Seminar Kasus
Seminar Kasus
Disusun Oleh :
Kelompok Martha
1. Elsi Haniah 202291014
2. Devi Bella Shavera 202291015
3. Hikmatun Marzilah 202291016
4. Mega Risky Ananda 202291017
5. Dessy Erfanti 202291018
6. Aisyah 202291019
7. Ayu Fitri 202291020
8. Sherly Widyastuti 202291021
9. Nepitri 202291031
Dosen Pembimbing
Ns. Vevi Suryenti Putri, M.Kep
Ns. Rahmi Dwi Yanti, M.Kep
Daryanto, M.Kep
CI Klinik :
Dermanto, S. Kep
Assalamualaikum wr. Wb
Rasa syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME, Pemilik Alam Semesta.
Berkat izin-Nya kami telah menyelesaikan proposal ini dengan baik dan tepat
waktu. Laporan ini adalah tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa, laporan ini
ditujukan untuk memenuhi tugas kelompok dari Mata Kuliah tersebut.
Sebagai penulis, kami sangat berterimakasih kepada dosen pengampu
Mata Kuliah Keperawatan Jiwa dan CI klinik yang telah bersedia meluangkan
waktu untuk berdiskusi mengenai isi laporan ini. Kami juga mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan laporan ini.
Akhir kata, kami sebagai penulis menyadari bahwa masih banyak
kekurangan dalam penyusunan laporan ini. Maka dari itu kami mengharapkan
saran dan kritikan dari para pembaca. Agar kami belajar untuk menyusul laporan
lebih baik lagi di kemudian hari.
Penulis
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................ii
DAFTAR ISI.........................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang......................................................................................1
1.2 Tujuan...................................................................................................2
1.3 Metode Penulisan..................................................................................3
1.4 Manfaat.................................................................................................3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................5
2.1 Pengertian Halusinasi............................................................................5
2.2 Etiologi Halusinasi................................................................................5
2.3 Psiko-Patalogi.......................................................................................7
2.4 Tanda dan Gejala...................................................................................9
2.5 Penatalaksaan Medis.............................................................................9
2.6 Proses Terjadinya Masalah.................................................................10
2.7 Pohon Masalah....................................................................................12
BAB III TINJAUAN KASUS..............................................................................13
3.1 Pengkajian...........................................................................................13
3.2 Diagnosa..............................................................................................23
3.3 Intervensi.............................................................................................26
3.4 Implementasi.......................................................................................28
3.5 Evaluasi...............................................................................................29
3.6 Analisa Proses Interaksi......................................................................33
BAB IV PEMBAHASAN.....................................................................................40
BAB V PENUTUP................................................................................................42
DAFTAR PUSTAKA
3
BAB I
PENDAHULUAN
1
membunuh orang, dan perilaku kekerasan lainnya yang dapat membahayakan
dirinya maupun orang disekitarnya (Rahmawati, 2019).
Dalam pengobatan halusinasi, beberapa terapi keperawatan telah
ditangani, seperti terapi penghentian paksa, yaitu menghentikan pikiran untuk
mengubah proses sosial yang berdampak. (Dati, Amila & Wi, 2016), dan
Terapi musik klasik membuat seseorang menjadi rileks dan mampu
mengontrol halusinasi (Wijayanto & Agustina, 2017). Menurut (Sarahwati,
2019) keluarga harus dilibatkan dalam proses penyembuhan dari penderita
gangguan halusinasi, tentu saja dengan perlunya pendidikan, bimbingan dan
pelatihan sehingga dapat mengoptimalkan peran keluarga dalam merawat
penderita gangguan halusinasi.
Berdasarkan permasalahan diatas penulis tertarik untuk mengelola
klien dengan halusinasi pendengaran sebagai laporan dalam penyelasaian
tugas siklus keperawatan jiwa dengan judul “Laporan Asuhan keperawatan
pada klien Tn. Z dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi
Pendengaran di ruang Pega RSJD Provinsi Jambi”.
1.2 Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran tentang asuhan keperawatan jiwa gangguan
persepsi sensori: Halusinasi pendengaran Pada Tn.Z dengan skizofrenia di
ruang Pega Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Jambi
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan pengkajian dan rumusan diagnosa keperawatan untuk
mengatasi masalah keperawatan jiwa dengan gangguan presepsi
sensori: Halusinasi Pendengaran pada Tn. Z.
b. Melakukan rencana keperawatan untuk mengatasi masalah keperawatan
jiwa dengan gangguan presepsi sensori: Halusinasi Pendengaran pada
Tn. Z.
2
c. Melakukan implementasi keperawatan untuk mengatasi masalah
keperawatan jiwa dengan gangguan presepsi sensori: Halusinasi
Pendengaran pada Tn. Z.
d. Melakukan evaluasi hasil tindakan terhadap masalah keperawatan jiwa
dengan gangguan presepsi sensori: Halusinasi Pendengaran pada Tn. Z
1.4 Manfaat
1. Bagi Klien
Diharapkan dapat membantu klien dalam mengetahui serta mengontrol
gangguan presepsi sensori: Halusinasi Pendengaran yang di alaminya.
2. Bagi Keluarga Klien
Diharapkan dapat memberikan wawasan untuk melakukan bimbingan
keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mengalami gangguan
presepsi sensori: Halusinasi Pendengaran
3. Bagi Perawat
Diharapkan dapat memberikan gambaran serta informasi bagi perawat
dalam menerapkan asuhan keperawatan gangguan presepsi sensori:
Halusinasi Pendengaran
3
4. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan dapat memberikan gambaran dan wawasan untuk
pengembangan ilmu pengetahuan dalam asuhan pada klien dengan
halusinasi khususnya mengenai gangguan presepsi sensori: Halusinasi
pendengaran
4
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
5
b. Faktor sosiokultural
Seseorang yang merasa tidak terima dilingkungan sejak bayi akan
membekas diingatannya sampai dewasa dan ia akan merasa disingkirkan,
kesepian dan tidak percaya pada lingkungannya.
c. Faktor biokimia
Adanya stres yang berlebihan yang dialami oleh seseorang maka di
dalam tubuhnya akan dihasilkan suatu zat yang dapat bersifat halusinogenik
neurokimia dan metytranferase sehingga terjadi ketidaksembangan asetil
kolin dan dopamin.
d. Faktor psikologis
Tipe kepribadian yang lemah tidak bertanggung jawab akan mudah
terjerumus pada penyelah gunaan zat adaptif. Klien lebih memilih
kesenangan sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam khayal.
e. Faktor genetik dan pola asuh
Hasil studi menujukan bahwa faktor keluarga menunjukan hubungan
yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.
Faktor Presipitasi
Penyebab halusiansi dapat dilihat dari lima dimensi menurut
(Rawlins, 1993 dalam Yosep, 2011).
a. Dimensi fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik seperti
kelelahan yang luar biasa, penggunaan obat-obatan, demam hingga delirium,
intoksikasi alkohol dan kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama.
b. Dimensi emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem yang tidak dapat
diatasi merupakan penyebab halusinasi itu terjadi. Isi dari halusinasi dapat
berupa perintah memaksa dan manakutkan. Klien tidak sanggup lagi
menentang perintah tersebut sehingga dengan kondisi tersebut klien berbuat
sesuatu terhadap ketakutan tersebut.
