LAPORAN PENDAHULUAN
PADA NY. T DENGAN LAMINEKTOMI DI RS ORTHOPEDI PROF. DR. R
SOEHARSO SURAKARTA
DISUSUN OLEH :
ESYA OKTA BIAS PARADISE
P27220020065
PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN
POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA
2022
KONSEP TEORI
A. Pengertian
Cedera tulang belakang merupakan salah satu masalah kesehatan yang
paling berat yang dapat mengakibatkan kecatatan permanen hingga kematian.
Penanganan yang cepat dan tepat perlu diberikan pada kasus cedera tulang
belakang, salah satunya pembedahan. Laminektomi merupakan pembedahan yang
berupa eksisi cabang posterior dan prosesus spinous vertebra (Muthmainnah,
2017).
Laminektomi merupakan tindakan dekompresi bedah yang dilakukan pada
penjempitan tulang belakang atau lumbar spinal stenosis. Laminektomi adalah
prosedur pembedahan untuk membebaskan tekanan pada tulang belakang atau
akar saraf tulang belakang yang disebabkan oleh stenosis tulang belakang.
Stenosis tulang belakang adalah penyempitan kanal tulang belakang yang
menekan pada urat tulang belakang yang berisi saraf (Estefan et al., 2022).
Laminektomi adalah salah satu prosedur yang paling umum untuk
dekompresi kanal tulang belakang dalam kasus penyempitan sekunder untuk
berbagai kondisi seperti stenosis degeneratif, fraktur, tumor tulang belakang
primer dan sekunder, abses, dan deformitas. Prosesus spinosus dan lamina
diangkat secara lateral terbatas pada bagian medial sendi facet. Kanal sentral,
relung lateral, dan foramen saraf harus didekompresi untuk pemulihan klinis yang
baik dan pencegahan sindrom operasi punggung yang gagal. Kegiatan ini
menjelaskan teknik laminektomi, menyoroti peran tim interprofessional dalam
mengevaluasi dan meningkatkan perawatan untuk pasien yang menjalani operasi
dekompresi tulang belakang posterior ini(Hartuti, Isnaini Rahmawati, 2019)
Laminektomi adalah prosedur pembedahan untuk menghilangkan tekanan
pada saraf tulang belakang. Degenerasi, atau keausan, di anggota tulang belakang
dapat mempersempit kanal tulang belakang. Hal ini menaruh tekanan pada saraf
kanal. laminektomi yaitu dengan membuang seluruh lamina sehingga akan
meningkatkan instabilitas paska operasi (Muthmainnah, 2017).
B. Etiologi
Trauma merupakan kondisi dimana seseorang mengalami cedera karena
suatu sebab. Salah satu penyebab tersering adalah kecelakaan lalu lintas dan
terjatuh. Pada kasus jatuh, tergelincir dilantai hingga jatuh dari ketinggian lebih
sering terjadi yang dapat mengakibatkan fraktur femur, fraktur pelvis, cedera
kepala dan cedera tulang belakang (Muthmainnah, 2017).
Penyebab fraktur menurut Jitowiyono dan Kristiyanasari (2010) dapat
dibedakan menjadi:
1. Cedera traumatik
Cedera traumatik pada tulang dapat disebabkan oleh cedera langsung adalah
pukulan langsung terhadap tulang sehingga tulang patah secara spontan dan
cedera tidak langsung adalah pukulan langsung berada jauh dari lokasi
benturan, misalnya jatuh dengan tangan berjulur sehingga menyebabkan
fraktur klavikula.
2. Fraktur patologik
Kerusakan tulang akibat proses penyakit menurut (Sachdeva, 2000 dalam
kutipan Kristiyanasari 2012 : 16) yaitu :
- Tumor tulang adalah pertumbuhan jaringan baru yang tidak terkendali.
- Infeksi seperti ostemielitis dapat terjadi sebagai akibat infeksi akut atau dapat
timbul salah satu proses yang progresif.
- Rakhitis adalah suatu penyakit tulang yang disebabkan oleh defisiensi
vitamin D
- Sress tulang seperti pada penyakit polio dan orang yang bertugas di
kemiliteran.
