0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan21 halaman

Laporan Kasus Meningioma Pasien 53 Tahun

Laporan kasus ini membahas pasien wanita berusia 53 tahun dengan keluhan utama nyeri kepala dan penglihatan buram. Pasien didiagnosis menderita meningioma berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan.

Diunggah oleh

ohstorepremium
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan21 halaman

Laporan Kasus Meningioma Pasien 53 Tahun

Laporan kasus ini membahas pasien wanita berusia 53 tahun dengan keluhan utama nyeri kepala dan penglihatan buram. Pasien didiagnosis menderita meningioma berdasarkan hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan.

Diunggah oleh

ohstorepremium
Hak Cipta
© © All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN KASUS

MENINGIOMA

Disusun Oleh:
Felicia Godianto
406212130

Pembimbing:
dr. Hari Andang S., Sp.S

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH CIAWI
PERIODE 10 JULI – 12 AGUSTUS 2023
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
JAKARTA
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus :
Meningioma

Disusun oleh:
Felicia Godianto
406212130

Pembimbing:
dr. Hari Andang S., Sp.S

Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian


Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
RSUD Ciawi
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Mengetahui,
Pembimbing

dr. Hari Andang S., Sp.S

i
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Kasus:
Meningioma

Disusun oleh:
Felicia Godianto
406212120

Pembimbing:
dr. Hari Andang S., Sp.S

Sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian


Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Saraf
RSUD Ciawi
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Mengetahui,
Kepala SMF Ilmu Penyakit Saraf

dr. Lydia Agustina, Sp.S, M.Si.Med

ii
BAB I
STATUS PASIEN
I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. IBB
Tanggal Lahir : 25 Juli 1970
Usia : 53 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kp. Nyalindung
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Agama : Islam
Status Pernikahan : Sudah menikah
Tanggal Berobat : 18 Juli 2023

II. ANAMNESIS
Autoanamnesis dilakukan pada tanggan 19 Juli 2023 di bangsal Teratai B RSUD Ciawi.
Keluhan Utama : nyeri kepala sejak 4 tahun yang lalu, pandangan semakin buram 1 bulan
terakhir
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluhkan seluruh kepala terasa nyeri seperti berdenyut sejak 4 tahun yang lalu,
nyeri kepala awalnya hilang timbul, namun 6 bulan terakhir pasien merasakan nyeri kepala
memberat dan terasa terus-menerus. Pasien juga mengeluhkan penglihatan pasien buram sejak
6 bulan yang lalu, dan penglihatan pasien semakin memburuk sejak 4 bulan terakhir sehingga
pasien dibantu oleh suami saat berjalan. Pasien mengeluhkan sejak 6 bulan yang lalu pasien
sering merasakan seperti melayang saat sedang berdiri sehingga pasien perlu berpegangan
pada dinding saat berdiri maupun berjalan atau dibantu oleh suami pasien. Pasien juga
merasakan kepala terasa pusing berputar saat pasien menggerakkan kepala pasien, pasien
terkadang terasa mual dan tidak muntah. Pasien terkadang mendengar suara berdenging pada
telinga kanan dan kiri secara bergantian, gangguan pendengaran disangkal.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 4 tahun yang lalu, DM 6 bulan yang lalu, dan
kolestrol 6 bulan yang lalu.

1
Pasien memiliki riwayat jatuh saat masih kecil namun tidak berobat dan menyebabkan tulang
punggung pasien menjadi bengkok.
Riwayat Penyakit Keluarga
Dikeluarga tidak ada yang mengalami keluhan seperti pasien.
Riwayat Pengobatan
Pasien sebelumnya sering membeli panadol untuk mengurangi nyeri kepala, namun 6 bulan
terakhir nyeri kepala pasien tidak berkurang dengan panadol.
Pasien juga mengonsumsi amlodipin 5 mg.
Riwayat Kebiasaan
Pasien sudah tidak melakukan pekerjaan rumah dikarenakan penglihatan pasien yang semakin
menurun.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Status Generalis
Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : Compos Mentis, GCS 15 (E4V5M6)
B. Tanda Vital
Tekanan Darah : 130/80 mmHg
Frekuensi Nadi : 86 x/menit
Frekuensi Pernapasan : 18 x/menit
Suhu : 36.6 0C
Saturasi Oksigen : 98%
C. Status Lokalis
• Kepala : normocephali, tidak teraba benjolan, rambut terdistribusi merata, kulit kepala
tidak ada kelainan.
• Mata : palpebra superior et inferior dextra et sinistra tak tampak edema, sklera ikterik
(-/-), konjungtiva anemis (-/-), pupil bulat, isokor, refleks cahaya langsung dan tidak
langsung (+/+), ptosis (-/-).
• Hidung : bentuk normal, tidak ada deviasi, hiperemis mukosa (-/-), sekret (-/-).

