LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN JIWA
DENGAN GANGGUAN “WAHAM”
Norma Juliarti.M, S.kep
NS0619107
CI Institusi
( )
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES)
NANI HASANUDDIN
MAKASSAR
2020
LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN PROSES PIKIR : WAHAM
A. Konsep Dasar Waham
1. Pengertian
Waham adalah suatu keadaan di mana seseorang individu
mengalami sesuatu kekacauan dalam pengoperasian dan aktivitas –
aktivitas kognitif (Townsend, 2014).
Menurut Stuart dan Sundeen 1998 dalam Azizah Lilik, 2016 .
Waham adalah keyakinan yang salah yang secara kokoh dipertahankan
walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan realita
normal.
Menurut Dep Kes RI,2000 dalam Azizah Lilik, 2016. Wahan
adalah keyakinan klien yang tidak sesuai dengan kenyataan tetapi
dipertahankan dan tidak dapat dirubah secara logis oleh orang lain,
kenyakinan ini berdasarkan dari kenyakinan klien dimanan sudah
kehilangan control.
2. Etiologi
Keadaan yang timbul sebagai akibat dari pada proyeksi dimana
seseorang melemparkan kekurangan dan rasa tidak nyaman ke dunia luar.
Individu itu biasanya peka dan mudah tersinggung , sikap dingin dan
cenderung menarik diri. Keadaan ini sering kali disebabkan karena merasa
lingkungannya tidak nyaman , merasa benci , kaku , cinta pada diri sendiri
yang berlebihan angkuh dan keras kepala. Dengan seringnya memakai
mekanisme proyeksi dan adanya kecenderungan melamun serta
mendambakan sesuatu secara berlebihan , maka keadaan ini dapat
berkembang menjadi waham. Secara berlahan – lahan individu itu tidak
dapat melepaskan diri dari khayalannya dan kemudian meninggalkan
dunia realitas.
Kecintaan pada diri sendiri, angkuh dan keras kepala , adanya rasa
tidak aman , membuat seseorang berkhayal ia sering menjadi penguasa dan
hal ini dapat berkembang menjadi waham besar.
Secara umum dapat dikatakan segala sesuatu yang mengancam
harga diri dan keutuhan keluarga merupakan penyebab terjadinya
halusinasi dan waham. Selian itu kecemasan , kemampuan untuk
memisahkan dan mengatur persepsi mengenai perbedaan antara apa yang
dipikirkan dengan perasaan sendiri menurun sehingga segala sesuatu sukar
lagi dibedakan , mana rangsangan dari pikiran dan rangsangan dari
lingkungan (Keliat, 2011)
Ada dua factor yang menyebabkan terjadinya waham (Keliat, 2011)
yaitu :
a. Factor predisposisi
Meliputi perkembangan sosial kultural , psikologis , genetik ,
biokimia. Jika tugas perkembangan terhambat dan hubungan
interpersonal terganggu maka individu mengalami stress dan
kecemasan.
b. Factor presipitasi
Rangsangan lingkungan yang sering menjadi pencetus terjadinya
waham yaitu klien mengalami hubungan yang bermusuhan , terlalu
lama diajak bicara , objek yang ada dilingkungannya dan suasana sepi
(isolasi). Suasana ini dapat meningkatkan stress dan kecemasan.
3. Tanda dan Gejala
Untuk mendapatkan data waham saudara harus melakukan observasi
perilaku Menurut Kusuma, dkk. (2013) berikut ini :
a. Waham kebesaran
Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan khusus ,
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh : “saya ini pejabat di departemen kesehatan lho..” atau “saya
punya tambang emas”
b. Waham curiga
Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan / mencederai dirinya , diucapkan berulang kali tetapi tidak
sesuai kenyataan.
