0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
302 tayangan11 halaman

Karakterisitk Filsafat

Makalah ini membahas karakteristik, tujuan, dan manfaat mempelajari filsafat serta faktor munculnya filsafat. Karakteristik filsafat meliputi sifat skeptis, komunalisme, disinterestedness, dan universalisme. Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk meningkatkan kualitas berfikir secara kritis dan rasional. Filsafat muncul karena adanya pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai alam semesta, man

Diunggah oleh

FAzmia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
302 tayangan11 halaman

Karakterisitk Filsafat

Makalah ini membahas karakteristik, tujuan, dan manfaat mempelajari filsafat serta faktor munculnya filsafat. Karakteristik filsafat meliputi sifat skeptis, komunalisme, disinterestedness, dan universalisme. Tujuan mempelajari filsafat adalah untuk meningkatkan kualitas berfikir secara kritis dan rasional. Filsafat muncul karena adanya pertanyaan-pertanyaan filosofis mengenai alam semesta, man

Diunggah oleh

FAzmia
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

KARAKTERISITK, TUJUAN DAN FAEDAH MEMPELAJARI FILSAFAT DAN FAKTOR

MUNCULNYA FILSAFAT

DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS


MATA KULIAH : FILSAFAT UMUM
DOSEN PENGAMPU : Marlian Arif Nasution, M.Pem.I

DISUSUN OLEH
NAMA NIM
YAHYA ISRAR NASUTION 21050004
SITI SARAH LUBIS 21050002
SOFA RAHMADAYANI NASUTION 21050010

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI MADINA


MANDAILING NATAL
SUMATERA UTARA
JURUSAN MANAJEMEN DAKWAH
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis mengucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-
Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul “Karakterisitk, Manfaat dan
Tujuan Filsafat dan Faktor Munculnya Filsafat”.
Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
terwujudnya makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kami
mengharapkan kritikan dan saran yang membangun dari pembaca demi penyempurnaan makalah ini, semoga
makalah ini dapat dimanfaatkan sebagaimana mestinya.
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis
karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat dan juga sebaliknya,perkembangan ilmu dapat
memperkuat keberadaan filsafat. Filsafat telah berhasil merubah pola pikir bangsa Yunani dan umat
manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris.

Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam
ini dipengaruhi para dewa. Karena itu para dewa harus dihormati dan sekaligus ditakuti kemudian
disembah. Dengan filsafat pola pikir yang selalu tergantung pada dewa diubah menjadi pola pikir yang
bergantung pada rasio. Kejadian alam seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai kegiatan dewa yang
tertidur, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari, bulan, dan bumi pada garis
yang sejajar, sehingga bayang-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi.

Menurut Lewis White Beck, filsafat ilmu bertujuan membahas dan mengevaluasi
metodemetode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan nilai dan pentingnya upaya ilmiah sebagai
suatu keseluruhan. Pembahasan filsafat ilmu sangat penting karena akan mendorong manusia untuk
lebih kreatif dan inovatif. Filsafat ilmu memberikan spirit bagi perkembangan dan kemajuan ilmu dan
sekaligus nilai-nilai moral yang terkandung pada setiap ilmu baik pada tataran ontologis, epistemologis
maupun aksiologi.

Untuk itulah penulis mencoba memaparkan mengenai tujuan dan manfaat filsafat ilmu
sehingga diharapkan para pembaca dapat memahami pentingnya filsafat ilmu dalam kehidupan umat
manusia.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Karakterisitik Filsafat

Secara umum, untuk mengetahui dan mengenal filsafat lebih jauh maka kita harus mengetahui
terlebih dahulu karakteristik filsafat. Berfilsafat adalah berfikir, namun tidak semua berfikir adalah
berfilsafat. Berfikir filsafat mempunyai karakteristik. Bermacam-macam buku menjelaskan
karakteristik filsafat dengan bermacam-macam. Yang di antaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, kita akan membahas karakteristik filsafat, karakteristik filsafat dirumuskan pada empat
macam sifat. Yaitu :

1. Skeptisis

Skeptisis adalah sifat keragu – raguan terhadap suatu kebenaran sebelum memperoleh argument
yang kuat sebelum memperoleh terhadap kebenaran tersebut, dan sifat skeptisis ini dapat
dikelompokkan kepada tiga bagian, yaitu :

a. Pertama, bersifat gradusi. Yaitu sifat ragu yang naik menjadi yakin.
b. Kedua, bersifat degradasi. Yaitu sifat yakin yang turun menjadi ragu.
c. Ketiga, bersifat bertahan. Yaitu tetap pada posisi semula.

Skeptisisme yang dimaksud dalam filsafat ialah didalam bentuk yang pertama, yaitu graduasi.
Descartes menganjurkan agar setiap konsep / kebenaran, walau telah diketahui kebenarannya
tetapi harus diragukan terlebih dahulu sebelum memperoleh argumentasi yang kuat terhadap
kebenaran tersebut. Oleh karena itulah sikap skeptisisme Descartes bersifat metodologis, yaitu
secara metode, segala sesuatu harus diragukan terlebih dahulu untuk menganalisanya lebih
dalam, sehingga memperoleh argumentasi tentang kebenaran sesuatu.[1]

Dalam kaitannya dengan agama, skeptisisme memiliki makana eksklusif , yaitu bukan
meragukan kebenaran ajaran agama. Karena hal itu bertentangan dengan ajaran agama sendiri,
melainkan meragukan kemampuan manusia dalam memperoleh kebenaran tersebut. Dengan
kata lain, adanya kebenaran tidak diragukan, yang diragukan ialah kemampuan memperoleh
kebenaran tersebut.

2. Komunalisme

Komunalisme berasal dari kata komunal yang berarti umum. Maksudnya ialah hasil pemikiran
filsafat adalah milik masyarakat umum. Tidak memandang ras, kelas ekonomi, dan lain – lain.
Misalnya, hasil pemikiran Yunani dimanfaatkan oleh orang Asia, Eropa, Afrika, dan lain – lainnya.
Terlepas dari sesuai atau tidaknya pemikiran tersebut dengan situasi dan kondisi dimana filsafat
itu dipraktikkan.

3. Desintrestedness

1 Dr Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum, (Bandung; Ciptapustaka Media, 2005). Hal. 27.
Berasal dari kata interest yang berarti kepentingan, kemudian diberi awalan dis yang berarti tidak.
Disinterestedness berarti suatu kegiatan (aktifitas) kefilsafatan tidak dimotivasi dan tidak bertujuan
untuk kepentingan tertentu

Seperti dalam ungkapan Karl Marx, “tugas seorang filsuf tidak hanya sekedar menjelaskan dunia,
melainkan sekaligus merubahnya”

Jadi, seorang filsuf adalah seorang pemikir bebas, sesuai apa adanya bukan bagaimana seharusnya.
Disinilah keberadaan seorang filsuf diuji. Ia bertugas “menjelaskan dunia” atau bahkan “merubah
dunia”. Dengan kata lain, filsuf tidak berada pada status mempertahankan, melainkan menjelaskan
dan merobahnya kepada kondisi ideal.

4. Universalisme

Istilah universalisme berasal dari kata universal yang berarti menyeluruh. Yaitu berfilsafat adalah
hak seluruh ummat manusia secara umum. Perbedaanya dengan komunalisme ialah pada isinya.
Jika komunalisme mengandung makna bahwa isi / hasil temuan filsafat menjadi milik semua
ummat manusia kapan dan dimana saja. Sedangkan universalisme berbicara dari segi hak.. yaitu
semua manusia berhak melakukan kajian filsafat.

Kedua, kita akan membahas sifat berifikir filsafat, Jika di bahas secara luas ada banyak sekali
karakteristik/sifat-sifat berfikir filsafat. Secara khusus sifat berfikir filsafat ada tiga, yaitu :

1. Radikal

Sifat berfikir filsafat yang pertama adalah sifat radikal. Berfilsafat berarti berfikir radikal. Filsuf
adalah pemikir yang radikal. Karena berfikir secara radikal, ia tidak akan pernah berhenti hanya
pada suatu wujud realitas tertentu. Keradikalan berfikirnya itu akan senantiasa mengobarkan
hasratnya untuk menemukan realitas seluruh kenyataan, berarti dirinya sendiri sebagai suatu
realitas telah termasuk ke dalamnya sehingga ia pun berupaya untuk mencapai akar pengetahuan
tentang dirinya sendiri.[2]

Telah jelas bahwa artinya berfikir radikal bisa diartikan berfikir sampai ke akar-akarnya, tidak
tanggung-tanggung, sampai kepada konsekuensinya yang terakhir. Berfikir itu tidak setengah-
setengah, tidak berhenti di jalan tetap terus sampai ke ujungnya. Berfikir radikal tidak berarti
hendak mengubah, membuang atau menjungkirbalikkkan segala sesuatu, melainkan dalam arti
sebenarnya, yaitu berfikir secara mendalam. Untuk mencapai akar persoalan yang
dipermasalahkan. Berfikir radikal justru hendak memperjelas realitas.

