LAPORAN PENDAHULUAN
DAN ASUHAN KEPERAWATAN
TRAUMA DADA
JECLIN VERONIKA PANDEY / 19142010223
VEREN MONICA TOMBOKAN / 19142010235
HERNI MARSEL PIOH / 19142010219
CHINDY FALENSIA RORONG / 19142010222
GRASELA REPPI / 19142010232
MEILINDA LAUSUNAUNG / 19142010220
ANGGRIANI RUMENTOR / 19142010218
Definisi
● Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan
emosional yang hebat (Nugroho, 2015).
● Trauma dada adalah abnormalitas rangka dada yang disebabkan oleh benturan pada
dinding dada yang mengenai tulang rangka dada, pleura paru-paru, diafragma ataupun
isi mediastinal baik oleh benda tajam maupun tumpul yang dapat menyebabkan
gangguan sistem pernapasan (Rendy, 2012).
● Trauma thoraks adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang dapat
menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax yang
disebabkan oleh benda tajam atau benda tumpul dan dapat menyebabkan keadaan
gawat thorax akut.
Etiologi
trauma tumpul trauma tajam
65% 34.9 %
● Penyebab trauma toraks yang lain adalah adanya tekanan yang berlebihan pada paru-paru yang bisa
menyebabkan Pneumotoraks seperti pada aktivitas menyelam (Hudak, 2011).
● Trauma toraks dapat mengakibatkan kerusakan pada tulang kosta dan sternum, rongga pleura
saluran nafas intratoraks dan parenkim paru. Kerusakan ini dapat terjadi tunggal ataupun kombinasi
tergantung dari mekanisme cedera (Sudoyo, 2010).
Patofisiologi
Utuhnya suatu dinding Toraks sangat diperlukan untuk sebuah ventilasi
pernapasan yang normal. Pengembangan dinding toraks ke arah luar oleh otot -otot
pernapasan diikuti dengan turunnya diafragma menghasilkan tekanan negative dari
intratoraks. Proses ini menyebabkan masuknya udara pasif ke paru – paru selama
inspirasi. Trauma toraks mempengaruhi strukur - struktur yang berbedadari dinding
toraks dan rongga toraks. Toraks dibagi kedalam 4 komponen, yaitudinding dada,
rongga pleura, parenkim paru, dan mediastinum.Dalam dindingdada termasuk tulang -
tulang dada dan otot - otot yang terkait (Sudoyo, 2009).
Secara klinis penyebab dari trauma toraks bergantung juga pada beberapa faktor,
antara lain mekanisme dari cedera, luas dan lokasi dari cedera, cedera lain yang terkait,
dan penyakit - penyakit komorbid yang mendasari. Pasien – pasien trauma toraks
cenderung akan memburuk sebagai akibat dari efek pada fungsi respirasinya dan
secara sekunder akan berhubungan dengan disfungsi jantung (Sudoyo, 2009).
Une image vaut
mille mots
Manifestasi Klinis
Temponade Pneumothoraks
jantungnull null
Hematothoraxn
ull
Komplikasi
Trauma toraks memiliki beberapa komplikasi seperti pneumonia 20%,
pneumotoraks 5%, hematotoraks 2%, empyema 2%, dan kontusio pulmonum 20%.
Dimana 50-60% pasien dengan kontusio pulmonum yang berat akanmenjadi
ARDS. Walaupun angka kematian ARDS menurun dalam decadeterakh,
merupakan salah satu komplikasi trauma toraks yang sangat serius dengan
angka kematian 20-43% (Nugroho, 2015).
Pemeriksaan fisik
Inspeksi
- Kalau mungkin penderita duduk, kalau tidak mungkin tidur. Tentukan luka masuk
dan keluar.
- Gerakkan dan posisi pada akhir inspirasi.
- Gerakkan dan posisi pada akhir dari ekspirasi.
Palpasi
- Diraba ada/tidak krepitasi
- Nyeri tekan anteroposterior dan laterolateral.
- Fremitus kanan dan kiri dan dibandingkan
Perkusi
- Adanya sonor, timpanis, atau hipersonor.
- Adanya pekak dan batas antara yang pekak dan sonor seperti garis lurus atau
garis miring.
Lanjutan…
Auskultasi
- Bising napas kanan dan kiri dan dibandingkan.
- Bising napas melemah atau tidak.
- Bising napas yang hilang atau tidak.
- Batas antara bising napas melemah atau menghilang dengan yang normal.
- Bising napas abnormal dan sebutkan bila ada:
• Pemeriksaan tekanan darah.
