Anda di halaman 1dari 41

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Kehamilan merupakan suatu keadaan fisiologis, dimana keadaan tersebut


merupakan suatu fase teristimewa dalam kehidupan seorang wanita. Beberapa ibu
hamil tersebut bisa melewatinya dengan ceria hingga melahirkan, tetapi juga tidak
jarang yang mengalami masalah Kesehatan dalam kehamilannya. Masalah
kesehatan yang sering muncul pada kehamilan salah satunya adalah hipertensi
dalam kehamilan (Yohanna, Yovita, & Yessica, 2011). Penyakit hipertensi dalam
kehamilan ini salah satunya diakibatkan oleh perubahan pada sistem
kardiovaskuler dan pembuluh darah yang terjadi sebelum kehamilan, komplikasi
selama masa kehamilan atau pada awal pasca partum. Perubahan kardiovaskuler
disebabkan oleh peningkatan cardiac afterload dan penurunan cardiac preload,
sedangkan pada pembuluh darah terjadi vasokonstriksi arteriol, vasospasme
sistemik dan dan kerusakan pada pembuluh darah (Reeder, Martin, & Griffin,
2011).
Hipertensi dalam kehamilan adalah suatu kondisitekanan darah sistol diatas
140 mmHg dan diastol diatas 90 mmHg atau peningkatan tekanan sistolik sebesar
30 mmHg atau lebih atau peningkatan diastolik sebesar 15 mmHg atau lebih diatas
nilai dasar yang mana diukur dalam dua keadaan, minimal dalam jangka waktu 6
jam (Reeder dkk, 2011).
Hipertensi dalam kehamilan merupakan 5-15 % penyulit kehamilan dan
merupakan salah satu dari tiga penyebab tertinggi mortalitas dan morbiditas ibu
bersalin (Prawirohardjo, 2013).
Berdasarkan data UNICEF (2015), menyatakan jumlah kematian ibu dan
anak setiap tahun akibat komplikasi kehamilan dan persalinan menurun dari
532.000 pada tahun 1990 menjadi 303.000 pada tahun 2015, dan ini terjadi hampir
di 99% negara berkembang. Penyebab utama kematian ibu adalah akibat

1
komplikasi dari kehamilan atau melahirkan. komplikasi tersebut salah satunya
adalah hipertensi dalam kehamilan yang telah menyumbangkan 14% penyebab
kematian maternal di dunia (UNICEF, 2015).
Kematian ibu di Indonesia yang disebabkan oleh hipertensi mulai dari
tahun 2010 sampai 2013 terus mengalami peningkatan. Tahun 2010 angka
kematian ibu mencapai 21,5 %, tahun 2011 (24,7%), tahun 2012 (26,9%),
sedangkan pada tahun 2013 mencapai 27,1% (Kemenkes RI, 2015).
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik mengangkat makalah
mengenai hipertensi dalam kehamilan.

1.2 Rumusan masalah

1. Apa definisi hipertensi dalam kehamilan?


2. Bagaimana etiologi hipertensi dalam kehamilan?
3. Bagaimana manifestasi klinis hipertensi dalam kehamilan?
4. Bagaimana klasikasi penyakit hipertensi dalam kehamilan?
5. Bagaimana patofisiologi penyakit hipertensi dalam kehamilan?
6. Bagaimana pencegahan penyakit hipertensi dalam kehamilan?
7. Apa definisi preeklamsi?
8. Apa definisi eklamsi?
9. Bagaimana konsep asuhan keperawatan hipertensi dalam kehamilan?

1.3 Tujuan Pembahasan

1. Tujuan Umum
Penulisan makalah ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui dan
memahami tentang hipertensi dalam kehamilan.
2. Tujuan Khusus
Penulisan makalah ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui dan
memahami:
a. Definisi hipertensi dalam kehamilan
b. Etiologi hipertensi dalam kehamilan

2
c. Manifestasi klinis hipertensi dalam kehamilan
d. Klasikasi penyakit hipertensi dalam kehamilan
e. Patofisiologi penyakit hipertensi dalam kehamilan
f. Pencegahan penyakit hipertensi dalam kehamilan
g. Definisi preeklamsi
h. Definisi eklamsi
i. Konsep asuhan keperawatan hipertensi dalam kehamilan

1.4 Manfaat Penulisan

1. Menambah pengetahuan dan informasi mengenai hipertensi dalam


kehamilan
2. Merangsang minat pembaca untuk mengetahui hipertensi dalam
kehamilan
3. Menegtahui konsep asuhan keperawan pada pasien hipertensi dalam
kehamilan

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Hipertensi dalam Kehamilan

2.1.1 Definisi

Hipertensi dalam kehamilan adalah hipertensi yang terjadi saat kehamilan


berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan atau lebih setelah 20
minggu usia kehamilan pada wanita yang sebelumnya normotensif, tekanan darah
mencapai nilai 140/90 mmHg, atau kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg dan
tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai normal (Junaidi, 2010)

2.1.2 Klasifikasi

Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan The National High Blood
Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in Pregnancy
(NHBPEP) memberikan suatu klasifikasi untuk mendiagnosa jenis hipertensi
dalam kehamilan, (NHBPEP, 2000) yaitu :

1. Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan


20 minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah umur
kehamilan 20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu
pascapersalinan.
2. Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan
disertai dengan proteinuria. Eklampsia adalah preeklampsi yang disertai
dengan kejang-kejang dan/atau koma.
3. Preeklampsia pada hipertensi kronik (preeclampsia superimposed upon
chronic hypertension) adalah hipertensi kronik disertai tanda-tanda
preeklampsi atau hipertensi kronik disertai proteinuria.

4
4. Hipertensi gestasional adalah hipertensi yang timbul pada kehamilan tanpa
disertai proteinuria dan hipertensi menghilang setelah 3 bulan
pascapersalinan atau kematian dengan tanda-tanda preeklampsi tetapi tanpa
proteinuria (Prawirohardjo, 2013).

Hipertensi Hipertensi
Gambaran Klinis Preeklampsia
Kronik Gestasional

Saatnya Muncul Kehamilan Biasanya Kehamilan <20


Hipertensi <20 minggu trimester III Minggu

Derajat HT Ringan-berat Ringan Ringan-berat

Proteinuria Tidak ada Tidak ada Biasanya ada

Serum Urat > 5,5 Ada padasemua

Jarang Tidak ada

mg/dl kasus

Ada pada kasus

Hemokonsenterasi Tidak ada Tidak ada

preeklampsi berat

Ada pada kasus

Trombositopenia Tidak ada Tidak ada

preeklampsi berat

Ada pada kasus

Disfungsi Hati Tidak ada Tidak ada

preeklampsi berat

Tabel 1. Perbedaan gambaran klinis antara hipertensi kronik, hipertensi gestasional


dan preeklampsia (Suyono S, 2009)

2.1.3 Etiologi

Hipertensi dalam kehamilan merupakan gangguan multifaktorial. Beberapa faktor


risiko dari hipertensi dalam kehamilan adalah (Katsiki N et al., 2010) :

1. Faktor maternal
a. Usia maternal
Usia yang aman untuk kehamilan dan persalinan adalah usia 20-30 tahun.
Komplikasi maternal pada wanita hamil dan melahirkan pada usia di bawah

5
20 tahun ternyata 2-5 kali lebih tinggi dari pada kematian maternal yang
terjadi pada usia 20-29 tahun. Dampak dari usia yang kurang, dapat
menimbulkan komplikasi selama kehamilan. Setiap remaja primigravida
mempunyai risiko yang lebih besar mengalami hipertensi dalam kehamilan
dan meningkat lagi saat usia diatas 35 tahun (Manuaba C, 2007).
b. Primigravida
Sekitar 85% hipertensi dalam kehamilan terjadi pada kehamilan pertama.
Jika ditinjau dari kejadian hipertensi dalam kehamilan, graviditas paling
aman adalah kehamilan kedua sampai ketiga (Katsiki N et al., 2010).
c. Riwayat keluarga
Terdapat peranan genetik pada hipertensi dalam kehamilan. Hal tersebut
dapat terjadi karena terdapat riwayat keluarga dengan hipertensi dalam
kehamilan (Muflihan FA, 2012).
d. Riwayat hipertensi
Riwayat hipertensi kronis yang dialami selama kehamilan dapat
meningkatkan risiko terjadinya hipertensi dalam kehamilan, dimana
komplikasi tersebut dapat mengakibatkan superimpose preeclampsi dan
hipertensi kronis dalam kehamilan (Manuaba, 2007).
e. Tingginya indeks massa tubuh
Tingginya indeks massa tubuh merupakan masalah gizi karena kelebihan
kalori, kelebihan gula dan garam yang bisa menjadi faktor risiko terjadinya
berbagai jenis penyakit degeneratif, seperti diabetes melitus, hipertensi
dalam kehamilan, penyakit jantung koroner, reumatik dan berbagai jenis
keganasan (kanker) dan gangguan kesehatan lain. Hal tersebut berkaitan
dengan adanya timbunan lemak berlebih dalam tubuh (Muflihan FA, 2012).
f. Gangguan ginjal
Penyakit ginjal seperti gagal ginjal akut yang diderita pada ibu hamil dapat
menyebabkan hipertensi dalam kehamilan. Hal tersebut berhubungan
dengan kerusakan glomerulus yang menimbulkan gangguan filtrasi dan
vasokonstriksi pembuluh darah (Muflihan FA, 2012).
2. Faktor kehamilan

6
Faktor kehamilan seperti molahilatidosa, hydrops fetalis dan kehamilan
ganda berhubungan dengan hipertensi dalam kehamilan. Preeklampsi dan
eklampsi mempunyai risiko 3 kali lebih sering terjadi pada kehamilan
ganda. Dari 105 kasus bayi kembar dua, didapatkan 28,6% kejadian
preeklampsi dan satu kasus kematian ibu karena eklampsi (Manuaba,
2007).

