0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan13 halaman

Permasalahan Pembelajaran IPS di SD

Ada beberapa permasalahan IPS di sekolah dasar menurut dokumen tersebut, yaitu (1) konten yang disajikan kurang relevan dengan lingkungan siswa dan bersifat abstrak, (2) cakupan materi yang padat dan bersifat teoretis, (3) strategi dan metode pembelajaran yang monoton.

Diunggah oleh

Intan Nurhalisa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4K tayangan13 halaman

Permasalahan Pembelajaran IPS di SD

Ada beberapa permasalahan IPS di sekolah dasar menurut dokumen tersebut, yaitu (1) konten yang disajikan kurang relevan dengan lingkungan siswa dan bersifat abstrak, (2) cakupan materi yang padat dan bersifat teoretis, (3) strategi dan metode pembelajaran yang monoton.

Diunggah oleh

Intan Nurhalisa
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH

HUBUNGAN MANUSIA DAN LINKUNGAN


DOSEN PENGAMPU:

Drs. Faizal Chan, S.Pd,.M.Si

Alirmansyah, S.Pd.,M.Pd.

Disusun oleh
Kelompok 4 :

1.Intan Nurhalisa ( A1D122061 )

2.Romian perangin-angin(A1D122064)

3.Mareta alena (A1D122071)

4.Sulistia ningsih (A1D122078)

5.Cici sasmita (A1D122083)

6.Alta Dama Yanti ( A1D122088)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS JAMBI
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb

Puji syukur kami ucapkan kehadiran Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat nya lah
tugas makalah ini dapat kami selesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Makalah
yang berjudul “HUBUNGAN MANUSIA DAN LINGKUNGAN” ini dibuat dalam rangka
memenuhi tugas mata kuliah Konsep dasar ilmu pengetahuan sosial. Dalam proses penyusunan
makalah ini, tentunya kami mendapatkan bimbingan, arahan, koreksi, dan saran. Untuk itu rasa
terima kasih kami khususkan kepada Bapak Drs. Faizal Chan ,S.Pd,.M.Si dan Bapak
Alirmansyah, S.Pd.,M.Pd. yang terhormat selaku Dosen pengampu mata kuliah Konsep dasar
ilmu pengetahuan sosial. Kami juga mengucapkan Terima kasih kepada rekan rekan yang sudah
ikut serta dalam menyelesaikan makalah ini. Kami selaku penyusun menyadari bahwa sebagai
manusia biasa tidak luput dari kesalahan dan kekurangan, oleh karena itu dengan kerendahan
hati, kami meminta maaf atas segala kekurangan dan kesalahan sekaligus memohon saran dan
kritikannya. Kami berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamualaikum Wr.Wb

Muara Bulian, 7 November 2022

Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR……………………………………………………………………

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………………..

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah…………………………………………………………...…

1.2Rumusan Masalah………………………………………………………………...…

1.3Tujuan……………………………………………………………………………..…

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Permasalahan IPS di sekolah dasar ……………………………………

2.2. Mengemukakan permasalahan ips disekolah dasar ………………………….

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan……………………………………………………………………….

3.1 Saran……………………………………………………………………………...

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pelajaran IPS perlu ditanamkan sejak dini pada anak. Penanaman nilai sosial pada siswa tersebut
sebagai suatu konsep yang sangat urgen, karena konsep IPS mengkaji tentang bagaimana sikap sosial,
hubungan sosial dan perilaku sosial yang harus dilakukan siswa dalam kehidupannya. Pada pembelajaran
IPS itu diperlukan perangkat pembelajaran dan unsur pembelajaran, misalnya unsur guru, tujuan, materi
dan sarana juga metode yang bukan merupakan suatu tugas mudah untuk dapat mentransformasikan nilai-
nilai IPS pada siswa. Semua unsur yang ada harus dikemas dan ditata secara lengkap agar proses
pembelajaran lebih berkualitas dan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Proses pembelajaran dapat
dikatakan berkualitas jika dalam prosesnya terbentuk interaksi aktif antara siswa dengan siswa dan siswa
dengan guru. Kondisi ini peran guru merupakan ujung tombak dalam mengubah perilaku siswa menuju
taraf perkembangan dan perubahan sikap perilaku, maka diperlukan ketrampilan dan professional guru
dalam mengkondisikan serta menerapkan manajemen pendidikan yang tepat. Salah satu upaya tersebut
dapat terwujud apabila guru lebih ionovatif dalam menerapkan strategi pembelajaran, serta mampu
membawa menyesuaikan penerapan metode, serta aplikasinya dengan penggunaan media pembelajaran
yang harus dipersiapkan secara matang oleh guru.