2
• Telinga : bentuk normal, liang telinga lapang, sekret (-/-), serumen (-/-), nyeri tekan
tragus (-/-), nyeri tarik aurikula (-/-), KGB pre-retro aurikular dextra et sinistra tidak
teraba membesar.
• Mulut : mukosa bibir basah, uvula ditengah, deviasi lidah ke kiri.
• Leher : trakea letak di tengah, tidak teraba pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada
pembesaran KGB submandibular, cervival, supra-infraclavicula
• Paru
▪ I : Bentuk dada normal, pergerakan dada simetris, retraksi dinding dada (-/-)
▪ P : Stem fremitus kanan-kiri sama kuat
▪ P : Sonor di seluruh lapang paru
▪ A : Suara napas vesikuler (+/+), rhonki (-/-), wheezing (-/-)
• Jantung
▪ I : Iktus cordis tidak tampak
▪ P : Ictus cordis teraba di ICS V MCL sinistra
▪ P : batas jantung normal
▪ A : Bunyi jantung I dan II normal, murmur (-), gallop (-)
• Abdomen
▪ I : datar, benjolan (-)
▪ A : Bising usus (+) normal
▪ P : Timpani di seluruh lapang abdomen
▪ P : Supel, nyeri tekan (-)
• Tulang belakang : deformitas (-), kifosis (-), lordosis (-), skoliosis (+).
• Kulit : sianosis (-), ikterik (-).
• Ekstremitas : akral hangat, CRT <2 detik, edema ekstremitas superior et inferior (-/-).
D. Status Neurologis
• Fungsi Luhur
o Orientasi : terorientasi penuh
o Kemampuan bicara dan bahasa : baik
o Daya ingat : baik
• Nervus Cranialis

3
CN 1 : Olfactorius Dextra Sinistra
Daya penghidu Normosmia Normosmia
CN 2 : Opticus Dextra Sinistra
Visus 1/300 6/tak terhingga
Lapang pandang Sulit dinilai
Refleks cahaya langsung Baik Baik
Refleks cahaya tidak langsung Baik Baik
CN 3 : Occulomotor
CN 4 : Trochlearis Dextra Sinistra
CN 6 : Abducens
Kedudukan bola mata Simetris, di tengah
Ptosis - -
Pergerakan bola mata Simetris
Nistagmus - -
Pupil Bulat ditengah, isokor, diameter 3 mm
CN 5 : Trigeminus Dextra Sinistra
Sensorik Baik Baik
Membuka mulut Baik
Menggerakkan rahang Baik
Menggigit Baik
CN 7 : Facialis Dextra Sinistra
Raut wajah Simetris
Mengangkat alis + +
Senyum/menyeringai - +
Kembungkan pipi - +
Menjulurkan lidah Deviasi lidah ke kiri
CN 8 : Vestibulocochlearis Dextra Sinistra
Tes romberg Dapat dilakukan dengan mata terbuka
Tes romberg dipertajam Tidak dapat dilakukan dengan mata terbuka
Tes berbisik Tidak dapat dilakukan

4
CN 9 : Glossofaringeus
Dextra Sinistra
CN 10 : Vagus
Kualitas suara Baik
Disartria -
Sengau -
Menelan +
Mengejan +
Kedudukan palatum mole,
arkus faring, dan uvula pada Di tengah
saat kontraksi dan istirahat
CN 11 : Accesorius Dextra Sinistra
M. Sternocleidomastoideus + +
M. Trapezius + +
CN 12 : Hypoglossus Dextra Sinistra
Kedudukan lidah saat
Deviasi ke kiri
dijulurkan
Atrofi papil lidah -
Tremor lidah -
Fasikulasi +
Pergerakan lidah Baik

