Anda di halaman 1dari 9

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

1. Kondisi Geografis

a. Luas Wilayah dan Letak Geografis

Luas wilayah Puskesmas Trimulyo adalah 5.165 km². Puskesmas

Trimulyo terletak di Kecamatan Sekampung Kabupaten Lampung Timur. Terdiri

dari 9 Desa yaitu :Trimulyo, Sukoharjo, Wonokarto, Girikarto, Hargomulyo,

Sumbersari, Mekarmulyo, Jadimulyo, Mekarsari.

Kondisi tanah diwilayah Puskesmas Trimulyo sebagian besar terdiri atas

tanah ladang dan sawah dengan mata pencarian pendudukya sebagai petani. Jarak

Puskesmas ke desa terdekat selain ibu kota kecamatan adalah 1 km, dan jarak

Puskesmas dengan desa terjauh lebih kurang 32 km, ditempuh kurang lebih 1,5

jam atau lebih, karena kondisi jalan tanah dan batu yang sulit atau rusak berat.

Jarak Puskesmas Trimulyo ke ibu kota Kabupaten kurang lebih 25 km, sedangkan

jarak ke Ibu Kotamadya Metro kurang lebih 17 km, sehingga rujukan pasien dari

Puskesmas Trimulyo ke rumah sakit lebih sering ke kota Metro dari pada ke

Rumah Sakit Sukadana.

Gambar Peta Wilayah Kerja Puskesmas Trimulyo


Batas – batas wilayah kerja Puskesmas adalah sbb :

 Utara :Wilayah kerja Puskesmas Sekampung Lampung Timur

 Selatan :Wilayah Kecamatan Natar Lampung Selatan

 Timur :Wilayah kerja Puskesmas Tanjung Harapan Lampung Timur

 Barat :Wilayah kerja Puskesmas Sekampung Lampung Timur

2. Angka Kesakitan Potensial

Beberapa penyakit yang potensial menimbulkan kejadian luar biasa (KLB)


serta penyakit-penyakit yang berdampak luas pada kesehatan masyarakat di
Puskesmas Trimulyo, antara lain:

Permasalahan penyakit menular di wilayah Puskesmas Trimulyo tahun

2014 s.d 2018 dapat dilihat dari tabel berikut:

Tabel 4.2

Pola Penyakit Menular Puskesmas Trimulyo

Tahun 2014 s.d 2018


NO NAMA JUMLAH KASUS
2014 2015 2016 2017 2018
1 Diare Semua 825 1001 1204 505 487

2 Diare Balita 317 237 182 150 120


3 TB Paru Klinis 202 361 128 14 15
4 TB Paru (+) 26 15 10 7 12
5 Pneumonia 1 5 91 24 10
6 Kusta 3 3 1 2 2
7 Campak 0 0 0 0 0
8 Demam Berdarah 0 9 0 0 0

9 GHTR 2 0 0 0 0
10 Malaria Klinis 0 0 0 0 0
11 Malaria (+) 0 0 0 0 0
12 ISPA Dewasa 1832 1754 1785 1743 1653
13 ISPA Balita 544 863 446 870 850
14 PMS 0 0 0 0 0
15 HIV (+) 0 0 0 2 2
16 AFP 1 0 0 0 0
Sumber : Laporan Petugas P2 Puskesmas Trimulyo tahun 2018
B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Karakteristik Individu

a. Umur

Dari hasil penelitian di lapangan mengenai penderita penyakit kusta


ada 2 orang penderita masing – masing berumur :

1.) Atas nama ibu Eni Suprihatin Umur 33 Tahun


2.) Atas nama ibu Mistiati Umur 43 Tahun

b. Personal Hygine

Dari hasil penelitian di lapangan mengenai Personal Hygine Sanitasi


penderita penyakit kusta :

1.) Kebiasaan Mandi

Personal Hygiene atau kebersihan diri adalah tindakan pencegahan

yang meliputi tanggung jawab individu untuk meningkatkan kesehatan

serta membatasi penyebaran penyakit menular, terutama yang ditularkan

secara kontak langsung. Dari hasil penelitian yang saya teliti mengenai

penderita penyakit kusta mengenai kebiasaan mandi mereka yaitu 2 kali

dalam sehari selayaknya orang sehat, namun perlengkapan dan alat mandi

mereka di pisahkan dengan anggota keluarga yang sehat seperti anduk,

ember/bak mandi dan sabun keterangan tersebut di dapatkan dari hasil

wawancara yang peneliti lakukan.

2.) Kebiasaan Meminjam Pakaian

Penelitian yang dilakukan Yudied di tahun 2007 menyatakan

bahwa resiko lingkungan yang berpengaruh yaitu memakai pkaian

bergantian dapat memicu terjadinya penularan penyakit yang tidak

menutup kemungkinan penyakit kusta. Dari hasil penelitian yang

peneliti lakukan di dapatkan keterangan bahwa penderita penyakit


kusta yang pertama bernama ibu Eni Suprihatin adalah adik kandung

dari penderita penyakit kusta yang kedua yang bernama ibu Mistiati,

kedua penderita tersebuat adalah kakak beradik kandung, dari hasil

pengamatan dan observasi yang saya lakukan kemungkinan besar

penyakit tersebut tertular akibat adanyanya kebiasaan bertukar

pakaian.

3.) Kebiasaan Meminjam Handuk

Penelitian yang dilakukan Yudied di tahu 2007, menyatakan

bahwa faktor resiko lingkungan yang berpengaruh yaitu memakai

handuk mandi secara bergantian dpat memicu terjadinya penularan

berbagai macam penyakit sepeti kusta. Menurut teori yang

dikemukakan oleh Entjang (2000) faktor resiko Hygiene perorangan

yang mempngaruhi terhadap penularan penyakit kusta diantaranya

adalah penggunaan handuk secara bergantian. Dari hasil penelitian

yang saya lakukan dari keterangan penderita penyakit kusta tidak

adanya kebiasaan meminjam handuk karna handuk antara orang yang

sedang sakit dan orang yang sehat di bedakan.

c. Status Gizi dan Status Ekonomi

Penyakit kusta banyak menyerang masyarakat dengan sosial ekonomi

yang rendah karena berkaitan dengan gizi yang kurang baik dan

lingkungan yang tidak baik Penelitian dari Berg di Norwegia menyebutkan

bahwa faktor nutrisi dapat berperan dalam penularan kusta karena

dikaitkan dengan rendahnya produksi makanan bergizi, seperti susu dan

gandum. Pertengahan kedua abad 19 nutrisi sudah membaik dan pendapatan

perkapita juga meningkat sehingga membuat insiden infeksi M.Leprae di


Norwegia berkurang. Dari hasil penelitian yang saya amati mengenai status

gizi dan status ekonomi adalah penderita penyakit kusta tersebuat keduanya

bekerja sebagai ibu rumah tangga dan petani.

Dari hasil riwayat pekerjaan perderita kusta :

1.) Penderita penyakit kusta yang pertama ibu Eni Suprihatin dulunya

bekerja di Industri kertas dan ibu Eni Suprihatikbekerja di bagian

pelipatan kertas dan selain itu ibu Eni Suprihatin juga pernah

bekerja di Pasar Daerah BATAM di salah satu Toko Sembako dan

sayuran, jika keterangan yang di dapatkan melalui hasil wawancara

yang saya lakukan ibu Eni mungkin terkena gejala penyakit kusta

akibat pekerjaan nya di salah satu toko sembako dan sayran

tersebut, dan secara teori juga di sebutkan bahwa penyakit kusta

terjadi akibat terkenanya bagian kulit kita dengan faces atau urin

dari vektor Tikus seperti yang kita tau bahwa toko sembako dan

sayuran terkadang banyak sekali vektor akibat penyakit kusta

tersebut. Dan dari pernyataan ibu Eni juga merasakan bahwa gejala

awal dirasakan saat ibu Eni Suprihatin bekerja di Pasr tersebut,

tetapi ibu Eni menganggapnya hanya masalah penyakit kulit biasa.

2.) Penderita penyakit kusta yang kedua Ibu Mistiati yaitu kakak

kandung dari ibu Eni Suprihati, riwayat pekerjaan ibu Mistiati

sebagai Ibu rumah Tangga dan bertani, namun jika di lihat dari

hasil pengamatan yang saya lakukan riwayat pekerjaan ibu Mistiati

bukan penyebab dari penyakit kusta. Ibu Mistiati kemungkinan

besar tertular oleh adik kandungnya yaitu ibu Eni karna ibu Mistiati
yang setiap harinya merawat ibu Eni selama ibu Eni menderita

penyakit kusta.

d. Riwayat Kontak

Kusta merupakan penyakit infeksius, tetapi derajat infektivitasnya

rendah, waktu inkubasinya panjang dan kebanyakan pasien sudah

mendapatkan infeksi pada waktu masa anak-anak. Penyakit ini timbul akibat

kontak fisik yang erat dengan pasien yang terinfeksi dan menjadi lebih berat

apabila terjadi kontak dengan kasus lepromatosa. Sekret hidung merupakan

sumber utama terjadinya infeksi di masyarakat. Dari hasil pengamatan

dan wawancara pada saat penelitian didapatkan keterangan bahwa antara

pasien pertama dan kedua adalah kakak beradik, penderita pertama yaitu ibu

Eni Suprihatin adalah adik kandung dari penderita kusta ke dua yaitu ibu

Mistiati, pada saat ibu Eni mengalami sakitkusta ibu Mistiati yang selalu

merawat ibu Eni, oleh karna itu kemungkinan ada kontak fisik antara iu Eni

dan ibu Mistiati, sehingga ibu Mistiati juga mengalami penyakit yang sama

tetapi tidak separah ibu Eni. Ibu Mistiati mengalami gejala penyakit Kusta dan

langsung melakukan pengobatan.