Contoh : “saya tahu… seluruh saudara ingin mneghancurkan hidup
saya karena merasa iri dengan kesuksesan saya.”
c. Waham agama
Memiliki keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan ,
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh : “kalau saya masuk surge saya harus menggunakan pakaian
putih setiap hari.”
d. Waham somatic
Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya terganggu / terserang
penyakit , diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh : “saya sakit kanker” , setelah pemeriksaan laboratorium tidak
ditemukan tanda – tanda kanker namun pasien terus mengatakan
bahwa ia terserang kanker.
e. Waham nihilistic
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia / meninggal ,
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh : “ini kana lam kubur ya , semua yang ada adalah roh – roh”.
4. Patofisiologi
Fase-fase
Kebutuhan tidak terpenuhi
Fase lac of human need
Fase lack of self esteem
Fase kontrolsinternasl external
Fase improving Gangguan ideal tidak sama realitas
Fase environment support dan tidak disetujui oleh pemikiran
Fase comforting
Ada support lingkungan
Rentang Respon
Kadang proses piker
terganggu
Ilusi Nyaman berbohong
Emosi berlebihan
Berprilaku yang tidak biasa
Menarik diri Perubahan isi fikir:waham
Curiga berlebihan,dosa
Hygine kurang, muka
pucat,BB menurun
Mengasingkan diri
Deficit perawatan
pucat,BBmenurun ISOS
Resiko tinggi menciderai
dirinya sendiri, orang
,lingkungan
pucat,BBmenurun
(Azizah Lilik, 2016)
5. Rentang Respon Neurobiologi
Respon Adaptif Respon Maladaptif
- Pikiran logis - distorsi pikiran - gangguan proses pikir
- Persepsi akurat - ilusi - waham
- Emosi konsisten - reaksi emosi berlebihan - perilaku disorganisasi
6. Fase-Fase Waham
Proses terjadinya waham dibagi menjadi enam, yaitu :
a. Fase Lack of Human Need, Waham diawali dengan terbatasnya
kebutuhan pasien secara fisik maupun psikis. Secara fisik pasien
dengan waham dapat terjadi pada orang-orang dengan status sosial
dan ekonomi sangat terbatas. Biasanya pasien sangat miskin dan
menderita. Keinginan ia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
mendorongnya untuk melakukan kompensasi yang salah.
b. Fase lack of Self Esteem, Tidak ada tanda pengakuan dari
lingkungan dan tingginya kesenjangan antara Self ideal dengan self
reality (kenyataan dengan harapan) serta dorongan kebutuhan yang
tidak terpenuhi sedangkan tandar lingkungan udah melampaui
kemampuannya.
c. Fase control internal external, Pasien mencoba berfikir rasional
bahwa apa yang ia yakini atau yang ia katakan adalah kebohongan,
menutupi kekurangan dan tidak sesuai dengan kenyataan. Tetapi
untuk diakui, kebutuhan bagi pasien adalah sesuatu yang sangat
berat, karena kebutuhannya untuk diakui, kebutuhan untuk
dianggap penting dan diterima lingkungan menjadi prioritas dalam
hidupnya, karena kebutuhan tersebut belum terpenuhi sejak kecil
secara optimal.
d. Fase environment upport, Adanya beberapa orang yang
memercayai pasien dalam lingkungannya menyebabkan pasien
merasa didukung, lama kelamaan pasien menganggap sesuatu yang
dikatakan tersebut sebagai suatu kebenaran karena seringnya
diulang-ulang. Dari sinilah mulai terjadinya kerusakan kontrol diri
dan tidak berfungsinya norma (super ego) yang ditandai dengan
tidak ada lagi perasaan saat berbohong.
e. Fase comforting, Pasien merasa nyaman dengan keyakinan dan
kebohongannya serta menganggap bahwa semua orang sama yaitu
akan mempercayai dan mendukungnya.
f. Fase improving, Apabila tidak adanya konfrontasi dan upaya-
upaya koreksi, setiap waktu keyakinan yang salah pada pasien akan
meningkat.
