Kejang Demam
Kejang Demam
Oleh:
SANTI WINARNI
NPM: 1830702038
JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2021
ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. J DENGAN DIAGNOSA MEDIS
KEJANG DEMAM KOMPLEKS DI RUANGAN CEMARA RUMAH
SAKIT UMUM KOTA TARAKAN
OLEH:
SANTI WINANRNI
NPM: 1830702038
JURUSAN KEPERAWATAN
2021
ii
PERNYATAAN ORSINALITAS
Dengan ini saya menyatakan bahwa Laporan Tugas Akhir dengan Judul “Asuhan
Keperawatan Pada An.J Dengan Diagnosa Kejang Demam Kompleks Di Ruangan
Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan” adalah karya saya dengan arahan dari
dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan
tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikuti pada karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitka dari penulis lain telah disebut kan dalam teks
dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir Laporan Tugas Akhir ini
ditulis dengan mengikuti kaidah penulis ilmiah.
iii
HALAMAN PENGESAHAN
Judul Laporan Tugas Akhir : Asuhan Keperawatan Pada An.J Dengan Diangnosa
Kejang Demam Kompleks Di Ruangan Cemara Rumah Sakit Umum Kota
Tarakan
DisetujuiOleh :
PembimbingUtama PembimbingAnggota
iv
HALAMAN PENGESAHAN
Dan disetujui untuk disusun sebagai Lapotan Tugas Akhir dengan judul:
Tim Penguji:
Mengetahui
v
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
senantiasa melimpahkan rahmad dan hidayah-Nya kepada penulis. Sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan tugas akhir ini dengan judul
Asuhan Keperawatan Pada An. J Dengan Diagnosa Medis Kejang Demam
Kompleks Di Ruangan Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan.
Dalam menyusun laporan tugas akhir ini penulis menyadari masih banyak
mengalami kesulitan dan hambatan, tetapi berkat bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak, Laporan Tugas Akhir ini dapat penulis selesaikan. Untuk itu
ijinkan penulis mengucapkan terima kasih banyak dan memberikan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada:
1) Bapak Prof. Dr. Adri Patton, M.Si, selaku Rektor Universitas Borneo Tarakan
2) Bapak Alfianur, S.Kep, Ns, M.Kep, selaku Ketua Jurusan Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan, sekaligus sebagai dosen
pembimbing I dan penguji III saya, terima kasih bapak telah memberi
motivasi dan semangat selama membimbing dengan cermat serta memberikan
masukan-masukan demi sempurnanya laporan ini.
3) Bapak Sulidah, S.Kep, Ns, M.Kep selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Borneo Tarakan, serta selaku penguji I yang telah menguji dan
memberikan masukan-masukan demi sempurnanya Laporan Tugas Akhir ini.
4) Ibu Dewi Wijayanti, S.Kep. Ns.,M.Kep selaku dosen penguji II yang telah
menguji dan memberikan masukan-masukan demi sempurnanya Laporan
Tugas Akhir ini.
5) Bapak Donny Tri Wahyudi, S.Kep. Ns., M.Kep selaku Dosen pembimbing
akademik yang telah memberi motivasi dan semangat selama pendidikan.
6) Bapak Nurman Hidaya, S.Kep., Ns., M.kep selaku dosen pembimbing II saya
yang selalu memberi motivasi dan semangat selama bimbingan dalam
menyusun Laporan Tugas Akhir ini.
7) Keluarga klien An. J yang telah bersedia meluangkan waktunya dalam
memberikan informasi yang penulis butuhkan
vi
8) Keluarga saya yang tercinta terutama kedua orang tua yang sangat saya
sayangi telah banyak mensupport saya, yang selalu ada saat saya merasa jenuh
dan sedih, yang bersabar dalam memberikan dukungan baik moral maupun
materi yang tak ternilai, serta adik saya yang selalu memberi semangat selama
menempuh pendidikan di Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Borneo Tarakan
9) Kepada Dwi irvansyah terima kasih telah memberikan semangat, motivasi dan
bantuannya dalam melakukan penyelesaian penulisan Laporan Tugas Akhir
saya.
10) Para sahabat Seven sister yang telah memberikan semangat dan motivasi
dalam melakukan penyelesaian penulisan Laporan Tugas Akhir.
11) Kepada Musdalifa N.W, Dika D, Ayumi dan Syahrul Gunawan sekaligus
paman saya terima kasih telah memberikan bantuan, motivasi dan dukungan
dalam melakukan penyelesaian penulisan Laporan Tugas Akhir.
Santi winarni
vii
ABSTRAK
Mengetahui,
viii
Nursing care for An. J With Complex Fever Seizures In The Cemara Treatment
Room, Tarakan City General Hospital
ABSTRACT
Febrile seizures are seizures that occur at a high body temperature above 38°C.
Based on data from the Medical Record of the Tarakan City General Hospital,
there were 135 cases of febrile seizures. The aim is to provide nursing care to
children with complex febrile seizures. The writing method with descriptive case
study type is by using the five steps of the nursing process including assessment,
nursing diagnosis, planning, implementation, evaluation. Data was collected by
means of interviews, observation, physical examination, documentation and
literature study. The nursing diagnosis obtained by An. J is hyperthermia related
to disease process, ineffective airway clearance related to sputum accumulation,
self-care deficit related to weakness, disturbed sleep pattern related to sleep
control. The interventions that have been carried out and the outcome criteria that
have been compiled based on the priority of the problem, the authors find that all
nursing diagnosis problems can be resolved according to the objectives and time
that have been carried out.
