Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH DASAR-DASAR PENDIDIKAN

“PILAR-PILAR PENDIDIKAN DAN IMPLEMENTASINYA”

Dosen Pengampu: Ulan


Dwi Desari, M. Pd

Di Susun Oleh Kelompok 4:


1. Yogi aswadi (2323290073)
2. Chantika Mayang Feriz (2323290069)

PROGRAM STUDI TADRIS BAHASA INDONESIA


FAKULTAS TARBIYAH DAN TADRIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI FATMAWATI SUKARNO
BENGKULU, 2023
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah swt. yang telah memberi rahmat
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul “Pilar-Pilar
Pendidikan dan Implementasinya”, guna untuk memenuhi tugas Mata Kuliah
Dasar-dasar Ilmu Pendidikan. Sholawat salam dan doa penulis haturkan kepada
nabi Muhammad saw. kepada keluarga dan para sahabatnya sekalian. Penulis
mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah ikut berperan
dalam menyelesaikan makalah ini, terutama kepada ibu yang telah
membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan.
Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para
pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Akhir kata penulis mengucapkan
terimakasih.
Penulis

Kelompok 4

II
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii


DAFTAR ISI ..................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1
A. Latar Belakang ........................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 1
C. Tujuan Masalah .......................................................................................... 2
BAB II PEMBAHASAN ..................................................................................... 3
A. Pengertian Pilar Pilar Pendidikan............................................................... 3
B. Jenis Jenis Pilar Pendidikan dan Implementasi dari Masing Masing Pilar . 3
C. Pengertian Pendidikan Sebagai Suatu Sistem ............................................ 8
D. Komponen Pendidikan Sebagai Suatu Sistem ........................................... 9
BAB III PENUTUP ........................................................................................... 16
A. Kesimpulan .............................................................................................. 16
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 17

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan sutu kegiatan yang universal dalam kehidupan
manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha sadar manusia untuk
memanusiakan manusia itu sendiri, artinya pendidikan dimaksudkan untuk
membudayakan manusia. Tujuan pendidikan secara luas adalah untuk
meningkatkan kecerdasan, membentuk manusia yang berkualitas, terampil,
mandiri, inovatif, dan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Oleh
karena itu, pendidikan sangat diperlukan oleh manusia untuk dapat
melangsungkan kehidupan sebagai makhluk individu, sosial dan beragama.
Dalam upaya memajukan pendidikan yang ada saat ini, UNESCO
mengemukakan empat pilar pendidikan yang digunakan sebagai landasan
dalam praktik pendidikan. Yakni learning to know, learning to do, learning to
be, leraning to live together dan learnint to believe in God. Dimana dalam
pelaksanaan keempat pilar ini guru bertindak sebagai fasilitator dan
membantu siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Namun realitanya dalam
lapangan, guru justru berperan sebagai sumber dari segala bentuk
pembelajaran di dalam kelas. Guru menerangkan dan siswa hanya
mendengarkan. Jarang sekali bahkan tidak ada metode yang membuat proses
pembelajaran menjadikan siswa belajar aktif mandiri.
Dan berdampak pada menurunya kualitas pembelajaran dan sangat
bertolak belakang dengan tujuan pendidikan indonesia yakni menciptakan
suasana pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan yang
akan membangkitkan minat siswa dalam belajar, sehingga dapat terwujud
manusia yang berkualitas.
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang dibahas dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian Pilar Pendidikan?