C. Manifestasi Klinis
secara klinis pasien mengeluh nyeri pinggang bawah dan sangat hebat, mendadak
sebelah gerakan fleksi dan adanya spasme otot para vertebrata. Terdapat nyeri
tekan yang jelas pada tingkat prolapsus diskus bila dipalpasi. Terdapat nyeri pada
daerah cedera, hilang mobilitas sebagian atau total atau hilang sensasi di sebelah
bawah dari tempat cedera dan adanya pembengkakan, memar disekitar fraktur
jauh lebih mendukung bila ada deformitas (gibbs) dapat berupa angulasi
(perlengkungan). Berubahnya kesegarisan atau tonjolan abnormalitas dari
prosesus spinalis dapat menyarankan adanya lesi tersembunyi. Lesi radiks dapat
ditandai dengan adanya deficit sensorik dan motorik segmental dalam distribusi
saraf tepi, perlu diperiksa keadaan neurologist serta kemampuan miksi dan
defekasi seperti adanya inkontinensia uri et alvi paresthesia. Selama 24 jam
pertama setelh trauma, suatu lesi partikel dari medulla spinalis dimanifestasikan
paling sedikit dengan masih berfungsinya daerah sacral sensori perianal dan suatu
aktifitas motorik volunteer fleksor kaki.
D. Patofisiologi
Cedera medulla spinalis paling sering terjadi karena trauma/cedera pada vertebra.
Adanyakompresi tulang menyebabkan diskontinuitas jaringan tulang dan atau
tulang rawanlumbal serta dapat merusak system saraf otonom (saraf
parasimpatis). Pada area kornulateralis medulla spinalis bagian sacral yang erat
kaitannya dengan status miksi dandefekasi. Kompresi juga dapat merusak fleksus
saraf utama terutama F. lumbalis yangtergabung dalam fleksus lumbosakralis
yang berpengaruh pada persarafan ekstrimitas bawah. Dapat dijelaskan secara
terinci:
a. Saraf lumbal I dan II membentuk nervus genitor femoralis yang mensyarafi
kulit daerah genetalia dan paha atas bagian medial.
b. Saraf lumbal II - IV bagian dorsal membentuk nervus femoralis mensarafi
muskulusquadriceps femoralis lateralis yang mensyarafi kulit paha lateralis.
c. Saraf lumbal IV-sacral III bagian ventral membentuk Nervus tibialis.
d. Saraf lumbal IV-sacral II bagian dorsal bersatu menjadi Nervus perokus atau
fibula komunis(Güler & Özalay, 2017)
E. PATHWAY
F. Pemeriksaan Penunjang
Peralatan radiologi yang diperlukan dalam pemeriksaan meliputi(Estefan et al.,
2022):
1. CT-scan : untuk stenosis sentral meliputi diameter anteroposterior (<10 mm)
dan luas penampang (<70 mm2) kanal tulang belakang.[10]
2. MRI –Modalitas pencitraan standar emas
3. Film fleksi (Dynamic flexion) / ekstensi dinamis- untuk mengesampingkan
ketidakstabilan dan spondylolisthesis
4. EMG- untuk membedakan neuropati distal
5. rontgen - osteoartritis yang mengacaukan pinggul dan lutut
G. Penatalaksanaan
Laminektomi dilakukan dengan pasien dalam posisi tengkurap pada
bingkai penopang dengan bantalan busa untuk puting dan ASIS (tulang belakang
krista iliaka anterior superior), membiarkan perut bebas, menghindari tekanan
perut, menurunkan tekanan vena epidural dan, oleh karena itu, perdarahan di
tempat pembedahan. Lengan diposisikan 90 derajat abduksi dan fleksi untuk
mencegah cedera saraf aksilaris. Laminektomi dapat dilakukan melalui
pendekatan terbuka tradisional atau dengan teknik invasif minimal(Estefan et al.,
2022).
Pendekatan terbuka tradisional memerlukan insisi garis tengah posterior
(panjang 3 sampai 4 cm untuk satu tingkat) dan diseksi subperiosteal sepanjang
prosesus spinosus untuk melepaskan dan menarik kembali otot-otot paraspinosa
dari prosesus spinosus secara medial ke batas laminar lateral untuk menghindari
kerusakan pada sendi facet. Prosesus spinosus dapat direseksi bersama dengan
lamina dorsal untuk mengekspos ligamentum flavum dengan rongeur pemotongan
tulang atau burr, reseksi ligamentum flavum dimungkinkan dengan elevator dan
spatula Woodson, dan facetektomi medial dapat dilakukan untuk dekompresi
reses lateral. Regio foraminal dapat dicapai dengan rongeur Kerrison.
