Anda di halaman 1dari 27

A.

Tinjauan Pustaka
Menurut Robinson (1991) alasan lain melakukan fitokimia adalah untuk
menentukan ciri senyawa aktif penyebab efek racun atau efek yang bermanfaat,
yang ditunjukan oleh ekstrak tumbuhan kasar bila diuji dengan sistem biologis.
Pemanfaatan prosedur fitokimia telah mempunyai peranan yang mapan dalam
semua cabang ilmu tumbuhan. Meskipun cara ini penting dalam semua telaah
kimia dan biokimia juga telah dimanfaatkan dalam kajian biologis.
Pada tahun terakhir ini fitokimia atau kimia tumbuhan telah berkembang
menjadi satu disiplin ilmu tersendiri, berada diantara kimia organik bahan alam
dan biokimia tumbuhan, serta berkaitan dengan keduanya. Bidang perhatiannya
adalah aneka ragam senyawa organik yang dibentuk dan ditimbun oleh
tumbuhan, yaitu mengenai struktur kimianya, biosintesisnya, perubahan serta
metabolismenya, penyebarannya secara ilmiah dan fungsi biologisnya
(Harborne, 1984).

Fitokimia atau kadang disebut fitonutrien, dalam arti luas adalah segala
jenis zat kimia atau nutrien yang diturunkan dari sumber tumbuhan,
termasuk sayuran dan buah-buahan. Dalam penggunaan umum, fitokimia
memiliki definisi yang lebih sempit. Fitokimia biasanya digunakan untuk
merujuk pada senyawa yang ditemukan pada tumbuhan yang tidak dibutuhkan
untuk fungsi normal tubuh, tapi memiliki efek yang menguntungkan bagi
kesehatan atau memiliki peran aktif bagi pencegahan penyakit. Karenanya, zat-
zat ini berbeda dengan apa yang di istilahkan sebagai nutrien dalam pengertian
tradisional, yaitu bahwa mereka bukanlah suatu kebutuhan
bagi metabolisme normal, dan ketiadaan zat-zat ini tidak akan mengakibatkan
penyakit defisiensi, paling tidak, tidak dalam jangka waktu yang normal untuk
defisiensi tersebut.

Mutu dari simplisia yang digunakan dapat diketahui dengan melakukan


pemeriksaan yaitu secara makroskopik (organoleptis) dan mikroskopik.
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan dengan menggunakan kaca pembesar atau
tanpa menggunakan alat. Cara ini dilakukan untuk mencari kekhususan
bentuk,warna,bau dan rasa simplisia (soegiharjo,2013)
Simplisia adalah bahan alam yang di gunakan sebagai bahan obat yang
belum mengalami pengolahan apapun juga kecuali dinyatakan lain, berupa
bahan yang telah di keringkan. (FI III, 1979)
Simplisia terbagi atas 3, yaitu :
1. Simplisia Nabati
Simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman, eksudat
tanaman, atau gabungan ketiganya. Eksudat tanaman adalah isi sel yang
secara spontan keluar dari tanaman atau dengan cara tertentu sengaja
dikeluarkan dari selnya, berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya
dengan cara tertentu dipisahkan, diisolasi dari tanamannya.
2. Simplisia Hewani
Simplisia berupa hewan utuh atau zat-zat berguna yang dihasilkan oleh
hewan dan belum berupa bahan kimia mumi (minyak ikan / Oleum iecoris
asselli, dan madu / Mel depuratum).
3. Simplisia Mineral
Simplisia berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah atau
telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa bahan kimia murni
(serbuk seng dan serbuk tembaga)(Gunawan, 2004).
Dalam hal simplisia sebagai bahan baku (awal) dan produk siap
dikonsumsi langsung, dapat dipertimbangkan tiga konsep untuk
menyusun parameter standar mutu simplisiayaitu sebagai berikut (Dirjen POM,
1989):
1. Bahwa simplisia sebagai bahan kefarmasian seharusnya mempunyai tiga
parameter mutu umum suatu bahan (material), yaitu kebenaran jenis
(identifikasi), kemurnian (bebas dari kontaminasi kimia dan biologis), serta
aturan penstabilan (wadah, penyimpanan dan transportasi).
2. Bahwa simplisia sebagai bahan dan produk konsumsi manusia sebagai obat
tetap diupayakan memiliki tiga paradigma seperti produk kefarmasian
lainnya, yaitu Quality-Safety-Efficacy (mutu-aman-manfaat).
3. Bahwa simplisia sebagai bahan dengan kandungan kimia yang bertanggung
jawab terhadap respons biologis untuk mempunyai spesifikasi kimia, yaitu
informasi komposisi (jenis dan kadar) senyawa kandungan.
Untuk mengetahui kebenaran dan mutu obat tradisional termasuk
simplisia, maka dilakukan analisis yang meliputi analisis kuantitatif dan
kualitatif. Analisis kuantitatif terdiri atas pengujian organoleptik, pengujian
makroskopik, pengujian dan pengujian mikroskopik.
1. Uji Organoleptik, meliputi pemeriksaan warna, baud an rasa dari bahan.
2. Uji Makroskopik, meliputi pemeriksaan cirri-ciri bentuk luar yang spesifik
dari bahan (morfologi) maupun ciri-ciri spesifik dari bentuk anatominya.
3. Uji fisika dan kimiawi, meliputi tetapan fisika (indeks bias, titik lebur, dan
kelarutan) serta reaksi-reaksi identifikasi kimiawi seperti reaksi warna dan
pengendapan.
4. Uji biologi, meliputi penetapan angka kuman, pencemaran, dan percobaan
terhadapa binatang (Gunawan, 2004).

