0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5K tayangan17 halaman

Simplisia

Makalah ini membahas tentang simplisia, yang merupakan bahan alami yang digunakan untuk obat tradisional dan belum mengalami perubahan proses. Simplisia dapat diklasifikasikan menjadi simplisia nabati, hewani, dan pelikan/mineral. Simplisia memiliki kelebihan seperti efek samping lebih kecil, namun juga kekurangan seperti efek farmakologis yang lemah. Aturan penulisan nama simplisia meliputi pen

Diunggah oleh

faradina
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5K tayangan17 halaman

Simplisia

Makalah ini membahas tentang simplisia, yang merupakan bahan alami yang digunakan untuk obat tradisional dan belum mengalami perubahan proses. Simplisia dapat diklasifikasikan menjadi simplisia nabati, hewani, dan pelikan/mineral. Simplisia memiliki kelebihan seperti efek samping lebih kecil, namun juga kekurangan seperti efek farmakologis yang lemah. Aturan penulisan nama simplisia meliputi pen

Diunggah oleh

faradina
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH SIMPLISIA

FARMAKOGNOSI

DISUSUN OLEH :

Ika Lely Andreina


(AKF18185)

AKADEMI FARMASI
PUTERA INDONESIA MALANG
2018/2019

1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tumbuhan adalah keseragaman hayati yang selalu ada disekitar kita,
baik itu yang tumbuh secara liar maupun yang sengaja dibudidayakan. Sejak
zaman dahulu, tumbuhan sudah digunakan sebagai tanaman obat, walaupun
penggunaannya disebarkan secara turun-temurun maupun dari mulut ke
mulut. Namun saat ini telah didukung dengan penelitian ilmiah, tumbuhan
secara fungsional tidak lagi dipandang sebagai bahan konsumsi maupun
penghias saja, tetapi juga sebagai tanaman obat yang multifungsi (Yuniarti,
2008).
Di Indonesia terdapat berbagai macam tanaman obat. Tanaman obat
atau yang biasa dikenal dengan obat herbal adalah sediaan obat baik berupa
obat tradisional, fitofarmaka, maupun farmasetika. Dapat berupa simplisia
(bahan segar atau yang dikeringkan), ekstrak, kelompok senyawa atau
senyawa murni yang berasal dari alam. Tanaman obat dapat memberikan nilai
tambah apabila diolah lebih lanjut menjadi berbagai jenis produk. Tanaman
obat tersebut dapat diolah menjadi berbagai macam produk, seperti simplisia
(rajangan), serbuk, minyak atsiri, ekstrak kental, ekstrak kering, kapsul
maupun tablet.
Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan untuk obat
tradisional dan belum mengalami perubahan proses apapun, kecuali proses
pengeringan (Rukmi, 2009). Simplisia telah lama dikenal di masyarakat
sebagai bahan dasar obat tradisional yang bermanfaat untuk mengobati suatu
penyakit tanpa menimbulkan efek samping apapun. Agar dapat bermanfaat
dengan optimal simplisia harus memenuhi syarat sebagai simplisia yang
aman, berkhasiat, dan bermutu baik. Simplisa yang aman adalah simplisia
yang tidak mengandung bahaya bagi kesehatan serta simplisia yang masih
mengandung bahan aktif yang berkhasiat bagi kesehatan (Herawati, 2012).
Jenis simplisia sangat beragam, terutama simplisia jenis tumbuhan. Simplisia
jenis tumbuhan merupakan simplisia yang diambil dari bagian tumbuhan

2
yang dapat bermanfaat, seperti daun, bunga, buah, biji, rimpang, batang, dan
akar.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan simplisia?
2. Bagaimana klasifikasi dari simplisia?
3. Apa kelebihan dan kekurangan dari simplisia?
4. Bagaimana aturan dalam penulisan simplisia?
5. Faktor apa saja yang mempengaruhi kualitas dari simplisia?
6. Bagaimana dasar dalam pembuatan simplisia?
7. Bagaimana tahapan pembuatan simplisia dengan metode pengeringan?
8. Bagaimana saintifikasi jamu?
9. Bagaimana standarisasi terhadap simplisia ?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mendiskripsikan pengertian dari simplisia
2. Untuk mendiskripsikan klasifikasi dari simplisia
3. Untuk mendiskripsikan kekurangan dan kelebihan dari simplisia
4. Untuk mendiskripsikan aturanpenulisan nama simplisia
5. Untuk mendiskripsikan faktor yang mempengaruhi kualitas simplisia
6. Untuk mendiskripsikan dasar pembuatan simplisia
7. Untuk mendiskripsikan tahapan dari pembuatan simplisia dengan metode
pengeringan
8. Untuk mendiskripsikan saintifikasi jamu
9. Untuk mendiskripsikan standarisasi dari simplisia

3
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Simplisia


Pengetahuan tentang tanaman berkhasiat obat ini sudah lama dimiliki
oleh nenek moyang kita dan hingga saat ini telah banyak yang terbukti secara
ilmiah. 5 Dan Pemanfaatan tanaman obat Indonesia akan terus meningkat
mengingat kuatnya keterkaitan bangsa Indonesia terhadap tradisi kebudayaan
memakai jamu. Bagian-bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat
yang disebut simplisia. Istilah simplisia dipakai untuk menyebut bahan-bahan
obat alam yang masih berada dalam wujud aslinya atau belum mengalami
perubahan bentuk (Gunawan, 2010).
Simplisia atau herbal adalah bahan alam yang telah dikeringkan yang
digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami pengolahan, kecuali
dinyatakan lain suhu pengeringan simplisia tidak lebih dari 600 C (Ditjen
POM, 2008).
Simplisia merupakan bahan awal pembuatan sediaan herbal. Mutu
sediaan herbal sangat dipengaruhi oleh mutu simplisia yang digunakan. Oleh
karena itu, sumber simplisia, cara pengolahan, dan penyimpanan harus dapat
dilakukan dengan cara yang baik. Simplisia adalah bahan alam yang
digunakan sebagai bahan sediaan herbal yang belum mengalami pengolahan
apapun dan kecuali dinyatakan lain simplisia merupakan bahan yang telah
dikeringkan (Ditjen POM, 2005).
Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain,
simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia dapat berupa
simplisia nabati, simplisia hewani dan simplisia pelikan atau mineral.

4
2.2 Klasifikasi Simplisia
Berdasarkan pengertian dari simplisia, simplisia dapat dibedakan
menjadi beberapa golongan, diantaranya adalah:

1) Simplisia nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh,
bagian tumbuhan atau eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan adalah isi sel
yang secara spontan keluar dari tumbuhan atau dengan cara tertentu
dikeluarkan dari selnya 6 atau zat nabati lain yang dengan cara tertentu
dipisahkan dari tumbuhannya (Ditjen POM, 1995).Contoh bagian tanaman
yang digunakan bisa berbentuk daun, akar, batang, kulit batang, biji, buah
dan bunga.
2) Simplisia hewani
Simplisia hewani adalah simplisia berupa hewan utuh atau zat-zat
berguna yang dihasilkan oleh hewan. Contohnya adalah minyak ikan dan
madu (Gunawan, 2010).
3) Simplisia pelikan atau mineral
Simplisia pelikan atau mineral adalah simplisia berupa bahan pelikan
atau mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana.
Contohnya serbuk seng dan serbuk tembaga (Gunawan, 2010).Contoh
simplisia yang berasal dari mineral antara lain Paraffinum liquidum,
paraffinum solidum dan vaselin.

2.3 Kelebihan dan Kekurangan Penggunaan Simplisia


Simplisia mempunyai kelebihan dan kekurangan, diantaranya adalah:
Kelebihan dari simplisia
1. Efek samping relatif lebih kecil bila digunakan secara benar dan tepat,
baik tepat takaran, waktu penggunaan, cara penggunaan, ketepatan
pemilihan bahan, dan ketepatan pemilihan obat tradisional atau ramuan
tanaman obat untuk indikasi tertentu.
2. Adanya efek komplementer dan atau sinergisme dalam ramuan
obat/komponen bioaktif tanaman obat. Dalam suatu ramuan obat

5
tradisional umumnya terdiri dari beberapa jenis tanaman obat yang
memiliki efek saling mendukung satu sama lain untuk mencapai
efektivitas pengobatan. Formulasi dan komposisi ramuan tersebut dibuat
setepat mungkin agar tidak menimbulkan efek kontradiksi, bahkan harus
dipilih jenis ramuan yang saling menunjang terhadap suatu efek yang
dikehendaki.
3. Pada satu tanaman bisa memiliki lebih dari satu efek farmakologi. Zat
aktif pada tanaman obat umumnya dalam bentuk metabolit sekunder,
sedangkan satu tanaman bisa menghasilkan beberapa metabolit sekunder,
sehingga memungkinkan tanaman tersebut memiliki lebih dari satu efek
farmakologi.
4. Lebih sesuai untuk penyakit-penyakit metabolik dan degeratif. Perubahaan
pola konsumsi mengakibatkan gangguan metabolisme dan faal tubuh
sejalan dengan proses degenerasi. Yang termasuk penyakit metabolik
antara lain diabetes (kencing manis), hiperlipidemia (kolesterol tinggi),
asam urat, batu ginjal, dan hepatitis. Sedangkan yang termasuk penyakit
degeneratif antara lain rematik (radang persendian), asma (sesak nafas),
ulser (tukak lambung), haemorrhoid (ambein/ wasir), dan pikun (lost of
memory). Untuk mengobati penyakit-penyakit tersebut diperlukan waktu
lama sehingga penggunaan obat alam lebih tepat karena efek sampingnya
relatif lebih kecil.
Kekurangan dari simplisia
1. Efek farmakologisnya lemah.
2. Bahan baku obat belum terstandar.
3. Bersifat higroskopis. Suatu zat disebut higroskopis jika zat tersebut
mempunyai kemampuan menyerap molekul air yang baik. Zat yang sangat
higroskopis akan larut dalam molekul-molekul air yang diserapnya
sehingga mudah rusak.
4. Umumnya pengujian bahan-bahan pengobatan tradisional belum sampai
tahap uji klinis.
5. Mudah tercemar berbagai jenis mikoorganisme.

6
2.4 Aturan Penulisan Nama Simplisia
Tata Nama Latin Tanaman
Nama latin tananman terdiri dari 2 kata, kata pertama mennunjukan
genus dan kata kedua menunjukan spesies, misalnya nama latin pada Oryza
sativa, jadi Oryza adalah genusnya sedangkan sativa adalah spesiesnya. Huruf
pertama dari genus ditulis dengan huruf besar dan huruf pertama dari
petunjuk spesies ditulis dengan huruf kecil. Nama latin tanaman tidak boleh
lebih dari 2 perkataan, jika lebih dari 2 kata (3kata), 2 dari 3 kata tersebut
harus digabungkan dengan tanda (-). Contoh: Hibiscus rosa – sinensis.
Kadang-kadang terjadi penggunan 1 nama latin terhadap 2 tanaman yang
berbeda, hal ini disebut homonim dan keadaan ini terjadi sehingga ahli botani
lain keliru menggunakan nama latin yang bersangkutan terhadap tanaman lain
yang juga cocok dengan uraian morfologis tersebut.
Tata Nama Simplisia
Dalam ketentuan umum Farmakope Indonesia disebutkan bahwa nama
simplisia nabati ditulis dengan menyebutkan nama genus atau spesies nama
tananman, diikuti nama bagian tanaman yang digunakan. Ketentuan ini tidak
berlaku untuk simplisisa nabati yang diperoleh dari beberapa macam tanaman
dan untuk eksudat nabati.
Contoh :
1. Genus+nama bagian tanaman: Cinchonae Cortex, Digitalis Folium, Thymi
Herba, Zingiberis Rhizoma.
2. Petunjuk spesies + nama bagian tanaman: Belladonnae Herba, Serpylli
Herba.
3. Genus+petunjuk spesies+nama bagian tanaman: Capsici frutescentis
Fructus.
Keterangan : Nama spesies terdiri dari genus+petunjuk spesies
Contoh :
Nama spesies     : Cinchona succirubra
Nama genus       : Cinchona
Petunjuk species : succirubra.

7
2.5 Faktor yang Mempengaruhi Kualitas Simplisia
Ada dua faktor yang mempengarui kualitas simplisia, yaitu faktor bahan
baku dan proses pembuatannya.

1. Bahan baku simplisia


Berdasarkan bahan bakunya, simplisia dapat diperoleh dari
tanaman liar dan tanaman yang dibudidayakan. Jika simplisia diambil
dari tanaman yang dibudidayakan maka keseragaman umur, masa panen,
galur (asal usul, garis keturunan) tanaman dapat dipantau. Sementara jika
diambil dari tanaman liar maka banyak kendala dan variabilitas yang
tidak bias dikendalikan seperti asal tanaman, umur, dan tempat tumbuh.
2. Proses pembuatan simplisia
Dalam proses pembutan simplisia ada beberapa tahapan yang harus
dilakukan. Tahapan tersebut meliputi:
a. Pengumpulan bahan baku
Kualitas bahan baku ditentukan oleh tahapan yang dilakukan
dalam pengumpulan bahan baku tersebut. Salah satu tahapan yang
berperan dalam hal ini yaitu masa panen. Masa panen dilakukan
sesuai dengan tanaman yang akan digunakan, yaitu sebagai berikut.
1) Biji, pengambilan biji dapat dilakukan pada saat mulai
mengeringnya buah atau sebelum semuanya pecah.
2) Buah, pengambilan buah tergantung tujuan dan pemanfaatan
kandungan aktifnya. Panen buah bisa dilakukan saat menjelang
masak (misalnya Piper ningrum), setelah benar-benar masak
(misalnya adas), atau dengan cara melihat perubahan warna/
bentuk dari buah yang bersangkutan (misalnya jeruk, papaya).
3) Bunga, pemanenan bunga tergantung dari tujuan pemanfaatan
kandungan aktifnya, panen dapat dilakukan pada saat menjelang
penyerbukan, pada saat bunga masih kuncup (seperti jasminum
sambac) atau pada saat bunga sudah mulai mekar (seperti Rosa
sinensis).

8
4) Daun atau herba, panen daun atau herba dilakukan pada saat
herba pada saat proses fotosintesis berlangsung maksimal, yaitu
ditandai dengan saat saat tanaman mulai berbunga atau buah
mulai masak. Untuk pengambilan pucuk daun, dianjurkan pada
saat warna pucuk daun berubah menjadi daun tua.
5) Kulit batang, pemanenan kulit batang hanya dilakukan pada
tanaman yang sudah cukup umur. Saat panen yang paling baik
adalah awal musim kemarau.
6) Umbi lapis, panen umbi dilakukan pada saat akhir pertumbuhan.
7) Rimpang, panen rimpang dilakukan pada saat awal musim
kemarau.
8) Akar, panen akar dilakukan pada saat proses pertumbuhan
berhenti atau tanaman sudah cukup umur. Panen yang dilakukan
terhadap akar umummnya akan mematikan tanaman yang
bersangkutan.
b. Sortasi basah
Sortasi basah adalah pemilahan hasil panen ketika tanaman
masih segar. Sortasi dilakukan terhadap tanah dan kerikil, rumput-
rumputan, bagian tanaman lain atau bagian lain dari tanaman yang
tidak digunakan, dan bagian tanaman yang rusak.
c. Pencucian
Pencucian simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran
yang melekat, terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah
dan bahan-bahan yang tercemar pestisida. Pencucian dilakukan
dengan menggunakan air yang bersih (tidak tercemar).
d. Pengubahn bentuk
Tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk memperluas
permukaan bahan baku. Semakin luas permukaan maka bahan baku
akan semakin cepat kering. Pengubahan bentuk seperti perajangan
(rimpang, daun, herba), pengupasan (buah, kayu, kulit kayu, dan biji-
bijian yang ukurannya besar), pemiprilan (jagung : biji dipisahkan dari
bonggolnya), pemotongan (akar, kayu, kulit kayu, dan ranting).

9
e. Pengeringan
Pengeringan simplisia bertujuan untuk menurunkan kadar air
sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi kapang dan bakteri,
menghilangkan aktivitas enzim yang bias menguraikan lebih lanjut
kandungan zat aktif, memudahkan dalam hal pengelolaan proses
selanjutnya (ringkas, mudah disimpan, tahan lama, dan sebagainya).
f. Sortasi kering
Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses
pengeringan.
g. Pengepakan dan penyimpanan
Setelah semua tahapan diatas telah dilakukan, maka
simplisianya disimpan didalam wadah. Factor-faktor yang
mempengaruhi pengepakan dan penyimpanan simplisia yaitu cahaya,
sirkulasi udara (O2), reaksi kimia yang terjadi antara kandungan aktif
tanaman dengan wadah, penyerapan air, kemungkinan terjadinya
prose dehidrasi, pengotoran dan atau pencemaran (baik yang
diakibatkan oleh serangga, kapang, bulu-bulu tikus atau binatang
lain).

2.6 Dasar Pembuatan Simplisia


1. Simplisia dibuat dengan cara pengeringan
Pembuatan simplisia dengan cara ini dilakukan dengan pengeringan
cepat, tetapi dengan suhu yang tidak terlalu tinggi. Pengeringan yang
terlalu lama akan mengakibatkan simplisia yang diperoleh ditumbuhi
kapang. Pengeringan dengan suhu yang tinggi akan mengakibatkan
perubahan kimia pada kandungan senyawa aktifnya. Untuk mencegah hal
tersebut, untuk simplisia yang memerlukan perajangan perlu diatur
panjang perajangannya, sehingga diperoleh tebal irisan yang pada
pengeringan tidak mengalami kerusakan. Contohnya adalah simplisia daun
sirsak.

10
2. Simplisia dibuat dengan fermentasi
Proses fermentasi dilakukan dengan seksama, agar proses tersebut
tidak berkelanjutan kearah yang tidak diinginkan.
3. Simplisia dibuat dengan proses khusus
Pembuatan simplisia dengan penyulingan, pengentalan eksudat
nabati, penyaringan sari air dan proses khusus lainnya dilakukan dengan
berpegang pada prinsip bahwa pada simplisia yang dihasilkan harus
memiliki mutu sesuai dengan persyaratan. Contohnya adalah simplisia
daun nilam.
4. Simplisia pada proses pembuatan memerlukan air
Seperti pati, talk dan sebagainya pada proses pembuatannya
memerlukan air. Air yang digunakan harus terbebas dari pencemaran
serangga, kuman patogen, logam berat dan lain-lain.

2.7 Tahapan Pembuatan Simplisia Dengan Metode Pengeringan


1) Pengumpulan bahan baku
Tahapan pengumpulan bahan baku sangat menentukan kualitas
bahan baku. Faktor yang paling berperan dalam tahapan ini adalah
masapanen. Panen daun atau herba dilakukan pada saat proses foto
sintesis berlangsung maksimal, yaitu ditandai dengan saat-saat tanaman
mulai berbunga atau buah mulai masak.
2) Sortasi basah
Sortasi basah adalah pemilahan hasil panen ketika tanaman masih
segar. Sortasi dilakukan terhadap tanah dan krikil, rumput-rumputan,
bahan tanaman lain atau bagian lain dari tanaman yang tidak digunakan
dan bagian tanaman yang rusak (dimakan ulat dan sebagainya).
3) Pencucian
Pencucian simplisia dilakukan untuk membersihkan kotoran yang
melekat, terutama bahan-bahan yang berasal dari dalam tanah dan juga
bahan-bahan yang tercemar pestisida.

11
4) Pengubahan bentuk
Pada dasarnya tujuan pengubahan bentuk simplisia adalah untuk
memperluas permukaan bahanbaku. Semakin luas permukaan maka
bahan baku akan semakin cepat kering. Proses pengubahan bentuk untuk
rimpang, daun dan herba adalah perajangan.
5) Pengeringan
Proses pengeringan simplisia terutama bertujuan untuk
menurunkan kadar air sehingga bahan tersebut tidak mudah ditumbuhi
kapang dan bakteri serta memudahkan dalam hal pengolahan proses
selanjutnya (ringkas, mudah disimpan, tahan lama dan sebagainya).
Pengeringan dapat dilakukan lewat sinar matahari langsung maupun
tidak langsung juga dapat dilakukan dalam oven dengan suhu maksimum
60oC.
6) Sortasi Kering
Sortasi kering adalah pemilihan bahan setelah mengalami proses
pengeringan. Pemilihan dilakukan terhadap bahan-bahan yang terlalu
gosong, bahan yang rusak akibat terlindas roda kendaraan (missalnya
dikeringkan di tepi jalan raya, atau dibersihkan dari kotoran hewan.
7) Pengepakan dan penyimpanan
Setelah tahap pengeringan dan sortasi kering selesai maka simplisia
perlu ditempatkan dalam suatu wadah tersendiri agar tidak saling
bercampur antara simplisia satu dengan yang lainnya (Gunawan, 2004).

12
2.8 SAINTIFIKASI JAMU

Jamu merupakan warisan turun temurun kearifan lokal masyarakat


lndonesia untuk memelihara kesehatan dan menyembuhkan penyakit.
Namun demikian, sebagai pengobatan tradisional, jamu masih dianggap
kekurangan bukti ilmiah dalam hal khasiat dan keamanan. Di pihak lain,
terdapat tuntutan yang tinggi untuk menggunakan jamu dalam pelayanan
kesehatan, termasuk arahan Presiden lndonesia untuk mengangkat jamu
sebagai alternatif terapi pada pelayanan kesehatan. Saintifikasi Jamu
dipandang sebagai upaya terobosan untuk mempercepat penelitian jamu di
sisi hilir. Pemerintah, melalui Departemen Kesehatan meluncurkun
program sainitifikasi jamu mulai tahun lalu, dengan melibatkan dokter,
tenaga kesehatan, Rumah sakit, dan Puskesmas di Jawa tengah. Jawa
tengah di pilih karena merupakan daerah penghasil jamu terbesar
diIndonesia. Saintifikasi di maksudkan untuk mengumpulkan bukti ilmiah
khasiat jamu melalui penelitian secara empiris berbasis pelayanan
kesehatan. Tentu butuh waktu yang panjang untuk memetakan semua
potensi bahan obat yang ada. Namun setidaknya ini adalah terobosan besar
di bidang obat-obatan tradisional.
Selama ini jamu dan obat-obatan tradisional tidak mendapat tempat di
kalangan dokter, karena lemahnya bukti ilmiah. Pengembangan jamu
harus selaras dengan standar yang ada pada obat-obat farmasi. Uji klinis
dan standarisasi bahan jamu tentu saja memegang peranan penting,jika
ingin di akui sebagai bahan obat.
Jika santifikasi sudah berjalan dengan baik, obat-obatan tradisional sebagai
sebuah industry pun akan dapat dikembangkan. Bahan-bahan jamu yang
terstandar dapat dikemas dalam bentuk kapsul, puyer ataupun tablet seperti
layaknya obat-obatan konvensional yang biasa di gunakan. Dosis
pemakaian, Khasiat dan kegunaan dari tiap obat, serta efek samping yang
mungkin timbul dapat disertakan dalam kemasan.

13
2.9 STANDARISASI SIMPLISIA
Syarat yang harus dipenuhi antara lain simplisia tidak mengandung
pestisida berbahaya, logam berat, dan senyawa toksik dan beberapa
persyaratan lain dalam Farmakope Indonesia.
Parameter standarisasi antara lain:
 Organoleptik
Pemeriksaan meliputi warna, bau, dan rasa.
 Makrokospis
Pemeriksaan dengan dilihat secara langsung, dapat juga dengan bantuan
kaca pembesar
 Mikrokosis
Pemeriksaan dengan melihat jaringan sel simplisia dibawah mikroskop
 Fluoresensi
Uji ini dapat dilakukan terhadap ekstrak, atau larutan yang dibuat dari
simplisia
 Kelarutan
Dilakukan pada simplisia yang berupa eksudat tanaman
 Reaksi warna , pengendapan, dan reaksi lain
Pada reaksi warna dapat dilakukan pada simplisia yang telah diserbuk
 Pada reaksi pengendapan dilakukan pada ekstrak larutan simplisia yang
jernih.
 Kromatografi
Cara ini mempunyai kepekaan yang tinggi, cepat, sederhana dan murah.
 Penetapan kadar
Syarat untuk dapat diterapkannya pengujian yang berupa zat ini adalah
telah diketahui secara pasti kadar minimal zat berkhasiat yang harus
dikandung oleh simplisia
 Cemaran mikroba dan aflatoksin
Seperti Aspergillus flavus, merupakan mikroba jamur yang tidak
berbahaya, tetapi metabolit aflatoksinnya menyebabkan keracunan.

14
 Cemaran logam beratSeperti cemaran hydrogen sulfida tidak boleh
melebihi batas logam berat pada monografi yang dinyatakan sebagai
timbal
Dalam makala ini akan dibahas mengenai cemaran logam berat dalam
simpilisia, yaitu :
Cemaran adalah Bahan yang keberadaannya tidak dikehendaki dan
mungkin ada sebagai akibat dari berbagai tahapan sejak dari bahan
baku, proses produksi, pengemasan,transpotasi atau dari kontaminasi
lingkungan.Logam berat adalah elemen kimiawi metalik dan metaloida
, memiliki bobot atom dan bobot jenis yang tinggi, yang dapat bersifat
racun bagi mahluk hidup Logam berat umumnya bersifat racun
terhadap mahluk hidup. Melalui berbagai perantara, seperti udara,
makanan, maupun air yang terkontaminasi oleh logam berat, logam
tersebut dapat terdistribusi ke bagian tubuh manusia dan sebagian akan
terakumulasikan. Jika keadaan ini berlangsung terus menerus, dalam
jangka waktu yang lama dapat mencapai jumlah yang membahayakan
kesehatan manusia.

15
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Simplisia adalah bahan alamiah yang digunakan sebagai obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain,
simplisia merupakan bahan yang dikeringkan. Simplisia di bagi menjadi tiga,
yaitu : simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia mineral. Faktor-faktor
yang mempengaruhi kualitas dari simplisia adalah bahan baku dan proses dari
pembuatan simplisia itu sendiri. Dan dasar dari pembuatan simplisia adalah
simplisia dibuat dengan cara pengeringan, fermentasi, proses khusus seperti
penyulingan, dan proses pembuatan yang memerlukan air.

16
DAFTAR PUSTAKA

Adisaputro, Gunawan. 2010. Manajemen Pemasaran Analisis Untuk


Perancangan Strategi Pemasaran. Yogyakarta: UPP STIM YKPN.
BPOM. 2008. Informatorium Obat Nasional Indonesia. Jakarta: Badan Pengawas
Obat dan Makanan Republik Indonesia.
Bunny. Desember 2008. “Keunggulan
Simplisia”.http://thepharmacyst.blogspot.com/2008/12/keunggulan-
simplisia.html
Ditjen POM. 1995. Farmakope indonesia Edisi ke IV. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Direktorat Jenderal POM. 2005. Standarisasi Ekstrak Tumbuhan Obat Indonesia,
Salah Satu Tahapan Penting Dalam Pengembangan Obat Asli Indonesia.
Jakarta: Kepala BPOM.
Gunawan, Didiki. 2004. Ilmu Obat Alam. Bogor: Penebar Swadaya.
Herawati, W.D. 2012. Budidaya Padi. Yogyakarta: Javalitera.
Rukmi, Isworo. 2009. Keanekaragaman Aspergillus Pada Berbagai Simplisia
Jamu Tradisional. Semarang: Jurusan Biologi, Universitas Diponegoro.
Unknown. Nopember 2012. “Keunggulan dan Kekurangan Obat Herbal”.
http://kuliahumumfarmasi.blogspot.com/2012/11/keunggulan-dan-
kekurangan-obat-herbal.html
Yudi. Januari 2012.
“Simplisia”http://yudiagussaputra.blogspot.com/2012/01/simplisia.html
Yuniarti, T. 2008. Ensiklopedia Tanaman Obat Tradisional. Yogyakarta:
MedPress.
Fajriyah,sofiatul.,Apt,2011. pembuatan simplisia dan standarisasi mutu
simplisia.yogyakarta:wordpress.com
https://shofipunya.wordpress.com/2011/12/08/pembuatan-simplisia-dan-
standarisasi-mutu-simplisia/

17

Anda mungkin juga menyukai