0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
201 tayangan21 halaman

Laporan Perilaku Kekerasan dalam Keperawatan

Laporan ini membahas tentang perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan adalah tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Penyebabnya antara lain faktor biologis seperti gangguan otak, genetik, dan biokimia tubuh, serta faktor psikologis seperti pengalaman masa kecil, pemodelan, dan teori belajar. Tanda dan gejalanya misalnya wajah merah, pand

Diunggah oleh

Demi Lovato
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
201 tayangan21 halaman

Laporan Perilaku Kekerasan dalam Keperawatan

Laporan ini membahas tentang perilaku kekerasan. Perilaku kekerasan adalah tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Penyebabnya antara lain faktor biologis seperti gangguan otak, genetik, dan biokimia tubuh, serta faktor psikologis seperti pengalaman masa kecil, pemodelan, dan teori belajar. Tanda dan gejalanya misalnya wajah merah, pand

Diunggah oleh

Demi Lovato
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN PERILAKU KEKERASAN

STASE KEPERAWATAN JIWA

Disusun Oleh:
FLA AURELIA R
NIM: P2002023

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


INSTITUT TEKNOLOGI KESEHATAN DAN SAINS
WIYATA HUSADA SAMARINDA
2021
A. Masalah Utama
Perilaku Kekerasan

B. Proses Terjadinya Masalah


1. Pengertian
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan di mana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri
maupun orang lain. Sering juga disebut gaduh gelisah atau amuk di mana
seseorang marah berespon terhadap suatu stressor dengan gerakan motorik
yang tidak terkontrol (Sutejo,2017) .
Resiko perilaku kekerasan merupakan perilaku seseorang yang
menunjukkan bahwa ia dapat membahayakan diri sendiri atau orang lain
atau lingkungan, baik secara fisik, emosional, seksual dan verbal (Nanda,
2016)
Resiko perilaku kekerasan adalah berisiko membahayakan secara fisik,
emosi, dan/atau seksual pada diri sendiri dan orang lain. (SDKI,2017)
Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan
tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri,
maupun orang lain. (Yosep,2010)
2. Tanda dan gejala
Menurut Yosep (2010) perawat dapat mengidentifikasi dan
mengobservasi tanda dan gejala perilaku kekerasan:
a. Muka merah dan tegang
b. Mata melotot/pandangan tajam
c. Tangan mengepal
d. Rahang mengatup
e. Wajah memerah dan tegang
f. Postur tubuh kaku
g. Pandangan tajam
h. Mengatupkan rahang dengan kuat
i. Mengepalkan tangan Jalan mondar-mandir
Tanda dan gejala menurut Sutejo (2017)
a. Data Subjektif
1) Ungkapan berupa ancaman
2) Ungkapan kata-kata kasar
3) Ungkapan ingin memukul atau melukai
b. Data Objektif
1) Wajah memerah dan tegang
2) Pandangan tajam
3) Mengatupkan rahang dengan kuat
4) Mengepalkan tangan
5) Bicara kasar
6) Suara tinggi, menjerit atau berteriak
7) Mondar-mandir
8) Melempar atau memukul benda atau orang lain
3. Rentang respon
Menurut Yosep,(2010) perilaku kekerasaan merupakan status rentang
emosi dan ungkapan kemarahan suatu bentuk komunikasi dan proses
penyampaian pesan dari individu. Orang yang mengalami kemarahan
sebenarnya ingin menyampaikan pesan bahwa ia “tidak setuju, merasa tidak
dianggap, merasa tidak dituruti atau diremehkan”. Rentang respon kemaraha
individu dimulai dari respon normal (asertif) sampai pada respon sangat
tidak normal (maladaptif).
Respon Adapptif Respon Maladaptif

Asertif Frustasi Pasif Agresif Kekerasan


Klien mampu Klien gagal Klien merasa Klien Perasaan marah
mengungkapkan mencapai tujuan tidak dapat mengekspresikan dan bermusuhan
marah tanpa kepuasan/saat mengungkapkan secara fisik, tapi yang kuat dan
menyalahkan marah dan perasaannya, masih terkontrol, hilang control,
orang lain dan tidak dapat tidak berdaya dan mendorong orang disertai amuk,
memberikan menemukan menyerah lain dengan merusak
kelegaan alternatif ancaman lingkungan

a. Respon adaptif
Respon adaptif adalah respon yang dapat diterima norma-norma sosial
budaya yang berlaku. Dengan kata lain, individu tersebut dalam batas
normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan masalah
tersebut, respon adaptif :
1) Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah pada kenyataan
2) Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan
3) Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul
dari pengalaman ahli.
4) Perilaku sosial adalah sikap dan tingkah laku yang masih dalam
batas kewajaran.
5) Hubungan sosial adalah respon suatu interaksi dengan orang lain
dan lingkungan.
b. Respon maladaptive
Respon maladaptif adalah respon individu dalam menyelesaikan
masalah yang menyimpang dari norma-norma sosial budaya dan
lingkungan, adapun respon tidak normal (maladaptif) meliputi :
1) Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara kokoh
dipertahankan walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan
bertentangan dengan kenyataan sosial.
2) Perilaku kekerasan merupakan status rentang emosi dan ungkapan
kemarahan yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik.
3) Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesuatu yang timbul dari
hati.
4) Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu yang tidak teratur.
4. Penyebab
a. Faktor Predisposisi
Menurut Yosep (2010), faktor predisposisi klien dengan perilaku
kekerasan adalah :
1) Teori Biologis
a) Neurogic Factor
Beragam komponen dari sistem syaraf seperti sinap,
neurotransmitter, dendrit, akson terminalis mempunyai peran
memfasilitasi atau menghambat rangsangan dan pesan-pesan yang
akan mempengaruhi sifat agresif, sistem limbik sangat terlibat
dalam menstimulasi timbulnya perilaku bermusuhan dan respon
agresif.
b) Genetic Factor
Adanya faktor gen yang diturunkan melalui orang tua, menjadi
potensi perilaku agresif. Menurut riset Kazuo Murakami (2007)
dalam gen manusia terdapat dormant (potensi) agresif yang sedang
tidur akan bangun jika terstiulasi oleh faktor eksternal. Menurut
penelitian genetik tipe karyotype XYY, pada umumnya dimiliki
oleh penghuni pelaku tindakan kriminal serta orang-orang yang
tersangkut hukum akibat perilaku agresif.
c) Cycardian Rhtym
(Irama sirkardian tubuh) , memegang peranan pada individu.
Menurut penelitian pada jam-jam sibuk seperti menjelang masuk
kerja dan menjelang berakhirnya pekerjaan sekitar jam 9 dan 1.
Pada jam tertentu orang lebih mudah terstimulasi untuk bersikap
agresif.
d) Biochemistry Factor
(Faktor biokimia tubuh) seperti neurotransmitter di otak (epineprin,
nonepineprin, dopamin, astilkolon dan serotonin) sangat berperan
dalam penyampaian informasi melalui sistem persyarafan dalam
tubuh, adanya stimulus dari luar tubuh yang dianggap mengancam
atau membahayakan akan dihantar melalui impuls neurotransmitter
ke otak dan meresponnya melalui serabut efferent. Peningkatan
hormon androgen dan norepineprin serta penurunan serotonin dan
GABA pada cairan cerebrospinal vertebra dapat menjadi faktor
predisposisi terjadinya perilaku agresif
e) Brain area disorder
Gangguan pada sistem limbik dan lobus temporal, sindrom otak
organik, tumor otak, trauma otak, penyakit ensepalitis, epilepsi
ditemukan sangat berpengaruh terhadap perilaku agresif agresif dan
tindak kekerasan
2) Teori psikologis
a) Teori Psikoanalisa
Agresivitas dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh riwayat tumbuh
kembang sesorang (life span history). Teori ini menjelaskan bahwa
adanya ketidakpuasan fase oral antara usia 0-2 tahun dimana anak
tidak mendapat kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan air susu
yang cukup cenderung mengembangkan sikap agresif dan
bermusuhan setelah dewasa sebagai kompensasi adanya
ketidakpercayaan pada lingkungannya. Tidak terpenuhinya
kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembagnya
ego dan membuat konsep diri yang rendah. Perilaku agresif dan
tidak kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap
rasa ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri perilaku tindak
kekerasan.
b) Imitation, modeling, and information processing theory
Menurut teori ini perilaku kekerasan bisa berkembang dalam
lingkungan yang mentolelir kekerasan. Adanya contoh, model dan
perilaku yang ditiru dari media atau lingkungan sekitar
memungkinkan individu meniru perilaku tersebut. Dalam suatu
penelitian beberapa anak dikumpulkan untuk menonton tayangan
pemukulan pada boneka dengan reward positif pula (makin keras
pukulannya akan diberi coklat), anak lain menonton tayangan cara
mengasihi dan mencium boneka tersebut dengan reward positif
pula (makin baik belaiannya mendapat hadiah coklat). Setelah
anak-anak keluar dan diberi boneka ternyata masing-masing anak
berperilaku sesuai dengan tontonan yang pernah dialaminya
c) Learning theory
Perilaku kekerasan merupakan hasil belajar individu terhadap
lingkungan terdekatnya. Ia mengamati bagaimana respon ayah saat
menerima kekecewaan dan mengamati bagaimana respon ibu saat
marah. Ia juga belajar bahwa agresivitas lingkungan sekitar
menjadi peduli, bertanya, menanggapi, dan menganggap bahwa
dirinya eksis dan patut untuk diperhitungkan.

b. Faktor Presipitasi
Menurut Yosep (2010), faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku
kekerasan seringkali berkaitan dengan :
1) Ekspresi diri, ingin menunjukkan ekstensi diri atau simbolis
solidaritas seperti dalam sembuah konser, penonton sepak bola, geng
sekolah, perkelahian massal dan sebagainya.
2) Ekspresi dari tindak terpenuhinya kebetuhan dasar dan kondisi sosial
ekonomi.
3) Kesulitan dalam mengkonsumsi sesuatu dalam keluarga serta tidak
membiasakan diaglog untuk memecahkan masalah cenderung
melakukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
4) Adanya riwayat perilaku anti social meliputi penyalahgunaan obat dan
alcoholisme dan tidak mampu mengontrol emosiannya pada saat
menghadapi rasa frustasi.
5) Kematian anggota keluarga yang terpenting
5. Sumber Koping
Menurut Stuart dan Laraia dalam Damaiyanti (2012), sumber koping
dapat berupa aset ekonomi, kemampuan dan keterampilan, teknik defensif,
dukungan sosial, dan motivasi. Hubungan antara individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat sangat berperan penting pada saat ini. Sumber
koping lainnya termasuk kesehatan dan energi, dukungan spiritual,
keyakinan positif, keterampilan menyelesaikan masalah dan sosial, sumber
daya sosial dan material, dan kesejahteraan fisik.
Keyakinan spiritual dan melihat diri positif dapat berfungsi sebagai dasar
harapan dan dapat mempertahankan usaha seseorang mengatasi hal yang
paling buruk. Keterampilan pemecahan masalah termasuk kemampuan untu
mencari informasi, mengidentifikasi masalah, menimbang alternatif, dan
melaksankan rencana tindakan, keterampilan sosial memfasilitasi
penyelesaian masalah yang melibatkan orang lain, meningkatkan
kemungkinan untuk mendapatkan kerjasama dan dukungan dari orang lain,
dan memberikan kontrol sosial individu yang lebih besar. Akhirnya, aset
materi berupa barang dan jasa yang bisa dibeli dengan uang. Sumber koping
sangat meningkatkan pilihan seseorang mengatasi di hampir semua situasi
stres. Pengetahuan dan kecerdasan yang lain dalam menghadapi sumber
daya yang memungkinkan orang untuk melihat cara yang berbeda dalam
menghadapi stres. Akhirnya, sumber koping juga termasuk kekuatan ego
untuk mengidentifikasi jaringan sosial, stabilitas budaya, orientasi
pencegahan kesehatan dan kosntitusional
6. Mekanisme Koping
Menurut Stuart dan Laraia dalam Damaiyanti (2012), mekanisme koping
yang dipakai pada klien marah untuk melindungi diri antara lain :
a) Sublimasi, yaitu menerima suatu sasaran pengganti yang mulia artinya di
mata masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami hambatan
penyalurannya secara normal. Misalnya seseorang yang sedang marah
melampiaskan kemarahannya pada obyek lain seperti meremas adonan
kue, meninju tembok dan sebagainya, tujuannya adalah untuk
mengurangi ketegangan akibat rasa marah.
b) Proyeksi, yaitu menyalahkan orang lain mengenai kesukarannya atau
keinginannya yang tidak baik. Misalnya seseorang wanita muda yang
menyangkal bahwa ia mempunyai perasaan seksual terhadap rekan
sekerjanya, berbalik menuduh bahwa temannya tersebut mencoba
merayu, mencumbunya.
c) Represi, yaitu mencegah pikiran yang menyakitkan atau membahayakan
masuk ke alam sadar. Misalnya seseorang anak yang sangat benci pada
orang tuanya yang tidak disukainya. Akan tetapi menurut ajaran atau
didikan yang diterimanya sejak kecil bahwa membenci orang tua
merupakan hal yang tidak baik dan dikutuk oleh Tuhan, sehingga
perasaan benci itu ditekannya dan akhirnya ia dapat melupakannya.
d) Reaksi formasi, yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila
diekspresikan, dengan melebih-lebihkan sikap dan perilaku yang
berlawanan dan menggunakan sebagai rintangan. Misalnya seorang yang
tertarik pada teman suaminya, akan memperlakukan orang tersebut
dengan kasar.
e) Displacement, yaitu melepaskan perasaan yang tertekan biasanya
bermusuhan, pada obyek yang tidak begitu berbahaya seperti yang pada
mulanya membangkitkan emosi itu. Misalnya anak berusia 4 tahun
marah karena ia baru saja mendapat hukuman dari ibunya karena
menggambar di dinding kamarnya. Dia mulai bermain perang- perangan
dengan temannya.
C. Pohon masalah

Resiko menciderai diri sendiri, orang


lain, lingkungan dan verbal
Effect

Perilaku kekerasan
Core problem

Harga diri rendah kronik


Causa
Sumber : Damaiyanti
(2012)
D. Masalah keperawatan yang mungkin muncul
a. Resiko perilaku kekerasan
b. Harga Diri Rendah Kronik
c. Resiko Perilaku Kekerasan (Diri sendiri, oranglain, lingkungan, dan verbal)
E. Data yang perlu dikaji
a. Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
Data Subyektif :
- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
- Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika
sedang kesal atau marah.
- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.

Data Objektif :
- Mata merah, wajah agak merah.
- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai: berteriak, menjerit,
memukul diri sendiri/orang lain.
- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
- Merusak dan melempar barang-barang.
b. Perilaku kekerasan / amuk
Data Subyektif :
- Klien mengatakan benci atau kesal pada seseorang.
- Klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika
sedang kesal atau marah.
- Riwayat perilaku kekerasan atau gangguan jiwa lainnya.
Data Obyektif ;
- Mata merah, wajah agak merah.
- Nada suara tinggi dan keras, bicara menguasai.
- Ekspresi marah saat membicarakan orang, pandangan tajam.
- Merusak dan melempar barang-barang.
c. Gangguan harga diri : harga diri rendah
Data subyektif:
- Klien mengatakan: saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa,
bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap
diri sendiri.
Data obyektif:
- Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif
tindakan, ingin mencederai diri / ingin mengakhiri hidup.
F. Diagnosis keperawatan
a. Resiko perilaku kekerasan
b. Harga Diri Rendah Kronik
c. Resiko Perilaku Kekerasan (Diri sendiri, oranglain, lingkungan, dan verbal)
G. Rencana tindakan keperawatan
No. SDKI SLKI SIKI
Dx
Resiko Perilaku Kontrol Diri Manajemen Perilaku
Kekerasan (L.09076) (I.12463)
(D.0146) Kemampuan untuk 1.1 Identifikasi dan
Definisi : mengendalikan atau mengelola perilaku
Berisiko mengatur emosi, negative
membahayakan pikiran, dan perilaku 1.2 Identifikasi harapan
secara fisik, dalam menghadapi untuk
emosi dan/atat masalah mengendalikan
seksual pada diri Kriteria Hasil : perilaku
sendiri atau a. Perilaku 1.3 Jadwalkan
orang lain menyerang cukup Kegiatan
menurun terstruktur
b. Perilaku 1.4 Ciptakan kegiatan
menyerang diri fisik sesuai
sendiri atau orang kemampuan
lain cukup 1.5 Batasi jumlah
menurun pengunjung
c. Bersuara keras 1.6 Bicara dengan nada
cukup menurun rendah dan tenang
d. Berbicara ketus 1.7 Cegah perilaku
cukup menurun pasif dan agresif
1.8 Hindari sikap
mengancam dan
berdebat
1.9 Hindari sikap
menyudutkan

Harga Diri Harga Diri ( L.09069) Promosi Koping


Rendah Kronik Perasaan positif (I.13493)
( D.0087) terhadap diri sendiri 2.1 Identifikasi
Definisi : atau kemampuan kegiatan jangka
Evaluasi atau sebagai respon terhadap pendek dan
perasaan situasi saat ini. panjang sesuai
negative terhadap Kriteria Hasil : tujuan
diri sendiri atau a Penilaian diri positif 2.2 Identifikasi
kemampuan terhadap cukup kemampuan yang
klien sebagai meningkat dimiliki
respon terhadap b Penerimaan penilaian 2.3 Identifikasi sumber
situasi saat ini. positif terhadap diri daya yang tersedia
sendiri cukup 2.4 Identifikasi
meningkat pemahaman proses
c Minat mencoba hal 2.5 Identifikasi dampak
baru cukup situasi terhadap
meningkat peran dan
d Perasaan malu cukup hubungan
menurun 2.6 Identifikasi metode
e Perasaan bersalah penyelesaian
cukup menurun masalah
f Perasaan tidak mampu 2.7 Diskusikan
melakukan apapun perubahan peran
cukup menurun yang dialami
2.8 Gunakan
pendekatan yang
tenang dan
meyakinkan
2.9 Diskusikan alasan
mengkritik diri
sendiri
2.10 Diskusikan
konsekuensi tidak
menggunakan rasa
bersalah dan malu
2.11 Motivasi untuk
menentukan
harapan yang
realistis.

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan


SP 1 Pasien :
Membina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab perasaan marah,
tanda dan gejala yang dirasakan, perilaku kekerasan yang dilakukan, akibatnya
serta cara mengontrol secara fisik I

Orientasi: “Selamat Pagi pak, perkenalkan nama saya Sulastri, panggil saya
Lastri saya mahasiswa Keperawatan dari UMKT yang akan praktek disini
selama 2 minggu. Hari ini saya dinas pagi dari pkl. 07.00-14.00. Saya yang
akan merawat bapak selama Bapak di rumah sakit ini. Nama bapak siapa,
senangnya dipanggil apa?” “Bagaimana perasaan bapak saat ini?, Masih ada
perasaan kesal atau marah?” “Baiklah kita akan berbincang-bincang sekarang
tentang perasaan marah bapak” “Berapa lama bapak mau kita berbincang-
bincang?” Bagaimana kalau 10 menit? “Dimana enaknya kita duduk untuk
berbincang-bincang, pak? Bagaimana kalau di ruang tamu?”
Kerja : “Apa yang menyebabkan Bapak marah?, Apakah sebelumnya bapak
pernah marah? Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan yang sekarang?.
“Pada saat penyebab marah itu ada, seperti bapak pulang ke rumah dan istri
belum menyediakan makanan(misalnya ini penyebab marah pasien), apa yang
bapak rasakan?” “Apakah Bapak merasakan kesal kemudian dada bapak
berdebar-debar, mata melotot, rahang terkatup rapat, dan tangan mengepal?”
“Setelah itu apa yang bapak lakukan?. Apa kerugian cara yang bapak lakukan?
Maukah bapak belajar cara mengungkapkan kemarahan dengan baik tanpa
menimbulkan kerugian?” ”Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan,
pak. Salah satunya adalah dengan cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik
disalurkanrasa marah.” ”Ada beberapa cara, bagaimana kalau kita belajar satu
cara dulu?” ”Begini pak, kalau tanda-tanda marah tadi sudah bapak rasakan
maka bapak berdiri, lalu tarik napas dari hidung, tahan sebentar, lalu
keluarkan/tiupu perlahan –lahan melalui mulut seperti mengeluarkan
kemarahan. Ayo coba lagi, tarik dari hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui
mulut. Nah, lakukan 5 kali. Bagus sekali, bapak sudah bisa melakukannya.
Bagaimana perasaannya?” “Nah, sebaiknya latihan ini bapak lakukan secara
rutin, sehingga bila sewaktu-waktu rasa marah itu muncul bapak sudah terbiasa
melakukannya”.