B. Tujuan praktikum
Mahasiswa diharapkan dapat mengidentifikasi beberapa macam haksel yang biasa
digunakan dalam ramuan obat tradisional.
C. Alat dan Bahan
Alat : pensil warna
Bahan :
No NAMA SIMPLISIA NAMA DAERAH
1 Digitalis Folium Daun digitalis
2 Cymbhopogon Serai
3 Theae folium Daun teh
4 Sonchi Folium Daun tempuyung
5 Melaleuca Folium Daun kayu putih
6 Cinnamomi Cortex Kulit manis jangan
7 Chinae cortex Kulit kina
8 Zingiber rhizoma Rimpang jahe
9 Curcuma xanthoriza rhizoma Rimpang temulawak
10 Foenigraeci semen Biji kelabet
11 Foeniculi fructus Biji adas
12 Caryophylli flos Bunga cengkeh
13 Tinosporae caulis Batang brotowali
14 Calami rhizoma Dlingo
15 Sappan lignum Kayu secang
16 Elephantopi Folium Daun tapak liman
17 Piperis albi fructus Lada putih
18 Kaemferia galanga Kencur
19 Rhei radix Akar kelembak
20 Curcuma aeruginosa rhizoma Temu ireng
21 Curcuma domestica rhizoma Kunyit
22 Zingiber purpureum rhizoma Bengle
23 Nicotiana tobacum folium Daun tembakau
24 Curcuma zedoaria rhizoma Rimpang temu putih
25 Curcuma mangga rhizoma Rimpang temu mangga

D. Cara Kerja
Diambil contoh yang mewakili (representatif) simpilisia tersebut.

Sebutkan tanaman asal dan suku (familia), kemudian ciri khas (bila
ada),gambarlah contoh tersebut.

Dilakukan uji secara organoleptis (warna,bau dan rasa), jika perlu dirobek,
dipatahkan atau diremuk
E. Hasil
NO Deskripsi Haksel Gambar Para
f
D Nama simplisia: Digitalis Folium Asli :
A
Nama daerah: daun digitalis
U
N Nama latin: Digitalis purpurea L Foto :
Familia:Scrophuliaceae
D
I Pemerian
G Referensi :
Warna: Hijau kehitaman
I
T Rasa : Pahit
A Bau : khas
L
Bentuk haksel: daun , utuh
I
S Kegunaan:mengobati jatung
lemah
S Nama Simplisia : Cymbophogon Asli :
E
folium
R
Nama daerah : Sereh, Sereh
A Foto :
I seri,sorani
Nama latin : Cymbophogon
nardus Linn
Famili : Poacae
Pemerian
Warna: Coklat keputihan
Rasa : Pedas
Bau : Tajam
Bentuk haksel : Rajangan
Kegunaan : Pestisida

Referensi :

D Nama Simplisia : Theae folium Asli :


A Nama daerah : Daun teh
U Nama latin : Camellia Sinensis
N Famili : Teaceae Foto :
Pemerian
T Warna: Hitam
E Rasa : Sepat pahit
H Bau : Menyengat
Bentuk haksel : Rajangan
Kegunaan : merangsang susunan
syaraf pusat

Referensi :

D Nama Simplisia : Sonchi folium Asli:


A Nama daerah : Daun
U
tempuyung
N
Nama latin : Sonchus arvensis L.
Foto :
Famili : folium
T
Pemerian
E
M Warna: hijau kehitaman
P Rasa : tidak berasa Referensi:
U Bau : tengik
Y
U Bentuk haksel : utuh
N
Kegunaan : obat batu ginjal,
G
asam urat

D Nama Simplisia : Melaleuca Asli:


A
Folium
U
Nama daerah : Daun
N
K kayuputih Foto :
A Nama latin : Melaleuca
Y
leucadendra L.
U
Famili : Myrtaceae
P
Pemerian
U
Warna: hijau kecoklatan
T
I Rasa : pedas
H Bau : mint khas kayu
putih
Referensi:
Bentuk haksel : utuh
Kegunaan : stomakikum ,
spasmolitik
K Nama Simplisia : cinnamomi Asli:
U
cortex
L
Nama daerah : kulit manis
I
T jangan Foto :
M Nama latin : Cinnamomum
A
verum
N
Famili : lauraceae
I
S Pemerian
J
Warna: Coklat
A
N Rasa: Pedas manis
G Bau: khas
A
Bentuk haksel: Utuh
N Referensi:
Kegunaan: meringankan flu,
sebagai antibakteri

K Nama Simplisia : Chinae cortex Asli:


U Nama daerah : kulit kina
L Nama latin : Cinchona
I
succirubra Pav.
T Foto :
Famili : Rubiaceae
K
I Pemerian
N Referensi:
A Warna: Coklat kemerahan
Rasa: Pahit
Bau: Khas agak
menyengat
Bentuk haksel: Utuh
Kegunaan:
- menurunkan demam
- menyehatkan jantung
menyembuhkan malaria
Pemerian
Warna: Coklat
Rasa: Pedas manis
Bau: khas
Bentuk haksel: Utuh
Kegunaan: meringankan flu,
sebagai antibakteri

A Nama Simplisia : Rhei Radix Asli:


K Nama daerah : Akar kelembak
A Nama latin : Rheum officinale
R
Baillon
K Foto :
Famili : Poligonaceae
E
Pemerian
L
E Warna: Kuning Referensi:
M kecoklatan
B Rasa : Agak pahit,
A Bau :
K
Bentuk haksel :
Kegunaan : Antipiretik,
antispasmodik
R Nama Simplisia : zingiberis Asli:
I
rhizoma
M
Nama daerah : Rimpang jahe
P Foto:
Nama latin : Zingiber officinale
A
N Rosc
G Famili Referensi:
Pemerian
J Warna:
A Rasa : pedas
H Bau :
E
Bentuk haksel :
Kegunaan : karminatif
R Nama simplisia: Curcuma Asli:
I
Rhizoma
M
P Nama daerah: rimpang
A Foto :
temulawak
N
G Nama latin: Curcuma
xanthorhiza
T
E Familia: Zingiberaceae
M
Pemerian
U
L Warna :kuning
A Rasa :pahit
W Bau :
A Referensi:
K Bentuk haksel: irisan rimpang,
bentuk membulat
Kegunaan: obat sakit ginjal ,
obat sakit limpa , obat asma
(Farmakope Herbal Indonesia)
hal 150-153
B Nama Simplisia : Foenigraeci Asli:
I
semen
J
Nama daerah : Biji kelabet
I
Nama latin : Trigonella foenum-
Foto :
K groesnn
E Famili : Papilionoceae
L Pemerian
A Warna: kuning
B
E kecoklatan
T Rasa : agak pahit, tidak
enak
Bau : tengik
Bentuk haksel : utuh
Kegunaan : karminativa,
Referensi:
tonikum, bahan pewangi
B Nama simplisia: Foeniculi Asli:
I
Fructus
J
I Nama daerah: biji adas
Foto :
Nama latin: Foenicullum
A
D vulgaris
A
Familia: Apiaceae
S
Pemerian
Warna:coklat
Rasa: menyengat atau Referensi:
mirip kamfer
Bau: menyengat
Bentuk haksel: utuh
Kegunaan: ( MMI JILID 2, 1977-1980)

- Mengobati anemia
- Mengatasi gangguan
pencernaan
Mencegah kanker
B Nama simplisia: Caryophilli Flos Asli:
U
Nama daerah: cengkeh
N
G Nama latin: Eugenia
A Foto :
caryophillata
C Famili: Myrtaceae
E
Pemerian
N
G Warna : coklat
K Rasa :pedas
E Bau :wangi
H
Bentuk haksel : utuh
Kegunaan :anastesi lokal,
Referensi :
desinfektan.
(Egon Stahl,1985)
B Nama simplisia: Tinosporae Asli:
A
Caulis
T
A Nama daerah: batang brotowali
N Foto :
Nama latin: Tinospora crispal
G
miers
B
Familia: Zingibericeae
R
O Pemerian
T
Warna: Coklat gelap
O
W Rasa: Pahit Referensi:
A Bau: Tengik
L
Bentuk haksel: Rajangan
I
Kegunaan: Antipiretik,
Antioksidan, Mengobati
Diabetes, Penambah nafsu
makan
(MMI, 1977-1980, hal 91)
D Nama Simplisia : Calami Asli:
L
rhizoma
I
Nama daerah :
N
G Dringo,jeringau,dlingo Foto :
O Nama latin : Acorus calamus L.
Famili : Araceae
Pemerian
Warna: Coklat
Rasa : Pahit, agak pedas
Bau : Sangit
Bentuk haksel : Utuh
Kegunaan : Insektisida
(MMI, 1979 Jilid II) hal 4

Referensi :
K Nama Simplisia : Sappan Asli:
A
Lignum
Y
Nama daerah : Kayu secang
U
Nama latin : Caesalpinia
S sappan.L.
E Famili : Caesal piniaceae
C Pemerian
A Warna: merah, jingga,
N
G orange, kuning
Rasa : Foto :
Bau : tidak berbau
Bentuk haksel : irisan
Kegunaan : antikanker

Referensi:

D Nama Simplisia :elephantopi Asli:


A
folium
U
Nama daerah : daun tapak
N
T liman Foto :
A Nama latin : elephantopi scaber
P Famili : Compositoe
A Pemerian
K Warna: hijau kecoklatan
L
I tua
M Rasa : pertama tidak ada
A rasa lama-lama agak
N
pahit
Bau : tengik Referensi:
Bentuk haksel : utuh
Kegunaan : antipiretik,
adstringensia

L Nama simplisia: Piperis Albi Asli:


A
Fructus
D
A Nama daerah: lada putih
Foto :
Nama latin: Piperis albus
P
U Familia: Piperaceae
T
Pemerian
I
H Warna: putih Referensi:
Rasa: pedas
Bau: khas
Bentuk haksel: Utuh
Kegunaan: mengurangi
arthritis,membantu
menurunkan berat
badan,mengobati kanker

K Nama simplisia: Kaemferia Asli:


E
Rhizoma
N
C Nama daerah: kencur
U Foto :
Nama latin: Kaemferia galanga
R
Familia: Zingiberaceae
Pemerian
Warna :putih tulang
Rasa :agak pahit
Bau :wangi menyengat
campur tanah
Bentuk haksel : rajangan Referensi:
Kegunaan : roboransia
(MMI, Jilid I) hal 53-54
T Nama simplisia: Curcuma Asli:
E
Aeruginosa Rhizoma
M
U Nama daerah: temu ireng
Foto :
Nama latin: Curcuma
I
R xanthorrizae Raxb
E
Familia: Zingiberaceae
N
G Pemerian
Warna: kuning
kecoklatan
Rasa: pahit, hambar Referensi:
Bau: aromatik, tengik
Bentuk haksel: Irisan
Kegunaan: Antirematik,
Karminativa

K Nama simplisia: Curcuma Asli:


U
Domestica Rhizoma
N
Y Nama daerah: kunyit
I Foto :
Nama latin: Curcuma longa linn
T
Familia: Zingiberaceae
Pemerian
Warna: Coklat tua
Rasa: Tidak berasa
Bau: Khas rempah/tajam
Bentuk haksel: irisan
Kegunaan: Antiinflamasi, Referensi:
Mencegah kanker, Rheumatoid
Arthiris
B Nama simplisia: Zingiber Asli :
E
Purpureum Rhizoma
N
G Nama daerah: bangle Foto :
L
Nama latin: Zingiber cassmunar
E
roxb
Familia: Zingiberaceae
Pemerian
Warna: kuning
Rasa: tidak berasa
Bau: khas
Bentuk haksel: irisan
Kegunaan: karminativa,
Referensi :
menghangatkan badan
:

D Nama simplisia: Theae Folium Asli :


A
Nama daerah: daun teh
U
N Nama latin: Camellia sinensis. L
Familia: Theaceae
T
E Pemerian
H Foto :
Warna: hijau kehitaman
Rasa: pahit
Bau: menyengat
Bentuk haksel: rajangan
Kegunaan: penyegar badan,
stimulansia
(MMI Jilid V & VI, 1989 &
1995
Referensi :

R Nama Simplisia : Curcuma Asli :


I
zedoaria rhizoma
M
Nama daerah : Koneng tegal,
P
A temu pepet Foto:
N Nama latin : Curcuma pallida
G
Lour
T
Famili : Zingiberaceae
E
Pemerian
M
Warna: Putih tulang
U
Rasa : Pedas
P Bau : Tengik (bau kayu)
U
Bentuk haksel : Irisan
T
I Kegunaan : Antiinflamasi, Referensi :
H

R Nama simplisia: Curcuma Asli :


I
Mangga Rhizoma
M
P Nama daerah: rimpang temu Foto :
A
mangga
N
G Nama latin: Curcuma Amada vat
T
Familia: Zingibe Raceae
E
M Pemerian
U
Warna: Coklat Muda
M Rasa: Pahit
A Bau: Khas Rempah Bau
N Referensi :
Tajam
G
G Bentuk haksel: Irisan
A Kegunaan: Obat sakit perut,
diare , mual , sebah , dll
(nuratmi budi , 2006)
D Nama simplisia: Nicotiana Asli :
A
Tobacum Folium
U
N Nama daerah: daun tembakau Foto:
Nama latin: Nicotiana tabacum
T
E L. Referensi :
M
Familia: Solanales
B
A Pemerian
K
Warna:
A
U Rasa:
Bau:
Bentuk haksel
Kegunaan:

F. Pembahasan
Pada praktikum Haksel ini tujuannya adalah dapat mengidentifikasi
beberapa macam haksel yang biasa digunakan dalam ramuan obat tradisional.
Haksel merupakan bagian-bagian tanaman seperti akar, batang, daun, bunga, biji
dan lain-lain yang dikeringkan tetapi belum dalam bentuk serbuk. Sedangkan
simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagai obat dan belum
mengalami proses perubahan apapun, dan kecuali dinyatakan lain umumnya
berupa bahan yang dikeringkan. Simplisia terbagi atas simplisia nabati, simplisia
hewani dan simplisia mineral.
Tujuan dilakukannya identifikasi haksel adalah agar kita mengetahui
bagian-bagian tanaman yang telah dikeringkan dalam bentuk haksel seperti akar,
daun, biji dan sebagainya yang biasanya digunakan dalam ramuan obat
tradisional. Dalam identifikasi haksel ini dilakukan secara makroskopik dengan
melihat simplisia dengan mata telanjang memperhatikan bentuk dan warna
secara langsung . dilakukan pemeriksaaan uji organoleptis didalam identifikasi
haksel. Pemeriksaan uji organoleptik adalah pemeriksaan dengan menggunakan
alat indera manusia meliputi uji warna, bau, rasa dari

bahan/simplisia. Pemeriksaan uji organoleptik indra pada manusia sangat


dibutuhkan antara lain dalam hal penglihatan yang berhubungan dengan warna
kilap, viskositas, ukuran dan bentuk, volume kerapatan dan berat jenis, panjang
lebar dan diameter serta bentuk bahan, indra peraba yang berkaitan dengan
struktur, tekstur dan konsistensi. Struktur merupakan sifat dari komponen
penyusun, tekstur merupakan sensasi tekanan yang dapat diamati dengan mulut
atau perabaan dengan jari, dan konsistensi merupakan tebal, tipis dan halus,
indra pembau, pembauan juga dapat digunakan sebagai suatu indikator
terjadinya kerusakan pada produk, misalnya ada bau busuk yang menandakan
produk tersebut telah mengalami kerusakan, serta indra pengecap, dalam hal
kepekaan rasa , maka rasa manis dapat dengan mudah dirasakan pada ujung
lidah, rasa asin pada ujung dan pinggir lidah, rasa asam pada pinggir lidah dan
rasa pahit pada bagian belakang lidah. Kelebihan melaakukan pemeriksaan uji
organoleptis adalah kita tidak membutuhkan alat dan sebagainya , tetapi
membutuhkan panca indra yang kita miliki dari penglihatan untuk melihat
bentuk, warna dan peraba atau perasa yang digunakan untuk mengetahui rasa
pada simplisia , memiliki penciuman untuk mengetahui bau pada simplisia
tersebut jadi membutuhkan keahlian dalam mengetahui warna, bau dan rasa
masing-masing simplisia. Uji organoleptik harus dilakukan dengan cermat
karena memiliki kelebihan dan kelemahan. Metode ini cukup mudah dan cepat
untuk dilakukan, hasil pengukuran dan pengamatannya juga cepat diperoleh.
Dengan demikian, uji organoleptik dapat membantu analisis usaha untuk
meningkatkan produksi atau pemasarannya.
Uji organoleptik juga memiliki kelemahan dan keterbatasan akibat beberapa
sifat indrawi tidak dapat dideskripsikan. Manusia merupakan panelis yang
kadang-kadang dapat dipengaruhi oleh kondisi fisik dan mental, sehingga
panelis dapat menjadi jenuh dan menurun kepekaannya

