Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH ETIKA HUKUM DALAM KEBIDANAN

OLEH

NAMA : NOFITA MAKEHE


NIM : 1218017

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
GEMA INSAN AKADEMIK
MAKASSAR
2021
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas karunia Nya lah kami
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ETIKA HUKUM DALAM KEBIDANAN”.
Ada pun tujuan pembuatan tugas ini untuk melengkapi tugas mata kuliah ETIKA
KEBIDANAN. Kami menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan-
kekurangan, oleh karena itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang mendukung
dalam pembuatan makalah ini lebih baik selanjutnya. Kami berharap dengan adanya makalah
ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua.
Akhir kata kami ucapkan terima kasih.
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI........................................................................................................... i
BAB I PENDAHULUAN...................................................................................... ii
A. Latar Belakang.......................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah...................................................................................... 1
C. Tujuan ....................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................ 2
A. Pengertian hukum......................................................................................... 3
B. disiplis hukum.............................................................................................. 3
C. macam-macam hukum ................................................................................. 3
D.Aspek etika hukum praktik kebidanan............................................................ 6
E. Hukum dusiplis dan hukum peristilahan hukum........................................... 8
BAB III PENUTUP................................................................................................. 12
A. Kesimpulan........................................................................................... 12
B. Saran..................................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1    Latar Belakang
Banyak permasalahan yang terjadi dalam praktik kebidanan yang sering kita jumpai.
Permasalahan yang terjadi semakin kompleks karena kurang diterapkannya hukum, etika dan
moral yang berlaku dalam ruang lingkup kebidanan, masyarakat, bangsa dan Negara.
Hukum yang berkaitan erat dengan ketentuan-ketentuan peraturan yang berlaku dan
harus ditaati, jika melanggar akan mendapatkan sanksi sesuai dengan berat dan ringannya
perilaku hukum yang dilanggar. Hukum bersifat mengikat, maka dari itu keterikatan tersebut
membuat tingkat kesadaran untuk menaati aturan sangatlah tinggi.
Etika merupakan ilmu tentang baik dan buruk serta tentang hak dan kewajiban moral
(akhlak). Dengan etika lebih mengajarkan bidan untuk berbuat yang mengarah pada hukum
dan norma yang berlaku untuk ditaati dan diterapkan dalam memberikan pelayanan
kebidanan kepada masyarakat.
Moral tidak jauh berbeda dengan etika namun moral mengajarkan nilai yang sudah
diakui secara umum. Hal ini berkaitan dengan  tindakan susila, budi pekerti sikap, kewajiban
dan lain-lain.
Dengan keterkatan antara hukum, etika dan moral, diharapkan permasalahan yang
terjadi dalam praktik kebidanan dapat diseleaikan dengan baik dengan tetap memperhatikan
sisi kenyamanan dan keamanan masyarakat.

2    Rumusan  Masalah
  Bagaimana  Aspek Hukum
Bagaimana disiplin hukum dan keterkatannya dengan moral dan etika?
   Apa  saja peristilahan dalam hukum

1.3    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa mampu memahami
tentang aspek hukum dalam praktek kebidanan dan hukum, disiplin hukum serta peristilahan
hukum.
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Hukum
Pengertian hukum  menuru para ahli hukum di antaranya: Definisi Hukum dari Kamus
Besar Bahasa Indonesiaa (1997) Peraturan atau adat, yang secara resmi dianggap mengikat
dan dikukuhkan oleh penguasa, pemerintah atau otoritas. Undang-undang, peraturan dan
sebagainya untuk mengatur kehidupan masyarakat.    Patokan (kaidah,
ketentuan).   Keputusan (pertimbangan) yang ditentukan oleh hakim dalam pengadilan, vonis.
Menurut Plato , Hukum adalah sistem peraturan-peraturan yang teratur dan tersusun
baik yang mengikat masyarakat.
Menurut   Aristoteles Hukum yaitu kumpulan peraturan yang tidak hanya mengikat
masyarakat tetapi juga hakim
Menurut   Austin Hukum adalah sebagai peraturan yang diadakan untuk memberi
bimbingan kepada makhluk berakal oleh makhluk berakal yang berkuasa atasnya
(Friedmann, 1993: 149).
Jadi, hukum adalah himpunan peraturan-peraturan yang dibuat oleh penguasa negara
atau pemerintah secara resmi melalui lembaga atau intuisi hukum untuk mengatur tingkah
laku manusia dalam bermasyarakat, bersifat memaksa, dan memiliki sanksi yang harus
dipenuhi oleh masyarakat.