e. Lama Kontak

Meskipun cara penularannya belum pasti, tetapi penularan di

dalam rumah tangga dan kontak yang dekat dalam waktu yang lama

akan berperan dalam penularan karena penyakit kusta ini mempunyai masa

inkubasi selama 2-5 tahun dan dapat juga terjadi selama bertahun-tahun . Dari

hasil wawancara yang saya lakukan di dapatkan keterangan bahwa lama

kontak antara pederita penyakit kusta yang pertama dan kedua yaitu, penderita
kusta atas nama ibu Eni suprihatin sudah mengalami gejala awal penyakit

kusta sejak tahun 2009 dan ibu Eni suprihatin masih tinggal di Batam, gejala

awal tersebut ditandai dengan munculnya bintik-bintik di area kulit bagian

tangan dan kaki lalu dengan seiringnya waktu luka tersebut semakin

menimbulkan kebengkaan dan menghitam, selanjutnya pada tahun 2016 ibu

Eni pulang ke kampung halam di Desa Hargomulyo kec. Sekampung

Kab.Lampung Timur Prov.Lampung dan penyakit tersebut sudah sangat parah

keseluruhan kulit ibu Eni menghitam dan sudah mati rasa, bagian jari

tangannya sudah mengkriput dan kuku nya juga sudah hampir hitam, sehingga

ibu Eni melakukan tes darah untuk mengetahui penyakit apa yang ia alami

karna ibu Eni sebelumnya tidak mengetahui bahwa ia menderita penyakit

kusta. Dan setelah itu barulah ibu Eni mengetahui bahwa ia menderita sakit

kusta dan sudah parah dan melakukan pengobatan rutin di Puskesmas trimulyo

Kec.Sekampung Kab.Lampung-Timur Prov.Lampung. Semenjak ibu Sakit

yang merawat beliau adalah ibu Mistiati kakak kandung ibu Eni yang juga

penderita penyakit Kusta, Lama kontak antara ibu Eni dan ibu Mistiati dari

2016 – 2019 sehingga ibu Mistiati juga mengalami penyakit yang sama.

f. Genetik

Dari hasi wawancara yang saya teliti di dapatkan keterangan bahwa tidak

adanya Genetik sebelumnya yang menderita penyakit kusta.

g. Riwayat Imunisasi BCG

Dari hasi wawancara yang saya teliti di dapatkan keterangan bahwa tidak

pernah dilakukan Vaksin Imunisasi BCG sejak dari lahir karna minimnya

pengetahuan ibu dari 2 penderita penyakit kusta tersebut.


2. Karakteristik Lingkungan

a. Suhu Kamar

Dari hasil pengecekan suhu kamar di 2 penderita penyakit kusta yang saya

teliti terdapat angka :

1.) Perderita pertama ibu Eni Suprihatin

- Suhu Kamar : 33,2⁰C

- Suhu Ruangan : 33,2⁰C

- Suhu Kamar Mandi : 33,2⁰C

2.) Perderita pertama ibu Mistiati

- Suhu Kamar : 32⁰C dan Kelembapan 69%

- Suhu Ruangan : 33⁰C dan Kelempaban 70%

- Suhu Kamar Mandi : 32,9⁰C dan Kelempaban 70%

b. Kelembapan

Menurut Kepmenkes No.829/Menkes/SK/VII/1999, kelembapan yang

baik yaitu berkisar antara 40-70 %. Berdasarkan penelitian Wicaksono (2015)

hasil analisis Univariat didapatkan bahwa pada variable kelembapan, untuk

klompok kasus mayoritas mempunyai ruangan tidur yang kelembapannya

tidak memenihi syarat (90%).

Dari hasil pengukuran yang saya lakukan terdapat angka Kelembapan, yaitu :

1.) Perderita pertama ibu Eni Suprihatin

- Kelembapan Kamar 74%


- Kelembapan Ruangan 72%

- Kelembapan Kamar Mandi 70%

2.) Perderita pertama ibu Mistiati

- Kelembapan Kamar 69%

- Kelempaban Ruangan 70%

- Kelempaban Kamar Mandi 70%

c. Agent

Dari hasil pengamatan yang saya lakukan di rumah penderita penyakit

kusta terdapat adanya vektot pembawa agent penyakit kusta yaitu Tikus.

Dengan keadaan rumah yang lembap itulah yang mepengaruhi adanya

vektor tersebut.

Anda mungkin juga menyukai