1.2. Rumusan Masalah


1. permasalahan ips di sekolah dasar

2. hal hal yang harus menjadi perhatian dalam sudut pandang pendidik dalam penyelenggaraan
pembelajaran ips

3. mengemukakan permasalahan ips disekolah dasar

1.3. Tujuan

1. untuk mengetahui bagaimana permasalahan ips disekolah dasarr

2. untuk mengetahui hal hal yang harus menjadi perhatian dalam sudut pandang pendidik dalam
penyelenggaraan pembelajaran ips
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Permasalahan IPS di sekolah dasar
A. permasalan ips di sekolah dasar ;

1. Konten yang tersaji belum relevan dengan lingkungan keseharian anak/bersifat abstrak

Konten cenderung mengulas materi yang ada kaitannya dengan informasi terkait di luar
keseharian anak. Artinya anak belajar tentang seluk beluk daerah lain misalnya belajar tentang
peta, lingkungan alam, sumber daya alam, kegiatan ekonomi, sementara materi yang tersaji
bukan materi yang ada relevansinya dengan daerah/lingkungan realnya. Anak diharapkan belajar
bermakna. Namun dengan hal ini tidak menjadikan pembelajaran bermakna.

2. Cakupan bahan IPS tergolong padat, banyak dan bersifat konseptual/teoretis

Materi yang demikian menuntut atau menuntut anak untuk menghafal materi pelajaran
yang begitu banyak. Kita tau bahwa kegemaran anak tidak ada yang sama, ada yang senang
belajar hafalan, hitungan, berlajar yang berhubungan dengan kegiatan praktek dan lain-lain. Ini
salah satu masalah yang mempengaruhi keantusiasan anak menerima materi. Apa lagi dalam
kelas dimainkan oleh anak-anak yang kurang suka belajar yang menuntut hafalan.

3. Konten IPS cenderung mengendapkan aspek kognitif dibandingkan aspek afektif

Materi IPS cenderung belum mempertimbangkan konten berbasis nilai-nilai atau sikap
pembelajaran. Padahal sangat jelas bahwa IPS salah satu pembelajaran yang mendidik anak
untuk menjadi warga negara yang demokratis mungkin. Kelak ketika berada di tengah-tengah
masyarakat anak mampu bergaul dengan baik, mampu memecahkan masalah-masalah sosial
yang dihadapi dalam kehidupannya dan anak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan
dimanapun anak tinggal.

4. IPS sering kali dipandang sebagai salah satu mata pelajaran yang tidak begitu penting

Pemahaman saya pribadi bahwa pembelajaran IPS tidak menjadi mata pelajaran yang di
UAN kan. IPS masuk kategori ujian sekolah (UAS) yang diadakan setelah ujian utama (UAN).
Berbeda dengan mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia dan IPA menjadi perioritas
utama. Secara tidak langsung sedikit banyak akan mempengaruhi adanya motivasi guru yang
lebih untuk merencanakan strategi pembelajaran IPS itu sendiri. Hingga akhirnya siswa yang
dibelajarkan tanpa perencanaan yang baik dan hasil maksimal juga kurang optimal.

5. Penggunaan strategi dan metode pembelajaran yang monoton

Guru cenderung masih membelajarkan IPS dengan menerapkan model pembelajaran


konvensional (strategi dan metode monoton). Strategi yang dimaksud yakni strategi
pembelajaran langsung dan metode ceramah. Menyampaikan materi sebatas apa yang tertera
dibuku paket. Ketika anak diperhadapkan metode ini dengan bahan yang harus dihafalkan jelas
menjenuhkan bagi anak. Jenuh bukan berarti tidak bisa menghafal tapi sulit karena materi lewat
sekilas dan apalagi sesuatu hal yang dipelajari bukan yang ada relevansinya dengan lingkungan
mereka.

