0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan22 halaman

Analisis Reproduksi dan Infertilitas

Laporan praktikum biologi modul reproduksi ini membahas tiga materi yaitu analisis kualitas sperma, siklus estrus pada hewan, dan penetrasi sperma pada getah serviks untuk mempelajari proses reproduksi."

Diunggah oleh

Fakhri Al- Azhari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
106 tayangan22 halaman

Analisis Reproduksi dan Infertilitas

Laporan praktikum biologi modul reproduksi ini membahas tiga materi yaitu analisis kualitas sperma, siklus estrus pada hewan, dan penetrasi sperma pada getah serviks untuk mempelajari proses reproduksi."

Diunggah oleh

Fakhri Al- Azhari
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

MODUL REPRODUKSI

Dosen Pengampu :
Liya Agustin Umar, S.Si.,M.Biomed

Disusun oleh :
Kelompok 5

Muhammad Rifqi T (H1A020055)


Meutia Aurelia Syahrani (H1A020069)
Jonathan Farrel Pricaro (H1A020070)
Fatra Giawan Arnanda (H1A020071)
Faradina Aisya (H1A020072)
Salsa Fitria (H1A020073)
Fakhri Al Azhari (H1A020079)
Eiza Nur Hanisa (H1A020102)
Pegi Melanti Adri (H1A020103)
Alifiatul Hasanah (H1A020104)

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
UNIVERSITAS BENGKULU
2022
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Infertilitas merupakan kegagalan suatu pasangan untuk mendapatkan kehamilan. Jika


dalam dua belas bulan berhubungan seksual secara teratur tanpa kontrasepsi pasangan suami
istri tidak terjadi kehamilan maka disebut sebagai juga sebagai infertilitas primer, sedangkan
infertilitas sekunder adalah ketidakmampuan seseorang memiliki anak atau mempertahankan
kehamilannya dalam waktu lebih dari 12 bulan. Gangguan ini dapat disebabkan oleh
penurunan kualitas spermatozoa yang dapat dilihat melalui analisis sperma. Parameter
kelainan morfologi spermatozoa (teratozoospermia) diukur menurut kriteria WHO yaitu
apabila jumlah sperma yang ditemukan dalam bentuk normal ≥ 30%. Hal ini akan
menyebabkan terbentuknya sperma yang memiliki bentuk tidak sempurna dan mengganggu
pergerakan sperma.

Siklus reproduksi pada hewan primata umumnya dan manusia khususnya, dikenal
dengan siklus menstruasi. Siklus ini erat hubungannya dengan perkembangan folikel telur
dan endometrium uterus. Siklus ini dikendalikan oleh hormon-hormon reproduksi yang
dihasilkan oleh hipotalamus, hipofisis dan ovarium . Siklus reproduksi yang lain dan identik
dengan hewan mamalia primata juga terjadi pada hewan mamalia nonprimata yang dikenal
dengan siklus estrus. Siklus ini juga memiliki empat fase yaitu : diestrus, proestrus, estrus dan
metetrus (postestrus). Pada fase estrus terjadi ovulasi dan pada fase ini juga terjadi puncak
birahi pada hewan betina dan siap menerima hewan jantan untuk kopulasi. Selain fase estrus,
hewan betina tidak mau melayani hewan jantan untuk kopulasi (Rugh, 1968).

Getah serviks merupakan faktor yang penting dalam proses transportasi sperma.
Kelenjar mukosa serviks menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein
kaya karbohidrat (musin) dan larutan berbagai garam, peptida, dan air. Ketebalan mukosa dan
viskositas lendir serviks dipengaruhi siklus haid. Salah satu penyebab infertilitas pada wanita
adalah Kelainan pada serviks akibat defesiensi hormon esterogen yang mengganggu
pengeluaran mukus serviks. Apabila mukus sedikit di serviks, perjalanan sperma ke dalam
rahim terganggu.