2.1.4 Patofisiologi

Penyebab hipertensi dalam kehamilan hingga kini belum diketahui dengan jelas.
Banyak teori telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam kehamilan,
tetapi tidak ada satu pun teori yang dianggap mutlak benar. Teori-teori yang
sekarang banyak dianut adalah ( Prawirohardjo, 2013) :

1. Teori kelainan vaskularisasi plasenta

Pada kehamilan normal, rahim dan plasenta mendapat aliran darah dari cabang-
cabang arteri uterina dan arteri ovarika. Kedua pembuluh darah tersebut menembus
miometrium berupa arteri arkuata dan arteri arkuata memberi cabang arteri radialis.
Arteri radialis menembus endometrium menjadi arteri basalis dan memberi cabang
arteri spiralis. Pada kehamilan normal, dengan sebab yang belum jelas, terjadi
invasi trofoblas ke dalam lapisan otot arteri spiralis yang menimbulkan degenerasi
lapisan otot tersebut, sehingga terjadi dilatasi arteri spiralis. Invasi trofoblas juga
memasuki jaringan sekitar arteri spiralis, sehingga jaringan matriks menjadi
gembur dan memudahkan lumen spiralis mengalami distensi dan dilatasi. Distensi
dan vasodilatasi lumen arteri apiralis ini memberi dampak penurunan tekanan
darah, penurunan resistensi vaskular, dan peningkatan aliran darah pada utero
plasenta. Akibatnya, aliran darah ke janin cukup banyak dan perfusi jaringan juga
meningkat, sehingga dapat menjamin pertumbuhna janin dengan baik. Pada
hipertensi dalam kehamilan tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas pada lapisan otot
arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan otot arteri spiralis tidak
memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi. Akibatnya, arteri spiralis
relatif mengalami vasokontriksi, dan terjadi kegagalan “remodeling arteri spiralis”,

7
sehingga aliran darah utero plasenta menurun, dan terjadilah hipoksia dan iskemia
plasenta. Dampak iskemia plasenta akan menimbulkan perubahan-perubahan yang
dapat menjelaskan patogenesis hipertensi dalam kehamilan selanjutnya.

2. Teori iskemia plasenta, radikal bebas, dan disfungsi endotel

a. Iskemia plasenta dan pembentukan oksidan/radikal bebas Sebagaimana


dijelaskan pada teori invasi trofoblas, pada hipertensi dalam kehamilan
terjadi kegagalan “remodeling arteri spiralis”, dengan akibat plasenta
mengalami iskemia. Plasenta yang mengalami iskemia dan hipoksia akan
menghasilkan oksidan (radikal bebas).
Oksidan atau radikal bebas adalah senyawa penerima molekul yang
mempunyai elektron yang tidak berpasangan. Salah satu oksidan penting
yang dihasilkan iskemia plasenta adalah radikal hidroksil yang sangat
toksis, khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah. Produksi
oksidan pada manusia adalah suatu proses normal, karena oksidan memang
dibutuhkan untuk perlindungan tubuh. Adanya radikal bebas dalam darah,
maka hipertensi dalam kehamilan disebut “toxaemia”.
Radikal hidroksil akan merusak membran sel, yang mengandung banyak
asam lemak tidak jernih menjadi peroksida lemak. Peroksida lemak selain
akan merusak membran sel, juga akan merusak nukleus dan protein sel
endotel. Produksi oksidan (radikal bebas) dalam tubuh yang bersifat toksis,
selalu diimbangi dengan produksi antioksidan.
b. Peroksida lemak sebagai oksidan pada hipertensi dalam kehamilan
Pada hipertensi dalam kehamilan telah terbukti bahwa kadar oksidan,
khususnya peroksida lemak meningkat, sedangkan antioksidan, misalnya
vitamin E pada hipertensi dalam kehamilan menurun, sehingga terjadi
dominan kadar oksidan peroksida lemak yang relatif tinggi. Peroksida
lemak sebagai oksidan/radikal bebas yang sangat toksik ini akan beredar di
seluruh tubuh melalui aliran darah dan akan merusak membran sel endotel.
Membran sel endotel lebih mudah mengalami kerusakan oleh peroksida
lemak, karena letaknya langsung berhubungan dengan aliran darah dan

8
mengandung banyak asam lemak tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh
sangat rentan terhadap oksidan radikal hidroksil, yang akan berubah
menjadi peroksida lemak.
c. Disfungsi sel endotel
Akibat sel endotel terpapar terhadap peroksida lemak, maka terjadi
kerusakan sel endotel, yang kerusakannya dimulai dari membran sel
endotel. Kerusakan membran sel endotel mengakibatkan terganggunya
fungsi endotel, bahkan rusaknya seluruh struktur sel endotel. Keadaan ini
disebut “disfungsi endotel” (endothelial disfunction). Pada waktu terjadi
kerusakan sel endotel yang mengakibatkan disfungsi sel endotel, maka
akan terjadi :

1. Ganggguan metabolisme prostaglandin, karena salah satu fungsi endotel


adalah memproduksi prostaglandin, yaitu menurunnya produksi
prostasiklin (PGE2) suatu vasodilator kuat.
2. Agregasi sel-sel trombosit pada daerah endotel yang mengalami kerusakan.
Agregasi trombosit ini adalah untuk menutup tempat-tempat di lapisan
endotel yang mengalami kerusakan. Agregasi trombosit memproduksi
tromboksan (TXA2) suatu vasokontriktor kuat.
Dalam keadaan normal perbandingan kadar protasiklin/tromboksan lebih
tinggi kadar prostasiklin (vasodilator). Pada preeklampsi kadar tromboksan
lebih tinggi dari kadar prostasiklin sehingga terjadi vasokonstriksi, maka
terjadi kenaikan tekana darah.
3. Perubahan khas pada sel endotel kapiler glomerulus (glomerular
endotheliosis).
4. Peningkatan permeabilitas kapiler.
5. Peningkatan produksi bahan-bahan vasopresor, yaitu endotelin. Kadar
vasodilator menurun, sedangkan endotelin (vasokontriksi) meningkat.
6. Peningkatan faktor koagulasi.

3. Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin

9
Faktor imunologik berperan terhadap terjadinya hipertensi dalam kehamilan
dengan fakta sebagai berikut :

a. Primigravida mempunyai resiko lebih besar terjadinya hipertensi dalam


kehamilan jika dibandingkan dengan multigravida.
b. Ibu multipara yang kemudian menikah lagi mempunyai resiko lebih besar
terjadinya hipertensi dalam kehamilan jika dibandingkan dengan suami
yang sebelumnya.
c. Seks oral mempunyai resiko lebih rendah terjadinya hipertensi dalam
kehamilan. Lamanya periode hubungan seks sampai saat kehamilan ialah
makin lama periode ini, makin kecil terjadinya hipertensi dalam kehamilan.

4. Teori adaptasi kardiovaskular

Pada hamil normal pembuluh darah refrakter tehadap bahan-bahan vasopresor.


Refrakter berarti pembuluh darah tidak peka tehadap rangsangan bahan vasopresor,
atau dibutuhkan kadar vasopresor yang lebih tinggi untuk menimbulkan respons
vasokonstriksi. Pada kehamilan normal terjadinya refrakter pembuluh daerah
terhadap bahan vasopresor adalah akibat dilindungi oleh adanya sitensis
prostaglandin pada sel endotel pembuluh darah. Hal ini dibuktikan bahwa daya
rafrakter terhadap bahan vasopresor akan hilang bila diberi prostaglandin sintensa
inhibitor (bahan yang menghambat produksi prostaglandin). Prostaglandin ini di
kemudian hari ternyata adalah prostasiklin.

Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap bahan


vasokonstriktor, dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan
vasopresor. Artinya, daya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor
hilang sehingga pembuluh darah menjadi peka terhadap bahan vasopresor. Banyak
peneliti telah membuktikan bahwa peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan
vasopresor pada hipertensi dalam kehamilan sudah terjadi pada trimester I
(pertama). Peningkatan kepekaan pada kehamilan yang akan menjadi hipertensi
dalam kehamilan, sudah dapat ditemukan pada kehamilan dua puluh minggu. Fakta
ini dapat dipakai sebagai prediksi akan terjadinya hipertensi dalam kehamilan.

10
2.1.5 Manifestasi Klinis

Hipertensi dalam kehamilan merupakan penyakit teoritis, sehingga terdapat


berbagai usulan mengenai pembagian kliniknya. Pembagian klinik hipertensi
dalam kehamilan adalah sebagai berikut (Manuaba, 2007) :

1. Hipertensi dalam kehamilan sebagai komplikasi kehamilan

1. Preeklampsi
Preeklampsi adalah suatu sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya
perfusi organ akibat vasospasme dan aktivasi endotel. Diagnosis
preeklampsi ditegakkan jika terjadi hipertensi disertai dengan proteinuria
dan atau edema yang terjadi akibat kehamilan setelah minggu ke-20.
Proteinuria didefinisikan sebagai terdapatnya 300 mg atau lebih protein
dalam urin 24 jam atau 30 mg/dl (+1 dipstik) secara menetap pada sampel
acak urin (Cunningham G, 2013). Preeklampsi dibagi menjadi dua
berdasarkan derajatnya yang dapat dilihat pada tabel 2.

