Anda di halaman 1dari 31

MESIN II

COAL HANDLING SYSTEM

BAB 1
PENDAHULUAN

Didalam proses produksi pada PLTU batu bara. Coal Handling system merupakan

salah satu system yang sangat penting. Coal handling merupakan system penanganan
batubara dari kapal tongkang sampai coal bunker. PLTU unit Rembang menggunakan batu

bara yang didatangkan dari Kalimantan d


dan
an Sumatra. PLTU Rembang unit
uni t 1&2
membutuhkan batu bara rata rata 220.000 ~ 240.000 ton /bulan dengan demikian

membutuhkan pasokan tongkang ± 30 buah/bulan dengan kapasitas tongkang ± 8000 ton.

Transportasi batubara

Batubara yang disediakan


disediakan untuk p
pembangk
embangkit
it listrik diangkut oleh tongkang.
tongkang. Batubara

dari tongkang dibongkar dengan alat ship unloader kapasitas 1750 ton/jam dan perangkat
lainnya yaitu belt conveyor, dimana terbagi menjadi 10 line sistem belt conveyor yang saling

berkaitan
berkaitan dan dengan spesifikasi
spesifikasi yang berbeda pula.
pula.

Penyimpanan batubara

Batubara yang telah dibongkar kemudian disimpan di coal yard (stock pile area) atau
tempat penimbunan batubara. Di PLTU rembang terdapat 2 coal yard yaitu coal yard 1 yang

berkapasitas 59.200 ton dan coal yard 2 berkapasitas 341.320 ton. Untuk proses reclaiming
di coal yard 2 bisa menggunakan stacker reclaimer atau dengan menggunakan reclaim

hopper yang kemudian didorong dengan menggunakan alat berat seperti bulldozer.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM

BAB 2
FUNGSI DAN BAGIAN – BAGIAN PERALATAN

2.1 COAL HANDLING


HANDLING SYSTEM
2.1.1 Belt Conveyor

Merupakan peralatan coal handling yang berfungsi untuk membawa/memindahkan


batubara dari tongkang menuju ke stock pile area atau ke Coal bunker.

Bagian bagian belt conveyor:

a. Carrying idler untuk menjaga belt pada bagian yang


yang berbeban atau sebagai
sebagai roll

penunjang ban bermuatan mate


material.
rial.

b. Impact idler untuk menahan belt


belt agar tidak sobek
sobek atau rusak akibat
akibat batu bara

yang jatuh dari atas.


c. Return idle
i dlerr untuk menyangga belt dengan arah putar balik
d. S
Ste
tee
ering
ri ng idler
idler untuk menjaga kelurusan belt agar tidak jogging (bergerak ke kiri
dan kanan).

e. Moto
Motorr untuk penggerak utama dari belt conveyor
conveyor .

f. Take Up Pully untuk menjaga ketegangan belt .

g. Co
Counte
unterr Weig
W eight
ht untuk memberi atau menjaga ketegangan belt.
h. Bend Pully untuk membelokkan arah belt .

i. S
Snu
nub
b Pul
Pully untuk memperbesar sudut lilitan kontak antara pully dengan belt.
j. Tail pully untuk memutar kembali belt conveyor menuju kearah drive pully.Tail

pully dilengkapi dengan belt cleaner yang berfungsi untuk mencegah batu bara

agar tidak masuk ke Tail pully .

k. S
Sccrapp
rapper untuk membersihkan material yang menempel pada belt.
l. Reducer untuk mereduksi putaran dari motor agar putaran output dari motor

dapat di kurangi
m. Dr
Drii ve pulley
pulley untuk memutar belt menuju ke depan. 3

n. Head pulley pulley terahir yang berada pada ujung depan conveyor. Tidak semua

head pulley dapat di pakai sebagai drive pulley.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
o. Rubber skirt untuk mencegah agar material tidak tumpah keluar dari belt pada

saat muat.

p. Plough scrapper untuk membersihkan material yang tertumpah pada arah balik

belt conveyor.
conveyor.

2.1.2 Magnetic separator


Merupakan suatu peralatan yang berfungsi untuk menarik logam (ferros) yang

bercampur dalam batubara dengan pengaruh gaya magnetnya. Magnetik separator


ini terletak atas conveyor (BC 1) di dalam JT1. Pada saat BC 1 beroperasi maka logam-

logam ferros yang


yang berada di atas BC 1 akan tertarik
tertarik oleh magnetik
magneti k separator dan
akan di tampung pada tempat logam di bawah magnetic separator.

2.1.3 Belt Weigher (BW)


Merupakan suatu alat untuk merecord jumlah tonase batubara per jam, serta

Totalizer Coal dari tongkang ke coal yard atau ke coal bunker dengan sistem digital

2.1.4 Stacker Reclaimer


Berfungsi untuk penataan batubara (stacking) di area coal yard dan pengambilan

batubara (Reclaming) di coal yard untuk di kirim ke coal bunker.

2.1.5 Telescopic Chute


Berfungsi untuk penataan batubara dari belt conveyor ke coal yard.

2.1.6 Diverter Gate


Berfungsi untuk mengatur arah aliran batu-bara yang letaknya pada tree way chute

atau two way chute.

2.1.7 Coal Crusher


Berfungsi untuk menghancurkan atau menggiling batubara menjadi bentuk yang

lebih kecil dari 300 mm menjadi ≤ 30 mm

2.1.8 Junction Tower


Ruangan tertutup tempat transfer barubara

2.1.9 Control Gate


Berfungsi untuk mengarahkan perpindahan batubara
4
2.1.10 Vibration Feeder
Berfungsi untuk penyaring dan penggetar batu bara supaya tidak terjadi

penumpukan yang akan memperhambat jalannya operasi.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
2.1.11 Scrapper Conveyor

Berfungsi untuk membersihkan material yang menempel pada belt

conveyor

2.1.12 Tripper Car

Tripper merupakan salah satu peralatan coal handling system yang berfungsi hampir
sama seperti stacker reclaimer untuk mengarahkan batubara dari conveyor ( scrapper

conveyor) menuju ke coal bunker. Tripper ini bisa pula disebut tripper car karena bisa
bergerak / berjalan menuju ke masing-masing coal bunker.

2.1.13 Tramp metal detector


Merupakan suatu detektor untuk safety dan memberikan sinyal pada saat terdapat

metal( selain ferros) pada batubara yang berada di atas BC 2.

Metal detector ini dipasang di bagian atas dan bagian bawah BC 2 secara
secara melintang.

2.1.14 Flag Drop Marker


Berfungsi untuk memberi tanda jika batubara bercampur dengan metal sebagai

tindak lanjut dari sinyal


sinyal yang diberikan
dib erikan tramp metal detector
detector

2.1.15 Coal Bunker


Coal bunker digunakan untuk tempat penampungan batubara sebelum masuk ke

mill. Pada masing-masing coal bunker terdapat 2 vibrator dan 2 sensor. Dimana

vibrator ini berfungsi untuk menggetarkan batubara yang tersumbat dalam coal

bunker. Letak dari vibrator ini yaitu di bagian bawah coal bunker. Sedangkan sensor

ini merupakan sensor level yang berguna untuk mengetahui level dari batubara yang

ada dalam coal bunker. Terletak di bagian bawah dan bagian atas coal bunker.
2.2 SHIP UNLOADER
UNLOADER

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
Bagian – bagian Ship Unloader :

2.2.1 Anchor lift

Digunakan saat Ship Unloader dalam kondisi standby untuk safety jika terjadi cuaca

buruk agar ship unloader tidak bergaser dari posisi semula.

2.2.2 Rail claimp


Alat untuk menahan ship unloader supaya tidak bergeser saat beroperasi .

2.2.3 Safety hook


Dipasang saat ship unloader standby dalam waktu yang agak lama atau saat cuaca

buruk untuk safety ship unloader.


2.2.4 Gantry brake

Digunakan untuk menghentikan (rem)laju ship unloader saat bergerak maju atau

mundur.

2.2.5 Hopper

Digunakan untuk menampung batu bara yang telah di unloading batu bara dari

tongkang.

2.2.6 V ibrating feeder


feeder

Digunakan untuk mengumpankan batu bara yang ada di hopper ke belt conveyor.

2.2.7 Telephone

Digunakan untuk berkomunikasi di area ship unloader dengan cara tekan tanda pagar

kemudian nomor ekstensi:

Local control box: #1

Electrical room: #2
Machine room: #3

Cabin operat
o perator:#4
or:#4

2.2.8 Cablee reel


Digunakan untuk menggulung kabel power maupun control di ship unloader
unloader..

2.2.9 Anti spill plate


Untuk mencegah pencemaran air laut yang di sebabkan oleh batu bara yang tumpah
6
kelaut saat proses unloading.
2.2.10 PLC and power room untuk back up power PLC & SU

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
2.2.11 Machine room berisi motor, gearbox, wire drum dll

2.2.12 Water spray

Digunakan untuk
untuk mengurangi bahaya polusi debu pada
pada saat unloading.

2.2.13 Grab untuk mengambil batu bara dari tongkang ke hopper.

2.2.14 Cabin room untuk mengoperasikan


mengoperasikan ship unloader dari ruang panel
p anel kabin.

2.3 ST
STACKER
ACKER RECLAIMER

Keterangan Gambar :

A. Ruang panel utama H. Cable reel


B. Boom tripper I. Bucket wheel

C. Counter weight J. Tanki water spray

D. Hopper

K. Take Up

E. Kabin Operator
7
F. Boom Bu cket
cket

G. Mekanisme Travel (Sistem Roda)

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
Penjelasan :

A. Ruang panel utama


Tempat main power supply dari source ke stacker reclaimer. Didalamnya terdapat

panel-panel
panel-pan el CB dan relay
relay..

B. Boom tripper
Boom tripper adalah lengan conveyor bagian belakang stacker reclaimer. Boom

tripper ini bisa diubah posisi sesuai kondisi kerja dari stacker reclaimer, saat stacker
reclaimer ( SR ) digunakan untuk stacking maka boom tripper posisi ujungnya diatas

hopper, jika SR digunakan untuk reclaiming maka boom tripper posisi ujungnya
dubawah hopper. Pergerakan tripper dilakukan dengan mengubah switch ke posisi

stacking / reclaim.

C. Counter weight

Counter weight berfungsi sebagai stabilizer saat boom bucket bergerak keatas (luffing

up) maupun bergerak ke bawah (luffing down) agar kerja dari sistem hidrolik tidak

berat.

D. Hopper

Hopper adalah wadah (chute) yang menghubungkan ujung boom tripper dan boom

bucket. Bentuknya mengerucut agar ketinggian / tonase batubara yang jatuh ke

conveyor bisa sama atau rata sehingga bisa meminimalisir batubara yang tumpah.

E. Cabin Operator
Operating cabinet adalah ruang kabin tempat operator mengendalikan Stacker

Reclaimer. Di kabin ini terdapat panel-panel kemudi / panel control dan monitor
sebagai indikator dari status kerja Stacker Reclaimer.

F. Boom Bucket

Boom bucket adalah lengan yang menghubungkan Bucket wheel dengan Hopper.
Boom bucket ini bisa digerakkan luffing up, luffing down, slewing kanan maupun kiri

sesuai posisi kerja dan ketinggian tumpukan batubara di coal yard.


G. Mekanism
Mekanismee Travel
Travel ( Sistem Roda )
8
Traveling mechanism berfungsi sebagai sistem penggerak utama stacker reclaimer
dengan menggunakan roda yang berputar di rel supaya SR bisa bergerak maju dan

mundur.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
H. Cable reel

Cable reel adalah gulungan kabel yang bisa berputar sesuai pergerakan SR maju dan

mundur agar kabel tertata rapi. Kabel ini terdiri dari kabel power dan kabel

komunikasi. Kabel power terhubung dengan Lower


Lower electrical room, sedangkan
sedangkan kabel

komunikasi adalah untuk menghubungkan status operasional SR dengan monitor di


Coal Handling Central Building (CHCB).

I. Bucket wheel
Bucket wheel adalah roda pengambil batubara di coal yard. Prinsip kerja

pengambilan batubara dengan bucket wheel adalah dengan berputar berlawanan


jarum jam kemudian
kemudian mengumpankan
mengumpankan bucket
bucket ke tumpukan batubara sehingga

batubara terangkut dan jatuh di boom conveyor .

J. Ta
Tanki
nki water spray

Tanki ini berisi air yang digunakan untuk spray / menyirami material / coal yang jatuh

di boom conveyor agar material tidak mudah terbakar dan juga mengurangi debu

yang berterbangan.

K. Take Up

Take Up adalah alat yang digunakan untuk mengatur ketegangan dari belt conveyor.

Sistem Take Up pada Stacker Reclaimer menggunakan metode pemberat (gravity).

2.4. HEAVY EQUIPMENT

A. EXCAVATOR
EXCAVATOR 385C
385 C

Komponen –komponen.
a.Track
a.Track shoe j.fuel tank

b.Track
b.Track ling k.Battrey
k.Batt rey

c.Final drive l.Wipper


d.Idleer m.Radiator

e.Sigmen n.Ruang engine


f.Roller o.Turbo
o.Turbo charge
9
g.Bucket
h.Boom

i.Disconec switch

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM

B. DOZER D9R

Komponen-komponen

a. Tr
Track
ack shoe j. Fuel tank

b. Tr
Track
ack ling k. Battrey
c. Final drive l. Wipper

d. Idleer m.Radiator
e. Sigmen n. Ruang engine

f. Roller o.Turbo
o.Turbo charge
g. Arm dan push arm

h. Blade
Bl ade

i. Cutting blade

10

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM

BAB 3
PROSES OPERASI

3.1 Persiapan
Persiapan Pengoperasian Coal Handling System
System
3.1.1 Pengecekan Device Lokal Sebelum Operasi.

1. Mengkondisikan area sekitar Belt Conveyor dan Junction Tower agar aman
sebelum running.

2. Cek kondisi oli Gearbox, Fluid Coupling, Belt Coveyor, Drive Pulley, Tail Pulley.
3. Periksa kondisi Dust Supresion apakah berfungsi dengan baik.

4. Periksa level water spray pada SR dan SUL bila dalam pengoperasian Stream

melibatkan peralatan tersebut.

3.1.2 Pemantauan Device Lokal Selama Awal Operasi.

1 . Perhatikan apakah
apakah Fluid Coupling oil pump dan air
air cooler bekerja.
bekerja.

2 . Amati proses Moving


Movin g Out dari Scoop Tube.
Tube.

3 . Perhatikan apabila terdapat


terdapat noise, vibration & temperatur
temperatur yang tidak wajar pada

Head Pulley, Tail Pulley, Gearbox, Fluid Coupling.

4 . Perhatikan laju Belt Conveyor (Kondisi Sway atau tidak, apabila belt conveyor

terjadi sway kita harus menyetel pada Steering Idlers)

5 . Periksa apabila
apabila terdapat tumpahan batubara
batubara yang dapat mengganggu proses
proses

operasi (Biasanya daerah sekitar rail SR dan SU yang dapat mengaktifkan Limit
Switch)

6 . Pengecekan B
Belt
elt Conveyor waktu
wakt u runnin
runningg ,apabila
,apabi la terjadi kondisi yang
membahayakan belt conveyor harus dihentikan secara emergency darurat

3.2 Mode Operasi STREAM

3.2.1 Cara Menjalankan STREAM dengan Mode AUTO:


11
1. Pilih Stream yang akan digunakan. Bila menggunakan Unloading Stream 1 maka SR

harus dijalankan terlebih dahulu.

2. Klick tombol STREAM yang dipilih pada layar monitor menggunakan pointer.
pointer.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
3. Klick Mode operasi AUTO

4. Pastikan Status Stream READY

5. Klick START

STREAM Number Selected Indicator


STREAM
STREAM Number Se
Selector
lector Butto n

AUTO/MANUAL Mode
Mo de Ind i cato r
AUTO Mod e Se
Selec
lec to
torr B ut to n
MANUAL
MANUAL Mode Se
Selector
lector Button
NotReady/Re
NotReady/ Ready/S
ady/Starting/Runnin
tarting/Runnin g/
Stopping Status Indicator
AUTO START
START Bu
Butt
tt on
AUTO STOP
STOP But to n

3.2.2 Cara Menghentikan STREAM dengan Mode AUTO:

1. Klick Stop
3.2.3 Cara Menjalankan STREAM dengan Mode MANUAL:

1. Pilih Stream yang akan digunakan. Bila menggunakan Unloading Stream 1 maka SR
harus dijalankan terlebih dahulu.

2. Klick tombol STREAM yang dipilih pada layar monitor menggunakan pointer.

3. Klick Mode operasi MANUAL

4. Pastikan Status Stream READY


5. Klick START Brake pada Conveyor paling akhir dari alur laju batubara.

6. Klick START Motor pada Conveyor paling akhir dari alur laju batubara.

7. Ulangi langkah tersebut pada Conveyor di depannya sampai Conveyor paling depan.

8. Apabila menjalankan Coveyor BC 2 secara manual maka langkah – langkahnya

terdapat pada interface Maintenance On.

3.2.4 Cara Menghentikan STREAM dengan Mode MANUAL: 12

1. Klick STOP Motor pada Conveyor paling awal dari alur laju batubara.

2. Klick STOP Brake pada Conveyor paling awal dari alur laju batubara.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
3. Ulangi langkah tersebut pada Conveyor di belakangnya sampai Conveyor paling

belakang.

4. Apabila menghentikan Coveyor BC 2 secara manual maka langkah – langkahnya

terdapat pada interface Maintenance On.

3.3 Jetty Unloading Stream.

3.3.1 Jetty Unloading Stream 1


SUL→BC1→BC2→DG1→DG2→BC5→B
SUL→BC1→BC2→DG1→DG2→BC5→BC6→Stacker
C6→Stacker (SRC) →Live Stock Pi
Pile
le

3.3.2 Jetty Unloading Stream 2


SUL→BC1→BC2→DG1→DG2→BC7→Telescopic
SUL→BC1→BC2→DG1→DG2→BC7→Telescopic Chute→Dead Stock Pile

13

Jetty Unloading Stream 1 & 2


Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
3.3.3 Jetty Unloading Stream 3

Option 1:
SUL→BC1→BC2→DG1→BC3A→DG5A→VS1→CR1→BC9A→DG6A→BC10A→
SUL→BC1→BC2→DG1→BC3A→DG5A→VS1→CR1→BC9A→DG6A→BC10A→SC1A
SC1A

Option 2:

SUL→BC1→BC2→DG1→BC3B→DG5B→VS2
SUL→BC1→BC2→DG1→BC3B→DG5B→VS2→CR2→BC9B→DG6B→
→CR2→BC9B→DG6B→ BC10B→SC1B
Option 3:

SUL→BC1→BC2→DG1→BC3A/B→DG5A/→VS1/2→CR1/2→BC9A/B→DG6A/B→BC10A/B
SUL→BC1→BC2→DG1→BC3A/B→DG5A/→VS1/2→CR1/2→BC9A/B→DG6A/B→BC10A/B
→SC1A/B

14

Jetty Unloading Stream 3


Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
3.4 Proses Feeding Batubara ke Coal Bungker

3.4.1 Jetty Unloading Stream 3


Option 1:

SUL→B
SUL→BC1
C1→BC2→DG1→BC3A→DG5A→VS1→CR1→BC9A→DG6A→BC10A→SC1A
→BC2→DG1→BC3A→DG5A→VS1→CR1→BC9A→DG6A→BC10A→SC1A

Option 2:
SUL→BC1→BC2→DG1→BC3B→DG5B→VS2
SUL→BC1→BC2→DG1→BC3B→DG5B→VS2→CR2→BC9B→DG6B→
→CR2→BC9B→DG6B→ BC10B→SC1B

Option 3:
SUL→BC1→BC2→DG1→BC3A/B→DG5A/→VS1/2→CR1/2→BC9A/B→DG6A/B→BC10A/B
SUL→BC1→BC2→DG1→BC3A/B→DG5A/→VS1/2→CR1/2→BC9A/B→DG6A/B→BC10A/B

→SC1A/B

3.4.2 Reclaiming Stream SR

LiveStockPile→SRC→BC6→DG3→BC3A/B→DG5A/B→VS1/2→CR1/2→BC9A/B→DG6A/B
LiveStockPile→SRC→BC6→DG3→BC3A/B→DG5A/B→VS1/2→CR1/2→BC9A/B→DG6A/B

→BC10A/B→SC1A/B

3.4.3 Reclaiming Stream Hopper

Dead Stock Pile→BC8→DG4→BC3A/B→DG5A/B→VS1/2→CR1/2→


Pile→BC8→DG4→BC3A/B→DG5A/B→VS1/2→CR1/2→

BC9A/B→DG6A/B→BC10A/B→SC1/2
BC9A/B→DG6A/B→BC10A/B→SC1/2

15

Reclaiming Stream
Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
Keterangan:

BC : Belt Conveyor

SUL : Ship Unloader

MS : Magnetic
M agnetic Separator

DG : Diverter Gate
FC : Fluid Coupling

MD : Metal detector
T.Chute : Telescopic Chute

SRC : Stacker Reclaimer


VS : Vibrating
V ibrating Screen

CR : Crusher

SC : Scrapper Conveyor

3.5 Operator dan Enginer Station

Pemantauan dan pengaturan semua operasi coal handling system dapat dilakukan

secara jarak jauh (remote) melalui CHCB menggunakan operator station maupun enginer

station. Namun dalam kondisi tertentu misalnya ada protection device yang terpaksa harus

di Bypass maka perlu dilakuka


dil akukan
n pemantaua
p emantauan
n dilokal. Hal ini untuk memantau kondisi system
system

yang tidak ter cover oleh protection device yang di Bypass.

3.5.1 Operator Station

Operator Station berfungsi untuk memantau operasi dari system


system seperti operasi

unloading (JUS 1, 2 & 3), sampling proses (AS 1& 2), dust suppression system dan status –
status seperti totalizer, conveyor status, MCC status, PLC status, trend dan alarm. Selain itu

operator station juga dapat digunakan setting operasi namun tidak dapat digunakan untuk

Bypass device atau setting – setting tertentu.

3.5.2 Engineer Station

Engineer station digunakan oleh engineer untuk melakukan setting – setting control
dan bypass device yang tidak dapat dilajukan pada operator station.
16

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
3.6 Pengoperasian Ship Unloader

3.6.1 Persiapan sebelum operasi

Sebelum mengoperasikan ship unloader operator harus check jika ada penghalang

(sampah,besi,batu bara,tumpahan oli dll) di area track ship unloader,check pelumasan pada
semua bagian-bagian yang bergerak,check level oli pada semua oil box apakah sudah sesuai

level yang di tentukan jika level turun segera lakukan penambahan oli dan periksa alat

tersebut dari kebocoran-kebocoran oli,check kondisi wire rope dan pulley dari

karat,kerusakan(aus,putus dll),kondisi kekencangan baut atau clamp pengikat,atau munkin

adanya retak pada struktur ship unloader.

Semua handle atau switch operasi harus berada di posisi off.Jika kita mulai

menyalakan power ship unloader operator harus terus memantau kondisi tegangan pada
voltmeter dan arus listrik di ampere meter harus dalam kondisi normal,check apakah

contactor bekerja dengan normal,operasikan semua alat-alat mechanic tanpa beban


beberapa menit check opakah limit switch atau brake (rem) bekerja dengan normal dan

benar.

3.6.2 Kontrol operasi up-down grab

Saat operator mengoperasikan handle pada up(naik) atau turun(down) grab,maka

motor untuk up-down harus berputar bersamaan.PLC akan menghitung posisi grab dari data

yang di simpan oleh photoelectric encoder yang akan menyeimbangkan muatan dan arus

dari motor,jika grap dalam kondisi open (buka) PLC akan secara otomatis menyeimbangkan

posisi grab dalam kondisi tetap open saat posisi naik atau turun.
3.6.3 Kontrol operasi open-close grab

Pada awal pengoperasian open-close (buka-tutup) grab harus di setting saat proses

initialization.operator bisa men setting bukaan open-close grab pada kondisi maximum.PLC

secara otomatis menambah kecepatan motor pada kecepatan rata-rata dan akan

mengurangi kecepatan motor sebelum grab mencapai posisi maximum/minimum open atau

close dan secara otomatis menghentikan putaran motor tanpa melakukan pengaturan
17
manual saat posisi grab open atau close berdasarkan berdasarkan data yang tersimpan pada

photoelectric encoder.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
3.6.4 Emergency stop

Pada saat ship unloader stop beroperasi dalam keadaan normal,maka kembalikan
semua switch ke kondisi off. Tetapi jika pada saat operasi mengalami trouble (gangguan) ship

unloader dapat di stop melalui tombol emergency yang terdapat di panel operasi sebelah

kanan di cabin operator atau pada tombol-tombol emergency stop ditempat-tempat

lain,setelah gangguan teratasi dan ship unloader siap beroperasi kembali maka sebelumnya

reset tombol emergency yang aktif

Persiapan awal operasi :

1. Tekan tombol POWER ON pada panel operasi sebelah kanan di cabin operator.

2. Pada kondisi operasi normal,set feeder pada posisi interlock.

3. Hidupkan water spray terutama saat kondisi batu bara kering atau banyak debu.

4. Bunyikan tanda peringatan sebelum mengoperasikan ship unloader supaya pada

area operasi steril dari personel.


Operasi mode manual :
po sisi Hold+Close.
1. Set selector pada panel kanan di posisi

2. Naikkan grab pada posisi maksimal.

3. Pindahkan selector pada kanan di posisi Close Only.

4. Tutup grab.

5. Setelah grab tertutup tekan tombol Close Grab Initialize pada panel kanan.

6. Buka grab

7. Setelah grab terbuka tekan tombol Open Grab Initialize pada panel kanan.

8. Pindahkan selector pada panel kanan di posisi Grab.

9. Geser grab kearah landside secara pelan-pelan sampai menyentuh limit switch.

10. Geser cabin operator pada posisi yang tepat dengan memutar selector left/right

kabin pada panel sebelah kiri.


11. Grab siap dioperasikan

12. Jika batu bara sudah terkumpul di hopper dan bel conveyor 1 sudah ber operasi
maka nyalakan feeder dengan menekan tombol Feeder On pada panel sebelah kiri. 18

Operasi mode semi-auto :

1. Lakukan langkah-langkah pengoperasian manual terlebih dahulu.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
2. Arahkan grab ke posisi yang diinginkan (sebagai set point),jangan terlalu dekat

dengan dermaga.

3. Pindahkan selector manual or Assisten


Assis ten pada oanel kanan ke posisi
po sisi assisten.

4. Turunkan grab sampai mendekati garis diagonal pada layar monitor sebelah kanan.

5. Tekan tombol safety height pada panel sebelah kanan.


6. Turunkan grab ke batubara secara manual.

7. Ambil batu bara secara manual.


8. Naikkan grab sampai terdengar suara buzzer kemudian injak pedal lalu lepaska
l epaskan
n

9. Setelah ada bunyi buzzer kedua lepaskan joystick maka grab akan bergerak menuju
hopper kemudian membuka,lalu kembali kearah kanan sesuai posisi setting awal

secara otomatis

10. Ulangi langkah-langkah diatas sampai proses unloading batu bara selesai.

Selasai pengoperasian :
1. Arahkan grab ke posisi tepat diatas hopper dengan posisi grab terbuka.
2. Turunkan grab sampai menyentuh
m enyentuh hopper secara
secara berlahan-lahan.
b erlahan-lahan.

3. Pastikan hooper telah kosong dari batu bara,kemudian tekan tombol Feeder off.

4. Setelah mendapat konfirmasi dari personel CHCB bahwa proses unloading batu bara

telah selesai maka tekan tombol Power off.

5. Sebelum meninggalkan cabin operator check terlebih dahulu kondisi cabin pastikan

aman.
6. Check kondisi peralatan yang terdapat di Machine room saat akan turun dari ship

unloader.
7. Pastikan semua pintu telah terkunci sebelum meninggalkan ship unloader.

8. Pasang Anchor pada tempatnya dan jika ship unloader tidak beroperasi dalam waktu

yang lama maka pasang juga safety hook pada tempatnya.

3.7 Pengoperasian Stacker Reclaimer


19
Prinsip kerja Stacker Reclaimer ada 2 jenis yaitu Stacking dan Reclaiming. Prinsip

kerja stacking adalah dengan menggerakkan konveyor pada Boom tripper dan Boom bucket

ke arah Live stock area. Bucket wheel tidak digerakkan karena tidak mempunyai peran untuk

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
proses stacking. Prinsip kerja reclaiming adalah dengan menggerakkan conveyor boom

tripper dan boom bucket ke arah coal bunker, dan juga dengan memutar Bucket wheel guna

mengambil coal dari tumpukan untuk diteruskan diangkut melalui konveyor sampai masuk

ke Coal bunker.
bunker.

Perubahan posisi Stacking dan Reclaiming


Perubahan utama yang terjadi untuk posisi Stacking dan Reclaiming adalah posisi Tripper

beam. Untuk Stacking, posisi depan tripper beam adalah di atas Hopper. Sedangkan untuk
Reclaiming, posisi depan tripper beam adalah di bawah Hopper. Pergeseran pergerakan

Tripper boom ini dengan menggunakan sistem hidrolik . Di sistem hidrolik ini terdapat
control box yang digunakan untuk mengoperasikan mengubah sudut elevasi bagian depan

tripper beam utama dan menyambung / melepas hook tripper pada platform tripper. Untuk

perubahan stacking, 2 pothook (pengunci) tidak terhubung (dilepas), large-car (gantry)

bergerak maju, tripper amplitude oil cylinder naik / terangkat, large-car (gantry) bergerak

mundur, dan 2 pothook (penyangkut) terhubung (mengunci).

20

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
Saat reclaiming, 2 pengunci dilepas, gantry bergerak maju, 2 tripper amplitude oil

cylinder turun, gantry bergerak mundur, 2 pengunci terhubung (lock).

3.7.1 Pengoperasian awal

Sebelum menyalakan mesin, periksa terlebih dahulu kondisi Stacker Reclaimer

apakah ada kondisi yang tidak normal terutama dari peralatan utama. Periksa kondisi minyak

pelumas juga, jika semuanya normal maka proses operasi siap dimulai. Saat awal akan

beroperasi bunyikan bel (klakson) terlebih dahulu untuk memberi sinyal kepada lingkungan

sekitar / orang yang bekerja


bekerja di sekitar SR untuk mengetahui bahwa Stacker Reclaimer
Reclai mer akan

beroperasi. Selama beroperasi, selain operator tidak boleh berada di SR baik melakukan

pekerjaan ataupun standby, hal ini untuk menghindari jika ada hal-hal yang tidak diinginkan.

Urut-urutan operasi :

1. Pastikan power utama telah menyala, dengan merubah switch ke posisi “open”

dan indikator lampu power menyala.


2. Untuk Stacking, gerakkan
gerakkan boom conveyor
conveyor ke arah maju
maju (ke coal yard)
yard) dengan
merubah switch ke posisi “stack” dan merubah switch conveyor ke posisi “start”.

Sedangkan untuk Reclaiming, tinggal merubah switch ke posisi “reclaim” dan

mengubah switch bucket wheel ke posisi


po sisi “start”.

3. Proses Stacking ataupun Reclaiming bisa dimulai. Pergerakan Slewing dan maju-

mundur SR dengan menggunakan Joy Stick.

4. Setelah proses operasi selesai,


selesai, matikan Stacker Reclaimer dengan urutan :

 Gerakkan SR mundur sedikit (untuk safety agar bucket wheel tidak

bersinggungan dengan tumpukan batubara).

 Atur Boom Bucket ke posisi sudut


sudut luffing 0 .

 Matikan Bucket wheel.

 Matikan Boom conveyor (pastikan coal sudah masuk hopper).

 Arahkan Boom sejajar dengan lintasan rel (tidak membentuk sudut

slewing). 21

 Matikan power control.

 Aktifkan rail clamp.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
3.7.2 Pengoperasian Stacking
Pengoperasian Stacking bisa dilakukan secara manual dan otomatis. Secara manual,

operator dapat menentukan bucket point berdasar travel point atau metode slewing.

Pengoperasian Stacking ini tidak meggunakan putaran bucket, material coal yang di angkut

di boom conveyor langsung jatuh ke coal yard dan membentuk tumpukan-tumpukan.


Pengoperasian ini lebih mudah dari pada proses reclaiming.

3.7.3 Pengoperasian Reclaiming


Setelah menerima order Reclaiming dari Control room, operator melepas clamp,

membunyikan alarm bel (ring bell) dan mengatur posisi kerja Stacker Reclaimer. Atur guide
chute dari bucket wheel unit ke posisi Reclaiming. Mekanisme roda dan slewing unit juga

diatur sesuai posisi start. Kemudian mesin dinyalak


dinyalakan.
an.

Rangkaian urutan start


start : ground belt convey
conveyor
or -- atur guide chute – atur swing chute

di tengah titik jatuh material


material (coal) di hopper – cantileve
can tileverr belt conveyor
conveyor – bucke
buckett wheel unit,

dan proses reclaiming pun bisa dimulai. Ketinggian dari tumpukan material coal jangan

melebihi ½ dari diameter bucket wheel, hal ini untuk menghindari material longsor saat

proses reclaiming.

3.7.4 Pemeriksaan setelah operasi


Setelah proses operasi selesai, parkirlah SR dengan posisi yang benar, Boom bucket

diposisikan sejajar dengan rel lintasan (tidak membentuk sudut slewing). Matikan mesin dan

power utama kemudian lepaskan clamp (pengunci roda). Jangan lupa memeriksa kembali

kondisi peralatan, apakah ada kebocoran oli atau kondisi tidak normal lainnya.

3.8 Alat Berat

3.8.1 Prestart Check Sebelum Operasi

3.8.1.1 Engine

 Mengecek oil level engine

 Mengecek oil steering

 Cek air radiator


22
 Cek water separator


Cek tensen V-belt AC
 Cek tensen V-belt altenator

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
 Membersihkan filter udara

 Cek kompresor (Blower)

3.8.1.2 Transmission

 Cek level oil transmisi

 Cek keadaan oil transmisi

 Cek gasket keadaan baik atau bocor

 Cek beberapa baut transmisi

3.8.1.3 Under Cariage

 Cek treck atau roda

 Cek beberapa baut track atau roda

 Grease semua knople


Drain semua kotoran dalam tangki dan filter
 Bersihkan swict atau sensor monitor

 Cek semua sill hidroulick

3.8.1.4 Batteray

 Cek level air pada aki

 Yakinkan
Yakinkan pool aki (-dan+) dalam ke
keadaan
adaan bersih

 Bersihkan lubang kecil


kecil d
dii tutup aki.

 Yakinkan kondisi batteray layak pakai atau tidak.


Cek keadaan kabel aki.
3.8.1.5 Hydraulic pump

 Cek level oil hidraulic

 Cek keadaan oil hidraulic

 Cek selang hidraulic

3.8.1.6 Cabin

 Bersihkan kaca pintu ,spion dan jendela.


j endela. 23

 Isi air wipper ji ka kurang.


kurang.

 Test semua lampu kerja .

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
 Test lamou alert dan alrmnya.

 Test semua tombol-tombol di desk board.

 Cek semua lampu indicator.

 Mencoba rem maju dan mundur .

 Cek pressure udara.

 Cek fuel indicator bahan bakar.

3.8.2 Prosedur Pengoperasian


3.8.2.1 Langkah-langkah Starting unit

 Pastinkan anda duduk pada posisi safety belt.

 ON kan kunci kontak ,tunggu


,tunggu 5-7 detik.

 Cek fungsi gauges ,control dan instrume


in strumen.
n.

 Test bunyikan klakson satu kali pertanda akan mulai start.

 Start Engine biarkan kurang lebih 3 menit dalam keadaan idle.

 Jangan gerakkan
gerakkan unit hingga indikator break dan contras warning off

 Tekan pedal service break.

 Realiase parking break.

 Posisikan unit pada posisi level.

 Pilih tranmisi gear selector.

 Pastikan level pada posisi netr


n etral.
al.

3.8.2.2 Langkah-langkah parking unit.

 Parkir lah unit ditempat yang rata dan datar.

 Pasang parking bre


b reak.
ak.

 Matiokan semua lampu-lampu.

 OFF kan kunci kontak .

 OFF kan main switch.

24

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
BAB 4
SISTEM PROTEKSI

Belt Conveyor System Protection System

Belt conveyor system diproteksi dengan memasang alat proteksi dilokal dan
menerapkan interlock system.

Berikut proteksi yang dipasang pada Belt Conveyor System

 Pull Cord Switch : Suatu proteksi device yang ber fungsi untuk menghentikan laju
sistem belt conveyor jika keadaan bahaya.

 Belt Sway Switch : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk menghentikan laju
sistem jika belt conveyor bergeser melebihi batas setting.

 Belt Rip switch : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk menghentikan laju

sistem jika belt conveyor mengalami sobek, belt rip wire yang terlepas akan
mengaktifkan sinyal menghentikan sistem.

 Chute block switch: memberikan alarm dan secara otomatis akan mematikan

konveyor sebelumnya supaya tidak terjadi sumbatan pada chute.

 Zero Speed Switch: Zero


Zero speed
speed switch berfungsi
berfun gsi mentripkan sistem
sistem konveyor
konveyor jika
kecepatan belt konveyor melebihi setting. Dipasang pada tail pulley.

 Water Spray Conveyor/Stock Pile : mengurangi polusi debu batubara dan juga
sebagai safety jika sewaktu waktu batubara terbakar di atas belt conveyor/stock pile.

Ship Unloader Protection System

 Grab over load : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk menghentikan operasi
grab (up-down) jika batubara melebihi kapasitas batas setting

 Hopper over weight : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk menghentikan

operasi grab (traveling) jika batubara melebihi kapasitas batas setting.

 Rail Clamp : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk.

 Wire rope over travel : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk menghentikan

operasi trolly sistem jika melebihi batas setting. 25

 Feeder interlock : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
 Anemometer : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk mengukur kecepatan

angin.

 Door Cabin interlock : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk menghentikan

operasi trolly (traveling)


(traveling) jika pintu kabin belum
b elum tertutup.

 Gantry Forward Backward Limit Switch


S witch

 Safety Hook

 Anchor

 Gantry moving alarm : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk memberikan

peringatan.

4.3 Stacker Reclaimer Protection System

 Anemometer : Suatu proteksi device yang berfungsi untuk mengukur kecepatan

angin.
 Chute Block : memberikan alarm dan secara otomatis akan mematikan konveyor
sebelumnya supaya tidak terjadi sumbatan pada chute

 Long Travel Forward Backward Limit Switch : memberikan alarm dan secara otomatis

akan menghentikan laju forward-backward

 Slewing Over Travel Limit Switch : memberikan alarm dan secara otomatis akan
menghentikan laju slewing. (baik kanan/kiri)

 Luffing Over Travel Limit Switch : memberikan alarm dan secara otomatis akan

menghentikan laju lutfing up-down

26

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
BAB 5
TROUBLESHOOTING

Troubleshooting merupakan serangkaian kegiatan untuk memecahkan dan

menyelesaikan suatu permasalahan/kegagalan


permasalah an/kegagalan saat operasi.Operator
operasi.Op erator harus
haru s memahami

troubleshooting
troubl eshooting operasi setiap peralatan yang berpotensi
berpotensi mengalami kegagala
kegagalann saat fase
operasi dengan memahami Standard Operation Procedur (SOP)

Misalnya.
5.1 Trobleshooting Belt Conveyor System :

 Potensi kegagalan pada belt conveyor: Belt conveyor berlubang karena terbakar,

sobek, terkelupas, material asing tersangkut sehingga menyobekkan belt.

 Potensi kegagalan pada idler: Idler macet, bearing rusak ,Idler berkarat, keropos

 Potensi kegagalan pada pully: Rubber lagging pulley sobek karena batubara terjepit,

bearing rusak, batubara menupuk, terjepit di pulley

 Potensi kegagalan drive pulley sistem: Rubber joint pecah , kebocoran Oil sealing fluid

coupling, rubber joint


j oint coupling rusak,vibrasi karena misalignment,

 Potensi kegag
kegagalan
alan magnetic separator: Magnet tidak berfungsi,
berfungsi, material asing lolos
ke Silo

 Potensi kegagalan EBS: EBS gagal pembacaan karena kotor, baut longgar, putusnya

koneksi sehingga totalizer tidak dapat mencatat tonase transfer batu bara.

 Potensi kegagalan equipment di juction tower: diverter gate macet karena

debu/kotor,potensi bolong karena terkena material keras dari batubara


 Potensi kegagalan pada sampler: chute block,kehalusan batu bara tidak sesuaiyang

diinginkan..

 Potensi kegagalan coal crusher : Bearing rusak,ukuran batu bara tidak sesuai yg

diinginkan,vibrasi pada chrusher & motor tinggi

 Potensi kegagalan pada telescopichute : Terjadi chute blockc, chute bengkok

 Potensi kegagalan dust collector dan sillo ventillation: Gangguan collector, filter

blocked . 27

 Potensi kegagalan tripper: Tripper macet

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
 Potensi kegagalan Pull cort switch : Pull cord wire putus karena lifetime atau rusak,

switch macet karena tersumbat batubara.

 Potensi kegagalan Belt Sway Switch : Korosif, baut penopang kendor.

 Potensi kegagalan Belt Rip Detektor: Koneksi rubber tersumbat.

 Potensi kegagalan Chute Block Switch: Sensitifitas berkurang, blocking tidak tepat

pada sensor

 Potensi kegagalan water spray conveyor/stock pile : Korosif, pipa pecah tergilas alat

berat, saluran tersumbat, clamp lepas dll

 Potensi kegagalan Zero Speed Switch : Keagalan pembacaan

 Potensi kegagalan Limit Switch adalah kotor atau terganjal benda asing.

5.2 Trobleshooting Ship Unloader :


Wire rope Ship Unloader potensi putus karena pola operasi yang tidak tepat
berakibat
berakibat bucket tidak bisa beroperasi.
beroperasi.

 Potensi kegagalan vibrating feeder: bearing rusak, batu bara besar masuk coal

bunker, signal

 Interlock BC 1 dengan vibrating feeder


feeder tidak
tid ak berfungsi

 Rail clamp tidak dapat bekerja akibat limit switch kotor.

 Gantry motor tidak bekerja akibat sinyal palsu dari gantry moving alarm.

 Fender jetty rusak/korosif

 PLC bermasalah sering muncul sinyal palsu

 CPU untuk back up PLC program mati

 Lighting SU dan jetty mati

 Cable power dan komunikasi ke cabin kusut akibat terbentur atau tersangkut

 Wiper
Wi per cabin SU tidak bek
bekerja
erja

5.3 Troble shooting Stacker & Reclaimer :

 Long traveling limit switch terganjal


terganjal batubara berakibat SR tidak bisa maju/mundu
maju/mundurr. 28

 Slewing limit switch terganjal batubara berakibat slewing tidak maksimal atau sama

sekali tidak bisa slewing.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
 Luffing up or luffing down limit switch terganjal batubara berakibat SR tidak bisa

luffing boom.

 Lampu penerangan dekat boom bucket kurang memberikan pencahayaan sehingga

operator tidak dapat memonito


memonitorr proses tacking maupun reclaimin
reclaimingg pada malam
malam

hari.

 Wiper kaca cabin operator tidak berfungsi menyebabkan pandangan operator

terhalang.

 Water spray tidak bekerja akibat hose lepas, pompa rusak dll

5.4 Trobleshooting Heavy Equipment

 Wiper
Wi per tidak bekerj
bekerja
a

 Track shoe kendor akibat kurang grease


Fuel pump tidak bekerja akibat masuk angin
 Seal rusak

 Enggine low power akibat bahan bakar bermutu jelek atau terjadi kerusakan pada

engine

 Air filter
fil ter kotor
kotor

 Fuel filter kotor

 Hidrolic filter
fil ter kotor
kotor

 Colant habis tak terpantau


terpantau berakibat
berakibat engine over heat

 Power bateray habis

 Panel indicator rusak


Faktor Keselamatan Kerja dan Kesehatan Kerja

Operator wajib memperhatikan faktor-faktor keselamatan dan kesehatan kerja guna proses

operasi menjadi efektif dan efisien.

Bahaya/resiko yang mungkin terjadi :

1. Terbentur benda keras.

2. Tersengat listrik.
29
3. Kebakaran.

4. Debu batu bara yang mungkin terhirup atau masu


masuk
k mata.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
Pencegahan bahaya/resiko yang mungkin terjadi :

1. Konsentrasi dan yakin serta menguasai pekerjaa


pekerjaan
n yang dihadapi.

2. Hati-hati dan teliti dalam


d alam melaksanakan pekerjaan.

3. Melaksanakan pekerjaan sesuai S.O.P (Standart Operation Procedure).


4. Menggunakan peralatan kerja yang sesuai.
5. Memakai alat keselamatan kerja yang sesuai standart keselamatan.
6. Menjaga kebersihan lingkungan.

Peralatan keselamatan kerja :

1. Sepatu safety

2. Helm
3. Masker

4. Kacamata
5. Sarung tangan

6. Pelindung telinga

7. APAR dan APAT

Faktor kebersihan lingkungan :

1. Tempat kerja harus bersih dari oli,grease dan batu bara.

2. Pembersihan area kerja (jetty dan ship unloader).

3. Penanggulangan polusi udara dari debu batu bara dengan mengoperasika water

spray.

4. Menghindari pencemaran laut dari tumpahan batu bara dengan mengoperasikan

anti-spill plate.

5. Ciptakan suasana lingkungan kerja yang aman dan bersih.

BAB 6
KESIMPULAN

Sebelum kita mengoperasikan suatu sistem maka kita di haruskan memeriksa semua
keadaan dalam kondisi siap operasi atau sistem itu masih dalam proses perbaikan, selain itu 30

kita juga harus ke lapangan untuk memastikan bahwa tempat itu aman dari segala kegiatan

apapun pada saat mau operasi atau sudah operasi.

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices
MESIN II
COAL HANDLING SYSTEM
LAPORAN OPERASI COAL HANDLING
(CHCB,SU,SR,ALAT BERAT)

PENDAHULUAN

FUNGSI DAN BAGIAN PERLATAN


SISTEM PENGAMAN (PROTEKSI)
(PROTEKSI)

PROSES OPERASI
TROUBLE SHOUTING

KESIMPULAN

31

Management
Manageme nt Trainee
Trainee | PT PJB Serv
Services
ices

Anda mungkin juga menyukai