0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan24 halaman

Makalah Puisi Anak

Puisi adalah karya sastra yang memperhatikan pemilihan bahasa untuk menciptakan keindahan. Unsur-unsur puisi meliputi tema, nada dan suasana, perasaan, serta pesan moral. Puisi anak ditulis dari sudut pandang anak dan menggunakan bahasa sesuai tingkat pemahaman anak.

Diunggah oleh

Makhrus Islamuddin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan24 halaman

Makalah Puisi Anak

Puisi adalah karya sastra yang memperhatikan pemilihan bahasa untuk menciptakan keindahan. Unsur-unsur puisi meliputi tema, nada dan suasana, perasaan, serta pesan moral. Puisi anak ditulis dari sudut pandang anak dan menggunakan bahasa sesuai tingkat pemahaman anak.

Diunggah oleh

Makhrus Islamuddin
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PUISI ANAK

Makalah
Diajukan sebagai Salah Satu Tugas Mata Kuliah Sastra Anak pada Prodi Pendidikan
Guru Madrasah Ibtidaiyah

Disusun Oleh:

Kelompok Ⅺ

Suaip 20800121026
Putri Sakila Ali Wardani 20800121012
Nurul Aldina Murling 20800121036

FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN


UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2022
ii

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam yang memberikan penerangan
dan petunjuk kepada manusia. Dialah zat yang telah memberikan banyak kenikmatan
yang masih kita rasakan sampai saat ini. Shalawat serta salam selalu tercurah kepada
junjungan dan tauladan kita semua, Rasulullah SAW, juga kepada keluarganya, para
sahabatnya, dan pengikutnya. Karena jasa-jasa beliaulah kita dapat mengenal dan
merasakan indahnya Islam.

Kenikmatan yang kami rasakan tidak lantas membuat kami berleha-leha dan
bermalas-malas. Kami mencoba untuk membuat dan menyelesaikan makalah ini
dengan sebaik-baiknya. Makalah Sastra Anak dengan judul “puisi anak”.

Makalah ini dimaksudkan untuk memberikan wawasan dan pengetahuan


tentang puisi anak. Makalah ini tidak lepas dari kekurangan karena manusia bukanlah
makhluk yang sempurna. Tetapi kami berusaha untuk membagi ilmu dan wawasan
yang telah kami rangkum dalam makalah ini. Semogah makalah ini bisa bermanfaat
dan menjadi rujukan dalam memproleh ilmu pengetahuan.

Samata, September 2022

Penulis

II
DAFTAR PUSTAKA

KATA PENGANTAR...........................................................................................................

DAFTAR ISI.........................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN...............................................................................................

A. Latar Belakang..............................................................................................
B. Rumusan Masalah.........................................................................................
C. Tujuan atau Manfaat Penulisan....................................................................

BAB II PEMBAHASAN................................................................................................

A. Pengertian Puisi...........................................................................................
B. Unsur-unsur puisi.........................................................................................
C. kriteria puisi anak-anak..............................................................................

BAB III PENUTUP........................................................................................................

A. Kesimpulan.................................................................................................
B. Saran...........................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................
BAB Ⅰ

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembelajaran sastra merupakan bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia. Pada


hakikatnya mempelajari sastra sama dengan mempelajari bahasa karena yang
dipelajari dalam sastra adalah bahasa. Emzir (2015:278),mengatakan bahwa tujuan
pembelajaran sastra di sekolah terdiri dari tiga tujuan khusus yaitu: (1) Menggunakan
bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan
emosional dan sosial; (2) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk
memperluas wawasan, memperluas budi pekerti serta meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan berbahasa; (3) Menghargai dan bangga terhadap sastra Indonesia sebagai
khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

Salah satu jenis karya sastra yang diajarkan di sekolah mulai jenjang
pendidikan dasar sampai Sekolah Lanjutan Atas adalah puisi. Puisi adalah jenis karya
sastra yang memiliki nilai estetika yang sangat tinggi. Keindahan bahasanya terparti
dalam setiap larik dan bait puisi membentuk sebuah irama yang memikat. Puisi
merupakan sebuah karya tulis yang tidak lekang dimakan waktu. Sejarah sastra telah
membuktikan bahwa usia puisi di Indonesia sudah tua, namun puisi senantiasa berada
pada hati masyarakat Indonesia karena keistimewaannya. Oleh karena itu
produktivitas karya sastra puisi harus lebih meningkat dan lebih berkualitas.