1
2

2. Apa saja jenis-jenis Pilar Pendidikan dan implikasi dari masing-


masing pilar dalam pendidikan?
3. Apa pengertian pendidikan sebagai suatu sistem?
4. Apa saja komponen pendidikan?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui pengertian pilar pendidikan.
2. Mengetahui jenis-jenis pilar pendidikan dan implikasi dari masing-
masing pilar dalam pendidikan.
3. Mengetahui pengertian pendidikan sebagai suatu sistem.
4. Mengetahui komponen pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Pilar Pendidikan


Dalam kamus umum pilar berarti tiang penyangga atau penguat.
Sedangkan pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan
bantuan yang diberikan kepada anak didik yang bertujuan pada pendewasaan
anak it. Jadi pilar pendidikan adalah tiang atau penunjang dari suatu kegiatan
usaha, pengaruh perlindungan dan bantuan yang akan di berikan kepada anak
didik untuk pendewasaannya. M.J Langelveld mengatakan bahwa pendidikan
adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan batuan yang diberikan
kepada anak didik yang bertujuan pada pendewasaan anak itu sendiri.1
Berdasarkan pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pilar
pendidikan adalah tiang atau penunjang dari suatu kegiatan usaha, pengaruh,
perlindungan dan bantuan yang akan dan direkomendasikan oleh UNESCO.
B. Jenis-jenis Pilar Pendidikan dan Implementasi dari Masing-masing Pilar
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melalui lembaga UNESCO (United
Nations, Educational, Scientific and Cultura Organization) telah
mencanangkan lima pilar pendidikan, yakni:2
1. Learning to Know
Learning to know atau belajar untuk mengetahui. Artinya belajar itu
harus dapat memahami apa yang dipelajari bukan hanya dihafalkan tetapi
harus ada pengertian yang dalam. Secara implisit, learning to know
bermakna belajar sepanjang hayat, yang berkeyakinan bahwa pendidikan
berlangsung selama manusia hidup, didalam atau di luar sekolah dan tanpa
mengenal batasan umur. Dengan demikian, kita mendorong bahwa tiap
pribadi sebagai subjek yang bertanggung jawab atas pendidikannya
sendiri untuk menyadari bahwa:

1
Oyik. Makalah Pilar Pendidikan. Di akses pada hari Senin tanggal 23 Oktober 2023 pukul
09.15 wib. http://oyikyu.blogspot.in/2013/03/makalah-4-pilar- pendidikan_24.html
2
Syafril. Zen, Zalhendri. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang: Sukabina Press.

3
4

a. Proses dan waktu pendidikan berlangsung seumur hidup sejak dalam


kandungan hingga manusia meninggal.
b. Belajar tidak mengenal batasan waktu, artinya tidak ada kata terlambat
untuk belajar.
c. Belajar adalah proses alamiah sebagai bagian integral/totalitas
kehidupan.
Konsep ini menyiratkan makna bahwa pendidik harus mampu berperan
sebagai informator, organisator, motivator, diretor, inisiator, transmitter,
fasilitator, mediator, dan evaluator bagi siswanya, sehingga peserta didik
perlu dimotivasi agar timbul kebutuhan terhadap informasi, keterampilan
hidup, dan sikap tertentu yang ingin dikuasainya. Guru adalah orang yang
identik dengan pihak yang memiliki tugas dan tanggung jawab membentuk
karakter generasi bangsa. Di tangan gurulah tunas-tunas bangsa ini
terbentuk sikap dan moralitasnya, sehingga mampu memberikan yang
terbaik untuk anak negeri ini di masa yang akan datang. Guru memiliki
peranan yang sangat penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas
pengajaran yang dilaksanakannya. Oleh sebab itu, guru harus memikirkan
dan membuat perencanaan secara saksama dalam meningkatkan
kemampuan belajar bagi siswanya, dan memperbaiki kualitas
mengajarnya.
Hal ini menuntut perubahan-perubahan dalam pengorganisasian kelas,
penggunaan metode mengajar, strategi belajar-mengajar, maupun sikap
dan karakteristik guru dalam mengelola proses belajar-mengajar. Guru
bisa dikatakan unggul dan profesional bila mampu mengembangkan
kompetensi individunya dan tidak banyak bergantung pada orang lain.
Prinsip-prinsip belajar yang harus diperhatikan guru dalam pengelolaan
pembelajaran, yaitu:
a. Sesuatu yang dipelajari siswa, maka siswa harus mempelajarinya.
b. Setiap siswa yang belajar mekan belajar miliki kecepatan masing-
masing.
c. Siswa akan belajar banyak, apabila setiap selesai melaksanakan
5

tahapan kegiatan diberikan reinforcement.


d. Pengusaan penuh.
e. Siswa yang diberi tanggung jawab, maka ia akan lebih termotivasi
untuk belajar.
f. Guru sebagai demonstrator, mediator, evaluator dan pembimbing.