Motorik
• Trofi : eutrofi / eutrofi
• Tonus aktif : normotonus / normotonus
• Tonus pasif : normotonus / normotonus
5555/5555
• Kekuatan motorik : 5555/5555

Refleks Fisiologis
• Biceps : ++ / ++
• Triceps : ++ / ++
• Patella : ++ / ++

5
• Achilles : ++ / ++
Refleks Patologis
• Hoffman-tromner : - / -
• Babinsky :-/-
• Chaddock :-/-
• Schaefer :-/-
• Gordon :-/-
• Oppenheim :-/-
Sensorik
• Halus : normal
• Nyeri : normal
• Suhu : normal
Rangsang Meningeal
• Kaku kuduk : negatif
• Brudzinsky I – IV : negatif
• Laseque : > 70/ > 70
• Kerniq : > 135/>135
Pemeriksaan Lain
• Tes telunjuk hidung : tidak dapat dilakukan
• Tes tumit lutut : dapat dilakukan
• Supinasi-pronasi telapak tangan : simetris

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium 18/07/2023
Parameter Hasil Nilai Rujukan Satuan
A. Hematologi
Hemoglobin 13.6 11.5 – 13.5 g/dL
Hematokrit 47 45 – 52 %
Leukosit 6.2 6 – 18 10^3/ µL
Trombosit 328 150 – 440 10^3/ µL

6
B. Kimia
GDS 108 80 – 120 mg/dL
Ureum 27.5 10-50 mg/dL
Kreatinin 0.64 0.6-1.3 mg/dL

CT Scan kepala 12/07/2023

Kesan :
• Cenderung gambaran massa extraaxial di CPA kanan degan necrotic area
didalamnya yang mendesak ventrikel 4 ke kiri menyebabkan non communicating
hydrocephalus DD acustic meningioma dextra
• Massa solid extra axial pada daerah cribiform plate DD meningioma
• Edema cerebri

7
Rotgen thorax 18/07/2023

Kesan :
• Cardiomegaly
• Scoliosis thoracolumbalis double curve

V. RESUME
Telah diperiksa pasien perempuan berusia 53 tahun di bangsal Teratai A RSUD Ciawi pada
tanggal 19 Juli 2023 dengan keluhan nyeri kepala sejak 4 tahun yang lalu, dan pandangan
semakin buram 1 bulan terakhir. Pasien mengeluhkan seluruh kepala terasa nyeri seperti
berdenyut sejak 4 tahun yang lalu, nyeri kepala awalnya hilang timbul, namun 6 bulan
terakhir pasien merasakan nyeri kepala memberat dan terasa terus-menerus. Pasien juga
mengeluhkan penglihatan pasien buram sejak 6 bulan yang lalu, dan penglihatan pasien
semakin memburuk sejak 4 bulan terakhir sehingga pasien dibantu oleh suami saat berjalan.
Pasien mengeluhkan sejak 6 bulan yang lalu pasien sering merasakan seperti melayang saat
sedang berdiri sehingga pasien perlu berpegangan pada dinding saat berdiri maupun berjalan
atau dibantu oleh suami pasien. Pasien juga merasakan kepala terasa pusing berputar saat
pasien menggerakkan kepala pasien, pasien terkadang terasa mual dan tidak muntah. Pasien
terkadang mendengar suara berdenging pada telinga kanan dan kiri secara bergantian.
Dari pemeriksaan fisik didapatkan tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, tanda-
tanda vital dalam batas normal. Dari pemeriksaan saraf didapatkan sudut bibir kanan
tertinggal saat tersenyum (parese N.VII sentral), pipi kanan tidak dapat dikembungkan, lidah

8
deviasi ke kiri saat dijulurkan disertai fasikulasi (parese N.XII perifer), pasien tidak dapat
melakukan romberg maupun romberg dipertajam.
Dari pemeriksaan CT scan kepala dengan dan tanpa kontras didapatkan Cenderung
gambaran massa extraaxial di CPA kanan degan necrotic area didalamnya yang mendesak
ventrikel 4 ke kiri menyebabkan non communicating hydrocephalus DD acustic meningioma
dextra, massa solid extra axial pada daerah cribiform plate DD meningioma, edema cerebri.

