LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPENATAAN ANESTESI TETRALOGY OF FALLOT PADA PASIEN
NEONATUS DENGAN TEKNIK ANESTESI UMUM
Disusun Oleh :
Muhammad Hatta Mauludin (21.2.012)
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI
POLITEKNIK INSAN HUSADA SURAKARTA
TAHUN 2024
IDENTITAS MAHASISWA
NAMA : Muhammad Hatta Mauludin
NIM : 21.2.012
NO. HP : 089525481296
RS PRAKTEK : RSUD Kota Salatiga
PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI
POLITEKNIK INSAN HUSADA SURAKARTA
TAHUN 2024
HALAMAN PERSETUJUAN
NAMA : Muhammad Hatta Mauludin
NIM : 21.2.012
MATA KULIAH : Praktek Klinik III
SEMESTER : VII / Tahun Akademik 2024
JUDUL : Laporan Pendahuluan Asuhan Kepenataan Anestesiologi Tetralogy Of Fallot
Pada Pasien Neonatus Dengan Anestesi Umum
Mengetahui
Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik/Lahan
( ) ( )
A. Konsep Teori Penyakit
1. Definisi
Tetralogy of Fallot (TOF) merupakan kelainan jantung bawaan
sianotik. Kelainan yang terjadi adalah kelainan pertumbuhan dimana
terjadi defek atau lubang dari bagian infundibulum septum intraventrikular
(sekat antara rongga ventrikel) dengan syarat defek tersebut paling sedikit
sama besar dengan lubang aorta (Yayan A.I, 2010).
2. Etiologi
Kebanyakan penyebab dari kelainan jantung bawaan tidak diketahui,
biasanya melibatkan berbagai faktor. Faktor prenatal yang berhubungan
dengan resiko terjadinya tetralogi Fallot adalah:
a. Selama hamil, ibu menderita rubella (campak Jerman) atau infeksi
virus lainnya
b. Gizi yang buruk selama
c. Ibu yang alkoholik
d. Usia ibu diatas 40 tahun
e. Ibu menderita diabetes
f. Tetralogi Fallot lebih sering ditemukan pada anak-anak yang
menderita sindroma Down Tetralogi Fallot dimasukkan ke dalam
kelainan jantung sianotik karena terjadi pemompaan darah yang sedikit
mengandung oksigen ke seluruh tubuh, sehingga terjadi sianosis (kulit
berwarna ungu kebiruan) dan sesak nafas. Mungkin gejala sianotik
baru timbul di kemudian hari, dimana bayi mengalami serangan
sianotik karena menyusu atau menangis (Yayan A.I, 2010).
3. Tanda dan Gejala
Anak dengan TOF umumnya akan mengalami keluhan :
a. Sesak yang biasanya terjadi ketika anak melakukan aktivitas
(misalnya menangis atau mengedan)
b. Berat badan bayi tidak bertambah
c. Pertumbuhan berlangsung lambat
d. Jari tangan seperti tabuh gendering/ gada (clubbing fingers)
e. Sianosis /kebiruan sianosis akan muncul saat anak beraktivitas,
makan/menyusu, atau menangis dimana vasodilatasi sistemik
(pelebaran pembuluh darah di seluruh tubuh) muncul dan
menyebabkan peningkatan shunt dari kanan ke kiri (right to left
shunt).
4. Pemeriksaan penunjang
Sinar-X pada thoraks didapat gambaran penurunan aliran darah
pulmonal, gambaran penurunan aliran darah pulmonal, gambaran khas
jantung tampak apeks jantung terangkat sehingga seperti sepatu boot
(boot shape). Tidak ada bukti-bukti pembesaran jantung. Cardio
thoracic ratio pasien tetralogi fallot biasanya normal atau sedikit
membesar. Akibat terjadinya pembesaran ventrikel kanan dengan
konus pulmonalis yang hilang, maka tampak apeks jantung terangkat
sehingga tampak seperti sepatu kayu (coer en sabot). Pada 25% kasus
arkus aorta terletak di kanan yang seharusnya di kiri, dapat berakibat
terjadinya suatu tarik bayangan trakeobronkial berisi udara di sebelah
kiri, yang terdapat pada pandangan antero-posterior atau dapat
dipastikan oleh pergeseran esofagusyang berisi barium ke kiri.
Corakan vascular paru berkurang dan lapangan paru relatif bersih,
mungkin disebabkan oleh aliran darah paru paru yang berkurang dan
merupakan suatu tanda diagnostik yang penting. Bila terdapat
kolateral yang banyak mungkin corakan vascular paru tampak normal,
atau bahkan bertambah. Pada proyeksi lateral, ruangan depan yang
bersih atau kosong dapat atau tidak dipenuhi oleh ventrikel kanan
yang hipertrofi.
5. Penatalaksanaan Medis
Tindakan operasi dianjurkan untuk semua pasien TOF. Tindakan operasi yang
dilakukan, yaitu :
a. Aastomosis Blalock-Taussig Shunt (BT-Shunt) yaitu merupakan posedur
shunt yang dianastomosis sisi sama sisi dari arteri subklavia ke arteri
pulmonal. Anastomose sub clavia pulmoner dari Blalock – Taussig adalah
intervensi palliative yang umumnya dianjurkan bagi anak yang tidak sesuai
bedah korektif. Arteri subklavia yang berhadapan dengan sisi lengkung aorta
diikat,dibelah dan dianastomosekan ke arteria pulmoner kolateral.
Keuntungan pirau ini adalah kemampuannya membuat pirau yang sangat
kecil,yang tumbuh bersama anak dan kenyataannya mudah mengangkatnya
selama perbaikan definitive.
b. Anastomosis Waterston-cooly adalah prosedur paliatif yang digunakan
untuk bayi dengan defek yang menurunkan aliran darah paru, seperti
tetralogi fallot (TF). Prosedur ini merupakan prosedur jantung tertutup, yaitu
aorta desendens posterior secara langsung di jahit pada bagian anteroir arteri
pulmoner kanan, membentuk sebuah fistula. Walaupun pirau ini sulit di
angkat selama perbaikan defrinitif, prau ini pada umumnya telah
menggantikan cara anastomosis Potts-Smith-Gibson, atau potts, yang
merupakan pirau sisi ke sisi antara aorta desendens dan arteri pulmoner kiri,
karena secara teknis paling mudah di lakukan. Pada tipe ini ahli bedah harus
hati-hati untuk menentukan ukuran anastomosis yang dibuat antara bagian
aorta asending dengan bagian anterior arteri pulmonal kanan. Jika
anastomosis terlalu kecil maka akan mengakibatkan hipoksia berat. Jika
anastomosis terlalu besar akan terjadi pletora dan edema pulmonal.
c. Total Korektif terdiri atas penutupan VSD, valvotomi pulmonal dan
reseksi infundibulum yang mengalami hipertrofi. (Hartono, 2015)
Pada penderita yang mengalami serangan stenosis maka terapi ditujukan untuk
memutus patofisiologi serangan tersebut, antara lain dengan cara:
1. Posisi lutut ke dada agar aliran darah ke paru bertambah karena peningkatan
afterload aorta akibat penekukan arteri femoralis. Selain itu untuk
mengurangi aliran darah balik ke jantung (venous).
2. Morphine sulfat 0,1-0,2 mg/kgBB SC, IM, atau IV atau dapat pula diberi
Diazepam (Stesolid) per rektal untuk menekan pusat pernafasan dan
mengatasi takipneu.
3. Oksigen dapat diberikan, walaupun pemberian di sini tidak begitu tepat
karena permasalahan bukan kerena kekurangan oksigen, tetapi karena aliran
darah ke paru menurun. Dengan usaha di atas diharapkan anak tidak lagi
takipneu, sianosis berkurang dan anak menjadi tenang. Bila hal ini tidak
terjadi dapat dilanjutkan dengan pemberian :
4. Propanolol 0,01-0,25 mg/kg IV perlahan-lahan untuk menurunkan denyut
jantung sehingga serangan dapat diatasi. Dosis total dilarutkan dngan 10 ml
cairan dalam spuit, dosis awal/bolus diberikan separuhnya, bila serangan
belum teratasi sisanyadiberikan perlahan dalam 5-10 menit berikutnya.
Penambahan volume cairan tubuh dengan infus cairan dapat efektif dalam
penanganan serangan sianotik. Penambahan volume darah juga dapat
meningkatkan curah jantung, sehingga aliran darah ke paru bertambah dan
aliran darah sistemik membawa oksigen ke seluruh tubuh juga meningkat.
A. Pertimbangan Anestesi
1. Definisi Anestesi
Anestesi merupakan suatu tindakan untuk menghilangkan rasa sakit
ketika dilakukan pembedahan dan berbagai prosedur lain yang
menimbulkan rasa sakit, dalam hal ini rasa takut perlu ikut dihilangkan
untuk menciptakan kondisi optimal bagi pelaksanaan pembedahan
(Sabiston, 2011).
2. Jenis Anestesi (General)
General anestesi merupakan tindakan menghilangkan rasa sakit secara
sentral disertai hilangnya kesadaran (reversible). Tindakan general
anestesi terdapat beberapa teknik yang dapat dilakukan adalah general
anestesi denggan teknik intravena anestesi dan general anestesi dengan
inhalasi yaitu dengan face mask (sungkup muka) dan dengan teknik
intubasi yaitu pemasangan endotrecheal tube atau gabungan keduanya
inhalasi dan intravena (Latief, 2007).
3. Teknik Anestesi
a. General Anestesi
Teknik General Anestesi General anestesi (Latief, 2018), dapat
dilakukan dengan 3 teknik, yaitu:
b. General Anestesi Intravena
Teknik general anestesi yang dilakukan dengan jalan
menyuntikkan obat anestesi parenteral langsung ke dalam pembuluh
darah vena.
c. General Anestesi Inhalasi
Teknik general anestesi yang dilakukan dengan jalan memberikan
kombinasi obat anestesi inhalasi yang berupa gas dan atau cairan yang
mudah menguap melalui alat atau mesin anestesi langsung ke udara
inspirasi.
d. Anestesi Imbang
Merupakan teknik anestesi dengan mempergunakan kombinasi
obat-obatan baik obat anestesi intravena maupun obat anestesi inhalasi
atau kombinasi teknik general anestesi dengan analgesia regional
untuk mencapai trias anestesi secara optimal dan berimbang, yaitu:
hipnotik, analgetik dan relaksasi
4. Rumatan Anestesi
Rumatan anestesia dapat dikerjakan secara intravena (anestesi
intravena total) atau dengan inhalasi atau campuran intravena – inhalasi.
Fase rumatan biasanya merupakan bagian paling stabil dari seluruh
tahapan anestesi. Kedalaman anestesi dapat berubah dan tingkat
kedalaman yang diperlukan dapat berbeda antara satu operasi dengan
operasi lainnya.
B. Web Of Caution (WOC)
C. Tinjauan Teori ASKAN
1. Pengkajian (DS DAN DO)
FOKUS PENGKAJIAN
a) Anamnesa : pengambilan data melalui wawancara dan observasi untuk
menegakkan diagnosa serta membuat penilaian klinis tentang perubahan
status pasien.
1) Riwayat operasi, riwayat anestesi sebelumnya
2) Riwayat penyakit sistemik (DM, hipertensi, kardiovaskuler, TB, asma)
3) Pemakaian obat tertentu
4) Kebiasaan pasien
5) Riwayat penyakit keluarga
b) Pemeriksaan Fisik
1) Blood : tensi , nadi , nilai syok / pendarahan , Lakukan pemeriksaan jantung
2) Breathing : periksa jalan nafas apakah ada hambatan atau tidak
3) Brain : periksa GCS dan TIK
4) Bladder : produksi urin , pemeriksaan faal ginjal
5) Bowel : pembesaran hepar , bising usus
6) Bone : periksa bentuk leher , apakah ada patah tulang atau tidak , apakah ada
kelainan tulang belakang atau tidak.
c) Pemeriksaan penunjang
1. Lab : Hb.AE,AL,AT,CT/BT,APTT/PPT,SGOT/SGPT,
Albumin,Ureum/Creatinin, Bilirubin, Urine Rutin.
2. Ro Thorax : Jantung, paru
3. EKG : Irama, HR, bradi, tachi, ST depresi, ST elevasi, T inverted, VES,
block
4. USG : Echocardiografi
d) Menentukan status fisik pasien ( ASA )
1. Asa 1 : Pasien normal
2. Asa 2 : Pasien memiliki kelainan sistemik ringan – sedang selain yang akan
dioperasi. Co : hipertensi ringan , DM ringan
3. Asa 3 : Pasien memiliki penyakit sistemik berat selain yang dioperasi tapi
belum mengancam nyawa. Co : hipertensi tak terkontrol , asma bronkial ,
DM tak terkontrol
4. Asa 4 : Pasien memiliki penyakit sistemik berat selain yang dioperasi dan
mengancam nyawa. Co : asma bronkial berat , koma diabetikum.
5.
Asa 5 : Pasien dalam kondisi sangat jelek dimana tindakan anestesi mungkin
dapat menyelamatkan tetapi resiko kematian jauh lebih besar. Co : Koma
berat.
6. Asa 6 : Pasien dinyatakan mati batang otak.
e) Menentukan resiko penyulit
1. Penyulit respirasi : Periksa jalan nafas pasien , periksa apakah ada penyakit
pernafasan pasien yang dapat menyulitkan pada saat operasi.
2. Penyulit kardiovaskuler : Periksa apakah ada kelainan kardiovaskuler pada
pasien.
3. Aspirasi isi lambung : Aspirasi isi lambung untuk melihat apakah ada
kelainan pada lambung atau tidak.
2. Masalah Kesehatan
a. Pra operasi
1) Takut / cemas : lakukan anamnesa pada pada pasien jika merasa cemas
lakukan manajemen cemas farmakologi / non farmakologi untuk
mengatasi cemas tersebut.
2) Gangguan pola nafas : selalu cek apakah ada kelainan pola nafas pasien
atau tidak.
b. Intra anestesi
1) Resiko aspirasi : pasang NGT jika beresiko terjadinya aspirasi
2) Hypotermi : karena suhu yang dingin pasien beresiko terjadinya
shivering.
c. Pasca anestesi
1) Nyeri : lakukan anamnesa pada pada pasien jika merasa nyeri lakukan
manajemen nyeri farmakologi / non farmakologi untuk mengatasi nyeri
tersebut.
2) Ketidakefektifan bersihan jalan napas : karena habis dipasang ett oral
jadi ada lenidr atau dahak yg membuat jalan napas tidak bersih.
3. Rencana Intervensi (Tujuan, Kriteria Hasil dan Rencana Tindakan)
a. Pre Anestesi
1. Ansietas berhubungan dengan defisit pengetahuan
Rencana tindakan
a) Evaluasi tingkat ansietas, catat verbal dan non verbal pasien.
b) Jelaskan dan persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum dilakukan
c) Ajarkan teknik distraksi cemas dengan nafas dalam
d) Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur.
e) Anjurkan keluarga untuk menemani disamping klien
Implementasi
a) Evaluasi tingkat ansietas, catat verbal dan non verbal pasien.
b) Jelaskan dan persiapkan untuk tindakan prosedur sebelum dilakukan
c) Ajarkan teknik distraksi cemas dengan nafas dalam
d) Jadwalkan istirahat adekuat dan periode menghentikan tidur.
e) Anjurkan keluarga untuk menemani disamping klien.
b.Intra Anestesi
1. Shivering akibat hipotermi
Rencana tindakan
a) observasi keadaan pasien
b) tanyakan apakah pasien merasa kedinginan atau tidak
c) pakaikan selimut ke pasien.
Implementasi
a. observasi keadaan pasien
b. tanyakan apakah pasien merasa kedinginan atau tidak
c. pakaikan selimut ke pasien.
c. Post Anestesi
1. Nyeri akibat berhubungan dengan agen injuri (luka insisi operasi)
Rencana tindakan
Pain Manajemen
a) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi.
b) Kaji tingkat nyeri, secara verbal dan non verbal.
c) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
pasien.
d) Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri.
e) Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan.
f) Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter
personal).
g) Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
h) Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil.
Implementasi
Pain Manajemen
a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan factor presipitasi.
b. Kaji tingkat nyeri, secara verbal dan non verbal.
c. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri
pasien.
d. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri.
e. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan,
pencahayaan dan kebisingan.
f. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, non farmakologi dan inter
personal).
g. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi.
h. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak berhasil.
4. Evaluasi
Evaluasi dalam keperawatan anestesi merupakan kegiatan dalam menilai Tindakan
keperawatan anestesi yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan klien
secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan.
REFERENSI
Corwin, Elizabeth J. 2016. Patofisiologi: Buku Saku. Jakarta : EGC
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Hartono, Andi dkk. 2015. Buku ajar keperawatan pedriatik wong, ed. Vol:2. Jakarta:EGC.
Jakarta: Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perawat Nasional Indonesia.
Muttaqin, Arif. 2015. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Cardiovaskuler. Jakarta : Salemba Medika.
Oesman I.N, 2014. Gagal Jantung. Dalam buku ajar kardiologi anak. Binarupa Aksara.
Jakarta. Hal 425 – 441
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia, Edisi 1. Jakarta:
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2018. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, Edisi 1.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2018. Standar Luaran Keperawatan Indonesia, Edisi 1. Jakarta: