Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

HEMATOLOGI KLINIK

PENGAMATAN PREPARAT SUMSUM TULANG (SERI ERITROPOESIS)

DISUSUN OLEH :

NAMA : RIZKA AMELIA

NIM : 1804034049

KELAS : 4C

D-IV TEKNOLOGI LABORATORIUM KLINIK

FAKULTAS FARMASI DAN SAINS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA

JAKARTA

2020
I. HARI,TANGGAL
Selasa, 7 April 2020

II. TUJUAN PRAKTIKUM


Untuk mengidentifikasi seri eritropoiesis dari preparat apusan sumsum tulang

III. PRINSIP KERJA


Pemeriksaan preparat apusan sumsum tulang secara mikroskopis

IV. METODE KERJA


Mikroskopis

V. ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan :
1. Preparat apusan sumsum tulang
2. Mikroskop

Bahan yang digunakan :


1. Imersi oil

VI. PROSEDUR KERJA


1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Sediaan apusan sumsum tulang diletakkan diatas meja mikroskop
3. Dicari lapang pandang dengan perbesaran 10x
4. Dipindahkan lensa menjadi perbesaran 40x, dicari lapang pandang dan sel-sel target
5. Diteteskan sedikit imersi oil dan dilanjutkan dengan perbesaran 100x diamati di
bagian zona morfologi ( zona tipis yang penyebaran selnya merata)
6. Diamati sel-sel seri eritopoesis mulai dari Rubriblas/Pronormoblas,
Prorubrisit/Normoblas Basofil, Rubrisit/Normoblas polikromatofil,
Metarubrisit/Normoblas asidofil, dan Retikulosit. (Retikulosit masih bisa ditemukan
di sumsum tulang, Namun Eritrosit hanya ada di darah tepi)

VII. HASIL PENGAMATAN

Hasil identifikasi dengan sediaan apusan sumsum tulang menggunakan


pewarnaan MGG perbesaran lensa 100x didapatkan :
1. PROERITOBLAST ( Rubriblas )
• Ukuran: 15 - 25 mikron
• Bentuk: bulat, oval
• Warna sitoplasma: biru tua dengan
halo sekitar inti
• Granularitas: tidak ada
• Bentuk inti: bulat
• Tipe kromatin: butir kasar
• Rasio inti/sitoplasma: tinggi
• Nukleolus: relatif besar

GAMBAR :
2. NORMOBLAS BASOFILIK ( Prorubrisit )
• Ukuran: 13 - 18 mm
• Bentuk: bulat, kadang berubahbentuk
• Warna sitoplasma: biru tua
• Granularitas: tidak ada
• Bentuk inti: bulat
• Tipe kromatin: gelap, awal
kondensasi
• Rasio inti/sitoplasma: tinggi
• Nukleolus: tidak terlihat

GAMBAR :
3. NORMOBLAS POLIKROMATIK ( Rubrisit )
• Ukuran : 10 – 15 μm
• Bentuk : bulat, kadang-kadang berubah bentuk
• Warna sitoplasma : abu- abu
• Granularitas : tidak ada
• Bentuk inti : bulat
• Tipe kromatin : gelap, kondensasi tegas
• Nukleolus : tidak terlihat

GAMBAR :
4. NORMOBLAS PIKNOTIK ( Metarubrisit )
• Ukuran : 8 – 12 μm
• Bentuk : bulat, sering berubah
• Warna sitoplasma : merah jambu atau sama dengan eritrosit
• Granularitas : tidak ada
• Bentuk inti : bulat
• Tipe kromatin : kondensasi gelap dan pekat
• Rasio inti/sitoplasma : rendah
• Nukleolus : tidak terlihat

GAMBAR :
5. Retikulosit
• Ukuran : 8 – 12 μm
• Bentuk : bulat
• Warna sitoplasma : pucat
• Granularis : granul tunggal atau multipel, pekat, lembayung
• Bentuk inti : tidak ada
• Distribusi dalam darah : 0.5 – 1.5 % dari jumlah eritrosit
• Pewarnaan : supravital, dengan Cresyl Blue

6. Eritrosit
Normalnya tidak ada di sumsum tulang jadi di sediaan apusan sumsum tulang
tidak ditemukan. Namun eritrosit di darah tepi memiliki ciri-ciri :
• Ukuran : 6 -9 μm
• Bentuk : bulat
• Warna sitoplasma : merah jambu atau abu – abu
• Granularitas : tidak ada
• Distribusi dalam darah : > 90 % dari eritrosit normal dalam darah
VIII. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan pengamatan pada sediaan apusan sumsum tulang yang
telah dibuat dengan menggunakan pewarnaan MGG, diamati dengan mikroskop dari
perbesarn 10x hingga lensa perbesaran 100x .Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi sel-
sel seri eritropoesis dan diketahui perbedaan 1 sel dengan yang lainnya.

Eritropoiesis merupakan proses pembentukan eritrosit. Eritropoiesis pada masa awal


janin terjadi dalam kantong kuning telur (yelk sac), pada bulan kedua sampai trimester kedua
kehamilan eritropoiesis berpindah ke liver dan ada saat yang hampir bersamaan berlangsung
di limpa (lien) dan kelenjar limfe (limfe-modus). Selanjutnya pada trimester terakhir sampai
lahir pembentukan eritrosit berpindah ke sumsum tulang

Pada hasil praktikum kali ini didapatkan seluruh gambar dan ciri-ciri dari sel-sel seri
eritropoesis yang telah sesuai dengan literature.Rubriblast disebut juga pronormoblast atau
proeritrosit, merupakan sel termuda dalam sel eritrosit. Sel ini berinti bulat dengan beberapa
anak inti dan kromatin yang halus. Dengan pulasan Romanowsky inti berwarna biru
kemerah-merahan sitoplasmanya berwarna biru. Ukuran sel rubriblast bervariasi 18 – 25
mikron. Dalam keadaan normal jumlah rubriblast dalam sumsum tulang adalah kurang dari 1
% dari seluruh jumlah sel berinti.

Prorubrisit disebut juga normoblast basofilik atau eritroblast basofilik. Pada pewarnaan
kromatin inti tampak kasar dan anak inti menghilang atau tidak tampak. Sitoplasma sedikit
warna biru dan sitoplasma akan tampak menjadi sedikit kemerah-merahan. Ukuran lebih
kecil dari rubriblast. Jumlahnya dalam keadaan normal 1-4 % dari seluruh sel berinti.

Rubrisit disebut juga normoblast polikromatik atau eritroblast polikromatik. inti sel ini
mengandung kromatin yang kasar dan menebal secara tidak teratur, di beberapa tempat
tampak daerah – daerah piknotik tetapi sitoplasmanya lebih banyak, mengandung warna biru
karena kandungan asam ribonukleat (ribonucleic acid – RNA) dan merah karena kandungan
hemoglobin, tetapi warna merah biasanya lebih dominan. Jumlah sel ini dalam sumsum
tulang orang dewasa normal adalah 10-20 %.

Metarubrisit sel ini disebut juga normoblast ortokromatik atau eritroblast ortokromatik.
Inti sel ini kecil padat dengan struktur kromatin yang menggumpal. Sitoplasma telah
mengandung lebih banyak hemoglobin sehingga warnanya merah walaupun masih ada sisa –
sisa warna biru dari RNA. Jumlahnya dalam keadaan normal 5 – 10 %.

Retikulosit yaitu pada proses maturasi eritrosit, setelah pembentukan hemoglobin dan
penglepasan inti sel, masih diperlukan beberapa hari lagi untuk melepaskan sisa – sisa RNA.
Sebgian proses ini berlangsung di dalam sumsum tulang dan sebagian lagi dalam darah tepi.
Pada saat proses maturasi akhir. Eritrosit selain mengandung sisa – sisa RNA juga
mengandung berbagai fragmen mitokondria dan organel lainnya. Pada stadium ini eritrosit
disebut retikulosit atau eritrosit polikrom. Retikulum yang terdapat di dalam sel ini hanya
dapat dilihat dengan pewarnaan supravital. Tetapi sebenarnya retikulum ini juga dapat
terlihat segai bintik – bintik abnormal dalam eritrosit pada sediaan apus biasa.
Polikromatofilia yang merupakan kelainan warna eritrosit yang kebiru – biruan dan bintik –
bintik basofil pada eritrosit sebenarnya disebabkan oleh bahan ribosom ini. setelah
dilepaskan dari sumsum tulang sel normal akan beredar sebagai retikulosit selama 1 – 2 hari.
Kemudian sebagai eritrosit matang selama 120 hari. Dalam darah normal terdapat 0,5 – 2,5
%.

Eritrosit normal merupakan sel berbentuk cakram bikonkav dengan ukuran diameter 7- 8
mikron dan tebal 1,5 – 2,5 mikron. Bagian tengah sel ini lebih tipis dari pada bagian tepi.
Dengan berwarna Wright, eritrosit akan berwarna kemerah-merahan karena mengandung
hemoglobin. Eritrosit sangat lentur dan sangat berubah bentuk selama beredar dalam
sirkulasi. Umur eritrosit adalah sekitar 120 hari dan akan dihancurkan bila mencapai
umumnya oleh limpa. Banyak dinamika yang terjadi pada eritrosit selama beredar dalam
darah, baik mengalami trauma, gangguan metabolisme, infeksi plasmodium hingga di makan
oleh parasit.

Faktor-faktor yang mempengaruhi eritropoiesis :

1. Eritropoietin merangsang eritropoiesis dalam sumsum tulang.


Eritropoietin merangsang sel untuk berproliferasi, dan maturasi.
2. Kemampuan respon sumsum tulang (anemia, perdarahan).
3. Intergritas proses pematangan eritrosit.

Faktor-faktor kesalahan saat pratikum :

1. Pada saat mewarnai preparat waktu pewarnaan tidak sesuai


2. Mikroskop kotor
3. Bagian yang diamati bukan zona morfologi (bagian yang tipis
penyebaran sel merata, tidak menumpuk)
4. Tidak di teteskan imersi oil pada saat pemeriksaan di pembesaran 100x.

IX. KESIMPULAN

Berdasarkan pada praktikum yang telah dilaksanakan dapat diketahui bentuk –


bentuk dari seri eritropoiesis, ciri – cirinya dan morfologinya dan hasil yang didapat telah
sesuai dengan literatur
X. DAFTAR PUSTAKA
➢ Gandasoebrata, R. 1984. Penuntun Laboratorium Klinik. Jakarta : Dian Rakyat

➢ Sutedjo, AY. 2006.Mengenal Penyakit Melalui Pemeriksaan Laboratorium.


Yogyakarta:Amara Books.

➢ Lasna,2017. Panduan Pemeriksaan Laboratorium Hematologi Dasar. Ceatakan


Pertama. Jakarta : CV. Trans Info

➢ John. L.M. 2015. Hematologi II. Malang : Deep publisher