Penggunaan ujung bola atau probe miring membantu menilai ukuran foraminal.
Perhatian besar diperlukan untuk menghindari kerusakan pada pars interarticularis
dan lebih dari 50% sendi facet untuk mengurangi risiko ketidakstabilan. Prosedur
dekompresi biasanya selesai setelah konfirmasi kantung dural, keluar, dan akar
saraf turun(Estefan et al., 2022).
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Anamnesa
a) Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan darah, no.
register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b) Identitas penanggung jawab
Identitas penanggung jawab baik ayah, ibu, suami, istri, atau pun anak yang
meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, agama,
hubungan dengan klien dan alamat. (Rohmah,2010)
c) Keluhan Utama
Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri. Untuk
memperoleh pengkajian yang lengkap tentang rasa nyeri klien digunakan:
- Provoking Incident (P): apakah ada peristiwa yang menjadi yang menjadi
faktor presipitasi nyeri.
- Quality of Pain (Q): seperti apa rasa nyeri yang dirasakan atau
digambarkan klien. Apakah seperti terbakar, berdenyut, atau menusuk.
- Region (R): radiation, relief: apakah rasa sakit bisa reda, apakah rasa sakit
menjalar atau menyebar, dan dimana rasa sakit terjadi.
- Severity / Scale of Pain (S): seberapa jauh rasa nyeri yang dirasakan klien,
bisa berdasarkan skala nyeri atau klien menerangkan seberapa jauh rasa
sakit mempengaruhi kemampuan fungsinya.
- Time (T): berapa lama nyeri berlangsung, kapan, apakah bertambah buruk
pada malam hari atau siang hari.
d) Riwayat Penyakit Sekarang
Pengumpulan data yang dilakukan untuk menentukan sebab dari fraktur,
bisa berupa kronologi terjadinya penyakit tersebut sehingga nantinya bisa
ditentukan kekuatan yang terjadi dan bagian tubuh mana yang terkena.
e) Riwayat Penyakit Dahulu
Pada pengkajian ini ditemukan kemungkinan penyebab fraktur dan memberi
petunjuk berapa lama tulang tersebut akan menyambung.
f) Riwayat Penyakit Keluarga
Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang merupakan
salah satu faktor predisposisi terjadinya fraktur, seperti diabetes,
osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker tulang
yang cenderung diturunkan secara genetik.
g) Riwayat Psikososial
Merupakan respons emosi klien terhadap penyakit yang dideritanya dan
peran klien dalam keluarga dan masyarakat serta respon atau pengaruhnya
dalam kehidupan sehari-harinya baik dalam keluarga ataupun dalam
masyarakat.
h) Pola-Pola Fungsi Kesehatan
Disini dikaji pola aktivitas klien di rumah (sebelum sakit) dan selama di RS.
Pengkajian pola aktivitas ini meliputi pola nutrisi, eliminasi, istirahat tidur,
personal hygiene dan aktivitas (Rohmah, 2010).
- Pola Persepsi dan Tata Laksana Hidup Sehat
Meliputi kebiasaan hidup klien seperti penggunaan obat steroid yang
dapat mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol dan
apakah klien melakukan olahraga atau tidak.
- Pola Nutrisi dan Metabolisme
Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu menentukan
penyebab masalah muskuloskeletal dan mengantisipasi komplikasi
- Pola Eliminasi
Meliputi frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi
alvi. Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya,
warna, bau, dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan
atau tidak.
- Pola Tidur dan Istirahat
Semua klien fraktur timbul rasa nyeri, keterbatasan gerak, sehingga hal
ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien.
- Pola Aktivitas
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan
klien menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh
orang lain.
- Pola Hubungan dan Peran
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat.
Karena klien harus menjalani rawat inap.
- Pola Persepsi dan Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien fraktur yaitu rasa cemas, rasa
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal, dan
pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan body image)
- Pola Sensori dan Kognitif
Pada klien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada bagian fraktur,
sedang pada indera yang lain tidak timbul gangguan.begitu juga pada
kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri
akibat fraktur
- Pola Reproduksi Seksual
Dampak pada klien fraktur yaitu, klien tidak bisa melakukan hubungan
seksual karena harus menjalani rawat inap dan keterbatasan gerak serta
rasa nyeri yang dialami klien.
- Pola Penanggulangan Stress
Pada klien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya, yaitu
ketidakutan timbul kecacatan pada diri dan fungsi tubuhnya. Mekanisme
koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
- Pola Tata Nilai dan Keyakinan
Untuk klien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah
dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi.
2. Pemeriksaan Fisik
a. Gambaran Umum
Keadaan umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-tanda,
seperti:
- Kesadaran penderita: apatis, sopor, koma, gelisah, komposmentis
tergantung pada keadaan klien.
- Kesakitan, keadaan penyakit: akut, kronik, ringan, sedang, berat dan pada
kasusfraktur biasanya akut.
- Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik fungsi maupun
bentuk.
- Secara sistemik dari kepala sampai kelamin seperti:
1) Sistem Integumen: Terdapat erytema, suhu sekitar daerah trauma
meningkat, bengkak, oedema, nyeri tekan.
2) Kepala: Tidak ada gangguan yaitu, normo cephalik, simetris, tidak
ada penonjolan, tidak ada nyeri kepala.
3) Leher: Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan,
reflek menelan ada.
4) Muka: Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan
fungsi maupun bentuk. Tak ada lesi, simetris, tak oedema.
5) Mata: Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis (karena
tidak terjadi perdarahan)
6) Telinga: Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak
ada lesi atau nyeri tekan.
7) Hidung: Tidak ada deformitas, tak ada pernafasan cuping hidung.
8) Mulut dan Faring: Tak ada pembesaran tonsil, gusi tidak terjadi
perdarahan, mukosa mulut tidak pucat.
9) Thoraks: Tak ada pergerakan otot intercostae, gerakan dada simetris.
10) Paru
- Inspeksi: Pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya tergantung
pada riwayat penyakit klien yang berhubungan dengan paru.
- Palpasi: Pergerakan sama atau simetris, fermitus raba sama.
- Auskultasi: Suara nafas normal, tak ada wheezing, atau suara
tambahan lainnya seperti stridor dan ronchi.
11) Jantung
- Inspeksi: Tidak tampak iktus jantung.
- Palpasi: Nadi meningkat, iktus tidak teraba.
- Auskultasi: Suara S1 dan S2 tunggal, tak ada mur-mur.
12) Abdomen
- Inspeksi: Bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.
- Palpasi: Tugor baik, tidak ada defands muskuler, hepar tidak
teraba.
- Perkusi: Suara thympani, ada pantulan gelombang cairan.
- Auskultasi: Peristaltik usus normal 20 kali/menit.
13) Inguinal-Genetalia-Anus: Tak ada hernia, tak ada pembesaran
lymphe, tak ada kesulitan BAB.
b. Keadaan Lokal
Harus diperhitungkan keadaan proksimal serta bagian distal terutama
mengenai status neurovaskuler. Pemeriksaan pada sistem muskuloskeletal
adalah:
1) Look (inspeksi) yaitu perhatikan apa yang dapat dilihat, antara lain:
- Cictriks (jaringan parut baik yang alami maupun buatan seperti bekas
operasi).
- Cape au lait spot (birth mark).
- Fistulae.
- Warna kemerahan atau kebiruan (livide) atau hyperpigmentasi.
- Benjolan, pembengkakan, atau cekungan dengan hal-hal yang tidak
biasa (abnormal).
- Posisi dan bentuk dari ekstrimitas (deformitas)
- Posisi jalan (gait, waktu masuk ke kamar periksa)
2) Feel (palpasi)
Pada waktu akan palpasi, terlebih dahulu posisi penderita diperbaiki
mulai dari posisi netral (posisi anatomi). Yang perlu dicatat adalah:
- Perubahan suhu disekitar trauma (hangat) dan kelembaban kulit.
- Apabila ada pembengkakan, apakah terdapat fluktuasi atau oedema
terutama disekitar persendian.
- Nyeri tekan (tenderness), krepitasi, catat letak kelainan (1/3
)proksimal,tengah, atau distal).
- Otot: tonus pada waktu relaksasi atau konttraksi, benjolan yang
terdapat di permukaan atau melekat pada tulang. Selain itu juga
diperiksa status neurovaskuler.