Pengujian haksel pada kelompok kami ada 5 simplisia yaitu Rimpang


temu putih (Curcuma Zedoariae Rhizoma), Daun Serai (Cymbophogon folium),
Dlingo (Calami Rhizoma), Daun teh (Theae Folium), Kayu secang (Sappan
Lignum).
Uji organoleptik :
1) Rimpang temu putih
a. Warna : Putih tulang
b. Rasa : Pedas
c. Bau : Tengik (bau kayu)
2) Serai
a. Warna : Coklat keputihan
b. Rasa : Pedas aromatik
c. Bau : Tajam
3) Dlingo
a. Warna : Coklat
b. Rasa : Pahit, agak pedas
c. Bau : Sangit
4) Daun teh
a. Warna : Hitam
b. Rasa : Sepat pahit
c. Bau : Menyengat
5) Kayu secang
a. Warna : Orange
b. Rasa : Rasa agak kelat
c. Bau : bau kayu (tengik)
Secara makroskopis menurut referensi MMI jilid 1 1977 pada kayu
secang yaitu kayu; berbentuk potongan-potonganatau kepingan dengan ukuran
sangat bervariasi atau berupa serutan-serutan; keras dan padat; warna merah,
merah jingga atau kuning. Pada daun teh menerut referensi MMI jilid V 1989
daun teh secara makroskopis daun tunggal berbentuk lonjok memanjang dengan
pangkal daun runcing, bergerig. Tangkal daun pendek panjang 0,2cm sampai
0,4cm, panjang daun 6,5cm sampai 15,0cm, lebar daun 1,5cm sampai 0,5cm.
Pada dlingo menurut referensi MMI jilid II 1978 secara makroskopis potongan
rimpang berbentuk segitiga yang terentang melintang, pada bagian bawah
terdapat parut-parut akar berbentuk bundar, menonjol dan letaknya tidak
beraturan dalam garis yang berkelok-kelok; permukaan rimpang berkerut
memanjang dan berwarna coklat kekuningan hingga coklat. Bekas patahan
serupa bunga karang, berpori atau agak berbutir, tidak atau agak berserat, warna
agak putih atau agak coklat. Pada irisan melintang, endodermis tampak jelas
sebagai garis berwarna gelap. Tebal silinder pusat 2 sampai 4 kali tebal korteks.
Pada praktikum ini simplisia Rimpang Temu putih digunakan sebagai
antiinflamasi. Inflamasi atau radang merupakan penyakit yang banyak diderita
oleh masyarakat, biasanya ditandai dengan bengkak, nyeri, kemerahan, dan
panas. Golongan obat yang saat ini tersedia untuk penyakit radang salah satunya
adalah obat antiradang golongan non steroid yang sering dikenal Non Steroid
Anti Inflammatory Drug (NSAID) yaitu suatu golongan obat yang memiliki
khasiat sebagai analgetik, antipiretik dan antiinflamasi Penggunaan obat-obat
antiinflamasi terutama golongan Non Steroid Anti Inflamatory Drug (NSAID)
ini dapat menyebabkan ulkus peptik, sehingga perlu dikembangkan penggunaan
obat tradisional. Salah satu tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai obat
adalah rimpang dari Curcuma zedoaria (Berg) Roscoe atau rimpang temu putih.
Tanaman obat ini mempunyai khasiat antara lain menghilangkan nyeri, sebagai
antikanker dan antiinflamasi.Rimpang temu putih mengandung zat warna kuning
kurkumin (diarilheptanoid) dan minyak atsiri. Rimpang temu putih mengandung
kurkumin, minyak atsiri dan flavonoid. Kurkumin telah dilaporkan mempunyai
efek antiinflamasi pada mencit yang diinduksi karagenin. Mekanisme aktivitas
kurkumin sebagai antiinflamasi adalah dengan menghambat produksi
prostaglandin yang dapat diperantarai melalui penghambatan aktivitas enzim
siklooksigenase dan kemampuannya mengikat radikal bebas oksigen yang dapat
menyebabkan proses peradangan.Selain itu pada penelitian sebelumnya
membuktikan bahwa minyak atsiri Curcuma zedoaria dosis 800mg/kgBB sudah
dapat menghambat pembentukan radang pada tikus putih galur Wistar. Pada
jurnal penelitian bahwa rimpang temu putih dibuat dalam bentuk infusa rimpang
temu putih , pengujian efek antiinflamasi dilakukan pada tikus putih jantan galur
wistar. Pada jurnal ini bahwa kemampuannya dalam menghambat udema lebih
baik dengan infusa rimpang temu putih dosis 2.500 g/kgBB.
(Tanti,Raudlatul,Ratna,(2012)).
Daun serai ini digunakan untuk mengendalikan hama (pestisida).
Pemanfaatan pestisida nabati menjadi salah satu alternatif pengendalian hama
yang relatif aman karena tidak mencemari lingkungan, mudah diperoleh dan
mudah digunakan sebagai bahan pengendali. Serai (Cymbopogon nardus L.)
mempunyai kemampuan bioaktivitas terhadap serangga yang dapat mengusir,
mencegah atau membunuh serangga, sehingga diharapkan dapat berfungsi
sebagai pestisida nabati. Kemampuan itu dimiliki karena tumbuhan tersebut
mengandung minyak atsiri. Minyak atsiri mengandung senyawa yang bersifat
racun terhadap serangga yaitu senyawa geraniol, limoneon, sitral, dan sitronelal.
Menurut Kardinan (2001), abu daun serai mengandung silika (SiO2) yang
bersifat sebagai penyebab dehidrasi pada tubuh serangga. Pada penelitian jurnal
ini dilakukan pada biji kedelai, dan disini penelitiannya dengan kombinasi daun
dan abu daun serai setelah empat hari perlakuan menunjukkan bahwa perlakuan
dengan menggunakan abu daun serai dosis 0g/500g (A0) dengan daun serai pada
dosis yang berbeda tidak menunjukkan perbedaan yang nyata jika dibandingkan
dengan tanpa perlakuan daun dan abu daun serai. Rata-rata mortalitas imago
C.analis untuk perlakuan dengan daun serai pada dosis yang berbeda semakin
meningkat dengan bertambahnya dosis abu daun serai yang digunakan. Dosis
daun serai 0, 2, 4 dan 6g/500g yang dikombinasikan dengan dosis abu daun serai
0,6g/500g menghasilkan mortalitas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan
dosis abu daun serai yang lain (0 dan 0,3g/500g). Karena serangga larva pada
biji kedelai ini menyebabkan timbulnya kerusakan pada biji kedelai, maka
dilakukan penilitian dengan menggunakan daunserai. Berdasarkan hasil
pengamatan jurnal ini, pada perlakuan dengan menggunakan daun serai
menunjukkan bahwa semakin tinggi dosis yang digunakan, maka %tase
mortalitas imago C.analis semakin tinggi. Hal ini diduga karena daun serai
mengandung minyak atsiri yang dapat berfungsi sebagai racun terhadap
serangga. Semakin tinggi dosis yang dipakai akan meningkatkan daya racun
yang ditimbulkannya dan banyak racun yang terserap oleh imago C.analis
sehingga semakin banyak kematian yang terjadi dan akan menekan populasi.
Perlakuan dengan menggunakan abu daun serai dan kombinasi antara daun dan
abu daun serai, meningkatkan mortalitas serangga uji dengan bertambahnya
dosis abu daun serai. Hal ini diduga karena abu daun serai mengandung silika
(SiO2) yang cukup besar yaitu 49% Menurut Kardinan (2001), abu daun serai
yang mengandung silika (SiO2) yang bersifat sebagai penyebab dehidrasi pada
tubuh serangga. Dengan bertambahnya dosis abu daun serai maka akan
menambah jumlah %tase silikanya sehingga mortalitas yang ditimbulkan
semakin besar. (Herminto,Nurtiati, dan D.M.Kristianti , (2010))
Calami rhizoma , nama daerah Rimpang jeringau ,Dlingo ,Dringo.
Simplisia ini memiliki kegunaan sebagai insektisida yaitu pembasmi hama.
Karena hama ini sering mengakibatkan penurunan produksi bahkan kegagalan
panen karena menyebabkan daun dan buah sayuran menjadi sobek, terpotong-
potong dan berlubang. Bila tidak segera diatasi maka daun atau buah tanaman di
areal pertanian akan habis.ledakan populasi hama ini beriringan dengan adanya
perubahan iklim, terutama periode kering yang diikuti curah hujan dan
kelembaban tinggi yang disertai oleh tersedianya makanan melimpah. Ledakan
populasi biasanya didahului oleh kondisi yang kurang menguntungkan bagi
perkembangan parasitoid dan predator. Sulistiyono(2004) menyebutkan bahwa
penggunaan pestisida yang dilakukan oleh petani hortikultura pada umumnya
tidak lagi mengindahkan aturan dosis atau konsentrasi yang dianjurkan.
Penggunaan pestisida sintetik telah menimbulkan dampak ekologis yang serius.
Dampak ekologis yang ditimbulkan diantaranya adalah timbulnya resurgensi
hama, ledakan hama sekunder, matinya musuh alami dan timbulnya resistensi
hama utama. Menurut PP No.6 tahun 1995 pasal 19 dinyatakan bahwa
penggunaan pestisida dalam rangka pengendalian organisme pengganggu
tumbuhan (OPT) merupakan alternatif terakhir dan dampak yang ditimbulkan
harus ditekan seminimal mungkin. Oleh karena itu, perlu dicari cara
pengendalian yang efektif terhadap hama sasaran, namun aman terhadap
organisme bukan sasaran dan lingkungan. Salah satu golongan insektisida yang
memenuhi persyaratan tersebut adalah insektisida yang berasal dari
tumbuh_tumbuhan atau lebih dikenal dengan insektisida nabati. Salah satu
tanaman yang mengandung insektisida nabati adalah jeringau. Jeringau (Acorus
calamus L.) termasuk dalam golongan rempah-rempah yang sudah lama dikenal
oleh masyarakt Indonesia. Tanaman ini mengandung minyak atsiri yang disebut
sebagai minyak kalamus atau calamus oil . Tanaman jeringau mengandung
bahan kimia aktif pada bagian rimpang yang dikenal sebagai minyak atsiri.
Komposisi minyak atsiri rimpang jeringau terdiri dari 82% asaron, 5%
kalamenol, 4% kalamin, 1% kalameon, 1% metileugenol, dan 0,3% eugenol.
Asarone sebagai komponen utama penyusun minyak atsiri terdiri dari 67
hidrokarbon, 35 senyawa karbonil, 56 alkohol, 8 fenol dan 2 furan. Minyak atsiri
dari jeringau berperan sebagai racun perut, racun kontak, anti-feedant, repellent
dan pencegah oviposisi. Pemanfaatan minyak atsiri rimpang jeringau dalam
mengendalikan larva S.litura telah dilakukan oleh Farida (2008) dengan
konsentrasi 2,5%, 5%, 10%, 15%, dan 20%. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa LC50 terdapat pada 48 JSP, yaitu sebesar 28,41jam. Selanjutnya hasil
penelitian Pandey et al. (2005) menunjukkan bahwa pada konsentrasi 2,0%
ekstarak rimpang jeringau dalam mengendalikan larva S.litura mengakibatkan
kematian 50%, 63%, dan 80% pada 24 jam, 48 jam dan 72 jam setelah
perlakuan. Kemudian dilakukan penelitian lagi pada jurnal ini oleh Hasnah,
Husni dan Ade Fardhisa (2012) hasil dari penilitian ini bahwa hasil analisis
ragam menunjukkan bahwa aplikasi rimpang jeringau pada berbagai tingkat
konsentrasi berpengaruh sangat nyata terhadap mortalitas larva S.litura,
sedangkan rata-rata mortalitas S.litura setelah aplikasi ekstrak rimpang jeringau
berbagai konsentrasi. Secara umum larva S.litura berbeda nyata antar perlakuan
akibat aplikasi ekstrak rimpang jeringau mulai dari 1-5 hari setelah aplikasi.
Pada konsentrasi 3% ekstrak rimpang jeringau rata-rata mortalitas dari larva
S.litura mencapai 57,5%. Hal ini sesuai dengan pendapat Pandey et al.(2005)
yang menyatakan bahwa rimpang jeringau mengandung kadar insektisidal cukup
tinggi yang dapat menyebabkan kematian pada S.litura pada 24 jam setelah
aplikasi. Hal ini terjadi karena senyawa aktif minyak atsiri dari rimpang jeringau
terutama -asarone sangat berperan dalam meningkatkan mortalitas larva. -
asarone merupakan senyawa yang dapat bersifat insektisida, terutama berperan
sebagai racun kontak yang masuk melalui kulit (integumen) serangga, sehingga
terganggu sistem saraf serangga, juga berperan sebagai racun perut yang masuk
melalui alat mulut. Senyawa kimia tersebut merusak dinding usus sehingga
masuk ke sistem pencernaan sehingga menimbulkan kematian pada serangga.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Hasan et al. (2006) bahwa ekstrak minyak
jeringau berperan sebagai racun perut dan racun kontak. Melaine (2004) dalam
Chalista (2010) menyatakan bahwa aktivitas makan hama serangga berkurang
atau terhenti terjadi akibat masuknya senyawa kimia tertentu yang menstimulasi
kemoreseptor untuk dilanjutkan ke sistem saraf serangga. Selanjutnya, senyawa
kimia tersebut dapat merusak jeringau tertentu seperti rusaknya organ
pencernaan . (Hasnah, Husni, dan Ade Fardhisa (2012))
Daun teh memiliki beragam manfaat teh tidak lepas dari keberadaan
senyawa-senyawa dan sifat-sifat yang ada pada daun teh. Komposisi kimia daun
teh segar (dalam % berat kering) adalah : serat kasar, selulosa, lignin 22% ;
protein dan asam amino 23% ; lemak 8%; polifenol 30%; kafein 4%; pektin 4%.
Daun teh mengandung tiga komponen penting yang mempengaruhi mutu
minuman yaitu kafein, tanin dan polifenol. Pada penelitian ini menyatakan
bahwa daun teh digunakan sebagai merangsang susunan syaraf pusat. Pada
penelitian ini dilakukan dengan uji gelagat , uji gelagat merupakan pra penapisan
khasiat yang bertujuan untuk menemukan khasiat suatu bahan yang mungkin ada
dan memberi informasi atau arahan untuk percobaan berikut yang lebih khusus.
Dengan mengamati gelagat yang ditimbulkan maka perlu berhati-hati dalam
pemberian dosis karena bahan tersebut kemungkinan dapat merangsang susunan
saraf pusat. Hasil dari uji gelagat tidak dapat dihitung secara persentase karena
uji ini hanya mengamati gerakan dan perubahan yang terjadi secara morfologis
untuk melengkapi data dari nilai LD50. Naiknya gerakan spontan atau
reaksitifitasnya merupakan adanya tanda adanya stimulan susunan syaraf pusat
atau ganglia (neuromuscular junction), sedangkan timbulnya reaksi rasa sakit
(pain response) merupakan tanda adanya analgesia, sedasi atau depresan sentral.
Kedua kelompok ini termasuk gejala kelompok gelagat ( Behavioral Profile).
Timbulnya gejala straub,tremor, dan convulsions menandakan adanya
rangsangan atau stimulasi pada susunan syaraf khusus syaraf sumsung tulang
belakang; adapun cara berjalan yang terhuyung-huyung(sempoyongan)
menandakan inkoordinasi motor dari otot daging skelet. Keempat gejala ini
merupakan gejala kelompok syaraf (Neurological Profile). Sedangkan terjadinya
midriasis merupakan tanda adanya efek adrenergik atau simpatomimetik atau
parasimpatolitik. Gejala ini merupakan gejala kelompok syaraf otonom
(Autonomic Profile). Dalam hal ini kemungkinan senyawa yang terkandung
dalam teh hijau bersifat serupa dengan adrenalin atau menghasilkan efek seperti
pada peransangan saraf simpatik. Efek perangsangan susunan syaraf pusat ini
kemungkinan disebabkan oleh kandungan zat kimia kofein, polifenol atau zat