Penciptaan karya sastra memiliki manfaat baik bagi penulis maupun


pembacanya. Puisi memiliki banyak manfaat, yaitu untuk menghibur, memberi

4
semangat dan sebagai media komunikasi antara sastrawan dengan pembacanya atau
pendengarnya. Melalui puisi, sastrawan dapat menyampaikan pesan-pesan dan
perasaaan yang terdapat dalam pikirannya, baik pesan-pesan yang bersifat religius,
sosial, cinta, moral, pendidikan dan sebagainya. Tarigan (1986:4).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang maka dirumuskan


1. Apa yang dimaksud puisi?
2. Apa saja unsur-unsur puisi?
3. Apa saja kriteria puisi anak-anak?

C. Tujuan dan Manfaat

Berdasarkan rumusan masalah di atas maka tujuan masalah ini yaitu


1. Untuk mengetahui apa yang dimaksud puisi.
2. Untuk mengetahui apa saja unsur-unsur puisi.
3. Untuk mengetahui apa saja kriteria puisi anak-anak.

5
BAB Ⅱ

PEMBAHASAN

A. Pengertian Puisi

Puisi adalah sebuah genre sastra yang amat memperhatikan pemilihan aspek
kebahasaan sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa Bahasa puisi adalah Bahasa
yang “tersaring” penggunaannya. Artinya, pemilihan Bahasa itu terutama aspek diksi
telah melewati seleksi ketat, dipertimbangkan dari berbagai sisik baik yang
menyangkut unsur bunyi, bentuk, dan makna yang kesemuanya harus memenuhi
persyaratan untuk memperoleh efek keindahan. Unsur kebahasaan itu sendiri
merupakan unsur bentuk, maka unsur bentuk dalam puisi menentukan keberhasilan
sebuah puisi yang bersangkutan untuk menjadi puisi yang bernilai literer. Dengan
kata lain, keberhasilan sebuah puisi tergantung dari keberhasilan pemilihan kata dan
susunan kata itu menjadi larik-larik puisi (Nurgiyantoro,2005:312).

Kata puisi berasal dari bahasa Yunani poiesis yang berarti penciptaan. Akan
tetapi arti semula ini semakin dipersempit ruang lingkupnya menjadi “hasil seni
sastra”, yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat yang tertentu dengan
menggunakan irama, sajak, dan kadang-kadang kata-kata kiasan (Ensiklopedi
Indonesia N-Z; dalam Guntur, 1985:4).

Bahasa dalam puisi lebih didayagunakan sehingga mampu memberikan efek


lebih dibandingkan dengan bahasa bukan puisi: lebih menyentuh, mempesona,
merangsang, menyaran, membangkitkan imaji dan suasana tertentu, membangkitkan
analogi terhadap berbagai hal, dan lain-lain. Itu semua dapat terjadi karena puisi lebih
banyak mendayakan pengekspresian lewat berbagai ungkapan kebahasaan seperti
berbagai bentuk pemajasan, terutama metafora dan simile, pencitraan, dan
“permainan” bentuk-bentuk kebahasaan yang lain. Pengekspresian gagasan yang

6
7

diungkapkan lewat berbagai bentuk pemajasan tersebut menyebabkan makna puisi


menjadi lebih luas, “tidak terhingga”, atau paling tidak dari sebuah puisi dapat
ditafsirkan banyak makna. Pendayaan ekspresi ide-ide lewat berbagai bentuk metafori
itu pada hakikatnya juga berarti memberikan peluang kepada pembaca untuk
menafsirkan makna lebih dari sekadar apa yang tersurat.

Puisi anak juga memiliki karakteristik yang identik dengan sastra anak:
pengungkapan sesuatu dari kacamata anak. Sebagaimana halnya dengan puisi
dewasa, puisi anak juga ditulis dengan seleksi kata yang ketat, pendayaan metafora
dan citraan untuk menggambarkan imajinasi, memori, dan emosi (Mitchell,
2003:142). Namun, seleksi Bahasa dan pendayaan berbagai ungkapan, citraan, serta
berbagai penggambaran itu masih sebatas daya jangkau anak. Baik puisi dewasa
maupun anak juga sama-sama berbicara tentang kehidupan, namun berbeda dalam hal
melihat dan menanggapi kehidupan itu karena memang berbeda sudut pandangnya.
Dalam puisi anak aspek emosi selalu sejalan dengan cerapan indera (Huck dkk,
1987:395). Artinya, berbagai luapan emosi anak dipengaruh ioleh tanggapan
inderanya terhadap sesuatu yang ada di sekeliling karena daya jangkau imajinasi anak
masih terbatas. Namun, puisi anak pun dapat dipakai untuk menyampaikan cerita.