Ringan Berat
1. Hipertensi ≥ 140/90 mmHg 1. Hipertensi ≥ 160/110 mmHg
2. Proteinuria ≥ 300 mg/24 jam 2. Proteinuria ≥ 500 mg/24 jam
atau ≥ +1 dipstik atau > +3 disptik
3. Oliguria kurang dari 500
ml/24 jam
4. Gangguan penglihatan dan
serebral
5. Edema paru dan sianosis
6. Nyeri epigastrium atau
kuadran kanan atas
7. Trombositopenia
8. Pertumbuhan janin terganggu

Tabel 2. Derajat Preeklampsi

Proteinuria yang merupakan tanda diagnostik preeklampsi dapat terjadi karena


kerusakan glomerulus ginjal. Dalam keadaan normal, proteoglikan dalam membran

11
dasar glomerulus menyebabkan muatan listrik negatif terhadap protein, sehingga
hasil akhir filtrat glomerulus adalah bebas protein. Pada penyakit ginjal tertentu,
muatan negatif proteoglikan menjadi hilang sehingga terjadi nefropati dan
proteinuria atau albuminuria. Salah satu dampak dari disfungsi endotel yang ada
pada preeklampsi adalah nefropati ginjal karena peningkatan permeabilitas
vaskular. Proses tersebut dapat menjelaskan terjadinya proteinuria pada
preeklampsi. Kadar kreatinin plasma pada preeklampsi umumnya normal atau naik
sedikit (1,0-1,5mg/dl). Hal ini disebabkan karena preeklampsi menghambat filtrasi,
sedangkan kehamilan memacu filtrasi sehingga terjadi kesimpangan (Guyton,
2007).

b. Eklampsia

Eklampsia adalah terjadinya kejang pada seorang wanita dengan preeklampsia


yang tidak dapat disebabkan oleh hal lain. Kejang bersifat grand mal atau tonik-
klonik generalisata dan mungkin timbul sebelum, selama atau setelah persalinan.
Eklampsia paling sering terjadi pada trimester akhir dan menjadi sering mendekati
aterm. Pada umumnya kejang dimulai dari makin memburuknya preeklampsia dan
terjadinya gejala nyeri kepala daerah frontal, gangguan penglihatan, mual, nyeri
epigastrium dan hiperrefleksia. Konvulsi eklampsi dibagi menjadi 4 tingkat, yaitu
(Prawirohardjo, 2013) :

1. Tingkat awal atau aura


Keadaan ini berlangsung kira-kira 30 detik. Mata penderita terbuka tanpa
melihat, kelopak mata bergetar demikian pula tangannya dan kepala diputar
ke kanan atau ke kiri.
2. Tingkat kejang tonik
Berlangsung kurang lebih 30 detik. Dalam tingkat ini seluruh otot menjadi
kaku, wajah kelihatan kaku, tangannya menggenggam dan kaki
membengkok ke dalam. Pernapasan berhenti, muka terlihat sianotik dan
lidah dapat tergigit.
3. Tingkat kejang klonik

12
Berlangsung antara 1-2 menit. Kejang tonik menghilang. Semua otot
berkontraksi secara berulang-ulang dalam tempo yang cepat. Mulut
membuka dan menutup sehingga lidah dapat tergigit disertai bola mata
menonjol. Dari mulut, keluar ludah yang berbusa, muka menunjukkan
kongesti dan sianotik. Penderita menjadi tak sadar. Kejang klonik ini dapat
terjadi demikian hebatnya, sehingga penderita dapat terjatuh dari tempat
tidurnya. Akhirnya kejang berhenti dan penderita menarik napas secara
mendengkur.
4. Tingkat koma
Lamanya ketidaksadaran tidak selalu sama. Secara perlahan-lahan
penderita menjadi sadar lagi, akan tetapi dapat terjadi pula bahwa sebelum
itu timbul serangan baru yang berulang, sehingga penderita tetap dalam
koma. Selama serangan, tekanan darah meninggi, nadi cepat dan suhu
meningkat sampai 40 C.
5. Kejang pada eklampsi berkaitan dengan terjadinya edema serebri. Secara
teoritis terdapat dua penyebab terjadinya edema serebri fokal yaitu adanya
vasospasme dan dilatasi yang kuat. Teori vasospasme menganggap bahwa
over regulation serebrovaskuler akibat naiknya tekanan darah menyebabkan
vasospasme yang berlebihan yang menyebabkan iskemia lokal. Akibat
iskemia akan menimbulkan gangguan metabolisme energi pada membran
sel sehingga akan terjadi kegagalan ATP-dependent Na/K pump yang akan
menyebabkan edema sitotoksik. Apabila proses ini terus berlanjut maka
dapat terjadi ruptur membran sel yang menimbulkan lesi infark yang
bersifat irreversible.
Teori force dilatation mengungkapkan bahwa akibat peningkatan tekanan
darah yang ekstrim pada eklampsi menimbulkan kegagalan vasokonstriksi
autoregulasi sehingga terjadi vasodilatasi yang berlebihan dan peningkatan
perfusi darah serebral yang menyebabkan rusaknya barier otak dengan
terbukanya tight junction sel-sel endotel pembuluh darah. Keadaan ini akan
menimbulkan terjadinya edema vasogenik. Edema vasogenik ini mudah

13
meluas keseluruh sistem saraf pusat yang dapat menimbulkan kejang pada
eklampsi (Sudibjo P, 2010).

2. Hipertensi dalam kehamilan sebagai akibat dari hipertensi menahun

1. Hipertensi kronik

Hipertensi kronik dalam kehamilan adalah tekanan darah ≥140/90 mmHg yang
didapatkan sebelum kehamilan atau sebelum umur kehamilan 20 minggu dan
hipertensi tidak menghilang setelah 12 minggu pasca persalinan. Berdasarkan
penyebabnya, hipertensi kronis dibagi menjadi dua, yaitu hipertensi primer dan
sekunder. Pada hipertensi primer penyebabnya tidak diketahui secara pasti atau
idiopatik. Hipertensi jenis ini terjadi 90-95% dari semua kasus hipertensi.
Sedangkan pada hipertensi sekunder, penyebabnya diketahui secara spesifik yang
berhubungan dengan penyakit ginjal, penyakit endokrin dan penyakit
kardiovaskular (Manuaba, 2007).

2. Superimposed preeclampsia

Pada sebagian wanita, hipertensi kronik yang sudah ada sebelumnya semakin
memburuk setelah usia gestasi 24 minggu. Apabila disertai proteinuria,
diagnosisnya adalah superimpose preeklampsi pada hipertensi kronik
(superimposed preeclampsia). Preeklampsia pada hipertensi kronik biasanya
muncul pada usia kehamilan lebih dini daripada preeklampsi murni, serta
cenderung cukup parah dan pada banyak kasus disertai dengan hambatan
pertumbuhan janin (Manuaba, 2007).

3. Hipertensi gestasional

Hipertensi gestasional didapat pada wanita dengan tekanan darah ≥140/90 mmHg
atau lebih untuk pertama kali selama kehamilan tetapi belum mengalami
proteinuria. Hipertensi gestasional disebut transien hipertensi apabila tidak terjadi
preeklampsi dan tekanan darah kembali normal dalam 12 minggu postpartum.
Dalam klasifikasi ini, diagnosis akhir bahwa yang bersangkutan tidak mengalami
preeklampsi hanya dapat dibuat saat postpartum. Namun perlu diketahui bahwa

14
wanita dengan hipertensi gestasional dapat memperlihatkan tanda-tanda lain yang
berkaitan dengan preeklampsi, misalnya nyeri kepala, nyeri epigastrium atau
trombositopenia yang akan mempengaruhi penatalaksanaan (Cunningham G,
2013).

2.1.6 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan yang perlu dilakukan dalam kasus hipertensi sebagai komplikasi


kehamilan adalah proteinuria, untuk diagnosis dini preeklampsi yang merupakan
akibat dari hipertensi kehamilan. Pemeriksaan proteinuria dapat dilakukan dengan
dua metode, yaitu secara Esbach dan Dipstick. Pengukuran secara Esbach,
dikatakan proteinuria jika didapatkan protein ≥300 mg dari 24 jam jumlah urin.
Nilai tersebut setara dengan kadar proteinuria ≥30 mg/dL (+1 dipstick) dari urin
acak tengah yang tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi saluran kencing.
Interpretasi hasil dari proteinuria dengan metode dipstick adalah (POGI, 2010) :

+1 = 0,3 – 0,45 g/L


+2 = 0,45 – 1 g/L
+3 = 1 – 3 g/L
+4 = > 3 g/L.
Prevalensi kasus preeklampsi berat terjadi 95% pada hasil pemeriksaan +1
dipstick, 36% pada +2 dan +3 dipstick (Prasetyo R, 2006).

