Anda di halaman 1dari 28

TL 4232 - EKOTEKNOLOGI LINGKUNGAN

TUGAS PROJECT UAS


EVALUASI DAN PERANCANGAN BIOPORI DI KECAMATAN SUKAJADI
BANDUNG

Disusun Oleh:
Annisa Gita Salsabila - 15317039
Putri Shafa Kamila - 15317054
Putri Alya Krisnamurti - 15317066
Nitya Ayu Sarastiana - 15317080

PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN LINGKUNGAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2020
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI.............................................................................................................................. i

DAFTAR GAMBAR ................................................................................................................ii

DAFTAR TABEL ................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1

I.1 Latar Belakang ............................................................................................................ 1

I.2 Rumusan Masalah ....................................................................................................... 2

I.3 Tujuan.......................................................................................................................... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 3

II.1 Banjir ........................................................................................................................... 3

II.2 Biopori ......................................................................................................................... 4

II.3 Kriteria Desain dan Cara Pembuatan Biopori ............................................................. 6

II.4 Kondisi Wilayah Kecamatan Sukajadi ........................................................................ 7

BAB III EVALUASI DAN PERANCANGAN BIOPORI ................................................ 8

III.1 Evaluasi Pembangunan Biopori............................................................................... 8

III.2 Perancangan ........................................................................................................... 12

BAB IV PENUTUP ............................................................................................................ 21

IV.1 Kesimpulan ............................................................................................................ 22

IV.2 Saran ...................................................................................................................... 23

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 23

i
DAFTAR GAMBAR
Gambar II.1 Ilustrasi banjir ........................................................................................................ 4
Gambar II.2 Biopori ................................................................................................................... 5
Gambar III.1 Kondisi eksisting biopori ................................................................................... 12
Gambar III.2 Tutup lubang biopori .......................................................................................... 20
Gambar III.3 Desain biopori yang akan dibangun ................................................................... 21

ii
DAFTAR TABEL
Tabel III.1 Data Jumlah Lubang Pori di Kecamatan Sukajadi .................................................. 8
Tabel III.2 Perhitungan Luas Lahan Kedap untuk 1 LBR, diameter 10 cm .............................. 9
Tabel III.3 Data Jumlah LBR yang dibuat pada RW 007 .......................................................... 9
Tabel III.4 Perbandingan kondisi ideal dan eksisting lubang biopori di Kecamatan Sukajadi 10
Tabel III.5 Data komposisi sampah di Kecamatan Sukajadi ................................................... 11
Tabel III.6 Data timbulan sampah di Kecamatan Sukajadi ..................................................... 11
Tabel III.7 Persentase wilayah ................................................................................................. 13
Tabel III.8 Hasil perhitungan panjang jalan dan luas jalan ..................................................... 14
Tabel III.9 Luas jalan ............................................................................................................... 14
Tabel III.10 Intensitas hujan .................................................................................................... 15
Tabel III.11 Luas lahan kedap air, laju peresapan, dan jumlah kebutuhan lubang biopori
setiap kelurahan ....................................................................................................................... 16
Tabel III.12 Luas ruang terbuka hijau per kelurahan ............................................................... 17
Tabel III.13 Timbulan sampah organik di setiap kelurahan .................................................... 17
Tabel III.14 Persen reduksi sampah ......................................................................................... 19
Tabel III.15 Rincian biaya ....................................................................................................... 20
Tabel III.16 Waktu pengerjaan dan biaya total ........................................................................ 21
Tabel IV.1 Evaluasi bangunan biopori .................................................................................... 22

iii
BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara beriklim tropis yang memiliki dua musim, yaitu musim
penghujan dan musim kemarau. Salah satu masalah yang sering terjadi adalah banjir
pada musim penghujan dan kekeringan pada musim kemarau. Sejak dahulu, banjir
merupakan masalah tahunan yang kerap terjadi khususnya di kota besar. Pada era
modern saat ini, terjadi pembangunan infrastruktur besar-besaran sebagai salah satu
strategi pembangunan nasional yang ditujukan untuk mengembangkan bidang ekonomi
dan sosial secara berkesinambungan. Hingga saat ini, Pulau Jawa masih menjadi pusat
perekonomian nasional dimana hampir 60% kegiatan ekonomi dilaksanakan di pulau
dengan luas wilayah sebesar 128.000 km2. Pembangunan besar-besaran ini merupakan
salah satu penyebab adanya perubahan tata guna lahan suatu wilayah. Perubahan tata
guna lahan suatu wilayah dapat menyebabkan banyak masalah, salah satunya banjir.

Banjir merupakan peristiwa yang terjadi akibat sumber datangnya air yang tidak
mampu menampung banyaknya air (khususnya air hujan), meluapnya air sungai,
hingga air laut pasang yang membuat air melebihi batas-batas air yang telah dibuat.
Perubahan tata guna lahan akibat pembangunan masif menyebabkan berkurangnya
daerah resapan, sehingga ketika air hujan turun dengan intensitas yang sangat besar, air
hujan yang terinfiltrasi hanya sedikit, sedangkan sisanya akan menjadi air limpasan
yang membuat daratan tergenang.

Kemungkinan banjir dapat dikurangi apabila masyarakat dapat menghentikan


pembuangan sampah sembarangan, tidak menebang pohon sembarangan, serta
membantu untuk melakukan tindakan siaga banjir dengan membuat lubang serapan
biopori. Biopori merupakan lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai
aktifitas organisme di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap, dan fauna
tanah lainnya yang terisi udara dan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah. Pada
tanah yang bagaian atasnya (top soil) menipis akibat terkikis oleh aliran air, lubang
biopori dapat membantu mempercepat laju infiltrasi air ke dalam tanah (sub soil) yang
relatif padat, serta membantu pemasukan bahan organik ke dalam tanah. Penggunaan
biopori yang dilakukan dengan perbaikan kondisi sub soil tanah dapat melancarkan
infiltrasi air ke tanah, sehingga cadangan air semakin terjamin. Namun, hingga kini
masih banyak pembangunan lubang biopori yang kurang tepat dan kurang sesuai

1
dengan kondisi eksisting wilayah pembangunan biopori, akibatnya pembangunan
lubang biopori tidak menyelesaikan masalah banjir yang ada, dimana masih kerap
ditemukan genangan air yang cukup tinggi ketika hujan turun. Sehingga diperlukan
evaluasi pembangunan lubang biopori yang tepat untuk mengatasi masalah yang ada.

I.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, maka yang menjadi rumusan masalah
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Bagaimana cara mengatasi genangan air yang masih tinggi ketika hujan turun?
2. Bagaimana kriteria desain yang tepat untuk pembangunan lubang biopori?
3. Bagaimana cara membangun biopori yang sesuai dengan kondisi eksisting wilayah
studi?

I.3 Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dijabarkan dalam sub bab I.2, berikut
merupakan tujuan penelitian yang ingin dicapai penulis.
1. Menentukan metode untuk menangani genangan air yang tinggi ketika hujan turun
2. Mengevaluasi bangunan biopori yang telah ada dalam wilayah studi
3. Menentukan metode pembangunan biopori yang sesuai dengan kondisi eksisting
wilayah studi.

2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Banjir
Banjir merupakan peristiwa tergenangnya air di suatu daerah dalam jumlah yang
begitu besar karena curah hujan dengan intensitas tinggi dan durasi lama pada daerah
aliran sungai. Sebagian besar curah hujan dialirkan sebagai limpasan (runoff) sehingga
dapat menyebabkan potensi terjadinya bencana banjir terutama pada daerah hilir. Air
hujan yang mengalir sebagai limpasan terjadi akibat penurunan daya tampung air
hujan karena kerusakan lingkungan dan perubahan fisik permukaan tanah.
Berikut ini merupakan jenis-jenis banjir berdasarkan penyebabnya di Indonesia, yaitu:

1. Banjir Bandang
Banjir ini terjadi secara tiba-tiba dan berlangsung hanya sesaat, umumnya
akibat curah hujan berintensitas tinggi dengan durasi pendek sehingga debit
sungai naik secara cepat. Banjir jenis ini biasa terjadi di daerah sungai yang
alirannya terhambat oleh sampah.
2. Banjir Hujan Ekstrim
Banjir ini umumya terjadi hanya dalam waktu 6 jam setelah hujan lebat mulai
turun dengan ditandai banyaknya awan yang menggumpal serta kilat yang keras
dan cuaca dingin. Banjir ini biasa terjadi akibat meluapnya sungai, khususnya
bila tanah sekitar sungai rapuh dan tidak mampu menahan banyak air.
3. Banjir Kiriman/ Luapan Sungai
Banjir ini berlangsung dalam waktu lama dan datang secara mendadak. Banjir
akibat sungai meluap ini kebanyakan bersifat musiman atau tahunan dan dapat
berlangsung selama berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu tanpa henti.
Umumnya banjir kiriman terjadi pada daerah lembah.
4. Banjir Pantai/Rob
Banjir rob terjadi karena air dari laut meresap ke daratan di dekat pantai dan
mengalir ke daerah pemukiman atau karena pasang surut air laut. Umumnya
banjir ini terjadi di daerah pemukiman yang dekat dengan pantai.
5. Banjir Hulu
Banjir yang terjadi dekat hulu sungai ini disebabkan karena tingginya debit air
yang mengalir sehingga alirannya sangat deras dan menyebabkan kerusakan.

3
Bencana banjir yang terjadi sering mengakibatkan hilangnya nyawa serta harta benda.
Kerugian akibat banjir dapat berupa kerusakan pada bangunan, kehilangan barang
berharga, hingga kerugian yang mengakibatkan tidak dapat pergi bekerja dan sekolah.
Dampak lainnya yaitu, banjir dapat melumpuhkan sarana dan prasarana, mencemari
lingkungan, mengganggu perekonomian, menyebabkan gangguan kesehatan
(penyakit), dan lain-lain.

Gambar II.1 Ilustrasi banjir


(Sumber: Rahadi, 2020)
II.2 Biopori
Biopori merupakan lubang-lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai
aktivitas organisme di dalamnya, seperti cacing, perakaran tanaman, rayap, dan fauna
tanah lainnya. Lubang tersebut akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya
air di dalam tanah. Lubang resapan biopori tersebut merupakan salah satu metode
untuk mengatasi masalah banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah.
Pembuatan lubang resapan biopori merupakan solusi yang ramah lingkungan serta
dapat meningkatkan ketersediaan air tanah dengan memanfaatkan sampah organik
melalui lubang kecil dalam tanah.

Terdapat 2 jenis biopori, yaitu biopori alam dan biopori buatan. Biopori alam
merupakan lubang-lubang kecil pada tanah yang terbentuk karena aktivitas organisme
yang hidup dalam tanah seperti cacing, rayap, atau pergerakan akar-akar tanaman dalam
tanah, sehingga air hujan tidak langsung masuk ke saluran drainase, tapi meresap ke
dalam tanah melalui lubang tersebut. Namun, biopori yang terbentuk secara alami ini
semakin berkurang akibat berkurangnya juga lahan terbuka di bumi. Oleh karena itu,

4
dibuat biopori buatan yang mengadopsi teknologi biopori alami dengan memanfaatkan
lahan sempit. Biopori buatan disebut lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke
dalam tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalamannya sekitar 100 cm atau tidak
melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang tersebut kemudian diisi dengan sampah
organik yang berfungsi untuk menumbuhkan mikroorganisme dalam tanah, seperti
cacing. Mikroorganisme tersebut akan membentuk pori-pori yang dapat mempercepat
resapan air ke dalam tanah.

Gambar II.2 Biopori


(Sumber: Sasetyaningtyas, 2020)
Manfaat Lubang Resapan Biopori, yaitu:
1. Mencegah banjir
Keberadaan biopori ini dapat menjadi solusi masalah banjir karena jika setiap
rumah, kantor, atau bangunan memiliki biopori, maka air hujan tidak akan
langsung melimpas ke badan air melainkan segera masuk ke tanah dalam jumlah
yang banyak.
2. Tempat pembuangan sampah organik
Banyaknya sampah yang bertumpuk menjadi masalah bagi suatu kota. Sampah
organik yang dihasilkan dari kegiatan sehari-hari dapat dibuang ke dalam
lubang biopori yang sudah dibuat.

5
3. Menyuburkan tanaman
Sampah organik yang dibuang ke dalam tanah dapat menjadi sumber nutrisi
bagi organisme yang ada di dalam tanah sehingga organisme tersebut dapat
menghasilkan pupuk kompos yang bermanfaat bagi kesuburan tanaman.
4. Meningkatkan kualitas air tanah
Organisme dalam tanah mampu mengubah sampah organik menjadi mineral-
mineral yang dapat larut dalam air, sehingga air tanah akan menjadi lebih
berkualitas karena mengandung mineral tersebut.

Berikut ini alasan lubang resapan biopori menjadi alternatif dalam pengelolaan air di
kawasan perkotaan, yaitu:

1. Sederhana dan praktis sehingga dapat dibuat oleh siapa saja.


2. Salah satu cara untuk memperbaiki kondisi tanah dan memperoleh pupuk
organik bagi yang gemar bercocok tanam.
3. Termasuk metode dengan biaya yang rendah serta dapat menumbuhkan
semangat gotong-royong di setiap lingkungan daerah perkotaan.
4. Kebutuhan lahan untuk membuat biopori tidak terlalu besar.
5. Sangat cocok diterapkan di wilayah perkotaan yang tanahnya penuh bangunan
sehingga dapat meningkatkan penyerapan air.

II.3 Kriteria Desain dan Cara Pembuatan Biopori

Menurut lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI No. 26 Tahun


2012 tentang Petunjuk Teknis Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus Bidang
Lingkungan Hidup Tahun Anggaran 2013, Lubang resapan biopori dibuat secara
vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10-30 cm, kedalaman sekitar 100 cm atau
melebihi kedalaman muka air tanah. Lubang ini kemudian diisi sampah organik
untuk mendorong terbentuknya biopori akibat aktivitas fauna di dalam tanah atau
akar tanaman.
Lubang resapan biopori dapat dibuat di halaman rumah, perkantoran, lapangan
parkir, parit, atau selokan yang berfungsi untuk aliran pembuangan air hujan saja,
serta di lahan kebun dan area terbuka lainnya.
Cara pembuatan lubang resapan biopori, yaitu:
a. Buat lubang silindris ke dalam tanah dengan diameter 10 cm, kedalaman 100 cm
atau jangan melampaui kedalaman air tanah pada dasar saluran atau alur yang

6
telah dibuat dengan menggunakan bambu, pipa besi atau alat bor tanah. Jarak
antar lubang 50-100 cm.
b. Mulut atau pangkal lubang dapat diperkuat dengan adukan semen selebar 2-3
cm, setebal 2 cm di sekeliling mulut lubang.
c. Isi lubang tersebut dengan sampah organik yang berasal dari dedaunan,
pangkasan rumput dari halaman atau sampah dapur
d. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah
berkurang atau menyusut karena proses pelapukan
e. Kompos yang terbentuk di dalam lubang dapat diambil setelah 2-3 bulan.
Jangan memasukkan sampah anorganik seperti plastik, kaleng, dan lain-lain ke dalam
lubang tersebut karena tidak dapat terurai.
Jumlah lubang biopori yang ada sebaiknya dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju
resapan air, dan wilayah yang tidak dapat meresap air dengan rumus:
𝐼×𝐴
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑙𝑢𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑏𝑖𝑜𝑝𝑜𝑟𝑖 =
𝑣
Keterangan:
I = Intensitas hujan (mm/jam)
A = Luas bidang kedap air (m2)
v = Laju resapan air per-lubang (L/jam)
II.4 Kondisi Wilayah Kecamatan Sukajadi
Hujan deras sering terjadi di Kota Bandung yang mengakibatkan beberapa wilayah
terendam. Dari beberapa wilayah yang terendam, Sukajadi termasuk wilayah yang
paling parah. Penyebab banjir terjadi karena tidak lancarnya saluran pembuangan air
yang menyebabkan air meluap serta kurangnya kesadaran masyarakat sekitar untuk
tidak membuang sampah ke aliran air, dan berkurangnya lahan terbuka yang berguna
untuk resapan air.
Saat ini, di Kota Bandung infrastruktur pengendali banjir seperti sumur resapan,
biopori, kolam retensi, dan lain-lain masih belum berfungsi secara optimal sehingga
dampak dan kerugian masih dirasakan oleh masyarakat wilayah tersebut. Dampak dari
genangan air yang deras ini salah satunya adalah menghambat transportasi, beberapa
kendaraan bermotor jadi sulit bergerak bahkan sampai mogok atau terbawa arus
genangan air.

7
BAB III EVALUASI DAN PERANCANGAN BIOPORI

III.1 Evaluasi Pembangunan Biopori


Berdasarkan observasi dan pencarian data sekunder yang telah dilakukan oleh penulis,
didapatkan hasil analisis mengenai biopori di Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung.
Data yang diperlukan untuk menentukan evaluasi pembangunan biopori di Kecamatan
Sukajadi adalah data jumlah lubang biopori, desain aktual biopori yang sudah dibuat,
dan data timbulan sampah organik. Berikut ini adalah data jumlah lubang biopori yang
sudah dibuat di Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung.

Tabel III.1 Data Jumlah Lubang Pori di Kecamatan Sukajadi

Jumlah Lubang
No Kelurahan Lokasi
Biopori
1 Sukabungah RW 09 12
2 Sukabungah RW 02 4
3 Sukabungah RW 07 3
4 Sukabungah RW 10 2
5 Sukabungah RW 12 3
6 Sukabungah RW 09 3
7 Sukabungah RW 01 1
8 Sukagalih RW 01 1
9 Sukagalih RW 02 1
10 Sukagalih RW 03 1
11 Sukagalih RW 04 1
12 Sukagalih RW 05 1
13 Sukagalih RW 06 1
14 Sukawarna RW 01 568
15 Sukawarna RW 02 219
16 Sukawarna RW 03 547
17 Sukawarna RW 04 235
18 Sukawarna RW 05 446
19 Sukawarna RW 06 182
20 Sukawarna RW 07 287
21 Pasteur RW 05 21
22 Pasteur RW 06 29
23 Pasteur RW 07 18
24 Pasteur RW 09 8

Jumlah lubang biopori yang ideal ditentukan oleh perhitungan intensitas hujan, luas
bidang kedap dan laju peresapan air per lubang. Jumlah biopori yang sudah dibuat di

8
berbagai kecamatan sudah ada yang memenuhi perhitungan yaitu Kecamatan
Sukawarna. Berikut ini adalah perhitungan jumlah lubang biopori yang sesuai di RW
007 Kecamatan Sukawarna dengan asumsi intensitas hujan diperkirakan 50 mm/jam
dan laju alir efektif adalah 60%.

Tabel III.2 Perhitungan Luas Lahan Kedap untuk 1 LBR, diameter 10 cm


Kecepatan rata-rata
h (cm) Luas lahan kedap (m2)
efektif (lt/jam)
40 551,69 11,04
60 733,71 14,67
80 909,28 18,19
100 821,25 16,425

Tabel III.3 Data Jumlah LBR yang dibuat pada RW 007


Luas Lahan Kedap
h (cm) Banyak LBR
(m2)
40 56 618,24
60 78 1144,26
80 81 1473,39
100 72 1182,6
Total 287 3235,89

Untuk kelurahan lain di Kecamatan Sukajadi, perhitungan kebutuhan lubang biopori


belum sesuai. Pembuatan lubang biopori hanya dilakukan di beberapa titik saja tanpa
memperhitungkan parameter perhitungannya. Sehingga perlu dilakukan evaluasi di
beberapa kelurahan yang belum melakukan kebutuhan perhitungan jumlah lubang
biopori yang sesuai dengan parameter perhitungan.

Menurut observasi yang sudah dilakukan, kondisi lubang biopori di Kecamatan


Sukajadi kurang baik. Dilihat dari kondisinya, lubang biopori yang ada di Kecamatan
Sukajadi tidak diisi dengan sampah organik yang seharusnya berfungsi untuk
menumbuhkan mikroorganisme dalam tanah, seperti cacing. Mikroorganisme tersebut
lah yang akan membentuk pori-pori yang dapat mempercepat resapan air tanah. Pada
kondisi aktualnya, lubang biopori yang tersedia terisi oleh sampah anorganik yang
dapat menyumbat penyerapan air dalam tanah. Kemudian jika dibandingkan dengan
kriteria desain yang seharusnya, berikut ini adalah perbandingan kondisi lubang biopori
dan evaluasinya.

9
Tabel III.4 Perbandingan kondisi ideal dan eksisting lubang biopori di Kecamatan
Sukajadi
Jenis Kriteria Kriteria Desain Kondisi aktual Evaluasi
Diameter 10 – 30 cm 7,5 – 15 cm Ada beberapa lubang biopori yang
ukuran diameternya masih belum sesuai
dengan kriteria desain, salah satunya
lubang biopori yang terdapat pada
Kelurahan Pasteur RW 005.
Kedalaman 100 cm 30 – 60 cm Lubang biopori yang berada di
Kelurahan Pasteur, Sukabungah dan
Sukagalih masih tidak memenuhi syarat
kriteria desain.
Pengisian Ada Tidak ada Pada seluruh lubang biopori di
sampah Kecamatan Sukajadi tidak diisi dengan
organic sampah organik untuk mendorong
terbentuknya biopori.
Lahan Halaman rumah, Jalan, selokan Kebanyakan biopori dibangun di
pembangunan selokan dan lahan dan halaman wilayah yang sudah sesuai, tetapi ada
terbuka lainnya rumah. beberapa biopori yang dibangun
sembarang tempat misalnya jalan.
Penutupan Ditutup dengan Ditutup dengan Diperlukan penutupan lubang pvc agar
lubang pipa pvc yang kawat, pipa pvc tidak berbahaya bagi orang lain. Hal ini
biopori dilubangi. dan ada yang disebabkan ada beberapa kasus di
terbuka begitu lingkungan Kecamatan Sukajadi,
saja. masyarakat di sana banyak yang
tersandung dan terluka akibat lubang
biopori yang terbuka. Selain itu lubang
penutup mencegah bau dari sampah
organik.

