Anda di halaman 1dari 34

Case Report – Hemorrhoid

Oleh:
Desmyanti 202006010141
Pembimbing:
dr. Jefferson Marampe, Sp. B, FINACS FICS
 Nama : Tito Bihaqqi
 Usia : 17 tahun

 Jenis Kelamin : Laki-laki


 Status : Belum Menikah
Identitas Pasien
 Pekerjaan : Pelajar

 Alamat : Asrama Polri Kalideres Blok L No. 6


 No. RM :00780876
 Keluhan Utama: benjolan di sekitar lubang anus sejak
Anamnesis 2 bulan SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke Poli Bedah Umum RS Bhayangkara Tk. I
Raden Said Sukanto dengan keluhan terasa benjolan di
sekitar lubang anus sejak 2 bulan SMRS. Benjolan
dirasakan ada terus menerus, tidak bisa kembali masuk
kedalam anal canal, dan disertai nyeri di daerah anus.

Anamnesis Nyeri yang dirasakan berdenyut dan hilang timbul


dengan skala VAS 4. Riwayat gatal di daerah anus,
terdapat bercak kotoran pada pakaian dalam, BAB
berdarah+lendir, demam, mual muntah, penurunan berat
badan, mengedan saat BAK/BAB disangkal oleh pasien.
Pasien mengaku ingin melakukan tindakan bedah
terhadap benjolannya karena ingin masuk ke kepolisian.
 Riwayat Penyakit Dahulu:
 Tidak ada riwayat penyakit yang sama
 Tidak ada riwayat operasi
 Hipertensi (-)
 DM (-)
 Alergi (-)

 Riwayat Penyakit Keluarga:


 Ayah pasien menjalani operasi karena memiliki kondisi yang serupa

Anamnesis  Hipertensi (-)


 DM (-)
 Alergi (-)

 Riwayat Kebiasaan:
 Pasien rutin makan sayur dan buah, namun pasien mengaku selalu makan makanan
pedas. Alkohol & merokok disangkal. Pasien merupakan siswa kelas 3 SMA

 Riwayat Pengobatan:
 Pasien mengaku mengkonsumsi obat antihemorroid
 Keadaan Umum : Sakit sedang
 Kesadaran : Compos mentis

 Tanda-tanda vital
- Tekanan Darah : 110/70
- Nadi : 89x/menit
Pemeriksaan - RR : 20x/menit
Fisik - Suhu : 36° C
 Antropometri
- BB : 71
- TB : 173
- IMT : 23.7
• Kepala : normocephali, deformitas (-)
• Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik
(-/-), pupil bulat, isokor, diameter pupil 3mm/3mm,
RCL (+/+), RTCL (+/+)
• Hidung : deviasi septum (-), deformitas (-),
Status Generalis discharge (-), massa (-)
• Telinga :deformitas (-), discharge (-), massa (-)
• Mulut :mukosa oral basah, faring hiperemis (-),
T1/T1
• Leher : trakea ditengah, pembesaran KGB (-)
 Thorax
Paru-paru:
- Inspeksi : gerak pernapasan terlihat simetris, tidak ada
bagian paru yang tertinggal, jejas (-)
- Palpasi : gerakan pernapasan teraba simetris
- Perkusi : sonor pada kedua lapang
- Auskultasi : Vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Status Generalis Jantung:
- Inspeksi : iktus cordis tidak terlihat
- Palpasi : iktus cordis teraba di linea midclavicularis ICS 5
- Perkusi : Batas kanan: linea parasternalis dekstra ICS 4,
batas kiri: linea midclavicularis sinistra ICS 5,
batas atas linea parasternalis sinistra ICS 2
- Auskultasi : S1 dan S2 reguler, murmur (-), gallop (-)
 Abdomen
Inspeksi : tampak datar

Auskultasi : bising usus (+) 6x/menit


Perkusi : Timpani , nyeri ketok CVA (-),
Status Generalis
Palpasi : nyeri (-), massa(-)