15
Gambar 2. Alur Penilaian Klinik Hipertensi Dalam Kehamilan (Prawirohardjo S,
2006)

2.1.7 Penatalaksanaan

Penanganan umum, meliputi :

1. Perawatan selama kehamilan


Jika tekanan darah diastolik >110 mmHg, berikan obat antihipertensi
sampai tekanan darah diastolik diantara 90-100 mmHg. Obat pilihan
antihipertensi adalah hidralazin yang diberikan 5 mg IV pelan-pelan selama
5 menit sampai tekanan darah turun. Jika hidralazin tidak tersedia, dapat
diberikan nifedipin 5 mg sublingual dan tambahkan 5 mg sublingual jika
respon tidak membaik setelah 10 menit. Selain itu labetolol juga dapat
diberikan sebagai alternatif hidralazin. Dosis labetolol adalah 10 mg, jika
respon tidak baik setelah 10 menit, berikan lagi labetolol 20 mg. Pasang
infus Ringer Laktat dengan jarum besar (16 gauge atau lebih). Ukur
keseimbangan cairan, jangan sampai overload. Auskultasi paru untuk
mencari tanda-tanda edema paru. Adanya krepitasi menunjukkan edema
paru, maka pemberian cairan dihentikan. Perlu kateterisasi urin untuk
pengeluaran volume dan proteinuria. Jika jumlah urin <30 ml per jam, infus
cairan dipertahankan sampai 1 jam dan pantau kemungkinan edema paru.
Observasi tanda-tanda vital ibu dan denyut jantung janin dilakukan setiap
jam (Prawirohardjo S, 2006).
Untuk hipertensi dalam kehamilan yang disertai kejang, dapat diberikan
Magnesium sulfat (MgSO4). MgSO4 merupakan obat pilihan untuk
mencegah dan menangani kejang pada preeklampsi dan eklampsi. Cara

16
pemberian MgSO4 pada preeklampsi dan eklampsi adalah (Prawihardjo S,
2006) :
a. Dosis awal
Berikan MgSO4 4 gram IV sebagai larutan 20% selama 5 menit.
Diikuti dengan MgSO4 (50%) 5 gr IM dengan 1 ml lignokain 2%
(dalam semprit yang sama). Pasien akan merasa agak panas saat
pemberian MgSO4
b. Dosis pemeliharaan
MgSO4 (50%) 5 gr + 1 ml lignokain 2 % IM setiap 4 jam.
Pemberian tersebut dilanjutkan sampai 24 jam postpartum atau
kejang terakhir. Sebelum pemberian MgSO4, periksa frekuensi
nafas minimal 16 kali/menit, refleks patella positif dan urin minimal
30 ml/jam dalam 4 jam terakhir. Pemberian MgSO4 dihentikan jika
frekuensi nafas <16 kali/menit, refleks patella negatif dan urin <30
ml/jam. Siapkan antidotum glukonat dan ventilator jika terjadi henti
nafas. Dosis glukonat adalah 2 gr (20 ml dalam larutan 10%) IV
secara perlahan sampai pernafasan membaik.
2. Perawatan persalinan
Pada preeklampsi berat, persalinan harus terjadi dalam 24 jam, sedang pada
eklampsi dalam 12 jam sejak gejala eklampsi timbul. Jika terdapat gawat
janin, atau persalinan tidak terjadi dalam 12 jam pada eklampsi, lakukan
seksio sesarea (Mustafa R et al., 2012).
3. Perawatan postpartum
Antikonvulsan diteruskan sampai 24 jam postpartum atau kejang terakhir.
Teruskan pemberian obat antihipertensi jika tekanan darah diastolik masih
>110 mmHg dan pemantauan urin (Mustafa R et al., 2012).

2.1.9 Pencegahan

Strategi yang dilakukan guna mencegah hipertensi dalam kehamilan


meliputi upaya nonfarmakologi dan farmakologi. Upaya nonfarmakologi
meliputi edukasi, deteksi prenatal dini dan manipulasi diet. Sedangkan

17
upaya farmakologi mencakup pemberian aspirin dosis rendah dan
antioksidan (Cunningham G, 2013).
1. Penyuluhan untuk kehamilan berikutnya
Wanita yang mengalami hipertensi selama kehamilan harus dievaluasi pada
masa postpartum dini dan diberi penyuluhan mengenai kehamilan
mendatang serta risiko kardiovaskular mereka pada masa yang akan datang.
Wanita yang mengalami preeklampsi-eklampsia lebih rentan mengalami
penyulit hipertensi pada kehamilan berikutnya (James R dan Catherine N,
2004). Edukasi mengenai beberapa faktor risiko yang memperberat
kehamilan dan pemberian antioksidan vitamin C pada wanita berisiko
tinggi dapat menurunkan angka morbiditas hipertensi dalam kehamilan
(Cunningham G, 2013).
2. Deteksi pranatal dini
Selama kehamilan, waktu pemeriksaan pranatal dijadwalkan 1 kali saat
trimester pertama, 1 kali saat trimester kedua dan 2 kali pada trimester
ketiga. Kunjungan dapat ditambah tergantung pada kondisi maternal.
Dengan adanya pemeriksaan secara rutin selama kehamilan dapat
dilakukan deteksi dini hipertensi dalam kehamilan. Wanita dengan
hipertensi yang nyata (≥140/90mmHg) sering dirawat inapkan selama 2
sampai 3 hari untuk dievaluasi keparahan hipertensi kehamilannya yang
baru muncul. Meskipun pemilihan pemeriksaan laboratorium dan tindakan
tambahan tergantung pada sifat keluhan utama dan biasanya merupakan
bagian rencana diagnostik, pemeriksaan sel darah lengkap dengan asupan
darah, urinalisis serta golongan darah dan rhesus menjadi tiga tes dasar
yang memberikan data objektif untuk evaluasi sebenarnya pada setiap
kedaruratan obstetri ginekologi. Hal tersebut berlaku pada hipertensi dalam
kehamilan, urinalisis menjadi pemeriksaan utama yang dapat menegakkan
diagnosis dini pada preeklampsi (Cunningham G, 2013).
3. Manipulasi diet
Salah satu usaha awal yang ditujukan untuk mencegah hipertensi sebagai
penyulit kehamilan adalah pembatasan asupan garam. Diet tinggi kalsium

18
dan pemberian kapsul dengan kandungan minyak ikan dapat menyebabkan
penurunan bermakna tekanan darah serta mencegah hipertensi dalam
kehamilan (Cunningham G, 2013).
4. Aspirin dosis rendah
Penelitian pada tahun 1986, melaporkan bahwa pemberian aspirin 60 mg
atau placebo pada wanita primigravida mampu menurunkan kejadian
preeklampsi. Hal tersebut disebabkan karena supresi selektif sintesis
tromboksan oleh trombosit serta tidak terganggunya produksi prostasiklin
(Cunningham G, 2013).
5. Antioksidan
Terapi antioksidan secara bermakna menurunkan aktivasi sel endotel dan
mengisyaratkan bahwa terapi semacam ini bermanfaat dalam pencegahan
hipertensi kehamilan, terutama preeklampsi. Antioksidan tersebut dapat
berupa vitamin C dan E (Cunningham G, 2013).

2.2 Preeklampsi

2.2.1 Definisi

Preeklampsi adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan


disertai dengan proteinuria (Prawiroharjo, 2013). hal-hal yang perlu diperhatikan :

1. Hipertensi adalah tekanan darah sistolik dan diastolik ≥140/90 mmHg.


Pengukuran darah dilakukan sebanyak 2 kali pada selang waktu 4-6 jam.
2. Proteinuria adalah adanya 300 mg protein dalam urin selama 24 jam atau
sama dengan ≥1+ dipstic.
3. Edema, sebelumnya edema tungkai dipakai sebagai tanda-tanda
preeklampsi tetapi sekarang edema tungkai tidak dipakai lagi, kecuali
edema generalisata. Selain itu bila di dapatkan kenaikan berat badan >0,57
kg/minggu.

Preeklampsi adalah sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ


akibat vasospasme dan aktivasi endotel, proteinuria adalah tanda penting
preeklampsi, terdapatnya proteinuria 300 mg/+1 (Cunningham, 2013).

19
2.2.2 Etiologi

Penyebab penyakit ini sampai sekarang belum bisa diketahui secara pasti. Namun
banyak teori yang telah dikemukakan tentang terjadinya hipertensi dalam
kehamilan tetapi tidak ada satupun teori tersebut yang dianggap benar-benar
mutlak. Beberapa faktor resiko ibu terjadinya preeklampsi :

1. Paritas
Kira-kira 85% preeklampsi terjadi pada kehamilan pertama. Paritas 2-3
merupakan paritas paling aman ditinjau dari kejadian preeklampsi dan
risiko meningkat lagi pada grandemultigravida (Bobak, 2005). Selain itu
primitua, lama perkawinan ≥4 tahun juga dapat berisiko tinggi timbul
preeklampsi (Rochjati, 2003).
2. Usia
Usia aman untuk kehamilan dan persalinan adalah 23-35 tahun. Kematian
maternal pada wanita hamil dan bersalin pada usia dibawah 20 tahun dan
setelah usia 35 tahun meningkat, karena wanita yang memiliki usia kurang
dari 20 tahun dan lebih dari 35 tahun di anggap lebih rentan terhadap
terjadinya preeklampsi (Cunningham, 2013). Pada ibu hamil yang berusia ≥
35 tahun telah terjadi perubahan pada jaringan alat-alat kandungan dan
jalan lahir tidak lentur lagi sehingga lebih berisiko untuk terjadi
preeklampsi (Rochjati, 2003).
3. Riwayat hipertensi
Riwayat hipertensi adalah ibu yang pernah mengalami hipertensi sebelum
hamil atau sebelum umur kehamilan 20 minggu. Ibu yang mempunyai
riwayat hipertensi berisiko lebih besar mengalami preeklampsi, serta
meningkatkan morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal lebih tinggi.
Diagnosa preeklampsi ditegakkan berdasarkan peningkatan tekanan darah
yang disertai dengan proteinuria atau edema anasarka (Cunningham, 2013).
4. Sosial ekonomi
Beberapa penelitian menyimpulkan bahwa wanita yang sosial ekonominya
lebih maju jarang terjangkit penyakit preeklampsi. Secara umum,