B.    Disiplin Hukum
Disiplin hukum adalah Suatu sistem ajaran tentang hukum diantaranya terdapat Ilmu
hukum yang merupakan satu bagian dari disiplin hukum. Bagian Disiplin Hukum antara lain :
·         Ilmu Hukum
·        kaidah hukum (validitas sebuah hukum)
·         kenyataan hukum (sejarah, antropologi, sosiologi,  psikologi,
·         pengertian hokum
·         Filsafat hukum sistem ajaran yang pada hakikatnya menjadi kerangka utama dari segala
ilmu hukum dan hukum itu sendiri beserta segala unsur penerapan dan pelaksanaan
·         Politik Hukum adalah  dasar kebijakan yang menjadi landasan pelaksanaan dan penerapan
hukum yang bersangkutan. Disiplin Hukum merupakan suatu sistem ajaran tentang kenyataan
atau realita hukum.
Hukum mencakup  tiga bidang, yakni ilmu-ilmu hukum, politik hukum dan
filsafat hukum. Dalam hal ini dapat dikatakan, bahwa filsafat hukum mencakup kegiatan
perenungan nilai-nilai, perumusan nilai-nilai dan penyerasian nilai-nilai yang berpasangan,
akan tetapi yangtidak jarang bersitegang.

C.   Macam-macam Hukum
Hukum itu dapat  dibagi menurut bentuk, sifat, sumber, tempat berlaku, isi dan cara
mempertahankannya.
Menurut bentuknya, hukum itu dibagi menjadi :
1.      Hukum Tertulis
Adalah hukum yang dituliskan atau dicantumkan dalam perundang undangan. Contoh :
hukum pidana dituliskan pada KUHP.
Hukum tertulis sendiri masih dibagi menjadi dua, yakni hukum tertulis yang
dikodifikasikan danyang tidak dikodifikasikan. Dikodifikasikan artinya hukum tersebut
dibukukan dalam lembarannegara dan diundangkan atau diumumkan. Indonesia menganut
hukum tertulis yang dikodifikasi.
Kelebihannya adalah adanya kepastian hukum dan penyederhanaan hukum serta
kesatuanhukum. Kekurangannya adalah hukum tersebut bila dikonotasikan bergeraknya
lambat atau tidak dapat mengikuti hal-hal yang terus bergerak maju.
2.    Hukum Tidak Tertulis
Adalah hukum yang tidak dituliskan atau tidak dicantumkan dalam perundang-
undangan.
Contoh: hukum adat tidak dituliskan atau tidak dicantumkan pada perundang-undangan
tetapi dipatuhioleh daerah tertentu.
Menurut sifatnya, hukum itu dibagi menjadi :
a. Hukum yang mengatur
Hukum yang dapat diabaikan bila pihak-pihak yang bersangkutan telah membuat
peraturan sendiri.
b. Hukum yang memaksa
Hukum yang dalam keadaan apapun memiliki paksaan yang tegas.
Menurut sumbernya, hukum itu dibagi menjadi :
c.  Hukum Undang-Undang
Hukum yang tercantum dalam per aturan perundang-undangan.
d.  Hukum Kebiasaan (adat),
Hukum yang ada di dalam peraturan-peraturan adat.
e.       Hukum Jurisprudensi
Hukum yangterbentuk karena keputusan hakim di masa yang lampau dalam
perkara yang sama.
f. Hukum Traktat
Hukum yang  terbentuk karena  adanya perjanjian  antara negara yang terlibat di
dalamnya.
Menurut tempat berlakunyanya, hukum itu dibagi menjadi :
a. Hukum Nasional
Hukum yang berlaku dalam suatu negara.
b.  Hukum Internasional
Hukum yang mengatur hubungan antar negara.
c. Hukum Asing
Hukum yang berlaku di negara asing.
Menurut isinya, hukum itu dibagi menjadi :
a.   Hukum Privat (Hukum Sipil)
Hukum yang mengatur hubungan antara perseorangan dan orang yang lain. Dapat
dikatakanhukum yang mengatur hubungan antara warganegara dengan
warganegara.
Contoh: HukumPerdata dan Hukum Dagang. Tetap dalam arti sempit hukum
sipil disebut juga hukum perdata
b.  Hukum Negara (Hukum Publik)
Dibedakan menjadi hukum pidana, tata negara dan administrasi negara.
1)  Hukum Pidana
Hukum yang mengatur hubungan antara warganegara dengan Negara
2)  Hukum Tata Negara
Hukum yang mengatur hubungan antara warganegara dengan alat
perlengkapan negara.
3)  Hukum Administrasi Negara
Hukum yang mengatur hubungan antar alat perlengkapan negara, hubungan
pemerintah pusatdengan daerah.
D.    Aspek Hukum Dalam Praktik Kebidanan

