PENYAKIT KRONIS PADA ANAK
Rossy J.H. Abdulgani, S.Kep. Ners., MMRS., CH., CHt.
Penelitian dalam lingkup asuhan
keperawatan pada anak dengan penyakit
kronis meliputi asuhan keperawatan pada
anak dengan penyakit menahun atau
berkepanjangan lebih dari 6 bulan.
contoh kasus yang sering terjadi
pada anak
1. Asma,
2. Diabetes melitus,
3. Kanker (blood cancer, solid tumor, brain
tumor),
4. Gangguan jantung (kelainan kongenital),
5. Infeksi (HIV, meningitis, hepatitis),
6. Kelainan darah (Anemia, sircle cell
disesase, hemofilia),
7. Gangguan konvulsi (epilepsi)
Penyakit kronis pada anak
1. sistem pernafasan,
2. imun-hematologi,
3. kardiovaskuler,
4. persyarafan,
5. perkemihan,
6. pencernaan dan
7. endokrin,
lingkup asuhan keperawatan anak
1. upaya preventif
2. promotif
3. kuratif
4. Rehabilitasi
ASMA BRONKIALE
Definisi :
Gangguan inflamasi kronik pada saluran
napas
Melibatkan banyak sel-sel radang (eosi-nofil,
sel mast, leukotrien, makrofag, ne-trofil,
limfosit T, dll)
Terjadi hiperresponsif jalan napas thd ber-
bagai rangsangan
Ditandai dg obstruksi jalan napas yg ber-sifat
reversibel dengan atau tanpa pengo-batan
Definisi diambil dari NHLBI (National Heart, Lung
and Blood Institute) - 2007
Gejala klinis:
Sesak napas / dada terasa penuh
(chest tightness)
Napas berbunyi (mengi/wheezing)
Batuk (terutama malam dan dini hari)
Dahak kental sulit dikeluarkan
Gejala timbul secara episodik berulang
Faktor risiko:
Genetik (multiple chromosomal region –
kadar Ig E tinggi pada kromosom 5q, 11q,
12q gen Human Leucocyte Antigen/HLA)
Lingkungan (house dust mite, polusi,
cuaca)
Patogenesa:
Pencetus/trigger (alergen, virus, iritan, psikis)
hiperresponsif saluran napas reaksi imunologik
dan atau gangguan keseimbangan biokimia /
neurohumoral inflamasi akut (reaksi asma tipe
cepat dan tipe lambat) bronkospasme, edema,
hipersekresi mukus inflamasi kronik & airway
remodeling
PATOFISIOLOGI
GAMBAR PARU dan SALURAN NAFAS
Inflamasi akut:
Reaksi asma tipe cepat alergen terikat Ig E pd sel
mast degranulasi sel mast release preformed
(histamin, protease) dan newly generated mediators
(leukotrien, prostaglandin, PAF) br.spasme,
hipersekresi mukus, vasodilatasi.
Reaksi asma tipe lambat timbul 6-9 jam stl
paparan alergen aktivasi eosinofil, sel T CD4+,
netrofil & makrofag.
Inflamasi kronik & airway remodeling:
Melibatkan sel limfosit T, eosinofil, makro-
fag, sel mast, sel epitel, dan fibroblast
Menyebabkan kerusakan jaringan yg dii-kuti
healing process perubahan struk-tur (airway
remodeling) berupa:
- Hipertrofi & hiperplasia otot polos br. &
kelenjar mukus
- Penebalan membran reticular basal
- Hipervaskuler
- Perubahan struktur parenkim fibrosis
ALERGEN PEMICU ASMA
Klasifikasi asma:
1. Asma Atopik/Ekstrinsik/Alergik
2. Asma Nonatopik/Intrinsik
Sindroma Asma:
Exercise-induced asthma
Nocturnal asthma
Occupational asthma
Aspirin-induced asthma
Fatal & near fatal asthma
Asma Atopik/Ekstrinsik/Alergik:
Anak & dewasa muda
Serangan mendadak stl terpapar alergen, dpt
pulih tanpa obat
Sering didahului influenza
Keturunan (+), eksim saat kanak2
Skin test (+), Ig E & eosinofil
Sering alergi aspirin
Respons tx baik
Asma Nonatopik/Intrinsik:
Dewasa atau usia pertengahan
Faktor imunologi (?)
