Asuhan Kebidanan Ny. A 2024
Asuhan Kebidanan Ny. A 2024
BAB IV
PEMBAHASAN
b. Pendidikan
Menurut Eny dan Diah (2017) pendidikan berpengaruh dalam
tindakan kebidanan dan untuk mengetahui tingkat intelektualnya, sehingga
bidan dapat memberikan koseling sesuai dengan pendidikannya. Pada
kasus Ny.A pendidikan terakhir adalah SMA, dan tingkat intelektual
cukup sehingga mudah diberikan konseling, sehingga tidak ada
kesenjangan antara teori dan kasus
c. Alamat
225
226
b) Siklus
226
227
e. Riwayat perkawinan
227
228
2.Data obyektif
1. Pemeriksaan fisik
228
229
4. .LILA
Menurut Kusmiyati Y,dkk.(2018). Standar minimal untuk ukuran
Lingkar Lengan Atas pada wanita dewasa (reproduksi) adalah 23,5 cm.
229
230
Jika ukuran LILA kurang dari 23,5 cm maka interpretainya adalah kurang
Energi Kronis (KEK).Pada kasus Ny.A ukuran LILA yaitu 26 cm,maka
ibu tidak tergolong dalam KEK. Sehingga tidak terdapat kesenjangan
antara teori dan kasus.
5. Status Obstetrikus
1).palpasi
Menurut (Serri Hutahaean) tujuan pemeriksaan abdomen adalah
untuk menentukan letak dan presentasi janin, tinggi fundus uteri dan
denyut jantung janin.Pemeriksaan abdomen dengan palpasi dapat
dilakukan dengan melakukan pemeriksaan Leopold I sampai dengan
Leopold IV.Leopold I yaitu pemeriksaan dengan menghadap ke arah
wajah ibu hamil dan menentukan tinggi fundus uteri,bagian janin dan
fundus, dan konsistensi fundus serta untuk menentukan letak kepala atau
bokong dengan satu tangan di fundus dan tangan lain di atas simfisis.
Leopold II yaitu menentukan batas samping rahim kiri dan kanan,
menentukan letak punggung janin dan pada letak lintang untuk
menentukan mana kepala janin dan untuk menentukan letak punggung
dengan satu tangan menekan di fundus. Leopold III yaitu menentukan
bagian terbawah janin apakah bagian terbawah janin sudah masuk panggul
atau masih bisa digoyangkan. Pada leopold IV pemeriksaan menghadap
kaki ibu hamil, dan juga menentukan bagian terbawah janin dan beberapa
jauh janin dan jauh janin sudah masuk pintu atas panggul.(manuaba,2010).
Pada kasus Ny.A dilakukan pemeriksaan abdomen yaitu dengan cara
palpasi dari leopold I sampai dengan leopold IV. Pada leopold I yaitu
Pemeriksaan dengan menghadap ke arah wajah ibu hamil dan menentukan
tinggi fundus uteri dan menentukan letak kepala bokong dan tangan lain di
atas simfisis,dan didapatkan hasil TFU 24,5 cm dan teraba bokong.
Leopold II yaitu menentukan letak punggung janin dengan satu tangan
menekan di fundus, didapatkan hasil punggung sebelah kiri. Leopold III
yaitu menentukan terbawah janin sudah masuk panggul atau masih bisa
digoyangkan, didapatkan hasil teraba bagian kepala. Dan pada leopold IV
pemeriksaan menghadap kaki ibu hamil dan menentukan bagian terbawah
230
231
janin sudah masuk pintu atas panggul atau belum, dan didapatkan hasil
teraba kepala belum masuk PAP. Sehingga tidak terdapat kesenjangan
antara teori dan kasus.
2). Payudara
Menurut Manuaba (2017) perubahan fisologis pada kehamilan
yang dipengaruhi oleh hormon somatomamotropin yaitu merangsang
pengeluaran kolostrum. Payudara mengalami pertumbuhan dan
perkembangan sebagai persiapan memberikan ASI saat laktasi.
Perkembangan Payudara tidak dapat dilepaskan dari pengaruh hormone
saat kehamilan, yaitu estrogen, progesterone dan somatomamotrofin. Pada
kasus Ny.A kolostrum sudah keluar pada trimester lll, sehingga tidak ada
kesenjangan antara teori dan kasus.
