Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN

PRAKTIK KEPERAWATAN ANAK DENGAN KASUS KEJANG DEMAM

DI RUMAH SAKIT PASIRIAN LUMAJANG DI RUANGAN ANAK

DISUSUN OLEH :

MALINDA FADLILAH

14201.09.17035

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HAFSHAWATY

ZAINUL HASAN GENGGONG

PROBOLINGGO

2021
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN KEPERAWATAN ANAK

DENGAN KASUS KEJANG DEMAM

DI RUMAH SAKIT PASIRIAN LUMAJANG DI RUANGAN ANAK

Lumajang,

Mahasiswa

(.............................)

Pembimbing Ruangan Pembimbing Akademik

(..................................) (.....................................)

Kepala Ruangan

(...............................)
I. Anatomi Fisiologi

1. Otak
Otak terdiri dari otak besar yaitu disebut cerebrum, otak kecil disebut
cerebellum dan batang otak disebut brainstem.Beberapa karakteristik khas otak
orang anak yaitu mempunyai berat lebih kurang 2 % dari berat badan dan
mendapat sirkulasi darah sebanyak 20 % dari cardiac output dan membutuhkan
kalori sebesar 400 kkal setiap hari.
Otak mempunyai jaringan yang paling banyak menggunakan energi yang
didukung oleh metabolisme oksidasi glukosa.Kebutuhan oksigen dan glukosa otak
relatif konstan, hal ini disebabkan oleh 10 metabolisme otak yang merupakan
proses yang terus menerus tanpa periode istirahat yang berarti.Bila kadar oksigen
dan glukosa kurang dalam jaringan otak maka metabolisme menjadi terganggu
dan jaringan saraf akan mengalami kerusakan. Secara struktural,cerebrum terbagi
menjadi bagian korteks yang disebut korteks cerebri dan sub korteks yang disebut
struktural subkortikal.Korteks cerebri terdiri atas korteks sensorik yang berfungsi
untuk mengenal,interpretasi inpuls sensorik yang diterima sehingga individu
merasakan,menyadari adanya suatu sensasi rasa/indera tertentu.Korteks sensorik
juga menyimpan sangat banyak data memori sebagai hasil rangsang sensorik
selama manusia hidup.Korteks motorik berfungsi untuk memberi jawaban atas
rangsangan yang diterimanya.
Struktur Sub Kortikal :
a. Basal ganglia:melaksanakan fungsi motorik dengan merinci dan
mengkoordinasi gerakan dasar,gerakan halus atau gerakan trampil dan
sikap tubuh.
b. Talamus:merupakan pusat rangsang nyeri.
c. Hipotalamus:pusat tertinggi integrasi dan koordinasi sistem syaraf otonom
dan terlibat dalam pengolahan perilaku insting. Seperti
makan,minum,seks,dan motivasi.
d. Hipofise:bersama hipotalamus mengatur kegiatan sebagian besar kelenjar
endokrin dalam sintesa dan pelepasan hormon.

Cerebrum terdiri dari dua belahan yang disebut hemispherium cerebri dan
keduanya dipisahkan oleh fisura longitudinalis.Hemisperium cerebri terbagi
hemisper kanan dan kiri.Hemisper kanan dan kiri ini dihubungkan oleh bangunan
yang disebut corpus callosum.Hemisper cerebri dibagi menjadi lobus - lobus yang
diberi nama sesuai dengan tulang diatasnya,yaitu:

a. Lobus Frontalis,bagian cerebrum yang berada dibawah tulang frontalis


b. Lonbus Parietalis,bagian cerebrum yang berada dibawah tulang parietalis
c. Lobus Occipitalis,bagian cerebrum yang berada dibawah tulang occipitalis
d. Lobus Temporalis,bagian cerebrum yang berada di bawah tulang temporalis.
Cerebelum (otak kecil) terletak di bagian belakang kranium menempati
fosa cerebri posterior dibawah lapisan durameter tentorium cerebelli.Dibagian
depannya terletak batang otak.Berat cerebellum sekitar 150 gr atau 88 % dari
berat batang otak seluruhnya.Cerebellum dapat dibagi menjadi hemisper
cerebelli kanan dan kiri yang dipisahkan oleh Vermis.Fungsi cerebellum pada
umumnya adalah mengkoordinasikan gerakan-gerakan otot sehingga gerakan
dapat terlaksana dengan sempurna.
Batang otak atau brainstern terdiri atas diencephalon, mid brain,pons
dan medullan oblongata merupakan tempat berbagai macam pusat vital seperti
pusat pernapasan,pusat vasomotor ,pusat pengatur kegiatan jantung dan pusat
muntah.
2. Medula Spinalis
Medula spinalis merupakan perpanjangan modulla oblongata ke arah
kaudal di dalam kanalis vertebralis cervikalis I memanjang hingga setinggi
cornu vertebralus lumbalias I-II.Terdiri dari 31 segmen yang setiap segmenya
terdiri dari satu pasang saraf spinal.Dari medulla spinallis bagian cervical
keluar 8 pasang,dari bagian thorakal 12 pasang,dari bagian lumbal 5 pasang
dan dari bagian sakral 5 pasang serta dari coxigeus keluar 1 pasang saraf
spinalis.Seperti halnya otak,medula spinalis pun terbungkus oleh selaput
meninges yang berfungsi melindungi saraf spinal dari benturan atau cedera.
Gambaran penampang medula spinalis memperlihatkan bagian-bagian
substansi grissea dan substansia alba.Substansia grissea ini mengelilingi
canalis centralis sehingga membentuk columna dorsalis,columna lateralis dan
columna ventralis.Massa grissea dikelilingi oleh substansia alba atau badan
putih yang mengandung serabut-serabut saraf yang diselubungi oleh
myelin.Substansi alba berisi berkas-berkas saraf yang membawa impuls
sensorik dari sistem saraf tepi (SST) menuju sistem saraf 13 pusat (SSP) dan
impuls motorik sistem saraf pusat (SSP) menuju sistem saraf tepi
(SST).Substansia grissea berfungsi sebagai pusat koordinasi yang berpusat di
medula spinalis. Di sepanjang medula spinalis terdapat jaras saraf yang
berjalan dari medula spinalis menuju otak yang disebut jaras acenden dan dari
otak menuju medula spinalis yang disebut sebagai jaras desenden.Substansia
alba berisi berkas-berkas saraf yang berfungsi membawa impuls sensorik dari
sistem tepi saraf tepi otak ke otak dan impuls motorik dari otak ke saraf
tepi.Substansi grissea berfungsi sebagai pusat koordinasi reflek yang berpusat
di medulla spinalis.
Refleks-refleks yang berpusat di sistem saraf pusat yang bukan
medulla spinalis,pusat koordinasi tidak disubstansi grisea medulla
spinalis.Pada umumnya penghantaran impuls sensorik di substansi alba
medula spinalis berjalan menyilang garis tengah.Impuls sensorik dari tubuh
sisi kiri akan dihantarkan ke otak sisi kanan dan sebaliknya.Demikian juga
dengan impuls motorik.Seluruh impuls motorik dari otak yang dihantarkan ke
saraf tepi melalui medula spinalis akan menyilang.
Upper Motor Neuron (UMN) adalah neuron-neuron motorik yang
berasal dari korteks serebri atau batang otak yang seluruhnya(dengan serat
saraf-sarafnya ada di dalam sistem saraf pusat.Lower Motor Neuron(LMN)
adalah neuron-neuron motorik yang berasal dari sistem saraf pusat tetapi serat-
serat sarafnya 14 keluar dari sistem saraf pusat dan membentuk sistem saraf
tepi dan berakhir di otot rangka.Gangguan fungsi UMN maupun LMN
menyebabkan kelumpuhan otot rangka,tetapi sifat kelumpuhan UMN berbeda
sifat dengan kelumpuhan LMN.Kerusakan LMN menimbulkan kelumpuhan
otot yang lemas ketegangan otot (tonus) rendah dan sukar untuk merangsang
refleks otot rangka(hiporefleksia).Pada kerusakan UMN,otot lumpuh
(paralisa/paresa) dan kaku(rigid),ketegangan otot tinggi (hiperrefleksia).
Berkas UMN bagian internal tetap berjalan pada sisi yang sama sampai berkas
lateral ini tiba di medulla spinalis.Di segmen medula spinalis tempat berkas
bersinap dengan neuron LMN. Berkas tersebut akan menyilang,sehingga
kerusakan UMN diatas batang otak akan menimbulkan kelumpuhan pada otot-
otot sisi yang berlawanan.
Salah satu fungsi medula spinalis sebagai sistem saraf pusat adalah
sebagai pusat refleks.Fungsi tersebut diselenggarakan oleh substansi grisea
medula spinalis.Refleks adalah jawaban individu terhadap rangsang
melindung tubuh terhadap berbagai perubahan yang terjadi baik di lingkungan
eksternal.Kegiatan refleks terjadi melalui suatu jalur tertentu yang disebut
lengkung refleks.
Fungsi medula spinalis:
a. Pusat gerakan otot tubuh terbesar yaitu di kornu motorik atau kornu
ventralis.
b. Mengurus kegiatan refleks spinalis dan reflek tungkai
c. Menghantarkan rangsangan koordinasi otot dan sendi menuju
cerebellum
d. Mengadakan komunikasi antara otak dengan semua bagian tubuh.