Veridfied by
ix
DAFTAR ISI
x
2.1.4 Klasifikasi ..................................................................................................... 7
xi
3.1.12Penyimpangan KDM................................................................................... 30
3.3 Perencanaan..................................................................................................... 31
3.5Evaluasi....................................................................................................................................39
4.3 Perencanaan..................................................................................................... 44
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
xii
DAFTAR GAMBAR
xiii
DAFTAR TABEL
xiv
DAFTAR BAGAN
xv
DAFTAR LAMPIRAN
xvi
DAFTAR SINGKAT
An : Anak.
BB : Berat Badan.
Cm : Centi Meter.
C° : Celcius.
DN : Dextros Nacl.
HCT : Hematokrit.
HGB : Hemoglobin.
ICS : Intercosta.
IV : Intra vena.
Kg : Kilogram.
Ny : Nyoya.
RT : Rumah tangga.
xvii
TB : Tinggi Badan.
TBC : Tuberkulosis.
Tn : Tuan.
TT : Tetanus Toksi
xviii
BAB 1
PENDAHULUAN
Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh 38°C
atau lebih yang disebabkan oleh proses di luar otak sebagian besar kejang demam
terjadi pada usia 6 bulan sampai 5 tahun. Menurut Wastoro dkk (2011),
mengatakan bahwa kejang demam terdiri dari kejang demam simpleks dan
kompleks. Kejang demäm sederhana (simple febrile seizure) biasanya
berlangsung singkat kurang dari 15 menit dan umumnya akan berhenti sendiri.
Kejang demam kompleks (complex febrile seizure) biasanya terjadi lebih dari 15
menit, dan terjadi kejang berulang atau lebih dari satu kali 24 jam (Nugroho,
2014).
2
3. Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam melaksanakan
proses keperawatan pada klien An. J dengan Kejang Demam Komplek
4. Melaksanakan pemecahan masalah pada klien An. J dengan Kejang Demam
Kompleks
1.3 Ruang Lingkup
Sesuai dengan latar belakang yang telah di rumuskan diatas, maka ruang
lingkup pembahasan LTA ini berkisar mengenai pelaksanaan asuhan keperawatan
pada klien An. J dengan masalah Kejang Demam Kompleks diruang perawatan
Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan yang di laksanakan selama tiga hari
dari tanggal 29 Maret 2021 sampai dengan tanggal 31 Maret 2021.
3
diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi, Bab 3: yaitu
laporan kasus yang menguraikan tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada
An. J dengan Kejang Demam Kompleks diruangan cemara rumah sakit umum
kota tarakan penyimpangan konsep dasar medis sesuai kasus. Pelaksanaan
tersebut meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi,
dan evaluasi, Bab 4: yaitu pembahasan yang menguraikan tentang kesenjangan
antara asuhan keperawatan pada An.J diruangan Cemara Rumah Sakit Umum
Kota Tarakan dalam praktik nyata dengan konsep Asuhan Keperawatan pada
klien An. J dengan Kejang Demam Kompleks . Pembahasan tersebut meliputi
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Kemudian Bab 5: yaitu penutup yang menguraikan tentang kesimpulan dan saran.
4
BAB 2
LANDASAN TEORI
Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada suhu badan tinggi
(kenaikan suhu tubuh diatas 38◦C) karena terjadi kelainan ektrakranial. Kejang
demam atau febris convulsion adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh yang disebabkan oleh proses ekstrakranium, (Lestari, 2016).
5
2.1.2 Anatomi Fisiologi
2.1.2.1 Anatomi Dan Fisiologi Sistem Persarafan
Otak merupakan organ maha rumit yang memiliki banyak bagian dan fungi yang
spesifik dan berbeda-beda. Secara garis besar, otak dibagi menjadi tiga bagian
utama, yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan batang otak
(brainstem). Otak adalah masa besar jaringan saraf yang terletak di dalam
kranium (tengkorak). Otak terdiri atas neuron serta sel neuroglia penyokong
(Supradewi, 2010). Menurut Suhadianto (2016), banyak ungkap untuk
menggambarkan otak manusia, raksasa sedang tidur, alat pintal yang mempesona,
seperangkat mesin terkompleks di jagat raya, wilayah terbesar di dunia yang
6
belum tergali, super komputer biologis, dan masih banyak lagi ungkapan-
ungkapan yang lain untuk mengambarkan kehebatan otak manusia.
Berpasangan (kanan dan kiri) bagian atas dari otak yang mengisi lebih
dari setengah masa otak. Permukaannya berasal dari bagian yang menonjol (gyri)
dan lekukan (sulci),(Untari 2012).
Cerebrum dibagi dalam 4 lobus yaitu:
1) lobus frontalis, menstimulus pergerakan otak, yang bertanggung jawab untuk
proses berfikir.
2) Lobus parietalis, merupakan area sensoris dari otak yang merupakan sensasi
perabaan, tekanan, dan sedikit menerima perubahan temperatur.
3) Lobusoccipitalis, mengandung area visual yang menerima sensasi dari mata.
4) Lobus temporalis, mengandung area auditori yang menerima sensasi dari
telinga.
Area khusus otak besar (cerebrum) adalah somatic sensory area yang menerima
impuls dari reseptor sensori tubuh, primary motor area yang mengirim impuls
ke otot skeletal. Broca’s area yang terlibat dalam kemampuan bicara (Untari
2012).
Sistem Limbik adalah kelompok difus neuron dari area yang berbeda di
otak. Neuron di sistem limbik meliputi serabut dari semua lobus otak depan dan
hubungan yang luas dari hipotalamus dan talamus. Area otak tengah dan otak
belakang juga mengirim perkiraan yang berbentuk sistem limbik. Hipotalamus
dianggap sebagai bagian sistem limbik dan berperan penting dalam memberi
kode dan mengosolidasi memori. Amigdala, yang dianggap sebagai bagian
7
sistem limbik, terlibat dalam pembentukan emosi, agresi, dan perilaku seksual
(Tadriah, 2019).