Terminasi : “Oya Pak, karena sudah 10 menit, apakah perbincangan ini mau
diakhiri atau dilanjutkan?” “Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang-
bincang tentang kemarahan bapak?” ”Iya jadi ada 2 penyebab bapak
marah ........ (sebutkan) dan yang bapak rasakan ........ (sebutkan) dan yang
bapak lakukan ....... (sebutkan) serta akibatnya ......... (sebutkan) ”Coba selama
saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab marah bapak yang lalu, apa yang
bapak lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa latihan
napas dalamnya ya pak. ‘Sekarang kita buat jadual latihannya ya pak, berapa
kali sehari bapak mau latihan napas dalam?, jam berapa saja pak?” ”Baik,
bagaimana kalau 2 jam lagi saya datang dan kita latihan cara yang lain untuk
mencegah/mengontrol marah. Tempatnya disini saja ya pak”
SP 2 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik ke-2
a. Evaluasi latihan nafas dalam
b. Latih cara fisik ke-2: pukul kasur dan bantal
c. Susun jadwal kegiatan harian cara kedua

Orientasi : “Selamat Pagi pak, sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu
sekarang saya datang lagi” “Bagaimana perasaan bapak saat ini, adakah hal
yang menyebabkan bapak marah?” “Baik, sekarang kita akan belajar cara
mengontrol perasaan marah dengan kegiatan fisik untuk cara yang kedua”
“Mau berapa lama? Bagaimana kalau 20 menit?” Dimana kita bicara?
Bagaimana kalau di ruang tamu?”

Kerja : “Kalau ada yang menyebabkan bapak marah dan muncul perasaan
kesal, berdebardebar, mata melotot, selain napas dalam bapak dapat melakukan
pukul kasur dan bantal”. “Sekarang mari kita latihan memukul kasur dan
bantal. Mana kamar bapak? Jadi kalau nanti bapak kesal dan ingin marah,
langsung ke kamar dan lampiaskan kemarahan tersebut dengan memukul kasur
dan bantal. Nah, coba bapak lakukan, pukul kasur dan bantal. Ya, bagus sekali
bapak melakukannya”. “Kekesalan lampiaskan ke kasur atau bantal.” “Nah
cara inipun dapat dilakukan secara rutin jika ada perasaan marah. Kemudian
jangan lupa merapikan tempat tidurnya”

Terminasi : “Bagaimana perasaan bapak setelah latihan cara menyalurkan


marah tadi?” “Ada berapa cara yang sudah kita latih, coba bapak sebutkan
lagi?Bagus!” “Mari kita masukkan kedalam jadual kegiatan sehari-hari bapak.
Pukul kasur bantal mau jam berapa? Bagaimana kalau setiap bangun tidur?
Baik, jadi jam 05.00 pagi. dan jam jam 15.00 sore. Lalu kalau ada keinginan
marah sewaktu-waktu gunakan kedua cara tadi ya pak. Sekarang kita buat
jadwalnya ya pak, mau berapa kali sehari bapak latihan memukul kasur dan
bantal serta tarik nafas dalam ini?” “Besok pagi kita ketemu lagi kita akan
latihan cara mengontrol marah dengan belajar bicara yang baik. Mau jam
berapa pak? Baik, jam 10 pagi ya. Sampai jumpa”

SP 3 Pasien :
Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara sosial/verbal :
a. Evaluasi jadwal harian untuk dua cara fisik
b. Latihan mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan
baik, meminta dengan baik, mengungkapkan perasaan dengan baik.
c. Susun jadwal latihan mengungkapkan marah secara verbal

Orientasi : “Selamat Pagi pak, sesuai dengan janji saya kemarin


sekarang kita ketemu lagi” “Bagaimana pak, sudah dilakukan latihan
tarik napas dalam dan pukul kasur bantal?, apa yang dirasakan setelah
melakukan latihan secara teratur?” “Coba saya lihat jadwal kegiatan
hariannya.” “Bagus. Nah kalau tarik nafas dalamnya dilakukan sendiri
tulis M, artinya mandiri; kalau diingatkan suster baru dilakukan tulis B,
artinya dibantu atau diingatkan. Nah kalau tidak dilakukan tulis T,
artinya belum bisa melakukan “Bagaimana kalau sekarang kita latihan
cara bicara untuk mencegah marah?” “Dimana enaknya kita
berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat yang sama?” “Berapa
lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?”

Kerja : “Sekarang kita latihan cara bicara yang baik untuk mencegah
marah. Kalau marah sudah dusalurkan melalui tarik nafas dalam atau
pukul kasur dan bantal, dan sudah lega, maka kita perlu bicara dengan
orang yang membuat kita marah. Ada tiga caranya pak: Meminta
dengan baik tanpa marah dengan nada suara yang rendah serta tidak
menggunakan kata-kata kasar. Kemarin Bapak bilang penyebab
marahnya karena minta uang sama isteri tidak diberi. Coba Bapat minta
uang dengan baik:”Bu, saya perlu uang untuk membeli rokok.” Nanti
bisa dicoba di sini untuk meminta baju, minta obat dan lain-lain. Coba
bapak praktekkan. Bagus pak.” Menolak dengan baik, jika ada yang
menyuruh dan bapak tidak ingin melakukannya, katakan: ‘Maaf saya
tidak bisa melakukannya karena sedang ada kerjaan’. Coba bapak
praktekkan. Bagus pak” Mengungkapkan perasaan kesal, jika ada
perlakuan orang lain yang membuat kesal bapak dapat mengatakan:’
Saya jadi ingin marah karena perkataanmu itu’. Coba praktekkan.
Bagus”

Terminasi : “Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap


tentang cara mengontrol marah dengan bicara yang baik?” “Coba bapak
sebutkan lagi cara bicara yang baik yang telah kita pelajari” “Bagus
sekal, sekarang mari kita masukkan dalam jadual. Berapa kali sehari
bapak mau latihan bicara yang baik?, bisa kita buat jadwalnya?” Coba
masukkan dalam jadual latihan sehari-hari, misalnya meminta obat,
uang, dll. Bagus nanti dicoba ya Pak!” “Bagaimana kalau dua jam lagi
kita ketemu lagi?” “Nanti kita akan membicarakan cara lain untuk
mengatasi rasa marah bapak yaitu dengan cara ibadah, bapak setuju?
Mau di mana Pak? Di sini lagi? Baik sampai nanti

SP 4 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan secara spiritual


a. Diskusikan hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik dan
sosial atau verbal
b. Latihan sholat atau berdoa
c. Buat jadual latihan sholat atau berdoa
Orientasi : “Selamat Pagi pak, sesuai dengan janji saya dua jam yang lalu
sekarang saya datang lagi” Baik, yang mana yang mau dicoba?” “Bagaimana pak,
latihan apa yang sudah dilakukan?Apa yang dirasakan setelah melakukan latihan
secara teratur? Bagus sekali, bagaimana rasa marahnya” “Bagaimana kalau
sekarang kita latihan cara lain untuk mencegah rasa marah yaitu dengan ibadah?”
“Dimana enaknya kita berbincang-bincang?Bagaimana kalau di tempat tadi?”
“Berapa lama bapak mau kita berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit?

Kerja : “Coba ceritakan kegiatan ibadah yang biasa Bapak lakukan! Bagus. Baik,
yang SP 5 Pasien : Latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan obat a.
Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang sudah
dilatih. b. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar
(benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu minum
obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat berhenti
minum obat. c. Susun jadual minum obat secara teratur ORIENTASI mana mau
dicoba? “Nah, kalau bapak sedang marah coba bapak langsung duduk dan tarik
napas dalam. Jika tidak reda juga marahnya rebahkan badan agar rileks. Jika tidak
reda juga, ambil air wudhu kemudian sholat”. “Bapak bisa melakukan sholat
secara teratur untuk meredakan kemarahan.” “Coba Bpk sebutkan sholat 5 waktu?
Bagus. Mau coba yang mana? Coba sebutkan caranya”

Terminasi : Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang cara


yang ketiga ini?” “Jadi sudah berapa cara mengontrol marah yang kita pelajari?
Bagus”. “Mari kita masukkan kegiatan ibadah pada jadual kegiatan bapak. Mau
berapa kali bapak sholat. Baik kita masukkan sholat ....... dan ........ (sesuai
kesepakatan pasien) “Coba bapak sebutkan lagi cara ibadah yang dapat bapak
lakukan bila bapak merasa marah” “Setelah ini coba bapak lakukan jadual sholat
sesuai jadual yang telah kita buat tadi” “Besok kita ketemu lagi ya pak, nanti kita
bicarakan cara keempat mengontrol rasa marah, yaitu dengan patuh minum obat..
Mau jam berapa pak? Seperti sekarang saja, jam 10 ya?” “Nanti kita akan
membicarakan cara penggunaan obat yang benar untuk mengontrol rasa marah
bapak, setuju pak?”

SP 5 Pasien :
Latihan mengontrol perilaku kekerasan dengan obat
a. Evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang
sudah dilatih.
b. Latih pasien minum obat secara teratur dengan prinsip lima benar (benar
nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat, benar waktu
minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan akibat
berhenti minum obat.
c. Susun jadual minum obat secara teratur

Orientasi : “Selamat Pagi pak, sesuai dengan janji saya kemarin hari ini kita
ketemu lagi” “Bagaimana pak, sudah dilakukan latihan tarik napas dalam,
pukul kasur bantal, bicara yang baik serta sholat?, apa yang dirasakan setelah
melakukan latihan secara teratur?. Coba kita lihat cek kegiatannya”.
“Bagaimana kalau sekarang kita bicara dan latihan tentang cara minum obat
yang benar untuk mengontrol rasa marah?” “Dimana enaknya kita berbincang-
bincang? Bagaimana kalau di tempat kemarin?” “Berapa lama bapak mau kita
berbincang-bincang? Bagaimana kalau 15 menit”

Kerja : “Bapak sudah dapat obat dari dokter?” Berapa macam obat yang
Bapak minum? Warnanya apa saja? Bagus! Jam berapa Bapak minum? Bagus!
“Obatnya ada tiga macam pak, yang warnanya oranye namanya CPZ gunanya
agar pikiran tenang, yang putih ini namanya THP agar rileks dan tegang, dan
yang merah jambu ini namanya HLP agar pikiran teratur dan rasa marah
berkurang. Semuanya ini harus bapak minum 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1
sian g, dan jam 7 malam”. “Bila nanti setelah minum obat mulut bapak terasa
kering, untuk membantu mengatasinya bapak bisa mengisap-isap es batu”.
“Bila terasa mata berkunang-kunang, bapak sebaiknya istirahat dan jangan
beraktivitas dulu” “Nanti di rumah sebelum minum obat ini bapak lihat dulu
label di kotak obat apakah benar nama bapak tertulis disitu, berapa dosis yang
harus diminum, jam berapa saja harus diminum. Baca juga apakah nama
obatnya sudah benar? Di sini minta obatnya pada suster kemudian cek lagi
apakah benar obatnya!” “Jangan pernah menghentikan minum obat sebelum
berkonsultasi dengan dokter ya pak, karena dapat terjadi kekambuhan.”
“Sekarang kita masukkan waktu minum obatnya kedalam jadwal ya pak.”
Terminasi : “Bagaimana perasaan bapak setelah kita bercakap-cakap tentang
cara minum obat yang benar?” “Coba bapak sebutkan lagijenis obat yang
Bapak minum! Bagaimana cara minum obat yang benar?” “Nah, sudah berapa
cara mengontrol perasaan marah yang kita pelajari?. Sekarang kita tambahkan
jadual kegiatannya dengan minum obat. Jangan lupa laksanakan semua dengan
teratur ya”. “Baik, Besok kita ketemu kembali untuk melihat sejauhma ana
bapak melaksanakan kegiatan dan sejauhmana dapat mencegah rasa marah.
Sampai jumpa”
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta: EGC

Keliat Budi Ana, Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa, Edisi I, Jakarta : EGC,
1999

Stuart GW, Sundeen. 1998.Principles and Practice of Psykiatric Nursing (5 th


ed.). St.Louis Mosby Year Book

Tim Direktorat Keswa, Standar Asuhan Keperawatan Jiwa, Edisi 1, Bandung,


RSJP Bandung, 2000

Townsend, M.C. 1998. Buku saku Diagnosa Keperawatan pada Keoerawatan


Psikiatri, edisi 3. Jakarta: EGC.

2017. Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Jiwa Dengan Masalah Resiko


Perilaku Kekerasan.
https://samoke2012.files.wordpress.com/2017/03/lpsp-pk-b.pdf. Diakses
pada tanggal 14 Februari 2021.

Siswoto. 2017. Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Masalah Resiko Perilaku


Kekerasan. https://samoke2012.files.wordpress.com/2017/03/lpsp-pk.pdf.
Diakses pada tanggal 14 Februari 2021.

Sulastri. 2021. Laporan Pendahuluan Perilaku Kekerasan. Fakultas Ilmu


Keperawatan Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

Anda mungkin juga menyukai