Anda di halaman 1dari 7

Dan saat sebuah krisis datang ada beberapa komponen yang harus diperhatikan yaitu strong leadership,

strong communications-content, strong team to support dan 5Cs:

1. Commitment

Perusahaan harus memiliki komitmen dalam penanganan krisis. Publik menginginkan informasi yang
cepat menggunakan data dan fakta serta ketulusan, mulai dari pimpinan tertinggi sampai dengan
karyawan internal untuk hadir sebagai spokesperson dalam menghadapi krisis.

2. Cooperation

Jangan lari dari krisis, hadapi dengan positif communication. Jika sudah ada krisis, sebuah perusahaan
tidak boleh menunda-nunda dalam penyelesaiannya, jangan silent. Publik ingin melihat bahwa
perusahaan menerima tanggung jawab serta keinginan untuk mengambil langkah positif.

3. Care

Perusahaan harus menunjukkan rasa empati yang besar terhadap krisis yang terjadi.

4. Consistency & Coherency


Harus memiliki tanggung jawab dan konsistensi untuk mau menyelesaikan krisis dari awal mula terjadi
sampai selesai.

5. Clarity

Pesan harus jelas, supaya tidak mudah diplintir oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab,
sehingga penting juga untuk mengenali media yang dihadapi.

3 Peranan Media Relations dalam Penanganan Krisis Perusahaan

• Peranan Media Relations sebagai Media Publikasi

Dalam menghadapi krisis, perusahaan tentunya membutuhkan publisitas yang lebih, dibandingkan pada
kondisi normal.

Misalnya saja, sewaktu beredar rumor negatif, perusahaan dapat memanfaatkan relasinya dengan
media-media, untuk menyebarkan informasi, bahwa rumor negatif tersebut tidak benar adanya.

Memiliki jalinan terhadap media yang semakin banyak, tentu akan dapat membuat informasi dari
perusahaan dapat tersebar seluas-luasnya.

Tak hanya itu, apabila suatu perusahaan telah menjalin hubungan baik dengan banyak media, maka
perusahaan tersebut bisa memperoleh tempat khusus dalam pemberitaan media.

• Peranan Media Relations sebagai Pembentuk Persepsi Publik

Media adalah alat yang mampu membentuk persepsi publik melalui framing pemberitaannya.
Apabila banyak media melakukan pemberitaan mengenai perusahaan Anda, maka persepsi publik
terhadap perusahaan Anda pun cenderung akan mengikuti pemberitaan tersebut.

Hal ini dapat menguntungkan bagi perusahaan, karena pemberitaan tersebut secara tidak langsung
membantu perusahaan, dalam menangani krisis dan memulihkan citra baiknya.

Dari segi public relation, informasi yang disampaikan pun harus lah informasi fakta yang dapat
menampik berita miring penyebab krisis.

Tentunya, informasi tersebut harus sesuai dengan realita yang ada atau tidak dimanipulasi. Dengan
begitu, media akan menyebarkan informasi tersebut, sehingga dapat meluruskan pemberitaan miring
yang beredar, dan krisis dapat dilalui dengan baik.

• Peranan Media Relations sebagai Analisis Permasalahan

Peran ini adalah peran yang tak kalah penting dari yang telah dipaparkan sebelumnya. Bahkan, hal
pertama yang perlu dilakukan dalam menghadapi kondisi krisis adalah menganalisis permasalahannya
terlebih dahulu.

Bagaimana media relations dapat membantu dalam menganalisis masalah?

Media menyediakan berbagai informasi mengenai perusahaan, baik itu yang berhubungan dengan krisis
ataupun tidak.

Apabila pihak PR perusahaan melakukan analisis terhadap pemberitaan perusahaan dari berbagai
media, maka bisa didapatkan banyak hal. Mulai dari akar permasalahan, hingga tanggapan publik
tentang permasalahan tersebut.

Dengan mengetahui akar permasalahan dan situasi yang ada, maka dapat membantu pihak perusahaan
dalam merumuskan langkah penanganan krisis dengan tepat. Oleh karena itu, peranan media relations
sangat penting dalam menghadapi krisis.
Itulah 3 peranan media relations dalam menghadapi krisis perusahaan. Dengan menjalin hubungan baik
dengan media, tentu dapat membantu perusahaan dalam menghadapi berbagai situasi.

Apabila perusahaan tidak mengalami krisis pun, media relations sangat dibutuhkan. Yakni untuk
meningkatkan citra perusahaan.

4 POIN PENTING DALAM PENANGANAN KRISIS DI PERUSAHAAN

Menjalankan bisnis di perusahaan tidak terlepas dari yang namanya krisis. Terjadinya krisis memang sulit
dihindari karena memang pada dasarnya mayoritas faktor penyebabnya tidak bisa dikontrol alias
bersifat uncontrollable.

Walau begitu, bukan berarti Anda bisa membiarkannya begitu saja. Sebaliknya, penanganan krisis wajib
dilakukan dengan strategi yang tepat agar masalah bisa segera terselesaikan tanpa merusak image
perusahaan di mata konsumen. Agar penanganan krisis bisa berjalan optimal, ada sejumlah poin penting
yang perlu Anda perhatikan.

• Responsif dan Transparan: Kunci Utama Penanganan Krisis

Saat krisis terjadi, bad news terkait perusahaan Anda akan cenderung lebih cepat meluas daripada good
news. Ini karena memang pada dasarnya hal-hal yang negatif atau sensasional memiliki nilai jual atau
daya tarik tersendiri. Di sisi lain, media umumnya mengabarkan suatu krisis sesuai perspektif masing-
masing, sehingga bad news pun tidak terelakkan lagi.

