Anda di halaman 1dari 23

MODUL Millenium Development Goals (MDGs)

PENDAHULUAN

Millennium Development Goals (MDGs) bagi Indonesia adalah suatu komitmen untuk mencapai dan meningkatkan kesejahteraan rakyat serta memberi kontribusi kepada kesejahteraan masyarakat dunia. Dokumen penting yang sudah di buat oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) dalam bentuk Peta Jalan Percepatan Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium di Indonesia merupakan sebuah upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk mengarusutamakan MDGs ke dalam kegiatan pembangunan nasional jangka menengah dan jangka panjang. Masih banyaknya tujuan Millenium Development Goals (MDGs) yang belum tercapai, menjadi salahsatu pertimbangan dilanjutkannya program tersebut dimasa mendatang. Sustainable Development Goals (SDGs) diharapkan menjadi langkah berikut, setelah MDGs dianggap selesai tahun 2015.

Keikutsertaan Indonesia sangat strategis mengingat pentingnya agenda tersebut sebagai acuan pembangunan dunia pada masa mendatangMenurutnya, Presiden RI pernah mengemukakan tiga alternatif. Pertama saran agar tetap meneruskan MDGs, karena masih banyak program-program yang belum tercapai. Kedua, masih program yang lama, tetapi ada sesuatu yang perlu dimasukkan, semacam alternatif, dan ketiga adalah program baru. Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Gusti M Hatta menyikapi hal tersebut menyatakan pemerintah Indonesia telah mempersiapan hal tersebut dengan membentuk suatu Komite Nasional yang diketuai Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4)

TUJUAN
Tujuan Pembangunan Milenium berisikan tujuan kuantitatif yang musti dicapai dalam jangka waktu tertentu, terutama persoalan penanggulangan kemiskinan pada tahun 2015. Tujuan ini dirumuskan dari Deklarasi Milennium, dan Indonesia merupakan salah satu dari 189 negara penandatangan pada September 2000. Delapan Tujuan Pembangunan Milenium juga menjelaskan mengenai tujuan pembangunan manusia, yang secara langsung juga dapat memberikan dampak bagi penanggulangan kemiskinan ekstrim. Masing-masing tujuan MDGs terdiri dari target-target yang memiliki batas pencapaian minimum yang harus dicapai Indonesia pada 2015. Untuk mencapai tujuan MDG tahun 2015 diperlukan koordinasi, kerjasama serta komitmen dari seluruh pemangku kepentingan, utamanya pemerintah (nasional dan lokal), masyarakat sipil, akademia, media, sektor swasta dan komunitas donor. Bersama-sama, kelompok ini akan memastikan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai tersebar merata di seluruh Indonesia.Pemerintah Indonesia tetap memegang komitmenya untuk melaporkan kemajuan pencapaian MDGs.

Sasaran Pembangunan Milenium


Sasaran Pembangunan Milenium (bahasa Inggris : Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah Deklarasi Milenium hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189 negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun 2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan masyarakat pada 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di New York pada bulan September 2000 tersebut. Pemerintah Indonesia turut menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York tersebut dan menandatangani Deklarasi Milenium itu. Deklarasi berisi komitmen negara masing-masing dan

komunitas internasional untuk mencapai 8 buah sasaran pembangunan dalam Milenium ini (MDG), sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan kemiskinan. Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga 2/3 , dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki akses air bersih pada tahun 2015 Deklarasi Millennium PBB yang ditandatangani pada September 2000 menyetujui agar semua negara: 1. Memberantas kemiskinan dan kelaparan Pendapatan populasi dunia sehari $1. Menurunkan angka kemiskinan

2. Mencapai pendidikan untuk semua Setiap penduduk dunia mendapatkan pendidikan dasar 9 tahun

3. Mendorong kesetaraan jender dan pemberdayaan perempuan Target 2005 dan 2015: Mengurangi perbedaan dan diskriminasi gender dalam pendidikan dasar dan menengah terutama untuk tahun 2005 dan untuk semua tingkatan pada tahun 2015.

4. Menurunkan angka kematian anak Target untuk 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian anak-anak usia di bawah 5 tahun.

5. Meningkatkan Kesehatan Ibu Target untuk 2015 adalah Mengurangi dua per tiga rasio kematian ibu dalam proses melahirkan.

6. Memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya Target untuk 2015 adalah menghentikan dan memulai pencegahan penyebaran HIV/AIDS, malaria dan penyakit berat lainnya

7. Memastikan kelestarian lingkungan hidup Mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan dalam kebijakan setiap negara dan program serta mengurangi hilangnya sumber daya lingkungan.

Pada tahun 2015 mendatang diharapkan mengurangi setengah dari jumlah orang yang tidak memiliki akses air minum yang sehat. Pada tahun 2020 mendatang diharapkan dapat mencapai pengembangan yang signifikan dalam kehidupan untuk sedikitnya 100 juta orang yang tinggal di daerah kumuh

8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan Mengembangkan lebih jauh lagi perdagangan terbuka dan sistem keuangan yang berdasarkan aturan, dapat diterka dan tidak ada diskriminasi. Termasuk komitmen terhadap pemerintahan yang baik, pembangungan dan pengurangan tingkat kemiskinan secara nasional dan internasional. Membantu kebutuhan-kebutuhan khusus negara-negara kurang berkembang, dan kebutuhan khusus dari negara-negara terpencil dan kepulauan-kepulauan kecil. Ini termasuk pembebasan-tarif dan -kuota untuk ekspor mereka; meningkatkan pembebasan hutang untuk negara miskin yang berhutang besar; pembatalan hutang bilateral resmi; dan menambah bantuan pembangunan resmi untuk negara yang berkomitmen untuk mengurangi kemiskinan. Secara komprehensif mengusahakan persetujuan mengenai masalah utang negara-negara berkembang. Menghadapi secara komprehensif dengan negara berkembang dengan masalah hutang melalui pertimbangan nasional dan internasional untuk membuat hutang lebih dapat ditanggung dalam jangka panjang. Mengembangkan usaha produktif yang layak dijalankan untuk kaum muda. Dalam kerja sama dengan pihak "pharmaceutical", menyediakan akses obat penting yang terjangkau dalam negara berkembang

Dalam kerjasama dengan pihak swasta, membangun adanya penyerapan keuntungan dari teknologi-teknologi baru, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

Sasaran Pembangunan Milenium Indonesia Setiap negara yang berkomitmen dan menandatangani perjanjian diharapkan membuat laporan MDGs. Pemerintah Indonesia melaksanakannya dibawah koordinasi Bappenas dibantu dengan Kelompok Kerja PBB dan telah menyelesaikan laporan MDG pertamanya yang ditulis dalam bahasa Indonesia dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris untuk menunjukkan rasa kepemilikan pemerintah Indonesia atas laporan tersebut. Laporan Sasaran Pembangunan Milenium ini menjabarkan upaya awal pemerintah untuk menginventarisasi situasi pembangunan manusia yang terkait dengan pencapaian sasaran MDGs, mengukur, dan menganalisa kemajuan seiring dengan upaya menjadikan pencapaian-pencapaian ini menjadi kenyataan, sekaligus mengidenifikasi dan meninjau kembali kebijakan-kebijakan dan program-program pemerintah yang dibutuhkan untuk memenuhi sasaran-sasaran ini. Dengan tujuan utama mengurangi jumlah orang dengan pendapatan dibawah upah minimum regional antara tahun 1990 dan 2015, Laporan ini menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam jalur untuk mencapai tujuan tersebut. Namun, pencapaiannya lintas provinsi tidak seimbang. Kini MDGs telah menjadi referensi penting pembangunan di Indonesia, mulai dari tahap perencanaan seperti yang tercantum pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) hingga pelaksanaannya. Walaupun mengalamai kendala, namun pemerintah memiliki komitmen untuk mencapai sasaran-sasaran ini dan dibutuhkan kerja keras serta kerjasama dengan seluruh pihak, termasuk masyarakat madani, pihak swasta, dan lembaga donor. Pencapaian MDGs di Indonesia akan dijadikan dasar untuk perjanjian kerjasama dan implementasinya di masa depan. Hal ini

termasuk kampanye untuk perjanjian tukar guling hutang untuk negara berkembang sejalan dengan Deklarasi Jakarta mengenai MDGs di daerah Asia dan Pasifik.