6
c. Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini merangsang bahwa individu dengan
halusinasi akan memperlihatkan adanya penurunan fungsi ego. Pada awalnya
halusinasi merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan impuls yang
menekan, namun merupakan suatu hal yang menimbulkan kewaspadaan yang
dapat mengambil seluruh perhatian klien dan tidak jarang akan mengobrol
semua perilaku klien.
d. Dimensi sosial
Klien mengganggap bahwa hidup bersosialisasi di alam nyata sangat
membahayakan, klien asik dengan halusinasinya, seolah- olah ia merupakan
tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi sosial, kontrol diri dan
harga diri yang tidak di dapatkan dalam dunia nyata. Isi halusinasi di jadikan
sistem kontrol oleh individu tersebut, sehingga jika perintah halusinasi berupa
ancama, dirinya ataupun orang lain individu cenderung untuk itu. Oleh karena
itu, aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan klien dengan
menupayakan suatu prosesinteraksi yang menimbulkan pengalam
interpersonal yang memuaskan, serta menguasakan klien tidak menyediri
sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungan dan halusinasi tidak
lagsung.
e. Dimensi spiritual
Klien mulai dengan kemampuan hidup, rutinitas tidak bermakna,
hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupanya secara spiritual untuk
menyucikan diri. Ia sering memaki takdir tetapi lemah dalam upaya
menjemput rejeki, memyalahkan lingkungan dan orang lain yang
menyebabkan takdirnya memburuk.
2.3 Psiko-Patalogi
Proses terjadinya halusinasi diawali dari atau dengan orang yang
menderita halusinasi akan menganggap sumber dari halusinasinya berasal
dari lingkungannya atau stimulus eksternal (Yosep, 2011). Pada fase awal
masalah itu menimbulkan peningkatan kecemasan yang terus dan sistem
7
pendukung yang kurang akan menghambat atau membuat persepsi untuk
membedakan antara apa yang di pikirkan dengan perasaan sendiri menurun.
Meningkatnya pada fase comforting, klien mengalami emosi yang
berlanjut seperti cemas, kesepian, perasaan berdosa dan sensorinya dapat
dikontrol bila kecemasan dapat diatur. Pada fase ini klien cenderung merasa
nyaman dengan halusinasinya. Pada fase condermning klien mulai menarik
diri. Pada fase controlling klien dapat merasakan kesepian bila halusinasinya
berhenti. Pada fase conquering klien lama kelamaan sensorinya terganggu,
klien merasa terancam dengan halusinasinya terutama bila tidak menuruti
perintahnya.
Model Adaptasi Stress menurut Stuart (2013)
8
2.4 Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala halusinasi menurut Sutejo (2017), dapat dinila dari
hasil observasi terhadap klien serta ungkapan klien. Adapun tanda dan gejala
pada pasien halusinasi adalah:
a. Data subjektif adalah data yang didapatkan dari pasien atau keluarga
dengan gangguan sensori halusinasi mengatakan bahwa dirinya:
1) Mendengar suara-suara atau kegaduhan.
2) Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap.
3) Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.
4) Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun, melihat
hantu atau monster.
5) Mencium bau-bauan busuk ataupun wangi seperti bau darah, urine,
feses, kadang-kadang bau itu menyenangkan.
6) Merasakan rasa seperti merasakan makanan atau rasa tertentu yang
tidak nyata
7) Merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya seperti yang mengerayap
seperti serangga, makhluk halus
8) Merasa takut atau senang dengan halusinasinya
b. Data objektif adalah data yang didapatkan pada pasien yang tampak secara
langsung. Pasien dengan gangguan sensori persepsi halusinasi melakukan
hal-hal berikut:
1) Bicara atau tertawa sendiri
2) Marah-marah tanpa sebab
3) Mengarahkan telinga menjadiarah tertentu
4) Menutup telinga
5) Menunjuk-nunjuk menjadiarah tertentu
6) Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas.
9
1) Psikofarmokologi, obat yang lazim digunakan pada gejala halusinasi
pendengaran yang merupak gejala psikosis pada klien skizofrenia adalah
obat anti psikosis. Adapun kelompok yang umum digunakan adalah
fenotiazin asetofenazin (tindal), klorpromazin (thorazine), flufenazine
(prolixine, permitil), mesoridazin (serentil), perfenazin (trilafon),
proklorperazin (compazine), promazin (sparine), tioridazin (mellaril),
trifluoperazin (stelazine), trifluopromazin (vesprin), 60-120 mg,
tioksanten klorprotiksen (taractan), tioksen (navane) 75-600 mg,
butirofenom haloperidol (Haldol) 1-100 mg, dibenzodiazepin klozapin
(clorazil) 300-900 mg, dibenzokasazepin loksapin (loxitane) 20-150 mg,
dihidroindolon molindone (moban) 15-225 mg.
2) Terapi kejang listrik / Electro compulsive therapy (ECT) ECT adalah
pengobatan untuk menimbulkan kejang grandmall secara artificial
dengan melawan aliran listrik melalui electrode yang dipasang pada satu
atau dua temples, terapi kejang listrik diberika pada skizoprenia yang
tidak mempan dengan terapi neuroleptika oral atau injeksi, dosis terapi
kejang listrik 4-5 joule/detik (Maramis, 2005).
10
sedang asyik dengan halusinasinya, dan suka menyendiri.
2. Fase kedua
Disebut dengan fase condemming atau ansietas berat yaitu halusinasi
menjadi menjijikan, termasuk dalam psikotik ringan. Karateristik:
pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan, kecemasan meningkat,
melamun, dan berfikir sendiri jadi dominan. Mulai dirasakan ada bisikan
yang tidak jelas.nklien tidak ingin orang lain tahu, dan ia tetap
mengontrolnya.
Perilaku klien: meningkatnya tanda-tanda sitem saraf otonom seperti
peningkatan denyut jantung.
3. Fase ketiga
Adalah fase controlling atau ansietas berat yaitu pengalaman sensori
menjadi berkuasa.Termsuk dalam gangguan psikotik. Karateristik:
bisikan,suara, isi halusinasi semakin menonjol, menguasai dan mengontrol
klien. Klien menjadi terbiasa dan tidak berdaya terhadap
halusinasinya.Perilaku klien: kemauan dikendalikan halusinasi, rentang
perhatian hanya beberapa menit atau detik. Tanda-tanda fisik berupa klien
berkeringat, tremor dan tidak mematuhi perintah.
4. Fase keempat
Adalah fase conquering atau panic yaitu klien lebur dengan
halusinasinya.Termasuk dalam psikotik berat. Karateristik: halusinasinya
berubah menjadi mengancam, memerintah, dan memarahi klien. Klien
menjadi takut, tidak berdaya, hilang control, dan tidak dapat berhubungan
secara nayat dengan orang lain di lingkungan.
Perilaku klien: perilaku terror akibat panic, potensi bunuh diri,
perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau kakatonik, tidak mampu
merespon terhadap perintah kompleks, dan tidk mampu berespons lebih dari
satu orang.
11
Resiko Perilaku Kerasan Effect
Isolasi Sosial
Causa
A. IDENTITAS KLIEN
Nama : KMS ZULFIKAR (L)
Umur : 41 Tahun
No. CM :00001388
Tanggal Masuk : 25 desember 2022
C. FAKTOR PREDISPOSISI
1. Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu?
√ YA
12
TIDAK
2. Pengobatan sebelumnya?
BERHASIL
√ TIDAK BERHASIL
KURANG BERHASIL
3. Trauma
Usia Pelaku Korban
Saksi
Aniaya fisik
Aniaya seksual
Penolakan
Kekerasa
n dalam
Keluarga
13
Tindakan kriminal
Jelaskan:
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
..........................................................................................................................................
D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Tanda Vital
TD 100/ 70..........mmHg
RR 24.................. kali / menit
S 36......................oC
RR117.................kali / menit
2. Ukur
BB 68..................Kg
TB165.................cm
3. Keluhan fisik
Kepala terasa berat dan mata ngantuk.
14
E. PSIKOSOSIAL
1. Genogram
Jelaskan :
...................................................................................................................
...................................................................................................................
...................................................................................................................
...................................................................................................................
Konsep Diri:
a. Citra Tubuh :
Pada saat dilakukan pengkajian diperoleh hasil klien mengatakan menyukai
15
anggota tubuhnya tidak ada masalah lain.
b. Identitas :
Pada saat dilakukan pengkajian diperoleh hasil klien mengatakan bahwa
dirinya adalah seorang laki laki
c. Peran :
Pada saat dilakukan pengkajian diperoleh hasil klien dirumah merupakan
seorang anak.
d. Ideal Diri :
Pada saat dilakukan pengkajian klien mengatakan ingin cepat pulang.
e. Harga Diri :
Pada saat dilakukan pengkajian diperoleh klien tidak ingin mempunyai
penyakit.
2. Hubungan sosial
a. Orang yang berarti
Pada saat dilalukan pengkajian klien mengatakan keluarga adalah orang
yang sangat berarti.
b. Peran serta dalam kegiatan kelompok / masyarakat
Pada saat dilakukan pengkajian diperoleh hasil sebelum klien sakit ia
bekerja di bengkel dan sering berkumpul di sekitar rumahnya bersama
teman temannya.
c. Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain
Pada saat dilakukan pengkajian diperoleh hasil klien tidak pernah ada
masalah dengan orang lain.
3. Spiritual
a. Nilai dan keyakinan
Klien mengatakan beragama islam dan yakin dengan agamanya.
b. Kegiatan ibadah
Klien mengatakan klien sering beribadah sewaktu dirumah.
F. STATUS MENTAL
1. Penampilan
Bagaimana penampilan klien dalam hal berpakaian, mandi, toileting, dan
pemakaian sarana / prasarana atau instrumentasi dalam mendukung
penampilan, apakah klien:
Tidak rapi
Penggunaan pakaian tidak sesuai
Cara berpakaian tidak seperti biasanya
Jelaskan :
Pada saat dilakukan pengkajian klien mampu berpakaian secara mandiri klien
juga terlihat rapi.
16
2. Pembicaraan
√ Cepat Apatis
Keras Lambat
Gagap Membisu
Inkoherensi Tidak mampu memulai
pembicaraan
Jelaskan :
Pada saat dilakukan pengkajian klien terlihat berbicara cepat lancar dengan
setiap pertanyaan yang diberikan
3. Aktivitas motorik
√ Lesu Tik
Tegang Grimasem
Gelisah Tremor
Agitasi Kompulsif
Jelaskan :
Pada saat dilakukanpengkajian klien terlihat lesu klien selalu mengatakan ingin
pulang ingin pulang saya sudah sembuh
4. Alam perasaan
√ Sedih Khawatir
Ketakutan Gembira berlebihan
Putus asa
5. Afek
√ Datar Labil
Tumpul Tidak sesuai
7. Persepsi - Sensorik
Halusinasi / Ilusi ?
Ya / Tidak
√A Pendengaran Pengecapan
Penglihatan Perabaan
Penghidu
17
Jelaskan
Data Subjektif
Isi Halusinasi :
Pada saat dilakukan pengkajian klien mengatakan ia pernah mendengar bisikan
bisika.
Frekuensi : jarang
Waktu : malam hari
Situasi saat muncul :pada saat malam hari
Respon pasien : menghardik
Data Objektif :
Klien mengatakan ia mendengar suara suara hanya pas malam hari.
8. Isi pikir
Obesi Depersonalisasi
Hipokondria
Agama Nihilistik
9. Proses
pikir
Circumstansial Flight of
√
Tangensial Blocking
18
11. Memori
Jelaskan :
Pada saat dilakukan pengkajian diperoleh hasil klien tidak dapat mengingat
kejadian yang lalu lalu.
12. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Mudah beralih
√ Tidak mampu berkonsentrasi
Tidak mampu berhitung sederhana
Jelaskan :
Pada saat dilakukan pengkajian terlihat klien tidak fokus dan tidak
berkonsentrasi.
19
Pakaian
Jelaskan :
........................................................................................................................
........................................................................................................................