3).Detak Jantung Janin (DJJ)
Denyut jantung janin menunjukan status kesehatan dan posisi janin
terhadap ibu.Detak jantung janin bisa di dengar menggunakan stetoskop
leanec atau doppler, detak jantung janin normal 120-160
kalipermenit,apabila kurang dari 120x/ menit disebut brakikardi,
sedangkan lebih dari 160x/menit dinamakan takikardi dan harus diwaspadi
adanya gawat janin. (Serri Hutahaean). Pada kasus Ny.A detak jantung
janinnya yaitu 146 x/ menit.Sehingga pada kasus Ny.A tidak ada
kesenjangan antara teori dan kasus.
II.interprestasi data
Hal yang sama dinyatakan oleh Wafi (2019) bahwa assessment merupakan
pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi (kesimpulan) dari
datasubjektif dan objektif.Berdasarkan data subjektif dan obyektif yang telah
didapatkan pada kasus Ny.A maka dapat di tetapkan diagnosa yaitu Ny.A umur
24 tahun G1P0A0H0 umur kehamilan 32-33 minggu,janin hidup, tunggal, intra
uteri,PUKI,letak kepala,belum masuk PAP, ukuran panggul normal, KU ibu
dan janin baik. penjelasan diagnose dapat dilihat dari data dasar yaitu ibu
mengatakan ini kehamilan pertamanya,ibu pernah mengalami
keguguran ,HPHT 21 Juni 2021 amenore 9 bulan lalu, DJJ (+), frekuensi 146
x/I, intesitas kuat, irama teratur,ibu mengatakan tidak merasakan nyeri saat di
231
232
232
233
pandangan kabur, pergerakan janin berkurang, odema pada wajah dan tungkai,
demam tinggi, ketuban pecah dini, kejang. Memberitahukan tentang tanda-
tanda persalinan yaitu kontraksi yang semakin sering dan teratur, keluar lendir
dan darah dari jalan lahir, pecahnya selaput ketuban, mulas seperti ingin BAB,
dan menganjurkan ibu untuk datang ke fasilitas terdekat atau datang ke
puskesmas maupun PMB Buk Yulita sewaktu-waktu ibu mengalami salah satu
tanda tersebut, memberitahukan ibu tentang persiapan persalinan yaitu rencana
ibu akan bersalin dimana dan ditolong siapa, ibu ingin di dampingi siapa ketika
bersalin nanti, mempersiapkan perlengkapan ibu dan bayi yang terdiri baju ibu,
pembalut, celana dalam, gurita, jarit. Sedangkan untuk bayi, baju bayi, sarung
tangan dan kaki, topi, selimut dan bedong. Persiapkan kendaraan, persiapkan
dana untuk persalinannya, persiapan calon pendonor darah yang sesuai dengan
golongan darah ibu, jika sewaktu-waktu diperlukan. Dan memberitahu ibu
untuk melakukan kunjungan ulang 1 bulan lagi pada tanggal 12 Maret 2022
atau segera apabila ada keluhan.
VII. Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan tindakan yang telah dilaksanakan yaitu ibu
sudah mengerti tentang tanda bahaya TM III, ibu sudah mengetahui persiapan
persalinan dan dapat mengulangi kembali konseling yang telah di jelaskan,dan
ibu sudah mengetahui jadwal kunjungan ulang pemeriksaan.
B. PERSALINAN
A. KALA I
I.Pengumpulan Data
A. Data Subyektif
a. keluhan utama
tanda – tanda permulaan persalinan yaitu perasaan nyeri di perut dan
di pinggang oleh adanya kontraksi – kontraksi lemah uterus, serviks menjadi
lembek, mulai mendatar,pembukaan yang menyebabkan lendir yang
terdapat pada kanalis lepas, dan terjadi perdarahan karena kapiler pembuluh
darah pecah sehingga sekresinya bertambah dan mungkin bercampur darah
(bloody show) Menurut Rustam Mochtar (2017). Pada kasus Ny.A
233
234
234
235
d. Pemeriksaan dalam
Menurut varney (2018) pemeriksaan dalam dilakukan untuk
mengetahui kemajuan persalinan, Perubahan serviks terjadi akibat
peningkatan intensitas kontraksi braxton hicks, sehingga serviks menjadi
matang selama periode yang berbeda-beda sebelum persalinan.