Kontroversi
Upaya Pemerintah Indonesia merealisasikan Sasaran Pembangunan Milenium pada tahun 2015 akan sulit karena pada saat yang sama pemerintah juga harus menanggung beban pembayaran utang yang sangat besar. Program-program MDGs seperti pendidikan, kemiskinan, kelaparan, kesehatan, lingkungan hidup, kesetaraan gender, dan pemberdayaan perempuan membutuhkan biaya yang cukup besar. Merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan, per 31 Agustus 2008, beban pembayaran utang Indonesia terbesar akan terjadi pada tahun 2009-2015 dengan jumlah berkisar dari Rp97,7 triliun (2009) hingga Rp81,54 triliun (2015) rentang waktu yang sama untuk pencapaian MDGs. Jumlah pembayaran utang Indonesia, baru menurun drastis (2016) menjadi Rp66,70 triliun. tanpa upaya negosiasi pengurangan jumlah pembayaran utang Luar Negeri, Indonesia akan gagal mencapai tujuan MDGs. Menurut Direktur Eksekutif International NGO Forum on Indonesian Development (INFID) Don K Marut Pemerintah Indonesia perlu menggalang solidaritas negara-negara Selatan untuk mendesak negara-negara Utara meningkatkan bantuan pembangunan bukan utang, tanpa syarat dan berkualitas minimal 0,7 persen dan menolak ODA (official development assistance) yang tidak bermanfaat untuk Indonesia . Menanggapi pendapat tentang kemungkinan Indonesia gagal mencapai tujuan MDGs apabila beban mengatasi kemiskinan dan mencapai tujuan pencapaian MDG di tahun 2015 serta beban pembayaran utang diambil dari APBN di tahun 2009-2015, Sekretaris Utama Menneg PPN/Kepala Bappenas Syahrial Loetan berpendapat apabila bisa dibuktikan MDGs tidak tercapai di 2015, sebagian utang bisa dikonversi untuk bantu itu. Pada tahun 2010 hingga 2012 pemerintah dapat mengajukan renegosiasi utang. Beberapa negara maju telah berjanji dalam konsesus pembiayaan (monetary consensus) untuk memberikan bantuan. Hasil kesepakatan yang didapat adalah untuk negara maju menyisihkan sekitar 0,7 persen dari GDP mereka untuk membantu negara miskin atau negara yang pencapaiannya masih di bawah. Namun konsensus ini belum dipenuhi banyak negara, hanya sekitar 5-6 negara yang memenuhi sebagian besar ada di Skandinavia atau Belanda yang sudah sampai 0,7 persen.

yang menderita kelaparan hingga setengahnya. Pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mencapai Target pertama MDGs. Pada tahun 1990, 15,1% penduduk Indonesia berada dalam kemiskinan ekstrim. Jumlahnya saat itu mencapai 27 juta orang. Saat ini proporsinya sekitar 7,5% atau hampir 17 juta orang. Pada tingkat nasional, dengan usaha yang lebih keras, Indonesia akan dapat mengurangi kemiskinan dan kelaparan hingga setengahnya pada 2015. Meskipun begitu, masih terdapat perbedaan yang cukup besar antara daerah kaya dan miskin. Banyak daerah miskin di perdesaan, terutama di wilayah timur Indonesia yang memerlukan kerja lebih keras untuk mencapai target mengurangi kemiskinan dan kelaparan. Tindak Lanjut Pencapaian tujuan MDG yang pertama tahun 2015 hanya akan dapat dilakukan dengan keikutsertaan dan kerjasama seluruh pemangku kepentingan di setiap kabupaten dan kota. Masyarakat miskin di Indonesia memerkukan akses yang lebih baik untuk mendapatkan makanan, air bersih, pelayanan kesehatan dasar dan pendidikan. Masyarakat miskin juga membutuhkan jalan dan infrastruktur lain untuk mendukung aktivitas ekonomi, dan membuka akses pasar untuk menjual produksi mereka. Tingkat pendapatan masyarakat miskin di Indonesia akan meningkat dengan peningkatan kesempatan kerja dan pengembangan usaha. Perubahan mendasar perlu dilakukan pada tingkat pembuatan kebijakan. Kebijakan yang pro-kemiskinan harus mulai dikembangkan. Dalam era desentralisasi, tanggungjawab pembuatan kebijakan dan penganggaran dibuat di tingkat lokal oleh pemerintahan daerah. Masyarakat sipil dan kalangan swasta, media dan akademisi dapat pula membantu pemerintah dengan menyampaikan kebutuhan kaum miskin melalui advokasi dan keterlibatan langsung dengan pembuat kebijakan. Keluarga dan kelompok masyarakat di seluruh Indonesia juga harus diberdayakan untuk lebih berperan aktif dalam menentukan dan meraih yang mereka perlukan. Pembangunan berkelanjutan harus dimulai dari akar rumput, dan kemudain bergerak ke tingkat yang lebih tinggi. Untuk membantu kaum miskin agar lebih sejahtera, mereka harus diberi sumberdaya yang cukup untuk membantu mereka tumbuh dan mebjadi sejahtera.

