Anda di halaman 1dari 7

A.

Tantangan dan Peluang Umat Islam


1. Tantangan Umat Islam

Belakangan ini umat Islam sedang diguncang oleh banyak isu, baik dalam
skala nasional maupun internasional. Polemik tentang peran agama di Indonesia
seakan tidak ada hentinya. Terlebih lagi, jika menyangkut sebuah kepercayaan yang
pemeluknya adalah mayoritas dari warga bangsa. Sikap saling berbantahan akan
menguras energi masing-masing kelompok untuk menunjukkan bahwa
pahamnyalah yang paling benar. Tanpa disadari, musuh-musuh Islam akan tertawa
melihat fenomena tragis ini. Maka dari itu, saat ini Islam mendapatkan banyak
tantangan dari berbagai isu yang beredar tersebut. Berikut ini adalah beberapa
tantangan yang harus dihadapi oleh umat Islam, yaitu:

1. Pernikahan Beda Agama

Di penghujung tahun lalu, Indonesia digegerkan lagi dengan persoalan


menikah lintas agama. Sebenarnya polemik tersebut sudah terjawab dalam UU
nomor 1 tahun 1974 yang menyebutkan pada pasal 2 ayat (1), "Perkawinan
adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan
kepercayaannya itu." Jika ada agama yang mengharamkannya, maka tidak sah.
Hal itu berlaku bukan hanya pada Islam. Namun, ketegasan pemerintah masih
belum terlihat sehingga terdapat celah untuk menikah beda agama di luar
negeri karena Kantor Catatan Sipil tetap dapat mencatat pernikahan beda
agama di luar negeri.

Hukum pernikahan beda agama atau biasa juga dikenal dengan pernikahan
lintas agama selalu menjadi polemik yang cukup kontroversial dalam
masyarakat, khususnya negara yang memiliki berbagai macam penduduk
dengan agama yang berbeda-beda. Dilihat dari dua sudut pandang pada
hukum pernikahan berbeda agama dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan
pasangan yang menikah, yaitu :
a. Hukum seorang laki-laki muslim menikahi perempuan non muslim
(beda agama)
Pernikahan seorang lelaki muslim menikahi seorang wanita yang non
muslim dapat diperbolehkan, tapi di sisi lain juga dilarang dalam Islam,
untuk itu terlebih dahulu sebaiknya kita memahami terlebih dahulu sudut
pandang dari non muslim itu
sendiri.
1. Laki-laki yang menikah dengan perempuan ahli kitab (Agama
Samawi), yang dimaksud agama samawi atau ahli kitab disini yaitu
orang-orang (non muslim) yang telah diturunkan padanya kitab
sebelum Al-Qur'an. Dalam hal ini, para ulama sepakat dengan kitab
Injil dan Taurat, begitu juga dengan nasrani dan yahudi yang
sumbernya sama. Untuk hal seperti ini, pernikahannya diperbolehkan
dalam islam. Adapun dasar dari penetapan hukum pernikahan ini, yaitu
mengacu pada Al-
Qur'an, Surat Al-Maidah : 5

“Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan


(sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan
makanan kamu halal pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini)
wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang
beriman dan wanita- wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-
orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar
maskawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud
berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik- gundik. Barang siapa
yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam)
maka hapuslah amalannya dan ia di hari akhirat termasuk orang-orang
merugi.”
2. Lelaki muslim menikah dengan perempuan bukan ahli kitab. Yang
dimaksud dengan non muslim yang bukan ahli kitab disini yaitu
kebalikan dari agama samawi (langit), yaitu agama ardhiy (bumi).
Agama Ardhiy (bumi), yaitu agama yang kitabnya bukan diturunkan
dari Allah SWT., melainkan dibuat di bumi oleh manusia itu sendiri.
Untuk kasus yang seperti ini, maka diakatakan haram. Adapun dasar
hukumnya yaitu Al-
Qur'an, surat Al-Baqarah : 222
“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka
beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari
wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu
menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin)
sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih
baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka
mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan
dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-
perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.”
b. Perempuan muslim menikah dengan laki-laki non muslim
Dari Al-Qur'an, surat Al-Baqarah : 221 sudah jelas tertulis
bahwa:
"...Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-
wanita mukmin) sebelum mereka beriman..."
Pernikahan seorang muslim perempuan sudah menjadi hal mutlak
diharamkan dalam Islam, jika seorang perempuan tetap memaksakan diri
untuk menikahi lelaki yang tidak seagama dengannya, maka apapun yang
mereka lakukan selama bersama sebagai suami istri dianggap sebagai
perbuatan zina.