20
preeklampsi/eklampsi dapat dicegah dengan asuhan pranatal yang baik.
Namun pada kalangan ekonomi yang masih rendah dan pengetahuan yang
kurang seperti di negara berkembang seperti Indonesia insiden
preeklampsi/eklampsi masih sering terjadi (Cunningham, 2013).
5. Hiperplasentosis/kelainan trophoblast
Hiperplasentosis/kelainan trofoblas juga dianggap sebagai faktor
predisposisi terjadinya preeklampsi, karena trofoblas yang berlebihan dapat
menurunkan perfusi uteroplasenta yang selanjutnya mempengaruhi aktivasi
endotel yang dapat mengakibatkan terjadinya vasospasme, dimana
vasospasme adalah dasar patofisiologi preeklampsi/eklampsi
(Prawirohardjo, 2008; Cunningham, 2013).
6. Genetik
Genotip ibu lebih menentukan terjadinya hipertensi dalam kehamilan
secara familial jika dibandingkan dengan genotip janin. Telah terbukti pada
ibu yang mengalami preeklampsi 26% anak perempuannya akan
mengalami preeklampsi pula, sedangkan 8% anak menantunya mengalami
preeklampsi. Karena biasanya kelainan genetik juga dapat mempengaruhi
penurunan perfusi uteroplasenta yang selanjutnya mempengaruhi aktivasi
endotel yang dapat menyebabkan terjadinya vasospasme yang merupakan
dasar patofisiologi terjadinya preeklampsi/eklampsi (Cunningham, 2013).
7. Obesitas
Obesitas adalah adanya penimbunan lemak yang berlebihan di dalam
tubuh. Obesitas merupakan masalah gizi karena kelebihan kalori, biasanya
disertai kelebihan lemak dan protein hewani, kelebihan gula dan garam
yang kelak bisa merupakan faktor risiko terjadinya berbagai jenis penyakit
degeneratif, seperti diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung koroner,
reumatik dan berbagai jenis keganasan (kanker) dan gangguan kesehatan
lain. Hubungan antara berat badan ibu dengan risiko preeklampsi bersifat
progresif, meningkat dari 4,3% untuk wanita dengan indeks massa tubuh
kurang dari 19,8 kg/m2 terjadi peningkatan menjadi 13,3 % untuk mereka
yang indeksnya ≥35 kg/m2 (Cunningham, 2013; Mansjoer, 2008).

21
2.2.3 Klasifikasi

Preeklampsi merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat membahayakan


kesehatan maternal maupun neonatal. Gejala klinik preeklamosi dapat dibagi
menjadi preeklampsi ringan dan preeklampsi berat :

1. Preeklampsi ringan (PER)


a) Pengertian
Preeklampsi ringan adalah suatu sindrom spesifik kehamilan dengan
menurunnya perfusi organ yang berakibat terjadinya vasospasme
pembuluh darah dan aktivasi endotel (Prawirohardjo, 2013).
b) Diagnosis
Diagnosis preeklampsi ringan menurut Prawirohardjo 2008,
ditegakkan berdasarkan atas munculnya hipertensi disertai
proteinuria pada usia kehamilan lebih dari 20 minggu dengan
ketentuan sebagai berikut :
TD : ≥140/90 mmHg
Proteinuria : ≥300 mg/24 jam atau pemeriksaan kualitatif 1 atau
+2
Edema : edema generalisata (edema pada kaki, tangan,muka,dan
perut)

2. Preeklampsi berat (PEB)

1) Pengertian
Preeklampsi berat adalah preeklampsi dengan tekanan darah
≥160/110 mmHg, disertai proteinuria ≥5 g/24 jam atau +3 atau lebih
(Prawirohardjo, 2013).
2) Diagnosa
Diagnosis preeklampsi berat menurut Prawirohardjo 2013,
ditegakkan bila ditemukan salah satu atau lebih tanda/gejala berikut:
 TD ≥ 160/110 mmHg.

22
 Proteinuria ≥5 g per 24 jam, +3 atau +4 dalam pemeriksaan
kualitatif.
 Oliguria yaitu produksi urin kurang dari 500 cc per 24 jam.
 Kenaikan kadar kreatinin plasma.
 Gangguan visus dan serebral, terjadi penurunan kesadaran,
nyeri kepala, skotoma dan pandangan kabur.
 Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas
abdomen.
 Edema paru-paru dan sianosis.
 Hemolisis mikroangiopatik.
 Trombositopenia berat <100.000 sel/mm3 atau penurunan
trombosit dengan cepat.
 Gangguan fungsi hepar.
 Pertumbuhan janin intra uterin yang terhambat.
 Sindrom HELLP.

2.2.4 Patologi

Perubahan pada system dan organ pada preeklampsi menurut Prawirohardjo 2013
adalah:

1) Perubahan kardiovaskular
Penderita preeklampsi sering mengalami gangguan fungsi
kardiovaskular yang parah, gangguan tersebut pada dasarnya
berkaitan dengan pompa jantung akibat hipertensi (Cunningham,
2013).
2) Ginjal
Terjadi perubahan fungsi ginjal disebabkan karena menurunnya
aliran darah ke ginjal akibat hipovolemi, kerusakan sel glomerulus
mengakibatkan meningkatnya permeabilitas membran basalis
sehingga terjadi kebocoran dan mengakibatkan proteinuria. Gagal
ginjal akut akibat nekrosis tubulus ginjal. Kerusakan jaringan ginjal

23
akibat vasospasme pembuluh darah dapat diatasi dengan pemberian
dopamin agar terjadi vasodilatasi pada pembuluh darah ginjal.
3) Viskositas darah
Vaskositas darah meningkat pada preeklampsi, hal ini
mengakibatkan meningkatnya resistensi perifer dan menurunnya
aliran darah ke organ.
4) Hematokrit
Hematokrit pada penderita preeklampsi meningkat karena
hipovolemia yang menggambarkan beratnya preeklampsi.
5) Edema
Edema terjadi karena kerusakan sel endotel kapilar. Edema yang
patologi bila terjadi pada kaki tangan/seluruh tubuh disertai dengan
kenaikan berat badan yang cepat.
6) Hepar
Terjadi perubahan pada hepar akibat vasospasme, iskemia, dan
perdarahan. Perdarahan pada sel periportal lobus perifer, akan
terjadi nekrosis sel hepar dan peningkatan enzim hepar. Perdarahan
ini bisa meluas yang disebut subkapsular hematoma dan inilah yang
menimbulkan nyeri pada daerah epigastrium dan dapat
menimbulkan ruptur hepar.
7) Neurologik
Perubahan neurologik dapat berupa, nyeri kepala di sebabkan
hiperfusi otak. Akibat spasme arteri retina dan edema retina dapat
terjadi ganguan visus.
8) Paru
Penderita preeklampsi berat mempunyai resiko terjadinya edema
paru. Edema paru dapat disebabkan oleh payah jantung kiri,
kerusakan sel endotel pada pembuluh darah kapiler paru, dan
menurunnya diuresis.

2.2.5 Pencegahan

24
Pencegahan preeklampsi ini dilakukan dalam upaya untuk mencegah terjadinya
preeklampsi pada wanita hamil yang memiliki resiko terjadinya preeklampsi.
Menurut Prawirohardjo 2013 pencegahan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:

1) Pencegahan non medical


Yaitu pencegahan dengan tidak memberikan obat, cara yang paling
sederhana yaitu dengan tirah baring. Kemudian diet, ditambah suplemen
yang mengandung:
a) Minyak ikan yang kaya akan asam lemak tidak jenuh, seperti
omega-3 dan PUFA.
b) Antioksidan berupa vitamin C, vitamin E, dan sebagainya.
c) Elemen logam berat seperti zinc, magnesium, dan kalium.
2) Pencegahan dengan medical
Pemberian diuretik tidak terbukti mencegah terjadinya hipertensi bahkan
memperberat terjadinya hipovolemia. Sehingga dapat diberikan kalsium
1.500-2.000 mg/hari, selain itu dapat pula diberikan zinc 200 mg/hari,
atau magnesium 365 mg/hari. Obat trombolitik yang dianggap dapat
mencegah preeklampsi adalah aspirin dosis rendah rata-rata <100 mg/hari
atau dipiridamole, dan dapat juga diberikan obat anti oksidan misalnya
vitamin C, atau Vitamin E.

2.3 Eklamsia

2.3.1 Definisi

Eklamsia adalah kejang yang dialami wanita hamil dalam persalinan atau masa
nifas yang disertai gejala-gejala preeklamsia (hipertensi, edema dan proteinuria).
Menurut saat terjadinya, eklamsia dapat dibedakan atas :

1) Eklamsia antepartum : terjadi sebelum kehamilan


2) Eklamsia intrapartum : terjadi sewaktu persalinan
3) Eklamsia pascasalin : terjadi setelah persalinan. Eklamsia pascasalin
dapat terjadi segera (early postpartum, setelah 24 jam-7 hari

25
pascasalin) atau lambat (late postpartum, setelah 7 hari pascasalin
selama masa nifas).

Serangan kejang eklamsia dapat dibedakan kedalam 4 tingkat:

1) Tingkat invasi (tingkat permulaan) : mata terpaku, kepala dipalingkan ke


satu sisi, muka memperlihatkan kejang-kejang halus. Tingkat ini
berlangsung beberapa detik.
2) Tingkat kontraksi (tingkat kejang tonis) : seluruh badan kaku, kadang-
kadang terjadi epistotonus yang lamanya 15-20 detik.
3) Tingkat konvulsi ( tingkat kejang klonis) : kejang hilang timbul, rahang
membuka dan menutup begitu pula mata, otot-otot muka dan otot badan
berkontraksi dan berelaksai berulang. Kejang sangat kuat sampai-sampai
penderita dapat terlempar dari tempat tidur atau menggigit lidah sendiri.
Ludah berbuih bercampur darah keluar dari mulut, mata merah dan muka
biru. Kejang berangsung ± 1 menit.
4) Tingkat koma : setelah kejang klonis, penderita mengalami koma, lamanya
bervariasi mulai dari beberapa menit sampai berjam-jam. Bila sadar
kembali, penderita tidak ingat sama sekali apa yang telah terjadi (amnesia
retrograd).