Lubang resapan biopori merupakan teknologi sederhana untuk meresapkan air hujan,
sekaligus mempercepat pelapukan sampah organik. Hal ini diperlukan agar lebih efektif
dalam meresapkan air hujan juga dirasakan sampah organik yang dihasilkan cukup

10
banyak. Maka dari itu, data timbulan sampah organik di Kecamatan Sukajadi
dibutuhkan. Namun pada kondisi eksisitingnya, lubang biopori di Kecamatan Sukajadi
tidak diisi dengan sampah organik. Menurut penelitian yang sudah dilakukan
sebelumnya, diketahui komposisi dan jumlah timbulan sampah di Kecamatan Sukajadi
adalah sebagai berikut.

Tabel III.5 Data komposisi sampah di Kecamatan Sukajadi


Komposisi
Jenis sampah Berat (kg)
sampah (%)
Organik 1,44 46,75
Kertas 0,89 28,90
Kayu 0,1 3,25
Kain 0 0,00
Plastik 0,385 12,50
Karet 0 0,00
Logam 0 0,00
Kaca/Gelas 0,04 1,30
B3 0 0,00
Dll 0,225 7,31
Total 3,08 100,00

Tabel III.6 Data timbulan sampah di Kecamatan Sukajadi


Timbulan sampah Timbulan sampah Densitas Timbulan sampah Timbulan sampah
(kg/hari) (kg/orang/hari (kg/m3) L/hari L/orang/hari
5,225 0,397316239 93,89783915 52,40112423 4,143720959

Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan, bila lubang yang dibuat berdiamter 1-
cm dengan kedalaman 100 cm maka setiap lubang dapat menampung 7,8 liter sampah
organik. Berdasarkan perhitungan timbulan sampah organik, setiap warga dapat
menghasilkan sampah organik sebanyak 2 L/hari. Dalam hal ini seharusnya
pemanfaatan sampah organik sebagai pengisi lubang biopori dapat dilakukan karena
komposisi dan timbulan sampah organik lebih bisa termanfaatkan dibandingkan dengan
dibuang begitu saja ke landfill.

11
Berikut ini adalah gambar biopori eksisting yang ada di Kecamatan Sukajadi.

Gambar III.1 Kondisi eksisting biopori


III.2 Perancangan

Berikut merupakan tahapan dalam perancangan biopori untuk wilayah Sukajadi.


1. Menghitung kebutuhan lubang biopori per kelurahan
Untuk menghitung kebutuhan lubang biopori maka digunakan data hidrologi dan
kondisi lingkungan yang mencakup intensitas hujan, lahan kedap air, dan laju
peresapan. Lahan kedap air dihitung sebagai berikut.
a. Menghitung persentase wilayah
Persentase wilayah dihitung sebagai berikut.

12
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑅𝑊 𝑑𝑖 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑟𝑎ℎ𝑎𝑛
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑤𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎ℎ (%) =
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑅𝑊
Berikut persentase wilayah untuk kelurahan Sukabungah.
12
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑤𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎ℎ = = 0.245
49

Cara yang sama digunakan untuk kelurahan lainnya. Hasil perhitungan


tercantum dalam tabel III.7.

Tabel III.7 Persentase wilayah

Kelurahan Jumlah RW Persentase wilayah

Sukagalih 6 0.122

Sukabungah 12 0.245

Cipedes 11 0.224

Pasteur 13 0.265

Total 49 1

b. Menghitung panjang jalan


Berikut persamaan untuk menghitung panjang jalan.

𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑟𝑎ℎ𝑎𝑛 = % 𝑤𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎ℎ × 𝑝𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑘𝑜𝑡𝑎

Berdasarkan literatur panjang jalan kota sebesar 17 km maka persamaannya


menjadi.

𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑟𝑎ℎ𝑎𝑛 = 𝑝𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑤𝑖𝑙𝑎𝑦𝑎ℎ × 17

Panjang jalan untuk kelurahan Sukabungah sebagai berikut.

𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 𝑡𝑖𝑎𝑝 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑟𝑎ℎ𝑎𝑛 = 0.245 × 17

= 4.163265306 𝑘𝑚

= 4163.265306 𝑚

Cara yang sama digunakan untuk kelurahan lainnya. Hasil perhitungan


tercantum dalam tabel III.8.

13
Tabel III.8 Hasil perhitungan panjang jalan dan luas jalan
Kelurahan Panjang jalan (17 km) Panjang jalan (m)

Sukagalih 2.081632653 2081.632653

Sukabungah 4.163265306 4163.265306

Cipedes 3.816326531 3816.326531

Pasteur 4.510204082 4510.204082

Sukawarna 2.428571429 2428.571429

17

c. Menghitung luas lahan kedap air


Dalam perhitungan luas lahan kedap air yang digunakan adalah luas jalan
sehingga luas lahan kedap air dapat dicari sebagai berikut.

𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟 = 𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 = 𝑃𝑎𝑛𝑗𝑎𝑛𝑔 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛 × 𝑙𝑒𝑏𝑎𝑟 𝑗𝑎𝑙𝑎𝑛
Lebar jalan sebesar 1.35 m maka luas jalan untuk kelurahan Sukabungah
sebagai berikut.

𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟 = 4163.265306 × 1.35

= 5620.408163 m2
Cara yang sama digunakan untuk kelurahan lainnya. Hasil perhitungan
tercantum dalam tabel III.9.
Tabel III.9 Luas jalan
Kelurahan Luas jalan (m2)

Sukagalih 2810.204082

Sukabungah 5620.408163

Cipedes 5152.040816

Pasteur 6088.77551

Sukawarna 3278.571429

4590

14
Laju peresapan untuk lahan kedap air seluas 100 m2 yaitu sebesar 180 L/jam
maka untuk menghitung laju peresapan wilayah studi dapat digunakan
perbandingan sebagai berikut.

𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟 𝑟𝑎𝑡𝑎 − 𝑟𝑎𝑡𝑎


𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑒𝑠𝑎𝑝𝑎𝑛 = × 180
100

4590
= × 180
100

= 4597.2 L/jam

Dalam menentukan intensitas hujan tertinggi di Kota Bandung digunakan data


sekunder analisis hidrologi Kota Bandung sehingga didapat data intensitas
hujan sebagai berikut.
Tabel III.10 Intensitas hujan

PUH yang digunakan untuk wilayah perkotaan merupakan PUH 25 dan te 5


menit sehingga intensitas curah hujan tertinggi Kota Bandung sebesar 243
mm/jam.
Sehingga kebutuhan lubang biopori untuk setiap kelurahan dapat dihitung
dengan persamaan sebagai berikut.

𝑚𝑚
𝑖𝑛𝑡𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 ℎ𝑢𝑗𝑎𝑛 (𝑗𝑎𝑚) × 𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑏𝑖𝑑𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑑𝑎𝑝 𝑎𝑖𝑟(𝑚2 )
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐿𝑅𝐵 =
𝑙𝑖𝑡𝑒𝑟
𝐿𝑎𝑗𝑢 𝑟𝑒𝑠𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑎𝑖𝑟 𝑝𝑒𝑟 𝑙𝑢𝑏𝑎𝑛𝑔 ( 𝑗𝑎𝑚 )

Sebagai contoh jumlah kebutuhan lubang biopori untuk kelurahan sukabungah


sebagai berikut.

15
243 × 5620.408163
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐿𝑅𝐵 =
4957.2

= 275.5102041 ≈ 276 𝑙𝑢𝑏𝑎𝑛𝑔

Cara yang sama digunakan untuk menghitung jumlah kebutuhan lubang biopori
di kelurahan lainnya. Untuk kelurahan Sukawarna tidak dilakukan perhitungan
jumlah lubang biopori karena pada kondisi aktual jumlah lubang biopori di
Sukawarna sudah sesuai. Hasil perhitungan jumlah kebutuhan lubang biopori
untuk kelurahan cipedes, sukagalih, dan pasteur tercantum dalam tabel III.11.

Tabel III.11 Luas lahan kedap air, laju peresapan, dan jumlah kebutuhan
lubang biopori setiap kelurahan
Intensitas hujan Laju Peresapan Jumlah Lubang Jumlah Lubang Biopori
Kelurahan
(mm/jam) (L/jam) Biopori (dengan pembulatan)

Sukabungah 275.5102041 276

Sukagalih 137.7551021 138


243 4957.2
Pasteur 298.4693877 299

Cipedes 252.5510204 253

2. Menghitung luas ruang terbuka hijau


Lubang biopori akan dibuat di ruang terbuka hijau atau di bagian lahan yang tidak
kedap air per kelurahan sehingga perlu dihitung berapa luas ruang terbuka hijau
yang tersedia dengan persamaan sebagai berikut.

𝐽𝑚𝑙 𝑙𝑢𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑟𝑒𝑠𝑎𝑝𝑎𝑛 𝑏𝑖𝑜𝑝𝑜𝑟𝑖


𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑟𝑢𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑢𝑘𝑎 ℎ𝑖𝑗𝑎𝑢 = × 𝑙𝑢𝑎𝑠 𝑡𝑎𝑛𝑎ℎ 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙
𝐽𝑚𝑙 𝑙𝑢𝑏𝑎𝑛𝑔 𝑖𝑑𝑒𝑎𝑙

Dengan asumsi untuk luas tanah ideal 100 m2 jumlah lubang biopori ideal sebanyak
50 dengan diameter 10 cm. Luas ruang terbuka hijau untuk kelurahan sukabungah
sebagai berikut.
276
𝐿𝑢𝑎𝑠 𝑟𝑢𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑏𝑢𝑘𝑎 ℎ𝑖𝑗𝑎𝑢 = × 100
50
= 552 m2

16
Cara yang sama digunakan untuk menghitung luas ruang terbuka hijau di kelurahan
lainnya. Hasil perhitungan luas ruang terbuka hijau untuk kelurahan sukawarna,
sukagalih, dan pasteur tercantum dalam tabel III.12.

Tabel III.12 Luas ruang terbuka hijau per kelurahan

Jumlah Lubang
Luas Ruang
Kelurahan Biopori (dengan
Terbuka Hijau (m2)
pembulatan)

Sukabungah 276 552

Sukagalih 138 276

Pasteur 299 598

Cipedes 253 506

3. Menghitung timbulan sampah organik


Dalam biopori yang dibangun digunakan sampah organik sehingga perlu dihitung
besar timbulan sampah organik yang dihasilkan oleh setiap kelurahan dengan
timbulan sampah organik 2 L/orang/hari. Berikut persamaan untuk menghitung
timbulan sampah setiap kelurahan.
𝐿
𝑜𝑟𝑔𝑎𝑛𝑖𝑘 2 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
𝑇𝑖𝑚𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎ℎ = × 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑛𝑑𝑢𝑑𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑟𝑎ℎ𝑎𝑛
𝑘𝑒𝑙𝑢𝑟𝑎ℎ𝑎𝑛 ℎ𝑎𝑟𝑖