B. Keterbatasan guru dalam melakukan pembaharuan dari penggunaan strategi maupun


metode pembelajaran IPS

Ini kaitannya dengan faktor penggunaan strategi maupun metode di atas yang terbiasa
menerapkan guru dalam proses pembelajaran di kelas. Asumsi saya bahwa ini tidak sulit
dilakukan hanya perlu waktu untuk merubah pola pembelajaran yang sudah terbentuk sejak
bertahun-tahun. Disamping itu pemahaman guru masih minim tentang bagaimana
mengembangkan strategi atau metode pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat dan
motivasi belajar anak lebih antusias.

1. Penyampaian materi pelajaran yang tidak dikaitkan dengan lingkungan anak sebenarnya

Dalam konteks ini diharapkan sekiranya guru perlu mengembangkan materi pelajaran
sesuai dengan lingkungan keseharian anak. Tidak bisa hanya berpatokan dengan paket buku.
Sehingga materi yang disampaikan tidak hanya yang ada di luar lingkungan anak tetapi
melibatkan lingkungan kehidupan sehari-hari mereka. Bahkan masih ada guru yang menerapkan
sistem mencatat materi sampai habis.

2. Kurangnya penggunaan media pembelajaran yang menarik


Tidak semua sekolah memiliki kelengkapan sarana (media) belajar. Ini membutuhkan
peran guru bagaimana bisa menghadirkan media pembelajaran bagi anak. Tidak perlu mahal
namun bisa menjembatani anak mudah menerima materi dan tertarik dalam proses
pembelajaran. Dan tidak harus mengharapkan ketersediaan sarana atau fasilitas yang
disediakan sekolah sepanjang masih bisa dijangkau untuk diadakan. Media pembelajaran
menjadi pendukung dalam menentukan ketercapaian pembelajaran.

3. Kurangnya jam pembelajaran IPS

Jam belajar IPS Sekolah Dasar terhitung 3 Jam pelajaran (3 x 35 menit). Ini dianggap
masih kurang jika dibandingkan dengan kepadatan material yang harus dibelajarkan dalam
batasan waktu yang telah ditetapkan. Bilamana kita menggunakan metode pembelajaran yang
menggiring siswa untuk terlibat aktif tentu saja dengan durasi 3 jam pelajaran ini masih
dipandang kurang. Jadi masalah ini kembali bagaimana usaha guru memperbarui pembelajaran
dengan baik.

4. Keterbatasan buku-buku yang relevan

Buku ketersedian sangat berdampak bagaimana anak bisa belajar mandiri. Sarana yang
tersedia pada setiap sekolah tidak sama. Jangankan belajar mandiri belajar di kelas saja harus
berkelompok. Karena buku yang ada sangat terbatas. Apalagi mengharapkan buku-buku yang
relevan dan anak-anak yang kurang beruntung belum tentu bisa fotokopi atau membeli di toko
buku.

5. Proses perencanaan guru dalam memberikan tugas-tugas ke siswa kurang optimal

Menyusun tugas-tugas untuk dikerjakan oleh anak di kelas harus melalui perencanaan yang
matang. Cenderung tidak maksimal jika memberikan tugas secara tiba-tiba dan mengikuti mood
guru. Karena ini akan menyangkut ketepatan tindakan evaluasi yang diberikan.

6. Kurangnya guru di Sekolah Dasar

Guru Sekolah Dasar identik dengan guru kelas dan masih ditemukan kekurangan guru
dalam satu sekolahan. Sehingga tidak heran masih banyak guru honorer yang membantu.
Kemudian tidak semua guru/wali kelas mampu melarang IPS sekalipun di Sekolah Dasar.
Mereka mengatakan bahwa tidak bisa mengajar IPS..Istilahnya kurang nyambung. Sama halnya
dengan mata pelajaran lain seperti Matematika dan seterusnya. Utamanya di kelas tinggi.
Kurangnya guru maka menjadi masalah dalam pembelajaran IPS. Guru/wali kelas PNS di
sekolah yang bersangkutan mau tidak mau tetap melarang IPS namun cenderung sebatas
menjalankan rutinitas/tugas sehari-hari.

Beragam masalah di atas dapat berdampak pada rendahnya motivasi anak untuk belajar IPS.
Anak jenuh, bosan dan rasa cemas saat belajar IPS sering dilakukan oleh guru-guru. Inilah fakta
yang memang masih terjadi hingga saat ini.

2.2. Mengemukakan permasalahan IPS di sekolah dasar


Berdasarkan hasil beberapa penelitian tentang pembelajaran IPS di SD, selama ini mata
pelajaran IPS dianggap sebagai mata pelajaran yang kurang penting dan dianggap sebagai mata
pelajaran nomor dua. Banyak pandangan menganggap mata pelajaran IPS kurang menarik atau
membosankan. Pembelajaran IPS dinilai monoton karena hanya mengedepankan hafalan materi
dan siswa tidak diberi kesempatan untuk menjelajah dan mengetahui contoh konkrit dari
pembelajaran IPS. Berdasarkan penelitian Aziz (2004), tentang penerapan pembelajaran IPS di
kelas ditemukan bahwa penyebab kurang aktifnya peserta didik dalam pembelajaran IPS
disebabkan anatara lain; (1)selama ini dalam guru mengajarkan dengan memberi contoh soan
dan menyelesaikannya secara langsung, serta tidak memberi kesempatan peserta didik
menunjukkan idenya sendiri; (2) pola pengajaran selama ini masih dengan tahapan memberikan
informasi tentang materi-materi (termasuk memotivasi secara informarif), memberikan contoh-
contoh dan berikutnya latihan-latihan; dan (3) dalam merencanakan penyelesaian masalah tidak
diajarkan strategi-strategi yang bervariasi atau yang mendororng ketrampilan berpikir kreatif
seperti membuat pertanyaan sendiri untuk kemudian menemukan jawabannya.

Untuk meningkatkan minat serta motivasi peserta didik dalam pembelajaran IPS di SD,
ada berbagai hal yang seyogyanya dipersiapkan oleh pendidik. Dunia pendidikan dewasa ini
telah memasuki era dimana perubahan mendasar berbagai pandangan tentang pendidikan muncul
dan menjamur serta disambut dengan penemuan berbagai gagasan, strategi, metode, pendekatan,
model, media, dan sarana lainnya yang memudahkan pendidik dalam merealisasikan tujuan
pendidikan.

Pembelajaran IPS di SD yang selama ini dianggap membosankan, kurang menarik dan
memotivasi peserta didik, lebih banyak dikarenakan guru pada umumnya masih menerapkan
model pendidikan lama yang masih bersifat teacher center. Sedangkan tuntutan model
pendidikan baru adalah agar proses pembelajaran lebih menekankan ketertiban peserta didik
secara penuh, aktif dan mandiri atau bersifat student center.
Hal-hal yang harus menjadi perhatian dalam sudut pandang pendidik dalam penyelenggaraan
pembelajaran dikelas terutama pembelajaran IPS adalah guru hendaknya mampu :

1. Perlunya Perubahan Mendasar Dalam Implementasi Pembelajaran IPS di Kelas

Agar peserta didik terlibat secara aktif dalam pembelajaran, hendaknya guru menguasai
berbagai strategi, model, metode maupun media terbaru yang relevan dengan kondisi di kelas.
Dengan penerapan berbagai gagasan baru tersebut, diharapkan aktivitas belajar peserta didik
akan meningkat. Terutama dalam pembelajaran IPS di SD.

Peserta didik akan memperoleh lebih banyak dari hasil proses pembelajaran apabila belajar
dilakukan dengan proses yang kreatif dan menyenangkan. Hal ini tidak terjadi apabila
pembelajaran masih menggunakan pandangan lama, yaitu pembelajaran yang dilakukan melalui
jadwal yang ketat dan penuh disiplin.

Dalam proses belajar aktif, peserta didik diharapkan mampu memilih strategi dan sumber belajar
yang tepat berdasarkan kesadarannya akan perkembangan belajarnya. Akan tetapi dalam proses
mengelola proses belajar itu, sebagai seorang yang belum berpengalaman, peserta didik
membutuhkan dukungan atau bantuan dari orang yang lebih dewasa atau lebih berpengalaman
agar proses belajar peserta didik lebih terarah. Segala upaya dan cara untuk membantu peserta
didik meningkatkan kemampuan perkembangan belajarnya inilah yang disebut sebagai
scaffolding.

