0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
268 tayangan76 halaman

Kejang Demam

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada pasien An. J yang menderita kejang demam kompleks di ruang perawatan Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan. Laporan ini menjelaskan proses pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi asuhan keperawatan yang diberikan.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
268 tayangan76 halaman

Kejang Demam

Laporan ini membahas asuhan keperawatan pada pasien An. J yang menderita kejang demam kompleks di ruang perawatan Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan. Laporan ini menjelaskan proses pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi asuhan keperawatan yang diberikan.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN.

J DENGAN DIAGNOSA MEDIS


KEJANG DEMAM KOMPLEKS DIRUANGAN CEMARA
RUMAH SAKIT UMUM KOTA TARAKAN

LAPORAN TUGAS AKHIR

Oleh:
SANTI WINARNI
NPM: 1830702038

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2021
ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. J DENGAN DIAGNOSA MEDIS
KEJANG DEMAM KOMPLEKS DI RUANGAN CEMARA RUMAH
SAKIT UMUM KOTA TARAKAN

LAPORAN TUGAS AKHIR

OLEH:

SANTI WINANRNI

NPM: 1830702038

Laporan Tugas Akhir

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar

Ahli Madya Keperawatan pada

Universitas Borneo Tarakan

JURUSAN KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS BORNEO TARRAKAN

2021

ii
PERNYATAAN ORSINALITAS

Dengan ini saya menyatakan bahwa Laporan Tugas Akhir dengan Judul “Asuhan
Keperawatan Pada An.J Dengan Diagnosa Kejang Demam Kompleks Di Ruangan
Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan” adalah karya saya dengan arahan dari
dosen pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan
tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikuti pada karya yang
diterbitkan maupun tidak diterbitka dari penulis lain telah disebut kan dalam teks
dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir Laporan Tugas Akhir ini
ditulis dengan mengikuti kaidah penulis ilmiah.

iii
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Laporan Tugas Akhir : Asuhan Keperawatan Pada An.J Dengan Diangnosa
Kejang Demam Kompleks Di Ruangan Cemara Rumah Sakit Umum Kota
Tarakan

Nama : Santi winarni


NPM : 1830702038

DisetujuiOleh :

PembimbingUtama PembimbingAnggota

Alfianur S.Kep. Ns., M.Kep Nurman Hidaya, S.Kep, Ns,. M.Kep


NIP. 1979082320050210004 NIP. 199104052019031021

iv
HALAMAN PENGESAHAN

Telah diujikan pada tanggal 15 Juni 2021

Dan disetujui untuk disusun sebagai Lapotan Tugas Akhir dengan judul:

ASUHAN KEPERAWATAN PADA AN. J DENGAN DIAGNOSA MEDIS


KEJANG DEMAM KOMPLEKS DI RUANG CEMARA RUMAH SAKIT
UMUM KOTA TARAKAN

Tim Penguji:

1. Sulidah, S.Kep.Ns., M.Kep (.............................)


NIP. 1969020619990310003

2. Dewi Wijayanti, S.Kep.Ns., M.Kep (..............................)


NIDN.1115028602

3. Alfianur, S.Kep.Ns., M Kep (..............................)


NIP. 1979082320050210004

Mengetahui

v
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang
senantiasa melimpahkan rahmad dan hidayah-Nya kepada penulis. Sehingga
penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan tugas akhir ini dengan judul
Asuhan Keperawatan Pada An. J Dengan Diagnosa Medis Kejang Demam
Kompleks Di Ruangan Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan.

Dalam menyusun laporan tugas akhir ini penulis menyadari masih banyak
mengalami kesulitan dan hambatan, tetapi berkat bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak, Laporan Tugas Akhir ini dapat penulis selesaikan. Untuk itu
ijinkan penulis mengucapkan terima kasih banyak dan memberikan penghargaan
yang setinggi-tingginya kepada:

1) Bapak Prof. Dr. Adri Patton, M.Si, selaku Rektor Universitas Borneo Tarakan
2) Bapak Alfianur, S.Kep, Ns, M.Kep, selaku Ketua Jurusan Keperawatan
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan, sekaligus sebagai dosen
pembimbing I dan penguji III saya, terima kasih bapak telah memberi
motivasi dan semangat selama membimbing dengan cermat serta memberikan
masukan-masukan demi sempurnanya laporan ini.
3) Bapak Sulidah, S.Kep, Ns, M.Kep selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Borneo Tarakan, serta selaku penguji I yang telah menguji dan
memberikan masukan-masukan demi sempurnanya Laporan Tugas Akhir ini.
4) Ibu Dewi Wijayanti, S.Kep. Ns.,M.Kep selaku dosen penguji II yang telah
menguji dan memberikan masukan-masukan demi sempurnanya Laporan
Tugas Akhir ini.
5) Bapak Donny Tri Wahyudi, S.Kep. Ns., M.Kep selaku Dosen pembimbing
akademik yang telah memberi motivasi dan semangat selama pendidikan.
6) Bapak Nurman Hidaya, S.Kep., Ns., M.kep selaku dosen pembimbing II saya
yang selalu memberi motivasi dan semangat selama bimbingan dalam
menyusun Laporan Tugas Akhir ini.
7) Keluarga klien An. J yang telah bersedia meluangkan waktunya dalam
memberikan informasi yang penulis butuhkan

vi
8) Keluarga saya yang tercinta terutama kedua orang tua yang sangat saya
sayangi telah banyak mensupport saya, yang selalu ada saat saya merasa jenuh
dan sedih, yang bersabar dalam memberikan dukungan baik moral maupun
materi yang tak ternilai, serta adik saya yang selalu memberi semangat selama
menempuh pendidikan di Jurusan Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Borneo Tarakan
9) Kepada Dwi irvansyah terima kasih telah memberikan semangat, motivasi dan
bantuannya dalam melakukan penyelesaian penulisan Laporan Tugas Akhir
saya.
10) Para sahabat Seven sister yang telah memberikan semangat dan motivasi
dalam melakukan penyelesaian penulisan Laporan Tugas Akhir.
11) Kepada Musdalifa N.W, Dika D, Ayumi dan Syahrul Gunawan sekaligus
paman saya terima kasih telah memberikan bantuan, motivasi dan dukungan
dalam melakukan penyelesaian penulisan Laporan Tugas Akhir.

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan semoga


Allah SWT membalas atas segala bantuan dan kebaikan-kebaikan semua pihak
tersebut diatas. Penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan-kekurangan
dalam penulisan Laporan Tugas Akhir ini, untuk itu penulis sangat mengharapkan
saran serta kritik yang membangun dari pembaca. Harapan penulis semoga
Laporan Tugas Akhir ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan pada
penulis khususnya. Atas bantuan yang telah diberikan, penulis mengucapkan
banyak terima kasih.

Tarakan, 29 Mei 2021

Santi winarni

vii
ABSTRAK

Asuhan Keperawatan pada An. J Dengan Kejang Demam Kompleks Di Ruang


Perawatan Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan
Santi Winarni, Alfianur, Nurman Hidaya
Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada suhu badan tinggi diatas
38°C. Berdasarkan data Medical Record Rumah Sakit Umum Kota Tarakan
terdapat 135 kasus kejadian kejang demam. Tujuan untuk memberikan asuhan
keperawatan pada anak dengan kejang demam kompleks. Metode penulisan
dengan deskritif tipe studi kasus yaitu dengan mengunakan lima langkah proses
keperawatan meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan,
implementasi, evaluasi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara,
observasi pemeriksaan fisik dokumentasi dan studi kepustakaan. Diagnosa
keperawatan yang di dapatkan pada An. J adalah hipertermi berhubungan dengan
proses penyakit, bersihan jalan napas tidak efektif berhubunga dengan
penumpukan sputum, defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan,
gangguan pola tidur berhubungan dengan kontrol tidur. Intervensi yang telah
dilakukan dan kriteria hasil yang telah di susun berdasarkan prioritas masalah
maka penulis menemukan semua masalah diagnosa keperawatan dapat teratasi
sesuai dengan tujuan dan waktu yang telah dilakukan
Kata Kunci: Asuhan Keperawatan, Kejang Demam Kompleks.

Mengetahui,

Alfianur S.Kep. Ns., M.Kep


NIP. 1979082320050210004

viii
Nursing care for An. J With Complex Fever Seizures In The Cemara Treatment
Room, Tarakan City General Hospital

ABSTRACT
Febrile seizures are seizures that occur at a high body temperature above 38°C.
Based on data from the Medical Record of the Tarakan City General Hospital,
there were 135 cases of febrile seizures. The aim is to provide nursing care to
children with complex febrile seizures. The writing method with descriptive case
study type is by using the five steps of the nursing process including assessment,
nursing diagnosis, planning, implementation, evaluation. Data was collected by
means of interviews, observation, physical examination, documentation and
literature study. The nursing diagnosis obtained by An. J is hyperthermia related
to disease process, ineffective airway clearance related to sputum accumulation,
self-care deficit related to weakness, disturbed sleep pattern related to sleep
control. The interventions that have been carried out and the outcome criteria that
have been compiled based on the priority of the problem, the authors find that all
nursing diagnosis problems can be resolved according to the objectives and time
that have been carried out.

Keywords: Nursing Care, Complex Fever Seizures.

Veridfied by

Alfianur S.Kep. Ns., M.Kep


Supervisor

ix
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. ii

KATA PENGANTAR .......................................................................................... iv

ABSTRAK ........................................................................................................... vii

DAFTAR ISI ....................................................................................................... viii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................. x

DAFTAR TABEL ................................................................................................ xi

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xii

DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... xiii

BAB 1 : PENDAHULUAN ................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang .................................................................................................. 2

1.2 Tujuan Penulisan ............................................................................................... 2

1.2.1 Tujuan Umum ................................................................................................ 3

1.2.2 Tujuan Khusus ............................................................................................... 3

1.3 Ruang Lingkup .................................................................................................. 4

1.4 Metode Penulisan .............................................................................................. 4

1.5 Sistematika Penulisan ....................................................................................... 4

BAB 2 : LANDASAN TEORI .............................................................................. 5

2.1 Konsep Dasar Medis ......................................................................................... 6

2.1.1 Pengertian ...................................................................................................... 6

2.1.2 Anatomi dan Fisiologi .................................................................................... 6

2.1.3 Etiologi ........................................................................................................... 6

x
2.1.4 Klasifikasi ..................................................................................................... 7

2.1.5 Patofisiologi ................................................................................................. 10

2.1.6 Manifestasi klinis ......................................................................................... 11

2.1.7 Komplikasi ................................................................................................... 11

2.1.8 Penatalaksanaan ........................................................................................... 13

2.2 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ............................................................... 13

2.2.1 Pengkajian .................................................................................................... 13

2.2.2 Diagnosa Keperawatan ................................................................................ 17

2.2.3 Perencanaan ................................................................................................. 18

2.2.4 Implementasi ................................................................................................ 20

2.2.5 Evaluasi ........................................................................................................ 20

BAB 3 : LAPORAN KASUS .............................................................................. 21

3.1 Pengkajian ...................................................................................................... 21

3.1.1 Indentitas Klien Dan Orang Tua .................................................................. 21

3.1.2 Riwayat Kesehatan Sekarang ....................................................................... 21

3.1.3 Riwayat Imunisasi ........................................................................................ 25

3.1.4 Riwayat tumbuh Kembang........................................................................... 25

3.1.5 Riwayat Nutrisi ............................................................................................ 26

3.1.6 Riwayat Pisikososial .................................................................................... 26

3.1.7 Riwayat Spiritual .......................................................................................... 26

3.1.8 Aktifitas sehari-hari...................................................................................... 26

3.1.9 Pemeriksaan Fisik ........................................................................................ 27

3.1.10 Pemeriksaan Diagnostik ............................................................................. 29

3.1.11 Terapi Saat Ini ............................................................................................ 30

xi
3.1.12Penyimpangan KDM................................................................................... 30

3.1.13 Data Fokus ................................................................................................. 31

3.2 Diagnosa Keperawatan.................................................................................... 31

3.3 Perencanaan..................................................................................................... 31

3.4 Implementasi ................................................................................................... 35

3.5Evaluasi....................................................................................................................................39

BAB 4 : PEMBAHASAN .................................................................................... 41

4.1 Pengkajian ....................................................................................................... 42

4.2 Diagnosa Keperawatan.................................................................................... 42

4.3 Perencanaan..................................................................................................... 44

4.4 Implementasi ................................................................................................... 45

4.5 Evaluasi ........................................................................................................... 45

BAB 5 : PENUTUP ............................................................................................. 47

5.1 Kesimpulan ..................................................................................................... 47

5.2 Saran ................................................................................................................ 47

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xii
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Anatomi dan Fisiologi Sistem Persarafan ..........................................8

xiii
DAFTAR TABEL

Tabel 3.2 Imunisasi An. J......................................................................................34

Tabel 3.3 Pemeriksaan Hasil Laboratorium..........................................................38

xiv
DAFTAR BAGAN

Bagan 3.2 Penyimpangan KDM............................................................................15

Bagan 3.1 Genogram keluarga An.J......................................................................33

Bagan 3.4 Penyimpangan KDM An.J...................................................................39

xv
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lembar Bimbingan

Lampiran 2 Prosedur Tindakan Nebullizer

xvi
DAFTAR SINGKAT

An : Anak.