katekin yang terdapat dalam daun teh hijau. Berdasarkan LD 50 yang didapat dan
dibuktikan dengan uji gelagat pada dosis 0,9;1,8 dan 2,7mg/10g bb. Ip mencit
belum menunjukkan gelagat merangsang susunan syaraf pusat yang besar serta
tidak menimbulkan kematian pada hewan, sebaliknya hewan tampak segar dan
bertambah aktif. (Dian,Budi,M.Wien (2009))
Kayu secang (Caesalpinia sappan L.) merupakan tanaman famili
Caesalpiniaceae yang banyak ditemui di Indonesia. Kayu secang secara empiris
diketahui memiliki banyak khasiat penyembuhan dan sering dikonsumsi oleh
masyarakat sebagai minuman kesehatan. Kayu secang memiliki kandungan
senyawa berupa brazilin (C16H14O5), sappanin (C12H12O4), brazilein, dan
minyak atsiri seperti D--felandrena, asam galat, osinema, dan damar.
Berdasarkan hasil penelitian Lim et al.,(1997), kayu secang memiliki daya
antioksidan yang andal dengan indeks antioksidatif ekstrak air kayu secang lebih
tinggi daripada antioksidan komersial (BHT dan BHA) sehingga potensial
sebagai agen penangkal radikal bebas. Penelitian yang dilakukan oleh Rahmi, et
al. (2010) menyebutkan bahwa, ekstrak etanolik kayu secang memiliki aktivitas
antikanker dengan menurunkan viabilitas pada beberapa sel kanker payudara
MCF-7, T47D, kanker kolon WiDr, kanker serviks Hela namun tetap selektif
terhadap sel normal Vero. Kandungan utama kayu secang merupakan senyawa
brazilin dan brazilein deiketahui memiliki aktivitas antikanker dengan
menghambat protein inhibitor apoptosis survivin dan terlibat dalam aktivasi
caspase 3 dan caspase 9. Dalam mencegah mutagenesis dan karsinogenesis
secara teoritis dapat dilakukan melalui penghambatan pada fase promosi sampai
fase progesi mutagenesis. Proses inisiasi dapat dihambat oleh senyawa yang
menurunkan aktivasi metabolism senyawa karsinogen, meningkatkan
detoksifikasi senyawa karsinogen, atau mencegah terjadinya ikatan antara
karsinogen dengan target seluler (Ruddon,2007).
Siklofosfamid sitokrom P450 4-hidroksi siklofosfamid Aldofosfamid
Akrulein + Fosfamid mustard Gugus aktif mengalkilasi
protein,DNA, dan lain-lain
Dari penelitian ini terbukti bahwa EKS dengan dosis 500mg/kgBB dan
1000mg/kgBB dapat memberikan efek antigenotoksis dengan menurunkan
jumlah MNPCE tiap 1000 PCE. Hal ini memberikan penelitian awal kayu
secang sebagai agen antigenotoksis untuk dapat dikembangkan lebih lanjut.
(Risa,shofy,ferina.gusti made).
G. Kesimpulan
Dari praktikum ini kita bisa mengetahui bentuk haksel dan bisa
mngetahui masing-masing kegunaan simplisia dari yang kita praktikumkan .
pada kelompok kami ada 5 simplisia yang kami praktikan secara makroskopis
yaitu kayu secang sebagai anti kanker, daun teh sebagai merangsang saraf pusat,
dlingo sebagai insektisida, daun serai sebagai pestisida, rimpang temu putih
sebagai antiinflamasi.
H. Daftar pustaka
Dirjen POM, 1977, Materia Medika Indonesia, Jilid I, Depkes RI, Jakarta
Dirjen POM, 1978, Materia Medika Indonesia, Jilid II, Depkes RI, Jakarta
Dirjen POM, 1979, Materia Medika Indonesia, Jilid III, Depkes RI, Jakarta
Dirjen POM, 1980, Materia Medika Indonesia, Jilid IV, Depkes RI, Jakarta
Dirjen POM, 1989, Materia Medika Indonesia, Jilid VI, Depkes RI, Jakarta
Dirjen POM, 1995, Materia Medika Indonesia, Jilid VII, Depkes RI, Jakarta
Soegiharjo,C.J.2013.Farmakognosi.Citra Aji Prama.Yogyakarta.Widyaningrum
Robinson, T., 1991. The Organic Constituen of HigherPlants. 6th Edition.
Department of Biochemistry.University of Massachusetts
Harborne, J.B., 1984. Phitochemical Method. Chapman and Hall ltd. London.
Dirjen POM, 1979, Farmakope Indonesia, edisi III, Depkes RI, Jakarta
Gunawan, D. M, 2004. Ilmu Obat Alam. Jakarta : Swadaya
Tanti.A.S, Raudatul.P, Ratna.Y. 2012, Efek Antiinflamasi Infusa Rimpang Temu
Putih (Curcuma zedoaria(Berg) Roscoe) Pada Tikus Yang
Diinduksi Karagenin, Volume 4 nomor 2
Herminto,Nutriato,D.M.Kristianti. 2010, Potensi Daun Serai Untuk
Mengendalikan Hama Callosobruchus analis F.Pada Kedelai
Dalam Simpanan, Volume 3 nomor 1
Hasnah,Husni,Ade Fardhisa. 2012, Pengaruh Ekstrak Rimpang Jeringau
(Acorus calamus L.) Terhadap Mortalitas Ulat Grayak
Spodoptera litura F. J.Floratek 7:115-124
Dian S, Budi N,M.Wien W. 2009, Toksisitas Akut (LD50)Dan Uji Gelagat
Ekstrak Daun Hijau (Camellia Sinensis(Linn.)Kunze) Pada
Mencit.Volume XIX nomor 4
Raisatun N.S,Shofy R.P,Ferina S.D,Gusti M.A.S , Aplikasi Kayu Secang
(Caesalpinia sappan L.) Dalam Upaya Prevensi Kerusakan DNA
Akibat Paparan Zat Potensial Karsinogenik Melalui MNPCE
Assay. UGM