Oleh karena itu dilakukanlah pengamatan terhadap analisa sperma, siklus estrus, dan
juga pemeriksaan penetrasi sperma pada getah serviks.
1.2 Tujuan
a. Materi 1: Pemeriksaan Sample Andrologi: Analisis Cairan Semen Manusia Dengan
Gangguan Fertilitas.
Mempelajari kualitas semen secara sederhana, serta mampu menganalisis gangguan
yang terjadi dari hasil pemeriksaan tersebut.
b. Materi 2: Siklus Estrus
Mengetahui gambaran karakteristik morfologi sel epitel mencit selama 1 siklus
c. Materi 3 : Materi 3 Penetrasi Sperma Pada Getah Serviks (Materi pengayaan)
Mempelajari penetrasi sperma pada getah serviks
1.3 Manfaat
a. Materi 1: Pemeriksaan Sample Andrologi: Analisis Cairan Semen Manusia Dengan
Gangguan Fertilitas.
Mengetahui kualitas semen secara sederhana, serta sapat menganalisis gangguan yang
terjadi dari hasil pemeriksaan tersebut.
b. Materi 2: Siklus Estrus
Dapat mengetahui gambaran karakteristik morfologi sel epitel mencit selama 1 siklus
c. Materi 3 : Materi 3 Penetrasi Sperma Pada Getah Serviks (Materi pengayaan)
Dapat mengetahui penetrasi sperma pada getah serviks
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Materi 1: Pemeriksaan Sample Andrologi:  Analisis Cairan Semen Manusia Dengan
Gangguan Fertilitas.
Analisis cairan semen merupakah suatu prosedur yang digunakan untuk mengukur
kuantitas dan kualitas semen dan sperma. Semen adalah cairan putih kental yang dilepaskan
dari penis selama melakukan coitus atau orgasme. Rilis dari cairan semen ini disebut
ejakulasi. Cairan semen mengandung sperma, sel-sel yang dibuat dalam sistem reproduksi
pria yang mencakup materi genetik yang dibutuhkan fertilisasi. Analisis semen adalah
biomarker yang paling banyak digunakan untuk memprediksi potensi kesuburan pria. Ini
memberikan informasi tentang status fungsional dari tubulus seminiferus, epididimis dan
kelenjar seks tambahan, dan hasilnya sering diambil sebagai ukuran pengganti dari
kemampuan pria untuk mengasilkan keturunan dari kehamilan. Analisis semen rutin meliputi:
(a) karakteristik fisik semen,termasuk likuifaksi, viskositas, pH, warna dan bau; (B) volume
spesimen; (c)konsentrasi sperma; (d) motilitas dan perkembangan sperma; (e) morfologi
sperma; (f)kuantifikasi leukosit; dan (g) deteksi fruktosa dalam kasus-kasus di mana tidak ada
spermatozoa ditemukan dan volume ejakulasi rendah. Empat kategori utama cacat sperma
mengarah ke diagnosis infertilitas laki-laki adalah jumlah sperma yang sedikit
(oligozoospermia), masalah pada motilitas sperma (asthenozoospermia), cacat morfologi
sperma (teratozoospermia), dan tidak adanya sperma dalam semen (azoospermia), yang
mungkin terjadi karena kurangnya produksi atau obstruksi. 
Untuk terjadinya fertilisasi harus ada sperma yang memenuhi syarat, mulai dari
morfologi, jumlah, konsentrasi, total sperma yang di hasilkan. Untuk konsentrasi normal
sperma adalah 20 juta sperma/ml semen atau lebih. Bila 10 juta/ml atau kurang maka
menujukkan konsentrasi yang rendah (kurang subur). Hitungan 40 juta sperma/ml atau lebih
berarti sangat subur. Jarang sekali ada pria yang sama sekali tidak memproduksi sperma.
Kurangnya konsentrasi sperma ini dapat disebabkan oleh testis yang kepanasan (misalnya
karena berendam dengan air panas dan memakai celana ketat), terlalu sering berejakulasi
(hiperseks), merokok, radiasi, alkohol dan kelelahan. Jika tidak memiliki sperma yang sesuai
dengan syarat maka fertilisasi tidak akan terjadi dan berujung pada infertilitas. Infertilitas
merupakan ketidakmampuan suatu pasangan untuk mengahsilkan keturunan dalam jangka
waktu satu tahan tanpa menggunakan kontrasepsi data coitus.

2.2 Materi 2 : Siklus Estrus

Siklus estrus adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan siklus reproduksi
wanita pada hewan pengerat dan mirip dengan siklus menstruasi pada manusia. Pada hewan
pengerat, siklus ini memiliki empat fase: (I) proestrus, (II) estrus, (III) metestrus, dan (IV)
diestrus, dan berlangsung antara 4 dan 5 hari. Selama waktu ini, kadar hormon gonad yang
bersirkulasi berfluktuasi. 
Siklus estrus mewakili pola siklus aktivitas ovarium yang memfasilitasi hewan betina untuk
beralih dari periode penerimaan reproduksi ke non-penerimaan yang akhirnya
memungkinkan pembentukan kebuntingan setelah kawin. Siklus ini terdiri dari dua fase
terpisah: fase luteal (14-18 hari; met-estrus dan di-estrus) dan fase folikular (4-6 hari; pro-
estrus dan estrus). Fase luteal adalah periode setelah ovulasi ketika korpus luteum (CL)
terbentuk, sedangkan fase folikular adalah periode setelah matinya korpus luteum (luteolisis)
sampai ovulasi. Selama fase folikel pematangan akhir dan ovulasi folikel ovulasi terjadi yang
mengarah pada pelepasanoosit (gamet betina) ke dalam saluran telur memungkinkan potensi
untuk pembuahan.Dimulainya siklus estrus yang teratur pada sapi terjadi pada saat
pubertas. Heifer mencapai pubertas antara usia 6 dan 24 bulan biasanya pada 50% dari berat
badan dewasa. Pada awal pubertas, siklus estrus pertama cenderung berlangsung singkat (3-
12 hari) dan mengikuti ovulasi diam (yaitu, tidak terkait dengan ekspresi estrus
perilaku). Siklus estrus berhenti selama kehamilan karena adanya
peningkatan progesteron yang berkepanjangan dari CL , dan plasenta (pada kehamilan lanjut:
20% dari kira-kira hari ke 200). Setelah partus , siklus estrus dimulai kembali setelah
periode anestrus dan anovulasi yang bervariasi. Mirip dengan transisi dari pra-pubertas ke
pubertas, dimulainya kembali siklus ovarium pasca-melahirkan biasanya dikaitkan dengan
ovulasi diam yang diikuti oleh siklus pendek.

2.3 Materi 3: Penetrasi Sperma Pada Getah Serviks


Lendir serviks terdiri dari 2 fraksi utama, gel atau musin yang tidak larut, dan fase air
yang mengandung komponen larut (lipid; asam lemak; prostaglandin; trace metal; protein;
inhibitor enzim, dan imunoglobulin). Lendir serviks dapat meningkatkan atau menghambat
perjalanan spermatozoa melalui saluran serviks. Uji penetrasi sperma digunakan untuk
mengukur kemampuan sperma untuk menyatu dengan membran telur dan mendekondensasi
kepala sperma di dalam sitoplasma oosit. Tes ini dinilai dengan perhitungan persentase ovum
yang ditembus atau jumlah rata-rata penetrasi sperma per ovum. Uji penetrasi sperma
pertama kali dikembangkan pada 1970-an.

