Anda di halaman 1dari 17

Neoliberalisme

Neoliberalisme yang juga dikenal sebagai paham ekonomi neoliberal mengacu pada filosofi
ekonomi-politik akhir-abad keduapuluhan, sebenarnya merupakan redefinisi dan kelanjutan dari
liberalisme klasik yang dipengaruhi oleh teori perekonomian neoklasik yang mengurangi atau
menolak penghambatan oleh pemerintah dalam ekonomi domestik karena akan mengarah pada
penciptaan Distorsi dan High Cost Economy yang kemudian akan berujung pada tindakan
koruptif. Paham ini memfokuskan pada pasar bebas dan perdagangan bebas merobohkan
hambatan untuk perdagangan internasional dan investasi agar semua negara bisa mendapatkan
keuntungan dari meningkatkan standar hidup masyarakat atau rakyat sebuah negara dan
modernisasi melalui peningkatan efisiensi perdagangan dan mengalirnya investasi.

Kebangkitan Neoliberalisme

Perubahan kemudian terjadi seiring krisis minyak dunia tahun 1973, akibat reaksi terhadap
dukungan Amerika Serikat terhadap Israel dalam perang Yom Kippur, dimana mayoritas negara-
negara penghasil minyak di Timur Tengah melakukan embargo terhadap AS dan sekutu-
sekutunya, serta melipatgandakan harga minyak dunia, yang kemudian membuat para elit politik
di negara-negara sekutu Amerika Serikat berselisih paham sehubungan dengan angka
pertumbuhan ekonomi, beban bisnis, dan beban biaya-biaya sosial demokrat (biaya-biaya
fasilitas negara untuk rakyatnya). Pada situasi inilah ide-ide libertarian sebagai wacana dominan,
tidak hanya di tingkat nasional dalam negeri tapi juga di tingkat global di IMF dan World Bank.
Pada 1975, di Amerika Serikat, Robert Nozick mengeluarkan tulisan berjudul "Anarchy, State,
and Utopia", yang dengan cerdas menyatakan kembali posisi kaum ultra minimalis, ultra
libertarian sebagai retorika dari lembaga pengkajian universitas, yang kemudian disebut dengan
istilah "Reaganomics".

Di Inggris, Keith Joseph menjadi arsitek "Thatcherisme". Reaganomics atau Reaganisme


menyebarkan retorika kebebasan yang dikaitkan dengan pemikiran Locke, sedangkan
Thatcherisme mengaitkan dengan pemikiran liberal klasik Mill dan Smith. Walaupun sedikit
berbeda, tetapi kesimpulan akhirnya sama: Intervensi negara harus berkurang dan semakin
banyak berkurang sehingga individu akan lebih bebas berusaha. Pemahaman inilah yang
akhirnya disebut sebagai "Neoliberalisme". Paham ekonomi neoliberal ini yang kemudian
dikembangkan oleh teori gagasan ekonomi neoliberal yang telah disempurnakan oleh Mazhab
Chicago yang dipelopori oleh Milton Friedman.

Neoliberalisme bertujuan mengembalikan kepercayaan pada kekuasaan pasar, dengan


pembenaran mengacu pada kebebasan. Seperti pada contoh kasus upah pekerja, dalam
pemahaman neoliberalisme pemerintah tidak berhak ikut campur dalam penentuan gaji pekerja
atau dalam masalah-masalah tenaga kerja sepenuhnya ini urusan antara si pengusaha pemilik
modal dan si pekerja. Pendorong utama kembalinya kekuatan kekuasaan pasar adalah privatisasi
aktivitas-aktivitas ekonomi, terlebih pada usaha-usaha industri yang dimiliki-dikelola
pemerintah. Tapi privatisasi ini tidak terjadi pada negara-negara kapitalis besar, justru terjadi
pada negara-negara Amerika Selatan dan negara-negara miskin berkembang lainnya. Privatisasi
ini telah mengalahkan proses panjang nasionalisasi yang menjadi kunci negara berbasis
kesejahteraan. Nasionalisasi yang menghambat aktivitas pengusaha harus dihapuskan.
Revolusi neoliberalisme ini bermakna bergantinya sebuah manajemen ekonomi yang
berbasiskan persediaan menjadi berbasis permintaan. Sehingga menurut kaum Neoliberal,
sebuah perekonomian dengan inflasi rendah dan pengangguran tinggi, tetap lebih baik dibanding
inflasi tinggi dengan pengangguran rendah. Tugas pemerintah hanya menciptakan lingkungan
sehingga modal dapat bergerak bebas dengan baik. Dalam titik ini pemerintah menjalankan
kebijakan-kebijakan memotong pengeluaran, memotong biaya-biaya publik seperti subsidi,
sehingga fasilitas-fasilitas untuk kesejahteraan publik harus dikurangi. Akhirnya logika pasarlah
yang berjaya diatas kehidupan publik. Ini menjadi pondasi dasar neoliberalism, menundukan
kehidupan publik ke dalam logika pasar. Semua pelayanan publik yang diselenggarakan negara
harusnya menggunakan prinsip untung-rugi bagi penyelenggara bisnis publik tersebut, dalam hal
ini untung rugi ekonomi bagi pemerintah. Pelayanan publik semata, seperti subsidi dianggap
akan menjadi pemborosan dan inefisiensi. Neoliberalisme tidak mengistimewakan kualitas
kesejahteraan umum.

Tidak ada wilayah kehidupan yang tidak bisa dijadikan komoditi barang jualan. Semangat
neoliberalisme adalah melihat seluruh kehidupan sebagai sumber laba korporasi. Misalnya
dengan sektor sumber daya air, program liberalisasi sektor sumber daya air yang
implementasinya dikaitkan oleh Bank Dunia dengan skema watsal atau water resources sector
adjustment loan. Air dinilai sebagai barang ekonomis yang pengelolaannya pun harus dilakukan
sebagaimana layaknya mengelola barang ekonomis. Dimensi sosial dalam sumberdaya public
goods direduksi hanya sebatas sebagai komoditas ekonomi semata. Hak penguasaan atau konsesi
atas sumber daya air ini dapat dipindah tangankan dari pemilik satu ke pemilik lainnya, dari satu
korporasi ke korporasi lainnya, melalui mekanisme transaksi jual beli. Selanjutnya sistem
pengaturan beserta hak pengaturan penguasaan sumber air ini lambat laun akan dialihkan ke
suatu badan berbentuk korporasi bisnis atau konsursium korporasi bisnis yang dimiliki oleh
pemerintah atau perusahaan swasta nasional atau perusahaan swasta atau bahkan perusahaan
multinasional dan perusahaan transnasional. Satu kelebihan neoliberalisme adalah menawarkan
pemikiran politik yang sederhana, menawarkan penyederhanaan politik sehingga pada titik
tertentu politik tidak lagi mempunyai makna selain apa yang ditentukan oleh pasar dan
pengusaha. Dalam pemikiran neoliberalisme, politik adalah keputusan-keputusan yang
menawarkan nilai-nilai, sedangkan secara bersamaan neoliberalisme menganggap hanya satu
cara rasional untuk mengukur nilai, yaitu pasar. Semua pemikiran diluar rel pasar dianggap
salah. Kapitalisme neoliberal menganggap wilayah politik adalah tempat dimana pasar berkuasa,
ditambah dengan konsep globalisasi dengan perdagangan bebas sebagai cara untuk perluasan
pasar melalui WTO, akhirnya kerap dianggap sebagai Neoimperialisme.

Penyebaran Neoliberalisme

Penerapan agenda-agenda ekonomi neoliberal secara mencolok dimotori oleh Inggris melalui
pelaksanaan privatisasi seluruh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) mereka. Penyebarluasan
agenda-agenda ekonomi neoliberal ke seluruh penjuru dunia, menemukan momentum setelah
dialaminya krisis moneter oleh beberapa Negara Amerika Latin pada penghujung 1980-an.
Sebagaimana dikemukakan Stiglitz, dalam rangka menanggulangi krisis moneter yang dialami
oleh beberapa negara Amerika Latin, bekerja sama dengan Departemen keuangan AS dan Bank
Dunia, IMF sepakat meluncurkan sebuah paket kebijakan ekonomi yang dikenal sebagai paket
kebijakan Konsensus Washington. Agenda pokok paket kebijakan Konsensus Washington yang
menjadi menu dasar program penyesuaian struktural IMF tersebut dalam garis besarnya
meliputi : (1) pelaksanan kebijakan anggaran ketat, termasuk penghapusan subsidi negara dalam
berbagai bentuknya, (2) pelaksanaan liberalisasi sektor keuangan, (3) pelaksanaan liberalisasi
sektor perdagangan, dan (4) pelaksanaan privatisasi BUMN.

