BAB II
Landasan Teologis Liturgi
Dalam sejarah perkembangan gereja, liturgi diartikan sebagai keikutsertaan orang
beriman dalam karya keselamatan Allah, yang dinyatakan melalui tindakan ibadah. Baik
melalui pelayanan atau pengabdian, puji, sembah dan syukur. Selain itu liturgi juga
merupakan keterlibatan Kristus dalam melanjutkan karya keselamatan di dalam, dengan dan
melalui Gereja-Nya.
Kata liturgi yang dipakai dalam Alkitab mempunyai beragam pengertian. Artinya
tidak menunjuk pada satu pengertian, sebagaimana yang tertulis dalam Perjanjian Lama
maupun Perjanjian Baru.
A. Dasar-dasar Alkitabiah liturgika dalam PL Perjanjian Lama.
Berdasarkan Kitab Yesaya 44:12 dan 2 Raja raja 15:16, kata liturgi dipakai dalam konteks
beberapa pengertian. Di antarnya adalah:
1. Persoalan Agama. Ini menyangkut ketaatan dan kedisiplinan umat Tuhan terhadap hukum-
hukum Tuhan. Baik saat berada di tengah bermasyarakat Yahudi maupun bangsa-bangsa lain,
termasuk saat menjalankan peribadahan di kemah suci maupun Bait Allah.
2. Tugas imam di kemah Suci dan Bait Allah, terutama dalam tugas mezbah. Peran imam
yang membedakannya dari yang lain adalah bahwa imam adalah pelayan pada tempat suci
walaupun aktivitas-aktivitasnya tidak jauh berbeda dari para nabi. Sebagai pelayan di tempat-
tempat suci, para imam memimpin umat Israel untuk beribadah kepada Allah, dan berusaha
agar peribadahan umat itu berlangsung secara teratur dan benar menurut tata kebiasaan
agamawi yang berlaku. Imam adalah orang yang ahli dalam soal-soal ibadah. Untuk itu
diperlukan pengetahuan khusus. Ia memberikan bimbingan dan putusan-putusan mengenai
soal-soal upacara keagamaan dan hukum.
Fungsi imam sebagai pelayan di tempat suci menghubungkannya dengan persembahan-
persembahan yang diberikan oleh para umat. Ini tidak lain karena salah satu hal yang penting
dalam ibadah Israel adalah korban persembahan. Penyerahan korban persembahan menjadi
tugas imam karena pemahaman bahwa hanya melalui kata-kata ilahi yang diucapkan oleh
para imam maka korban persembahan itu sah dan berlaku.
1
3. Tugas orang Lewi dalam Kemah Suci dan Bait Allah. Dalam Kemah Suci mereka
bertanggung jawab untuk mengemasi, mengangkut, dan merekonstruksi Kemah Suci setiap
kali bangsa Israel melakukan perjalanan ke sebuah kemah baru. Tugas yang paling suci,
termasuk membawa korban, disediakan untuk Imam, keturunan Harun. Peran yang paling
banyak dilakukan adalah memainkan musik, membuka dan menutup gerbang, dan berjaga.
Pelayanan yang dilakukan oleh para imam dan orang Lewi adalah pelayanan yang berguna
untuk Jemaat dalam hal ini adalah umat Israel.
Dalam Terjemahan Septuaginta (Bahasa Ibrani ke dalam Bahasa Yunani) kata liturgi
dijumpai sebanyak 170 kali dari kata abodah. Kata ini mengandung dua pengertian dengan
memakai istilah sher`et yang menekankan ungkapan perasaan dalam pengabdian diri serta
kesetiaan kepada majikan dan abh`ad yang lebih menekankan ketaatan kerja seorang hamba
(budak, abdi) kepada tuannya.
Istilah sher`et dan abh`ad tidak dimaksudkan untuk ibadah umum oleh seluruh umat
tetapi secara khusus yang dilaksanakan oleh suku Lewi kepada Allah untuk kepentingan
seluruh umat Israel (Bil.16: 9). Istilah yang digunakan untuk menggambarkan ibadah yang
dilakukan oleh seluruh umat Israel ialah kata latreia dan douleia terpisah dan berbeda dari
peribadahan suku Lewi yang dipandang lebih tinggi dan terhormat dengan corak perayaan
yang khusus.
Dalam Perjanjian Lama terjemahan Septuaginta istilah leitourgia digunakan untuk
pelayanan ibadah para imam kaum Lewi. Sedangkan tindakan kultis (penghormatan) umat
biasanya diungkapkan dengan istilah latreia (penyembahan).
B. Dasar-dasar Alkitabiah liturgika dalam Perjanjian Baru.
Kata Leiturgi dalam Perjanjian Baru ditulis sebanyak 15 kali dengan pengertian dan makna
yang berbeda-beda. Di antaranya adalah:
1. Luk.1:23, Ibrani 9:21;10:11 merujuk kepada tugas imam.
2. Ibr.8:2, 6 menguraikan pelayanan Kristus sebagai imam.
2
3. Rm.15: 16 merujuk kepada pekerjaan rasul dalam pekabaran Injil kepada orang kafir.
4. Flp.2: 17 sebagai kiasan untuk hal percaya.
5. Ibr.1: 7, 14 merujuk kepada pekerjaan malaikat-malaikat melayani.
6. Rm.13: 6 mengacu kepada jabatan pemerintah.
7. Rm.15: 27, Flp.2: 25,30, ;4:18 merujuk kepada pengumpulan persembahan untuk
orang miskin.
8. Kis.13: 2 mengacu kepada kumpulan orang yang berdoa dan berpuasa.
Kata leitourgia dan leitourgein dalam Perjanjian Baru memiliki makna yang sangat luas.
Dalam Injil Lukas.1:23, kata leitourgia memiliki makna yang sama dengan penggunaannya
dalam LXX (Septuaginta) yaitu pelayanan imam. Jika dibandingkan dengan surat Ibrani,
yang merupakan kitab yang sering menggunakan kata leitourgia dan leitourgein (Ibr.8: 6, 9:
21, 10: 11) dengan konteks yang sama sekali baru. Penulis Ibrani menggunakan kata
leitourgia untuk menjelaskan makna imamat Yesus Kristus sebagai satu-satunya Imamat
Perjanjian Baru. Imamat Kristus merupakan pelayanan yang jauh lebih agung dan berdaya
guna dibandingkan dengan pelayanan imam Perjanjian Lama.
Pada tulisan Perjanjian Baru yang lain, penggunaan kata leitougia atau leitourgein
memiliki makna yang berbeda-beda.
1. Kisah Para Rasul 13: 2 merupakan satu-satunya teks yang menggunakan kata liturgi
menunjuk ibadah. Dalam Rm.15: 16 Paulus disebut pelayan (leitourgos) Yesus
Kristus melalui pemberitaan Injil.
2. Surat 2 Korintus 9:12 dan Rm.15: 27 kata “liturgi” berarti sumbangan yang
merupakan tindakan kasih bagi saudara-saudara seiman.
3. Surat Filipi 2:25, 30, Rm.13: 6, Ibr.1: 7, kata liturgi memiliki arti melayani dalam arti
yang biasa.
3
4. Surat kepada Jemaat di Ibrani, kata leitourgia dan leitourgein disebut 3 kali ( Ibr 8:6;
9:21; 10:11) yang mengacu kepada pelayanan imamat Kristus. Maka, liturgi
merupakan wujud pelaksanaan tugas Kristus sebagai Imam Agung, di mana Kristus
menjadi Pengantara satu-satunya antara manusia kepada Allah Bapa, dengan
mengorbankan diri-Nya sekali untuk selama-lamanya (lih. Ibr 9:12; 1 Tim 2:5).
Korban Kristus yang satu-satunya inilah yang selalu diingat dan dihadirkan kembali
oleh kuasa Roh Kudus, dalam Perjamuan Kudus.
Dengan demikian, liturgi merupakan penyembahan Kristus kepada Allah Bapa di dalam Roh
Kudus, dan dalam melakukan penyembahan ini, Kristus melibatkan TubuhNya, yaitu Gereja.
Karena itu, liturgi merupakan karya bersama antara Kristus-Sang Kepala, dan Gereja yang
adalah Tubuh Kristus. Pada jaman Gereja awal seperti dijabarkan di dalam surat rasul Paulus,
para pengikut Kristus beribadah bersama di dalam liturgi (dikatakan sebagai “korban dan
ibadah iman” di dalam Filipi 2:17). Termasuk di sini adalah pewartaan Injil “(Roma 15:16);
dan pelayanan kasih (2 Korintus 9:12). Maka, dalam Perjanjian Baru, kata ‘liturgi’ mencakup
tiga hal, yaitu ibadat, pewartaan dan pelayanan kasih yang merupakan partisipasi Gereja
dalam meneruskan tugas Kristus sebagai Imam, Nabi dan Raja.