2. Learning to Do
Learning to do (belajar untuk menerapkan). Artinya siswa memiliki
keterampilan dan dapat melaksanakan proses pembelajaran yang memadai
untuk memacu peningkatan perkembangan intelektualnya. Beberapa hal
yang mendukung penerapan learning to do dalam pembelajaran adalah:
a. Pembelajaran berorientasi pada pendekatan konstruktivisme.
b. Belajar merupakan proses yang aktif, dinamik, dan generative.
Learning to do lebih ditekankan pada bagaimana mengajarkan anak-
anak untuk mempraktikkan segala sesuatu yang telah dipelajarinya dan
dapat mengadaptasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah
diperolehnya tersebut dengan pekerjaan di masa depan. Seperti
kemampuan melaksanakan pekerjaan tersebut, seperti controlling,
monitoring, designing, organizing. Peserta didik diajarkan melakukan
sesuatu dalam situasi konkrit yang tidak hanya terbatas pada pengusaan
keterampilan yang mekanitis tetapi juga kemampuan terampil
berkomunikasi, bekerja sama dengan orang lain, mengelola dan mengatasi
suatu konflik.
Melalui pilar ini, dimungkinkan mencetak generasi muda yang
intelligent dalam bekerja dan mempunyai kemampuan untuk berinovasi.
Sekolah sebagai wadah masyarakat belajar hendaknya memfasilitasi
siswanya untuk mengaktualisasikan ketrampilan yang dimiliki, serta bakat
dan minatnya agar learning to do dapat terealisasi. Secara umum, bakat
adalah kemampuan potensial yang dimiliki seseorang untuk mencapai
keberhasilan pada masa yang akan datang. Sedangkan minat adalah
kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar
6

terhadap sesuatu.
3. Learning to be
Learning to be (belajar untuk menjadi). Artinya siswa dapat
menghargai atau mempunyai apresiasi terhadap nilai-nilai dan
keindahan akan produk dan proses pendidikan, yang ditunjukkan
dengan sikap senang belajar, bekerja keras, ulet, sabar, disiplin, jujur,
serta mempunyai motif berprestasi yang tinggi dan rasa percaya diri.
Aspek-aspek di atas mendukung usaha siswa meningkatkan
kecerdasan dan mengembangkan keterampilan intelektual dirinya secara
berkelanjutan.
Konsep learning to be perlu dihayati oleh praktisi pendidikan untuk
melatih siswa agar memiliki rasa percaya diri yang tinggi.
Kepercayaan merupakan modal utama bagi siswa untuk hidup dalam
masyarakat. Penguasaan pengetahuan dan keterampilan merupakan
bagian dari proses menjadi diri sendiri (learning to be). Menjadi diri
sendiri diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati
diri. Belajar berperilaku sesuai dengan norma dan kaidah yang berlaku di
masyarakat, belajar menjadi orang yang berhasil, sesungguhnya
merupakan proses pencapaian aktualisasi diri.
4. Learning to live together
Learning to live together (belajar untuk dapat hidup bersama).
Artinya belajar memahami dan menghargai orang lain, sejarah mereka
dan nilai-nilai agamanya. Learning to live together, pada dasarnya
adalah mengajarkan, melatih dan membimbing peserta didik agar
mereka dapat menciptakan hubungan melalui komunikasi yang baik,
menjauhi prasangka-prasangka buruk terhadap orang lain serta
menjauhi dan menghindari terjadinya perselisihan dan konflik. Persaingan
dalam misi ini harus dipandang sebagai upaya-upaya yang sehat untuk
mencapai keberhasilan, bukan sebaliknya bahwapersaingan justru
mengalahkan nilai-nilai kebersamaan bahkan pengehancuran terhadap
orang lain atau pihak lain untuk kepentingan sendiri.
7