VI. DIAGNOSIS
Diagnsosis klinis : cefalgia kronik, penurunan visus
Diagnosis topis : cerebellopontine angle kiri
Diagnosis etiologis : lesi desak di daerah cerebellopontine angle
Diagnosis kerja : meningioma, hydrocephalus, atrofi optik
Diagnosis lain : scoliosis

VII. TATALAKSANA
Oral :
• Analsik 3x1
• Betahistin 1x6 mg
• Flunarizin 3x5 mg
• Dramamin 3x5 mg
• Sucralfat 3x1C
Parenteral :
• RL 500cc/12 jam
• Dexketoprofen 3x1 ampul
• Omeprazole 2x4 mg
• Mecobalamin 2x500mg
• Dexamethasone 4x5 mg
• Citicolin 2x500mg
• Ceftriaxone 1x2 gr
Rencana bedah saraf :
• VP shunt

9
VIII. PROGNOSIS
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad functionam : dubia ad malam
Ad sanationam : dubia ad malam

10
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Definisi
Meningioma merupakan tumor jinak sistem saraf pusat yang umumnya timbul dari
meninges otak atau sumsum tulang belakang.1 Menurut World Health Organization (WHO)
meningioma adalah tumor yang berasal dari sel meningothelial (arachnoid) leptomeningen.
Tumor ini dapat terjadi dimana saja sepanjang lokasi sel arachnoid, biasanya menempel pada
permukaan dalam duramater.2

2. Epidemiologi
Meningioma merupakan tumor kedua tersering pada tumor otak, lebih dari 90% bersifat
jinak, dan pertumbuhannya lambat. Meningioma juga dapat menginvasi ke otak, duramater, dan
berisiko rekurensi. Angka kejadian meningioma sekitar 35% dari semua tumor primer susunan
saraf pusat (SSP), 15% dari tumor intrakranial, dan sekitar 25% dari tumor intraspinal, dengan
tingkat kejadian diperkirakan sekitar 6.29% per 100.000 orang pertahun.
Meningioma sering didapatkan pada usia 40–70 tahun. Data dari Central Brain Tumor
Registry of The United States (CBTRUS) menunjukan angka kejadian meningioma pada wanita
dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan pria, yaitu 8,36 untuk wanita dan 3.61 untuk pria
dengan perbandingan sekitar 2:1. Hal ini diduga karena faktor hormonal esterogen, progesteron,
dan androgen yang terkait pola menstruasi dan kehamilan.
Meningioma dapat terjadi pada seluruh meningen baik intrakranial maupun intraspinal.
Lebih dari 90% meningioma merupakan tumor intrakranial dan 10% merupakan tumor
intraspinal. Pada tingkat intrakranial, meningioma mempunyai predileksi terbanyak di falx dan
parasagital, disamping lokasi-lokasi lainnya seperti: convexitas (20%), sphenoid (20%), olfactory
groove (10%), fossa posterior (10%), suprasellar (10%), spinalis (kurang dari 10%), intraorbital
(kurang dari 10%), intraventrikular (2%). Pada tingkat intraspinal, meningioma dapat terjadi
pada regio thoraks dan jarang pada bagian servikal dan lumbal. Terdapat beberapa penanda
bahwa faktor hormonal berperan pada tumorigenesis meningioma, antara lain: tingginya angka
kejadian meningioma pada perempuan, dapat membesar pada saat kehamilan, dan ada laporan
kejadian meningioma dengan keganasan payudara, serta menigkatnya kejadian meningioma

11
dengan pemberian oral kontrasepsi. Beberapa melaporkan pada SSP dan saraf tepi ditemukan
hormon steroid terutama hormon progesteron yang terdeteksi dari keberadaan reseptor
progesteron.2

3. Etiologi
Pada meningioma didapatkan adanya defek genetik berupa mutasi pemotongan
(inaktivasi) pada gen neurofibromatosis 2 (merlin) pada kromosom 22q, dan sebagian besar
terjadi pada meningioma tertentu misalnya, tipe fibroblastik dan transisional), tetapi tidak pada
yang lain. Pada meningioma tipe sporadis dan neurofibromatosis tipe 2 (NF2), defek genetik
somatik lainnya ditemukan, termasuk penghapusan pada kromosom 1p, 6q, 9p, 10q, 14q, dan
18q.
Beberapa meningioma mengandung reseptor estrogen dan progesteron. Temuan ini
mungkin berhubungan dengan peningkatan kejadian tumor pada wanita, kecenderungannya
untuk membesar selama kehamilan, dan kaitannya dengan kanker payudara.1,3

4. Faktor Risiko
Pada pasien obesitas, alkoholisme, paparan radiasi pengion, radioterapi, faktor hormonal
seperti paparan hormon eksogen, terapi pengganti hormon, penggunaan pil kontrasepsi oral, dan
kanker payudara, riwayat keluarga dengan meningioma, riwayat trauma pada kepala dapat
meningkatkan risiko kejadian meningioma. Pada pasien yang menjalani terapi radiasi pada kulit
kepala atau tengkorak rentan terhadap perkembangan meningioma dan tumor muncul pada usia
lebih dini pada individu tersebut.3

5. Patofisiologi
Meningioma umumnya berasal dari sel cap meningothelial arachnoid. Kebanyakan
meningioma bersifat sporadis, jinak, dan tumbuh perlahan. Meningioma maligna seringkali
memiliki banyak mutasi kromosom. Lebih banyak mutasi genetik dikaitkan dengan percepatan
pertumbuhan dan peningkatan derajat tumor.
Mutasi genetik pada kromosom 22 pada neurofibromatosis tipe 2 adalah salah satu
kondisi predisposisi paling umum yang terlihat pada meningioma sporadis. Mutasi kromosom
lain yang dilaporkan pada meningioma adalah 1p, 6q, 14q, dan 18q. Ada juga gen yang

12
ditemukan pada meningioma yang diwariskan seperti CREB binding protein, protein patched
homolog 1, phosphatase dan tensin homolog, cyclin-dependent kinase inhibitor 2A,Von Hippel–
Lindau, dan neurofibromatosis 1.

6. Diagnosis
Manifestasi meningioma intrakranial tergantung pada lokasi yang terkena. 90%
meningioma adalah supratentorial, dan mayoritas meningioma infratentorial terjadi di
cerebellopontine. Supratentorial biasanya terlihat di parasagital, konveksitas otak, sphenoid
ridge, area parafalcine anterior dan posterior, dan olfactory groove. Lokasi meningioma
intrakranial lain termasuk suprasellar, fossa posterior (cerebellopontine), intraventrikular, dan
area intraorbital.
Tanda-tanda upper motor neuron biasanya dilaporkan pada meningioma intrakranial,
termasuk hipertonia atau klonus, hiperrefleksia, tanda Babinski dan Hoffman positif, paresis,
atau paralisis. Gejala lain yang dilaporkan termasuk anosmia, sakit kepala, pusing, gangguan

13
penglihatan, kejang, papilledema, dan perubahan perilaku. Pasien dengan meningioma
parasagital dan konveksitas otak dapat memiliki gejala paresis atau kelumpuhan anggota tubuh
kontralateral yang terkena. Pasien dengan meningioma sphenoid ridge dengan keterlibatan fisura
supraorbital atau sinus kavernosus memiliki gejala kelumpuhan saraf kranial dan kejang.
Meningioma olfactory groove dapat menyebabkan sindrom Foster-Kennedy (anosmia,
papilledema kontralateral, dan atrofi saraf optik ipsilateral).
Meningioma sinus kavernosa dapat memiliki gejala defisit saraf kranial dari saraf optik,
okulomotor, trochlear, trigeminal, dan abducens. Pasien dengan meningioma suprasellar atau
frontal dapat mengalami perubahan mental, kognitif, dan perilaku. Fossa posterior dan
meningioma foramen magnum dapat menyebabkan kelumpuhan bulbar, gejala serebelar, paresis,
facial palsy, defisit pendengaran, kelumpuhan saraf kranial bawah, dan nyeri leher. Meningioma
intraventrikular dapat menyebabkan hidrosefalus obstruktif. Parasellar, sinus kavernosa, dan
meningioma orbital dapat menyebabkan kehilangan penglihatan dan proptosis. Tumor sylvian
menyebabkan gangguan motorik, sensorik, dan afasia sesuai dengan lokasinya, dan kejang.
Gejala paling umum yang dialami pada meningioma spinal adalah nyeri dan radikulopati,
diikuti oleh defisit neurologis. Defisit neurologis dapat berupa gejala upper motor neuron atau
lower motor neuron tergantung pada lokasi dan kompresi akar saraf. Gejala lower motor neuron
meliputi kelemahan, hipotonia, fasikulasi otot, dan hiporefleksia. Nyeri tekan pada tulang
belakang lokal kadang-kadang ditemukan selama pemeriksaan fisik.

Diagnosis meniningioma dapat ditegakkan dengan CT scan kontras atau MRI kontras
yang menunjukkan adanya kalsifikasi serta vaskularisasi Perubahan ini direfleksikan oleh
peningkatan kontras homogen dan oleh "tumor blush" pada angiografi. Biasanya tumor
berbentuk massa berkontur halus kadang-kadang berlobus, dengan satu sisi berbatasan dengan

14
permukaan bagian dalam tengkorak, sepanjang dura. Pada MRI dengan kontras dapat ditemukan
adanya “Dural tail”. Pada CT dilakukan tanpa kontras terlihat gambaran isodense atau sedikit
hyperdense, kalsifikasi di permukaan luar atau heterogen di seluruh massa. Jumlah edema di
sekitar tumor sangat bervariasi dan mungkin berhubungan dengan luasnya gejala otak lokal.
Edema otak umumnya terjadi karena gangguan pada sawar darah otak. Ini menyebabkan cairan
kaya protein ekstraserebral menumpuk di parenkim serebral yang menyebabkan edema
vasogenik. Protein CSF biasanya meningkat.1,3

7. Tatalaksana
Pembedahan eksisi bedah memberikan penyembuhan jangka panjang atau permanen pada
sebagian besar tumor yang bergejala, tumor dengan pertumbuhan yang cepat, dan dapat diakses.
Kekambuhan kemungkinan terjadi jika pengangkatan tidak lengkap, seperti yang sering terjadi,
tetapi untuk beberapa tingkat pertumbuhannya sangat lambat sehingga mungkin ada latensi
selama bertahun-tahun atau dekade. Tingkat reseksi bedah tumor merupakan faktor yang
signifikan untuk kekambuhan. Sistem penilaian Simpson pada tahun 1957, digunakan untuk
mengukur kekambuhan tergantung pada luasnya reseksi bedah. Derajat 1 adalah ketika ada
pengangkatan total tumor dengan dura yang melekat dan tulang abnormal yang terlibat. Derajat 2
adalah pengangkatan total tumor dengan koagulasi perlekatan dural. Derajat 3 adalah
pengangkatan total tumor tanpa reseksi atau koagulasi dura yang melekat atau ekstensi
ekstradural, seperti tulang abnormal yang terlibat. Derajat 4 adalah reseksi sebagian tumor.
Derajat 5 hanya dekompresi tumor sederhana dengan atau tanpa biopsi.

