Anda di halaman 1dari 9

Modul 1 integritas

X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1


PENDAHULUAN
Integritas merupakan atribut terpenting yang harus dimiliki seorang guru. Apapun posis- inya
di sekolah, apakah ia seorang guru kelas, guru mata pelajaran atau konselor, sikap dasar yang
harus dimiliki dan ditampilkan adalah integritas. Inilah sumber kebahagiaan seorang guru.

Pada bagian ini, mahasiswa akan diajak untuk menyelami hakikat guru yang selayak- nya
berintegritas. Seperti apa sosok guru berintegritas. Hal ini perlu digali, disadari dan diyakini
oleh masing-masing individu. Karena integritas sangat erat kaitannya dengan hakikat
manusia dan keyakinan yang dianutnya.

Melalui kegiatan pembelajaran mandiri ini, diharapkan setiap mahasiswa memiliki keyakinan
yang kuat bahwa profesi guru bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi menjadi teladan
bagi peserta didik dan masyarakat. Keyakinan pribadi menjadi kunci dan daya dorong
penerapan perilaku berintegritas secara konsisten.

Tahapan pembelajaran yang dilakukan mahasiswa pada bagian ini adalah:

1. Menemukan nilai pembentuk integritas pada setiap individu dan merumuskan potret
diri guru berintegritas serta posisi dirinya saat ini;
2. Melakukan refleksi yang menunjukkan keyakinan, posisi dan peran guru berintegri-
tas yang membawa perubahan;
3. Mendalami persoalan moralitas bangsa dan memosisikan dirinya sebagai bagian dari
solusi;
4. Memahami dan mendalami landasan dan prinsip penguatan integritas bagi dirinya
sendiri dan peserta didik, sebagai landasan dalam melakukan proses penguatan in-
tegritas di kelas dan sekolah.

X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1


PENDAHULUAN
Integritas merupakan atribut terpenting yang harus dimiliki seorang guru. Apapun posis- inya
di sekolah, apakah ia seorang guru kelas, guru mata pelajaran atau konselor, sikap dasar yang
harus dimiliki dan ditampilkan adalah integritas. Inilah sumber kebahagiaan seorang guru.

Pada bagian ini, mahasiswa akan diajak untuk menyelami hakikat guru yang selayak- nya
berintegritas. Seperti apa sosok guru berintegritas. Hal ini perlu digali, disadari dan diyakini
oleh masing-masing individu. Karena integritas sangat erat kaitannya dengan hakikat
manusia dan keyakinan yang dianutnya.
Melalui kegiatan pembelajaran mandiri ini, diharapkan setiap mahasiswa memiliki keyakinan
yang kuat bahwa profesi guru bukan hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi menjadi teladan
bagi peserta didik dan masyarakat. Keyakinan pribadi menjadi kunci dan daya dorong
penerapan perilaku berintegritas secara konsisten.

Tahapan pembelajaran yang dilakukan mahasiswa pada bagian ini adalah:

1. Menemukan nilai pembentuk integritas pada setiap individu dan merumuskan potret
diri guru berintegritas serta posisi dirinya saat ini;

2. Melakukan refleksi yang menunjukkan keyakinan, posisi dan peran guru berintegri-
tas yang membawa perubahan;

3. Mendalami persoalan moralitas bangsa dan memosisikan dirinya sebagai bagian dari
solusi;

4. Memahami dan mendalami landasan dan prinsip penguatan integritas bagi dirinya
sendiri dan peserta didik, sebagai landasan dalam melakukan proses penguatan in-
tegritas di kelas dan sekolah.

X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1


CAPAIAN PEMBELAJARAN
1. Mahasiswa menunjukkan komitmen diri sebagai bukti keyakinan pribadi menjadi
teladan dalam perilaku berintegritas;

2. Mahasiswa menunjukkan komitmen diri sebagai bukti keyakinan pribadi dalam


mengatasi berbagai persoalan moralitas bangsa dalam kehidupan;

3. Mahasiswa mampu menggunakan prinsip-prinsip dasar penguatan integritas dalam


setiap tahapan proses pembelajaran.