Kematangan serviks mengindikasikan kesiapannya untuk persalinan.
Dimana untuk menentukan kemajuan persalinan.Pada kala I dibagi
menjadi fase laten dan fase aktif, dimana fase laten dari pembukaan 1cm
sampai 3 cm,dan fase aktif dari pembukaan 4cm sampai 10cm.Frekuensi
pemeriksaan dalam dilakukan sesuai kondisi wanita dan kemampuan bidan
untuk menggunakan parameter evaluasi kemajuan persalinan dan
dilakukan pemeriksaan dalam 4jam sekali.Pada kasus Ny.A pemeriksaan
dalam pertama dilakukan pada pukul 08.00 wib dengan pembukaan 4
cm,dan pukul 10.00 WIB terlihat tanda dan gejala kala ll, tidak dilakukan
pemeriksaan dalam ulang karena kepala sudah terlihat 5-6 cm di depan
vulva. Sehingga terdapat kesamaan antara teori dan kasus.
II. Interprestasi Data
Data dasar hasil analisis dan interpretasi dari data subjektif dan
obyektif yang akan diproses menjadi masalah atau diagnosis.(Varney 2006).
Berdasarkan hasil didapatkan pada kasus Ny.A maka dapat di tetapkan
diagnosa yaitu Ny.A umur 24 tahun G1P0A0H0 umur kehamilan 39-40
minggu dalam persalinan kala I fase aktif.
Penjelasan dari diagnosa dapat dilihat dari data dasar yaitu ibu
mengatakan ini kehamilan kedua nya,ibu pernah mengalami
keguguran,HPHT 21 Juni 2021 , amenore 9 bulan lalu, DJJ (+), frekuensi
135 x/i, intesitas kuat, irama teratur,ibu mengatakan tidak merasakan nyeri
saat di paspasi,leopold II PUKI, leopold III LETKEP, leopold IV yaitu
menentukan seberapa jauh kepala masuk ke pintu atas panggul (sudah masuk
sepenuhnya),keadaan jalan lahir normal , TTV dalam batas normal. Pada saat
VT pembukaan 4 cm, portio tipis, penurunan 2/5,dinding vagina
elastis,ketuban (+), penurunan terendah kepala,persentasi kepala.
III. Indentifikasi Masalah
235
236
Dari data objektif dan subjektif timbul masalah yaitu ibu mengatakan sakit
pinggang menjalar ke ari-ari, ibu mengatakan keluar lender bercampur
darah,ibu mengatakan perut begitu mules.
IV. Tindakan Segera
Tindakan segera yang perlu dilakukan berdasarkan indentifikasi masalah
adalah memantau kemajuan persalinan dengan patograf persiapan untuk
partus normal.
V.Planning
Tindakan pada planning yang dilakukan adalah pantau his, DJJ dan
kemajuan persalinan di patograf, anjurkan ibu untuk miring kiri untuk
mempercepat penurunan kepala dan aliran oksigen ke janin lancar, anjurkan
untuk relaksasi diantara 2 kontraksi, anjurkan ibu untuk tidak mengejan
sebelum pembukaan lengkap, dan berikan nutrisi atau minum kepada ibu.
Pada kasus Ny.A perencanaan telah sesuai dengan asuhan persalinan normal,
sehingga tidak ada kesenjangan antara kasus dan teori.
V. Implementasi
Melakukan asuhan menyeluruh atau tindakan yang tertera pada Planning
yaitu memantau his, DJJ dan kemajuan persalinan di patograf,menganjurkan
ibu untuk miring kiri lagi untuk mempercepat penurunan kepala dan aliran
oksigen ke janin lancar, menganjurkan untuk relaksasi diantara 2 kontraksi,
menganjurkan ibu untuk tidak mengejan sebelum pembukaan lengkap,
memberikan nutrisi atau minum kepada ibu.
VI.Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan tindakan yang telah dilaksanakan yaitu His, DJJ
dan kemajuan persalinan sudah ditulis dalam patograf, ibu sudah miring kiri
lagi, dan ibu bersedia untuk relaksasi diantara 2 kontraksi, serta ibu sudah
minum air putih.
