasien VB biasanya 4,7 –
5,5.19 Pemeriksaan pH vagina memerlukan kertas indikator pH rentang yang sesuai yaitu
antara 4,0 sampai dengan 6,0. Pengambilan spesimen untuk pemeriksaan pH vagina paling
baik dilakukan pada bagian lateral atau posterior fornik vagina dan langsung
diperiksa/ditempatkan pada kertas pH.12 pH vagina mempunyai sensitifitas yang paling tinggi
pada VB tetapi mempunyai spesifisitas yang paling rendah.11,12

c. Malodor vagina ( whiff test )


Malodor pada vagina merupakan gejala yang paling sering terjadi pada
wanita dengan VB, untuk dapat membantu membantu deteksi malodor bagi
klinisi dapat dilakukan tes Whiff, hasilnya positif jika tercium aroma yang
khas berupa fishy odor setelah ditetesi KOH 11,12,19
10%.

d. Pemeriksaan Clue Cells


Clue cells merupakan sel epitel skuamous vagina yang tertutup
banyak bakteri sehingga memberikan gambaran tepi yang tidak rata.Tepi
yang tidak rata ini akibat melekatnya bakteri termasuk Gardnerella dan
Mobiluncus. Clue Cells merupakan kriteria terbaik untuk diagnosis VB.
2. Kultur
Kultur G. vaginalis hanya memberikan sedikit keuntungan untuk
mendiagnosis VB karena G.vaginalis merupakan flora vagina sehingga didapatkan
juga pada cairan vagina normal , meskipun dalam konsentrasi rendah.11,12,15,19
3.Pewarnaan gram
Dengan tujuan untuk mendiagnosis VB secara objektif , Spiegel dan kawan –
kawan memperkenalkan pewarnaan gram untuk diagnosis VB. Sistem skoring
pewarnaan gram dipakai untuk metode standar untuk diagnosis VB berdasarkan tiga
morfotipe , yaitu kuman batang gram positif besar (laktobasilus), kuman batang
gram negatif kecil atau bervariasi (Gardnerella) dan kuman batang anaerob
(Mobiluncus).
Selanjutnya, Nugent dan kawan – kawan memformulasikan sistem skoring
untuk pewarnaan gram, yang mana jika terdapat banyak laktobasilus nilai skor akan
kecil, sedangkan jika terdapat banyak morfotipe Gardnerella dan bakteroides nilai
skor akan tinggi, dan akan ditambahkan satu atau dua poin jika terdapat Mobiluncus.
Skor 0-3 dianggap normal, skor 4- 6 dianggap intermediat dan skor 7 – 10
didiagnosis dengan VB
Contoh ASKEB :

ASUHAN KEBIDANAN GANGGUAN SISTEM REPRODUKSI


PADA Nn. T UMUR 18 TAHUN  DENGAN KEPUTIHAN
PATOLOGIS DI BPS Ny. ARI GEMOLONG SRAGEN.

Tanggal/ jam    : 15 Desember 2011/17.20 WIB


Tempat             : BPS Ny. ARI Gemolong Sragen
Bidan               : S. Aryanti

I.     PENGKAJIAN
           Tanggal/ jam      : 15 Desember 2011/17.20 WIB
A.    Data Subyektif
1.      Identitas Pasien
Nama                :  Nn.T                      
Umur                :  18 tahun                
Suku/ bangsa    :  Jawa/ Indonesia     
Agama              :  Islam                      
Pendidikan       :  SLTA                    
Pekerjaan          :  Pelajar                    
Alamat              :  Ngembat Padas RT 4 RW 5 Kragilan

2.      Alasan Masuk
Nn. T mengatakan mengalami keputihan gatal serta berbau dan kulit
vagina kemerahan selama 1 minggu.

3.      Riwayat Menstruasi
-          Menarche                 : + 13 tahun
-          Siklus Haid              : 28 hari
-          Lamanya                  : 5 hari
-          Sifat Darah              : Encer
-          Keluhan                   : tidak ada
-          Keputihan                : ada, gatal dan berbau

4.      Riwayat Perkawinan
Nn. T mengatakan belum menikah.

5.        Riwayat Kehamilan, Persalinan dan Nifas yang lalu


Nn.T mengatakan belum pernah melahirkan.