Adapun, uji tabung kapiler awalnya dirancang oleh Kremer (1965), dan berbagai modifikasi
sejak itu telah diusulkan. Tes mengukur kemampuan spermatozoa untuk menembus kolom
lendir serviks dalam tabung kapiler.

Alat

Berbagai jenis pipa kapiler telah digunakan tetapi pada pipa kapiler, panjang 5 cm dan
dengan jalur pandang diameter internal 0,3 mm

Pengukur penetrasi sperma Kremer

Prosedur

1. Perkenalkan kira-kira 100 l air mani cair, diperoleh selambat-lambatnya 1 jam setelah
ejakulasi, ke dalam masing-masing reservoir air mani.
2. Aspirasi lendir serviks ke dalam setiap tabung kapiler, pastikan tidak ada gelembung udara
yang masuk.

3. Tutup salah satu ujung setiap tabung dengan sealant tabung kapiler, tanah liat pemodelan
atau bahan serupa. Sealant yang cukup harus diterapkan sehingga kolom lendir sedikit
menonjol keluar dari ujung tabung yang terbuka.

4. Tempatkan ujung pipa kapiler yang terbuka pada kaca objek sehingga menonjol 0,5 cm ke
dalam reservoir yang berisi sampel semen.

5. Simpan perangkat secara horizontal selama 2 jam pada suhu 37 °C di ruang lembab (mis
kertas saring jenuh air dalam cawan Petri tertutup) untuk mencegah pengeringan semen dan
lendir.

6. Periksa tabung kapiler dengan optik kontras fase pada perbesaran x100

7. Kembalikan perangkat ke inkubator 37 °C dan periksa kembali tabung kapiler setelah 24


jam untuk melihat perkembangan spermatozoa.

Penilaian

Setelah 2 jam, nilai jarak migrasi, kepadatan penetrasi, pengurangan migrasi dan adanya
spermatozoa dengan motilitas ke depan.

1. Jarak migrasi: catat jarak dari ujung pipa kapiler di reservoir semen ke spermatozoa terjauh
di dalam tabung.

2. Kepadatan penetrasi: ukur ini pada 1 dan 4,5 cm dari ujung kapiler tabung di reservoir
semen. Pada setiap titik, catat jumlah rata-rata spermatozoa per bidang berdaya rendah (×100
LPF).

3. Pengurangan migrasi: ini dihitung sebagai penurunan kepadatan penetrasi pada 4,5 cm
dibandingkan dengan yang pada 1 cm.
Contoh 1. Kepadatan penetrasi pada 1 cm adalah 51–100 per LPF dan pada 4,5 cm adalah 6–
10.

Nilai pengurangan migrasi adalah 3 (urutan peringkat 6 ke urutan peringkat 3)

Contoh 2. Kepadatan penetrasi pada 1 cm adalah 21–50 per LPF dan pada 4,5 cm adalah

51–100. Nilai pengurangan migrasi adalah nol karena kepadatan penetrasi

justru meningkat (dari urutan peringkat 5 menjadi urutan peringkat 6)

4. Spermatozoa dengan motilitas ke depan: tentukan keberadaan di serviks lendir


spermatozoa dengan motilitas ke depan pada 2 dan 24 jam
BAB III
METODOLOGI
3.1 Materi 1: Pemeriksaan Sampel Andrologi: Analisis Cairan Semen Manusia dengan
Gangguan Fertilitas

Alat dan bahan

 Alat
1. Pot urin/ gelas kaca
2. Mikroskop cahaya
3. Minyak imersi (bila dibutuhkan)
4. Alat hemocytometer
5. Improved neubauer
6. Gelas ukur volume
7. Pipet tetes
8. Mikropipet berbagai ukuran
9. Tips
10. Kaca obyek + penutupnya
11. Stopwatch
12. Coloni counter (jika ada)
13. pH meter/kertas pH 6-8

 Bahan
1. Semen
2. PBS/ NaCl 0,9 %
3. Larutan George (bila ada)

CARA KERJA

 Persiapkan alat dan bahan


 Mengaduk semen menggunakan batang pengaduk hingga homogen
 Teteskan sampel tersebut di kaca preparat
 Tutup menggunakan cover glass
 Lakukan pengamatan di bawah mikroskop
 Amati di bawah mikroskop dengan perbesaran 10 x dan 40 x
3.2 Materi 2 : Siklus Estrus
- Alat dan bahan
 Alat
1. gelas obyek
2. pipet
3. mikroskop cahaya
4. staining jar
5. jarum ose
 Bahan
1. larutan alkohol fiksatif 70%
2. larutan Phosphat Buffer Saline (PBS)
3. larutan pewarna Giemsa
4. tikus betina berusia 2-3 bulan
- Cara kerja :
1. Jarum dibagian ujung yang bulat pada jarum ose dibersihkan menggunakan
aquadest dan PBS.
2. Selanjutnya dimasukkan ke dalam vagina tikus betina lalu diusap sebanyak 2-
3 kali putaran.
3. Hasil dari usapan jarum ose dibuat preparat apusan.
4. Teteskan larutan alkohol fiksatif 70% ke preparat apusan sampai menuju objek
glass dalam waktu 10 menit, angkat dan keringkan (anginkan).
5. Masukkan kembali apusan ke larutan pewarnaan giemsa dalam waktu 5-25
menit lalu bilas dengan air mengalir dan kering(anginkan).
6. Amati morfologi sel epitel di preparat yang telah dibuat dibawah mikroskop
dengan perbesaran lemah (100x) lalu dengan perbesaran kuat (400x).
7. Hasil pengamatan dicatat ditabel pengamatan dan melakukan dokumentasi
setiap preparat apusan yang dibuat.
8. Gunakan hasil foto dokumentasi yang tersedia di laboratorium sebagai
alternatif.
9. Tentukan dan gambar termasuk fase apakah gambar tersebut?
10. Gunakan lembar yang disediakan.
3.3 Materi 3 : penetrasi sperma pada getah serviks

Alat dan bahan

 20 miliar sperma ideal


 Microscope untuk melihat seberapa besar motilitas sperma
 Aplikasi sperm class analyzer

Cara kerja

Pertama-tama diambil 2-3 mikroliter sperma kemudian diteteskan ke preparat kemudian


ditaruh pada suhu sekitar 37 derajat untuk menjaga sperma, tunggu 30 detik agar sperma
mengendap setelah sperma mengendap cek dengan mikroskop dengan perbesaran 400x dan
sambungkan dengan aplikasi yang Bernama sperm class analyzer setelah itu lihat di aplikasi,
untuk sperma yang motilitasnya bagus akan ditandai dengan warna merah sedangkan untuk
sperma yang motilitasnya kurang bagus akan ditandai dengan warna biru. Sperma yang
berwarna merah akan dapat melewati mucus serviks dengan baik dilihat dari pergerakannya.
Viskositas dan karakteristik semen dan getah serviks kurang lebih sama karena dipengaruhi
oleh hormon esterogen sehingga produksinya meningkat, encer, dan jernih. Penetrasi
spermatozoa juga dipengaruhi oleh derajat PH yang berada pada mucus serviks.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Materi 1 Pemeriksaan Sample Andrologi: Analisis Cairan Semen Manusia Dengan
Gangguan Fertilitas
Kode Sampel : Sampel I
Tanggal : 30 September 2022
Waktu : 09.30
Lama ABSTINENSIA : 3 Hari
Berikut hasil pengamatan sampel :

Jenis Pemeriksaan Hasil Pengamatan Referensi (WHO 2021)


Makroskopis
Volume (ml) 2,5 ml ≥ 1,4
Warna Putih keabuan Putih keabuan atau krem
atau abu-abu-opalescent
Lama Likuifasi 30 menit ≤ 30 menit
Viskositas < 2 cm < 2 cm
Bau Sperma Khas Khas
pH 7,2 - 8 ≥ 7,2
Mikroskopis
Konsentrasi sperma ≥ 16 ≥ 16
(106/mL)
Total konsentrasi ≥ 39 ≥ 39
(106)/ejakulat
Progressive motility (PR) ≥ 30 ≥ 30
(%)
Non-Progresive (NP) (%) 5 ≤1
Immotile (IM) (%) ≤20 ≤ 20
Total Motilitas (PR+NP) ≥35 ≥ 42
(%)
Aglutinasi Tidak Ada/tidak
Vitalitas (%) ≥ 54 ≥ 54
Morfologi (Normal Forms) ≥4 ≥4
(%)

Pembahasan :

Hasil analisa semen yang dikerjakan, terdapat beberapa perbedaan antara masing-masing
sampel. Namun, harap dicatat bahwa sampel harus diuji dalam waktu 30 menit setelah
ejakulasi, dan tidak lebih dari 1 jam. Hasil pengamatan kasar menunjukkan volume air mani
ejakulasi dalam batas normal, warna putih, bau khas sperma dan pH dalam batas normal. 2
cm. Mikroskop mengungkapkan jumlah sperma normal menurut Referensi WHO 2021.
Untuk morfologi sperma yang ditemukan dalam sampel air mani, kami menemukan
morfologi sperma normal yang terdiri dari kepala berbentuk normal, leher berbentuk normal,
dan ekor berbentuk normal. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa volume, jumlah,
mobilitas dan morfologi adalah normal.
Tugas Diskusi Kelompok Analisis Semen:

Pertanyaan:
1. Apa kesimpulan untuk hasil analisis semen diatas?
Jawab : Hasil analisis volume sperma pada gambar adalah 4,2 ml. Volume yang
didapatkan merupakan volume normal menurut Konsensus WHO 2010. Rentang
volume sperma normal adalah ≥ 1,5 ml. Pewarnaan sperma juga tampak normal
dengan warna putih abu-abu. Pada analisis likuifaksi terdapat hasil yang tidak
sempurna sehingga pemeriksaan mikroskopik tidak dikerjakan. Konsistensi analisis
sperma juga tidak normal karena kental. Menurut WHO 2010, konsistensi sperma
normal adalah encer. Pada analisis sperma ini dapat disimpulkan adanya kecurigaan
kelainan atau gangguan pada pasien yang terlihat dari hasil likuifaksi yang tidak
normal.
2. Gangguan apa yang terjadi pada pasien tersebut?
Jawab : Gangguan yang dapat dicurigai pada pasien seperti infeksi, kelainan kelenjar
prostat dan defisiensi pada enzim yang diproduksi prostat (seminin). Ketika terjadi
gangguan pada likuifaksi maka sperma akan kesulitan untuk bergerak menuju sel
telur. Sperma yang kental akan memengaruhi motilitas sperma.
3. Menurut anda, apa penyebab dari gangguan tersebut?
Jawab : Untuk mengetahui etiologi dari suatu gangguan penyakit tentu saja kita
memerlukan pemeriksaan penunjang yang lebih lanjut agar dapat memastikan
penyebab gangguan tersebut. Oleh karena itu, pada pasien ini belum dapat diketahui
mengenai penyebab pasti terjadinya likuifaksi tidak sempurna.
4. Apakah diperlukan pemeriksaan ulang bila terjadi kasus seperti diatas? Jelaskan!
Jawab : Harus dilakukan pemeriksaan ulang pada kasus pasien ini karena untuk
menegakkan diagnosis yang autentik diperlukan pemeriksaan lengkap dan pasti.
Kemungkinan terjadinya human error pada proses pengambilan sampel juga dapat
terjadi pada kasus ini.
5. Jelaskan perbedaan nilai normal antara panduan WHO 2010, dengan panduan WHO
2021 pada analisis semen diatas?
Jawab :
Analisis Sperma Hasil Konsensus WHO Konsensus WHO
2010 2021
Volume (mL) 4,2 ≥1,5 ≥1,4
Collecting Utuh - -
Abstinensia 2 hari 2 - 7 hari 2 - 7 hari
Diterima di Lab 07.30 WIB - -
Makroskopik
Warna Putih abu-abu Putih abu-abu Putih keabuan atau
krem atau abu-abu-
opalescent
Likuifaksi Likuifaksi tidak Tercapai dalam 15- Tercapai dalam 15-
sempurna 30 menit pada suhu 30 menit pada suhu
kamar kamar
Konsistensi Kental Encer Encer
Bau Khas Khas Khas
pH 8 ≥ 7,2 7,2 – 7,8
Mikroskopik
Konsentrasi - 15 juta/mL 16 juta/mL
Progresif - 32 (31 - 34) 30 (29 - 31)
Viabilitas/Vitalitas - 58% 54%
Morfologi - 4 (3 - 4) 4 (3,9 - 4)
(% normal)
Aglutinasi - Ada/tidak Ada/tidak
Dari tabel diatas terlihat perbedaan nilai normal analisis sperma pada volume.
Menurut WHO 2010 volume normal adalah ≥ 1,5 ml dan WHO 2021 adalah ≥ 1,4 ml. Selisih
nilai 0,1. Pada warna WHO 2021 menambahkan kategori abu-abu opalescent yang pada
WHO 2010 tidak ada. Likuifaksi, konsistensi, dan bau masih dalam ketentuan yang sama.
Pada pH WHO 2010 hanya menuliskan ≥ 7,2 yang berarti masih terdapat kerancuan sebatas
mana nilai normal yang benar. WHO 2021 menetapkan adanya rentang pH yang dapat
menjadi acuan normal pada analisis sperma. Pada konsentrasi WHO 2021 menambahkan 1
juta/mL dari acuan WHO 2015 sebesar 15 juta/mL menjadi 16 juta/mL. Progresif, viabilitas
dan morfologi juga terdapat perubahan pada WHO 2021.