Berjalan melali batang otak adalah jaringan yang terdiri atas banyak
neuron kecil bercabang, yang formasio reticularis. Neuron ini mencakup jaras
asenden dan desenden, yang beberapa berkumpul berkumpul bersama pusat yang
mengontrol muntah, serta refleksi pernapasan kardiovaskular. Formasi reticularis
juga sangat penting untuk keadaan terjaga dan diperlukan untuk difokuskan pada
perhatian (Snell, 2016).
2.1.2.6 Serebelum
2.1.3 Etiologi
8
kejadian kejang dapat berlanjut melewati masa anak-anak dan mungkin dapat
mengalami kejang non demam pada kehidupan selanjutnya (Nurarif & Kusuma,
2015).
1. Faktor genetika
Faktor keturunan dari salah satu penyebab terjadinya kejang demam, 25-50%
anak yang mengalami kejang demam memiliki anggota keluarga yang pernah
mengalami kejang demam.
2. Penyakit infeksi
1) Bakteri : penyakit pada traktus respiratorius, tonsil litis, otitis media.
2) Virus : varicella(cacar), morbili(campak), dengue(virus penyebab demam
berdarah).
3. Demam
Kejang demam cenderung timbul dalam 24 jam pertama pada waktu sakit
dengan demam tinggi.
4. Gangguan metabolisme
Gangguan metabolisme seperti uremia, hipoglikemia, kadar gula darah
kurang dari 30 mg% pada neonatus cukup bulan dan kurang dari 20mg%
pada bayi dengan berat badan lahir rendah atau hiperglikemia.
5. Trauma
Kejang berkembang pada minggu pertama setelah kejadian cedera kepala
2.1.4 Klasifikasi
9
2.1.5 Patofisiologi
Sumber energi otak adalah glukosa vang melalui proses oksidasi dipecah
menjadi CO2 dan udara. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari
permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar vaitu ionik. Dalam keadaan
normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah jon kalium (K+) dan
sangat sulit dilalui oleh ion Natriun (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion
klorida (CI-). Hasil dari konsentrasi jon K+ dalam sel neuron tinggi dan
konsentrasi Na+ rendah, sedangkan diluar sel neuron terdapat keadaan
sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan luar sel,
maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran
dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran yang dibutuhkan
energi dan bantuan Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel, Nurarif &
Kusuma (2015).
10
seluruh sel maupun membran sel disekitarnya dengan bantuan neurotransmitter
dan terjadi kejang (Kusuma 2015).
Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan
tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (lebih dari
15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatkan kebutuhan oksigen dan energi
yang terjadi selama kontraksi otot rangka yang akhirnya menyebabkan
hipoksemia, hiperkapnia, asidosis yang disebabkan oleh metabolisme anerobik,
hipotensi urtenal disertai denga jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh
meningkat yang menyebabkan meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan
metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian di atas adalah faktor penyebab
hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang, (Lestari,
2016).
11
4. Penyimpangan KDM
Kelain
an
neurol
ogis
Ketidakseimbangan potensial membrane
Perubahan difusi
Hipertermia Na+ dan K+
Pelepasan muatan listrik semakin
Meluas keseluruh sel maupun resiko cedera
Perubahan benda potensial
Kekurangan
Volume cairan membrane sel sekitarnya dengan
bantuan neurotransmiter
Ketidakefektif
Ketidakefektifan kurang dari 15 menit
an jaringan
jaringan
perifer perifer
Refleks menelan metabolisme meningkat lebih dari 15 menit KDK
menurun
suhu tubuh makin meningkat resiko infeksi
resiko syok
Gambar 2.1 pathway Kejang Demam Kompleks, (Nurarif & Kusuma 2015).
12
2.1.6 Manifestasi Klinik
3. tubuh termasuk tangan dan kaki jadi kaku, kepala terkulai ke belakang disusul
munculnya gejala kejut yang kuat
4. warna kulit berubah pucat bahkan kebiruan dan bola mata naik ke atas
7. anak tidak dapat mengontrol untuk buang air besar atau kecil.
2.1.7 Komplikasi
13
Komplikasi kejang demam Menurut waskitho (2013) adalah:
2.1.8 Penatalaksanaan
Kejang demam menurut Wulandari & Erawati (2016)
1. Penatalaksaan keperawatan
1) Saat terjadi serangan mendadak yang harus diperhatikan pertama kali adalah
ABC (Airway, Breathing, Circulation)
2) Setelah ABC aman. Baringkan pasien di tempat yang rata untuk mencegah
terjadinya perpindahan posisi tubuh kearah Danger.
3) Kepala di miringkan dan pasang sundip lidah yang sudah di bungkus kasa.
8) Jangan diberikan selimut tebal karena uap panas akan sulit akan dilepaskan
2. Penatalaksaan medis
14
1) Bila pasien datang dalam keadaan kejang obat utama adalah diazepam untuk
membrantas kejang secepat mungkin yang diberi secara IV (intravena), IM
(Intra muskular), dan rektal. Dosis sesuai BB:< 10 kg:0,5,0,75 mg/kg BB
dengan minal dalam spuit 7,5 mg, > 20 kg : 0,5 mg/kg BB. Dosis rata-rata
dipakai 0,3 mg/kg BB/kali dengan maksimal 5 mg pada anak berumur kurang
dari 5 tahun, dan 10 mg pada anak yang lebih besar.
1) Identitas pasien
Lakukan pengkajian identitas seperti nama, alamat, dan pada umur anak di
bawah 6 bulan sampai 4 tahun, tempat tanggal lahir, asal suku bangsa,
(Sodidin,2012 dlm Farida & Selviana, 2016), jenis kelamin, agama, pendidikan,
orang tua klien, pekerjaan orang tua.Riwayat kesehatan
2) Riwayat kesehatan
(2) Riwayat penyakit sekarang, biasanya orang tua klien mengatakan badan
anaknya terasa panas, nafsu makan anaknya berkurang, lama terjadinya
kejang biasanya tergantung pada jenis kejang demam yang dialami anak.