6.      Riwayat KB
Nn.T mengatakan belum pernah ber –KB.

7.      Riwayat Kesehatan
a.      Riwayat kesehatan sekarang
-   Keluhan Utama     :
Nn.T mengatakan mengalami keputihan, gatal serta
berbau seperti putih susu dan kulit vagina kemerahan
selama 1 minggu.
-  Riwayat penyakit yang diderita    :
Nn. T mengatakan tidak mempunyai riwayat
penyakit menular, menurun dan menahun seperti dada
berdebar – debar (jantung),sering makan,minum, dan
kencing (DM), sesak nafas (Asma),tekanan darah >140/90
mmHg (Hipertensi). Sakit Kuning (Hepatitis), Kejang
sampai keluar busa (Epilepsi)  dan keputihan Gatal – Gatal
(PMS).
-   Pengobatan yang pernah didapat
Nn. T mengatakan tidak pernah mendapatkan
pengobatan   secara medis .
-    Alergi terhadap obat         :
Nn. T mengatakan tidak alergi terhadap obat
apapun.

b.      Riwayat kesehatan yang lalu


Nn. T mengatakan tidak mempunyai riwayat
penyakit menular, menurun dan menahun seperti dada
berdebar – debar (jantung),sering makan,minum, dan
kencing (DM), sesak nafas (Asma),tekanan darah >140/90
mmHg (Hipertensi). Sakit Kuning (Hepatitis), Kejang
sampai keluar busa (Epilepsi)  dan keputihan Gatal – Gatal
(PMS).
-  Operasi yang pernah dialami         :
Nn. T tidak pernah mengalami operasi apapun.

c.      Riwayat penyakit dalam keluarga


Nn. T mengatakan dalam keluarganya  tidak
mempunyai riwayat penyakit menular, menurun dan
menahun seperti dada berdebar – debar (jantung),sering
makan,minum, dan kencing (DM), sesak nafas
(Asma),tekanan darah >140/90 mmHg (Hipertensi). Sakit
Kuning (Hepatitis), Kejang sampai keluar busa
(Epilepsi)  dan keputihan Gatal – Gatal (PMS).
-          Keturunan Kembar           :
Nn. T mengatakan bahwa dalam keluarganya tidak
ada keturunan kembar.

8.      Pola Pemenuhan Kebutuhan Sehari – Hari


Kebutuhan Sebelum Sakit Saat Sakit
# Pola Makan
   Frekuensi 3x sehari 3x sehari
   Porsi 1 piring 1 piring
   Jenis makanan Nasi, lauk,sayur Nasi, lauk,sayur
   Makanan pantang Tidak ada Tidak ada
   Keluhan Tidak ada Tidak ada
   Merokok Tidak Tidak
   Minuman keras Tidak Tidak
   Minum jamu Tidak Tidak

# Istirahat
   Lama Tidur 7-8 jam/hari 5-6 jam/hari
   Keluhan Tidak ada Tidak ada
# Personal Hygiene
   Mandi 2xsehari 2xsehari
   Keramas 3x seminggu 3x seminggu
   Sikat Gigi 2x sehari 2x sehari
   Ganti Pakaian 2x sehari 2x sehari
   Keluhan Tidak ada Tidak ada
# Kehidupan seksual Tidak melakukan Tidak melakukan
# Eliminasi
   Frekuensi BAK 4-5x sehari 4-5x sehari
   Warna Kuning jernih Kuning jernih
   Bau Khas Khas
   Keluhan Tidak ada Tidak ada
   Frekuensi BAB 1x sehari 1x sehari
   Warna Kuning kecoklatan Kuning kecoklatan
   Bau Khas Khas
   Konsistensi Lembek Lembek
   Keluhan Tidak ada Tidak ada
# Kebiasaan Menggunakan cairan Tidak menggunakan
pembersih cairan pembersih