B.KALA II
I. Pengumpulan Data
A. Data Subyektif
a. Keluhan utama
236
237
Tanda – tanda in partu yaitu rasa nyeri oleh adanya his yang lebih
kuat, sering dan teratur, keluar lendir bercampur darah, pada pemeriksaan
dalam serviks mendatar dan telah ada pembukaan. Menurut Rustam
mochtar (2012),. Pada kasus Ny.A mengeluh seperti ingin BAB, kontraksi
uterus semakin sering, sehingga terdapat kesamaan antara teori dan kasus,
bahwa terdapat tanda – tanda in partu kala II.
B. Data obyektif
a. Kontraksi uterus
Menurut Asrinah (2010), kontraksi uterus selama persalinan
semakin kuat, berirama teratur, involunter, bertambah kuat, datang setiap
2-3 menit dan berlangsung antara 50-100 detik. Pada kasus Ny.A terdapat
kesamaan antara teori dan kasus, yaitu terjadi kontraksi yang kuat dan
berirama teratur.
b. Inspeksi tanda – tanda kala ll
237
238
238
239
kepala, masker, pelindung mata (kaca mata), sepatu dan handscoon. Pada
langkah selanjutnya yaitu dilakukan pemeriksaan dalam untuk
memastikan pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, akan
tetapi pada kasus Ny.A tidak dilakukan pemeriksaan dalam, Karena
kepala bayi sudah terlihat divulva bersama dengan selaput ketuban, dan
ketuban pecah secara spontan. Sehingga terdapat kesenjangan antara teori
dan kasus. Kemudian mengatur posisi ibu senyaman mungkin pernyataan
yang sama ditunjukan pada teori yang menyatakan bahwa mengatur
posisi ibu yang nyaman selama persalinan seperti berdiri ataupun
miring dan merangkak, litotomi sangat membantu untuk kenyamanan ibu
saat proses persalinan. Pada Ny.A yaitu posisi ibu untuk cara meneran
yang baik dengan yaitu dengan posisi setengah duduk, tangan merangkul
pergelangan kaki, dan cara meneran seperti orang bab saat ada
kontraksi, ambil nafas panjang sebelum mengejan serta meminta ibu
untuk tidak mengejan saat tidak ada kontraksi. sehingga tidak ada
kesenjangan antara teori dan kasus. Kemudian untuk persiapan
pertolongan kelahiran bayi langkah yang sesuai dengan asuhan
persalinan yaitu meletakan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di
perut ibu, meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian dibawah
bokong ibu, akan tetapi pada praktiknya dilahan tidak meletakan
handuk kain atau handuk bersih, menggunakan underpad yang
diletakkan di bawah bokong ibu dan menggunakan popok bayi untuk
menahan perinium, sehingga terdapat kesenjangan antara teori dan
praktik, yang seharusnya menggunakan 1/3 kain untuk menahan perinium
tetapi pada praktiknya menggunakan popok bayi. Hal ini
dikarenakan penggunaan popok bayi dianggap lebih memudahkan untuk
menahan perineum dan tidak licin. Tindakan selanjutnya yaitu
melahirkan kepala bayi, mengecek adanya lilitan tali pusat, menunggu
putar paksi luar dan melahirkan bahu depan, dengan tangan biparietal,
melahirkan bahu belakang, bahu depan dan menelusuri sampai kaki serta
melakukan penilaian segera pada tangisan bayi, gerakan dan warna
kulit. Setelah bayi lahir dan dikeringkan lakukan penjepitan dan
239
240
pemotongan tali pusat menggunakan klem tali pusat dan penjepit tali
pusat.Sehingga tidak ada kesenjangan antara teori dan kasus. Pada teori
yang sama bahwa pertolongan pada kala II , melindungi perineum dan
sisi tangan lain melindungi kepala bayi bertujuan untuk melindungi
defleksi maksimal dan terjadinya rupture perineum. Periksa leher bayi
untuk mengecek adanya lilitan tali pusat, jika ada lilitan longgar maka
keluarkan lewat kepala bayi.