HALAMAN 9
Jawab pertanvaan berikut ini:
1. Hormon apa yang berperan dalam siklus menstruasi atau siklus estrus?
Jawab : Hormon esterogen, progesteron, FSH dan LH
2. Terangkan mekanisme terjadinya menstruasi!
Jawab :
Fase Folikular atau Proliferatif
Pada siklus menstruasi, fase pertama adalah fase folikular atau prliferasi. Fase ini
mulai dari hari ke-1 hingga hari ke-14 dari siklus menstruasi. Lama durasi siklus rata-
rata 23-28 hari. Adanya variasi panjang siklus menstruasi terjadi karena fase folikular
ini. Pada fase folikular, hormon esterogen akan meningkat dan menjadi hormon
utama, yaitu 17-beta-estradiol. Peningkatan hormon ini terjadi karena peningkatan
regulasi reseptor FSH di dalam folikel pada awal siklus. Namun, saat fase folikular
berlanjut hingga akhir, peningkatan jumlah 17-beta-estradiol akan memberikan
umpan balik negatif ke hipofisis anterior. Tujuan dari fase ini adalah untuk
menebalkan lapisan endometrium rahim. 17-beta-estradiol akan mencapai ini dengan
meningkatkan pertumbuhan lapisan endometrium rahim, merangsang peningkatan
jumlah stroma dan kelenjar, dan meningkatkan kedalaman arteri yang memasok
endometrium.
Selain itu, fase ini juga penting untuk menciptakan lingkungan yang ramah
dan membantu kemungkinan sperma masuk. 17-beta-estradiol mencapai ini dengan
membuat saluran di dalam serviks, memungkinkan masuknya sperma. Saluran dibuat
dalam banyak, berair, dan perubahan elastisitas lendir serviks. Selama fase ini, folikel
primordial mulai matang menjadi folikel Graaf. Folikel di sekitarnya mulai
mengalami degenerasi, yaitu saat folikel Graaf menjadi folikel yang matang. Ini
mengatur folikel untuk ovulasi, langkah selanjutnya.
Ovulasi
Ovulasi terjadi 14 hari sebelum menstruasi. Pada akhir fase proliferasi, kadar
17-beta-estradiol berada pada tingkat tinggi karena pematangan folikel dan
peningkatan produksi hormon. Selama waktu ini saja, 17-beta-estradiol memberikan
umpan balik positif untuk produksi FSH dan LH. Ini terjadi ketika tingkat tertinggi
17-beta-estradiol tercapai, setidaknya 200 pikogram per mililiter plasma. Tingginya
kadar FSH dan LH yang ada selama waktu ini disebut lonjakan LH. Akibatnya,
folikel matang pecah, dan oosit dilepaskan. Perubahan pada serviks seperti yang
dimulai selama fase folikuler semakin meningkat, memungkinkan peningkatan, lendir
serviks yang lebih encer untuk mengakomodasi kemungkinan sperma dengan lebih
baik kadar 17-beta-estradiol turun pada akhir ovulasi.
Fase Luteal atau Sekretori
Fase berikutnya dari siklus menstruasi adalah fase luteal atau sekretori. Fase
ini selalu terjadi dari hari ke 14 sampai hari ke 28 siklus. Progesteron yang dirangsang
oleh LH adalah hormon utama selama fase ini untuk mempersiapkan korpus luteum
dan endometrium untuk kemungkinan implantasi ovum yang telah dibuahi. Saat fase
luteal berakhir, progesteron akan memberikan umpan balik negatif ke hipofisis
anterior untuk menurunkan kadar FSH dan LH dan, selanjutnya, kadar 17-beta-
estradiol dan progesteron. Korpus luteum adalah struktur yang terbentuk di ovarium
di tempat pecahnya folikel matang untuk menghasilkan 17-beta-estradiol dan
progesteron, yang dominan pada akhir fase karena sistem umpan balik negatif.
Endometrium mempersiapkan diri dengan meningkatkan suplai vaskular dan
merangsang lebih banyak sekresi mukus. Hal ini dicapai dengan progesteron yang
merangsang endometrium untuk memperlambat proliferasi endometrium, mengurangi
ketebalan lapisan, mengembangkan kelenjar yang lebih kompleks, mengumpulkan
sumber energi dalam bentuk glikogen, dan menyediakan lebih banyak area
permukaan di dalam arteri spiralis.
Berlawanan dengan perubahan lendir serviks yang terlihat selama fase
proliferasi dan ovulasi, progesteron menurun dan mengentalkan lendir serviks
sehingga tidak elastis sejak masa pembuahan berlalu, dan masuknya sperma tidak lagi
menjadi prioritas. Selain itu, progesteron meningkatkan suhu hipotalamus, sehingga
suhu tubuh meningkat selama fase luteal. Menjelang akhir fase sekretori, kadar
plasma 17-beta-estradiol dan progesteron diproduksi oleh korpus luteum. Jika
kehamilan terjadi, ovum yang dibuahi ditanamkan di dalam endometrium, dan korpus
luteum akan bertahan dan mempertahankan kadar hormon. Namun, jika tidak ada
ovum yang dibuahi yang berimplantasi, maka korpus luteum mengalami regresi, dan
kadar serum 17-beta-estradiol dan progesteron menurun dengan cepat.
Menstruasi Normal
Ketika kadar hormon menurun, lapisan endometrium, seperti yang telah
berubah sepanjang siklus menstruasi, tidak dapat dipertahankan. Ini disebut
menstruasi, dianggap hari ke 0 sampai hari ke 5 dari siklus menstruasi berikutnya.
Durasi menstruasi bervariasi. Darah menstruasi sebagian besar adalah arteri, dengan
hanya 25% darah yang merupakan darah vena. Ini mengandung prostaglandin, puing-
puing jaringan, dan sejumlah besar fibrinolisis dari jaringan endometrium. Fibrinolisis
melisiskan bekuan darah sehingga darah menstruasi biasanya tidak mengandung
gumpalan kecuali jika alirannya deras.
Durasi aliran menstruasi yang biasa adalah 3-5 hari, tetapi aliran sesingkat 1
hari dan selama 8 hari dapat terjadi pada wanita normal. Jumlah kehilangan darah
dapat berkisar dari sedikit bercak hingga 80 mL dan rata-rata 30 mL. Kehilangan
lebih dari 80 mL darah dianggap abnormal. Berbagai faktor dapat mempengaruhi
jumlah aliran darah, termasuk obat-obatan, ketebalan endometrium, kelainan darah,
dan kelainan pembekuan darah, dll.
3. Dalam hal apa saja pengetahuan siklus estrus itu diperlukan?
Jawab : untuk dapat mengetahui kapan masa subur dan ovulasi pada wanita. Siklus
ini juga dapat menentukan bagaimana perencanaan yang tepat mengenai program
kehamilan pada wanita.