15
dengan kejang demam kompleks mengalami gangguan keterlambatan
perkembangan dan intelegensi pada anak serta megalami kelemahan pada
anggota gerak (hemifarise). Riwayat imunisasi: biasanya anak dengan
riwayat imunisasi tidak lengkap rentan tertular penyakit infeksi atau virus
seperti virus influenza.
(4) Riwayat nutrisi. Saat sakit, biasanya anaj mengalami penurunan nafsu
makan karena mual dan muntah.
2. Pemeriksaan fisik keadaan umum anak rewel dan kesadaran compos mentis.
(1) keadaan umum biasanya anak rewel dan kesadaran compos mentis
(2) TTV (tanda-tanda vital): suhu biasanya >38°C, respirasi pada usia 2-
<12 bulan bisanya >49 kali/menit. Pada usia 12 bulan-<5 tahun biasanya
>40 kali/menit dan nadi biasanya >100 kali/menit.
(3) BB (berat badan): biasanya pada anak dengan kejang demam tidak terjadi
penurunan berat badan yang berarti.
(4) Kepala: biasanya tampak simetris dan tidak ada kalainan yang tampak.
(6) Mulut dan lidah: Biasanya mukosa bibir tampak kering, tonsil hiperemis,
lidah tampak kotor.
(7) Biasanya simetris kiri-kanan, normalnya pili sejajar dengan bentuk mata,
keluar cairan, gangguan telinga yang bersifat sementara, nyeri tekan
mastoid.
(8) Hidung: Biasanya penciuman baik, tidak ada pernafasan cuping hidung,
bentuk simetris, mukosa hidung berwarna merah muda. saya.
(10) Dada: Thoraks: Inspeksi, biasanya gerakan dada simetris, tidak ada
16
penggunaan otot bantu pernapasan. Palpasi, biasanya vremitus kiri
kanan sama. Auskultasi, biasanya ditemukan bunyi napas tambahan
seperti ronchi. Jantung biasanya terjadi penurunan atau peningkatan
denyut jantung.
(11) Ekstermitas
Atas: biasanya tonus otot mengalami kelemahan, CRT > 2 detik, akral
dingin.
Bawah: biasanya nada otot mengalami kelemahan, CRT> 2 detik, akral
dingin.
Penilaian tingkat kesadaran Compos Mentis (sadar), yaitu kesadaran
normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang
keadaan sekelilingnya, nilai GCS: 15-14. Apatis, yaitu keadaan
kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya
acuh tak acuh, nilai GCS: 13-12. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi
(orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi,
kadang berhayal, nilai GCS: 11-10. Somnolen (Obtundasi, Letargi),
yaitu kesadaran menurun, respons psikomotor yang lambat, mudah
dicapai, namun kesadaran dapat memulihkan bila dirangsang (mudah
dibangun) tetapi jatuh bangun lagi, mampu memberi jawaban verbal.
nilai GCS: 9-7. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti lelap, tetapi
ada respon terhadap nyeri, nilai GCS: 6-4. Koma (koma), yaitu tidak
17
biasa dibangunkan, tidak ada respon terhadap apapun (tidak ada respon
maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap
cahaya), nilai GCS: 3.
18
2.1.9 Perencanan
19
2) Diagnosa Keperawatan II
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret
Tujuan: Bersihan jalan napas efektif
Kriteria hasil: menunjukan jalan napas yang paten dan mampu mengeluarkan
sputum
Intervensi keperawatan:
(1). Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventelasi
(2). Lakukan fisioterapi dada bila perlu
(3). Keluarkan secret dengan batuk efektif
(4). Auskultasi suara napas
(5). Monitor respirasi
3) Diagnosa Peningkatan III
Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
Tujuan: menganjurkan kepada keluarga klien untuk selalu menjaga kebersihan
tubuh klien
Kriteria hasil: klien terasa nyaman, dan mejaga tubug agar tetap bugar
Intervensi keperawatan:
(1) Lakukan tindakan keperawatan mandiri kepada klien”memandikan klien
mengosok gigi, memotong kuku klien
(2) Anjurkan kepada anggota keluaga klien untuk selalu menjaga kebersihan
klien
4) Diagnosa keperawatan IV
Gangguan pola tidur berhuungan dengan kurang kontrol tidur
Tujuan: diharapkan gangguan pola tidur teratasi
Kriteria hasil:kesulitan tidur klien berkurang.
Intervensi keperawatan:
(1). Identifikasi pola aktivitas dan tidur
(2). Identifikasi faktor penganggu tidur
(3). Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
2.2.4 Implementasi
20
membantu masalah kesehatan pasien yang sesuai dengan perencanaan dan kriteria
hasil yang telah di tentukan dengan cara mengawasi dan mencatat respon pasien
terhadap tindakan keperawatan yang telah di lakukan. Implementasi pelaksanaan
kegiatan dibagi dalam beberapa kriteria yaitu: Dependen Intervenstions:
dilaksanakan dengan mengikuti order dari pemberian perawat kesehatan lain.
Collaborative (interdependen): intervensi yang dilaksanakan dengan profesional
kesehatan lainnya, dan Independent (autonomous) Intervention: intervensi
dilakukan dengan melakukan nursing orders dan sering juga digabungkan dengan
order daei medis, Bausat N (2016).
2.2.5 Evaluasi
21
sesuai wewenang.
3) Evaluasi hasil, berfokus pada respons dan fungsi klien. Respons prilaku klien
merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan akan terlihat
Adapun hasil evaluasi:
1) Tujuan tercapai/masalah teratasi: jika klien menunjukkan perubahan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan
2) Tujuan tercapai sebagian/masalah teratasi sebagian: jika klien menunjukkan
perubahan sebagian dari standar dan kriteria yang telah di tetapkan.
3) Tujuan tidak tercapai/masalah tidak teratasi: jika klien tidak menunjukkan
perubahan dan kemajuan sama sekali dan bahkan timbul masalah baru
Penentuan masalah teratasi, teratasi sebagian, atau tidak teratasi adalah
dengan cara membandingkan antara SOAP/SOAPIER dengan tujuan dan kriteria
hasil yang telah ditetapkan.
S(Subjective): adalah informasi berupa ungkapan yang didapat dari klien setelah
tindakan diberikan.
22
BAB 3
LAPORAN KASUS
Bab ini penulis akan mengemukakan hasil dari asuhan keperawatan yang
dimulai dari pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan,
implementasi sampai dengan evaluasi pada anak J dengan diagnosa kejang
demam kompleks di Ruang Cemara RSUKT Tarakan mulai tanggal 29 sampai 31
Maret 2021.
3.1 Pengkajian
Tahap pengkajian, penulis mengumpulkan data dengan cara wawancara
pada keluarga klien, observasi, melihat catatan medik dan pemeriksaan fisik yang
dilakukan pada anak J dengan Kejang Demam Kompleks yang di rawat di Ruang
Cemara RSUKT Tarakan Kalimantan Utara.
Anak J usia 2 tahun 7 bulan, jenis kelamin perempuan, islam, suku Bugis,
alamat Karang Rejo Rt 06 No 96, masuk rumah sakit tanggal 27 maret 2021
dengan diagnosa medis kejang demam kompleks. Ayah Tn. M berusia 26 tahun,
suku Bugis, agama Islam, pendidikan terakhir SD, pekerjaan nelayan, alamat
Karang Rejo Rt 06 No 96. Ibu Ny. T berusia 25 tahun, suku bugis, agama Islam,
pendidikan terakhir SD, pekerjaan IRT, alamat Karang Rejo Rt 06 No 96.
1) Keluhan utama
23
3) Riwayat penyakit sekarang
Ibu klien mengatakan anaknya demam sudah tiga hari tidak turun-turun. Ibu
klien mengatakan anaknya batuk-batuk disertai flu. Ibu klien mengatakan anaknya
sangat rewel dan tidak mau berhenti menangis. Ibu klien bertanya-tanya tentang
penyakit anaknya, keluarga klien sangat khawatir melihat kondisi anaknya, anak
terlihat batuk-batuk dan sangat rewel.
Klien tidak pernah di rawat sebelumnya di rumah sakit. Dan tidak pernah
mengonsumsi obat-obatan bebas.
Prenatal Care
1. Natal
Klien lahir di RSUD Tarakan, proses persalinan spontan dan ditolong oleh
bidan. Setelah lahir klien menangis keras BB lahir 2 kg.
2. Post Natal
Kondisi bayi dengan berat badan 2 kg, anak tidak mengalami penyakit kuning
saat baru lahir.
Keluarga tidak punya penyakit jantung, hipertensi dan penyakit berbahaya atau
menular lainnya.
24
Genogram:
59 57 55 53
thn thn thn thn
40 33 29 26 38 33 30 27 25
thn thn thn thn thn thn thn thn thn
2,7
thn
Keterangan :
= Perempuan = Klien
25
3.1.3 Riwayat Imunisasi
1. Berat badan : 12 kg
2. Tinggi badan : 80 cm
1. Berguling : 8 bulan
2. Duduk : 9 bulan
3. Merangkak : 7 bulan
4. Berdiri : 10 bulan
5. Berjalan : 1 tahun
1) Pemberian ASI (air susu ibu). Diberikan ASI selama 6 bulan, kemudian
setelah 6 bulan diberikan susu formula diselangi makanan pendamping bubur.
2) Pola tiap tahap nutrisi. Pada umur 0-4 diberikan ASI ekslusif setelah 4-12
diberikan ASI sampai 6 bulan kemudian diberikan susu formula setelah 6
bulan, saat ini berikan sisi formula dan makanan pendamping bubur.
3.15Riwayat Psikososial
Anak J. Tinggal bersama ayah dan ibu ibunya. Hubungan keluarganya
harmonis, anak J dirawat dengan ibunya sendiri dan lingkungan rumahnya
tidak ada berbahaya.
26
3.1.7 Riwayat Spiritual
1. Nutrisi. (makan)
Sebelum sakit, selera makan baik, menu makan nasi dengan ikan dan
sayur, frekuensi 3xsehari, makan selalu dihabiskan. Ibu klien mengatakan tidak
ada makanan pantangan dan saat makan klien masih disuapi. Pada Saat sakit,
selera makan baik, menu makanan bubur yang diberikan di rumah sakit, frekuensi
3 x sehari, porsi slalu dihabiskan.
2. Cairan, (Minum)
Sebelum sakit, ibu klien mengatakan klien minum air putih 2-4 gelas
perhari atau 960 ml/hari dan juga mengkonsumsi susu formula. Ibu klien
mengatakan pemberiannya melalui dot. Ibu klien mengatakan klein minum susu
formula sehari 250 ml/hari selalu dihabiskan. Saat sakit, klien minum air putih
kurang dari 200 ml/hari melalui dot.
3. Eliminasi BAB (buang air besar) dan BAK (buang air kecil).
Sebelum sakit, BAB sehari 1 kali dengan konsistensi padat, tidak kesulitan
saat BAB. BAK kadang 5 kali sehari, berwama kuning jernih. Saat sakit, klien
BAB selama dirawat di rumah sakit, BAK 3 kali sehari berwarna kuning jernih.
