0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
897 tayangan9 halaman

Penerapan Teori Naratif-1

Bimbingan karier menggunakan pendekatan naratif yang terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap awal untuk membuat kontrak, tahap pertengahan untuk mengeksplorasi cerita, dan tahap akhir untuk merefleksikan hasil. Pendekatan ini membantu individu memahami pengalaman mereka dan membangun makna baru dalam perencanaan karier dengan mengembangkan cerita hidup.

Diunggah oleh

Annisa Salsabila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
897 tayangan9 halaman

Penerapan Teori Naratif-1

Bimbingan karier menggunakan pendekatan naratif yang terdiri dari tiga tahapan yaitu tahap awal untuk membuat kontrak, tahap pertengahan untuk mengeksplorasi cerita, dan tahap akhir untuk merefleksikan hasil. Pendekatan ini membantu individu memahami pengalaman mereka dan membangun makna baru dalam perencanaan karier dengan mengembangkan cerita hidup.

Diunggah oleh

Annisa Salsabila
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Bimbingan karier adalah salah satu bidang dari layanan bimbingan dan

konselingyang berusaha membantu individu memecahkan masalah karier,


menyesuaikan diri dengan lingkungan, mengenal dunia kerja, merencanakan masa
depan, mampu menentukan dan mengambil keputusan secara tepat dan bertanggung
jawab atas keputusan yang diambilnya itu sehingga mampu mewujudkan dirinya
secara bermakna. Pelaksananaan Bimbingan karier didasarkan pada pendekatan
naratif yang mengikuti tahapan pendekatan naratif menurut Savickas, et al., (2009);
secara umum terdiri dari tiga tahapan yaitu:

1. Tahap awal
merupakan tahap terjadinya kontrak kegiatan. dinamakan dengan tahap
construction yakni konselor dan konseli mendefinisikan kontrak, masalah,
kebutuhan dan harapan yang diinginkan dengan adanya pertemuan. Dalam
tahap construction konselor melakukan beberapa aktivitas yang terdiri dari:
Bertanya kepada konseli bagaimana kehadirannya bisa bermanfaat buat
konseli; Apa pentingnya pertemuan yang diadakan; menjelaskan format
pertemuan, jumlah pertemuan yang akan dilaksanakan; mengidentifikasi topik
atau isu yang akan dibahas dalam pertemuan; dan pembuat persetujuan
tentang bagaimana menjalankan kegiatan.
2. Tahap Pertengahan
merupakan tahap mengeksplorasi cerita. Tugas yang perlu diselesaikan dalam
tahapan ini adalah membuat ruang yang memungkinkan konselor dapat
berbagi ide dalam arti dapat mencapai apa yang diharapkan dalam pertemuan
bimbingan. Dalam tahapan ini bisa menggunakan berbagai macam teknik dan
pertanyaan yang dapat menggali cerita dan membantu konseli untuk
memperoleh tujuannya. Ada empat aktivitas inti yang dilakukan dalam tahap
pertengahan ini yaitu deconstruction, reconstruction, coconstruction, dan
action. Tahap eksplorasi yang terdiri dari empat aktivitas utama diakhiri
dengan mengaitkan pada tujuan karier dan membekali konseli dengan
informasi atau keterampilan yang dibutuhkan yang disesuaikan dengan
dimensi adaptabilitas karier yaitu perencanaan, eksplorasi, pengambilan
keputusan dan penyelesaian masalah.
3. Tahap akhir atau follow up
merupakan tahapan untuk merefleksikan ketercapaian tujuan kegiatan
bimbingan dengan cara: mengidentifikasi aktivitas yang akan dilakukan
setelah mengikuti bimbingan, dan mendiskusikan tahapan yang perlu
dilaksanakan, serta menanyakan kepada konseli manfaat apa yang telah
diperoleh denganaktivitas bimbingan yang diikuti.

DAFTAR PUSTAKA
Savickas, ML., et al., (2009). Life Designing for career construction in the 21st century.
Journal Of Vocational Behavior, 75 (3).

Konsep dasar teori naratif


Fokus konseling naratif adalah di sekitar cerita yang kita kembangkan dalam diri kita
dan dibawa melalui hidup kita. Kita memberi makna pada pengalaman pribadi kita
dan makna yang kita hasilkan ini, atau yang telah ditempatkan pada diri kita oleh
orang lain, memengaruhi cara kita melihat diri kita sendiri dan dunia di sekitar kita.
Konseling naratif didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
 Realitas dikonstruksi secara sosial. Cara kita berinteraksi dengan orang lain
memengaruhi cara kita mengalami kenyataan. Pengalaman dengan orang lain
ini menjadi realitas kita yang diketahui.
 Realitas dipengaruhi oleh (dan dikomunikasikan melalui) bahasa. Orang
menafsirkan pengalaman melalui bahasa dan orang dapat memiliki
interpretasi yang berbeda atas peristiwa atau interaksi yang sama.
 Memiliki narasi dapat membantu kita mempertahankan dan mengatur
realitas kita. Pengembangan narasi atau cerita dapat membantu kita
memahami pengalaman kita.
 Tidak ada "realitas objektif." Orang-orang dapat memiliki realitas yang
berbeda dari pengalaman yang sama. Apa yang mungkin benar bagi kita
mungkin tidak benar bagi orang lain.
Ada salah satu keunggulan dari penelitian di bidang konseling dan psikologi kejuruan
adanya keterlibatan proses pemberian pemahaman kepada individu (siswa) untuk
dapat membuat arah terhadap pilihan karir. Dalam pemberian pemahaman tersebut
dapat dilakukan dengan pendekatan tertentu, salah satunya yaitu pendekatan naratif.
Antaki (dalam McMahon, dan Patton, 2006:111) menjelaskan “narratives as the
stories people construct to clarify, explain and understand elements of their lives”. A.
Muri Yusuf (2002) menjelaskan bahwa Karier itu ada bila orang mengejarnya. Karir
diciptakan dan berpusat pada diri pribadi masingmasing. Keberhasilan karir dapat
diartikan dari kondisi bagaimana seseorang melaksanakan, menyikapi, atau memberi
arti pada setiap pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya selama rentan
kehidupannya.

Dalam karier menekankan penggunaan cerita sebagai alat untuk memahami


kehidupan konseli dan membantu mereka dalam pengembangan karier. Teori naratif
dalam konseling karier memungkinkan konselor untuk membantu konseli dalam
merangkul keberadaan mereka sendiri, memberikan makna pada pengalaman hidup,
dan memengaruhi cara mereka melihat diri dan dunia mereka. Dalam konseling
naratif, terdapat penekanan pada cerita yang membentuk identitas individu, termasuk
cerita yang berkaitan dengan harga diri, kemampuan, hubungan, dan pekerjaan.
Pendekatan naratif dalam konseling karier juga dapat membantu dalam meningkatkan
adaptabilitas karier peserta didik. Melalui penerapan konseling naratif, peserta didik
dapat mengubah cerita mereka, mengeksplorasi potensi diri, dan mengembangkan
tanggung jawab serta keterlibatan dalam perencanaan karier.
Del Corso dan Mark C.R (2011), mengungkapkan bahwa pendekatan naratif dapat
berkontribusi dalam memfasilitasi pengembangan adaptabilitas karier, pendapat
tersebut didukung oleh hasil penelitian yang dilakukan Gillies, Mc Mahon dan
Carroll, yang menghasilkan bahwa program bimbingan karier memiliki dampak
positif terhadap pengetahuan peserta didik tentang pekerjaan danpengetahuan tentang
persyaratan yangdibutuhkan untuk bekerja.

Pelaksananaan Bimbingan karier yang mengikuti tahapan pendekatannaratif menurut


Savickas (2009), secara umum terdiri dari tiga tahapan yaitu:
 Tahap awal merupakan tahap terjadinya kontrak kegiatan. dinamakan dengan
tahap construction yakni konselor dan konseli mendefinisikan kontrak,
masalah, kebutuhan dan harapan yang diinginkan dengan adanya pertemuan
 Tahap Pertengahan merupakan tahap mengeksplorasi cerita
ada empat aktivitas inti yang dilakukan dalam tahap pertengahan ini yaitu
deconstruction, reconstruction, coconstruction, dan action.
 Tahap eksplorasi yang terdiri dari empat aktivitas utama diakhiri dengan
mengaitkan pada tujuan karier
 Tahap akhir atau follow up merupakan tahapan untuk merefleksikan
ketercapaian
Goncalves dalam McLeod, (2003: 260) menjelaskan konseling dengan menggunakan
pendekatan narasi melewati lima tahapan, yaitu:
a. Tahap I : Recalling narratives. Identifikasi ingatan klien tentang peristiwa
hidup yang penting dengan menggunakan latihan visualisasi terbimbing untuk
memfasilitasi ingatan.
b. Tahap II : Objectifying narratives. Mengisahkan kembali cerita penting
dengan cara membuat klien “menyatu dengan teks”, misalnya dengan jalan
memberi perhatian yang lebih besar kepada sinyal sensoris seperti visual,
pendengaran, penciuman, peraba, perasa. Mengoleksi artikel dan artefak
(misalnya, fotografi, music, surat) yang akan mengobjektifkan cerita tersebut
lebih jauh lagi dengan mendefinisikan rujukan eksternalnya.
c. Tahap III : Subjectifying narratives. Tahap ini adalah untuk meningkatkan
kesadaran klien terhadap pengalaman mendalam terhadap suatu peristiwa.
d. Tahap IV : Methaphorizing narratives. Mengumpulkan asosiasi methaporis
dari cerita/kisah klien
e. Tahap V : Projecting narratives. Klien diberi kesempatan
mempraktikkan/memikirkan asosiasi alternatif yang memungkinkan untuk
diimplementasikan dalam sesi konseling dan kehidupan sehari-hari
Pendekatan konseling naratif menyarankan agar kita membuat cerita sepanjang hidup
kita sebagai cara untuk memahami pengalaman kita dan kita dapat membawa banyak
cerita bersama kita pada satu waktu. Meskipun beberapa cerita bisa positif dan yang
lain negatif, semua cerita berdampak pada kehidupan kita di masa lalu, masa kini, dan
masa depan

Dan onseling karir dengan pendekatan narrative untuk mengeksplorasi keputusan


karir klien berfokus pada kondisi klien dalam kaitannya dengan lingkungan
utamanya, yang berkutat pada persoalan hubungan/relasional di dalam keluarga.
Lopez dan Andrews (1987) dalam Chope (2005: 396) menjelaskan bahwa rentetan
kejadian atau life-event yang terjadi dalam lingkungan keluarga memiki arti yang
penting terhadap pengambilan keputusan karir para anggota keluarga. Karena, Jenis-
jenis interaksi orang tua dengan anaknya akan mempengaruhi cara anak dalam
menentukan pilihan pekerjaan atau karir.

Tujuan Konseling Naratif


Pendekatan konseling terapi naratif memandang bahwa manusia itu menjalani
kehidupannya melalui cerita (people live their live by stories). Oleh karena itu
pendekatan ini diarahkan kepada cara naratif dalam mengonseptualisasikan dan
menafsirkan dunia. Klien yang mengalami pendekatan naratif akan belajar bagaimana
mengonstruk cerita dan makna baru dalam kehidupannya, dan dalam prosesnya
membangun realita kehidupan baru bagi dirinya sendiri. Tujuan umum konseling
naratif adalah mengundang klien mendeskripsikan pengalamannya bahasa yang baru
dan segar. Melalui bahasa yang baru kien dapat mengembangkan makna baru dari
masalah-masalah pikiran, perasaan dan tingkah lakunya. Dalam konseling ini juga,
klien diharapkan mampu mengembangkan kesadaran bahwa banyak faktor termasuk
budaya yang mempengaruhi kehidupannya (Yusuf,2016).
Dan bimbingan karier berdasarkan pendekatan naratif efektif untuk meningkatkan
dimensi perencanaan karier, eksplorasi karier dan penyelesaian masalah karier.

Menurut Kleist bahwa teori naratif adalah dasar untuk memahami kehidupan
konseli, bukan hanya karier, dibangun dalam pembuatan ekstensi ini, fokus khusus
pada pentingnya dimensi waktu dalam teori narative, yaitu, pertama cara-cara di
mana teori naratif membahas masa depan dan dimensi masa lalu mengenai
pengalaman. Kedua, mengusulkan bahwa teori naratif terutama cocok sekali untuk
menyoroti budaya yang mempengaruhi konstruksi hidup
Dengan demikian, konsep dasar teori naratif dalam karier menawarkan pendekatan
yang holistik dan mendalam dalam membantu individu memahami dan
mengembangkan karier mereka melalui penggunaan cerita dan narasi dalam konteks
konseling.

Karakteristik Konseling Naratif


Pendekatan naratif menggunakan pertanyaan sebagai cara untuk melibatkan klien
dan memfasilitasi mereka melakukan eksplorasi diri, menghindari diagnosis dan
pelabelan klien atau menerima sepenuhnya berdasarkan deskripsi masalah membantu
klien dalam pemetaan pengaruh masalah yang dimiliki dalam kehidupan mereka dan
membantu klien memisahkan diri dari cerita-cerita yang dominan yang telah
diinternalisasi sehingga hati/pikiran yang seringkali disebut sebagai ruang dapat
dibuka untuk menciptakan kisah kehidupan alternatif (Afifah,2019).
Adapun Karakteristik utama teori naratif dalam karir meliputi:
 Adanya Plot: Plot adalah alur cerita yang menggambarkan rangkaian peristiwa
yang terjadi dalam karir seseorang. Plot ini mencakup elemen-elemen seperti
awal, pertengahan, dan akhir karir, serta konflik atau tantangan yang dihadapi
dan resolusinya. Plot karir ini membantu orang untuk membuat makna dan
memahami pengalaman karir mereka.
 Adanya Setting: Setting mengacu pada latar belakang atau konteks di mana
cerita karir berkembang. Setting ini bisa mencakup faktor-faktor seperti
organisasi tempat seseorang bekerja, industri atau sektor di mana mereka
berkarir, dan faktor sosial, budaya, atau ekonomi yang mempengaruhi
perjalanan karir seseorang.
 Adanya Tokoh/Tematik: Tokoh atau tematik mengacu pada karakter atau
motif utama dalam cerita karir seseorang. Ini mencakup individu-individu
yang terlibat dalam cerita, serta nilai-nilai, tujuan, dan motivasi yang
mendorong perjalanan karir seseorang. Pemahaman mengenai karakter dan
tematik ini membantu menganalisis dinamika dan perubahan yang terjadi
dalam cerita karir seseorang.
 Adanya Narator: Narator adalah suara yang menceritakan cerita karir
seseorang. Narator bisa menjadi individu yang menceritakan cerita mereka
sendiri atau orang lain yang mengamati atau menyampaikan perspektif
tentang karir seseorang. Narator ini membantu mempengaruhi cara kita
memahami dan menginterpretasikan cerita dan pengalaman karir seseorang.
 Dan danya Pesan: Pesan adalah makna atau pelajaran yang dapat ditarik dari
cerita karir seseorang. Pesan ini bisa berhubungan dengan tema-tema seperti
pertumbuhan pribadi dan profesional, keberhasilan atau kegagalan,
perubahan, atau nilai-nilai etika dalam karir. Memahami pesan ini membantu
seseorang untuk belajar dari pengalaman karir orang lain dan mengaplikasikan
wawasan tersebut dalam konteks mereka sendiri.
Daftar pustaka
Afifah Wildan Ulya Permana. (2019). “Konseling Terapi Naratif Dalam
Menumbuhkan Motivasi Belajar Pada Seorang Mahasiswa Putus Asa Menyelesaikan
Tugas Akhir Di Uin Sunan Ampel Surabaya”. Skripsi Program Bimbingan Konseling
Islam, Fakultas Dakwah Dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
Surabaya.

A. Muri Yusuf. (2002). Kiat Sukses dalam Karir. Jakarta : Ghalia Indonesia. Barner,
Robert William. 2011. “Applying Visual Metaphors to Career Transitions”. Journal
of Career Development, (Online). Vol. 38(1).

Chope, Robert C. 2005. “Qualitatively Assessing Family Influence in Career


Decision Making’. Journal of Career Assessment, (Online) Volume 13, Hal. 395.

McLeod, John. (2003). An Introduction to Counseling. Open University Press


(Terjemahan).

Patton, Wendy & McMahon, Mary. (2006). Career Development and Systems
Theory: Connecting Theory and Practice Second Edition. Netherlands: Sense
Publisher.

Savickas, ML., et al., (2009). Life Designing for career construction in the 21st
century. Journal Of Vocational Behavior. Vol. 75, issue 3, Desember 2009, pp 239-
250.

Syamsu Yusuf. (2016). Konseling Individu Konsep Dasar dan Pendekatan. Bandung:
PT Refika Aditama.

Anda mungkin juga menyukai