ASI : Air Susu Ibu.

BAB : Buang Air Besar.

BAK : Buang Air Kecil.

BB : Berat Badan.

Cm : Centi Meter.

C° : Celcius.

DN : Dextros Nacl.

DPT : Difteri, Pertusi dan Tetanus.

GCS : Clasgow Coma Scale.

HCT : Hematokrit.

HGB : Hemoglobin.

ICS : Intercosta.

IV : Intra vena.

Kg : Kilogram.

KDM : Kebutuhan Dasar Manusia.

MCHC : Mean Cell Hemoglobin Concentration.

Ny : Nyoya.

RBC : Real Blood Cell.

RSUKT : Rumah Sakit Umum Kota Tarakan.

RT : Rumah tangga.

xvii
TB : Tinggi Badan.

TBC : Tuberkulosis.

Tn : Tuan.

TT : Tetanus Toksi

xviii
BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Sehat adalah keadaan baik secara fisik,mental,spritual, maupun sosial yang


memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
perilaku hidup bersih dan sehat merupakan perilaku kesehatan yang dilakukan
atas kesadaran kita masing-masing maka dari itu jagalah kesehatan sebaik
mungkin agar bisa terhindar dari penyakit-penyakit yang menyerang sistem imun
atau sistem kekebalan tubuh dari berbagai penyakit termasuk penyakit kejang
demam (Kesimpulan menurut WHO).

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh 38°C
atau lebih yang disebabkan oleh proses di luar otak sebagian besar kejang demam
terjadi pada usia 6 bulan sampai 5 tahun. Menurut Wastoro dkk (2011),
mengatakan bahwa kejang demam terdiri dari kejang demam simpleks dan
kompleks. Kejang demäm sederhana (simple febrile seizure) biasanya
berlangsung singkat kurang dari 15 menit dan umumnya akan berhenti sendiri.
Kejang demam kompleks (complex febrile seizure) biasanya terjadi lebih dari 15
menit, dan terjadi kejang berulang atau lebih dari satu kali 24 jam (Nugroho,
2014).

Hasil penelitian Kakalang dkk (2016), menyebutkan untuk klasifikasi jenis


kejang demam tertinggi terjadi pada kejang demam kompleks sebanyak 91
(60,7%), sedangkan pada kejang demam simpleks sebanyak 59 (39,3%). Kejang
demam dapat menyebabkan banyak gangguan seperti gangguan tingkah laku,
penurunan intelegensi dan peningkatan metabolisme tubuh. Berbagai gangguan
ini jika terjadi terus menerus dan berlangsung dalam waktu yang lama dapat
mengakibatkan kekurangan glukosa, oksigen dan berkurangnya aliran darah ke
otak. Akibatnya kerja sel akan terganggu dan dapat menyebabkan kerusakan
neuron serta retardasi mental (Pasaribu, 2013).
Badan penelitian kesehatan Word Health Organitation (WHO) tahun 2016
secara global diperkirakan 2,4 juta orang didagnosis dengan kejang demam setiap
tahun. Negara-negara berpenghasilan tinggi, kasus baru per tahun adalah antara 30
dan 50 per 100.000 orang dalam populasi umum (WHO), 2015), Sedangkan di
indonesia sendiri, pada tahun 2016 kejadian Kejang Demam pada anak usia 6
bulan dan 5 tahun hampir mencapai 2-5% dengan 85% yang disebabkan oleh
infeksi saluran pernafasan. Tahun 2017, sebesar 17,4% anak mengalami kejang
demam dan mengalami peningkatan pada tahun 2018 dengan kejadian kejang
sebesar 22,2% (AKKOC, 2019). Berdasarkan data Medical Record Rumah Sakit
Umum Koata Tarakan terdapat 135 kasus kejang demam dari 189 kasus yang ada
di RSUKT Tarakan.

Berdasarkan pernyataan di atas banyaknya data angka kejadian kejang


demam di rumah sakit RSUKT Tarakan, di temukan beberapa anak yang di rawat
di rauang Cemara RSUKT Tarakan dengan diagnosa kejang demam, maka dari itu
penulis mengambil judul Laporan Tugas Akhir yang berjudul Asuhan
Keperawatan Pada Anak J dengan Kejang Demam Kompleks di Ruangan Cemara
RSUKT Tarakan.

1.2 Tujuan penulisan


1.2.1 Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran nyata mengenai pelaksanaan dan


pedokumentasian asuhan keperawatan pada An. J dengan masalah Kejang Demam
Kompleks di ruangan Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan.
1.2.2 Tujuan khusus

Dalam melakukan asuhan keperawatan Kejang Demam Kompleks penulis


melakukan pengkajian dan pengumpulan data untuk memenuhi kebutuhan An. J
diruangan Cemara dengan tujuan:

1. Melaksanakan proses keperawatan pada klien An.J dengan Kejang Demam


Kompleks.
2. Membandingkan antara teori dan praktik Asuhan Keperawatan pada klien
An.J. dengan Kejang Demam Kompleks

2
3. Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam melaksanakan
proses keperawatan pada klien An. J dengan Kejang Demam Komplek
4. Melaksanakan pemecahan masalah pada klien An. J dengan Kejang Demam
Kompleks
1.3 Ruang Lingkup
Sesuai dengan latar belakang yang telah di rumuskan diatas, maka ruang
lingkup pembahasan LTA ini berkisar mengenai pelaksanaan asuhan keperawatan
pada klien An. J dengan masalah Kejang Demam Kompleks diruang perawatan
Cemara Rumah Sakit Umum Kota Tarakan yang di laksanakan selama tiga hari
dari tanggal 29 Maret 2021 sampai dengan tanggal 31 Maret 2021.

1.4 Metode Penulisan


Laporan tugas akhir ini menggunakan metode studi kasus dengan
pendekatan proses keperawatan dan studi kepustakaan dengan tahapan pengkajian
,diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
1. Metode wawancara. Penulis melakukan wawancara kepada keluarga
klien,dokter serta perawat yang bertanggung jawab dalam perawatan An. J
2. Observasi untuk mengumpulkan data penulis juga melakukan pengamatan
dengan cara observasi secara langsung kepada keluarga An. J
3. Pemeriksaan fisik melakukan pemeriksaan keadaan umum klien dengan teknik
ataupun cara sebagai berikut inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi
4. Dokumentasi untuk mengumpulkan data data yang berhubungan dengan klien
terdapat pada catatan perawat dan catatan tim kesehatan lainnya yang
berhubungan dengan kasus klien.studi kepustakaan penulis menggambil dari
jurnal jurnal dan buku buku sebagai sumber dan pedoman untuk memperoleh
materi penyakit Kejang Demam Kompleks
1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan laporan tugas akhir yang digunakan adalah sebagai
berikut: Bab 1: yaitu pendahuluan yang menguraikan tentang latar belakang
masalah, tujuan penulisan, metode penulisan, sistematika penulisan, Bab 2: yaitu
landasan teori yang menguraikan tentang konsep dasar penyakit terdiri dari
pengertian,etiologi, patofisiologi, penatalaksanaan, komplikasi, penyimpangan
KDM teori, dan konsep dasar asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian,

3
diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi, Bab 3: yaitu
laporan kasus yang menguraikan tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada
An. J dengan Kejang Demam Kompleks diruangan cemara rumah sakit umum
kota tarakan penyimpangan konsep dasar medis sesuai kasus. Pelaksanaan
tersebut meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi,
dan evaluasi, Bab 4: yaitu pembahasan yang menguraikan tentang kesenjangan
antara asuhan keperawatan pada An.J diruangan Cemara Rumah Sakit Umum
Kota Tarakan dalam praktik nyata dengan konsep Asuhan Keperawatan pada
klien An. J dengan Kejang Demam Kompleks . Pembahasan tersebut meliputi
pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.
Kemudian Bab 5: yaitu penutup yang menguraikan tentang kesimpulan dan saran.

4
BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Dasar Kejang Demam Kompleks


2.1.1 Pengertian

Demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh terhadap zat asing yang


masuk ke dalam tubuh, sehingga suhu badan menjadi lebih tinggi dari 37◦C
(Harun & Rahmawati, 2015) Kejang Demam (febris convulsion/stuip/step) yaitu
kejang yang timbul pada waktu demam yang disebabkan oleh proses di dalam
kepala (otak: seperti menigitis atau radang selaput otak, ensilitis atau radang otak)
tetapi di luar kepala misalnya karena adanya infeksi di saluran pernapasan, telinga
atau infeksi di saluran pencernaan. Biasanya di alami anak usia 6 bulan sampai 5
tahun. Bila anak sering kejang, utamanya di bawah 6 bulan, kemungkinan besar
mengalami penyakit Epilepsi, (Airlangga Universty Press (AUP), 2015).

Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada suhu badan tinggi
(kenaikan suhu tubuh diatas 38◦C) karena terjadi kelainan ektrakranial. Kejang
demam atau febris convulsion adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh yang disebabkan oleh proses ekstrakranium, (Lestari, 2016).

Kejang demam kompleks (Complex febrile seizure). Merupakan kejang


yang berlangsung singkat, kurang dari 15 menit, dan umumnya akan berhenti
sendiri. Kejang berbentuk umum tonik dan atau klonik, tanpa gerakan fokal.
Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam. Kejang Demam kompleks adalah
kejang fokal atau parsial, berlangsung lebih dari 15 menit dan berulang dalam 1
kali 24 jam, (IDAI, 2016).

Berdasarkan peryataan di atas dapat di simpulkan, kejang demam


merupakan kejang yang terjadi pada saat demam yang dimana pada suhu badan
tinggi di atas 38◦C yang di sebabkan oleh proses didalam otak yang disebut
kelainan ekstrakranial

5
2.1.2 Anatomi Fisiologi
2.1.2.1 Anatomi Dan Fisiologi Sistem Persarafan

Gambar 2.1 bagian-bagian otak manusia


(sumber: Dimasztiadi.worfpress.com)

Otak terbagi menjadi beberapa bagian yaitu:


1) Cerebral hemisphrase (serebrum: otak besar)
2) Sistem limbik
3) Brain stem (batang otak)
4) Serebelum
5) Formasio retikularis

Otak merupakan organ maha rumit yang memiliki banyak bagian dan fungi yang
spesifik dan berbeda-beda. Secara garis besar, otak dibagi menjadi tiga bagian
utama, yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), dan batang otak
(brainstem). Otak adalah masa besar jaringan saraf yang terletak di dalam
kranium (tengkorak). Otak terdiri atas neuron serta sel neuroglia penyokong
(Supradewi, 2010). Menurut Suhadianto (2016), banyak ungkap untuk
menggambarkan otak manusia, raksasa sedang tidur, alat pintal yang mempesona,
seperangkat mesin terkompleks di jagat raya, wilayah terbesar di dunia yang

6
belum tergali, super komputer biologis, dan masih banyak lagi ungkapan-
ungkapan yang lain untuk mengambarkan kehebatan otak manusia.

Otak adalah tempat refleks berintraksi untuk mempertahankan lingkungan


internal. Otak juga merupakan sumber beberapa hormon dan tempat integrasi
semua informasi sensorik. Otak menerima sekitar 15% curah jantung. Sel otak
memerlukan glukosa untuk metabolisme energi dan produksi (Suhadianto,2016).