2.3.2 Patologi

Dalam tubuh penderita yang meninggal dunia akibat eklamsia dapat ditemukan
kelainan-kelainan hati, ginjal, otak, paru dan jantung. Umumnya terdapat tanda-
tanda nekrosis, perdarahan, edema, hiperimia atau iskemia dan trombosis.

Di plasenta, dapat ditemukan infark akibat degenerasi lapisan trofoblas. Perubahan


lain yang dapat dijumpai antara lain retensi air dan natrium, hemokonsentrasi dan
terkadang asidosis.

2.3.3 Etiologi

26
Penyebab eklamsia belum diketahui benar. Oleh karena eklamsia merupakan
kelanjutan atau stadium akhir preeklamsis, faktor-faktor yang memengaruhi
kejadiannya sama dengan preeklamsia.

2.3.4 Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis eklamsia, keadaan-keadaan lain yang menyebabkan


kejang dan demap seperti kecunan, tenataus dan epilepsi harus disingkirkan.
Diagnosis eklamsia yang terjadi lebih dari 24 jam pascasalin harus dicurigai.
Namun demikian, semua ibu dalam masa kehamilan dan masa yang mengalami
kejang dan hipertensi harus dianggap sebagai penderita eklamsia sampai terbukti
bukan.

2.3.5 Pengelolaan

1) Profilaksis/pencegahan: menemukan kasus preeklamsia sedini mungkin dan


mengobatinya dengan adekuat.
2) Pengobatan : karena eklamsia merupakan keadaan gawat darurat yang
sangat berbahaya bagi keselamatan ibu dan anak, penderita harus dirawat di
unit perawatan intensif (ICU). Secara teoritis, eklamsia adalah penyakit
yang disebabkan oleh kehamilan, maka pengobatan yang terbaik adalah
secepat mungkin mengakhiri kehamilan, misalnya dengan seksio sesaria
ataupun melakukan persalinan pervaginam.

Tujuan pengobatan eklamsia yaitu :

a) Mencegah kejang berulang


b) Menurunkan/ mengendalikan tekanan darah
c) Mengatasihemokonsentrasi dan memperbaiki diuresis dengan pemberian
cairan seperti RL
d) Mengatasi hipoksia dan asidosis dengan mengusahakan agar penderita
memperoleh O2 dan mempertahankan kebebasan jalan nafas.
e) Mengakhiri kehamilan tanpa memandang usai kehamilan, setelah kejang
teratasi.

27
2.4 Konsep Asuhan Keperawatan pada Kasus Hiperensi dalam Kehamilan

1. Pengkajian

a) Anamnesa
Pengkajian pada pasien dengan kasus hipertensi dalam kehamilan meliputi :
a) Identitas umum ibu, seperti: nama, tempat tanggal lahir/umur,
pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agama, dan alamat rumah
b) Data Riwayat Kesehatan
Riwayat kesehatan sekarang :
Biasanya ibu akan mengalami: sakit kepala di daerah frontal, terasa
sakit di ulu hati/ nyeri epigastrium, bisa terjadi gangguan visus, mual
dan muntah, tidak nafsu makan, bisa terjadi gangguan serebral, bisa
terjadi edema pada wajah dan ekstermitas, tengkuk terasa berat, dan
terjadi kenaikan berat badan 1 kg/ minggu.
Riwayat kesehatan Dahulu:
Biasanya akan ditemukan riwayat: kemungkinan ibu menderita
penyakit hipertensi pada kehamilan sebelumnya, kemungkinan ibu
mempunyai riwayat preeklampsia dan eklampsia pada kehamilan
terdahulu, biasanya mudah terjadi pada ibu dengan obesitas, ibu
mungkin pernah menderita gagal ginjal kronis.
Riwayat Kesehatan Keluarga:
Kemungkinan mempunyai riwayat kehamilan dengan hipertensi dalam
keluarga.
Riwayat Perkawinan
Biasanya terjadi pada wanita yang menikah di bawah usia 20 tahun
atau di atas 35 tahun.
Riwayat Obstetri
Biasanya hipertensi dalam kehamilan paling sering terjadi pada ibu
hamil primigravida, kehamilan ganda, hidramnion, dan molahidatidosa
dan semakin semakin tuanya usia kehamilan (Prawirohardjo, 2013).

b) Pemeriksaan fisik

28
 Keadaan umum : Biasanya ibu hamil dengan hipertensi akan
mengalami kelemahan.
 TD : Pada ibu hamil dengan hipertensi akan ditemukan tekanan darah
darah sistol diatas 140 mmHg dan diastol diatas 90 mmHg.
 Nadi : Biasanya pada ibu hamil dengan hipertensi akan ditemukan
denyut nadi yang meningkat, bahkan pada ibu yang mengalami
eklampsia akan ditemukan nadi yang semakin cepat.
 Nafas : Biasanya pada ibu hamil dengan hipertensi akan ditemukan
nafas pendek, dan pada ibu yang mengalami eklampsia akan terdengar
bunyi nafas yang berisik dan ngorok.
 Suhu : Ibu hamil yang mengalami hipertensi dalam kehamilan
biasanya tidak ada gangguan pada suhunya, tetapi jika ibu hamil
tersebut mengalami eklampsia maka akan terjadi peningkatan suhu.
 BB : Biasanya akan terjadi peningkatan berat badan lebih dari 0,5
kg/minggu, dan pada ibu hamil yang mengalami preeklampsia akan
terjadi peningkatan BB lebih dari 1 kg/minggu atau sebanyak 3 kg
dalam 1 bulan
 Kepala : Biasanya ibu hamil akan ditemukan kepala yang berketombe
dan kurang bersih dan pada ibu hamil dengan hipertensi akan
mengalami sakit kepala.
 Wajah : Biasanya pada ibu hamil yang mengalami
preklampsia/eklampsia wajah tampak edema.
 Mata : Biasanya ibu hamil dengan hipertensi akan ditemukan
konjungtiva subanemis, dan bisa juga ditemukan edema pada palvebra.
Pada ibu hamil yang mengalami preeklampsia atau eclampsia biasanya
akan terjadi gangguan penglihat yaitu penglihatan kabur.
 Hidung : Biasanya pada ibu hamil tidak ditemukan gangguan
 Bibir : Biasanya akan ditemukan mukosa bibir lembab
 Mulut : Biasanya terjadi pembengkakan vaskuler pada gusi,
menyebabkan kondisi gusi menjadi hiperemik dan lunak, sehingga
gusi bisa mengalami pembengkakan dan perdarahan

29
 Leher : Biasanya akan ditemukan pembesaran pada kelenjer tiroid
 Thorax :
a) Paru-paru : Biasanya akan terjadi peningkatan respirasi, edema
paru dan napas pendek
b) Jantung : Pada ibu hamil biasanya akan terjadi palpitasi
jantung, pada ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan,
khususnya pada ibu yang mengalami preeklampsia beratakan
terjadi dekompensasi jantung.
 Payudara : Biasanya akan ditemukan payudara membesar, lebih padat
dan lebih keras, puting menonjol dan areola menghitam dan membesar
dari 3 cm menjadi 5 cm sampai 6 cm, permukaan pembuluh darah
menjadi lebih terlihat.
 Abdomen :Pada ibu hamil akan ditemukan umbilicus menonjol keluar,
danmembentuk suatu area berwarna gelap di dimding abdomen, serta
akan ditemukan linea alba dan linea nigra. Pada ibu hamil dengan
hipertensibiasanya akan ditemukan nyeri pada daerah epigastrum, dan
akan terjadi anoreksia, mual dan muntah
 Pemeriksaan janin : Biasanya ibu hamil dengan hipertensi bisa terjadi
bunyi jantung janin yang tidak teratur dan gerakan janin yang
melemah (Mitayani, 2011).
 Ekstermitas : Pada ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan
bisa ditemukan edema pada kaki dan tangan juga pada jari-jari.
 Sistem persarafan : Biasanya ibu hamil dengan hipertensi bisa
ditemukan hiper refleksia, klonus pada kaki
 Genitourinaria : Biasanya ibu hamil dengan hipertensi akan didapatkan
oliguria dan proteinuria, yaitu pada ibu hamil dengan preeklampsia
(Reeder, 2011; Mitayani, 2011).

c) Pemeriksaan Penunjang

Mitayani (2011), mengatakan beberapa pemeriksaan penunjang hipertensi dalam


kehamilan yang dapat dilakukan adalah :

30
1. Pemeriksaan laboratorium

a) Pemeriksaan darah lengkap dengan hapusan darah

 Penurunan hemoglobin (nilai rujukan atau kadar normal untuk


wanita hamil adalah 12-14 gr%)
 Hematokrit meningkat (nilai rujukan 37-43 vol%)
 Trombosit menurun (nilai rujukan 150-450 ribu/mm3)

b) Urinalisis

Untuk menentukan apakah ibu hamil dengan hipertensi tersebut mengalami


proteinuria atau tidak. Biasanya pada ibu hipertensi ringan tidak ditemukan
protein dalam urin.

c) Pemeriksaan fungsi hati

 Bilirubin meningkat (N=< 1 mg/ dl)


 LDH (Laktat dehidrogenase) meningkat
 Aspartat aminomtransferase (AST) > 60 ul.
 Serum glutamat pirufat transaminase (SGPT) meningkat (N: 15-45
u/ml).
 Serum glutamat oxaloacetic trasaminase (SGOT) meningkat (N: <
31 u/l).
 Total protein serum normal (N: 6,7-8,7 g/dl).

d) Tes kimia darah

Asam urat meningkat (N: 2,4-2,7 mg/ dl).

2. Radiologi

a) Ultrasonografi : bisa ditemukan retardasi pertumbuhan janin intrauterus,


pernapasan intrauterus lambat, aktivitas janin lambat, dan volume cairan
ketuban sedikit.

31
b) Kardiotografi

Diketahui denyut jantung janin lemah.

3. Data sosial ekonomi

Hipertensi pada ibu hamil biasanya lebih banyak terjadi pada wanita
dengan golongan ekonomi rendah, karena mereka kurang mengonsumsi
makanan yang mengandung protein dan juga melakukan perawatan
antenatal yang teratur.

4. Data Psikologis

Biasanya ibu yang mengalami hipertensi dalam kehamilan berada dalam


kondisi yang labil dan mudah marah, ibu merasa khawatir akan keadaan
dirinya dan keadaan janin dalam kandungannya, dia takut anaknya nanti
lahir cacat ataupun meninggal dunia, sehingga ia takut untuk melahirkan
(Prawihardjo, 2013).

2. Kemungkinan Diagnosis Keperawatan

Purwaningsih dan Fatmawati (2010); Reeder dkk (2011), menyebutkan beberapa


kemungkinan diagnosa yang terjadi pada ibu hamil dengan hipertensi diantaranya
adalah:

1) Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan hipoventilasi


2) Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan kurang
suplai oksigen ke jaringan
3) Nyeri berhubungan dengan agen cedera biologis
4) Resiko cedera dengan faktor resiko internal ( disfungsi integrasi sensori)
5) Intoleran aktifitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen
6) Ansietas berhubungan dengan ancaman pada status terkini

3. Intervensi Keperawatan

32
No Intervensi keperawatan NOC NIC
1. Ketidakefektifan pola NOC: Setelah dilakukan NIC:
nafas berhubungan tindakan keperawatan, a. monitor vital sign
dengan sindrom diharapkan partisipan Tindakan keperawatan:
hipoventilasi menunjukkan keefektifan 1) Memonitor tekanan
Defenisi : dalam bernafas dan darah, nadi, suhu, dan
Inspirasi dan / atau dengan indikator : status pernafasan,
ekspirasi yang tidak 2) Memonitor denyut
memberi ventilasi Satus Pernafasan jantung
adekuat. Kriteria hasil: 3) Memonitor suara
Batasan 1) frekunsi pernapasan paruparu
Karakteristik: normal 4) Memonitor warna kulit
1) Dispnea 2) irama pernafasan 5) Meniai CRT
2) Fase ekspirasi normal b. monitor pernafasan
memanjang 3) tidak ada dispnea Tindakan keperawatan:
3) Penggunaan otot pada saat istirahat 1) Memonitor tingkat,
bantu pernapasan 4) tidak ada suara irama, kedalaman, dan
4) Penurunan mendengkur kesulitan bernafas
kapasitas vital 2) Memonitor gerakan
5) Penurunan tekanan dada
ekspirasi 3) Monitor bunyi
6) Penurunan tekanan pernafasan
inspirasi 4) Auskultasi bunyi paru
7) Penurunan 5) Memonitor pola nafas
ventilasi semenit 6) Monitor suara nafas
8) Pola napas tambahan
abnormal c. Pengaturan posisi
9) takipnea 1) Poposisi kanpasien
untuk
mengurangi dispnea,
misalnya posisi semi
fowler
2. Ketidakefektifan NOC: Setelah dilakukan NIC:
perfusi jaringan tindakan keperawatan, a. Oxygen therapy (terapi
perifer berhubungan diharapkan partisipan oksigen)
dengan kurang suplai menunjukkan keefektifan 1)Monitor kemampuan
oksigen ke jaringan. perfusi jaringan perifer pasien dalam
Defenisi : penurunan dengan indikator : mentoleransi kebutuhan
sirkulasi darah ke a. Perfusi jaringan oksigen saat makan
perifer yang dapat perifer 2)Monitor perubahan
mengganggu kesehatan Kriteria hasil : warna
Batasan 1) Pengisian kapiler jari kulit pasien
Karakteristik: normal 3)Monitor posisi pasien
Edema 2) Pengisian kapiler jari untuk membantu

33
Nyeri ekstermitas kakinormal masuknya oksigen
Penurunan nadi 3) Kekuatan denyut nadi 4)Memonitor penggunaan
perifer karotisnormal oksigen saat pasien
Perubahan 4) Edema perifer tidak beraktivitas
karakteristik kulit ada b. Peripheral
(misalnya warna, sensationManagement
elastisitas, rambut, (menajemen sensasi
kelembapan, kuku, perifer)
sensasi, dan suhu). 1) Memonitor perbedaan
Perubahan tekanan terhadap rasa
darah tajam,tumpul,panas atau
Waktu pengisian dingin
kapiler > 3 detik 2) Monitor adanya mati
Warna tidak kembali rasa,rasa geli.
ke tungkai 1 menit 3) Diskusikan tentang
setelah tungkai adanya kehilangan
diturunkan sensasi atau perubahan
sensasi
4) Minta keluarga untuk
memantau perubahan
warna kulit setap hari
3. Nyeri akut berhubungan NOC : NIC :
dengan agen cedera Setelah dilakukan Manajemen nyeri :
biologis Defenisi : tindakan keperawatan, 1) Lakukan pengkajian
pengalaman sensori dan diharapkan partisipan nyeri secara komprehensif
emosional yang tidak mampu menangani yang meliputi lokasi,
menyenangkan yang masalah nyeri dengan karakteristik, durasi,
muncul akibat kerusakan indikator : kontrol nyeri frekwensi, kualitas,
jaringan yang aktual atau 1) mengenali kapan nyeri intensitas dan faktor
potensial atau digambarkan terjadi pencetus
dalam hal kerusakan 2) menggunakan tindakan 2) Observasi adanya
sedemikian rupa pencegahan petubjuk non verbal
(International Association 3) mengenali gejala yang mengenai ketidaknyamanan
for the Study of Pain ); terkait dengan nyeri 3) Gunakan strategi
awitan yang tiba-tiba atau 4) melaporan nyeri komunikasi terapeutik
lambat dari intensitas terkontrol untuk mengetahui
ringan hingga berat dengan kepuasan klien pengalaman nyeri
akhir yang dapat manajemen nyeri 4) Kaji pengetahuan pasien
diantisipasi atau diprediksi 1) nyeri terkontrol megenai nyeri
dan berlangsung kurang 2) mengambil tindakan 5) Tentukan akibat dari
dari 6 bulan Batasan untuk mengurangi pengalaman nyeri terhadap
Karakteristik: nyeri kualitas hidup seperti tidur,
a) Bukti nyeri dengan 3) mengambil tindakan nafsu makan, perasaan, dll
menggunakan standar untuk memberikan 6) Gali bersama faktor

34
daftar periksa nyeri untuk kenyamanan yang dapat menurunkan
pasien yang tidak dapat 4) informasi disediakan atau memperberat nyeri
mengungkapkannya untuk mengurangi 7) Berikan informasi
b) Ekspresi wajah nyeri nyeri mengenai nyeri
(mis: mata kurang tanda-tanda vital 8) Ajarkan prisip-prinsip
bercahaya, tampak kacau, 1) tingkat manajemen nyeri
gerakan mata berpencar pernapasannormal 9) Ajarkan teknik
atau tetap pada satu fokus, 2) tekanan darah nonfarmakologi seperti
meringis) sistoliknormal teknik relaksasi, terapi
c) Hambatan kemampuan 3) tekanan darah musik
meneruskan aktivitas diastoliknormal
sebelumnya 4) tekanan nadi normal
d) Laporan tentang
perilaku/ nyeri perubahan
aktivitas (mis: anggota
keluarga, pemberian
asuhan)
e) Perubahan pola
tidur
f) Keluhan tentang
intesitas dan
karakteristik nyeri
menggunakan
standar skala nyeri
(mis: skala Wong
Baker FACES dan
skala penilaian
numerik)
4. Resiko cedera dengan NOC :Setelah dilakukan NIC :
faktor resiko internal ( tindakan keperawatan, a.Manajemen lingkungan
disfungsi integrasi diharapkan resiko cedera 1) Ciptakan lingkungan
sensori) teratasi dengan indikator : yang
Defenisi : rentan Kejadian jatuh aman bagi pasien
mengalami cedera Kriteria hasil : 2) Lindungi pasien dengan
fisik akibat kondisi 1) Tidak ada jatuh pegangan pada sisi/
lingkungan yang saat sendiri bantalan pada sisi
berinteraksi dengan 2) Tidak ada Jatuh ruangan yang sesuai
sumber-sumber saat berjalan 3) Letakkan benda yang
adaptif dan sumber 3) Tidak ada Jatuh sering digunakan dalam
defenisi individu, saat kekamar jangkauan pasien
yang dapat mandi 4) Anjurkan keluarga atau
mengganggu kesehatan. orang terdekat tinggal
dengan pasien
b. Perawatan