Fungsi Lengkung Reflek:

a. Reseptor : penerima rangsang


b. Aferen: sel saraf yang mengantarkan impuls dari reseptor ke sistem
saraf pusat(ke pusat refleks)
c. Pusat Refleks : area di sistem saraf pusat (di medula spinalis :
substansia grisea ) tempat terjadinya sinap(hubungan antara neuron
dengan neuron dimana terjadi pemindahan /penerusan impuls)
d. Eferen: sel saraf yang membawa impuls dari pusat refleks ke sel
efektor. Bila sel efektornya berupa otot,maka eferen disebut juga
neuron motorik (sel saraf/penggerak)
e. Efektor : sel tubuh yang memberikan jawaban terakhir sebagai
jawaban refleks.Dapat berupa sel otot (otot jantung ,otot polos atau
otot rangka),sel kelenjar.
3. Sistem Saraf Tepi
Kumpulan neuron di luar jaringan otak dan medula spinalis membentuk
sistem saraf tepi(SST).Secara anatomik di golongkan 16 ke dalam saraf-saraf
otak sebanyak 12 pasang dan 31 pasang saraf spinal.Secara fungsional,SST di
golongkan ke dalam :
a. Saraf sensorik (aferen) somatik : membawa informasi dari kulit,otot
rangka dan sendike sistem saraf pusat
b. Saraf motorik (eferen) somatik : membawa informasi dari sistem saraf
pusat ke otot rangka
c. Saraf sensorik (aferen) viseral : membawa informasi dari dinding
visera ke sistem saraf pusat
d. Saraf motorik (aferen) viseral : membawa informasi dari sistem saraf
pusat ke otot polos,otot jantung dan kelenjar.
e. Saraf eferen viseral di sebut juga sistem saraf otonom.Sistem saraf tepi
terdiri atas saraf otak ( s.kranial) dan saraf spinal. (Pearce, 2006)

II. Definisi
Kejang merupakan perubahan fungsi otak mendadak dan sementara sebagai
akibat dari aktivitas neuronal yang abnormal dan pelepasan listrik serebral yang
berlebihan, (Betz & Sowden, 2002). Kejang demam adalah bangkitan kejang yang
terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38ºC) yang disebabkan oleh
proses ekstrakranium. Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang paling
sering dijumpai pada anak terutama pada golongan anak berumur 6 bulan sampai 4
tahun. Hampir 3% dari anak yang berumur dibawah 5 tahun pernah mengalami
kejang demam (Ngastiyah, 2014). Jadi kejang demam adalah kenaikan suhu tubuh
yang menyebabkan perubahan fungsi otak akibat perubahan potensial listrik serebral
yang berlebihan sehingga mengakibatkan renjatan berupa kejang.
Kejang Demam merupakan kelainan neurologis yang paling sering ditemukan
pada anak, hal ini terutama pada rentang usia 4 bulan sampai 4 tahun. Kejang
demam merupakan gangguan transien pada anak-anak yang terjadi bersamaan
dengan demam. Keadaan ini merupakan salah satu gangguan neurologik yang paling
sering dijumpai pada masa kanak-kanak dan menyerang sekitar 4% anak. Pada
setiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda-beda, hal ini tergantung dari
tinggi serta rendahnya ambang kejang seorang anak. Anak dengan kejang rendah,
kejang dapat terjadi pada suhu 38ºC, tetapi pada anak dengan ambang kejang yang
tinggi kejang baru akan terjadi pada suhu 40ºC atau bahkan lebih (Sodikin, 2012).
Kejang Demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh
(suhu rektal di atas 38ºC) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium
(Widodo, 2011).

III. Etiologi

Penyebab dari kejang demam menurut Wulandari & Erawati (2016)


diantaranya sebagai berikut.
a. Faktor genetika
Faktor keturunan memegang penting untuk terjadinya kejang demam 25-50 %
anak yang mengalami kejang memiliki anggota keluarga yang pernah
mengalami kejang demam sekurang-kurangnya sekali.
b. Infeksi
1) Bakteri diantaranya penyakit pada traktus respiratorius (pernapasan),
pharyngitis (radang tenggorokan), tonsillitis (amandel), dan otitis media
(infeksi telinga).
2) Virus diantaranya varicella (cacar), morbili (campak), dan dengue (virus
penyebab demam berdarah ).
c. Demam
Kejang demam cenderung timbul dalam 24 jam pertama pada waktu sakit
dengan demam atau pada waktu demam tinggi.
d. Gangguan Metabolisme
Hipoglikemia, gangguan elektrolit (Na dan K) misalnya pada pasien dengan
riwayat diare sebelumnya.
e. Trauma
Kejang demam dapat terjadi karena trauma lahir dan trauma kepala.

IV. Patofisiologi

Sumber energi otak adalah glukosa yang melalui proses oksidasi dipecah
menjadi CO2 dan air. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan
dalam yaitu lipoid dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran
yang sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium [K+ ] dan sangat sulit
dilalui oleh ion natrium [Na+ ] dan elektrolit lainnya, kecuali ion klorida [Cl+ ].
Akibatnya konsentrasi ion K+ dalam sel neuron tinggi dan konsentrasi Na+ rendah,
sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan
konsentrasi ion di dalam dan di luar sel, maka terdapat perbedaan potensial
membran yang disebut potensial membran dari neuron. Untuk menjaga
keseimbangan potensial membran di perlukan energi dan bantuan enzim Na-K ATP-
ase yang terdapat pada permukaan sel.

Pada keadaan demam kenaikan suhu 1oC akan mengakibatkan kenaikan


metabolisme basal 10-15% dan kebutuhuan oksigen akan meningkat 20%. Pada
anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan dengan
orang dewasa yang hanya 15%.Oleh karena itu kenaikan suhu tubuh dapat
mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu yang singkat
terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan
listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke seluruh
sel maupun ke membran sel sekitarnya dengan bantuan “neurotransmitter” dan
terjadi kejang. Kejang demam yang berlangsung lama (lebih dari 15 menit) biasanya
disertai apnoe, meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot
skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat disebabkan oleh
metabolisme anerobik, hipotensi artenal disertai denyut jantung yang tidak teratur
dan suhu tubuh meningkat yang disebabkan makin meningkatnya aktivitas otot dan
mengakibatkan metabolisme otak meningkat (Lestari, 2016).Mekanisme terjadinya
Kejang Demam dapat dilihat pada gambar Patofisiologi dihalaman berikutnya.
V. Pathway

Infeksi bakteri rangsang mekanik dan biokimia


virus dan parasite gangguan keseimbangan cairan & elektrolit

reaksi inflasi perubahan konsentrasi ion


diruang ekstraseluler

proses demam ketidakseimbangan kelainan neurologis


potensial membrane perinatal/prenatal
ATP ASE
hipertermi
difusi Na+ dan K+
resiko kejang berulang
kejang resiko cedera
pengobatan perawatan
kondisi,prognosis, lanjut kurang dari lebih dari 15 menit
dan diit 15 menit

kurang informasi,kondisi tidak menimbulkan perubahan suplay


prognosis pengobatan gejala sisa darah ke otak
dan perawatan
perfusi jaringan
kurang pengetahuan/ cerebral tidak
inefektif efektif
penatalaksanaan kejang apnea

kebutuhan
oksigen

pola nafas tidak efektif


VI. Klasifikasi

Menurut Prichard dan Mc Greal (Lumbantobing,2001:24) kejang


demam dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Kejang demam sederhana.
Ciri-ciri kejang demam sederhana adalah:
1) Kejang bersifat simetris.
2) Usia penderita antara 6 bulan sampai 4 tahun.
3) Suhu 100°F (37,78°C) atau lebih.
4) Lamanya kejang berlangsung kurang dari 3 menit.
5) Keadaan neurologi (fungsi syaraf) normal dan setelah kejang juga
normal.
6) EEG yang dibuat setelah tidak demam adalah normal.
b. Kejang demam tidak khas.
Kejang demam yang tidak sesuai dengan ciri-ciri tersebut diatas digolongkan
sebagai kejang demam tidak khas.
Menurut Livingston (Lumbantobing,2001:14) mengklasifikasikan kejang
demam sebagai berikut.
a. Kejang demam sederhana.
Ciri-ciri kejang demam sederhana adalah:
1) Kejang bersifat umum.
2) Lamanya kejang berlangsung singkat (kurang dari 15 menit).
3) Usia waktu kejang pertama muncul kurang dari 6 tahun.
4) Frekuensi bangkitan kejang 1-4 kali dalam 1 tahun.
5) EEG normal.
b. Epilepsi yang dicetuskan oleh kejang.
Kejang demam yang tidak sesuai dengan ciri-ciri tersebut diatas disebut
oleh Livingston sebagai epilepsi yang dicetuskan kejang.
Menurut Fukuyama (Lumbantobing, 2001:25) menggolongkan kejang
demam sebagai berikut.
a. Kejang demam sederhana
Kejang demam sederhana harus memenuhi semua kriteria berikut.
1) Keluarga penderita tidak ada riwayat epilepsi.
2) Sebelumnya tidak ada riwayat cedera otak oleh penyebab apapun.
3) Serangan kejang yang pertama terjadi antara usia 6 bulan sampai 6
tahun.
4) Lamanya kejang berlangsung tidak lebih dari 20 menit. e. Kejang tidak
bersifat lokal.
5) Tidak didapatkan gangguan atau abnormalitas pasca kejang.
6) Sebelumnya juga tidak didapatkan abnormalitas neurologic atau
abnormalitas perkembangan.
7) Kejang tidak berulang dalam waktu singkat.
b. Kejang demam kompleks
Bila ciri-ciri kejang demam tidak memenuhi kriteria diatas maka
digolongkan kejang demam kompleks.
VII. Gelaja Klinis

Serangan kejang biasanya terjadi dalam 24 jam pertama sewaktu demam,


berlangsung singkat dengan sifat bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, klonik,
fokal, atau akinetik. Umumnya kejang berhenti sendiri. Setelah kejang berhenti,
anak tidak memberi reaksi apapun sejenak, tetapi setelah beberapa detik atau menit
anak terbangun dan sadar kembali tanpa defisit neurologis. Kejang dapat diikuti oleh
hemiparesis sementara (Hemiparesis Todd) yang berlangsung beberapa jam sampai
beberapa hari. Kejang unilateral yang lama diikuti oleh hemiparesis yang menetap.
Bangkitan kejang yang berlangsung lama sering terjadi pada kejang demam yang
pertama.
Durasi kejang bervariasi, dapat berlangsung beberapa menit sampai lebih dari
30 menit, tergantung pada jenis kejang demam tersebut. Sedangkan frekuensinya
dapat kurang dari 4 kali dalam 1 tahun sampai lebih dari 2 kali sehari. Pada kejang
demam kompleks, frekuensi dapat sampai lebih dari 4 kali sehari dan kejangnya
berlangsung lebih dari 30 menit. 
Adapun gejala kejang demam diantaranya sebagai berikut.
a. Demam (terutama demam tinggi atau kenaikan suhu tubuh yang tejradi secara
tiba-tiba)
b. Pingsan yang berlangsung selama 30 detik-5 menit (hampir selalu terjadi pada
anak-anak yang mengalami kejang demam)
c. Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya
berlangsung selama 10-20 detik)
d. Gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya
berlangsung selama 1-2 menit)
e. Lidah atau pipinya tergigit
f. Gigi atau rahangnya terkatup rapat
g. Inkontinensia (mengompol)
h. Gangguan pernafasan
i. Apneu (henti nafas)
j. Kulitnya kebiruan
Setelah mengalami kejang, biasanya akan terjadi beberapa hal diantaranya
sebagai berikut :
a. Akan kembali sadar dalam waktu beberapa menit atau tertidur selama 1 jam
atau lebih
b. Terjadi amnesia (tidak ingat apa yang telah terjadi)-sakit kepala
c. Mengantuk
d. Linglung (sementara dan sifatnya ringan)
VIII. Pemeriksaan Diagnostic

Pemeriksaan minimum untuk kejang tanpa demam pada anak menurut


Ngastiyah (2000: 233) meliputi:
a. Glukosa puasa: Batas normalnya lebih dari 10 g/dl. Hipoglikemia dapat
menjadi faktor presipitasi kejang.
b. Kalium: Batas normal kalium laki-laki 1,0 - 1,2 mmol/ L. Bila ada
kerusakan jaringan, kalium akan keluar dari sel dan masuk ke dalam cairan
ekstraseluler. Jika penurunan kalium dalam urine dapat menunjukan
hiperkalemia (serum kalium meningkat) dan sebaliknya.
c. Natrium : Batas normal natrium laki-laki 135 - 145 mmol/ L. Pada cairan
ekstraseluler kadar natrium urine biasanya rendah dan kadar natrium serum
rendah tidak normal / normal akibat memodilusi atau kadar meningkat.
d. EEG (Elektroensefalografi) adalah suatu cara untuk melokalisasi daerah
serebral yang tidak berfungsi dengan baik, mengukur aktivitas otak.
Gelombang otak untuk menentukan karakteristik dari gelombang pada
masing-masing tipe dari aktifitas kejang.
e. Pemeriksaan scan CT adalah suatu prosedur yang digunakan untuk
mendapatkan gambaran dari berbagai sudut kecil dari tulang tengkorak dan
otak.
IX. Penatalaksanaan
Dalam penanggulangan kejang demam menurut IKA-FKUI (2005:850)
ada 4 faktor yang perlu dikerjakan yaitu:
a. Memberantas kejang secepat mungkin.
Bila pasien datang dalam keadaan konvulsi, obat pilihan utama adalah
diazepam yang diberikan secara intravena. Pemberian dosis sesuai dengan
BB. Kurang dari 10 kg pemberiannya 0,5 -0,75 mg / kg BB dengan
minimal dalam spuit 0,75 mg. Bila BB diatas 20 kg pemberiannya
0,5 mg / kg BB. Bila kejang belum juga berhenti dapat diberikan
fenobarbital atau poraldehid 4 % per I.V.
b. Pengobatan penunjang
Sebelum memberantas kejang tidak boleh dilupakan perlunya
pengobatan penunjang sebagai berikut:
1) Semua pakaian ketat dibuka.
2) Posisi kepala sebaiknya miring untuk mencegah aspirasi isi lambung.
3) Usahakan untuk jalan napas bebas untuk menjamin kebutuhan
oksigen.
4) Pengisapan lendir harus dilakukan secara teratur dan diberikan
oksigen.
5) Fungsi vital harus diawasi secara ketat, jika suhu meningkat sampai
hiperpireksia dilakukan libernasi dengan kompres alkohol dan air es.
c. Pengobatan rumat.
Setelah kejang diatasi harus di susul pengobatan rumat, daya
kerja diazepam sangat singkat yang berkisar antara 45-60 menit.
Oleh karena itu harus diberikan obat antiepilepsi dengan daya kerja lebih
lama, misalnya fenobarbital yang diberikan langsung setelah kejang
berhenti.Dengan diazepam dosis awal pada neonatus 30 mg, umur 1
bulan - 1 tahun 50 mg dan umur 1 tahun keatas 75 mg, sedangkan cara
pemberian secara IM.

d. Mencari dan mengobati penyebab.


Penyebab kejang demam sederhana dan epilepsi yang diprovokasi
oleh demam biasanya adalah infeksi respiratorius bagian atas dan otitis
media akut. Pemberian antibiotik yang adekuat untuk mengobati
penyakit tersebut. Secara akademis pasien kejang demam yang datang
pertama kali sebaiknya dilakukan fungsi lumbal untuk menyingkirkan
kemungkinan adanya faktor infeksi didalam otak, misalnya meningitis.
X. Komplikasi
a. Aspirasi
b. Asfiksi
c. Retardasi mental
d. Komplikasi tergantung pada :
1) Riwayat penyakit kejang tanpa demam dalam keluarga.
2) Kelainan dalam perkembangan atau kelainan saraf sebelum anak
menderita demam kejang.
3) Kejang berlangsung lama atau kejang tikal.

XI. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian

Pengkajian adalah pendekatan sistemik untuk mengumpulkan data dan


menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan perawatan pasien tersebut.
Langkah-langkah dalam pengkajian meliputi pengumpulan data, analisa dan sintesa
data serta perumusan diagnosa keperawatan. Pengumpulan data akan menentukan
kebutuhan dan masalah kesehatan atau keperawatan yang meliputi kebutuhan fisik,
psikososial dan lingkungan pasien. Sumber data didapatkan dari pasien, keluarga,
teman, team kesehatan lain, catatan pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Metode pengumpulan data melalui observasi (yaitu dengan cara inspeksi, palpasi,
auskultasi, perkusi), wawancara (yaitu berupa percakapan untuk memperoleh data
yang diperlukan), catatan (berupa catatan klinik, dokumen yang baru maupun yang
lama), literatur (mencakup semua materi, buku-buku, masalah dan surat kabar).
Pengumpulan data pada kasus kejang demam ini meliputi :
a. Data Subjektif
1) Biodata/Identitas
Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.Biodata orang tua
perlu dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi nama,
umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.
2) Riwayat Penyakit
Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan :
a) Apakah betul ada kejang .
Diharapkan ibu atau keluarga yang mengantar dianjurkan menirukan
gerakan kejang si anak
b) Apakah disertai demam .
Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang, maka
diketahui apakah infeksi infeksi memegang peranan dalam terjadinya
bangkitan kejang. Jarak antara timbulnya kejang dengan demam.
c) Lama serangan
Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu
berlangsung lama. Lama bangkitan kejang kita dapat mengetahui
kemungkinan respon terhadap prognosa dan pengobatan.
d) Pola serangan
Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola
serangan apakah bersifat umum, fokal, tonik, klonik.
(1) Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran
seperti epilepsi mioklonik .
(2) Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai
gangguan kesadaran seperti epilepsi akinetik .
(3) Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi
sementara tangan naik sepanjang kepala, seperti pada spasme
infantile
e) Frekuensi serangan
Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa kejang
terjadi untuk pertama kali, dan berapa frekuensi kejang per tahun.
Prognosa makin kurang baik apabila kejang timbul pertama kali pada
umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.
f) Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah aura atau rangsangan tertentu
yang dapat menimbulkan kejang, misalnya lapar, lelah, muntah, sakit
kepala dan lain-lain.
Dimana kejang dimulai dan bagaimana menjalarnya. Sesudah
kejang perlu ditanyakan apakah penderita segera sadar, tertidur,
kesadaran menurun, ada paralise, menangis dan sebagainya.

3) Riwayat penyakit sekarang yang menyertai


Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya pada
penderita epilepsi), gagal ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA,
Morbili dan lain-lain.
4) Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah
penderita pernah mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat kejang
terjadi untuk pertama kali. Apakah ada riwayat trauma kepala, radang
selaput otak, KP, OMA dan lain-lain.
5) Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah mengalami
infeksi atau sakit panas sewaktu hamil. Riwayat trauma, perdarahan per
vaginam sewaktu hamil, penggunaan obat-obatan maupun jamu selama
hamil. Riwayat persalinan ditanyakan apakah sukar, spontan atau dengan
tindakan ( forcep/vakum ), perdarahan ante partum, asfiksi dan lain-lain.
Keadaan selama neonatal apakah bayi panas, diare, muntah, tidak mau
menetek, dan kejang-kejang.
6) Riwayat Imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan serta
umur mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi. Pada umumnya
setelah mendapat imunisasi DPT efek sampingnya adalah panas yang
dapat menimbulkan kejang.
7) Riwayat Perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :
a) Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial) : berhubungan dengan
kemampuan mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi dengan
lingkungannya.
b) Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan anak untuk
mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian
tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan
koordinasi yang cermat, misalnya menggambar, memegang suatu
benda, dan lain-lain.
c) Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap
tubuh.
d) Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti
perintah dan berbicara spontan.
8) Riwayat kesehatan keluarga.
Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (+ 25% penderita kejang
demam mempunyai faktor turunan). Adakah anggota keluarga yang
menderita penyakit syaraf atau lainnya. Adakah anggota keluarga yang
menderita penyakit seperti ISPA, diare atau penyakit infeksi menular yang
dapat mencetuskan terjadinya kejang demam.
9) Riwayat sosial
Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan emosionalnya perlu dikaji
siapakah yanh mengasuh anak. Bagaimana hubungan dengan anggota
keluarga dan teman sebayanya.
10) Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
Ditanyakan keadaan sebelum dan selama sakit bagaimana. Pola kebiasaan
dan fungsi ini meliputi :
a) Pola persepsi dan tatalaksanaan hidup sehat
Gaya hidup yang berkaitan dengan kesehatan, pengetahuan tentang
kesehatan, pencegahan dan kepatuhan pada setiap perawatan dan
tindakan medis. Bagaimana pandangan terhadap penyakit yang
diderita, pelayanan kesehatan yang diberikan, tindakan apabila ada
anggota keluarga yang sakit, penggunaan obat-obatan pertolongan
pertama.
b) Pola nutrisi
Untuk mengetahui asupan kebutuhan gizi anak. Ditanyakan bagaimana
kualitas dan kuantitas dari makanan yang dikonsumsi oleh
anak. Makanan apa saja yang disukai dan yang tidak. Bagaimana selera
makan anak. Berapa kali minum, jenis dan jumlahnya per hari.
c) Pola Eliminasi
BAK: ditanyakan frekuensinya, jumlahnya, secara makroskopis
ditanyakan bagaimana warna, bau, dan apakah terdapat darah. Serta
ditanyakan apakah disertai nyeri saat anak kencing. BAB: ditanyakan
kapan waktu BAB, teratur atau tidak. Bagaimana konsistensinya
lunak,keras,cair atau berlendir.

d) Pola aktivitas dan latihan


Apakah anak senang bermain sendiri atau dengan teman sebayanya.
Berkumpul dengan keluarga sehari berapa jam. Aktivitas apa yang
disukai.
e) Pola tidur/istirahat
Berapa jam sehari tidur. Berangkat tidur jam berapa. Bangun tidur jam
berapa. Kebiasaan sebelum tidur, bagaimana dengan tidur siang.
b. Data Objektif
1) Pemeriksaan Umum
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat kesadaran, tekanan
darah, nadi, respirasi dan suhu. Pada kejang demam sederhana akan
didapatkan suhu tinggi sedangkan kesadaran setelah kejang akan kembali
normal seperti sebelum kejang tanpa kelainan neurologi.
2) Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali. Adakah dispersi bentuk
kepala. Apakah tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial, yaitu ubun-
ubun besar cembung, bagaimana keadaan ubun-ubun besar menutup
atau belum.
b) Rambut
Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut.
Pasien dengan malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang
jarang, kemerahan seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa
menyebabkan rasa sakit pada pasien.
c) Muka/ Wajah.
Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang paresis
tertinggal bila anak menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik ke
sisi sehat. Adakah tanda rhisus sardonicus, opistotonus, strimus.
Apakah ada gangguan nervus cranial.
d) Mata
Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil dan
ketajaman penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva.
e) Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya
infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga,
keluar cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran.
f) Hidung
Apakah ada pernapasan cuping hidung. Polip yang menyumbat jalan
napas. Apakah keluar sekret, bagaimana konsistensinya, jumlahnya.
g) Mulut
Adakah tanda-tanda sardonicus. Adakah cynosis. Bagaimana keadaan
lidah. Adakah stomatitis. Berapa jumlah gigi yang tumbuh. Apakah ada
caries gigi .
h) Tenggorokan
Adakah tanda-tanda peradangan tonsil. Adakah tanda-tanda infeksi
faring, cairan eksudat.
i) Leher
Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid. Adakah
pembesaran vena jugulans.
j) Thorax
Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak pernapasan,
frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi Intercostale. Pada
auskultasi, adakah suara napas tambahan.
k) Jantung
Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya. Adakah
bunyi tambahan . Adakah bradicardi atau tachycardia.
l) Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen .
Bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus. Adakah tanda
meteorismus. Adakah pembesaran lien dan hepar.
m)Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya. Apakah
terdapat oedema, hemangioma. Bagaimana keadaan turgor kulit.
n) Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi kejang.
Bagaimana suhunya pada daerah akral.
o) Genetalia
Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina, tanda-
tanda infeksi.

B. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan perjalanan patofisiologi dan manifestasi klinik yang muncul
maka diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan kejang
demam adalah:
a. Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit. Ditandai dengan :
Gelisah, Kejang, Kulit Kemerahan, Kulit terasa hangat, suhu di atas
normal
b. Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan neorologis (gangguan
kejang) di tandai dengan Dispnea, penggunanan otot bantu napas,
takipnea.
c. Resiko cidera di buktikan dengan Terdapat ketidakamanna transportasi,
Perubahan orientasi afektif, Perubahan sensasi, Klien kejang,

C. Rencana Asuhan Keperawatan Meliputi Tujuan Keperawatan, Intervensi


Dan Rasional Tindakan.

No Dx Kep SLKI SIKI


1 Hipertermia Termoregulasi membaik 1. Manajemen hipertermia
beruhubungan Dengan kriteria hasil : Observasi
dengan penyakit 1. Menggigil a. identifikasi penyebab
di tandai dengan 2. Suhu tubuh normal (36,5- hipertermi (mis.
37,5 o c) Dehidrasi, terpapar
3. Suhu kulit normal lingkungan panas,
4. Tidak ada kejang penggunaan inkubator)
5. Takikardi b. monitor suhu tubuh
6. Takipnea c. monitor kadar elektrolit
d. monitor komplikasi akibat
hipertermi
Terapuetik
e. sediakan lingkungan yang
dingin
f. longgarkan atau lepaskan
pakain
g. basahi dan kipasi
permukaan tubuh
h. berikan cairan oral
i. berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
k. anjurkan tirah baring
kolaborasi
l. kolaborasi pemberian
cairan
2. Regulasi Temprature
Observasi
a. monitor suhu anak tiap
dua jam sekali, jika perlu
b. monitor tekanan darah,
frekuansi fernapasan dan
nadi
c. monitor warna dan suhu
kulit
d. monitor dan catat
tanda/gejala hipertermia
Teraupetik
e. pasang alat pemantau
suhu kutinu, jika perlu
f. tingkatkan asupan nutrisi
dan cairan yang adekuat
g. sesuaikan suhu ingkungan
dengan kebutuahan pasien
Edukasi
h. jelaskan cara pencegahan
hipotermi karena terpapar
udara dingin

Kolaborasi
i. kolaborasi pemberian
antipiretik, jika perlu
2 Pola Napas Pola napas membaik 1. Manajemen jalan napas
Tidak Efektif Dengan kriteri hasil : Observasi
berhubungan 1. Tidak ada dispnea a. Monitor pola napas
dengan 2. Tidak ada penggunaan otot (frekuensi, kedalaman,
neorologis bantu napas usaha napas)
gangguan kejang 3. Frekuensi napas normal b. Monitor bunyi napas
di tandai 4. Kedalaman napas membaik tambahan (mis. Gurgling,
mengi, wheezing, ronkhi
kering)
Teraupetik
c. Posisikan semiflower
atau flower
d. Berikan minuman hangat
e. Lakukan fisioterapi dada
jika perlu
f. Berikan oksigen, jika
perlu
Edukasi
g. Anjurkan asupan cairan
2000 ml/hari, jika tidak
kontraindikasi
Kolaborasi
h. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspetoran,
mukolitik, jika perlu
3. Resiko cidera di Tingkat cidera menurun 1. Manajemen keselamatan
buktikan dengan Dengan kriteria hasil : lingkungan
1.Terdapat 1.Tidak ada kejadian cidera Observasi
ketidakamanna 2. Luka/lecet a. Identifikasi kebutuhan
transportasi 3. Tidak terjadi fraktur keselamatan (mis. Kondisi
2.Perubahan 4. Tekanan darah dalam batas fisik, fungsi kognitif, dan
orientasi afektif normal riwayat prilaku)
3.Perubahan b. Monitor status
sensasi keselamatan lingkungan
4.Klien kejang Teraupetik
c. Hilangkan bayaha
keselamatan lingkungan
(mis. Fisik, biologi, dan
kimia) jika
memungkinkan
d. Modifikasi lingkungan
untuk meminimalkan
bahaya dan resiko
Edukasi
e. Anjurkan individu,
kluarga dan kelompok
resiko tinggi bahaya
lingkungan

DAFTAR PUSTAKA
Betz Cecily L, Sowden Linda A. (2002). Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta : EGC.

Sacharin Rosa M. (1996). Prinsip Keperawatan Pediatrik. Alih bahasa : Maulanny R.F.

Jakarta : EGC.

Arjatmo T.(2001). Keadaan Gawat Yang Mengancam Jiwa. Jakarta : gaya baru

Hidayat A.A. 2009 Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta: Salemba Medika

Imaduddin K, Syarif I dan Rahmatini 2013 Jurnal Kesehatan Andalas: Gamabaran Elektrolit

dan Gula Darah Pasien Kejang Demam yang Dirawat Di Bangsal Anak

RSUP.Dr.M.Djamil 2(3) : 122-131

Judha M & Rahil H.N. 2011 Sistem Persarafan Dalam Asuhan Keperawatan.

Yogyakarta: Gosyen Publishing

Ngastiyah. 2014. Perawatan Anak Sakit Edisi 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

PPNI, T. P. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI): Definisi dan

Indikator Diagnostik ((cetakan II) 1 ed.). Jakarta: DPP

PPNI. PPNI, T. P. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Definisi dan

Tindakan Keperawatan ((cetakan II) 1 ed.). Jakarta:

DPP PPNI. PPNI, T. P. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI): Definisi dan

Kreteria Hasil Keperawatan ((cetakan II) 1 ed.). Jakarta: DPP PPNI.