4.2 Materi 2: Siklus Estrus


Hasil Analisis Siklus Estrus Berdasarkan Morfologi Gambar
Gambar Siklus Keterangan
Nomor 1 Proestrus Terlihat sel epitel berinti
Nomor 2 Proestrus
Nomor 3 Estrus Terdapat banyak sel epitel bertanduk
Terdapat sel epitel berinti (jarang)
Nomor 4 Metestrus Terdapat sel epitel bertanduk
Terdapat sel epitel berinti
Terdapat leukosit yang banyak
Nomor 5 Diestrus Terdapat banyak leukosit
Nomor 6 Estrus
Nomor 7 Metestrus
Nomor 8 Metestrus
Nomor 9 Metestrus
Nomor 10 Proestrus
Nomor 11 Proestrus
Nomor 12 Mestestrus
Pembahasan:
Siklus estrus adalah siklus reproduksi dari hewan mamalia dan primate betina yang
sudah dewasa kelamin. Sedangkan pada manusia siklus ini disebut sikulus menstruasi
(Akbar, 2010). Siklus estrus ditandai dengan masa berahi atau estrus. Pada saat estrus, hewan
betina akan reseptif terhadap hewan jantan.
Mencit termasuk hewan poliestrus, yaitu dalam satun mencit dapat mengalami siklus
resproduksi yang berulang-ulang. Siklus estrus mencit berlangsung selama 4-5 hari. Siklus
estrus dibagi menjadi beberapa fase. Setiap fase dapat dikenali dengan pemeriksaan apus
vagina (Nadjumudin et al, 2010). Sehingga pada praktikum ini, akan dilihat gambaran
karakteristik morfologi sel epitel mencit selama 1 siklus.
Siklus estrus pada mencit terdiri dari 4 fase utama yaitu fase proestrus, estrus, dan
diestrus. Berdasarkan hasil yang didapat, pada fase proestrus ditemukannya sel epitel berinti
dan tidak ada leukosit. Hal ini sesuai dengan literatur menurut Suci (2015), bahwa preparate
apus vagina pada fase proestrus ditandai dengan adanya jumlah sel epitel berinti dan sel darah
putih berkurang, digantikan dengan sel epitel bertanduk. Pada fase ini, folikel ovary dengan
ovumnya yang menempel membesar terutama karena meningkatnya cairan folikel yang berisi
hormone-hormon esterogenik. Esterogen yang diserap dari folikel ke dalam aliran darah
merangsang penaikan vaskularitas dan pertumbuhan sel genitalia tubular dalam persiapan
untuk birahi yang akan terjadi.
Selanjutnya fase estrus, yaitu tahap penerimaan seksual pada hewan betina, yang
terutama ditentukan oleh tingkat sirkulasi esterogen. Setelah periode itu terjadilah ovulasi, ini
terjadi dengan penurunan tingkat FSH dalam darah dan peningkatan LH. Sesaat sebelum
ovulasi folikel membesar dan mengalami turgid, serta ovum yang mengalami pemasakan.
Estrus berakhir kirra-kira pada saat pecahnya folikel ovary atau terjadinya ovulasi. Fase ini
terjadi selama 12 jam. Menurut Adnan (2006) fase estrus ditandai dengan adanya sel-sel
epitel bertanduk yang sangat banyak dan beberapa sel-sel epitel dengan ini yang
berdegenarasi. Hal ini sama dengan hasil yang didapat pada waktu praktikum yaitu terdapat
banyak sekali sel-sel epitel bertanduk dan ada beberapa sel epitel berinti.
Berikutnya adalah fase metestrus. Fase metestrus adalah fase setelah ovulasi dimana
korpus luteum mulai berfungsi. Selama fase ini terdapat penurunan esterogen dan kenaikan
progesterone yang dibentuk oleh ovari. Fase ini terjadi selama 6 jam. Pada hasil praktikum, di
fase metestrus ini didapatkan sel epitel bertanduk, sel epitel berinti dan terdapat pulau
leukosit. Hal ini sesuai dengan Adnan (2006), fase metestrus ditandai dengan adanya sel
epitel bertanduk dan leukosit yang banyak.
Jawab pertanvaan berikut ini :
1. Hormon apa yang berperan dalam siklus menstruasi atau siklus estrus ?
FSH, LH, esterogen, dan progesteron
2. Terangkan mekanisme terjadinya menstruasi !
Secara umum, proses menstruasi terbagi menjadi empat fase, yaitu:
a. Fase menstruasi
Jika pada fase menstruasi tidak terjadi pembuahan sel telur oleh sel sperma, lapisan
dinding rahim (endometrium) yang mengandung pembuluh darah, sel-sel dinding
rahim, dan lendir akan luruh dan keluar melalui vagina. Fase menstruasi dimulai
sejak hari pertama siklus menstruasi dimulai dan bisa berlangsung selama 4–7 hari.
Pada fase ini, wanita biasanya akan merasakan nyeri di perut dan punggung bagian
bawah karena rahim berkontraksi untuk membantu meluruhkan endometrium atau
dinding rahim.
b. Fase folikular
Fase folikular berlangsung sejak hari pertama menstruasi hingga memasuki fase
ovulasi. Pada fase ini, ovarium atau indung telur akan memproduksi folikel yang
berisi sel telur. Seiring dengan pertumbuhan folikel ovarium, dinding endometrium
yang sudah meluruh akan menebal kembali untuk “menyambut” sel telur yang
diharapkan sudah dibuahi sperma.
c. Fase ovulasi
Fase ovulasi dikenal juga dengan masa subur wanita. Pada fase ini, folikel yang
diproduksi ovarium akan melepaskan sel telur untuk dibuahi. Sel telur yang telah
matang akan bergerak melalui tuba fallopi dan menuju ke rahim. Sel telur ini hanya
akan bertahan selama 24 jam. Jika tidak dibuahi sperma, sel telur akan mati.
Sementara itu, sel telur yang dibuahi sperma akan membentuk janin. Fase ovulasi
biasanya terjadi sekitar 2 minggu sebelum siklus menstruasi berikutnya dimulai.
d. Fase luteal
Setelah fase ovulasi, folikel yang telah pecah dan mengeluarkan sel telur akan
berubah membentuk struktur yang disebut korpus luteum. Korpus luteum ini akan
memicu peningkatan hormon progesteron untuk mempertebal lapisan dinding rahim.
Fase luteal dikenal juga sebagai fase pramenstruasi. Pada fase ini, wanita biasanya
akan merasakan sejumlah gejala, seperti nyeri payudara, muncul jerawat, badan
terasa lemas, dan menjadi mudah marah atau emosional. Fase luteal dapat
berlangsung selama 11–17 hari, tetapi rata-rata wanita mengalami fase ini selama 14
hari.
3. Dalam hal apa saja pengetahuan siklus estrus itu diperlukan ?
Mengetahui masa subuh wanita, kapan ovulasi, dan program kehamilan
4.3 Materi 3 Penetrasi Sperma Pada Getah Serviks
Gelah Serviks adalah Jenis sekresi vagina yang dihasilkan serviks dan dalam beberapa
cara memberikan pola kesuburannya karena menjadi lebih padat, tebal, buram dan
keputihan ketika wanita berada pada fase ovulasi. Getah serviks merupakan faktor yang
penting dalam transportasi sperma. Getah serviks berisi glukoprotein yang berdiri atas
karbohidrat dan asam amino. Pada saat sexintercouse maka terjadi peningkatan gelah
serviks, pada fern best dapat dijumpai struktur menyerupai daun pakis oleh getah serviks
yang disebabkan oleh Kadar NaCl tinggi yang didapati saat mendekati fase ovulasi dan
diperearuhi hormon estrogen.