4. Istirahat tidur.
Sebelum sakit, klien tidur siang dari jam 12:00-15:00 kualitas tidur nyenyak
dengan lama tidur 4 jam. Tidur malam dari jam 20:00- 05:00 dengan kualitas tidur
nyenyak, tidur malam selama 10 jam. Saat sakit klien tidur siang.
27
5. Personal Hygiene.
Sebelum sakit, klien mandi dua kali sehari dibantu olch ibunya. Klien
mencuci rambut pada pagi hari, menggunting kuku 1 minggu sekali. Saat sakit
klien tidak dimandikan, klien hanya dilakukan seka-seka karena klien demam.
6. Mobilisasi fisik.
Sebelum sakit ibu klien mengatakan klien biasanya bermain dengan
sepupunya dirumah. Klien tidak ada jadwal khusus dalam bermain. Saat sakit ibu
klien mengatakan anaknya hanya terbaring lemah, tidak ada jadwal khusus dan
tidak mengunakan alat bantu.
7. Rekreasi.
Sebelum sakit, ayah klien sering membawa anaknya ke taman untuk
berekreasi. Saat sakit, klien hanya bermain bersama ayahnya dan sering menton
film kartun di handphone.
1. Keadaan umum
Klien terlihat lemas dengan kesadaran komposmentis dengan GCS 15, E : 4 M : 6
V : 5.
2. Tanda-tanda vital
Suhu 38°C, nadi 132 x/menit, pernapasan 45 x/menit. Tinggi badan 80 cm,
berat badan 12 kg. lingkar kepala 49 cm, lingkar lengan atas 18 cm, lingkar dada
53 cm dan lingkar perut 52 cm.
3. Sistem Pernapasan
(1) Hidung, simetris kiri dan kanan, terdapat sekret tidak ada polip, leher tidak
mengalami pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada tumor. Respiration
45x/menit gerakan dinding dada simetris, auskultasi suara napas vesikuler,
terdengar suara napas tambahan ronkhi. Palpasi tulang iga tidak
mengalami kelainan.
(2) Leher, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
(3) Dada
28
Pada saat diinspeksi bentuk dada normal, pada saat dipalpasi gerakan dada
simetris kiri dan kanan. Terdapat retraksi dinding dada, saat diperkusi
terdengar suara sonor, dan diauskultasi terdengar suara ronchi di apeks
kanan atas kiri atas.
4. Sistem Kardiovaskular.
Konjungtiva tidak anemis, bibir tidak pucat, tekanan vena jugularis tidak
meninggi. Suara jantung s1,s2 (lup, dup)
5. Sistem Percernaan.
kemampuan menelan baik jumlah gigi tidak lengkap, mukosa bibir terlihat
kering lalu dilakukan palpasi hati teraba, tidak ada pembesaran ginjal, tidak ada
nyeri tekan dan dilakukan auskultasi bising usus 8x/menit di perkusi terdengar
bunyi timpani.
6. Sistem Indra
(1) Mata: penyebaran bulu mata dan alis merata
(2) Hidung klien mampu membedakan bau dengan baik tidak terdapat secret
(3) Telinga: daun telinga simetris kiri dan kanan tidak terdapat serumen fungsi
pendengaran baik
7. Sistem Muskuloskeletal
(1) Kepala: rambut berwarna hitam tekstur halus, kulit kepala tidak terdapat
lesi, ekspresi wajah mengkerut saat merasa nyeri.
(2) Vertebra: fungsi pergerakan baik tidak menggunakan alat bantu.
(3) Lutut: tidak terdapat pembengkakan pada lutut.
(4) Kaki: tidak kesulitan saat berjalan , tidak ada pembengkakan pada kaki
(5) Tungkai: simetris, tidak ada pareses, tidak tedapat luka, kekuatan
ototsimetris kiri dan kanan tidak ditemukan adanya udema.
8. Sistem Integumen:
Rambut berwarna hitam, tidak mudah dicabut, kulit klien sawo matang,
kulit lembab, kuku klien terlihat bersih dan berwarna merah muda, turgor kulit
tidak elastisi.
29
9. Sitem Endokrin:
Injeksi Oxtercid 350 mg/ 12 jam diberikan melalui IV(intravena) dosis 750 mg
Combiven /8 jam
30
3.1.13 Penyimpangan KDM
Reaksi inflamasi
Proses demam
proses penyakit
31
3.1.14 Data Fokus
(1) Ibu klien mengatakan anaknya demam sudah dua hari tidak turun-turun.
(2) Ibu klien mengatakan saat dirumah anaknya kejang sudah dua kali kejang
hilang timbul selama 30 menit
(3) Ibu klien mengatakan anaknya batuk-batuk disertai flu.
(4) Ibu klien mengatakan klien sesak
(5) Ibu klien mengatakan anaknya belum mandi pada saat di rawat di rumah
sakit
(6) Ibu kliein mengatakan anaknya sangat rewel dan tidak mau berhenti
menangis.
(7) Ibu klien mengatakan klien sulit tidur
2) Data Objektif
(1) Klien terlihat batuk-batuk.
(2) Terdapat bunyi suara napas tambahan ronkhi
(3) Klien tampak sesak
(4) Tampak diberikan Nebulisasi (Nebu Ventolin 1 amp + Nacl 2,5 cc)
(5) Tampak terpasang Oksigen 1 Lpm Nasal canul
(6) Klien terlihat sangat rewel.
(7) Suhu klien 38° C.
(8) Kulit klien terasa hangat
(9) Pernapasan klien 45/menit
(10) Infus DN % Drip Nopalgin.
(11) Kuku klien tampak panjang dan kotor
(12) Klien tampak kusam
(13) Klien tampak mengantuk
(14) Klien tampak menguap
32
3.1.14 Analisa Data
Data Subjektif
(1) Ibu klien mengatakan anaknya demam sudah dua hari tidak turun-turun.