• Kalau perlu segera pasang infus, kalau perlu s yang besar
• Pemeriksan kesadaran.
• Pemeriksaan Sirkulasi perifer.
• Kalau keadaan gawat pungsi.
• Kalau perlu intubasi napas bantuan.
• Kalau keadaan gawat darurat, kalau perlu massage jantung.
• Kalau perlu torakotomi massage jantung internal
• Kalau keadaan stabil dapat dimintakan pemeriksaan radiologik (Foto thorax AP, kalau
keadaan memungkinkan).
Pemeriksaan diagnostik
• Pemeriksaan Laboratorium
Gas darah arteri (GDA), untuk melihat adanya hipoksia akibat kegagalan pernafasan
Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa.
Hemoglobin : mungkin menurun.
Saturasi O2 menurun (biasanya)
Toraksentesis : menyatakan darah/cairan di daerah thoraks
• Radio Diagnostik
Radiologi : foto thorax (AP) untuk mengkonfirmasi pengembangan kembali paru-paru dan
untuk melihat daerah terjadinya trauma
EKG memperlihatkan perubahan gelombang T – ST yang non spesifik atau disritmia
Pemerikksaan USG (Echocardiografi) merupakan metode non invasif yang dapat membantu
penilaian pericardium dan dapat mendeteksi cairan di kantung perikard
Penatalaksanaan
Manajemen awal untuk pasien trauma toraks tidak berbeda dengan pasien
trauma lainnya dan meliputi ABCDE, yaitu A: airway patency
with care ofcervical spine, B: Breathing adequacy, C: Circulatory support, D:
Disabilityassessment, dan E: Exposure without causing hypothermia
(Nugroho, 2015). Pemeriksaan primary survey dan pemeriksaan dada
secara keseluruhan harus dilakukan. Tujuannya adalah untuk
mengidentifikasi dan menangani kondisi yang mengancam nyawa
dengan segera, seperti obstruksi jalan napas, tension
Pneumotoraks, pneuomotoraks terbuka yang masif, hemotoraks masif,
tamponade perikardial, dan flail chest yang besar (Nugroho, 2015).
Pencegahan
Pencegah trauma thorax yang efektif adalah dengan cara menghindari faktor penyebabnya,
seperti menghindari terjadinya trauma yang biasanya banyak dialami pada kasus kecelakaan
dan trauma yang terjadi berupa trauma tumpul serta menghindari kerusakan pada dinding
thorax ataupun isi dari cavum thorax yang biasanya disebabkan oleh benda tajam ataupun
benda tumpul yang menyebabkan keadaan gawat thorax akut (Patriani, 2012) .
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian Kegawatdaruratan
•Pengkajian Primer
Airway (Keadaan jalan nafas)
Tingkat kesadaran,Pernafasan,Upaya bernafas ,Benda asing di jalan nafas,Bunyi nafas,Hembusan nafas.
Breathing (Fungsi pernafasan)
Jenis pernafasan,Frekuensi pernafasan,Retraksi otot bantu jalan nafas,Kelainan dinding thoraks,Bunyi
bafas,Hembusan nafas.
Circulation (Keadaan sirkulasi)
Tingkat kesadaran,Perdarahan (internal, external),CRT,Tekanan darah,Akral perifer.
Disability (Kesadaran)
GCS,Pupil,Refleks Cahaya,Refleks fisiologis,Refleks patologis,Kekuatan Otot.
Exposure
Deformitas,Contusio,Abrasi,Penetrasi,Laserasi,Edema,Luka Bakar,Grade,Jika ada luka/ vulnus, kaji,Luas
Luka, Warna dasar luka,Kedalaman.
Lanjutan…
Pengkajian Kegawatdaruratan
•Pengkajian Sekunder
Idententitas klien
Nama ,Jenis kelamin ,Umur ,Alamat ,Agama ,Bahasa ,Status perkawinan ,Pendidikan ,Pekerjaan ,
Golongan darah ,No. register , Tanggal MRS ,Diagnosa medis
Identitas penanggung jawab
Nama ,Jenis kelamin ,Alamat ,Agama ,Hubungan dengan pasien
Riwayat kesehatan
Riwayat kesehatan dahulu, Riwayat kesehatan keluarga
Pemeriksaan fisik
Keadaan umum ,Kesadaran ,TTV
Pengkajian head to toe
DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nyeri akut b.d agen pencedera fisik ( mis. Trauma) d.d adanya nyeri.
Resiko infeksi b.d kerusakan intergritas kulit.
INTERVENSI KEPERAWATAN
TERIMA KASIH…