Dengan demikian diharapkan kedamaian dan keharmonisan hidup


benar-benar dapat diwujudkan. Dalam proses pembelajaran,
pengembangan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan guru dan
sesama siswa yang dilandasi sikap saling menghargai harus perlu secara
terus menerus dikembangakan di dalam setiap even pembelajaran.
Kebiasaan-kebiasaan untuk bersedia seringkali kurang mendapat
perhatian oleh guru, karena dianggap sebagai halrutin yang
berlangsung saja pada kegiatan sehari-hari. Padahal kemampuan ini
tidak dapat berkembang dengan baik begitu saja, akan tetapi membutuhkan
latihan-latihan yang terbimbing dari guru. Kebiasaan-kebiasaan saling
menghargai yang dipraktikkan di ruang-ruang kelas dan dilakukan secara
terus-menerus akan menjadi bekal bagi siswa untuk dapat dikembangakan
secara nyata dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam kaitan ini adalah tugas pendidikan untuk memberikan
pengetahuan dan kesadaran bahwa hakekat manusia adalah beragam
tetapi dalam keragaman tersebut terdapat persamaan. Itulah sebabnya
learning to live together menjadi pilar belajar yang penting untuk
menanamkan jiwa perdamaian.
5. Learning to believe in God
Learning to believe in God (belajar untuk beriman dan bertaqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa). Satu pilar lagi yang sangat penting dalam
proses pembelajaran dan sistem pendidikan adalah belajar untuk
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebagai bentuk
rasa syukur dan aplikasi dari nilai keagamaan dari setiap peserta
didik. Yang bertujuan untuk membentuk kepribadian dan karakter serta
akhlak mulia.
Konsep pilar ini merupakan konsep yang digunakan dalam
pembelajaran untuk mengajarkan pada siswa tentang keagamaan.
Bagaimanapun konsep ini konsep yang sangat penting dan mendasar di
dunia pendidikan sebagai pembentuk akhlak dan budi pekerti luhur.
8

C. Pengertian Pendidikan Sebagai Suatu Sistem


Salah satu cara untuk memperoleh gambaran yang lebih mantap tentang
pendidikan, yaitu dengan mempergunakan pendekatan sistem. Pendekatan
sistem dalam pendidikan dimaksudkan untuk memaksimalkan pencapaian
tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan dipandang sebagai suatu sistem.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sistem adalah suatu totalitas
yang terbentuk dari elemen-elemen yang mempunyai hubungan
fungsional dalam mengubah masukan menjadi hasil yang diharapkan.
Hubungan fungsional dari setiap elemen menyebabkan sistem berjalan
serta bersifat adaptif terhadap lingkungan sesuai dengan arah yang jelas
dan berkesinambungan yang disebut supra sistem.
Jadi pendidikan sebagai suatu sistem adalah suatu keseluruhan kerja
manusia yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai hubungan
fungsional dalam membantu terjadinya proses transformasi atau perubahan
tingkah laku seseorang sehingga menjadi manusia berkualitas. Pendidikan
merupakan karya bersama yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan
mayarakat tertentu. Dengan demikian, pendidikan nasional suatu bangsa
merupakan sistem sosial dan salah satu sektor dalam keseluruhan kehidupan
bangsa. Sebagai sistem sosial, pendidikan merupakan sistem sosial terbuka,
yakni senagai suatu sistem yang memperoleh masukan dari lingkungan dan
memberikan hasil transformasinya kepada lingkungan.
Ciri-ciri umum sistem terbuka yaitu:3
1. Mengambil energi (masukan) dari lingkungan.
2. Mentransformasikan energi yang tersedia.
3. Memberikan hasil kepada lingkungan.
4. Sistem merupakan rangkaian peristiwa (kejadian) yang terus berlangsung.
5. Untuk terus hidup, sistem harus bergerak melawan proses ntrophy
(kehancuran).
6. Masukan sistem tidak hanya hal-hal yang bersifat material, namun
juga bersifat selektif dan balikannya merupakan balikan negatif.

3
Siswoyo, Dwi. Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Uny Press, 2013).
9

7. Dalam sistem, terdapat dalam statis dan keseimbangan intern (omeastatis)


yang dinamis.
8. Sistem akan bergerak maju untuk melakukan peranan-peranan yang makin
berdiferensiasi.
9. Sistem dapat mencapai keadaan akhir yang sama dengan kondisi
awal yang berbeda dengan cara-cara pencapaian yang tidak sama.
D. Komponen Pendidikan
Beberapa komponen pendidikan yang perlu diketahui adalah sebagi
berikut:4
1. Tujuan Pendidikan
Tingkah laku manusia, secara sadar maupun tidak sadar tentu
berarah pada tujuan. Demikian juga halnya tingkah laku manusia
yang bersifat dan bernilai pendidikan. Keharusan terdapatnya tujuan
pada tindakan pendidikan didasari oleh sifat ilmu pendidikan yang
normatif dan praktis. Sebagai ilmu pengetahuan normatif, ilmu
pendidikan merumuskan kaidah-kaidah, norma-norma dan atau ukuran
tingkah laku perbuatan yang sebenarnya dilaksanakan. Sebagai ilmu
pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan atau pendidik maupun
guru ialah menanamkam sistem-sistem norma tingkah-laku perbuatan
yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh
lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat.
Langeveld mengemukakan bahwa pandangan hidup manusia
menjiwai tingkah laku perbuatan mendidik. Tujuan umum atau tujuan
mutakhir pendidikan tergantung pada nilai-nilai atau pandangan hidup
tertentu. Pandangan hidup yang menjiwai tingkah laku manusia akan
menjiwai tingkah laku pendidikan dan sekaligus akan menentukan
tujuan pendidikan manusia. Tujuan pendidikan memuat gambaran tentang
nilai-nilai yang baik, luhur, pantas, benar, dan indah untuk kehidupan.
Pendidikan memiliki dua fungsi yaitu memberikan arah kepada segenap

4
Lukman. Komponen Pendidikan. Di akses pada hari Senin tanggal 23 Oktober 2023
pukul 11.35 wib. http://lukmancoroners.blogspot.com/2010/04/komponen-pendidikan.html
10

kegiatan pendidikan dan merupakan sesuatu yang ingin dicapai oleh


segenap kegiatan pendidikan.
Langeveld mengemukakan jenis-jenis tujuan pendidikan terdiri dari
tujuan umum, tujuan tak lengkap, tujuan sementara, tujuan kebetulan dan
tujuan perantara. Pembagian jenis-jenis tujuan tersebut merupakan tinjauan
dari luas dan sempit tujuan yang ingin dicapai. Urutan hirarkhis tujuan
pendidikan dapat dilihat dalam kurikulum pendidikan yang terjabar
mulai dari:
a. Cita-cita nasional/tujuan nasional (Pembukaan UUD 1945).
b. Tujuan Pembangunan Nasional (dalam Sistem Pendidikan Nasional).
c. Tujuan Institusional (pada tiap tingkat pendidikan/sekolah).
d. Tujuan Kurikuler (pada tiap-tiap bidang studi/mata pelajaran).
e. Tujuan Instruksional umum dan tujuan instruksional khusus.
Dengan demikian tampak keterkaitan antara tujuan instruksional
yang dicapai guru dalam pembelajaran dikelas, untuk mencapai tujuan
pendidikan nasional yang bersumber dari falsafah hidup yang
berlandaskan pada Pancasila dan UUD 1945.
2. Peserta Didik
Perkembangan konsep pendidikan yang tidak hanya terbatas pada
usia sekolah saja memberikan konsekuensi pada pengertian peserta didik.
Kalau dulu orang mengasumsikan peserta didik terdiri dari anak-anak
pada usia sekolah, maka sekarang peserta didik dimungkinkan
termasuk juga didalamnya orang dewasa. Mendasarkan pada
pemikiran tersebut di atas maka pembahasan peserta didik seharusnya
bermuara pada dua hal tersebut di atas. Sehubungan dengan persoalan
anak didik disekolah Amstrong 1981 mengemukakan beberapa
persoalan anak didik yang harus dipertimbangkan.
Persoalan tersebut mencakup:
a. Apakah latar belakang budaya masyarakat peserta didik?
b. Bagaimanakah tingkat kemampuan anak didik?
c. Hambatan-hambatan apakah yang dirasakan oleh anak didik
11

disekolah?
d. Bagaimanakah penguasaan bahasa anak di sekolah?
Berdasarkan persoalan tersebut perlu diciptakan pendidikan yang
memperhatikan perbedaan individual, perhatian khusus pada anak yang
memiliki kelainan, dan penanaman sikap dan tangggung jawab pada
anak didik.
3. Pendidik
Pendidik adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan
pendidikan dengan sasaran peserta didik. Maka muncullah beberapa
individu yang tergolong pada pendidik. Guru sebagai pendidik dalam
lembaga sekolah, orang tua sebagai pendidik dalam lingkungan
keluarga, dan pimpinan masyarakat baik formal maupun informal
sebagai pendidik dilingkungan masyarakat. Sehubungan dengan hal
tersebut diatas Syaifullah (1982) mendasarkan pada konsep pendidikan
sebagai gejala kebudayaan, yang termasuk kategori pendidik adalah:
a. Orang dewasa Orang dewasa sebagai pendidik dilandasi oleh sifat
umum kepribadian orang dewasa, sebagaimana dikemukakan oleh
Syaifullah adalah sebagai berikut:
1) Manusia yang memiliki pandangan hidup prinsip hidup yang pasti
dan tetap.
2) Manusia yang telah memiliki tujuan hidup atau cita-cita hidup
tertentu, termasuk cita-cita untuk mendidik.
3) Manusia yang cakap mengambil keputusan batin sendiri atau
perbuatannya sendiri dan yang akan dipertanggungjawabkan sendiri.
4) Manusia yang telah cakap menjadi anggota masyarakat secara
konstruktif dan aktif penuh inisiatif.
5) Manusia yang telah mencapai umur kronologis paling rendah 18
tahun.
6) Manusia berbudi luhur dan berbadan sehat.
7) Manusia yang berani dan cakap hidup berkeluarga.
8) Manusia yang berkepribadian yang utuh dan bulat.
12

b. Orang tua
Kedudukan orang tua sebagai pendidik, merupakan pendidik
yang kodrati dalam lingkungan keluarga. Artinya orang tua sebagai
pedidik utama dan yang pertama dan berlandaskan pada hubungan
cinta-kasih bagi keluarga atau anak yang lahir di lingkungan
keluarga mereka. Secara umum dapat dikatakan bahwa semua
orang tua adalah pendidik, namun tidak semua orang tua mampu
melaksanakan pendidikan dengan baik. sehingga kemampuan untuk
menjadi orang tua sama sekali tidak sejajar dengan kemampuan
untuk mendidik.
c. Guru/pendidik
Guru sebagai pendidik di sekolah yang secara lagsung maupun
tidak langsung mendapat tugas dari orang tua atau masyarakat untuk
melaksanakan pendidikan. Karena itu kedudukan guru sebagai
pendidik dituntut memenuhi persyaratan-persyaratan baik
persyaratan pribadi maupun persyaratan jabatan. Persyaratan pribadi
didasarkan pada ketentuan yang terkait dengan nilai dari tingkah laku
yang dianut, kemampuan intelektual, sikap dan emosional.
Persyaratan jabatan (profesi) terkait dengan pengetahuan yang dimiliki
baik yang berhubungan dengan pesan yang ingin disampaikan
maupun cara penyampainannya, dan memiliki filsafat pendidikan
yang dapat dipertanggungjawabkandipertanggungjawabkan.
d. Pemimpin kemasyarakatan, dan pemimpin keagamaan
Selain orang dewasa, orang tua dan guru, pemimpin masyarakat
dan pemimpin keagamaan merupakan pendidik juga. Peran pemimpin
masyarakat menjadi pendidik didasarkan pada aktifitas pemimpin
dalam mengadakan pembinaan atau bimbingan kepada anggota yang
dipimpin. Pemimpin keagamaan sebagai pendidik, tampak pada
aktifitas pembinaan atau pengembangan sifat kerohanian manusia, yang
didasarkan pada nilai-nilai keagamaan.
13

