0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
454 tayangan86 halaman

Laporan Praktikum Fluida Reservoir

Laporan ini merangkum hasil praktikum analisis fluida reservoir yang meliputi 7 percobaan untuk menentukan sifat-sifat fluida seperti densitas, kadar air dan endapan, viskositas, titik kabut dan tuang, serta analisis kimia air formasi. Tujuannya adalah memahami sifat fluida dalam reservoir dan dapat dimanfaatkan di dunia perminyakan.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
454 tayangan86 halaman

Laporan Praktikum Fluida Reservoir

Laporan ini merangkum hasil praktikum analisis fluida reservoir yang meliputi 7 percobaan untuk menentukan sifat-sifat fluida seperti densitas, kadar air dan endapan, viskositas, titik kabut dan tuang, serta analisis kimia air formasi. Tujuannya adalah memahami sifat fluida dalam reservoir dan dapat dimanfaatkan di dunia perminyakan.
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN AKHIR

(FINAL REPORT)

PRAKTIKUM ANALISA FLUIDA RESERVOIR


(RESERVOIR FLUID ANALYSIS COURSE)
TP-

OLEH :
(BY)
KAHFI AULIA RAHMAN 213210526
M. AFDALUDDIN ANANTOTOMO 213210557
M. ALFITRAH GILANG DIANTO 213210363
M. RIANDA SAPUTRA 213210727
YOGI BILLYAM HUTABARAT 213210632

LABORATORIUM TEKNIK PERMINYAKAN


(LABORATORY OF PETROLEUM ENGINEERING)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


(DEPARTMENT OF PETROLEUM ENGINEERING)

FAKULTAS TEKNIK
(ENGINEERING FACULTY)

UNIVERSITAS ISLAM RIAU

PEKANBARU
TA.GANJIL2022/2023
Laporan Resmi Praktikum Analisa Fluida Reservoir ini telah diperiksa dan disetujui untuk
dijilid

Pekanbaru, 10 Januari 2023


Asisten Laboratorium

Della Azlia Oktavia


NPM : 203210007
LEMBARAN PENGESAHAN
(APPROVING SHEET)

BUKU PANDUAN PRAKTIKUM FLUIDA RESERVOIR


(RESERVOIR FLUID GUIDELINES BOOK)

LABORATORIUM TEKNIK PERMINYAKAN


(LABORATORY OF PETROLEUM ENGINEERING)

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN


(PETROLEUM ENGINEERING DEPARTMENT)

FAKULTAS TEKNIK
(ENGINEERING FACULTY)

UNIVERSITAS ISLAM RIAU

PEKANBARU, 10 JANUARI 2023

NOVIA RITA, S.T., M.T


DOSEN PENGAMPU
KATA PENGANTAR
( PREFACE )

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,


Puji syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan anugerah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan “Laporan Akhir Praktikum Analisa Fluida Reservoir” ini
dengan baik dan tepat pada waktunya.
Laporan akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat untuk kelulusan dari mata kuliah
Praktikum Analisa Fluida Reservoir, di Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknik, Universitas
Islam Riau, kemudian penulisan laporan ini merupakan wujud pertanggung-jawaban penulis, setelah
melakukan kegiatan Praktikum Analisa Fluida Reservoir pada kurikulum semester III Tahun
Akademik 2022/2023.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penulisan laporan ini, untuk itu
penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kebaikan kita semua dan untuk
penulis khususnya. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan dan
membacanya, dan dapat dijadikan referensi suatu saat nanti. Akhirnya penulis mengucapkan terima
kasih.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Pekanbaru, 08 Januari 2023

Kelompok II
UCAPAN TERIMA KASIH
(GRATITUDE)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan banyak penghargaan dan terima
kasih kepada:
1. NOVIA RITA, ST., MT
2. Dr.-Eng ADI NOVRIANSYAH, MT
3. EKA KUSUMA DEWI, S.T
4. Asisten laboratorium, yang telah meluangkan banyak waktu, tenaga dan pikirannya
untuk membimbing praktikan (penulis), dalam Praktikum Analisa Fluida Reservoir ini:
Della Azlia Oktavia (203210007) :
 percobaan I “Penentuan Densitas, Specific Gravity, dan ºAPI Gravity”,
 percobaan II “Penentuan Kandungan Air Dan Endapan Sedimen (BS & W)”
 percobaan III “Analisa Kimiawi Air Formasi”.
 percobaan IV “Penentuan Viscositas”
 Percobaan V “Penyulingan Minyak Mentah”
 percobaan VI “Penentuan Flash Point dan Fire Point”
 Percobaan VII “Penentuan Cloud Point, Cold Point dan Pour Point”

5. Terima kasih juga kepada keluarga tercinta yang senantiasa memberikan kami
dukungan moral dan material selama kami melaksanakan kegiatan Praktikum Analisa Fluida
Reservoir dan Laporan Akhir ini.
6. Teman-teman sejawat yang selalu memberikan dukungan dan bantuan kepada kami
selama kami melaksanakan kegiatan Praktikum Analisa Fluida Reservoir dan penulisan
Laporan Akhir ini.
7. Untuk Kelompok 2 terima kasih atas kerja samanya dan selalu kompak dalam
kegiatan Praktikum Analisa Fluida Reservoir serta penulisan Laporan Akhir ini. “KALIAN
LUAR BIASA”.
8. Terkhusus untuk kakak Aslab kami Della Azlia Oktavia (203210007 ), terima kasih
sudah mau jadi kakak dan teman untuk kelompok 2, dan juga sabar menghadapi kami, maaf
kalau kami ada banyak salah.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
PENDAHULUAN
(INTRODUCTION)

Praktikum Analisa Fluida Reservoir merupakan salah satu bagian dari ilmu
perminyakan. Reservoir adalah suatu wadah atau tempat penampungan minyak dan gas bumi.
Minyak dan gas bumi adalah sumber daya alam yang terdapat didalam perut bumi (Tarek
ahmed, 2010). Para ilmuan mempercayai bahwa minyak bumi dan gas bumi berasal dari
dekomposisi makhluk hidup (tumbuhan dan binatang) yang mati dan tertimbun lapisan batu
sedimen beberapa juta tahun yang lalu. Karena adanya tekanan dan temperatur yang sangat
tinggi dalam jangka waktu jang sangat lama, maka materi-materi organik yang ada akan
berubah menjadi minyak dan gas yang kita temukan pada saat ini.

Fluida reservoir dapat dipisahkan berdasarkan jenisnya, yaitu : minyak bumi, gas
bumi, dan air formasi (Tarek ahmed, 2010). Air formasi pasti ditemukan pada setiap
reservoir, karena merupakan bagian sejarah dari proses pengendapan sedimen dan
pembentukan suatu perangkap reservoir. Fluida reservoir terdiri dari fluida hidrokarbon dan
air formasi. Fluida formasi dari suatu lapisan produktif yang mempunyai nilai ekonomis
adalah minyak bumi (crude oil) yang sering disebut dengan Fluida Reservoir.

Fluida reservoir merupakan cairan yang terperangkap dalam suatu trap dimana cairan
tersebut berasal dari source rock yang bermigrasi kelapisan yang lebih porous (misalnya sand
stone, carbonat)((Tarek ahmed, 2010)). Cairan yang terperangkap tersebut terhalang oleh
suatu cap yang menghalangi minyak bermigrasi ke permukaan. Cairan formasi dapat juga
berasal dari kubah garam yang mempunyai kadar air formasi NaCl yang lebih tinggi.
Tekanan statik dan temperatur reservoir merupakan faktor penentu besarnya fluida reservoir
yang didapat jika lapisan diproduksikan. Hidrokarbon sendiri terdiri dari fasa cair (minyak
bumi) maupun fasa gas, tergantung pada kondisi (tekanan dan temperatur) reservoir yang
ditempati. Perubahan kondisi reservoir akan mengakibatkan perubahan fasa serta sifat fisik
fluida reservoir.

Dalam percobaan dibuktikan hukum-hukum yang telah dinyatakan oleh para ahli
terdahulu. Hasil dari percobaan yang dilakukan kemudian dibandingkan dengan data dari
literatur, sehingga kita dapat membuktikan sebuah teori. Berkeinginan dari pembuktiaan sifat
– sifat fluida dan sifat – sifat minyak maka diadakanlah Praktikum Analisa Fluida Resevoir
Lab ini di Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Islam Riau.
Selain itu pemahaman yang didapat dalam pelaksanaan praktikum ini, akan
mempermudah atau sangat membantu mahasiswa dalam mengikuti dan memahami mata
kuliah tingkat atas yang berhubungan dengan sifat – sifat fluida reservoir seperti mata kuliah
teknik reservoir dll.
Tujuan penulisan laporan ini adalah agar pembaca mengerti dan memahami dengan
jelas mengenai percobaan-percobaan yang dilakukan dan dapat menerapkan khususnya dalam
dunia perminyakan. Praktikum Analisa Fluida Reservoir yang dilakukan ini adalah salah satu
mata kuliah wajib atau mata kuliah kejuruan dalam bidang perminyakan bagi mahasiswa
Departemen Teknik Perminyakan Universitas Islam Riau. Oleh karena itu, sebagai bukti telah
dilakukannya praktikum tersebut, maka disusunlah “LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
ANALISA FLUIDA RESERVOIR” ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
nilai dan kelulusan dalam mata kuliah praktikum analisa fluida reservoir tersebut. Selain itu
diharapkan tulisan ini dapat dipakai dan digunakan sebagai acuan atau pedoman oleh para
praktikan analisa fluida reservoir di kampus teknik perminyakan di tahun mendatang.
Agar penulisan laporan ini terarah maka perlu adanya batasan masalah. Batasan
masalahnya adalah mengenai percobaan-percobaan Analisa Fluida Reservoir yang telah
dilakukan. Karena keterbatasan waktu, tenaga, biaya dan ilmu peneliti, maka hal tersebut
dibatasi. Laporan akhir ini disusun setelah penulis mengadakan praktikum di Laboratoriun
Teknik Universitas Islam Riau.
Percobaan yang dilakukan dalam praktikum tersebut adalah sebanyak 7 modul:
1. Percobaan 1-Penentuan Densitas, Spesific Gravity dan penentuan ̊API Gravity
2. Percobaan 2-Penentuan Kandungan Air dan Endapan Sedimen (BS & W)
3. Percobaan 3-Analisa Kimiawi Air Formasi
4. Percobaan 4-Penentuan Viscositas
5. Percobaan 5-Penyulingan Minyak Mentah
6. Percobaan 6-Penentuan Flash Point dan Fire Point
7. Percobaan 7-Penentuan Cloud Point, Cold Point, Dan Pour Point

Analisa yang dilakukan pada crude oil dengan viskositas rendah, akan membawa hasil bahwa
minyak mentah tersebut akan mempunyai densitas (kekentalan) yang cukup tinggi. Hasil
analisa crude oil juga sangat dipengaruhi dengan pengambilan sampel fluida, karean fluida
yang dihasilkan oleh sumur produksi dapat dapat berupa gas, minyak, dan air. Agar
dihasilkan suatu produk reservoir yang sesuai dengan kemampuan kita, maka pada fluida
tersebut perlu dilakukan beberapa analisa atau pengukuran terhadap air, endapan, berat jenis,
titik kabut, titik tuang, flash point, fire point, viskositas, tekanan uap, dan analisa terhadap air
formasi. Pemisahan zat padat, cair, dan gas dari minyak mutlak dilakukan sebelum minyak
mencapai refinery, karena dengan memisahkan minyak dari zat – zat tersebut di lapangan
akan dapat dihindari biaya – biaya yang seharusnya tidak perlu. Dari sini juga dapat diketahui
perbandingan – perbandingan minyak dan air (WOR), minyak dan gas (GOR), serta
persentase padatan yang terkandung dalam minyak.
Penentuan cloud point, cold point, pour point, fire point, dan flash point cukup memegang
peranan penting, terutama dalam hubungan dengan temperatur fluida di dalam tangki – tangki
penampungan dan flow line. Dari proses transportasi minyak, temperatur juga sangat
dominan, sehingga dengan mengetahui sifat karakteristik fluida, hambatan pembekuan
minyak pada flow line dapat dihindari. Oleh karena itu, dalam memproduksi minyak, analisa
fluida reservoir sangat penting dilakukan guna menghindari hambatan – hambatan dalam
operasinya. Hal itu juga dapat membantu dalam pencapaian produktifitas secara maksimum
dengan baik. Studi dari analisa fluida reservoir ini dapat digunakan untuk mengevaluasi
peralatan produksi yang digunakan.
Adapun sistematika dalam penyusunan laporan akhir ini adalah sebagai berikut:
BAB I : Berisikan laporan tentang “ Penentuan Densitas, Spesific Gravity dan ºAPI
Gravity” yang meliputi Tujuan Percobaan, Teori dasar , Alat dan Bahan,
Gambar Alat, Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan, Perhitungan,
Pembahasan, Kesimpulan dan Tugas.
BAB II : Berisikan laporan tentang “Penentuan Kandungan Air Formasi dan Endapan”
yang meliputi Tujuan Percobaan, Teori dasar , Alat dan Bahan, Gambar Alat,
Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan, Perhitungan, Pembahasan,
Kesimpulan dan Tugas.
BAB III : Berisikan laporan tentang “ Analisa Kimiawi Air Formasi” yang meliputi
Tujuan Percobaan, Teori dasar, Alat dan Bahan, Gambar Alat, Prosedur
Percobaan Hasil Pengamatan, Perhitungan, Pembahasan, Kesimpulan dan
Tugas.
BAB IV : Berisikan laporan tentang “Penentuan Viskositas” yang meliputi Tujuan
Percobaan, Teori dasar, Alat dan Bahan, Gambar Alat, Prosedur Percobaan
Hasil Pengamatan, Perhitungan, Pembahasan, Kesimpulan dan Tugas.
BAB V : Berisikan laporan tentang “Penyulingan Minyak Mentah” yang meliputi
Tujuan Percobaan, Teori dasar, Alat dan Bahan, Gambar Alat, Prosedur
Percobaan Hasil Pengamatan, Perhitungan, Pembahasan, Kesimpulan dan
Tugas.
BAB VI : Berisikan laporan tentang “Penentuan Flash Point dan Fire Point” yang
meliputi Tujuan Percobaan, Teori dasar, Alat dan Bahan, Gambar Alat,
Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan, Perhitungan, Pembahasan,
Kesimpulan dan Tugas.
BAB VII : Berisikan laporan Tentang “Penentuan Cloud Point, Cold Point dan Pour
Point” yang meliputi Tujuan Percobaan,Teori dasar , Alat dan Bahan, Gambar
Alat, Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan, Perhitungan, Pembahasan,
Kesimpulan dan Tugas.
PERCOBAAN I
(EXPERIMENT I)
PENENTUAN DENSITAS, SPECIFIC GRAVITY DAN 0API
GRAVITY
(DETERMINING OF DENSITY, SPECIFIC GRAVITY AND API
GRAVITY)

1.1 Tujuan Percobaan


1. Mengukur Densitas Fluida pada Berbagai Temperature.
2. Mengukur Specific Gravity Fluia.
3. Menentukan Besarnya oAPI Gravity Sample Fluida.

1.2 Teori Dasar


Densitas minyak adalah massa persatuan volume pada suhu tertentu, atau dikenal juga
dengan perbandingan massa minyak dengan volume pada kondisi tekanandan temperature
tertentu (Tarek ahmed, 2010). Selain densitas, salah satu sifat minyak bumi yang penting dan
mempunyai nilai dalam perdagangan adalah Specific Gravity (Gravitasi Jenis). Specific
Gravity minyak adalah perbandingan antara berat jenis minyak pada temperature standart
dengan berat jenis air dengan temperature yang sama dapat ditulis :
SG = Q/W pada tekanan dan temperature standard?
Di Indonesia biasanya berat jenis dinyatakan dalam fraksi, misalnya 0,5 : 0,1 untuk
minyak bumi suhu yang digunakan adalag 15 oC atau 60 oF. Dalam dunia perdagangan
terutama yang disukai oleh perusahaan Amerika, gravity jenis atau lebih ssering disingkat
dengan SG ini dinyatakan dalam oAPI Gravity (American Petroleum Institute) yang sangat
mirip dengan oBaumeGravity adalah suatu besaran yang merupakan fungsi dari berat jenis
yang dapat dinyatakan dengan persamaan :
141,5 m
o
API   131,5 o 
SG v

S G  1 4 1 ,5 o
SG 
1 3 1 ,5 O A P I w
API Gravity minyak bumi sering menunjukkan kualitas dari minyak bumi tersebut.
Makin kecil SG-nya atau makin tinggi OAPI-nya, maka minyak bumi itu makin berharga
karena lebih banyak mengandung bensin. Sebaliknya makin rendah OAPI atau makin besar
SG-nya, maka mutu minyak bumi itu kurang baik karena lebih banyak mengandung lilin
(wax) atau residu (aspal). Perhatikan tabel dibawah ini:
Tabel [Link], API, dan SG
Komponen ºAPI SPESIFIC GRAVITY
Minyak Ringan >20 <0,934
Minyak Berat 10-20 0,934-1,000
Tar <10 >1,000

Namun dewasa ini dari minyak bumi berat pun dapat di buat fraksi bensin lebih
banyak dengan sistem “Cracking” dalam [Link] demikian tentu proses ini
memerlukan ongkos atau biaya yang lebih besarlagi.
Selain API juga dapat dipakai Baume yaitu :

140
°Baume = –130
SG

Sistem Baume tidak banyak digunakan didalam industri perminyakan. Perbandingan


antara skala yang menggunakan SPECIFIC GRAVITY dengan °API dan °Baume dapat
dilihat pada tabel. Perlu dicatat bahwa yang dimaksud dengan SPECIFIC GRAVITY disini
adalah SPECIFIC GRAVITY keseluruhan minyak mentah tersebut, jadi semua fraksi. Selain
itu SPECIFIC GRAVITY minyak bumi juga tergantung pada temperature, sehingga bila
temperaturnya tinggi maka makin rendah SPECIFIC GRAVITY-nya.
Tabel 1.2. SG, ˚API, dan ˚Baume

SG (60oF) O
API O
Baume

1,000 10,0 10

0,9655 15,1 15

0,9333 20,1 20
0,9032 25,2 25

0,8750 30,2 30

0,8485 35,3 40

0,8235 40,3 40

0,8000 45,4 45

0,7778 50,4 50

Tabel 1.3. SG dan˚API


O
SG API

1,076 0

1,000 10

0,9659 15

0,9340 20

0,9100 24

0,8762 30

0,8550 34

0,8251 40

0,8063 44

0,7796 50

0,7587 55

0,7389 60

0,7201 65
0,7022 70

0,6852 75

0,6690 80

0,6536 85

0,6388 90

0.6247 95

0,6112 100

1.3. Alat Dan Bahan


1.3.1. Alat
Gelas ukur 500 ml. : 1 unit
Gelas ukur 250 ml. : 1 unit
Gelas ukur 25 ml. : 2 unit
Gelas ukur 10 ml. : 1 unit
Gelas kimia 500 ml : 1 unit
Corong : 3 unit
Picnometer 25 ml. : 3 unit
Picnometer 10 ml : 1 unit
Pipet Tetes. : 5 unit
Hidrometer jar : 1 set
Labu Volumetric 25 ml : 1 unit
Thermometer. : 1 unit
1.3.2. Bahan
1. Gliserin 25 %
2. Gliserin 50 %
3. Gliserin 75 %
4. Air Formasi
5. Minyak Rem
6. Crude Oil
Gelas Ukur Picnometer

Pipet Tetes Hidrometer

Labu Volumetrik Thermometer


1.4. Prosedur Percobaan

A. Picnometer

1. Timbang terlebih dahulu picnometer kosong, kemudian isi picnometer


dengan air formasi .
2. Timbang kembali picnometer yang telah terisi air formasi, pastikan air formasi yang di uji
telah keluar melalui lid.
3. Selisih berat picnometer ini adalah massa air formasi.
4. Volume picnometer dapat dilihat dari label yang ada pada alat atau dengan menuangkan
air formasi kedalam gelas ukur untuk mengetahui volume air formasi yang diuji.
5. Densitas air formasi dapat diperoleh melalui perbandingan massa air terhadap volumenya.
6. Gunakan untuk fluida seperti Gliserin 25%,Gliserin 50%, Gliserin 75% dan minyak rem.

B. Labu Volumetric

1. Timbang terlebih dahulu labu volumetric kosong, kemudian isi labu volumetric
dengan crude oil.
2. Timbang kembali labu volumetric yang telah terisi crude oil, pastikan crude oil
telah mencapai tanda batas yang terdapat pada dinding labu .
3. Selisih berat labu volumetric ini adalah massa crude oil.
4. Volume labu volumetric dapat dilihat dari label yang ada pada alat atau dengan
menuangkan crude oil kedalam gelas ukur untuk mengetahui volume crude oil
yang diuji.
5. Densitas crude oil dapat diperoleh melalui perbandingan massa crude oil
terhadap volumenya.

C. Pengunaan Hiydrometer Jar


1. Mengambil sample Crude Oil 500 ml.
2. Memasukkan ke dalam gelas ukur 500 ml.
3. Memasukkan hydrometer mulai dari harga yang terendah (200API
– 35 0API).
4. Memasukkan thermometer kedalamnya.
5. Baca harga berat jenis dan temperaturnya pada Hidrometer dibatas fluida
6. Dari harga pembacaan, gunakan table untuk mendapatkan gravity API sebenarnya.

1.5 Hasil Pengamatan


Tabel 1. 4 Penentuan Densitas, Spesifik Gravity dan ͦAPI Meggunakan
Picnometer dan Labu Volumetrik
Massa
Bahan (gr/cc) SG Keterangan
(gr)
Gliserin 25% 24.88 0.97 0.97

Gliserin 50% 27.28 1.091 1.1091

Gliserin 75% 28.28 1.13 1.13

Air Formasi 21.28 0.85 0.85

Minyak Rem 23.28 0.93 0.93

Tabel 1. 5 Menggunkan Labu Volumetrik


Massa
Bahan (gr/cc) SG o
API Keterangan
(gr)
Crude Oil 57.34 1.1468 1.1468 -8.43 Minyak ringan

Tabel 1. 6 SG dan °API Menggunakan Hidrometer Jar


o
API Temperatur
Bahan SG Actual Observasi
o
C o
F K o
R Ra
(T Alat) (T sample)
Crude Oil 1.0 -0.22 10 29 84.2 302 23.2 54.36

1.6 Perhitungan
1.6.1 Penentuan Densitas,SG dan °API menggunakan alat picnometer dan labu
volumetric
Gliserin 25%
Diketahui : Berat Picnometer kosong = 23,98 gr
: Berat picnometer + Gliserin 25 % = 48,57 gr
: Volume Picnometer = 25 ml = 25 cc
Ditanya : massa ?. ρ ? , SG ?, API ?
Jawab :
M = (massa picnometer + gliserin 25 %) – (massa picno kosong)
= (48,57 gr) – (23,98 gr)
= 24,59 gr
m
Ρ =
v
24 , 59
=
25
= 0,98 gr/cc
p
SG =
pair
0 , 98 gr /cc
=
1

= 0.98
141, 5 141.5
°API = – 131.5 = -131.5 = 12.89
SG 0.98

Gliserin 50%
Diketahui : Berat Picnometer kosong = 23,98 gr
: Berat picnometer + Gliserin 50 % = 51,57 gr

: Volume Picnometer = 25 ml = 25 cc

Ditanya : massa ?. ρ ? , SG ?, API ?

Jawab :
M = (massa picnometer + gliserin 25 %) – (massa picno kosong)
= (51,57 gr) – (23,98 gr)
= 27,59 gr
m
Ρ =
v
27 ,59
=
25
= 1,1036 gr/cc
p
SG =
pair
1,1036 gr /cc
=
1

= 1,1036
141, 5 141.5
°API = – 131.5 = -131.5 = -3,8
SG 1,1036

Gliserin 75%
Diketahui : Berat Picnometer kosong = 23,98 gr

: Berat picnometer + Gliserin 75 % = 52,57 gr

: Volume Picnometer = 25 ml = 25 cc

Ditanya : massa ?. ρ ? , SG ?, API ?

Jawab :
M = (massa picnometer + gliserin 25 %) – (massa picno kosong)
= (52,57 gr) – (23,98 gr)
= 28,59 gr
m
Ρ =
v
28 ,59
=
25
= 1,1436 gr/cc
p
SG =
pair
1,1436 gr /cc
=
1

= 1,1436
141, 5 141.5
°API = – 131.5 = -131.5 = -7.76
SG 1,1436

Minyak Rem
Diketahui : Berat Picnometer kosong = 23,98 gr

: Berat picnometer + Minyak Rem = 47,57 gr

: Volume Picnometer = 25 ml = 25 cc

Ditanya : massa ?. ρ ? , SG ?, API ?

Jawab :
M = (massa picnometer + gliserin 25 %) – (massa picno kosong)
= (47,57 gr) – (23,98 gr)
= 23,59 gr
m
Ρ =
v
23 ,59
=
25
= 0.94 gr/cc
p
SG =
pair
0,94336 gr /cc
=
1
= 0,94
141, 5 141.5
°API = – 131.5 = -131.5 = 19,03
SG 0 ,94

Air Formasi
Diketahui : Berat Picnometer kosong = 23,98 gr

: Berat picnometer + Air Formasi = 45,57 gr

: Volume Picnometer = 25 ml = 25 cc

Ditanya : massa ?. ρ ? , SG ?, API ?


Jawab :
M = (massa picnometer + gliserin 25 %) – (massa picno kosong)
= (45,57 gr) – (23,98 gr)
= 21,59 gr
m
Ρ =
v
21 ,59
=
25
= 0.86 gr/cc
p
SG =
pair
0 , 86 gr /cc
=
1
= 0,86
141, 5 141.5
°API = – 131.5 = -131.5 = 33,03
SG 0 , 86

1.6.2 Penentuan Densitas,SG dan °API menggunakan alat labu volumetric

Diketahui : Berat Labu Volumetrik kosong = 42,92 gr

: Berat Labu + Crude Oil = 70,57

: Volume Labu Volumetrik = 50 ml = 50 cc

Ditanya : massa ?. ρ ? , SG ?, API ?

Jawab :
M = (massa picnometer + gliserin 25 %) – (massa picno kosong)
= (70,57 gr) – (42,92 gr)
= 27,65 gr
m
Ρ =
v
27 , 65
=
50
= 0.553 gr/cc
p
SG =
pair
0,553 gr /cc
=
1
= 0,553
141, 5 141.5
°API = – 131.5 = -131.5 = 124,37
SG 0,553

1.6.3. Penentuan SG dan °𝐴𝑃𝐼 menggunakan Hydrometer Jar


[Link] Oil

Diketahui : Specific Gravity = 1,0


Suhu = 29 ℃
Ditanya : °𝐴𝑃𝐼 𝑜𝑏𝑠𝑒𝑟𝑣𝑎𝑠𝑖 ?
°𝐴𝑃𝐼 𝑙𝑎𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 ?
Jawaban :
141, 5 141.5
°API = – 131.5 = -131.5 = 10
SG 1 ,0

°𝐴𝑃𝐼 𝑙𝑎𝑝𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛
Temperatur °𝐴𝑃𝐼

X1 83 ℉ Y1 8,9 °𝐴𝑃𝐼 1

X2 84,2 ℉ Y °𝐴𝑃𝐼 2

X3 85 ℉ Y2 8,8 °𝐴𝑃𝐼 3

x −x 1 Y −Y 1
Y =( )–( )
x 2−x 1 Y 2−Y 1
84 , 2−83 Y −8 , 9
Y =( )–( )
85−89 8 , 8−8 , 9
= 0,22

1.6.4. Konversi Suhu


Diketahui : temperatur crude oil = 61℃
Ditanya : konversikan suhu dari ℃ 𝑘𝑒 ℉, °𝐾, °𝑅 𝑑𝑎𝑛 °𝑅𝑎
Jawab :
9
a. F = ( x 29 ℃) + 32 ℃
5
= 84,2 ℉
b. °𝐾 = ℃ + 273
= 29 ℃ + 273
= 302 °𝐾
4
c. °𝑅 = ×℃
5
4
= × 29 ℃
5

= 232 °𝑅
9
d. °𝑅𝑎 = (273+29)
5

= 543,6 °𝑅𝑎

1.7 Pembahasan
Pada percobaan ini untuk menghitung densitas, spesifik gravity dan API dengan
bahan yang diuji yakni gliserin 25%, gliserin 50%, gliserin 75%, air formasi, dan
minyak rem, dan crude oil yaitu dengan menggunakan alat picnometer, labu
volumetrik, dan hydrometer jar. Bedasarkan pada percobaan ini picnometer
menggunakan gliserin 25%, gliserin 50%, gliserin 75%, air formasi dan minyak rem,
didapat nilai masing-masing yaitu : 24,69 gr, 27,59 gr, 28,59 gr, 45,57 gr, 47,57 gr.
Densitas ditentukan mengikuti cara (Tjokrowisatro, 1986). Mula-mula botol
piknometer yang kosong ditimbang, setelah itu kedalam piknometer yang kosong itu
dimasuki sampel samapai penuh dengan ditimbang kembali, densitas dihitung dengan :
m
p=
vp
Dimana : m= massa (piknometer+sampel) - massa piknometer kosong

Vp = volume piknometer

Spesifik gravity dan API gravity adalah suatu pernyataan yang menyatakan
densitas (kerapatan) atau berat per satuan volume dari suatu bahan, hubungan antara
spesifik gravity (SG) dan API gravity (G) dengan rumus :

141, 5
G= – 131,5
sg
Besarnya harga API gravity berkisar dari 0-100, sedangkan spesifik graity merupakan
harga relative dari densitas suatu bahan terhadap air.

1.7 Discussion
In this experiment to calculate the density, specific gravity and API with the
materials tested, namely 25% glycerin, 50% glycerin, 75% glycerin, formation water,
and brake fluid, and crude oil, using a picnometer, volumetric flask, and hydrometer
jar . Based on this experiment, the picnometer used 25% glycerin, 50% glycerin, 75%
glycerin, formation water and brake fluid, the respective values were obtained,
namely: 24.69 gr, 27.59 gr, 28.59 gr, 45.57 gr , 47.57 gr.
Density is determined following the method (Tjokrowisatro, 1986). First, an
empty pycnometer bottle is weighed, after that the sample is filled into the empty
pycnometer until it is full and weighed again, the density is calculated as: p = m/vp
Where: m= mass (pycnometer+sample) - mass of empty pycnometer
Vp = volume of pycnometer
Specific gravity and API gravity is a statement that states the density
(density) or weight per unit volume of a material, the relationship between specific
gravity (SG) and API gravity (G) with the formula: G = 141.5/sg – 131.5The value
of API gravity ranges from 0-100, while the specific gravity is the relative value of
the density of a material to water.
1.8 Kesimpulan
1. Dalam menentukan nilai densitas, kita menggunakan rumus pm/v. Picnometer dan
labu volumetric digunakan untuk mengukur densitas suatu fluida. Nilai densitas dan
SG dengan menggunakan picnometer dari fluida berbeda.
2. Dalam menentukan spesifik gravity, kita terlebih dahulu harus mengetahui nilai dari
densitas fluida.
3. Setelah kita mengetahui nilai SG, kitab isa mengetahui nilai API.

1.8 Conclution
1. In determining the density value, we use the pm/v formula. Picnometers and
volumetric flasks are used to measure the density of a fluid. Density and SG values by
using picnometers of different fluids.
2. In determining the specifics of gravity, we must first know the value of the density of
the fluid.
3. After we know the value of SG, the book of isa knows the value of API.

Tugas

1. Diketahui : Massa Picnometer kosong = 0,0557 lb =25,26gr


Massa Picnometer fluida = 0,257 lb = 116,57 gr
Volume Picnometer = 25 ml
Ditanya : Massa ?
𝜌 ?
SG ?
Jawab :
M = picno isi – massa picno kosong
= 116,57 – 25,26
= 91,31 gr
m
Ρ =
v
91 ,31
=
25
= 3,6524 gr/cc
p
SG =
pair
3,6524 gr /cc
=
1
= 3,6524
141, 5 141.5
°API = SG
– 131.5 =
3,6524
-131.5 = -92,758

2. Prinsip kerja dari labu volumetric adalah dengan cara membandingkan massa zat
crude oil dengan zat volume zat tersebut, labu volumetric digunakan untuk massa
densitas suatu zat.
3. Jelaskan Hubungan densitas dengan sifat Fluida lainnya, minimal 2 sifat fisik (1
Referensi) ?
Jawaab:
 Perbandingan densitas dengan viskositas berbanding lurus semakin tinggi
nilai densitas maka semakin tinggi pula viskositasnya.
 Perbandingan densitas dengan spesifik gravity berbanding lurus semakin
tinggi specific gravity suatu minyak maka semakin tinggi pula
densitasnya, specific gravity merupakan perbandingan fluida dengan
densitas air (Widya, 2015).

4. Diketahui : Berat Labu Volumetrik kosong = 52,18 gr


: Berat Labu + Crude Oil = 90,67

: Volume Labu Volumetrik = 50 ml = 50 cc

Ditanya : massa ?. ρ ? , SG ?, API ?


Jawab :
M = (massa Labu + crude oil) – (massa Labu kosong)
= (90,67 gr) – (52,18 gr)
= 38,49 gr
m
Ρ =
v
38 , 49
=
50
= 0.76 gr/cc
p
SG =
pair
0 ,76 gr / cc
=
1
= 0,76
141, 5 141.5
 °API Observasi = – 131.5 = -131.5 = 54,68
SG 0 ,76
 Crude oil ini memiliki °API = 54,68 Hal ini membuat crude oil berada pada
jenis minyak mentah ringan dimana standard minyak mentah ringan ini
memiliki nilai °API 30° atau lebih.
5. Jelaskan hubungan spesifik gravity dengan kualitas dari minyak
Jawab :
 Semakin tinggi °API minyak mentah, maka spesidic gravity dari minyak
akan semakin rendah, dan apabila semakin rendah °API dari minyak
mentah, maka specific gravity minyak semakin tinggi.
 Spesific gravity °API dijadikan ukuran untuk menentukan kualitas minyak.
PERCOBAAN II
(EXPERIMENT II)
PENENTUAN KANDUNGAN AIR DAN ENDAPAN SEDIMEN
( BS & W )
(BASE SEDIMENT AND WATER DETERMINATION
2.1. Tujuan Percobaan
Untuk menentukan kadar air dan endapan dari crudeoil denganmenggunakan BS & W
centrifuge.

2.2 Dasar Teori


Dalam produksi, air dan sedimen terbawa pada saat melakukan minyak. Hal ini dapat
memicu terjadinya korosi (pengkaratan), erosi (pengikisan)dan terbentuknya scale. Scale
merupakan padatan hasil kristalisasi dan pengendapan mineral dan air formasi yang
terproduksi bersama minyak dan gas. (Syahri, 2008).
Minyak yang diproduksi ke permukaan sering kali bercampur dengan sedimen-
sedimen yang dapat mempengaruhi proses laju produksi. Untuk itu endapan harus dipisahkan
salah satunya dengan metode centrifuge. Suatu suspensi atau campuran yang berada pada
suatu tabung (baik tabung besar maupun kecil) apabila diputar dengan kecepatan tertentu,
dengan gaya centrifugal dan berat jenis yang berbeda akan saling pisah, dimana zat dengan
berat jenis yang besar akan berada dibawah dan yang memiliki berat jenis rendah berada
diatas.
Terbentuknya korosi disebabkan oleh kandungan air yang memiliki zat oksigen
didalamnya sehingga alat produksi mengalami oksidasi. Terjadinya erosi disebabkan oleh
partikel-partikel sedimen yang membuat alat produksi terkikis sehingga akan menipis seiring
berjalannya waktu. Sedangkan, terbentuknya kristal kristal pembentuk scale berhubungan
dengan kelarutan masing-masing komponen dalam air formasi. Sedangkan kecepatan
pembentukan scale dipengaruhi oleh kondisi sistem formasi, terutama tekanan dan
temperatur.
Ada dua macam centrifuge yang digunakan dalam industri perminyakan, yaitu
shapplessuper centrifuge dan juga Da Lavat Separator. Penggunaan alat ini terutama untuk
ekstrasi padatan-padatan dalam minyak. Di kilang, alat ini juga digunakan untuk emulsi
minyak.
2.3. Alat Dan Bahan
2.3.1 Alat
1. Centrifuge tube 100 ml : 4 unit
2. Gelas Kimia : 1 unit
3. Gelas Ukur : 3 unit
4. Pipet tetes : 2 unit
5. BS & W Machine : 1 unit
6. Corong : 2 unit
2.3.2 Bahan
1. Sample minyak (Crude oil )
2. Toluena
3. Demulsifier

Gelas Ukur Centrifuge Tube

Gelas Kimia Pipet tetes

Corong BS & W Machine

Gambar 2.1 Peralatan percobaan II

2.4. Prosedur Percobaan


1. Menyiapkan sampel minyak 100 ml (Tabung 1 sebesar 50 ml dan tabung 2
sebesar 50 ml).
2. Memasukan toluena sebanyak 50 ml untuk tabung 1, dan 50 ml untuk
tabung 2.
3. Salah satu sampel diberi demulsifier sebanyak 2 s/d 3 tetes.
4. Kocok kedua sampel hingga homogen.
5. Masukkan sampel secara berpasangan ke dalam carousel yang disesuaikan
dalam bentuk tabung.
6. Mengatur timer dalam 10 menit serta setting temperatur sesuai dengan
kekentalan minyak.
7. Setting kecepatan putaran 1500-2000 RPM, dengan timer 10 menit.
8. Setelah timerberhenti, menunggu beberapa saat sampai putaran centrifuge
berhenti.
9. Mengambil centrifuge tube dan membaca BS & W dalam persen.

2.5. Hasil Pengamatan


Tabel 2.1 HasilPengamatanPercobaan II

Crude Air Wate BS& Oil


Toluen Demulsifie Lumpu r cut W
oil(ml formas Pasir cut
a (ml) r (tetes) r (ml) (%)
) i (ml) (%) (%)
0,01m 99,8
50 ml 50 ml - - 0,05 ml 0,1 0,12
l 8
0,01m 99,9
50 ml 50 ml 2 - 0.02 ml 0,04 0,06
l 4
0,02m 99,9
50 ml 50 ml 4 - 0,01 ml 0,02 0,06
l 4
0,03m 99,9
50 ml 50 ml 6 - 0,01 ml 0,02 0,08
l 2

Pekanbaru, 13/12/2022
(Kahfi Aulia Rahman) (Della Azlia Oktavia)
2.6. Perhitungan
1. Sample with Demulsifier
Diketahui : Volume air : 1,25 ml
Volume endapan : 0,25 ml
Volume total : 100 ml
Ditanya : a. BS & W
b. Water Cut
c. Oil cut
Jawab :
V air+Vendapan
a. BS & W = 100 %
Vtotal
1, 25 ml+ 0 , 25 ml
= 100 %
100 ml
= 1,5 %
Vair
b. Water Cut = 100 %
Vtotal
1, 25 ml
= 100 %
100 ml
= 1,25%
c. Oil cut = 100% - % BS & W
= 100% - 1,5%
= 98,5%

2. Sample Non Demulsifier


Diketahui : Volume air : 0,25 ml
Volume endapan : 0,25 ml
Volume total : 100 ml
Ditanya : a. BS & W
b. Water cut
c. Oil cut
Jawab :
V air+Vendapan
a. BS & W = 100 %
Vtotal
0 ,25 ml+0 , 25 ml
= 100 %
100 ml
= 0,5 %
Vair
b. Water Cut = 100 %
Vtotal
0 ,25
= 100 %
100
= 0,25 %
c. Oil cut = 100% - % BS & W
= 100% - 0,5%
= 99,5 %

2.7 Pembahasan

Percobaan kali ini digunakan sample minyak sebanyak 100 ml yang dibagi pada 2
tabung centrifugal sebanyak 50 ml pada tabung 1 dan 50 ml pada tabung 2. Masing-masing
tabung diisi dengan 50 ml toluena. Pada tabung 1 kami berikan 2-3 tetes demulsifier.
Kedua tabung dikocok hingga homogen. Sampel dimasukkan secara berpasangan kedalam
corousel yang disesuaikan dengan bentuk tabung. Percobaan dilakukan selama 10 menit
dan temperatur disesuaikan dengan kekentalan minyak. Kecepatan pemutaran disetting
pada 1500-2000 RPM. Tunggu hingga putaran centrifuge berhenti lalu baca BS & W dalam
persen.

Hasil dari percobaan mendapatkan 1,25 ml air dan 0,25 endapan pada sample
tabung pertama yang berisikan 3 tetes demulsifier. Pada tabung kedua kandungan air yang
terbaca sebanyak 0,25 dan kandungan endapan sedimen sebanyak 0,25 ml air. Pada tabung
pertama terhitung 1,5% persentase BS & W, 1,25% water cut dan 98,5% Oil Cut.
Sedangkan pada tabung kedua terhitung 0,5% BS & W, 0,25% water cut dan 99,5% oil cut.
Terlihat perbedaan yang cukup signifikan antara tabung 1 dan tabung 2. Hal ini disebabkan
tabung 1 yang diberikan demulsifier, dan tabung 2 tidak diberikan demulsifier.
Dikarenakan demulsifier ini berfungsi sebagai pemecah antara emulsi air dan minyak. Hal
ini dibuktikan dengan tabung 1 yang diberi 3 tetes demulsifier ini memiliki kandungan air
sbanyak 1,25%, sedangkan tabung 2 hanya memiliki 0,25% kandungan air. Dengan
demikian pemberian demulsifier dapat dikatakan efektif untuk memisahkan kandungan air
dalam minyak.

Dari percobaan kali ini dapat disimpulkan bahwa Crude Oil memiliki kandungan
sedimen dan air didalamnya yang terbawa pada saat proses produksi. Kandungan-
kandungan ini disebut jga dengan impurities, atau zat pengotor. Dikatakan demikian karena
kandungan tersebut dapat mempengaruhi laju produksi migas. Kandungan-kandungan
tersebut dapat menyebabkan hal yang tidak diinginkan dan merugikan. Hal-hal yang
disebabkan oleh kandungan tersebut, diantaranya:

1. Korosi atau pengkaratan.


2. Erosi atau pengikisan.
3. Pembentukan Scale atau padatan.

Untuk menegah terjadi hal-hal diatas, pemisahan kandungan air dan kandungan sedimen
perlu dilakukan.

2.8 Kesimpulan

1. Persentase BS & W pada Crude Oil dapat berbeda beda. Faktor-faktor yang
mempengaruhi persentase BS & W diantaranya :
A. Penyebaran air yang tidak merata dalam batuan reservoir
B. Kondisi dan formasi ( kompak atau tidak kompak)
2. Demulsifier merupakan zat kimia yang mampu memecah emulsi air dan minyak.
3. Persentas BS & W mempengaruhi kualitas minyak. Semakin kecil % BS & W nya
smakin tinggi kualitas minyak.
4. BS & W Centrifuge memanfaatkan berat jenis zat untuk pemisahannya. Air yang
memiliki berat jenis yang lebih besar akan berada pada bagian bawah.
5. %BS & W di pengaruhi kadar air dan kadar endapan sedimen yang berada pada
minyak. Semakin tinggi kadar air dan sedimen maka semakin tinggi persentase BS
&W

2.9 Tugas

1. Jelaskan definisi dari BS & W dan Water Cut!


Jawab:
BS & W merupakan persenan kandungan sedimen dan air yang terkandung didalam
minyak mentah.( Mahdi, dkk. 2017)
Water Cut adalah persentase air yang terdapat didalam minyak.
2. Apa yang dimaksud dengan emulsi? Mengapa dalam produksi minyak dapat terjadi
emulsi? Dan mengapa air dan endapan harus dipisahkan dari minyak?
Jawab:
Emulsi merupakan campuran dari macam macam cairan yang dalam kondisi normal
dapat bercampur, dimana dalam emulsi ii salah satu cairan dihamburkan dalam
cairan yang lain dalam bentuk butiran-butiran yang sangat kecil. (Wahyuni, 2021).
Scale merupakan padatan hasil kristalisasi dan pengendapan mineral dari air
formasi yang terproduksi bersama minyak bumi.(Syahri, 2008).
3. Pada percobaan 2 menggunakan Toluena, Apa fungsi toluena pada percobaan kali
ini?
Jawab:
Metode destilasi ini akan menguapkan air dengan “pembawa” cairan kmia yang
mempunyai titik didih tinggi dari pada air dan tidak dapat bercampur dengan air
serta mempunyai berat jenis yang lebih rendah daripada air.(Haryono, 2003)
Zat yang dimaksud disini ada Toluena.
4. Berdasarkan analisa BS & W yang dilakukan pada salah satu sampel dari sumur X,
diketahui bahwa terdapat kandungan air dan sedimen yang sangat besar didalam
Minyak. Jelaskan kemungkinan Masalah yang akan terjadi saat produksi apabila
tidak ditangani!
Jawab:
A. Terbentuknya scale akibat air formasi yang dapat menghambat laju
produksi.
B. Terjadinya korosi pada alat akibat oksidasioleh oksigen yang terdapat pada
air.
C. Terjadinya Erosi akibat Partikel-partikel padat yang dapat merusak alat.
5. Bagaimana hubungan anara densitas, vikositas, dan API terhadap emulsi?
A. Densitas dan emulsi
Minyak dan air jika tercampur akan membentk lapisan pemisah permukaan
antara kedua zat tersebut. Hal ini disebabkan karena perbedaan densitas.
(Azmi, 2016).
B. API dan emulsi
API merupakan satuan yang menyatakan berat jenis minyak. Oleh karena itu
semakin rendah API nya maka suatu cairan akan semakin berada paling
bawah.
C. Viskositas dan Emulsi
Ketika dua cairan yang terpisah distabilkan maka akan terjadi penurunan
viskositas.(Sunandar, 2021).
PERCOBAAN III
(EXPERIMENT III)
ANALISA KIMIAWI AIR FORMASI
(CHEMICAL ANALYSIS OF FORMATION WATER)

3.1 Tujuan Percobaan


Untuk menentukan besarnya harga indeks stabilitas guna mengetahui
tingkat pengendapan perkaratan yang disebabkan oleh air formasi.

3.2 Teori Dasar


Air formasi disebut pula dengan oil field water atau connate water atau
interstitial water yaitu air yang terproduksi bersama-sama dengan minyak
dan gas, karena adanya gaya dorong dari air (water drive) yang mengisi pori-
pori yang ditinggalkan minyak. Air formasi hampir selalu ditemukan didalam
reservoir [Link] formasi diperkirakan berasal dari laut yang ikut
terendapkan bersama dengan endapan sekelilingnya, karena situasi
pengendapan batuan reservoir minyak terjadi pada lingkungan pengendapan
laut.
Keberadaan airformasi akan menimbulkan gangguan pada proses
produktifitas sumur, tetapi walau demikian keberadaan air formasi juga
mempunyai kegunaan cukup penting, antara lain :
1. Untuk mengetahui penyebab korosi pada peralatan produksi suatu
sumur.
2. Untuk mengetahui adanya scale formation.
3. Untuk dapat menentukan sifat lapisan dan adanya suatu
kandungan yodium dan barium yang cukup besar dan dapat
digunakan untuk mengetahui adanya reservoir minyak yang cukup
besar.
Adapun kesulitan yang ditimbulkan karena adanya air formasi adalah :
1. Adanya korosi
2. Adanya solid deposit
3. Adanya scale formation
4. Adanya emul
3.3 Alat dan Bahan
3.3.1. Alat
1. Gelas Ukur 500 ml : 3 unit
2. Gelas Ukur 100 ml : 1 unit
3. Gelas Ukur 25 ml : 2 unit
4. Gelas Ukur 10 ml : 2 unit
5. Gelas Kimia 250 ml : 4 unit
6. Labu Erlenmeyer : 6 unit
7. Pipet Tetes : 9 unit
8. PH Meter : 1 unit
9. Statif : 3 unit
10. Corong : 3 unit
11. Buret : 3 unit
12. Batang Pengaduk : 3 unit

3.3.2. Bahan
1. Air suling
2. Air formasi
3. Metyl orange
4. Phenolptalein
5. K2CrO4
6. AgNO3
7. H2SO4
pH meter Labu Erlenmeyer

Statif + labu Buret Gelas kimia

Corong

Gambar 3. 1 Alat Percobaan Analisa Kimiawi Air Formasi


3.3 Prosedur Percobaan
A. Penentuan pH
1. Dengan menggunakan pH meter dapat langsung menentukan harga
pH dari sample.
2. Dengan alat ukur elektrolit,kalibrasi alat sebelum digunakan dengan
cara :Mengisi botol dengan larutan buffer yang telah diketahui harga
pH-nya, memasukkan elektroda pada botol yang berisi larutan
[Link] tombol kalibrasi sampai digit menunjukkan harga pH
larutan buffer.
3. Mencuci botol dan elektrodanya sebelum digunakan untuk menguji
sample dengan air destilasi untuk mencegah terjadinya kontaminasi.

B. Penentuan Alkalinitas

Alkali dari suatu cairan biasa dilaporkan sebagai ion CO3-,HCO3-, dan OH-
, dengan mentritrasi air sample dengan larutan asam lemah dan larutan
indikator. Larutan petunjuk (indicator) yang digunakan dalam penentuan

kebasahan CO3- dan OH- adalah Phenolptalein (PP), sedangkan Metyl Orange
-
(MO) digunakan sebagai indikator dalam penentuan HCO3 .
 Prosedur Percobaan
1. Mengambil contoh air pada gelas titrasi sebanyak 1 cc dan
menambahkan larutan Phenolptalin (PP) sebanyak 2 tetes.
2. Mentitrasi dengan larutan H2SO40.2 N sambil digoyang. Warna akan
berubah dari pink menjadi jernih. Mencatat jumlah larutan asam
tersebut sebagai Vp.
3. Menetesi lagi dengan 2 tetes Metil Orange, warna akan berubah menjadi
orange.

4. Mentitrasi lagi dengan H2SO4 0.2 N sampai warna menjadi merah /


merah muda. Mencatat banyaknya larutan asam total yaitu : jumlah
asam (2) + asam 4 sebagi Vm.
 Perhitungan
Kebasahan P = Vp / banyaknya cc contoh air
Kebasahan M = vm / banyaknya cc contoh air
Penentuan untuk setiap ion dalam mili equivalen (me/L) dapat ditentukan
dari table berikut :
Tabel 3. 1 Klasifikasi Konsentrasi Ion
HCO3- CO32- OH-

P=0 M x 20 0 0

P=M 0 0 20 x P

2P = M 0 40 x P 0

2P < M 20 x ( M – 2P ) 40 x P 0

2P > M 0 40 x ( M – P) 20 x ( 2P – M)

C. Penentuan Kalsium Dan Magnesium


 Penentuan Kesadahan total :
1. Mengambil 20 ml air suling dan menambahkan 2 tetes larutan buffer
kesadahan total dan 1 tetes indikator, warna harus biru asli (jernih).
2. Menambahkan 5 ml contoh air, warna akan berubah merah.
3. Mentitrasi dengan larutan kesadahan total hingga warna kembali
jernih, mencatat volume pentitrasi.
4. Perhitungan :
Bila menggunakan larutan 1 ml = 2 epm
ml liter×2
Kalsium, me/L =
ml contoh air

Bila menggunakan larutan 1 ml = 20 epm


ml liter×20
Kalsium, me/L =
ml contoh air

Konversi kadar Ca dalam mg/L = Ca, mg/L *20

 Penentuan Kalsium (Ca)


1. Mengambil 20 ml air suling, menambahkan 2 tetes larutan buffer
calver dan 1 tepung indicator calcer II, warna akan berubah
menjadi cerah.
2. Menambahkan 5 cc air yang dianalisa. Bila ada Ca larutan yang
berubah menjadi kemerahan.
3. Mentitrasi dengan larutan kesadahan total 20 epm, warna akan
berubah jernih, mencatat volume titrasi.

 Penentuan Magnesium (Mg)


Magnesium, me / L = ( kesadahan total, me/L) – (kalsium, me/L)
= Magnesium, me / L x 12,2

D. Penentuan Klorida
1. Mengambil 20 ml air sample, menambahkan 5 tetes K2CrO4,
warna akan menjadi bening.
2. Mentitrasi dengan larutan AgNO3 1 ml = 0,001 g CL sampai
warna coklat kemerahan, mencatat volume pentitrasi.
3. Jika menggunakan AgNO3 0,0001N :
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑒𝑟˙1000
Kadar Cl, mg/L =
𝑚𝑙 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑎𝑖𝑟
Jika menggunakan AgNO3 0,01 N :
𝑚𝑙 𝑡𝑖𝑡𝑒𝑟 ˙10000
adar CI, mg?L =
𝑚𝑙 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ 𝑎𝑖𝑟

E. Penentuan Sodium
1. Mengkonversikan mg/L anion dengan me/L dan menjumlahkan harganya.
2. Mengkonversikan mg/L kation menjadi me/L dan menjumlahkan
harganya.
3. Kadar sodium ( Na ), mg/L = (anion – kation) x 23

F. Grafik Hasil Analisa Air


Hasil analisa air sering dinyatakan dengan bentuk grafik. Kita dapat
menandai perbedaan dari conroh air dengan membandingkan dua macam contoh
air (atau lebih) dari grafik tersebut.

G. Perhitungan Indeks Stabilitas CaCO3


Indeks stabilitas ini didapat dengan memplotkan jumlah harga tenaga ion
dengan Ca dan CO3, pada grafik yang telah disediakan, bila indeks berharga
positif berarti air sample memiliki gejala membentuk endapan dan apabila bernilai
negatif bersifat korosif.
43
3.4 Perhitungan
A. Penentuan pH
Data : pH air formasi 7 ml = 7 (𝑁𝑒𝑡𝑟𝑎𝑙)

B. Penentuan Alkalinitas
Data :Vp = 1,8 ml (jernih)
Vm = 2,7 ml (merah muda)
Vs 1m

Ditanya : kebasahan P dan M ?


: Klasifikasi konsentrasi ion HCO3- , CO3- , OH- ?
Jawab :
HCO3- CO3- OH-

P=0 𝑀 × 20 0 0

P=M 0 0 20 × 𝑃

2P = M 0 40 × 𝑃 0

2P < M 20 × (𝑀 − 2𝑃) 40 × 𝑃 0

2P > M 0 40 × (𝑀 − 𝑃) 20 × (2𝑃 − 𝑁)

Vp 1,8 ml
 P= = = 1,8
VS 1 ml
Vm 2,7 ml
 M= = = 2,7
VS 1 ml

Dari tabel alkalinitas maka nilai yang di dapatkan ialah 2P > M


2P > M = 2(1,8) > 2,7
= 3,6 > 2,7
Berdasarkan sampel yang diuji maka kami mendapatkan nilai 2P>M
-

HCO3 = 0 𝑀𝑔/𝐿

CO3- = 40 𝑋 (𝑀 − 𝑃)
= 40 𝑋 (2,7 − 1,8)
44

= 40 𝑋 0,9
= 36 𝑀𝑔/𝐿

OH- = 20 𝑋 (2𝑃 − 𝑀)
= 20 𝑋 (2(1,8) − 2,7)
= 20 𝑋 (3,6 − 2,7)
= 18 𝑀𝑔/𝐿

C. Kesadahan Total
Diketahui : 𝑉𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 = 1 ml
: 𝑉𝑤𝑎𝑡𝑒𝑟 = 10 ml = 0,01 L (𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙)
: Vedta = 50 ml = 0,05 L
Ditanya : CaC𝑂3 (Mg/L)

CaC𝑂3 (Me/L)
Jawab :
Mg CaC𝑂3 = Vedta x Medta x Mr CaC𝑂3 x 1000
= 0,05 x 0,01 x 100 x 1000
= 50 mg

 CaC𝑂3 Mg CaC𝑂3
(Mg/L) =
𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

50
=
0,01

= 5000 Mg/L

• CaC𝑂3
CaC𝑂3 (Mg/L) X Mr CaC𝑂3
(Me/L) =
𝐼𝑜𝑛

5000 𝑀𝑔/𝐿 𝑋 100 𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙


=
1

= 5.000.000 Me/L

D. Penentuan Klorida
Diketahui = VS = 14 mL = 0.014
= VWater = 20 mL = 0,02 L
45

Ditanya : Cl- (Mg/L) ?


: Cl- (Me/L) ?
Jawab :

 Cl- (Mg/L) = 𝑉𝑡𝑖𝑡𝑟𝑎𝑠𝑖 𝑥 1.000


𝑉𝑤𝑎𝑡𝑒𝑟

0,0047 𝑥 1.0002

= 235 𝑀𝑔/𝐿
 𝐶𝑙−(Mg/L) 𝑥 𝑀𝑟 𝐶𝑙−
Cl- (Me/L) = 𝑖𝑜𝑛

235 𝑀𝑔⁄𝑙 𝑋 35,5


=
= 8.342,5 𝑀𝑒/𝐿

3.6 Pembahasan
Pada praktikum ketiga telah dilakukan analisa kimiawi air formasi yang
ikut terpoduksi bertujuan untuk menentukan kandungan ion-ion dalam air formasi
tersebut sehingga dapat mengetahui seberapa besar kandungan kecenderungan dan
jenis scale dapat terbentuk evalusi untuk memperkirakan kecenderungan
pembentukan scale biasanya difokuskan pada scale jenis karbonat dan sulfat
( Alighiri et al., 2018 )

Pembentukan scale pada alat gathering station merupakan permasalahan


yang dapat menjadi serius jika tidak dilakukan upaya pencegahan awal beupa
penentuan scale yang berasal dari air formasi yang berproduksi. (Ahmad & said,
2015)
46

pada analisa kimiawi air formasi dilakukan 4 percobaan yaitu perhitungan


PH, penentuan alkalinitas, penentuan kesadahan total dan penentuan klorida yang
didapatkan datanya dari hasil perhitungan an berikut perhitungan PH bernilai 7
yaitu bersifat netral , pada penentuan alkalinitas didapatkan kebahasaan p & m
yaitu 1,8 dan 2,7 , pada tabel konsentran ion berdasarkan sampel yang telah diuji
terdapat

HCO3- , CO3- , OH- , Pada kesadahan total terdapat CaC𝑂3(Mg/L) di dapatkan


nilai 5000 Mg/L, Namun pada CaC𝑂3(Me/L) di dapatkan nilai 5.000.000

- -
Me/L, pada percobaan penentuan klorida CL (Mg/L) yaitu 700 Mg/L pada CL
(Me/L) yaitu 24.850 Me/L.

Dalam percobaan ini adapun aplikasi lapangan yaitu percobaan ini


dilakukan untuk mengidentifikasi apakah didalam air formasi terdapat bahan
kimia yang menyebabkan erosi, perkaratan, scale. Yang nantinya dapat
mengganggu proses produksi minyak bumi, dan memanfaatkan air formasi
sebagai pendorong untuk minyak di produksikan.

3.6 Discussion

In the third practicum, a chemical analysis of the formation water that was
produced was carried out to determine the content of ions in the formation water
so that it could determine how much the tendency and type of scale could be
formed. Evaluation to estimate the tendency of scale formation is usually focused
on carbonate and sulfate scale types (Alighiri et al., 2018).

Scale formation on the gathering station equipment is a problem that can


be serious if no initial prevention efforts are made in the form of determining the
scale originating from the producing formation water. (Ahmad & said, 2015)
47

In the chemical analysis of formation water, 4 experiments were carried


out, namely the calculation of PH, determination of alkalinity, determination of
total hardness and determination of chloride obtained data from the following
calculation results PH calculation is worth 7, which is neutral, in the
determination of alkalinity obtained p & m language, namely 1.8 and 2.7, in the
ion concentration table based on the samples that have been tested there are

HCO3-, CO3-, OH-, In total hardness there is CaC𝑂3 (Mg / L) obtained a value of
5000 Mg / L, but in CaC𝑂3 (Me / L) obtained a value of 5,000,000 Me / L, in the
experiment to determine chloride CL- (Mg / L) is 700 Mg / L on CL- (Me / L) is
24,850 Me / L.

In this experiment, there is a field application, namely this experiment is


carried out to identify whether the formation water contains chemicals that cause
erosion, rust, scale. Which later can interfere with the petroleum production
process, and utilize formation water as a booster for oil production.

3.7 Kesimpulan

ada percobaan ini pH dari air formasi adalah 7 dan itu bersifat netral dan
juga pengendapan scale dapat terjadi karena adanya perubahan komposisi ion air
formasi pH tekanan dan suhu pada tekanan jika menurun maka gas CO 2 akan
terlepas dari ion ion bikarbonat HCO3, kelarutan dari scale CaCO3 pada temperatur
besarnya temperatur berbanding lurus dengan tingkat kecenderungan terbentuknya
scale, pada pengaruh pH semakin rendah pH maka semakin kecil pula
kemungkinan terbentuknya scale.

3.8 Tugas

1. Mengapa air formasi menyebabkan terjadinya formation damage?


48

Jawab : dapat terjadi karena adanya kontak oleh fluida dengan air formasi yang
tidak sesuai sehingga dapat menghambat jalannya produksi. ( Rahma, 2020 )

2. Bagaimana cara menangani scale formation yang disebabkan oleh air formasi?

Jawab : Dengan melakukan scale inhibitor di mana scale inhibitor adalah bahan
kimia yang bisa mencegah dan menghentikan terbentuknya scale bila ditambahkan
pada konsentrasi yang kecil pada air penggunaan scale inhibitor ini ini sangat
menarik karena dengan dosis yang rendah dapat mencegah scale dalam periode
yang sama. ( Kamaruzzaman, 2021 )

3. Mengapa air formasi dapat mengganggu produktivitas sumur?

Jawab : Karena pembentukan scale berkaitan dengan komposisi air di dalam air
formasi, sehingga permasalahan yang didapat mempengaruhi penurunan produksi
pada reservoir adalah adanya endapan scale yang terdapat dalam formasi maupun
pada peralatan produksi.( Adam, 2021 )

4. Sebutkan aplikasi lapangan dari percobaan 3?

Jawab : Karena banyaknya air formasi yang ikut berproduksi ke permukaan bisa
dimanfaatkan untuk beberapa kebutuhan dalam industri Migas baik untuk injeksi
ke dalam reservoir sebagai pressure maintenance dan sebagai pendorong minyak
atau yang biasa diketahui sebagai water floud yang merupakan bagian dari proses
EOR. ( T- Hartanti, 2022 )

5. Dalam percobaan penentuan


alkalinitas Diketahui: Vp = 2,7 ml
49

Vm = 2,6
ml

Vsampel =1 ml Ditanya : kebasahan P dan M ?


: Klasifikasi konsentrasi ion HCO3- , CO3- , OH- ?
Jawab :
2,2 𝑚𝑙
P = 𝑉𝑝
= = 1,1 𝑚𝑙
𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 1 𝑚𝑙
2,3 𝑚𝑙
M= 𝑉𝑝
= = 1,15 𝑚𝑙
𝑉𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙 1 𝑚𝑙

Dari tabel alkalinitas maka nilai yang di dapatkan ialah 2P > M.


PERCOBAAN IV
(EXPERIMENT IV)
PENENTUAN VISCOSITAS
(DETERMINIG OF VISCOSITY)

4.1 Tujuan Percobaan


1. Menentukan konstanta alat viscometer ostwald.
2. Menentukan viscositas fluida yang mengalir pada pipa kapiler.

4.2 Teori Dasar


Viscositas fluida newtonian yang mengalir melalui pipa diukur berdasarkan
persamaan pouseulle :

𝛑 .𝐫𝟐 .𝐭 .∆𝐏
=
𝟖.𝐕 .𝐋

Dimana :

 = Viskositas (poise)
r = Jari – jari pipa kapiler (cm)
t = Waktu pengaliran (detik)
P = Tekanan (dyne / cm)
V = Volume cairan (cc)
L = Panjang pipa kapiler (cm)

Ada bermacam–macam viskometer tipe pipet yang dapat digunakan


untuk menentukan viskositas kinematis, baik untuk produk minyak yang tembus
pandang (transparan) maupuntidak. Adapun rumus yang digunakan untuk
menghitung viskositas kinematis adalah :

kin = C . t

Dimana :
kin = Viskositas kinematik (poise)
C = Konstanta alat oswald (centi stroke / detik)
t = Waktu pengaliran (detik)

55
Untuk menjamin agar aliran cairan dalam pipa kapiler viskometer
laminer, harus digunakan viskometer yang mempunyai ukuran pipa kapiler
sedemikian sehingga waktu alir lebih dari 200 detik. Pada dasarnya pengukuran
viskometer kinematis produk minyak bumi adalah mengukur waktu alir produk
minyak bumi yang mempunyai volume tertentu melalui pipa kapiler viskometer
pada suhu tertentu. Selain viskositas kinematik ada pula viskositas dinamis.
Untuk menghitung viskositas dinamis digunakan rumus di bawah ini :

din = d . kin

Dimana :
d = Spesific gravity

Disamping viskometer tipe pipet diatas, viskositas minyak bumi dan


produknya pernah ditentukan dengan menggunakan viskosimeter saybolt, namun
uji ini sekarang sudah tidak digunakan. Kekentalan saybolt adalah waktu alir
dalam detik, yang diperlukan untuk mengalir contoh sebanyak 60 cc dari suatu
tabung viskosimeter pada suhu tetap melalui lubang (orifice) yang telah
dikalibrasi yang terdapat pada dasar tabung viskosimeter.
Tetapi penentuan viskositas absolute secara langsung adalah hal yang sulit,
karena beberapa faktor yang sulit [Link] pengukuran viskositas adalah
mengukur waktu yang diperlukan cairan untuk mengalir dalam jumlah tertentu
melewati pipa kapiler dengan panjang tertentu yang disebabkan dorongan
gravitasi. Dengan menggunakan alat yang sama ditentukan waktu yang
diperlukan fluida-fluida lainnya untuk mengalir melewati pipa kapilernya.
Untuk pengukuran dari dua alat dengan menggunakan alat yang sama,
dapat di turunkan hubungans ebagai berikut :

µ1 𝑑 1 . 𝑡1
=
µ2 𝑑 2 . 𝑡2

Dimana :
µ = Viskositas Absolut (poisse)
d = DensitasCairan (gr/cc)
t = Waktu yang di perlukan cairan untuk mengalir melalui pipa
kapiler (detik).
Konstanta alat dapat ditentukan dari hubungan:
µkin = C .t
Dimana :
µkin = viskositaskinimatik (poisse)
C = konstantaalat Oswald (centi stroke/detik)
t = waktupengaliran (detik)
Viskositas dinamik (absolute) di tentukan dari hubungan :
µdin = d . µkin
Dimana :
µdin = viskositasdinamik (senti stroke)
d = densitas (gr/cc), pada temperature yang sama dengan yang
digunakan untuk mengukur waktu aliran.
µkin = viskositas kinematik (senti stroke)

Viskositas dari campuran larutan yang dapat tercampurkan (miscible


liquid mixture) dapat di hitung dengan menggunakan persamaan Kendal Monroe :
𝟏/𝟑
µ𝒎 = 𝒙𝟏 . µ𝟏 + 𝒙 𝟐 . µ
𝟏/𝟑 𝟏/𝟑

Dimana :
µ𝑚 = viskositas campuran

Cairan yang tidakdapat di campurkan (Immiscible Liquid Mixture) dapat


di hitung dengan menggunakan persamaan Taylor berikut :
µ𝑚
= 1 + 2,5ϕ: D µ𝑑 + 0,4 µ𝑐

µ𝑐 µ𝑑+ µ𝑐

µ𝑑dan µ𝑐 menyatakan fasa kontinu dan fasa disperse. Untuk d = 0,03


digunakan persamaan Arrhenius :
µ𝑚 = ( 𝑥1 . µ1 ) . ( 𝑥2 . µ2 )
Dimana :

𝑥1dan 𝑥2 = fraksi mol dari masing-masing zat


Φ = fluiditas

4.3 Alat Dan Bahan


4.1.1 Alat :
1. Gelas kimia 100 ml : 2 Unit
2. Picnometer 25 ml : 2 Unit
3. Redwood Viskosimeter : 1 Unit
4. Viskosimeter Ostwald : 1 Unit
5. Stopwatch : 1 Unit
6. Bola Karet : 1 Unit
7. Gelas ukur : 1 Unit
8. Corong : 1 Unit
9. Termometer : 1 Unit
10. Timbangan

4.1.2 Bahan :
1. Crude Oil 250 ml
2. Gliserin 25 %
3. Gliserin 50 %
4. Gliserin 75 %
5. Minyak Rem
6. Bensin
Gelas Kimia Picnometer

Redwood Viskometer Viskometer Ostwald

Termometer Stopwatch
Pemanas Listrik Bola Karet

Corong Gelas Ukur

Gambar 4. 1 Peralatan praktikum percobaan IV

4.4 Prosedur Percobaan


1. Menentukan Viskositas dengan Viscosimeter Oswald
Menentukan Viskositas Cairan
1. Sebagai larutan standart dipakai air.
2. Siapkan Viskosimeter Oswald yang bersih dan kering. Masukkan 10
ccairyang telah diukur suhunya kedalam Viskosimeter. Tunggu
sampai temperature air dan alat benar-benar sama.
3. Hisap cairan dalam Viskosimeter dengan bola karet sampai cairan
beradakira-kira 1 mm diatas batas semula.
4. Ukur waktu pengaliran air untuk melewati batas-batas yang tertera
padabatas Oswald. Jika waktu pengaliran lebih kecil dari 200 detik,
pilihviskosimeter yang lebih kecil dan ulangi prosedurnya.
Catatan:Densitas larutan diukur pada temperature yang sama dengan
yang digunakan untuk mengukur waktu pengaliran.
2. Menentukan Densitas Gliserin
1. Buat 40 ml larutan = 25%, 50% dan 75% gliserin dalam air.
2. Timbang picnometer kosong.
3. Isi picnometer dengan larutan dan timbang.
4. Selisih berat picnometer yang berisi larutan dan picnometer
kosong adalah berat larutan.
5. Karena volume picnometer diketahui, maka densitas larutan
dapat dicari.
6. Densitas masing-masing larutan kemudian dapat diketahui.

2. Menentukan Viscositas dengan Redwood Viscosimeter


1. Bersihkan dan keringkan oil cup dengan pelarut yang sesuai untuk alat,
misalnya karbon tertraklorida dan kemudian keringkan dengan seksama
menggunakan tissue atau bahan yang tidak akan meninggalkan bulu
apapun.
2. Mengisi water bath dengan air himgga penuh (melimpah).
3. Menghubungkan steker ke soket 220V.
4. Untuk memulai pemanasan air, tekan on pada saklar motor stirrer.
5. Meletakkan thermometer pada thermoregulator (oil cup) untuk
memastikan bahwa thermostat dan thermometer benar-benar pada
temperature yang sama.
6. Set temperature yang diinginkan pada water bath:
 Hidupkan saklar (main switch) pada unit
 Setelah inisialisasi lengkap thermoregulator set point akan
dicapai secara otomatis.
 Tekan SET untuk melihat temperature yang sebenarnya dan
gunakan tombol P (temperature yang diinginkan) dan U
(temperature mula-mula) untuk mengubah/memodifikasi
temperature.
7. Atur safety thermostat dibawah temperature maksimal (98C)
8. Tuangkan dua sampel yang berbeda ke dalam oil-cup.
9. Meletakkan gelas ukur 50ml dibagian bawah lid oil cup untuk
menampung sampel.
10. Ketika suhu sampel mencapai yang diinginkan, angkat kawat batang
penutup pada oil cup untuk mengalirkan sampel keluar dan jatuh
kedalam gelas ukur 50ml. lakukan secara bersamaan dari kedua sampel
yang berbeda
11. Hidupkan stopwatch catat waktu pengaliran sampel hingga mencapai
50ml. waktu pengaliran tidak kurang dari 200 detik.
12. Hentikan stopwatch apabila mencapai 50 ml dan catat waktu pengaliran.

4.5 Hasil Pengamatan


Tabel 4. 1 Viskosimeter Ostwald
No. Sample Waktu Densitas SG kin din
(s) (gr/cc) (Cs) (Cs)
1 Air Formasi 0,43 0,405 0,405 0,214 0,086
2 Gliserin 25% 1,21 0,4916 0,49 0,244 0,119
3 Gliserin 50% 1,42 0,89 0,89 0,35 0,31
4 Gliserin 75% 1,88 1,075 5,075 0,938 1,008
5 Minyak Rem 14,52 0,58 0,58 2,77 1,600

Tabel 4. 2 Redwood Vikosimeter


No. Temperatur Volume Waktu Alir Viskositas
(°C) (ml) (detik) (Stoke/st)
1 40 50 125,05 0,0152
81
2 50 50 44,53 0,0043
53
3 60 50 36,97 0,0030
1
 upaya lebih optimal.

4.4 Perhitungan
4.4.1 Menggunakan viskosimeter astwald
1.)Air formasi
Diketahui: v picno =25ml
T air =0,439
C =0,4994 st/s
P air =10,1495
Ditanya: a.p c. µdin
[Link] d. µkin
jawab:
a. p=
M

V
= 10,14
______ =0,405 gr/cm3
25
b. sg= p 0,405
___ = ______ = 0,405
Pair 1
c. µkin = c.t
=0,4994 st/s.0,43s=0,214 st
d. µdin = p sampel x µkin
= 0,405 x 0,214 = 0,086 p
2.) Gliserin 25%
Diketahui= v picno=25ml
T gliserin=1,215
C =0,4994 st/s
N gliserin=12,25gr
Ditanya : a.p c. µdin
[Link] d.µdin
jawab :
a.p=m 12,29gr
____ = _______=0,4916 gr/cm3
V 25ml
[Link]=p 0,49
___=_____=0,49
Pair 1
c. µkin=c.t
=0,4994 st/s. 0,49 s=0,24 s/st
d.µdin=p sampel x µkin
=0,49 x 0,244 =0,119 p

[Link] 50%
* v picno=25ml
T gliserin=1,425
C =0,4994 st/s
N gliserin=22,47
Ditanya=a.p c.µkin
[Link] d.µdin
jawab: a.p= m 22,47
____=_____ =0,89 gr/cm3
V 25
[Link]= p 0,89
___ = _____ =0,89
P air 1
c.µkin=c.t=0,4994.1,42
=0,35 st
d. µdin=e=sampel x µkin
=0,89 x 0,35 = 0,31 p
[Link] 75%
V picno = 75ml
T gliserin=1,88 s
C =0,4994
It gliserin = 26,88 gr
Ditanya : a.p c. µkin
[Link] d.µdin
jawab: a=p= m 26,88
___=______=1,075 gr/cm3
V 25
[Link]= p 1,075
___=______= 1,075
P air
c. µkin=c.t=0,4994.1,88=0,938 st
d. µdin=p sampel x ukin
=1,075 x 0,938= 1,008 p
[Link] rem
V picno =25ml
T minyak rem=5,55 s
C =0,4994 st/s
P minyak rem=14,52
Ditanya: a.p c. µkin
[Link] d. µdin
jawab:a. p= m 14,52
___=______=0,58 gr/cm3
V 25ml
[Link]= p 0,58
__ =____= 0,58
pair 1
c.µkin=c.t
=0,4994st/s.5,55s=2,77 st
d. µdin=p sampel. µkin
=0,58.2,77=1,606 p
4.4.2 Redwood Viskosimeter
[Link] 1
V oil=50ml
Ρ=8,5522 gr/ml
T=125,05,55
Ditanya:a. µkin =0,00260x125,05. (188)
____
40
=0,32513.0,047
=0,015281 st
b.µdin=pxµkin
=0,5222x0,015281=0,00843 p
[Link] 2
V oil=50ml
R=500
P=0,5522 gr/m
T=44,53s
Jawab:a.µkin=0,00260x44,53x(1,88)
____
500c
=0,115778=0,0576
=0,004353st
b.µdin=pxµkin
=0,5522x0,00435
=0,002403 p
[Link] 3
V oil=56 ml
r=600c
p=0,5522 gr/m
t=36,97s
ditanya=a.µkin
b.µdin
jawab=a.µkin=0,00260x36,97sx(1,88)
____
600c
=0,096,22x0,3133
=0,00301 st
b.µdin=pxµkin
=0,5522x0,0301
=0,00166p
4.5 Pembahasan
Viskositas (kekentalan) adalah sifat fluida yang diberikannya tahanan terhadap teganggan
Geser oleh fluida tersebut ,hukum viskositas newton menyatakan bahwa untuk laju aliran
maka viskositas berbanding lurus dengan tegangan geser ini berlaku pada fluida newton.

Viskositas fluida dinyatakan dalam dua bentuk yakni:


[Link] dinamik
Viskositas dinamik adalah perbandingan tegangan geser dengan laju perubahannya
dipengaruhi oleh faktor faktor seperti temperatur,konsentrasi larutan dan sebagainya.
[Link] kinematik
Viskositas kinematik merupakan perbandingan viskositas dinamik terhadap kerapatan
(density)massa jenis dari fluida tersebut (ridwan,2012)

Mencari densitas fluida dapat digunakan alat seperti picnomter dan neraca digital,massa
masing masing fluida dapat dicari dengan mengurangi fluida +picnometer dengan massa
picnometer [Link] didapatkan massanya dan telajh diketahui volume dari
picnometer yaitu 25ml,maka densitas dari masing masing fluida tersebut dapat
[Link] merupakan ukuran kekentalan fluida yang menyatakan besar kecilnya
gesekan dalam fluida,semakin besar suatu fluida maka semakin sulit suatu fluida untuk
menaglir dan juga semakin sulit suatu benda bergerak didalam fluida tersebut
(mutmainah,2008).
4.5 Discussion
Viscosity (thickness) is a fluid property that provides resistance to shear stress by the fluid,
Newton's law of viscosity states that for the flow rate, the viscosity is directly proportional to
the shear stress. This applies to Newton's fluid.

Fluid viscosity is expressed in two forms, namely:


1. dynamic viscosity
Dynamic viscosity is the ratio of shear stress to the rate of change which is influenced by
factors such as temperature, solution concentration and so on.
[Link] viscosity
Kinematic viscosity is the ratio of dynamic viscosity to the density of the fluid (ridwan,
2012)Finding the density of a fluid can be used with tools such as a picnometer and a digital
balance, the mass of each fluid can be found by subtracting the fluid + picnometer from the
mass of the empty picnometer. After obtaining the mass and knowing the volume of the
picnometer, which is 25 ml, the density of each fluid can be known. Viscosity is a measure of
fluid viscosity which states the size of the friction in the fluid, the larger the fluid, the more
difficult it is for the fluid to flow and also the more difficult it is for an object to move in the
fluid (Mutmainah, 2008).

4.7 Tugas
1. jelaskan prinsip dan pengukuran viscosity
=prinsipnya adalah dengan mengukur kecepatan air suatu fluida dengan volume tertentu
dalam pipa kapiler
[Link] dua jenis viskosity yang diukur pada percobaan 4,sebutkan dan jelaskan dua jenis
viskosity tersebut !
=viskositas ada dua jenis yaitu viskositas dinamik dan kinematik
-viskositas dinamik adalah perbandingan tegangan geser dengan laju perubahannya
-viskositas kinematik adalah perbandingan viskositas dinamik terhadap kerapatan (density)
masa jenis dari fluida tersebut (ridwan,2012)
[Link] data dari hasil percobaan penentuan viskosity menggunakan astwald,yaitu
konstanta alat ostwald c=0,4994 st/s,massa picnometer kosong =[Link] gr,dan massa
picnometer berisi fluida [Link] waktu alir selama [Link] [Link] picnometer
[Link] sample density,specific gravity,kinematic viscocity,dan dynamic viscosity
note=(xx) merupakan dua angka terakhir dari npm .
Dik:c=0,4994 st/s
Picno kosong=20,57
Picno berisi=45,27
T =1,57
V picno =25ml
Dit: a.p b.µkin
[Link] d.µdin
jawab:m=[Link] [Link] kosong
=45,57-20,57
=25 gr
a.p=m 25gr
__ ____=195(m)
V 25ml
[Link]=po 195/cc
___ = ______=1
Pw 195/cc
c.µkin=c.t
=0,4994 st/sx1,57
=0,784
d.µdin=p sampel.µkin
=1 gr/ml.0,784 st
=0,784 p
[Link]: volt=50ml
p =0,857 gr/cc
t =137
r =600c
dit:a. massa crude oil
b. µkin?
c. µdin ?
jawab: a. m=p 0,857gr/st
__ = _________ = 0,01714 gr
V 50 ml
b. µkin= 0,00260.t – (1,88)
____
137
= 0,00260x 137-(1,88)
____
137
=0,3562 – 0,0137
= 0,3425 stoke

c.µdin= p x µkin
= 0,857 x 0,3425
= 0,2935 p
5. Dalam industry oil dan gas, penentuan viskositas pada percobaan IV dilakukan untuk
kepentingan apa ?
= didalam industry oil dan gas viskositas adalah hal yang penting untuk mengatahui sifat sifat
crude oilnya. Sebagai contoh viskositas kinematis produk minyak bumi yang mempunyai
volume tertentu melalui pipa kapiler viskosimeter pada suhu tertentu.
PERCOBAAN VI
(EXPERIMENT VI )

PENENTUAN FLASH POINT DAN FIRE POINT


( FLASH POINT AND FIRE POINT DETERMINATION)

6.1 Tujuan Percobaan

Untuk menentukan titik nyala ( flash point ) dengan menggunakan Tag Close
Tester dari cairan-cairan yang mempunyai viskositas kurang dari 5,5 cst (pada
25°C) dan titik nyala dibawah 200 °F, kecuali cairan – cairan yang cenderung
membentuk surface film dibawah kondisi percobaan dan material-material yang
mengandung suspended solid. Untuk keadaan-keadaan terakhir ini digunakan alat
Pneskey martens.

6.2 Teori Dasar

Flash point atau titik nyala adalah suhu terendah dimana minyak (uap
minyak) dan produknya dalam campuran dengan udara akan menyala apabila
terkena percikan api kemudian mati kembali (Bloch, 2000).
Minyak bumi yang mempunyai flash point terendah akan membahayakan,
karena minyak tersebut mudah terbakar. Apabila minyak tersebut mempunyai titik
nyala tinggi juga kurang baik, karena akan susah mengalami pembakaran. Tetapi
kalau ditinjau dari segi keselamatan maka minyak yang baik mempunyai flash
point yang tinggi karena tidak mudah terbakar.
Fire point adalah suhu terendah dimana uap minyak bumi dan produknya
akan menyala dan terbakar secara terus- menerus kalau terkena nyala api pada
kondisi tertentu (Bloch, 2000).
Flash point ditentukan dengan jalan memanaskan sampel dengan pemanasan
yang tetap, setelah tercapai suhu tertentu nyala penguji (test flame) diarahkan pada
permukaan sampel. Test flame ini terus diarahkan pada permukaan sampel dengan
berganti-ganti sehingga mencapai atau terjadi semacam ledakan karena adanya
88

tekanan dan api yang terdapat pada test flame akan mati. Inilah yang disebut
dengan flash point
Penetuan fire point ini sebagai kelanjutan dari flash point dimana apabila
contoh akan terbakar / menyala kurang lebih lima detik maka lihat suhunya
sebagai fire point. Penentuan titik nyala tidak dapat dilakukan pada produk-
produkyang volatile seperti gasolin dan solven-solven ringan, karena mempunyai
flash point dibawah temperatur normal.

Semula penentuan flash point dan fire point ini dimaksudkan untuk
keamanan dimana orang yang bekerja tanpa khawatir akan terjadinya kebakaran,
tetapi perkembangannya yaitu dapat mengetahui mudah tidaknya minyak tersebut
menguap.
Koreksi untuk tekanan Barometer :
Tekanan Barometer dicatat pada saat akhir percobaan, bila tekanan ini tidak sama
dengan 760 mmHg (101,3 kPa), titik nyala dapat dikoreksi sebagai berikut :
a. Cc = C + 0,25 ( 101,3 – P )
b. Cc = F + 0,06 ( 760 – P )
c. Cc = C + 0,0033 ( 760 – P )
Dimana : F = titik nyala yang diamati ( °F )
C = titik nyala yang diamati ( °C )
P = tekanan Barometer ( mmHg , kPa )

6.3 Alat dan Bahan

6.3.1 Alat
1. Rapid Flash Tester,Closed cup : 1 unit
2. Gelas Kimia 100 ml : 1 unit
3. Gelas ukur 50 ml : 1 unit
4. Alumunium Foil : 1 unit
5. Thermometer : 1 unit

6.3.2 Bahan
1. Crude Oil 100 ml
89

Rapid Flash Tester Thermometer

Gambar 6. 1 Alat Percobaan Penentuan Titik Nyala dan Titik Api

6.4 Prosedur Percobaan

1. Persiapkan sampel dengan baik kemudian Periksa tutup & shutter dalam
keadaan bersih dan bebas dari kontaminasi

2. Nyalakan panel ke posisi “T” (ON).


3. Menyesuaikan suhu kenop temperatur kontrol sambil menekan saklar pr
eset yang telah ditetapkan sampai meter digital membaca suhu yang didi
nginkan (minimal 5 ℃ dibawah suhu titik nyala yang telah diketahui dari
referensi sebelumnya.

4. Ketika tampilan digital mencapai suhu yang diinginkan, lampu merah


padam akan , Mungkin perlu untuk membuat sedikit penyesuaian
menggunakan kontrol suhu knob. Lampu merah akan menyala setiap
kali alat memanaskan cup untuk mempertahankan suhu yang kita
90

inginkan.

5. .Pastikan bahwa suntik dalam keadaan bersih dan kering, Ambil 2 ml


sampel (uji suhu kurang dari 100℃ ) atau 4 ml (uji suhu lebih dari 100℃ )

6. membuka katup kontrol gas dan lampu uji nyala. putar kontrol gas katup
searah jarum jam untuk mengatur besar kecil nyala api. pilot flame
adalah menjadi ukuran minimum untuk secara otomatis menyala lagi uji
nyala

7. Mengatur Timer dengan menekan saklar pada waktu 1 menit (suhu uji
kurang dari 100℃ ) 1 dan 2 menit ( suhu uji lebih tinggi dari 100℃ ).

8. setelah liner berhenti buka Lid & shutter sepenuhnya selama 2,3 detik
sambil mengamati flash letupan api relatif besar akan muncul dan
menyebar di atas permukaan cairan ketika dekat suhu titik nyala yang
sebenarnya penerapan api uji dapat menimbulkan lingkaran biru ( pipa
melingkar ) ini harus diabaikan

9. Tutup kontrol gas valve setelah setiap tes.

10. Catat tekanan udara ( Barometer )

11. Laporkan flash atau tidak ada flash


12. Jika tidak ada flash, maka ganti sample lalu lakukan prosedur 1 sampai 8
kembali dengan kenaikan suhu 1℃ sampai terjadinya flash.

6.5. Hasil Pengamatan


Tabel 6. 1 Penentuan Flash Point Dan Fire Point

Temperature ℃
Peralatan Sampel Crude Oil Flash Fire
Point Point
Rapid Flash Crude oil 29℃ 38℃ 46℃
Tester
91

[Link]

6.6.1 Crude Oil


Suhu Crude Oil adalah 29 ℃
9
 ℃→℉ =`(
5 × ℃) + 32
9
=(
× 39°) + 32
5

= 84,20 ℉
 ℃ → °𝐾 = ℃ + 273
=29° + 273
= 302°𝐾
 ℃ → °𝑅 =4×℃
5

= 4 × 29°
5

=23,20°𝑅
 ℃ → °𝑅𝑎 = ℉ + 460
= 84,20° + 460
=543,15°𝑅𝑎

6.6.2 Flash Point


Suhu Flash point adalah 38 ℃
9
 ℃→℉ =`(
5 × ℃) + 32
9
=(
× 38°) + 32
5

= 100,40℉
 ℃ → °𝐾 = ℃ + 273
92

=38° + 273
=311°𝐾
 ℃ → °𝑅 =4×℃
5

= 4 × 38°
5

=30,40°𝑅
 ℃ → °𝑅𝑎 = ℉ + 460
= 100,40° + 460
=560,7°𝑅𝑎
6.6.3 Fire Point
Suhu Fire Point adalah 46 ℃
9
 ℃→℉ =`(
5 × ℃) + 32
9
=(
× 46°) + 32
5
93

= 114,80℉
 ℃ → °𝐾 = ℃ + 273
=46° + 273
= 319°𝐾
 ℃ → °𝑅 =4×℃
5

= 4 × 36°
5

= 36,80°𝑅
 ℃ → °𝑅𝑎 = ℉ + 460
= 114,80° + 460
=574°𝑅𝑎

6.5 Pembahasan

dalam suatu bahan bakar cair yang perlu diperhatikan adalah besarnya
Flash Point dan fire Point ,flash point adalah suhu pada uap diatas permukaan b
di atas permukaan bahan bakar yang akan terbakar dengan cepat (meledak),
apabila nyala api didapatkan didekatkan. sedangkan fire point adalah temperatur
pada keadaan dimana uap di atas permukaan bahan bakar minyak terbakar secara
kontinu apabila api didekatkan padanya ( DK Hameed, 2021) titik nyala adalah
suhu terendah yang penerapan api uji yang ditentukan menyebabkan uap di atas
permukaan menyala dan pelepasan uap pada suhu tidak cukup cepat untuk
mempertahankan pembakaran ([Link],dkk.,2010)

dalam percobaan ke-6 dilakukan penentuan Flash Point dan fire Point
didapatkan titik nyala pada temperatur 38℃ dan titik nyala api pada temperatur
46 ℃ sementara temperatur sampel yaitu 29 ℃ hasil poin dan farpoint dapat
berbeda-beda tiap perhitungannya gimana perhitungan saling tidak sama satu
sama lain karena dipengaruhi oleh temperatur dan viskositas sampel semakin
tinggi viskositas maka Flash Point dan poinnya juga tinggi.
94

6.5 Discussion
in a liquid fuel that needs to be considered is the amount of Flash Point and
fire Point, flash point is the temperature at the vapor above the surface b above the
surface of the fuel that will burn quickly (explode), if the flame is obtained closer.
while the fire point is the temperature in a state where the vapor above the surface
of the fuel oil burns continuously when the fire is brought closer to it. ( DK
Hameed, 2021, Flash point is the lowest temperature at which the application of
the specified test flame causes the vapor above the surface to ignite and the
release of vapor at that temperature is not rapid enough to sustain combustion.
( [Link],dkk.,2010)

In the 6th experiment, the determination of flash point and fire point was
obtained at a temperature of 38 ℃ and the flash point at a temperature of 46 ℃
while the sample temperature was 29 ℃. The results of points and farpoints can
vary for each calculation where the calculations are not the same as each other
because they are influenced by the temperature and viscosity of the sample, the
higher the viscosity, the Flash Point and points are also high.

6.5 Kesimpulan
kesimpulannya yang didapat pada percobaan 6 adalah bahwa temperatur tiap
Flash Point dan point berbeda karena dipengaruhi oleh viskositas sehingga
semakin tinggi viskositas maka Flash Point dan fire point juga tinggi dan
didapatkan titik nyala (Flash Point), temperaturnya 38 ℃ Celcius hal ini
menunjukkan bahwa sampel kerut oil dalam Terbakar pada temperatur tersebut.

6.6 Tugas 1
[Link] apa yang dimaksud dengan Flash Point dan Fire Point ?
Jawab : adalah angka yang mengatakan suhu terendah dari bagian bahan bakar
minyak di mana timbul penyalaan api sesaat
fire Point adalah menunjukkan pada titik temperatur dimana pelumas akan terus
menyala sekurang-kurangnya 5 detik (M arisandi, dkk, 2012)
95

[Link] faktor-faktor yang mempengaruhi Flash Point dan fire point?


Jawab : faktor yang mempengaruhi adalah Jumlah penambahan katalis biodiesel
lebih mudah terbakar dan perambatan api lebih cepat karena memiliki nilai Flash
Point nya cenderung kecil karena katalis semakin besar Jika nilai Flash Point
terlalu tinggi maka penyalaannya semakin sulit sehingga membutuhkan lebih
banyak energi untuk menyalakan nya. ( M. Bursyari, dkk, 2020)

Faktor yang mempengaruhi point dan Flash Point adalah proses penguapan
dimana semakin cepat bahan bakar itu menguap maka titik nyala/Flash Point dan
titik bakar atau Fire Point akan semakin rendah.(H S, Tira, 2018)

3. Jelaskan aplikasi lapangan percobaan ini ?


Jawab: Pengaplikasian lapangan pada percobaan penentuan Flash Point dan Fire
Point adalah menentukan kemampuan menjadi campuran diatas bahan bakar pada
beberapa tinggi bahan bakar menjadi contoh dari diketahui Flash Point Suatu
bahan bakar (M. Bursyari, dkk, 2020)

[Link] serangkaian percobaan telah kita lakukan namun tidak ada tanda-tanda Fire
Point maka kita harus melakukan?
Jawab : Dikarenakan Flash Point suhu terendah dimana minyak dan produk dalam
campuran dengan udara akan menyala sebentar maka yang perlu dilakukan untuk
mencari Fire Point yaitu dengan menaikkan suhu di atas suhu Flash Point yang
yang terpenting untuk mencari Flash Point dari crude oil terlebih dahulu.

5. Dik T ℃ = 42℃

Dit : Konversikan suhu ke ℉, 𝐾, 𝑅𝑒 𝑑𝑎𝑛 𝑅𝑎


Jawab :
9 (
℉ 5
=
96

× 42℃) + 32
= 107,60 ℉
𝑅𝑎 = ℉ + 460
= 107,60℉ + 460
= 576,27 𝑅𝑎
4
°𝑅 = × 42 ℃
5
= 33,60℃
𝐾 = ℃ + 273
= 42℃ + 273
= 315,15𝐾
97

PERCOBAAN VII
(EXPERIMENT VII)
PENENTUAN CLOUD POINT, COLD POINT DAN POUR
POINT
(DETERMINING OF CLOUD POINT, COLD POINT AND POUR
POINT)

7.1 Tujuan Percobaan

1. Menentukan titik kabut (cloud point) untuk minyak mentah.

2. Menentukan titik tuang (pour point) untuk minyak mentah.

3. Menentukan titik beku untuk minyak mentah.

7.2 Teori Dasar

Pada perjalanan dari formasi menuju permukaan, minyak bumi mengalami


penurunan temperatur. Apabila hal ini tidak diwaspadai, maka akan terjadi
pembekuan minyak di dalam pipa, sehingga tidak bisa lagi untuk mengalir.
Penurunan temperatur ini akan menyebabkan suatu masalah yang akan menjadi
besar akibatnya apabila tidak segera diatasi.
Harus diketahui dimana minyak mengalami perubahan temperatur, agar
dapat mengetahui atau mengantisipasi dan mengambil tindakan yang terbaik agar
minyak ditransportasikan secara lancar dari formasi ke permukaan sesuai dengan
kebutuhan. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, kita dapat mengambil sample
minyak formasi dan mengadakan uji coba untuk mengetahui titik kabut, titik beku,
dan titik tuang minyak tersebut.

Salah satu sifat hampir semua jenis minyak adalah dapat membeku menjadi
semi fluid atau massa solid yang sukar bergerak jika padanya terjadi penurunan
temperature. Test titik kabut umumnya dilakukan pada minyak yang dihasilkan
dengan destilasi. Test ini menentukan temperatur dimana Wax (lilin paraffin)
mulai mengkristal dan terpisah dari minyak membentuk semacam kabut tipis.

Test ini dilakukan untuk menentukan temperature dimana minyak tidak


dapat mengalir lagi. Besarnya pour point berbeda – beda untuk setiap tipe minyak
tergantung pada komposisi zat yang dikandungnya. Untuk melakukan test ini
98

sample minyak ditempatkan pada botol yang dilengkapi thermometer. Kemudian


sample dan yar diletakkan pada mesin pendingin untuk diamati temperatur dan
fluidanya. Untuk menentukan titik kabut, sample diamati pada tiap penurunan
temperatur 2 0F (-16,6667 0C) hingga terbentuk endapan (kabut). Sedangkan untuk
titik tuang, sample diamati pada tiap penurunan suhu 5 0F (-15 0C) hingga minyak
tidak mengalir lagi jika dituangkan.

7.3 Alat dan Bahan


7.3.1Alat :
1. Water Bath : 1 unit

2. Thermometer : 1 unit

3. Tabung Reaksi : 4 unit

4. Rak Tabung Reaksi : 1 unit

5. Corong : 1 unit

6. Stopwatch : 1 unit

7. Alumunium Foil : 1 roll

7.3.2 Bahan :

1. Crude Oil 100 ml

2. Es Batu

3. Garam

Water Bath
99

7.4 Prosedur Percobaan

7.4.1. Penentuan Titik Kabut (Cloud Point) dan Titik Beku (cold Point)

a. Mengambil sample dan memasukkannya ke dalam tube sampai


garis batas

b. Menyiapkan es batu kemudian menambahkan garam secukupnya


untuk menjaga agar es batu tidak cepat mencair.
c. Memasukkan thermometer ke dalam bath.

d. Mengamati temperatur dan kondisi sample yang diteliti setiap 3


menit.
e. Mencatat pembacaan temperatur (dalam Celcius atau Fahrenheit)
pada saat terjadinya kabut atau disebut juga Cloud Point.
f. Kemudian melanjutkannya sampai sample di yakini telah membeku
atau Cold Point.

7.4.2. Penentuan Titik Tuang (Pour Point)

a. Setelah mendapatkan titik beku, mengeluarkan tube yang berisi


sample dari dalam bath pada kondisi sample masih beku.
b. Mendiamkan pada temperatur kamar.

c. Mengamati perubahan temperatur pada pada saat seluruh sample


dapat dituangkan. Melaporkan temperatur tersebut sebagai Pour
Point.

7.5 Hasil Pengamatan

Tabel 7. 1 Hasil Pengamatan 7 ”Penentuan Cloud Point, Cold Point dan Pour
Point”
10
0

Temperature (°C) Keterangan

Volume Waktu Cloud Cold Point Pour Point


Point
(ml)

5 ml 16,505 24°C 11°C 34°C Heavy Oil

5 ml 16,5 24°C 11°C 34°C Heavy Oil

10 ml 17,205 25°C 9°C 35°C Heavy Oil

10 ml 17,2 25°C 9°C 35°C Heavy Oil


10
1

7.6 Perhitungan

Konversi suhu

Volume 5 ml

Cloud Point 24 C =

24 ° c=¿ 75,2 ℉

℉= ( 95 × 24)+32=75 , 2

75,2℉ = 534,87 ° Ra

° Ra=75 ,2+ 959 ,67=534 ,87 ° Ra

24 ℃ = 19 , 2° R

4
° R= ×24 ℃=19 , 2 ° R
5

24 ℃=¿ 297,15 K

k =24 ℃+ 273 ,15

Cold Point (volume 5ml)

11℃=¿51,8℉

℉= ( 95 × 11℃ )+ 32=51 , 8℉

51,8 ℉=¿ 511,47 ° Ra

° Ra=¿ 51,8 ℉ +459 ,67=511, 47 ° Ra

11 ℃ ¿ 8,8 ° R
10
4 2
° R= × 11℃=8 , 8 ° R
5

11℃=284 , 15 ° K

K=11℃ +273 , 15=284 ,15

Pour Point (volume 5 ml)

34 ℃=¿ 93,2 ℉

℉= ( 95 × 34 ℃ )+32
= 93,2 ℉

93° 2℉ =¿ 552,87 ° Ra

° Ra=¿ 93,2℉ + 459,67

= 552,87

34℃ = 27,2 ° R

4
= × 34 ℃
5

= 27,2° R

34℃ = 307,15 K

K = 34 ℃ + 273,15

= 307,15

Cloud point (volume 10 ml)

25 ° c=¿ 77 ℉
10

( 95 × 25)+ 32
3
℉=

= 77

77℉ = 536,67 ° Ra

° Ra=77 ℉ +459 , 67

¿ 536 , 67 ° Ra

25 ℃ = 20 ° R

4
° R= 25 ℃
5

¿ 20 ° R

25 ℃=¿ 298,15 K

k =25 ℃+273 , 15

= 298,15

Cold Point (volume 10 ml)

9 ℃=¿48,2℉

℉= ( 95 × 9 ℃ )+ 32

48,2 ℉=¿ 507,87 ° Ra

° Ra=¿ 48,2 ℉ +459 ,67

¿ 507 , 87 ° Ra

9 ℃ ¿ 7,2 ° R

4
° R= ×9 ℃
5
10
¿ 7 , 2° R 4

9℃=282 ,15 ° K

K=9 ℃+273 , 15

¿ 282 ,15

Pour Point (volume 10 ml)

35 ℃=¿ 95 ℉

℉= ( 95 × 35℃ )+32
= 95 ℉

95℉=¿ 554,67 ° Ra

° Ra=¿ 95℉ + 459,67

= 554,67

35 ℃ = 28 ° R

4
= ×35 ℃
5

= 28° R

35℃ = 308,15 K

K = 35℃ + 273,15

= 308,15

7.7 Pembahasan

Pada percobaan 7, dilakukan 2 percobaan yaitu memasukkan crudde oil ke tabung reaksi sebanyak
5ml dan 10 ml, dari kedua percobaan ini dimasukkan ke water bath yang sudah dimasukkan ke es
10
5
batu yang sudah dicampurkan dengan garam, sampel menggunakan 5 ml crude oil memiliki 16,50
detik, cloud point 24 C, could point 11 C dan pour point 35 C

Defenisi titik ruang titik kabut, titik beku adalah

1. Titik kabut adalah suhu dimana terjadi nya asap yang terang atau kabur pada dasar tabung
reaksi (khoirah , 2015)

2. Titik beku adalah suhu atau temperatur pada saat tekanan uap cairan atau larutan sama dengan
tekanan uap pelarut pada murni

3. Titik tuang adalah suhu dimana minyak tidak dapat digoyang karena membeku selama 5
detik ketika dimiringkan atau dituang sebelah melalui pendingin (khoirah, 2015)

Kegunaan garam pada pratikum ini yaitu agar es batu tidak dapat mudah mencair karena garam akan
menghambat kestabilan ikatan partikel air yang berada dalam fase padat yaitu es (Anonim, 201
10
6

7.7 Discussion

In experiment 7, 2 experiments were carried out, namely putting 5 ml and 10 ml of crude oil into a
test tube, from these two experiments it was put into a water bath which had been put into ice cubes
that had been mixed with salt, the sample used 5 ml of crude oil had 16.50 seconds, cloud point 24 C,
could point 11 C and pour point 35 C

The definition of a point in space is a fog point, the freezing point is

1. The fog point is the temperature at which bright or fuzzy smoke occurs at the bottom of the test
tube (khoirah, 2015)

2. The freezing point is the temperature or temperature when the vapor pressure of the liquid or
solution is equal to the vapor pressure of the pure solvent

3. The pour point is the temperature at which the oil cannot be shaken because it freezes for 5
seconds when it is tilted or poured sideways through the cooler (khoirah, 2015)

The use of salt in this practice is so that the ice cubes cannot melt easily because the salt will inhibit
the stability of the bonds of water particles that are in the solid phase, namely ice (Anonymous, 2014)

7.8 Kesimpulan

Dengan mengetahui cloud point, pour point dan cold point maka kita bisa mengetahui pada
titik berapakah minyak berkabut, membeku dan mengalir kembali

Faktor yang mempengaruhi cloud point, cold point dan pour point yaitu garam, es batu suhu
ruangan dan kerapatan aluminium foil
10
7
7.8 Tugas
1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan cloud point, cold point, pour point? (Min. 1 Referensi
2. Konversikan temperature berikut:
a. 12 ˚F kedalam ˚C, ˚K, ˚R, ˚Ra
b. 28 ˚C kedalam ˚F, ˚K, ˚R, ˚Ra
3. Jelaskan hubungan densitas, viskositas dan Rs (kelarutan gas dalam minyak) terhadap cold
point ? (Min. 2 Referensi)
4. Jelaskan fungsi dari es batu dan garam pada percobaan ini? (Min. 2 Referensi)
5. Berdasarkan percobaan ini, bagaimana aplikasi lapangan dari penentuan cloud point, cold
point dan pour point dalam dunia perminyakan! (Min. 2 Referensi)

Jawab :

1. Cloud point adalah suhu dimana terjadinya asap yang terang atau kabut pada dasar tabung
reaksi (khoiriah, 2015)

Pour point adalah suhu dimana minyak mentah tidak dapat digoyang karena membeku selama 5
detik ketika dimiringkan atau dituang setelah melalui pendigininan (khoiriah, 2015)

Cold point adalah suhu atau temperature pada saat tekanan uap cairan atau larutan sama dengan
tekanan uap pelarut padat murni (Rosenberg, 2016)

5
C = ( 12 −32 )
0
2. a.
9
= -11, 11

5
K = ( 12 F−32 ) × + 273 ,15
0
9

= 262,039 K

4
R = ( 120 F−32 ) ×
9

= 8,89 ⁰R

Ra = ( 120 F+ 459 , 67 )

= 471,67⁰ Ra
10
8

b. 28⁰C

9
F = ( 28 F+ 459 , 67 )
0
5

= 513,27 ⁰ R

K = 28⁰ C + 273,15

= 301,15 K

4
R = 28⁰C × = 22,40 ⁰ R
9

9
Ra = 28⁰ C + 491,67 × = 542,07 ⁰ Ra
5

3. Apabila viskositas dan densitas minyak tinggi maka cold point (titik bekunya) itu semakin kecil,
hanya butuh sedikit penurunan suhu maka akan membeku, hal ini bertolak belakang terhadap RS ,
semakin tinggi atau banyak gas yang terlarut pada minyak, maka dibutuhkan waktu atau suhu tinggi
atau besar untuk membekukan minyak (sharing ilmu [Link])

4. Pada pratikum ini juga digunakan garam dengan tujuan agar es batu tidak dapat mudah mencair
karena garam akan menghambat kestabilan ikatan partikel air yang berada dalam fase padat yaitu es
(anonim, 2014)

5. Berdasarkan percobaan ini, proses pengolahan dilapangan dengan melakukan pemisahan yang
terurai pada crude oil destilation unit (CDU), unit destilasi atmosfer titik didih, proses ini didestilasi
atmosfer

7.9 Post Test

1. Jelaskan tujuan dari percobaan VII ini?


10
9
2. Apa yang terjadi jika crude oil mengalami penurunan temperature saat perjalanan dari formasi
kepermukaan?
3. Jelaskan pengaruh dari densitas dan viskositas minyak terhadap percobaan ini?
4. Buatlah prosedur percobaan dari percobaan VII ini dengan kalimat sendiri!
5. Diketahui nilai suhu sebesar 3X ˚C. konversikan nilai suhu tersebut ke Fahrenheit, Reamur,
Rankine, dan kelvin!
(X=NPM terakhir)
Jawaban :
1. - Tujuan Cloud Point Pada Minyak Mentah Yakni Dimana Minyak Mengalami Pemisahan Fase
Cair Untuk Membentuk Emulsi
- Menentukan Pour Point Pada Minyak Mentah Yakni Titik Terendah Merendah Dimana
Minyak Hampir Tidak Dapat Mengalir
- Menemukan Cold Point Pada Minyak Yakni Titik Terendah Dimana Minyak Tidak Dapat
Mengalir

2. Crude Oil Akan Membeku Dan Tidak Dapat Mengalir

3. Semakin Besar Densitasnya Semakin Rendah Cold Pointnya Semakin Besar Viskositasnya
Semkian Tinggi Cold Pointnya

4. Penentuan Cloud Point Dan Cold Point


- Masukkan Sampel Crude Oil Hingga Garis Yang Ditentukan
-Tambahkan Es Batu Dan Garam Pada Bath
-Masukkan Thermometer Ke Dalam Bath
-Catat Hasil
-Lanjutkan Hingga Sampel Benar Benar Membeku/Bath

Penentuan titik tuang


- Saat crude oil masih membeku, keluarkan dari bath
- Diamkan pada temperature
- Amati perubahan

5. Diket : T = 37 ˚C
11
0

Jawab : ˚F = ( 95 × 37)=98 , 6˚F

4
˚R = × 37 = 29,6 ˚R
5

9
˚Ra = ( 37 ℃+273 ,15 ) × =558 , 22 ˚ Ra
5

° K=37+273 ,15=310 ,15 K


11
1

Anda mungkin juga menyukai