Akuntabilitas bidan dalam praktik kebidanan merupakan suatu hal yang penting dan
dituntut dari suatu profesi, terutama profesi yang berhubungan dengan keselamatan jiwa
manusia, adalah pertanggung jawaban dan tanggung gugat (accountability) atas semua
tindakan yang dilakukuannya. Sehingga semua tindakan yang dilakukan oleh bidan harus
berbasis kompetensi dan didasari suatu evidence based. Accountability diperkuat dengan satu
landasan hokum yang mengatur batas-batas wewenang profesi yang bersangkutan.
Dengan adanya legitimasi kewenangan bidan yang lebih luas, bidan memiliki hak
otonomi dan mandiri untuk bertindak secara profesional yang dilandasi kemampuan berfikir
logis dan sitematis serta bertindak sesuai standar profesi dan etika profesi.
Praktek kebidanan merupakan inti dari berbagai kegiatan bidan dalam penyelenggaraan
upaya kesehatan yang harus terus-menerus ditingkatkan mutunya melalui:

1. Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan


2. Pengembangan ilmu dan teknologi dalam kebidanan
3. Akreditasi
4. Sertifikasi
5. Registrasi
6. Uji kompetensi
7. Lisensi

1. Peraturan dan perundang-undangan yang melandasi tugas, fungsi dan praktik bidan.
Hukum kesehatan adalah rangkaian peraturan perundang-undangan dalam bidang kesehatan
yang mengatur tentang pelayanan medik dan sarana medik. Perumusan hukum kesehatan
mengandung pokok-pokok pengertian sebagai berikut :
a.      Kesehatan menurut WHO, adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan, jiwa dan sosial,
bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat dan kelemahan. Adapun istilah kkesehatan
dalam undang-undang kesehatan No. 36 Tahun 2009 adalah keadaan sehat, baik secara fisik,
spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial
dan ekonomis.
b.    Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan
yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
c.     Tenaga kesehatan adalah adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang
kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan dibidang
kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya
kesehatan.
d.   Tenaga kesehatan meliputi tenaga kesehatan sarjana, sarjana muda. Adapun yang dimaksud
dengan tenaga adalah tenaga kesehatan pada tingkat sarjana dan sarjana muda. Dibidang
kebidanan adalah bidan yang terdiri dari diploma III dan IV kebidanan.
e.   Kesehatan medik meliputi rumah sakit umum, rumah sakit khusus dan rumah bersalin,
praktik bberkelompok, balai pengobatan/klinik dan sarana lain yang diterapkan menteri
kesehatan.
f.   Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
g.  Transplantasi adalah rangkaian tindakan medis untuk memindahkan organ dan atau jaringan
tubuh manussia yang berasal dari tubuh seseorang  lain atau tubuh sendiri dalam rangka
pengobatan untuk menggantikan organ atau jaringan tubuh yang tidak berfungsi dengan baik.

2.      Legislasi pelayanan kebidanan


Pelayanan legislasi adalah:
a.  Menjamin perlindungan pada masyarakat pengguna jasa profesi dan profesi sendiri
b.  Legislasi sangat berperan dalam pemberian pelayanan professional

Bidan dikatakan profesional, mematuhi beberapa criteria sebagai berikut:


a.  Mandiri
b.  Peningkatan kompetensi
c.   Praktek berdasrkan evidence based
d.   Penggunaan berbagai sumber informasi
Masyarakat membutuhkan pelayanan yang aman dan berkualitas, serta butuh
perlindungansebagai pengguna jasa profesi. Ada beberapa hal yang menjadi sumber ketidak
puasan pasien atau masyarakat yaitu:
a. Pelayanan yang aman
b. Sikap petugas kurang baik
c.  Komunikasi yang kurang
d. Kesalahan prosedur
e. Saran kurang baik
f.  Tidak adanya penjelasan atau bimbingan atau informasi atau pendidikan kesehatan.
Legislasi adalah proses pembuatan UU atau penyempurnaan perangkat hukum yangsudah
ada melalui serangkaian sertifikasi (pengaturan kompetensi), registrasi
(pengaturankemenangan) dan lisensi (pengaturan penyelenggaraan kewenangan).
Tujuan legislasi adalah memberikan perlindungan kepada masyarakat terhadap pelayanan
yangtelah diberikan. Bentuk perlindungan tersebut antara lain :
a.  Mempertahankan kualitas pelayanan
b.  Memberikan kewenangan
c.  Menjamin perlindungan hukum
d. Meningkatkan profesionalisme

5    Hukum, Disiplin Hukum dan Peristilahan Hukum

    1. Pengertian Hukum dengan keterkaitannya dengan moral dan etika


Hukum adalah himpunan petunjuk atas kaidah atau norma yang mengatur tatatertib
dalam suatumasyarakat, oleh karena itu harus di taati oleh masyarakat yang bersangkutan.
Hukum adalahaturan di dalam masyarakat tertentu. Hukum di lihat dari isinya terdiri dari
norma atau kaidahtentang apa yang boleh dilakukan dan tidak, dilarang atau diperbolehkan.
Hukum memiliki pengertian yg beragam karena memiliki ruang lingkup dan aspek yg
luas.Hukum dpt diartikan sbgai ilmu pengetahuan, disiplin, kaidah,tata hukum, petugas atau
hukum,keputusan penguasa, proses pemerintahan, sikap dan tindakan yg teratur dan juga
sbgai suatu jalinan nilai-nilai. Hukum juga merupakan bagian dari norma yaitu norma hukum.

 2. Hukum dan Keterkaitannya dengan Moral dan Etika


Etika, hukum dan moral merupakan the guardians (pengawal) bagi kemanusiaan.
Ketiganya mempunyai tugas dan kewenangan untuk memanusiakan manusia dan
memperadab manusia.
Istilah etika yang kita gunakan sehari-hari pada hakikatnya berkaitan dengan falsafah
moral, yaitu mengenai apa yang dianggap “baik” atau “buruk” di masyarakat dalam kurun
waktu tertentu, sesuai dengan perubahan/perkembangan norma dan nilai. Dikatakan dalam
kurun waktu tertentu karena moral bisa berubah seiring waktu. Etika dan moral senantiasa
berjalan beriringan, sehingga suatu tindakan yang dinilai bermoral pasti etis dan sesuatu yang
tidak bermoral pasti dianggap tidak etis pula.
Etika dan hukum memiliki tujuan yang sama, yaitu mengatur tata tertib dan tentramnya
pergaulan hidup dalam masyarakat. Pelanggaran etik tidak selalu pelanggaran hukum. Tetapi
sebaliknya, pelanggaran hukum hampir selalu merupakan pelanggaran etik. Etika tanpa
hukum hanya merupakan pajangan belaka, bagaikan harimau tanpa taring, hanya bisa
digunakan untuk memberi teguran, nasehat bahwa suatu tindakan itu salah atau benar, tanpa
bisa berbuat lebih jauh lagi. Sebaliknya, hukum tanpa etika  ibarat rumah tanpa pondasi yang
kuat.
Karena hukum ditujukan bagi masyarakat, maka bila hukum dibuat tanpa dasar etika,
artinya menganggap manusia seperti robot. Keduanya saling membutuhkan, berkaitan dan
keberadaannya tidak bisa digantikan. Misalnya, aborsi tanpa indikasi medis yang jelas,
dianggap sebagai tindakan yang melanggar etika. Etika tidak hanya ”bergerak”
sebatas  member peringatan dan tuntutan, sedangkan hukum (dengan dasar etika yang jelas),
bisa member sanksi yang lebih jelas dan tegas dalam bentuk tuntutan.

3. Disiplin Hukum dan Keterkatannya dengan Moral dan Etika


Disiplin hukum dan keterkaitannya dengan moral dan etika, seperti yang kita ketahui
disiplin hukum suatu sistem ajaran tentang hukum. Sistem ajaran mengenai hukum sangat
erat hubungannya dengan politik hukum yang mengarah pada kebijakan-kebijakan hukum
yang berlaku dalam memberikan pelayanan kebidanan. Kebijakan tersebut dibuat atas dasar
“hukum dasar” yang  mempelopori peraturan dan kebijakan yang dibuat.
Tentunya dengan segala kebijakan hukum yang ada Kita tidak bisa meninggalkan etika
dan moral yang berlaku. Kebijakan yang dibuat harus tetap memperhatikan kaidah etika dan
moral yang diakui secara umum. Tanpa etika dan moral kebijakan hukum akan menjadi
hukum yang kaku tanpa adanya dinamisasi yang harmonis dan selaras antara peraturan dan
yang menerapkan peraturan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Jadi, dalam praktik pelayanan kebidanan sistem harus sejalan dengan etika dan moral
yang berlaku agar sistem tata hukum berlaku dengan baik dan mencapai tingkat efisien dan
efektif untuk pelayan kesehatan terutama bidan.
4. Macam-Macam Hukum Dan Keterkatannya Dengan Moral Dan Etika
Hukum yang ada di Indonesia sangat beragam jenisnya namun hukum yang berkaitan
dengan moral dan etika seperti hukum pidana dan perdata yang mengatur hubungan antara
perseorangan dengan orang lain. Hal ini berkaitan erat karena dalam hubungan antar manusia
ada etika dan moral yang mengatur kehidupan ini agar berjalan dengan baik dan sejalan
dengan hukum yang berlaku.
Tentunya dalam kasus-kasus pelayanan kebidanan tidak lepas dari hubungan
bermasyarakat untuk selalu memperhatikan moral dan etika berprilaku dalam memberikan
pelayanan agar resiko kelalaian dalam memberikan pelayanan dapat dicegah dengan adanya
hukum yang mengatur kebijakan dalam memberikan pelayanan. Jika tidak diteraapkan maka
berlaku hukum pidana ataupun hukum perdata yang nantinya berupa tuntutan akan pelayanan
yang diberikan, apakah sesuai standar atau tidak.
Maka dari itu, dalam memberikan pelayanan harus berkiblat pada hukum yang berlaku
dan diiringi dengan etika dan moral yang menjadi pendukung kualitas pelayanan yang kita
berikan kepada masyarakat.
5. Peristilahan Hukum
Sebelum melihat masalah etik yang Mungkin timbul dalam pelayanan kebidanan, maka
ada baiknya dipahami beberapa Istilah berikut ini :
a Legislasi (Lieberman, 1970)Ketetapan hukum yang mengatur hak dan kewajiban
seseorang yang berhubungan erat dengan tindakan.
b. Lisensi Pemberian izin praktek sebelum diperkenankan melakukan pekerjaan yang telah
diterapkan. Tujuannya untuk membatasi pemberian wewenang dan untuk meyakinkan klien.
c. Deontologi/Tugas Keputusan yang diambil berdasarkan keserikatan/berhubungan dengan
tugas. Dalam pengambilan keputusan, perhatian utama pada tugas.
d. Hak Keputusan berdasarkan hak seseorang yang tidak dapat diganggu. Hak berbeda
dengan keinginan, kebutuhan dan kepuasan.
e. Instusioner Keputusan diambil berdasarkan pengkajian dari dilemma etik dari kasus per
kasus. Dalam teori ini ada beberapa kewajiban dan peraturan yang sama pentingnnya.
f. Beneficience Keputusan yang diambil harus selalu menguntungkan.
g .Mal-efecience Keputusan yang diambil merugikan pasien
h.. Malpraktek/Lalaia. Gagal melakukan tugas/kewajiban kepada klien. Tidak melaksanakan
tugas sesuai dengan standar. Melakukan tindakan yang mencederai klien. Klien cedera
karena kegagalan melaksanakan tugas.
i. Malpraktek terjadi karena:
-   Cerobohan
-   Lupa.
-    Gagal mengkomunikasikan.
Bidan sebagai petugas Kesehatan sering berhadapan dengan masalah etik yang
berhubungan dengan hukum. Sering masalah dapat diselesaikan dengan hukum, tetapi
belum tentu dapat diselesaikan berdasarkan prinsip-prinsip dan nilai-nilai etik. Banyak hal
yang bisa membawa seorang bidan berhadapan dengan masalah etik.
BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Jadi, dalam kehidupan bermasyarakat dan dalam memberikan pelayanan kebidanan,
hokum, etika dan moral sangat diperlukan karena untuk menyeimbangkan antara hak.
Kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing serta menjadi pedoman dalam mengambil
keputusan dan berprilaku.
Hukum kesehatan yang terkait dengan etika profesi dan pelanyanan kebidanan. Ada
keterkaitan atau daerah bersinggunan antara pelanyanan kebidanan, etika dan hokum atau
terdapat “grey area”. Sebagaimana di ketahui bahwa bidan merupakan salah satu tenaga
kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan. Sebelum menginjak kehal – hal yang
lebih jauh, kita perlu memahami beberapa konsep dasar dibawah ini :
Bidan adalah seorang yang telah menyelesaikan Program Pendidikan Bidan yang diakui
Negara serta memperoleh kualifikasi dan diberi izin untuk menjalankan praktek kebidanan di
Negara itu. Dia harus mampu memberikan supervise, asuhan dan memberikan nasehat yang
dibutuhkan kepada wanita selama masa hmil , persalinan dan masa pasca persalinan,
memimpin persalianan atas tanggung jawab sendiri serta asuhan pada bayi baru lahir dan
anak.
Pekerjaan itu termaksud pendidikan antenatal, dan persiapan untuk menjadi orangtua
dan meluas kedaerah tertentu dari ginekologi, KB dan Asuhan anak, Rumah Perawatan, dan
tempat – tempat pelayanan lainnya (ICM 1990).

3.2    Saran
Sikap etis profesional berarti bekerja sesuai dengan standar, melaksanakan advokasi,
keadaan tersebut akan dapat memberi jaminan bagi keselamatan pasen, penghormatan
terhadap hak-hak pasen, akan berdampak terhadap peningkatan kualitas asuhan kebidanan.
Sebagai calon tenaga kesehatan hendak nya kita bisa memahami lebih dalam apa yang
jadi  dasar pada aspek hukum praktek kebidanan serta kaitan hukum terhadap etika dan moral
disini gunanya kita untuk menindak lanjuti pasien.
Dengan adanya hukum, etika, dan moral yang berlaku dalam memberikan pelayanan
kebidanan diharapan agar pelayana kesehatan terutama bidan dapat menaati hukum,
menerapkan kebijakan yang telah dibuat serta tidak melakukan tindakan-tindakan yang
bertentangan dengan hukum, etika dan moral yang ada dalam memberikan pelayanan akan
menghasilkan pelayanan yang bermutu di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Wahyuningsih, Heni Puji. Etika Profesi Kebidanan. Fitramaya; Yogyakarta. 2008


Marimba, Hanum. Etika dan Kode Etik Profesi Kebidanan. Mitra Cendikia  Press;Yogyakarta.2008
Carol Taylor,Carol Lillies, Priscilla Le Mone, 1997, Fundamental Of Nursing Care, Third Edition, by
Lippicot Philadelpia, New York.
Jein Asmar Yetty.2005.ETIKA PROFESI KEBIDANAN.YOGJAKARTA : Fitra Maya
Wahyuningsih, Heni Puji.2005.ETIKA PROFESI KEBIDANAN.Yogjakarta : Fitra Maya
Jein Asmar Yetty.2005.ETIKA PROFESI KEBIDANAN.YOGJAKARTA : Fitra Maya

Anda mungkin juga menyukai