Jika lilitan tali pusat erat maka jepit tali pusat dengan klem pada 2
tempat dengan jarak 3 cm kemudian potong tali pusat diantara
kedua klem tersebut. (Anonim,2007 :86) Langkah selanjutnya melakukan
inisiasi menyusui dini (IMD), dengan meletakkan bayi diatas perut ibu
dan menyelimuti bayi dengan kain hangat serta topi bayi. Sehingga tidak
ada kesenjangan antara teori dan kasus. Pada teori yang sama pada bayi
baru lahir dilakukan inisiasi menyusui dini (IMD). Tempatkan bayi
untuk melakukan kontak kulit dengan ibu, dan letakan bayi dengan
dengan posisi tengkurap di dada ibu.Luruskan bahu bayi sehingga bayi
menempel dengan baik di dinding dada perut ibu.Usahakan kepala bayi
berada di antara payudara ibu dengan posisi lebih rendah dari puting
payudara ibu. (Arsinah,2010:82).
VI. Evaluasi
Mengevaluasi keefektifan tindakan yang telah dilaksanakan yaitu bayi
sudah lahir, bernafas spontan, warna kulit kemerahan dan berjenis kelamin
laki-laki
C.KALA III
I.Pengumpulan Data
1. Data subyektif
a. Keluhan utama
Menurut Asrinah (2010:102) pada kala lll otot uterus (miometrium)
berkontraksi mengikuti penyusutan volume rongga uterus setelah lahirnya
bayi. Pada kasus Ny.A mengatakan perut terasa mules dan teraba keras
Sehingga terdapat kesamaan antara teori dan kasus, terjadinya kontraksi
menyebabkan perut terasa mulas.
240
241
2. Data obyektif
Tanda-tanda pelepasan plasenta yaitu Tanda – tanda pelepasan
plasenta perubahan bentuk dan tinggi uterus, tali pusat memanjang,
semburan darah mendadak dan singkat (Asrinah.2010).Pada kasus pada
Ny.A terlihat tali pusat bertambah panjang dan ada semburan darah.
Terdapat kesesuaian antara teori dan kasus.
II. Asessement
Data dasar hasil analisis dan interpretasi dari data subjektif dan
obyektif yang akan diproses menjadi masalah atau diagnosis.(Varney
2006). Berdasarkan hasil didapatkan pada kasus Ny.A maka dapat di
tetapkan diagnosa yaitu Ny.A umur 24 tahun G1P0A0H0 umur kehamilan
39-40 minggu dalam persalinan kala III fase aktif, KU ibu dan janin baik.
III. Indentifikasi Masalah
Dari data objektif dan subjektif tidak ada masalah yang timbul.
IV. Tindakan Segera
Dari identifikasi maka tindakan segera yang dilakukan adalah
memantau kemajuan persalinan dengan patograf dan persiapan untuk
Partus normal.
V. Planning
Tindakan pada planning yang dapat dilakukan adalah
penatalaksanaan manajemen aktif kala lll yaitu : menyuntikan oxytosin 10
IU secara intramuscular pada 1/3 bagian atas paha bagian luar.(lakukan
aspirasi sebelum penyuntikan oxytosin). Melakukan peregangan tali pusat
terkendali serta melakukan masase uterus. Pada kasus Ny.A perencanaan
tindakan manajemen aktif kala lll telah sesuai dengan Asuhan Persalinan
Normal, (Arsinah,2010). sehingga tidak terdapat kesenjangan antara teori
dan kasus. Kemudian mengecek laserasi pada jalan lahir yaitu tidak ada
laserasi jalan lahir.
VI.Implementasi
Melakukan asuhan menyeluruh atau tindakan yang tertera pada
planning yaitu melakukan manajemen aktif kala III dengan pemberian
241
242
3. Suhu
242
243
243
244
244
245
2. Kunjungan Neonatal II
Kunjungan kedua yaitu 6 hari setelah bayi lahir, tidak dijumpai
penyulit, tali pusat sudah putus, tidak ada tanda-tanda infeksi, bayi menyusu
dengan baik dan tetap diberi ASI eksklusif 24 jam, ketika bayi menangis dan
baru bangun tidur.