(2) Ibu klien mengatakan saat dirumah anaknya kejang sudah dua kali kejang
timbul sekitar 30 menit.
Data Objektif
Data subjektif
Data objektif
Data subjektif
33
(1) Ibu klien mengatakan selama klien di rawat di rumah sakit klien hanya di
seka-seka
Data objektif
Penyebab: kelemahan
Data subjektif
Data objektif
2). Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret
3.3 Perencanaan
34
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
suhu tubuh menurun, dengan kreteria hasil:
1) Suhu tubuh dalam rentang normal 36,0°C sampai dengan 37,5°C
2) Nadi 70-120 kali/menit dan pernapasan 20-50 kali /menit
3) Tidak ada perubahan warna kulit.
Intervensi keperawatan:
(1) Monitor suhu tubuh sesering mungkin
(2) Monitor warna dan suhu badan
(3) lakukan kompres air hangat saat suhu tubuh naik
(4) Berikan pengobatan untuk mengatasi demam
2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret
Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
bersihan jalan napas baik dengan kriteria hasil:
1) Mampu mengeluarkan sputum
2) Frekuensi pernapasan 20-50 kali /menit
3) Jalan napas paten
4) Suara napas vesikuler
Intervensi keperawatan:
(1) Ajarkan batuk efektif
(2) Ajarkan RND
(3) Berikan terapi Nebullizer
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan.
Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan defisit
perawatan diri dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1) Klien terasa nyaman
2) Klien terlihat segar
3) Menjaga tubuh tetap bugar
Intevensi keperawatan:
(1) Lakukan tindakan keperawatan mandiri kepada klien “memandikan
mengosok gigi, memotong kuku klien”.
(2) Anjurkan kepada anggota keluarga klien untuk selalu menjaga kebersihan
klien
35
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurang kontrol tidur
Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan
gangguan pola tidur teratasi dengan kriteria hasil:
1) Kesulitan tidur klien berkurang
2) Klien dapat tidur dengan teratur
Intervensi keperawatan
(1) Identifikasi pola aktivitas dan tidur
(2) Identifikasi faktor penganggu tidur
(3) Mengatur lingkungan (suhu ruangan, pencahayaan)
(4) Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
3.4 Implementasi
Diagnosa Keperawatan 1:
36
Ds: ibu klien mengatakan klien masih sesak
Do: RR klien 45x/menit
2. Pukul 09:10 memonitor adanya sumbatan jalan napas
Ds: ibu klien mengatakan klien batuk berdahak
Do: tampak terdapat sputum
3. Pukul 10:45 melakukan fisio terapi dada
Do: sekret keluar pada saat di berikan fisio terapi dada setelah di berikan
terapi Nebullizer
4. Pukul 10:55 menjelaskan tujuan pemantauan
Ds: ibu klien mengatakan paham dan mengerti
Do: ibu klien tampak menjawab beberapa pertanyaan yang di berikan
37
Do: klien tampak mengantuk
1. pukul 13:20 Identifikasi faktor penganggu tidur
Ds: Ibu klien mengatakan anaknya rewel
Do: klien tampak menguap
3. pukul 15:00 mengatur lingkungan (suhu ruangan, pencahayaan)
Ds: Ibu klien mengatakan pencahayaan di ruangan terlalu terang
Do: klien tampak tidak bisa tidur
38
Ds: keluarga klien mengatakan selalu memandikan klien
Do: klien tampak segar setelah di mandikan
3. Pukul 16:00 melakukan tindakan perawatan mandiri pada klien
memandikan dan ,menggosok gigi
Ds: klien sangat segar
Do: klien terlihat nyaman setelah dimandikan dan menggosok gigi klien
4) Gangguan pola tidur tidak efektif berhubungan dengan kontrol tidur
1. Pukul 13:00 Identifikasi pola aktivitas dan tidur klien
Ds: ibu klien mengatakan pola tidur anaknya teratur
Do: klien tampak ceria
2. Pukul 13:30 identifikasi faktor penganggu tidur
Ds: ibu klien mengatakan anaknya sudah tidak rewel lagi
Do: klien tampak bersemangat dan ceria
3. Pukul 15:00 mengatur lingkungan (suhu ruangan, pencahayaan terang)
Ds: ibu klien mengatakan pencahayaan di ruangan nya sudah tidak terang
lagi
Do: klien tampak nyenyak tidur
3.5 Evaluasi
39
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan
40
BAB 4
PEMBAHASAN
Bab ini penulis membahas asuhan keperawatan yang diberikan pada klien
An. J dengan Kejang Demam Kompleks di ruang Cemara RSUKT Tarakan mulai
dari tanggal 29 maret sampai 31 maret 2021 dengan pendekatan proses
keperawatan.
4.1 Pengkajian
1) Pada proses wawancara pada riwayat penyakit sekarang, yang biasanya orang
tua klien mengatakan suhu tubuh > 38,0°C, pasien mengalami kejang bahkan
dengan kejang demam kompleks biasanya mengalami penurun kesadaran,
nafsu makan anaknya berkurang, gangguan keterlambatan perkembangan dan
intelegensi pada anak serta mengalami kelemahan pada anggota gerak.
Riwayat nutrisi saat sakit, biasanya nafsu makan karena mual muntahnya dan
biasa anak dengan riwayat penyakitnya tidak lengkap akan rentang dengan
penyakit infeksi atau virus seperti virus influenza, Sedangkan pada tinjauan
kasus hanya terdapat data-data seperti suhu tubuh 38,°C dan imunisasi tidak
lengkap rentan tertular infeksi virus influenza pada An. J pada tidak
ditemukan dalam teori akan muncul data kurangnya nafsu makan karena mual
muntahnya, gangguan keterlambatan perkembangan dan intelegensi pada anak
serta mengalami kelemahan pada anggota gerak, pada saat di rumah sakit
41
klien tidak mengalami penurunan nafsu makan, keterlambatan tumbuh
kembang dan mengalami kelemahan anggota gerak karena klien di rumah
sakit pola makanya baik, sangat aktif dan keoperatif hingga tidak ada
kelemahan pada pergerakan.