Pada stadium proliferasi sekresi lendir serviks agak cair karena pengaruh estrogen sedangkan
pada stadium sekresi lendir serviks kental karena pengaruh progesteron. Normalnya sperma
menembus getah serviks dan bergerak dengan mudah, namun pada kondisi abnormal Sperma
tidak dapat menembus getah serviks dan menggumpal di dalam lender.

Sperma harus melewati serviks agar bisa penetrasi ke ovum. Dalam tes ini akan dilihat
motilitas spermatozoa dan kemampuan bergerak bersama semen. Semen memiliki viskositas
dan karakteristik yang kurang lebih sama dengan mukus serviks. Sampel Pada uji berupa
sperma donor yang ditambahkan ke sampel serviks Wanita. Idealnya dibutuhkan 20 Juta/ml
untuk pengujian. Kemudian sperma dlinjeksikan 2-3 ml ke objek glass dan dengan suhu
39℃, didiamkan selama 30 detik hingga sperma mengendap. kaca objek glass diletakkan
dibawah mikroskop dengan pembesaran 400x. lalu analisis penetrasi sperma pada getah
serviks dan mobilisas sperma.

a. Sangat baik: F1 25 sperma / Lpb F2 25 sperma / Lpb


b. Baik : F1 15 sperma / Lpb F2 10 sperma / Lpb
c. Buruk: F1 5 sperma / Lpb F2 0-1sperma / Lpb
d. Sangat buruk: F1 Tidak ada penetrasi sperma pada F1 & F2
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Materi 1: (Analisis Cairan Semen Manusia)
 Analisis cairan semen merupakan bagian dari penilaian fertilitas dari faktor pria.
 Banyak hal-hal yang dapat mempengaruhi kualitas dari sperma yaitu keadaan
fisik, penyakit, faktor psikologis, faktor lingkungan serta faktor-faktor lainnya.
5.2 Materi 2: (Siklus Estrus)
 Panjang siklus estrus pada tikus mencit adalah 4-5 hari
 Mekanisme tahapan siklus estrus dimulai dari diestrus, proestrus, estrus, dan
metestrus
 Pada fase estrus memperlihatkan sel-sel epitel yang menanduk
 Siklus estrus merupakan siklus reproduksi hewan mamalia nonprimata betina.
DAFTAR PUSTAKA

Barak shlomi, Baker, dkkMale Infertility. Clinical Management of Male Infertility.


Diperbarui 2016 Feb 5]. Di: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): Penerbitan StatPearls;
2022 Jan-. tersedia di internet : Clinical Management of Male Infertility - Endotext - NCBI
Bookshelf (nih.gov)

Medline Plus. https://medlineplus.gov/lab-tests/semen-analysis/ Diakses pada 20 Oktober


2022
Crowe, M. A. (2022). Reproduction, Events and Management: Estrous Cycles:
Characteristics. Encyclopedia of Dairy Sciences: Third Edition, 1, 948–953.
https://doi.org/10.1016/B978-0-12-818766-1.00079-9

Tramullas M, Collins JM, Fitzgerald P, Dinan TG, O' Mahony SM, Cryan JF. Estrous cycle
and ovariectomy-induced changes in visceral pain are microbiota-dependent. iScience. 2021
Jul 10;24(8):102850. doi: 10.1016/j.isci.2021.102850. PMID: 34381975; PMCID:
PMC8333168.

Daunter, B., & Counsilman, C. (1980). Cervical mucus: its structure and possible biological
functions. European journal of obstetrics, gynecology, and reproductive biology, 10(3), 141–
161. https://doi.org/10.1016/0028-2243(80)90056-8

Hwang K, Lamb DJ. The sperm penetration assay for the assessment of fertilization
capacity. Methods Mol Biol. 2013;927:103-111. doi:10.1007/978-1-62703-038-0_10

Thiyagarajan DK, Basit H, Jeanmonod R. Physiology, Menstrual Cycle. [Updated 2021 Oct
30]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2022
Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK500020/
WHO (2010) 'WHO Laboratory manual for the examination and processing of human semen'.
5th edn. Geneva: WHO.

Gandosoebrata R. 2016. Penuntun Laboratorium Klinik. 16th Edition. Jakarta: Dian Rakyat.
171-5p.

Putra CB, Manuaba IB. 2017. Gambaran Analisa Sperma Di Klinik Bayi Tabung Rumah
Sakit Umum Pusat Sanglah Tahun 2013. 6(5). E.Jurnal Medika. 1-5p.

Sherwood L. 2016. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. 8 th. Edition. Ong OH, Mahode
AA, Rahmadani D. Editor. Jakarta: Buku Kedokteran EGC. 782-803p

Anda mungkin juga menyukai