MDGs dalam Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) MDGs 4


Dengan dukungan pihak-pihak terkait serta pemerintah, target pencapaian ditentukan untuk merangsang negara-negara menentukan intervensi yang dibutuhkan dalam rangka pencapaian MDGSs 4 dan 5, bersama dengan MDGs 1, 6 dan 7. Melalui target pencapaian ini, para penentu kebijakan di tingkat nasional dan internasional, serta pihak-pihak yang terkait termasuk para peneliti, bekerja sama untuk: Menyimpulkan, mengolah dan menyebarkan informasi terkini mengenai tingkat kemajuan yang dicapai melalui intervensi kesehatan dalam rangka mencapai tingkat KIA yang optimal. Berperan serta secara aktif dalam program-program KIA.

Indonesia salah satu negara asia yang gagal dalam menekan Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi
Dilihat dari pencapaian baseline MDGs tahun 1990 Indonesia terbaik dalam menurunkan angka kematian Ibu, penuntasan program ini pencapaiannya hingga tahun 2015 akan dipastikan gagal. Hal ini dikatakan Ah Maftuchan seorang peneliti muda dari lembaga Prakarsa Jakarta. Laju penurunan kematian ibu di Indonesia terburuk sejak tahun 2002 dilihat dari perbandungan untuk negara-negara miskin di Asia. Ujar Ah Maftuchan. Angka kematian ibu (AKI) melonjak, Indonesia mundur 15 tahun kebelakang, kata Ah Maftuchan pada workshop refleksi upaya penurunan angka kematian ibu dan penurunan angka kematian bayi dalam pencapaian program Mdgs di indonesia, yang dilaksanakan di salah satu hotel di padang ( 8-9/12). Peneliti muda Ah Maftuchan melihat bahwa data terakhir dari SDKI 2012, terjadi peningkatan AKI sebesar 359 per 100.000 kelahiran hidup. Dibandingkan dengan kamboja yang sudah mencapai 208 per 100.000 kelahiran hidup. Dan malah kita kalah dari negara Myanmar, Nepal, dan Timor Leste. Ungkapnya. Target MdGs 2015 untuk AKI, target indoenesia dalam menurunkan angka kematian ibu 102 per 100.000 kelahiran hidup. Dengan posisi kita sekarang ujar Ah Maftuchan, pada angka 359 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2012 lalu. Maka indonesia terletak pada posisi yang sulit dalam mencapai target penurunan AKI sebesar 102 per 100.000 kelahiran hidup tahun 2015 nantinya, tukuknya lagi. survey ini dilakukan berdasar usia subur wanita dari usia 15 hingga 40 tahun baik yang sudah menikah ataupun yang belum menikah, Untuk tahun 2014, angka AKI baru mencapai 161 kematian per 100.000 kelahiran hidup, masih jauh dari target nasional. Dipastikan program penurunan AKI dan AKB gagal di indonesia. Strategi yang dilakukan bahwa pemerintah kota kabupaten harus menyediakan anggarannya 10 persen dari dana

