Anda di halaman 1dari 4

HUBUNGAN OBAT SYARAF DENGAN NUTRISI

Pada prinsipnya interaksi obat dengan makanan dapat menyebabkan dua hal penting :

a. Interaksi dimana makanan atau minuman dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan
khasiat atau manfaat obat, baik melalui penghambatan penyerapannya atau dengan
mempengaruhi metabolisme atau distribusi obat tersebut didalam tubuh.

b. Interaksi obat dapat menyebabkan gangguan atau masalah kesehatan yang serius, karena
meningkatnya efek samping dari obat-obat tertentu akibat dari terjadinya peningkatan kadar
obat dalam darah.

Dibawah ini contoh interaksi obat berdasarkan penggunaan obat dengan nutrisi :

1. Asam valproat dan karbamazepin

Penggunaan kedua obat ini pada wanita hamil menyebabkan terjadinya gangguan
pertumbuhan psikomotorik dan keterbelakangan mental pada bayi yang akan dilahirkan.
Namun dapat dicegah dengan penggunaan folat yang cukup yaitu sekitar 0,5-5 mg/hari.
Selain itu, vitamin K 10 mg/hari secara oral diberikan kepada ibu selama bulan terakhir
sebelum melahirkan dapat mencegah gangguan perdarahan.

2. Benzodiazepine

Benzodiazepine tidak boleh dikonsumsi dengan alkohol. Selain itu, jika dikonsumsi
bersama kafein dapat meningkatkan kecemasan dan mengurangi efektifitas obat dan
juga sebagai penghilang rasa sakit. Karena kafein dapat menghambat absorpsi dari
benzodiazepine sehingga menurunkan efektifitas dari benzodiazepine.

3. Karbamazepine

Karbamazepine jika digunakan bersamaan dengan makanan dapat meningkatkan


ketersediaan hayati (bioavailabilitas) dari obat tersebut. Disarankan diminum bersamaan
dengan makanan untuk menghindari mual dan muntah.

4. Asam valproat dan natrium valproat

Bentuk sediaan tablet kedua obat ini tidak boleh diminum bersamaan dengan susu, dan
telanlah obat tanpa mengunyah, memecahkan atau menggerusnya. Ha ini bertujuan
untuk mencegah agar tidak merusak salut khusus untuk perlindungan terhadap iritasi
lambung. Bentuk sediaan sirup, boleh dicampur dengan minuman apapun atau
ditambahkan kedalam makanan untuk menutupi rasa yang tidak enak. Asam valproat
boleh diminum bersama dengan makanan atau cemilan untuk mengurangi gangguan
pada saluran cerna.

5. Morfin

Penggunaan morfin dengan alkohol akan menguatkan depresi nafas dan potensial
berbahaya dan kemungkinan bersifat mematikan.
6. Antidepresan

a. MAO Inhibitor

Penggunaan MAO Inhibitor bersamaan dengan tyramin tinggi seperti daging yang
diproses, bir dan anggur dapat menyebabkan krisis hipertensi.

Normalnya, tiramin yang ada pada makanan akan dinaktivasi oleh MAO di dinding
usus dan di hati. Tiramin yang tidak dimetabolsir akan masuk ke dalam sirkulasi
darah, sebagian dimetabolisir oleh MAO di sel endotelial vaskular. Jka asupan
tiramin tinggi, tiramin di uptake oleh saraf adrenergik dan memicu pelepasan
noradrenalin yang menyebabkan efek vaskular hipertensi. MAOI irreversibel
meningkatkan kadar tiramin yang masuk dalam sirkulas sehingga memicu pelepasan
NA d saraf. MAOI reversibel dapat berkompetisi dengan tiramin untuk berikatan
dengan enzim sehingga tiramin dimetabolisir dengan normal oleh enzim. Mekanisme
kerja tiiramin adalah melepaskan norepneprin dari jaringan (ujung saraf). Tiramin
menaikkan tekanan darah dengan mempengaruhi denyut jantung, menambah
volume darah dalam sistem vaskular dan mengecilkan pembuluh darah perifer.

Makanan yang mengandung tiramin jika dikombinasi dengan obat MAO inhibitor
dapat mengakibatkan sakit kepala yang hebat, palpitasi, mual, muntah dan
peningkatan tekanan darah. Berpotensi mengakibatkan stroke mematikan dan
serangan jantung.

Makanan yang tinggi tiramin keju, hat ayam, cola, makanan kaleng, bir, buncis,
pisang, kafein, ekstrak ragi, daging, coklat, ikan kecil, ikan asin atau yang diawetkan,
alpukat, jamur kismis, sosis, sour cream, saus kedelai, wine chianti, minuman
anggur.

Obat MAO inhibitor : isocarboxazid (Marplan), tranylcypromine sulfate (Parnate),


phenelzine sulfate (Nardil).

b. Golongan tetrasiklik

Makanan terutama daging, ikan, dan makanan kaya vitamin C jika digunakan
bersamaan dengan golongan TCA dapat menyebabkan penurunan absorpsi obat.