2) Pada pemeriksaan fisik biasanya mukosa bibir tampak kering, pembengkakan
tonsil, lidah tampak kotor, nyeri tekan pada mastoid, tidak ada pernapasan
cuping hidung dan pembesaran kelenjar getah bening. Inspeksi tidak ada
pergerakan otot bantu pernapasan, dan saat diauskultasi biasanya tidak
terdengar suara napas ronchi. Namun penulis tidak mendapatkan data-data
tesebut, melainkan sebaliknya penulis menemukan kasus klien mangalami
kenaikan suhu tubuh di atas 37°C membuat hipertermi dan merangsang
mekanisme pertahanan terhadap adanya mikroorganisme, produksi mukul oleh
sel-sel bacilia sepanjang saluran pernapasan menumpukan sekresi mucus pada
jalan napas hingga klien menjadi batuk flu, ada pergerakan otot bantu
pernapasan dan saat diauskultasi terdengar suara napas ronchi.
42
4.2 Diagnosa Keperawatan
43
dengan kondisi klien karena individu memiliki keunikan dan respon yang berbeda
terhadap penyakit.
4.3 Perencanaan
Dalam kasus ini penulis menentukan masalah sesuai dengan diagnosa yang
telah ditemukan yaitu hipertermi berhubungan proses penyakit dengan adanya
suhu tubu klien 38°C. Sehingga perlu adanya penanganan memberikan kompres
air hangat di bagian lipatan tubuh klien serta berkolaborasi dengan tim medis
dengan pemberian obat Nopalgin untuk mengurangi demam, Diagnosa kedua
44
adalah bersihan jalan napas tidakefektif berhubungan dengan penumpukan sekret
dengan adanya pengunaan retraksi dinding dada dan suara napas ronchi, Diagnosa
yang ketiga ialah defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
dikarenakan klien tidak mandi selama klien di rawat di rumah sakit klien hanya di
seka-seka dengan ibu klien. Diagnosa keempat yaitu gangguan pola tidur
berhubungan dengan kurang kontrol tidur karena klien sulit tidur malam dan
keluarga klien mengatakan klien sangat rewel.
Rencana tindakan keperawatan yang terdapat pada laporan tugas akhir ini
pada dasarnya disesuaikan pada kondisi klien dan fasilitas yang ada serta
disesuaikan juga dengan sumber buku perencanaan asuhan keperawatan pada
anak dengan kejang demam kompleks yang ada di dalam buku keperawatan.
4.4 Implementasi
45
penulis melakukan tindakan mandiri kepada keluarga klien untuk memandikan
pasien dan mengosok gigi klien dan adapun penulis melakukan tindakan
tambahan kepada klien yaitu terapi bermain kepada klien agar klien tampak lebih
bersemangat. Dan yang terakhir yaitu dengan diagnosis Gangguan pola tidur
berhubungan dengan kontrol tidur pada saat di lakukan implementasi penulis
melakukan tindakan yaitu mengatur lingkungan (suhu ruangan, dan pencahayaan)
agar klien bisa tidur dengan nyenyak. Sebagaimana umumnya asuhan
keperawatan pada An. J juga melibatkan peran aktif keluarga dalam pencapaian
tujuan keperawatan, semua tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sesuai
rencana yang telah disusun.
4.5 Evaluasi
46
pada tanggal 30 Maret 2021 dengan hasil evaluasi klien mengatakan segar pada
saat setelah di mandikan. Masalah defisiensi Gangguan pola tidur pada tanggal 30
Maret 2021 dengan hasil evaluasi pola tidur klien teratur, ibu klien mengatakan
klien sudah tidak rewel lagi.
47
BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Pada bab ini setelah mengurai penerapan keperawatan pada An.J dengan
diagnosa Kejang Demam Kompleks yang dirawat di ruang inap perawatan anak
Cemara RSUKT Tarakan maka penulis akan menuliskan beberapa kesimpulan
dan saran dalam peningkatan pelayanan asuhan keperawatan khususnya pada
klien dengan Kejang Demam Kompleks:
48
atau lebih banyak membaca artikel maupun informasi dengan berbagai media
atau cara agar terhindar dari masalah yang lebih serius.
2) Bagi rumah sakit. Penulis, mengharapkan dalam menyelesaikan masalah
kesehatan klien di harapkan kerja sama dengan sesama tim kesehatan makin
ditingkatkan.
3) Bagi Institusi. Laporan Tugas Akhir asuhan keperawatan pada klien An. J
dengan diagnosa medis Kejang Demam Kompleks dapat dijadikan sebagai
bahan referensi bagi mahasiswa yang praktek, khususnya dalam meberikan
asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Kejang Demam
Kompleks.
4) Bagi Penulis. Dalam melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif
penulis harus terus meningkatkan kemampuan dalam melakukan asuhan
keperawatan dalam hal ini khususnya perawatan pada bayi dan anak.
49
DAFTAR PUSTAKA
50
LAMPIRAN
51
SOAP INHALASI NEBULIZER
Pengertian
Tujuan
Prosedur
Persiapan alat:
1. Set nebulizer
2. Obat bronkodilator
3. Bengkok
4. Sputum pot tertutup berisi air larutan disinpektan
5. Tissue
6. Spuit 5 cc
7. Aquades
8. Tissue
Pelaksanaan: