Anatomi dan Fungsi Bunga
Anatomi dan Fungsi Bunga
Histologi Bunga
Bunga terdiri atas aksis (sumbu), dan pada sumbu inilah muncul organ
bunga. Bagian sumbu yang mempunyai ruas (internodus) terdapat tangkai
bunga yang disebut pedisel. Ujung distal dari pedisel membengkak dan
meluas disebut Dasar Bunga (reseptakulum/thalamus). Organ bunga
menempel pada reseptakulum. Bunga mempunyai empat macam organ. Organ
paling luar adalah sepala (daun kelopak), yang secara bersama menyusun
kaliks (kelopak bunga) yang biasanya berwarna hijau dan ditemukan paling
bawah, tepat di atas reseptakulum. Di sebelah dalam sepala adalah korola
(mahkota bunga) yang terdiri atas petala (daun mahkota) yang biasanya
berwarna. Kedua tipe organ ini bersama sama membentuk periantium
(perhiasan bunga). Apabila semua organ periantum sama, disebut tepala. Di
dalam periantium terdapat dua macam organ reproduksi. Organ di sebelah luar
disebut stamen (benang sari) yang bersama- sama membentuk andresium, dan
organ di sebelah dalam disebut karpela (daun buah) yang membentuk
ginesium.
2. Induksi Perbungaan
Inisiasi perbungaan dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal.
Banyak tumbuhan memiliki respons khusus terhadap panjang hari
(fotoperiod) dan suhu, dan memasuki stadium reproduktif di bawah
pengaruh dari kombinasi ke dua faktor ini. Berdasarkan responsnya
terhadap panjang hari, tumbuhan dapat dibagi menjadi tumbuhan hari
panjang (long-day plant, LDP), tumbuhan hari pendek (short-day plant,
SDP), dan tumbuhan netral (neutral-day plant, NDP). Jam biologis
tumbuhan tampaknya berperan dalam pengukuran lama panjang hari,
tetapi sebelum dapat memberikan reaksi terhadap kondisi fotoperiodik
yang diperlukan tumbuhan harus mencapai stadium “ matang untuk
berbunga” terlebih dahulu. Banyak tumbuhan memerlukan pendedahan
suhu rendah sebelum mereka dapat mulai membentuk bunga. Biji
tumbuhan-tumbuhan tersebut bila diberi perlakuan vernalisasi saat sedang
berkecambah akan mengalami perlambatan proses pembungaan.
Berdasarkan penelitian–penelitian yang telah dilakukan, stimulus tersebut
dibentuk di daun termasuk kotiledon dan ditransportasikan ke meristem
apeks, kemudian akan menginduksi perubahan-perubahan yang
mengarahkan tumbuhan untuk membentuk perbungaan. Selama tahapan
induksi pembungaan, terjadi peningkatan sintesis RNA, protein, dan
pembentukan ribosom serta peningkatan indeks mitosis di meristem apeks.
Studi ultrastruktural secara kuantitatif memperlihatkan perubahan
awal seperti terjadinya perubahan vakuola berukuran besar dari apeks
vegetatif menjadi vakuola berukuran kecil. Mitokondria juga meningkat
sejalan dengan peningkatan aktivitas suksinat hidrogenase yang
menunjukkan terjadinya peningkatan aktivitas respirasi. Peningkatan
ukuran inti terjadi sebagai perubahan yang lebih lanjut, yang menarik
adalah meningkatnya derajat penyebaran kromatin dalam inti yang
membesar. Hal ini menyebabkan rasio kromatin yang menyebar atau
kromatin yang memadat pada meristem apeks yang terlibat dalam
pembentukan organ reproduktif terinduksi lebih besar dibanding pada
meristem vegetatif. Studi pada sel hewan dan tumbuhan menunjukkan
bahwa kromatin yang tersebar lebih aktif dalam mendukung
berlangsungnya transkripsi informasi genetik dari DNA. Setelah tahapan
induksi, sintesis DNA distimulasi, demikian pula aktivitas mitosis. Kedua
proses ini berperan dalam produksi sel-sel baru pembentuk primordium
bunga. Pada tumbuhan yang siap berbunga, pengaruh fotoperiod,
dimediasi oleh fitokrom yang akan mendorong sintesis “transmissible
factor” atau stimulus.
3. Meristem Bunga
Saat meristem apeks memasuki stadium reproduktif, meristem
apeks akan mengalami perubahan morfologis yang cukup nyata.
Perubahan ini tentu saja ada hubungannya dengan perubahan dari
pembentukan organ lateral setelah pertumbuhan tidak terbatas
(indeterminate) dari meristem apeks berhenti. Meristem apeks akan
tumbuh meninggi dan melebar sebelum bakal bunga dibentuk. Hal yang
sebaliknya terjadi saat perkembangan bunga. Meristem apeks akan
mengecil secara perlahan sejalan dengan munculnya bagian-bagian bunga.