Sayangnya, ketika bad news mulai menyebar, masih banyak perusahaan yang cenderung memilih untuk
diam. Mungkin mereka menilai bahwa dengan berdiam diri, bad news dan krisis bisa hilang dengan
sendirinya karena akan muncul berita krisis lain yang menggantikannya. Well, bisa saja seperti itu.
Namun, yang sering dilupakan adalah dengan berdiam diri, perusahaan tidak memiliki keterbukaan
informasi kepada publik. Jangan heran jika akhirnya publik jadi punya persepsi negatif tentang
perusahaan Anda.

Jadi, apa yang harus Anda lakukan? Ada dua kunci, yaitu responsif dan transparan. Hal ini disampaikan
oleh Dr. Ricardo Indra, M.Si., CPR, General Manager Program Management Office (Transformation) –
Communication & Supporting PT Telkomsel, dalam seminar online yang diadakan dalam rangka
pembukaan program S2/Magister Ilmu Komunikasi BINUS GRADUATE PROGRAM di BINUS @Bekasi pada
25 April 2020.

Responsif bukan berarti gegabah. Sebelum menyediakan keterbukaan informasi terkait krisis, ciptakan
dulu key messages berisi hal-hal yang akan Anda sampaikan ke publik. Melalui key messages inilah Anda
bisa berusaha untuk mengendalikan persepsi publik terhadap perusahaan di kala krisis. Sementara itu,
adanya keterbukaan informasi akan meningkatkan kepercayaan pada publik terhadap perusahaan Anda.

• Pemetaan Dampak Krisis yang Terjadi

Dalam seminar online bertajuk “Seeking the Opportunity from Setbacks, Bad News is Good News”
tersebut, Indra juga menyampaikan pentingnya melakukan pemetaan krisis. Terjadinya krisis pasti
memberikan dampak tersendiri pada perusahaan, baik itu pada tingkatan mikro, minor, medium, major,
atau fatal. Ketika krisis menyerang, perusahaan sebaiknya langsung melakukan identifikasi, sudah sejauh
mana dampak krisis tersebut terhadap perusahaan?

Penanganan krisis dengan pemetaan akan membantu perusahaan untuk segera cepat bertindak. Hal ini
sejalan dengan poin responsif yang disebutkan sebelumnya. Di samping itu, tindakan penanganan krisis
yang cepat juga dapat mencegah terjadinya dampak yang lebih parah terhadap perusahaan.

Namun, dampak krisis seperti apa yang bisa dikatakan mikro, minor, medium, major, atau fatal? Tiap
perusahaan biasanya mempunyai kriteria masing-masing. Dengan kata lain, perusahaan wajib
menetapkan parameter tingkat krisis agar proses analisis atau pemetaan bisa berjalan smooth.
Umumnya, dampak krisis yang fatal adalah bila sampai mengganggu dan menghentikan jalannya bisnis.

• Pentingnya Spokeperson dengan Kemampuan Komunikasi Baik


Penanganan krisis di perusahaan memang tidak dilakukan oleh satu orang saja. Baik pihak operasional,
corporate communication, bahkan hingga top management pun biasanya ikut turun tangan menangani
krisis. Walau begitu, tidak semuanya akan muncul untuk berkomunikasi dengan awak media atau publik.

Idealnya, ada setidaknya satu orang yang ditunjuk sebagai spokeperson untuk menyampaikan
pernyataan perusahaan terkait krisis yang sedang berlangsung.

Masih dalam seminar online yang sama, Indra juga mengatakan bahwa penunjukan spokeperson ini
tidak boleh dilakukan sembarangan. Pasalnya, kemampuan perusahaan dalam penanganan krisis akan
dinilai dari kemampuan spokeperson saat menyampaikan informasi. Jangan sampai salah berbicara atau
terbawa emosi karena bisa semakin memperparah bad news yang telah menyebar.

Untuk mencegah hal tersebut, sekali lagi Indra menekankan bahwa identifikasi dan pemetaan krisis
penting dilakukan. Kalau perlu, bentuk tim khusus untuk melakukannya. Berdasarkan hasil identifikasi,
susun dokumen briefing berisi hal-hal yang harus disampaikan agar nantinya tidak melantur ke mana-
mana.

Perlu diingat pula bahwa spokeperson tidak hanya bertanggung jawab untuk komunikasi melalui media
interview atau news conference, tetapi juga di kanal online seperti media sosial.

• Sejumlah Do’s & Don’ts dalam Penanganan Krisis

DO’S DON’TS

(DO'S) Jujur menyampaikan fakta.

(DON'TS) Berbohong, berasumsi, berspekulasi, melebih-lebihkan fakta.

(DO'S) Akui jika memang Anda tidak tahu sesuatu, tapi katakan bahwa Anda akan mencari tahu dan
kembali memberikan informasi.

(DON'TS)Berpikir bahwa Anda harus menjawab setiap pertanyaan.

(DO'S) Jika ada kabar yang tidak benar, segera luruskan.


(DON'TS) Terlalu reaktif dan mudah terpancing dalam menjawab pertanyaan yang “menjebak”.

(DO'S) Be yourself, be passionate.

(DON'TS) Berulang kali menggunakan kata-kata atau kalimat negatif.

(DO'S) Tetap aktif mendengarkan media dan publik.

(DON'TS) Mengatakan “no comment” atau justru melantur ke mana-mana.

(DO'S) Gunakan analogi, metafor, dan perbandingan dalam menyampaikan penjelasan. (DON'TS)
Menjelek-jelekkan kompetitor.

(DO'S) Berhati-hati saat berbicara tentang angka atau uang.

(DON'TS) Membahas tentang hal-hal di luar area tanggung jawab Anda.

Anda mungkin juga menyukai