Anda di halaman 1dari 15

Emisi gas buang

Emisi gas buang adalah sisa hasil pembakaran bahan bakar didalam mesin
pembakaran dalam, mesin pembakaran luar, mesin jet yang dikeluarkan
melalui sistem pembuangan mesin.

Komposisi gas buang


Sisa hasil pembakaran berupa air (H2O), gas CO atau disebut juga karbon
monooksida yang beracun, CO2 atau disebut juga karbon dioksida yang
merupakan gas rumah kaca, NOx senyawa nitrogen oksida, HC berupa
senyawa Hidrat arang sebagai akibat ketidak sempurnaan proses pembakara
serta partikel lepas.

Strategi menurunkan emisi gas buang


Sebagian dari gas buang yang dikeluarkan beracun, dan sebagian besar
berupa gas rumah kaca yang pada gilirannya mengakibatkan pemanasan
global, untuk itu berbagai strategi dilakukan:

• Pengetatan standar emisi gas buang melalui tehnologi.


• Kebijakan fiskal
o Pajak kendaraan
o Pajak bahan bakar
o Insentif fiskal untuk alat yang ramah lingkungan
• Peningkatan kelancaran lalu lintas
o Pembatasan lalu lintas
o Sistem lalu lintas pintar /Intelligent Transport System
o Peningkatan kapasitas infrastruktur
• Peningkatan kualitas bahan bakar
o Optimasi kualitas bahan bakar
o Pengembangan bahan bakar nabati
o Pengembangan bahan bakar alternatif
 Hidrogen
 Listrik

Analisa Emisi gas buang

Pemerintah dengan program langit birunya berupaya dan bertujuan untuk


mengendalikan dan mencegah pencemaran udara dan mewujudkan perilaku
sadar lingkungan baik dari sumber tidak bergerak (industri) maupun sumber
bergerak yaitu kendaraan bermotor.
Motor Bakar

Teknik Mesin
Karena itu secara berkala kendaraan kita wajib diperiksakan emisi gas
buangnya. Masalahnya, sudah mengertikah kita akan hal itu, terkadang kita
dapatkan hasil printout dari bengkel dimana kita melakukan pemeriksaan
gas buang kendaraan kita itu, tetapi kita tidak mengerti maksudnya apa.
apakah pemeriksaan itu sudah benar?

Pada proses pembakaran tentu diperlukan oksigen dan oksigen ini didapat
dari udara bebas. Para pakar telah mengidentifikasi bahwa udara terdiri dari,

Oxygen (O2) sebanyak 21%, Nitogen (N2) 78% dan 1% sisanya adalah gas-
gas lainnya.

Ikatan Hydrocarbon (HC) pada bahan bakar (BB) akan hanya bereaksi
dengan oksigen pada saat proses pembakaran sempurna, dan menghasilkan
air (H2O) serta karbondioksida (CO2) sedangkan Nitrogen akan keluar
sebagai N2. Sayangnya pada kondisi-kondisi tertentu pembakaran menjadi
tidak sempurna dan hal ini menghasilkan gas-gas buang yang berbahaya
bagi kehidupan, seperti terbentuknya karbon monoksida (CO) dan juga
Nitrogen oksida (NOx)

Teoritis pembakaran sempurna didapat dengan perbandingan udara/BB (Air


to fuel ratio) adalah 14,7 dan sering disebut sebagai Stoichiometry dan
sering disebut juga sebagai perbandingan Lambda=1.

Air to Fuel Ratio (sering disingkat AFR) > 14,7 disebut sebagai Lean
Combustion sedangkan sebaliknya disebut sebagai Rich combustion.

Perhatikan Diagram dibawah ini,

Motor Bakar

Teknik Mesin
Pada pembakaran ideal sudah disebutkan diatas akan menghasilkan H2O,
CO2 serta N2, Namun secara praktis pembakaran pada mesin tidaklah
sempurna walau pada mesin dengan technologi tinggi sekalipun.

Pada diagram diatas bisa dilihat, garis hitam adalah garis stoichiometry
dimana pada pembakaran ini akan didapat nilai kurang lebihnya dan menjadi
baku mutu emisi.

• CO max 2.5% (1.5% max diberlakukan untuk kendaraan injeksi)


• HC < 300ppm

Pada hasil printout diatas masih memenuhi kriteria lulus uji emisi, walau
bisa dibilang kurang sempurna. Bisa dilihat pada printout tidak terdapatnya
informasi pada suhu dan RPM berapa uji emisi ini di lakukan.

Karena itulah, saat ingin Uji emisi, pastikan Alat uji terkalibrasi dan juga
pastikan uji emisi dilakukan pada beberpa RPM yang biasanya dilakukan
pada rpm idle serta rpm berkisar 2000 hingga 3000rpm. Serta pastikan juga
minta printout dengan informasi yang lengkap.

Motor Bakar

Teknik Mesin
Analisa Perbandingan Penggunaan Bahan Bakar Minyak
dan Gas Pada Mobil Jenis Kijang di Laboratorium Chassis
Dynamometer

a. Daya Penuh

Pengujian daya penuh dilakukan untuk mengetahui daya maksimum yang


dihasilkan oleh kendaraan. Dalam pengujian ini diperoleh daya maksimum
dari 2 (dua) kendaraan yang masing-masing menggunakan bahan bakar
bensin dan bahan bakar gas. Hasil pengujian tersebut disajikan pada Tabel 1
sampai dengan Tabel 4.

Motor Bakar

Teknik Mesin
Tabel 1. Daya Maksimum Kendaraan B AAAA HQ Premium

Tabel
2. Daya Maksimum Kendaraan B AAAA HQ Gas

Motor Bakar

Teknik Mesin
Tabel 3. Daya Maksimum Kendaraan B BBBB HQ Premium

Tabel 4. Daya Maksimum Kendaraan B BBBB HQ Gas

Dari hasil diatas kendaraan uji dengan no. polisi B AAAA HQ memiliki daya
maksimum 39,81 KW pada putaran mesin 4000 rpm bila dioperasikan
dengan bahan bakar bensin sedangkan apabila kendaraan ini beroperasi
dengan bahan bakar gas, kendaraan ini menghasilkan daya maksimum
sebesar 31,97 KW pada putaran mesin 4000 rpm atau mengalami penurunan
daya sebesar 19,7%. Secara keseluruhan penurunan daya ini adalah rata-
rata 18,3%. Hasil ini dapat dilihat pada grafik 1.

Motor Bakar

Teknik Mesin
Sedangkan untuk kendaraan dengan No. Polisi B BBBB HQ menghasilkan
daya maksimum sebesar 36,19 KW pada putaran mesin 3900 rpm bila
dioperasikan dengan bahan bakar bensin. Hasil yang berbeda diperoleh pada
saat kendaraan ini beroperasi dengan bahan bakar gas dimana daya
maksimum diperoleh 33,34% pada putaran mesin 4000 rpm. Secara
keseluruhan penurunan rata-rata daya kendaraan ini sebesar 15,76%. Hasil
ini disajikan pada grafik 2.

Dari grafik 1 dan 2 terlihat bahwa kendaraan dengan No. Polisi B AAAA HQ
mengalami penurunan daya lebih besar dibanding dengan kendaraan
dengan kendaraan No. Polisi B BBBB HQ. Perbedaan ini bisa disebabkan
kondisi kendaraan yang berbeda, jenis konversion kit yang berbeda,

b. Uji Akselerasi

Uji akselerasi ini dilakukan untuk mengetahui waktu yang diperlukan


kendaraan untuk mencapai kecepatan tertentu pada posisi perseneling
tertentu. Pengujian ini diperlukan untuk membandingkan daya traksi masing-
Motor Bakar

Teknik Mesin
masing kendaraan uji bila dioperasikan dengan bahan bakar yang berbeda.
Hasil uji akselerasi ini dapat dilihat pada Tabel 5 sampai dengan Tabel 8

Tabel 5. Akselerasi Kendaraan B BBBB HQ dengan Bahan Bakar Gas

Tabel 6. Akselerasi Kendaraan B BBBB HQ dengan Bahan Bakar Gas

Tabel 7. Akselerasi Kendaraan B AAAA HQ dengan Bahan Bakar Premium


Motor Bakar

Teknik Mesin
Tabel 8. Akselerasi Kendaraan B AAAA HQ dengan Bahan Bakar Premium

Grafik 3. Akselerasi Kendaraan B AAAA HQ Pada Perseneling 3

Motor Bakar

Teknik Mesin
Dari grafik 3 dan 4 terlihat bahwa daya traksi kendaraan uji dengan bahan
bakar gas lebih lambat dibanding dengan kendaraan dengan bahan bakar
premium. Hal yang sama terjadi pada posisi perseling 4. Pada perseneling 3
perbedaan yang terbesar terjadi pada akselerasi dari kecepatan 20 km/jam
mencapai kecepatan 50 km/jam yaitu sebesar 48,60%.

Grafik 4. Akselerasi Kendaraan B AAAA HQ Pada Perseneling 4

Sedangkan pada posisi perseneling 4 perbedaan terbesar terjadi pada


akselerasi dari kecepatan 50 km/jam mencapai kecepatan 80 km/jam yaitu
sebesar 43,75%.

Grafik 5. Akselerasi Kendaraan B BBBB HQ Pada Perseneling 3


Motor Bakar

Teknik Mesin
Hasil Pengujian yang serupa terjadi pada kendaraan uji dengan No. Polisi B
BBBB HQ yaitu daya traksi kendaraan uji dengan bahan bakar gas lebih
lambat. Pada posisi perseneling 3 perbedaan terbesar pada akselerasi
kecepatan 20 km/jam menjadi 50 km/jam yaitu sebesar 39,70%. Sedangkan
pada posisi perseniling 4 perbedaan terbesar terjadi pada pencapaian
kecepatan dari 30 km/jam ke 80 km/jam yaitu 42,16%.

Grafik 6. Akselerasi Kendaraan B BBBB HQ Pada Perseneling 4

Akselerasi untuk kendaraan menggunakan BBG lebih lambat dibanding


dengan kendaraan menggunakan bahan bakar premium dikarenakan
keterlambatan pasokan BBG kedalam ruang bakar yang disebabkan sistem
Motor Bakar

Teknik Mesin
injeksi di intake manifold, sedangkan kendaraan bensin injeksi bahan bakar
langsung ke ruang bakar.

c. Uji Emisi

Uji emisi ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan emisi gas buang pada
kendaraan uji dengan membandingkan antara emisi gas buang kendaraan
yang menggunakan bahan bakar premium dengan BBG pada bangku chassis
dynamometer, dari hasil pengujian emisi diperoleh data-data emisi CO, CO2
dan HC baik yang dihasilkan oleh kendaraan premium dan kendaraan BBG.
Hasil pengujian emisi ini dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

Grafik 7. Emisi CO Kendaraan B BBBB HQ

Dari grafik 7 dan Grafik 8 terlihat bahwa kadar emisi CO yang dihasilkan
kendaraan yang berbahan bakar premium jauh lebih besar dibandingkan
dengan kendaraan berbahan bakar gas. Jadi bisa dikatakan bahwa
pembakaran yang terjadi pada kendaraan BBG lebih baik sehingga
menghasilkan emisi CO yang lebih rendah. Jika dibandingkan dengan
Kendaraan BBG2 dan BBG 1 terlihat bahwa kendaraan BBG2 menghasilkan
emisi CO yang lebih besar. Hal ini bisa terjadi karena kualitas BBG 1 lebih
baik daripada BBG 2.

Motor Bakar

Teknik Mesin
Grafik 8. Emisi CO Kendaraan B AAAA HQ

Selain kadar emisi CO, kadar emisi CO2 dapat dipantau pada uji chassis ini.
Dari Grafik 9 dan Grafik 10 terlihat bahwa kadar emisi CO2 yang dihasilkan
oleh kendaraan BBG lebih besar dari kendaraan premium. Hal ini bisa terjadi
karena pembakaran yang terjadi pada kendaraan BBG lebih baik.

Grafik 9. Emisi CO2 Kendaraan B AAAA HQ

Motor Bakar

Teknik Mesin
Grafik 10. Emisi CO2 Kendaraan B BBBB HQ

Dikarenakan pembakaran yang terjadi pada kendaraan BBG lebih baik maka
kadar emisi HC yang dihasilkan pun akan lebih baik. Ini terlihat bahwa kadar
HC yang lebih rendah dari kendaraan premium. Dengan rendahnya kadar HC
menunjukkan bahwa bahan bakar yang masuk ke ruang bakar lebih banyak
terbakar sehingga membentuk lebih banyak emisi CO, CO2 dan H2O. Grafik
11 dan grafik 12 menunjukan kadar emisi HC yang dihasilkan masing-masing
kendaraan uji.

Motor Bakar

Teknik Mesin
Grafik 11. Emisi HC Kendaraan B BBBB HQ

Grafik 12. Emisi HC Kendaraan B AAAA HQ

Sumber : Laboratorium Pengujian Chassis Dynamometer

Motor Bakar

Teknik Mesin