........................................................................................................................
√
Kebersihan √ Ganti pakaian
Jelaskan :
Klien dapat melakukan kegiatan sehari hari
Nutrisi
Apakah anda puas dengan pola makan anda?
√ Ya
Tidak
Frekuensi makan sehari 3..........kali
Frekuensi kedapan sehari 2...........kali
Nafsu makan :
√ Meningkat Berlebihan
Menurun Sedikit – sedikit
Berat badan :
√ Meningkat
Menurun
BB terendah : 60.......... Kg................................BB tertinggi78 Kg
Jelaskan :
Pada saat dilakukan pengkajian diperoleh hasil klien mengatakan puas
dengan pola makannya nafsunmakannya baik dan selalu habis.
b. Tidur
Apakah ada masalah tidur ? tidak
Apakah merasa segar setelah bangun tidur ? iya
Apakah ada kebiasaan tidur siang ? iya
Lama tidur siang ? 2 jam
Tidur malam jam ? 21.00 WIB, berapa jam ?
Apakah ada gangguan tidur ?
Sulit untuk tidur Terbangun saat tidur
Bangun terlalu pagi Gelisah saat tidur
Somnambulisme Berbicara saat tidur
Jelaskan :
Klien mengatakan tidak ada masalah tidur
20
c. Penggunaan Obat
√ Bantuan minimal Bantuan total
H. MEKANISME KOPING
Adaptif: Maladaptif:
√ Bicara dengan orang lain Minum alkohol
Mampu menyelesaikan masalah Reaksi lambat/berlebih
Teknik relokasi Berkerja berlebihan
Aktivitas konstruktif Menghindar
Olah raga Menciderai diri
21
Klien mengatakan dulu ia bekerja di bengkel tetapi
setelah sakit tidak dapat bekerja lagi
Masalah berhubungan dengan perumahan, uraikan
Tidak ada masalah
Masalah berhubungan dengan ekonomi, uraikan
Semenjak sakit tidak dapat bekerja dan tidak punya
uang.
Masalah berhubungan dengan pelayanan kesehatan,
uraikan
Klien mengatakan selalu minum obat tetapi tidak
sembuh sembuh.
Masalah berhubungan dengan lainnya, uraikan
Tidak ada masalah
J. ASPEK MEDIS
Diagnosis medis :
Terapi medis :
K. DIAGNOSIS KEPERAWATAN
22
3.2 Diagnosa
23
04 januari 2023 3 Gangguan persepsi sensori
Halusinasi pendengaran
Ds:
klien mengatakan sering
mendengar suara yangb tidak
ada wujudnya
DO:
Klien tampak sedih klien
tampak banyak tidur
Ttv:
Td: 100/70 mmhg
N: 117x/i
S: 36
RR; 24
05 januari 2023 4 Gangguan persepsi sensori
Halusinasi pendengaran
Ds:
klien mengatakan sering
mendengar suara yangtidak ada
wujudnya, klien mengatakan
ingin cepat pulang
DO:
Klien tampak tenang
Ttv:
Td: 110/80 mmhg
N: 90x/i
S: 36
RR; 22
06 januari 2023 5 Gangguan persepsi sensori
Halusinasi pendengaran
Ds:
Klien terusmengatakan ingin
cepat pulang
DO:
Klien tampak tenang
24
O: klien tampak gelisah, sedih
A: gangguan persepsi sensori
( halusinasi ) bd gangguan
pendengaran
P: gangguan persepsi sensori
tidak terjadi lagi dengan kriteria
hasil :
Verbalisasi mendengar bisikan
menurun
07 januari 2023 6 Gangguan persepsi sensori
Halusinasi pendengaran
Ds:
Klien mengatakan sudah jarang
mendengar suara suara tidak
nyata itu
DO:
Klien tampak tenang
Ttv:
Td: 110/70 mmhg
N: 98x/i
S: 36,5
RR; 22
25
3.3 Intervensi
26
5 Jum’at Gangguan persepsi - Mengobservasi k/u
sensori bd gangguan - Os terlihat tenang
pendengaran - Mengarahkan os mandi dan