Bunga merupakan unit fungsional untuk terjadinya proses reproduksi
secara seksual, yang juga memperlihatkan adanya keseimbangan untuk
pemenuhan kebutuhan yang saling bertolak belakang.
Hal tersebut ditunjukkan misalnya dengan mengeluarkan banyak
polen yang berfungsi sebagai atraktan untuk mendatangkan polinator tapi
di lain pihak diperlukan pula untuk reproduksi, serta pada proses polinasi
di mana polinasi sendiri dibutuhkan untuk menjamin dibentuknya
keturunan untuk keberlangsungan spesies, tapi di lain pihak diperlukan
pula peningkatan keragaman genetik melalui polinasi silang. Masing-
masing bunga dapat dianggap sebagai struktur yang spesifik bagi spesies
tumbuhan untuk membantu dan mengelola reproduksi seksual. Konstruksi
atau susunan bunga menunjukkan gejala karakter adaptif yang dibutuhkan
untuk pemindahan polen. Pucuk vegetatif memiliki karakteristik tumbuh
yang indeterminate. Bunga sebaliknya memiliki tumbuh yang terbatas
(determinate). Hal ini disebabkan meristem apeks menjadi tidak aktif lagi
setelah pucuk membentuk bagian bagian bunga. Biasanya bunga yang
semakin maju (terspesialisasi) akan memiliki periode tumbuh yang lebih
pendek serta menghasilkan sumbu yang pendek dan jumlah bagian-bagian
bunga yang lebih sedikit. Ciri lain yang menunjukkan meningkatnya
spesialisasi suatu bunga adalah bagian bunga tersusun secara melingkar
dan tidak secara spiral atau heliks; adanya kohesi dari bagian-bagian
bunga, yaitu perlekatan bagian bunga yang sama seperti kelopak bunga
atau sepal dengan sepal atau benang sari (stamen) dengan stamen, dan
lain-lain atau adnasi, yaitu perlekatan bagian bunga yang tidak sama,
seperti sepal dengan mahkota bunga (petal) atau petal dengan stamen, dan
lain-lain; bilateral simetri (zigomorf) dan bukan radial simetri
(aktinomorf);
ovarium inferior (epyginy) dan bukan superior (hypogyny). Bunga dapat
pula kehilangan beberapa bagiannya.
2. Histologi Karpela
Pada waktu anthesis, yaitu terjadinya pemasakan antera dan
ovulum, hanya sedikit perbedaan histologi yang dapat diamati pada
dinding ovarium. Dinding ovarium terdiri atas jaringan parenkim dan
pembuluh yang ditutupi oleh epidermis yang ada kutikulanya.
Stigma dan stilus mempunyai struktur khusus dan sifat fisisologi
yang dapat membuat butir serbuk sari mengadakan pemantakan ke
ovulum. Protoderm stigma menjadi epidermis berkelenjar dengan sel yang
kaya protoplasma. Epidermis biasanya mempunyai papilla dan dilapisi
kutikula. Stigma kebanyakan tumbuhan mengeluarkan cairan yang terdiri
atas minyak, gula dan asam amino. Pada eksudat stigma, Aptenia
cordifolia terdapat protein dan polisakarida, sebagian besar merupakan
monosakarida dan oligosakarida. Komponen protein eksudat stigma
dilepaskan bersama protein oleh butir serbuk sari dan berperan penting
dalam interaksi polen-stigma. Seringkali lapisan sel dibawah epidermis
membentuk jaringan kelenjar yang fungsinya sama dengan epidemis. Pada
kebanyakan tumbuhan ( misalnya phaseolus, hibiscus, lilium, dan lupinus)
sel epidermis stigma berkembang menjadi rambut pendek yang banyak
atau berkembang memanjang berbentuk serabut yang bercabang misalnya
pada Gramineae atau tumbuhan yang penyerbukannya dibantu oleh angin.
Antara jaringan stigma dan ovarium terdapat jaringan khusus,
tempat pemantakan butir sari yang sedang berkecambah. Jaringan ini
memberi makanan pada buluh serbuk sari untuk tumbuh selama melalui
stilus ke ovarium. Jaringan ini oleh Arber (1937) disebut jaringan
transmiting (pemindah). Tumbuhan dikotil yang paling primitif tidak
berkembang karpelanya, stilus dan serbuk sari dapat mencapai ovulum
dengan pertumbuhan melalui rambut pada bagian tepi karpela yang tidak
berlekatan. Secara filogenetik, pada bentuk yang lebih maju dengan tepi
karpela berlekatan, stilus berkembang dan jaringan stigma mengecil ke
bagian atas stilus. Jaringan ini tetap berhubungan dengan plasenta dan
jaringan pemindah, yang mempunyain sifat sama dengan stigma. Stilus
mungkin kosong atau padat, tergantung pada tingkat penutupan
perlekatan. Stilus kosong dari ginoesium sinkarpi terdiri atas saluran
tunggal atau beberapa saluran yang jumlahnya sama dengan jumlah
karpela.
Penelitian ontogeni pada stilus Cucurbita dan Datura
menunjukkan bahwa jaringan pemindah berlapis banyak. Jaringan kelenjar
berlapis banyak dari stigma berkembang dari sel epidermis dengan
pembelahan periklin. Sebagian besar angiospermae memiliki stilus padat
dan jaringan pemindah merupakan untaian sel memanjang yang kaya
sitoplasma. Sel ini menunjukkan dinding samping yang tebal dan dinding
mendatar yang relatif tipis. Dinding samping yang tebal terdiri atas
beberapa lapisan sebagai berikut.
a. Lapisan paling dalam tersusun atas senyawa pectin dan hemiselulosa.
Di sebelah luarnya terdapat lapisan yang tampak lebih galap, lebih
tipis, dan kaya hemiselulosa.
b. Di sebelah luarnya terdapat dinnding tebal dengan tekstur yang
longgar, menujukkan cincin terpusan dari bahan serabut relative
miskin hemiselulosa tetapi kaya pektin, serta berisi selulosa dan
polisakarida non selulosa.
c. Lamella tengah tebal, terutama terdiri atas senyawa pektin, lamella
tengah dan lapisan dinding paling luar berisi protein, pada dinding
lapisan terlihat terdapat massa gelembung kecil, buluh serbuk sari
tumbuh melalui lapisan dinding paling luar.
3. Histologi Stamen
Epidermis pada tangkai sari diliputi oleh kutikula; pada berbagai jenis tumbuhan
mungkin juga mempunyai trikoma. Tangkai sari terdiri atas jaringan parenkim dengan
sel-sel yang mempunyai vakuola yang nyata dan ruang-ruang antar sel yang kecil.
Pada Angiospermae yang mempunyai empat kotak spora diantara keempat kotak
sporanya terdapat jaringan steril (connectivum), yang dilewati jaringan vaskuler.
Dibawah epidermis terdapat lapisan sel edotecium yang berperan dalam proses
pembukaan kepala sari. Di sebelah dalam terdapat struktur tapetum yang
berhubungan langsung dengan ruang kotak spora, struktur ini berfungsi dalam
pembentukan mikrospora dan memberi makan spora yang terbentuk
C. Perkembangan Pada Bunga
1. Pembentukan Bunga
Perkembangbiakan bunga merupakan salah satu perkembangbiakan
yang jelas. Terlihat pada tumbuhan tinggi. Sebelum meristem bunga (floral
meristem) mampu melakukan diferensasi menjadi bagian-bagian bunga,
tumbuhan harus mencapai fase vegetatif tertentu (maturity and peness to
flower) dan berubah ke fase reproduktif. Proses perubahan ini disebut
floral evocation. Lama fase pertumbuhan vegetatif tergantung pada
spesies. Tiap tumbuhan memerlukan waktu yang berbeda untuk mencapai
fase siap berbunga. Apabila fase itu tercapai, tumbuhan tertentu langsung
membentuk bunga tanpa memerlukan induksi lingkungan. Sedangkan
pada tumbuhan lain memerlukan kondisi lingkungan tertentu agar mampu
membentuk bunga.
b. Inisiasi bunga
Pada tahap inisiasi bunga, perubahan morfologis menjadi be
ntuk kuncup reproduktif mulai dapat terdeteksi secara makroskopis.
Transisi dari tunas vegetatif menjadi kuncup reproduktif ini dapat
dideteksi dari perubahan bentuk maupun ukuran
kuncup, serta proses-proses selanjutnya yang mulai membentuk
organ-organ reproduktif.
2. Ginesium
Morfologi ginesium serta terminologi mengiringinya masih banyak
dipertentangkan.Yang pertama, apakah karpel suatu “phyllom” berstruktur
aksial atau organ khusus yang tidak berhubungan dengan bagian lain dari
bunga. Kedua, apa makna dari penyatuan kongenital (sebelum muncul)
dari sejumlah karpel, yang dianggap terjadi jika ginesium tumbuh sebagai
satu kesatuan sewaktu ontogeni. Ketiga, yang manakah karpel dalam
bunga yang berbekal buah tenggelam (inferus).
Pada ginesium yang karpelnya terlipat, bakal buahnya beruang dua
atau banyak, dan plasentanya aksiler. Jika sekat pemisah hilang, maka dari
segi filogeni atau ontogeni, terjadi plasenta di tengah, bebas dari sekat dan
dinamakan plasenta sentral bebas.
Oleh karena pada umumnya sehelai karpel memiliki tiga berkas
pembuluh, yang juga tampak setelah terjadi pelipatan kala pembentukan
ginesium, maka berkas median (tengah, dorsal) dan kedua berkas
pembuluh lateral (ventral) dapat diikuti. Selanjutnya teramati juga di daun,
bagian floem dari berkas pembuluh ada di sisi abaksial dan xylem di sisi
adaksial.
E. Pembentukan Mikrosporogenesis dan Makrosporogenesis
1. Mikrosporogenesis
Mikrosporogensis adalah pembentukan gamet di dalam organ
jantan bunga yang menghasilkan serbuk sari. Dalam kepala sari (anther)
terdapat empat mikrosporangium. Setiap mikrosporangium mengandung
mikrosporosit (diploid). Mikrosporosit ini mengalami pembelahan meiosis
I dan meiosis II. Ada empat tahapan utama perkembangan mikrospora
pada tanaman monokotil yaitu sel induk mikrospora, tetrad, uninukleat,
dan binukleat.
Perkembangan mikrospora pada dasarnya merupakan proses
meiosis. Pembelahan meiosis ini menghasilkan empat mikrospora haploid
dan berkelompok menjadi satu yang disebut tetrad. Ukuran tetrad saat ini
adalah setengah dari ukuran mikrospora maksimum. Perkembangan
selanjutnya adalah terlepasnya tetrad menjadi empat mikrospora bebas.
Proses ini dikatalisis oleh enzim 1,3 β-glucanase. Setiap mikrospora
berbentuk segitiga dan umumnya inti sel secara perlahan-lahan bergerak
ke tengah mikrospora dan dinding mikrospora menebal. Ini merupakan
awal dari tahap mikrospora uninukleat. Pada tahap uninukleat akhir
mikrospora siap melakukan pembelahan mitosis yang pertama.
Pembelahan pertama ini mengakhiri periode mikrospora.
Inti sel setiap mikrospora mengalami pembelahan inti
(kariokinesis) sehingga menghasilkan dua nukleus haploid, yaitu nukleus
saluran serbuk sari dan nukleus generatif. Setelah serbuk sari terbentuk,
nukleus generatif mengalami pembelahan mitosis menghasilkan dua
nukleus sperma, tapi tidak diikuti sitokinesis. Jadi, satu serbuk sari yang
masak mempunyai tiga nukelus haploid, yaitu satu nukleus vegetatif
(saluran serbuk sari) dan dua nukleus generatif (sperma).
Mitosis pertama terjadi secara asistematik, menghasilkan dua inti sel
yang tidak sama besar yang besar inti vegetative dan yang kecil adalah inti
generatif. Inti generatif letaknya berdekatan dinding mikrospora. Inti
generative membelah secara mitosis (mitosis II) mengahsilakan dua inti
sperma gamet (gamet jantan). Pada saat ini mikrospora disebut sebagao
butir polen atau polen dewasa. Pada tumbuhan angiospermae. Pada saat
terjadi perkembangan benang sari, sel-sel induk mikrospora melakukan
meiosis dan mengahsilkan 4 mikrospora haploid dimana masing-masing
akan berkembang menjadi butir polen (pollen grain). Polen yang masak
akan dilapisi beberapa lapis dinding sel. Yang terdalam disebut intine dan
di sebelah luarnya terdapat exine. Pembentukan intine diduga berasal dari
tepetrum. Sedangkan exine merupakan produk dari polen. Butir polen
merupakan generasi gametofit jantan, terdapat sel vegetatif terbentuk
sebagai hasil pembelahan sel mikrospora. Sel generatif ini tidak memiliki
mitokondria maupun kloroplas. Sel generatif akan membelah secara
mitosis untuk membentuk 2 inti sperma dan pembelahan ini umumnya
terjadi setelah polinasi.
2. Makrosporogenesis (Megasporogenesis)
Makrosporogenesis adalah pembentukan gamet betina di dalam
bakal buah atau ovarium. Di dalam satu ovari (bakal buah) terdapat sel
induk megaspora (megasporosit). Sel induk megaspora yang bersifat
diploid akan bermeiosis menghasilkan empat sel haploid (tetrad). Dari
keempat sel tersebut hanya satu yang hidup menjadi sel megaspora. Sel
megaspora ini, kemudian mengalami serangkaina mitosis menghasilkan
delapan inti haploid. Delapan inti ini berada dalam satu sel besar bernama
kantung embrio (kandung lembaga muda) yang dilingkupi oleh kulit dan
bagian ujungnya terdapat sebuah lubang kecil yang disebut mikrofil.