Contoh ilustrasi berpikir secara radikal yaitu, ketika rapat penetapan standar kompetensi sebuah
mata pelajaran yang akan digunakan sering kali terjadi perbedaan pendapat dari forum, sehingga
sering kali tidak mendapat jalan keluarnya. Untuk memecahkan masalah seperti ini forum harus
mencoba berfikir sampai ke akar-akarnya tentang tujuan kompetensi lulusan yang akan dicapai.
Diharapakan dengan berfikir seperti ini akan lebih menyatukan pendapat dan menyamakan tujuan
yang tadinya masih berbeda pemahaman.

2 Yangku Templates, Karakterisitk Filsafat


2. Rasional

Sifat berfikir filsafat yang kedua adalah sifat rasional. Perenungan kefilsafatan berusaha menyusun
suatu bahan konsepsional yang bersifat rasional. Yang dimaksudkan dengan bagan konsepsionl
yang bersifat rasional ialah bagan yang bagian-bagiannya secara logis berhubungan satu dengan
yang lain.

Berpikir secara rasional berarti berpikir logis, sistematis, dan kritis berpikir logis adalah bukan
hanya sekedar menggapai pengertian-pengertian yang dapat diterima oleh akal sehat, melainkan
agar sanggup menarik kesimpulan dan mengambil keputusan yang tepat dan benar dari premis-
premis yang digunakan.

Berpikir logis yang menuntut pemikiran yang sistematis. Pemikiran yang sistematis ialah
rangkaian pemikiran yang berhubungan satu sama lain atau saling berkaitan secara logis. Berfikir
kritis berarti membakar kemampuan untuk terus menerus mengevaluasi argument-argumen yang
mengklaim diri benar. Seorang yang berpikir kritis tidak akan mudah menggenggam suatu
kebenaran sebelum kebenaran itu dipersoalkan dan benar-benar diuji terlebih dahulu. Berpikir
logis, sistematis - kritis adalah ciri utama berfikir rasional.[3]

Contoh berfikir filsafat dalam sifat rasional. misalnya ketika kita berbicara mengenai “cahaya”
yang begitu terang. Dan ketika kita tahu bahwa cahaya merupakan “benda”. Dan pengamatan kita
akan cahaya yang begitu tiba-tiba menerangi daerah dengan luas yang jauh dapat dipastikan bahwa
pikiran kita akan menyimpulkan bahwa Cahaya memiliki “kecepatan yang tinggi” meskipun tidak
mengetahui kecepatan yang pastinya.

3. Menyeluruh

Sifat berfikir filsafat yang ketiga adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas jika
mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Ingin melihat hakikat ilmu dalam
pengetahuan yang lainnya, ingin mengetahui kaitan ilmu dengan moral, kaitan ilmu dan agama,
dan ingin meyakini apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada manusia. Perenungan
kefilsafatan berusaha menyusun suatu bagan konsepsional yang memadai untuk dunia tempat kita
hidup maupun diri kita sendiri. Suatu sistem filsafat harus bersifat komprehensif, dalam arti tidak
ada sesuatu pun yang berada di luar jangkauannya jika tidak demikian, filsafat akan ditolak serta
dikatakan berat sebelah dan tidak memadai.

Berfikir universal tidak berpikir khusus, terbatas pad bagian-bagian tertentu, namun mencakup
secara keseluruhan. Berpikir filsafat harus dapat menyerap secara keseluruhan apa yang ada pada
alam semesta, tidak terpotong-potong.

Pemikiran yang tidak hanya berdasarkan pada fakta yaitu tidak sampai kesimpulan khusus tetapi
sampai pada kesimpulan yang paling umum. Sampai kepada kesimpulan yang paling umum bagi
seluruh umat manusia di manapun kapanpun dan dalam keadaan apapun.