2. Menerapkan Pembelajaran Konstruktivis dengan Pendekatan Kontekstual

Pandangan konstruktivisme berpendapat bahwa, pada dasarnya belajar dilakukan melalui


konstruksimpeserta didik terhadap pengalaman belajar. Informasi yang diperoleh dalam proses
belajar dikonstruksi oleh masing-masing peserta didik dengan dikaitkan kembali dengan
pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya. Jadi implikasinya adalah, bahwa
dalam proses pembelajaran, hendaknya pengalaman atau informasi baru disampaikan dengan
mengaitkan berbagai hal yang sudah familiar dalam kehidupan sehari-hari peserta didik, atau
menjalinkannya dengan pengalaman hidup sehari-hari. Pendekatan ini disebut pembelajaran
kontekstual.

Belajar adalah tentang bagaimana mengkonstruksi pengetahuan. Belajar bukan hanya


sekedar tentang mendapatkan dan mengorganisasikan informasi, tetapi lenih bagaimana
informasi itu bisa lebih bermakna bagi peserta didik. Implikasinya bahwa dalam pembelajaran,
peserta didkklah yang seharusnya lebih aktif mengkonstruksi pengetahuan yang mereka dapatkan
sendiri. Guru dalam hal ini hanya sekedar mendampingi untuk mengarahkan dan memfasilitasi
peserta didik dalam proses menemukan dan mengolah informasi dari proses pembelajaran.
Proses belajar harus menyenangkan dan kreatif serta dikontekstualisasikan dengan kehidupan
peserta didik sehari-harinya (Joyce, 2002).

3. Terlibat Secara Emosional

Perilaku guru dalam membangun interaksi dengan peserta didik juga menentukan
keaktifan peserta didik di kelas. Peserta didik adalah makhluk sosial, oleh karenanya secara
otomatis akan merespon interaksi berdasarkan implus emosional yang diberikan. Meskipun
strategi dan model pembelajaran yang sama, namun apabila dibawakan oleh guru yang berbeda,
maka akan membawa hasil yang berbeda pula.

Pendidik harus memberikan kepercayaannya kepada peserta didik agar mereka juga
memberikan kepercayaan kepada pendidik untuk membimbing proses belajar mengajar mereka.
Dalam prinsip Quantum Teaching hal ini disebut sebagai jembatan keledai atau mnemonic (De
Porter, 2002). “masukkan dunia peserta didik ke dunia anda dan antarkan dunia anda ke dunia
peserta didik”. Dengan memegang prinsip tersebut, berarti pendidik hendaknya membangun
komunikasi emosional yang erat dengan peserta didik.

Prinsip pembelajaran Quantum Teaching yang berdasar keterlibatan secara emosional ini,
dapat dilakukan dengan cara merancang seting pembelajaran yang disesuaikan dengan dunia
peserta didik sebagai dunia anak-anak dan dunia remaja. Guru hendaknya dapat menunjukkan
sikap yang tulus untuk membantu peserta didik. Prinsip pembelajaran ini, guru dituntut untuk
memiliki kecerdasan kognitif (IQ) yang bagus untuk mengelola pembelajaran dan kecerdasan
emosional (EQ) yang bagus untuk memahami karakter peserta didik sehingga mampu
menciptakan sikap yang tepat dalam proses belajar mengajar.

4. Melibatkan Peserta Didik Dalam Semua Proses dan Aktivitas

Dengan keterlibatan peserta didik secara penuh dalam semua proses pembelajaran, pada
gilirannya akan semakin meningkatkan perasaan harga diri peserta didik (Self-efficacy). Melalui
keyakinan seseorang yang kuat akan kemampuannya untuk mengerjakan tugas-tugas dalam
proses belajar mengajar, memungkinkan untuk memberikan dorongan yang lebih kepada
seseorang dalam pencapaian hasil belajar lebih maksimal. Self-efficacy akan semakin
meningkatkan minat, motivasi dan keaktifan seseorang dalam proses pembelajaran.

5. Melibatkan Semua Modalitas


Peserta didik pasti memiliki latar belakang psikologis, mental, religiusitas dan latar belakang
sosial yang berbeda-beda. Dalam proses belajar mengajar peserta didik memiliki Modalitas
Belajar masing-masing yang berbeda, yaitu modalitas Visual, Auditorial, dan Kinestetik.