Menurut Muslihatun (2012) bahwa kunjungan kedua dilakukan pada
kurun waktu hari ke - 3 sampai dengan hari ke-7 setelah bayi lahir. Hal yang
dilakukan adalah jaga kehangatan tubuh bayi, pemenuhan nutrisi pada bayi
yaitu memberikan ASI sesering mungkin, istirahat, kebersihan kulit dan
mencegah infeksi.
245
246
Lochea rubra, kontraksi baik, kandung kemih kosong, ibu telah memberikan
ASI pada bayinya dan bayi mau menyusu. Nutrisi pada Ny.A sudah dipenuhi
dengan memberi ibu makan dan minum, 2 jam setelah melahirkan ibu sudah
dapat miring ke kiri atau kanan dan ibu BAK pergi ke toilet.
Ambulasi dini pada ibu post partum harus dilakukan secepat mungkin,
ibu post partum sudah diperbolehkan bangun dari tempat tidur dalam 24-48
jam, sebaiknya ibu sudah diperbolehkan untuk mandi dan pergi ke kamar
mandi dengan dibantu setelah 1 atau 2 jam melahirkan (Saleha, 2013).
Mochtar (2012) menyatakan bahwa hal yang perlu dipantau pada
kunjungan masa nifas 6-8 jam postpartum adalah memastikan bahwa tidak
terjadi perdarahan, pemberian ASI awal dan tetap menjaga bayi agar tidak
hipotermi. Menurut asumsi penulis, dari teori yang ada bahwa tidak ada
kesenjangan antara teori dan asuhan yang sudah diberikan pada Ny.P.
2. Nifas 6 hari
Kunjungan nifas yang kedua adalah 6 hari setelah persalinan pada
tanggal 29 Maret 2022, kunjungan ini TFU pertengahan pusat dengan
symfisis, kontraksi uterus baik, Lochea Sanguilenta, ASI lancar, bayi mau
menyusu, tidak ada tanda-tanda infeksi pada ibu dan tekanan darah dalam
keadaan normal yaitu 120/80 mmHg. Bahwa asuhan pada masa nifas pada
kunjungan kedua yaitu memastikan involusi uterus berjalan dengan normal,
tinggi fundus uteri pertengahan pusat dengan symfisis, tidak ada perdarahan
abnormal, melihat adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan,
memastikan ibu mendapatkan makanan, minum dan istirahat yang cukup,
memastikan ibu menyusui dengan benar serta tidak ada tanda-tanda kesulitan
menyusui, memberikan konseling pada ibu mengenai asuhan pada bayi,
menjaga bayi tetap hangat dan merawat tali pusat.
Saleha (2013) menyatakan bahwa proses laktasi pada semua wanita
terjadi secara alami, dimana dengan adanya isapan bayi akan merangsang
hormon prolaktin sehingga pengeluaran ASI semakin lancar. Berdasarkan
asuhan dan pemantauan yang dilakukan oleh penulis tidak terdapat
kesenjangan antara teori dan kasus. Pengeluran ASI semakin lancar karena ibu
246
247
E. PELAKSANAAN KB
Ditinjau dari usia Ny.A yaitu 24 tahun dengan Primigravida alat
kontrasepsi yang dianjurkan yang mengandung hormonal adalah MAL, KB suntik
3 bulan, Implan dan non hormonal adalah metode kelender, kondom, AKDR dan
steril . Setelah berdiskusi dengan keluarga dan setelah mengisi informed choice
dan informed consent maka Ny.A telah memutuskan ingin menggunakan KB
dengan memakai kondom. Menurut Kemenkes (2013) KB dengan menggunakan
kondom tidak terdapat kandungan hormon yang tidak akan menganggu perubahan
siklus haid ataupun penambahan berat badan.Pemakiannya bisa pada suami dan
juga pada istri,jika pada suami di pasangkan pada penis dengan meninggalkan
sebagian ujung pada penis agar tidak terjadi robekan pada kondom dan juga guna
untuk menampung sperma . Pada tanggal 02 Mei 2022 pukul 16.00 WIB, Ny.A
datang ke PMB Yulita fatmawati untuk pemberian kondom, Ny.A mengatakan
suami lebih setuju untuk pemakaian kondom pada suami dan kondom sudah
diberikan kepada ibu. Dengan penatalaksanaan yang baik, antara asuhan dan teori
tidak ada kesenjangan.
247