Sering disebabkan infeksi, dahak purulen
Riwayat atopi (±)
Skin test (-), Ig E & eosinofil normal
Respons tx kurang
Prognose lebih jelek
Sindroma Asma:
Exercise-induced asthma (EIA):
- Pencetus latihan fisik sedang - berat
- Usia muda
- Mekanisme: ventilasi udara kering &
dingin masuk jln napas pengeringan &
pendinginan mukosa jln napas inflamamasi
(sel mast melepas mediator) br. spasme,
edema, hipersekresi mukus
- Makin kering & dingin, makin berat br.spasme
Exercise-induced asthma…
- Faktor yg dpt memperberat atau memperingan
EIA:
- Asma yg tdk terkontrol baik
- Berlatih di udara kering & dingin
- Jenis & beratnya latihan fisik
- Warming-up seblm berlatih
- Terapi: 2-agonis & cromolyn inhalasi
sebelum berlatih
Nocturnal asthma:
- Keluhan batuk / sesak terutama timbul pd
malam – dini hari
- Mekanisme perubahan suhu yg
ekstrim,
pe kadar hormon adreno-corticotropin
pd
dini hari
- Terapi: Theophylline SR, LABA + steroid
inh.
Occupational asthma:
- Penyebab alergen atau iritan di lingkungan
kerja
- Keluhan timbul bila px berada di
lingkungan kerja & menghilang setelah px
pulang
- Terapi: masker, pindah tempat kerja, 2-
agonis & steroid inhalasi sebelum bekerja
Pengkajian
1. Anamnesa
2. Pemeriksaan fisik
3. Pemeriksaan penunjang:
- Radiologis: foto toraks
- Test faal paru, uji provokasi bronkus
- Laboratorium: status alergi (darah tepi,
Ig E total, eosinofil count, Ig E Atopy,
skin test, sputum charcot leyden)
Anamnesa:
Serangan bersifat episodik/berulang
/kumat-kumatan, reversibel
Memburuk malam & dini hari
Pencetus/trigger (+)
Respons thd br.dilator (+)
Riwayat asma dlm keluarga
Riwayat alergi, sinusitis
Pemeriksaan fisik:
Dpt normal, kadang wheezing (+), eks-pirasi
memanjang
Serangan ringan wheezing akhir eks-pirasi
paksa
Serangan berat wheezing dapat tidak
terdengar, px sianosis, gelisah, taki-kardi,
retraksi ics, penggunaan otot bantu napas
Pemeriksaan penunjang:
Foto toraks normal diluar serangan, hi-
perinflasi saat serangan, adanya penyakit lain
Faal paru (spirometri / PEFR) menilai berat
obstruksi, reversibilitas, variabilitas
Uji provokasi bronkus membantu dx
Status alergi skin prick test, Ig E total, eosinofil
count, Ig E Atopy
Diagnosa Banding:
Dewasa:
PPOK, bronkitis kronis, gagal jantung kongestif,
obstruksi krn tumor, disfungsi larings, emboli paru
Anak:
Corpus alienum, laringotrakeomalasia,
limfadenopati, bronkiolitis, stenosis trakea, tumor
Tingkat Kontrol Asma menurut GINA 2008
Klasifikasi TERKONTROL TIDAK
Characteristics
TERKONTROL
Asma SEBAGIAN TERKONTROL
2x/ > 2x/
Gejala Siang
minggu minggu
Hambatan
Tidak Ada Ada
Aktivitas KUALITAS
Gejala Malam Tidak Ada Ada HIDUP
3 atau lebih
Perlu Obat 2x/ > 2x/ keadaan
Pelega minggu minggu terkontrol
Fungsi Paru < 80% prediksi atau
Normal hasil terbaik (bila sebagian dalam
(PEF atau FEV1) ada) setiap hari setiap minggu
Satu / lebih per Satu kali pada
Eksaserbasi/kambuh Tidak Ada tahun
setiap minggu
GINA updated 2008
Klasifikasi derajat berat asma (GINA 2004)
Derajat Gejala Gejala Faal Paru Terapi
Asma mlm
Intermitten < 1x/minggu 2x/bulan PEFR 80% SABA inhalasi saat
Asimtomatik FEV1 80% serangan
V.PEF< 20%
Mild Persisten 1x/minggu > PEFR 80% SABA inh.
< 1x/hari 2x/bulan FEV1 80% Steroid inh. dosis rendah
Aktivitas ter- V.PEF 20-30%
ganggu ±
Moderate Setiap hari > 1x/mgg PEFR 60-80% SABA inh.
Persisten Aktivitas & FEV1 60-80% LABA inh.
tidur tergg. V.PEF > 30% Steroid inh. dosis rendah –
Br.dilator (+) sedang
Severe Kontinyu Sering PEFR < 60% LABA inh.
Persisten Aktivitas ter- FEV1 < 60% Steroid inh. dosis tinggi
batas V.PEF > 30% Theophylline SR
Oral steroid
Leukotrien
Penatalaksanaan
Tujuan:
Menghilangkan & mengendalikan gejala asma
Mencegah eksaserbasi akut
Me & mempertahankan faal paru optimal
Mengupayakan aktivitas normal (exercise)
Mencegah airflow limitation irreversible
Mencegah kematian
Kunci dari keberhasilan kontrol asma adalah
mengobati inflamasi sesegera mungkin pada
saat gejala timbul
Kontrol Asma Gejala Asma Eksaserbasi
Inflammasi
Otot halus Bronkokonstriksi
Kunci mengontrol gejala
adalah dengan mening-
katkan terapi anti-infla-
masi untuk menghindari
eksaserbasi
Penatalaksanaan….
1. Saat Serangan:
Reliever/Pelega:
Gol. Adrenergik:
- Adrenalin/epinephrine 1 : 1000 0,3 cc/sc
- Ephedrine: oral
- Short Acting 2-agonis (SABA)
- Salbutamol (Ventolin): oral, inj., inh.
- Terbutaline (Bricasma): oral, inj., inh.
- Fenoterol (Berotec): inh.
- Procaterol (Meptin): oral, inh.
- Orciprenaline (Alupent): oral, inh.
Penatalaksanaan…
Gol. Methylxantine:
- Aminophylline: oral, inj.
- Theophylline: oral
Gol. Antikolinergik:
- Atropin: inj
- Ipratropium bromide: inh.
Gol. Steroid:
- Methylprednisolone: oral, inj.
- Dexamethasone: oral, inj.
- Beclomethasone (Beclomet): inh.
- Budesonide (Pulmicort): inh.
- Fluticasone (Flixotide): inh.
Penatalaksanaan…
Controller/Pengontrol:
Gol. Adrenergik:
- Long-acting 2-agonis (LABA):
- Salmeterol & Formoterol: inh.
Gol. Methylxantine:
- Theophylline Slow Release
Gol. Steroid: inh., oral, inj.
Leukotriene Modifiers: Zafirlukast
Cromolyne sodium: inh.
Kombinasi LABA & Steroid: inh.
Bila perlu dpt diberikan Antibiotik
Penatalaksanaan….
2. Diluar serangan:
Menjauhi alergen, bila perlu desensitisasi
Menghindari kelelahan
Menghindari stress psikis
Mencegah/mengobati ISPA sedini mungkin
Olahraga (renang, senam asma)
Vaksinasi influenza
OBAT HISAP
Metered Dose Inhaler Turbuhaler
Aerosol Dry Powder
NEBULISER
Nebulisasi dengan Micromist Nebulisasi dengan
Masker
Beda Asma Br. dan PPOK
BEDA ASMA BRONKIALE PPOK
Usia Anak, remaja, dewasa Dewasa > 40 tahun
Merokok +/- ++
Reversibiliti Reversibel Non-reversibel
Progresifiti Non-progresif Progresif
Riwayat Alergi ++ +/-
Batuk Malam – dini hari Sewaktu-waktu
Dyspneu on effort Bila serangan ++
Sputum Kental, sulit dikeluarkan +/-
Faal paru Me bila serangan FEV1/FVC < 70%
Variabiliti PF ++ -
Darah Lengkap Normal Polisitemia
Analisa Gas Darah PaO2 N/ PaCO2 , PaO2 N/
Foto Toraks Normal, hiperinflasi saat Hiperinflasi
serangan
Sel-sel inflamasi Eosinofil, CD4+ Netrofil, CD8+
DIAGNOSA KEPERAWATAN YANG MUNGKIN
TIMBUL
1. Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d
bronkospasme : peningkatan produksi
sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi kental
:d.d. .....
2. Kerusakan pertukaran gas b.d gangguan
suplai oksigen, kerusakan alveoli d.d..........
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d penurunan masukan oral
d.d............
4. Kurang pengetahuan d.d kurang
informasi/tidak mengenal sumber informasi .
INTERVENSI KEPERAWATAN
Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d bronkospasme :
peningkatan produksi sekret, sekresi tertahan, tebal, sekresi
kental :d.d. .....
Tujuan : Bersihan jalan nafas efektif
KH :
- Mempertahankan jalan nafas paten dengan bunyi nafas bersih/jelas
- Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan nafas mis :
batuk efektif dan mengeluarkan sekret
- Intervensi
- Auskultasi bunyi nafas,
- catat adanya bunyi nafas, mis; mengi, krekels, ronki
- Kaji/pantau frekuensi pernafasan
- Catat adanya/derajat diespnea mis : gelisah, ansietas, distres
pernafasan, penggunaan otot bantu
- Kaji pasien untuk posisi yang nyaman mis : peninggian kepala tempat
tidur, duduk pada sandaran tempat tidur
- Pertahankan polusi lingkungan minimum
- Dorong/bantu latihan nafas abdomen/bibir
- Observasi karakteristik batuk mis : menetap, batuk pendek, basah
- Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hr ss toleransi jantung dan
memberikan air hangat,
- anjurkan masukkan cairan sebagai ganti makanan Berikan obat
sesuai indikasi
- Awasi/buat grafik seri GDA, nadi oksimetri, foto dada
Kerusakan pertukaran gas b.d gangguan suplai oksigen,
kerusakan alveoli d.d..........
Tujuan : Pertukaran gas efektif dan adekuat
KH : -Menunjukkan perbaikan vertilasi dan oksigen jaringan adekuat
dalam rentang normal dan bebas gejala distres pernafasan
-Berpartisipasi dalam program pengobatan dalam tingkat kemampuan
/situasi
Intervensi
• Kaji frekuensi, kedalaman pernafasan, catat penggunaan otot aksesori,
nafas bibir, ketidak mampuan bicara/berbincang
• Tinggikan kepala tempat tidur, pasien untuk memilih posisi yang
mudah untuk bernafas, dorong nafas dalam perlahan / nafas bibir
sesuai kebutuhan / toleransi individu.
• Dorong mengeluarkan sputum : penguapan bila diindikasikan.
• Auskultasi bunyi nafas, catat area penurunan aliran udara dan / bunyi
tambahan.
• Awasi tingkat kesadaran / status mental, selidiki adanya perubahan.
• Evaluasi tingkat toleransi aktivitas.
• Awasi tanda vital dan irama jantung.
• Awasi / gambarkan seri GDA dan nadi oksimetri.
• Berikan oksigen yang ssi idikasi hasil GDA dan toleransi pasien
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh b.d penurunan masukan oral d.d .....
Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi
KH :
- Menunjukan peningkatan BB
- Menunjukan perilaku / perubahan pada hidup untuk
meningkatkan dan / mempertahanka berat yang tepat.
Intervensi :
• Kaji kebiasaan diet, masukan makanan, catat derajat
kesulitan makan, evaluasi BB.
• Auskultasi bunyi usus.
• Berikan perawatan oral sering, buang sekret.
• Dorong periode istirahat, 1jam sebelum dan sesudah makan
berikan makan porsi kecil tapi sering.
• Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbonat.
• Hindari maknan yang sangat panas / dingin.
• Timbang BB sesuai induikasi.
• Kaji pemeriksaan laboratorium, ex : alb.serum.
Kurang pengetahuan d.d kurang informasi/tidak
mengenal sumber informasi
Tujuan : Pengetahuan miningkat
KH :
- Menyatakan pemahaman kondisi / proses penyakit dan
tindakan.
- Mengidentifikasi hubungan tanda / gejala yang ada dari proses
penyakit dan menghubung dengan faktor penyebab.
- Melakukan perubahan pola hidup dan berparisipasi dalam
program pengobatan.
Intervensi:
• Jelaskan proses penyakit individu dan keluarga
• Instrusikan untuk latihan nafas dan batuk efektif.
• Diskusikan tentang obat yang digunakan, efek samping, dan
reaksi yang tidak diinginkan
• Beritahu tehnik pengguanaan inhaler ct : cara memegang,
interval semprotan, cara membersihkan.
• Tekankan pentingnya perawatan oral/kebersihan gigi
• Beritahu efek bahaya merokok dan nasehat untuk berhenti
merokok pada klien atau orang terdekat
• Berikan informasi tentang pembatasan aktivitas
TERIMA KASIH