35
kehamilan resiko
tinggi
1) Kaji kondisi medis
aktual yang
berhubungan dengan
kondisi kehamilan
(misalnya diabetes,
hipertensi, dll)
2) Kaji riwayat kehamilan
dan kelahiran yang
berhubungan dengan
faktor resiko
kehamilan (misalnya
premature preeklampsia,
dll)
3) Kenali faktor resiko
sosio demografi yang
berhubungan dengan
kondisi
kehamilan(misalnya
usia kehamilan,
kemiskinan, ketiadaan
pemeriksaan kehamilan,
dll)
4) Kaji pengetahuan klien
dalam mengidentifikasi
faktor resiko
5. Intoleran aktifitas NOC: NIC:
berhubungan dengan Setelah dilakukan a. terapi aktifitas
ketidakseimbangan tindakan keperawatan, Aktivitas keperawatan :
antara suplai dan diharapkan partisipan 1) Bantu klien
kebutuhan oksigen menunjukkan toleransi menngidentifikasi
Defenisi: dalam beraktivitas dengan aktivitas yang mampu
ketidakcukupan energi indikator : dilakukan
psikologis atau a. toleransi terhadap 2) Bantu klien untuk
fisiologis untuk aktifitas memilih aktivitas yang
mempertahankan atau Kriteria hasil : sesuai dengan
menyelesaikan 1) Saturasi oksigen kemampuan fisik,
aktivitas keidupan dengan psikologi, dan sosial
sehari hari yang harus beraktivitasnormal 3) Bantu untuk
atau yang ingin 2) frekuensi nadi ketika mengidentifikasi dan
dilakukan beraktivitasnormal mendapatkan sumber
Batasan 3) frekuensi pernapasan yang diperlukan untuk
Karakteristik: bila beraktivitasnormal aktivitas yang

36
a) Dispnea setelah 4) Warna kulitnormal diinginkan
beraktifitas 5) Tekanan darah ketika 4) Bantu untuk
b) Keletihan beraktifitasnormal mengidentifikasi
c) Ketidaknyamana b. tingkat kelelahan aktivitas yang disukai
n setelah Kriteia hasil: 5) Bantu pasien atau
beraktifitas 1) kelelahan sedang keluarga untuk
d) Respon frekwensi 2) Gangguan mengidentifikasi
jantung abnormal terhadap konsentrasimenurun kekurangan dalam
aktivitas tidak ada beraktivitas
e) Respon tekanan 3) Tingkat stres sedang 4) 6) Bantu pasien untuk
darah abnormal Sakit kepala tidak ada mengembangkan
terhadap aktivitas 5) Kualitas tidur sedang motivasi diri dan penguatan
6) Kegiatan sehari-hari 7) Monitor respon fisik,
normal emosi, sosial, dan
7) Kualitas istirahat spiritual.
normal
c. tanda – tanda vital
Kriteria hasil:
1) Tingkat
pernapasannormal
2) Irama
pernapasannormal
3) Tekanan nadinormal
4) Kedalaman
inspirasinormal
6. Ansietas berhubungan NOC : Setelah dilakukan NIC :
dengan ancaman pada tindakan keperawatan, a.Pengurangan kecemasan
status terkini diharapkan partisipan 1) gunakan pendekatan
Definisi :Perasaan menunjukkan tidak ada yang menenangkan
tidak nyaman atau rasa ansietas dengan 2) nyatakan dengan jelas
kekhawatiran yang indikator : harapan terhadap
samar disertai respon Tingkat kecemasan prilaku pasien
autonom (sumber Kriteria hasil : 3) berikan informsi faktual
sering kai tidak 1) Perasaan gelisah terkait diagnosis,
spesifik) perasaan sedang perawatan dan
takut yang disebabkan 2) Tidak ada rasa cemas prognosis
oleh antisipasi yang disampaikan 4) berikan aktivitas yang
terhadap bahaya. 3) Tidak ada peningkatan lain untuk mengurangi
Perasaan ini tekanan darah tekanan
merupakan isyarat 4) Tidak ada peningkatan terapi relaksasi:
kewaspadaan yang frekuensi nadi Tidak 1) gambarkan rasionalisasi
memperingatkan ada gangguan pada dan manfaat relaksasi
bahaya yang akan pola tidur serta jenis relaksasi
terjadi dan Kontrol kecemasan diri yang tersedia (misalnya

37
memampukan Kriteria hasil : musik, meditasi dan
individu melakukan 1) Dapat mengurangi bernafas dalam)
tindakan untuk penyebab kecemasan 2) berikan deskripsi terkait
menghadapi ancaman 2) Dapat mencari intervensi yang dipilih
Batasan informasi untuk 3) ciptakan lingkungan
Karakteristik mengurangi kecemasan yang nyaman
Perilaku a) Penurunan 3) Dapat menggunakan 4) dorong klien untuk
produktivitas strategi koping yang mengambil posisi yang
b) Mengekspresikan efektif nyaman
kekhawatiran 4) Menggunakan teknik 5) dapatkan prilaku yang
akibat perubahan relaksasi mengurangi menunjukkan terjadinya
dalam peristiwa kecemasan relaksasi
hidup 5) Mengendalikan respon 6) dorong pengulangan
c) Gerakan yang kecemasan teknik praktek tertentu
tidak relevan Penerimaan status secara berkala
d) Gelisah kesehatan: 7) evaluasi dan
e) Memandang Kriteria hasil : dokumentasi respon
sekilas 1) Menyesuaikan terhadap teknik
f) Insomnia perubahan dalam relaksasi
g) Kontak mata buruk status kesehatan perawatan kehamilan
h) Resah 2) Mencari informasi resiko tinggi:
i) Menyelidik dan tentang kesehatan 1) Kaji kondisi medis
tidak waspada 3) Membuat aktual yang
Afektif keputusan tentang berhubungan dengan
a) Gelisah kesehatan kondisi kehamilan
b) Kesedihan yang (misalnya diabetes,
mendalam hipertensi, dll)
c) Distress 2) Kaji riwayat kehamilan
d) Ketakutan dan kelahiran yang
e) Perasaan tidak berhubungan dengan
adekuat faktor resiko
f) Fokus pada diri kehamilan(misalny
sendiri premature preeklampsia,
g) Peningkatan dll)
kekhawatiran 3) Kenali faktor resiko
h) Gugup sosio demografi yang
i) Nyeri dan berhubungan dengan
peningkatan kondisi
ketidakberdayaan kehamilan(misalnya
yang persisten usia kehamilan,
j) Perasaan takut kemiskinan, ketiadaan
Fisiologis pemeriksaan kehamilan,
a) Wajah tegang dll)
b) Peningkatan 4) Kaji pengetahuan klien

38
keringat dalam mengidentifikasi
c) Peningkatan faktor resiko
ketegangan 5) Berikan pendidikan
kesehatan yang
membahas faktor resiko,
pemeriksaan dan
tindakan yang biasa
dilakukan 6) Ajarkan klien
mengenai
penggunaan obat-obat
yang diresepkan
7) Monitor status fisik dan
psikologis selama
kehamilan.

39
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Hipertensi dalam kehamilan adalah hipertensi yang terjadi saat kehamilan


berlangsung dan biasanya pada bulan terakhir kehamilan atau lebih setelah 20
minggu usia kehamilan pada wanita yang sebelumnya normotensif, tekanan darah
mencapai nilai 140/90 mmHg, atau kenaikan tekanan sistolik 30 mmHg dan
tekanan diastolik 15 mmHg di atas nilai normal (Junaidi, 2010)

Preeklampsi adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan atau edema


setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Gejala ini dapat
timbul sebelum umur kehamilan 20 minggu pada penyakit trofoblas. preeklamsia
dibagi menjadi preeklamsia ringan dan berat.

Eklamsia adalah kejang yang dialami wanita hamil dalam persalinan atau masa
nifas yang disertai gejala-gejala preeklamsia (hipertensi, edema dan proteinuria)
menurut saat terjadinya, eklamsia dapat dibedakan atas : Eklamsia antepartum,
eklamsia intrapartum dan eklamsia pascasalin.

3.2 Saran

Diharapkan makanalah ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa dalam


mengenali penyakit pada ibu hamil yaitu hipertensi pada kehamilan beserta seluk
beluknya.

40
DAFTAR PUSTAKA

Effendi, Jusuf, etc. 2015. Obstetri Patologi. Jakarta: EGC

Kemenkes RI. 2013. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan
Dasar dan Rujukan. Pedoman pertama hal 109

Manuaba, Ida Ayu Chandranita, etc. 2013. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan,
dan KB, untuk Pendidikan Bidan, Ed 2. Jakarta: ECG

Prawirohardjo, Sarwono.2013.Ilmu Kebidanan. Jakarta: PT Bina Pustaka

Rahardjo, Eddy., Maulidya. 2012. Syndrom HELLP, Eklamsia dan Perdarahan


Intrakranial. Vol 2(1).

Rahmawati, Imami N. 2004. Hipertensi Pada Kehamilan : Analisis Kasus. Jurnal


Keperawatan Indonesia, Volume 8(1).

Reeder dkk. 2011.Keperawatan Maternitas Kesehatan Wanita, Bayi, & Keluarga:


Volume 2 ( Edisi 18).Jakarta : EGC

Yogi, Etika Desi., etc. 2014. Hubungan Antara Usia dengan Preeklamsia pada ibu
hamil di poli KIA RSUD Kefanenanu kabupaten Timor Tengan Utara. Jurnal
Delima Harapan, Vol 3 (2).

Zakiah, Niswah., etc. 2012. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya


hipertensi pada ibu hamil dirumah sakit khusus daerah ibu dan anak Siti Fatimah
Makassar. Vol 1(2). ISSN : 2302-1721.

41