 Ekstremitas
Akral hangat, CRT<2 detik, edema (-/-/-/-).
 Regio Anus
Status Lokalis Inspeksi : terdapat massa pada posisi arah jam 5

, permukaan kulit, dan warna sama


dengan warna sekitar
Palpasi : massa teraba kenyal, batas tegas,

ada nyeri tekan


 Rectal Touche
Tonus sfingter ani kuat, mukosa licin, ampula

recti tidak kolaps, tidak teraba massa


Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan
Hematologi
Hemoglobin 14,4 13 – 16 g/dL
Hematokrit 45 40 – 48 %
Leukosit 4.400 5.000 – 10.000 /mm3
Pemeriksaan
150.000 –
Penunjang Trombosit 236.000
400.000
/mm3

(10/08/21) Laju Endap


4 <15 mm/jam
Darah
Masa
2 1–6 s
Pendarahan
Masa
12 10 - 15 s
Pembekuan
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan

Kimia Klinik

Ureum 17 10-50 mg/dl

Creatinine 1,0 0,5-1,5 U/L

eGFR 110 >= 90 mL/min/1.73m²


Pemeriksaan SGOT 19,3 <37 U/L
Penunjang
(10/08/21) SGPT 10,8 <40 U/L

GDS 70 <200 mg/dl

HbsAg (17/08/21) Non Reaktif Non Reaktif

Anti HCV
Non Reaktif Non Reaktif
(17/08/21)
SARS COV-2
Antigen Rapid Test Negatif Negatif
(17/08/21)
 Anamnesis
- Benjolan disekitar lubang anus sejak 2 bulan SMRS

- Benjolan dirasakan terus-menerus, tidak dapat kembali ke

lubang anus, dan disertai nyeri di daerah anus

- Nyeri berdenyut, hilang timbul, skala VAS 4

- Riwayat gatal di daerah anus, bercak kotoran pada


Resume celana dalam, BAB lendir+darah, demam, mual muntah,

penurunan berat badan, mengedan saat BAK/BAB

disangkal

- Pasien ingin masuk ke kepolisian

- Ayah pasien menjalani operasi  memiliki kondisi yang


serupa
 Pemeriksaan Fisik
- Status Lokalis  massa pada posisi arah jam 5,
permukaan kulit, warna sama dengan sekitar. Pada
palpasi massa teraba kenyal, batas tegas, terdapat nyeri
tekan

- Rectal Touche  mukosa licin, tidak teraba massa


Resume
 Pemeriksaan Penunjang
- Leukosit dibawah normal
Diagnosis Pre-  Hemorrhoid Eksterna dengan Trombosis
Operatif
 Konsul bedah (pro Hemorrhoidectomy)
 Dulcolax tab. 2 buah jam 21.00 (17/8/21)
 Dulcolax 2 supp. jam 05.00 (18/8/21)
 Post-Op
Tatalaksana - Ceftriaxone 1x2gr
- Ketorolac 3x30 mg
- Ranitidine 2x1 amp
- Rendam PK 15 menit  kemudian disalepin gentamicin
 Quo ad vitam : bonam
 Quo ad functionam : bonam
Prognosis
 Quo ad sanationam : bonam
TINJAUAN PUSTAKA
Hemorrhoids  Bantalan jaringan submucosa yang mengandung
venule, arteriol, otot polos berlokasi pada kanalis anal
 Pelebaran & inflamasi pembuluh darah vena di daerah
anus yang berasal dari plexus hemoroidalis

- Eksterna
- Interna
Anatomy  Eksterna : pelebaran pembuluh vena (pleksus
hemoroid inferior) yang berada dibawah kulit
(subkutan), di bawah linea dentata, somatic
innervation
 Internal : pelebaran pembuluh vena (pleksus
hemoroid superior) yang berada dibawah mukosa
(submucosa), diatas linea dentata, visceral
innervation
 4-5% Prevalensi Symptomatic Hemorrhoids
 22% Prevalensi Asymptomatic
Epidemiologi  45-65 tahun prevalensi terbanyak
 Pria = wanita
 Mengedan pada BAB yang sulit
 Pola BAB yang salah (terlalu lama duduk di jamban)
 Peningkatan tekanan intraabdomen karena tumor
 Kehamilan
Faktor Risiko  Usia tua
 Konstipasi
 Kurang mengkonsumsi makanan berserat
 Kurang olahraga/imobilisasi
 Painless rectal bleeding (merah terang)
 Prolaps hemorrhoid
 Gatal, bercak feses
Gambaran Klinis  Nyeri pada Hemorrhoid Eksterna dan Interna Grade III-
IV yang mengalami trombosis
 Anemia
 Status General
 Status Lokalis
- Inspeksi : bila hemoroid prolapse, lapisan epitel
penutup bagian yang menonjol keluar ini
mengeluarkan mucus  dapat dilihat apabila penderita
Pemeriksaan diminta mengedan.

Fisik - Palpasi : hemoroid interna biasanya tidak nyeri.


 Rectal Touche
- Hemorroid interna dapat tidak teraba pada grade
rendah. Untuk menyingkirkan DD/karsinoma rectum
 Anoskopi  untuk melihat hemoroid interna yang tidak
Pemeriksaan menonjol keluar

Penunjang  Proktosigmoidoskopi
Diagnosis
Banding
 Tujuan : mencegah perburukan penyakit
 Perbaikan pola hidup, pola makan dan minum, dan pola
Penatalaksanaaan defekasi
Medis  Pola defekasi  Bowel Management Program  diet,
Nonfarmakologis cairan, serat tambahan, pelunak feses, & perubahan
perilaku buang air
 Tujuan: untuk memperbaiki defekasi dan meredakan atau menghilangkan
keluhan dan gejala
 Terapi untuk memperbaiki defekasi:
- Suplemen serat : pysillum atau isphagula Husk
- Laksan/pencahar
- Laxadine emulsi  phenolptalein 55 mg,
paraffin liquidum 1200 mg, glycerin 378 mg
- Dulcolax  Bisacodyl

Penatalaksanaan Sediaan tab 5 mg; suppositoria 5 mg, 10 mg

Medis Dosis dewasa: 2-3 tab/hari, 1 sup 10 mg/hari


_ Microlax  Na laury sulfoacetate 45 mg, Na
Farmakologis citrate 450 mg, sorbic acid 5 mg, PEG 400 625 mg,
sorbitol 4.465 mg
 Terapi simptomatik  mengurangi keluhan gatal, kerusakan kulit daerah anus
 Anusol, Borraginol, Faktu. Sediaan bentuk suppositoria diberikan pada
hemoroid interna, sediaan ointment diberikan pada hemoroid eksterna
Dosis Borraginol-N sup : sup 3x sehari
Dosis Faktu : 1 sup 2x sehari, ointment oles 3x sehari
 Terapi untuk menghentikan perdarahan
- Bioflavonoid  dapat membantu memperbaiki

permeabilitas dinding pembuluh darah 


misalnya kombinasi hesperidin dan dosmin
Dosis Ardium : serangan hemoroid akut 6
Penatalaksanaan tab/hari pada 4 hari pertama, kemudian 4
Medis Hemoroid tab/hari selama 3 hari, selanjutnya 2 tab/hari.
Hemoroid kronik 2 tab/hari

 Tindakan medis minimal invasive  memperlambat


perburukan penyakit dengan tindakan-tindakan yang
tidak terlau invasive  skleroterapi hemoroid, ligase
hemoroid, atau terapi laser
 Tindakan Bedah  hemorroidektomi
- Pada penderita yang mengalami keluhan menahun
- Pada penderita hemoroid interna derajat III atau IV
Penatalaksanaan - Penderita dengan perdarahan berulang dan anemia
yang tidak sembuh dengan cara lainnya yang lebih
Medis Hemoroid sederhana
- Cara lain : hemoroidopeksi dengan stapler  rasa sakit
pasca bedah paling minimal
TERIMA KASIH