7. Levodopa

Penggunaan levodopa tunggal dengan vitamin B6 diketahui dapat menurunkan efek


levodopa. Karena vitamin B6 menghambat absorpsi dari levodopa. Sebaiknya levodopa
dikombinasi dengan karbidopa jika akan digunakan bersamaan dengan vitamin B6.
Sebaiknya tidak meminum levodopa bersamaan atau setelah makan dengan makanan
yang berkadar protein tinggi karena akan menurunkan efek levodopa. Sehingga
dianjurkan untuk makan sekitar 15 menit setelah meminum levodopa.

8. Selegillin
Reaksi berbahaya seperti peningkatan tekanan darah secara tiba-tiba dapat terjadi jika
selegillin (terutama dosis tinggi) dikonsumsi bersama makanan berikut :

a. Tinggi tyramin (terutama makanan hasil fermentasi) seperti keju, ragi, ekstrak
daging, kacang panjang, unggas/ikan, sosis fermentasi, dan buah yang terlampau
masak.

b. Minuman beralkohol, bir dan anggur yang beralkohol rendah maupun yang bebas
alkohol.

c. Minuman yang banyak mengandung kafein seperti kopi, teh, cola atau coklat.

9. Bromokriptin

Jika dikonsumsi bersamaan dengan alkohol dapat menyebabkan gangguan penglihatan,


nyeri dada, kebingungan, dada berdebar, rasa memerah pada wajah, mual, muntah,
sakit kepala, dan rasa lemah.

10. Triheksifenidil

Sebaiknya diminum bersamaan atau setelah makan untuk mengurangi gangguan


saluran cerna, kecuali disarankan lain oleh dokter.

11. Fenitoin

Digunakan bersamaan dengan makanan untuk menghindari rasa mual. Jika awal
penggunaannya bersamaan dengan makanan maka untuk pengobatan selanjutnya
harus tetap diminum bersamaan dengan makanan.

12.

INTERAKSI OBAT DENGAN MINUMAN

Interaksi obat yang dimaksud di sini adalah interaksi obat dengan minuman berupa teh, susu,
kopi, dan alcohol, contoh :

Teh mengandung senyawa tannin yang dapat mengikat berbagai senyawa aktif obat sehingga
sukar diabsorbsi atau diserap dari saluran pencernaan. Demikian pula susu. Susu mempunyai
sifat dapat menghambat absorbsi zat-zat aktif tertentu terutama antibiotika. Jika obat kurang
diabsorbsi, berarti daya khasiat atau kemanjurannya juga akan berkurang, sehingga
penyembuhan mungkin tidak akan tercapai.

Tidak semua jenis obat tidak baik dikonsumsi bersama-sama dengan susu. Ada beberapa obat,
terutama yang bersifat mengiritasi lambung, justru dianjurkan untuk diminum bersama susu
atau pada waktu makan. Gunanya agar susu atau makanan tersebut dapat mengurangi efek
iritasi lambung dari obat yang dikonsumsi. Walaupun susu atau makanan dapat sedikit
mengurangi daya kerja obat tersebut, namun efek perlindungannya terhadap iritasi lambung
lebih bermanfaat dibandingkan dengan efek penurunan daya kerja obat yang sangat sedikit.
Obat-obat seperti ini, contohnya obat-obat antiinflamasi nonsteroid seperti asetosal dan
ibuprofen, yang biasa diberikan untk meredakan atau mengurangi rasa sakit, nyeri, atau
demam. Begitu juga obat-obat kortikosteroid yang biasanya digunakan untuk meredakan
inflamasi (misalnya bengkak atau gatal-gatal) seperti prednison, prednisolon, metilprednisolon
dll.

Kopi, sebagaimana kita ketahui mengandung kafein. Kafein bekerja merangsang susunan
syaraf pusat. Jadi agar efek stimulan terhadap susunan syaraf pusat tidak berlebihan, hindari
mengkonsumsi bahan-bahan yang mengandung kafein seperti kopi, teh, coklat, minuman kola
dan beberapa merek minuman berenergi (energy drink).

Alkohol juga akan meningkatkan resiko pendarahan lambung dan kerusakan hati jika
dikonsumsi bersama obat-obat penghilang rasa sakit seperti parasetamol atau asetaminofen.
Alkohol juga dilarang diminum bersama dengan obat-obat penurun tekanan darah tinggi
golongan beta-blocker seperti propanolol. Kombinasi alcohol- propanolol dapat menurunkan
tekanan darah secara drastis dan membahayakan.

Tape, walaupun sedikit, sudah kita ketahui mengandung alkohol, terutama tape ketan atau tape
beras. Oleh sebab itu sebaiknya kurangi atau hindari makan tape ketika kita mengkonsumsi
obat-obat yang dapat berinteraksi dengan alkohol seperti yang diuraikan di atas.

Pengaruh makanan atau minuman terhadap obat dapat sangat signifikan atau hampir tidak
berarti, bergantung pada jenis obat dan makanan/minuman yang kita konsumsi. Selain itu harus
juga dipahami bahwa sangat banyak faktor lain yang mempengaruhi interaksi ini, antara lain
dosis obat yang diberikan, cara pemberian, umur, jenis kelamin, dan tingkat kesehatan pasien.