Modalitas visual adalah kecerendungan dimana peserta didik lebih mudah memahami
pengalaman baru melalui bentuk visual, gambar, video, lanskap, bagan, dan sebagainya.
Modalitas auditorial adalah kecerendungan dimana peserta didik lebih mudah memahami
pengalaman belajar melalui proses mendengarkan, baik ceramah, music maupun diskusi.
Sedangkan modalitas kinestetik yaitu kecerendungan dimana peserta didik lebih mudah belajar
melalui rangsangan gerak tubuh. Untuk merangsang minat, motivasi, dan keaktifan belajar
peserta didk, maka proses pembelajaran hendaknya melibatkan semua aspek modalitas.

6. Membelajarkan Bagaimana Cara Belajar

Guru hendaknya bukan hanya mengajarkan tentang materi pembelajaran, akan tetapi juga
dapat membelajarkan bagaimana cara belajar. Peserta didik dilatih untuk memiliki keterampilan
belajar seperti bagaimana cara mencatat dan membaca buku yang efektif, bagaimana mengelola
informasi, bagaimana membuat peta konsep, bagan, rancangan dan menulis laporan yang baik,
bagaimana cara mencari dan memanfaatkan sumber belajar di sekitar lingkungan peserta didik
dan sebagainya.

7. Menggunakan Assesment yang Autentik Pada Semua Aspek

Tujuan pendidikan adalah dapat mencetak generasi yang memiliki pengetahuan yang bagus,
mengembangkan sikap dan karakter peserta didik serta keterampilan sosial yang bagus, untuk
membentuk jati diri sebagai manusia Indonesia.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka dalam pembelajaran hendaknya memperhatikan


proses kognitif, perkembangan sikap, karakter, dan pencapaian keterampilan sosial. Oleh karena
itu, dalam proses belajar mengajar, assessment yang digunakan mampu menggambarkan
perkembangan tiga ranah sekaligus, baik Kognitif, Afektif, maupun Psikomotor. Assesment yang
digunakan dengan melihat ketiga ranah ini disebut assessment autentik.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan di atas, diketahui bahwa permasalahan dalampembelajaran IPS sungguh


sangat komplek. Dimulai dengan paradigma lama yang masih terus berkembang, budaya belajar yang
verbalisitk, metode ramah dan strategi ekspositori dan pembelajaran yang berpusat pada guru dan buku
pakat, sehingga siswa akan cepat mudah bosan, karena suasana pembelajaran sangatlah monoton.
Pemberian perhatian dan moti- vasi harus tetap dilakukan bagi siswa dan strategi pembelajaran yang
menyenang- kan serta mengaktifkan siswa harus terus dapat divariasikan salah satunya seperti strategi
Critical Incident.

3.2 Saran

1. Bagi Siswa

a. Dalam belajar sebaiknya siswa lebih fokus dan disiplin agar terciptanya suasana belajar yang
nyaman dan kondusif sehingga materi yang disampaiakan oleh guru dapat terserap dengan baik.

b. Dalam pembelajaran berkelompok siswa sebaiknya memiliki sikap saling menghargai, percaya
dan dapat bekerja sama dengan teman satu sama lain.

2. Bagi Guru

a. Menerapkan pembelajaran konvensional di kelas tidaklah buruk. Namun sebaiknya


pembelajaran konvensional dilakukan dengan menggunakan media gambar karena sangat membantu
untuk mengoptimalkan pembelajaran.

b. Untuk dapat meningkatkan kecerdasan emosional melalui pembelajaran konvensional, guru


harus memiliki kemampuan komunikasi antarpribadi yang baik sehingga dapat membangun kedekatan
secara emosional dengan siswa. Kedekatan emosional tersebut diwujudkan dengan menjalin komunikasi
terbuka kepada siswa yaitu dengan penggunaan tanya-jawab yang dapat menggiring siswa
mengidentifikasi perasaan, pikiran, dan perbuatannya.
DAFTAR PUSTAKA
https://www.dinelyku.com/2019/02/kumpulan-masalah-dalam-
pembelajaran-ips.html

http://yunitaarsha.blogspot.com/2017/09/problematika-dalam-pembelajaran-ips-sd.html?
m=1

http://repository.upi.edu/20670/7/s_pgsd_kelas_1203325_chapter5.pdf

Anda mungkin juga menyukai