1. Di Indonesia

Di Indonesia, walaupun sebenarnya pelaksanaan agenda-agenda ekonomi neoliberal telah


dimulai sejak pertengahan 1980-an, antara lain melalui paket kebijakan deregulasi dan
debirokratisasi, pelaksanaannya secara massif menemukan momentumnya setelah Indonesia
dilanda krisis moneter pada pertengahan 1997. Menyusul kemerosotan nilai rupiah, Pemerintah
Indonesia kemudian secara resmi mengundang IMF untuk memulihkan perekonomian Indonesia.
Sebagai syarat untuk mencairkan dana talangan yang disediakan IMF, pemerintah Indonesia
wajib melaksanakan paket kebijakan Konsensus Washington melalui penanda-tanganan Letter
Of Intent (LOI), yang salah satu butir kesepakatannya adalah penghapusan subsidi untuk bahan
bakar minyak, yang sekaligus memberi peluang masuknya perusahaan multinasional seperti
Shell. Begitu juga dengan kebijakan privatisasi beberapa BUMN, diantaranya Indosat, Telkom,
BNI, PT. Tambang Timah dan Aneka Tambang.

2. Di Amerika Serikat

Dalam penggunaan di Amerika Serikat, istilah neoliberalisme dihubungkan dengan dukungan


untuk perdagangan bebas dan welfare reform, tapi tidak dengan tentangan terhadap
Keynesianism atau environmentalism. Dalam konteks AS, misalnya, ekonom Brad DeLong
adalah seorang neoliberal, walaupun ia mendukung Keynesi, income redistribution, dan pengritik
pemerintahan George W. Bush. Dalam penggunaan AS, neoliberalisme ("liberalisme baru")
biasanya dihubungkan dengan the Third Way, atau sosial-demokrasi di bawah gerakan New
Public Management. Pendukung versi AS menganggap bahwa posisi mereka adalah pragmatis,
berfokus pada apa yang dapat berhasil dan melebihi debat antara kiri dan kanan, walaupun
liberalisme baru mirip dengan kebijakan ekonomi center-of-left (seperti halnya di Kanada di
abad ke-20). Kedua penggunaan ini dapat menimbulkan kebingungan. Dalam penggunaan
internasional, presiden Ronald Reagan dan United States Republican Party dipandang sebagai
pendukung neoliberalisme. Tapi Reagan tidak pernah digambarkan demikian dalam diskusi
politik di AS, di mana istilah ini biasanya diterapkan pada Democrats seperti Democratic
Leadership Council.

Renaissance

hidup dengan humanisme menjadi pegangan sehari-hari. Selain itu adanya dukungan dari
keluarga saudagar kaya semakin menggelorakan semangat Renaissance sehingga menyebar ke
seluruh Italia dan Eropa.

Karakteristik Renaissance

Renaissance merupakan titik awal dari sebuah peradaban modern di Eropa. Essensi dari
semangat Renaissance salah satunya adalah pandangan manusia bukan hanya memikirkan nasib
di akhirat seperti semangat Abad Tengah, tetapi mereka harus memikirkan hidupnya di dunia ini.
Renaissance menjadikan manusia lahir ke dunia untuk mengolah, menyempurnakan dan
menikmati dunia ini baru setelah itu menengadah ke surga. Nasib manusia di tangan manusia,
penderitaan, kesengsaraan dan kenistaan di dunia bukanlah takdir Allah melainkan suatu keadaan
yang dapat diperbaiki dan diatasi oleh kekuatan manusia dengan akal budi, Zaman Renaisans
adalah zaman kelahiran-kembali (Renaissance, bahasa Perancis) kebudayaan Yunani-Romawi di
Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 M. Sesudah mengalami masa kebudayaan tradisional yang
sepenuhnya diwarnai oleh ajaran kristiani. Namun, orang-orang kini mencari orientasi dan
inspirasi baru sebagai alternatif bagi kebudayaan Yunani-Romawi sebagai satu-satunya
kebudayaan lain yang mereka kenal dengan baik. Kebudayaan klasik ini juga dipuja dan
dijadikan model serta dasar bagi seluruh peradaban manusia.

Latar Belakang

Kebudayaan Yunanni-Romawi adalah kebudayaan yang menempatkan manusia sebagai


subjek utama. Filsafat Yunani, misalnya menampilkan manusia sebagai makhluk yang
berpikirterus-menerus memahami lingkungan alamnya dan juga menentukan prinsip-prinsip bagi
tindakannya sendiri demi mencapai kebahagiaan hidup (eudaimonia). Kesustraan Yunani,
misalnya kisah tentang Odisei karya penyair Yunani Kuno, Homerus, menceritakan tentang
keberanian manusia menjelajahi suatu dunia yang penuh dengan tantangan dan pengalaman baru.
Arsitektur ala Yunani-Romawi mencerminkan kemampuan manusia dalam menciptakan harmoni
dari aturan hukum, kekuatan, dan keindahan. Selain itu, kemampuan bangsa Romawi dalam
bidang tehnik dan kemampuan berorganisasi pantas mendapatkan acungan jempol. Semua ini
jelas menunjukkan bahwa kebudayaan Yunani-Romawi memberikan tempat utama bagi manusia
dalam kosmos. Suatu pandangan yang biasa disebut dengan ''Humanisme Klasik''.

Humanisme Klasik

Kebudayaan Raissans ditujukan untuk menghidupkan kembali Humanisme Klasik yang


sempat terhambat oleh gaya berpikir sejumlah tokoh Abad Pertengahan. Hal ini memiliki kaitan
dengan hal yang tadi dijelaskan. Apabila dibandingkan dengan zaman Klasik yang lebih
menekankan manusia sebagai bagian dari alam atau polis (negara-negara kota atau masyarakat
Yunani Kuno). Humanisme Renaissans jauh lebih dikenal karena penekanannya pada
individualisme. Individualisme yang menganggap bahwa manusia sebagai pribadi perlu
diperhatikan. Kita bukan hanya umat manusia, tetapi kita juga adalah individu-individu unik
yang bebas untuk berbuat ssuatu dan menganut keyakinan tertentu. Kemuliaan manusia sendiri
terletak dalam kebebasannya untuk menentukan pilihan sendiri dan dalam posisinya sebagai
penguasa atas alam (Pico Della Mirandola). Gagasan ini mendorong munculnya sikap pemujaan
tindakan terbatas pada kecerdasan dan kemampuan individu dalam segala hal. Gambaran
manusia di sini adalah manusia yang dicita-citakan Humanisme Renaissans adalah manusia
universal (Uomo Universale).

Faktor-faktor Munculnya Renaissance

Middle Age merupakan zaman dimana Eropa sedang mengalami masa suram. Berbagai
kreativitas sangat diatur oleh gereja. Dominasai gereja sangat kuat dalam berbagai aspek
kehidupan. Agama Kristen sangat mempengaruhi berbagai kebijakan yang dibuat oleh
pemerintah. Seolah raja tidak mempunyai kekuasaan, justru malah gereja lah yang mengatur
pemerintahan. Berbagai hal diberlakukan demi kepentingan gereja, tetapi hal-hal yang
merugikan gereka akan mendapat balasan yang sangat kejam. Contohnya, pembunuhan
Copernicus mengenai teori tata surya yang menyebutkan bahwa matahari pusat dari tata surya,
tetapi hal ini bertolak belakang dari gereja sehingga Copernicus dibunuhnya. Pemikiran manusia
pada Abad Pertengahan ini mendapat doktrinasi dari gereja. Hidup seseorang selalu dikaitkan
dengan tujuan akhir (ekstologi). Kehidupan manusia pada hakekatnya sudah ditentukan oleh
Tuhan. Maka tujuan hidup manusia adalah mencari keselamatan. Pemikiran tentang ilmu
pengetahuan banyak diarahkan kepada theology. Pemikiran filsafat berkembang sehingga lahir
filsafat scholastik yaitu suatu pemikiran filsafat yang dilandasi pada agama dan untuk alat
pembenaran agama. Oleh karena itu disebut Dark Age atau Zaman Kegelapan.

Dengan adanya berbagai pembatasan yang dilakukan pihak pemerintah atas saran dari gereja
maka timbulah sebuah gerakan kultural, pada awalnya merupakan pembaharuan di bidang
kejiwaan, kemasyarakatan, dan kegerejaan di Italia pada pertengahan abad XIV. Sebelum gereja
mempunyai peran penting dalam pemerintahan, golongan ksatria hidup dalam kemewahan,
kemegahan, keperkasaan dan kemasyuran. Namun, ketika dominasi gereja mulai berpengaruh
maka hal seperti itu tidak mereka peroleh sehingga timbullah semangat renaissance. Menurut
Ernst Gombrich munculnya renaissance sebagai suatu gerak kembali di dalam seni, artinya
bahwa renaissance tidak dipengaruhi oleh ide-ide baru. Misalnya, gerakan Pra-Raphaelite atau
Fauvist merupakan gerakan kesederhanaan primitif setelah kekayaan gaya Gotik Internasional
yang penuh hiasan. Menurut Prancis Michel De Certeau renaissance muncul karena bubarnya
jaringan-jaringan sosial lama dan pertumbuhan elite baru yang terspesialisasi sehingga gereja
berusaha untuk kembali mendesak kendali dan manyatukan kembali masyarakat lewat
pemakaian berbagai teknik visual-dengan cara-cara mengadakan pameran untuk mengilhami
kepercayaan, khotbah-khotbah bertarget dengan menggunakan citra-citra dan teladan-teladan dan
sebagainya yang diambil dari pemikiran budaya klasik sehingga dapat mempersatukan kembali
gereja yang terpecah-belah akibat skisma (perang agama).

Renaissance muncul dari timbulnya kota-kota dagang yang makmur akibat perdagangan
mengubah perasaan pesimistis (zaman Abad Pertengahan) menjadi optimistis. Hal ini juga
menyebabkan dihapuskannya system stratifikasi sosial masyarakat agraris yang feodalistik.
Maka kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan feodal menjadi masyarakat yang bebas.
Termasuk kebebasan untuk melepaskan diri dari ikatan agama sehingga menemukan dirinya
sendiri dan menjadi focus kemajuan. Antroposentrisme menjadi pandangan otonomi dan bakat-
baktnya. Manusia bukan budak melainkan majikan atas dirinya. Inilah semangat humanis,
semangat manusia baru yang oleh Cicero dikatakan dapat dipelajari melalui bidang sastra,
filsafat, retorika, sejarah dan hukum. Dengan semakin kuatnya Renaissance sekularisasi berjalan
makin kuat. Hal ini menyebabkan agama semakin diremehkan bahkan kadang digunakan untuk
kepentingan sekulerisasi itu sendiri. Semboyan mereka “religion was not highest expression of
human values”. Bahkan salah seorang yang dilukiskan sebagai manusia ideal renaissance Leon
Batista Alberti (1404-1472), secara tegas berani mengatakan “Man can do all things if they will”.
Renaissance mengajarkan kepada manusia untuk memanfaatkan kemampuan dan
pengetahuannya bagi pelayanan kepada sesama. Manusia hendaknya menjalani kehidupan secara
aktif memikirkan kepentingan umum bukan hidup bersenang-senang dalam belenggu moral dan
ilmu pengetahuan di menara gading. Manusia harus berperan aktif dalam kehidupan, bukan sifat
pasif seraya pasrah pada takdir. Namun, manusia menjadi pusat segala hal dalam kehidupan atau
Antoposentrisme. Manusia renaissance harus berani memuji dirinya sendiri, mengutamakan
kemampuannya dalam berfikir dan bertindak secara bertanggung jawab, menghasilkan karya
seni dan mengarahkan nasibnya kepada sesama. Keinginan manusia untuk menonjolkan diri baik
dari keindahan jasmani maupun kemampuan intelektual-intelektualnya. Keinginannya itu
dituangkan dalam berbagai karya seni sastra, seni lukis, seni pahat, seni music dan lain-lain.
Ekspresi daya kemampuan manusia terus berkembang sampai saat ini

Dampak Renaissance

Sumbangan Renaissance Kepada Eropa :

Kemunculan aliran pemikiran yang mementingkan kebebasan akal seperti alirn baru Eropah
hingga abad ke 18 seperti Humanisme, rasionalisme, nasionalisme dan absolutisme berani
mempersoalkan kepercayaan dan cara pemikiran lama yang diamalkan selama ini secara
langsung melemhkan kekuasaan golongan feudal. Itali telah menjadi pusat ilmu yang terkenal di
Eropah pada abad ke 15. Hal ini terjadi apabila Kota constntinople dikuasai oleh Islam telah
jatuh ke tangan orang Barat pada tahun 1453. Keadaan ini telah menyebabkan ramai para ilmuan
Islam berhijrah ke pusat-pusat perdagangan di Itali. Ini menyebabkan Itali menjadi pusat
intelektual terkenal di Eropah pada masa itu. Renaissance telah membentuk masyarakat
perdagangan yang berdaya maju.Keadaan ini telah melemahkan kedudukan dn kekuasaan
golongan feudal yang sentiasa berusaha menyekat perkembangan ilmu dan masyarakat di Eropa.
Melahirkan tokoh-tokoh pemikir seperti Leonardo de Vinci yang terkenal sebagi pelukis,
pemuzik dan ahli falsafah serta jurutera. Michelangelo merupakan tokoh seni, arkitek, jurutera,
penyair dan ahli anotomi.

Melahirkan ahli-ahli sains terkenal seperti Copernicus dan Galileo. Melahirkan ahli
matematik seperti Tartaglia dan Cardan yang berusaha menghuraikan persamaan ganda tiga.
Tartaglia orang pertama yang menggunakan konsep matematik dalam ketenteraan iaitu
mengukur tembakan peluru mariam. Cardan terlibat dalam penghasilan ilmu algebra. Selain itu,
Renaissance telah melahirkan tokoh-tokoh perubatan di Eropah.Antara tokoh perubatan terkenal
iaitu William Harvey yang telah memberi sumbangan dalam kajian peredaran darah.Renaissance
telah melahirkan masyarakat yang lebih progresif dan wujud semangat inquiri sehingga
membawa kepada aktiviti penjelajahan dan penerokaan.

Revolusi Industri

Sebelum abad ke-18 sistem perekonomian masyarakat Eropa sangat bergantung pada sistem
ekonomi agraris. Akan tetapi setelah memasuki abad ke-18 terjadi perubahan besar dalam pola
hidup masyarakat Eropa. Perubahan tersebut ditunjukkan dengan mulai digunakannya tenaga
mesin sebagai alat produksi di pabrik-pabrik menggantikan tenaga manusia dan hewan.
Perubahan inilah yang disebut dengan Revolusi Industri. Sehingga Revolusi Industri dapat
dikatakan sebagai suatu peristiwa yang mengubah sistem ekonomi agraris menjadi sistem
ekonomi industri yang menggunakan tenaga mesin sebagai alat produksinya, menggantikan
tenaga hewan dan manusia. Sebelum dikenal alat-alat mekanis dan otomatis, masyarakat Eropa
bekerja dengan menggunakan alat-alat manual (menggunakan tenaga manusia) dan masih
mengandalkan kecepatan kedua tangan dan kaki. Artinya, alat-alat tersebut tidak akan berfungsi
dan bekerja jika tidak ada tangan atau kaki. Peralatan yang dimaksud seperti cangkul, parang,
sekop, gergaji, pisau, pengukur, palu, penenun, pemintal, pancung, jala, pendayung, dan lain-
lain. Pada masa revolusi industri, peralatan tersebut jarang digunakan sebab telah ditemukan
mesin pemintal, mesin tenun, lokomotif, dan sebagainya. Semua mesin tersebut bukan digunakan
oleh tangan dan kaki, tetapi oleh mesin uap. Dengan demikian, pada masa revolusi industri
terjadi penghematan tenaga manusia. Setelah revolusi industri terjadi, perbedaan pola hidup
masyarakat sangat terlihat sekali.

Latar Belakang Revolusi Industri

Revolusi Industri di kawasan benua Eropa bermula di negara Inggris. Kemudian pada
awal abad ke-19, mulai menyebar ke negara-negara Eropa lainnya dan negara-negara di benua
Amerika. Adapun sebab-sebab yang melatarbelakangi terjadinya revolusi industri tersebut adalah
sebagai berikut:

 Keamanan dalam negara Inggris yang mantap

Mantapnya kondisi keamanan negara Inggris pada sekitar abad ke-18, sehingga menjamin
seluruh segi kehidupan masyarakat Inggris pada saat itu. Begitu pula dengan sistem ekonomi,
masyarakat Inggris dengan tenang dan tanpa rasa takut menjalankan roda perekonomian mereka.

 Mulai berkembangnya kegiatan kewiraswastaan dan manufaktur

Perkembangan masyarakat Eropa sebelum Revolusi Industri hidup dalam sistem


perdagangan yang masih menggunakan uang dan sistem barter. Kegiatan-kegiatan produksi
dilakukan di rumah-rumah atau kerajinan rumah (home industry). Di Perancis dikenal istilah
"gilda", yaitu bengkel kerja dan pusat usaha. Setiap orang yang akan memesan barang-barang
dapat menghubungi gilda. Alat-alat yang dihasilkan oleh gilda adalah alat rumah tangga, alat
kerja pertanian, dan sebagainya. Gilda baru bekerja apabila ada pesanan. Perkembangan
selanjutnya dari gilda ini adalah munculnya minat yang luar biasa dai masyarakat Inggris
terhadap tempat pengolahan yang lebih memadai seperti pabrik. Dari minat inilah, muncul
kegiatan ekonomi manufaktur dimana para pekerja tidak lagi bekerja di rumah-rumah melainkan
ditempat-tempat khusus yang disediakan pengusaha sebagai tempat produksi.

 Inggris memiliki kekayaan alam terutama batu bara dan bijih besi

Kekayaan SDA Inggris seperti banyak ditemukannya batu bara dan bijih besi, telah
membantu Inggris dalam mengembangkan industrinya karena batu bara dan bijih besi sangat
diperlukan dalam proses produksi. Batu bara dijadikan sebagai bahan bakar mesin-mesin dan
bijih besi diperlukan untuk industri berat. Kekayaan alam tersebut ditunjang oleh kemampuan
dan keinginan manusianya. Orang Inggris terkenal sebagai orang yang rajin dan tekun dalam
penelitian alam. Kemauan dan keuletan warga Inggris itu, didukung oleh adanya lembaga
penelitian bernama The Royal for Improving Natural Knowladge yang didirikan oleh pemerintah
Inggris tahun 1662 dan The French Academy of Science yang didirikan tahun 1666. Kedua
lembaga tersebut mensponsori kegiatan-kegiatan eksplorasi alam, sehingga dengan adanya
lembaga-lembaga ini telah mendorong tejadinya penemuan-penemuan baru di kemudian hari.

 Inggris memiliki banyak daerah jajahan

Kerajaan Inggris pada abad ke-18 memiliki banyak daerah jajahan yang tersebar di benua
Afrika dan Asia. Daerah-daerah jajahan inilah yang mendukung kegiatan industri Inggris, karena
daerah-daerah jajahan tersebut dapat menyediakan bahan baku yang diperlukan oleh industri
Inggris. Selain itu, daerah-daerah jajahan tersebut dapat dijadikan sebagai tempat pemasaran
hasil industri Inggris.

 Terjadinya Revolusi Agraria

Kondisi masyarakat Inggris yang dilanda gejolak turut melatarbelakangi revolusi industri di
negara tersebut. Gejolak yang dimaksud adalah Revolusi Agraria (pertanian). Revolusi agraria
ini disebabkan oleh berkembangnya kerajinan pakaian wol, yang dengan sendirinya
meningkatkan permintaan bulu domba. Dari hal itu, usaha di bidang wol menjadi sangat
menarik, maka tanah pertanian diubah menjadi peternakan domba. Untuk keperluan peternakan
domba tersebut, tanah para bangsawan yang tersebar letaknya dikumpulkan dengan cara ditukar-
tukar dengan tanah milik petani. Tanah yang berupa tanah padang rumput itu dipagari dan
digunakan sebaai penggembalaan domba. Perubahan fungsi tanah menjadi lahan peternakan pun
disebabkan harga gandum yang turun. Perubahan tersebut mempunyai dampak terhadap para
petani. Sebelumnya, pada saat tanah pertanian masih diusahakan mereka bekerja sebagai petani
penyewa. Sebab tanah di Inggris pada dasarnya adalah milik raja dan bangsawan.Sejak tanah itu
diubah menjadi lahan peternakan jumlah pekerja yang dibutuhkan relatif sedikit. Akibatnya,
banyak para petani beralih kerja sebagai pekerja di tambang batu bara dan pabrik-pabrik tekstil.
Ada pula yang pergi ke kota yang mencari kerja disana. Namun, lapangan kerja terbatas dan
akhirnya muncul gelandangan. Munculnya gelandangan menjadi masalah tersendiri bagi
pemerintah. Pada saat perkembangan industri sangat pesat di perkotaan, pemerintah dapat
menanggulangi masalah gelandangan degan menjadikan sebagai buruh.

 Munculnya paham ekonomi liberal

Kegiatan lain yang mendorong lahirnya Revolusi Industri adalah kegiatan perekonomian.
Sejak abad ke-17, dunia pelayaran dan perdagangan di Inggris. berkembang pesat.
Perkembangan itu dibuktikan oleh banyaknya kongsi-kongsi dagang, seperti EIC (East India
Company), Virginia Co., Plymouth Co., Massachusets Bay Co., dan lain-lain. Para kongsi
dagang banyak memperoleh keuntungan dari penanaman modalnya di Inggris dan daerah lain.
Sebagian besar dari keuntungannya itu ditabung di bank, sehingga secara keseluruhan aktivitas
mereka memberi kesejahteraan bagi Kerajaan Inggris. Gejolak dalam masyarakat lainnya adalah
munculnya paham ekonomi liberal. Tokoh-tokoh yang mengembangkan paham ini adalah Adam
Smith, Thomas Robert Malthus, David Ricardo, dan John Sturart Mill. Paham ekonomi
liberal muncul sebagai reaksi terhadap paham ekonom merkantilisme yang melahirkan sistem
ekonomi yang diatur oleh pemerntah. Para pencetus gagasan ekonomi liberal menyatakan
kemakmuran rakyat akan cepat tercapai apabila rakyat dibebaskan untuk melakukan kegiatan
ekonomi. Lahirnya paham ekonomi liberal di Inggris memantapkan persiapan masyarakat
menuju suatu zaman industri. Artinya, paham ekonomi liberal memberi peluang bagi
perkembangan industri-industri baru di Inggris.

 Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

Sejak awal abad ke-16, Inggris mulai memasuki abad pemkiran yang mengakibatkan
munculnya ilmuwan-ilmuwan terkemuka dalam berbagai bidang pengetahuan dan teknologi.
Bersama dengan munculnya ilmuwan-ilmuwan baru tersebut, muncul pula ide-ide baru. Ide dan
gagasan bau tersebut mendorong terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan yang didasarkan atas ide dan gagasan baru tersebut, muncul pula penemuan-
penemuan baru yang dapat memperingan segala jenis pekerjaan manusia. Dengan temuan-
temuan baru inilah Revolusi Industri dimulai.  

Jalannya Revolusi Industri

Perkembangan Revolusi Industri di Inggris ditandai dengan penemuan mesin-mesin yang


berguna bagi dunia industri. James Watt pada tahun 1763 menemukan mesin uap. Hasil
temuannya itu lebih efektif dan efisien dibandingkan dengan hasil penemuan Thomas
Newcomen. Temuan Newcomen, hanya berupa mesin yang dapat memompa air yang
menggenang di tambang-tambang batu bara dan masih menggunakan tenaga manusia. Dengan
demikian, temuan James Watt dapat digunakan di pabrik-pabrik. Awalnya pabrik-pabrik sangat
bergantung pada tenaga air. Oleh karena itu, pabrik harus didirikan di dekat sungai. Dengan
menggunakan bahan bakar batu bara, mesin uap temuan Watt, menyebabkan pabrik-pabrik tidak
bergantung lagi pada tenaga air dan dapat didirikan dimana saja. Penemuan lainnya yang
menunjang kemajuan industri adalah penemuan mesin-mesin pertekstilan. penemuan dibidang
tekstil ini didasarkan pada keinginan untuk memproses bahan tekstil secara cepat.

Pada tahu 1768, ilmuwan Richard Arkwright dan John Kay menemukan alat tenun yang
dapat memproduksi cepat (flying shuttle dan water frame). Temuan ini lebih maju dibandingkan
temuan John Hargreaves, yaitu mesin pemintal yang dapat menghasilkan beberapa benang
(spinning jenny). Mesin tersebut masih digerakkan oleh tenaga kuda dan tenaga air. Tahun 1785,
penemuan mesin tenun yang lebih otomatis (power loom) dibuat oleh Edmund Cartwright. Dia
menggabungkan penemuan Arkwirght, Kay, Hargreaves, dan James Watt. Mesin tenun dan
puntal temuan Edmund Cartwright menggunakan mesin uap. Hasil temuan James Watt ternyata
menjadi inspirasi bagi penemuan teknologi lainnya dalam bidang industri ataupun alat
transportasi. Diantaranya adalah Henry Cort, menemukan mesin pelebur bijih besi dengan
bahan bakar batu bara. Penemuan ini melahirkan temuan lain dalam bidang transportasi seperti
kapal uap oleh Robert Fulton dan kereta api uap oleh George Stephenson. Pada akhirnya,
penemuan di bidang teknologi memiliki dampak yang luas di bidang industri. Sehingga, produksi
barang dapat diproses dengan cepat. Proses didistribusikan dan pemasaran barang-barang
industri pun semakin lancar, ketika berkembangnya sarana jalan dan alat trnsportasi yang
digerakan oleh mesin.  
Dampak Revolusi Industri :

1. Barang-barang konsumsi menjadi berlimpah dan dapat dibeli dengan harga murah sebab
dengan mesin industri barang-barang dapat tercetak dengan mudah sehingga harganya
lebih murah.
2. Terjadi urbanisasi karena munculnya kota-kota industri sehingga banyak orang yang
bekerja di pabrik dengan upah yang minimum,banyak pengangguran dan kemiskinan
sehingga menimbulkan banyak kerusuhan.
3. Upah kerja yang rendah dengan waktu kerja yang panjang, pemakaian tenaga wanita dan
anak-anak, serta fasilitas kerja yang buruk. Hal ini menyebabkan terjadi pemogokan yang
disertai kerusuhan dan perusakan.
4. Terjadinya jurang pemisah antara pengusaha dengan buruh/ pekerja. Dimana pengusaha
semakin kaya, sedangkan buruh semakin miskin (terjadi ketimpangan ekonomi)
5. Hasil industri semakin melimpah sehingga pasar semakin luas. Lalu lintas barang
berjalan cepat. Transportasi berkembang pesat baik di darat, laut, maupun udara.
6. Diperlukan daerah-daerah untuk pemasaran, investasi dan pemasokan bahan mentah bagi
industri-industri bangsa-bangsa Eropa untuk melindungi kegiatan ekonominya. Sehingga
mulailah kolonialisme oleh bangsa-bangsa Eropa.

REVOLUSI PERANCIS

Kedekatan hubungan antara golongan rohaniawan dengan golongan gereja menimbulkan


berbagai penyimpangan di tubuh Gereja Katolik yang akhirnya mendorong terjadinya Reformasi
Gereja. Perdebatan seru terjadi antara para pendukung Ulrich Zwingly dengan rohaniawan
Katolik mengenai essensi dari hidup selibat para rohaniawan memunculkan cara hidup baru
dalam hubungan keimanan dengan seks. Raja Henry VIII dari Inggris bahkan dengan tegas
mendirikan gereja sendiri ketika permohonannya untuk menikah lagi (poligami) ditolak oleh
Paus. Sistem ekonomi Merkantilisme yang diterapkan negara memberi kesempatan bagi
berkembangnya berbagai monarki absolut di Eropa. Merkantilisme membuka peluang bagi
negara untuk menumpuk kekayaan, memperlebar pengaruhnya pada rakyat bahkan wilayah-
wilayah taklukan. Pertautan antara sistem ekonomi Merkantilisme, dengan sistem politik
monarki absolut semakin diperkuat dengan adanya ide-ide dari para pemikir yang menandai
auflklarung (pencerahan) di Eropa. Salah satu pemikiran yang dianggap menjadi landasan
berpikir para penguasa monarki-monarki absolut adalah tulisan berjudul Il Principe dari Nicolo
Machiavelli. Machiavelli adalah seorang diplomat yang sangat populer dari Florence (Italia).
Buku Il Principe mengulas usaha-usaha para pejuang di Italia untuk mencapai kejayaan bagi
negaranya. Para pejuang tersebut bagi Machiavelli merupakan tokoh-tokoh pemimpin masa
depan. Ulasan tersebut membuat bukunya juga kemudian diterjemahkan dalam judul "The
Prince".

Usaha-usah apara penuang Italia, dalam pandangan Machiavelli merupakan cara ideal untuk
mewujudkan sebuah negara besar yang bebas dari penjajahan dan perbudakan. Setelah
perjuangan tersebut berhasil menurutnya, sebuah negara harus diarahkan pada bentuk Machtstaat
(negara kekuasaan). Pada sebuah negara kekuasaan, seorang pemimpin (negara) dalam
melakukan "segala tindakan", asalkan demi kepentingan negara. Ide Machiavelli kemudian
digunakan secara luas oleh para penguasa di Eropa untuk dapat memenangkan dan memegang
teguh kekuasaannya. Pengaruh pemikiran Machiavelli bahkan memiliki dampak yang cukup luas
dalam pemikiran politik. Politik modern juga masih mengadopsi pemikiran tersebut. Tidak
jarang politik diartikan sama seperti yang dikemukakan oleh Machiavelli sebagai "the tools for
leader to win and hold the power". Intrik dan konflik politik sering mewarnai setiap pergantian
kepemimpinan di berbagai belahan dunia. Tidak jarang pula pemikiran politik yang demikian
memunculkan pemimpin-pemimpin besar yang berpengaruh besar bagi kehidupan banyak
bangsa. Pemimpin-pemimpin demikian justru dielu-elukan dan dijunjung tinggi rakyatnya saat
mereka berkuasa, tetapi justru dihujat setelah mereka turun dari tampuk pemerintahannya. Di
luar aspek sentiment negatif rakyat terhadap pemimpin tersebut, pada dasarnya pemimpin
demikian selama berkuasa tidak sedikit menghasilkan berbagai perubahan radikal dan progresif
bagi sistem politik di tingkat nasional maupun dunia.

Selain pemikiran Machiavelli, ide mengenai pemerintahan raja yang begitu luas juga
sebenarnya dipengaruhi oleh konsep kepemimpinan gereja Katolik di masa tersebut, khususnya
yang dikenal dengan "pontifex maximus". Kekuasaan Paus dengan sistem pontifex maximus,
mendorong para pengusung kekuasaan ingin memperoleh kekuasaan luas seperti yang dimiliki
oleh Paus. Di Eropa Timur, terutama Yunani, ide tersebut dimanifestasikan dalam bentuk sistem
pemerintahan kekaisaran yang bercorak sama dengan sebutan caesaro-papisme. Jabatan kaisaran
adalah sebagai kepala gereja di negerinya dan sekaligus juga kepala negara. Kesetiaan seorang
warga negara terhadap Tuhan harus ditunjukkan pula dengan sikap taat dan tunduknya kepada
Kaisar sebagai wakil Tuhan. Caesaro papisme atau pontifex maximus yang bergandengan
dengan monarki absolutisme memunculkan begitu banyak penguasa-penguasa besar yang
berkuasa secara mutlak. Raja-raja atau penguasa-penguasa absolut tersebut dijuluki sebagai
despot atau tiran. Sistem kekuasaannya disebut despotisme atau tirani. Ciri-ciri dari penguasaan
mutlak dari despot-despot tersebut antara lain: (1) memerintah tanpa adanya konstitusi; (2)
memerintah tanpa adanya parlemen; (3) memerintah tanpa adanya kepastian hukum; (4)
memerintah tanpa adanya anggaran belanja negara. Intinya raja-raja absolut memerintah tanpa
dibatasi oleh apapun juga. Seperti telah ditegaskan bahwa kepemimpinan dalam negara monarki
abslutisme juga membawa kejayaan bagi beberapa negara. Prusia (1740- 1786) pada masa Raja
Frederick II berhasil mewujudkan kejayaan Prusia di Jerman dan puncaknya ketika tercapai
persatuan wilayah Jerman pada masa Perdana Menteri Bismarck yang terkenal dengan
gagasannya yang berbunyi "durch blut und eisen" (dengan darah dan tangan besi). Rusia pada
masa pemerintahan Czar Peter (1689 - 1725) berhasil memiliki kekuasaan luas dengan
menjalankan "politik air hangat". Kaisar Joseph II dari Austria (1780 - 1790) berhasil menarik
simpati rakyat dengan program penghapusan sistem budak tani dan pajak yang memebebani
rakyatnya.

Tidak semua usaha untuk membentuk kekuasaan absolut berhasil. Di Inggris usaha tersebut
justru mengalami kegagalan. Inggris memang sempat menjalani masa absolutisme pada masa
pemerintahan Charles I (1625 - 1649). Kekuasaan tersebut mendapatkan perlawanan. The civil
war yang dipimpin oleh Oliver Cromwell (1642 - 1649) pada akhirnya meruntuhkan kekuasaan
tersebut. Inggris kemudian membentuk parlemen dan menjadi negara Republik yang dipimpin
oleh Cromwell dengan gelar Lord Protector. Ambisi Cromwell yang besar pada akhirnya juga
mengantarkan Inggris kembali menjadi sebuah negara kerajaan. Namun kekuasaan parlemen
yang besar berhasil mencegah tumbuhnya kembali absolutisme. Sepeninggalan Cromwell,
parlemen Inggris berhasil memaksa Ratu Mary untuk menandatangani Bill of Rights 1689.
Penandatanganan Bill of Right di Inggris merupakan suatu lambang kejayan besar rakyat atas
pemerintahan. Bill of Right ditandatangani dalam suasana tanpa perseteruan dan pertumbahan
darah, sehingga revolusi tersebut sering juga disebut sebagai Glorious Revolution. Bill of Right
1689 memuat berbagai jaminan pokok bagi masyarakat Inggris yang dapat diidentikkan sebagai
sebuah Piagam Hak Asasi Manusia. Isi pokok dari piagam tersebut adalah: (1) kekuasaan
parlemen berada di atas kekuasaan raja; (2) raja harus memberikan jaminan toleransi dalam
beragama; (3) raja menjamin kebebasan pers; (4) anggota parlemen dipilih melalui general
election; (5) pungutan pajak apapun yang akan dilakukan oleh kerajaan harus atas dasar
persetujuan parlemen; (6) tidak ada pengerahan kekuatan militer tanpa persetujuan parlemen.

Jika di Inggris, absolutisme mengalami kegagalan, justru hal yang sama berlaku sebaliknya
di Perancis. Perancis merupakan sebuah negara yang paling sukses dalam menjalankan monarki
absolutisme. Benih-benih absolutisme di perancis sebenarnya telah ada sejak masa kekuasaan
Richelieu (1624 - 1643) dan Mazarin (1643 - 1661). Absolutisme menjadi sebuah kenyataan
setelah Raja Louis XIII berkuasa (1610 - 1643). Pada masa kekuasaan Raja Louis XIII, parlemen
Perancis dibekukan dan raja mengambil ahli seluruh tugas parlemen dan menjalankan tugas
pemerintahan secara tak terbatas. Puncak kejayaan absolutisme di Perancis tercapai pada masa
pemerintahan Raja Louis XIV (1643 - 1715). Pada masa pemerintahan tersebut ditandai dengan
beberapa tindakan militer yang cukup berhasil meneguhkan pemerintahan absolutisme, misalnya:
(1) mendesak dan mematahkan kekuatan Kaum Calvinis; (2) mengurangi dan akhirnya mencabut
kekuasaan para raja-raja vazal yang berkuasa selama diterapkannya sistem ekonomi feodalisme;
(3) Louis XIV mengukuhkan diri sebagai yang paling utama di negaranya dengan menobatkan
diri sebagai L'etat cest moi (negara adalah saya), membangun istana sang surya (le roi soleil) dan
menuunjukkan seluruh kekuasaannya dengan tindakan sewenang-wenang. Masa kekuasaan Raja
Louis XIV diilustrasikan oleh Charles Dickens dalam buku Oliver Twist sebagai sesuatu
kebiadaban golongan aristokrat terhadap rakyat jelata. Golongan aristokrat memeras rakyat
dengan pajak yang tinggi, hidup mewah dan berpesta pora dengan kekayaan tersebut, dan
membiarkan rakyat jelata hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Rakyat dijerat dengan
hukuman yang keras. Penjara Bastile dibangun sebagai lambang absolutisme raja. Orang-orang
yang menentang kekuasaan raja dan golongan aristokrat akan dipenjarakan dan disiksa selama
berada dalam penjara Bastile. Pada akhirnya mereka juga akan berahir di ujung pisau guloitine.
Tindakan semena-mena raja dan golongan aristokrat memang menuai protes dari banyak
kalangan. Para pemikir yang sempat mengalamai sendiri Perang Kemerdekaan Amerika (1776)
dan Glorious Revolution di Inggris berusaha menggalang kekuatan rakyat melalui protes yang
disampaikan dalam pemikiran-pemikirannya.

John Locke (1632 - 1704) melancarkan protesnya terhadap absolutisme Perancis dengan
mengemukakan ide-ide mengenai hak asasi manusia (hak milik, hak kemerdekaan, dan hak
kebebasan); stated rule by law; dan perlunya pemisahan kekuasaan. Montesquieu (1689 - 1755)
dalam tulisan berjudul L'esprit des Lois mengemukakan teori Trias Politica sebagai landasan
kenegaraan. Jean Jacques Rouseau (1712 - 1778) dalam bukunya du contract Social
mengusulkan tentang perlunya perjanjian masyarakat, kesamaan, dan kemerdekaan dalam
sebuah pemerintahan. Voltaire (1684 - 1778) memprotes cara hidup para bangsawan yang
menindas rakyat jelata dan mengusulkan tentang perlunya pendidikan secara meluas. Ide
Voltaire dikembangkan kemudian oleh Diderot dan D'Alembert dengan menerbitkan 35 jilid
Ensiklopedia yang dihimpun dari karya-karya Voltaire. Revolusi Perancis terjadi karena, rakyat
sudah tidak tahan lagi terhadap tindakan semena-mena dari kalangan bangsawan. Kekuasaan raja
yang absolut dan penarikan pajak yang memberatkan menjadi faktor utama pendorong Revolusi
Perancis. Sementara faktor-faktor yang turut mendorong revolusi tersebut adalah: merosotnya
perekonomian Perancis akibat pemborosan kaum bangsawan; tidak adanya kepastian hukum;
perbedaan yang menyolok antar golongan dalam masyarakat; Revolusi Amerika; Glorious
Revolution (1689) dan pemikiran-pemikiran para ilmuwan besar seperti John Locke dan kawan-
kawan. Meletusnya Revolusi Perancis ditandai dengan diserangnya Penjara Bastile oleh rakyat
Perancis pada tanggal 14 Juli 1789. Penyerangan atas penjara tersebut di dasarkan paling tidak
pada 3 alasan, yaitu: (1) penjara Bastile merupakan gudang persenjataan dan makanan; (2)
membebaskan tawanan politik yang dapat mendukung gerakan revolusi; (3) membebaskan
orang-orang tidak berdosa yang telah ditangkap dan dipenjarakan secara semena-mena ke dalam
penjara Bastile.

Keburukan perekonomian Perancis yang mendorong penindasan terhadap rakyat, selain


disebabkan oleh pemborosan dari kalangan kerajaan juga diakibatkan oleh keperluan besar yang
harus dikeluarkan oleh Perancis untuk mendanai peperangan. Ketika Perang Kemerdekaan
berkobar di Amerika, Perancis mengirim pasukannya yang dipimpin oleh Lafayette untuk
membantu perjuangan rakyat Amerika Utara antara tahun 1776 - 1783. Bagi perekonomian
Perancis, upaya politis demi kejayaan ini justru turut menyedot anggaran besar yang harus
ditanggung rakyat. Pengalaman perjuangan para prajurit selama mendukung perang tersebut
justru menjadi bumerang bagi pemerintah, karena semangan dan cita-cita kemerdekaan tersebut
turut mendorong mereka juga ingin mendapatkan kebebasan yang sama di negaranya.
Pengalaman Perang Kemerdekaan Amerika dalam hal ini dapat turut diperhitungkan sebagai
salah satu faktor yang juga mempengaruhi proses Revolusi Perancis. Meskipun penyerangan
terhadap Bastile dimulai dari rakyat biasa yang merasa tertindas dan terbebani oleh pajak tanah
(taille), pajak garam (gabelle), dan juga pajak anggur (aide); namun jika tidak didukung oleh
para prajurit dan pejuang, tentu Revolusi tersebut tidak akan dengan mudah berhasil. Semboyan
Revolusi Perancis yang diserukan selama masa-masa pergerakan terinsipirasi oleh pengalaman-
pengalaman para prajurit Lafayette semasa mendukung perang kemerdekaan Amerika.

Tindakan yang diambil oleh Louis XVI juga sekaligus merupakan langkah bunuh diri paling
buruk dalam pemerintahan Perancis. Louis XVI yang terkenal dengan kepribadiannya yang polos
dan lemah tidak berdaya menghadapi tuntutan pemenuhan kebutuhan anggaran belanja negara
yang terlalu besar. Ia sudah tidak mampu lagi menghadapi kekosongan kas negara. Dalam
keadaan tertekan dan bingung, Louis XVI mengaktifkan kembali Etats Generaux yang telah
dibekukan pada masa pemerintahan Louis XIII berdasarkan saran dua Menteri kepercayaannya,
yaitu Turgot dan Necker. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh anggota-anggota parlemen untuk
menyerang pemerintahan dan berusaha untuk menancapkan kekuasaan baru di Perancis. Tujuan
Louis XVI ketika mengaktifkan kembali Etats Generaux pada tanggal 5 Mei 1789 adalah agar
dewan rakyat bersidang dan membantu dirinya untuk mengatasi masalah kekosongan kas negara.
Sidang Etats Generaux tidak dapat menjalankan tugas dengan baik dan tidak memberikan solusi
yang berarti. Justru terjadi perbedaan pendapat tajam diantara anggota-anggota Etats Generaux
itu sendiri. Sidang Etats Generaux pada akhirnya dibubarkan tanpa pengambilan keputusan
apapun. Kegagalan sidang Etats Generaux tidak menyurutkan langkah maju para pendukung
perubahan. Kesempatan bagi Dewan Rakyat untuk bersidang yang disetujui oleh raja
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh golongan III. Golongan III di negeri Perancis yang terdiri dari
para pedagang dan rakyat mengambil inisiatif untuk membentuk Assemble Nationale (Dewan
Nasional). Golongan III didukung oleh para bangsawan, terutama Mirebeau, Lafayette, dan
Sieyes yang sejak lama telah berambisi untuk mampu berkuasa dan melengserkan kekuasaan raja
Perancis. Golongan III melakukan sidang pada tanggal 17 Juni 1789 sebagai langkah
pengukuhan posisi politik. Dalam sidang tersebut golongan lain juga diberi kesempatan untuk
mengambil bagian, dengan ketentuan bahwa tidak ada pembedaan golongan di dalam pembuatan
keputusan. Penggalangan kekuatan ini ternyata berhasil. Dengan bergabungnya pendukung dari
golongan lain ke dalam Assemble Nationale, pada tanggal 20 Juni 1789, dewan tersebut
menyelenggarakan sidang pertama dan mengganti nama menjadi Assemble Nationale
Constituante. (Dewan Konstitusi Nasional).

Proklamasi pembentukan Assemble Nationale Constituante merupakan langkah awal rakyat


melalui parlemen untuk mengambil kembali mandatnya dari raja. Dewan Konstitusi Nasional
memiliki cita-cita tunggal, yaitu mengubah Perancis menjadi sebuah negara yang berdasarkan
konstitusi. Anggota dewan mengucapkan sumpah setia untuk tidak membubarkan diri sampai
dengan terbentuknya konstitusi atau undang-undang. Pihak kerajaan berekasi keras terhadap
tindakan tersebut. Dewan Konstitusi Nasional dianggap sebagai suatu usaha untuk merebut
kekuasaan. Raja memerintahkan agar sidang dewan dibubarkan. Anggota dewan dan rakyat
menolak, bentrokanpun terjadi antara pasukan keamanan kerajaan dengan anggota dewan.
Kemampuan dewan menggerakkan rakyat pada akhirnya mengarahkan massa dalam jumlah
besar ke penjara Bastile pada tanggal 14 Juli 1789. Revolusi Perancis tidak hanya diarahkan
kepada kalangan kerajaan saja. Ketidakpuasan rakyat terhadap kalangan agama dan bangsawan
yang dianggap menindasnya juga turut dilampiaskan. Rakyat yang mengamuk secara membabi
buta menyerang ke rumah-rumah para bangsawan dan biarawan. Mereka merampas, membunuh,
dan mengusir orang-orang kaya tersebut dari rumahnya. Kemudian rumah-rumah mereka
dibakar. Menurut Charles Dickens dalam Oliver Twins, sejak saat itu banyak kaun bangsawan
dan kalangan gereja yang selamat melarikan diri ke luar Perancis. Mereka kemudian menjadi
emigran dan tidak berani kembali ke Perancis.

Sementara itu, para penggerak Revolusi membentuk pemerintahan Revolusi dan melakukan
beberapa tindakan sebagai penguasa baru di Perancis. Lafayette membentuk garde nationale
(pasukan keamanan). Anggota Dewan Konstitusi Nasional membentuk Majelis Konstituante
yang kemudian menyusun Konstitusi Perancis. Konstitusi ini berhasil dibuat pada tahun 1791
dan ditandatangani oleh Seiyes, Mirebeau, dan Lafayette. Pemerintahan legislatif juga
menghapuskan hak-hak istimewa golongan bangsawan dan golongan gereja. Hak-hak milik
mereka yang tersisa dari rampasan rakyat disita. Seluruh gelar kebangsawanan juga dihapuskan
dan diganti dengan gelar baru yang lebih memperhatikan hak persamaan, demokrasi, dan
persaudaraan. Pemerintah juga mengumumkan pernyataan hak-hak manusia dan warga yang
telah disepakati tanggal 26 Agustus 1789 oleh Dewan Nasional. Pernyataan tersebut didasarkan
pada semboyan Revolusi Perancis, yaitu liberte, egalite, dan fraternite. Untuk mengabadikan
pernyataan tersebut digunakan bendera nasional yang berwarna merah, biru, dan putih (vertikal)
dan lagu kebangsaan Marseillaise. Sejak saat itu pula Perancis memperingati hari Nasionalnya,
yaitu setiap 14 Juli.

Raja Louisnya dan istrinya berusaha melarikan diri ketika Revolusi terjadi dengan bantuan
pasukan Austria. Namun pada tahun 1792, anggota-anggota kerajaan berhasil ditangkap. Pada
tahun tersebut juga, Dewan legislatif membuat dua keputusan penting, yaitu menghapuskan
bentuk pemerintahan kerjaan dan mengubah Perancis menjadi Republik serta menjatuhkan
hukuman mati dengan guillotin terhadap Louis XVI, Maria Antoinette, dan para bangsawan
istana lainnya yang tertangkap. Eksekusi terhadap 2000 orang dilakukan pada September 1792.
Perebutan kekuasaan dialami Perancis pasca revolusi. Sistem pemerintahan silih berganti dan
saling tumbang menumbangkan. Setelah menjadi Republik, Perancis dipimpin oleh Robespiere,
namun huru hara terus saja berlanjut. Tahun 1793 - 1794 terbentuk pemerintahan teror yang
dipimpin oleh Marat, Danton dan Robespiere. Golongan borjuis akhirnya berhasil
menggulingkan kekuasaan Robespiere pada tahun 1795, mereka kemudian membentuk
pemerintahan Direktorat yang dijalankan oleh 5 direktur, yaitu Barra, Mouli, Gobier, Roger
Ducas, dan Seiyes yang berkuasa sampai dengan 1799. Kehilangan kepercayaan rakyat kepada
pemerintahan Direktorat memberi kesempatan kepada Napoleon Bonaparte untuk mengambil
alih pemerintahan. Pada awalnya ia membentuk pemerintahan Konsulat (1799) yang
beranggotakan dirinya sendiri bersama Seiyes dan Roger Ducas. Perbedaan pendapat diantara
ketiga konsul tersebut menyebabkan kedua anggota lainnya pada akhirnya mengundurkan diri
darijabatan. Sejak itu Napoleon Bonaparte kemudian mengambil alih seluruh kekuasaan dan
menobatkan diri menjadi Kaisar Perancis pada tahun 1804. Penobatan tersebut dimintakan
pengukuhannya kepada Paus Pius VII.

Selama masa kekaisaran Napoleon Bonaparte, Perancis kembali menjadi sebuah negara yang
terkenal. Napoleon menjalankan pemerintahan dengan sistem militer. Sumbangan Napoleon
Bonaparte bagi Perancis dan dunia juga sangat besar. Bagi Perancis, semasa kekuasaannya ia
berusaha membentuk pemerintahan yang stabil dan kuat. Napoleon juga mengeluarkan 3
undang-undang pending, yaitu code civil, code penal, dan code commerce. Pengembangan
politik ke luar negeri dilakukan dengan cara membentuk Perancis menjadi negara yang jaya di
Eropa. Ia juga berusaha membentuk federasi Eropa di bawah kekuasaan Perancis. Cita-cita
Napoleon Bonaparte menimbulkan reaksi keras dari rakyat Eropa. Koalisi bangsa-bangsa Eropa
pada akhirnya berhasil menangkap dan mengasingkan Napoleon Bonaparte ke Elba pada tahun
1814.Semangat dan cita-citanya yang besar membawa ia melarikan diri dan berhasil kembali ke
Perancis. Pada tahun 1815 ia kembali ditangkap dan kali ini ia diasingkan ke Pulau Saint Helena.
Setelah keruntuhan kekaisaran Napoleon Bonaparte, Perancis kembali masuk ke dalam era
kegelapan. Absolutisme kembali berkembang di bawah pemerintahan Raja Louis XVIII (1815 -
1824) dan dilanjutkan oleh Karel X (1824 - 1830).

Pada tahun 1830 revolusi kembali terjadi di Perancis dan sejak saat itu sampai dengan tahun
1848 terjadi vacuum of Power. Pada tahun 1848, rakyat akhirnya menyelenggarakan pemilu dan
mengangkat Louis Napoleon (Napoleon IV) sebagai pemimpin negara republik. Kekuasaan dan
ambisi kembali mengantarkan Napoleon IV mengakat diri menjadi Kaisar pada tahun 1861. Pada
tahun 1872, Napoleon IV berhasil diturunkan dari tahtanya dan oleh rakyat disepakati untuk
mengesahkan pemerintahan Republik yang bertahan hingga masa sekarang. Revolusi Perancis
memiliki pengaruh besar bagi masyarakat dunia. Semboyan dan asas-asas yang diperjuangkan
selama revolusi memberikan sumbangan besar bagi pembentukan Piagam Hak Asasi Manusia
yang disahkan oleh PBB 10 desember 1948. Meskipun sedikit berbeda dengan Glorious
Revolution di Inggris yang menghasilkan Bill of Right.
Perancis juga berhasil membentuk pernyataan hak-hak kemanusian melalui Revolusi. Piagam
yang disepakati pada tanggal 27 Agustus 1789 tersebut antara lain berisikan pernyataan bahwa:
(1) manusia dilahirkan bebas dan memiliki hak-hak yang sama; (2) hak-hak itu adalah
kemerdekaan, hak milik, hak perlindungan diri, dan hak untuk menentang penindasan; (3) rakyat
adalah sumber dari segala kedaulatan. Perancis pernah menjajah Belanda dan selama proses
tersebut Belanda berkuasa pula di Indonesia. Tindakan dan kebijaksanaan politik Perancis turut
masuk ke Indonesia melalui Belanda. Pengaruh Revolusi Perancis terhadap Indonesia antara lain:
(1) dihapuiskannya sistem tanam paksa atas desakan kaum liberal; (2) ditanamkannya modal
swasta asing di Indonesia, terutama di perkebunan; (3) pembangunan sarana dan prasarana
produksi untuk memperlancar pengolahan hasil bumi; (4) menjadikan Indonesia sebagai
produsen tanaman perkebunan. Tindakan penjajahan Belanda dan praktek liberalisme di satu sisi
memang menimbulkan penindasan dan kesengsaraan bagi rakyat Indonesia. Namun liberalisme
dan keterbukaan sekaligus membuka kesempatan kepada sebagian rakyat Indonesia untuk
memperoleh pencerdasan dan pelajaran berharga. Indonesia memperoleh pengetahuan baru dan
sekaligus mendapatkan semangat untuk menggalang persatuan yang pada akhirnya mendorong
terjadinya pergerakan nasional. Pergerakan nasional inilah yang selanjutnya mengantarkan
Indonesia mencapai kemerdekaan dari Belanda dan penjajah asing lainnya.

Imperialism Modern

1. Asal Muasal lahirnya Imperialisme Modern

Imperialisme terjadi dari timbulnya kapitalisme yang merupakan aliran di bidang


ekonomi yang berpendapat bahwa untuk meningkatkan pendapatan perlu ditunjang dengan
jumlah modal/kapital yang banyak yang ditanamkan dalam berbagai usaha. Pada kapitalisme
kuno, kapitalis (pemilik modal) yang kaya raya hanya merupakan pedagang perantara yang
berkembang misalnya di Italia antara abad XIII – XIV di kota-kota dagang Venesia, Genoa dan
lain-lain. Kapitalisme modern muncul sejak revolusi industri, kapitalis merupakan produsen dan
sekaligus pedagang dan distributor. Sebagai produsen mereka membutuhkan bahan mentah
maupun bahan baku untuk industri serta pasar. Mereka mendesak pemerintah untuk mencari
tanah jajahan guna memenuhi kebutuhan bahan mentah dan pasar tersebut sehingga lahirlah
Imperialisme Modern. Dahulu fungsi tanah jajahan itu hanya untuk dikeruk keuntungannya.
Imperialisme semacam ini disebut Imperialisme Tua (kuno). Namun kemudian sejak tahun 1870
di Indonesia berkembang Imperialisme Modern, sebab :
- Indonesia menjadi negeri pengambilan bekal hidup.
- Indonesia menjadi negeri pengambilan bahan
-bahan mentah untuk pabrik Eropa.
- Menjadi negeri penjualan dari hasil produksi.
- Menjadi tempat penanaman modal asing.

Sejak saat itu Indonesia dibuka untuk kepentingan modal asing, politik ini disebut Politik
Pintu Terbuka. Banyak Negara yang menanamkan modalnya seperti, Belanda, Inggris, Amerika,
Jepang, Belgia dan masih banyak lagi. Dengan demikian Imperialisme Indonesia telah bersifat
Internasiona, dimana modal asing terutama ditanamkan dan dikembangkan dalam sector
pertanian, karet, the, tembakau, kopi, dan pertambangan minyak bumi dll. Imperialisme berasal
dari kata imperare artinya memerintah/menguasai. Daerah kekuasan disebut imperium.
Imperialisme adalah paham yang bertujuan menguasai daerah lain untuk dijadikan wilayah
kekuasaannya. Semakin luas daerah yang dikuasai semakin kuat dan masyurlah negara dan
rajanya. Imperialisme dibedakan menjadi imperialisme kuno dan modern. Imperialisme kuno
berlangsung sejak penjelajahan samudra oleh Spanyol dan Purtugis akhir abad15 dan 16
semboyan imperialisme kuno adalah "3G" gold (mencari kekayaan yang berupa emas), gospel
(menyebarkan agama Nasrani), glory (kejayaan negara dan raja). Imperialisme modern
berkembang sejak revolusi industri abad 18. Motivasi imperialisme modern bertumpu pada
industrialisasi, dan kemajuan dibidang ekonomi. Lahirnya sesudah revolusi industry.

2. Faktor Pendorong dan Penghambat Imperialisme Modern

Empat faktor pendorong imperialisme modern yaitu:


1. berkepentingan dengan penanaman modal (investasi)
2. memasarkan hasil industry
3. memperoleh bahan baku
4. kelebihan penduduk Eropa
Factor penghambat Imperialisme Modern :
1. Pemikiran masyarakat suatu Negara yang masih kuno dan tidak bisa menerima perubahan.
2. Rasa nyaman dan aman dengan keadaan ekonomi yang sedang dirasakan.
3. Memiliki pandangn bahwa dengan merubah lagi system ekonomi, maka akan mengalami
penyesuaian lagi.

3. Akibat yang dirasakan masyarakat dengan adanya Imperialisme Modern


Masyarakat dunia dan Indonesia sama-sama mendapatkan dampak positif dan negativenya.
Dampak Positive :
 Terjadi peningkatan SDM dalam bidang teknologi.
 Memiliki keterampilan yang lebih beragam karena bekerja sama dengan orang luar.
 Banyak maslah Indonesia yang dibantu dengan adanya kerjasama dibidang modal asing.

Dampak Negative :

 Pengangguran bertambah, karena lahan kerja mereka sudah digantikan dengan mesin.
 Dengan mudah bangsa lain, mengambil hasil bumi karena modal sudah ditanamkan.
 Negara kita menjadi objek sasaran pemasaran hasil produksi, sehingga menjadi
masyarakat/bangsa yang konsumtif.