Anda di halaman 1dari 26

MAKALAH

FILSAFAT DAN PEMIKIRAN ISLAM

“Perbedaan Filsafat Yunani dan Filsafat Islam”

Dosen Pengampu :

Nurhadi Prabowo, M.Pd

Disusun Oleh :

KELOMPOK 3

Siti Badriyah
NIM : 20200113003

Alsi Belina

NIM : 20200113037

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM AHSANTA


JAMBI
KATA PENGANTAR

Assalaamu'alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua sebagai seorang dari hambanya yang selalu
berada dalam kasih sayang-Nya dan tidak lupa pula shalawat serta salam kami panjatkan
kepada Nabi kita Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari zaman kegelapan
menuju zaman yang terang benderang seperti saat ini.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada dosen serta teman-teman yang telah
membantu kami dalam pembuatan makalah ini, sehingga kami dapat menyelesaikannya
dengan baik.

Kami menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam makah ini, sehingga kami
senantiasa terbuka untuk menerima saran dan kritik pembaca demi penyempurnaannya.
Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

Wassalaamu’alaikum Warahmatullaahi Wabarakaatuh

Jambi, 15 November 2020

Penulis

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................................................................................1

DAFTAR ISI.........................................................................................................................................2

BAB 1....................................................................................................................................................3

PENDAHULUAN.................................................................................................................................3

1.1 Latar Belakang Penulisan............................................................................................................3

1.2 Rumusan Penulisan......................................................................................................................4

1.3 Tujuan Penulisan.........................................................................................................................5

1.4 Manfaat Penulisan.......................................................................................................................5

BAB 2....................................................................................................................................................6

PEMBAHASAN...................................................................................................................................6

2.1 Pengertian Filsafat Menurut Yunani dan Islam............................................................................6

2.2 Sejarah Singkat Lahirnya Filsafat Yunani dan Islam...................................................................6

2.3 Tokoh – tokoh Filsafat Yunani dan Islam....................................................................................8

2.4 Karakteristik Filsafat Yunani dan Islam.....................................................................................16

2.5 Perbedaan antara Filsafat Yunani dan Islam..............................................................................21

BAB 3..................................................................................................................................................23

PENUTUP...........................................................................................................................................23

3.1 Kesimpulan................................................................................................................................23

3.2 Kritik.........................................................................................................................................23

3.3 Saran..........................................................................................................................................24

DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................................25

2
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penulisan

Filsafat merupakan suatu ilmu yang telah lama ada sebelum adanya ilmu-ilmu murni
dan ilmu terapan lainnya. Filsafat, suatu ilmu yang berasal dari sebuah pemikiran sederhana
yang dikembangkan melalui metode yang mungkin bagi sebagian masyarakat dianggap rumit
dan membuat seseorang yang mempelajari ilmu iniakan merasa seperti membuang waktu dan
tenaga hanya untuk mempelajari sebuah pemikiran yang pasti ada dalam setiap benak
manusia.

Namun, filsafat adalah ilmu yang sangat berguna dan juga dibutuhkan pada zaman
seperti zaman abad ke-21 kini. Banyak sekali orang yang telah mempelajari ilmu ini namun
pada akhirnya salah menginterpretasikan apa yang sebenarnya benar dan mana yang salah.
Filsafat muncul karena untuk mempertanyakan apa yang terlintas di benak manusia. Namun,
ada kalanya filsafat pun tidak dapat menembus rongga suatu pemikiran yang bentuknya
sangat abstrak secara keseluruhan seperti masalah keTuhanan.

Dan banyak sekali pemahaman yang justru menjauhkan diri seorang manusia dari
Tuhan setelah mempelajari ilmu ini. Padahal, pada hakikatnya ilmu filsafat dan Tuhan, tidak
dapat dipisahkan begitu saja. Karena, ilmu ini bukanlah sesuatu ilmu yang bersifat doktrin
yang tidak dapat diubah. Ilmu filsafat ini masih mengalami perkembangan, sehingga setiap
pemikiran baru harus dapat dimengerti dan juga diterima oleh seseorang. Namun, belum tentu
kita dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan apabila kesimpulan filsafat yang ada
bertolak belakang dengan prinsip yang ada dalam diri kita sebagai manusia yang beragama.

Sejarah kemunculan filsafat pun seringkali menjadi bahan pembicaraan yang patut
untuk dibahas dan ditelaah. Bagaimanakah orang-orang terdahulu memahami dan mencari
tahu pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dalam benak dan pikiran mereka dahulu tentang
suatu hal. Dan pengaruhnya bagi manusia dan kehidupan saat ini terutama dalam cara
berpikir dan kerangka berpikir yang dimiliki oleh masyarakat madani kini.

Filsafat, memiliki alur pemikiran yang berbeda ketika ia berasal dari wilayah yang
berbeda pula. Filsafat barat, tentu sangat bertolak belakang dari filsafat timur mengenai
masalah keTuhanan dan juga dalam etika. Namun, tak dapat dipungkiri pula bahwa ada

3
kesamaan diantara keduanya yang mungkin dapat melengkapi kekurangan dan kelebihan
masing-masing filsafat tersebut. Bila ada persamaan, pasti tentulah ada yang namanya
perbedaan. Karena berasal dari wilayah yang berseberangan, filsafat barat dan filsafat timur
lahir dengan cara yang berbeda dan menghasilkan kesimpulan yang berbeda pula.

Hal inilah yang melatar belakangi adanya penulisan dan penyusunan makalah ini.
Dengan adanya perbedaan antara filsafat barat dan filsafat timur, akan lebih mudah kita
mengambil dan mengkombinasikan antara kedua filsafat ini yang tentu nantinya akan bisa
bermanfaat bagi kehidupan. Dengan mengambil dua contoh filsafat untuk diperbandingkan,
yaitu filsafat dari Yunani sebagai filsafat yang berasal dari wilayah barat, dan filsafat dari
Islam yang berasal dari wilayah timur, diharapkan perbedaan yang ada dapat membuka
jendela wawasan kita untuk tidak memandang filsafat hanya dari satu sisi yang ada.

1.2 Rumusan Penulisan

Adapun dalam penulisan makalah ini kami ingin menyajikan beberapa rumusan yang
dapat mencakup materi yang akan kami bahas dan kupas di dalam makalah kami ini, diantara
rumusan tersebut adalah :

1) Apa itu filsafat menurut Yunani dan Islam?

2) Bagaimanakah sejarah singkat munculnya filsafat di Yunani dan Islam?

3) Siapakah tokoh-tokoh filsafat yang terkenal diantara Yunani dan Islam!

4) Bagaimanakah karakteristik filsafat keduanya?

5) Apa yang membedakan antara filsafat Yunani dan filsafat Islam?

Dan poin-poin pertanyaan yang merupakan rumusan penulisan ini akan dibahas lebih
lanjut pada bab pembahasan yang akan membahas rumusan sesuai dengan apa yang telah
tertera dalam rumusan yang kami susun.

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari disusun dan ditulisnya makalah ini antara lain, yang pertama sebagai
persyaratan pemenuhan nilai akademik yang harus dan mesti kami penuhi sebagai
mahasiswa. Dan juga sebagai media pembelajaran bagi mahasiswa yang lain untuk dapat

4
mengaplikasikan isi dari pembahasan makalah kami ini dalam kehidupan sehari-hari yang
sekiaranya dapat berpengaruh di dalam masyarakat yang luas.

Dan pada intinya, kami sebagai penulis menginginkan makalah kami ini berguna baik
di dunia ini sebagai sebuah pengetahuan yang begitu berharga yang dapat berguna dan
bermanfaat dalam kehidupan bermasyarakat, dan juga untuk di akhirat nanti sebagai media
pengamalan ilmu yang akan selalu dapat mengalirkan kebaikan kepada sang pengamal ilmu
yang kami susun dalam makalah ini.

1.4 Manfaat Penulisan

Makalah yang kami susun dan kami tulis ini memiliki dua manfaat secara garis besar.
Yaitu, manfaat teoritis dan manfaat praktis. Adapun manfaat teoritis adalah manfaat yang
berpengaruh kepada diri seseorang dari segi akademika. Sedangkan manfaat praktis adalah
manfaat yang dapat diaplikasikan menjadi sebuah tindakan yang berguna bagi diri ataupun
masyarakat.

Sebagai manfaat teoritis, kami selaku penulis makalah berharap makalah ini dapat
menjadi media untuk menambah pengetahuan dan ilmu yang dimiliki oleh pembaca sekalian.
Yang kedua adalah manfaat secara praktis, manfaat dari makalah ini secara praktis yaitu
dapat berguna untuk digunakan dalam kehidupan sehari-hari seperti halnya ketika kita
melakukan percakapan dengan masyarakat. Baik masyarakat yang telah mengenal filsafat
maupun yang belum mengenalnya.

BAB 2

PEMBAHASAN

5
2.1 Pengertian Filsafat Menurut Yunani dan Islam

a) Filsafat menurut Yunani

Secara etimologis1, berasal dari bahasa Yunani yaitu Philosophia. Sebuah kata
majemuk yang berasal dari kata philos yang artinya cinta atau suka, dan kata shopia yang
artinya bijaksana.

Secara terminologis2, menurut Aristoteles3 mengatakan, bahwa filsafat adalah ilmu


yang meliputi kebenaran yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu lain seperti, metafisika,
logika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

b) Filsafat menurut Islam

Secara etimologis, berasal dari bahasa Arab, yaitu Falsafah.

Secara terminologis, menurut Al-Farabi4 seorang filsuf muslim mengatakan bahwa


filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat
yang sebenarnya.

2.2 Sejarah Singkat Lahirnya Filsafat Yunani dan Islam

a) Yunani

Orang-orang Yunani dulu kala mempunyai banyak cerita dan dongeng takhayul.
Mitos-mitos tersebut betapa pun jauh dari kebenaran rasional, tetapi sudah merupakan
percobaan untuk mengerti tentang rahasia alam ini. Mitos-mitos tersebut telah memberikan
jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang timbul dalam hati mereka. Melalui mitos-mitos
itulah manusia mencari keterangan-keterangan tentang asal-usul alam semesta yang biasanya
disebut dengan mitos kosmogonis, dan keterangan-keterangan tersebut diperoleh tanpa
bimbingan rasional.

Pada abad ke-6 SM mulai berkembang di Yunani suatu sikap baru, dimana orang
mulai mencari jawaban-jawaban tentang rahasia-rahasia alam semesta. Rasio mulai

1
Pengertian (makna) suatu kata secara kebahasaan.
2
Pengertian (makna) kata secara istilah (pemaparan).
3
(384 SM-322 SM)
4
(870 M-950M)
6
menggantikan mitos-mitos yang ada, dan logika menggantikan legenda-legenda. Dengan
demikian, lahirlah filsafat Yunani, di mana mereka tidak mencari-cari lagi keterangan-
keterangan tentang alam semesta ini dalam cerita-cerita mitos, tetapi mereka mulai berpikir
sendiri, untuk memperoleh keterangan-keterangan yang memungkinkan mereka mengerti
kejadian-kejadian dalam alam ini. Perubahan sikap baru yang rasional tersebut,
kemungkinannya dipengaruhi oleh penrkembangan ilmu-ilmu pengetahuan di wilayah Timur
Kuno. Dikarenakan banyak orang-orang Yunani yang mempelajari ilmu-ilmu, seperti ilmu
ukur, ilmu hitung, dan astronomi dari bangsa Mesir dan Babilonia. (Roger Garudi, Janji-janji
Islam, terjemahan Prof.H.M.Rasyidi, Jakarta:Bulan Bintang, hal. 11-47)

Oleh karena itu, filsafat bagi orang Yunani pada masa itu bukan merupakan ilmu
pengetahuan yang lainnya, melainkan meliputi segala pengetahuan yang ada. Dan filsafat ini
menjadikan orang-orang Yunani saat itu istimewa karena mereka mencari pengetahuan
semata-mata untuk mengetahuinya saja, dan mencintai pengetahuan dengan segenap hati
mereka, tanpa mengharap keuntungan darinya.

b) Islam

Filsafat Islam pada dasarnya adalah perbincangan tentang tuntunan kehidupan yang
baik dan pengabdian kepada Allah SWT, dan bersumberkan agama. Filsafat Islam dapat kita
temukan pada pemikiran-pemikiran Ibnu Sina,5 juga pada pemikiran-pemikiran Ibnu Rusyd.6
Mereka dikenal sebagai dua tokoh utama filsafat Islam. Namun tidak hanya kedua pemikir ini
saja, Islam memiliki sejumlah filosof karena berani mengemukakan pemikiran yang berbeda
dengan yang ada sebelumnya. Khususnya dengan para penyebar agama Islam yang berpikir
dalam nuansa Islam.

Para pemikir Islam yang tidak terlalu menempatkan diri sebagai imam masjid, adalah
mereka yang berhasil mengungkap lebih dalam dan lengkap filsafat Yunani dibandng para
filosof Barat. Sebelum pemikir Islam menyebar, Aristoteles hanya dikenal sebagai Bapak
Logika melalui buku yang berjudul “Organon”.7 Sementara itu, para pemikir Islam telah
menerjemahkan dan meyebarkan banyak sekali filsafat Yunani, jauh lebih banyak daripada
yang disebarkan pemikir Barat.

5
(370 H-428 H / 980 M-1036 M) Avicenna merupakan nama yang digunakan masyarakat Barat untuk
menyebut namanya.
6
Namanya yang dikenal dikalangan masyarakat Barat adalah Averroes.
7
Organon merupakan buku yang disusun oleh murid-murid Aristoteles di lembaga pendidikan Lyceum. Dimana
lembaga ini dibangun oleh gurunya yaitu Plato.
7
Tetapi setelah Al-Ghazali, yaitu seorang imam besar Islam, mengeritik keras filsafat
Islam atau pemikiran para filosof Islam maka filsafat Islam menjadi kurang bersinar. Hal ini
disebabkan karena secara khas antara filsafat dan agama terdapat perbedaan yang mendasar.
Dapat dikatakan bahwa filsafat semata-mata didasari oleh akal, sedangkan agama didasari
oleh keyakinan yang mendalam atas kebenaran sehingga bersifat dogmatis. Filsafat Islam
secara khas merupakan pemikiran yang berada dalam suasana keyakinan, atau gabungan akal
dan keyakinan.

Namun, hal ini bukan berarti bahwa Islam tidak tumbuh dalam perkembangan filsafat,
bukti bahwa munculnya Al-Kindi8 dan Al-Farabi9 sebagai filosof atau pemikir Islam yang
besar yang sangat dihormati dunia menunjukkan bahwa filsafat Islam berkembang dan
menghasilkan para filosof yang tak kalah dari filosof-filosof Barat.

2.3 Tokoh – tokoh Filsafat Yunani dan Islam

a) Tokoh-tokoh Filsafat Yunani

Thales 

Thales (624-546 SM), orang Miletus itu digelari bapak filsafat, karena dialah orang
yang mula-mula berfilsafat. Gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat
mendasar; what is the nature of the world stuff ? (apa sebenarnya bahan alam semesta ini ?)
Ia menjawab air. Jawaban ini amat sederhana dan belum tuntas. Belum tuntas karena dari apa

air itu ? Thales mengambil air sebagai asal alam semesta, barang kali karena ia melihat
sebagai suatu yang amat diperlukan dalam kehidupan dan menurut pendapatnya bumi ini
mengapung di atas air (Ahmad Tafsir, 1990:41).

Anaximander 

Anaximander disebut murid Thales. Ia hidup kira-kira antara tahun 610 SM dan tahun
540 SM. (K. Bartens, 1988:28). Anaximander mencoba menjelaskan bahwa substansi
pertama itu bersifat kekal dan ada dengan sendirinya. Anaximander mengatakan udara. Udara
merupakan sumber segala kehidupan, demikian alasannya (Ahmad Tafsir, 1990:4).

Heraclitus 

8
(801-866 M)
9
(870-950 M)
8
Heraclitus (544 – 484 SM) menyatakan You can not step twice to the river, for the
fresh waters are ever flowing upon you (Engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua
kali karena air sungai itu mengalir).

Menurut Heraclitus, alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah, sesuatu yang
dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. Itu berarti bila kita
hendak memahami kosmos, kita mesti menyadari bahwa kosmos itu dinamis, kosmos tidak
pernah dalam keadaan berhenti (diam), ia selalu bergerak, dan bergerak berarti berubah.

Gerak itu menghasilkan perlawanan-perlawanan. Itulah sebabnya ia pada konklusi


bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah bahan (stuff)nya seperti yang
dipertanyakan oleh filosof pertama itu, melainkan prosesnya. Pernyataan “semua mengalir”
berarti semua berubah menjadi bukanlah pernyataan yang sederhana. Implikasi pernyataan ini
amat hebat. Pernyataan itu mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah, tidak
tetap. Pengertian adil pada hari ini belum tentu masih benar besok. Hari ini 2 x 2 = 4, besok
dapat bukan empat (Ahmad Tafsir, 1990 : 41-42).

Parmanides 

Parmanides (450 SM) dalam the way of the truth, ia bertanya : Apa standar kebenaran
dan apa ukuran realitas ? Bagaimana hal itu dapat dipahami ? Ia menjawab ukurannya ialah
logika yang konsisten. Perhatikanlah contoh berikut : Ada tiga cara berfikir tentang Tuhan ;
1. ada, 2. tidak ada, dan 3. ada dan tidak ada. Yang benar adalah ada (1). Tidak mungkin
meyakini yang tidak ada (2) sebagai dua karena yang tidak ada pastilah tidak ada. Yang
ketiga pun tidak mungkin, karena tidak mungkin Tuhan itu ada dan sekaligus tidak ada. 

Zeno 

Zeno lahir tahun 490 SM di Elea. Terhadap ajarannya dia mengatakan :

- Anda tidak pernah mencapai garis finis dalam suatu balapan. Untuk mencapai garis
finis itu mula-mula anda harus menempuh separuh jarak, lalu setengah dari separuh
jarak, kemudian setengah dari sisa, dan kerja anda selanjutnya ialah menghabiskan
sisa yang tidak pernah akan habis. Anda tidak pernah mencapai garis finis, padahal
secara empiris anda telah lama mencapai garis finis itu.
- Anak panah yang meluncur dari busurnya, apakah bergerak atau diam ? Diam ialah
bila suatu benda pada suatu saat berada pada suatu tempat. Anak panah itu setiap saat
berada di suatu tempat. Jadi anak panah itu diam. Ini khas logika. Padahal mata kita
jelas-jelas menyaksikan bahwa anak panah itu bergerak dengan cepat. Siapa yang

9
benar ? Yang  mengatakan bergerak atau yang mengatakan diam ? Itu relatif kedua-
duanya benar, bergantung pada cara pembuktiannya. (Ahmad Tafsir, 1990:43).

Protagoras 

Ia mengatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran. Kebenaran itu bersifat


pribadi (private). Akibatnya ialah tidak akan ada ukuran yang absolut dalam etika, metafisika
maupun agama. Bahkan teori-teori metafisika tidak juga dianggapnya mempunyai kebenaran
yang absolut.

Gorgias 

Pandangan filsafatnya, dia mengajukan tiga proporsi sebagai kesimpulan falsafah


dirinya yaitu :

Pertama, tidak ada yang ada, maksudnya realitas itu sebenarnya tidak ada. Kita harus
mengatakan bahwa realitas itu tunggal dan banyak, terbatas dan tak terbatas, dicipta dan tidak
dicipta.

Kedua, akal tidak mampu meyakinkan kita tentang bahan alam semesta ini, karena
kita telah dikungkung oleh dilema subyektif. Orang berfikir sesuai dengan kemauan dengan
idea kita yang sesuai dengan fenomena. Karena demikian maka proses ini tidak akan
menghasilkan kebenaran.

Ketiga, ia menegaskan; sekalipun realitas itu dapat kita ketahui, namun tidak akan
dapat diberitahukan kepada orang lain.

Socrates 

Socrates (469-399 SM) terkenal sebagai orang yang berbudi baik, jujur dan adil.
Socrates banyak mendapat simpati dari para pemuda di negerinya. Namun ia kurang
disenangi karena dituduh sebagai perusak moral dan menolak dewa-dewa atau tuhan yang
telah diakui negara.

Atas tuduhannya tersebut dia menulis naskah yang berjudul apologi, termasuk salah
satu bahan penting untuk mengetahui sejarah Socrates. Dalam pengadilan dia dinyatakan
bersalah dengan suara 200 dan 220 melawan. Ia dituntut hukuman mati (Ahmad Syadali,
Mudakir, 1999:61).

Menurut Socrates ada kebenaran obyektif yang tidak bergantung kepada satu atau
kita. Untuk mencapai kebenaran obyektif menggunakan metode dialektika yang berarti

10
bercakap-cakap atau dialog. Juga dengan ajarannya tentang ilmu kebijakan (filsafat etika)
atau kesusilaan dengan logika sebagai dasar untuk membahasnya.

Dari metode dialektiknya ia menemukan dan penemuan metode yang lain induksi dan
definisi. Ia menggunakan istilah induksi manakala pemikiran bertolak dari pengetahuan yang
khusus, lalu menyimpulkannya dengan pengertian yang umum. Pengertian yang umum
diperoleh dari mengambil sifat-sifat yang sama (umum) dari masing-masing kasus khusus
dan ciri-ciri khusus yang tidak disetujui bersama adalah disisihkan. Ciri umum tersebut
dinamakan ciri esensi dan semua ciri khusus itu dinamakan ciri eksistensi. Suatu definisi
disebut dengan menyebutkan semua ciri esensi suatu obyek dengan menyisihkan semua ciri
eksistensinya. Demikianlah jalan untuk memperoleh definisi tentang suatu persoalan.