9.      Data Psikologis
·         Perasaan Klien :
Nn. T mengatakan bahwa dia ingin keputihannya segera berhenti.
·         Pengetahuan klien tentang gangguan yang di derita saat ini :
Nn. T mengatakan keputihan itu ada dua, diantaranya
keputihan yang normal dan yang tidak normal. Sedangkan dirinya
sedang mengalami gangguan keputihan yang tidak normal seperti
keputihan yang gatal, berbau, dan berwarna putih susu.
·         Pengetahuan klien tentang Kesehatan Reproduksi:
Nn. T mengatakan kebersihan alat kelaminnya perlu dijaga.
·         Dukungan suami/keluarga       :
Nn. T mengatakan keluarganya sangat mendukung atas
kesembuhannya.

B.     Data Obyektif
1.    Pemeriksaan Fisik
a.      Keadaan Umum  : Baik                  
Kesadaran : Composmentis
b.     Vital Sign   :
TD  : 120/70 mmHg     N  : 80 x/ menit
             S     : 36,50C                R  : 22x/ menit 
             BB  : 42 kg                  TB : 158 cm
c.      Inspeksi
-      Rambut        :  warna hitam, bersih, pertumbuhan baik,
kulit kepala : tidak ada lesi
-      Wajah           :  tidak ada oedem, simetris
-      Mata             :  konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik, tidak ada sekret
-      Hidung         :  bersih, tidak ada polip, simetris
-      Mulut           :  bersih, gigi tidak ada caries, tidak ada
karang gigi
-      Telinga         :  bersih,tidak ada serumen
-      Leher            :  pembuluh lymfe : tidak ada
pembengkakan, kelenjar tyroid : tidak ada pembesaran,
simetris.
-      Dada            :  normal, tidak ada kelainan
-      Payudara      :  bentuk simetris, tidak ada massa, puting
susu menonjol
-      Abdomen     :  bentuk simetris, tidak ada luka bekas
operasi
-      Genetalia      :  tidak ada oedema, tidak ada varices, ada
pengeluaran pervaginam berupa cairan putih, kental,
berbau, kulit vagina agak kemerahan
-      Ekstremitas  :  tidak ada oedem, reflek patella +/+

d.     Palpasi
-      Buah dada    :  simetris, putting susu menonjol, belum ada
pengeluaran, tidak hiperpigmentasi, tidak ada massa, tidak
nyeri.
-      Perut             : tidak ada massa/pembesaran, simetris, tidak
ada kelainan.
e.      Genetalia      : inspeksi mengeluarkan cairan putih, banyak,
kental, berbau dari kemaluannya
f.      Pemeriksaan dalam : belum dilakukan
g.     Inspekulo          :  vagina kemerahan, flour
albus Å mengeluarkan keputihan banyak, kental dan berbau,
infeksi pada anus. 
h.     Pemeriksaan penunjang
-      Laborat         :  -
-      USG             :  -
-      Rontgent      :  -
-      Lain – lain    :  -

II.         INTERPRETASI DATA
Tanggal/ jam      : 15 Desember 2011/17.25 WIB
1.    Diagnosa Kebidanan
Nn. T umur 18 tahun dengan keputihan patologis
Dasar :
S    :    Nn. T mengatakan mengeluarkan cairan putih, banyak,
kental dan berbau dari kemaluannya sejak 1 minggu ini
O   :    KU : baik                              
 Kesadaran : composmentis
         VS  : 
T  :120/70mmHg        S  :36,50C                                           
N  : 80x/ menit           R  : 22 x/ menit
           Perut tidak ada pembesaran
           PPV   : cairan putih, kental, berbau
           Kulit  : kemaluan kemerahan, tanda chadwick tidak ada.
2.    Masalah    
Dasar            :
S        : NN. T mengatakan cemas dengan keadaannya.
                        O       : wajah pasien tampak gelisah.

III.       DIAGNOSA POTENSIAL dan ANTISIPASi


Potensial            : terjadi infeksi atau kelainan ginekologik pada organ
genetalia internal pada Nn. T.
Antisipasi : Lakukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendeteksi adanya
infeksi

IV.      TINDAKAN SEGERA
Kalaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi :
- metronidazol

V.        PERENCANAAN
Tanggal/ jam       : 15 Desember 2011/17.30 WIB
1.      Jelaskan pada pasien  tentang terjadi leukorea.
2.      Anjurkan pasien  untuk menjaga vulva hygiene yang benar pada
daerah genetalia.
3.      Anjurkan Ibu untuk menggunakan celana dalam yang menyerap
keringat dan ganti celana dalam setiap 2 x/hari
4.      Anjurkan Ibu tidak menggunakan cairan pembersih vagina.
5.      Anjurkan Ibu minum obat secara teratur.
6.      Anjurkan ibu untuk mengambil hasil pemeriksaan papsmear 3 hari
lagi
7.      Anjurkan pasien untuk kontrol kembali setelah obat habis sebelum
tidur malam.
8.      Berikan Terapi.

VI.          IMPLEMENTASI
Tanggal/ jam       : 15 Desember 2011/17.35 WIB
1.      Menjelaskan pada pasien tentang terjadi leukorea .
2.      Mengajari pasien untuk menjaga vulva hygiene yang benar pada daerah
genetalis.
3.      Menganjurkan Pasien untuk menggunakan celana dalam yang menyerap
keringat dan ganti celana dalam setiap 2 x/hari
4.      Menganjurkan pasien untuk mengambil hasil pemeriksaan papsmear 3 hari
lagi
5.      Menganjurkan tidak menggunakan pembersih vagina.
6.      Menganjurkan pada pasien untu minum obat secara teratur.
7.      Melanjutkan terapi dokter  
8.      Menganjurkan pasien untuk kontrol kembali setelah obat habis sebelum
tidur malam.

VII.          EVALUASI
Tanggal/ jam : 15 Desember 2011/17.45 WIB
1.      Pasien sudah mengerti dan paham tentang Keputihan.
2.      Pasien bersedia untuk menjaga personal hygiene.
3.      Pasien bersedia menggunakan celana dalam yang menyerap keringat.
4.      Pasien bersedia tidak menggunakan cairan pembersih vagina.
5.      Pasien bersedia minum obat secara teratur.
6.      Pasien bersedia untuk kontrol kembali setelah obat habis.
7.      Pasien telah diberikan terapi.
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) adalah masuk dan berkembangbiaknya kuman


penyebab infeksi kedalam saluran reproduksi. Kuman penyebab infeksi tersebut dapat
berupa bakteri, jamur, virus dan parasit.

Infeksi Saluran Reproduksi (ISR) adalah terminology umum yang digunakan untuk
tiga jenis infeksi pada saluran reproduksi  yaitu ISR endogen, ISR iatrogenic atau yang
berhubungan dengan prosedur medis, penyakit menular seksual (PMS).

Penyakit menular seksual (PMS) adalah penyakit yang cara penularannya terutama


melalui hubungan seksual, baik secara heteroseksual maupun homoseksual. PMS juga
diartikan sebagai penyakit kelamin yang ditularkan melalui hubungan seksual yang
menyerang sekitar alat kelamin.

B. Saran

Perlunya perhatian pendidikan terhadap para kaum remaja tentang kesehatan


reproduksi. Hal ini sebagai salah satu menjaga kesehatan reproduksinya dari Penyakit
Menular Seksual.

Penyuluhan terpadu dari berbagai pihak, apakah itu dari petugas kesehatan, ulama,
pemuka masyarakat terhadap masyarakat tentang pentingnyakebersamaan dalam menjaga
kesehatan, termasuk kesehatan reproduksinya.
DAFTAR PUSTAKA

Sastrawinata, Sulaiman, 1981., Ginekologi, Unpad, Bandung


Manuaba, Ida Bagus Gede, 1999., Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita, Jakarta :
Arcon
Sarwono Prawirohardjo.2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta :YBP – SP

Anda mungkin juga menyukai