Contoh berfikir filsafat dalam sifat menyeluruh. misalnya untuk memperoleh gelar spesialis
kandungan, seorang harus memulai pendidikan secara runtut, yaitu mulai dari pendidikan dokter,
profesi, hingga kespesialis. Dokter spesialis kandungan harus memahami seluruh bagian dari

3 Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2003) hal 20.
anatomi tubuh wanita, tidak hanya bagian tertentu saja. Dokter kandungan juga mempelajari semua
bidang yang ada dikedokteran, tidak hanya mempelajari satu bidang saja.

B. Tujuan dan Faedah Mempelajari Filsafat

1. Tujuan Filsafat

Ada Beberapa tujuan mempelajari ilmu Filsafat ini yang dimna di antara nya sebagai berikut :

a. Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis dan
cermat terhadap kegiatan ilmiah. Maksudnya seorang ilmuwan harus memiliki sikap kritis
terhadap bidang ilmunya sendiri, sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap solipsistik,
menganggap bahwa hanya pendapatnya yang paling benar.
b. Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan.
Sebab kecenderungan yang terjadi di kalangan ilmuwan modern adalah menerapkan suatu
metode ilmiah tanpa memperhatikan struktur ilmu pengetahuan itu sendiri. Satu sikap yang
diperlukan disini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai atau cocok dengan struktur
ilmu pengetahuan, bukan sebaliknya. Metode hanya saran berpikir, bukan merupakan hakikat
ilmu pengetahuan.
c. Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah
yang dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar dapat
dipahami dan dipergunakan secara umum. Semakin luas penerimaan dan penggunaan metode
ilmiah, maka semakin valid metode tersebut. Pembahasan mengenai hal ini dibicarakan dalam
metodologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang cara-cara untuk memperoleh kebenaran.
d. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita bisa memahami,
sumber, hakekat, dan tujuan ilmu.
e. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan dan kemajuan ilmu di berbagai bidang,
sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secra historis.
f. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi,
terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan non ilmiah.
g. Mendorong pada calon ilmuwan dan iluman untuk konsisten dalam mendalami ilmu dan
mengembangkannya.
h. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara ilmu dan agama tidak ada
pertentangan.
i. Memahami dampak kegiatan ilmiah (penelitian) yang berupa teknologi ilmu (misalnya alat
yang digunakan oleh bidang medis, teknik, komputer) dengan masyarakat yaitu berupa
tanggung jawab dan implikasi etis. Contoh dampak tersebut misalnya masalaheuthanasia
dalam dunia kedokteran masih sangat dilematis dan problematik, penjebolan terhadap sistem
sekuriti komputer, pemalsuan terhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI) , plagiarisme
dalam karya ilmiah.

2. Manfaat Filsafat

Adapun manfaat dari mempelajari filsafat ilmu, yaitu :

a. Menyadarkan seorang ilmuwan agar tidak terjebak ke dalam pola pikir “menara gading”yakni
hanya berpikir murni dalam bidangnya tanpa mengaitkannya dengan kenyataan yang ada di
luar dirinya. Padahal setiap aktivitas keilmuwan nyarisnyaris tidak dapat dilepaskan dalam
konteks kehidupan sosial kemasyarakatan. Jadi filsafat ilmu diperlukan kehadirannya di tengah
perkembangan IPTEK yang ditandai semakin menajamnya spesialisasi ilmu pengetahuan.
b. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmumaka para ilmuwan akan menyadari keterbatasan
dirinya dan tidak terperangkap ke dalam sikap arogansi intelektual. Hal yang diperlukan adalah
sikap keterbukaan diri di kalangan ilmuwan sehingga mereka dapat saling menyapa dan
mengarahkan seluruh potensi keilmuan yang dimilikinya untuk kepentingan umat manusia.
c. Mengembangkan ilmu, teknologi dan perindustrian dalam batasan nilai ontologis. Melalui
paradigma ontologism diharapkan dapat mendorong pertumbuhan wawasan spiritual keilmuan
yang mampu mengatasi bahaya sekularisme segala ilmu.
d. Mengembangkan ilmu, teknologi dan pertindustrian dalam batasan nilai epistemologis.
Melalaui paradigma epistemologis diharapkan akan mendorong pertumbuhan wawasan
intelektual keilmuan yang mampu membentuk sikap ilmiah.
e. Mengembangkan ilmu, teknologi dan perindustrian dalam batasan akiologi. Melalui paradigma
aksiologis diharapkan dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai etis, serta mendorong perilaku
adil dan membentuk moral tanggung jawab. Segala macam ilmu dan teknologi dipertanggung
jawabkan bukan unntuk kepentingan manusia, namun juga untuk kepentingan obyek semua
sebagai sumber kehidupan.
f. Menambah pandangan dan cakrawala yang lebih luas agar tidak berpikir dan bersikap sempit
dan tertutup.
g. Menjadikan diri bersifat dinamis dan terbuka dalam menghadapi berbagai problem.
h. Menyadari akan kedudukan manusia baik sebagai pribadimaupun dalam hubungannya dengan
orang lain, alam sekitar,dan Tuhan YME.