APBD mereka untuk program kesehatan terutama dalam menurunkan angka kematian Ibu (AKI). Pemerintah pusat sendiri seharusnya menyediakan anggaran dana 5 persen dari dana APBN secara keseluruhan untuk dana kesehatan di indonesia akan tetapi hanya 2 persen hingga 3 persen yang dilakukan pemerintah dalam penggunaan dana APBN untuk dana kesehatan di seluruh indonesia. Provinsi Sumbar tergolong berhasil, untuk pencapaian penurunan angka kematian ibu dan angka kematian bayi diatas rata-rata nasional. Maka langkah strategis akan dilakukan untuk menekan angka kematian ibu, ini disebabkan setelah otonomi daerah (otoda) dimana pemerintah kota dan kabupaten tidak serius dalam menangani dan menjalankan program KB. Penyebab demikian terjadilan kegagalan program KB kesehatan di Indonesia, dengan kurangnya tenaga Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) sebagai ujung tombak keberhasilan program KIA. Sehingga anggaran APBD masing- masing daerah sebagai penyebabnya kurang berhasilnya program KB di Indonesia Bekerjasama dengan pemerintah setempat, instansi terkait dan seluruh masyarakat dalam rangka pencapaian target yang diharapkan. Mengidentifikasi masalah-masalah yang menghambat kemajuan program. Merencanakan program baru untuk mencapai target yang telah dicanangkan dalam MDGs 4 dan 5. Menurut Riskesdas 2007, 77% kematian Balita terjadi pada 1 tahun pertama kehidupan, 55% kematian Bayi terjadi pada 1 bulan pertama, dan 80% kematian Neonatus terjadi pada 7 hari pertama kehidupan. Asfiksia neonatorum, berat badan lahir rendah/kurang bulan dan sepsis merupakan penyebab utama kematian Neonatus. Diare, pneumonia, infeksi susunan saraf pusat merupakan penyebab utama kematian anak diatas 1 bulan sampai 5 tahun. Perdarahan, eklamsia, sepsis dan abortus merupakan penyebab kematian ibu maternal. Malnutrisi dan malaria memberikan konstribusi terhadap kematian ibu dan balita. Sebagian besar penyebab kematian ibu dan balita dapat dicegah.

1. MDGs 4 di Indonesia AKB dan AKBa di Indonesia telah mengalami penurunan yang bermakna sejak tahun 1990 sampai dengan 2003. AKBa turun dari 91 pada tahun 1990 menjadi 44 per 1000 KH pada 2003; sedangkan AKB turun dari 68 menjadi 34 per 1000 KH pada 2003. Akan tetapi, sejak tahun 2003 pencapaian ini cenderung menetap. Oleh karena itu diperlukan upaya-upaya tambahan untuk mencapai target MDGs pada tahun 2015. 2. MDGs 5 di Indonesia Indikator dan target MDGs 5 tahun 2015 di Indonesia adalah sebagai berikut: Menurunkan Angka Kematian Ibu menjadi 97 per 100.000 KH Meningkatkan proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih dari 74,87% Meningkatkan pemakaian kontrasepsi cara modern Menurunkan tingkat kelahiran pada remaja usia 15-19 tahun Memperbaiki antenatal care Data dari SDKI menunjukkan adanya penurunan AKI di Indonesia dari tahun ke tahun. Akan tetapi, pencapaian ini masih cukup jauh dari target MDGs 5 tahun 2015 sebesar 102 per 100.000 KH. Dengan pencapaian sebesar 228 pada tahun 2007, upaya yang lebih keras dan terpadu diperlukan untuk dapat mencapai target tersebut. Berbagai upaya telah dilakukan dalam rangka penurunan AKI, salah satunya adalah dengan meningkatkan jumlah persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih. Proporsi pertolongan persalinan oleh tenaga terlatih di Indonesia dari tahun ke tahun telah meningkat, tetapi masih belum mencapai target yang ditentukan yaitu 90%. Penempatan bidan desa di seluruh provinsi di Indonesia merupakan salah satu upaya yang telah dilakukan pemerintah. Upaya lain yang telah dilakukan untuk menurunkan AKI adalah program Making Pregnancy Safer (MPS), yang merupakan strategi sektor kesehatan untuk mengatasi kematian dan kesakitan ibu dan bayi.

Program lain yang telah dilakukan adalah : Gerakan Sayang Ibu, penyediaan bidan di desa, PONED (Pelayanan Obstetri dan Neonatus Emergensi Dasar) dan PONEK (Pelayanan Obstetri dan Neonatus Emergensi Komprehensif) serta kerja sama antara tenaga kesehatan dan dukun. Namun demikian, upaya-upaya yang telah dilakukan tersebut belum mampu menurunkan AKI, AKB dan AKBa seperti yang diharapkan. Untuk itu diperlukan upaya percepatan yang lebih bermakna dan kerja keras dari semua pihak. Upaya ini menghadapi tantangan yang cukup berat, seperti transisi demografi, desentralisasi kesehatan, pelayanan publik, dan pendanaan. Oleh karena itu upaya penurunan AKI dan AKB terkait target MDGs di tahun 2015 ini tidak bisa hanya dikawal oleh pemerintah semata. Partisipasi multiprofesional, dunia usaha dan masyarakat luas juga menjadi penentu keberhasilan pencapaian tersebut