Plato 

Plato (427-347 SM) lahir di Athena, salah seorang murid dan teman Socrates. Ia
menggunakan metode dialog untuk mengantarkan filsafatnya. Namun kebenaran umum
(definisi) menurutnya bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif sebagaimana cara yang
digunakan Socrates, pengertian umum (definisi) menurut Plato sudah tersedia di sana di
dalam idea (Ahmad Syadali, Mudzakir, 1999 : 69-70).

Pendapat Plato ini, jelas memperkuat posisi gurunya. Idea itu umum, berarti berlaku
umum. Plato juga berpendapat bahwa selain kebenaran yang umum itu ada kebenaran yang
khusus yaitu “kongkretisasi” idea di alam ini (Ahmad Tafsir, 1990:51).

Aristoteles 

Aristoteles lahir pada tahun 384 SM di Stagina sebuah kota di Thirace. Ia adalah
teman dan murid Plato. Di dalam dunia filsafat, Aristoteles terkenal sebagai bapak logika.
Logikanya disebut logika tradisional karena nantinya berkembang apa yang disebut logika
modern. Logika Aristoteles sering juga disebut logika formal (Ahmad Tafsir, 1990:52).

Bila orang-orang sofis banyak menganggap manusia tidak akan mampu memperoleh
kebenaran, Aristoteles dalam metaphysic menyatakan bahwa manusia dapat mencapai
kebenaran. Ia menyatakan bahwa matter dan form tu bersatu. Matter memberikan substansi
sesuatu, form memberikan pembungkusnya. Setiap obyek terdiri atas matter dan form.

Jadi, ia telah mengatasi dualisme Plato yang memiahkan matter dan form, bagi Plato
matter dan form berada sendiri-sendiri. Ia juga berpendapat bahwa matter itu potensial dan
form itu aktualitas. Namun ada substansi yang murni, form tanpa potentiality, jadi tanpa
matter, yaitu Tuhan. Aristoteles percaya kepada adanya Tuhan. Bukti adanya Tuhan
11
menurutnya ialah Tuhan sebagai penyebab gerak (a first cause of motion) (Ahmad Syadali
Mudzakir, 1999 : 73-74)

b) Tokoh-tokoh Filsafat Islam

Al-Kindi

Al-Kindi dilahirkan di Kufah sekitar tahun 185 H dari keluarga kaya dan terhormat.
Ayahnya, Ishaq ibnu Al- Shabbah, adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-
Mahdi dan Ar-Rasyid. Al-kindi sendiri mengalami masa pemerintahan lima khalifah Bani
Abbas, yakni Al-Amin, Al-Ma’mun, Al-Mu’tasim, Al- Wasiq, dan Al-Mutawakkil.

Dalam hal pendidikan Al-Kindi pindah dari Kufah ke Basrah, sebuah pusat studi
bahasa dan teologi  Islam. Dan ia pernah menetap di Baghdad, ibukota kerajaan Bani Abbas,
yang juga sebagai jantung kehidupan intelektual pada masa itu. Ia sangat tekun mempelajari
berbagai  disiplin ilmu. Oleh karena itu tidak heran jika ia dapat menguasai ilmu
astronomi,ilmu ukur, ilmu alam, astrologi, ilmu pasti, ilmu seni musik meteorologi,, optika,
kedokteran, matematika, filsafat, dan politik. Penguasaannya terhadap filsafat dan ilmu
lainnya telah menempatkan ia menjadi orang Islam pertama yang berkebangsaan Arab dalam
jajaran filosof terkemuka. Karena itu pulalah ia  dinilai pantas menyandang gelar Faiasuf
al-‘Arab ( filosof berkebangsaan Arab).

Al-Farabi

Nama lengkapnya Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh.
Dikalangan orang-orang latin abad tengah, Al-Farabi lebih dikenal dengan Abu Nashr. Ia
lahir di Wasij, Distrik Farab (sekarang kota Atrar), Turkistan pada 257 H. Pada tahun 330 H,
ia pindah ke Damaskus dan berkenalan dengan Saif al-Daulah al-Hamdan, sultan dinasti
Hamdan di Allepo. Sultan memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan
tunjangan yang sangat besar, tetapi Al-Farabi memilih hidup sederhana dan tidak tertarik
dengan kemewahan dan kekayaan. Al-Farabi dikenal sebagai filsuf Islam terbesar, memiliki
keahlian dalam banyak bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh
serta mengupasnya secara sempurna, sehingga filsuf yang datang sesudahnya, seperti Ibnu
Sina dan Ibn Rusyd banyak mengambil dan mengupas sistem filsafatnya.

Ibnu Sina

Nama lengkapnya Abu Ali al- Husien ibn Abdullah ibn Hasan ibn Ali ibn Sina. Ia
dilahirkan didesa Afsyanah, dekat Buhkara, Persia Utara pada 370 H. Ia mempunyai
kecerdasan dan ingatan yang luar biasa sehingga dalam usia 10 tahun telah mampu
12
menghafal Al-Qur’an, sebagian besar sastra Arab dan juga hafal kitab metafisika karangan
Aristoteles setelah dibacanya empat puluh kali. Pada usia 16 tahun ia telah banyak menguasai
ilmu pengetahuan, sastra arab, fikih, ilmu hitung, ilmu ukur, filsafat dan bahkan ilmu
kedokteran dipelajarinnya sendiri.

Al-Razi

Nama lengkap al-razi adalah Abu Bakar Muhammad ibnu Zakaria ibnu Yahya Al-
Razi. Dalam wacana keilmuan barat, beliau dikenal dengan sebutan Razhes. Ia dilahirkan di
Rayy, sebuah kota tua yang masa lalu bernama Rhoges, dekat Teheran, Republik Islam Iran
pada tanggal 1 Sya’ban 251 H/865 M. Perlu diingat bahwasanya tempat yang ia tinggali
yakni Iran ,yang sebelumnya terkenal dengan sebutan Persia, merupakan tempat dimana
terjadinya pertemuan berbagai kebudayaan terutama kebudayaan Yunani dan Persia. Dengan
suasana seperti lingkungan seperti ini mendorong bakat Al-Razi tampil sebagai seorang
intelektual.

Beliau pernah menjadi tukang intan pada mudanya, penukar uang, dan pemain kecapi.
Lalu beliau memusatkan perhatiannya pada ilmu kimia dan meninggalkannya akibat
eksperimen-eksperimen yang dilakukannya yang menyebabkan mata terserang penyakit.
Setelah itu, beliau mendalami ilmu kedokteran dan filsafat yang ada pada masa itu.

Ibn arabi

Sesuatu kekeliruan yang diperbuat oleh perang-perang barat dan Timur mengalami
sejara hidup ibn arabi arab dan Al-robad.

Yang pertama, jaitu ibn Arabi ialah pribadi yang kita bicarakab dalam buku ini,
seorang tokoh filsafat agama serta tasawwuf yang termasuku adalajvy panjipa ilmu
kebatinan . ada oun yang kedua ada yaitu orang Qadhi dan seseorang akhl hukum yang
pernah menjabad perkejaan qadhil itu di seville di sepanyol atau di andalusia bernama
lengkap Abu Bakar ibn-Al-arobi. Ibn arobi sebagai tokoh filsafat dan tasawwuf yang kita
bicarakan sekarang bernama Muhjddin Muhammad bin Ali bin muahmmad bin Ahmad
al_hatimi lahir di Murcia di spanyol atau andalusia. Sebagai kita katakan di barat ia terkenal
dengan nama ibn Al-Arabi suatu nama yang keliru dan di andalusia ia di sebut ibn Suraqah
sedangkan di timur ia didaerah abbasiyah ia di sebut arabi.

Ibnu Miskawaih

13
Nama lengkap Ibnu Miskawaih adalah Abu Ali Ahmad ibnu Muhammad ibnu Ya’kub
ibnu Miskawaih. Ia dilahirkan di kota Rayy, Iran pada tahun 330 H/ 941 M dan wafat di
asfahan pada tanggal 9 Shafar 421 H/ 16 Februari 1030 M. Dari buku yang kami dapatkan,
tidak ada penjelasan yang sangat rinci mengungkapkan biograpinya. Namun, ada beberapa
hal yang perlu dijelaskan, bahwa ibnu miskawaih belajar sejarah terutama Taarikh al-Thabari
kepada Abu Bakar Ibnu Kamil Al-Qadhi dan belajar filsafat kepada Ibnu Al-Khammar,
mufasir kenamaan karya-karya aristoteles.

Al-Ghazali

Ia adalah Abu Hamid bin Muhammad bin Ahmad al-Ghazali, bergelar Hujjatul Islam,
lahir tahun 450 H di Tus, suatu kota kecil di Khurassan (Iran). Kata-kata al-Ghazali kadang-
kadang diucapkan al-Ghazzali (dengan dua z). dengan menduakalikan z, kata-kata al-
Ghazzali diambil dari kata-kata Ghazzal, artinya tukang pemintal benang, karena pekerjaan
ayahnya ialah memintal benang wol, sedang al-Ghazali dengan satu z, diambil dari kata-kata
Ghazalah, nama kampung kelahiran al-Ghazali. Sebutan terakhir ini yang banyak dipakai.Al-
Ghazali adalah seorang ahli pikir Islam yang dalam ilmunya, dan mempunyai nafas panjang
dalam karangan-karangannya.Puluhan buku telah ditulisnya yang meliputi berbagai lapangan
ilmu, antara lain Teologi Islam (Ilmu Kalam), Hukum Islam (Fiqih), Tasawuf, Tafsir, Akhlak
dan adab kesopanan, kemudian autobiografi. Sebagian besar dari buku-buku tersebut diatas
dalam bahasa Arab dan yang lain ditulisnya dalam bahasa Persia.

Ibnu Bajah

Ia adalah Abubakar Muhammad bin Yahya, yang terkenal dengan sebutan Ibnus-
Shaigh atau Ibnu Bajah. Orang-orang Eropa pada abad-abad pertengahan menamai Ibnu
Bajah dengan “Avempace”, sebagaimana mereka menyebut nama-nama Ibnu Sina, Ibnu
Gaberol, Ibnu Thufail dan Ibnu Rusyd, masing-masing dengan nama Avicenna, Avicebron,
Abubacer, dan Averroes.

Ibnu Thufail

Ia adalah Abubakar Muhammad bin Abdul Malik bin Thufail, dilahirkan di Wadi Asy
dekat Granada, pada tahun 506 H/1110 M. kegiatan ilmiahnya meliputi kedokteran,
kesusasteraan, matematika dan filsafat. Ia menjadi dokter di kota tersbut dan berulangkali
menjadi penulis penguasa negerinya. Setelah terkenal, ia menjadi dokter pribadi Abu Ya’kub
Yusuf al-Mansur, khalifah kedua daru daulah Muwahhidin. Dari al-Mansur ia memperoleh
kedudukan yang tinggi dan dapat mengumpulkan orang-orang pada masanya di istana
Khalifah itu, di antaranya ialah Ibnu Rusyd yang diundang untuk mengulas buku-buku
14
karangan Aristoteles. Buku-buku biografi menyebutkan beberapa karangan dari Ibnu Thufail
yang menyangkut beberapa lapangan filsafat, seperti filsafat fisika, metafisika, kejiwaan dan
sebagainya, disamping risalah-risalah (surat-surat) kiriman kepada Ibnu Rusyd.

Ibnu Rusyd

Nama asli dari Ibnu Rusyd adalah Abu Al-Walid Muhammad ibnu Ahmad ibnu
Muhammad ibnu Rusyd, beliau dilahirkan di Cordova, Andalus 10 pada tahun 510 H/ 1126 M,
15 tahun setelah kematiannya Imam Ghazali. Di dunia barat dia lebih terkenal dengan
sebutan Averros, sedang di dunia islam sendiri lebih terkenal dengan nama Ibnu Rusyd. Ibnu

Rusyd adalah keturunan keluarga terhormat yang terkenal sebagai tokoh keilmuwan, sedang
ayah dan kakeknya adalah mantan hakim di andalus. Pada tahun 565 H/ 1169 M dia diangkat
menjadi seorang hakim di Seville dan Cordova. Dan pada tahun 1173 ia menjadi ketua
mahkamah agung, Qadhi al-Qudhat di Cordova.

Salah satu faktor yang membuatnya menjadi seorang ilmuwan adalah karena dia
tumbuh dan hidup dalam keluarga yang Ghirah-nya11 besar sekali dalam bidang keilmuwan.
Akan tetapi yang menjadi faktor utamanya karena ketajamannya dalam berpikir serta
kejeniusan otaknya. Dengan semua faktor-faktor di atas, tidaklah heran apabila dia menjadi
seorang ilmuwan Muslim yang terkemuka.

2.4 Karakteristik Filsafat Yunani dan Islam

a) Karakteristik Filsafat Yunani

Filsafat memiliki beberapa ciri ciri, sebagai berikut:

1. Skematika konsepsial

Konsepsi (rencana kerja) merupakan hasil generalisasi serta abstrak dari pengalaman
tentang hal hal serta proses proses satu demi satu. Karena itu filsafat merupakan pemikiran
tentang hal hal seta proses proses dalam hubungan yang umum. Diantara proses proses yang
dibicarakan ialah pemikiran itu sendiri. Dan diantara hal hal yang dipikirkan ialah si pemikir
itu sendiri. Filsafat merupakan hasil menjadi –sadarnya manusia mengenai dirinya sendiri

10
Andalus (Andalusia) saat ini telah berubah nama menjadi Spanyol.
11
Ghirah kata yang berarti Perjuangan.
15
sebagai pemikir, dan menjadi – kritisnya manusia terhadap diri sendiri sebagai pemikir di
dalam dunia yang dipikirkannya.

Sebagai konsekuensinya, seorang filsuf tidak hanya membicarakan dunia yang ada
disekitarnya serta dunia yang ada di dalam dirinya. Ia tidak hanya ingin mengetahui hakekat
kenyataan dan ukuran ukuran untuk melakukan verifikasi terhadap pernyataan pernyataan
mengenai segala sesuatu ,melainkan ia berusaha menemukan kaidah kaidah berpikir itu
sendiri. Bila manakah suatu pemikiran itu membawa kita kepada kesimpulan yang sah, dan
bagai manakah caranya serta mengapa membawa kita kepada kesimpulan yang sah ?

2. Koheren

Pemikiran filsafat merupakan suatu usaha perenumgan/refleksi kritis-rasional yang


runtut dan mendalam terhadap suatu hal atau suatu obyek yang dipikirkan oleh akal budi.
Orang bukan berpikir asal-asalan  atau berpikir setengah hati saja. Dalam proses berpikir ini,
orang perlu mengerahkan seluruh pikiranya secara fokus, terarah, terorientasi,terkonsentrasi
pada obyek yang dipikirkan agar mencapai hasil akhir pemikiran yang benar secara filosofis.
Pemikiran yang serius tidak mampu menemukan ide filosofis yang mencerahkan dirinya.

3. Rasional

  Istilah atau kosakata “rasional” berarti logis, masuk akal, dan dapat dimengerti atau
diterima secara akal sehat. Pemikiran yang logis berarti pemikiran yang berhubungan satu
sama lain, utuh, tidak terpisah-pisah, tidak frakmentaris, tidak terpotong-potong. Pemikiran
rasional kontra terhadap segala hal yang irasional dalam kehidupan karena berfilsafat
mengandalkan rasio sebagai alat analisinya. Filsafat menolak segala hal yang tidak sesuai
dengan prinsip-prinsip rasionalitas yang benar.

4. Menyeluruh/holistic

Holistik berarti obyek pemikiran kita harus berhubungan erat dengan seluruh tatanan
yang ada (esse). Segala sesuatu yang dapat dipikirkan termasuk dalam pemikiran filsafat. 
Jadi, obyeknya bisa berupa apa saja dan segala entitas (substansi) apa saja sejauh itu dapat
dipikirkan oleh akal budi. Segala sesuatu yang dapat dipikirkan dapat menjadi data/hal
menarik untuk direfleksikan secara menyeluruh oleh filsafat, termasuk didalamnya refleksi
tentang diri kita sendiri sebagai manusia kini dan disini.

5. Memberi visi

16
Filsafat juga berciri visioner.filsafat tampil dalam paradigm pandangan/ pemikiran/
visi terhadap suatu kenyataan dunia dan diri kita sendiri. Kita tidak mungkin memiliki
pandangan terhadap sesuatu jika kita tidak dapat berefleksi secara benar terhadapnya. Hanya
orang yang merenung/berefleksi secara benar yang akan mampu menghasilkan ide-ide
cermelang tentang dunia dan manusia. Orang yang dapat memberikan pandangan dunia dan
dirinya itu sudah termasuk dalam pemikiran filosofis. (kattsoff,2004: hlm. 9-14)

b) Karakteristik Filsafat Islam

Filsafat Islam memiliki cirinya (karakteristik) secara khusus yaitu :

1. Sebagai filsafat religious-spiritual

Dikatakan filsafat religious, karena filsafat Islam tumbuh di Jantung Islam dan tokoh-
tokohnya dididik dengan ajaran-ajaran Islam, ataupun semangat Islam dan hidup dengan
suasana Islam. Topic-topik yang terkandung dalam filsafat Islam bersifat religious, bermula
dengan mengesakan Tuhan dan menganalisa secara universal kemudian menggambarkan
Allah Yang maha Agung adlah bersifat abstrak dan suci, dimana keesaan mutlak dan
kesempurnaan total bagi-Nya. Karena Ia adalah pencipta, menciptakan alam sejak azali
mrngatur dan menatanya. Filsafat religious ini sangat memberikan perhatian kepada jiwa
karena di dalam jiwa manusia terdapat Nur dan Ilahi.Filosof Islam berpendapat bahwa ruh
merupakan sumber gerak dan sebagian saran kebahagiaaan.

2. Sebagai filsafat rasional

Filsafat rasional sangat bertumpu pada akal dalam menafsirkan problematika


ketuhanan, manusia dan alam.Karena akal merupakan sesuatu pertama yang diciptakan
Allah.Terdapat 2 tugas akal.Pertama bertugas mengendalikan badan dan tingkah laku, kedua,
menerima pandangan-pandangan inderawi.Pada kenyataannya para filosof Islam memiliki
kecenderungan rasional sejalan dengan Mu1tazilah yang mengagungkan akal.Mereka sepakat
bahwa kebebasan berkehendak dan kemerdekaan manusia untuk berbuat.Mereka mengartikan
teks-teks agama yang tidak sejalan dengan logika. Dan untuk mewujudkan itu, mereka
mengadakan berbagai jenis majelis dan diskusi

3. Filsafat sinkretis

Adalah filsafat yang memadukan pemikiran atau pendapat antara filosof.


Sebagaimana bangsa Arab yang sebagian besar telah dipengaruhi oleh kebudayaan Yunani,
dalam filosofi mereka setelah menaklukkan Laut Tengah mereka tidak hanya mempelajari
bahkan menterjemahkan dialog dan buku atau karya dari Plato dan Aristoteles. Kedua tokoh
17
inilah yang mempengaruhi banyak aliran islam karena Ia merupakan titik awal yang
melandasi para filosof selanjutnya.

4. Filsafat yang berhubungan kuat dengan ilmu pengetahuan

Filsafat Islam berhubungan kuat dengan ilmu pengetahuan karena dalamkajjian


filosof terdapat ilmu pengetahuan dan problematika saintis, dan sebaliknya dalam kajian
saintis terdapat prinsip dan teori filosofis.Mereka memberikan pemecahan atas masalah
fisika. Contohnya buku al-syifa,ensiklopedi filsafat Arab terbesar, karena buku ini berisi
logika, fisika, matematika dan metafisika. Para filosof Islam adalah ilmuan diantara mereka
ada ilmuan yang menonjol. Misalnya al-Kindi adalah seorang ilmuan sebelum menjadi
filosof, Ia mengkaji masalah-masalah sistematis dan fisis.

Tampilnya filsafat Islam di arena pemikiran merupakan hasil interaksi agama Islam
dengan faktor ekstern.Faktor ekstern yang dimaksud adalah budaya dan tradisi non Islam
yang sepanjang sejarah diwakili oleh Eropa dibelahan Barat, serta India, Iran, dan Cina di
belahan Timur.

Kalau kita lacak dalan khazanah Islam, buku-buku yang menguraikan ihwal filsafat
Islam, memang sudah cukup banyak ditulis.Akan tetapi hampir selalu saja terkesan adanya
beberapa aspek yang terasa kurang puas.Akhirnya, setiap karya seperti itu memuat daftar
panjang istilah-istilah filsafat Islam yang patut di dihargai dan harus apresiasi secara
mendalam.

Haidar Bagir tidak mau ketinggalan, ia pernah menghadirkan sebuah karya yang
dijuduli “Buku Saku Filsafat Islam” (2005), yang sekalipun dinamai “saku” namun buku
tersebut cukup memadahi untuk mengantarkan kita memahami filsafat Islam secara holistik.
Islam sebagai sebuah sumber peradaban, dipandang ikut meletakkan “prosesi batu pertama”
bangunan budaya dan peradaban modern yang saat ini berkembang pesat di Barat. Di abad
pertengahan itulah Islam merupakan juru ‘penyelamat’ bagi peradaban Yunani, Persia dan
Romawi dengan cara menerjemahkannya ke dalam bahasa dan tradisi Islam.

Kemajuan Islam era pertengahan tidak saja mewarisi pengetahuan Yunani-Romawi,


akan tetapi telah memodifikasi dan menyempurnakan pengetahuan sebelumnya. Hal ini
dibuktikan dengan hasil usaha kreatif cendikiawan muslim seperti al-Kindi, Ibn Sina, al-
Farabi, al-Razi dan setelahnya, selain mengadopsi kekayaan pengetahuan mereka, juga
melahirkan teori dan pengetahuan orisinil yang sama sekali baru.

18
Peradaban Yunani, Persia dan Romawi jelas menyumbangkan peradaban yang sangat
berharga bagi Islam.Peradaban Zoroastrian (Sassanian) telah mencapai puncak renaisan
kebudayaannya pada abad ke enam, sebelum Islam datang di tanah Arab.Hal ini yang
kemudian menjadi pembawa obor bagi peradaban Barat, bersama-sama membawa sebuah
sinkronisme kreatif baru pemikiran ilmiah dan filosofis Yunani, Hebrew, India (Hindu),
Syirian, dan Zoroaster.

Pusat urat syarafnya berada di akademi terbesar pada masa itu, yaitu Akademi Jundi
Shapur, di Persia bagian Tenggara. Bahkan bukan itu saja, setelah lahirnya Islam dan
penaklukan Persia oleh orang-orang Arab, perkembangan kebudayaan terpenting dalam
Islam, misalnya bidang sains, teknologi, matematika, logika, filsafat, kimia, musik, etika,
geografi, bahkan teologi dan sastra, adalah kontribusi pemikir dan cendikiawan Persia yang
pada permulaan Abad-abad Islam telah menulis dalam bahasa Arab dan atas nama Islam.

Filsafat Islam memiliki karakteristik sekaligus sebagai keunikan


tersendiri.Setidaknya, terdapat tiga karakteristik yang dapat kita diketemukan dalam
khazanah ini, yaitu peripatetisme (Masysya’iyyah), iluminasi (Israqiyyah) dan teosofi
transenden (al-hikmah al-muta’aliyah). Ketiga karakteristik tersebut sudah sering dikaji oleh
para sarjana muslim.

Filsafat peripatetisme adalah paham kelanjutan dari pengaruh ide-ide Aristotelian


yang bersifat diskursif-demontrasional.Corak dari Aristotelian yaitu hylomorfisme, suatu
paham yang cenderung bersifat material.Peripatetisme dimulai sejak al-Kindi, yang melewati
antara lain, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Thufail dan Ibn Bajjah hingga Ibn Rusyd.Mungkin, hanya
Ibn Rusyd saja yang agak berani membersihkan Aristotelianisme dari Neo-
Platonisme.Filsafat iluminasi (Israqiyyah) berbicara mengenai suatu kilatan-mendadak dalam
bentuk pemahaman atau ilham sebagai suatu arus cahaya.Asal mulanya, teori ini berakar dari
pola-pola Platonik, yang selama periode Hellenistik dan Romawi aliran ini diserap dan
tergabungkan dalam pikiran Kristiani dan Yahudi.

Tokoh yang ternama dalam corak filsafat iluminasi yaitu Surawardi.Sebagai pencetus
paham iluminasi, dia telah membuka jalan suatu dialog dengan wacana-wacana dan upaya-
upaya religius atau mistis dalam dunia ilmiah.Dia juga termasuk filosof yang meyakini
adanya perennial wisdom.Sebuah jalan kebenaran yang dijadikan ukuran adalah pengalaman
“intuitif” yang kemudian mengelaborasi dan memverifikasinya secara logis-rasional.

Sementara filsafat hikmah di perkenalkan oleh Mulla Shadra. Dia membangun aliran
baru filsafat dengan semangat untuk mempertemukan berbagai aliran pemikiran yang

19
berkembang di kalangan kaum muslim. Yakni tradisi Aristotelian cum Neo platonis yang
diwakili figur-figur al-Farabi dan Ibn Sina, filsafat Israqiyyah, pemikiran Irfani Ibn ‘Arabi,
serta tradisi kalam (teologi dialektis).

Filsafat hikmah cenderung berbicara masalah esensi (wujud), sehingga sering disebut-
sebut sebagai eksistensialisme Islam. Aliran ini mempercayai bahwa pengetahuan diperoleh
tidak melalui penalaran rasional, tetapi hanya melalui sejenis intuisi, yakni penyaksian bathin
(syuhud, inner witnessing), cita rasa (dzauq, tasting), pencerahan (hudhur, presence).

Menurut Muthahhari, seorang pengagum Mulla Shadra yang juga menulis buku
tentang “Filsafat Hikmah; Pengantar Pemikiran Mulla Shadra” mengakui bahwa Filsafat
Hikmah (Hikmat Muta`aliyah) berupaya memadukan metode-metode wawasan spiritual
dengan metode-metode deduksi filosofis.Untuk mencapai kebenaran yang hakiki, harus
melebur metode-metode pencerah (illumination) ruhani dan perenungan intelektual.Seperti
yang dikemukakan Baqir dalam buku ini, bahwa Filsafat Hikmah berusaha menyatukan
empat aliran yang berbeda-beda.Melalui filsafat hikmat ini menawarkan sebuah jalan keluar
yang sangat argumentatif.

Haidar Bagir sebagaimana yang diulas pada karya di atas, id berusaha memotret
secara gamblang babakan kronologis sejarah filsafat Islam dan aliran-alirannya. Tak hanya
itu, dia juga menghadirkan bahwa filsafat Islam bukanlah “pengetahuan absurd”, tetapi ia
memiliki manfaat yang begitu besar bagi kelangsungan hidup manusia di muka bumi ini.
Filsafat Islam dapat menjadi diagnosis atas ragam persoalan kemanusiaan.Karena hakikat
dari filsafat itu adalah menjawab dan memecahkan setiap problem manusiawi yang secara
kodrati pasti tidak bisa lepas dari permasalahan.

Kehadiran filsafat, menurut Bagir, berpotensi untuk membantu penyelesaian problem-


problem dasar kemanusiaan.Bahkan, dikatakan bahwa filsafat bisa menyelesaikan problem-
problem konkret dalam kehidupan manusia.Mengingat, berbagai krisis yang tengah kita
hadapi saat ini bermula dari—setidaknya berkorelasi dengan– krisis persepsi yang terjadi
dibenak kita.

Dengan berpijak kembali kepada filsafat Islam, diharapkan bisa meretaskan


pengetahuan dan kearifan religus yang bernilai tinggi.Akar-akar persoalan modernitas yang
menyeret manusia ke dalam dunia “tanpa wajah” dapat disadarkan lewat penelusuran filsafat
Islam. Atas dasar itulah filsafat perlu dihadirkan kembali sebagai sebuah cara pandang dunia
di mata umat Islam.

20
2.5 Perbedaan antara Filsafat Yunani dan Islam

Setelah melihat karakteristik dari kedua filsafat ini, yaitu filsafat Yunani dan filsafat
Islam, muncullah beberapa perbedaan kedua filsafat ini yang signifikan antara keduanya.
Yaitu :

1. Filsafat yang merupakan sumber pemikiran ilmiah Yunani hanya didasarkan pada
hipotesis-hipotesis dan pendapat-pendapat, sedangkan ilmu-ilmu Islam mendasarkan
penyelidikan mereka atas dasar pengamatan dan percobaan.

2. Masyarakat Yunani menganggap bahwa pengetahuan inderawi berkedudukan lebih rendah


daripada pengetahuan rasio. Jadi, pengetahuan inderawi kurang dapat diandalkan sehingga
mereka tidak mendirikan laboratorim-laboratorium. Ilmuwan Muslim tetap mengandalkan
pemikiran rasional, namun mereka melakukan pembuktian melalui pengamatan dan
percobaan. Oleh sebab itu mereka mendirikan laboratorium-laboratorium.

3. Masyarakat Yunani hanya berfikir secara deduktif. Sedangkan kaum Muslimin diajari oleh
Al-Qur’an agar berpikir induktif dengan perintah memperhatikan alam sekitarnya.

4. Ilmu-ilmu Yunani hanya sekedar informasi. Ilmu-ilmu kaum Muslimin merupakan


keseluruhan pengetahuan yang berdasarkan hokum dan teori.

5. Pada masa kejayaan filsafat di Yunani dalam kurun waktu dua belas abad, hanya terdapat
beberapa ilmuwan saja yang dapat dilahirkan, sedangkan Islam, enam atau tujuh abad saja
telah melahirkan ribuan ilmuwan besar dan menjadi peletak dasar ilmu-ilmu modern.

6. Peninggalan dari sejarah filsafat di Yunani hanya meninggalkan beberapa buah karya tulis
yang bernilai. Sedangkan Islam telah meninggalkan beberapa standar kajian ilmuwan Eropa
di perguruan tinggi (universitas) mereka hingga kini.

21
BAB 3

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil secara garis besar dari pemaparan beberapa
pembahasan pada bab sebelumnya adalah :

- Filsafat Islam terdiri atas logika (akal) dan juga keyakinan. Sedangkan Filsafat Yunani
hanya mengandung logika atau pemikiran.

- Filsafat Islam ialah pandangan-pandangan filsafat Yunani yang dimasukkan ke dalam


bangsa Arab Muslim melalui transliterasi dan trasformasi.

- Filsafat Islam menggabungkan antara agama dan hasil dari pemikiran manusia. Sedangkan
Filsafat Yunani tidak demikian.

- Filsafat Islam membahas masalah yang sudah pernah di bahas filsafat Yunani dan lainnya,
seperti ketuhanan, alam, dan roh. Akan tetapi, selain cara penyelesaian dalam filsafat Islam
berbeda dengan filsafat lain, para filosof Muslim juga mengembangkan dan menambahkan ke
dalamnya hasil-hasil pemikiran mereka sendiri. Sebagaimana bidang lainnya (teknik), filsafat
sebagaimana induk ilmu pengetahuan diperdalam dan disempurnakan oleh generasi yang
datang sesudahnya.

22
3.2 Kritik

Filsafat seringkali tidak memiliki batasan atas apa yang perlu dan harus dicari
jawabannya. Rasa penasaran dalam diri manusia adalah hal yang bersifat lahiriah dan pasti
akan selalu ada. Namun, dengan rasa penasaran ini, manusia hendaknya masih bisa berpikir
akan keyakinan, bukan malah menghilangkan keyakinan itu sendiri dari dalam diri mereka.
Filsafat bukan ingin menghilangkan apa yang ada dan mengadakan apa yang hilang. Filsafat
juga bukan sebatas hanya apa yang dapat dilihat. Namun, filsafat bukanlah ilmu yang tak
berujung. Semua ilmu memiliki ujung yang dimana akan kita temukan penyelesaian
permasalahan tanpa jalan keluar sama sekali. Dan filsafat pun sama halnya dengan ilmu-ilmu
yang tanpa jalan keluar tersebut. Tergantung bagaimana kita memahami filsafat itu sendiri.
Apakah ketika kita menghadapi jalan buntu harus kita tabrak meski hasilnya kita tak
bergerak, atau kembali kejalan yang lain dan menemukan jalan keluar yang lain? Filsafat
sama halnya dengan analogi ini, apabila kita sudah tidak menemukan jawaban jangan terlalu
memaksakan kehendak dan keinginan akan ilmu yang belum tentu itu benar ataupun salah.

Kurangnya penguasaan atau kendali pemikiran dan kendali diri juga harus
diperhatikan dalam mempelajari ilmu ini. Tak ada salahnya jika hanya sekedar menambah
pengetahuan dikarenakan kita cinta akan pengetahuan dan ilmu. Tapi hasil yang dapat kita
bawa setelah mempelajari sesuatu harus berupa sesuatu yang dapat dibuktikan dan sesuai
dengan apa yang dapat diterima masyarakat. Dan jangan pula keluar dari norma dan juga
nilai yang ada dalam diri kita sebagai manusia yang berakal. Karena hal tersebut akan
membuat apa yang kita pelajari dianggap menyimpang dan berbeda dari apa yang dapat
diterima dalam kehidupan ini.

23
3.3 Saran

Dalam mempelajari suatu ilmu, hendaknya kita selaku manusia yang memiliki
keistimewaan berupa akal yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita dapat kita pergunakan
dengan sebaik-baiknya dan juga secara tepat dan sesuai dengan kondisi.

Filsafat bukanlah suatu kajian ilmu yang sangat asing, namun juga tidak begitu
populer di kalangan masyarakat luas. Sehingga, butuh ketelitian dan juga kehati-hatian dalam
menyampaikan kesimpulan yang dapat diambil dari ilmu yang sangat bermanfaat ini. Jangan
sampai apa yang akan kita maksud untuk dibicarakan, ternyata diinterpretasikan arti yang
berbeda oleh masyarakat awam yang apalagi sama seklai tidak pernah tahu apa dan
bagaimana ilmu ini dapat dipelajari dan dipahami.

Jadi, pada dasarnya ketelitian, kehati-hatian, berpegang teguh pada prinsip adalah
kunci untuk memahami dan mempelajari ilmu yang sangat tua ini. Dan sebisa mungkin
sampaikanlah filsafat dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh semua kalangan masyarakat.
Baik itu anak-anak yang belum mengerti sekalapun, dan juga para orang dewasa yang pasti
sebagian dari mereka lebih banyak mengetahui dengan ilmu ini lebih daripada kami sebaga
penulis makalah ini

24
DAFTAR PUSTAKA

http://fikri-jufri-renaissance.blogspot.com/2012/10/perkembangan-filsafat-sejak-zaman.html

(08 Oktober 2014 13:44)

http://saranainggolan.blogspot.com/2011/09/ciri-filsafat-yunani.html

(08 oktober 2014 13:48)

http://ituinisana.wordpress.com/2012/05/12/filsafat-islam-perbedaan-dan-persamaan-antara-
filsafat-yunani-dan-filsafat-islam/

(10 Oktober 2014 15:53)

http://semilicity.wordpress.com/2009/04/24/definisi-filsafat-islam/ (10 Oktober 2014 10:45)

http://nirwanaellen5.wordpress.com/2013/10/17/pengertian-ciri-ciri-dan-sejarah-filsafat-
yunani-kuno/ (12 Oktober 2014 17:43)

http://umamjurbalcity.blogspot.com/2013/04/filsafat-islam.html (12 Oktober 2014 17:46)

http://gentongedukasi.blogspot.com/2012/01/tokoh-tokoh-pemikir-dalam-filsafat.html

(12 Oktober 2014 17:51)

http://menantikau.wordpress.com/kumpulan-makalah/metodologi-studi-islam/tokoh-tokoh-
filsafat-islam-dan-pemikirannya/ (12 Oktober 2014 17:53)

Wiramihardja, Sutardjo A, Prof. Dr. Psi. 2009. Pengantar Filsafat. Bandung: PT. Refika
Aditama.

Praja, Juhaya S, Prof. Dr. 2008. Aliran-Aliran Filsafat & Etika. Jakarta: Kencana (Prenada
Media)

Hanafi, Ahmad. 1996 . Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Bulan Bintang.

Sudarsono. 2001. Ilmu Filsafat – Suatu Pengantar. Jakarta: Rineka Cipta.

Hamid Fahmy Zarkasyi, “Re-orientasi Framework Kajian Filsafat Islam di Perguruan


Tinggi Islam Indonesia” dalamJurnal ISLAMIA Volume. 5, 2009

Ibrahim, Madkur, Dr. 2004. Aliran dan Teori Filsafat Islam. Jakarta: Bumi Aksara.

25