C. Faktor-Faktor Munculnya Filsafat

Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya filsafat. Namun secara historis, sebagaimana
disebutkan oleh Moh. Hatta dalam bukunya Alam Pikiran Yunani, ada dua hal :

1. Dongeng dan takhayul yang dimiliki oleh suatu masyarakat, kebudayaan atau bangsa. Beberapa
orang dalam masyarakat tersebut tidak langsung percaya begitu saja. Lalu, ia mulai berpikir kritis
dan mencari jawabannya. Jawaban atas kebenaran dari dongeng-dongeng itu, maka dari situ
muncullah filsafat.
2. Keindahan alam yang besar, terutama ketika malam hari. Hal tersebut membuat keingintahuan
orang-orang Bangsa Yunani untuk mengetahui rahasia keindahan alam tersebut. Keingintahuan
akan rahasia alam tersebut akhirnya menimbulkan filsafat juga.

Sedangkan menurut Beerling dalam Ahmad Tafsir (2002:13), filsafat dimulai oleh orang Yunani
karena rasa ketakjuban. Rasa takjub mereka akan keindahan alam ini membuat mereka ingin
mengetahui rahasia-rahasia alam ini. Plato misalnya, mengatakan bahwa filsafat itu dimulai dari
ketakjuban. Lantas sikap heran atau takjub itu menimbulkan pertanyaan (melahirkan sikap bertanya),
dan pertanyaan itu akan dipertanyakan kembali karena ia selalu sangsi atas kebenaran yang
ditemukannya itu. Kesangsian itu lalu mulai menimbulkan sifat kritis, maka saat itu filsafat mulai
muncul.

Hanyasaja, yang perlu dicatat adalah bahwa pertanyaan yang dapat menimbulkan filsafat bukanlah
pertanyaan yang sembarang. Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti “apa warna langit pada siang
hari yang cerah?”, tidak akan menimbulkan filsafat, hal itu cukup dijawab oleh indra mata kita.
Begitupun pertanyaan seperti “kapan awan akan mulai menurunkan hujan?”, pertanyaan tersebut pun
tidak akan menimbulkan filsafat, cukup dijawab dengan melakukan riset saja. Pertanyaan yang dapat
menimbulkan filsafat haruslah pertanyaan yang mendalam, deep question, yang bobotnya berat dan
tidak akan terjawab oleh indra kita saja. Misalnya, pertanyaan dari Thales berikut :”Apa sebenarnya
bahan alam semesta ini?”, atau pertanyaan lain, “Dari unsur apa alam semesta ini tercipta?’ Pertanyaan
seperti inilah yang dimaksud dengan pertanyaan yang menimbulkan filsafat. Indra kita tidak dapat
menjawab, bahkan sains pun dibuat bingung. Jawaban atas pertanyaan ini memerlukan pemikiran
mendalam.

Sementara itu, di saat modern seperti sekarang ini, yang menjadi penyebab munculnya filsafat
adalah karena rasa kesangsian. Sangsi itu setingkat dibawah percaya dan setingkat di atas tidak
percaya. Saat manusia mendapatkan pernyataan, ia akan percaya atau tidak percaya. Atau bisa jadi
tidak kedua0duanya. Pada sikap percaya tidak percaya, pikiran tidak bekerja dan ada problem. Akan
tetapi, saat percaya tidak, tidak percaya juga tidak, maka pikirannya akan bekerja sampai pada percaya
atau tidak percaya.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Secara umum, untuk mengetahui dan mengenal filsafat lebih jauh maka kita harus mengetahui terlebih
dahulu karakteristik filsafat. Berfilsafat adalah berfikir, namun tidak semua berfikir adalah berfilsafat. Berfikir
filsafat mempunyai karakteristik. Bermacam-macam buku menjelaskan karakteristik filsafat dengan
bermacam-macam. Yang di antaranya adalah sebagai berikut :
1. Skeptisis
2. Komunalisme
3. Desintrestedness
4. Universalisme
Sifat berifikir filsafat, Jika di bahas secara luas ada banyak sekali karakteristik/sifat-sifat berfikir
filsafat. Secara khusus sifat berfikir filsafat ada tiga, yaitu :
1. Radikal
2. Rasional
3. Menyeluruh
Tujuan filsafat ada beberapa yaitu sebagai berikut :
1. Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi kritis dan cermat
terhadap kegiatan ilmiah. Maksudnya seorang ilmuwan harus memiliki sikap kritis terhadap bidang
ilmunya sendiri, sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap solipsistik, menganggap bahwa hanya
pendapatnya yang paling benar.
2. Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengkritik asumsi dan metode keilmuan. Sebab
kecenderungan yang terjadi di kalangan ilmuwan modern adalah menerapkan suatu metode ilmiah
tanpa memperhatikan struktur ilmu pengetahuan itu sendiri. Satu sikap yang diperlukan disini adalah
menerapkan metode ilmiah yang sesuai atau cocok dengan struktur ilmu pengetahuan, bukan
sebaliknya. Metode hanya saran berpikir, bukan merupakan hakikat ilmu pengetahuan.
3. Filsafat ilmu memberikan pendasaran logis terhadap metode keilmuan. Setiap metode ilmiah yang
dikembangkan harus dapat dipertanggungjawabkan secara logis-rasional, agar dapat dipahami dan
dipergunakan secara umum. Semakin luas penerimaan dan penggunaan metode ilmiah, maka
semakin valid metode tersebut. Pembahasan mengenai hal ini dibicarakan dalam metodologi, yaitu
ilmu yang mempelajari tentang cara-cara untuk memperoleh kebenaran
Manfaat Filsafat ada beberapa yaitu sebagai berikut :
1. Mengembangkan ilmu, teknologi dan perindustrian dalam batasan akiologi. Melalui paradigma
aksiologis diharapkan dapat menumbuhkembangkan nilai-nilai etis, serta mendorong perilaku adil
dan membentuk moral tanggung jawab. Segala macam ilmu dan teknologi dipertanggung jawabkan
bukan unntuk kepentingan manusia, namun juga untuk kepentingan obyek semua sebagai sumber
kehidupan.
2. Menambah pandangan dan cakrawala yang lebih luas agar tidak berpikir dan bersikap sempit dan
tertutup.
3. Menjadikan diri bersifat dinamis dan terbuka dalam menghadapi berbagai problem.
4. Menyadari akan kedudukan manusia baik sebagai pribadimaupun dalam hubungannya dengan orang
lain, alam sekitar,dan Tuhan YME.

Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya filsafat. Namun secara historis, sebagaimana disebutkan
oleh Moh. Hatta dalam bukunya Alam Pikiran Yunani, ada dua hal yang membuat munculnya filsafat.
DAFTAR PUSTAKA
Dr Hasan Bakti Nasution, Filsafat Umum, (Bandung; Ciptapustaka Media, 2005).
Asmoro Ahmadi, Filsafat Umum, (Jakarta: Rajawali Pers, 2003)
Muhlisin. Filsafat dan Filsafat Ilmu Mustansyir, Rizal. Filsafat Ilmu. Yogyakarta:Pustaka Pelajar,
2001. Putra, Uhar Suharsa. 2004.
Filsafat Ilmu Panca Budi, Manfaat dan Makna Filsafat Ilmu.http://ff.pancabudi.ac.id/news/manfaat-
danmakna-filsafat-ilmu-.html. Diakses pada tanggal 9 Juni 2016
Susanto, A.2011.Filsafat Ilmu. Cet. I.Jakarta:Bumi Aksara)

Anda mungkin juga menyukai