15
Radioterapi bermanfaat dalam kasus-kasus yang tidak dapat dioperasi dan ketika tumor
diangkat secara tidak sempurna atau menunjukkan karakteristik ganas. Radioterapi sinar
eksternal atau brachytherapy dilakukan setelah reseksi bedah grade II dan III. Radiosurgery
streotactic (SRS) dapat digunakan pada meningioma di skull base, meningioma rekuren atau
reseksi tidak lengkap.
Penggunaan bevacizumab, sejenis kemoterapi untuk menargetkan perubahan molekuler
dari faktor pertumbuhan endotel vaskular pada pasien dengan meningioma anaplastik setelah
reseksi bedah dan radioterapi, telah menunjukkan hasil regresi tumor yang berhasil.1,3

8. Diagnosis Banding
Diagnosis banding meningioma termasuk lesi yang berbasis dural, memiliki ekor dural,
dan memiliki peningkatan homogen, yaiu central nervous system solitary fibrous tumors,
intracranial hemangiopericytoma, gliosarcoma, leiomyosarcoma, dural metastatic tumors,
intracranial hodgkin lymphoma, plasmacytoma, neurosarcoidosis, melanocytic tumors, plasma cell
granuloma.1

9. Prognosis
Kelangsungan hidup mencapai 5 tahun setelah eksisi untuk grade 1 adalah 95,7%, untuk
grade 2 adalah 81,8%, dan untuk grade 3 adalah 46,7%, sedangkan kelangsungan hidup
mencapai 10 tahun setelah eksisi untuk grade 1 adalah 90,4,7%, dan untuk grade 2 adalah 69,4%.
Prediktor untuk kelangsungan hidup pasien meliputi derajat reseksi, indeks mitosis <5%, derajat
histologis, ukuran tumor 6 cm atau kurang, multiplisitas tumor, dan lokasi tumor.
Derajat tumor pada meningioma digunakan sebagai faktor prognostik yang signifikan
pada pasien yang menjalani terapi radiasi setelah pembedahan. Kelangsungan hidup mencapai 3
tahun yang lebih tinggi dikaitkan dengan grade 1 dan 2. Kelangsungan hidup keseluruhan 5
tahun setelah penggunaan radioterapi adalah sekitar 81% pada grade 1, sedangkan 53% dengan
meningioma grade 2 dan 3.
Tingkat kekambuhan meningioma berkaitan dengan tingkat operasi pengangkatan.
Menggunakan sistem penilaian Simpson, tingkat kekambuhan keseluruhan untuk kelas 1, 2, 3,
dan 4 masing-masing adalah 9%, 19%, 29%, dan 40%. Tingkat kekambuhan yang rendah
berkorelasi dengan reseksi total tumor, eksisi dura yang melekat, dan tulang abnormal yang

16
terlibat. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2017 menunjukkan tingkat kekambuhan
untuk meningioma kelas 1, 2, 3, dan 4 masing-masing sebesar 5%, 22%, 31%, dan 35%.
Kelangsungan hidup mencapai 5 tahun untuk pasien dengan meningioma atipikal dan ganas juga
dipengaruhi oleh luasnya reseksi, pengangkatan total memberikan 91,3% untuk meningioma
atipikal dan 64,5% untuk meningioma ganas, sedangkan pengangkatan subtotal memberikan
78,2% untuk meningioma atipikal dan 41,1% untuk meningioma ganas.1

10. Komplikasi
Non-bedah: risiko kekambuhan, peningkatan ukuran, dan percepatan pertumbuhan. Beberapa
meningioma dapat mengalami kalsifikasi atau berkembang menjadi kecenderungan keganasan,
invasi otak, dan jarang bermetastasis.
Bedah dan medis: hematoma, infeksi, trombosis vena, kebocoran CSF, risiko cedera pada
struktur anatomi di sekitarnya, dan memburuknya defisit neurologis. Komplikasi medis lainnya
termasuk pneumonia aspirasi, trombosis vena dalam, emboli paru, iskemia miokard, dan stroke.
Pasca radiosurgery: risiko defisit saraf kranial, seperti cedera saraf optik pada meningioma
intrakranial. Ada peningkatan risiko toksisitas akibat radioterapi.1

17
DAFTAR PUSTAKA
1. Alruwaili AA, Jesus O De. Meningioma [Internet]. StatPearls. 2023. Available from:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK560538/
2. Naryana IW. KEMENKES. Meningioma [Internet]. 2022. Available from:
https://yankes.kemkes.go.id/view_artikel/1161/meningioma
3. Ropper AH, Samuels MA, Klein JP, Prasad S. Adams and Victor’s Principles of
Neurology. McGraw Hill Education; 2019.

18

Anda mungkin juga menyukai