X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1


POKOK MATERI
1. Sosok guru berintegritas;

2. Penguatan integritas dalam pendidikan;

3. Tantangan guru dalam menghadapi persoalan bangsa;

4. Landasan dan prinsip dasar penguatan integritas.


X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1
URAIAN MATERI
Selamat! Anda telah memilih profesi guru. Jalan yang anda tempuh sampai pada posisi
sekarang sangatlah berbeda-beda. Ada yang menjadi guru karena panggilan jiwa, ada yang
memang cita-cita, tapi ada pula yang terjerumus secara tidak terduga.

Manapun jalan yang dilalui, itu semua kehendak Yang Maha Kuasa, anda dipanggil untuk
menjadi guru.

Hidup anda ke depan, akan dilalui sebagai guru. Apakah anda akan mengisi hidup dengan
penuh kebahagiaan? Atau biasa saja sebagaimana bekerja dan mendapat upah? Dua keadaan
ini bukan takdir, melainkan pilihan yang sepenuhnya, berada di tangan anda. Tidak
ditentukan orang lain. Berikut adalah jalan mudah untuk menjadi guru sejati, yakni menjadi
guru yang berintegritas.

Untuk mempermudah Anda dalam mempelajari materi, Anda dapat mengunduh materi yang
dibaca secara offline Materi KB I PDF yang telah disediakan di Folder Bahan
Pembelajaran KPK.

X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1


1. SOSOK GURU BERINTEGRITAS
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, mem- bimbing,
mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pen- didikan anak usia
dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Inilah definisi
guru dalam lembar-lembar peraturan. Pada modul ini, kita mengesampingkan dulu definisi
itu, marilah kita menukik jauh ke dalam diri untuk merenungi hakikat guru.

A. HAKIKAT GURU
Kata “guru” berasal dari bahasa Sansekerta. “GU” berarti gelap, dan “RU” berarti membawa
terang atau mengusir kegelapan. Berarti, secara maknawi, Guru adalah orang yang senantiasa
memerangi kegelapan dan membawa terang. Semakin gelap suasana di sekitarnya, semakin
bermakna kehadirannya. Jika seorang guru memilih bertahan dalam suasana yang sudah
terang, maka lama kelamaan eksistensinya menjadi hilang. Untuk itu, setelah selesai
menerangi yang gelap, carilah situasi yang lebih gelap, karena di sanalah kehadiran anda
ditunggu dan memberi makna.
B. PROFIL GURU BERINTEGRITAS
Jelaslah bahwa guru identik dengan sosok berintegritas. Lalu, apakah integritas itu? Beragam
definisi akademik dapat kita peroleh dari berbagai sumber. Se- bagai contoh anda juga dapat
menggalinya dari video berikut.

X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1


PERILAKU BERINTEGRITAS
Perilaku berintegritas terbentuk karena konsep diri berintegritas yang kuat dalam diri
seseorang yang kemudian dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip konsep diri
berintegritas terbentuk karena keyakinan yang ada di dalam nurani. Guru mutlak memiliki
konsep diri berintegritas sebagai landasan pro- fesinya.

Konsep diri guru berintegritas sebenarnya tertuang dalam empat kompetensi dasar yang harus
dimiliki guru sebagaimana ditampilkan dalam standar yang ditetapkan pemerintah, yakni
kompetensi pribadi, kompetensi sosial, kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional.
Masing-masing dirinci secara terurai sebagai perwujudan integritas.

Akan tetapi secara umum terdapat empat ciri yang paling mendasar yang harus dimiliki guru
yakni (1) berintegritas, (2) terpercaya, (3) memiliki pengetahuan luas, dan (4) selalu menebar
kebaikan. Keempat ciri ini kemudian diurai ke da- lam nilai pembentuk yang menjadi
landasan perilaku seorang guru. Secara ilus- trasi, dapat dilihat pada Gambar 1.1.