4. Interaksi Edukatif Pendidik dan Anak Didik


Proses pendidikan bisa terjadi apabila terdapat interaksi antara
komponen-komponen pendidikan. Terutama interaksi antara pendidik
dan anak didik. Interaksi pendidik dengan anak didik bertujuan untuk
mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan. Tindakan yang
dilakukan pendidik dalam interaksi tersebut mungkin berupa tindakan
berdasarkan kewibawaan, tindakan berupa alat pendidikan, dan metode
pendidikan.
Pendidikan berdasarkan kewibawaan dapat dicontohkan dalam
peristiwa pengajaran dimana seorang guru sedang memberikan
pengajaran, diantara beberapa murid membuat suatu yang
menyebabkan terganggunya jalan pengajaran. Kemudian guru tersebut
memberikan peringatan atau menegur, maka beliau ini telah
melaksanakan tindakan berdasarkan kewibawaan. Dengan demikian
tindakan berdasarkan kewibawaan yaitu bersumber dari orang dewasa
sebagai pendidik, untuk mencapai tujuan pendidikan (tujuan kesusilaan,
sosial dan lain-lain).
Alat pendidikan dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dilakukan
ataupun diadakan oleh pendidik yang bertujuan untuk melaksanakan
tugas mendidik Penggunaan alat pendidikan itu bukan hanya soal teknis,
melainkan mempunyai sangkut paut yang erat sekali dengan pribadi yang
menggunakan alat tersebut. Pendidik yang menggunakan alat itu
hendaknya dapat menyesuaikan diri dengan tujuan yang teerkandung
dalam alat itu. Penggunaan dan pelaksanaan alat itu hendaknya betul-
betul timbul atau terbit dari pribadi yang menggunakan alat itu
(pendidik). Adapun alat pendidikan itu seperti nasihat, teguran, hukuman,
ganjaran, dan perintah.
Dalam interaksi pendidikan tidak terlepas metode atau bagaimana
pendidikan dilaksanakan. Terdapat beberapa metode yang dilakukan
dalam mendidik yaitu metode diktatoral metode liberal dan metode
demokratis. Metode diktatoral bersumber dari teori empiris yang
14

menyatakan bahwa perkembagan manusia semata-mata ditentukan oleh


faktor diluar manusia, sehingga pendidikan bersifat maha kuasa.
Sikap ini menimbulkan sikap diktator dan otoriter, pendidik yang
menentukan segalanya.
Metode liberal bersumber dari pendirian Naturalisme yang
berpendapat bahwa perkembangan manusia itu sebagian besar ditentukan
oleh kekuatan dari dalam yang secara wajar atau kodrat ada pada diri
manusia. Pandangan ini menimbulkan sikap bahwa pendidik jangan
terlalu banyak ikut campur terhadap perkembangan anak. Biarkanlah
anak berkembang sesuai dengan kodratnya secara bebas atau liberal.
Demokratis bersumber dari teori konvergensi yang mengatakan
bahwa perkembangan manusia itu tergantung pada faktor dari dalam dan
dari luar. Di dalam perkembangan anak kita tidak boleh bersifat
menguasai anak, tetapi harus bersifat membimbing perkembangan anak.
Di sini tampak bahwa pendidik dan anak didik sama-sama penting
dalam proses pendidikan untuk mencapai tujuan. Ki Hadjar Dewantoro
melahirkan asas pendidikan yang sesuai dengan metode demokratis, yaitu
Tut Wuri Handayani, ing madyo mangun karsa, ing ngarsa asung tulada
artinya pendidik itu kadang-kadang mengikuti dari belakang, kadang-
kadang harus ditengah-tengah berdampingan dengan anak dan kadang-
kadang harus didepan untuk memberi contoh atau tauladan.
5. Isi Pendidikan
Isi pendidikan memiliki kaitan yang erat dengan tujuan pendidikan.
Untuk mencapai tujuan pendidikan perlu disampaikan kepada peserta
didik isi/bahan pelajaran yang digunakan sebagai pedoman
penyelengaraan kegiatan pembelajaran yang biasanya disebut
kurikulum dalam pendidikan formal. Macam-macam isi pendidikan
tersebut terdiri dari pendidikan agama., pendidikan moril, pendidikan
estetis, pendidikan sosial, pendidikan intelektual, pendidikan
keterampilan dan pendidikan jasmani.
15

6. Lingkungan Pendidikan
Lingkungan pendidikan merupakan suatu tempat di mana suatu
pendidikan dilaksanakan. Lingkungan pendidikan meliputi segala segi
kehidupan atau kebudayaan. Lingkungan pendidikan dapat
dikelompokkan berdasarkan lingkungan kebudayaan yang terdiri dari
lingkungan kurtural ideologis, lingkungan sosial politis, lingkungan
sosial anthropologis, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan iklim
geografis.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pilar pendidikan adalah tiang atau penunjang dari suatu kegiatan
usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang akan dan direkomendasikan
oleh UNESCO. Jenis-jenis pilar pedidikan yang dicanangkan oleh
UNESCO adalah Learning to know (belajar untuk mengetahui), Learning
to do (belajar untuk menerapkan), Learning to Be (belajar untuk menjadi),
Learning to live together (belajar untuk dapat hidup bersama) dan Learning
to believe in God (belajar untuk beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Ynag
Maha Esa). Pendidikan sebagai suatu sistem adalah suatu keseluruhan
kerja manusia yang terbentuk dari bagian-bagian yang mempunyai
hubungan fungsional dalam membantu terjadinya proses transformasi atau
perubahan tingkah laku seseorang sehingga menjadi manusia berkualitas.
3 macam masukan pendidikan, yaitu: Pengetahuan, nilai-nilai dan cita-cita
yang terdapat dalam masyarakat, Sumber Daya Manusia (SDM) yang
memenuhi persyaratan dan hasil produksi dan penghasilan. Beberapa
komponen pendidikan alah tujuan, pendidik, peserta didik, materi, metode,
media dan alat pendidikan, serta alat pendidikan.

16
17

DAFTAR PUSTAKA

Lukman. Komponen Pendidikan. Di akses pada hari Senin tanggal 23 Oktober


2023 pukul 11.35 wib.
http://lukmancoroners.blogspot.com/2010/04/komponen-pendidikan.html

Oyik. Makalah Pilar Pendidikan. Di akses pada hari Senin tanggal 23 Oktober
2023 pukul 09.15 wib. http://oyikyu.blogspot.in/2013/03/makalah-4-pilar-
pendidikan_24.html

Siswoyo, Dwi. Ilmu Pendidikan, (Yogyakarta: Uny Press, 2013).

Syafril. Zen, Zalhendri. 2012. Pengantar Pendidikan. Padang: Sukabina Press.


18

Pertanyaan :
1. Tiara: Apa yang menjadi peran penting dalam pilar pendidikan?
2. Rima: Jelaskan 4 pilar tersebut dan berikan contohnya!

Anda mungkin juga menyukai