3) Move (pergerakan terutama lingkup gerak)
Setelah melakukan pemeriksaan feel, kemudian diteruskan dengan
menggerakan ekstrimitas dan dicatat apakah terdapat keluhan nyeri pada
pergerakan.
B. Analisa Data
Setelah semua data terkumpul kemudian data akan dianalisis dan digolongkan
menjadi data subjektif dan objektif sesuai dengan masalah keperawatan yang
timbul. (Rohmah,2010).
C. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang kemungkinan muncul pada kasus fraktur caput humerus dengan
menggunakan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia dalam Tim Pokja SDKI
DPP PPNI (2017) yaitu:
1) Nyeri akut b.d agen pencedera fisik (prosedur operasi) (D. 0077)
2) Gangguan mobilitas fisik b.d kerusakan integritas struktur tulang (D.0054)
3) Kurang pengetahuan (defisit pengetahuan) b.d kurang tetpapar informasi
(D.0111)
4) Ansietas b.d krisis situasional (D.0080)
D. Intervensi Keperawatan
Rencana tindakan keperawatan menurut buku SLKI, 2018 yaitu
No Diagnosa keperawatan Tujuan dan Intervensi
Kriteria Hasil
1. Nyeri akut b.d agen Tingkat Nyeri Manajemen Nyeri
pencedera fisik (L.08066) (I.08238)
(prosedur operasi) Setelah dilakukan Observasi:
(D. 0077) tindakan selama 1. Identifikasi
3x24 jam maka, lokasi,
tingkat nyeri karakteristik,
menurun dengan durasi,
kriteria hasil : frekuensi, kualitas,
- Keluhan nyeri intensitas nyeri
menurun 2. Identifikasi skala
- Meringis nyeri
menurun 3. Identifikasi
respons nyeri
non verbal
Terapeutik:
1. Fasilitasi
istirahat dan tidur
Edukasi:
1. Jelaskan strategi
meredakan nyeri
2. Ajarkan teknik
nonfarmakologis
untuk mengurangi
rasa nyeri
Kolaborasi:
1. Kolaborasi
pemberian
analgetik, jika perlu
2. Gangguan mobilitas Mobilitas Fisik Dukungan
fisik b.d kerusakan (L.05042) Mobilisasi
integritas struktur Setelah dilakukan (I.05173)
tulang (D.0054) tindakan selama Observasi:
3x24 jam maka, 1. Identifikasi
mobilitas fisik adanya nyeri
meningkat dengan atau keluhan fisik
kriteria hasil : lainnya
- Pergerakan 2. Monitor kondisi
ekstremitas umum selama
meningkat melakukan
- Nyeri menurun mobilisasi
- Gerakan terbatas Terapeutik:
menurun 1. Fasilitasi ativitas
- Kelemahan fisik mobilisasi dengan
menurun alat bantu lain (mis.
Pagar tempat tidur)
2. Libatkan
keluarga untuk
membantu pasien
dalam
meningkatkan
pergerakan
Edukasi:
1. Jelaskan tujuan
dan prosedur
mobilisasi
2. Anjurkan
melakukan
mobilisasi diri
3. Ajarkan
mobilisasi
sederhana yang
harus dilakukan
(mis. Duduk di
tempat tidur, duduk
di sisi tempat tidur,
pindah dari tempat
tidur ke kursi)
3. Kurang pengetahuan (defisit Tingkat Edukasi kesehatan
pengetahuan) b.d kurang pengetahuan (I.12383)
terpapar informasi (D.0111) (L.12111)
Observasi
Setelah dilakukan
tindakan selama
- identifikasi
3x24 jam maka,
kesiapan dan
tingkat membaik
kemampuan
dengan kriteria
menerima
hasil :
informasi
- perilaku sesuai
anjuran
- identifikasi
meningkat
faktor-faktor yang
- kemampuan
dapat
menjelaskan
meningkatkan dan
pengetahuan
menurunkan
tentang suatu
motivasi perilaku
topik meningkat
hidup bersih dan
- pertanyaan
sehat
tentang masalah
yang dihadapi Terapeutik
menurun
- sediakan materi
dan media
pendidikan
kesehatan
- berikan
kesempatan untuk
bertanya
Edukasi
- jelaskan faktor
risiko yang dapat
mempengaruhi
kesehatan
- ajarkan perilaku
hidup bersih dan
sehat
- Ajarkan strategi
yang dapat
digunakan untuk
meningkatkan phbs
4. Ansietas b.d krisis Tingkat Reduksi Ansietas
situasional (D.0080) pengetahuan (I.09314)