Menjadi jelaslah bahwa menjadi guru apapun, entah itu guru kelas, guru mata pelajaran,
konselor, bahkan tenaga kependidikan dan warga sekolah sekalipun, integritas adalah
“pakaian” yang harus melekat kuat. Integritas dipahami mak- nanya, disadari pentingnya
untuk kehidupan pribadi, diyakini sebagai prinsip hidup, dan diterapkan dalam perilaku
pribadi di manapun, kapanpun, dan dalam suasana apapun. Tanpa integritas, sejatinya tidak
layak menyandang predikat guru. Adapun menularkannya kepada peserta didik, adalah
tahapan berikutnya setelah “pakaian” itu terpasang serasi dalam diri.

Untuk lebih lengkapnya tentang perilaku berintegritas dapat dipelajari dalam bahan
Pendidikan Antikorupsi untuk perguruan tinggi di laman berikut.

X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1


3. TANTANGAN GURU DALAM MENGHADAPI
PERSOALAN BANGSA
Setiap hari kita menyaksikan maraknya perilaku tidak berintegritas yang cukup menyesakkan
dada. Mulai dari perilaku saling tidak percaya, saling menyalahkan, lepas tanggungjawab,
mencari jalan pintas, arogan, inkonsisten, korupsi, perilaku koruptif, hingga aneka perilaku
tak pantas lainnya. Bahkan perilaku demikian diper- lihatkan oleh seluruh lapisan
masyarakat, dari rakyat hingga pejabat. Bahkan sosok yang selayaknya menjadi teladan pun,
tak luput dari perilaku tak berintegritas. Ini berarti, patut kita sadari bahwa ada sesuatu yang
hilang dalam jati diri kita. Kema- nakah prinsip hidup berintegritas di antara kita?

Sumber perilaku tak berintegritas adalah melemahnya nilai-nilai karakter dari da- lam diri
individu. Nilai-nilai karakter seperti jujur, tanggung-jawab, disiplin, peduli, dan nilai lainnya
hanya sebatas dipahami, tapi tidak diyakini dan diamalkan sebagai prinsip hidup pada setiap
individu. Inilah persoalan bangsa kita.

X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1


4. LANDASAN DAN PRINSIP DASAR
PENGUATAN INTEGRITAS
Untuk memahami lebih jauh bagaimana penguatan integritas dapat dilakukan, ter- lebih
dahulu perlu anda pahami landasan dan prinsip-prinsip penguatan integritas sebagai berikut:

A. LANDASAN PENGUATAN INTEGRITAS


Banyak anggapan bahwa hidup berintegritas di zaman ini sangat sulit. Dalih yang
dikemukakan beragam. Lingkungan tidak mendukung, tidak ada teladan dari pimpinan, yang
berintegritas selalu dirugikan, dan seringkali diposisikan sebagai ancaman bagi
keberlangsungan sistem. Anggapan demikian agaknya tidak sejalan dengan kenyataan yang
sesungguhnya. Mengapa? Berikut lan- dasan untuk hidup berintegritas.

1) Penguatan Integritas mengacu pada Prinsip Dasar Pendidikan


2) Penguatan Integritas adalah Pendidikan Karakter
3) Bersifat Jangka Panjang
4) Integritas bersumber dari Keyakinan
5) Berpusat pada Peserta Didik
B. PRINSIP PENGUATAN INTEGRITAS
Pada dasarnya penguatan integritas merupakan pendidikan sikap, pendidikan nilai,
pendidikan karakter, atau pembentuk perilaku. Oleh karena itu penguatan integritas memiliki
prinsip-prinsip yang sama dengan pendidikan karakter. Ada- pun prinsip-prinsip penguatan
integritas meliputi:

1) Mengubah Pola Pikir dan Langkah


2) Kuncinya di Diri Pribadi
3) Capaian Kompetensi Sesuai Perkembangan
4) Dilakukan melalui Aktivitas, Tema, dan Mata Pelajaran
5) Terkoneksi dengan Keluarga dan Masyarakat
6) Konsisten dalam Setiap Aktivitas
7) Kontinuitas Proses Terjaga

X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1


RANGKUMAN
 Guru adalah manusia yang terpanggil untuk mengusir kegelapan bagi lingkungan-
nya. Sebagai penerang, maka sosok guru sendiri haruslah terang. Dia adalah murid
pertama dari kebaikan yang ia ajarkan;
 Integritas merupakan konsistensi atau kesesuaian antara suara hati nurani sebagai
kebenaran, pola pikir untuk hidup benar, tekad yang kuat untuk mewujudkan hidup
benar, ucapan yang terungkap, dan perilaku yang ditampilkan;
 Kunci dari proses penguatan integritas adalah ketika setiap guru memahami, me-
yakini, dan mengamalkan perilaku berintegritas bagi dirinya dan kemudian menjadi
teladan dan inspirasi bagi peserta didik dan lingkungannya;
 Integritas pada dasarnya sudah ada dalam diri setiap manusia. Tugas guru adalah
menguatkan nilai karakter penguat integritas yang ada dalam diri setiap manusia,
sehingga makin kokoh.
 Menjadi pribadi berintegritas memberi manfaat untuk pribadi dan berdampak sosial.
Jadi bukan ditujukan untuk memperbaiki di luar diri;
 Guru memiliki peran sebagai lokomotif dalam perbaikan moral bangsa dengan
melakukan penguatan integritas dimulai dari dirinya, dan meluaskan kepada peserta
didik dan lingkungannya;

 Melihat kondisi sekolah saat ini, maka untuk melakukan penguatan integritas perlu
upaya yang tidak biasa dengan cara pandang yang berbeda. Guru perlu memiliki
keyakinan yang kuat dan kerja keras mewujudkannya;

 Penguatan integritas adalah hal paling mendasar dalam pendidikan yang mutlak
dilakukan oleh seluruh guru, apakah ia guru kelas, guru mata pelajaran, konselor, atau
warga sekolah dewasa lainnya.
X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1
DAFTAR PUSTAKA
Adler, M. 2009. Program Paedia: Silabus Pendidikan Humanistik (Terj.). Indonesia
Publishing. Bandung

Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2015). Kerangka Landasan untuk Pembelajaran,


Pengajaran, dan Asesmen. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Anas, Z. 2019. Guru untuk Kehidupan. Jakarta: AMP Press.

Anita Woolfolk. 2009. Educational Psychology; Aktive Learning Edition. Pustaka Pe- lajar.
Yogyakarta.

Dewey, J. 2009. Pendidikan Dasar Berbasis Pengalaman (Terj.). Indonesia Publishing.


Bandung

Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang


Kehidupan (Terj.). Erlangga. Jakarta

Jensen, E. 2008. Brain-Based Learning. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Joyce, A., Weil, M., Calhoun, E. 2009. Model of Teaching: Model-Model Pengajaran.
Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Karzon, A. A. 2010. Tazkiyatun Nafs: Gelombang Energi Penyucian Jiwa Menurut Al-
Qur’an dan As-Sunnah di Atas Manhaj Salafus Shaalih. Akbarmedia. Jakarta.

Koentjaraningrat. 2015. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. PT Gramedia Pus- taka


Utama: Jakarta

Komisi Pemberantasan Korupsi. 2017. Pendidikan Antikorupsi untuk Pendidikan Dasar dan
Menengah. . KPK, Jakarta.

Komisi Pemberantasan Korupsi. 2018. Insersi Pendidikan Antikorupsi untuk Pendidi- kan
Dasar dan Menengah melalui Mata Pelajaran PPKN. KPK, Jakarta.

Komisi Pemberantasan Korupsi. 2019. Panduan Praktis Implementasi Pendidikan An-


tikorupsi bagi Guru Kelas dan Guru PPKn Pendidikan Dasar dan Menengah KPK, Jakarta.

Ki Hadjar Dewantara. 1977. Pendidikan. Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Yo-
gyakarta.

Latif, Yudi. 2015. Revolusi Pancasila. Mizan: Jakarta.


Lickona, A. 2012. Mendidik Untuk Membentuk Karakter: Bagaimana Sekolah Dapat
Memberikan Pendidikaan Tentang Sikap Hormat dan Bertanggung Jawab. Bumi Aksara.
Jakarta.

Lubis, Mochtar. 2017. Manusia Indonesia. Yayasan Obor Indonesia: Jakarta.

Megawangi, R. 2009. Menyemai Benih Karakter. Indonesia Heritage Foundation. De-


pok.New Jersey.

Murty, Ade Iva. 2016. Perumusan Indikator Nilai-Nilai Antikorupsi. Komisi Pemberan- tasan
Korupsi-GIZ, Jakarta.

Murty, Ade Iva. 2016. Kajian Kristalisasi Nilai-Nilai Antikorupsi. Komisi Pemberan- tasan
Korupsi-GIZ, Jakarta.

Samani, M., Hariyanto. 2012. Konsep dan Model Pendidikan Karakter. Remaja Rosda- karya.
Bandung.

Sandra Aamodt dan Sam Wang. Welcome to Your Child’s Brain; Cara Pikiran Berkem- bang
dari Masa Pembuahan Hingga Kuliah. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Santrock, J. W. Psikologi Pendidikan. Kencana. Jakarta.

Soedarsono,S. (2008). Membangun Kembali Jati Diri Bangsa. Peran Penting Karakter dan
Hasrat untuk Berubah. Jakarta: Elex Media Komputindo.

Sjafei, M. 2010. Arah Aktif: Sebuah Seni Mendidik Berkreativitas dan Berakhlak Mulia. Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri. Solo.

World Economic Forum. (2020). School of the Future, Defining New Models of Edu- cation
for the Fourth Industrial Revolution. Geneva: World Economic Forum.

X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1


LATIHAN SOAL
UNTUK MENGETAHUI SEJAUH MANA
MATERI YANG TELAH DI PAHAMI, ANDA
DIMINTA UNTUK
MENJAWAB STUDI KASUS YANG DISAJIKAN
PADA HALAMAN BERIKUTNYA.
X.1.1.1. KEGIATAN BELAJAR 1
Tuliskan jawaban anda yang menggambarkan solusi dari kasus berikut:

Kasus: Anda menjadi guru di satu sekolah. Peraturan sekolah menentukan bahwa siswa yang
terlambat tidak bisa masuk kelas. Tujuannya untuk menegakkan disiplin siswa. Gerbang
dikunci. Namun, tatkala guru datang terlambat, ia boleh masuk, dan disaksi- kan siswa. Hal
itu ternyata lumrah terjadi. Anda sudah mencoba menyampaikan kepada kepala sekolah tapi
tidak ada respon. Andapun sudah mencoba memperbaiki keadaan dengan mengajak teman
guru untuk tidak melakukan itu, tapi malah anda dikucilkan dan dianggap mengganggu
kenyamanan.

Pertanyaan:

1. Bagaimana langkah anda menghadapi situasi tersebut sebagai orang yang berinte-
gritas? Buat dalam bentuk naskah reflektif!
2. Buat daftar tentang faktor penyebab guru tidak berintegritas serta solusinya yang bisa
dilakukan oleh diri pribadi. Bukan solusi yang dilakukan pihak lain.
3. Berdasarkan kasus di atas sebagai referensi buat mind map tentang landasan dan
prinsip penguatan integritas dengan gambar yang anda buat sendiri.

Your answer

Anda mungkin juga menyukai