67% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
6K tayangan23 halaman

Drama Anak

Drama anak adalah drama yang tokohnya anak-anak. Makalah ini membahas pengertian, ciri, unsur pembangun, struktur, contoh, dan manfaat drama anak."
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
67% menganggap dokumen ini bermanfaat (3 suara)
6K tayangan23 halaman

Drama Anak

Drama anak adalah drama yang tokohnya anak-anak. Makalah ini membahas pengertian, ciri, unsur pembangun, struktur, contoh, dan manfaat drama anak."
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

DRAMA ANAK

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kajian Bahasa dan Sastra

Dosen Pengampu: Tyasmiarni Citrawati, S.Pd., M.Pd.

Disusun Oleh Kelompok 8:

1.Rieke Dyah Ramadhani S (210611100123)

2. Atika Musyarrofah (210611100127)

3. Ikhda Aulia Al Adhiba (210611100143)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS TRUNOJOYO MADURA

2022
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan
karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah Kajian Bahasa
dan Sastra Indonesia yang berjudul “Drama Anak”. Dan tidak lupa juga shalawat
serta salam semoga tetap tercurah limpahkan bagi baginda Nabi Muhammad
SAW yang telah membimbing kita ke jalan yang lurus.

Dalam penyusunan makalah ini, kami sadari banyak akan kekurangan baik
dalam penulisan materi maupun isi materi. Semoga dalam makalah ini para
pembaca dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan dan diharapkan kritik yang
membangun dari para pembaca demi penyempurnaan pembuatan makalah agar
lebih baik kedepannya.

Dalam penulisan makalah ini juga kami menyampaikan ucapan


terimakasih kepada ibu Tyasmiarni Citrawati, S. Pd, M. Pd selaku dosen
pengampu mata kuliah Kajian Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah
membimbing dalam penyelesaian makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat
bagi para pembaca.

Bangkalan, 20 Mei 2022

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
DAFTAR ISI...........................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah..............................................................................................4
1.3 Tujuan................................................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Ciri Drama Anak ......................................................................5
2.2 Unsur Pembangun Drama Anak........................................................................6
2.3 Struktur Drama Anak.......................................................................................10
2.4 Perbedaan Drama Anak dan Drama Dewasa...................................................11
2.5. Langkah Membuat Drama Anak.....................................................................12
2.6. Contoh Drama Anak.......................................................................................13
2.7 Manfaat Drama Anak......................................................................................16

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan......................................................................................................20
3.2 Saran.................................................................................................................21

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................22

ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sastra pada dasarnya merupakan ciptaan, sebuah kreasi bukan semata-mata
sebuah imitasi (dalam Luxemburg, 1989: 5). Karya sastra sebagai bentuk dan
hasil sebuah pekerjaan kreatif, pada hakikatnya adalah suatu media yang
mendayagunakan bahasa untuk mengungkapkan tentang kehidupan manusia. Oleh
sebab itu, sebuah karya sastra, pada umumnya, berisi tentang permasalahan yang
melingkupi kehidupan manusia. Kemunculan sastra lahir dilatar belakangi adanya
dorongan dasar manusia untuk mengungkapkan eksistensi dirinya. (dalam Sarjidu,
2004: 2).
Biasanya kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa. Jadi,
yang termasuk dalam kategori Sastra adalah: Novel cerita/cerpen (tertulis/lisan),
syair, pantun, sandiwara/drama, lukisan/kaligrafi. Drama adalah salah satu sastra
yang amat popular hingga sekarang. Bahkan di zaman ini telah terjadi
perkembangan yang sangat pesat di bidang teater. Contohnya sinetron, film layar
lebar, dan pertunjukan – pertunjukan lain yang menggambarkan kehidupan
makhluk hidup.
Selain itu, seni drama juga telah menjadi lahan bisnis yang luar biasa. Dalam
hal ini, penyelanggara ataupun pemeran akan mendapat keuntungan financial serta
menjadi terkenal, tetapi sebelum sampai ke situ seorang penyelenggara atau
pemeran harus menjadi insan yang profesionalitas agar dapat berkembang terus.
Drama anak merupakan sutu bentuk drama yang lakonnya adalah anak-anak.
Karena konteks yang akan kami bahas adalah drama anak maka sebagian dalam
makalah kami akan membahas drama anak tersebut.
Berdasarkan ulasan di atas, maka penyusun membuat makalah ini guna
membantu para pembaca mengerti tentang drama, unsur-unsur drama, dan contoh
drama anak.

3
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Apa yang dimaksud dengan drama anak dan bagaimana ciri drama anak?
1.2.2. Apa saja unsur pembangun dalam drama anak?
1.2.3. Apa saja struktur dari drama anak?
1.2.4. Bagaimana perbedaan drama anak dengan drama dewasa?
1.2.5. Bagaimana langkah dalam membuat drama anak?
1.2.6. Bagaimana contoh drama anak?
1.2.7. Apa manfaat dari drama anak?

1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui definisi pengertian dan ciri drama anak
1.3.2. Untuk mengetahui unsur pembangun drama anak
1.3.3. Untuk mengetahui struktur dari drama anak
1.3.4. Untuk mengetahui perbedaan drama anak dengan drama dewasa
1.3.5. Untuk mengetahui langkah dalam pembuatan drama anak
1.3.6. Untuk mengetahui contoh drama anak
1.3.7. Untuk mengetahui manfaat drama anak

4
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Drama Anak
Kata drama berasal dari bahasa Yunani Draomai yang berarti
berbuat, berlaku, bertindak. Jadi drama bisa berarti perbuatan atau tindakan. Arti
pertama dari Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, actiom (segala yang
terlihat di pentas) yang menimbulkan perhatian, kehebatan (axcting), dan
ketegangan pada para pendengar. Arti kedua, menurut Moulton Drama adalah
hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action). Menurut Ferdinand
Brunetierre, Drama haruslah melahirkan kehendak dengan action. Menurut
Balthazar Vallhagen, Drama adalah kesenian melukiskan sifat dan sifat manusia
dengan gerak. Arti ketiga drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk
dialog yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan
action dihadapan penonton (audience)
Adapun istilah lain drama berasal dari kata drame, sebuah kata
Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-
lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Dalam istilah yang lebih ketat,
sebuah drama adalah lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti
penting – meskipun mungkin berakhir dengan bahagia atau tidak bahagia – tapi
tidak bertujuan mengagungkan tragedi. Bagaimanapun juga, dalam jagat modern,
istilah drama sering diperluas sehingga mencakup semua lakon serius, termasuk
didalamnya tragedi dan lakon absurd. Drama adalah satu bentuk lakon seni yang
bercerita lewat percakapan dan action tokoh-tokohnya. Akan tetapi, percakapan
atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai pengertian action. Meskipun
merupakan satu bentuk kesusastraan, cara penyajian drama berbeda dari bentuk
kekusastraan lainnya. Novel, cerpen dan balada masing-masing menceritakan
kisah yang melibatkan tokoh-tokoh lewat kombinasi antara dialog dan narasi, dan
merupakan karya sastra yang dicetak. Sebuah drama hanya terdiri atas dialog;
mungkin ada semacam penjelasannya, tapi hanya berisi petunjuk pementasan
untuk dijadikan pedoman oleh sutradara. Oleh para ahli, dialog dan tokoh itu
disebut hauptext atau teks utama; petunjuk pementasannya disebut nebentext atau
tek sampingan.

5
Secara umum pengertian drama anak adalah teks yang bersifat dialog
dan isinya membentangkan sebuah alur (Luxemburg, 1984: 158). Dapat juga
dikatakan bahwa drama adalah karya sastra yang bertujuan menggambarkan
kehidupan dengan mengemukakan emosi lewat lakuan dan dialog, lazimnya
dirancang untuk pementasan di panggung, (Sudjiman, 1984: 20). Sedangkan
secara khusus, pengertian drama anak-anak adalah proses lakuan anak sebagai
tokoh. Dalam berperan, mencontoh atau meniru gerak pembicaraan seseorang,
menggunakan atau memanfatkan pengalaman dan pengetahuan tentang karakter
dan situasi dalam suatu lakuan, baik dialog maupun monolog guna menghadirkan
peristiwa dan rangkaian cerita tertentu, (Wood dan Attfield, 1996:144).
2.2. Ciri-Ciri Drama Anak
Pada drama anak-anak tidak jauh beda dengan cerita anak-anak, baik dari
segi bahasanya yang mudah dipahami oleh anak, tema yang berisi tentang
kehidupan sehari-hari seperti petualangan, olahraga dan keluarga, latarnya dikenal
oleh anak, alurnya maju dan tunggal, penokohan dari kalangan anak serta
pesannya yang mengandung moral dan pendidikan tetapi yang membedakan
drama anak dengan yang lainnya adalah dari segi dialog yang sederhana dan
jumlah adegan yang tidak terlalu panjang dan berbelit.
2.3. Unsur Pembangun Drama Anak
Tidak jauh berbeda unsur pembangun karya sastra yang lain (prosa,
puisi) karya sastra drama anak-anak mempunyai dua unsur pembangun, yaitu
unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang secara
langsung berada dalam karya sastra (drama) anak-anak yang merupakan kesatuan
struktur intern sedangkan unsur ekstrinsik adalah segala macam unsur yang
berada di luar karya sastra (drama) anak-anak, unsur ekstrinsik ini dianggap
sebagai bagian dari keseluruhan struktur yang membangun sebuah karya sastra
(drama) anak-anak, jika ia terbukti memberi pengaruh terhadap keseluruhan karya
tersebut.
 Unsur Intrinsik Drama Anak-Anak
Seperti halnya karya prosa, unsur-unsur intrinsik yang membangun karya
drama anak-anak, yaitu tokoh, alur, latar, dan tema.

6
a. Tokoh
Tokoh dalam drama anak-anak selain orang dewasa dan anak-anak biasa
juaga berupa bonek, binatang, tumbuhan, dan benda mati. Namun, tokoh boneka,
binatang, tumbuhan, dan benda mati, sikap dan tingkah lakunya tetap
menggambarkan kehidupan manusia.
Ciri-ciri tokoh drama anak-anak, yaitu memiliki ciri-ciri kebadanan,
misalnya usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, dan kondisi wajah. Ciri-ciri
kejiwaan, misalnya mentalitas, moral, temperamen, kecerdasan, dan kepandaian
dalam bidang tertentu. Sedangkan ciri-ciri kemasyarakatan, misalnya status sosial,
pekerjaan atau peranannya dalam masyarakat, pendidikan, ideologi, kegemaran,
dan kewarganegaraan.
Tokoh utama adalah pelaku yang diutamakan dan biasanya intensitas
kemunculannya lebih sering dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain. Tokoh
tambahan adalah pelaku/tokoh yang kemunculannya lebih sedikit dan tidak begitu
dipentingkan kehadirannya. Penokohan drama anak-anak dapat diciptakan
pengarang dengan cara mengungkapkan gambaran tentang tokoh melalui cakapan
tokoh, penggambaran keadaan tokoh, dan tingkah laku tokoh.
b. Alur
Sebagai mana pada cerita rekaan, alur disebut juga plot, jalan cerita, atau
struktur neratif. Demikian pula alur drama disebut juga struktur drama. Berkaitan
dengan drama anak-anak maka alur drama anak-anak adalah rangkaian peristiwa
yang mempunyai hubungan sebab akibat. Struktur drama anak-anak digolongkan
menjadi lima bagian, yaitu (a) perkenalan, (b) penajakan laku, (c) klimaks, (d)
leraian, dan (e) keputusan (Christopher Rusell Reaske, 1996:29). Alur atau
struktur drama anak-anak pada umumnya mengandung lima bagian rangkaian
peristiwa, yaitu:
1. Perkenalan adalah bagian rangkaian peristiwa dalam drama anak-anak
berisi keterangan mengenai tokoh dan latar. Dalam bagian ini pengarang
memperkenalkan para tokoh, menjelaskan tempat peristiwa, dan gambaran
peristiwa yang akan terjadi.

7
2. Konflik adalah tahapan rangkaian peristiwa dalam drama anak-anak
dengan alam, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan pencipta,
manusia dengan diri sendiri.
3. Klimaks adalah tahapan rangkaian peristiwa dalam drama anak-anak yang
menimbulkan puncak ketegangan. Peristiwa dalam tahapan ini merupakan
pengubah nasib tokoh.
4. Antiklimaks adalah tahapan rangkain peristiwa dalam drama anak-anak
yang menunjukan perkembangan lakuan kearah selesaian. Tahapan ini
kadar pertentangan dan ketegangan mereda.
5. Penyelesaian adalah tahapan rangkaian peristiwa dalam drama anak-anak
yang diakhiri dengan kebahagiaan, kedamaian, ataupun kesedihan.
Ketentuan final dari segala pertentangan yang terjadi terungkapan.
c. Latar
Latar menunjuk pada tempat, yaitu lokasi dimana cerita itu terjadi, waktu,
kapan cerita itu terjadi. Fungsi latar sangat penting yaitu memberikan pijakan
cerita secara konkret dan jelas, menciptakan kesan realitis kepada pembaca atau
penonton, menciptakan suasana yang seakan-akan nyata ada sehingga
mempermudah pembaca atau penonton dalam berimajinasi, dan mendorong
pembaca atau penonton agar berperan kritis terhadap teks drama atau pementasan
yang berkaitan dengan pengetahuan latar. Latar dalam karya sastra anak yang
dikenal adalah latar tempat dan latar waktu.
Latar tempat merujuk pada pengertia tempat dimana cerita yang
dikisahkan itu terjadi. Pengertian tempat luas, bisa dimana saja, seperti di rumah
peyot, gedung sekolah, gedung megah, di ruang kelas, di halaman sekolah, jalan
raya, di kebun, dan lain-lain tergantung dengan tuntutan alur cerita sedangkan
latar waktu dapat dipahami sebagai kapan berlangsungnya berbagai peristiwa
yang dikisahkan dalam cerita fiksi. Dalam banyak kasus masalah waktu lazimnya
dikaitkan dengan waktu kejadian yang ada di dunia nyata, waktu faktual, waktu
yang mempunyai referensi sejarah.
d. Tema
Tema pada drama terdapat keseluruhan teks. Tema menjadi dasar
pengembangan seluruh cerita suatu drama anak-anak. jadi, penentuan tema sebuah

8
drama anak-anak dilakukan berdasarkan keseluruhan teks yang bersangkutan
tidak hanya berdasarkan pada bagian tertentu. Pada umumnya tema dalam teks
drama anak-anak dinyatakan secara eksplisit. Di samping itu tema drama anak-
anak merupakan pikiran utama yang dikaitkan dengan masalah kebenaran dan
kejahatan. Misalnya, perbuatan yang jahat akan dikalahkan oleh perbuatan yang
baik.
 Unsur Ekstrinsik Drama Anak
Adapun unsur ekstrinsik karya sastra, yaitu unsur-unsur yang meliputi
biografi pengarang, aspek psikologi, dan aspek sosiologi.
a) Biografi Pengarang
Seorang pengarang karya sastra, dalam hal ini pengarang sastra anak-anak
perlu menjiwai corak kepribadian anak-anak.
b) Psikologi
Psikologi adalah ilmu yang mempelajari perilaku manusia dan binatang (P.
Hariyanto, 1997/1998: 9.30) Psikologi juga dikatakan ilmu yang berkaitan dengan
proses-proses mental, baik berkenaan dengan proses mental yang normal maupun
yang abnormal dan pengaruhnya pada perilaku atau ilmu pengetahuan tentang
gejala dan berbagai kegiatan jiwa. Pengarang drama anak-anak dalam menulis
hasil karyanya sudah barang tentu menggunakan kaidah-kaidah dari ilmu jiwa
anak-anak atau karakter khusus yang dimiliki oleh binatang tertentu
c) Sosiologi
Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari berbagai struktur  sosial
dan proses-proses sosial (P. Hariyanto, 1997/1998: 9.32). Pengarang menulis
karya drama anak-anak juga dipengaruhi oleh status lapisan masyarakat tempat
asalnya, kondisi ekonomi, dan realitas sosial.
 Kelengkapan Drama
1. Naskah drama : skrip yang dijadikan panduan pemain sebelum
pentas.
2. Penulis naskah : orang yang menulis skenario dan dialog dalam
bentuk jadi naskah drama.
3. Sutradara : orang yang memimpin atau yang mengatur suatu
kelompok drama.

9
4. Pemain : orang yang berperan melakonkan cerita.
5. Lighting : pengatur cahaya dalam pementasan.
6. Tata busana/make up : bagian kelengkapan drama yang bertugas
merias dan memakaian propertis pakaian.
7. Tata suara : pengatur suara untuk memunculkan efek tertentu dalam
pementasan.
8. Tata panggung : kelengkapan drama yang mengatur latar setiap
adegan.
9. Panggung : tempat bagi pemain untuk melakonkan cerita.
2.4. Struktur Drama Anak
Drama terikat pada struktur yang tersusun rapi dan padu. Struktur dalam
drama yaitu prolog, dialog, dan epilog.
1. Prolog
Prolog merupakan bagian awal dari sebuah drama. Prolog biasanya
digunakan untuk menceritakan gambaran drama yang akan dimainkan secara
umum. Prolog dapat dipahami sebagai kata pendahuluan atau kata-kata pembuka
yang memiliki peran sebagai pengantar. Prolog sendiri biasanya berisi penjelasan
gambaran umum tentang tokoh, konflik, latar belakang cerita, atau berbagai hal
yang terjadi dalam drama. Dalam pementasan drama, prolog sering kali
disampaikan oleh narator atau bisa disebut juga dengan dalang, terkadang juga
prolog secara khusus disampaikan oleh tokoh tertentu dalam drama.
2. Dialog
Bagian kedua dari struktur teks drama yaitu dialog. Dialog dapat
didefinisikan sebagai sebuah percakapan atau pembicaraan antara dua orang atau
lebih. Dalam struktur teks drama, dialog menjadi unsur yang memiliki peran yang
sangat penting. Hal itu dikarenakan sebuah pementasan drama dibangun dengan
menggunakan setiap dialog antar tokohnya.
Dalam teks drama, dialog juga dapat menyampaikan gambaran tentang
perasaan dari para tokoh. Hal ini yang menjadikan pementasan drama perlu
diperankan oleh aktor atau aktris yang dapat menjiwai karakter dan perasaan dari
tokoh yang diperankan. Selain itu, aktor dan aktris juga harus mampu

10
mengucapkan dialog dari tokoh yang diperankan, misalnya dengan menggunakan
suara yang sesuai dengan perasaan dan watak dari karakternya.
3. Epilog
Bagian ketiga dari struktur teks drama yaitu epilog. Epilog pada dasarnya
adalah kata penutup dalam sebuah teks drama, yang mana fungsi dari epilog untuk
mengakhiri sebuah pementasan drama. Dalam pementasan drama, epilog biasanya
memuat simpulan atau amanat atau isi pokok dari teks drama. Sama seperti
prolog, epilog umumnya disampaikan oleh narator atau dalang. Namun, bisa jadi
karena kebutuhan pementasan epilog disampaikan oleh tokoh dalam drama
tersebut.
Selain penjelasan tentang bagian di atas, pada bagian dialog dari struktur
teks drama sendiri memiliki tiga bagian, meliputi orientasi, komplikasi, dan
resolusi (denouement). Tiga bagian dialog tersebut kemudian dibagi lagi dalam
beberapa babak dan adegan tertentu. Satu babak dalam sebuah teks drama
biasanya mengandung cerita tentang sebuah peristiwa besar dalam dialog. Hal itu
dapat dilihat dengan munculnya beberapa perubahan atau perkembangan dari
peristiwa yang dialami oleh tokoh utama. Sedangkan, adegan dalam sebuah teks
drama hanya mencakup satu pilihan-pilihan dialog dari setiap tokoh.
2.5. Perbedaan Drama Anak Dan Drama Dewasa
Drama anak-anak adalah drama yang diperankan oleh anak untuk penonton
anak-anak pula. Menurut Padmodarmaya, drama anak-anak dibagi menjadi tiga
yakni 1). Dramatisasi kreatif, bermanfaat untuk memperbaiki sifat-sifat anak yang
kurang baik, misalnya pemalu, penakut, pembohong, dan sebagainya. 2). Drama
anak-anak, dan 3). Drama rekreasi oleh anak-anak drama ini tidak
mempersyaratkan seperti halnya drama anak-anak, melainkan lebih dititikberatkan
pada pengembangan pengalaman bagi si pemain, yakni anak-anak.
Sedangkan drama dewasa berisi kehidupannya yang rumit dengan menggunakan
bahasa-bahasa yang lebih kompleks.perbedaan drama anak lebih menceritakan
tentang cerita lucu penuh humor. Sedangkan pada drama dewasa lebih banyak
menceritakan tentang cerita percintaan, kesenjangan sosial atau masalah-masalah
yang rumit lainnya.

11
Drama anak juga memunculkan konflik yang sederhana. Sebaliknya pada
drama dewasa sering memunculkan konflik dari yang biasa menjadi paling rumit.
2.6. Langkah Membuat Drama Anak
Untuk membuat naskah drama sendiri kita bisa menjalani beberapa
langkah, antara lain :
1. Menentukan Tema Cerita.
Tema cerita atau ide cerita dapat kita ambil dari pengalaman
pribadi maupun pengalaman orang lain. Kita bisa melakukan pengamatan
tentang kehidupan masyarakat di sekitar kita untuk memperoleh ide
cerita.
Pengamatan atau observasi ini dapat dilakukan secara langsung
maupun tidak langsung. Pengamatan langsung dilakukan dengan langsung
mendatangi suatu peristiwa. Pengamatan tidak langsung dilakukan dengan
mencari informasi mengenai suatu peristiwa dari majalah, koran atau
berita televisi.
2. Menentukan Tokoh dan Karakternya.
Setelah tema atau ide cerita diperoleh, langkah berikutnya adalah
menentukan tokoh cerita. Tokoh cerita adalah tokoh yang mengalami
konflik dalam tema yang telah kita peroleh. Tokoh cerita dilengkapi
dengan informasi yang lengkap dari segi fisiologis, sosiologis maupun
psikologis. Di samping keadaan fisik, usia, serta mata pencaharian, perlu
ditentukan juga karakter atau sifat-sifat tokoh tersebut.
3. Menentukan Plot/ Alur Cerita.
Setelah semua tokoh dalam cerita telah ditetapkan, kita bisa
menentukan alur cerita dari tahap eksposisi, tahap komplikasi, tahap
klimaks, tahap penyelesaian, sampai tahap keputusan.
4. Mengembangkan Dialog.
Setelah alur selesai dibuat, dialog dikembangkan dari masing-
masing tokoh yang mengalami konflik. Percakapan dalam naskah dapat
dibuat bervariasi antara bentuk monolog maupun dialog.
5. Melengkapi Naskah dengan Petunjuk Teknis dan Kelengkapan lain.

12
Naskah yang sudah siap kemudian bisa dilengkapi dengan teks
samping yang menjadi petunjuk teknis diterapkannya naskah ke dalam
pementasan teater. Petunjuk teknis ini akan membantu pemain dalam
menafsirkan situasi atau lakon yang ingin ditampilkan
2.7. Contoh Drama Anak
“KIKAN TIDAK BISA TIDUR”
Oleh : Ari Sri Utami
Di sebuah pohon besar, hiduplah satu keluarga kumbang.
Ibu : “Sudah malam, tidurlah Kikan…”
Kikan : ( SAMBIL MENGUAP KIKAN MENJAWAB ) “Iya Bu……”
Ayah : “Iya Kikan kamu harus tidur, ini sudah larut….”
Kikan : “Tapi ayah aku takut, di luar sana banyak sekali suara – suara
aneh.”(SAMBIL MENUTUP TELINGANYA )
Sementara itu, kodok di luar bernyanyi saling bersahutan membuat Kikan
semakin ketakutan.
Kikan : “Ibuuu….peluk aku yang erat, aku takut dimakan monster
mengerikanitu.”
Ibu : “Iya….tapi kamu harus tidur ya….” ( BUJUK IBU )
Sedikit demi sedikit, akhirnya Kikan pun bisa tertidur dalam pelukan ibunya,
dengan erat Kikan memeluk ibunya walaupun sudah tertidur lelap. Matahari
pun terbit tatkala Kikan membuka matanya dan tanpa disadarinya ibunya
sudah lepas dari pelukannya. Dan sudah tidak ada.
Kikan : “Ibu……ibu dimana?Kikan takut.”
Ibu : ( IBU LARI MENGHAMPIRI KIKAN ) ”Ada apa Kikan?”
Kikan : “Ibu kok pergi, aku kan takut….!”
Ibu : “Kamu itu penakut….kan sudah pagi…..!”
Kikan : “Oooh…Sudah pagi ya….Asyik, aku bisa terbang dan bermain
lagi…..”
Ibu : “Tapi mandi dulu sebelum bermain.”
Kikan terbang ke danau untuk mandi bersama kakaknya dengan riangnya.
Tertawa terbang kesana dan kemari.
Kakak : “Kan, ayo pulang, aku sudah lapar nih….”

13
Kikan : “Ayo….Ibu punya makanan apa ya Kak?”
Kakak : “Pasti persediaan makanan ibu enak.”
Mereka pun tidak sabar ingin pulang karena perut mereka sudah protes.
Sesampai di rumnah, mereka pun langsung makan dengan lahapnya. Setelah
makan, kakak beradik itu istirahat di dahan sambil menikmati udara yang
sejuk. Saat itu ibu mendatangi mereka dan berkata…
Ibu : “Kikan, Ibu nanti sore mau pergi ke hutan seberang karena ada acara.
Kamu di rumah saja ya sama kakakmu . Ibu menginap , besok pagi baru
pulang.”
Kikan : “Lho Bu, aku kok tidak diajak?”
Ibu : “Tidak Kikan, itu acara serangga dewasa. Jadi kamu tidak boleh
ikut.”(BUJUK IBU )
Kakak : “Iya, Kan. Di rumah sama aku saja.”
Kikan : “Tidak, aku takut, nanti malam aku tidur sama siapa?” (RENGEK
KIKAN )
Ibu : “Kan ada kakakmu, Kikan…!”
Ayah : “Kamu harus terbiasa tidur sendiri Kikan. Sampai kapan kamu akan
tidur dengan ayah dan ibu nak….”
Kikan : “Iya deh……Tidak apa-apa, tapi benar ya hanya malan ini !”
Ibu : “Iya sayang…..malam ini saja. Kamu pasti bisa tidur…..”
Sore itu ibu dan ayah Kikan pergi ke hutan seberang . Tinggallah Kikan dan
kakaknya berdua di rumah. Malam pun tiba dan perasaan ketakutan merasuk
dalam diri Kikan. Di sudut sana sudah terlihat kakaknya tertidur dengan
lelapnya.
Kikan : “Gerrr……( SAMBIL BERSENDEKAP ) Kakak sudah tidur, lalu
aku bagaimana….?”
Terdengar suara angin huf…huf…huf…
Kikan : “Suara apa itu? Itu pasti binatang raksasa yang mencari mangsa, aku
takut….”
Krik….krik….krik….krik….Suara jangkrik yang terdengar merdu.

14
Kikan : “Itu suara apa lagi….menyeramkan. Jangan-jangan itu adalah hantu
rawa yang akan memakanku. (SAMBIL MENUTUP MUKA DAN
TELINGA DENGAN SAYAPNYA )
Kemudian disusul lagi suara kodok yang saling bersahutan
Wok….wok….wok….membuat Kikan semakin ketakutan untuk menutup
mata.
Kikan : “Aduh, Bagaimana ini, banyak sekali monsternya.”
Sampai matahari terbit dari timur, Si Kikan tidak dapat tertidur karena
ketakutan akan suara-suara yang aneh. Kakaknya pun terbangun dari
lelapnya.
Kakak : “Lho, Kan, kamu sudah bangun?”
Kikan : “Bangun…..!Aku tuh tidak tidur semalam Kak.”
Belum sempat kakaknya bertanya, ibu sudah berdiri di depan kikan dan
kakaknya.
Ibu : “Selamat pagi anak-anakku….Bagaimana tudurnya, nyenyak?”
Kakak : “Iya Bu…”
Ibu : “Lho Kikan, kenapa matamu sembab dan merah?”
Kakak : “Kikan tidak dapat tidur Bu….”
Ibu : “Lho kenapa…saying?”
Kikan : “Aku takut banyak suara monster tadi malam. Aku takut Bu…
(SAMBIL MENGUSAP MATANYA)
Ibu : “Baiklah, sekarang kamu tidur saja, Ibu temani.”
Kikan : “He..em..”
Kikan pun tertidur pulas karena capek dan kurang tidur. Malam pun tiba
kembali.Ibu Kikan mengajak Kikan keliling rawa dan hutan untuk
menjelaskan asal suara yang ditakuti oleh Kikan.
Kikan : “Ibu, kita mau kemana?Aku takut”
Ibu : “Jangan takut….Lihat, itu adalah Pak Angin, bukan raksasa.”
Kikan : “Jadi itu bukan binatang raksasa ya Bu…?”
Terdengar lagi suara Krik….krik….krik….
Kikan : “ Itu lagi Bu…Itu pasti benar- benar hantu rawa. Tadi malam aku
tidak bias tidur gara-gara suara itu Bu.”

15
Ibu : “Kita lihat dari dekat ya…”
Kikan : “Tidak…..aku takut!!”
Ibu : “Tidak apa-apa. Lihatlah itu Pak Jangkrik yang bermain-main dengan
keluarganya.”
Kikan : “Oooooh….lucu ya…!”
Ibu : ( SAMBIL MENUNJUK PAK KODOK ) Nah, kalau itu Pak Kodok
dengan teman-teman yang sedang bernyanyi.”
Kikan : “Wah….ternyata suara- suara itu dari hewan kecil yang lucu- lucu ya
Bu…”
Ibu : “Makanya, kamu jangan takut. Nah, mulai hari ini kamu tidur sendiri
ya!”( BUJUK IBU )
Kikan : “Iya deh, aku tidak akan takut lagi.”
Ibu dan Kikan pulang ke rumah dan malam ini pun Kikan tidur sendiri tanpa
ditemani ayah dan ibunya. Malam ini Kikan tidur nyenyak sekali dan
keesokan harinya….
Ayah : ( SAMBIL MEMBANGUNKAN KIKAN ) Bangun Kikan”
Kikan : “Oh Ayah…pagi Ayah!”
Ayah : “Bagaimana tidurmu semalam?”
Kikan : “Nyenyak sekali, Yah!!”
Ibu dating sambil membawa madu.
Ibu : “Yah jelas nyenyak, Kikan ditemani suara – suara merdu sih!!!” nah
sekarang kita makan madu ini ya…!!
Ibu : “Nah untuk selanjutnya kamu tidur sendiri ya….”
Kikan : “OK…deh!!”
THE END
2.8. Manfaat Drama Anak
Menurut Wahyu Prasetyo (2009), terdapat beberapa nilai kehidupan yang
dapat diambil dari bermain drama, yakni sebagai berikut :
Pertama, para siswa mulai mengenal talenta mereka sendiri dan
bisa memposisikan diri mereka masing-masing dalam proses
penyelenggaraan pentas drama itu. Bahkan mereka juga dengan jujur
maumengakui kemampuan teman lain. Ada yang bakat dan mampu menjadi

16
seorang pemimpin sehingga dia dipercaya oleh teman-teman di kelassebagai
ketua pelaksana pertunjukan yang mengatur semua proses persiapan sampai
pelaksanaan secara detail. Bahkan ada juga yang dipercaya menjadi sutradara
drama karena dirasa dia mampu mengarahkan teman-temannya dalam
bermain peran.Ada siswa yang memiliki talenta khusus seperti musik,
menulis,atau membaca novel maka dipercaya oleh teman-temannya untuk
menjadi peñata musik, penulis dialog dan skenario. Bahkan mereka pun mulai
mempertimbangkan teman-teman yang cocok sebagai pemain drama, baik
pemain inti maupun figuran. Selain itu, siswa yang biasa-biasa saja dan
merasa tidak memiliki talenta khusus untuk pementasan itu dengansendirinya
menawarkan diri sebagai panitia kelas, seperti seksi konsumsi,dekorasi,
perlengkapan, dan masih banyak lagi.
Kedua, para siswa mulai belajar tentang tanggung jawab dalam hidup
bersama. Jika tanggung jawab itu tidak dilaksanakan maka tidak hanya
berimbas pada dirinya sendiri tetapi akan menyebabkan orang lain juga
dihadapkan pada masalah. Sebagai contoh, ketika ada anak yang menjadi
penulis naskah drama tidak melakukan tugasnya dengan baik maka ini bisa
mengacaukan proses latihan yang sudah dijadwalkan. Lebih dari itu, bisa-bisa
pentas drama batal dilakukan.Dengan demikian anak-anak belajar untuk
melakukan tanggung jawabnya dengan disiplin dan cara yang efektif. Sebuah
pelajaran tentang kehidupan mulai dibangun melalui dinamika pentas drama
ini, yakni tentang bagaimana mereka harus menempatkan diri dan berlaku
dalam sebuah komunitas kerja yang melibatkan banyak orang.
Ketiga, para siswa pun mulai belajar akan arti sebuah perjuangan.
Mereka mulai merasakan secara nyata bahwa kesuksesan itu bukanlah sebuah
berkah yang turun begitu saja dari langit. Kesuksesan itu membutuhkan
perjuangan. Di dalam perjuangan itu, kebersamaan dan persaudaraan satu
sama lain menjadikan semuanya berjalan mengalir karena di sana ada
dukungan satu sama lain.
Keempat, para siswa belajar tentang pentingnya kreativitas dan
inovasi dalam hidup karena hidup itu sesungguhnya sebuah seni. Hal ini
tampak nyata dalam desain pementasan drama mereka yang merupakan buah

17
kreativitas dan inovasi. Usaha keras yang mereka lakukan untuk membuat
drama itu menarik patut diacungi jempol. Sebuah kesadaran telah dibangun
dalam kelompok bahwa mereka pentas bukan hanya untuk diri sendiri.
Selain itu juga manfaat drama bagi siswa adalah sebagai berikut :
1. Membantu siswa terampil berbahasa
Lewat pembelajaran drama siswa akan sekaligus berlatih terampil
membaca, menyimak, berbicara, dan menulis. Belajar bermain drama tidak
bisa tidak akan mengaktifkan keterampilan membaca para siswa, yakni
dengan berulang kali membaca teks drama sebelum tampil. Dalam
membaca teks drama (atau mendengarkan drama radio yang diputar lewat
pita rekaman, atau teks drama yang dibacakan oleh guru, atau teman), itu
artinya juga mengaktifkan keterampilan membaca, menyimak, dan
berbicara. Apalagi jika pementasan sudah dimulai, berbicara dan
menyimak merupakan faktor penting. Ketika anak bermain peran, selain
ada naskah juga mencoba mengimprovisasi kata-kata itu sendiri. Hal itu
dapat memperluas dan memperbanyak kosakata baru. Kemudian selain
menambah kemampuan berbahasa anak dengan anak sering mengulang
kata-kata hal itu dapat menambah rasa kepercayaan diri anak. dan
mengekspresi diri. Dan karenna pertunjukkan drama itu menarik, siswa
dapat mendiskusikannya dan kemudian menuliskan hasil diskusinya
sebagai bahan latihan keterampilan menulis.
2. Menunjang pembentukan watak
Perilaku seseorang lebih banyak ditentukan oleh faktor-faktor
pribadinya yang paling dalam. Tidak ada satu pun jenis pendidikan yang
mampu menentukan watak manusia. Pendidikan hanya dapat berusaha
membina dan membentuk, tetapi tidak dapat menjamin secara mutlak
bagaimana watak manusia yang dididiknya. Meskipun demikian,
sehubungan dengan pembentukan watak ini, ada dua hal yang dapat
dipetik dari pembelajaran sastra (termasuk juga drama), yaitu: mampu
membina perasaan dengan lebih tajam, dan membantu pengembangan
berbagai kualitas kepribadian.
3. Mengembangkan cipta dan rasa

18
Kepekaan rasa dan emosi juga terkait dengan pembelajaran drama.
Sehubungan dengan rasa ini, pembelajaran drama dapat menghadirkan
berbagai problem atau situasi yang merangsang tanggapan perasaan.
Situasi dan problem itu oleh penulis lakon drama diungkapkan dengan
cara-cara yang memungkinkan penonton tergerak untuk menjelajahi dan
mengembangkan perasaan kita sesuai dengan kodrat kemanusiaan kita.
Sedangkan dengan pementasan drama, akan diperoleh beberapa
manfaat sebagai berikut :
a) Membangun rasa percaya diri. Mereka merasa lebih berhasil dalam
hidup dan bergembira dalam waktu yang bersamaan.
b) Menciptakan hubungan yang lebih akrab dengan sesama teman-
teman.
c) Belajar mengendalikan diri dalam menghadapi perbedaan,misalnya
tentang penentuan tema yang akan disampaikan kepada penonton.
d) Memiliki daya kreatif dan kritis dalam memecahkan masalah yang
dihadapi.
e) Memiliki mental yang kuat dalam menghadapi hidup.
f) Merasa senang ketika belajar.
g) Memiliki sikap toleransi dan bersemangat, untuk tena berjuang
melalui pengungkapan ide cerita dalam drama.
h) Mengubah perilaku seni yang sebelumnya hanya sebagai
penikmatatau penonton, sekarang jadi pelaku langsung. Hal ini
memunculkan kepuasan tersendiri
i) Meningkatkan kecerdasan berpikir dalam menuangkan idekreatifnya

19
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Drama anak adalah proses lakuan anak sebagai tokoh. Dalam berperan,
mencontoh atau meniru gerak pembicaraan seseorang, menggunakan atau
memanfatkan pengalaman dan pengetahuan tentang karakter dan situasi dalam
suatu lakuan, baik dialog maupun monolog guna menghadirkan peristiwa dan
rangkaian cerita tertentu. Drama anak dibedakan dari segi dialog yang sederhana
dan jumlah adegan yang tidak terlalu panjang dan berbelit, serta pada drama anak
memiliki unsur pembangun yang terdiri dari unsur instrinsik (tokoh, alur, latar dan
tema) dan unsur ekstrinsik (biografi pengarang, aspek psikologi dan aspek
sosiologi). Pada struktur drama anak pula terdapat prolog. dialog, dan epilog.
Yang membedakan drama anak dengan drama dewasa yaitu drama dewasa berisi
kehidupannya yang rumit dengan menggunakan bahasa-bahasa yang lebih
kompleks sedangkan drama anak lebih menceritakan tentang cerita lucu penuh
humor dengan bahasa dan konflik yang sederhana dan sebaliknya pada drama
dewasa sering memunculkan konflik dari yang biasa menjadi paling rumit.
Langkah dalam membuat drama anak yaitu dengan menentukan tema
cerita kemudian tokoh dan karakternya setelah itu menentukan alur cerita
selanjutnya mengembangkan dialog dan yang terakhir melengkapi naskah dengan
petunjuk teknis dan kelengkapan lain. Adanya drama anak juga menimbulkan
beberapa manfaat yang diantaranya para siswa mulai mengenal talenta mereka
sendiri dan bisa memposisikan diri mereka masing-masing dalam proses
penyelenggaraan pentas drama itu, para siswa mulai belajar tentang tanggung
jawab dalam hidup bersama, para siswa pun mulai belajar akan arti sebuah
perjuangan, para siswa belajar tentang pentingnya kreativitas dan inovasi dalam
hidup karena hidup itu sesungguhnya sebuah seni, membantu siswa terampil
berbahasa, Menunjang pembentukan watak, dan Mengembangkan cipta dan rasa.

20
3.2. Saran
Dengan adanya pembuatan makalah ini diharapkan kita lebih
memperhatikan pentingnya pembelajaran yang membahas tentang drama anak.
Saran kami sebaiknya pembaca bisa lebih memperhatikan dan memperluas
wawasan mengenai drama anak agar kita dapat mengajarkan drama kepada siswa
yang dapat melestarikan budaya yang sudah ada di Indonesia agar tidak hilang
dari tanah air.

21
DAFTAR PUSTAKA

Rahmanto, B & Hariyanto, P. ( 1997 ). Cerita Rekaan Dan Drama


.Jakarta: Universitas Terbuka

 Hj. Dra . Yusi Rosdiana, M.Pd., Dkk. ( 2007 ). Bahasa Dan Sastra
Indonesia Di SD. Jakarta: Universitas Terbuka.

Nurgiyantoro, Burhan. (2005). Sastra Anak “Pengantar Pemahaman


Dunia Anak”. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Nabila Atika Putri, dkk. (2020). Ruang Lingkup Drama, 72-73.

Susanna Mulyani, dkk. (2010). Pengajaran Drama. Institut Keguruan dan


Ilmu Pendidikan Madiun, 9-11.

22

Anda mungkin juga menyukai