(L.09093) Observasi
Setelah dilakukan - identifikasi saat
tindakan selama tingkat ansietas
3x24 jam maka, berubah
tingkat ansietas - monitor tanda-
menurun dengan tanda ansietas
kriteria hasil : Terapeutik
- verbalisasi - pahami situasi
kebingungan yang membuat
menurun ansietas
- verbalisasi - gunakan
khawatir akibat pendekatan yang
kondisi yang tenang dan
dihadapi menurun menyakitkan
- perilaku tegang Edukasi
menurun - anjurkan
- perilaku gelisah mengungkapkan
menurun perasaan dan
persepsi
- latih teknik
relaksasi
Kolaborasi
- kolaborasi
pemberian obat
antiansietas (kp)
E. Implementasi Keperawatan
Implementasi adalah tahap pelaksanaan terhadap rencana tindakan
keperawatan yang telah ditetapkan untuk perawat bersama pasien. Implementasi
dilaksanakan sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, disamping itu juga
dibutuhkan keterampilan interpersonal, intelektual, teknik yang dilakukan dengan
cermat dan efisien pada situasi yang tepat dengan selalu memperhatikan keamanan
fisik dan psikologis. Setelah selesai implementasi,dilakukan dokumentasi yang
meliputi intervensi yang sudah dilakukan dan bagaimana respon pasien (Bararah &
Jauhar, 2013).
F. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi dapat dikatakan sebagai acuan untuk menilai apakah asuhan
keperawatan yang dilakukan pada klien berhasil atau tidak dengan cara
membandingkan perubahan keadaan klien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan
kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan unruk memudahkan perawat
mengevaluasi atau memantau perkembangan klien, digunakan komponen
SOAP/SOAPIE/SOPIER. (Rohmah, 2010)
1. S : Data Subjektif
Keluhan klien yang masih dirasakan setelah dilakukan tindakan keperawatan.
2. O : Data Objektif
Data berdasarkan hasil pengukuran atau observasi perawat secara langsung
pada klien, dan yang dirasakan klien setelah dilakukan tindakan keperawatan.
3. A : Analisis
Tafsiran dari data subjektif dan objektif terhadap suatu masalah atau diagnosis
keperawatan yang masih terjadi atau juga dapat dituliskan masalah/diagnosa
baru yang terjadi akibat perubahan status kesehatan klien yang teridentifikas
idatanya dalam data subjektif dan objektif.
4. P : Planning
Perencanaan keperawatan yang akan dilanjutkan, dihentikan, dimodifikasi, atau
ditambahkan dari rencana tindakan keperawatan yang telah ditentukan
sebelumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Estefan, M., Munakomi, S., & Willhuber, G. O. C. (2022). Laminectomy. 1–12.
Güler, Ü. Ö., & Özalay, M. (2017). Servikal miyelopati: laminektomi ve laminoplasti.
TOTBID Dergisi, 16(4), 350–355.
https://doi.org/10.14292/totbid.dergisi.2017.47
Hartuti, Isnaini Rahmawati, I. K. M. (2019). Pengaruh Pemberian Informasi Melalui
Audio Visual Terhadap Tingkat Kecemasan Pasien Pre Operasi Laminektomi Di
Rumah Sakit Ortopedi Prof DR. R. Soeharso Surakarta. ,20 ,مجلة دراسات اقتصادية
86. https://doi.org/10.46317/1423-006-002-005
Muthmainnah, Q. (2017). UPAYA PENINGKATAN VOLUME CAIRAN TUBUH
PASIEN POST LAMINECTOMY LUMBAL Disusun sebagai salah satu syarat
menyelesaikan Program Studi Diploma III pada. C.
PPNI DPP SDKI Pokja Tim, (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia Edisi
1. Jakarta: DPP PPNI
PPNI DPP SIKI Pokja Tim, (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia Edisi
1. Jakarta: DPP PPNI
PPNI DPP SLKI Pokja Tim, (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia Edisi 1.
Jakarta: DPP PPNI