2.1.2.2 Cerebral hemisphrase (serebrum: otak besar)

Berpasangan (kanan dan kiri) bagian atas dari otak yang mengisi lebih
dari setengah masa otak. Permukaannya berasal dari bagian yang menonjol (gyri)
dan lekukan (sulci),(Untari 2012).
Cerebrum dibagi dalam 4 lobus yaitu:
1) lobus frontalis, menstimulus pergerakan otak, yang bertanggung jawab untuk
proses berfikir.
2) Lobus parietalis, merupakan area sensoris dari otak yang merupakan sensasi
perabaan, tekanan, dan sedikit menerima perubahan temperatur.
3) Lobusoccipitalis, mengandung area visual yang menerima sensasi dari mata.
4) Lobus temporalis, mengandung area auditori yang menerima sensasi dari
telinga.
Area khusus otak besar (cerebrum) adalah somatic sensory area yang menerima
impuls dari reseptor sensori tubuh, primary motor area yang mengirim impuls
ke otot skeletal. Broca’s area yang terlibat dalam kemampuan bicara (Untari
2012).

2.1.2.3 Sistem Limbik

Sistem Limbik adalah kelompok difus neuron dari area yang berbeda di
otak. Neuron di sistem limbik meliputi serabut dari semua lobus otak depan dan
hubungan yang luas dari hipotalamus dan talamus. Area otak tengah dan otak
belakang juga mengirim perkiraan yang berbentuk sistem limbik. Hipotalamus
dianggap sebagai bagian sistem limbik dan berperan penting dalam memberi
kode dan mengosolidasi memori. Amigdala, yang dianggap sebagai bagian

7
sistem limbik, terlibat dalam pembentukan emosi, agresi, dan perilaku seksual
(Tadriah, 2019).

2.1.2.4 Batang Otak

Batang otak tersusun dari pons, medulla oblongata, dan mesensefalon


(otak tengah). Batang otak terdapat sel yang mengontrol fungsi sistem
kardiovaskular dan pernapasan. Neuron berjalan melalui batang otak dan
membawa informasi motorik dari korteks serebri sehingga mengontrol
keseimbangan. Sepuluh dari dua belas saraf kranial, yang mengontrol fungsi
motorik dan sensorik mata, wajah, lidah, dan leher, keluar dari otak batang.
Fungsi sekresi dan fungsi saluran gastrointestinal dan fungsi sensorik
pendengaran dan pengecapan juga dikontrol oleh saraf cranial (Suyadi, 2012).

2.1.2.5 Formasio Retikularis

Berjalan melali batang otak adalah jaringan yang terdiri atas banyak
neuron kecil bercabang, yang formasio reticularis. Neuron ini mencakup jaras
asenden dan desenden, yang beberapa berkumpul berkumpul bersama pusat yang
mengontrol muntah, serta refleksi pernapasan kardiovaskular. Formasi reticularis
juga sangat penting untuk keadaan terjaga dan diperlukan untuk difokuskan pada
perhatian (Snell, 2016).

2.1.2.6 Serebelum

Serebulum berada di otak sebelah belakang sebelah posterior batang otak.


Serebelum membantu mempertahankan keseimbangan dan bertanggung jawab
untuk merespons otot rangka halus sehingga menghasilkan gerakan sukarelawan
yang baik dan terarah. Serebelum mengontrol gerakan cepat dan berulang yang
diperlukan untuk aktivitas seperti mengetik, bermain piano, dan mengendarai
sepeda (Suyadi, 2012).

2.1.3 Etiologi

Kejang demam di sebabkan oleh kenaikan suhu tubuh yang muncul


secara cepat yang berkaitan dengan infeksi virus atau bakteri. Umumnya
berlangsung singkat, dan mungkin terdapat predisposisi familia. Beberapa

8
kejadian kejang dapat berlanjut melewati masa anak-anak dan mungkin dapat
mengalami kejang non demam pada kehidupan selanjutnya (Nurarif & Kusuma,
2015).

Faktor-faktor perinatal, malformasi otak kongenital

1. Faktor genetika
Faktor keturunan dari salah satu penyebab terjadinya kejang demam, 25-50%
anak yang mengalami kejang demam memiliki anggota keluarga yang pernah
mengalami kejang demam.
2. Penyakit infeksi
1) Bakteri : penyakit pada traktus respiratorius, tonsil litis, otitis media.
2) Virus : varicella(cacar), morbili(campak), dengue(virus penyebab demam
berdarah).
3. Demam
Kejang demam cenderung timbul dalam 24 jam pertama pada waktu sakit
dengan demam tinggi.
4. Gangguan metabolisme
Gangguan metabolisme seperti uremia, hipoglikemia, kadar gula darah
kurang dari 30 mg% pada neonatus cukup bulan dan kurang dari 20mg%
pada bayi dengan berat badan lahir rendah atau hiperglikemia.
5. Trauma
Kejang berkembang pada minggu pertama setelah kejadian cedera kepala
2.1.4 Klasifikasi

Pedoman mendiagnosis kejang demam menurut Wulandari & Erawati,


(2016) yaitu:

1. Kejang demam sederhana


Kejang demam yang berlangsung singkat kurang dari 15 menit, dan
umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berbentuk tonik dan klonik, tanpa
gerakan fokal. Kejang tidak berulang dalam waktu 24 jam
2. Kejang demam kompleks
Kejang lama lebih dari 15 menit, kejang fokal atau persial, kejang berulang
atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

9
2.1.5 Patofisiologi

Sumber energi otak adalah glukosa vang melalui proses oksidasi dipecah
menjadi CO2 dan udara. Sel dikelilingi oleh membran yang terdiri dari
permukaan dalam yaitu lipoid dan permukaan luar vaitu ionik. Dalam keadaan
normal membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah jon kalium (K+) dan
sangat sulit dilalui oleh ion Natriun (Na+) dan elektrolit lainnya, kecuali ion
klorida (CI-). Hasil dari konsentrasi jon K+ dalam sel neuron tinggi dan
konsentrasi Na+ rendah, sedangkan diluar sel neuron terdapat keadaan
sebaliknya. Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan luar sel,
maka terdapat perbedaan potensial membran yang disebut potensial membran
dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran yang dibutuhkan
energi dan bantuan Na-K ATP-ase yang terdapat pada permukaan sel, Nurarif &
Kusuma (2015).

Sel neuron dikelilingi oleh suatu membran. Dalam keadaan normal


membran sel neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium dan sangat sulit
dilalui oleh ion natrium dan ion lainnya, kecuali ion klorida. Akibat konsentrasi
natrium sedangkan di luar sel neuron terjadi keadaan sebaliknya. Perbedaan jenis
konsentrasi ion di dalam dan di luar sel maka terdapat perbedaan potensial yang
disebut membran dan ini dapat diubah dengan adanya:

1. Perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler.


2. Rangsangan yang datangnya, misalnya mekanis, kimiawi atau aliran listrik
dari sekitarnya.
3. Perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena penyakit atau keturunan.

Pada keadaan demam kenaikkan suhu 1°C akan mengakibatkan kenaikkan


metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan oksigen akan meningkat 20%. Pada
anak 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh dibandingkan
dengan orang dewasa hanya 15%. Oleh karena itu kenaikkansuhu tubuh dapat
mengubah keseimbangan dari membran sel neuron dan dalam waktu singkat
terjadi difusi dari ion kalium maupun ion natrium akibat terjadinya lepas muatan
listrik. Lepas muatan listrik ini demikian besarnya sehingga dapat meluas ke

10
seluruh sel maupun membran sel disekitarnya dengan bantuan neurotransmitter
dan terjadi kejang (Kusuma 2015).

Kejang demam yang berlangsung singkat pada umumnya tidak berbahaya dan
tidak meninggalkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (lebih dari
15 menit) biasanya disertai apnea, meningkatkan kebutuhan oksigen dan energi
yang terjadi selama kontraksi otot rangka yang akhirnya menyebabkan
hipoksemia, hiperkapnia, asidosis yang disebabkan oleh metabolisme anerobik,
hipotensi urtenal disertai denga jantung yang tidak teratur dan suhu tubuh
meningkat yang menyebabkan meningkatnya aktifitas otot dan mengakibatkan
metabolisme otak meningkat. Rangkaian kejadian di atas adalah faktor penyebab
hingga terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsungnya kejang, (Lestari,
2016).

11
4. Penyimpangan KDM

Infeksi bakteri virus Rangsangan mekanik dan biokimia. gangguan


Dan parasit keseimbangan cairan dan elektrolit

Reaksi inflamasi Perubahan konsentrasi ion diruang ekstraseluler

Kelain
an
neurol
ogis
Ketidakseimbangan potensial membrane
Perubahan difusi
Hipertermia Na+ dan K+
Pelepasan muatan listrik semakin
Meluas keseluruh sel maupun resiko cedera
Perubahan benda potensial
Kekurangan
Volume cairan membrane sel sekitarnya dengan
bantuan neurotransmiter

Ketidakefektif
Ketidakefektifan kurang dari 15 menit
an jaringan
jaringan
perifer perifer
Refleks menelan metabolisme meningkat lebih dari 15 menit KDK
menurun
suhu tubuh makin meningkat resiko infeksi
resiko syok

Gambar 2.1 pathway Kejang Demam Kompleks, (Nurarif & Kusuma 2015).

12
2.1.6 Manifestasi Klinik

Ngastiyah (2014), menyebutkan bahwa kejang pada anak dapat terjadi


bangkitan kejang dengan suhu tubuh mengalami peningkatan yang cepat dan
disebabkan karena infeksi di luar susunan saraf pusat seperti otitis media akut,
bronkitis, tonsilitis dan furunkulosis. Kejang demam biasanya juga terjadi dalam
waktu 24 jam pertama pada saat demam dan berlangsung singkat dengan sifat
bangkitan dapat berbentuk tonik-klonik, klonik, tonik dan fokal atau akinetik.
Pada umumnya kejang demam dapat berhenti sendiri dan pada saat berhenti, anak
tidak dapat memberikan reaksi apapun untuk sejenak tetapi setelah beberapa
detik atau bahkan menit kemudian anak akan sadar kembali tanpa adanya kelainan
saraf.
Menurut Djamaludin (2010), tanda pada anak yang mengalami kejang
adalah sebagai berikut :

1. Suhu badan mencapai 38°C

2. Saat kejang anak kehilangan kesadaran, kadang-kadang napas dapat terhenti


beberapa saat

3. tubuh termasuk tangan dan kaki jadi kaku, kepala terkulai ke belakang disusul
munculnya gejala kejut yang kuat

4. warna kulit berubah pucat bahkan kebiruan dan bola mata naik ke atas

5. gigi terkatupdan terkadang disertai muntah

6. napas dapat berhenti selama beberapa saat

7. anak tidak dapat mengontrol untuk buang air besar atau kecil.

2.1.7 Komplikasi

Penderita kejang demam yang mengalami kejang lama biasanya terjadi


hemiparesis. Kelumpuhannya sesuai dengan kejang fokal yang terjadi. Mula-mula
kelumpuhan bersifat flasid, tetapi setelah 2 minggu timbul spastisitas kejang demam
yang berlangsung lama dapat menyebabkan kelainan anatomis di otak sehingga
terjadi epilepsi.

13
Komplikasi kejang demam Menurut waskitho (2013) adalah:

1. Kerusakan neorottransmiter. Lepasnya muatan listrik ini demikian besarnya


sehingga dapat meluas keseluruh sel ataupun sel yang menyebabkan kerusakan
pada neuron.

2. Epilepsi. Kerusakan pada daerah media lobus temporalis setelah mendapat


serangan kejang yang berlangsung lama dapat menjadi matang di kemudian hari
sehingga terjadi epilepsi yang spontan.

3. Kelainan anatomi di otak. Serangan yang berlangsung lama yang dapat


menyebabkan kelainan di otak yang lebih namyak terjadi pada anak berumur 4
bulan sampai 5 tahun.

4. Kecacatan atau kehilangan neourologi karena di sertai demam.

2.1.8 Penatalaksanaan
Kejang demam menurut Wulandari & Erawati (2016)
1. Penatalaksaan keperawatan

1) Saat terjadi serangan mendadak yang harus diperhatikan pertama kali adalah
ABC (Airway, Breathing, Circulation)

2) Setelah ABC aman. Baringkan pasien di tempat yang rata untuk mencegah
terjadinya perpindahan posisi tubuh kearah Danger.

3) Kepala di miringkan dan pasang sundip lidah yang sudah di bungkus kasa.

4) Jaukan benda-benda yang ada di sekitar pasien yang bisa menyebabkan


bahaya.

5) Lepaskan pakaian yang menganggu pernapasan

6) Bila suhu tubuh tinggi berikan kompres hangat

7) Setelah pasien sadar dan terbangun berikan minuman air hangat

8) Jangan diberikan selimut tebal karena uap panas akan sulit akan dilepaskan

2. Penatalaksaan medis

14
1) Bila pasien datang dalam keadaan kejang obat utama adalah diazepam untuk
membrantas kejang secepat mungkin yang diberi secara IV (intravena), IM
(Intra muskular), dan rektal. Dosis sesuai BB:< 10 kg:0,5,0,75 mg/kg BB
dengan minal dalam spuit 7,5 mg, > 20 kg : 0,5 mg/kg BB. Dosis rata-rata
dipakai 0,3 mg/kg BB/kali dengan maksimal 5 mg pada anak berumur kurang
dari 5 tahun, dan 10 mg pada anak yang lebih besar.

2) Untuk mencegah edema otak, berikan kortikosteroid dengan dosis 20-30


mg/kg BB/hari dan dibagi dalam 3 dosis atau sebaiknya glukortikoid
misalnya dekametazon 0,5-1 ampul setiap 6 jam

3) Setelah kejang teratasi dengan diazepam selama 45-60 menit disuntikan


antipileptik daya kerja lama misalnya fenoberbital, defebilhidation diberikan
secara intramuskuler. Dosisis awal neonatus 30mg: umur satu bulan satu
tahun 50mg, umur satu tahun ke atas 75 mg

1.3 Konsep Dasar Asuhan Keperawatan


2..2.1 Pengkajian
1. Anamnesis

1) Identitas pasien

Lakukan pengkajian identitas seperti nama, alamat, dan pada umur anak di
bawah 6 bulan sampai 4 tahun, tempat tanggal lahir, asal suku bangsa,
(Sodidin,2012 dlm Farida & Selviana, 2016), jenis kelamin, agama, pendidikan,
orang tua klien, pekerjaan orang tua.Riwayat kesehatan

2) Riwayat kesehatan

(1) Keluhan utama. Biasanya anak mengalami peningkatan suhu tubuh


>38°C, pasien mengalami kejang dan bahkan pada pasien dengan kejang
demam kompleks biasanya mengalami penurunan kesadaran.

(2) Riwayat penyakit sekarang, biasanya orang tua klien mengatakan badan
anaknya terasa panas, nafsu makan anaknya berkurang, lama terjadinya
kejang biasanya tergantung pada jenis kejang demam yang dialami anak.

(3) Riwayat kesehatan. Riwayat perkembangan anak: biasanya pada pasien

15
dengan kejang demam kompleks mengalami gangguan keterlambatan
perkembangan dan intelegensi pada anak serta megalami kelemahan pada
anggota gerak (hemifarise). Riwayat imunisasi: biasanya anak dengan
riwayat imunisasi tidak lengkap rentan tertular penyakit infeksi atau virus
seperti virus influenza.

(4) Riwayat nutrisi. Saat sakit, biasanya anaj mengalami penurunan nafsu
makan karena mual dan muntah.

2. Pemeriksaan fisik keadaan umum anak rewel dan kesadaran compos mentis.

1). Pemeriksaan fisik

(1) keadaan umum biasanya anak rewel dan kesadaran compos mentis

(2) TTV (tanda-tanda vital): suhu biasanya >38°C, respirasi pada usia 2-
<12 bulan bisanya >49 kali/menit. Pada usia 12 bulan-<5 tahun biasanya
>40 kali/menit dan nadi biasanya >100 kali/menit.

(3) BB (berat badan): biasanya pada anak dengan kejang demam tidak terjadi
penurunan berat badan yang berarti.

(4) Kepala: biasanya tampak simetris dan tidak ada kalainan yang tampak.

(5) Mata: Biasanya simetris kiri-kanan, skelera tidak ikterik,. konjungtiva


anemis.

(6) Mulut dan lidah: Biasanya mukosa bibir tampak kering, tonsil hiperemis,
lidah tampak kotor.

(7) Biasanya simetris kiri-kanan, normalnya pili sejajar dengan bentuk mata,
keluar cairan, gangguan telinga yang bersifat sementara, nyeri tekan
mastoid.

(8) Hidung: Biasanya penciuman baik, tidak ada pernafasan cuping hidung,
bentuk simetris, mukosa hidung berwarna merah muda. saya.

(9) Leher: biasanya terjadi pada kelenjar getah bening.

(10) Dada: Thoraks: Inspeksi, biasanya gerakan dada simetris, tidak ada

16
penggunaan otot bantu pernapasan. Palpasi, biasanya vremitus kiri
kanan sama. Auskultasi, biasanya ditemukan bunyi napas tambahan
seperti ronchi. Jantung biasanya terjadi penurunan atau peningkatan
denyut jantung.

I: Iktus cordis tidak terlihat.

P: Iktus cordis di ICS V teraba.

P: batas kiri jantung: ICS II kiri di linea parastrenalis kiri (pinggang


jantung), ICS V kiri agak ke mideal linea midclavicularis kiri. Batas
bawah kanan jantung disekitar ruang interkostal II-IV kanan, dilinea
parasternalis kanan, batas atasnya di ruang intercosta II kanan linea
parasternalis kanan.

A: BJ II lebih lemah dari BJ I.

Perut: biasanya lemas dan datar, kembung.

(11) Ekstermitas
Atas: biasanya tonus otot mengalami kelemahan, CRT > 2 detik, akral
dingin.
Bawah: biasanya nada otot mengalami kelemahan, CRT> 2 detik, akral
dingin.
Penilaian tingkat kesadaran Compos Mentis (sadar), yaitu kesadaran
normal, sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua pertanyaan tentang
keadaan sekelilingnya, nilai GCS: 15-14. Apatis, yaitu keadaan
kesadaran yang segan untuk berhubungan dengan sekitarnya, sikapnya
acuh tak acuh, nilai GCS: 13-12. Delirium, yaitu gelisah, disorientasi
(orang, tempat, waktu), memberontak, berteriak-teriak, berhalusinasi,
kadang berhayal, nilai GCS: 11-10. Somnolen (Obtundasi, Letargi),
yaitu kesadaran menurun, respons psikomotor yang lambat, mudah
dicapai, namun kesadaran dapat memulihkan bila dirangsang (mudah
dibangun) tetapi jatuh bangun lagi, mampu memberi jawaban verbal.
nilai GCS: 9-7. Stupor (soporo koma), yaitu keadaan seperti lelap, tetapi
ada respon terhadap nyeri, nilai GCS: 6-4. Koma (koma), yaitu tidak

17
biasa dibangunkan, tidak ada respon terhadap apapun (tidak ada respon
maupun reflek muntah, mungkin juga tidak ada respon pupil terhadap
cahaya), nilai GCS: 3.

2.2.2 Diagnosa Keperawatan


Diagnosa keperawatan, merupakan pernyataan yang menggambarkan
perubahan status kesehatan klien. Perubahan-perubahan menyebabkan masalah
dan perubahan yang tidak menguntungkan pada kemampuan klien untuk
berfungsi. Diagnosa keperawatan adalah fase atau pernyataan yang ringkas ,
diagnosa keperawatan memberikan dasar untuk membuat kriteria hasil asuhan
keperawatan dan menentukan intervensi-intervensi yang di perlukan untuk
mencapai kriteria hasil.

Adapun masalah keperawatan pada klien dengan kasus kejang demam


menurut Nurarif & Kusuma (2015).

1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan yang


berlebihan melalui feces atau emesis.
2) Ketidakefektifan jaringan perifer berhubungan dengan penurunan suplai darah
ke jaringan perifer.
3) Resiko syok (hipovolemik) berhubungan dengan penurunan kemampuan
absorb cairan oleh kolon, kehilangan cairan aktif.
4) Resiko infeksi berhubungan dengan mikroorganisme yang menembus saluran
gastrointestinal.

Adapun diagnosa yang muncul menurut Buku Standar Diagnosa Keperawatan


Indonesia (2016).

1) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit


2) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan secret
3) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
4) Gangguan pola tidur berhubungan dengan kontrol tidur

18
2.1.9 Perencanan

Tahap perencanaan memberi kesempatan kepada perawat, klien, keluarga, dan


orang terdekat klien untuk merusumuskan rencana tindakan keperawatan guna
mengatasi masalah yang di alami pasien. Unsur penting dalam tahap perencanaan
ini adalah membuat prioritas urutan diagnosa keperawatan, merumuskan tujuan,
merumuskan kriteria evaluasi, dan merumuskan intervensi keperawatan.

1) Penentuan prioritas dapat dibuatkan skala prioritas tertinggi sampai prioritas


terendah, ini dilakukan dengan mengurutkan diagnosis, bahkan yang dianggap
paling mengancam kehidupan sampai diagnosis yang tidak terlalu mengancam
kehidupan.
2) Merumuskan tujuan. Rumusan tujuan ini harus mengunakan SMART, yaitu
spesifik (rumusan tujuan harus jelas), terukur (dapat diukur), dapat dicapai
(dapat dicapai, ditetapkan bersama klien), realistis (dapat tercapai dan nyata).
dan waktu (harus ada target waktu).
3) Merumuskan evaluasi. Penyusunan Kriteria hasil atau evaluasi, ada beberapa
hal yang perlu diperhatikan. Seperti, Kriteria hasil atau evaluasi terkait dengan
tujuan, bersifat khusus, dan konkret. Selain itu, hasilnya harus dapat dilihat,
didengar, dan diukur oleh orang lain
Adapun rencana tindakan pada kasus kejang demam yaitu:
1) Diagnosa keperawatan I
Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit
Tujuan: suhu tubuh dalam rentang normal
Kriteria hasil: suhu tubuh dalam rentang normal, nadi dan respirasi dalam
batas normal dan tidak ada perubahan warna kulit
Intervensi keperawatan:
(1). Monitor suhu minimal tiap 2 jam.
(2). Pantau TTV, nadi, dan RR.
(3). Monitor warna dan suhu kulit.
(4). Pantau tanda-tanda hipertermi.
(5). Kompres air hangat
(6). Kolaborasi pemberian antibiotik dan antipiretik

19
2) Diagnosa Keperawatan II
Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret
Tujuan: Bersihan jalan napas efektif
Kriteria hasil: menunjukan jalan napas yang paten dan mampu mengeluarkan
sputum
Intervensi keperawatan:
(1). Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventelasi
(2). Lakukan fisioterapi dada bila perlu
(3). Keluarkan secret dengan batuk efektif
(4). Auskultasi suara napas
(5). Monitor respirasi
3) Diagnosa Peningkatan III
Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
Tujuan: menganjurkan kepada keluarga klien untuk selalu menjaga kebersihan
tubuh klien
Kriteria hasil: klien terasa nyaman, dan mejaga tubug agar tetap bugar
Intervensi keperawatan:
(1) Lakukan tindakan keperawatan mandiri kepada klien”memandikan klien
mengosok gigi, memotong kuku klien
(2) Anjurkan kepada anggota keluaga klien untuk selalu menjaga kebersihan
klien
4) Diagnosa keperawatan IV
Gangguan pola tidur berhuungan dengan kurang kontrol tidur
Tujuan: diharapkan gangguan pola tidur teratasi
Kriteria hasil:kesulitan tidur klien berkurang.
Intervensi keperawatan:
(1). Identifikasi pola aktivitas dan tidur
(2). Identifikasi faktor penganggu tidur
(3). Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit
2.2.4 Implementasi

Implementasi adalah kategori serangkaian perilkau perawat yang


berkoordinasi dengan pasien, keluarga, dan anggota tim kesehatan lain unutuk

20
membantu masalah kesehatan pasien yang sesuai dengan perencanaan dan kriteria
hasil yang telah di tentukan dengan cara mengawasi dan mencatat respon pasien
terhadap tindakan keperawatan yang telah di lakukan. Implementasi pelaksanaan
kegiatan dibagi dalam beberapa kriteria yaitu: Dependen Intervenstions:
dilaksanakan dengan mengikuti order dari pemberian perawat kesehatan lain.
Collaborative (interdependen): intervensi yang dilaksanakan dengan profesional
kesehatan lainnya, dan Independent (autonomous) Intervention: intervensi
dilakukan dengan melakukan nursing orders dan sering juga digabungkan dengan
order daei medis, Bausat N (2016).

2.2.5 Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir yang bertujuan untuk menilai apakah


tindakan keperawatan yang telah dilakukan tercapai atau tidak untuk mengatasi
suatu masalah (Meirisa, 2013). Pada tahap evaluasi, perawat dapat mengetahui
seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan pelaksanaan telah
tercapai.

Evaluasi dalam keperawatan merupakan kegiatan dalam menilai tindakan


keperawatan yang telah ditentukan, untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan
klien secara optimal dan mengukur hasil dari proses keperawatan. Penilaian
keberhasilan adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai. Evaluasi
selalu berkaitan dengan tujuan, apabila dalam penilaian ternyata tujuan tidak
tercapai, maka perlu dicari penyebabnya. Hal tersebut dapat terjadi karena
beberapa faktor : tujuan tidak realistis, tindakan keperawatan yang tidak tepat dan
terdapat faktor lingkungan yang tidak dapat diatasi. Alasan pentingnya penilaian
sebagai berikut : menghentikan tindakan atau kegiatan yang tidak berguna, untuk
menambah ketepatgunaan tindakan keperawatan, sebagai bukti hasil dari tindakan
perawatan.
Adapun jenis-jenis Evaluasi:
1) Evaluasi struktur, difokuskan pada kelengkapan tata cara atau keadaan
sekeliling tempat pelayanankeperawatan diberikan.
2) Evaluasi proses, berfokus pada penampilan kerja perawat dan apakah perawat
dalam memberikan pelayanan keperawatan merasa cocok, tanpa tekanan, dan

21
sesuai wewenang.
3) Evaluasi hasil, berfokus pada respons dan fungsi klien. Respons prilaku klien
merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan akan terlihat
Adapun hasil evaluasi:
1) Tujuan tercapai/masalah teratasi: jika klien menunjukkan perubahan sesuai
dengan standar yang telah ditetapkan
2) Tujuan tercapai sebagian/masalah teratasi sebagian: jika klien menunjukkan
perubahan sebagian dari standar dan kriteria yang telah di tetapkan.
3) Tujuan tidak tercapai/masalah tidak teratasi: jika klien tidak menunjukkan
perubahan dan kemajuan sama sekali dan bahkan timbul masalah baru
Penentuan masalah teratasi, teratasi sebagian, atau tidak teratasi adalah
dengan cara membandingkan antara SOAP/SOAPIER dengan tujuan dan kriteria
hasil yang telah ditetapkan.
S(Subjective): adalah informasi berupa ungkapan yang didapat dari klien setelah
tindakan diberikan.

O(Objective): adalah informasi yang didapat berupa hasil pengamatan,


penilaian, pengukuran yang dilakukanoleh perawat setelah tindakan dilakukan.
A(Analisis): adalah membandingkan antara informasi subjective dan objective
dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil kesimpulan bahwa masalah
teratasi, teratasi sebahagian, atau tidak teratasi.
P(Planning):adalrencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan berdasarkan
hasil analisa.

22
BAB 3
LAPORAN KASUS

Bab ini penulis akan mengemukakan hasil dari asuhan keperawatan yang
dimulai dari pengkajian, perumusan diagnosa keperawatan, perencanaan,
implementasi sampai dengan evaluasi pada anak J dengan diagnosa kejang
demam kompleks di Ruang Cemara RSUKT Tarakan mulai tanggal 29 sampai 31
Maret 2021.

3.1 Pengkajian
Tahap pengkajian, penulis mengumpulkan data dengan cara wawancara
pada keluarga klien, observasi, melihat catatan medik dan pemeriksaan fisik yang
dilakukan pada anak J dengan Kejang Demam Kompleks yang di rawat di Ruang
Cemara RSUKT Tarakan Kalimantan Utara.

3.1.1 Identitas Klien dan Orang Tua

Anak J usia 2 tahun 7 bulan, jenis kelamin perempuan, islam, suku Bugis,
alamat Karang Rejo Rt 06 No 96, masuk rumah sakit tanggal 27 maret 2021
dengan diagnosa medis kejang demam kompleks. Ayah Tn. M berusia 26 tahun,
suku Bugis, agama Islam, pendidikan terakhir SD, pekerjaan nelayan, alamat
Karang Rejo Rt 06 No 96. Ibu Ny. T berusia 25 tahun, suku bugis, agama Islam,
pendidikan terakhir SD, pekerjaan IRT, alamat Karang Rejo Rt 06 No 96.

3.1.2 Riwayat Kesehatan

1) Keluhan utama

Ibu klien mengatakan anaknya demam

2) Alasan masuk rumah sakit

Ibu klien mengatakan anaknya demam tidak turun-turun selama 3 hari,klien


dibawa ke IGD pada jam 20:00, ibu klien mengatakan klien terjadi kejang 2 kali
pada sore hari pukul 14:00, klien mengatakan kejang hilang timbul selama 30
menit.

23
3) Riwayat penyakit sekarang

Ibu klien mengatakan anaknya demam sudah tiga hari tidak turun-turun. Ibu
klien mengatakan anaknya batuk-batuk disertai flu. Ibu klien mengatakan anaknya
sangat rewel dan tidak mau berhenti menangis. Ibu klien bertanya-tanya tentang
penyakit anaknya, keluarga klien sangat khawatir melihat kondisi anaknya, anak
terlihat batuk-batuk dan sangat rewel.

4) Riwayat kesehatan lalu

Klien tidak pernah di rawat sebelumnya di rumah sakit. Dan tidak pernah
mengonsumsi obat-obatan bebas.

Prenatal Care

Selama kehamilan ibu memeriksakan kehamilannya sebanyak sembilan kali.


Ibu klien tidak melakukan USG. Selama hamil ibu tidak pernah menderita sakit,
ibu mengatakan selalu menjaga makanannya dengan mengkonsumsi makan-
makanan yang bergizi. Kehamilan ini merupakan kehamilan yang pertama, ibu
tidak pernah merokok ataupun minum-minuman yang beralkohol.

1. Natal

Klien lahir di RSUD Tarakan, proses persalinan spontan dan ditolong oleh
bidan. Setelah lahir klien menangis keras BB lahir 2 kg.

2. Post Natal

Kondisi bayi dengan berat badan 2 kg, anak tidak mengalami penyakit kuning
saat baru lahir.

3. Riwayat Kesehatan Keluarga

Keluarga tidak punya penyakit jantung, hipertensi dan penyakit berbahaya atau
menular lainnya.

24
Genogram:

59 57 55 53
thn thn thn thn

40 33 29 26 38 33 30 27 25
thn thn thn thn thn thn thn thn thn

2,7
thn

Bagan 3.1 Genogram keluarga

Keterangan :

= Laki-laki = Tinggal serumah

= Perempuan = Klien

25
3.1.3 Riwayat Imunisasi

Tabel 3.1 Imunisasi


No Jenis Imunisasi Waktu Pemberian Reaksi Setelah Pemberian
1. BGC 1 bulan Demam
2. DPT (I,II,III) 2 bulan, 4 bulan 6 bulan Demam
3. Polio 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan Demam
4. Campak 9 bulan Demam
5. Hepatitis 1 hari setelah lahir Demam

3.1.4 Riwayat Tumbuh Kembang


1). Pertumbuhan fisik

1. Berat badan : 12 kg

2. Tinggi badan : 80 cm

2). Perkembangan tiap tahap

1. Berguling : 8 bulan

2. Duduk : 9 bulan

3. Merangkak : 7 bulan

4. Berdiri : 10 bulan

5. Berjalan : 1 tahun

3.1.5 Riwayat Nutrisi

1) Pemberian ASI (air susu ibu). Diberikan ASI selama 6 bulan, kemudian
setelah 6 bulan diberikan susu formula diselangi makanan pendamping bubur.
2) Pola tiap tahap nutrisi. Pada umur 0-4 diberikan ASI ekslusif setelah 4-12
diberikan ASI sampai 6 bulan kemudian diberikan susu formula setelah 6
bulan, saat ini berikan sisi formula dan makanan pendamping bubur.
3.15Riwayat Psikososial
Anak J. Tinggal bersama ayah dan ibu ibunya. Hubungan keluarganya
harmonis, anak J dirawat dengan ibunya sendiri dan lingkungan rumahnya
tidak ada berbahaya.

26
3.1.7 Riwayat Spiritual

Dukungan penuh dari ayahnnya, kegiatan keagamaan yang dilakukan ayah


klien sering mengajak anak J ke masjid untuk sholat Jumat. Ayah klien
mengatakan agar anaknya memahami agama sejak kecil.

3.1.8 Aktifitas Sehari-Hari

1. Nutrisi. (makan)
Sebelum sakit, selera makan baik, menu makan nasi dengan ikan dan
sayur, frekuensi 3xsehari, makan selalu dihabiskan. Ibu klien mengatakan tidak
ada makanan pantangan dan saat makan klien masih disuapi. Pada Saat sakit,
selera makan baik, menu makanan bubur yang diberikan di rumah sakit, frekuensi
3 x sehari, porsi slalu dihabiskan.

2. Cairan, (Minum)
Sebelum sakit, ibu klien mengatakan klien minum air putih 2-4 gelas
perhari atau 960 ml/hari dan juga mengkonsumsi susu formula. Ibu klien
mengatakan pemberiannya melalui dot. Ibu klien mengatakan klein minum susu
formula sehari 250 ml/hari selalu dihabiskan. Saat sakit, klien minum air putih
kurang dari 200 ml/hari melalui dot.

3. Eliminasi BAB (buang air besar) dan BAK (buang air kecil).
Sebelum sakit, BAB sehari 1 kali dengan konsistensi padat, tidak kesulitan
saat BAB. BAK kadang 5 kali sehari, berwama kuning jernih. Saat sakit, klien
BAB selama dirawat di rumah sakit, BAK 3 kali sehari berwarna kuning jernih.

4. Istirahat tidur.

Sebelum sakit, klien tidur siang dari jam 12:00-15:00 kualitas tidur nyenyak
dengan lama tidur 4 jam. Tidur malam dari jam 20:00- 05:00 dengan kualitas tidur
nyenyak, tidur malam selama 10 jam. Saat sakit klien tidur siang.

pada jam 13:00-15:00. Ibu klien mengatakan klien sering terbangun di


malam hari dan sulit untuk tidur kembali.

27
5. Personal Hygiene.
Sebelum sakit, klien mandi dua kali sehari dibantu olch ibunya. Klien
mencuci rambut pada pagi hari, menggunting kuku 1 minggu sekali. Saat sakit
klien tidak dimandikan, klien hanya dilakukan seka-seka karena klien demam.

6. Mobilisasi fisik.
Sebelum sakit ibu klien mengatakan klien biasanya bermain dengan
sepupunya dirumah. Klien tidak ada jadwal khusus dalam bermain. Saat sakit ibu
klien mengatakan anaknya hanya terbaring lemah, tidak ada jadwal khusus dan
tidak mengunakan alat bantu.

7. Rekreasi.
Sebelum sakit, ayah klien sering membawa anaknya ke taman untuk
berekreasi. Saat sakit, klien hanya bermain bersama ayahnya dan sering menton
film kartun di handphone.

3.1.10 Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan umum
Klien terlihat lemas dengan kesadaran komposmentis dengan GCS 15, E : 4 M : 6
V : 5.

2. Tanda-tanda vital
Suhu 38°C, nadi 132 x/menit, pernapasan 45 x/menit. Tinggi badan 80 cm,
berat badan 12 kg. lingkar kepala 49 cm, lingkar lengan atas 18 cm, lingkar dada
53 cm dan lingkar perut 52 cm.

3. Sistem Pernapasan
(1) Hidung, simetris kiri dan kanan, terdapat sekret tidak ada polip, leher tidak
mengalami pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada tumor. Respiration
45x/menit gerakan dinding dada simetris, auskultasi suara napas vesikuler,
terdengar suara napas tambahan ronkhi. Palpasi tulang iga tidak
mengalami kelainan.
(2) Leher, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
(3) Dada

28
Pada saat diinspeksi bentuk dada normal, pada saat dipalpasi gerakan dada
simetris kiri dan kanan. Terdapat retraksi dinding dada, saat diperkusi
terdengar suara sonor, dan diauskultasi terdengar suara ronchi di apeks
kanan atas kiri atas.
4. Sistem Kardiovaskular.
Konjungtiva tidak anemis, bibir tidak pucat, tekanan vena jugularis tidak
meninggi. Suara jantung s1,s2 (lup, dup)

5. Sistem Percernaan.

kemampuan menelan baik jumlah gigi tidak lengkap, mukosa bibir terlihat
kering lalu dilakukan palpasi hati teraba, tidak ada pembesaran ginjal, tidak ada
nyeri tekan dan dilakukan auskultasi bising usus 8x/menit di perkusi terdengar
bunyi timpani.

6. Sistem Indra
(1) Mata: penyebaran bulu mata dan alis merata
(2) Hidung klien mampu membedakan bau dengan baik tidak terdapat secret
(3) Telinga: daun telinga simetris kiri dan kanan tidak terdapat serumen fungsi
pendengaran baik
7. Sistem Muskuloskeletal
(1) Kepala: rambut berwarna hitam tekstur halus, kulit kepala tidak terdapat
lesi, ekspresi wajah mengkerut saat merasa nyeri.
(2) Vertebra: fungsi pergerakan baik tidak menggunakan alat bantu.
(3) Lutut: tidak terdapat pembengkakan pada lutut.
(4) Kaki: tidak kesulitan saat berjalan , tidak ada pembengkakan pada kaki
(5) Tungkai: simetris, tidak ada pareses, tidak tedapat luka, kekuatan
ototsimetris kiri dan kanan tidak ditemukan adanya udema.
8. Sistem Integumen:
Rambut berwarna hitam, tidak mudah dicabut, kulit klien sawo matang,
kulit lembab, kuku klien terlihat bersih dan berwarna merah muda, turgor kulit
tidak elastisi.

29
9. Sitem Endokrin:

Tidak mengalami pembesaran kelenjar tiroid, tidak mengalami ekresi


berlebihan

3.1.11 Tes Diagnosis

Tabel 3.2 Pemeriksaan Hasil Laboratorium

Tanggal/jam Hasil Nilai Normal


27 Maret 2021/20:00 WBC: + 19.2x10 / mm 5-9 ribu/ mm
RBC: 5.46x10 / mm 4,5 – 6 M/ mm3
HGB: 12.3 P/dl 10,7 – 17,3
HCT: 39,82 % 40-48 %
MCV: 72.9 fl 82,0-92,0 fl
MCH: 22,5 pg 27,0 – 31,0 pg
MCHC: 30,9 p/dl 32-37 %
PLT: 484 x 10 mm 150.000 – 400.000 mm

3.1.12 Terapi saat ini

Infus Dextrose Nacl ½ dosis 0,25/kgBB per hari

Injeksi Dexamethasone ½ / 12 jam diberikan melalui IV(intravena) dosis 0,15 mg

Injeksi Oxtercid 350 mg/ 12 jam diberikan melalui IV(intravena) dosis 750 mg

Combiven /8 jam

30
3.1.13 Penyimpangan KDM

Infeksi bakteri virus


Dan parasit

Reaksi inflamasi

Proses demam

Hipertermi penumpukan sekresi mukus


Pada jalan napas

Ketidakseimbangan potensial obstruksi


Membran ATP ASE napas
Defisit perawatan diri
Bersihan jalan
napas
Lebih dari 15 menit kdk Kejang tidak efektif

proses penyakit

Gangguan pola tidur

Bagan 3.2 Penyimpangan KDM klien An. J

31
3.1.14 Data Fokus

1). Data Subjektif

(1) Ibu klien mengatakan anaknya demam sudah dua hari tidak turun-turun.
(2) Ibu klien mengatakan saat dirumah anaknya kejang sudah dua kali kejang
hilang timbul selama 30 menit
(3) Ibu klien mengatakan anaknya batuk-batuk disertai flu.
(4) Ibu klien mengatakan klien sesak
(5) Ibu klien mengatakan anaknya belum mandi pada saat di rawat di rumah
sakit
(6) Ibu kliein mengatakan anaknya sangat rewel dan tidak mau berhenti
menangis.
(7) Ibu klien mengatakan klien sulit tidur
2) Data Objektif
(1) Klien terlihat batuk-batuk.
(2) Terdapat bunyi suara napas tambahan ronkhi
(3) Klien tampak sesak
(4) Tampak diberikan Nebulisasi (Nebu Ventolin 1 amp + Nacl 2,5 cc)
(5) Tampak terpasang Oksigen 1 Lpm Nasal canul
(6) Klien terlihat sangat rewel.
(7) Suhu klien 38° C.
(8) Kulit klien terasa hangat
(9) Pernapasan klien 45/menit
(10) Infus DN % Drip Nopalgin.
(11) Kuku klien tampak panjang dan kotor
(12) Klien tampak kusam
(13) Klien tampak mengantuk
(14) Klien tampak menguap

32
3.1.14 Analisa Data

1). Analisa Data 29 Meret 2021

Data Subjektif

(1) Ibu klien mengatakan anaknya demam sudah dua hari tidak turun-turun.
(2) Ibu klien mengatakan saat dirumah anaknya kejang sudah dua kali kejang
timbul sekitar 30 menit.

Data Objektif

(1) Suhu klien 38° C.


(2) Kulit klien terasa hangat

Masalah keperawatan: Hipertermia

Penyebab: proses penyakit

2). Analisa Data II 29 Maret 2021

Data subjektif

(1) Ibu klien mengatakan klien sesak


(2) Ibu klien mengatakan anaknya batuk-batuk disertai flu.

Data objektif

1. Pernapasan klien 45x/menit


2. Klien tampak sesak
3. Terdapat bunyi suara tambahan ronkhi
4. Tampak diberikan Nebulisasi (Nebu Ventolin 1 amp + Nacl 2,5 cc)
5. Tampak terpasang oksigen 1 Lpm Nasal canul

Masalah keperawatan: bersihan jalan napas tidak efektif

Penyebab: penumpukan sekret

3). Analisa Data III 29 Maret 2021

Data subjektif

33
(1) Ibu klien mengatakan selama klien di rawat di rumah sakit klien hanya di
seka-seka

Data objektif

(1) Klien tampak kusam


(2) Kuku klien tampak panjang dan kotor

Masalah keperawatan : Defisit perawatan diri

Penyebab: kelemahan

4). Analisa Data IV 29 Maret 2021

Data subjektif

(1) Ibu klien mengatakan klien sulit tidur


(2) Ibu klien mengatakan pola tidur klien tidak teratur

Data objektif

(1) Klien tampak mengantuk


(2) Klien tampak menguap

Masalah keperawatan: gangguan pola tidur

Penyebab: kurang kontrol tidur

3.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosis prioritas yaitu:

1). Hipertermia berhubungan dengan proses penyakit

2). Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret

3). Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan

4). Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurang kontrol tidur

3.3 Perencanaan

1. Hipertermi beruhubungan dengan proses penyakit

34
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
suhu tubuh menurun, dengan kreteria hasil:
1) Suhu tubuh dalam rentang normal 36,0°C sampai dengan 37,5°C
2) Nadi 70-120 kali/menit dan pernapasan 20-50 kali /menit
3) Tidak ada perubahan warna kulit.
Intervensi keperawatan:
(1) Monitor suhu tubuh sesering mungkin
(2) Monitor warna dan suhu badan
(3) lakukan kompres air hangat saat suhu tubuh naik
(4) Berikan pengobatan untuk mengatasi demam
2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret
Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam diharapkan
bersihan jalan napas baik dengan kriteria hasil:
1) Mampu mengeluarkan sputum
2) Frekuensi pernapasan 20-50 kali /menit
3) Jalan napas paten
4) Suara napas vesikuler
Intervensi keperawatan:
(1) Ajarkan batuk efektif
(2) Ajarkan RND
(3) Berikan terapi Nebullizer
3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan.
Tujuan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan defisit
perawatan diri dapat teratasi dengan kriteria hasil:
1) Klien terasa nyaman
2) Klien terlihat segar
3) Menjaga tubuh tetap bugar
Intevensi keperawatan:
(1) Lakukan tindakan keperawatan mandiri kepada klien “memandikan
mengosok gigi, memotong kuku klien”.
(2) Anjurkan kepada anggota keluarga klien untuk selalu menjaga kebersihan
klien

35
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kurang kontrol tidur
Tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan
gangguan pola tidur teratasi dengan kriteria hasil:
1) Kesulitan tidur klien berkurang
2) Klien dapat tidur dengan teratur
Intervensi keperawatan
(1) Identifikasi pola aktivitas dan tidur
(2) Identifikasi faktor penganggu tidur
(3) Mengatur lingkungan (suhu ruangan, pencahayaan)
(4) Jelaskan pentingnya tidur cukup selama sakit

3.4 Implementasi

Senin 29 Maret 2021

Diagnosa Keperawatan 1:

1) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit


1. Pukul 08:20 memonitor suhu tubuh
Ds: ibu klien mengatakan suhu tubuh klien masih panas
Do: suhu tubuh 38°C dilakukan observasi.
2. Pukul 08:35 memberikan kompres air hangat saat demam naik.
Ds: menjelaskan kepada ibu klien mengenaik kompres hangat
Do:ibu klien tampak memberikan kompres hangat kepada klien pada
bagian lipatan-lipatan tubuh untuk menurunkan demam.
Pukul 08:45 memberikan pengobatan untuk mengatasi demam: DN ½ drip
Nopalgin dan injeksi Oxtorcid 350 mg.
3. Pukul 10:15 mengukur suhu tubuh klien
Hasil: 37,9°C
4. Pukul 11:30 mengukur suhu tubuh
Hasil: 36°C

Diagnosa Keperawatan 2 yaitu:

2) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan secret


1. Pukul 09:10 mengajarkan batuk efektif

36
Ds: ibu klien mengatakan klien masih sesak
Do: RR klien 45x/menit
2. Pukul 09:10 memonitor adanya sumbatan jalan napas
Ds: ibu klien mengatakan klien batuk berdahak
Do: tampak terdapat sputum
3. Pukul 10:45 melakukan fisio terapi dada
Do: sekret keluar pada saat di berikan fisio terapi dada setelah di berikan
terapi Nebullizer
4. Pukul 10:55 menjelaskan tujuan pemantauan
Ds: ibu klien mengatakan paham dan mengerti
Do: ibu klien tampak menjawab beberapa pertanyaan yang di berikan

Diagnosa Keperawatan 3 yaitu:

3) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan


1. pukul 13:00 melakukan tindakan perawatan mandiri pada
klien”memandikan, mengosok gigi, dan memotong kuku
Ds: Ibu klien mengatakan anaknya kelihatan segar setelah di mandikan
Do: klien telah di mandikan, menggosok gigi dan memotong kuku klien
2. pukul 14: 40 menganjurkan kepada keluarga klien untuk selalu menjaga
kebersihan klien
Ds: keluarga klien mengatakan akan selalu membersihkan klien
Do: Keluarga klien tampak memotong kuku klien
3. Pukul 16:00 melakukan tindakan perawatan mandiri pada
klien”memandikan dan menggosok gigi”
Ds: Keluarga klen mengatakan anaknya kelihatan segar setelah di
mandikan
Do: klien terlihat nyaman setelah dimandikan

Diagnosa Keperawatan 4 yaitu:

4) Gangguan pola tidur berhubungan dengan kontrol tidur


1. pukul 13:00 Identifikasi pola aktivitas dan tidur klien
Ds: Ibu klien mengatakan jika di malam hari anaknya selalu terbangun
dan tidak bisa tidur

37
Do: klien tampak mengantuk
1. pukul 13:20 Identifikasi faktor penganggu tidur
Ds: Ibu klien mengatakan anaknya rewel
Do: klien tampak menguap
3. pukul 15:00 mengatur lingkungan (suhu ruangan, pencahayaan)
Ds: Ibu klien mengatakan pencahayaan di ruangan terlalu terang
Do: klien tampak tidak bisa tidur

Selasa 30 Maret 2021

1) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit


1. Pukul 14:00 memonitor suhu tubuh klien
Ds: ibu klien mengatakan suhu tubuh klien berkurang
Do: suhu tubuh klien 37,5°C
2. Pukul 14:00 Memberikan kompres air hangat saat demam naik
Ds: ibu klien mengatakan sudah paham dengan cara kompres hangat
Do: suhu badan klien tampak dingin
3. Pukul 14:15 mengukur suhu tubuh klien
Ds: ibu klien mengatakan suhu tubuh klien tampak dingin
Do: suhu tubuh klien 36°C
2) Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret
1. Pukul 14:00 mengajarkan batuk efektif
Ds: ibu klien mengatakan klien sudah tidak batuk
Do: klien tampak tidak sesak, RR klien 25x/menit
2. Pukul 14:00 memonitor adanya sumbatan jalan napas
Ds: ibu klien mengatakan klien sudah tidak batuk berdahak
Do: tampak tidak ada sputum
3) Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
1. Pukul 13:00 melakukan tindakan perawatan mandiri pada klien”
memandikan, mengosok gigi, dan memotong kuku
Ds: klien mengatakan segar dan nyaman
Do: klien terlihat segar setelah dimandikkan dan menggosok gigi klien
2. Pukul 13;30 meganjurkan kepada anggota keluarga klien untuk selalu
menjaga kebersihan klien

38
Ds: keluarga klien mengatakan selalu memandikan klien
Do: klien tampak segar setelah di mandikan
3. Pukul 16:00 melakukan tindakan perawatan mandiri pada klien
memandikan dan ,menggosok gigi
Ds: klien sangat segar
Do: klien terlihat nyaman setelah dimandikan dan menggosok gigi klien
4) Gangguan pola tidur tidak efektif berhubungan dengan kontrol tidur
1. Pukul 13:00 Identifikasi pola aktivitas dan tidur klien
Ds: ibu klien mengatakan pola tidur anaknya teratur
Do: klien tampak ceria
2. Pukul 13:30 identifikasi faktor penganggu tidur
Ds: ibu klien mengatakan anaknya sudah tidak rewel lagi
Do: klien tampak bersemangat dan ceria
3. Pukul 15:00 mengatur lingkungan (suhu ruangan, pencahayaan terang)
Ds: ibu klien mengatakan pencahayaan di ruangan nya sudah tidak terang
lagi
Do: klien tampak nyenyak tidur

3.5 Evaluasi

Selasa 30 Maret 2021

1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit


S: Ibu klien mengatakan anaknya sudah tidak demam
O: Nadi 75x/ menit Suhu klien 36°C, tidak ada tanda perubahan wana kulit
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

Selasa 30 Maret 2021

2. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan secret


S: Ibu klien mengatakan klien sudah tidak sesak
O: Suara nafas ronchi sudah tidak terdengar lagi, tidak ada sputum, Frekuensi
pernafasan 25x/menit dan saat dilakukan terapi Nebullizer sekret keluar dari
jalan nafas,

39
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

Selasa 30 Maret 2021

3. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan


S: Ibu klien mengatakan anaknya selalu di mandikan
O: klien tampak bersih dan segar klien selalu menjaga tubuh agar tetap bugar
A: masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

Selasa 30 Maret 2021

4. Gangguan pola tidur tidak efektif berhubungan dengan kontrol tidur


S: ibu klien pola tidur anaknya sudah teratur
O: klien tampak tidak kesulitan tidur dan klien tampak tidur dengan teratur
A: Masalah teratasi
P: Intervensi dihentikan

40
BAB 4

PEMBAHASAN

Bab ini penulis membahas asuhan keperawatan yang diberikan pada klien
An. J dengan Kejang Demam Kompleks di ruang Cemara RSUKT Tarakan mulai
dari tanggal 29 maret sampai 31 maret 2021 dengan pendekatan proses
keperawatan.

4.1 Pengkajian

Pengkajian merupakan langkah awal atau dasar utama dari proses


keperawatan secara keseluruhan. Dalam tahap ini, penulis tidak mengalami
kesulitan dalam mengumpulkan data dan informasi tentang situasi dan kondisi
yang dialami oleh klien. Ini tunjangan dengan sikap terbuka dan kooperatif dari
keluarga dalam menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh penulis.

Melaksanakan asuhan keperawatan, terdapat kesenjangan antara teori


Sodidin (2012), Farida & Selviana (2016) dan praktik dalam pengkajian yang
dilakukan penulis yaitu:

1) Pada proses wawancara pada riwayat penyakit sekarang, yang biasanya orang
tua klien mengatakan suhu tubuh > 38,0°C, pasien mengalami kejang bahkan
dengan kejang demam kompleks biasanya mengalami penurun kesadaran,
nafsu makan anaknya berkurang, gangguan keterlambatan perkembangan dan
intelegensi pada anak serta mengalami kelemahan pada anggota gerak.
Riwayat nutrisi saat sakit, biasanya nafsu makan karena mual muntahnya dan
biasa anak dengan riwayat penyakitnya tidak lengkap akan rentang dengan
penyakit infeksi atau virus seperti virus influenza, Sedangkan pada tinjauan
kasus hanya terdapat data-data seperti suhu tubuh 38,°C dan imunisasi tidak
lengkap rentan tertular infeksi virus influenza pada An. J pada tidak
ditemukan dalam teori akan muncul data kurangnya nafsu makan karena mual
muntahnya, gangguan keterlambatan perkembangan dan intelegensi pada anak
serta mengalami kelemahan pada anggota gerak, pada saat di rumah sakit

41
klien tidak mengalami penurunan nafsu makan, keterlambatan tumbuh
kembang dan mengalami kelemahan anggota gerak karena klien di rumah
sakit pola makanya baik, sangat aktif dan keoperatif hingga tidak ada
kelemahan pada pergerakan.
2) Pada pemeriksaan fisik biasanya mukosa bibir tampak kering, pembengkakan
tonsil, lidah tampak kotor, nyeri tekan pada mastoid, tidak ada pernapasan
cuping hidung dan pembesaran kelenjar getah bening. Inspeksi tidak ada
pergerakan otot bantu pernapasan, dan saat diauskultasi biasanya tidak
terdengar suara napas ronchi. Namun penulis tidak mendapatkan data-data
tesebut, melainkan sebaliknya penulis menemukan kasus klien mangalami
kenaikan suhu tubuh di atas 37°C membuat hipertermi dan merangsang
mekanisme pertahanan terhadap adanya mikroorganisme, produksi mukul oleh
sel-sel bacilia sepanjang saluran pernapasan menumpukan sekresi mucus pada
jalan napas hingga klien menjadi batuk flu, ada pergerakan otot bantu
pernapasan dan saat diauskultasi terdengar suara napas ronchi.

4.2 Manifestasi Klinik

Ngastiyah (2014), menyebabkan bahwa kejang pada anak dapat terjadi


bangkitan kejang dengan suhu tubuh mengalamai pengingkatan yang cepat.

Melaksanakan asuhan keperawatan, terdapat kesenjangan antara teori


Djamaludin (2010), dan praktik dalam Manifestasi klinik yang dilakukan penulis
yaitu:

1) Saat kejang anak kehilangan kesadaran, kadang-kadang napas dapat terhenti


beberapa saat sedangkan menurut kasus yang penulis dapat pada klien yaitu
klien tidak mengalami henti napas dan tidak mengalami kehilangan kesadaran.
2) Gigi terkatup dan terkadang di sertai muntah sedangkan menurut kasus yang
penulis dapat yaitu klien tidak mengalami gigi terkatup hanya terdapat muntuh
pada pasien.
3) Napas dapat berhenti selama beberapa saat sedangkan menurut kasus yang
penulis dapat pada klien yaitu klien tidak mengalami henti napas beberapa
saat.

42
4.2 Diagnosa Keperawatan

Menentukan diagnosa keperawatan harus sesuai dengan data/pengkajian


yang telah didapatkan dari klien. Data/pengkajian tersebut dikumpulkan kemudian
dianalisa sehingga muncul suatu diagnosa keperawatan. Secara teori menurut
Nurarif & Kusuma (2015) terdapat empat diagnosa yang akan muncul pada pasien
kejang demam kompleks. Pada keempat diagnose tersebut penulis tidak
mengangkat diagnosa menurut teori dan menentukan kesenjangan antara teori dan
kasus.

1) Penulis tidak merumuskan diagnosa keperawatan kekurangan volume cairan


dikarenakan penulis tidak mendapat data yang menunjang seperti bibir tampak
kering, tidak ada penurunan nafsu makan dan tidak ada tanda dehidrasi untuk
merumuskan diagnosa tersebut. Saat pengkajian penulis hanya mendapati
klien butuk disertai pilek serta tidak ada kehilangan cairan berlebih melalui
faces dan emesis saat pengkajian.
2) Penulis tidak merumuskan diagnosa ketidakefektifan jaringan perifer
dikarenakan penulis tidak mendapatkan data yang menunjang seperti
keracunan enzim, hipovolemia dan edema untuk merumuskan diagnosa
tersebut.
3) Penulis tidak merumuskan diagnosa resiko syok (hipovolemik) dikarenakan
penulis tidak mendapatkan data yang menunjang seperti keluar keringat
berlebihan, nyeri dada, suhu tubuh rendah, bibir dan kuku tampak biru dan
hilangnya kesadaran untuk merumuskan diagnosa tersebut. Saat pengkajian
penulis mendapatkan klien suhu tubuh 38°C, tugor kulit baik dan tidak ada
penurunan kesadaran.
4) Penulis tidak merumuskan diagnosa resiko infeksi dikarenakan penulis tidak
mendapat data yang menunjang seperti kerusakan integritas kulit dan trauma
jaringan (misalnya trauma destruksi jaringan) untuk merumuskan diagnosa
tersebut.

Penulis tidak mengangkat keempat diagnosa tersebut karena menurut Nurarif


& Kusuma (2015). Diagnosa keperawatan diangkat berdasarkan buku Standar
Diagnosis Keperawatan Indonesia dan kebutuhan dasar manusia yang disesuaikan

43
dengan kondisi klien karena individu memiliki keunikan dan respon yang berbeda
terhadap penyakit.

Sedangkan menurut tinjauan kasus terdapat empat diagnosa yang penulis


angkat di tinjauan kasus yang tidak terdapat dalam teori, yaitu terdiri dari:

1) Diagnosa hipertermi karena terdapat data-data yang menunjang untuk


merumuskan diagnosa tersebut seperti suhu tubuh klien 38°C dan anak sangat
rewel dan tidak mau berhenti menangis.
2) Diagnosa ketidakefektifan bersihan jalan napas karena terdapat data-data yang
menunjang untuk merumuskan diagnosa tersebut seperti klien terlihat batuk
saat diauskultasi terdengar suara napas ronchi, dan di temukan adanya secret
RR klien 45x/menit
3) Diagnosa defisit perawatan diri karena terdapat data-data yang menunjang
untuk merumuskan diagnosa tersebut seperti klien tampak kusam, dan kuku
klien tampak panjang dan kotor.
4) Gangguan pola tidur dikarenakan terdapat data-data yang menunjang untuk
dirumuskan diagnosa tersebut seperti: ibu klien mengatakan klien tidak bisa
tidur pada malam hari karena klien sangat rewel

4.3 Perencanaan

Pada tahap perencanaan penulis mendapatkan dukungan dan referensi dari


berbagai sumber yang sangat membantu penulis dalam membuat rencana asuhan
keperawatan pada An. J dengan Kejang Demam Kompleks untuk melakukan
asuhan keperawatan. Pada tahap perencanaan tindakan keperawatan ini, penulis
tidak mengalami hambatan karena orang tua klien turut berpartisipasi dalam
merumuskan rencana kegiatan vang akan dilakukan dalam upaya menyelesaikan
permasalahan keperawatan yang dihadapi klien.

Dalam kasus ini penulis menentukan masalah sesuai dengan diagnosa yang
telah ditemukan yaitu hipertermi berhubungan proses penyakit dengan adanya
suhu tubu klien 38°C. Sehingga perlu adanya penanganan memberikan kompres
air hangat di bagian lipatan tubuh klien serta berkolaborasi dengan tim medis
dengan pemberian obat Nopalgin untuk mengurangi demam, Diagnosa kedua

44
adalah bersihan jalan napas tidakefektif berhubungan dengan penumpukan sekret
dengan adanya pengunaan retraksi dinding dada dan suara napas ronchi, Diagnosa
yang ketiga ialah defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan
dikarenakan klien tidak mandi selama klien di rawat di rumah sakit klien hanya di
seka-seka dengan ibu klien. Diagnosa keempat yaitu gangguan pola tidur
berhubungan dengan kurang kontrol tidur karena klien sulit tidur malam dan
keluarga klien mengatakan klien sangat rewel.

Rencana tindakan keperawatan yang terdapat pada laporan tugas akhir ini
pada dasarnya disesuaikan pada kondisi klien dan fasilitas yang ada serta
disesuaikan juga dengan sumber buku perencanaan asuhan keperawatan pada
anak dengan kejang demam kompleks yang ada di dalam buku keperawatan.

4.4 Implementasi

Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana perawatan


yang dibuat, yang meliputi tindakan-tindakan sesuai dengan intervensi, dapat
dilaksanakan oleh perawat, klien dan keluarga klien, atau dilakukan dengan
bekerja sama dengan anggota tim kesehatan lainnya. Dalam pelaksanaan tindakan
keperawatan pada klien dengan kejang demam kompleks penulis memfokuskan
pada usaha kuratif dan adanya pendidikan kesehatan Bausan N (2016).

Dalam melaksanakan tindakan keperawatan penulis juga melanjutkan


observasi dan pengumpulan data untuk melihat perkembangan selanjutnya,
adapun diagnosa yang penulis angkat menurut buku standar diagnosis
keperawatan indonesia pada saat di lakukan implementasi penulis melalukan
kompres air hangat kepada pasien agar demam klien turun akan tetapi adapun
penulis melakukan tindakan tambahan untuk menurunkan demam klien yaitu
dengan cara memberikan Koolfever. Dan Adapun diagnosa kedua yaitu bersihan
jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penumpukan sekret, pada saat di
lakukan implementasi penulis melakukan tindakan kepada pasien untuk
mengajarkan klien untuk batuk efekif agar sekret klien berkurang dan adapun
penulis melakukan tindakan tambahan yaitu mengoleskan minyak kayu putih agar
bisa mengeluarkan sekret pada klien. Adapun diagnosis ke 3 yaitu defisit
perawatan diri berhubungan dengan kelemahan pada ssat di lakukan implementasi

45
penulis melakukan tindakan mandiri kepada keluarga klien untuk memandikan
pasien dan mengosok gigi klien dan adapun penulis melakukan tindakan
tambahan kepada klien yaitu terapi bermain kepada klien agar klien tampak lebih
bersemangat. Dan yang terakhir yaitu dengan diagnosis Gangguan pola tidur
berhubungan dengan kontrol tidur pada saat di lakukan implementasi penulis
melakukan tindakan yaitu mengatur lingkungan (suhu ruangan, dan pencahayaan)
agar klien bisa tidur dengan nyenyak. Sebagaimana umumnya asuhan
keperawatan pada An. J juga melibatkan peran aktif keluarga dalam pencapaian
tujuan keperawatan, semua tindakan keperawatan dapat dilaksanakan sesuai
rencana yang telah disusun.

Adapun faktor-faktor penunjang yang penulis dapatkan selama praktik


adalah kerjasama dari perawat ruangan Cemara RSUKT Tarakan yang telah
membantu dalam pendelegasian untuk memerhatikan keadaan klien saat penulis
tidak bisa menemani klien sedangkan faktor penghambat dalam melaksanakan
asuhan keperawatan ini tidak ada semua rencana tindakan dapat dilakukan hingga
pasien pulang.

4.5 Evaluasi

Evaluasi adalah masalah penilaian pencapaian tujuan serta pengkajian


ulang rencana keperawatan. Tahap evaluasi merupakan kunci keberhasilan dalam
menggunakan proses keperawatan Meirisa (2013).

Evaluasi masalah hipertemi dapat teratasi pada tanggal 30 Maret 2021,


dengan hasil evaluasi suhu tubuh 36°C, dan ibu klien mengatakan anaknya sudah
tidak demam lagi. Masalah bersihan jalan napas tidakefektif dapat teratasi dan
discharge planning pada keluarga untuk melakukan pemberian kompres air hangat
saat demam naik. Pada tunggal 30 Maret 2021 dengan hasil evaluasi suara napas
ronchi sudah tidak terdengar lagi, dan frekuensi pernapasan 25 x/menit. Penulis
melakukan discharge planning pada keluarga klien untuk meminum obat secara
teratur pada saat di rumah, menganjurkan untuk membersihkan lingkungan
maupun di dalam rumah, menganjurkan untuk tidak membakar sampah di dekat
rumah, menganjurkan kepada orang tua untuk tidak merokok di dalam rumah
serta menganjurkan untuk kontrol ke poli Anak. Masalah Defisit perawatan diri

46
pada tanggal 30 Maret 2021 dengan hasil evaluasi klien mengatakan segar pada
saat setelah di mandikan. Masalah defisiensi Gangguan pola tidur pada tanggal 30
Maret 2021 dengan hasil evaluasi pola tidur klien teratur, ibu klien mengatakan
klien sudah tidak rewel lagi.

47
BAB 5
PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Pada bab ini setelah mengurai penerapan keperawatan pada An.J dengan
diagnosa Kejang Demam Kompleks yang dirawat di ruang inap perawatan anak
Cemara RSUKT Tarakan maka penulis akan menuliskan beberapa kesimpulan
dan saran dalam peningkatan pelayanan asuhan keperawatan khususnya pada
klien dengan Kejang Demam Kompleks:

1) Berdasarkan proses keperawatan yang telah dilaksanakan pada An.J


mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan pengkajian, diagnosa,
intervensi, implementasi dan evaluasi.
2) Dalam melukan asuhan keperawatan ditemukan kesenjangan antara teori
dengan kasus dimulai dari pengkajian, menegakan diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan serta evaluasi. Terdapat 4 diagnosa pada teori tetapi
tidak diangkat pada klien An.J dengan Kejang Demam Kompleks. Pada
perencanaan serta pelaksanaan antara landasan teori dan tinjauan kasus
terdapat kesenjangan.
3) Dalam melakukan proses asuhan keperawatan pada An.J penulis mendapatkan
dukungan dari keluarga klien An.J yang sangat kooperatif dan dapat menerima
tindakan keperawatan yang telah diberikan kepada klien. Perawat ruangan
sangat membantu penulis dalam proses keperawatan.
4) Pemecahan masalah pada klien An. J dengan Kejang Demam Kompleks
dilakukan dengan melaksanakan intervensi yang telah direncanakan terdiri
dari diagnostik, terapeutik, edukatif, dan kolaboratif dengan tim kesehatan
lainnya.
1.5 Saran
1) Bagi klien dan keluarga. Untuk lebih meningktakan pengetahuan klien dan
keluarga sebaiknya banyak bertanya kepada orang yang memiliki pengetahuan
dibidang kesehatan khususnya tentang penyakit Kejang Demam Kompleks

48
atau lebih banyak membaca artikel maupun informasi dengan berbagai media
atau cara agar terhindar dari masalah yang lebih serius.
2) Bagi rumah sakit. Penulis, mengharapkan dalam menyelesaikan masalah
kesehatan klien di harapkan kerja sama dengan sesama tim kesehatan makin
ditingkatkan.
3) Bagi Institusi. Laporan Tugas Akhir asuhan keperawatan pada klien An. J
dengan diagnosa medis Kejang Demam Kompleks dapat dijadikan sebagai
bahan referensi bagi mahasiswa yang praktek, khususnya dalam meberikan
asuhan keperawatan pada klien dengan diagnosa medis Kejang Demam
Kompleks.
4) Bagi Penulis. Dalam melakukan asuhan keperawatan secara komprehensif
penulis harus terus meningkatkan kemampuan dalam melakukan asuhan
keperawatan dalam hal ini khususnya perawatan pada bayi dan anak.

49
DAFTAR PUSTAKA

Bausat, N. (2016). Strategi RSUD Tenriawan Kabupaten Bone menuju


Impelementasi sistem pembayaran propektif. Jurnal Administrasi Rumah
Sakit Indonesia 1(2).
IDDAI, (2016). Rekomendasi pengertian kejang demam. Unit Kerja Koordinasi
Neurologi Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Kakalang, J. P., Masloman,N., & Manopo,J. I, C. (2016). Profil kejang demam di
Bagian Ilmu Kesehatan Anak RSUP Prof, Dr, R, D. Kandaou Manado.
Jurnal E-Clinic (ECI)
Lestari, T, 2016. Asuhan Keperawatan Anak. Yohjakarta : Nuha Medika
Nurarif A.H. 2015. Aplikaksi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis
Jogjakarta: penerbit Nedaction Publishing Jogjakarta
Ngastiyah, 2012. Perawatan anak sakit. Jakarta : penerbit buku kedokteran EGC
Nugroho, W, W., dkk, 2014. Penyakit yang Menyertai Kejadian Kejang Demam
Anakdi RSUP Dr. Kariadi Semarang. http://download.portalgaruda.org.
Diaskes pada 8 Juni 2021
Pasaribu. 2013. Kejang Demam Sederhana pada Anak yang disebabkan
karenaInfeksi Tonsil dan Faring. Lampung: Fakultas Kedokteran
Universitas Lampung. (juke.kedokteran.unila.ac.id) (diakes 27 Januari
2019)
Supradewi R, Otak , Musik, Dan Proses Belajar. Buletin Psikologi, 2010 volume
18, No. 2, 2010:58-68.
Suhardianto, Pengaruh Musik Mozart terhadap Memori pada pelajaran
menghapal Di SMP Ta’miriyah Surabaya, Persona, Jurnal Psikologi
Indonesia, Mei 2016, Vol. 5, No.02, hal 126-136
Suyadi, 2012. “Model Pendidikan Karakter dalam Konteks Neurosains”.
Proceeding Seminar Nasional, Yogyakarta: Prodi PGMI Fakultas
Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga.
WHO, 2015, Febril convulsion-epilepsy. Jenawa, swiss: http://www.who.it
Diakses pada tanggal 8 juni 2021.
WHO, 2015, Febril convulsion-epilepsy. Jenawa, swiss: http://www.who.it
Diakses pada tanggal 8 juni 2021.

50
LAMPIRAN

51
SOAP INHALASI NEBULIZER

Pengertian

Pemberian inhalasi uap dengan obat mengunakan nebulator

Tujuan

1. Mengencerkan sekret agar mudah dikeluarkan ketika batuk


2. Melonggarkan jalan nafas

Prosedur

Persiapan alat:

1. Set nebulizer
2. Obat bronkodilator
3. Bengkok
4. Sputum pot tertutup berisi air larutan disinpektan
5. Tissue
6. Spuit 5 cc
7. Aquades
8. Tissue

Pelaksanaan:

1. Tahap Pra Interaksi


a. Mengecek program terapi
b. Mencuci tangan
c. Menyiapkan alat
2. Tahap Orientasi
a. Memberikan salam dan sapa naa pasien
b. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
c. Menanyakan persetujuan/kesiapan pasien
3. Tahap Kerja
a. Menjaga privasi pasien
b. Mengatur pasien dalam posisi duduk
c. Menepatkan meja/troli di depan pasien yang berisi set nebulizer
d. Memastikan alat dapat berfungsi dengan baik
e. Mengisi nebulizer dengan aquades sesuai takaran
f. Memasukan obat bronkodilator sesuai dosis
g. Memasang masker kepada pasien
h. Menghidupkan nebulizer dan memita pasien nafas dalam dan
mengeluarkan pelan-pelan sampai obat habis
i. Bila pasien batuk, buang sputum kedalam pot sputum tertutup
berisi air dan di berikan air disinfektan, bersihkan mulut dan
hidung dengan tissue.
4. Tahap Terminasi
a. Melalukan evaluasi tindakan dan respon pasien
b. Berpamitan dengan pasien/keluarga
c. Membereskan alat
d. Mencuci tangan
e. Mencatat kegiatan dan respon pasien dalam lembar catatan
keperawatan
RIWAYAT HIDUP
Penulis, Bernama Santi Winarni dilahirkan di Tana Merah,
KecamatanTana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Provinsi
Kalimantan Utara pada tanggal 29 Juni 2000. Penulis
merupakananak Pertama dari pasangan Bapak Rahma Hidayat
dan Surnati Penulis merupakan warganegara Indonesia yang
bertempat tinggal di RT 05 RW 00 Desa Tana Merah Barat,
Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Provinsi
Kalimantan Utara. Memulai Pendidikan dari jenjang Taman
kanak-kanak pada tahun 2005 dan memperoleh ijazah pada
tahun 2006 kemudian penulis melanjutkan sekolah kejenjang Sekolah Dasar pada
tahun 2007 di SDN 001 Desa Tana Merah dan memperoleh ijazah pada tahun 2012
Setelah lulusdi jenjang sekolah Dasar penulis melanjutkan sekolah pada jenjang
sekolah menengah pertama pada tahun 2013 di SMP Negeri 01 Tana Merah
memperoleh ijazah pada tahun 2015 Kemudian penulis melanjutkan belajar pada
jenjang sekolah menengah atas pada tahun 2016di SMA Negeri 02 dan selesai
pada tahun 2018 Selanjutnya penulis melanjutkan Pendidikan di perguruan tinggi
pada tahun 2018 di Universitas Borneo Tarakan pada Fakultas Ilmu Kesehatan
Program studi D3 Keperawatan melalui jalur Mandiri.

Anda mungkin juga menyukai