B. Unsur-Unsur Puisi

Menurut Ricahrds (Tarigan, 1985: 9), seorang kritikus sastra, menunjukkan


kepada kita bahwa puisi mengandung suatu makna keseluruhan yang merupakan
perpaduan dari tema penyair, perasaan, nada, dan amanat. Senada dengan pendapat
tersebut waluyo (2002” 17), dalam bukunya Apresiasi Puisi Adapun “hal yang
diungkapkan oleh penyair melalui puisinya mencakup tema, nada dan suasana,
perasaan, dan amanat dari puisi.
8

Untuk mengungkapkan keempat aspek di atas, penyair menggunakan bahasa


sebagai alat penyampaiannya. Waluyo (2002: 2-13) merincikan bahwa, ciri-ciri puisi
dari segi kebahasaan atau bentuk adalah pemadatan bahasa, pemilihan (makna
kias,lambang, persamaan bunyi atau rima), kata konkret, pengimajian, irama, dan tata
wajah.

Dengan demikian, untuk bisa membaca puisi dan menyelami maknanya,


diperlukan keterlibatan lahir dan batin. Artinya perasaan kita harus ikut terlibat; sedih
gembira, terharu, kagum, dan sebagainya. Penyair adalah orang yang memiliki
kepekaan batin yang tinggi. Dengan kepekaan yang tinggi itu, penyair mampu
merasakan gejala dunia yang tidak dapat dirasakan orang biasa, mampu menyatakan
apa yangn dipikirkannya dan berani memberikan kritik untuk hal-hal yang tidak
sesuai dengan kaidah-kaidah kemanusiaan (Waluyo: 2002: 42).

Untuk itu, kita sebagai penikmat sastra, khususnya puisi perlu mengetahui dan
memahami unsur-unsur intrinsik puisi tersebut yang sebagai berikut:

1. Tema Puisi

Tema merupakan ide pokok yang menjiwai keseluruhan isi puisi yang
menceritakan persoalan kehidupan manusia, alam sekitar, alam metafisis, yang
diangkat penyair dari objek seninya. Tema yang banyak terdapat dalam puisi adalah
tema ketuhanan (religius), tema kemanusian, cinta, patriotisme, perjuangan,
kegagalan hidup, alam, keadilan, kritik sosial, demokrasi, dan kesetiaan.

Menurut Mitchell (2003:161), tema-tema yang banyak ditemukan pada puisi


anak adalah masalah keluarga, persahabatan, liburan, rumah, dan tempat-tempat lain
yang menyentuh dalam kehidupannya. Berdasarkan pengamatan sekilas, kandungan
yang ada dalam puisi anak antara lain berkaitan dengan orang tua, guru, teman
9

sepermainan, binatang kesayangan, lingkungan alam, empati terhadap sesama yang


menderita, religiusitas dan lain sebagainya.

2. Amanat

Di dalam isi puisi yang disajikan, penyair dalam teks puisinya tersirat atau pun
tersurat pesan, ide, atau gagasan yang ingin disampaikan atau dikomunikasikan
penyair pada pembaca. Sebuah pesan yang mengandung pemecahan persoalan yang
ingin disampaikan penyair pada pembaca tersebut pada dikenal sebagi amanat puisi.

Amanat, pesan atu nasihat merupakan kesan yang ditangkap pembaca setelah
membaca puisi. Amanat dirumuskan sendiri oleh pembaca. Sebab itu, sikap dan
pengalaman pembaca sangat berpengaruh kepada amanat puisi. Cara menyimpulkan
amanat puisi sangat berkaitan dengnan cara pandang pembaca terhadap suatu hal.
Meskipun demikian, amanat tidak dapat lepas dari tema dan isi puisi yang
dikemukakan penyair (Waluyo, 2002: 40).

Puisi “dari seorang guru kepada murid-muridnya” Karya Hartoyo Andangjaya


menampilkan kemiskinan hidup seorang guru. Tema puisi adalah kritik sosial
terhadap pemerintah yang tidak memperhatikan nasib guru.

3. Nada dan Suasana Puisi

Di samping tema, puisi juga mengungkapkan nada dan suasana kejiwaan.


Nada mengungkapkan sikap penyair terhadap pembaca. Dari sikap itu terciptalah
suasana puisi. Ada puisi yang bernada sinis, protes, menggurui, belas kasih, main-
main, serius, patriotik, takut, santai, dan lain sebaginya. Nada kagum misalnya
terdapat dalam puisi “Pahlawan Tak Dikenal” (Toto Sudarto Bachtiar), “Perempuan-
Perempuan Perkasa” (Hartoyo Andangjaya) dan “Diponegoro” (Chairil Anwar).
10

4. Rasa dalam Puisi

Membaca puisi dengan suara keras akan lebih membantu kita menemukan perasaan
penyair yanng melatarbelakangi terciptanya puisi tersebut.

Perasaan yang menjiwai puisi bisa perasaan gembira, sedih, terharu, terasing,
cemburu, takut, kesepian, dan menyesal. Perasan sedih yang mendalam diungkapkan
oleh Chairil Anwar dalam “senja di Pelabuhan Kecil”, “Anakku” oleh Agnes Sri
Hartini, dan “Orang-orang Rangkas Bitung” oleh rendra. Rasa gembira dapat terlihat
jika kita membaca atau menyanyikan puisi berikut.

5. Citraan (Pengimajian)

Lewat proses kreatif penciptaan puisi, seharusnya penyair ingin agar


pengalaman batinnya dapat ditangkap dihayati oleh pembaca. Untuk maksud itu
penyair menggunakan daya pencitraannya.

Jadi citraan adalah gambaran angan (abstrak) yang dihadirkan menjadi


sesuatu yang konkret dalam tatanan kata-kata puisi. Makna-makna abstrak yang telah
menjadi konkret dapat ditangkap panca indra pembaca. Melalui pengimajian, apa
yang digambarkan seolah-olah dapat dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif),
dan dirasa(imaji taktil). Dengan adanya lukisan imaji tersebut kita seolah-olah dapat
melihat dan mendengar sesuatu secara konkret melalui alam imajinasi, dan bukannya
melihat dan mendengar melalui mata telanjang. Imaji adalah kata-kata yang sengaja
dipergunakan pengarang untuk mengongkretkan pelukisan yang membantu pembaca
untuk melihat, mendengar, merasakan, dan menyentuh berbagai pengalaman yang
diungkapkan dalam puisi (Mitchell, 2003: 144).

6. Pilihan Kata atau Diksi


11

Diksi merupakan pilihan kata yang dipergunakan penyair dalam membangun


puisinya. Puisi-puisi modern (konvensional) mencari kekuatannya pada diksi yang
tepat, karena makna dan keindahan puisi dibangun oleh seni kata. Seni kata
merupakan ekspresi pengalaman batin/jiwa ke dalam kata-kata yang indah. Setiap
kata yang dipergunakan dalam cipta puisi sastra mengandung nafas penciptaannya,
berisi jiwa dan perasaan-pikiran.

Bagi penulis puisi seleksi kata-kata adalah proses penulisan yang intensif,
menantang, dan sekaligus mengasyikan sebagai perwujudan ekspresi pengalaman
emosional. Dari sudut pandang pembaca puisi, seleksi kata merupakan jaminan
pemerolehan kenikmatan emotif dan kemudahan pemahaman dialog yang
ditawarkan. Selanjutnya dapat disimpulkan bahwa kata-kata adalah penyandang
makna utama dan penyedia warna keindahan sebuah puisi. Eksisitensi dan keindahan
sebuah puisi sebagai karya seni sangat ditentukan oleh kualitas kata-kata yang
membentuknya.

7. Persamaan Bunyi (Rima)

Dalam sebuah puisi, munculnya bunyi-bunyi tertentu pada persajakan akan


membangkitkan atau mengundang bunyi-bunyi pada kata-kata lain. Hal inilah yang
disebut dengan daya evokasi artinya kekuatan untuk membangkitkan bunyi lain
secara ekspresif. Daya evokasi merupakan salah satu fungsi persajakan yang sangat
penting untuk mengundang kata-kata lain yang bersajak sehingga membangkitkan
keteraturan bunyi. Dengan adanya keteraturan bunyi-bunyi tertentu yang berpola,
ekspresif, dan ritmis itulah menyebabkan puisi menjadi puitis.

8. Irama (musikalitas)

Irama ialah alun bunyi yang teratur dan berulang-ulang. Ia merupakan unsur
musikalitas puisi (susunan dan pola-pola bunyi yang teratur). Irama/musikalitas ini
dihadirkan oleh rima, permainan bunyi dan gaya repetisi. Fungsi unsur irama ini
12

dalam puisi ialah menguatkan keindahan puisi memberi jiwa pada kata-kata dan
membangkitkan emosi (kepuasan estetik). Irama dalam puisi berkaitan dengan gerak,
alunan, bunyi yang teratur yang ritmis, dan itu akan terasa jika puisi itu dibaca dan
didengarkan. Alunan bunyi tersebut dapat dibangkitkan secara sengaja lewat
permainan bunyi, pilihan kata yang tepat, lewat berbagai persajakan terutama saja
aliterasi dan asonansi yang secara signifikan membangkitkan sifat melodius bunyi.
Perpaduan pengulangan bunyi-bunyi tertentu secara terpola dan sistematis, konsonan
dan vokal, dalam kata-kata tertentu akan membangkitkan irama yang ritmis dan
melodis.

9. Pusat Pengisahan

Pusat pengisahan atau titik pandang (poin of vieuw) yaitu cara penyampaian
cerita, ide, gagasan, atau kisahan cerita puisi yang mencakup siapa yang berbicara
dan kepada siapa ditujukan (ia berbicara).

10. Repetisi (Bentuk Perulangan)

Unsur ulangan (repetisi) dalam puisi ibarat refein dalam musik, menghasilkan
musikalitas. Hal-hal yang dapt diberi perulangan bisa saja mengenai perulangan
pikiran, persajakan, perlambangan, dan lain-lain. Meskipun diulang-ulang bagian-
bagian tersebut tidaklah membosankan, karena ada fungsinya. Fungsi repetisi dalam
puisi ialah membuat pembaca terkesan pada emosi estetik dan nilai-nilai puitis
sebuah sajak, dan mengintensifkan hal-hal yang ingin ditekankan/dikemukakan,
sehingga terasa lebih dramatik. Berikut dapat dilihat sebuah puisi anak yang banyak
memanfaatkan unsur repetisi untuk menajamkan ekspresi penulis agar terkesan lebih
intensif dan mendalam.

11. Aspek Bunyi

Aspek bunyi dalam puisi menduduki peran penting untuk pencapaian


keindahan. Oleh karena itu, aspek bunyi biasanya sengaja dieksploitasi dan didayakan
13

lewat bentuk-bentuk perulangan dengan mengikuti pola-pola tertentu sehingga


terlihat terdengar lebih menarik, indah, dan merdu. Pola perulangan bunyi yang
sengaja ditimbulkan dan didayakan untuk mencapai efek keindahan itulah yang
kemudian dikenal sebagi persajakan, sajak, atau rima. Jadi, dalam persajakn
terkandung pengertian adanya perulangan bunyi yang terpola, atau mengikuti pola-
pola tertentu yang kesemuanya dimaksudkan untuk mencapai efek keindahan.

12. Sarana Retorika

Sarana retorika merupakan sarana yang efektif untuk memperindah style


sebuah teks puisi dan kesusastraan pada umumnya. Penggunaan retorika
dimaksudkan untuk lebih “menggayakan” dan menghidupkan pengekspresian serta
untuk memperoleh efek khusus yang lebih bernilai lebih, baik yang menyangkut
bentuk-bentuk ekspresi kebahasaan maupun berbagai dimensi makna yang dapat
dibangkitkan. Sarana retorika sengaja dipakai untuk memperindah pengungkapan
kebahasaan dan memperluas (juga mengkonkretkan maksud dan memfasilitasi)
jangkauan pemaknaan. Sarana retorika yang dimaksud adalah meliputi bentuk-bentuk
pemajasan (figures of thought), citraan (imagery), dan penyiasatan struktur (figures of
speech).

C. Kriteria Puisi Anak-Anak

Kriteria puisi anak-anak bisa dilihat dari tiga aspek, yaitu tipografi, bahasa,
dan isi puisi. Ketiga aspek tersebut diulas berikut ini.

1) Tipokrafi

Tipografi adalah bentuk fisik puisi. Pertama orang melihat puisi berarti
melihat tipografinya. Dari sanalah orang kemudian bisa membedakan antara bentuk
puisi dan bentuk karya sastra yang lain. Kriteria tipografi puisi anak-anak terletak
pada bagian-bagian pembangun puisi, yaitu penulisan judul, penulisan nama,
14

penyusunan baris, penyusunan bait, penggunaan huruf, panjang puisi, dan model
penulisan.

a. Penulisan Judul
15

Bagian pertama dari puisi yang dibaca orang adalah judul. Oleh karena itu,
kedudukan judul menjadi sangat penting. Melalui judul itulah pembaca menduga-
duga isi puisi. Untuk 72 Lingua. Volume X. Nomor 1. Januari 2014 puisi anak-anak,
judul bahkan sudah mencerminkan isi puisi. Pemilihan puisi, oleh banyak orang
kadang-kadang hanya didasarkan pada judul. Itulah sebabnya penulisan judul puisi
menjadi penting untuk diperhatikan. Ada beberapa kriteria penulisan judul puisi
anakanak, yaitu berbentuk kata atau kelompok kata; terdiri atas 1-7 kata; semua kata
menggunakan huruf kapital atau semua kata diawali dengan huruf kapital kecuali kata
tugas yang tidak terletak pada awal judul; dan terletak di tepi kiri, menjorok ke
dalam, atau di tengah (center).

b. Penulisan Nama

Ada dua model penulisan nama penulis puisi yang berterima bagi anak-anak,
yaitu di bawah judul puisi dan di bawah puisi. Kedua model ini sama-sama bisa
diterima anak-anak, tanpa memedulikan model penulisannya, apakah ditulis dengan
model rata kiri atau menjorok. Dengan demikian, model penulisan nama yang
mendahului judul puisi tidak berterima bagi anak-anak.

c. Penyusunan Baris

Ada dua kriteria penyusunan baris untuk puisi anak-anak, yaitu disusun secara
vertikal atau tidak berurutan secara horisontal seperti kalimat dalam prosa dan tidak
menggunakan enjambemen.

d. Penyusunan Bait

Fungsi bait dalam puisi hampir sama dengan fungsi paragraf dalam prosa.
Satu atau lebih baris berkelompok untuk menyatakan satu makna atau satu suasana
menjadi satu bait. Karena itu, jika satu bait menyatakan satu makna atau satu suasana,
penulisan
16

antara bait yang satu dan bait yang lain harus dipisahkan. Atas dasar tesis ini, maka
ada tiga model penyusunan bait untuk puisi anak-anak yang berterima. Pertama, batas
antara bait yang satu dan bait yang lain ditandai dengan spasi yang berbeda. Kedua,
bait ganjil dimulai dari margin yang rata kiri, sedangkan bait genap dimulai dari
model penulisan yang menjorok ke dalam. Ketiga, dari bait pertama sampai bait
terakhir ditulis semakin menjorok ke dalam.

e. Penggunaan Huruf

Huruf terbagi menjadi dua macam, yaitu huruf kapital dan huruf kecil.
Masing-masing jenis huruf tersebut sudah memiliki fungsi yang baku. Meskipun
dalam penulisan puisi terdapat licentia poetica, yang secara teoretis memungkinkan
penulis puisi menggunakan huruf kecil semua dalam penulisan puisi, tetapi dalam
penulisan puisi anak-anak tidak demikian. Huruf kapital dan huruf kecil harus dipakai
secara bersama-sama sesuai dengan konvensi yang ada dalam penulisan puisi
anakanak.

f. Panjang Puisi

Berkaitan dengan panjang-pendeknya puisi, terdapat dua sudut pandang yang


berbeda. Sudut pandang pertama adalah puisi untuk diapresiasi dan sebagai contoh
dalam menulis puisi; sudut pandang kedua puisi sebagai bahan seni baca puisi.
Kriteria kedua sudut pandang ini berbeda. Ukuran puisi untuk diapresiasi dan
dijadikan contoh untuk menulis puisi adalah kemampuan siswa mengenali atau
memahami puisi tersebut; sedangkan kriteria puisi untuk bahan baca puisi tidak
cukup hanya bisa dipahami oleh pembaca, tetapi juga mampu menimbulkan irama
sehingga bisa dinikmati oleh pendengar/penonton.

Atas dasar kenyataan tersebut, untuk puisi sebagai bahan apresiasi dan bahan
contoh menulis puisi tidak ada kategori minimal. Artinya, puisi hanya dengan 1-2
baris pun bisa memenuhi syarat. Namun, untuk puisi sebagai bahan baca puisi, karena
17

harus menimbulkan irama, maka harus memiliki panjang minimal 3 bait dengan
catatan per
18

bait terdiri atas 2-6 baris. Baik dari sudut pandang pertama maupun dari sudut
pandang kedua, puisi anak-anak memiliki ukuran maksimal, yaitu terdiri atas 7 baris
tiap bait dan terdiri atas 8 bait untuk satu puisi.

g. Model Penulisan

Ada dua model penulisan puisi yang berterima bagi anak-anak. Kedua model
penulisan tersebut adalah model rata kiri dan model centris. Di luar kedua model
penulisan tersebut tergolong model yang tidak berterima. Model penulisan puisi yang
tidak berterima bisa berbentuk penulisan yang rata kanan atau model penulisan
dengan bentuk-bentuk tertentu, seperti berbentuk zigzag.

2) Bahasa

Bahasa puisi anak-anak harus memenuhi syarat tertentu. Bahasa puisi anak-
anak harus indah. Untuk membuat bahasa puisi menjadi indah, ada beberapa cara
yang bisa dilakukan seperti dijelaskan berikut ini.

a. Bervariasi

Bervariasi artinya menggunakan perpaduan antara bentuk yang satu dan


bentuk Mukh Doyin - Pengembangan Materi Ajar Puisi Di SD 73 yang lain, seperti
kata dasar dan kata berimbuhan atau baris pendek dan baris panjang.

b. Memperhatikan rima

Rima mewujudkan keindahan puisi melalui bunyi. Persamaan bunyi menjadi


penting karena dari sanalah keindahan puisi akan terwujud. Puisi anak-anak menuntut
adanya rima, paling tidak rima akhir.

c. Menggunakan bahasa yang tidak formal


19

Bahasa puisi anak-anak tergolong bahasa yang tidak formal, dalam arti bahasa
yang tidak mengikuti kaidah sepenuhnya. Bentuk paling utama bahasa tidak formal
terlihat pada penggunaan sapaan aku sebagai sapaan orang pertama.

d. Menggunakan majas

Ada berbagai macam majas yang biasa digunakan dalam puisi anak-anak,
seperti repetisi, personifikasi, hiperbola, dan metafora. Majas-majas tersebut
dimaksudkan untuk memperindah bahasa puisi sehingga makna dan rasa puisi lebih
mudah ditangkap oleh pembaca.

Selain itu, bahasa puisi anak-anak harus komunikatif atau bisa dipahami oleh
anak-anak. Hal ini dimaksudkan bahwa pilihan kata, pilihan idiom-idiom dalam puisi,
serta susunan baris dan bait harus membuat anak-anak menjadi merasa lebih mudah
dalam memahami puisi. Ada beberapa kriteria penggunaan bahasa yang berpotensi
menjadikan puisi lebih komunikatif atau lebih mudah dipahami, yaitu sebagai berikut.

1) Menggunakan Bahasa Indonesia


2) Menggunakan Bahasa yang bermakna lugas
3) Menggunakan kata-kata yang dikenal anak-anak
4) Menggunakan tanda baca yang sesuai dengan fungsinya

3) Isi

Isi puisi adalah hal-hal yang terkandung dalam puisi, baik yang bersifat
tersurat maupun yang bersifat tersirat. Ada dua syarat isi puisi anak-anak, yaitu (1)
bermanfaat bagi anak-anak dan (2) terjangkau oleh anak-anak.

Beberapa kriteria yang harus dipenuhi agar isi puisi bermanfaat bagi anak-
anak adalah sebagai berikut
20

a. Memberikan informasi kepada anak-anak

Informasi baru merupakan pengetahuan baru bagi anak-anak. Informasi lama


menjadi pengingat bagi anak-anak. Informasi apa pun, baik atau tidak baik, benar
atau tidak benar, akan dengan mudah diterima oleh anak-anak. Oleh karena itu, dalam
menulis puisi anak-anak, harus dipastikan informasi yang diberikan 74 Lingua.
Volume X. Nomor 1. J anuari 2 014 harus benar. Kebenaran informasi didasarkan
pada fakta yang ada.

b. Mengandung nilai-nilai pendidikan

Kaitannya dengan proses belajar mengajar, nilai-nilai pendidikan yang


dimaksud di sini adalah nilai-nilai pendidikan yang berkaitan dengan pengembangan
karakter anak. Puisi anak-anak hendaknya ikut membentuk karakter anak-anak.

c. Mewakili ekspresi anak-anak

Ekspresi merupakan salah satu kebutuhan manusia, termasuk di dalamnya


anak-anak. Dalam kehidupan sehari-hari anak-anak membutuhkan ruang untuk
mengekspresikan perasaannya. Salah satu ruang ekspresi tersebut adalah puisi.
Melalui puisi anak-anak bisa menumpahkan perasaan sepi, sedih, gembira, marah,
atau semangatnya.

d. Memberikan pengaruh yang positif bagi anak-anak

Anak-anak berada dalam pertumbuhan yang sangat mudah terpengaruh.


Anak-anak belum memiliki kekuatan untuk mempertahankan keyakinan atau
keteguhannya terhadap sesuatu. Oleh karena itu, puisi-puisi yang akan dijadikan
materi ajar di SD harus dipastikan memberikan pengaruh positif bagi anak-anak.
Adapun kriteria yang harus dipenuhi agar isi puisi bisa dinikmati dan
dipahami oleh anak-anak adalah sebagai berikut.

1) Sesuai dengan kemampuan berfikir anak


2) Sesuai dengan logika anak-anak
3) Sesuai dengan kebudayaan anak-anak
4) Sesuai dengan perkembangan jiwa anak-anak
5) Sesuai dengan sudut pandang anak-anak
BAB Ⅲ

PENUTUP

A. Kesimpulan

Puisi adalah sebuah genre sastra yang amat memperhatikan pemilihan aspek
kebahasaan sehingga tidak salah jika dikatakan bahwa Bahasa puisi adalah Bahasa
yang “tersaring” penggunaannya. Artinya, pemilihan Bahasa itu terutama aspek diksi
telah melewati seleksi ketat, dipertimbangkan dari berbagai sisik baik yang
menyangkut unsur bunyi, bentuk, dan makna yang kesemuanya harus memenuhi
persyaratan untuk memperoleh efek keindahan.

Puisi anak juga memiliki karakteristik yang identik dengan sastra anak,
pengungkapan sesuatu dari kacamata anak. Sebagaimana halnya dengan puisi
dewasa, puisi anak juga ditulis dengan seleksi kata yang ketat, pendayaan metafora
dan citraan untuk menggambarkan imajinasi, memori, dan emosi

B. Saran

bahasan tulisan ini sudah dipaparkan di depan. Besar harapan kami semoga
tulisan ini bermanfaat bagi pembaca. Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi,
penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari sempurma. Oleh karena itu,
saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan agar tulisan ini dapat disusun
menjadi lebih baik dan sempurna.

XXII
DAFTAR PUSTAKA

Dermawan, Taufik. 1999. “Buku Bacaan Inpres Sekolah Dasar Sebagai Bahan
Pengajaran Apresiasi Sastra di Sekolah Dasar.” Dalam Jurnal Bahasa
dan Sastra Indonesia, FS Universitas Negeri Malang, Volume 5, Nomor 2,
Tahun 1999.

Emzir, 2015. Teori dan Pengajaran Sastra, Jakarta: PT Raja Grafondo Persada.

Huck, Charlotte s, Susan Hepler, dan Janet Hickman. 1987. Children’s


Literature in The Elementary School. New York: Holt, Rinehart and
Winston.

Mitchel, Diana. 2003. Children’s Literature,an Invitation to the World. Bosto:


Ablongman.

Nurgiyantoro, Burhan. 2005. Sastra Anak, Pengantar Pemahaman ke Dunia


Anak. Gadjah mada University Press.

Sayuti, Suminto A. 1994. “Pengantar Pengajaran Puisi.” Dalam Pengajaran


Sastra (Editor Jabrohim). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tarigan, H.G. (1985) Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa, Bandung:


Angkasa.

Waluyo, Herman j. 2002. Apresiasi Puisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Pertama.

23
24

Anda mungkin juga menyukai