ganti pakkaian
- Mengarahkan os makan
- Memberikan os obat
6 Sabtu Gangguan persepsi - Mengobservasi k/u os
sensori bd gangguan - Observasi kemampuan os
pendengaran kontrol halusinasi
- Membimbing os mandi dan
ganti baju
- Membimbing os makan
27
3.4 Implementasi
28
3.5 Evaluasi
29
S: 36,7
RR; 20
A: gangguan persepsi sensori
( halusinasi ) bd gangguan
pendengaran
P: gangguan persepsi sensori
tidak terjadi lagi dengan
kriteria hasil :
Verbalisasi mendengar
bisikan menurun
30
pendengaran tidak ada wujudnya
O: klien tampak gelisah, sedih
Ttv:
Td: 100/80 mmhg
N: 98x/i
S: 36,5
RR; 22
A: gangguan persepsi sensori
( halusinasi ) bd gangguan
pendengaran
P: gangguan persepsi sensori
tidak terjadi lagi dengan
kriteria hasil :
Verbalisasi mendengar
bisikan menurun
31
kriteria hasil :
Verbalisasi mendengar
bisikan menurun
32
3.6 ANALISA PROSES INTERAKSI
K: waalaikum salam K: klien memandang Perawat tetap menjaga posisi Klien merespon positif Perawat pertahankan
perawat dan menjawab tubuh dengan terapeutik dengan menjawab salam sikap terbuka
salam perawat
P: perkenalkan saya perawat P: suara jelas Perawat mencoba untuk Klien mendengarkan Membina hubungan
33
d saya senang di panggil d memandang klien membuka diri dan mencoba pertanyaan perawat saling percaya
saya mahasiswa dari dengan bersahabat menggali identitas klien
baiturrahim. Kalau boleh tau
nama bapak siapa ya? K: memandang perawat
Senang di paggil apa pak? dan tersenyum
K: bapak Z panggil saja K: Suara klien terdengar Perawat menunjukkan sikap Klien terlihat mulai Memperkenalkan diri
bapak Z jelas terbuka dengan klien menampakkan rasa dengan mengatakan
percaya nama panggilan
P: mendengarkan
dengan penuh perhatian
P: oh baik pak bagaimana P: suara jelas tetap Perawat mencoba membuka Klien tampak menerima Perawat mencoba
perasaan bapak Z hari ini? tersenyum diri dan terbuka menggali kondisi klien
K: memandang perawat
K: alhamdulilah baik, bapak K: suara terdengar jelas Perawat menunjukkan sikap Klien sudah mulai Klien sudah mulai
selalu sehat P: memandang klien terbuka dengan klien menanamkan sikap membuka diri dengan
34
dengan sikap bersahabat terbuka dengan perawat perawat
P: apa yang bapak rasakan? P: suara jelas Perawat mulai menggali Klien memjawab dengan Klien membuka diri
kondisi klien sikap terbuka
K: saya pernah mendengar K: menjawab dengan
suara suara yang tidak nyata lantang
P: ya apa yang telah bapak P: Bertanya dengan Perawat mulai menggali Klien memjawab dengan Perawat menggali terus
lakukan untuk mengatasi jelas dan lantang kondisi klien sikap terbuka kondisi klien
suara suara yang tidak ada
wujudnya itu?
K: tidak ada bu diam saja K: Menjawab dengan Perawat terus emggali kondisi Klien menjawab dengan Perawat menggali terus
jujur klien jujur kondisi klien
P: bagaimana kalau hari ini P: Kontrak dengan Perawt mengontrak waktu Klien setuju dengan Perawat dan klien
kita belajar untuk pasien dan tempat perawat menyetujui untuk
mengatasinya tujuannya melatih mengatasi suara
agar bapak lebih tenang suara tidak nyata
apakah bapak bersedia?
35
tersebut.
K: iya saya bersedia
K: menyetujui
36
yang dilakukan untuk mengatasinya santai mengatsi kepada klien
K: diam saja mengatasinya
K: menjawab dengan
respon biasa aja
37
palsu kamu tidak nyata melakukannya berlatih arahan perawat
K: menutup telinga
sambil melakukannya
P: bagaimana perasaan
bapak setelah kita layihan P: bertanya dengan Perawat menanyakan Klien menjawab dengan Klien merasa lega
tadi? memandang klien perasaan klien tersenyum
K: lega bu rasanya K: klien menjawab
sambil tersenyum
P: nanti bapak latihan secara
teratur sendiri ya. Baikklah Menjelaskan krontrak Perawat membuat kontrak Klien menyetujui Membuat kontrak
besok kita akan bertemu lagi selanjutnya selanjutnya selanjtnya
untuk membahas latihan ini? K: menyetujui
Apakah bapak bersedia?
Bapak maunya jam brapa?
Dimana tempatnya?
K: iya bersedia bu jam
segini lagi aja buk di sini
saja bu
38
P: kalau begitu besokmkita
ketemu lagi ya pak sekian P: mengakhiri Perawat menutup pertemuan Klien menjawab salam Mengakhiri pertemuan
dulu pertemuan kita hari ini pertemuan hari ini hari ini
saya khiri dengan mengucapsalam
wassalamualaikum wr wb sambil berjawab tangan
K: baik terimaksih ibu K: menjawab salam
waalaikumsalam wr wb dengan tersenyum
39
BAB IV
PEMBAHASAN
40
Evalusi merupakan tahap akhir dalam proses keperawatan untuk mencapai
keberhasilan asuhan keperawatan. Kelompok selalu mengamati langsung
perubahan yang terjadi pada klien serta respon klien tentang tindakan yang
diberikan. Hasil dari evaluasi yang dilakuka kelompok berdasarkan atara teori
dan praktek dilapangan adalah :
1. Diagnosa I : Halusinasi
Diagnosa I : Halusianasi
Masalah Teratasi : Klien mamapu melawan halusinasi dengan cara
menghardik yang dilakukan klien apabila mendengar suara-suara. Klien
mamapu melaksanan/melakukan kegiatan terjadwal yang telah dibuat
bersama.
41
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN
Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori dimana Pasien
mempersepsikan sesuatu melalui panca indra tanpa ada stimulus eksternal.
Hal ini dialami oleh sesorang yang mengalami gangguan jiwa. Terapi
generalis ini dapat dilakukan untuk mengatasi gangguan persepsi sensori:
halusinasi dengan melakukan komunikasi yang baik verbal maupun non
verbal secara efektif. Keberhasilan pemberian terapi generalis dengan strategi
pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan perawat tergantung
bagaimana perawat mampu memotivasi pasien agar dapat mengungkapkan
perasaanya, dan mengungkapkan perilaku yang diperankannya serta
menilainya sesuai dengan kondisi realitas. Tujuan darai terapi individu
mencakup seluruh aspek kehidupan yang menjadi beban psikisnya. Hal ini
memungkinkan dalam proses terapi individu masalah yang terjadi pada pasien
akan digali oleh perawat sampai pada titik permasalahan yang penting dan
didiskusikan sesuai dengan situasi, kondisi, serta kemampuan yang dimiliki
pasien.
5.2 SARAN
Asuhan keperawatan ini disusun dengan menggunakan pedoman dari
berbagai sumber dengan harapan dapat memberikan manfaat bagi pembaca.
Asuhan keperawatan ini dapat bermanfaat lebih baik apabila pembaca juga
menggunakan referensi yang lain sehingga pembaca mengetahui kelemahan
dan kelebihannya dan dapat menjadi salah satu acuan untuk mengetahui
tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan persepsi sensori :
halusinasi pendengaran.
42
DAFTAR PUSTAKA