7. Jenis-jenis Wahan
a. Waham Kebebasan
Menanggap nilai kekuasaan, pengetahuan identitasnya terlalu tinggi
b. Waham curiga/paranoid/kejar
Kenyakinan klien terhadap seseorang/kelompok sevara berlebihan yang
berusaha merugikan, mencederai, mengganggu,mengancam, memata-
matai dan membicarakan kejelekannya.
c. Waham Agama
Memiliki kenyakinan terhadap sesuatu agama secara berlebihan,
diucapkan berulang kali tetapi tidak sesuai kenyataan
d. Waham Somatic/hipokondrik
Kenyakinan klien terhadap tubuhnya/ penampilan/fungsi tubuhnya
sudah berubah (ada sesuatu yang tidak beres)
e. Waham nihilistic
Menyakini bahwa dirinya/oranglain sudah tidak ada didunia/ meninggal
dunia diucapkan berulangkali tetapi tidak sesuai dengan kenyataanya
f. Waham dosa
Kenyakinan klien terhadap dirinya telah atau selalu atau berbuat
dosa/perbuatannya tidak dapat diampuni lagi
g. Waham bisar terdiri dari
1) Sisi piker yaitu kenyakinan klien terhadap suatu pikiran lain
disispkan kedalam pikiran dirinya
2) Siar piker/broadcasting yaitu kenyakinan klien bahwa ide dirinya
dipakai oleh/ disampaikan kepada orang lain mengetahui apa yang
ia pikirkan meskipun ia tidak betul secara nyata mengatakan
kepada orang tersebut
Control piker/waham pengaruh yaitu kenyakianan klien bahwa
pikiran, emosi dan perbuatan yang slalu di control/ dipengaruhi
oleh kekuatan diluar dirinya yang aneh
7. Mekanisme Koping
Perilaku yang mewakili upaya untuk melindungi pasien dari pengalaman
yang menakutkan dengan respon neurobiologist yang maladaptive
meliputi : regresi berhubungan dengan masalah proses informasi dengan
upaya untuk mengatasi ansietas, proyeksi sebagai upaya untuk
menjelaskan kerancuan persepsi, menarik diri, pada keluarga :
mengingkari.
8. Penatalaksanaan
a. Psikoterapi, berupa metacognitive training adalah terapi yang
dikembangkan untuk membantu pasien dengan waham untuk
mengenali pola pikir difungsionalnya. Meskipun awalnya
dikembangkan untuk schizophrenia, namun terapi ini juga
bermanfaat pada pasien dengan gangguan waham lain, termasuk
waham menetap.
b. Medikamentosa, Farmakoterapi sebaiknya dimulai dari dosis kecil
(Haloperidol 2 mg/24 jam atau risperidone 2 mg/24 jam) Lalu
dititrasi pelan. Banyak pasien waham mengalami depresi, sehingga
membutuhkan antidepresan : Fluoxetine, sertraline, citalopram,
escitalopram
B. Konsep Keperawatan Waham
1. Pengkajian
a. Identitas Klien
Melakukan perkenalan dan kontrak dengan klien tentang : nama
mahasiswa, nama panggilan, nama klien, nama panggilan,
tujuan,waktu, tempat pertemuan, topic yang akan dibicarakan.
Tanyakan dan catat usia klien dan No RM, tanggal pengkajian dan
sumber data yang didapatkan.
b. Alasan masuk
Apa yang menyebabkan klien atau keluarga dating, atau dirawat di
rumah sakit, biasanya berupa menyendiri, komunikasi kurang atau
tidak ada, berdiam diri dikamar, menolak interaksi dengan orang lain,
tidak melakukan kegiatan sehari-hari, dependen, perasaan kesepian,
merasa tidak aman berada dengan orang lain, merasa bosan, dan
lambat menghabiskan waktu, tidak mampu berkonsentrasi merasa
tidak berguna dan merasa tidak yakin dapat melangsungkan hidupnya.
c. Factor predisposisi
Menanyakan apakah keluarga mengalami gangguan jiwa, bagaimana
hasil pengobatan sebelumnya, apakah pernah melakukan atau
mengalami kehilangan, perpisahan, penolokan orang tua, harapan
orang tua yang tidak realistis, kegagalan atau frustasi berulang,
tekanan dari kelompok sebaya, perubahan struktur social, terjadi
trauma yang tiba mis; harus dioperasi, kecelakaan, perceraian, status
sekolah, PHK, perasaan malu karna sesuatu yang terjadi (korban
pemerkosaan, dituduh KKN, dipenjara tiba-tiba), mengalami
kegagalan dalam pendidikan maupun karier, perlakuan orang lain
yang tidak menghargai klien atau perasaan negative terhadap diri
sendiri yang berlangsung lama.
d. Factor precipitasi
Stresor presipitasi yang mencakup kejadian kehidupan yang pernah
stress seperti kehilangan, didikan yang keras dari keluarga yang
mempengaruhi kemampuan individu untuk memiliki perasan egois
serta menyebabkan ansietas.
2. Format / Data Focus pengkajian pada pasien dengan waham (Keliat dan
Akemat, 2011)
Berikan tanda V pada kolom yang sesuai data pasien :
Proses pikir
[ ] sirkumtansial [ ] tangensial
[ ] flight of idea [ ] bloking
[ ] kehilangan asosiasi [ ] pengulangan bicara
Isi pikir
[ ] obsesi [ ] fobia
[ ] depersonalisasi [ ] ide terkait
[ ] hipokondria [ ] pikiran magis
Proses pikir
[ ] agama [ ] somatic [ ] kebesaran
[ ] curiga [ ] nihilistic [ ] sisip pikir
[ ] siap pikir [ ] control pikir
3. Pohon Masalah
Kerusakan komuikasi verbal
effect
Perubahan proses pikir : waham
Core problem
Harga diri rendah kronik
4. Diagnosa Keperawatancausa
Gangguan Proses Pikir : Waham
5. Intervensi
Rencana Keperawatan Gangguan Proses Pikir : Waham dalam bentuk Strategi
Pelaksanaan .
a. SP 1 P
1) Mengidentifikasi kebutuhan
2) Klien bicara konteks realita
3) Latih pasien untuk memenuhi kebutuhannya
4) Masukan dalam jadwal kegiatan pasien
b. SP 2 P
1) Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1)
2) Identifikasi potensi/kemampuan yang dimiliki
3) Pilih dan latih potensi kemampuan yang dimiliki
4) Masukan dalam jadwal kegiatan pasien
c. SP 3 P
1) Evaluasi kegiatan yang lalu (SP 1 dan 2)
2) Memilih kemampuan lain yang dapat dilakukan
3) Pilih dan latih potensi kemampuan lain yang dimiliki
4) Masukan dalam jadwal
d. SP 1 K
1) Mengidentifikasi masalah keluarga dalam merawat pasien
2) Menjelaskan proses terjadinya waham
3) Menjelaskan tentang cara merawat pasien waham
4) Latihan cara merawat
5) RTI, keluarga/jadwal untuk merawat pasien
e. SP 2 K
1) Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1K)
2) Melatih keluarga merawat langsung klien dengan harga diri
rendah
3) Menyusun RTI, keluarga/jadwal keluarga untuk merawat klien
f. SP 3 K
1) Evaluasi kemampuan keluarga (SP 1 K)
2) Evaluasi kemampuan klien
3) Rencana tindakan lanjut keluarga dengan follow up dan rujukan.
6. Implementasi dan Evaluasi
Rencana
Diagnosa Tindakan
Keperawat Evaluasi
Keperawatan Keperawatan
an
Gangguan SP1P Melakukan SP1P S:
proses pikir : Gangguan gangguan proses
waham proses pikir : waham “saya hanya mau berbincang10
pikir : menit saja”
waham - Membantu
orientasi realita “mereka tidak percaya kalau
- Mendiskusikan saya ini presiden”
kebutuhan yang
tidak terpenuhi “presiden kan enak bisa ngatur
dan perintah, saya gak senang
- Membantu kalau diatur”
klien memenuhi
kebutuhannya “bapak saya yang suka ngatur”
- Menganjurkan “saya ingin ikut teman-teman
klien pergi ke ruang rehabilitasi terus
memasukkan bisa main tenis meja”
dalam jadwal
“saya mau latihan setiap pagi
kegiatan harian
pukul 09:00”
klien
O:
- Pembicaraan cepat
- Afek labil
- Klien memasukkan latihan
tenis meja kedalam jadwal
harian setiap hari pukul
09:00”
A:
SP1P tercapai
P:
Perawat : lanjutkan SP2P
pukul 09:30 diteras depan
ruang rehabilitasi
Klien: motivasi klien untuk
latihan olahraga tenis meja
pada pukul 09:00 sesuai jadwal
harian.
Gangguan SP2P Melakukan SP2P S:
proses pikir : Gangguan gangguan proses
waham proses pikir: waham “sekarang kita berbincang 15
pikir : menit yah”
waham - Mengevaluasi
jadwal kegiatan “saya tadi main tenis meja loh,
klien dan menang”
- Berdiskusi “saya juga bisa main gitar lho,
waktu SMA saya punya band
tentang sama teman-teman”
kemampuan yang
dimiliki “mari saya tunjukkan
kehebatan saya main gitar”
“karena jadwal main musik
disini setipa hari selasa dan
kamis pukul 09.00 saya akan
latihan sesuai jadwal”
O:
- Klien kooperatif
- Kontak mata baik
- Klien membuat jadwal
latihan main gitar sesuai
jadwal di rumah sakit
A:
SP2P tercapai
P:
Perawat: lanjutkan SP3P pukul
11:00 di ruang perawatan klien
Klien : motivasi klien latihan
memainkan gitar setiap hari
Selasa dan Kamis pukul 09.00
Gangguan SP3P Melakukan SP3P S:
proses pikir : Gangguan gangguan proses
waham proses pikir : waham “kita berbincang 10 menit ya”
pikir :
- Mengevaluasi “saya dapat obat 3 macam dari
waham
jadwal kegiatan dokter”
harian klien
“oh, berarti yang warnanya
- Memberikan orange itu CPZ gunanya untuk
pendidikan menenangkan”
kesehatan
“terus yang warna putih itu
tentang
supaya saya rileks dan tidak
penggunaan
tegang ya disebut THP”
obat secara
teratur “yang warna merah jambu itu
disebut HPL supaya saya
- Menganjurkan tenang juga kan?”
klien
memasukkan “semua obatnya harus saya
dalam jadwal minum sehari 3kali kan?”
kegiatan harian
“saya akan minum obat sesuai
jadwal dan teratur, baik di
rumah sakit sekarang atau
sudah pulang ke rumah nanti”
“saya akan minum obat setiap
hari pukul 7pagi, 1siang, dan
7malam”
O:
- Kontak mata baik
- Klien kooperatif
- Klien memasukkan
kedalam jadwal harian
minum obat setiap pukul
7pagi, 1siang dan 7malam
A:
SP3P tercapai
P:
Perawat : lanjutkan SP budaya
gangguan proses pikir : waham
Klien : motivasi klien untuk
minum obat sesuai dengan
jadwal
DAFTAR PUSTAKA
Azizah Lilik, Zainuri Imam,Akbar Amar .,2016, Buku Ajaran Keperawatan
Kesehatan Jiwa, Indomedia Pustaka : Yogyakarta.
https://www.alomedika.com/penyakit/psikiatri/gangguan-waham-
penatalaksanaan.
Townsend, M.C (2014). Psyhciatric Mental Perawatan Kesehatan : Konsep
Perawatan di Bukti-Based Practice 6 Ed, FA Davis Perusahaan.