Berikut timbulan sampah organik untuk kelurahan sukabungah


𝐿
2 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔
𝑇𝑖𝑚𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎ℎ 𝑜𝑟𝑔𝑎𝑛𝑖𝑘 = × 25.388
ℎ𝑎𝑟𝑖
= 50.776 L/hari
Cara yang sama digunakan untuk menghitung timbulan sampah organik di
kelurahan lainnya. Hasil perhitungan tercantum dalam tabel III.13.
Tabel III.13 Timbulan sampah organik di setiap kelurahan

Kelurahan Jumlah penduduk (orang) Timbulan sampah organik


(L/hari)

Sukabungah 25.388 50.776

17
Kelurahan Jumlah penduduk (orang) Timbulan sampah organik
(L/hari)

Sukagalih 18.799 37.598

Sukawarna 14.583 29.166

Pasteur 19.746 39.492

Cipedes 31.840 63.680

Satu lubang biopori memiliki volume 7,8 L dengan volume tampungan sampah
80% dari volume total biopori yaitu sebesar 6,24 L. Sehingga didapat volume
tampungan sampah dan persentase reduksi sampah organik sebagai berikut.
Volume tampungan sampah sebagai berikut,

𝑉 𝑡𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎ℎ = 𝑡𝑖𝑚𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎ℎ × 6,24 × 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑖𝑜𝑝𝑜𝑟𝑖

Volume tampungan sampah untuk kelurahan Sukabungah sebagai berikut,

𝑉 𝑡𝑎𝑚𝑝𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎ℎ 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = 𝑡𝑖𝑚𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎ℎ × 6,24 × 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑖𝑜𝑝𝑜𝑟𝑖

= 50776 × 6,24 × 276

= 1722.24 L

Cara yang sama digunakan untuk kelurahan lainnya. Hasil perhitungan


tercantum dalam tabel III.14.
Persen reduksi sampah dihitung sebagai berikut.

𝑆𝑒𝑙𝑖𝑠𝑖ℎ 𝑡𝑖𝑚𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎ℎ


𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛 𝑟𝑒𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎ℎ = × 100%
𝑡𝑖𝑚𝑏𝑢𝑙𝑎𝑛 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎ℎ

Berikut persen reduksi sampah untuk kelurahan Sukabungah

49053,76
𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛 𝑟𝑒𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎ℎ = × 100%
50776

= 3,391838664%

18
Cara yang sama digunakan untuk kelurahan lainnya. Hasil perhitungan
tercantum dalam tabel III.14.
Tabel III.14 Persen reduksi sampah
Volume Selisih
Timbulan Persen reduksi
Kelurahan tampungan sampah timbulan
sampah sampah
total (L) sampah

Sukabungah 50776 1722.24 49053.76 3.391838664

Sukagalih 37598 861.12 36736.88 2.290334592

Pasteur 29166 1865.76 27300.24 6.397037647

Cipedes 39492 1578.72 37913.28 3.997569128

Dengan adanya biopori maka sampah organik di Sukabungah akan tereduksi


sebesar 3.391838664%, Sukagalih sebesar 2.290334592%, Pasteur sebesar
6.397037647%, dan Cipedes sebesar 3.997569128%. Dari data ini dapat dilihat
bahwa reduksi sampah organik sangat rendah, sehingga fokus utama lubang
biopori bukan untuk pembentukan pupuk kompos, tetapi sebagai penampungan
cadangan air tanah. Dalam hal ini pupuk kompos menjadi produk sampingan
saja. Sebagai fokus utama lubang biopori yaitu pengoptimalan mikroorganisme,
maka dalam konstruksinya tidak perlu pipa dengan panjang 100 cm karena akan
menghambat kinerja mikroorganisme tanah. Namun dalam pembangunan
biopori di Kecamatan Sukajadi menggunakan pipa pvc di mulut lubang untuk
menjaga konstruksi tanah. Hal ini sudah sesuai dengan petunjuk teknis
Permenhut P.70/Menhut-II/2008 tentang teknis rehabilitasi tanah dan lahan.

4. Kebutuhan biaya dan Waktu Pengerjaan

Dalam membuat biopori dibutuhkan bahan-bahan sebagai berikut:

a. Pipa PVC potongan pendek yang digunakan untuk menjaga konstruksi tanah.
b. Semen untuk memperkuat mulut lubang
c. Tutup lubang biopori dengan bahan PVC sebagai penutup lubang biopori dan
sebagai tempat untuk masuknya air dan sampah organik. Berikut adalah tutup
lubang biopori yang digunakan.

19
Gambar III.2 Tutup lubang biopori
Sumber : Sustanation.id
d. Bor tanah untuk melubangi tanah yang akan digunakan untuk membangun
biopori.
Berikut merupakan biaya yang diperlukan untuk membuat satu lubang biopori.
Tabel III.15 Rincian biaya

Keterangan Biaya

Sock Sambungan Pipa Pvc Ukuran 4 Rp21.900


Inch

Semen @0,5 kg Rp700

Tutup pipa PVC untuk biopori Rp5.000

Bor tanah @1 setiap pekerja Rp98.000

Gaji pekerja @ 1 pekerja/hari Rp60.000

Dalam satu hari, satu orang pekerja dapat membuat 10 lubang biopori. Hal ini akan
berkaitan dengan biaya. Biaya yang dibutuhkan akan menyesuaikan dengan
banyaknya lubang biopori, waktu pengerjaan dan jumlah pekerja yang ada untuk
biopori. Maka biaya yang dibutuhkan untuk membuat lubang biopori dan waktu
pengerjaan di kelurahan Sukabungah sebagai berikut.

𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = (𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝐿𝑅𝐵 × 𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑟 𝐿𝑅𝐵)


+ (𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎 × 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑒𝑟𝑗𝑎𝑎𝑛 × 𝑔𝑎𝑗𝑖 𝑝𝑒𝑘𝑒𝑟𝑗𝑎)
+ (𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑜𝑟 × ℎ𝑎𝑟𝑔𝑎 𝑏𝑜𝑟)

20
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙 = (276 × 𝑅𝑝27.600) + (2 × 14 × 𝑅𝑝60.000) + (2 × 𝑅𝑝98.000)

= 𝑅𝑝 9.493.600

Cara yang sama digunakan untuk menghitung biaya pada kelurahan lainnya. Hasil
perhitungan tercantum dalam tabel III.16.

Tabel III.16 Waktu pengerjaan dan biaya total

Kelurahan Jumlah lubang biopori Jumlah pekerja Waktu pengerjaan Biaya

Sukabungah 276 2 14 Rp9.493.600

Sukagalih 138 1 14 Rp4.746.800

Pasteur 299 2 15 Rp10.248.400

Cipedes 253 2 13 Rp8.738.800

Total Rp33.227.600

Berikut ini adalah desain gambar perancangan biopori di Kecamatan Sukajadi.

Gambar III.3 Desain biopori yang akan dibangun

21
BAB IV PENUTUP

IV.1 Kesimpulan
Berikut ini adalah kesimpulan dari penulisan laporan evaluasi dan perancangan biopori
di Kecamatan Sukajadi, Bandung.
1. Metode yang tepat untuk menangani genangan air ketika hujan turun di
Kecamatan Sukajadi adalah optimalisasi pembangunan biopori dan saluran
drainase.
2. Evaluasi bangunan biopori yang telah ada dalam wilayah studi yaitu Kecamatan
Sukajadi adalah sebagai berikut.

Tabel IV.1 Evaluasi bangunan biopori

Jenis Kriteria Kriteria desain Kondisi aktual Evaluasi


Diameter 10 – 30 cm 7,5 – 15 cm Ada beberapa lubang biopori yang ukuran
diameternya masih belum sesuai dengan
kriteria desain, salah satunya lubang biopori
yang terdapat pada Kelurahan Pasteur RW
005.
Kedalaman 100 cm 30 – 60 cm Lubang biopori yang berada di Kelurahan
Pasteur, Sukabungah dan Sukagalih masih
tidak memenuhi syarat kriteria desain.
Pengisian Ada Tidak ada Pada seluruh lubang biopori di Kecamatan
sampah Sukajadi tidak diisi dengan sampah organik
organik untuk mendorong terbentuknya biopori.
Lahan Halaman rumah, Jalan, selokan Kebanyakan biopori dibangun di wilayah
pembangunan selokan dan lahan dan halaman yang sudah sesuai, tetapi ada beberapa
terbuka lainnya rumah. biopori yang dibangun sembarang tempat
misalnya jalan.
Penutupan Ditutup dengan Ditutup dengan Diperlukan penutupan lubang pvc agar tidak
lubang pipa pvc yang kawat, pipa pvc berbahaya bagi orang lain dan tidak
biopori dilubangi. dan ada yang menghasilkan bau dari sampah organik.
terbuka begitu
saja.

22
3. Perancangan biopori dilakukan untuk menentukan jumlah biopori yang sesuai,
luas bidang resapan ruang terbuka hijau, penggunaan sampah organik dan estimasi
pembangunan biopori.

IV.2 Saran
Pembangunan biopori ini selain dapat dilakukan oleh lembaga terkait, dapat dilakukan
oleh individu. Masyarakat dapat berperan aktif dalam pembangunan biopori di
rumahnya masing-masing. Pembangunan biopori ini sangat sederhana dan
membutuhkan biaya yang sedikit. Selain itu dalam upaya penanganan genangan air
hujan, Kecamatan Sukajadi dapat melakukan optimalisasi saluran drainase.

23
DAFTAR PUSTAKA

Bayong, Tjasyono, dkk. 2007. Proses Meteorologis Bencana Banjir di Indonesia. [online]
https://www.researchgate.net/publication/265267743_PROSES_METEOROLOGIS_
BENCANA_BANJIR_DI_INDONESIA/references (diakses pada 27 April pukul
10.20 WIB)
Karuniastuti, Nurhenu. 2014. Teknologi Biopori Untuk Mengurangi Banjir dan Tumpukan
Sampah Organik. Forum Teknologi. 04(2): 60-67.
Lampiran I Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup RI No. 26 Tahun 2012. Petunjuk
Teknis Pemanfaatan Dana Alokasi Khusus Bidang Lingkungan Hidup. 2013, No. 168.
Pipa Jaya. 2020. Harga Pipa PVC. [online] https://www.pipajaya.com/harga-pipa-pvc/ (diakses
pada 27 April 2020 pukul 20.15 WIB)
Sanitya, Ria Sarah, dan Burhanudin, Hani. 2014. Penentuan Lokasi dan Jumlah Lubang
Resapan Biopori di Kawasan DAS Cikapundung Bagian Tengah. Jurnal Perencanaan
Wilayah dan Kota. 13(1): 1-14.
Yulius, Elma. 2014. Analisa Curah Hujan dalam Membuat Kurva IDF pada DAS Bekasi.
Bentang. 2(1): 1-8.

23

Anda mungkin juga menyukai