2. Toleransi Agama yang Kebablasan

Toleransi adalah konsep moderat untuk menggambarkan sikap saling


menghormati dan saling bekerja sama di antara komponen- komponen
masyarakat yang berbeda. Baik beda agama, suku bangsa, etnis, bahasa,
budaya, maupun politik. Dalam toleransi beragama harus dipahami hanya
sebagai bentuk pengakuan kita akan adanya agama- agama lain selain agama
kita dalam bentuk system, tata cara peribadatannya dan memberikan
kebebasan mereka untuk menjalankan keyakinan agama mereka masing-
masing. Bukan berarti kita harus mengikuti apa yang mereka lakukan dalam
agama mereka, terutama dalam hal akidah karena hukumnya adalah haram
bagi kita umat islam.17
3. Banyaknya muncul paham-paham baru dalam islam yang menyebabkan
pertentangan dan perpecahan dalam umat islam.
4. Berkembang pesatnya agama Islam di seluruh dunia namun belum bersatunya
negara-negara islam sehingga belum terkumpul kekuatan yang besar dalam
islam.
5. Seiring dengan berkembangnya kemajuan teknologi barat, nilai-nilai agama
berangsur-angsur mulai bergeser.

Umat Islam harus konsisten mengikuti jalan yang lurus sebagaimana ditetapkan
Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya. Selain itu, harus waspada terhadap jalan-jalan
lain yang dipromosikan dan dipropagandakan orang yang tidak suka dengan Islam,
meskipun dari lisannya mungkin meluncur kalimat-kalimat pemanis. Masih banyak
lagi masalah yang timbul (dan berpotensi timbul) ke permukaan. Saat ini, Indonesia
bahkan dunia sangat membutuhkan soliditas kaum Muslimin. Tanpa persatuan yang
teguh dan semangat untuk saling membantu, umat Islam akan kembali dijajah
dalam berbagai aspek kehidupan.

B. Peluang Umat Islam

Pada zaman yang semakin berkembang ini banyak tantangan – tantangan


yang dihadapi oleh umat islam dari berbagai bidang. Namun, dibalik tantangan –
tantangan yang dihadapi, dapat kita temukan beberapa peluang yang dapa
tmemajukan umat islam. Beberapa contoh peluang tersebut adalah sebagai berikut :
1. Semua Ilmu Pengetahuan Sudah Tertera di Dalam Al – Quran Seharusnya
umat Islam itu memiliki peluang yang sangat besar untuk
menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, karena semua ilmu pengetahuan
jelas sudah tertera di dalam Al Quran. Al Quran yang diwahyukan oleh Allah
kepada Nabi Muhammad bertujuan untuk menjadi pedoman hidup manusia.
Oleh karena itu umat Islam tak boleh tertinggal dalam hak penguasaan
teknologi, namun perlu diingat pula umat islam juga jangan sampai
meninggalkan Al Quran.
2. Berkembangnya Ekonomi Syariah

Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia dalam satu dekade terakhir ini


berkembang pesat dan semakin menarik. Pasca 1998, bank-bank umum
berbasis sistem syariah mulai tumbuh. Kini, ada kurang lebih sekitar 10 bank
umum syariah di Indonesia. Belum lagi, ditambah dengan puluhan bank
perkreditan syariah di berbagai wilayah. Menariknya lagi, pertumbuhan
perbankan syariah diikuti juga dengan asuransi syariah, pegadaian syariah,
koperasi syariah, BMT/jasa keuangan syariah dan pasar modal syariah.Begitu
pula dengan perkembangan sektor zakat dan wakaf sebagai salah satu pilar
ekonomi Islam. Kesadaran sebagian umat Islam untuk menunaikan zakat dan
wakaf semakin besar. Apalagi, baru-baru ini Presiden SBY me-launching
wakaf tunai. Fenomena tersebut membuktikan bahwa masyarakat Indonesia
memiliki kesadaran untuk menerapkan syariat Islam dalam bidang ekonomi.
3. Lebih Mudah dalam Melakukan Dakwah
Berbicara dakwah memang selalu identik dengan seorang ustadz yang
sedang khutbah di atas mimbar. Dihadiri oleh para mustami atau jamaah dan
dilaksanakan di masjid. Itulah pandangan dari seorang yang awam akan
hakikat dakwah yang sebenarnya. Jika kita perhatikan, batasan dakwah itu
tidak terbatas oleh tempat dan metode. Dakwah bisa dilakukan dimana saja,
kapan saja, dan dengan cara apa saja, selama tidak menyimpang dari koridor
yang sewajarnya. Oleh karena itu, cakupan dakwah memiliki arti yang luas
dan metode yang tak terbatas.

Semua cara bisa kita lakukan dengan tidak merubah dari substansinya. Salah
satunya dengan memanpaatkan media massa yang berkembang saat ini.
Seperti dakwah dengan menggunakan media- media digital, seperti ceramah
pengajian yang disimpan di computer berupa Mp3, video, dan sebagainya.
Dengan demikian, maka isi pengajian tidak akan mudah hilang. Jika kita lupa
atau mau mendengarkan kembali maka tinggal di play saja. Semuanya
menjadi mudah dan praktis. Lebih jauh lagi, sekarang telah beredar Al-Quran
digital, hadist digital, dan buku-buku islami digital. Semuanya dibuat untuk
memudahkan kita dalam memahami ajaran-ajaran agama. Misalnya, ketika
kita akan mencari suatu tema dalam Al-Quran maka kita tidak mesti
membuka lembar perlembar. Tetapi kita tinggal langsung masukkan kata
kuncinya maka Al-Quran digital tersebut akan memunculkan hasilnya. Selain
itu, dalam Al-Quran digital juga diisi dengan audionya. Sehingga kita bisa
membaca sekaligus mendengarkan bacaannya.
Atas dasar itu, maka tidak ada salahnya jika kita mulai melirik dan
menggunakan media-media ini untuk kepentingan dakwah – dengan tidak
meninggalkan tradisi mengaji di masjid secara berjamaah. Tetapi media ini
digunakan sebagai sarana penambah dan pelengkap untuk berdakwah

ISLAM, KEMODERENAN, KEINDONESIAAN


Tak sulit disepakati bahwa Nurcholish Madjid adalah seorang pemikir-
Muslim modernis atau, lebih tepat, neomodernis—menggunakan peristilahan
yang sering ia sendiri lontarkan. Maka, melanjutkan para perambah
modernisme (klasik) di masa-masa lampau, Nurcholish Madjid berpendapat
bahwa Islam harus dilibatkan dalam pergulatan-pergulatan modernistik.
Namun, berbeda dengan para pendahulunya, kesemuanya itu tetap harus
didasarkan atas kekayaan khazanah pemikiran keislaman tradisional yang
telah mapan. Di segi lain, sebagai pendukung neomodernisme, ia cenderung
meletakkan dasar-dasar keislaman dalam konteks nasional—dalam hal ini,
keindonesiaan. Islam, Kemodernan, dan Keindonesiaan ini—di tengah
berbagai pembahasan atas tokoh ini—adalah buku pertama yang
menampilkan secara lengkap pikiran-pikiran “tangan pertama” Nurcholish
Madjid, lewat tulisan-tulisannya sendiri mengenai soal-soal di atas. Meliputi
rentang waktu tak kurang dari dua dasawarsa, antologi ini memuat pula
pikiran-pikirannya tentang sekularisasi, plus tinjauan-tinjauan kembalinya
atas “heboh intelektual” yang disulutnya itu—tak kurang dari lima belas
tahun setelah itu.“Setiap pembaru, di mana pun di muka bumi ini, hampir
pasti selalu dilawan, dicaci-maki, dan dimusuhi, tetapi ajaibnya diam-diam
diikuti. Ini juga berlaku atas cendekiawan Indonesia Nurcholish Madjid yang
telah bekerja keras untuk mengawinkan keislaman dan keindonesiaan, sebuah
sumbangan berharga tinggi telah diberikannya kepada bangsa ini.”—Ahmad
Syafii Maarif, Mantan Ketua PP Muhammadiyah